Anda di halaman 1dari 17

PENUNTUN PRAKTIKUM

BIOFARMASETIKA

DISUSUN OLEH:

TIM PRAKTIKUM BIOFARMASETIKA

FAKULTAS FARMASI UTA45 JAKARTA

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

2017
DAFTAR ISI

PERCOBAAN I PENGARUH FORMULASI TERHADAP LAJU DISOLUSI ...................... 1

PERCOBAAN II DISTRIBUSI DAN EKSKRESI TETES MATA KLORAMFENIKOL ...... 4

PERCOBAAN III DIFUSI ASAM/NATRIUM SALISILAT KE DALAM AGAR................. 6

PERCOBAAN IV ANALISIS OBAT DALAM MATRIKS BIOLOGI ................................... 8

PERCOBAAN V SISTEM DISPERSI PADAT ..................................................................... 13

i
PERCOBAAN I
PENGARUH FORMULASI TERHADAP LAJU DISOLUSI

I. Tujuan
1. Agar mahasiswa dapat memahami profil disolusi obat dalam berbagai kondisi pH.
2. Untuk melihat pengaruh formulasi sediaan obat terhadap laju disolusi.

II. Pendahuluan
Untuk mencapai absorbsi sistemik, suatu obat padatan akan mengikuti beberapa
proses seperti disintegrasi, disolusi dan absorbsi melalui membran sel. Pada proses
tersebut, laju obat mencapai sirkulasi sistemik ditentukan oleh tahapan yang paling
lambat rate limiting step. Obat yang memiliki kelarutan yang buruk dalam air, maka
disolusi merupakan tahap penentu dalam proses tersebut.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi disolusi obat, di antaranya sifat
fisikokimia bahan obat, faktor formulasi, anatomi dan fisiologi saluran cerna, dll. Salah
satu faktor yang akan diamati adalah pengaruh formulasi sediaan obat.

III. Alat & Bahan


A. Alat-Alat:
1. Labu Ukur 5. Gelas Ukur
2. Pipet Ukur 6. Timbangan
3. Beaker Glass 7. Dissolution Tester
4. Batang Pengaduk 8. Spektrofotometer UV-Vis

B. Bahan-Bahan:
1. Tablet Parasetamol Paten 3. HCl 0.1 N
2. Tablet Parasetamol Generik 4. Aquadest

IV. Prosedur Kerja


A. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Parasetamol dalam HCl 0.1 N
1. Buat larutan standar parasetamol dalam HCl 0.1 N dengan konsentrasi 14 g/ml.
2. Ukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang
gelombang 220-350 nm.
3. Buat spektrum serapan (Absorbansi vs Panjang Gelombang).

B. Pembuatan Kurva Baku Larutan Standar Parasetamol dalam HCl 0.1 N


1. Buat larutan standar parasetamol dengan konsentrasi 4; 6; 8; 10; 12; 14 g/ml.

1
2. Ukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang
gelombang maksimum.
3. Buat kurva baku parasetamol (Absorbansi vs Konsentrasi).

C. Penentuan Profil Disolusi Parasetamol


1. Wadah diisi dengan air, atur suhu 37 C.
2. Labu disolusi diisi dengan medium disolusi yang telah ditentukan (HCl 0.1 N)
sebanyak 900 ml.
3. Tablet parasetamol dicelupkan ke dalam medium disolusi, kemudian diputar
dengan kecepatan 50 rpm.
4. Larutan dalam labu disolusi dipipet sebanyak 5 ml pada menit ke-5, 10, 15, 20
dan 30 (setiap pemipetan medium diganti medium dengan jenis dan jumlah yang
sama), dimasukkan ke dalam labu ukur 25 ml.
5. Masing-masing larutan yang telah dipipet ditambahkan HCl 0.1 N hingga tanda
batas labu ukur.
6. Masing-masing larutan yang dipipet, diukur serapannya dengan menggunakan
spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum.
7. Hitung kadar parasetamol yang terdisolusi per satuan waktu, dihitung
menggunakan kurva baku.

V. Hasil Percobaan
A. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Parasetamol dalam HCl 0.1 N
Panjang Gelombang Maksimum Parasetamol = nm

B. Kurva Baku Larutan Standar Parasetamol dalam HCl 0.1 N


Konsentrasi
Absorbansi
(g/ml)
4
6
8
10
12
14

2
C. Profil Disolusi Parasetamol
Waktu Absorbansi Kadar % Terdisolusi
(Menit) Paten Generik Paten Generik Paten Generik
5
10
15
20
30

3
PERCOBAAN II
DISTRIBUSI DAN EKSKRESI TETES MATA KLORAMFENIKOL

I. Tujuan
1. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami distribusi dan ekskresi obat yang
diberikan atau dipakai secara topikal (tetes mata).

II. Pendahuluan
Obat di dalam tubuh mengalami proses absorbsi, distribusi, metabolisme dan
ekskresi. Obat setelah diserap akan dieliminasikan melalui urin, saliva, kulit, dan lain
sebagainya.
Obat yang diberikan secara topikal pada mata, misalnya tetes mata, tidak hanya
bekerja pada mata, tetapi sebagiannya diabsorbsi melalui pembuluh darah dan
didistribusikan secara sistemik. Senyawa obat akan dikurangi dalam tubuh melalui
proses ekskresi.

III. Alat & Bahan


A. Alat-Alat:
1. Pot Salep
2. Tabung Reaksi
3. Pipet Tetes
4. Water Bath

B. Bahan-Bahan:
1. OTM Kloramfenikol 5% 6. Serbuk Zn
2. Saliva dan Urin Probandus 7. Benzoil Klorida
3. Etanol 95% 8. FeCl3
4. Larutan CaCl2 9. HCl encer
5. Na Asetat Anhidrat 10. Aquadest

IV. Prosedur Kerja


1. Tiap kelompok memilih 2 probandus untuk percobaan (puasa).
2. Pada hari praktikum, probandus diberi 2 tetes OTM kloramfenikol pada bagian
konjungtiva mata.
3. Sebelum ditetesi OTM, kandung kemih dikosongkan dan urin serta saliva diambil
untuk perlakuan kontrol.

4
4. Sampel dikumpulkan untuk:
Saliva: setiap 2 menit selama 20 menit.
Urin: pada menit ke-5; 30; 60; 90; 120.
5. Dilakukan analisa urin dan saliva yang diduga mengandung kloramfenikol sebagai
berikut (Farmakope Indonesia Edisi III Hal. 143):
Larutkan saliva dan urin dalam 1 ml etanol 95%, tambahkan 3 ml campuran dari
1 bagian volume larutan CaCl2 dan 9 bagian volume air. Tambahkan 50 mg
serbuk Zn, panaskan di atas water bath selama 10 menit. Endap tuangkan ke
dalam tabung kimia, tambahkan 100 mg natrium asetat anhidrat dan 2 tetes
benzoil klorida. Kocok selama 1 menit, tambahkan 0.5 ml larutan FeCl3, jika
perlu tambahkan HCl encer secukupnya hingga larutan jernih: terjadi warna
violet merah sampai ungu.

V. Hasil Percobaan
Saliva Urin
Perlakuan Hasil Perlakuan Hasil
Kontrol Kontrol
2 Menit 5 Menit
4 Menit 30 Menit
6 Menit 60 Menit
8 Menit 90 Menit
10 Menit 120 Menit
12 Menit
14 Menit
16 Menit
18 Menit
20 Menit

5
PERCOBAAN III
DIFUSI ASAM/NATRIUM SALISILAT KE DALAM AGAR

I. Tujuan
1. Untuk mengetahui dan mengetahui proses difusi zat aktif sediaan secara semi
kuantitatif.

II. Pendahuluan
Obat di dalam tubuh mengalami proses absorbsi, sehingga obat akan diserap dan
terdistribusi secara merata. Proses absorbsi obat dalam membran dapat melalui proses
difusi, transpor aktif, pinositosis, fagositosis dan persorpsi. Proses ini dipengaruhi oleh
beberapa hal di antaranya sifat fisiko kimia senyawa obat, jenis dan basis yang
digunakan, serta fisiologi membran yang dilewati.

III. Alat & Bahan


A. Alat-Alat:
1. Beaker Glass 4. Gelas Ukur
2. Batang Pengaduk 5. Jangka Sorong
3. Cawan Petri 6. Kompor Listrik

B. Bahan-Bahan:
1. Krim Asam/Natrium Salisilat 2%
2. Salep Asam/Natrium Salisilat 2%
3. Agar-Agar Serbuk (Tidak Berwarna)
4. FeCl3
5. Kertas Saring
6. Aquadest

IV. Prosedur Kerja


1. Siapkan 2 cawan petri yang telah berisi media agar yang telah didinginkan.
2. Tambahkan 2 ml larutan FeCl3 ke dalam masing-masing cawan petri, sampai
menutupi semua permukaan agar.
3. Diamkan selama 3 menit, kemudian sisa larutan FeCl3 dibuang dan keringkan agar
dengan menggunakan kertas saring.
4. Buat 3 lubang pada masing-masing cawan petri.

6
5. Letakkan masing-masing sampel (sediaan uji) dengan jumlah yang sama pada
lubang dengan:
Cawan Petri I : Krim Asam/Natrium Salisilat 2%
Cawan Petri II : Salep Asam/Natrium Salisilat 2%
6. Simpan cawan petri di dalam kulkas selama 30 menit, amati perubahan yang terjadi.
Kemudian biarkan pada suhu kamar dan amati perubahan yang terjadi setelah 60
menit dan 90 menit.
7. Apakah ketajaman warna dan kedalaman warna pada agar berbanding lurus dengan
jumlah asam/natrium salisilat yang dilepas dari basisnya.

V. Hasil Percobaan
Krim Asam Salisilat Salep Asam Salisilat
Waktu
Diameter Intensitas Diameter Intensitas
(menit)
(mm) Warna (mm) Warna
30
60
90

7
PERCOBAAN IV
ANALISIS OBAT DALAM MATRIKS BIOLOGI

I. Tujuan
1. Mahasiswa dapat memahami prinsip dan prosedur analisis obat dalam matriks
biologi.

II. Pendahuluan
Analisis obat dalam matriks biologi dalam studi farmakologi, farmakokinetika dan
pengembangan penggunaan obat. Pada tahap farmakokinetika penelitian meliputi aspek
absorbsi, distribusi, biotransfromasi dan ekskresi. Analisis obat dalam cairan biologi
ditujukan untuk memonitor penampilan sediaan obat yang ada dalam perdagangan yang
meliputi studi ketersediaan hayati, konfirmasi respon farmakologik, membuktikan
adanya racun atau keracunan, serta memonitoring obat pada kasus overdosis.
Agar hasil analisis dapat dipercayai, maka metode penetapan kadar harus memenuhi
kriteria antara lain nilai perolehan kembali yang tinggi (75-90% atau lebih), kesalahan
acak dan sistematik (kurang dari 10%), di samping itu perlu juga diperhatikan kepekaan
dan selektivitas yang nilainya tergantung pada alat yang diperlukan. Untuk
mendapatkan hasil analisis yang optimal, percobaan berikut perlu dilakukan:
1. Khusus untuk reaksi warna perlu penetapan jangka waktu larutan obat yang
memberikan respon tetap.
2. Penetapan panjang gelombang larutan obat yang memberikan respon maksimum.
3. Pembuatan kurva baku.
4. Perhitungan nilai perolehan kembali, kesalahan acak dan kesalahan sistematik.

III. Alat & Bahan


A. Alat-Alat:
1. Labu Ukur 6. Gelas Ukur
2. Pipet Ukur 7. Timbangan
3. Beaker Glass 8. Tabung Ekstraksi
4. Batang Pengaduk 9. Alat Sentrifugasi
5. Gelas Arloji 10. Spektrofotometer UV-Vis

B. Bahan-Bahan:
1. Teofilin
2. NaOH 0.1 N

8
3. Plasma
4. HCl 0.1 N
5. Kloroform
6. Isopropil Alkohol

IV. Prosedur Kerja


A. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Teofilin dalam NaOH 0.1 N
1. Buat larutan standar teofilin dalam NaOH 0.1 N dengan konsentrasi 3.5 g/ml.
2. Ukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang
gelombang 235-335 nm.
3. Buat spektrum serapan (Absorbansi vs Panjang Gelombang).

B. Pembuatan Kurva Baku Teofilin dalam NaOH 0.1 N


1. Buat larutan standar teofilin dengan konsentrasi 2.5; 3.0; 3.5; 4.0; 4.5 g/ml.
2. Ukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang
gelombang maksimum.
3. Buat kurva baku teofilin (Absorbansi vs Konsentrasi).

C. Penetapan Kadar Teofilin dalam Plasma


Penetapan kadar dilakukan berdasarkan metode Schack dan Waxler yang
dimodifikasi oleh Jenner dkk serta Zudema.
1. Buat larutan standar teofilin 1 mg/ml dalam NaOH 0.1 N.
2. Buat larutan satu seri larutan dalam plasma masing-masing dengan konsentrasi
2.5; 5.0; 7.5; 10.0 g/ml menggunakan larutan standar di atas.
3. Kemudian 2 ml larutan obat dalam plasma, ditambahkan ke dalam 0.4 ml HCl
0.1 N dan 20 ml campuran kloroform-isopropil alkohol (20:1). Campuran
dikocok selama 1 menit, lapisan air dipisahkan dan fase organik disaring.
4. Filtrat yang diperoleh dipipet sebanyak 10 ml dan dimasukkan ke dalam tabung
ekstraksi yang kering dan bersih.
5. Hasil ekstraksi disaring kembali dengan penambahan 4 ml larutan NaOH 0.1 N,
dikocok selama 1 menit, kemudian disentrifugasi selama 10 menit dengan
kecepatan 1500 rpm. Lapisan NaOH dipisahkan.
6. Ukur serapannya menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang
gelombang maksimum. Lakukan triplo.
7. Hitung kadar dan simpangan baku tiap konsentrasi larutan dalam plasma.

9
D. Penetapan Jangka Waktu Respon Tetap
1. Larutan teofilin dengan kadar 5 g/ml dan 10 g/ml disiapkan.
2. Ukur serapannya menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang
gelombang maksimum tiap 5 menit selama 1 jam.
3. Buat kurva jangka waktu serapan tetap (Absorbansi vs Waktu) pada kertas
numerik dan tetapkan jangka waktu serapan tetap.

E. Perhitungan Perolehan Kembali dan Kesalahan Sistemik serta Kesalahan


Acak
1. Perolehan Kembali dan Kesalahan Sistematik
Perolehan kembali merupakan tolak ukur efisiensi analisis, sedangkan
kesalahan sistematik merupakan tolak ukur inakurasi penetapan kadar.
Kesalahan ini dapat berupa kesalahan konstan atau proporsional.

% = 100%

= 100% %

2. Kesalahan Acak
Kesalahan acak merupakan tolak ukur inpresisi suatu analisis dan dapat
bersifat negatif atau positif. Kesalahan acak identik dengan variabilitas
pengukuran dan dicerminkan oleh tetapan variasi.

= 100%

V. Hasil Percobaan
A. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Teofilin dalam NaOH 0.1 N
Panjang Gelombang Maksimum Teofilin = nm

B. Kurva Baku Larutan Standar Teofilin dalam NaOH 0.1 N


Konsentrasi
Absorbansi
(g/ml)
2.5
3.0
3.5
4.0
4.5

10
C. Penetapan Kadar Teofilin dalam Plasma
Konsentrasi Teofilin Absorbansi Kadar (g/ml)
dalam Plasma (g/ml) 1 2 3 1 2 3
2.5
5.0
7.5
10.0

D. Penetapan Jangka Waktu Respon Tetap


Absorbansi Absorbansi
Waktu (Menit) Waktu (Menit)
A B A B
5 35
10 40
15 45
20 50
25 55
30 60

Keterangan:
A = Konsentrasi 5 g/ml
B = Konsentrasi 10 g/ml

E. Perolehan Kembali dan Kesalahan Sistemik


Konsentrasi Kadar (g/ml) Kadar Rata2
No.
(g/ml) 1 2 3 (g/ml)
1 2.5
2 5.0
3 7.5
4 10.0

11
F. Kesalahan Acak

( )
No
A B C D A B C D A B C D
1
2
3
Total

Keterangan:
= Kadar masing-masing suatu larutan dengan konsentrasi yang sama
= Kadar rata-rata suatu larutan
A = Konsentrasi 2.5 g/ml
B = Konsentrasi 5.0 g/ml
C = Konsentrasi 7.5 g/ml
D = Konsentrasi 10.0 g/ml

12
PERCOBAAN V
SISTEM DISPERSI PADAT

I. Tujuan
1. Agar mahasiswa mengetahui dan memahami teknik pembuatan dispersi padat
dengan metode peleburan dan evaluasi sifat-sifat fisikokimia.

II. Pendahuluan
Sistem dispersi padat adalah suatu sistem dimana satu atau lebih zat aktif dalam
bentuk padat terdispersi dalam pembawa inert pada keadaan padat. Suatu zat aktif yang
sukar larut dalam air jika diformula sebagai sistem dispersi padat menggunakan
pembawa yang hidrofilik, maka akan terlihat peningkatan kelarutan zat aktif dalam air,
laju disolusi dan bioavailabilitasnya. Dengan demikian, sistem dispersi padat menjadi
salah satu pilihan dalam memperbaiki sifat yang kurang menguntungkan dari suatu
senyawa obat. Sistem dispersi padat dapat dibuat dengan 3 cara yaitu:
1. Metode Pelarutan
2. Metode Peleburan
3. Metode Penggabungan Keduanya

III. Alat & Bahan


A. Alat-Alat:
1. Cawan Uap 7. Water Bath
2. Lumpang dan Alu 8. Timbangan
3. Ayakan 425 m 9. Mikroskop
4. Beaker Glass 10. Object Glass
5. Batang Pengaduk 11. Magnetic Stirrer
6. Erlenmeyer 12. Spektrofotometer UV-Vis

B. Bahan-Bahan:
1. Furosemide
2. PEG 6000/PVP
3. Dapar Fosfat pH 7.2
4. Paraffin Cair
5. Glibenklamid/Ketoprofen
6. Es Batu
7. Aquadest

13
IV. Prosedur Kerja
A. Pembuatan Serbuk Sistem Dispersi Padat dengan Metode Peleburan
1. Siapkan bahan furosemide dan PEG 6000 dengan perbandingan (1:9) dan (9:1).
2. PEG 6000 dilebur dalam cawan uap di atas water bath dan ditambahkan
furosemide.
3. Setelah melebur, dinginkan dalam wadah es sampai terbentuk padatan.
4. Massa yang telah padat tersebut, kemudian digerus dan dilewatkan pada ayakan
425 m.
5. Serbuk sistem dispersi padat siap dilakukan evaluasi.

B. Evaluasi Serbuk Sistem Dispersi Padat


1. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Furosemide dalam Dapar
Fosfat pH 7.2
1) Buat larutan standar furosemide dalam dapar fosfat pH 7.2 dengan
konsentrasi 10 g/ml.
2) Ukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada
panjang gelombang 220-350 nm.
3) Buat spektrum serapan (Absorbansi vs Panjang Gelombang).

2. Pembuatan Kurva Baku Furosemide dalam Dapar Fosfat pH 7.2


1) Buat larutan standar furosemide dengan konsentrasi 2; 4; 6; 8; 10 g/ml.
2) Ukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada
panjang gelombang maksimum.
3) Buat kurva baku furosemide (Absorbansi vs Konsentrasi).

3. Bentuk Mikroskopis (Metode Mikroskopis)


1) Sejumlah serbuk didispersikan dalam paraffin cair dan diteteskan pada gelas
objek.
2) Amati di bawah mikroskop bentuk partikel dari serbuk sistem dispersi padat
dari campuran furosemide dan PEG 6000 (1:9) dan (9:1), serta amati
perbedaannya (Gambarkan!).

4. Uji Kelarutan
a. Sejumlah serbuk dispersi padat dari campuran furosemide dan PEG 6000
(1:9) dan (9:1) yang setara dengan 10 mg glibenklamid dilarutkan dalam 25
ml larutan dapar fosfat pH 7.2 dalam erlemeyer bertutup.

14
b. Penentuan kelarutan:
Dilarutkan dengan bantuan magnetic stirrer selama 1.5 jam sampai
larutan jenuh.
Masing-masing sampel yang telah jenuh disaring dengan kertas saring.
Hitung kadar furosemide dengan menggunakan spektrofotometer UV-
Vis pada panjang gelombang maksimum.
Buat kurva serapan dan kadar perbandingan campuran furosemide dan
PEG 6000 (1:9) dan (9:1).

V. Hasil Percobaan
A. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Furosemide dalam Dapar Fosfat
pH 7.2
Panjang Gelombang Maksimum Furosemide: nm

B. Kurva Baku Larutan Standar Furosemide dalam Dapar Fosfat pH 7.2


Konsentrasi
Absorbansi
(g/ml)
2
4
6
8
10

C. Penentuan Kelarutan Serbuk Dispersi Padat


Perbandingan Campuran Absorbansi Kadar
Furosemid : PEG 6000 1 2 3 Rata-Rata (g/ml)
1:9
9:1

15