Anda di halaman 1dari 19

MODUL 2

RESTORASI PASCA ENDODONTIK

SKENARIO 2

Gigi Supra dipasak

Supra, 23 tahun datang ke praktek dokter gigi karena gigi depan atas patah mahkota
akibat trauma dan sudah dilakukan perawatan saluran akar 2 bulan yan lalu, tetapi masih
terlihat pendek karena belum dilakukan penambalan. Dia ingin dilakukan penambalan karena
merasa terganggu estetiknya.

Pemeriksaan intra oral perkusi (-), mobiliti (-), pembengkakan (-), tidak ada kelainan
sistemik. Struktur gigi yang ada tidak memadai untuk dilakukan penambalan. Drg menjelaskan
bahwa kondisi gigi Supra lebih tepat dibuatkan post dan core pada saluran akar. Setelah
pemasangan post dan core nya berhasil baru dibuatkan full crown akrilik ataupun porselen pada
mahkota gigi yang dirawat. Perawtan ini memelukan waktu yang cukup lama karena harus
melalui beberapa prosedur klinis dan laboratoris. Supra dapat mengerti penjelasan drg tentang
prosedur perawatan restorasi paska endodontik tersebut.

Bagaimana saudara menjelaskan restorasi paska endodontik?

1
Langkah I:
Mengklarifikasi terminologi dan mendefenisikannya:

1. Post : pasak yang disemenkan kedalam saluran akar


2. Core : bagian yang terletak di atas post yang befungsi untuk melekatkan crown atau
restorasi lainnya

Langkah II:
Identifikasi masalah:

1. Apa saja klasifikasi post ?


2. Apa saja klasifikasi core ?
3. Apa saja fungsi post dan core?
4. Apa saja indikasi dan kontraindikasi post dan core?
5. Apa kelebihan post dan core?
6. Apa saja syarat gigi yang bisa digunakan untuk post dan core?
7. Apa saja bahan yang digunakan untuk post?
8. Bagaimana prosedur pembuatan post dan core?
9. Bagaimana prinsip preparasi post?
10. Berapakah panjang ideal post?
11. Bisakah post dan core dibuatkan untuk gigi posterior?
12. Apa saja restorasi yang dapat dibuatkan pada gigi pasca perawatan endodontik?
13. Apa saja yang perlu diperhatikan saat restorasi pasca endodontik?

2
Langkah III:
Menganalisa masalah melalui brain stroming dengan
menggunakan prior knowledge:

1. Apa saja klasifikasi post ?


Berdasarkan retensi yang dihasilkan post :
- Active post : pasak aktif terikat secara mekanik dengan dinding
saluran akar.
- Passive or cemented post : tidak terikat dengan dinding saluran akar, retensi
diperoleh dari semen.
Berdasarkan cara pembuatan :
- Prefabricated post : siap pakai, ukuran disesuaikan dengan saluran akar.
- Custom made : post yang dibuat pada laboratorium atau langsung di
kllinik yang polanya sesuai dengan bentuk morfologi saluran akar yang telah
dipreparasi.

2. Apa saja klasifikasi core ?


Berdasarkan bentuknya :

- Core sebagian : menutupi sebagian jaringan mahkota yang tersisa.

- Core penuh : menutupi seluruh jaringan mahkota yang tersisa.

Berdasarkan cara pembuatan :

- Prefabricated : menyesuaikan dengan post yang dipakai, core bisa


dibuat dari amalgam, resin komposit ataupun glass ionomer.

- Custom made : merupakan satu kesatuan dengan post.

3. Apa saja fungsi post dan core?


a. Post memberikan retensi bagi core, menambah retensi dan akan meneruskan
tekanan yang diterima gigi merata ke sepanjang akar.
b. Core mengganti mahkota gigi yang hilang dan mempertahankan restorasi akhir
tanpa mengganggu penutupan apikal dari perawatan endodontik.

3
4. Apa saja indikasi dan kontraindikasi post dan core?
Indikasi :
gigi yang telah dirawat saluran akar dan akan digunakan sebagai penyangga
bridge.
adanya perubahan warna pada gigi dan kemungkinan gigi fraktur setelah PSA.
gigi yang telah dirawat saluran akar yang cukup panjang dan lebar.
jaringan periodontal dan periapikal tidak ada kelainan.
Kontraindikasi :
o adanya proses patologis pada jaringan periodontal dan periapikal, menyebabkan
hilangnya dukungan terhadap gigi yang akan dibuatkan restorasi post & core
sehingga akar gigi mudah fraktur.
o oral hygiene jelek, memudahkan kontaminasi bakteri terhadap saluran akar
selama perawatan.
o bentuk dan diameter akar gigi pendek, kecil, membengkok, tidak mampu
menahan daya kunyah pada saat digunakan, sehingga akar muadah fraktur.

5. Apa kelebihan post dan core?


Memberi retensi, stabilitasi, dan kekuatan pada gigi yang telah non vital. Lebih nyaman
karena mempertahankan struktur gigi asli, dan mempertahankan keutuhan tulang
alveolar.

6. Apa saja syarat gigi yang bisa digunakan untuk post dan core?
Penutupan apikal yang optimal.
Tidak adanya inflamasi yang aktif.
Tidak adanya sensitifitas terhadap perkusi.
Tidak adanya kaitan dengan penyakit periodontal.
Cukupnya dukungan dari tulang yang mengelilingi gigi.

7. Apa saja bahan yang digunakan untuk post?


Metal, base metal alloy atau silver palladium alloy tipe III. Sifatnya lebih
mengakibatkan korosi sehingga menyebabkan terjadinya bayangan abu-abu
pada servikal gingiva.
Fiber plastik, fiber glass. Sifatnya lebih estetis, tidak ada proses korosi.
Resin komposit,

4
8. Bagaimana prosedur pembuatan post dan core?
o Mengeluarkan bahan pengisi saluran akar. Jika bahan pengisi saluran akar silver
point harus dilakukan perawatan ulang dengan mengganti bahan pengisi dengan
gutta percha. 2 metode mengeluarkan gutta percha : menggunakan endodontic
plugger yang dipanaskan dan menggunakan rotary instrument dengan chemical
agent.
o Pelebaran saluran akar. Pilih jenis post yang akan digunakan. Bentuk saluran
akar dengan endodontic file atau low speed drill. Prosedur ini untuk
menghilangkan undercut dan mempersiapkan saluran akar untuk menerima post
yang sesuai ukurannya. Ukuran post tidak boleh lebih dari 1/3 diameter akar.
o Preparasi struktur koronal gigi. Preparasi Coronal Gigi tergantung pada jenis
crown yang akan digunakan. Jika membutuhkan estetik gunakan metal ceramic
crown atau all ceramic crown dengan bentuk shoulder pada tepi servikal bagian
labial dan chamfer pada tepi servikal bagian palatal. Buang undercut internal dan
eksternal. Buang jaringan yang lemah. Ketebalan ideal sisa jaringan koronal
sekurang-kurangnya 1 mm. Disain preparasi koronal lihat pada prinsip preparasi

9. Bagaimana prinsip preparasi post?


-Pasak harus dibuat sepanjang mungkin.
-Dinding-dinding pasak harus se-sejajar mungkin.
-Bentuk pasak mengikuti bentuk saluran akar.

10. Berapakah panjang idela post?


Sekurang-kurangnya sama panjang dengan mahkota klinis atau panjang core-
nya. Atau post harus tertanam sedalam 2/3 dari panjang akar.

11. Bisakah post dan core dibuatkan untuk gigi posterior?


Bisa. Tingkat kerumitan lebih tinggi dibandingkan gigi anterior karena anatomi
akar untuk gigi posterior yang cenderung berbelok-belok, bengkok (tidak lurus).
Biasanya untuk gigi posterior pasak diletakkan pada akar yang mempunyai saluran akar
terbesar, contoh pada gigi molar maksila pasak diletakkan pada saluran akar palatal.
Gigi molar mandibula pasak diletakkan pada saluran akar distal.

5
12. Apa saja restorasi yang dapat dibuatkan pada gigi pasca perawatan endodontik?
Jika struktur gigi yang tersisa masih memadai untuk dilakukan restorasi direct,
bisa menggunakan resin komposit dan glass ionomer untuk gigi anterior dan amalgam
untuk gigi posterior.

13. Apa saja yang perlu diperhatikan saat restorasi pasca endodontik?
Kondisi lokal gigi : posisi gigi, tidak ada keluhan, fungsi gigi.
Kondisi umum : sistemik tidak ada kelainan, oral hygiene baik.
Kondisi sosial ekonomi : biaya.
Keinginan pasien.

6
Langkah IV:
Membuat skema:

Supra (23 tahun)

Anamnesa : Intra oral

- Gigi anterior RA fraktur - Perkusi (-)


mahkota - Mobiliti (-)
- Gigi sudah di PSA sebelumnya - Pembengkakan (-)
- Gigi terlihat lebih pendek - Gangguan sistemik (-)
- Estetik terganggu

Restorasi pasca endodontik

Post dan core

jenis Indikasi dan Prosedur desain Evaluasi pasca


kontraindikasi pembuatan dan perawatan
pemasangan

7
Langkah V:
Menformulasikan tujuan pembelajaran:
1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang jenis-jenis post dan core
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang desain post dan core
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang indikasi dan kontraindikasi
dari post dan core
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang prosedur pembuatan dan
pemasangan post dan core
5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang evaluasi pasca perawatan

Langkah VI:
Mengumpulkan Informasi:

Langkah VII:
Sintesa Uji Informasi:

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang jenis-jenis post dan core
Post dan core adalah prosedur membentuk gigi kembali supaya gigi tersebut
mempunyai dukungan yang cukup untuk dibuatkan crown. Fungsi utama pasak/ post
adalah untuk memberikan retensi bagi sebuah inti /core. Post berfungsi untuk menambah
retensi dan meneruskan tekanan yang diterima gigi merat sepanjang akar.sedangkan
core/inti berfungsi mengganti bagian mahkota yang hilang dan untuk melekatkan mahkota.
Pasak/ post dibedakan menjadi beberapa macam berdasarkan :
a. Berdasarkan root reinforcement system
- Pasak cor (cast post system)
Pasak cor merupakan teknik yang paling umum digunakan untuk meningkatkan
retensi mahkota dan jembatan gigi pada gigi nonvital. Pada beberapa kasus pasak
ini dibuat mngerucut sehingga stres lateral minimal terhadap akar. Kerugiannya
adalah sulit untuk membuat pasak yang berdinding sejajar sehingga retensi
berkurang, membutuhkan waktu yang lebih lama pada prosedur pembuatan dan di
laboratorium.

8
- Pasak berulir (threaded post system)
Mempunyai retensi yang baik terutama pada akar yang pendek. Besarnya
retensi didapatkan dari elastisitas dentin dan semen. Elastisitas dentin diperlukan
untuk insersi pasak. Pasak ini harus dipasang dengan tekanan minimal untuk
mencegah fraktur gigi dan sulit digunakan pada gigi posterior. Kelemahan lain
pada sistem ini adalah tidak ada vent untuk mengalirkan tekanan hidrostatik yang
terjadi pada saat penyemenan.
- Pin dan pasak (pin and post system)
Pasak ini mempunyai saluran vertikal/vent untuk mengalirkan tekanan
hidrostatik yang terjadi saat penyemenan. Kerugiannya adalah gigi harus
mempunyai struktur sisa yang cukup untuk insersi pin tambahan.
b. Berdasarkan cara pembuatan
- Custom made post (post inti tuang)
Post ini terdiri dari custom made post and core dan ceramic custom made post.
Custom made post and core terbuat dari gold alloy, base metal alloy, Ni-Cr alloy.
Ceramic custom made post terbuat dari all keramik.
- Prefebricated post
Keuntungan : mudah digunakan, mempunyai retensi yang baik pada akar, bersifat
radioopak dan ekonomis.
Kerugian : saluran akar disesuaikan dengan bentuk pasak, estetik buruk dan sangat
kaku.
- Custom cast metal post
Keuntungan : mudah beradaptasi dengan saluran akar, sangat kuat, memberikan
retensi yang baik untuk core , ekonomis.
Kerugiannya : memerlukan waktu kunjungan yang lebih lama, sangat kaku, estetik
fraktur.
c. Berdasarkan retensi pasak
- Pasak aktif
Pasak secara mekanis menekan dinding saluran akar dan dapat menghasilkan
tekanan yang lebih berat bila dikenai beban.
- Pasak pasif
Pasak tidak menekan saluran akar tetapi retensi didapat dari semen dan tekanan
yang dihasilkan lebih kecil bila dikenai beban.

9
Sedangkan core juga ada beberapa pembagian antara lain:
Full gold core
lndikasi : Untuk gigi yang telah mengalami perawatan saluran akar dan jaringan
dentin pada mahkota sudah tidak dapat dilakukan preparasi tonggak.
Di sini preparasi untuk menghilangkan janngan mahkota gigi yang tersisa
kemudian dilakukan preparasi saluran akar. Setelah itu membuat model malam
untuk pasak dan intinya.
Partial gold core
lndikasi : Untuk gigi yang telah dirawat saluran akar dan sisa mahkota gigi asli
sebagian masih dapat dipertahankan.
Pertama kali dilakukan preparasi tonggak mahkota jaket secara garis besar, baru
dilakukan preparasi untuk pasak. Setelah itu dibuat model malam pasak inti, dan
setelah dicor disemen pada preparasi mahkota jaket. Kemudian penyelesaian
preparasi mahkota jaket.
Syarat : Bagian yang menghubungkan antara gigi dengan Inti diberi bevel agar
supaya hubungan tepi antara inti dan gigi baik. Jika jaringan gigi yang tersisa
dibagian labial masih cukup tebal dibuat preparasi pundak supaya logam inti
tidak terlihat transparan pada mahkota tiruannya.
Gold core with window
Merupakan penyempurnaan Full gold core jika dentin bagian labial hilang. Inti
dibuat dengan membentuk window yang nanti akan diisi akrilik/semen ionomer
kaca.
Off centre gold core
Pasak ini hampir sama dengan full gold core, hanya saja pasak ini dibuat untuk
koreksi posisi gigi. Pasak ini juga dibuat sesuai dengan kemampuan operator.

2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang desain post dan core
Pada desain pasak harus memenuhi beberapa prinsip diantaranya :
- Panjang pasak 2/3 panjang saluran akar, atau sepanjang mahkota anatomis.
- Didnding pasak dibuat sejajar mungkin
- Pasak harus terletak sesuai dengan sumbu panjang akar
- Sesuai desain prinsip ferulle
- Menggunakan bentuk anti rotasi seperti grooves, pin atau bentuk kunci

10
- Terdapat kontra bevel / dudukan oklusal pada bagian inti untuk mencegah wedging
action dan kemungkinan fraktur akar saat proses pengunyahan.
- Buat saluran vent pada pasak untuk menyalurkan tekanan hidrostatik yang terjadi saat
penyemenan dan mencegah terjadinya fraktur akar pada batas gusi.
Pada pembuata pasak / post ini juga harus diperhatikan panjang dari pasak itu sendiri,
panjang pasak yang tidak sesuai akan memudahkan terjadinya fraktur pada gigi. Panjang
pasak berguna untuk mencegah stress internal.
Panjang pasak yang ideal diantaranya :
- Sama panjang dengan mahkota klinis gigi yang direstorasi
- Sama dengan setengah atau 2/3 panjang akar
- Lebi dari setengah panjang akar dan didukung tulang alveolar
- Jika memungkinkan panjang pasak diperpanjang degan menyisakan isi saluran akar 3-
5 mm dari ujung apeks untuk mempertahankan integritas penutup saluran akar

3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang indikasi dan


kontraindikasi dari post dan core
Indikasi :
gigi yang telah dirawat saluran akar dan akan digunakan sebagai
penyangga bridge.
adanya perubahan warna pada gigi dan kemungkinan gigi fraktur setelah PSA.
gigi yang telah dirawat saluran akar yang cukup panjang dan lebar.
jaringan periodontal dan periapikal tidak ada kelainan.
Gigi nonvital dimana retensi untuk mahkota tidak cukup
Hilangnya mahkota asli pada gigi yang telah dirawat saluran akar
mempunyai apikal seal yang baik
Tidak sensitiv terhadap tekanan
Tidak ada eksudat
Tidak ada fistel
Apikal tidak sensitiv
Tidak ada inflamasi

11
Kontraindikasi :

adanya proses patologis pada jaringan periodontal dan periapikal, menyebabkan


hilangnya dukungan terhadap gigi yang akan dibuatkan restorasi post & core sehingga
akar gigi mudah fraktur.
oral hygiene jelek, memudahkan kontaminasi bakteri terhadap saluran akar selama
perawatan.
bentuk dan diameter akar gigi pendek, kecil, membengkok, tidak mampu menahan daya
kunyah pada saat digunakan, sehingga akar mudah fraktur.
mahkota asli masih memiliki estetik yang cukup baik, hanya sedikit struktur yang
hilang.
Tekanan oklusal besar
Traumatik oklusi

4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang prosedur pembuatan dan


pemasangan post dan core
A. Tahap Preparasi :
1. Preparasi bagian mahkota:
a. Dilakukan preparasi tonggak seperti pada prinsip preparasi tonggak mahkota
jaket, hanya saja disesuaikan dengan sisa jaringan gigi yang tertinggal.
b. Tumpatan sementara pada mahkota diambil, kemudian dipreparasi intra korona
harus diingat tidak ada undercut.
c. Cavosurface dibuat contrabevel supaya hubungan tepi antara inti dan gigi baik
(Baum, 1997).

12
2. Preparasi bagian saluran akar:
Pengambilan guta perca dapat dilakukan dengan cara:
a. Konvensional
Dengan instrumen putar, putaran rendah menggunakan bur drill bentuk
bulat dengan diameter lebih kecil danpada diameter orifice (1 - 1,2 mm).
b. Dengan instrumen tangan
Yaitu dengan root canal plugger yang dipanaskan untuk mengambil guta
perca sepanjang pasak dan gutta perca disisakan sebanyak 1/3 panjang akar..
c. Kombinasi.
Pengambilan guta perca dengan plugger kemudian dilanjutkan dengan gates
glidden drill dan peeso reamer sepanjang pasak yang dikehendaki (Baum, 1997).

Retensi Mahkota Pasak :


1. Panjang pasak : retensi meningkat dengan bertambahnya panjang pasak,retensi
maksimal didapatkan dengan menyisakan 3-5 mm bahan pengisi dibagian apikal.
2. Semakin kecil diameter pasak semakin rendah retensinya,tapi semakin besar
diameter semakin besar resiko terjadi fraktur
3. Kesejajaran (Taper/Paralel)
Taper yaitu bentuk ke arah kerucut, dibuat demikian karena kalau berbentuk
kerucut maka tekanan ke dinding proksimal menyebabkan akar terbelah.

13
4. Diameter : kurang lebih 1/3 diameter akar dalam arah mesio-distal. Bila terlalu
kecil mudah lepas, patah dan berputar.

Resistensi mahkota pasak:


Bentuk resistensi
Resistensi merupakan kemampuan pasak dan gigi untuk menahan tekanan
lateral dan rotasi.
faktor yang mempengaruhi resistensi :
Panjang pasak
Kekakuan dan kekerasan
Anti rotasi
Ferrule

Rotational resistensi
preparasi geometri pasak mencegah terjadinya perubahan posisi pada waktu
berfungsi. Untuk mencegah perubahan posisi pasak pada waktu berfungsi dibuat
groove pada saluran akar dan dapat juga dibuat pin tambahan pada saluran akar

B. Pembuatan model inti pasak :


1. Inlay wax dipanaskan, ditekan sehingga berbentuk kerucut, dalam keadaan
lunak dimasukkan ke dalam preparasi pasak yang telah dibasahi dengan
akuades dan dipadatkan dengan sonde yang dipanaskan sampai memenuhi
seluruh preparasi pasak.
2. Kemudian malam coba diambil untuk mengetahui apakah malam sudah sesuai
dengan preparasi, juga untuk mengetahui apakah masih ada undercut.
3. Bagian Inti dibentuk sesuai tonggak mahkota jaket, setelah itu sprue dipasang
dan kawat yang dipanasi terlebih dahulu. Arah sprue diusahakan sejajar arah gigi.
Sprue tadi diberi tanda cara membengkokkan supaya mengetahui bagian labial
dan Iingualnya.
4. Setelah model malam baik, maka model tersebut ditanam dalam moffel dan
dicor dengan logam (Baum, 1997).

14
Pengepasan Inti Pasak :
a. Inti pasak coba dimasukkan ke dalam preparasi saluran akar. Kemudian
diperiksa retensinya apakah sudah baik.
b. Hubungan tepi inti dengan sisa mahkota diperiksa, apakah sudah baik.
c. Setelah pas dilakukan pencetakkan untuk mahkotanya.
d. Pembuatan mahkota persis seperti membuat mahkota jaket
Catatan :
tidak boleh untuk menggigit dengan satu tekanan hanya pada daerah
mahkota saja karena akan terjadi gerakan mengungkit fraktur akar gigi.

C. Pembuatan mahkota sementara :


a. pilih mahkota akrilik yang sudah jadi dengan ukuran,bentuk dan warna yang sesuai
dengan gigi aslinya dan dicobakan untuk mengecek ketepatan kontaknya di daerah
gingival.
b. setelah selesai coba suatu endopost atau file terakhir untuk preparasi guna ruang
pasaknya. Ujung korona dipotong sehingga ada bagian yang dapat masuk ke dalam

15
mahkota buatan. Jika digunakan endopost harus ditakik untuk membuat undercut
dan terjadi ikatan mekanis dengan akrilik.
c. sediakan adukan akrilik yang cepat mengeras, dimasukkan kedalam mahkota buatan
dan tekan ke dalam pasak dan gigi ditekan dengan tekanan ringan.
d. pada waktu akrilik dalam proses setting, buang kelebihan akrilik selagi lunak dengan
sonde.
e. jika telah setting, lepaskan mahkota dan pasaknya secara bersama-sama, dibentuk
dan mahkota dipoles
f. coba mahkota dan pasak ke dalam gigi dan sesuaikan dengan oklusi gigi
antagonisnnya
g. pasang mahkota sementara dengan semen sementara (Baum, 1997).

D. Pemasangan Mahkota Pasak :


Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat uji coba pemasangan atau try in mahkota pasak
antara lain :
a. estetik
warna dari post crown harus sesuai dengan gigi asli yang ada dalam rongga mulut.
Bentuk dan ukuran harus disesuaikan dengan anatomi gigi
b. oklusi
tidak boleh terjadi prematur kontak yang akan mengakibatkan trauma oklusi. Untuk
mengetahuinya digunakan kertas artikulasi, adanya teraan yang lebih tebal
menunjukkan terjadinya traumatik oklusi.
c. adaptasi
Terutama keakuratan atau kerapatan pinggiran servikal antara tepi mahkota jaket
dengan bagian servikal gigi asli. Pada bagian pundak, pinggiran mahkota tidak boleh
menekan gusi (overhang), karena kelebihan mahkota dapat menjadi tempat
tertimbunnya plak yang akan mengakibatkan peradangan gusi
d. kedudukan
Mahkota tidak boleh labioversi ataupun palatoversi, disesuaikan dengan
kedudukannya terhadap gigi lain yang ada dalam rongga mulut
e. daerah titik kontak (Baum, 1997).

16
E. Penyemenan post crown:
Semen yang akan digunakan harus disesuaikan dengan bahan crown. Semen-semen yang
mengandung eugenol (zinc oxide eugenol cement) tidak cocok untuk menyemen mahkota yang
terbuat dari bahan akrilik, karena akan bereaksi dengan bahan akrilik dimana akrilik akan
berubah warna menjadi lunak dan permukaannya menjadi retak-retak (crazing). Semen jenis
komposit memiliki sifat mekanis yang lebih baik (Baum, 1997).
Semen jenis polikarboksilat memiliki sifat adhesi terhadap dentin dan glasir lebih baik
daripada semen zinc-phospat dimana semen zinc-phospat lebih mudah larut dalam cairan
mulut. Mahkota diisi penuh dengan adukan semen dan sebagian diulaskan merata pada
sekeliling preparasi post untuk mencegah terkurungnya gelembung udara pada sudut pundak.
Setelah mahkota masuk dengan seksama pada tempatnya, operator harus mempertahankan
kedudukannya sampai semen mengeras. Kemudian sisa-sisa semen dibersihkan (Baum, 1997).

5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang evaluasi pasca perawatan


Keberhasilan perawatan saluran akar dapat dievaluasi berdasarkan pemeriksaan klinis,
radiografis, dan histologis. Evaluasi klinis dan radiografis dapat dilakukan dengan mudah,
namun evaluasi histologis memerlukan pemeriksaan laboratorium. Evaluasi klinis dan
radiografis dianjurkan untuk dilakukan 6 bulan sampai 4 tahun setelah perawatan. Kriteria
keberhasilan perawatan saluran akar menurut Quality Assurance Guidelines yang dikeluarkan
oleh American Associaton of Endodontics adalah tidak peka terhadap perkusi dan palpasi,
mobilitas normal, tidak ada sinus tract atau penyakit periodontium, gigi dapat berfungsi dengan
baik, tidak ada tanda-tanda infeksi atau pembengkakan, dan tidak ada keluhan pasien yang
tidak menyenangkan. Berdasarkan gambaran radiografis, suatu perawatan dianggap berhasil
bila ligamen periodontium normal atau sedikit menebal (kurang dari 1mm), radiolusensi di
apeks hilang, lamina dura normal, tidak ada resorbsi, dan pengisian terbatas pada ruang saluran
akar, padat mencapai kurang lebih 1 mm dari apeks. Keberhasilan perawatan saluran akar dapat
dilihat dari beberapa faktor antara lain adanya lesi periradikular sebelum dan sesudah
perawatan, kualitas pengisian dan efektifitas penutupan bagian korona.

Penyebab Kegagalan Perawatan Saluran Akar :

Menurut tahapan perawatannya, kegagalan perawatan saluran akar dapat digolongkan dalam
kegagalan pra perawatan, selama perawatan, dan pasca perawatan. Kegagalan yang terjadi
sebelum perawatan biasanya disebabkan oleh diagnosis dan seleksi kasus yang salah. Prognosis
gigi yang akan dirawat sebetulnya buruk akan tetapi perawatan tetap dilakukan sehingga dalam

17
waktu yang tidak lama akan timbul lagi gejala yang merupakan kegagalan perawatan.
Kegagalan selama perawatan biasanya disebabkan oleh tahap pembersihan, pembentukan, dan
pengisian saluran akar yang benar.
Penyebab Kegagalan Restorasi :

Kebocoran tepi restorasi dapat terjadi karena hubungan antara gigi dan restorasi tidak harmonis
dikaitkan dengan kualitas restorasi yang buruk atau restorasi yang tidak mencapai tepi ginggiva
dengan baik. Dampak yang paling ringan dari kebocoran tepi ini adalah terjadinya karies
sekunder yang dapat berlanjut ke dasar kavitas dan melarutkan semen sehingga akan mencapai
daerah apeks. Faktor penyebab lainnya adalah pemilihan jenis restorasi. Restorasi dipilih yang
sesuai dengan kondisi sisa jaringan gigi dan posisinya. Struktur restorasi disesuaikan dengan
sisa jaringan gigi agar dapat mencegah gigi fraktur atau dicabut.Kegagalan restorasi pasca
perawatan saluran akar kebanyakan disebabkan bentuk restorasi yang tidak adekuat.
Penanggulangan perawatan saluran akar
Penanggulangan kegagalan perawatan saluran akar dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
perawatan ulang secara konvensional atau ortograd dan bedah atau retrograd. Perawatan ulang
saluran akar dilakukan dengan mengulang perawatan melalui akses mahkota dengan tujuan
untuk membuang iritan pada saluran akar yang sebagian besar terdiri atas mikroorganisme
yang tinggal atau berkembang setelah perawatan. Penanggulangan dengan bedah apeks
(retrograd) dimaksudkan untuk menutup rapat saluran akar pada apeksnya. Meninggalkan
debris dan mikroorganisme dalam saluran akar berlawanan dengan prinsip biologis, oleh
karena itu bedah apeks merupakan pilihan kedua jika akses mahkota pada perawatan ulang
saluran akar tidak dapat dilakukan. Dengan demikian ada beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan sebelum perawatan ulang dilakukan.Riwayat penyakit mengenai adanya
kegagalan perawatan ulang dan kegagalan bedah apeks maka kasus ini tidak di indikasikan
untuk perawatan ulang.

18
DAFTAR PUSTAKA

Healing I,Gorfil C,et al:Endodontic Failure caused by inadequate restorative procedure:


Review and treatment recommendations. J Prosthet Dent 2002:87:674-8.

Jurnal.unma.ac.id

https://books.google.co.id

repository.unhas.ac.id

repository.usu.ac.id

staff.ui.ac.id

19