Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH BIMBINGAN KONSELING

Perkembangan dan Masalah Anak Usia Sekolah Menengah

Masya Marchelina Natasukma (4301415031)

Zulfa Mariana (2401415028)

Roghibul Falah (6102414053)

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2017

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan
Hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Bimbiingan
Konseling tentang Perkembangan dan Masalah Anak Usia Sekolah Menengah. Serta tidak
lupa kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberi kontribusinya
sehingga tugas ini dapat diselesaikan tepat waktu.

Tugas ini berisi tentang karakteristik dan aspek-aspek perkembangan anak usia
sekolah menengah. Harapannya selain untuk memenuhi tugas perkuliahan Bimbingan
Konseling, pembahasan tentang karakteristik dan aspek-aspek perkembangan anak usia
sekolah menengah ini bisa memberikan wawasan lebih kepada pembaca mengenai
problematika yang dialami oleh anak usia sekolah menengah beserta solusinya.

Penulisan tugas Makalah mata kuliah Bimbingan Konseling tentang Perkembangan


dan Masalah Anak Usia Sekolah Menengah meskipun telah disusun dengan sebaik mungkin
namun pasti masih mempunyai kekurangan. Kritik dan saran yang membangun dari pembaca
untuk penulis sangat kami harapkan. Semoga Tugas Makalah mata kuliah Bimbingan
Konseling tentang Perkembangan dan Masalah Anak Usia Sekolah Menengah memberi
banyak manfaat untuk pembaca.

Semarang, 9 Mei 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................... ii

DAFTAR ISI .................................................................................................................... iii

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ........................................................................................ 4


B. Rumusan Masalah ................................................................................................. 5
C. Tujuan Penulisan ................................................................................................... 5
D. Manfaat Penulisan ................................................................................................. 5

BAB 2 PEMBAHASAN

1. Karakteristik dan Aspek-Aspek Perkembangan


Anak Usia Sekolah Menengah ............................................................................. 6
1.1 Aspek-Aspek Perkembangan .......................................................................... 6
1.1.1 Aspek Fisik ......................................................................................... 6
1.1.2 Aspek Intelektual ................................................................................ 8
1.1.3 Aspek Bahasa ..................................................................................... 9
1.1.4 Aspek Sosial ....................................................................................... 13
1.1.5 Aspek Kepribadian ............................................................................. 13
1.1.6 Kesadaran Beragama .......................................................................... 14
1.1.7 Orientasi Seksual dan Seksualitas ...................................................... 15
1.2 Karakteristik Perkembangan Anak Usia Sekolah Menengah ........................ 16
1.3 Perbedaan Individu dan Kebutuhan Anak Usia Sekolah ............................... 16
2. Tugas-Tugas Perkembangan Anak Usia Sekolah Menengah .............................. 17
2.1 Faktor-Faktor Munculnya Tugas Perkembangan ........................................... 17
2.2 Tugas-Tugas Perkembangan Remaja ............................................................. 18
3. Problematika dan Solusi Perkembangan Anak Usia Sekolah ............................. 19
3.1 Pengertian dan Ciri-Ciri Masalah .................................................................. 19
3.2 Jenis-Jenis Masalah ....................................................................................... 20

BAB 3 PENUTUP

A. Kesimpulan ........................................................................................................... 36
B. Saran ..................................................................................................................... 36

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 37

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Permasalahan bagi manusia akan semakin kompleks ketika mereka


menginjak usia remaja, usia dimana mereka masih berada di jenjang pendidikan
usia sekolah menengah. Pada masa itulah mereka mulai mengenal lingkungan atau
masyarakat lebih luas, yang selalu dihadapkan pada permasalahan-permasalahan
yang lebih rumit dan memerlukan penanganan yang sangat serius.

Permasalahan bagi peserta didik usia sekolah menengah timbul baik dari
intern ataupun ekstern yang mana keduanya sangat mengganggu proses belajar
dan pembelajaran peserta didik di usia itu. Keingintahuan pada usia sekolah
menengah sangatlah besar karena pada masa itu mereka mencari jati diri dan figur
yang di idolakan oleh mereka.

Lingkungan sekolah mempunyai pengaruh yang besar terhadap


perkembangan jiwa remaja. Selain mengemban fungsi pendidikan (transformasi
nilai dan norma sosial). Dalam kaitan dengan pendidikan, peran sekolah tidak jauh
berbeda dengan peran keluarga, yaitu sebagai tempat perlindungan jika anak
mengalami masalah.

Bagi seorang pendidik umumnya dan konselor khususnya, haruslah tahu


keadaan peserta didiknya dan harus bisa mengarahkan pada hal-hal yang positif,
sehingga peserta didik pada usia sekolah menengah tersebut akan terarah pada hal-
hal positif. Pendidik juga harus mengetahui gejala-gejala yang terdapat pada
peserta didik dan memberikan solusi yang terbaik dalam menghadapi
keadaan peserta didik. Selain itu, disetiap sekolah lanjutan diadakan guru
bimbingan dan penyuluhan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah
yang dihadapinya.

4
B. Rumusan Masalah

1. Perkembangan apa saja yang terjadi pada masa anak usia sekolah?

2. Apa saja tugas-tugas perkembangan anak usia sekolah menengah?

3. Apa problematika dan solusi perkembangan anak usia menengah?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut diatas , makalah ini secara khusus memiliki
tujuan sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui karakteristik perkembangan anak usia sekolah menengah


2. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi terjadinya perkembangan anak usia
sekolah menengah
3. Untuk mengetahui problematika dan cara penyelesaian perkembangan anak usia
sekolah menengah

Manfaat bagi penulis:


Mendapat ilmu pengetahuan yang baru
Dapat memahami perkembangan anak usia sekolah menengah
Mendapat kesempatan untuk mempelajari materi perkembangan anak usia sekolah
menengah

Manfaat bagi mahasiswa dan masyarakat:


Dapat lebih memahami perkembangan anak usia sekolah menengah
Mampu menerapkan pengetahuan perkembangan peserta didik dalam kehidupan
sehari-hari

5
BAB II

PEMBAHASAN

1. Karakteristik & Aspek-aspek Perkembangan Anak Usia Sekolah Menengah


Masa remaja merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus
perkembangan siswa, dan merupakan masa transisi yang diarahkan kepada
perkembangan masa dewasa yang sehat (Konopka dalam Pikunas, 1976; Kaczman
dan Riva, 1996).
Ditilik dari segi usia, siswa SLTP (SMP dan MTS) dan SLTA termasuk
fase atau masa remaja. Fase remaja merupakan salah satu periode dalam rentang
kehidupan siswa. Menurut Konopka (Pikunas, 1976) fase ini meliputi:
1. Remaja awal: 12-15 tahun
2. Remaja madya: 15-18 tahun
3. Remaja akhir: 19-22 tahun.
Jika dilihat dari klasifikasi usia tersebut, maka siswa sekolah menengah
termasuk kedalam kategori awal dan madya. Untuk memahami lebih lanjut
tentang remaja, pada uraian berikut dapat dipaparkan mengenai karakteristik dan
aspek-aspek perkembangannya.

1.1 Aspek-Aspek Perkembangan


1.1.1 Aspek Fisik
Secara fisik, masa remaja ditandai dengan dengan adanya
pubertas yaitu masa ketika sesorang mencapai kematangan seksual dan
kemampuan reproduksi. Remaja pria mengalami pertumbuhan pada
organ testis, penis pembuluh mani, dan kelenjar prostat. Matangnya
organ-organ ini memungkinkan remaja pria mengalami mimpi basah.
Sementara remaja wanita ditandai dengan tumbuhnya rahim, vagina
dan ovarium. Ovarium menghasilkan ova (telur) dan mengeluarkan
hormon-hormon yang diperlukan untuk kehamilan, dan perkembangan
seks sekunder. Matangnya organ-organ seksual memungkinkan wanita
remaja untuk mengalami menstruasi.

6
Fase remaja ini merupakan masa terjadinya banjir hormon,
yaitu zat-zat kimia yang sangat kuat, yang disekresikan oleh kelenjar-
kelenjar endoktrin dan dibawa keseluruh tubuh oleh aliran darah.
Konsentrasi hormon-hormon tertentu meningkat secara dramatis
selama masa remaja, seperti hormon testosteron dan estradiol.
Pertumbuhan fisik erat hubungannya dengan kondisi remaja.
Kondisi yang baik berdampak baik pada pertumbuhan fisik remaja,
demikian pula sebaliknya.

Kondisi-Kondisi Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Fisik Remaja

a. Pengaruh Keluarga
Pengaruh Keluarga meliputi faktor keturunan maupun faktor
lingkungan. Karena faktor keturunan seorang anak dapat lebih tinggi
atau panjang dari anak lainnya, sehingga ia lebih berat tubuhnya, jika
ayah dan ibunya atau kakeknya tinggi dan panjang. Faktor lingkungan
akan membantu menentukan tercapai tidaknya perwujudan potensi
keturunan yang dibawa dari orang tuanya.
b. Pengaruh Gizi
Anak yang mendapatkan gizi cukup biasanya akan lebih tinggi
tubuhnya dan sedikit lebih cepat mencapai taraf dewasa dibadingkan
dengan mereka yang tidak mendapatkan gizi cukup. Lingkungan juga
dapat memberikan pengaruh pada remaja sedemikian rupa sehingga
menghambat atau mempercepat potensi untuk pertumbuhan dimasa
remaja.
c. Gangguan Emosional
Anak yang sering mengalami gangguan emosional akan
menyebabkan terbentuknya steroid adrenal yang berlebihan dan ini
akan membawa akibat berkurangnya pembentukan hormon
pertumbuhan di kelenjar pituitary. Bila terjadi hal demikian
pertumbuhan awal remajanya terhambat dan tidak tercapai berat tubuh
yang seharusnya.
d. Jenis Kelamin

7
Anak laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat dari pada anak
perempuan, kecuali pada usia 12 15 tahun. Anak perempuan
baisanya akan sedikit lebih tinggi dan lebih berat dari pada laki-laki-
laki. Hal ini terjadi karena bentuk tulang dan otot pada anak laki-laki
berbeda dengan perempuan. Anak perempuan lebih cepat
kematangannya dari pada laki-laki.
e. Status Sosial Ekonomi
Anak yang berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi
rendah, cenderung lebih kecil dari pada anak yang bersal dari keluarga
dengan tingkat ekonomi tinggi.
f. Kesehatan
Kesehatan amat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik
remaja. Remaja yang berbadan sehat dan jarang sakit, biasanya
memiliki tubuh yang lebih tinggi dan berat dibanding yang sering
sakit.
g. Pengaruh Bentuk Tubuh
Perubahan psikologis muncul antara lain disebabkan oleh
perubahan-perubahan fisik. Diantara perubahan fisik yang sangat
berpengaruh adalah : pertumbuhan tubuh (badan makin besar dan
tinggi), mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid
pada perempuan dan mimpi basah pada anak laki-laki).

1.1.2 Aspek Intelektual (Kognitif)


Dalam pandangan Piaget, perkembangan kognitif pada hakekatnya
adalah perkembangan kemampuan penalaran logis. Baginya, berpikir dalam
proses kognitif tersebut lebih penting daripada sekedar mengerti. Pada masa
remaja, peserta didik mulai mengembangkan cara berpikirnya.
Masa remaja sudah mencapai tahap perkembangan berpikir operional
formal. Tahap ini ditandai dengan kemampuan berfikir abstrak (seperti
memecahkan persamaan aljabar), idealistik (seperti berpikir tentang ciri-ciri
ideal dirinya, orang lain dan masyarakat) dan logis (seperti menyusun rencana
untuk memecahkan masalah).

8
Pada masa ini terjadi reorganisasi lingkaran syaraf Lobe Frontal yang
berfungsi sebagai kegiatan kognitif tingkat tinggi yaitu kemampuan
merumuskan perencanaan dan pengambilan keputusan.

Faktor faktor yang mempengaruhi intelektual seseorang adalah :

a. Bertambahnya informasi yang disimpan dalam otak seseorang


sehingga ia mampu berpikir reflektif.
b. Banyak pengalaman dan latihan-latihan memecahkan masalah
sehingga seseorang dapat berfikir proporsional.
c. Adanya kebebasan berfikir, menimbulkan keberanian seseorang
dalam penyusunan hipotesis yang radikal, kebebasan menjajaki
masalah secara keseluruhan dan menunjang keberanian anak
memecahkan masalah dan menarik kesimpulan yang baru dan
benar.

1.1.3 Aspek Bahasa

Bahasa remaja adalah bahasa yang telah berkembang ia telah banyak


belajar dari lingkungan, dan dengan demikian bahasa remaja terbentuk dari
kondisi lingkungan. Lingkungan remaja mencakup lingkungan keluarga,
masyarakat dan khususnya pergaulan teman sebaya, dan lingkungan sekolah.
Pola bahasa yang dimiliki adalah bahasa yang berkembang di dalam keluarga
atau bahasa itu.
Perkembangan bahasa remaja dilengkapi dan diperkaya oleh
lingkungan masyarakat di mana mereka tinggal. Hal ini berarti pembentukan
kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan masyarakat sekitar akan memberi
ciri khusus dalam perilaku bahasa. Bersamaan dengan kehidupannya di dalam
masyarakat luas, anak (remaja) mengkutip proses belajar disekolah.
Sebagaimana diketahui, di lembaga pendidikan diberikan rangsangan yang
terarah sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar. Proses pendidikan bukan
memperluas dan memperdalam cakrawala ilmu pengetahuan semata, tetapi
juga secara berencana merekayasa perkembangan sistem budaya, termasuk
perilaku berbahasa. Pengaruh pergaulan di dalam masyarakat (teman sebaya)
terkadang cukup menonjol, sehingga bahasa anak (remaja) menjadi lebih
9
diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang di dalam kelompok sebaya.
Dari kelompok itu berkembang bahasa sandi, bahasa kelompok yang
bentuknya amat khusus, seperti istilah baceman dikalangan pelajar yang
dimaksudkan adalah bocoran soal ulangan atau tes. Bahasa prokem terutama
secara khusus untuk kepentingan khusus pula.
Ragam bahasa remaja memiliki ciri khusus, singkat, lincah dan kreatif.
Kata-kata yang digunakan cenderung pendek, sementara kata yang agak
panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau menggantinya
dengan kata yang lebih pendek seperti permainan diganti dengan mainan,
pekerjaan diganti dengan kerjaan.
Kalimat-kalimat yang digunakan kebanyakan berstruktur kalimat
tunggal. Bentuk-bentuk elip juga banyak digunakan untuk membuat susunan
kalimat menjadi lebih pendek sehingga seringkali dijumpai kalimat-kalimat
yang tidak lengkap. Dengan menggunakan struktur yang pendek,
pengungkapan makna menjadi lebih cepat yang sering membuat pendengar
yang bukan penutur asli bahasa Indonesia mengalami kesulitan untuk
memahaminya. Kita bisa mendengar bagaimana bahasa remaja ini dibuat
begitu singkat tetapi sangat komunikatif.
Dalam perkembangan masyarakat modern sekarang ini, di kota-kota
besar bahkan berkembang pesat bahasa khas remaja yang sering dikenal
dengan bahasa gaul. Bahkan karena pesatnya perkembangan bahasa gaul ini
dan untuk membantu kalangan diluar remaja memahami bahasa mereka,
Debby Sahertian (2000) telah menyusun dan menertibkan sebuah kamus khas
remaja yang disebut dengan Kamus Bahasa Gaul. Dalam kamus itu tertera
sekian ribu bahasa gaul yang menjadi bahasa khas remaja yang jika kita
pelajari sangat berbeda dengan bahasa pada umumnya. Kalangan remaja justru
sangat akrab dan sangat memahami bahasa gaul serta merasa lebih aman jika
berkomunikasi dengan sesama remaja menggunakan bahasa gaul.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa:

a. Umur anak
Manusia bertambah umur akan semakin matang
pertumbuhan fisiknya, bertambahnya pengalaman, dan

10
meningkatkan kebutuhan. Bahasa seseorang akan berkembang
sejalan dengan pertambahan pengalaman dan kebutuhannya. Faktor
fisik ikut mempengaruhi sehubungan semakin sempurnanya
pertumbuhan organ bicara, kerja otot-otot untuk melakukan
gerakan-gerakan dan isyarat. Pada masa remaja perkembangan
biologis yang menunjang kemampuan berbahasa telah mencapai
tingkat kesempurnaan, dengan dibarengi oleh perkembangan
tingkat intelektual, anak akan mampu menunjukkan cara
berkomunikasi dengan baik.
b. Kondisi lingkungan
Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memberi
andil untuk cukup besar dalam berbahasa. Perkembangan bahasa
dilingkungan perkotaan akan berbeda dengan dilingkungan
pedesaan. Begitu pula perkembangan bahasa di daerah pantai,
pegunungan dan daerah-daerah terpencil menunjukkan perbedaan.
Pada dasarnya bahasa dipelajari dari lingkungan.
Lingkungan yang dimaksud termasuk lingkungan pergaulan dalam
kelompok, seperti kelompok bermain, kelompok kerja, dan
kelompok sosial lainnya.
c. Kecerdasan anak
Untuk meniru bunyi atau suara, gerakan dan mengenal
tanda-tanda, memerlukan kemampuan motorik yang baik.
Kemampuan intelektual atau tingkat berpikir. Ketepatan meniru,
memproduksi perbendaharaan kata-kata yang diingat, kemampuan
menyusun kalimat dengan baik dan memahami atau menangkap
maksud suatu pernyataan fisik lain, amat dipengaruhi oleh kerja
pikir atau kecerdasan seseorang anak.
d. Status sosial ekonomi keluarga
Keluarga yang berstatus sosial ekonomi baik, akan
mampu menyediakan situasi yang baik bagi perkembangan bahasa
anak-anak dengan anggota keluarganya. Rangsangan untuk dapat
ditiru oleh anak-anak dari anggota keluarga yang berstatus sosial
tinggi berbeda dengan keluarga yang berstatus sosial rendah. Hal
ini akan tampak perbedaan perkembangan bahasa bagi anak yang

11
hidup di dalam keluarga terdidik dan tidak terdidik. Dengan kata
lain pendidikan keluarga berpengaruh terhadap perkembangan
bahasa.
e. Kondisi Fisik
Kondisi fisik di sini kesehatan anak. Seseorang yang cacat
yang terganggu kemampuannya untuk berkomunikasi, seperti bisu,
tuli, gagap, dan organ suara tidak sempurna akan mengganggu
perkembangan alam berbahasa.
f. Aspek Emosional
Masa remaja merupakan puncak emosionalitas.
Pertumnbuhan organ-organ seksual mempengaruhi emosi atau
perasaan-persaan baru yang belum dialami sebelumnya. Dalam
budaya Amerika, periode ini dipandang sebagai masa Strom &
Stress, frustasi dan penderitaan, konflik dan krisis penyesuaian,
mimpi dan melamun tentang cinta, dan perasaan terealisasi dan
kehidupan sosial budaya orang dewasa. (Pinukas, 1976).
Pola emosi masa remaja adalah sama dengan pola emosi
masa-masa kuliah, bedanya terletak pada macam dan derajat
rangsangan yang membangkitkan emosi dan pola pengendalian
yang dilakukan individu terhadap emosinya. Beberapa kondisi
emosional yang akan dirasakan oleh remaja adalah seperti cinta /
kasih sayang, gembira, kemarahan, permusuhan, ketakutan dan
kecemasan.

Adapun ciri-ciri emosional remaja yang berusia 12-15


tahun menurut Biehler (1927) adalah sebagai berikut :

a. Cenderung bersikap pemurung, hal ini disebabkan oleh faktor


biologis dan hubungan kematangan seksual dan sebagaian lagi
karena kebingungannya dalam menghadapi orang dewasa.
b. Berperilaku kasar untuk menutupi kekurangannya dalam hal
percaya diri.
c. Sering terjadi ledakan emosi.
d. Tidak toleran terhadap orang lain.

12
e. Ada perasaan marah dengan gaya orang dewasa / guru yang
bersikap serba tahu.

Sedangkan ciri emosional remaja usia 15-18 tahun adalah


sebagai berikut :

a. Sering memberontak sebagai ekspresi dari perubahan masa


kanak-kanak ke dewasa.
b. Dengan berubahnya kebebasan banyak remaja yang mengalami
konflik dengan orang tuanya. Mereka mengharapkan perhatian,
simpati, dan nasihat dari orang tua.
c. Sering melamun untuk memikirkan masa depannya.

Mendekati berakhirnya masa remaja, berarti telah melewati banyak badai


emosional. Ia juga telah belajar dalam seni menyembunyikan perasaan, berarti
jika ingin memahami remaja, kita tidak hanya mengamati emosi-emosi yang
secara spontan dan terbuka, tetapi perlu berusaha mengerti emosi yang
disembunyikan. Seiring bertambahnya umur, pengetahuan dan pengalaman
berpengaruh signifikan terhadap perubahan irama emosional remaja.

1.1.4 Aspek Sosial


Pada masa ini perkembangan sosial cognition, yaitu kemampuan
memahami orang lain. Kemampuan ini mendorong remaja untuk menjalin
hubungan sosial dengan teman sebaya. Masa ini juga ditandai dengan
berkembangnya sikap confomity (konformitas), yaitu kecenderungan untuk
meniru, mengikuti, opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran (hobby) atau
keinginan orang lain. Perkembangan konfomitas ini dapat berdampak positif
atau negatif bagi remaja sendiri, tergantung kepada siapa atau kelompok mana
dia melakukan konformitasnya.
Terkait dengan hal ini, Luskin Pikunas (1976;257-259) mengemukakan
pendapat McCandles dan Evans yang berpendapat bahwa masa remaja akhir
ditandai oleh keinginannya untuk tumbuh dan berkembang secara matang agar
diterima oleh teman sebaya, orang dewasa dan budaya.

13
1.1.5 Aspek Kepribadian
Masa remaja merupakan saat berkembangnya self-identity (kesadaran
akan identitas atau jati dirinya). Remaja dihadapkan kepada berbagai
pertanyaan: who am i, man ana, siapa saya? (keberadaan diriya), akan
menjadi apa saya? Apa peran saya dan mengapa saya harus beragama?
Apabila remaja berhasil memahami dirinya, peran-perannya dalam
kehidupan social, dan memahami makna hidup beragama, maka dia akan
menemukan jati dirinya, dalam arti dia akan memiliki kepribadian yang sehat.
Sebaliknya apabila gagal, maka dia akan mengalami kebingungan atau
kekacauan (confusion) sehingga cenderung memiliki kepribadian yang tidak
sehat.

1.1.6 Kesadaran Beragama


Pikunas (1976) mengemukakan pendapat William Kay, yaitu bahwa
tugas utama perkembangan remaja adalah memperoleh kematangan sistem
moral untuk membimbing perilakunya. Kematangan remaja belumlah
sempurna, jika tidak memiliki kode moral yang dapat diterima secara
universal. Pendapat ini menunjukkan tentang pentingnya remaja memiliki
landasan hidup yang kokoh, yaitu nilai-nilai moral, terutama yang bersumber
dari agama. Terkait dengan kehidupan beragama remaja, ternyata mengalamin
proses yang cukup panjang untuk mencapai kesadaran beragama yang
diharapkan.

Proses kesadaran beragama remaja itu dipaparkan pada uraian berikut:

a. Masa Remaja awal (usia 13-16 tahun)


Pada masa ini terjadi perubahan jasmani yang cepat, yaitu dengan
mulai tumbuhnya ciri-ciri keremajaan yang terkait dengan matangnya
organ-organ seks, yaitu: ciri primer (menstruasi pada anak wanita dan
mimpi pertama pada remaja pria) dan ciri sekunder (tumbuh kumis,
jakun, dan bulu-bulu disekitar kemaluan pada remaja pria dan
membesarnya buah dada/payudara, membesarnya pinggul dan tumbuhnya
bulu-bulu disekitar kemaluan pada remaja wanita).

14
Kegoncangan dalam keagamaan ini mungkin muncul karena
disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal.
Faktor internal, terkait dengan 1). matangnya organ-organ seks
yang mendorong remaja untuk memenuhi kebutuhan tersebut,
namun disisi lain dia tahu perbuatan itu dilarang oleh agama. 2).
Berkembangnya sikap independen, keinginan untuk hidup bebas,
tidak mau terikat dengan norma-norma keluarga, sekolah atau
agama.
Faktor eksternal, terkait dengan 1). Perkembangan kehidupan
sosial budaya dan masyarakat yang tidak jarang bertentangan
dengan nilai-nilai agama. 2). Perilaku orang dewasa, orang tua
sendiri, para pejabat dan warga masyarakat yang gaya hidupnya
kurang mempedulikan agama, bersifat munafik, tidak jujur dan
perilaku amoral lainnya.
b. Masa Remaja Akhir (17-21 tahun)
Secara psikologis, pada masa ini emosi remaja sudah mulai stabil
dan pemikirannya mulai matang. Dalam kehidupan beragama, remaja
sudah melibatkan diri kedalam kegiatan keagamaan. Remaja sudah dapat
membedakan agama sebagai ajaran dengan manusia sebagai penganutnya.

1.1.7 Orientasi Seksual dan Seksualitas


Peserta didik pada usia sekolah menengah berusaha secara total
menemukan satu identitas, berupa perwujudan orientasi seksual yang
tercermin dari hasrat seksual, emosional, romantisme, dan atraksi kasih sayang
kepada anggota jenis kelamin yang sama atau berbeda atau keduanya. Seorang
peserta didik yang tertarik pada anggota jenis kelamin lain disebut
heteroseksual, sebaliknya seseorang yang tertarik pada anggota jenis kelamin
lain disebut homo seksual. Banyak yang menggunakan istialh gay sebagai kata
ganti homo seksual untuk laki laki dan lesbian untuk wanita. Ada juga
peserta didik yang menyukai keduanya disebut biseksual.
Remaja adalah masa saat peserta didik ingin mencoba berbagai hal
termasuk seksualitas, untuk itu sangat diperlukan pelajaran mengenai
seksualitas di sekolah. Masalah seksualitas jangan dianggap sebagai hal yang

15
tabu untuk dipelajari karena itu akan sangat berguna bagi remaja agar orientasi
seksual mereka tidak menyimpang.
Peran pendidik seperti orang tua dan guru sangat diperlukan untuk
menemani remaja mengatasi masalah ini, pengertian serta bimbingan dari
pendidik untuk membantu mengenali mana yang boleh dan yang tidak akan
membatu menjaga mereka dalam masa ini.

1.2 Karakteristik Perkembangan Anak Usia Sekolah Menengah

a. Perkembangan fisik pada siswa usia sekolah menengah ditandai dengan


adanya perubahan bentuk, berat, dan tinggi badan. Selain hal itu,
perkembangan fisik pada usia ini ditandai pula dengan munculnya ciri-ciri
kelamin primer dan sekunder. Hormon testoterone dan estrogen juga turut
mempengaruhi perkembangan fisik.
b. Perkembangan intelektual siswa SMP ditandai dengan berkembangnya
kemampuan berpikir formal operasional. Selain itu, kemampuan mengingat
dan memproses informasi cukup kuat berkembang pada usia ini.
c. Perkembangan pemikiran sosial dan moralitas nampak pada sikap
berkurangnya egosentrisme. Siswa SMP dan SMA juga telah mempunyai
pemikiran politik dan keyakinan yang lebih rasional.
d. Terdapat berbagai mazhab atau aliran dalam pendidikan yang membahas
faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak. Di antaranya adalah
aliran nativisme, empirisme, dan konvergensi.
e. Papalia dan Olds (1992:7-8) menyebutkan faktor internal dan eksternal yang
telah memberi pengaruh besar terhadap perkembangan anak. Urie
Bronfenbrenner menyatakan ada 4 tingkatan pengaruh lingkungan seperti,
sistem mikro, meso dan exo yang membentuk pribadi anak. Sedangkan
pandangan konvensional menyatakan bahwa ada 3 faktor dominan yang
mempengaruhi perkembangan siswa SLTP dan SMU, yaitu pembawaan,
lingkungan dan waktu.

1.3 Perbedaan Individu dan Kebutuhan Anak Usia Sekolah Menengah

Secara garis besar, perbedaan individu dikategorikan menjadi 2, yaitu


perbedaan secara fisik, dan psikis. Perbedaan secara psikis meliputi perbedaan

16
dalam tingkat intelektualitas, kepribadian, minat, sikap dan kebiasaan belajar.
Dalam pandangan yang lain, perbedaan individual siswa sekolah menengah
dibedakan berdasarkan perbedaan dalam kemampuan potensial dan kemampuan
nyata. Kemampuan nyata dapat disebut sebagai prestasi belajar.

Indikator perilaku intelegen menurut Witherington antara lain:

a. Kemudahan dalam menggunakan bilangan.


b. Efisiensi dalam berbahasa.
c. Kecepatan dalam pengamatan.
d. Kemudahan dalam mengingat.
e. Kemudahan dalam memahami hubungan.
f. Imajinasi.

Gage dan Berlinier (1984:165) mempunyai pandangan tentang


kepribadian sebagai berikut: Personality is the integration of all of persons traits
abilities, motives as well as his or her temperament, attitudes, opinios, beliefs,
emotional responses, cognitive styles, characters and morals.

Menurut Murray, kebutuhan individu dibagi menjadi 2 kelompok besar,


yaitu viscerogenic dan psychogenic. Kemudian kebutuhan psychogenic dibagi lagi
menjadi 20 kebutuhan. Kebutuhan yang cenderung dominan pada siswa sekolah
menengah berdasarkan 20 kebutuhan menurut konsep Murray, adalah seperti ini:

- Need for affiliation


- Need for aggression
- Autonomy needs
- Conteraction
- Need for dominance
- Exhibition
- Sex.

17
2. Tugas-tugas Perkembangan Anak Usia Sekolah Menengah
Tugas-tugas perkembangan terkait dengan sikap, pengetahuan, dan
keterampilan yang seyogyanya dimiliki setiap siswa sesuai dengan fase
perkembangannya.
2.1 Faktor-Faktor Munculnya Tugas-Tugas Perkembangan
a. Kematangan fisik, misalnya (1) belajar berjalan karena kematangan otot-otot
kaki, dan (2) belajar bergaul dengan jenis kelamin yang berbeda pada masa
remaja, karena kematangan hormon seksual.
b. Tuntutan masyarakat secara kultural, misalnya (1) belajar membaca, (2)
belajar menulis, (3) belajar berhitung, (4) belajar berorganisasi.
c. Tuntutan dari dorongan dan cita-cita siswa itu sendiri misalnya (1) memilih
pekerjaan, (2) memilih teman hidup.
d. Tuntutan norma agama, misalnya (1) taat beribadah kepada Allah, dan (2)
berbuat baik kepada semua manusia.
2.2 Tugas-tugas Perkembangan Remaja
a. Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya
b. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau figur-figur yang
mempunyai otoritas
c. Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal
d. Mampu bergaul dengan teman sebaya atau orang lain secara wajar
e. Menemukan manusia model yang dijadikan pusat identifikasinya
f. Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuan
sendiri
g. Memperoleh Self-control atas dasar skala nilai, prinsip-prinsip atau falsafah
hidup
h. Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri yang kekanak-kanakan
i. Bertingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial
j. Mengembangkan keterampilan intelectual dan konsep-konsep yang diperlukan
bagi warga negara
k. Memilih dan mempersiapkan karir
l. Memiliki sikap positif terhadap pernikahan dan hidup berkeluarga
m. Mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

18
Elizabeth B. Hurlock (1981) mengemukakan bahwa anak sekolah menengah
atas sudah mulai memikirkan masa depan mereka secara sungguh-sungguh. Anak
laki-laki biasanya lebih bersungguh-sungguh dalam perkerjaan dibanding dengan
anak perempuan yang memandang pekerjaan sebagai pengisi waktu sebelum
menikah.

Apabila dilihat dari tahapan karier dari Super dan Jordaan (John Milton
Dillard, 1985:200, masa remaja termasuk tahap eksplorasi pada tingkat tentatif dan
transisi (usia 15-21 tahun). Pada tahap tentatif (15-17), faktor-faktor yang
dipertimbangkan adalah kebutuhan, minat, kapasitas, nilai-nilai dan kesempatan.

3. Problematika Peserta Didik Usia Sekolah Menengah dan Solusinya


3.1 Pengertian dan Ciri-Ciri Masalah
Dalam perembangan dan proses kehidupannya, manusia sangat
mungkin menemui berbagai permasalahan, baik oleh individu secara
perorangan maupun kelompok. Permasalahan yang diadapi oleh setip individu
sangat dimungkinkan selain berpengaruh pada dirinya sendiri juga
berpengaruh kepada orang lain atau lingkungan disekitarnya.
Pada hakekatnya proses pengembangan manusia seutuhnya hendaknya
mencapai pribadi-pribadi yang kediriannya matang, dengan kemampuan sosial
yang baik, kesusilaan yang tinggi serta keimanan dan ketakwaan yang dalam.
Namun pada kenyataannya yang sering dijumpai adalah keadaan pribadi yang
kurang berkembang dan rapuh, tingkat kesosialan dan kesusilaan yang rendah,
serta tingkat ketakwaan dan keimanan yang dangkal.
Ketidakmampuan setiap individu untuk mewujudkan perkembangan
yang optimal pada keempat dimensi (individualitas, sosialitas, moralitas, dan
regularitas) tersebut dikarenakan oleh berbagai permasalahan yang dialami
selama proses perkembangannya. Keadaan tersebut juga banyak dijumpai
siswa yang berada pada tingkat sekolah menengah pertama dan tingkat
menengah keatas dimana merka sedang dalam fase masa remaja.
Masalah merupakan suatu atau persoalan yang harus diselesaikan atau
dipecahkan. Masalah yang menimpa seseorang bila dibiarkan berkembang dan
tidak segera dipecahkan dapat mengganggu kehidupan, baik dirinya sendiri
19
maupun orang lain. Adapun ciri-ciri masalah dapat dikemukakan sebagai
berikut :
a. Masalah muncul karena ada kesenjangan antara harapan (das Sollen)
dan kenyataan (das Sein)
b. Senakin besar kesenjangan, maka masalah semakin berat
c. Tiap kesenjangan yang terjadi dapat menimbulkan persepsi yang
berbeda-beda
d. Masalah muncul sebagai perilaku yang tidak dikehendaki oleh individu
itu sendiri mauppun oleh lingkungan
e. Masalah timbul akibat dari proses belajar yang keliru
f. Masalah memerlukan berbagai pertanyaan dasar (basic question) yang
perlu dijawab
g. Maslah dapat bersifat individual maupun kelompok

3.2 Jenis-Jenis Masalah


Ada pendapat yang mengatakan bahwa hidup dan berkembang itu
mengandung resiko. Perjalanan kehidupan dan proses perkembangan sering
kali ternyata tidak mulus, banyak mengalami berbagai hambatan dan
rintangan. Lebih-lebih bagi siswa sekolah menengah yang berada dalam fase
perkembangan remaja, masa dimana individu mengalami berbagai perubahan
baik secara fisik maupun psikis.
Seperti yang telah dikemukakan diatas bahwa siswa sekolalh
menengah berada dalam fase dimana individu mengalami perubahan yang
besar, yang dimulai sejak datangnya fase masa puber. Datangnya fase masa
puber ditandai dengan kematangan seksuallitas. Hurlock (1980:192)
menuliskan berbagai peruahan sikap dan perilaku sebagai akibat dari
perubahan yang terjadi pada masa puber. Sikap dan perilaku yang
dimaksudkan adalah :
a. Ingin menyendiri. Ketika perubaha pada masa puber suda mulai terjadi,
anak-anak biasanya mulai menarik diri dari teman-teman dan dari
berbagai kegiatan keluarga, serta mulai ingin selalu berada di zona
nyamannya.
b. Bosan. Dengan datangnya masa puber, anak mulai bosan degan seggala
sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan yang dilakukan secara terus

20
menenerus. Sehingga pada masa puber ini berpotensi sangat besar untuk
menurunkan prestasi belajar.
c. Inkoordinasi. Anak akan mengalami ketidakseimbangan gerakan.
d. Antgonisme sosial. Anak pada masa puber sering tidak mau diajak untuk
bekrja sama, sering membantah dan menentang. Permusuhan akan sering
dimunculkan dengan dimulai melalui kritik dan komentar-komentar yang
cenderung merendahkan.
e. Emosi yang meninggi. Pada masa puber anak akan mudah tersinggung
dan marah hanya karena masalah sepele.
f. Hilangnya kepercayaan diri. Sebagai akibat dari perubahan fisik pada
diri anak mengakibatkan anak akan merasa rendah diri, lebih-lebih pada
anak yang sering mendapat kritik yang bertujuan untuk
merendahkannya.

Sikap dan perilaku anak yang berada dalam masa puber akan
mengganggu tugas-tugas perkembangan anak pada fase berikutnya, yaitu fase
remaja, dan sebagai akibatnya anak akan mengalami gangguan dalam
menjalani kehidupan pada fase remaja. Beberapa masalah yang dialami oleh
remaja adalah :

3.2.1 Masalah Emosi


Secara tradisional masa remaja sering dianggap sebagai periode
badai dan tekanan suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi
sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Emosi remaja sering
kali sangat kuat, tidak terkendali, dan kadang tamoak irasional. Hal ini
dapat dilihat dari gejala yang Nampak pada mereka, isalnya mudah
marah, mudah dirangsang, emosinya cenderung meledak-ledak dan
tidak mampu mengendalikan perasaannya. Keadaan ini sering
menimbulkan berbagai permasalahan khususnya dalam kaitannya
dengan penyesuaian diri dengan lingkungannya. Maraknya kasus
perkelahian antar pelajar yang sering terjadi akhir-akhir ini adalah
contoh nyata dari ketidakmampuan remaja dalma mengolah dan
mengendalikan emosi.

21
Sekolahsebagai lembaga formal yang diberi tugas dan tanggung
jawab untuk membantu subjek didik menuju kearah kedewasaan yang
optimal harus mempunyai langkah-langkah konkrit untuk mencegah
dan mengatasimasalah emosional ini. Misalnya dengan memberikan
pelayanan khusus bagi siswa melalui program layanan informasi,
layanan konseling, layanan bimbingan dan konseling kelompok.
Dalam layanan konseling dan konseling kelompok anak dapat berlatih
bagaimana caranya menjadi pendengar yang baik, bagaimana cara
mengemukakan masalah, bagaimana cara mengendalikan diri baik
dalam menanggapi masalah sesama anggota maupun mengemukakan
masalahnya sendiri. melalui wahanan kelompok, siswa dapat berlatih
mengendalikan diri.
3.2.2 Masalah Penyesuaian Diri
Salah satu tugas yang paling sulit pada masa remaja adalah
yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. Remaja harus
menyesuaikan diri dengan lawan jenis baik dengan sesama remaja
maupun dengan orang-orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan
sekolah. Untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja
harus membuat banyak penyesuaian baru. Pada fase ini remaja lebih
banyak diluar rumah bersama dengan teman-temannya sebagai
kelompok, maka dapat dimengerti bahawa pengaruh dari teman sebaya
dalam segala pola perilaku, sikap minat, dan gaya hidupnya lebih besar
dari pada pengaruh dari keluarga. Perilaku remaja sangat tergantung
dari pola-pola perilaku kelompok. Yang menjadi masalah apabila
mereka salah dalam bergaul, misalnya berada dalam kelompok
pemakai narkoba dan perilaku negatif lainnya. Dalam keadaan
demikian, remaja cenderung akan mengikuti tanpa memperdulikan
berbagai akibat yang bisa menimpa dirinya. Kebutuhan akan
penerimaan dalam kelompok sebaya merupakan kebutuhan yang
paling dianggap penting. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut remaja
mau melakukan apa saja dengan tanpa melihat berbagai efek negatif
yang akan menimpa atas perilaku yang mereka perbuat.
Untuk itulah maka sekolah harus ikut membantu tugas-tugas
perkembangan remaja tersebut agar mereka tidak mengalami kesalahan

22
dalam penyesuaian dirinya. Melalui penyeiaan sarana dan prasarana
serta fasilitas pembinaan bakat dan minat baik lewat kegiatan kurikuler
maupun kokurikuler di sekolah, diharapkan dapat mencegah dan
mengatasi kesalahan pergaulan tersebut.
3.2.3 Masalah Perilaku Seksual
Tugas perkembangan yang harus dilakukan oleh remaja
sehubungan dengan kematangan seksualitasnya adalah pembentuan
hubungan yang lebih matang dengan lawan jenis dan belajar
memerankan peran seks yang diakuinya. Pada masa ini remaja mulai
tertarik dengan lawan jenis, mulai bersifat romantis, yang diikuti oleh
keinginan yang kuat untuk memperoleh dukungan dan perhatian dari
lawn jenis, akiibatnya remaja mempunyai minat yang tinggi pada seks.
Seharusnya mereka mencari dan ataumemeroleh informasi tentang
seluk beluk seks dari orang tua, tetapi kenyataannya mereka
memperoleh informasi lebih banyak dari sumber-sumber yang kadang
tidak dapat dipertanggungjawabkan, misalnya dari teman sebaya yang
sama-sama kurang memahami arti pentingnya seks, internet, media
elelktronik, dan media cetak yang kadang-kadang lebih menjurus pada
pornografi. Sebagai akibat dari informasi yang tidak tepat tersebut
dapat menimbulkan perilakuseks remaja yang apabila ditinjau dari segi
moral dan kesehatan tidak layak untuk dilakukan, misalnya berciuman,
bercumbu, bermasturbasi, dan bersenggama. Bagi generasi yang lalu,
perilaku seksual seperti itu adalah tabu dan menimbulkan rasa bersalah
dan rasa malu pada dirinya, namun pada generasi sekarang seperti
dianggap benar dan normal, atau paling tidak diperbolehkan. Bahakan
hubungan seks diluar nikah dianggap benar apabila orang-orang
yang terlibat saling mencintai dan saling merasa terikat (Hurlock, 1980
: 229).
Untuk menanggulangi dan mengatasi permasalahan itu, sekolah
hendaknya melakukan tindaakn-tindakan nyata, misalnya pendidikan
seks (sex education).
3.2.4 Masalah Perilaku Sosial
Tanda-tanda masalah perilaku sosial pada remaja dapat dilihat
dari adanya diskriminasi terhadap mereka yang berlatar belakang ras,

23
agama, atau sosial ekonomi yang berbeda. Dengan pola-pola perilaku
sosial seperti ini, maka dapat melahirkan genk-genk atau kelompok-
kelompok remaja, yang pembentukannya berdasarkan atas kesamaan
latar belakang agama, suku, dan sosial ekonomi. Pembentukan
kelompok atau genk pada remaja tersebut dapat memicu terjadinya
permusuhan atar kelompok atau genk. Untuk mencegah dan mengatasi
msalah-masalah diatas sekolah dapat menyelenggarakan kegiatan-
kegiatan kelompok (baik kurikuler maupun kokurikuler) dengan tidak
memperhatikan latar belakang suku, agama, dan sosial ekonomi.
Sekolah harus memperlakukan siswa secara sama, tidak membeda-
bedakan siswa yang satu dengan yang lain.
3.2.5 Masalah Moral
Masalah moral yang terjadi pada remaja ditandai oleh adanya
ketidakmampuan remaja membedakan mana yang benar dan mana
yang salah. Hal ini dapat disebabkan oleh ketidak konsistenan dalam
konsep benar dan salah yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya anatar sekolah, keluarga, dan kelompok remaja.
Ketidakmampuan membedakan mana yang benar dan mana yang salah
dapat membawwa malapetaka bagi kehidupan remaja pada khususnya
dan pada semua orang pada umumnya. Untuk mencegah dan mengatasi
masalah-masalah yang demikian, maka sekolah sebaiknya
menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan, meningkatkan
pendidikan budi pekerti.
3.2.6 Masalah Keluarga
Sering ditemukan berbagai masalah remaja yang menjadi
penyebab utama adalah terjadinya kesalahpahaman antara anak dan
orang tua. Seperti yang dikemukakan oleh Hurlock (1980 : 233) sebab-
sebab umum pertentangan keluarga selama masa remaja adalah :
standar perilaku, metode disiplin, hubungan dengan saudar kandung,
sikap yang sangat kritis pada remaja, dan masalah palang pintu.
Remaja sering menganggap standar perilaku orang tua yang
kuno dan yang modern berbeda. Menurut remaja, orang tua yang
mempunyai standar kuno harus mengikuti standar modern, sedangkan
orang tua tetap pada pendiriannya. Keadaan ini yang menjadi sumber

24
perselisihan. Metode disiplin yang diterapkan oleh orang tua terlalu
kaku dan cenderung otoriter dapat menimbulkan permasalahan dan
pertentangan diantara remaja dan orang tua. salah satu ciri remaja
adalah memiliki sikap kritis terhadap segala sesuatu, namun bagi
keluarga tertentu sering tidak menyukai sikap remaja yang terlalu kritis
terhadap pola perilaku orang tua dan terhadap pola perilaku keluarga
pada umumnya. Yang dimaksud dengan masalah palang pintu adalah
peraturan keluarga tentang penentapan jam atau waktu pulang dan
mengenai teman-teman dengan siapa remaja itu berhubungan, terutama
teman-teman lawan jenis. Yang mencegah dan mengatasi
permasalahan tersebut, maka sekolah harus meningkatkan kerja sama
dengan orang tua.
Prayitno (1994:42) mengelompokkan masalah siswa di sekolah
menengah menjadi empat kelompok besar, yaitu masalah yang
berhubungan dengan dimensi keindividualan, masalah yang
berhubungan dengan dimensi kesosialan, masalah yang berhubungan
dengan dimensi kesusilaan, dan maslah yang berhubungan dengan
keberagamaan.
Jenis masalah yang diderita individu amat bervariasi. Roos L.
Mooney (dalam Prayitno, 1994:238) mengidentifikasi 330 masalah
yang digolongkan kedalam 11 masalah, yaitu kelompok masalah yang
berkenaan dengan :
a. Perkembangan jasmani dan kesehatan
b. Keuangan, keadaan lingkungan, dan pekerjaan
c. Kegiatan sosial rekreasi
d. Hubungan muda-muda, pacaran, dan perkawinan
e. Hubungan sosial kejiwaan
f. Keadaan pribadi kejiwaan
g. Moral dan agama
h. Keadaan rumah tangga
i. Masa depan pendidikan dan pekerjaan
j. Enyesuaian terhadap tugas-tugas sekolah
k. Kurikulum sekolah dan prosedur pengajaran

25
Frekuensi dialaminya masalah-masalah tersebut juga bervariasi.
Satu jenis masalah barangkali banyak dialami, sedangkan jenis
masalah lain lebih jarang muncul. Frekuensi munculnya masalah-
masalah itu diwarnai oleh berbagai kondisi pribadi dan lingkungan.

Permasalahan yang dialami manusia tidak akan pernah putus sampai ajal
menjemput, permasalahan manusia akan semakin memuncak ketika mereka
menginjak usia transisi dimana keingintahuan yang sangat tinggi dengan semangat
yang menggebu-gebu akan sia-sia tanpa bimbingan yang terarah, perkiraan usia
transisi manusia yaitu ketika mereka berada di jenjang sekolah tingkat menengah,
ketika mereka menginjak remaja dan dewasa awal, mereka lebih tenar dengan
istilah ABG (anak baru gede).
Dalam buku karangan Prof.Dr.H.Sunarto dan Dra.Ny.B.Agung Hartono
dalam bukunya perkembangan peserta didik, menerangkan beberapa
permasalahan remaja sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhannya sebagai
berikut:
a. Upaya untuk dapat mengubah sikap dan perilaku kekanak-kanakan
menjadi sikap dan perilaku dewasa, tidak semuanya dapat dicapai
dengan mudah oleh mereka. Pada masa ini remaja menghadapi
tugas-tugas besar , sedang dipihak lain harapan ditumpukan pada
mereka untuk dapat meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan
sikap dan pola perilaku. Kegagalan mengatasi ketidakpuasan ini
dapat mengakibatkan menurunnya harga diri, dan akibat lebih
lanjut dapat mengakibatkan remaja bersikap keras dan agresif atau
sebaliknya bersikap tidak percaya diri, pendiam, atau kurang harga
diri.
b. Sering kali remaja mengalami kesulitan untuk menerima perubahan
fisiknya. Hal ini disebabkan pertumbuhan tubuhnya dirasa kurang
serasi, walau hal ini tidak terjadi pada semua remaja.
c. Perkembangan fungsi seks pada masa ini dapat menimbulkan
kebingungan remaja untuk memahaminya, sehingga sering salah
tingkah dan perilaku yang menentang norma (bagi remaja laki-laki)
serta berperilaku mengurung diri (bagi remaja perempuan).

26
d. Dalam memasuki kehidupan bermasyarakat, remaja yang terlalu
mendambakan kemandirian dalam artian menilai dirinya cukup
mampu untuk mengatasi problema kehidupan, kebanyakan
menghadapi berbagai macam permasalahan, terutama masalah
penyesuaian emosional. Kehidupan bermasyarakat menuntut
mereka untuk banyak menyesuaikan diri, namun yang terjadi
semuanya tidak selaras dengan kenyataan. Dalam hal ini terjadi
ketidak selarasan antara pola hidup masyarakat dan perilaku yang
menurut remaja baik, remaja merasa selalu disalahkan dan
akibatnya meraka frustasi dengan tingkah lakunya sendiri.
e. Harapan-harapan untuk dapat berdiri sendiri dan untuk hidup
mandiri secara sosial ekonomis akan berkaitan dengan berbagai
masalah untuk menetapkan berbagai jenis pekerjaan dan jenis
pendidikan. Penyesuaian sosial merupakan salah satu yang sangat
sulit dihadapi oleh remaja.
f. Berbagai norma dan nilai yang berlaku di dalam hidup
bermasyarakat merupakan masalah tersendiri bagi remaja, sedang
dipihak remaja merasa memiliki norma dan nilai kehidupan yang
dirasa lebih sesuai dari pada nilai dan norma dikalangan
masyarakat luas.

Permasalahan yang terjadi pada anak usia sekolah menengah timbul atas
dua factor yang sangat mempengaruhi proses perkembangan mereka, dua faktor
itu adalah:
a. Faktor intern siswa yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari
dalam diri siswa sendiri. Permasalahan intern siswa ini mencakup semua
permasalahan yang timbul dari diri siswa dari berbagai aspek yang pengaruhi
diri siswa itu sendiri. Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekurang
mampuan psiko-fisik siswa dalam dirinya, yakni:
Yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya
kapasitas intelektual / intelegensi siswa. Dari pengalaman sehari-
hari, kita memiliki kesan seakan-akan apa-apa yang kita alami dan
kita pelajari tidak seluruhnya tersimpan dalam akal kita. Padahal
menurut teori kognitif apapun yang kita alami dan yang kita

27
pelajari, kalau memang sistem akal kita dalam hal mengolahnya
dengan cara yang memadai, maka semuanya akan tersimpan dalam
subsistem akal permanen kita, akan tetapi kenyataan yang kita
alami terasa bertolak belakang dengan teori itu, apalagi yang telah
kita pelajari dengan tekun justru sukar diingat kembali dan mudah
terlupakan.
Lupa ialah: hilangnya kemampuan untuk menyebut kembali atau
memperoduksi kembali apa-apa sebelumnya yang telah kita
pelajari. Menurut Gulo (1982), dan Reber (1988), mendefinisikan
lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu
yang telah dipelajar. Dengan demikian lupa bukanlah peristiwa
hilangnya item informasi dan pengetahuan dari akal kita.

Faktor-faktor penyebab lupa :


- Lupa dapat terjadi karena gangguan konflik antara item-
item informasi atau materi yang ada dalam system
memori siswa. Seorang siswa akan mengalami gangguan
proaktif apabila materi pelajaran lama yang telah
disimpan dalam subsistem akal permanennya
mengganggu masuknya materi pelajaran baru, peristiwa
ini bisa terjadi apabila siswa tersebut mempelajari
sebuah materi pelajaran yang sangat mirip dengan materi
pelajaran yang sudah dikuasai dalam jangka waktu yang
pendek. Sebaliknya, seorang siswa akan mengalami
gangguan reproaktif apabila materi pelajaran baru
membawa konflik dan gangguan terhadap pemanggilan
kembali materi pelajaran yang telah lebih dahulu
tersimpan.
- Lupa dapat terjadi pada seorang siswa karena adanya
tekanan terhadap item yang telah ada, baik sengaja
maupun tidak, penekanan ini terjadi karena beberapa
kemungkinan, yaitu: karena item informasi yang
diterima kurang menyenangkan, karena item informasi
yang baru secara otomatis menekan item informasi yang

28
telah ada, jadi sama dengan fenomena retroaktif, karena
item informasi yang diproduksi tertekan ke alam bawah
sadar dengan sendirinya lantaran tidak pernah
dipergunakan.
- Lupa dapat terjadi pada siswa karena perubahan situasi
lingkungan antara waktu belajar dan waktu mengingat
kembali (Andeson 1990).
- Lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat
siswa terhadap proses dan situasi belajar tertentu, jadi
meskipun seorang siswa telah mengikuti proses belajar-
mengajar dengan tekun dan serius, tetapi karena suatu
hal minat dan sikap siswa tersebut menjadi sebaliknya
maka materi pelajaran itu akan mudah terlupakan.

Kiat mengurangi lupa dalam belajar:


Sebagai seorang guru / calon guru kita harus dapat
mengurangi peristiwa lupa yang sering dialami oleh para siswa
bukan mencegahnya, karena lupa itu hal yang manusiawi dan
mungkin anda tidak mungkin bisa mencegahnya.
Namun sekedar berusaha mengurangi proses terjadinya lupa
yang sering dialami oleh para siswa dapat anda lakukan dengan
berbagai kiat diantaranya sebagai berikut:
- Overlearning (belajar lebih)
Artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas
materi pelajaran tertentu, overlearning terjadi apabila respon atau
reaksi tertentu muncul setelah siswa melakukan pembelajaran
atas respon tersebut dengan cara diluar kebiasaan, diantara
contohnya ialah pembacaan teks pancasila pada setiap hari senin
yang memungkinkan ingatan siswa pada P4 lebih kuat
- Extra study time ( tambahan waktu belajar)
Ialah upaya penambahan alokasi waktu belajar atau frekuensi
aktifitas belajar atau juga bisa disebut penambahan jam waktu
belajar. Misalnya dari satu jam menjadi satu setengah jam, dari
satu kali sehari menjadi dua kali dalam sehari.

29
- Menemonic device (muslihat memori)
Ialah kiat khusus yang dijadikan alat pengait mental untuk
memasukkan item-item informasi kedalam sistem akal siswa.
Muslihat ini beragam caranya diantaranya ialah dengan bentuk
not yang dijadikan sebagai nyanyian anak-anak TK, atau juga
dengan singkatan huruf-huruf tau nama-nama istilah yang harus
diingat oleh siswa.

Yang bersifat afektif (ranah Rasa), antara lain seperti labilnya


emosi dan sikap. Yang termasuk dalam ranah rasa adalah rasa
jenuh, secara harfiah arti kejenuhan ialah padat atau penuh
sehingga tidak mampu lagi memuat apapun, selain itu jenuh juga
dapat berarti jemu atau bosan. Kejenuhan belajar ialah rentang
waktu tertentu yang digunakan untuk belajar tetapi tidak
mendatangkan hasil (Reber, 1988).
Seorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar merasa
seakan-akan pengetahuan dan kecakapan yang diperoleh dari
belajar tidak ada kemajuan. Tidak adanya kemajuan hasil belajar
ini pada umumnya tidak berlangsung selamanya, tetapi dalam
rentan waktu tertentu saja seorang siswa yang sedang dalam
keadaan jenuh sistem akalnya tidak dapat bekerja sebagaimana
yang diharapkan dalam memproses item-item informasi dan
pengalaman baru, sehingga kemajuan belajarnya seakan-akan diam
ditempat. Kejenuhan belajar dapat melanda seorang siswa yang
kehilangan motifasi dan konsolidasi salah satu tingkat keterampilan
tertentu sebelum sampai ketingkat keterampilan berikutnya.

Faktor penyebab dan cara mengatasi kejenuhan belajar


Kejenuhan belajar dapat melanda siswa apabila ia telah
kehilangan motivasi dan konsolidasi salah satu tingkat keterampilan
tertentu sebelum siswa tertentu sampai pada tingkat keterampilan
berikutnya (Chaplin, 1972). Selain itu kejenuhan juga dapat terjadi
karena proses belajar siswa telah sampai pada batas kemampuan
jasmaninya karena bosan dan keletihan. Namun, penyebab kejenuhan

30
yang paling umum adalah keletihan yang melanda siswa, karena
keletihan dapat menjadi penyebab munculnya perasaan bosan pada
siswa yang bersangkutan.
Menurut Cross dalam bukunya the psychology of learning,
keletihan siswa dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu:
- Keletihan indra siswa
- Keletihan fisik siswa
- Keletihan mental siswa
Keletihan fisik dan keletihan indra pada umumnya dapat
dikurangi lebih mudah setelah siswa beristirahat cukup dan
mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi, sebaliknya
keletiha mental tidak dapat diatasi dengan cara yang mudah, itulah
sebabnya keletihan dipandang sebagai faktor utama penyebab utama
munculnya kejenuhan belajar.

Sedikitnya ada empat faktor yang menyebabkan keletihan mental


siswa. Antara lain:
- Karena kecemasan siswa terhadap dampak negatif yang ditimbulkan
oleh keletihan itu sendiri
- Karena kecemasan siswa terhadap standar keberhasilan bidang-bidang
studi tertentu yang dianggap terlalu tinggi terutama ketika siswa
merasa bosan.
- Karena siswa berada pada situasi kompetitif yang ketat dan menuntut
untuk lebih kerja keras
- Karena siswa mempercayai konsep kerja akademik yang optimum,
sedangkan dia sendiri menilai belajarnya sendiri hanya berdasarakan
ketentuan yang ia buat sendiri.

Selanjutnya, kiat-kiat untuk mengatasi keletihan mental yang


menyebabkan kejenuhan belajar antara lain:
- Melakukan istirahat dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang
bergizi.
- Mengubah jadwal belajar yang memungkinkan siswa belajar lebih giat.

31
- Mengubah atau menata kembali lingkungan belajar siswa yang
memungkinkan siswa dapat belajar lebih menyenangkan.
- Memberikan motivasi dan stimulasi baru agar siswa merasa terdorong
untuk lebih giat dalam belajar.
- Siswa harus berbuat nyata atau tidak pantang menyerah dengan cara
belajar dan belajar lagi.
b. Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari
luar diri siswa. Hal ini meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar
yang tidak mendukung aktifitas belajar siswa, faktor ini dapat dibagi tiga
macam :
- Lingkungan keluarga, lingkungan keluarga menjadi faktor penting
dalam menanamkan pendidikan karakter anak, di luar faktor
pendidikan di sekolah serta lingkungan sosial. Lingkungan keluarga
ini, bisa dimulai dari situasi dalam keluarga dan pola pendidikan yang
dilakukan. Jika pola pendidikan karakter di tengah keluarga sudah
terbangun dengan baik, dengan sendirinya anak akan lebih mudah
untuk menerima pendidikan karakter di sekolah. Demikian pula saat
anak harus bersinggungan dengan lingkungan sosial. Namun hal ini
berbeda jika terjadi kemerosotan dalam hubungan keluarga, baik itu
berupa kurang perhatiannya orangtua atau konflik yang sering terjadi
dalam lingkungan keluarga sangat mengganggu proses pembelajaran
seorang siswa yang masih mencari jati diri yang sesuai dengan
karakternya, ketidak harmonisan hubungan antara ayah dengan ibu
sangatlah menghambat kesuksesan pendidikannya, dan rendahnya
kehidupan ekonomi keluarga juga sangat mempengaruhi terbentuknya
penerus bangsa yang berpendidikan tinggi.
- Lingkungan perkampungan/masyarakat, masyarakat adalah bagian
keluarga besar bagi para remaja yang tidak ingin mengetahui keadaan
anaknya dan menuntunnya kejalan yang benar jika mereka tersesat,
justru seorang anak harus mengetahui dan menjaga keadaannya sendiri
dengan berbagai macam karakter anggota keluarga yang berbeda-beda.
- Lingkungan sekolah, kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk
seperti dekat pasar sangat mengganggu sekali pada proses pendidikan
yang dilaksanakan oleh peserta didik usia sekolah menengah, kondisi

32
guru serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah juga mengganggu
terlaksananya pendidikan seorang siswa.
Selain faktor yang bersifat umum diatas ada faktor-faktor lain yang
menimbulkan kesulitan belajar siswa. Diantara faktor-faktor khusus yang
dapat dipandang adalah sindrom psikologis berupa learning disability
(ketidak mampuan belajar). Sindrom (syindrom) yang berarti satuan gejala
yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis (Reber, 1998)
yang menimbulkan kesulitan belajar.
Akan tetapi siswa yang mengalami sindrom-sindrom diatas secara
umum sebenarnya memiliki potensi IQ yang normal, bahkan diantaranya ada
yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Oleh karenanya kesulitan belajar
siswa yang menderita sindrom-sindrom tadi mungkin hanya disebabkan oleh
adanya minimal Brain Disfunction, yaitu gangguan ringan pada otak (Lask,
1985: Reber, 1988).
Problematika atau masalah yang bersifat ekstern itu timbul dalam
lingkungan keluarga dan masyarakat. Pada usia sekolah menengah peserta
didik menginginkan sesuatu kebebasan emosional dari orang tua dan orang
dewasa lainnya. Mereka ingin selalu diakui sebagai pribadi, ia ingin
bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, pada usia ini orang tua tidak terlalu
mengekang terhadap kebebasan atau bahkan meniadakan kebebasannya. Jadi,
dalam hal ini orang tua harus memberikan kesempatan kepada anak untuk
mengambil keputusannya sendiri mengenai hal-hal yang akan dilakukannya.
Pada usia sekolah menengah peserta didik sudah mulai memikirkan
tentang hal-hal yang benar dan yang salah serta tentang norma-norma untuk
membimbing tingkah lakunya. Ia mulai memperhatikan konsep-konsep
mengenai hal-hal yang benar dan yang salah, ia tidak mau begitu saja
menerima pendapat-pendapat dari orang lain. Selain itu, masalah yang lebih
penting lagi adalah apa yang disebut dengan kesenjangan generasi antara
peserta didik dengan orang tua, kesenjangan ini sebagian disebabkan karena
adanya perubahan radikal dalam nilai dan standar perilaku yang biasanya
terjadi dalam setiap perubahan budaya yang pesat, sebagian juga disebabkan
karena dalam masa remaja lebih banyak memiliki kesempatan untuk
pendidikan sosial budaya yang lebih besar.

33
Hubungan orang tua dengan anak akan membaik ketika orang tua
mulai menyadari bahwa anak-anak mereka bukan anak kecil lagi. Mereka
memberi banyak keistimewaan dan sekaligus bertanggung jawab serta prestasi
belajar yang lebih baik.
Untuk mengembangkan kepribadian anak secara sempurna maka ada
beberapa hal yang harus diterapkan oleh orang tua pada usia sekolah
menengah antara lain:
Bersikap tidak membedakan
Salah satu cara yang salah yang sering dilakukan oleh orang tua
yang membuat anak menjadi jahat adalah sikap membedakan.
Sebagian orang tua kadang lebih condong pada anak laki-lakinya
dan juga sebaliknya lebih condong pada anak perempuan. Sikap
membedakan yang demikian ini akan meninggalkan pengaruh
negatif pada kejiwaan anak, pengaruk negatif ini akan terus
berkembang seiring dengan perkembangan kedewasaannya yang
kemudian akan mengantar anak pada kehancuran bahkan tidak
jarang sikap negatif ini menular pada anak cucu mereka.
Perhatian dan pengarahan yang baik
Salah satu sarana untuk menghindarkan anak dari sikap jahat
adalah dengan pendekatan psikologis, orang tua harus bersikap
lebih mengerti pada kondisi anak. Ketika hendak membenarkan
sesuatu yang salah pada anak orang tua tidak boleh menggunakan
kekerasan dan meluapkan emosi.
Orang tua harus berbicara dengan lemah lembut yang disertai
dengan nasehat-nasehat. Sesuai dengan firman Allah dalam surat
At-Thoha ayat 44 yang artinya maka berbicaralah kamu keduanya
dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah dia ingat atau takut.
Menanamkan taqwa dalam jiwa anak
Seluruh dosa sebenarnya adalah sifat-sifat yang hina, untuk
menyelamatkan diri dari hal tersebut jalan keluarnya adalah
menanamkan ketaqwaan pada jiwa anak. Apabila tangkai-tangkai
pohon kejahatan itu layu dan daun-daunnya rontok berjatuhan,
maka akar-akarnya akan tumbang dan mati, artinya dalam
kehidupan sosial terdapat sifat-sifat jelek yang ada pada diri

34
manusia seperti kikir, takabur, suudzon dan lain-lain. Jika
seseorang dapat menahan dari segala sifat-sifat buruk tersebut
maka dia akan terlepas dari dosa-dosa, begitu juga pada anak,
pendidikan seperti ini perlu ditanamkan oleh orang tua demi
kebaikan jiwa pada diri anak.

35
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas jelas sekali kondisi peserta didik usia sekolah
menengah masih sangat sangat labil, mereka memerlukan bimbingan orang
yang lebih dewasa dan petunjuk mereka atas masalah-masalah yang belum
bisa mereka pecahkan, perubahan kondisi peserta didik pada usia sekolah
menengah ini banyak disebabkan oleh hal-hal yang bersifat kultural.
Problematika remaja secara garis besar terdapat dua faktor yaitu faktor
intern (dari dalam diri remaja itu sendiri) dan faktor ekstern (dari luar diri).
Yang sangat menonjol dari problematika remaja adalah yang berhubungan
kultural dan psikososial.

B. Saran
Solusi yang sangat tepat bagi remaja atas apa yang menimpa mereka
adalah usaha mereka sendiri untuk bisa menerapkan kiat-kiat supaya mereka
tidak terlena dengan masalah-masalah yang menimpa mereka, dan
melaksanakan anjuran-anjuran yang telah dijelaskan diatas. Perhatian orang
lain juga sangat membantu mereka untuk memecahkan masalah yang
menimpa.

36
DAFTAR PUSTAKA

Ernest, R.H. Pengantar Psikologi, Erlangga, Jakarta: 1983.

Gunarsa, S. Psikologi Anak Bermasalah, Gunung Mulia, Jakarta:1987.

Hurlock, Elisabet B. Psikologi Perkembangan, Erlangga, Jakarta: 1980.

Mazhariri. Pintar Mendidik Anak, Centera, Jakarta: 2000

RifaI, S. Psikologi Perkembangan Remaja, Bina Aksara, Bandung: 1984

Susilowindradini. Psikologi Perkembangan, Usaha Nasional, Surabaya: 1980.

Samsunuwiyati Marat, Psikologi Perkembangan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung:2006

Sunarto.H, Agung Hartono.B, Perkembangan Peserta Didik, PT Rineka Cipta, Jakarta:1999

Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, CV Sinar Baru, Bandung:1990

Baharuddin.H, Psikologi Pendidikan, Ar-Ruzz Media, Jogjakarta: 2007

Danim, Sudarman, Perkembangan Peserta Didik, Alfabeta, Bandung: 2010

Hartono,Agung Sunarto, Perkembangan Peserta Didik. Rineka Cipta, Jakarta: 2008

Prayitno dan Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Poyek Pembinaan dan
Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan Direktorat Jendral Pendidikan Menengah Umum,
Jakarta:1994

37