Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa dengan
penyertaan dan kasih karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah
tentang Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Dalam Pengelolaan
Lingkungan Hidup dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.
Dan juga saya berterima kasih kasih pada Bapak Innocentius C. Kondamaru, SH,
MH selaku dosen mata kuliah Tindak Pidana Korporasi yang telah memberikan
tugas.

Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di
dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab
itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang
telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah ini yang sederhana dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya memohon maaf
apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon
kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan
datang. Saya ucapkan terima kasih.

Palangka Raya, September 2017

Penulis

i
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kejahatan korporasi (corporate crime) merupakan salah satu wacana yang


timbul dengan semakin majunya kegiatan perekonomian dan teknologi.
Corporate crime bukanlah kasus baru, melainkan kasus lama yang senantiasa
berganti kemasan. Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa perkembangan
zaman serta kemajuan peradaban dan teknologi turut disertai dengan
perkembangan tindak kejahatan beserta kompleksitasnya. Di sisi lain,
ketetentuan Hukum Pidana yang berlaku di Indonesia belum dapat
menjangkaunya dan senantiasa ketinggalan untuk merumuskannya. Tindak
pidana (crime) dapat diidentifikasi dengan timbulnya kerugian (harm), yang
kemudian mengakibatkan lahirnya pertanggungjawaban pidana atau criminal
liability.1
Salah satu kasus dari kejahatan korporasi yang saat ini berkembang adalah
dalam bidang pengelolaan lingkungan hidup. Adanya perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia bertujuan untuk melindungi
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pencemaran atau
kerusakan lingkungan hidup. Selain itu juga menjamin keselamatan,
kesehatan, dan kehidupan manusia, menjamin kelangsungan kehidupan
makhluk hidup dan kelestarian ekosistem serta pelestarian fungsi lingkungan
dalam rangka pembangunan berkelanjutan agar terpenuhinya keadilan bagi
generasi masa kini dan generasi masa depan.
Saat ini hukum lingkungan telah berkembang dengan pesat, bukan saja
dalam hubungannya dengan fungsi hukum sebagai perlindungan,
pengendalian dan kepastian hukum bagi masyarakat (social control) dengan
peran agent of stability, tetapi lebih menonjol lagi sebagai sarana

1
Nasution, Bismar , Kejahatan Korporasi dan Pertanggungjawabannya,
Yogyakarta:Kanisius(1998), hal.34

1
pembangunan (a tool of social engineering) dengan peran sebagai agent of
development atau agent of change. Sebagai disiplin ilmu hukum yang sedang
berkembang, sebagian besar materi hukum lingkungan merupakan bagian dari
hukum administrasi (administratief recht). Dari substansi hukum
menimbulkan pembidangan dalam hukum lingkungan administrasi, hukum
lingkungan keperdataan dan hukum lingkungan kepidanaan.2
Persoalan lingkungan menjadi semakin kompleks, tidak hanya bersifat
praktis, konseptual, dan ekonomi saja, tetapi juga merupakan masalah etika,
baik sosial maupun bisnis. Oleh karenanya, diperlukan pengaturan dalam
bentuk hukum demi menjamin kepastian hukum. Hukum pidana yang ada
tidak hanya melindungi alam, flora dan fauna, tetapi juga masa depan
kemanusiaan yang kemungkinan menderita akibat degradasi lingkungan
hidup.
Dikarenakan materi bidang lingkungan sangat luas (meliputi sumber daya
manusia, sumber daya alam hayati, sumber daya alam non hayati dan sumber
daya buatan) tidak mungkin diatur secara lengkap dalam satu undang-undang,
tetapi memerlukan seperangkat peraturan perundang-undangan dengan arah
yang serupa. Oleh karena itu sifat UUPLH adalah mengatur ketentuan-
ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup yang memuat asas-asas dan
prinsip pokok, sehingga berfungsi sebagai social (umbrella act) bagi
penyusun peraturanperundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan
lingkungan hidup dan bagi penyesuaian peraturan perundang-undangan yang
telah ada.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu:
1. Bagaimana pengontrolan atau pengawasan yang dilakukan melalui jalur
hukum dapat berlaku efektif bagi korporasi yang diduga melakukan tindak
pidana lingkungan hidup di Indonesia ?

2
Amarini, Indriati, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Dalam Undang-Undang Pengelolaan
Lingkungan Hidup, Jakarta: Rajawali Press(2010), hal. 54

2
2. Kemudian jika dalam pengawasan tersebut, ditemukan adanya kegiatan
yang dilakukan untuk dan atas nama suatu korporasi, yang terbukti
mengakibatkan kerugian bagi lingkungan hidup, bagaimanakah
pertanggungjawaban hukumnya terhadap korporasi tersebut ?
1.3 Manfaat Penulisan
1. Mahasiswa dapat mengetahui Pertanggungjawaban Pidana Korporasi
Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup.
2. Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Tindak Pidana Korporasi.

3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 DEFINISI KORPORASI
Korporasi adalah suatu bentuk organisasi dengan tujuan tertentu yang
bergerak dalam bidang ekonomi atau bisnis. Sebuah korporasi menurut
hukum perdata adalah suatu legal person (rechtspersoon), yang merupakan
suatu badan hukum dan memiliki sifat sebagai legal personality. Artinya,
dapat melakukan perbuatan hukum serupa halnya dengan manusia
(natuurlijke persoon). Korporasi sebagai badan hukum sudah tentu memiliki
identitas hukum tersendiri. Identitas hukum suatu korporasi atau perusahaan
terpisah dari identitas hukum para pemegang sahamnya, direksi, maupun
organ-organ lainnya. Dalam kaidah hukum perdata (civil law), jelas
ditetapkan bahwa suatu korporasi atau badan hukum merupakan subjek
hukum perdata dapat melakukan aktifitas jual beli, dapat membuat perjanjian
atau kontrak dengan pihak lain, serta dapat menuntut dan dituntut di
Pengadilan dalam hubungan keperdataan. Para pemegang saham menikmati
keuntungan yang diperoleh dari konsep tanggung jawab terbatas, dan
kegiatan korporasi berlangsung terus-menerus, dalam arti bahwa
keberadaannya tidak akan berubah meskipun ada penambahan anggota-
anggota baru atau berhentinya atau meninggalnya anggota-anggota yang ada.
2.2 Kejahatan Korporasi
Blacks Law Dictionary menyebutkan kejahatan korporasi atau corporate
crime adalah any criminal offense committed by and hence chargeable to a
corporation because of activities of its officers or employees (e.g., price fixing
, toxic waste dumping), often referred to as white collar crime.3
Kejahatan korporasi adalah tindak pidana yang dilakukan oleh dan oleh
karena itu dapat dibebankan pada suatu korporasi karena aktifitas-aktifitas
pegawai atau karyawannya (seperti penetapan harga, pembuangan limbah),
sering juga disebut sebagai kejahatan kerah putih.

3
Nasution, Bismar , Kejahatan Korporasi dan Pertanggungjawabannya,
Yogyakarta:Kanisius(1998), hal. 78

4
Sally. A. Simpson yang mengutip pendapat John Braithwaite menyatakan
kejahatan korporasi adalah conduct of a corporation, or employees acting on
behalf of a corporation, which is proscribed and punishable by law.
Simpson menyatakan bahwa ada tiga ide pokok dari definisi Braithwaite
mengenai kejahatan korporasi. Pertama, tindakan ilegal dari korporasi dan
agen-agennya berbeda dengan perilaku kriminal kelas sosio-ekonomi bawah
dalam hal prosedur administrasi. Karenanya, yang digolongkan kejahatan
korporasi tidak hanya tindakan kejahatan atas hukum pidana, tetapi juga
pelanggaran atas hukum perdata dan administrasi. Kedua, baik korporasi
(sebagai subyek hukum perorangan legal persons) dan perwakilannya
termasuk sebagai pelaku kejahatan (as illegal actors), dimana dalam praktek
yudisialnya, bergantung pada antara lain kejahatan yang dilakukan, aturan
dan kualitas pembuktian dan penuntutan. Ketiga, motivasi kejahatan yang
dilakukan korporasi bukan bertujuan untuk keuntungan pribadi, melainkan
pada pemenuhan kebutuhan dan pencapaian keuntungan organisasional.
Tidak menutup kemungkinan motif tersebut ditopang pula oleh norma
operasional (internal) dan sub-kultur organisasional.
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Indonesia memang hanya
menetapkan bahwa yang menjadi subjek tindak pidana adalah orang
persorangan (legal persoon). Pembuat undang-undang dalam merumuskan
delik harus memperhitungkan bahwa manusia melakukan tindakan di dalam
atau melalui organisasi yang dalam hukum keperdataan maupun di luarnya
(misalnya dalam hukum administrasi) muncul sebagai satu kesatuan dan
karena itu diakui serta mendapat perlakuan sebagai badan hukum atau
korporasi. Berdasarkan KUHP, pembuat undang-undang akan merujuk pada
pengurus atau komisaris korporasi jika mereka berhadapan dengan situasi
seperti itu. Sehingga, jika KUHP Indonesia saat ini tidak bisa dijadikan
sebagai landasan untuk pertanggungjawaban pidana oleh korporasi, namun
hanya dimungkinkan pertanggungjawaban oleh pengurus korporasi.
Di Belanda sendiri, sebagai tempat asal KUHP Indonesia, pada tanggal 23
Juni 1976 korporasi diresmikan sebagai subjek hukum pidana dan ketentuan

5
ini dimasukkan ke dalam Pasal 51 KUHP Belanda (Sr.), yang isinya
menyatakan antara lain : Tindak pidana dapat dilakukan baik oleh perorangan
maupun korporasi, jika suatu tindak pidana dilakukan oleh korporasi,
penuntutan pidana dapat dijalankan dan sanksi pidana maupun tindakan yang
disediakan dalam perundang-undangan sepanjang berkenaan dengan
korporasi, dapat dijatuhkan. Dalam hal ini, pengenaan sanksi dapat dilakukan
terhadap korporasi sendiri, atau mereka yang secara faktual memberikan
perintah untuk melakukan tindak pidana yang dimaksud, termasuk mereka
yang secara faktual memimpin pelaksanaan tindak pidana dimaksud, atau
korporasi atau mereka yang dimaksud di atas bersama-sama secara tanggung
renteng.
Di Negara Amerika Serikat sanksi pidana dipergunakan pada urutan
terakhir sekali, yaitu sebagai ultimum remedium. Kebijakan penegakan
hukum seperti ini bisa dipahami mengingat tingginya kesadaran hukum dari
masyarakat maupun pihak pengusaha di Negara maju tersebut. Mereka yang
berpendapat bahwa sanksi pidana penjara dapat dijatuhkan terhadap badan
hukum disebabkan karena perkembangan dalam ilmu hukum pidana bahwa
tidak hanya orang seorang atau kelompok orang (seperti dalam Pasal 55
KUHPidana) saja yang dapat dijatuhi sanksi pidana, tetapi berkembang
menjadi badan hukum atau korporasi juga dapat dijatuhi sanksi pidana
penjara melalui pengurus, direktur atau karyawan dari badan hukum itu
(fysiek daderschap). Hanya saja dalam praktek penegakan hukumnya tidak
mudah, ada beberapa hambatan, contohnya dalam bidang lingkungan hidup
adalah kesulitan dalam hal pembuktian, mengingat dalam menyelesaikan
kasus-kasus pencemaran melibatkan banyak dimensi, seperti keprofesionalan
aparatnya (melibatkan para ahli lingkungan) yang dimulai dari awal
penyelidikan hingga akhir perkaranya, dan biaya serta waktu yang tidak
sedikit.
Konsep pertanggungjawaban pidana oleh korporasi sebagai pribadi
(corporate criminal liability) merupakan hal yang masih mengundang
perdebatan. Banyak pihak yang tidak mendukung pandangan bahwa suatu

6
korporasi yang wujudnya semu dapat melakukan suatu tindak kejahatan serta
memiliki criminal intent yang melahirkan pertanggungjawaban pidana.
Disamping itu, mustahil untuk dapat menghadirkan di korporasi dengan fisik
yang sebenarnya dalam ruang Pengadilan dan duduk di kursi Terdakwa guna
menjalani proses peradilan.
Meskipun KUHP Indonesia saat ini tidak mengikutsertakan korporasi
sebagai subyek hukum yang dapat dibebankan pertanggungjawaban pidana,
namun korporasi mulai diposisikan sebagai subyek hukum pidana dengan
ditetapkannya Undang-Undang No. 7/Drt/1955 tentang Pengusutan,
Penuntutan dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi.
Di Indonesia, salah satu peraturan yang mempidanakan kejahatan
korporasi adalah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan
Hidup. Hal ini dapat dilihat dari isi Pasal 46 (11) yang mengadopsi doktrin
vicarious liability yang dipakai di Amerika Serikat. Menurut doktrin ini,
apabila pekerja suatu korporasi melakukan suatu tindak pidana dalam lingkup
pekerjaannya dan dengan maksud menguntungkan korporasi, tanggung jawab
pidananya dapat dibebankan kepada korporasi. Ini bertujuan mencegah
perusahaan melindungi diri dan melepas tanggung jawab dengan
melimpahkannya pada para pekerjanya. Ajaran vicarious liability biasanya
berlaku dalam hukum perdata tentang perbuatan melawan hukum (the law of
tort), yang kemudian diterapkan pada hukum pidana.4
Meskipun tidak digariskan secara jelas seperti dalam KUHP Belanda,
berdasarkan sistem hukum pidana di Indonesia pada saat ini terdapat 3 bentuk
pertanggungjawaban pidana dalam kejahatan korporasi berdasarkan regulasi
yang sudah ada, yaitu dibebankan pada korporasi itu sendiri, seperti diatur
dalam Pasal 65 ayat 1 dan 2 Undang-Undang No. 38/2004 tentang Jalan.
Kemudian dapat pula dibebankan kepada organ atau pengurus korporasi yang
melakukan perbuatan atau mereka yang bertindak sebagai pemimpin dalam
melakukan tindak pidana, seperti yang diatur dalam Pasal 20 ayat 2 Undang-

4
Amiruddin A. Dajaan Imami, dkk, Asas Subsidiaritas : Kedudukan dan Implementasi dalam
Penegakan Hukum Lingkungan, (PP-PSL FH UNPAD dan Bestari, 2009), hal. 52.

7
Undang No. 31/1999 tentang Tindak Pidana Korupsi dan Undang-Undang
No. 31/2004 tentang Perikanan. Kemudian kemungkinan berikutnya adalah
dapat dibebankan baik kepada pengurus korporasi sebagai pemberi perintah
atau pemimpin dan juga dibebankan kepada korporasi, contohnya seperti
dalam Pasal 20 ayat 1 Undang-Undang No. 31/1999.
Pada umumnya tindak pidana hanya dapat dilakukan oleh manusia atau
orang pribadi. Oleh karena itu hukum pidana selama ini hanya mengenal
orang seorang atau kelompok orang sebagai subyek hukum, yaitu sebagai
pelaku dari suatu tindak pidana. Hal ini bisa dilihat dalam perumusan pasal-
pasal KUHP yang dimulai dengan kata barangsiapa yang secara umum
mengacu kepada orang atau manusia.
Dengan adanya kejahatan korporasi menunjukkan realitas bahwa korporasi
semakin memegang peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat.
Keraguan pada masa lalu untuk menempatkan korporasi sebagai subyek
hukum pidana yang dapat melakukan tindak pidana dan sekaligus dapat
dipertanggungjawabkan sdalam hukum pidana, sudah bergeser. Keberadaan
korporasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, seperti dikatakan
oleh I. S. Susanto, telah memberikan sumbangan yang besar baik berupa
pajak maupun devisa, sehingga korporasi nampak sangat positif. Namun di
sisi lain kita juga menyaksikan perilaku negatif yang ditunjukkan oleh
korporasi seperti pencemaran, pengurasan sumber daya alam yang terbatas,
persaingan curang, manipulasi pajak, eksploitasi terhadap buruh, produk-
produk yang membahayakan kesehatan pemakainya serta penipuan terhadap
konsumen. Diantara perilaku-perilaku seperti inilah yang kemudian oleh
pakar disebut sebagai kejahatan atau tindak pidana korporasi.5
Kejahatan korporasi merupakan kejahatan yang serius, bahkan lebih serius
ketimbang kejahatan perampokan dan penipuan. Hal ini disebabkan karena
dalam kejahatan perampokan dan penipuan, korban yang terkena terbatas
pada korban yang berhadapan langsung dengan pelaku, atau dengan kata lain

5
I. S. Susanto, Kejahatan Korporasi, Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro (1995), hal. 1

8
bahwa pelaku yang terkena kejahatan tersebut adalah tertentu dan terbatas
sifatnya. Dampak kejahatannya tidak mesti mengambil orang-orang
(masyarakat) tertentu sebagai korban. Kejahatan korporasi juga menimbulkan
kerugian, akan tetapi jumlah kerugian yang diderita oleh korban tidak terbatas
dan tidak dapat dihitung secara pasti. Bahkan dalam kejahatan korporasi
banyak hal-hal yang merugikan tanpa dapat disangka dan diduga, seperti
polusi udara, pencemaran lingkungan dan lain-lain.
Keberadaan (eksistensi) korporasi sebagai subjek hukum (pidana) itu
ditentukan dan didasarkan atas kekuatan peraturan perundang-undangan,
suatu karya yang diciptakan oleh hukum sebagai pendukung hak dan
kewajiban dalam lalu lintas hukum, sehingga sungguh tidak masuk akal jika
korporasi hanya dapat melakukan tindakan yang melulu sesuai dengan aturan
undang-undang (hukum) yang berlaku. Manusia sendiri sebagai subjek
hukum alamiah (natuurlijke persoon) dalam beberapa hal juga melakukan
pelanggaran hukum apalagi badan hukum (korporasi) yang seperti diketahui
berorientasi pada profit (laba/keuntungan), maka adalah mustahil dalam
aktifitas kegiatannya yang mengutamakan keuntungan itu tidak pernah
melakukan pelanggaran hukum.
Permasalahan hukum pidana dalam menghadapi kejahatan korporasi
disebabkan karena perbuatan pidana korporasi itu selalu dilakukan secara
rahasia, sukar untuk diketahui dan dideteksi dan bahkan sering kali para
korbanpun tidak mengetahui kerugian yang sebenarnya dialaminya. Hanya
sedikit kasus-kasus tindak pidana korporasi yang diungkapkan untuk diajukan
ke Pengadilan, maka menuntut pertanggungjawaban korporasi akan
memberikan efek pencegahan yang lebih besar ketimbang meminta
pertanggungjawaban dari pengurusnya. Tentunya tidak menutup
kemungkinan untuk secara bersama juga menuntut orang yang langsung
bertanggung jawab atas perbuatan korporasi tersebut.
Direksi dan pejabat-pejabat korporasi lainnya bisa dikenakan penjatuhan
pertanggungjawaban pidana jika mereka bertindak sendiri-sendiri atau
bersama sama dengan orang lain untuk : i) melegalkan suatu kegiatan atau

9
suatu kelalaian yang menjadi tindak kejahatan, ii) mengetahui atau
seharusnya mengetahui bahwa kegiatan atau kelalaian itu merupakan tindak
pidana, iii) mengetahui bahwa tindakan itu dilakukan atau akan dilakukan,
dan iv) tidak atau gagal mengambil langkah yang memungkinkan untuk
mencegah dilakukannya tindakan itu, maka mereka dapat dipidana atau
dibebankan tanggung jawab.8 Menurut Stefanus Hariyanto, yang dijatuhi
hukuman pidana adalah perusahaannya. Jika pengurus atau pimpinan juga
ikut dipidana maka persoalannya sudah menjadi personal crime. Adapun
sanksi pidananya adalah denda, tidak termasuk penjara. Agar individu-
individu yang dianggap bertanggung jawab atas pencemaran lingkungan
hidup dapat dipidana, maka individu-individu tersebut harus didakwa bukan
hanya korporasi. Dalam hukum pidana ada asas kulpabilitas, sehingga harus
dibuktikan bahwa seseorang bisa dipidana apabila memang terbukti bersalah.
Artinya tidak bisa secara otomatis sanksi pidana dialihkan dari corporate
crime menjadi personal crime.
2.3 Analisis Penegakan Hukum Tindak Pidana Korporasi Dalam
Pengelolaan Lingkungan Hidup
Indonesia sebagai Negara hukum, diharuskan mengatur segala
permasalahan berdasarkan norma hukum yang berlaku. Hukum lingkungan
mengatur hubungan hukum antara unsur-unsurnya sehingga dalam
pengelolaan lingkungan hidup berorientasi pada pelestarian fungsi dari
lingkungan untuk kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan.
Hukum dalam bentuk peraturan perundang-undangan mengikat kepada
masyarakat dan ditaatinya karena hukum (peraturan perundangundangan)
dibuat oleh pejabat yang berwenang atau memang masyarakat mengakuinya
karena hukum tersebut dinilai sebagai suatu hukum yang hidup di dalam
masyarakat itu. Hukum lingkungan dipahami berdasarkan ajaran-ajaran
hukum pada umumnya, namun harus juga memperhatikan metode pendekatan
dalam pengelolaan lingkungan hidup, menggunakan metode utuh menyeluruh
(Komprehensif-integral) dengan selalu mengutamakan keselarasan dan
kelestarian. Tanggung jawab Negara terhadap perlindungan dan pengelolaan

10
lingkungan hidup baik sumber daya manusia, sumber daya alam dan sumber
daya buatan harus didukung oleh berbagai peraturan dan peran serta berbagai
pihak yang berkepentingan baik pemerintah, pemerintah daerah, korporasi
dan masyarakat dengan sudut pandang bahwa setiap orang berhak
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat.
Dalam rumusan pengertian lingkungan haruslah juga dipandang bahwa
manusia termasuk di dalamnya sebagai bagian dari lingkungan serta setiap
perilakunya akan mempengaruhi alam. Kegiatan usaha yang dilakukan oleh
korporasi sebagai legal person (rechtspersoon), yang merupakan suatu badan
hukum dan memiliki sifat sebagai legal personality memberikan dampak
positif bagi pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat, namun dapat juga
memberikan dampak negatif, apabila kegiatan yang dilakukan berdampak
besar dan penting terhadap lingkungan apabila kegiatan usaha tersebut
menimbulkan pencemaran atau perusakan lingkungan. Hukum lingkungan
yang mencakup penaatan dan penegakan hukum (compliance and
enforcement), meliputi bidang hukum administrasi Negara, bidang hukum
perdata dan bidang hukum pidana. Suatu kegiatan usaha yang dilakukan oleh
korporasi harus menempuh proses penaatan hukum dengan mengajukan
berbagai macam persyaratan perizinan untuk mengkaji layak tidaknya suatu
kegiatan usaha dilakukan. Pada prinsipnya setiap kegiatan usaha akan
memberikan dampak terhadap lingkungan sekitar, namun besar kecilnya
dampak tergantung jenis kegiatan usaha, dan sebagaian besar kegiatan usaha
dibidang pengelolaan lingkungan yang memanfaatkan dan atau
mengeksploitasi unsur-unsur dalam lingkungan memiliki dampak besar dan
penting terhadap lingkungan.
Pencemaran atau perusakan lingkungan yang dilakukan oleh korporasi
merupakan salah satu unsur bagi pemberlakuan proses penegakan hukum
lingkungan yang mempunyai arti tindakan represif. Dalam hukum lingkungan
dikenal salah satu asas subsidiaritas yang mengedepankan upaya hukum lain
sebelum memberlakukan hukum pidana yaitu penegakan hukum administrasi

11
Negara, hukum perdata dan penyelesaian sengketa di luar Pengadilan. Hal ini
berarti bahwa sanksi pidana baru diterapkan apabila sanksi administrasi
dan/atau sanksi perdata tidak berhasil untuk menanggulangi masalah atau
mencegah suatu perbuatan anti sosial dalam masyarakat. Kebijakan
penegakan hukum tersebut umumnya dapat diterapkan di Negara-Negara
maju mengingat tingginya kesadaran hukum dari masyarakat maupun pihak
pengusahanya. Sementara di Negara-Negara berkembang, seperti halnya di
Indonesia, merupakan hal yang sering kita jumpai di mana masyarakat di
dalam upaya memenuhi kebutuhan sehari-hari sering mengabaikan
kelestarian lingkungan alam sekitarnya. Demikian pula dengan para
pengusaha atau badan hukum yang bergerak di bidang industri, sehingga
limbah industri mereka buang ke dalam sungai. Dan Penerapan asas ultimum
remedium dibatasi hanya berlaku bagi tindak pidana formil tertentu yang
juga diatur dalam norma, yaitu pemidanaan terhadap pelanggaran baku mutu
air limbah, emisi, dan gangguan.
Berdasarkan Pasal 97 Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tindak pidana
lingkungan dikategorikan sebagai kejahatan, sehingga dalam tanggung jawab
pidananya dapat dibebankan kepada organ yang ada dalam korporasi. Ini
bertujuan mencegah perusahaan melindungi diri dan melepas tanggung jawab
dengan melimpahkannya pada para pekerjanya. Dan dalam Pasal 116-120
yang pada intinya menyatakan bahwa apabila tindak pidana lingkungan hidup
dilakukan oleh, untuk, atau atas nama badan usaha, tuntutan pidana dan
sanksi pidana dijatuhkan kepada badan usaha dan/atau orang yang memberi
perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau orang yang bertindak
sebagai pemimpin kegiatan dalam tindak pidana tersebut.
Adanya Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tersebut membuka peluang
sebesar-besarnya bagi pencemaran atau perusakan lingkungan yang
berdampak besar kepada lingkungan untuk mengedepankan penegakan
hukum pidana sebagai pilihan utama (premium remedium) apabila
pencemaran atau perusakan tidak terkait dengan pelanggaran baku mutu air
limbah, emisi, dan gangguan karena undang-undang ini juga

12
mengkategorikannya baku mutu air limbah, emisi, dan gangguan sebagai
pelanggaran dan bukan sebagai kejahatan lingkungan. Pada prinsipnya
penegakan hukum lingkungan administrasi, perdata dan pidana dapat
diterapkan secara bersama-sama, dikarenakan tujuan dari masingmasing
berbeda. Penegakan hukum administrasi ditujukan untuk pencabutan izin.
Apabila dikaji lebih lanjut penegakan hukum lingkungan dapat
dikategorikan apabila suatu kegiatan usaha melakukan pencemaran atau
perusakan lingkungan. Pencemaran yang didefinisikan masuk atau
dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam
lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu
lingkungan hidup yang telah ditetapkan dimana pencemarannya masih dapat
dipulihkan dapat diterapkan asas ultimum remedium dengan penyelesaian
melalui penegakan hukum administrasi berkaitan dengan izin dan hukum
perdata untuk memberikan ganti kerugian dan pemulihan lingkungan dan
dimungkinkan menyelesaikan sengketa dengan mekanisme di luar Pengadilan
(negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau arbitrase). Namun disisi lain apabila
pencemaran sudah dikategorikan pencemaran berat yang telah merusak fungsi
lingkungan, penerapan asas ultimum remedium dapat dikesampingkan, dan
penegakan hukum lingkungan administrasi, perdata dan pidana dapat
diterapkan secara bersama-sama (simultan).
Agar pengontrolan atau pengawasan melalui jalur hukum yang dilakukan
terhadap korporasi yang diduga melakukan pencemaran dapat berlaku secara
efektif, maka hukum dalam aktifitasnya ditegakkan dengan dukungan sanksi,
baik sanksi administrasi, sanksi perdata, sanksi pidana, serta tindakan tata
tertib.
Ada beberapa beberapa faktor yang mempengaruhi pihak Kepolisian lebih
sering menindak aksi-aksi kejahatan konvensional yang secara nyata dan
faktual dan terdapat dalam aktifitas sehari-hari masyarakat dibandingkan
dengan menindak kejahatan korporasi. Pertama, kejahatan-kejahatan yang
dilaporkan oleh masyarakat hanyalah kejahatan-kejahatan konvensional.
Aktivitas aparat Kepolisian sebagian besar didasarkan atas laporan anggota

13
masyarakat, sehingga kejahatan yang ditangani oleh Kepolisian juga turut
bersifat konvensional. Kedua, pandangan masyarakat cenderung melihat
kejahatan korporasi atau kejahatan kerah putih bukan sebagai hal-hal yang
sangat berbahaya, dan juga turut dipengaruhi. Ketiga, pandangan serta
landasan hukum menyangkut siapa yang diakui sebagai subjek hukum pidana
dalam hukum pidana Indonesia. Keempat, tujuan dari pemidanaan kejahatan
korporasi lebih kepada adanya perbaikan dan ganti rugi, berbeda dengan
pemidanaan kejahatan lain yang konvensional yang bertujuan untuk
menangkap dan menghukum. Kelima, pengetahuan aparat penegak hukum
menyangkut kejahatan korporasi masih sangat minim, sehingga terkadang
terkesan enggan untuk menindak lanjutinya secara hukum dan kejahatan
korporasi sering melibatkan tokoh-tokoh masyarakat dengan status sosial
yang tinggi. Hal ini dinilai dapat mempengaruhi proses penegakan hukum.

14
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Korporasi adalah suatu organisasi dengan tujuan tertentu yang bergerak


dalam bidang ekonomi atau bisnis, sehingga kejahatan korporasi disebut
sebagai kejahatan yang bersifat organisatoris, yaitu suatu kejahatan yang
terjadi dalam konteks hubungan-hubungan yang kompleks dan harapan-
harapan diantara dewan direksi, eksekutif dan manejer disuatu pihak dan
diantara kantor pusat, bagianbagian dan cabang-cabang pada pihak lain.

Kejahatan korporasi merupakan kejahatan yang besar dan sangat


berbahaya sekaligus merugikan kehidupan masyarakat, kendatipun di pihak
lain ia juga memberi kemanfaatan bagi kehidupan masyarakat dan Negara.
Dikatakan besar, oleh karena kompleksnya komponen-komponen yang
bekerja dalam satu kesatuan korporasi, sehingga metode pendekatan yang
dilakukan terhadap korporasi tidak bisa lagi dengan menggunakan metode
pendekatan tradisional yang selama ini berlaku dan dikenal dengan metode
pendekatan terhadap kejahatan konvensional.

Dari hasil-hasil penelitian tentang kejahatan korporasi atau badan hukum,


menunjukkan bahwa pelanggaran hukum yang dilakukan oleh korporasi dapat
digolongkan ke dalam enam jenis : yaitu pelanggaran hukum administrasi,
pencemaran lingkungan, finansial, perburuhan, manufakturing dan persaingan
dagang yang tidak fair.

Pertanggungjawaban pidana korporasi dalam pengelolaan lingkungan


hidup di Indonesia berdasarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 adalah
memberikan sanksi pidana terhadap badan hukum yang melakukan
pencemaran berupa kurungan penjara atau denda.

Dalam pengontrolan atau pengawasan yang dilakukan oleh jalur hukum


terhadap korporasi yang diduga melakukan pencemaran lingkungan dapat
berlaku efektif, jika hukum dalam aktifitasnya ditegakkan dengan dukungan

15
sanksi, baik sanksi administrasi, sanksi perdata, sanksi pidana, serta tindakan
tata tertib. Kemudian jika dalam pengawasan tersebut, ditemukan kegiatan
atau aktifitas yang dilakukan untuk dan atas nama suatu korporasi, yang
terbukti mengakibatkan kerugian bagi lingkungan hidup,
pertanggungjawaban hukum terhadap korporasi tersebut berlaku kepada
mereka yang memberi perintah atau yang menjadi pemimpin dalam perbuatan
tersebut. Pertanggungjawaban pidana dari pimpinan korporasi dan atau
pemberi perintah, keduanya dapat dikenakan hukuman secara berbarengan.
Hukuman tersebut bukan karena perbuatan fisik atau nyatanya, tetapi
berdasarkan fungsi yang diembannya di dalam suatu perusahaan. Pada
tanggung jawab korporasi, yang dijatuhi hukuman pidana adalah
perusahaannya dengan sanksi pidana denda, tidak termasuk penjara. Apabila
individu-individu dianggap bertanggung jawab atas pencemaran lingkungan
hidup, maka untuk dapat dipidana individu-individu tersebut harus didakwa.
Dalam hal ini tidak bisa secara otomatis sanksi pidana dialihkan dari
corporate crime menjadi personal crime.

3.2 Saran

Dengan pertimbangan dampak yang dapat ditimbulkan oleh kejahatan


korporasi baik bagi masyarakat, perekonomian, pemerintahan dan aspek-
aspek lainnya yang berbahaya, bahkan lebih serius dibandingkan dengan
dampak yang ditimbulkan oleh bentuk-bentuk kejahatan yang konvensional,
maka harus ada konsistensi dan landasan yang solid dalam hukum untuk
dapat membebankan pertanggungjawaban pidana kepada korporasi.

Untuk tindak pidana korporasi dalam bidang lingkungan, saat ini harus
lebih diefektifkan sanksinya, dengan tujuan untuk mendidik masyarakat
sehubungan dengan kesalahan moral yang berkaitan dengan perilaku yang
dilarang, dan mencegah atau menghalangi pelaku potensial agar tidak
melakukan perilaku yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan
hidup. Dengan demikian tindak pidana lingkungan sepenuhnya tergantung

16
pada hukum lain. Kondisi ini dianggap wajar, namun mengingat pentingnya
lingkungan hidup yang baik dan sehat dan kedudukannya sebagai tindak
pidana ekonomi serta kompleksitas kepentingan yang dilindungi baik yang
bersifat antroposentris maupun ekosentris, maka ketentuan khusus (specific
crime) perlu dilengkapi dengan pengaturan yang bersifat umum dan mandiri
terlepas dari hukum lain.

Selain itu, diperlukan perhatian studi yang lebih mendalam, baik di


kalangan akademis, profesional maupun aparat penegak hukum, guna
membangun suatu kerangka teoritis bagi pertanggungjawaban pidana
korporasi. Hal ini hendaknya diimbangi pula dengan upaya peningkatan
kualitas dan kemampuan para penegak hukum yang akan menerapkannya.
Mereka harus mampu dan kreatif untuk melakukan terobosan-terobosan
hukum.

17
DAFTAR PUSTAKA

Nasution, Bismar, 1998, Kejahatan Korporasi dan Pertanggungjawabannya,


Yogyakarta:Kanisius.

Amarini, Indriati, 2010, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Dalam Undang-


Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup, Jakarta: Rajawali Press.

Amiruddin, A, Dajaan Imami, dkk, 2009, Asas Subsidiaritas : Kedudukan dan


Implementasi dalam Penegakan Hukum Lingkungan, (PP-PSL FH UNPAD dan
Bestari).

I. S. Susanto, 1995, Kejahatan Korporasi, Semarang: Badan Penerbit Universitas


Diponegoro

18