Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH UTILITAS

WATER TREATMENT

DISUSUN OLEH :

BELLA DWI AULINA (061430401245)

M. AFIF AZFAR (061430401253)

SHANTY NURMEUTIA (061430401238)

KELAS :

5KB

INSTRUKTUR :

IBNU HAJAR, S.T, M.T

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


2016

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air merupakan salah satu komponen lingkungan yang mempunyai peranan
yang cukup besar dalam kehidupan. Bagi manusia air berperan dalam kegiatan
pertanian, industri, dan pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Air yang digunakan
harus memenuhi syarat dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Kualitas air dapat
ditinjau dari segi fisik, kimia, dan biologi. Kualitas air yang baik tidak selamanya
tersedia di alam. Perkembangan industri dan permukiman dapat mengancam
kelestarian air bersih.

Tujuan dari semua proses pengolahan air yang ada adalah menghilangkan
kontaminan dalam air, atau mengurangi konsentrasi kontaminan tersebut sehingga
menjadi air yang diinginkan sesuai kebutuhan (pengguna akhir) tanpa merugikan
dampak ekologis.

Proses-proses yang terlibat dalam pemisahan kontaminan dapat menggunakan


Proses Fisik seperti menetap dan penyaringan Kimia seperti Desinfeksi dan
Koagulasi. Selain itu proses Biologi juga digunakan dalam pengolahan air limbah,
proses-proses ini dapat meliputi, mencampur dengan Udara, diaktifkan Lumpur
atau Saringan pasir padat.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari pembuatan makalah ini, yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan water treatment?
2. Mengapa perlu dilakukan water treatment?
3. Apa saja yang menjadi parameter pengolahan air?
4. Bagaimana proses pengolahan air?

1.3 Tujuan
Memahami definisi water treatment.
Memahami perlunya water treatment.
Menjelaskan parameter dalam Water Treatment.

2
Memahami proses pengolahan air.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Water Treatment

3
Water Treatment adalah suatu cara/bentuk pengolahan air dengan cara
cara tertentu dengan tujuan untuk mencapai hasil yang diharapkan sesuai
kebutuhan. Water Treatment Plant adalah sebuah sistem yang difungsikan untuk
mengolah air dari kualitas air baku (influent) yang kurang bagus agar
mendapatkan kualitas air pengolahan (effluent) standar yang di
inginkan/ditentukan atau siap untuk dikonsumsi.

Tabel 2.1 Batasan Air Limbah untuk Industri

Parameter Konsentrasi (mg/L)


COD 100 300
BOD 50 150
Minyak nabati 5 10
Minyak mineral 10 50
Zat padat tersuspensi (TSS) 200 400
pH 6.0 9.0
Temperatur 38 40 [oC]
Ammonia bebas (NH3) 1.0 5.0
Nitrat (NO3-N) 20 30
Senyawa aktif biru metilen 5.0 10
Sulfida (H2S) 0.05 0.1
Fenol 0.5 1.0
0.05 0.5
Sianida (CN)

Pada umumnya gangguan terhadap suatu peralatan/ sistem yang bermedia


air disebabkan oleh zat-zat pengotor dalam air yang disebut kontaminan.
Kontaminan tersebut dapat berbentuk gas, cair, padatan, dan mikroorganisme.

a. Kontaminan gas
Beberapa kontaminan gas seperti karbondoksida, sulfur dioksida, oksigen, dan
lain-lain. Air yang mengandung gas-gas tersebut bersifat korosif dalam
reaksinya terbentuk senyawa asam yang kemudian bereaksi dengan peralatan
dari logam dengan reaksi sebagai berikut.

4
CO2 + H2O H2CO3 + Fe FeCO3 + H2
SO2 + O2 SO3
SO3 + H2O H2SO4 + Fe FeSO4 + H2
b. Kontaminan cair
Kandungan zat cair dalam air dapat berupa asam, seperti asam klorida (HCl),
asam sulfat (H2SO4) atau basa seperti ammonia cair (NH4OH), minyak/ lemak
yang berasal dari kebocoran air yang masuk ke dalam sistem. Kandungan asam
dan basa dalam air akan bersifat korosif.

c. Kontaminan padatan
Berdasarkan besarnya ukuran partikel padatan terlarut, maka kontaminan
padatan dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu: padatan terlarut (TDS), padatan
tersuspensi (TSS), dan padatan sediment.

Padatan terlarut (TSS) terdiri dari senyawa organik dan anorganik yang larut
dalam air seperti kalsium karbonat, magnesium karbonat, kalsium sulfat,
magnesium sulfat, kalsium klorida, natrium silikat, dan lain-lain. Air yang
mengandung padatan terlarut sangat baik daya hantar listriknya.
Garam-garam kalsium dan magnesium menjadikan air bersifat sadah, dapat
menyebabkan kerak (CaCO3.CaSO4) dan defosit lumpur [(MgCO3.Mg(OH)2)]
pada pipa-pipa ketel uap (boiler).
CaCl2 + SO42- CaSO4 + 2Cl-
CaCl2 + CO32- CaCO3 + 2Cl-
MgSO4 + CO32- MgCO3 + SO42-
MgCl2 + CO32- MgCO3 + 2Cl-
MgCl2 + H2O Mg(OH)3 + 2HCl-
Garam natrium silikat ( Na2SiO3 ) dalam air panas akan terhidrolisa
menghasilkan asam silikat pada temperatur di atas 200C akan menjadi kristal
keras yang sangat padat, kecil, dan rapat. Kristal ini yang menempelkan pada
pipa-pipa ketel uap. Silika hanya dapat dihilangkan dengan alat penukar ion di
unit demin plant.

Padatan tersuspensi ( TSS ) menyebabkan air keruh, tidak larut, tidak dapat
mengendap langsung seperti tanah liat, koloid silikat. Koloid silikat sering lolos
dalam proses koagulasi sehingga proses penghilangannya dapat menggunakan
alat penukar ion.

5
Padatan Sedimen adalah padatan yang langsung mengendap jika air
didiamkan. Padatan yang mengendap tersebut terdiri dari partikel-partikel
padat yang berukuran lebih besar dari padatan tersusupensi, relative besar dan
berat, seperti pasir dan lumpur. Padatan sering menimbulkan erosi pada
material dan menyumbat aliran air.

d. Kontaminan mikroorganisme
Kontaminan mikroorganisme seperti ganggang, lumut, jamur dan bakteri dapat
tumbuh dengan baik pada sistem air pendingin open circuit. Mikroorganisme
jenis ganggang dan lumut dapat menyumbat saringan-saringan air pendingin,
tube-tube kondensor, pompa-pompa dan mengurangi kecepatan pertukaran
panas. Bakteri merupakan salah satu jenis mikroorganisme dalam air yang
dapat merusak bangunan-bangunan menara pendingin yang terbuat dari beton.

2.2 Tujuan dari Water Treatment


Water Treatment secara umum bertujuan untuk mengelola air hasil
buangan dari proses industri dimana pengelolahan itu dimaksudkan supaya air
buangan industri itu tidak mencemari lingkungan atau bisa digunakan kembali
untuk proses industri dengan cara menghilangkan kontaminan atau memurnikan
kembali air tersebut.

2.3 Parameter dalam Water Treatment

Parameter adalah suatu nilai atau kondisi yang dijadikan sebagai tolak
ukur terhadap suatu nilai.

2.3.1 Parameter Fisik


Parameter fisik air biasanya dilihat dari unsur yang berhubungan dengan
indra manusia seperti penglihatan, sentuhan, rasa dan penciuman, yang meliputi
Turbidity (kekeruhan), warna, bau, rasa, dan suhu. Sistem pengolahan yang biasa

6
digunakan adalah Sistem Sedimentasi (Pengendapan), Filtrasi dan penambahan
desinfektan.

2.3.2 Parameter Kimia


Senyawa kimia yang sering di temukan pada air adalah Fe, Mn, Ca, Mg,
Na, SO4, CO3. Jika air memiliki kandungan senyawa kimia yang berlebihan (tidak
masuk standar konsumsi yang aman), pengolahan dapat dilakukan dengan sistem
filtrasi dengan menggunakan media tertentu misalnya system Reverse Osmosis
atau Demineralier dan Softener.

2.3.3 Parameter Biologi


Parameternya dilihat berdasarkan adanya mikroorganisme yang ada di
dalam air. Bila jumlah mikroorganisme di dalam air berlebihan biasanya akan
mengganggu kesehatan bila dikonsumsi. Pengolahan dapat dilakukan dengan
menggunakan desinfektan atau alat yang biasa digunakan, misalnya injeksi Chlor,
System UV dan System Ozone (O3).

2.4 Proses Pengolahan Air pada Water Treatment.


Water treatment merupakan proses pengolahan air dimana air tersebut diolah
untuk menghilangkan kontaminan yang ada di dalamnya. Proses pengolahan
air ini dibagi menjadi tiga proses yaitu :
Pengolahan air secara kimia
Pengolahan air secara fisika
Pengolahan air secara biologi

2.4.1. Pengolahan air secara kimia


Koagulasi dan Flokulasi
Benda-benda tersuspensi dalam air dapat berupa bahan-bahan kasar yang
dapat mengendap sampai pada bahan-bahan koloid lembut. Bahan-bahan tersebut

7
dapat bersatu dan mengendap dan disatukan menjadi lebih besar dengan bantuan
bahan penggumpal. Kumpulan benda-benda besar tersebut akan tertinggal di dasar
sedimentasi dan dihilangkan dengan cara penyaringan (filtrasi). Langkah-langkah
proses koagulasi dan flokulasi sebagai berikut :
1. Bahan kimia penggumpal dimasukkan ke dalam air, supaya bahan kimia
tersebut bereaksi secara seragam, bahan tersebut harus ditaburkan secara
merata . Hal ini memerlukan pengadukan yang cepat atau pencampuran
dengan air pada titik dimana penggumpalan ditambahkan.
2. Rekasi-reaksi kimia dan kimia fisik dan perubahan-perubahan yang terjadi
mengarahkan pada koagulasi dan pembentukan partikel-partikel berukuran
mikroskopis.
3. Pengadukan perlahan-lahan menyebabkan penyatuan pertikel-partikel
menjadi kumpulan yang dapat terendapkan.

Gambar 1. Proses Koagulasi, Flokulasi, dan Filtrasi

2.4.2. Pengolahan air secara fisika


Sedimentasi

8
Pada umumnya proses Sedimentasi dilakukan setelah proses Koagulasi
dan Flokulasi dimana tujuannya adalah untuk memperbesar partikel padatan
sehingga menjadi lebih berat dan dapat tenggelam dalam waktu lebih singkat.

Sedimentasi bisa dilakukan pada awal maupun pada akhir dari unit sistem
pengolahan. Jika kekeruhan dari influent tinggi, sebaiknya dilakukan proses
sedimentasi awal (primary sedimentation) didahului dengan koagulasi dan
flokulasi, dengan demikian akan mengurangi beban pada treatment berikutnya.
Sedangkan secondary sedimentation yang terletak pada akhir treatment gunanya
untuk memisahkan dan mengumpulkan lumpur dari proses sebelumnya (activated
sludge, OD, dsb) dimana lumpur yang terkumpul tersebut dipompakan keunit
pengolahan lumpur tersendiri.

Sedimen dari limbah cair mengandung bahan-bahan organik yang akan


mengalami proses dekomposisi. Pada proses tersebut akan timbul formasi gas
seperti carbon dioxida, methane, dsb. Gas tersebut terperangkap dalam partikel
lumpur dimana sewaktu gas naik ke atas akan mengangkat pula partikel lumpur
tersebut. Proses ini selain menimbulkan efek turbulensi juga akan merusak
sedimen yang telah terbentuk. Pada Septic-tank, Imhoff-tank dan Baffle-reactor,
konstruksinya didesain sedemikian rupa guna menghindari efek dari timbulnya
gas supaya tidak mengaduk/merusak partikel padatan yang sudah mapan (settle)
di dasar tangki, sedangkan pada UASB (Uplift Anaerobic Sludge Blanket) justru
menggunakan efek dari proses tersebut untuk mengaduk aduk partikel lumpur
supaya terjadi kondisi seimbang antara gaya berat dan gaya angkat pada partikel
lumpur, sehingga partikel lumpur tersebut melayang-layang/mubal mubal.

Setelah proses dekomposisi dan pelepasan gas, kondisi lumpur tersebut


tersebut sudah stabil dan akan menetap secara permanen pada dasar tangki,
sehingga sering juga proses sedimentasi dalam waktu yang cukup lama disebut
dengan proses Stabilisasi. Akumulasi lumpur (Volume) dalam periode waktu
tertentu (desludging-interval) merupakan parameter penting dalam perencanaan
pengolahan limbah dengan proses sedimentasi dan stabilisasi lumpur.

9
Gambar 6. Proses Sedimentasi

Filtrasi
Filtrasi adalah proses penyaringan air melalui media pasir atau bahan
sejenis untuk memisahkan partikel flok atau gumpalan yang tidak dapat
mengendap agar diperoleh air yang jernih.
Penyaring adalah pengurangan lumpur tercampur dan partikel koloid dari
air limbah dengan melewatkan pada media yang porous. Kedalaman penyaringan
menentukan derajat kebersihan air yang disaringnya pada pengolahan air untuk
minum.
Mekanisme yang dilalui pada filtrasi:
1. Air mengalir melalui penyaring glanular
2. Partikel-partikel tertahan di media penyaring
3. Terjadi reaksi-reaksi kimia dan biologis

Filtrasi yang berfungsi sebagai tempat proses penyaringan butir-butir yang


tidak ikut terendap pada bak sedimentasi dan juga berfungsi sebagai penyaring
mikroorganisme atau bakteri yang ikut larut dalam air. Bangunan filtrasi biasanya
menggunakan pasir silica yang berwarna hitam yang memiliki ketebalan yang
berbeda dan juga kerikil. Pasir ini digunakan karena lebih berat dan lebih
menempel flok-floknya.

10
Gambar 7. Proses Filtrasi

2.4.3. Pengolahan air secara biologi


Pengolahan secara biologi umumnya memakai mikroorganisme
sebagai pengolahnya. Miroorganisme yang digunakan yaitu bakteri aerob
Metode Ticking Filter
Pengolahan air dengan cara trickling filter merupakan proses pengolahan
air dengan cara meyebarkan air ke dalam suatu tumpukan unggun atau
media yang terdiri dari bahan batu pecah atau kerikil, bahan keramik, sisa
tanur (slag), medium dari bahan plastik atau lainnya. Dengan cara
demikian maka pada permukaan medium akan tumbuh lapisan biologis
(biofilm), seperti lender, dan lapisan biologis tersebut akan kontak dengan
air dan akan menguraikan senyawa polutan yang ada di dalam air limbah.

11
Gambar 8. Trickling Filter

Metode Activated Sludge


Pada metode activated sludge atau lumpur aktif, air disalurkan ke sebuah
tangki dan didalamnya air dicampur dengan lumpur yang kaya akan
bakteri aerob. Proses degradasi berlangsung didalam tangki tersebut
selama beberapa jam, dibantu dengan pemberian gelembung udara aerasi
(pemberian oksigen). Aerasi dapat mempercepat kerja bakteri dalam
mendegradasi limbah. Selanjutnya, limbah disalurkan ke tangki
pengendapan untuk mengalami proses pengendapan, sementara lumpur
yang mengandung bakteri disalurkan kembali ke tangki aerasi. Seperti
pada metode trickling filter, air yang telah melalui proses ini dapat
dibuang ke lingkungan atau diproses lebih lanjut jika masih dperlukan.

Metode Treatment Ponds/Lagoons


Metode treatment ponds/lagoons atau kolam perlakuan merupakan
metode yang murah namun prosesnya berlangsung relatif lambat. Pada
metode ini, air ditempatkan dalam kolam-kolam terbuka. Algae yang
tumbuh dipermukaan kolam akan berfotosintesis menghasilkan oksigen.
Oksigen tersebut kemudian digunakan oleh bakteri aero untuk proses

12
penguraian/degradasi bahan organik dalam air. Pada metode ini, terkadang
kolam juga diaerasi. Selama proses degradasi di kolam, air juga akan
mengalami proses pengendapan. Setelah air terdegradasi dan terbentuk
endapan didasar kolam, air dapat disalurka untuk dibuang ke lingkungan
atau diolah lebih lanjut.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Water Treatment adalah suatu cara/bentuk pengolahan air dengan
cara cara tertentu dengan tujuan untuk mencapai hasil yang diharapkan
sesuai kebutuhan. Dalam mengolah air dapat ditinjau dari beberapa
parameter di antaranya parameter fisik, kimia, dan biologi.
Selain parameter terdapat beberapa proses pengolahan air yaitu
pengolahan air secara fisika, kimia, dan biologi. Secara fisika yaitu filtrasi

13
dan sedimentasi. Secara kimia yaitu koagulasi dan flokulasiSecara biologi
yaitu trickling filter.

PERTANYAAN

Nama : Elfrida Octavia Simanungkalit


Kelompok :7

Pertanyaan :
1. Adakah pengaruh flokulasi dan koagulasi yang berada diluar clarifier
(PDAM) dengan flokulasi dan koagulasi yang berada didalam (PUSRI) ?
2. Apa yang membedakan proses demineralisasi pada Industri PUSRI dengan
proses demineralisasi pada PDAM?

Jawaban :

14
1. Sebenarnya pada Industri PUSRI proses flokulasi dan koagulasi sama
seperti di PDAM berada diluar tanki clarifier yang membedakannya
hanya proses pengadukan cepat dan pengadukkan lambatnya dimana di
Industri PUSRI berada di bagian dalam tangki clarifier dan PDAM berada
diluar tangki clafier. Hal ini tidak mempengaruhi hasil dari proses
koagulasi maupun flokulasi.
2. Demineralisasi adalah suatu proses pengolahan air untuk menghilangkan
mineral pada air tersebut sedangkan, PDAM (Perusahaan Daerah Air
Minum) adalah perusahaan yang begerak dibidang air bersih. Dimana, air
minum yang bisa dikonsumsi memiliki mineral. Jadi, pada PDAM tidak
menggunakan demineralizer.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun. 2016. Penuntun Praktikum Utilitas. Palembang : Politeknik


Negeri Sriwijaya
http://envist2.blogspot.com/2009/05/fltrasi.html

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/limbah-industri/sedimentasi-

pengendapan-pada-pengolahan-limbah-cair/

http://www.ionexchange.com/ion/en/processes/counterflow/multistep/

15