Anda di halaman 1dari 9

Syahrain Fatharany 2009230034 - Perwakilan Diplomatik dan Konsuler

16.03.00 Diplomasi Sabtu 0 Comments


Syahrain Fatharany
2009230034
Tugas Mata Kuliah Diplomasi
Perwakilan Diplomatik dan Konsuler
Seperti yang sudah diulas pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, diplomasi merupakan suatu
cara yang digunakan oleh suatu pemerintah guna mengedepankan kepentingan negara melalui
jalan perundingan. Sementara, yang melaksanakan tugas negara tersebut adalah para diplomat.
Sebagai entitas yang merdeka dan berdaulat, negara-negara saling mengirimkan perwakilannya
ke ibu kota negara lain untuk saling merundingkan hal-hal yang menjadi kepentingan bersama,
mengembangkan hubungan kerjasama, mencegah kesalahpahaman ataupun menghindari
terjadinya sengketa. Perundingan-perundingan ini biasanya dipimpin oleh seorang duta besar.
(Mauna, 2005, h. 510)
Ian Brownlie dalam bukunya, Principles of Public International Law (1979) menyatakan:
diplomasi dijalankan melalui berbagai cara, dimana suatu negara merintis dan kemudian
menjaga hubungan bersama, menjalin komunikasi, melanjutkan kerjasama politik dan perjanjian-
perjanjian, yang secara khusus dimandatkan kepada utusan resmi.
Dari penjabaran tersebut, ada beberapa faktor yang penting untuk diperhatikan, yaitu adanya
hubungan antar negara untuk saling berhubungan dan melakukan kerjasama, dan hubungan
tersebut dilakukan dengan cara melakukan pertukaran perwakilan diplomatik yang diakui
statusnya. Para diplomat, agar efektif dan efisien dalam menjalankan tugas dan misi
diplomatiknya, perlu dibekali dengan kekebalan dan keistimewaan yang didasarkan atas aturan-
aturan internasional yang menyangkut hubungan diplomatik antar-negara. Seperangkat hukum
tersebut disebut hukum diplomatik. Maka pada pembahasan review kali ini, akan sedikit diulas
tahapan-tahapan perkembangan protokoler dalam hukum diplomatik.
Telaah Sejarah
Sebelum bangsa-bangsa di dunia menjalankan praktek hubungan diplomatik, pada zaman India
kuno telah dikenal ketentuan-ketentuan yang mengatur hubungan antar raja dan antar kerajaan.
Para utusan raja yang ditugaskan untuk menyampaikan pesan ke kerajaan lain disebut duta.
Pengiriman duta-duta ke negara asing sudah dikenal di Indonesia dn negara-negara Asia serta
Arab sejak sebelum bangsa Barat mengetahuinya. (Prodjodikoro, 1967, h. 207 208)
Sementara, di Eropa, permasalahan mengenai hubungan diplomatik baru diatur pada abad XVI.
Aturan yang ditetapkan berdasarkan kebiasaan internasional tersebut mengatur permasalahan
mengenai pengiriman dan penempatan perwakilan diplomatik. Meskipun sudah terdapat aturan,
namun baru pada abad ke XIX permasalahan mengenai perwakilan diplomatik dibahas dalam
tataran forum resmi bangsa-bangsa Eropa. Melalui kongres Wina yang diadakan pada tahun
1815yang kemudian diubah menjadi Aix-la-Chapelle pada tahun 1818aturan dan prinsip-
prinsip secara sistematis dalam bidang diplomasi berhasil ditetapkan. Kongres ini menetapkan
sejumlah aturan diplomatik, yang diantaranya mengenai perwakilan tetap utusan negara-negara
berdaulat.
Pada sejarah awal terjalinnya hubungan diplomatik antar negara, duta besar belum memiliki
status permanen (perwakilan tetap). Dalam artian, duta besar hanya ditugaskan untuk misi
diplomatik tertentu, dan dijalankan dalam jangka waktu yang tertentu pula. Setelah tugasnya
selesai, maka duta besar segera kembali ke negara asalnya. Praktek perwakilan tetap di suatu
negara baru berkembang pada abad XV. Pada masa ini, seorang duta besar yang telah selesai
menjalankan tugas diplomatiknya langsung kembali ke negara asalnya, namun perwakilan
tetapnya masih berfungsi, dan duta besar yang bertugas dapat silih berganti. Praktek perwakilan
tetap ini pada mulanya berkembang di negara-kota di Itali, seperti Milan, Venesia, Genoa, dan
Florence.
Interaksi antar negara-kota yang semakin intens mendorong didirikannya perwakilan tetap.
Pengiriman duta besar yang hanya berlangsung secara periodik dinilai tidak cukup memadai
untuk melangsungkan kerjasama. Melembagakan perwakilan tetap dan duta besarnya
merupakan respons atas semakin meningkatya intensitas kerjasama. Peran diplomasi akan lebih
efektif bila dilaksanakan secara berkesinambungan dan bukan secara periodik. Perwakilan tetap
ini baru dipraktekkan oleh negara-negara Eropa pada pertengahan abad ke XVI. Hal ini juga
didorong oleh disepakatinya Perjanjian Westphalia pada tahun 1648.
Sumber Hukum Diplomatik
Dua tahun setelah Persatuan Bangsa-bangsa didirikan, Komisi Hukum Internasional PBB dalam
kurun waktu 30 tahun (1949 1979) telah menangani puluhan topik dan sub-topik hukum
internasional. Diantaranya menyangkut hukum diplomatik yang meiputi: 1) Pergaulan dan
kekebalan diplomatik; 2) Pergaulan dan kekebalan konsuler; 3) Misi-misi khusus; 4) Hubungan
antara negara dengan organisasi internasional; 5) Masalah perlindungan dan tidak diganggu-
gugatnya para pejabat diplomatik dan orang-orang lainnya yang berhak memperoleh
perlindungan khusus menurut hukum internasional (part 1); 6) Status kurir diplomatik dan
kantong diplomatik yang tidak diikutsertakan pada kurir diplomatik; 7) Hubungan antara negara
dengan organisasi internasional (part 2).
Dengan didirikannya Komisi Hukum Internasional PBB, sejumlah ketentuan-ketentuan yang
mengatur permasalahan diplomatik berhasil dikodifikasikan dan ditetapkan sebagai aturan resmi
internasional. Diantaranya adalah mengenai pembentukkan misi-misi diplomatik, konsuler, misi-
misi khusus pencegahan dan penghukuman kejahatan terhadap orang-orang yang secara
internasional perlu dilindungi, termasuk pejabat diplomatik dan lain sebagainya. Rancangan-
rancangan yang dihasilkan oleh Komisi Hukum Internasional PBB merupakan perpaduan antara
kenyataan-kenyataaan yang ada di dalam hukum internasional (de legelata) dan saran-saran
untuk pengembangannya (de lege ferenda). Dalam prakteknya, baik kodifikasi maupun
pengembangan kemajuan merupakan dialektika diplomasi yang membuat hukum diplomatik
semakin memadai.
Selama lebih dari 150 tahun, banyak pencapaian dan perjanjian-perjanjian yang telah sedemikian
rupa megatur hubungan diplomatik antar bangsa-bangsa. Secara majornya adalah sebagai
berikut:
The Final Act of Congress of Vienna (1815) in Diplomatic Ranks
Vienna Convention on Diplomatic Relations and Optional Protocols (1961), yang termasuk di
dalamnya:
Vienna Convention on Diplomatic Relations;
Optional Protocol Concerning Acquisition of Nationality;
Optional Protocol Concerning Compulsory on Settlement of Disputes.
Vienna Convention on Consular Relations and Optional Protocol (1963), yang termasuk di
dalamnya:
Vienna Convention on Consular Relations;
Optional Protocol Concerning Acquisition of Nationality;
Optional Protocol Concerning Compulsory on Settlement of Disputes.
Convention on Special Mission and Optional Protocol (1969), yang termasuk di dalamnya:
Convention on Special Mission;
Optional Protocol Concerning Compulsory on Settlement of Disputes.
Convention on the Prevention and Punishment of Crimes Against Internationally Protected
Persons, including Diplomatic Agents (1973)
Vienna Convention on the Representation of States in their Relations with International
Organization of a Universal Character (1975)
Selain sumber hukum diplomatik yang telah disebutkan diatas, terdapat pula resolusi yang
dikeluarkan oleh Majelis Umum PBB yang sifatnya ambigu. Dalam artian, resolusi dan deklarasi
yang tidak memiliki sifat-sifat seperti perjanjian, tidak harus dianggap memiliki kekuatan
hukum, dan oleh karenanya tidak menciptakan hukum. Hal ini yang menyebabkan beberapa
negara yang agresif seperti Jerman pada era PD II, dan Korea Utara pada saat ini, cenderung
tidak mengindahkan pasal-pasal yang terdapat dalam resolusi-resolusi yang telah dikeluarkan.
Namun, di lain pihak, adanya kecenderungan konsensus antara negara-negara membuat resolusi
dan deklarasi mau tidak mau harus ditaati demi menjaga pergaulan dan kestabilan.
Pembukaan Perwakilan Diplomatik
Setelah berakhirnya Perang Dunia II, negara-negara korban kolonialisme berhasil memperoleh
kemerdekaan dan kedaulatan. Negara-negara yang telah berdaulat memiliki hak penuh untuk
mengirimkan (the right of legation) perwakilan diplomatik ataupun wakil-wakil konsulernya ke
negara lain. Hal yang sebaliknya juga berlaku, setiap negara memiliki kewajiban untuk
menerima perwakilan diplomatik ataupun konsuler dari negara-negara berdaulat lainnya. Hak
untuk mewakili dan diwakili ini pada hakekatnya merupakan atribut dari suatu negara yang
berdaulat penuh. Untuk membuka atau melakukan pertukaran perwakilan diplomatik dengan
negara-negara lain, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Syarat-syarat tersebut sebagai berikut:
Harus ada kesepakatan antara kedua belah pihak (mutual consent). Hal ini secara tegas tercantum
dalam pasal 2 Konvensi Wina tahun 1961 yang menyatakan bahwa pembentukkan hubungan-
hubungan diplomatik antara negara-negara dilakukan dengan kesepakatan bersama yang
dituangkan dalam bentuk persetujuan bersama (joint agreement), komunike bersama (joint
communication), dan pernyataan bersama (joint declaration).
Setiap negara dapat melakukan hubungan atau pertukaran perwakilan diplomatik yang
didasarkan atas prinsip-prinsip hukum internasional yang berlaku dan prinsip timbal balik.
Dalam buku Law Among Nations (1970), Von Glahn mengatakan bahwa dasar hukum setiap
hubungan diplomatik adalah harus ada persetujuan dari negara penerima dan perwakilan asing
tersebut. Negara penerima harus meletakkan ketentuan-ketentuan yang mengatur status hukum
dan kegiatan diplomatik asing yang bersangkutan dengan ketentuan yang harus dilandasi dengan
prinsip-prinsip hukum internasional yang berlaku.
Pembentukkan persetujuan tentang pembukaan hubungan diplomatik yang didasarkan atas
mutual consent, prinsip-prinsip hukum internasional dan timbal balik juga ditentukan dalam
pasal 2 ayat (2) Konvensi Wina tahun 1963. Meskipun secara idealnya hukum tertulis ini telah
melandasi aturan pembukaan perwakilan diplomatik antar negara, namun pada prakteknya masih
terdapat kesukaran-kesukaran yang diantaranya dikarenakan oleh bertambahnya negara-negara
yang baru merdeka dan berdaulat.
Diantara beberapa negara-negara yang baru merdeka dan berdaulat tersebut, ada negara-negara
kecil yang belum cukup kuat secara ekonomi, sehingga untuk membuka perwakilan diplomatik
di negara lain membutuhkan biaya besar yang sedang digunakan untuk modal pembangunan.
Adapula masalah lainnya adalah kurangnya personal-personal yang terampil untuk mengemban
tugas diplomatik ataupun konsuler.
Negara-negara kecil tersebut mungkin saja hanya memiliki sedikit saja kepentingan yang harus
dilindungi di negara penerima yang bersangkutan.
Keengganan untuk membuka perwakilan diplomatik atau konsuler secara tetap di beberapa
negara tertentu.
Penempatan orang yang sama sebagai duta atau konsul untuk dua atau lebih negara adalah suatu
cara untuk dapat mengatasi permasalahan tersebut. Keuntungan dari cara ini, selain untuk
menghemat biaya, negara kecil itupun dapat pula mengatasi adanya kekurangan-kekurangan
personil yang terampil. Mengenai sedikitnya kepentingan dari negara kecil tersebut terhdap
negara penerima, maka sangat memungkinkan bagi negara penerima untuk menolak dibukanya
perwakilan diplomatik tetap.

Pengangkatan dan Penerimaan Perwakilan Diplomatik


Pertukaran perwakilan diplomatic merupakan cara yang paling baik dalam mengadakan
permbicaraan atau perundingan mengenai permasalahan kepentingan masing-masing negara,
baik di bidang politik, sosial, ekonomi, budaya, ataupun permasalahan yang menyangkut lingkup
internasional lainnya.
Dalam buku International Law (1960), Oppenheim menyatakan bahwa, hukum internasional
tidak menentukan syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pengangkatan perwakilan diplomatik,
baik sebagai duta besar ataupun konsul. Namun, berbeda dengan Oppenheim, Sir Nicholson
dalam buku Diplomacy (1950) mengatakan sebaliknya. Menurutnya, seorang diplomat harus
memenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi. Syarat-syarat tersebut diantaranya adalah: 1)
Kejujuran; 2) Ketelitian; 3) Ketenangan; Temperamen yang baik; 4) Kesabaran dan
kesederhanaan, dan; 5) Kesetiaan.
Apabila seorang diplomat yang ditutus memiliki syarat-syarat tersebut, setidaknya negara
penerima tidak akan mempersepsikan bahwa diplomat yang akan menjadi perwakilan tetap di
negara penerima, bukanlah suatu ancaman yang akan melakukan praktek spionase dan hal-hal
yang tidak diinginkan lainnya bagi negara penerima. Pemenuhan syarat-syarat diatas merupakan
salah satu upaya negara pengirim agar perwakilan yang diutus, dalam hal ini kepala misi
diplomatik, mendapatkan persetujuan dari negara penerima. Apabila negara penerima telah
menyatakan persetujuannya, maka duta utusan tersebut akan diberikan surat kepercayaan (letters
of credence atau letters de creance) yang ditandatangani oleh Kepala Negaranya, dan telah resmi
mewakili negaranya dalam misi diplomatik di negara lain. Surat-surat kepercayaan ini harus
diberikan kepada negara penerima, dan harus diserahkan sendiri oleh para duta besar kepada
Kepala Negara penerima. Seorang duta besar diterima oleh Kepala Negara penerima dalam suatu
upacara kenegaraan yang resmi.
Hal ini penting, karena adakalanya negara penerima menolak dan tidak setuju atas pengangkatan
duta besar yang dicalonkan. Setiap negara memiliki hak untuk menolak dan tidak menyetujui
suatu perwakilan diplomatik. Dan negara penerima tersebut tidak memiliki kewajiban untuk
menyatakan alasan-alasan penolakkan tersebut. Ketika jabatan duta besar tersebut kosong karena
mendapatkan penolakkan dari negara penerima, tugas tersebut diserahkan kepada Kuasa Usaha
(Charge daffaires ad interim).
Selain pengangkatan duta untuk negara sahabat, negara pengirim dapat pula mengirim utusannya
untuk organisasi internasional seperti duta Indonesia untuk PBB. Adapula duta yang
menjalankan misi ad hoc untuk suatu konferensi internasional disebut Special Envoy. Duta ini
juga diberikan surat kepercayaan sebagai delegasi Kepala Negara, yang berdasarkan surat
tersebut, ditetapkan anggota perutusan yang terdiri dari: 1) Representatives (ketua perutusan); 2)
Alternate (pengganti); 3) Advisers (penasihat).
Menurut Kaufman (1967), delegasi ialah orang yang terpilih dan berkualitas tinggi yang
mewakili negaranya di bidang tugas tertentu. Delegasi biasanya merupakan peserta dalam suatu
konferensi diplomatik, dimana anggotanya dapat terdiri dari seorang atau lebih.
Klasifikasi Perwakilan Diplomatik
Seorang duta besar ada yang diutus sebagai perwakilan tetap, dan adapula yang hanya sebagai
perwakilan sementara. Untuk duta besar yang hanya sementara disebut extraordinary. Lalu
seiring berjalannya waktu, titel extraordinary juga melekat kepada duta besar yang menetap,
hanya saja ditambah dengan titel Plenipotentiary di awalannya.
Klasifikasi perwakilan diplomatik terbagi menjadi tiga, yaitu:
Klasifikasi menurut Kongres Wina tahun 1815
Duta besar serta perwakilan kursi suci (Ambassador Papa legates Nuncios)
Duta besar luar biasa dan berkuasa penuh (Envoys Extraordinary and Minister Plenipotentiary)
Kuasa usaha (Charge daffaires)
Klasifikasi menurut Aix-la-Chapelle tahun 1818, secara urutan pangkat diplomatiknya adalah
sebagai berikut:
Ambassador and legates, or Nuncios;
Envoys and Minister Plenipotentiary;
Minister Resident, dan;
Charge daffaires
Klasifikasi menurut Konvensi Wina tahun 1961, kepala misi diplomatik dibedakan ke dalam tiga
kelas, yaitu:
Ambassador and Nuncios, diakreditasikan pada Kepala Negara dan kepala misi yang sederajat;
Envoys, Ministers, dan Internuncios, diakreditasikan Kepala Negara;
Charge daffaires, diakreditasikan Kepala Menteri LuarNegeri.

Tugas dan Fungsi Perwakilan Diplomatik


Untuk mengetahui dan memahami pasal-pasal perihal tugas dan fungsi perwakilan diplomatik,
Konvensi Wina terakhir, yang diadakan pada tahun 1961 dapat dijadikan acuan utama.
Sistematika pengelompokkan pasal-pasal yang ada di Konvensi Wina 1961 cukup unik. Berbeda
dengan pasal-pasal yang terdapat di perundang-undangan nasional, dimana topik-topiknya
diklasifikasikan secara bab-perbab, pasal-pasal di Konvensi Wina 1961 tidak demikian.
Syahmin, dalam buku Hukum Diplomatik (1984) telah berusaha untuk menyusunnya. Namun,
untuk kepentingan efisiensi, tidak semua pasal akan dicantumkan. Beberapa pasal yang disusun
dalam buku Hukum Diplomatik sebagai berikut:
Pasal
Keterangan

1.
Mengatur berbagai definisi mengenai:
Kepala Perwakilan, Anggota Perwakilan,
Anggota Staf Perwakilan,
Anggota staf dan misi perwakilan/pejabat diplomatik,
Anggota staf administrasi dan teknik,
Anggota staf dinas, pembantu rumah tangga pribadi para diplomat dan gedung milik.

2.
Mengatur tentang prinsip-prinsip untuk menyatakan hubungan diplomatik antar negara.

3.
Mengatur tentang tugas misi diplomatik, termasuk kemungkinan untuk menerima tugas-tugas
konsuler.

4.
Mengatur tentang syarat-syarat mengangkat duta besar.

5,6.
Mengatur tentang akreditasi majemuk.

7.
Mengatur tentang syarat-syarat pengangkatan staf perwakilan diplomatik.

8.
Mengatur tentang kewarganegaraan staf diplomatik, dan seterusnya

Secara sederhananya, tugas dan fungsi perwakilan diplomatik adalah melakukan representasi,
negosiasi, observasi, proteksi, dan pelaporan, serta meningkatkan hubungan persahabatan antara
negara pengirim dengan negara penerima. Dalam negosiasi, seorang wakil resmi dari negaranya
ia harus mengemukakan pandangan dan kepentingan negaranya terhadap situasi ataupun
perkembangan dunia pada saat itu kepada negara penerima. Sedangkan untuk tugas observasi,
seorang duta harus mengamati secara seksama atas segala perkembangan yang terjadi di negara
penerima yang mungkin dapat mempengaruhi kepentingan nasional negaranya. Demikian halnya
dengan tugas proteksi. Kedutaan Besar atau Konsulat Jendral berkewajiban untuk melindungi
warga negara beserta harta bendanya dan kepentingan negaranya yang berada di negara
penerima. Terakhir, perwakilan diplomatik berkewajiban untuk melaporkan setiap
perkembangan apa saja yang terjadi di negara penerima.
Baharudin A. Ubani dalam Diplomasi dan Politik Luar Negeri Indonesia (n.d) berpendapat
bahwa perwakilan diplomatik yang bertindak sebagai saluran diplomasi di negaranya memiliki
fungsi ganda yang diantaranya adalah:
Menyalurkan kepada pemerintah negara penerima mengenai politik luar negeri pemerintahnya
serta pejelasan seperlunya tentang negaranya untuk memberikan pengertian yang baik dan
mendalam mengenai negaranya.
Menyalurkan kepada pemerintah negaranya perihal politik luar negeri negara penerimadan
melaporkan kejadian-kejadian serta perkembangan setempat dengan keterangan-keterangan
keadaan setempat. Penjelasan dan analisa tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan
pertimbangan dalam menentukan politik luar negeri negaranya.
Perbedaan Fungsi Misi Diplomatik Tetap dan Tidak Tetap
Secara mendasar, perwakilan diplomatik terbagi menjadi dua, yaitu perwakilan tidak tetap atau
sementara, dan perwakilan tetap. Misi perwakilan tidak tetap fungsinya terbatas pada tugas-tugas
yang diserahkan kepada wakil diplomatik itu untuk menangani masalah-masalah tertentu sesuai
dengan bunyi surat kepercayaan yang diberikan kepada mereka untuk hal-hal khusus, seperti
mengadakan pembicaraan atau perundingan damai dengan negara yang sedang bersengketa. Jika
misinya telah selesai, maka selesai pula lah tugas misi diplomatiknya.
Sedangkan, untuk tugas dan fungsi perwakilan diplomatik tetap sangat luas dan sudah ditentukan
sebagian besarnya dalam Konvensi Wina 1961. Beberapa yang paling penting diantaranya
adalah:
Mewakili negaranya di negara penerima;
Melindungi kepentingan negara pengirim di negara penerima dalam batas-batas yang
diperkenankan oleh hukum internasional;
Mengadakan perundingan-perundingan dengan pemerintah dimana mereka diakreditasikan;
Memberikan laporan kepada negara pengirim mengenai keadaan dan perkembangan di negara
penerima dengan cara-cara yang dapat dibenarkan oleh hukum, baik hukum dalam negeri
ataupun hukum internasional;
Meningkatkan hubungan persahabatan antar negara, terutama antara negara pengirim dengan
negara penerima, serta mengembangkan dan memperluas hubungan ekonomi, kebudayaan, dan
ilmu pengetahuan.
Selain tugas-tugas diatas, perwakilan diplomatik dapat juga menjalankan tugas dan fungsi
konsuler seperti pencatatan kelahiran dan kematian, perkawinan, perceraian, serta mengenai
waris-mewarisi dari semua warganegaranya yang berada di negara penerima. Untuk lebih
jelasnya, tugas dan fungsi konsuler akan dijelaskan dibawah ini.
Tugas dan Fungsi Perwakilan Konsuler
Perwakilan diplomatik pada umumnya mengurusi hal-ihwal yang bersifat politik, dan berurusan
dengan pejabat pemerintah tingkat pusat seperti presiden dan menteri. Hal-hal yang demikian
tidak dapat dilaksanakan oleh perwakilan konsuler. Perwakilan konsuler juga tidak melakukan
tugas-tugas yang berkaitan dengan situasi dan kondisi negara penerima seperti mengamati
perkembangan politik negara penerima yang sedang berlangsung.
Perwakilan konsuler hanya menjalankan hubungan-hubungan dengan instansi pemerintah yang
menyangkut bidang perdagangan, perindustrian, perkapalan (navigasi), instansi pengadilan dan
instansi administratif yang mengurusi kepentingan warga negaranya di negara penerima. Tugas
dan fungsi perwakilan konsuler juga telah dituangkan dalam Konvensi Wina 1963 sebagai
berikut:
Melindungi kepentingan-kepentingan dari negara pengirim dan setiap warga-negaranya di
wilayah negara penerima, baik secara individu maupun badan usahanya dalam batas-batas yang
diperkenankan oleh hukum internasional.
Meningkatkan pengembangan hubungan-hubungan perdagangan, ekonomi, kebudayaan, dan
ilmu pengetahuan antar negara pengirim dengan negara penerima, sesuai dengan ketentuan-
ketentuan Konvensi Wina.
Mencari dan memberikan informasi kepada negara pengirim mengenai keadaan-keadaan dan
perkembangan yang terjadi di negara peerima.
Mengeluarkan paspor dan dokumen perjalanan bagi warganegara negara pengirim dan visa bagi
orang-orang setempat yang akan pergi mengunjungi atau bepergian ke negara penerima.
Membantu dan mendampingi warganegara pengirim baik secara individu maupaun badan-badan
usaha warganegara pengirim di negara penerima.
Berusaha melindungi kepentingan warganegaranya baik secara individu maupaun badan-badan
usahanya dalam hal terjadinya pergantian yang timbul dari mortis cause (amanat sebelum
kematian) di wilayah negara penerima, sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku di
negara penerima.
Sebagai tambahan, tugas dan fungsi perwakilan konsuler tidak hanya mencakup apa yang tertulis
dalam satu konvensi saja, melainkan kebiasaan-kebiasaan internasional, perjanjian bilateral antar
negara pengirim dengan negara penerima, serta hukum nasional dan aturan konsuler lainnya
dapat dijadikan pertimbangan khusus bagi perwakilan konsuler dalam menjalankan tugas dan
fungsinya.
Kekebalan dan Keistimewaan sebagai Protokoler Perwakilan Diplomatik
Kekebalan duta besar dari yurisdiksi pidana di negara penerima telah mulai diberlakukan oleh
banyak negara sejak abad ke XVII. Aturan ini diadopsi sebagai kebiasaan-kebiasaan
internasional dalam praktek pertukaran perwakilan diplomatik. Para pejabat diplomatik yang
dikirimkan oleh setiap negara ke negara lainnya dianggap memiliki sifat suci yang khusus,
yang secara konsekuensinya memberikan kekebalan dan keistimewaan yang khusus kepada
perwakilan diplomatik.
Pada pertengahan abad XVIII, aturan-aturan kebiasaan internasional mengenai kekebalan dan
kesitimewaan diplomatik mulai ditetapkan. Hal ini tidak hanya berlaku pada perwakilan
diplomatik saja, tetapi juga berlaku atas harta milik, gedung perwakilan, serta akses komunikasi
para diplomat. Kekebalan diplomatik ini juga dapat dinikmati oleh anggota keluarga yang tinggal
bersamanya; anggota perwakilan diplomatik, seperti counselor, sekretaris, atase, dan pada
keadaan tertentu, para staf pembantu seperti juru masak, supir, pelayan, dan penjaga juuga dapat
menikmati kekebalan dan keistimewaan ini.
Dalam perkembangannya, pencapaian yang dihasilkan melalui sejumlah perjanjian terkait
perwakilan diplomatik telah memberikan hak-hak khusus kepada para diplomat. Untuk
menegaskan kekebalan dan keistimewaan yang dimiliki oleh para diplomat, maka lahir istilah
exterritorriality, yaitu perlakuan yang harus diberikan kepada para diplomat sebagaimana mereka
sedang tidak berada di wilayah negara penerima.
Connel dalam bukunya International Law (1965) menyebutkan tiga teori yang menjadi landasan
kekebalan dan keistimewaan perwakilan diplomatik di negara penerima. Teori yang dimaksud
adalah sebagai berikut:
Exterritoriality Theory
Menurut teori ini, seorang pejabat diplomatik dianggap tidak berada di negara penerima,
melainkan berada dalam negara pengirim, meskipun kenyataannya ia sedang berada di negara
penerima. Yang dimaksud adalah bahwa pejabat diplomatik tidak perlu tunduk pada yurisdiksi
hukum nasional setempat, melainkan dikuasai oleh hukum negara pengirim. Lalu, kantor
perwakilan dan tempat kediamannya dianggap sebagai bagian dari wilayah negara pengirim.
Pada kenyataannya, penerapan secara utuh dari teori ini sangat sukar untuk dipraktekkan.
Misalnya, seorang pejabat diplomatik yang sedang berkendara di jalan raya harus tunduk pada
peraturan lalu lintas negara setempat. Apabila ia melanggar lalu lintas dengan dasar tidak perlu
tunduk pada hukum negara setempat, maka ia akan merasakan akibatnya, seperti halnya
mengalami tabrakan kendaraan. Ketidaksesuaian ini membuat teori ini sulit untuk dipertahankan
secara utuh. Apabila istilah ini masih digunakan dalam praktek diplomatik era modern, hal ini
hanya sekedar menunjukkan prinsip bahwa negara penerima tidak memiliki wewenang untuk
menegakkan kedaulatannya di gedung atau rumah kediaman perwakilan diplomatik negara
pengirim.
Representative Character Theory
Dalam hukum internasional, dikenal secara universal adagium par im parem habet imperium
yang dapat diartikan bahwa suatu negara berdaulat tidak dapat melaksanakan yurisdiksinya
terhadap negara berdaulat lainnya. Jika seorang agen diplomatik merupakan representasi yang
bersifat simbol atau wakil negara, maka setiap sikap dan tindakannya juga merupakan sikap dari
negara yang diwakilinya pula. Melalui teori ini dapat disimpulkan bahwa perwakilan diplomatik
tidak akan dapat menjalankan tugasnya secara bebas kecuali jika mereka diberikan kekebalan
tertentu. Sehingga pada hakekatnya, pejabat diplomatik itu dapat dipersamakan dengan
kedudukan seorang kepala negara atau negara pengirim yang bersangkutan.
Functional Necessity Theory
Teori membenarkan bahwa kekebalan dan keistimewaan para pejabat diplomatik diperlukan agar
mereka dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien. Adapula maksud dari
kekebalan dan keistimewaan yang dimilikinya itu adalah untuk memberi kesempatan seluas-
luasnya dalam menjalankan tugas dan misinya tanpa ada gangguan.
Ringkasan Kekebalan Diplomatik
Dalam Konvensi Wina tahun 1961 telah diatur ketentuan mengenai kekebalan bagi pejabat
diplomatik, yang diantaranya adalah:
Kekebalan terhadap yurisdiksi pidana di negara penerima;
Kekebalan terhadap yurisdiksi perdata di negara penerima;
Kekebalan terhadap perintah pengadilan setempat;
Kekebalan dalam mengadakan komunikasi, dan
Pencabutan kekebalan diplomatik;
Kekebalan gedung perwakilan dan tempat kediaman perwakilan diplomatik.

Ringkasan Keistimewaan Agen Diplomatik


Seperti halnya dengan kekebalan diplomatik, keistimewaan yang dimiliki oleh agen diplomatik
juga tertuang dalam Konvensi Wina tahun 1961. Beberapa diantarannya adalah:
Kebebasan dari kewajiban membayar pajak;
Kebebasan dari kewajiban pabean;
Hubungan diplomatik pada masa perang;
Fasilitas-fasilitas diplomatik;
Kekebalan dan keistimewaan diplomatik di negara ketiga.
*Untuk pembahasan lebih luas mengenai bagian terakhir ini (protokoler diplomatik), insya Allah
akan dibahas pada lain kesempatan. Demikian atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Daftar Pustaka
Syahmin. 1984. Hukum Diplomatik: Suatu Pengantar. Armico Bandung
Mauna, Boer. 2000. Hukum Internasional: Pengertian, Peranan, dan Fungsi dalam Era Dinamika
Global.

http://diplomasisabtu3.blogspot.co.id/2016/04/syahrain-fatharany-2009230034.html