Anda di halaman 1dari 30

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN HARGA DIRI

RENDAH PADA Tn. S DI RUANG DEWA RUNCI RUANG IV


RSJD DR. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG

DisusunOleh Kelompok VII :


1. Slamet Kuat (C01.2003.01630)
2. Indah R.A. (C01.2003.01613)
3. Irnawati (C01.2003.01654)
4. Sutini (C01.2003.01673)

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SEMARANG
2005

1
LEMBAR PENGESAHAN

Disetujui laporan kasus yang berjudul : Asuhan Keperawatan Klien dengan


Harga Diri Rendah pada Tn. S di Ruang Dewa Runci Ruang IV RSJD Dr. Amino
Gondohutomo Semarang untuk dipresentasikan dalam seminar kasus, sebagai
tugas dalam menyelesaikan Praktek Jiwa II Program Studi D III Keperawatan
Semarang Tahun 2005.
Hari : Kamis
Tanggal : 1 Desember 2005-12-01

Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

Tri Nurhidayati, S.Kep Parnwiyatun,Amk


NIP NIP

ii
2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah asuhan
keperawatan sebaga laporan praktek mahasiswa di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr.
Amino Gondohutomo Semarang. Asuhan keperawatan pada Tn. D dengan
gangguan konsep diri : harga diri rendah di Ruang Runci Rumah Sakit Jiwa
Daerah Semarang.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan
laporan ini. Selama membuat laporan asuhan keperawatan ini penulis mendapat
hambatan namun hambatan ini bisa diatasi berkat bimbingan dari berbagai pihak
khususnya pembimbing klinik maupun pembimbing akademik. Penulis
mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam penyusunan
laporan ini antara lain :
1. Direktur Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino Gondohutomo Seamarang yang
telah memberikan kesempatan untuk praktek.
2. Tri Nurhidayah,Skep.Sebagai Pembimbing Akademik.
3. Ibu Parwiyatun ,Amk. sebagai Pembimbing Klinik.
4. Orang tua dan keluarga yang telah memberi dukungan baik moral maupun
spiritual.
5. Teman-temanku yang telah banyak membantu terselesaikannya laporan ini.
6. Semua pihak yang telah membantu selesainya penulisan laporan ini.
Penulisan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan untuk itu kritik dan
saran yang membangun penulis harapkan sebagai bahan perbaikan. Semoga
laporan asuhan keperawatan ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.
Amin.

Penulis

iii
3
A. DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................ ii
KATA PENGANTAR................................................................................... iii
DAFTAR ISI................................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..................................................................... 1
B. Tujuan.................................................................................. 2
C. Metode Penulisan Makalah.................................................. 2
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Pengertian............................................................................. 3
B. Proses Terjadinya Masalah .................................................. 6
BAB III TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian............................................................................ 10
B. Analisa Data ........................................................................ 15
C. Pohon Masalah..................................................................... 16
D. Diagnosa Keperawatan ....................................................... 16
E. Implementasi ....................................................................... 16
BAB IV PEMBAHASAN
A. Pengkajian............................................................................ 20
B. Diagnosa Keperawatan........................................................ 21
C. Intervensi, Implementasi dan Evaluasi................................ 21
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ......................................................................... 25
B. Saran .................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA

iv
4
BAB I
PENDAHULUAN

B. Latar Belakang
Di era globalisasi ini dengan semakin majunya teknologi mempunyai
dampak positif dan negatif sehingga berpengaruh pada kehidupan masyarakat.
Dampak positif dari majunya teknologi adalah lebih berkembangnya IPTEK
sehingga menjadikan pendidikan sebagai tuntutan yang harus dipenuhi untuk
mengisi kehidupan.
Oleh karena itu, dampak dari majunya teknologi muncullah
persaingan-persaingan di kalangan masyarakat mulai dari politik, ekonomi,
sosial budaya hal itu dapat berpengaruh secara psikis pada setiap individu.
Yaitu majunya teknologi yang ada akan mengurangi tenaga manusia yang
digunakan secara langsung dan otomatis harus menggunakan sumber daya
manusia yang relevan juga sebagai contoh semain banyaknya pengangguran
yang terjadi akibat kurangnya lapangan pekerjaan bagi mereka-mereka yang
kurang memenuhi syarat, sehingga berdampak pula pada gangguan psikis.
Oleh karena itu, penulis mencoba untuk mengangkat kasus tersebut untuk
dialami lebih lanjut sebagai obyek pelatihan dalam menggunakan proses
keperawatan jiwa yang telah penulis dapat dari mata kuliah. Pengangkatan
ditampilan secara umum dalam bentuk laporan yaitu harga diri rendah agar
penulis mengetahui sejauh mana pengaruh masalah kehidupan terhadap
gangguan jiwa seseorang dan melaksanakan asuhan keperawatan pada klien
dengan gangguan jiwa secara komprehensif.
Dengan melakukan asuhan keperawatan, konsep diri klien
dilukgrasikan secara komprehensif pada program asuhan keperawatan dengan
mengharapkan klien dan keluarga mampu berperan serta dalam self care and
family support, maka untuk dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan
dengan memberdayakan keluarga dan sistem pendukung klien serta dengan
memberikan pelayanan.

1
Perawatan yang bersifat komprehensif serta memandang manusia
sebagai aspek bio, psiko spiritual, sosial, budaya (Keliat, BA, 1990).

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Dalam lebih mengerti dalam pemberian asuhan keperawatan pada
penderita yaitu gangguan konsep diri : harga diri rendah yang dibuat
berdasarkan aspek bio, psiko, sosial dan spiritual.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu mengenal dan mengetahui gangguan konsep diri harga diri
rendah.
b. Mengkaji status kesehatan klien dengan harga diri rendah.
c. Perencanaan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan konsep
diri harga diri rendah.
d. Memberikan intervensi dan implementasi asuhan keperawatan
terhadap masalah yang timbul.

C. Proses Pembuatan Makalah


Penulisan menggunakan data serta analisa dari hasil pengamatan penulis
pada Tn. S dengan hadir di ruang Shinta RSJD Semarang. Adapun teknik
pengumpulan data yang penulis gunakan sebagai studi kasus pasien. Dengan
teknik ini, penulis membaca, mengkaji, mempelajari status dan riwayat pasien.
- Wawancara
Penulis melakukan komunikasi secara langsung dengan pasien observasi.
- Observasi
Dengan mengamati langsung maupun tidak langsung terhadap kebiasaan
yang sering dilakukan pasien.
- Studi Kepustakaan
Dengan membaca dari buku-buku sebagai sumber literatur sebagai
pedoman.

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar
1. Pengertian
Harga diri rendah adalah tanda dan penolakan diri dan keadaan
membenci diri sendiri yang prosesnya mungkin secara sadar maupun tidak
sadar diekspresikan dengan cara langsung maupun tidak langsung (Stuart
and Sudden, 1995).
Harga diri rendah adalah perasaan negatif pada diri sendiri termasuk
kehilangan rasa percaya diri dan harga diri karena gagal mencapai
keinginan. Harga diri rendah adalah evaluasi dari perasaan tentang diri
atau kemampuan diri yang negatif dapat secara langsung atau tidak
langsung diekspresikan. Harga diri rendah adalah menolak dirinya sebagai
sesuatu yang berharga dan tidak dapat bertanggung jawab atas kehidupan
sendiri, gagal menyesuaikan tingkah laku dan cita-cita (Menurut FK
Undip, 2001).
Harga diri rendah adalah evaluasi diri dengan perasaan tentang diri
atau kemampuan diri yang negatif dapat secara langsung atau tidak
langsung diekspresikan (Tausuud MC, 1998).

2. Etiologi
Gangguan harga diri rendah dapat terjadi secara :
a. Situsional
Yaitu terjadi secara tiba-tiba.
Contoh : trauma tiba-tiba, dioperasi, kecelakaan, cerai, putus sekolah,
pemerkosaan, penjara.
b. Kronis
Yaitu perasaan negatif terhadap diri yang telah berlangsung lama,
misalnya :
- Hubungan orang tua dan anak yang tidak memuaskan

3
- Penganiayaan dan penelantaran anak
- Disfungsi sistem keluarga
Umpan balik negatif tumbang, berakibat pada berkurangnya nilai pada
klien yang di rawat dapat terjadi harga diri rendah karena :
1. Privacy yang kurang diperhatikan
Contoh : pemeriksaan fisik sembarangan.
2. Harapan akan struktur bentuk dan fungsi tubuh yang tercapai
karena dirawat / sakit / penyakit.
3. Perlakuan yang kurang menghargai
Contoh : pemeriksaan tanpa penjelasan

3. Tanda dan Gejala


Stuart and Suddent (1991) mengemukakan 10 cara individu
mengekspresikan secara langsung harga diri rendah.
a. Mengejek dan mengkritik diri sendiri
Klien mempunyai pandangan negatif tentang dirinya, klien sering
mengatakan dirinya bodoh, tidak tahu apa-apa.
b. Merendahkan / mengurangi martabat
Menghindari, mengabaikan atau menolak kemampuan yang nyata
dimiliki.
c. Rasa bersalah dan khawatir
Klien menghukum diri sendiri ini dapat ditempatkan berupa fobia
obsesi. Klien menolak dirinya sendiri.
d. Manifestasi fisik
Termasuk tekanan darah tinggi, penyakit psikosomatis...
e. Menunda keputusan
Sangat ragu-ragu dalam mengambil keputsan : rasa aman terancam.
f. Gangguan berhubungan
Klien menjai kejam, merendahkan diri atau mengeksplorasi orang lain,
perilaku lain adalah menarik diri atau isolasi.

4
g. Menarik diri dari realita
Bila kecemasan yang disebabkan oleh penolakan diri sendiri mencapai
tingkat berat atau panik, klien mungkin mengalami gangguan asosiasi,
halusinasi, curiga, cemburu, atau paranoid.
h. Merusak diri
Harga diri yang rendah dapat mendorong klien mengakhiri hidupnya.
i. Merusak / melukai orang lain
Kebencian dan penolakan pada diri sendiri dapat .. pada lingkungan
dengan melukai orang lain.
j. Kebencian dan penolakan pada diri sendiri

4. Rentang Respon

Rentang respons konsep diri


Respon Respon
adaptif maladaptif

Aktualisasi Konsep Harga Kerancuan Depersonalisasi


diri diri positif diri rendah identitas

Aktualisasi : Pernyataan tentang konsep diri yang positif dengan latar


belakang sukses.
Konsep diri positif : apabila individu mempunyai pengalaman yang
positif dalam perwujudan dirinya.
Harga diri rendah : perasaan negatif terhadap diri sendiri, termasuk
kehilangan rasa percaya diri, tidak berharga, tidak berguna, tidak
berdaya, pesimis.
Kerancauan identitas : kegagalan individu untuk mengintegrasikan
berbagai identifikasi masa kanak-kanak ke dalam kepribadian
psikososial dewasa yang harmonis.
Depersonalisasi : perasaan tidak realistik dalam keasingan dari diri
sendiri, kesulitan membedakan diri sendiri, merasa tidak nyata dan
asing baginya.

5
C. Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa keperawatan :
1. Isolasi sosial : Menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
Tujuan umum : Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara
optimal.
Tujuan khusus 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Evaluasi : - Ekspresi wajah bersahabat
- Menunjukkan rasa sayang
- Ada kontak mata
- Ada kontak tangan
- Mau menyebutkan nama
- Mau menjawab salam, klien mau duduk
berdampingan dengan perawat
- Mau mengutarakan masalah yang dihadapi.
Intervensi : Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan
prinsip komunikasi terapeutik.
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non
verbal.
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama penggilan
yang disukai klien
d. Jelaskan tujaun pertemuan
e. Jujur dan menempati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa
adanya
g. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan
kebutuhan dasar klien
Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk
kelancaran hubungan interaksi selanjutnya.
Tujuan khusus 2 : Klien dapat mengidentifikasikan kemampuan dan aspek
positif yang dimiliki.

6
Evaluasi : - Kemampuan yang dimiliki klien
- Aspek positif keluarga
- Aspek positif lingkungan yang dimiliki klien
Intervensi : - Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki klien
- Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi
penilaian negatif
- Utamakan memberi pujian yang realistik
Rasional : 1. Diskusikan tingkat kemampuan klien seperti
menilai realitas kontrol diri atau integritas ego
diperhatikan sebagai dasar asuhan keperawatan
2. Reinforcement positif akan meningkatkan harga diri
klien
3. Pujian yang realistik tidak menyebabkan klien
melakukan kegiatan hanya karena ingin
mendapatkan pujian
Tujuan Khusus 3: Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan
Evaluasi : Klien menilai kemampuan yang dapat digunakan
Intervensi : - Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih
dapat digunakan selama sakit
- Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan
penggunaan di rumah sakit
- Berikan pujian
Rasional : - Keterbukaan dan pengertian tentang kemampuan
yang dimiliki adalah prasarat untuk berubah
- Pengertian tentang kemampuan yang dimiliki diri
memotivasi untuk tetap mempertahankan
penggunaannya
Tujuan khusus 4 : Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan
sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
Evaluasi : Klien membuat rencana kegiatan harian

7
Intervensi : 1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat
dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
- Kegiatan mandiri
- Kegiatan dengan bantuan sebagian
- Kegiatan yang membutuhkan bantuan total
2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi
klien
3. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh
klien lakukan
Rasional : 1. Membentuk individu yang bertanggung jawab
terhadap dirinya sendiri
2. Klien perlu bertindak secara realistis dalam
kehidupannya
3. Contoh peran yang dilihat klien akan memotivasi
klien untuk melaksanakan kegiatan
Tujuan khusus 5 : Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit
dan kemampuannya
Kriteria evaluasi : Klien melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan
kemampuannya
Intervensi : 1. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba
kegiatan yang telah direncanakan
2. Beri pujian atau keberhasilan klien
3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
Rasional : 1. Memberikan kesempatan kepada klien mandiri
dapat meningkatkan motivasi dan harga diri klien
2. Reinforcement positif dapat meningkatkan harga
diri klien
3. Memberikan kesempatan kepada klien untuk tetap
melakukan kegiatan yang bisa dilakukan

8
Tujuan khusus 6 : Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Kriteria evaluasi : Klien memanfaatkan sistem pendukung yang ada di
keluarga
Intervensi : 1. Beri pendidikan kesehatan pada klien dengan harga
diri rendah
2. Bantuan keluarga memberikan dukungan selama
klien dirawat
3. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
Rasional : 1. Mendorong keluarga untuk mampu merawat klien
mandiri di rumah
2. Support sistem keluarga akan sangat berpengaruh
dalam mempercepat proses penyembuhan klien
3. Meningkatkan peran serta keluarga dalam merawat
klien di rumah

9
BAB III
TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
I. Identitas Klien
Nama : Tn. D
Umur : 25 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Sayung Demak
Agama : Islam
Pendidikan : SMP

Penanggung Jawab
Nama : Tn. N
Umur : 30 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Swasta
Hubungan : Kakak ipar
Alamat : Sayung Demak

Identitas Medis
No. Register : 030328
Tanggal masuk : 30 Nopember 2005
Diagnosa medis : Skizofrenia tak terinci
Tanggal Pengkajian : 26 November 2005 jam 14.00

II. Alasan Masuk


Mengamuk, sering menyendiri.

10
III. Faktor Predisposisi dan Presipitasi
Klien pernah dirawat di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang
sudah 5 kali ini. Umur 13 tahun, klien pernah mengalami aniaya seskual.
Kelas 3 Smu klien keluar dari sekolah karena malu tidak bisa mengerjakan
tugas. Sejak itu klien tidak mampu bergaul dengan temannya. Lebih suka
menyendiri. Setelah itu klien mulai mengalami halusinasi penciuman lalu
mengamuk dan akhirnya dibawah ke RSJ tahun 1999. Setelah pulang di
rumah selama 7 bulan klien dibawah ke RSJ lagi karena tidak mau minum
obat.
Setelah keluar lagi dari RSJ klien dipaksa kakaknya menikah padahal
klien belum siap. Setelah menikah klien tidak bisa mencukupi kebutuhan
keluarga dan suka keluyuran. Akhirnya klien ditinggal istrinya. Klien
merasa kecewa, mengurung diri di rumah dan mengamuk, lalu keluarga
membawanya ke RSJ Semarang untuk terakhir ini.

IV. Pemeriksaan Fisik


a. Tanda vital
TD : 120/80 mmHg
N : 88 x/menit
S : 364 oC
R : 20 x/menit
b. Ukuran BB : 55 kg
TB : 163 cm
c. Keluhan fisik : susah tidur, gelisah

V. Psikososial
1. Genogram

11
Keterangan :
= laki-laki
= perempuan
= sudah meninggal
= klien
= cerai

Klien tinggal satu rumah dengan ibunya, sedangkan ayahnya sudah


meninggal.
2. Konsep Diri
a. Gambaran diri
Klien merasa tidak puas dengan gusinya yang hitam dan klien
menerima semua anggota tubuhnya.
b. Identitas diri
Klien menyadari bahwa dia seorang laki-laki, dalam keluarganya
klien anak ke-3 dari 3 bersaudara, klien membantu orang tua di
rumah. Setelah klien menikah klien belum juga bekerja.
c. Peran diri
Sebagai anak dia membantu orang tuanya di rumah, sebagai suami
dia tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarganya karena tidak
bekerja.
d. Ideal diri
Klien ingin menjadi seorang tentara tapi sekolahnya tidak lulus,
SMA kelas 3 keluar.
e. Harga diri
Klien merasa tidak puas dengan giginya karena berwarna hitam
dan merasa sedih dan kecewa karena tidak mampu mencukpi
kebutuhan keluarga sebagai suami.
Masalah keperawatan : gangguan konsep diri : harga diri rendah.

3. Hubungan sosial

12
a. Orang yang paling berarti bagi klien adalah ibu
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat. Klien jarang
berkumpul dengan klien lain dan bicara.
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
Klien lebih suka diam dan tidak mudah percaya dengan orang lain,
klien bilang saya lebih suka menyendiri daripada berkumpul
dengan mereka karena merasa malu dianggap gila.
Masalah keperawatan : isolasi sosial : menarik diri
4. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan
Klien beragama Islam dan percaya adanya Tuhan.
b. Kegiatan beribadah
Waktu di rumah sebelum sakit dia rajin beribadah, selama di RSJ
klien mengatakan jarang beribadah.

4. Status Moral
a. Penampilan
Kondisi rambutnya bersih dan disisir, kuku pendek, pakaiannya
rapi dan bersih. Klien mandi 2 kali per hari.
b. Pembicaraan
Klien tidak bicara bila tidak disapa, dia hanya menjawab
pertanyaan yang diajukan seperlunya. Kontak mata klien kurang
saat diajak bicara. Suara pelan.
c. Aktivitas Motorik
Cara berjalan lambat, pandangan menunduk begitu juga saat klien
diajak bicara atau bicara dengan teman.
d. Alam Perasaan
Klien menunjukkan alam perasaan sedih karena teringat ibunya
dan menunjukkan raut muka senang ketika diajak bicara dan
diterima.
VI. Kebutuhan Persiapan Pulang

13
a. Makan
Klien makan 3 x sehari dengan 1 porsi habis dan variasi ditentukan
oleh RS. Klien mengatakan senang dengan menu makanan yang
disiapkan oleh RS. Klien mampu memberihkan dan menyiapkan alat
makan.
b. BAB/BAK
Klien BAB dan BAK di kamar mandi. BAB 1 x sehari dan dapat
melakukannya sendiri tanpa bantuan.
c. Ganti pakaian
Klien mampu mengambil, memilih dan mengenakan pakaiannya
sendiri. Penampilan klien rapi.
d. Nutrisi
Klien makan 3x sehari dengan nasi, sayur, lauk dan tambahan bubur
kacang hijau. BB = 55 kg. Klien mengatakan makanannya di RS lebih
baik daripada di pesantren.
e. Tidur
Klien tidur mulai jam 21.00 dan bangun jam 04.00. Klien sering tidur
siang karena mengatakan merasa sulit tidur di waktu malam.
f. Penggunaan obat
Klien minum obat setelah makan sesuai aturan dan dosis yang telah
diberikan dokter. Klien mengatakan tidak merasa reaksi apapun setelah
minum obat.
g. Pemulihan kesehatan
Apabila sakit klien memeriksakannya ke dokter atau pelayanan
kesehatan terdekat.
h. Aktivitas di dalam rumah
Klien tidak bekerja, klien kalau di rumah hanya membantu orang tua
menyiram kecambah ketika ada waktu luang.
i. Aktivitas di luar rumah
Klien tidak pernah mengikuti kegiatan aktivitas sosial di masyarakat.
VII. Aspek Medik

14
Diagnosa medik : Skizoprenia
Terapi medik : Clorpomazine 2 x 100 mg
Haloperidol 2 x 5 mg
Trihexipenidil 2 x 2 mg

B. Analisa data
No Data Problem
1. DS : - Klien mengatakan saya malu karena Gangguan konsep diri:
dianggap gila harga diri rendah
- Klien mengatakan saya merasa tidak
berguna karena tidak bekerja
DO : - Kontak mata klien kurang
- Pandangan menunduk, klien bicara
seperlunya
- Diam dan tidak aktif
2. DS : - Klien mengatakan lebih suka Isolasi sosial: menarik
menyendiri daripada kumpul dengan diri
teman karena merasa malu dianggap
gila
DO : - Klien lebih banyak menyendiri dan
melamun
- Klien banyak tidur di kamar
- Klien jarang berkomunikasi dengan
klien lain
3. DS : - Klien mengatakan tidak puas dengan Gangguan citra tubuh
gusinya yang hitam
DO : - Klien menunjukkan bagian tubuh
yang tidak disenangi
- Klien tidak percaya diri saat bicara

C. Pohon Masalah
Isolasi Sosial: menarik diri

Gangguan konsep diri: harga diri rendah


15

Gangguan citra tubuh


D. Diagnosa Keperawatan
1. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
2. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan gangguan
citra tubuh

E. Implementasi
No.
Tgl/waktu Implementasi Evaluasi Prf
DX
26 Nov I TUK 1,2 S : - Klien mengatakan selamat
05 - Mengapa klien dengan pagi, nama saya SP, panggil
14.00 mengucapkan selamat pagi saja saya S
mas, sambil tersenyum - Klien mengatakan di rumah
- Memperkenalkan diri dengan saya bangun tidur, sholat,
menyebutkan nama lengkap, bantu ibu menyiram toge,
nama panggilan yang disukai, nonton TV dan
alamat asal institusi sambil mendengarkan musik
berjabat tangan
- Menanyakan nama lengkap O : - Klien terlihat tersenyum,
klien, nama panggilan yang mau berjabat tangan, mau
disukai duduk berdampingan
- Jelaskan tujuan pertemuan dengan perawat
- Menunjukkan sikap empati - Klien terlihat melakukan
dan menerima klien apa kegiatan sehari-hari,
adanya dengan cara duduk di makan, tidur, nonton TV,
samping klien membersihkan tempat tidur

16
- Beri perhatian kepada klien A : TUK 1 tercapai
dan memperhatikan TUK 2 tercapai
kebutuhan dasarnya dengan P : P : validasi TUK 1 dan 2
menanyakan gimana tadi K : anjurkan klien mengingat
malam bisa tidur kemampuan dan aspek
- Mendiskusikan kemampuan positif klien
dan aspek positif yang
dimiliki klien
- Tidak memberi penilaian
negatif pada klien saat
interaksi
- Memberi pujian pada klien
sesuai realita
Bagus, mas termasuk rajin
28 Nov I TUK 3 S : Saya dapat melakukan
05 - BHSP kegiatan menyapu,
14.00 - Diskusikan dengan klien merapikan tempat tidur
kemampuan yang masih dapat O : Klien menyebutkan
digunakan selama sakit kemampuan yang mampu
- Diskusikan kemampuan yang digunakan di RS
dapat dilanjutkan A : Masalah teratasi di RS
penggunaannya P : Perawat
- Anjurkan klien untuk
memilih salah satu
kegiatan yang mau
dilakukan
- Membantu klien
melakukan kegiatan itu
dan jika perlu beri contoh
Klien : mengingat-ingat
kemampuan positif yang
dapat digunakan di RS

17
29 Nov I TUK 4 S : Klien mengatakan saya
05 - BHSP memilih merapikan tempat
13.30 - Menganjurkan klien untuk tidur
memilih satu kegiatan yang O : Klien merapikan tempat
mau dilakukan di RS tidur setelah mendapat
- Membantu klien melakukan bimbingan dari perawat
kegiatan yang dipilih dan jika A : Masalah teratasi sebagian
perlu beri contoh P : Perawat : melatih klien untuk
kegiatan yang lainnya
(menyapu)
Klien : mencoba melakukan
sendiri merapikan tempat
tidur
14.00 TUK 4 S : - Klien mengatakan saya
- Melatih klien untuk kegiatan merasa senang bisa
yang lainnya (menyapu) melakukan kegiatan
menyapu
- Saya akan melaksanakan
kegiatan sesuai jadwal
O : - Klien menyapu
- Klien menyusun jadwal
A : Masalah teratasi
P : Perawat : menganjurkan dan
memberikan kesempatan
kepada klien untuk mencoba
kegiatan yang sesuai dengan
jadwal yang telah
direncanakan secara rutin
setiap hari
Klien : mencoba melakukan
kegiatan yang ada pada
jadwal

18
14.10 TUK 5 S : Klien mengatakan saya akan
- Menganjurkan dan mencoba melakukan kegiatan
memberikan kesempatan sesuai dengan jadwal
kepada klien untuk mencoba kegiatan harian
kegiatan sesuai dengan O : Klien mau melakukan
jadwal yang telah kegiatan sesuai jadwal
direncanakan secara rutin A : Masalah teratasi
setiap hari P : Perawat : memonitor klien
untuk melaksanakan kegiatan
sesuai jadwal kegiatan harian
Klien : melakukan kegiatan
secara rutin di RS sesuai
jadwal kegiatan harian
30 Nov TUK 5 S : -
05 - Memonitor klien untuk O : Klien melakukan kegiatan
11.30 melaksanakan kegiatan sesuai tapi harus disuruh dulu oleh
jadwal kegiatan perawat
A : Masalah teratasi sebagian
P : Perawat : memotivasi klien
melakukan kegiatan
Klien : anjurkan klien
melakukan kegiatan

19
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab pembahasan ini akan diuraikan mengenai pembahasan masalah


yang terjadi didalam kasus dan penyelesaiannya beserta perbandingan teori
dengan kenyataan yang ada dilapangan saat pemberian Asuhan Keperawatan pada
Tn.S dengan masalah Keperawatan harga diri rendah di ruang IV di Rumah Sakit
Jiwa Dr. Amino Gondhohutomo Semarang.
Pada kasus yang dikelola penulis pada tanggal 24-29 Desember 2005 dapat
diidentifikasikan masalah Keperawatan harga diri rendah, menarik diri,
ketidakberdayaan.

A. Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal 24 Desember 2005 pengumpulan
data diperoleh dari observasi dan wawancara pada klien. Perawat ruangan, dan
catatan keperawatan klien. Data yang ditemukan pada klien meliputi :
1. Faktor Predisposisi
Klien pernah mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan
yaitu :
a. Klien pernah dirawat di RSJD Dr. Gondhohutomo sebanyak 5 kali,
minum obat tidak teratur.
b. Klien pernah mengalami aniaya seksual saat umur 13 tahun.
c. Klien pernah dipaksa menikah padahal belum siap, setelah istrinya
tahu dia pernah jadi korban aniaya seksual, karena klien tidak bekerja
dan jarnag dirumah maka istrinya pergi dari rumah dan meninggalkan
dia.
d. Klien tidak lulus SMA, klien merasa berasa bodoh karena tidak bisa
mengikuti pelajaran kemudian dia tidak mau sekolah.

20
2. Psikososial
Data yang ditemukan pada Tn. S yaitu ada ganguan konsep diri
yang meliputi gangguan peran (gagal sebagai suami) dan gangguan harga
diri rendah (klien merasa sedih karena tidak bekerja, dan dianggap gila).
Gangguan hubungan sosial, klien lebih senang menyediri karena
malu dianggap gila.
Berdasarkan data tersebut diagnosa keperawatan yang muncul
isolasi sosial menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan pada klien harga diri rendah adalah isolasi
sosial menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah. Klien dengan
gangguan konsep diri rendah dapat mengakibatkan isolasi menarik diri dan
karena klien tersebut akan menganggap dirinya sudah tidak berguna sehingga
mengalami keputusanasaan. Hal tersebut akan beresiko isolasi sosial menarik
diri adalah klien lebih senang menyendiri di kamar, lebih senang menyendiri
dari pada bergaul dengan teman-temannya, bicara pelan, selalu menunduk.
Sedangkan penyebab harga diri rendah pada Tn. S adalah gangguan
citra tubuh rata yang mendukung adalah klien mengeluh tidak puas dengan
gusinya yang hitam, klien tidak percaya diri saat bicara, klien menunjukkan
salah satu anggota tubuh yang tidak memuaskan.

C. Intervensi, Implementasi dan Evaluasi


Intervensi keperawatan yang dibuat untuk mengatasi masalah pada Tn. S
sesuai dengan standar operasional prosedur dan diagnosa keperawatan isolasi
sosial menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah (intervensi
terlampir).
Impementasi dilakukan tanggal 26 Nopember 2005 sampai dengan 29
Nopember 2005. dengan tujuan umum (TUM) klien dapat berhubungan
dengan orang lain secara optimal.

21
1. TUK 1
Untuk melakukan intervensi Tujuan khusus satu yaitu membina
hubungan saling percaya. Implementasi TUK 1 tanggal 26 Nopember
2005 jam 14.30 WIB dengan klien dilakukan selama 10 menit satu kali
tatap muka dengan rasional rasa percaya diri meningkat interaksi
terapeutik antara perawat dengan klien. Hasil evaluasi TUK 1 adalah klien
mau membina hubungan saling percaya dengan perawat sehingga klien
mau menjawab setiap pertanyaan perawat.

2. TUK 2
Untuk melakukan intervensi Tujuan Khusus Dua yaitu klien dapat
mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki. Implemetasi
TUK 2 tanggal 26 November 2005 jam 13.30 WIB dengan klien dilakukan
selama 10 menit, satu kali tatap muka bersama dengan TUK 1. kriteria
evaluasi membuat daftar kemampuan yang dimiliki klien di RS, rumah;
membuat daftar positif lingkungan klien. Implementasi yang dilakukan
yaitu mendiskusikan dan membuat daftar kemampuan yang dimiliki klien
dirumah dan dirumah sakit; memberi pujian pada kemampuan yang
dimiliki klien. TUK 2 teratasi tanggal 26 November 2005 pukul 13.15
WIB didukung dengan klien mengatakan saya biasanya dirumah
membantu ibu menyiram toge, menyapu, merapikan tempat tidur.
TUK 1 dan TUK 2 dilaksanakan pada pertemuan pertama pada
tanggal 26 November 2005 pukul 13.00 WIB. TUK 1 dan TUK 2 teratasi,
dengan perencanaan untuk klien mengingat kembali kemampuan klien
yang belum diungkapkan pada perawat dan perencanaan untuk perawat
melanjutkan ke TUK 3. Pada pertemuan I, implementasi TUK 2 sudah
teratasi karena klien sudah kooperatif sudah tahu kemampuan yang
dimiliki (dikarenakan klien sudah 1 bulan dirawat dan kemungkinan klien
sudah intervensi petugas).

22
3. Penulis melakukan pertemuan II dengan tujuan TUK 3 pada tanggal 23
November 2005 pukul 14.00 WIB, yaitu klien dapat menilai kemampuan
yang dapat digunakan di RS, dan menilai kemampuan yang dapat
dilakukan dirumah. Implementasi yang dilakukan yaitu mendiskusikan
dengan klien kemampuan yang dapat digunakan di RS selama klien sakit.
TUK 3 teratasi didukung dengan klien mengatakan saya dapat
melakukan kegiatan menyapu, merapikan tempat tidur.

4. Pertemuan III pada tanggal 28 November 2005 pukul 14.10 WIB, dengan
tujuan TUK 4 yaitu klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan
sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Kriteria evaluasi yaitu klien
memiliki kemampuan yang akan dilatih, klien mencoba dan menyusun
jadwal harian. Implementasi yang dilakukan minta klien untuk memilih
salah satu kegiatan yang akan dilakukan di RS dan membantu klien
melakukan kegiatan yang dipilih dan jika perlu beri contoh. TUK 4
teratasi sebagian karena Implementasi yang dilakukan harus memenuhi
dua kriteria evaluasi, didukung dengan data klien merapikan tempat tidur
dengan bimbingan perawat.
Pertemuan ke IV pada tanggal 29 November 2005 jam 14.00 WIB dengan
tujuan TUK 4. implementasi yang dilakukan yaitu menyusun jadwal
kegiatan harian. TUK 4 teratasi karena telah memenuhi kriteria evaluasi.
Perencanaan untuk perawat melanjutkan ke TUK 5 dan untuk klien
melakukan kegiatan secara rutin. TUK 4 dilakukan 2 pertemuan untuk
menilai kemampuan klien yang masih dapat digunakan di RS dan untuk
menyusun jadwal kegiatan.

5. Pertemuan VI dilakukan pada tanggal 29 November 2005 pukul 14.00


WIB, dengan tujuan TUK 5 yaitu klien dapat melakukan kegiatan sesuai
dengan kondisi sakit dan kemampuannya. Kriteria evaluasi yaitu klien
melakukan kegiatan yang telah dilatih (mandiri, dengan bantuan, atau
tergantung) dan klien mampu melakukan beberapa kegiatan secara

23
mandiri. Implementasi yang dilakukan yaitu menganjurkan dan
memberikan kesempatan kepada klien untuk mencoba kegiatan sesuai
dengan jadwal yang telah direncanakan secara rutin tiap hari. TUK 5
teratasi didukung dengan klien mampu melakukan kegiatan secara mandiri
dan mengatakan akan melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal kegiatan
harian. Pertemuan ke VII pada tanggal 30 November 2005 jam 11.30
dengan TUK 5. Implementasi yang dilakukan memonitor klien untuk
melaksanakan kegiatan sesuai jadwal kegiatan harian. TUK 5 teratasi
sebagian karena klien melakukan beberapa kegiatan harus disuruh dari
perawat ruangan.

Pada makalah ini, intervensi hanya sampai TUK 5 karena klien harus
dimotivasi lebih dahulu untuk melakukan kegiatan sesuai jadwal yang telah
dibuat.

24
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Klien dengan harga diri rendah perawatan intensif agar tidak muncul
masalah keperawatan yang baru.
2. Pada penatalaksanaan tindakan keperawatan TUK 4 yaitu klien dapat
menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki harus dilakukan secara berulang-ulang. Hal ini dapat membantu
klien dalam perencanaan kegiatan di Rumah Sakit.
3. Pada penatalaksanaan keperawatan TUK 5 yaitu klien diharapkan dapat
melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya harus
dilakukan dan intensive dan berulang. Hal ini dilakukan agar klien dapat
melaksanakan kegiatan secara rutin dan teratur, serta bila klien pulang
nanti sudah dapat melakukannya secara mandiri.

B. Saran
1. Beri kegiatan yang teratur dan kontinue pada klien.
2. Buat jadwal kegiatan yang sesuai dengan kemampuan klien.
3. Libatkan keluarga dalam tindakan keperawatan selama di Rumah Sakit.
4. Monitoring setiap kegiatan klien.

25
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, B.A. 1998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. EGC : Jakarta.

Stuart and Sunddan. 1995. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 3. EGC : Jakarta.

Townsend, Mary C. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan


Psikiatrik. EGC : Jakarta.

26