Anda di halaman 1dari 28

PENGOLAHAN LIMBAH PABRIK

PT. SIER (PERSERO) SURABAYA

Disusun Oleh :

1. Daud Perwira Yudha (!431010044)


2. Hardiansyah Andi Nugroho (1431010052)
3. Kurnia Arifiani Kusuma (1431010060)
4. Aqshatul Rizki (1431010091)

PARALEL B

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA
TIMUR
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat dan ridho Allah SWT, karena dengan ridho-
Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah pengolahan limbah pabrik dengan
menggunakan sampel dari limbah PT. Sier (persero) Surabaya.
Makalah ini berisi tentang karakteristik, analisis limbah cair pabrik, reaksi-reaksi
flokulasi. Makalah ini dibuat dengan tujuan agar mahasiswa dapat memahami karakteristik
dari limbah tertentu serta cara pengolahan dan baku mutu sesuai peraturan gubernur jawa
timur.
Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membantu kami dalam
menyelesaikan makalah ini. Ibu Atik Widiyati, selaku Dosen Kimia Organik yang telah
mengarahkan dan memberikan beberapa sub. bagian materi. Rekan rekan kelompok yang
turut aktif membantu terselesainya makalah ini dengan baik. Semoga makalah ini dapat
berguna dan bermanfaat bagi banyak pihak terutama mahasiswa Teknik Kimia. Apabila
terdapat kesalahan dalam penyusunan makalah ini, baik penulisan atau yang lainnya, penulis
memohon maaf yang sebesar-besarnya.

Penulis

Surabaya, 10 September 2017


DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

II.1 Latar Belakang


Aktivitas industri yang terus berjalan akan memberikan produk yang dapat memenuhi
kebutuhan hidup manusia, namun dalam aktivitas produksi tersebut terdapat bahan buangan
yang disebut limbah, dimana limbah tersebut harus dilakukan treatment terlebih dahulu
sebelum dibuang ke lingkungan. Limbah cair atau air limbah merupakan salah satu jenis
limbah yang banyak dihasilkan dalam kegiatan perindustrian. Secara normatif pemerintah
telah membuat aturan tentang pengolahan limbah cair, antara lain Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup No.5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah dan Peraturan
Gubernur Jawa Timur No. 72 Tahun 2013 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Industri
dan/atau Kegiatan Usaha Lainnya.
PT SIER-PIER memiliki IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang menggunakan
pengolahan air limbah dengan metode fisik (primary treatment) dan metoda biologi
(secondary treatment) tanpa menggunakan atau menambahkan bahan kimia. Pengolahan awal
dalam sebuah pengolahan air limbah adalah pengolahan dengan metode fisik, hal ini
dikarenakan metode fisik berfungsi untuk mengendapkan, menyaring dan menghilang- kan
partikel-partikel pasir atau pertikel dan benda yang lebih besar yang terapung atau tenggelam
yang dapat menghambat bahkan merusak kinerja mesin pada pengolahan selanjutnya.
Instalasi Pengolahan Air Limbah di kawasan industri Rembang ini telah berdiri sejak
tahun 1989. Seiring berjalannya waktu, pertumbuhan dan perkembangan industri yang berada
di kawasan tersebut semakin meningkat. Dibuktikan dengan semakin banyak jumlah
industri yang bernaung didalamnya. Hal tersebut berpotensi akan menambah kuantitas limbah
yang harus diolah oleh IPAL PT SIER-PIER. Dilain sisi bertambahnya usia IPAL dapat
menyebab-kan efisiensi IPAL PT SIER-PIER mengalami penurunan. Sehubungan dengan hal
tersebut, perlu dilakukan penelitian evaluasi kinerja instalasi yang mengolah limbah dari
proses awal limbah masuk instalasi sampai dengan limbah tersebut dibuang ke lingkungan.

II.2 Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air limbah dan baku mutu air limbah
yang dihasilkan oleh PT. SIER (Persero) Surabaya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Air Limbah Industri


Air limbah merupakan air yang keluar dan tidak terpakai lagi dari suatu aktivitas
(Industri, rumah tangga, supermarket, hotel dan sebagainya). Air limbah ini biasanya
mengandung berbagai zat pencemar (kontaminan) seperti padatan tersuspensi, padatan
terlarut, logam berat, bahan organik, bahan beracun, dan dapat bertemperatur tinggi. Air
limbah ini umumnya akan dibuang ke badan air penerima seperti sungai, laut dan kedalam
tanah. Pembuangan air limbah dengan kandungan berbagai zat pencemar mengakibatkan
terjadinya pencemaran pada sungai, laut, tanah dan bahkan mencemari udara.
Limbah industri adalah semua jenis bahan sisa atau bahan buangan yang berasal
dari hasil samping suatu proses perindustrian. Limbah industri dapat menjadi limbah yang
sangat berbahaya bagi lingkungan hidup dan manusia.
Menurut Mulia (2005), air limbah industri umumnya terjadi sebagai akibat adanya
pemakaian air dalam proses produksi. Di industri, air umumnya memiliki beberapa fungsi
berikut:
1. Sebagai air pendingin, untuk memindahkan panas yang terjadi dari proses
industri.
2. Untuk mentransportasikan produk atau bahan baku.
3. Sebagai air proses, misalnya sebagai umpan boiler pada pabrik minuman
dan sebagainya.
4. Untuk mencuci dan membilas produk dan/atau gedung serta instalasi.

Limbah industri bersumber dari kegiatan industri baik karena proses secara langsung
maupun proses secara tidak langsung. Limbah yang bersumber langsung dari kegiatan
industri yaitu limbah yang terproduksi bersamaan dengan proses produksi sedang
berlangsung, dimana produk dan limbah hadir pada saat yang sama. Sedangkan limbah tidak
langsung terproduksi sebelum proses maupun sesudah proses produksi.
II.1.1 Komposisi Air Limbah
Menurut Sugiharto (2008), sesuai dengan sumber asalnya, maka air limbah
mempunyai komposisi yang sangat bervariasi dari setiap tempat dan setiap saat. Akan tetapi,
secara garis besar zat-zat yang terdapat di air limbah data dikelompokkan seperti pada skema
berikut ini:

Air Limbah

Air (99,9%)
Bahan Padat (0,1%)

Organik Anorganik

Protein (65%)
Karbohidrat (25%) Butiran
Lemak (10%) Garam
Metal
II.1.2 Sumber Air Limbah
Data tentang sumber air limbah dapat dipergunakan untuk memperkirakan jumlah rata-
rata aliran air limbah dari berbagai jenis perumahan, industri dan aliran air tanah yang ada di
sekitarnya. Kesemuanya ini harus diperhitungkan peningkatannya sebelum membuat suatu
bangunan pengolah air limbah dan merencanakan pemasangan saluran pembawanya.

II.1.3 Baku Mutu Air Sesuai Peruntukannya

Di wilayah propinsi Jawa Timur, standarisasi kualitas air telah dituangkan di dalam
Keputusan Gubernur Kepala Daerah Propinsi Jawa Timur No. 5 tahun 2000 tentang
pengendalian Pencemaran Air di Propinsi Jawa Timur. Inti dari keputusan tersebut adalah
penggolongan baku mutu air ke dalam lima golongan, yaitu :
1. Golongan A
Yaitu air pada sumber air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung, tanpa
diolah terlebih dahulu.
2. Golongan B
Yaitu air yang dapat digunakan sebagai bahan baku air minum dan keperluan rumah tangga
lainnya.
3. Golongan C
Yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan.
4. Golongan D
Yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, industri dan PLTA.
5. Golongan E
Yaitu air yang tidak dapat digunakan seperti yang tertera dalam penjelasan pada golongan
A, B, C, dan D.

II.2 Karakteristik Air Limbah


Ada beberapa karakteristik khas yang dimiliki air limbah menurut Chandra (2006):
a. Karakteristik Fisik
Air limbah terdiri dari 99,9% air, sedangkan kandungan bahan padatnya mencapai 0,1%
dalam bentuk suspense padat (suspended solid) yang volumenya bervariasi antara 100-
500 mg/l. Apabila volume suspensi padat kurang dari 100 mg/l air limbah disebut
lemah, sedangkan bila lebih dari 500 mg/l disebut kuat.
b. Karakteristik Kimia
Air limbah biasanya bercampur dengan zat kimia anorganik yang berasal dari air bersih
dan zat organik dari limbah itu sendiri. Saat keluar dari sumber air limbah bersifat basa.
Namun air limbah yang sudah lama atau membusuk akan bersifat asam karena sudah
mengalami kandungan bahan organiknya telah mengalami proses dekomposisi yang
dapat menimbulkan bau tidak menyenangkan. Komposisi campuran dari zat-zat itu
dapat berupa:
a) Gabungan dengan nitrogen misalnya urea, protein, atau asam amino.
b) Gabungan dengan non-nitrogen misalnya lemak, sabun, atau karbohidrat.
c. Karakteristik bakteriologis
Bakteri patogen yang terdapat dalam air limbah biasanya termasuk golongan E.coli
II.3 Tahapan Pengolahan Air Limbah

Menurut Achmad 2008, bahwa metode dan tahapan proses pengolahan limbah cair
yang telah dikembangkan sangat beragam. Merode ditetapkan berdasarkan parameter fisika,
kimia dan biologi yang terkandung dalam air limbah. Limbah cair dengan kandungan
polutan yang berbeda kemungkinan akan membutuhkan proses pengolahan yang berbeda
pula. Proses- proses pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara keseluruhan, berupa
kombinasi beberapa proses atau hanya salah satu. Proses pengolahan tersebut juga dapat
dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan atau faktor finansial terdiri dari :
I. Pengolahan Primer (primary treatment)
Tahap pengolahan primer limbah cair sebagian besar adalah berupa proses pengolahan
secara fisika :

1. Penyaringan (Screening)
limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring menggunakan
jeruji saring. Metode ini disebut penyaringan. Metode penyaringan merupakan cara
yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari
air limbah.
2. Pengolahan Awal (Pretreatment)
limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu tangki atau bak yang
berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat teruspensi lain yang berukuran
relatif besar. Tangki ini dalam bahasa inggris disebut grit chamber dan cara kerjanya
adalah dengan memperlambat aliran limbah sehingga partikel partikel pasir jatuh
ke dasar tangki sementara air limbah terus dialirkan untuk proses selanjutnya.
3. Penyaringan (Screening)
limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring menggunakan
jeruji saring. Metode ini disebut penyaringan. Metode penyaringan merupakan cara
yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan-bahan padat berukuran besar dari
air limbah.
4. Pengolahan Awal (Pretreatment)
limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu tangki atau bak yang
berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat teruspensi lain yang berukuran
relatif besar. Tangki ini dalam bahasa inggris disebut grit chamber dan cara kerjanya
adalah dengan memperlambat aliran limbah sehingga partikel partikel pasir jatuh
ke dasar tangki sementara air limbah terus dialirkan untuk proses selanjutnya.
5. Pengendapan
Setelah melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan ke tangki
atau bak pengendapan. Metode pengendapan adalah metode pengolahan utama dan
yang paling banyak digunakan pada proses pengolahan primer limbah cair. Di tangki
pengendapan, limbah cair didiamkan agar partikel partikel padat yang tersuspensi
dalam air limbah dapat mengendap ke dasar tangki. Enadapan partikel tersebut akan
membentuk lumpur yang kemudian akan dipisahkan dari air limbah ke saluran lain
untuk diolah lebih lanjut. Selain metode pengendapan, dikenal juga metode
pengapungan (Floation).
6. Pengapungan (Floation)
Metode ini efektif digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa minyak atau
lemak. Proses pengapungan dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat
menghasilkan gelembung- gelembung udara berukuran kecil ( 30 120 mikron).
Gelembung udara tersebut akan membawa partikel partikel minyak dan lemak ke
permukaan air limbah sehingga kemudian dapat disingkirkan.
II.4 Sistem Pengolahan Air Limbah di IPAL PT.Sier (persero) Surabaya

Manajemen pengolahan limbah di kawasan industry dibagi menjadi 2 kelompok kegiatan


yaitu : sanitasi dan pengolahn limbah yang berasal dari seluruh kawasan industry.
Untuk mendukung kelancaran proses dikenakan biaya pemeliharaan dan operasi dari system
pengolahan limbah yang dikenal dengan istilah BPO kepada semua pabrik yang ada di kawasan
industry yang dikeloal oleh PT. IPAL SIER (Persero) sesuai dengan Pasal 11 surat perjanjian
sewa menyewa pabrik dan Pasal 8 surat perjanjian sewa menyewa SUIK. BPO ini berlaku
selama 1 tahun dan diadakan peninjauan kembali setiap tahun.
Penentuan besarnya BPO yang harus dibayar oleh tiap pabrik didasarkan pada :
1. Besarnya beban polusi air (limbah yang dibuang ke saluran air limbah PT. IPAL SIER
(Persero))
2. Besarnya volume atau debit air limbah di pabrik.
Sumber air limbah yang diolah di PT. IPAL SIER (Persero) berasal dari seluruh pabrik
dan perkantoran yang berada di kawasan Rungkut dan Brebek. Jumlah pabrik dan perkantoran
yang membuang air limbah di PT. IPAL SIER (Persero) sebanyak 393 perusahaan. Nama
nama perusahan tersebut dapat dilihat pada lampiran.
Sumber air limbah yang masuk ke PT. IPAL SIER (Persero) Surabaya beraneka ragam.
Air limbah yang masuk ke IPAL berasal dari berbagai jenis industry diantaranya :
a. Industry kayu dan rotan
b. Industry plastic
c. Industry logam
d. Industry kimia
e. Industry makanan dan minuman
f. Industry tembakau
g. Industry tekstil
h. Industri karet
i. Industry penyamakan kulit
Air limbah sebelum masuk ke saluran air limbah yang ada di PT. IPAL SIER (Persero)
maka tiap tiap industry harus memenuhi semua persyaratan yang telah ditetapkan oleh pihak
PT. IPAL SIER (Persero). Hal ini dilakukan agar tidak merusak saluran, mesin, dan peralatan
yang ada di PT. IPAL SIER (Persero), dimana persyaratan dan ketentuan untuk karakteristik air
limbah tersebut dibuat menyesuaikan dengan design bangunan pengolahan air limbah di PT.
IPAL SIER (Persero).
Ketentuan itu dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Ketentuan umum
Bahan yang dilarang dibuang ke dalam system saluran air limbah kawasan industry yang
dikelola PT. SIER (Persero) antara lain :
a) Air hujan, air tanah, air dari talang, air dari pekarangan.
b) Kalsium karbida
c) Bahan yang mudah terbakar
d) Cairan, zat padat dan gas yang karena jumlahnya sudah cukup untuk dapat menimbulkan
kebakaran atau ledakan yang dapat menyebabkan kerusakan system saluran air limbah.
e) Bahan baku yang karena kondisinya sendiri atau penggabungan atau reaksi elemen
dengan air limbah lainnya dapat menimbulkan gas, uap, bau, atau bahan semacamnya
yang dapat membahayakan kehidupan masyarakat.
f) Ragi, ter, aspal, minyak mentah, minyak pelumas, solar, karbon disulfida, hidro sulfida,
poli sulfida.
g) Bahan radioaktif.
h) Semua limbah yang dapat menimbulkan pelapisan keras, atau endapan di dalam system
saluran air limbah.
i) Limbah yang mengandung bahan pewarna yang tidak dapat diolah secara biologis.
j) Bahan yang dapat merusak atau mengganggu mesin maupun peralatan yang terpasang
dalam saluran dan system pengolahan air limbah.
k) Pestisida, fungisida, herbisida, insektisida, radentisida, fumigans.
l) Limbah padat.
b. Ketentuan khusus
Secara khusus, air limbah yang boleh dibuang ke system saluran air limbah PT. IPAL SIER
(Persero) tiidak boleh melebihi standart yang telah ditetapkan, yaitu yang tercantum pada
table berikut :
N0. PARAMETER FISIKA Kode Nilai Satuan

1.1 Suhu 40 Celsius

1.2 Jumlah Padatan Terlarut TDS 2000 Mg/ l

1.3 Jumlah Padatan Tersuspensi TSS 400 Mg/ l

1.4 Warna 300 Pt.Co


Scala
NO. PARAMETER KIMIA Kode Nilai Satuan

2.1 Biological Oxygen Demand BOD 1500 Mg/ l

2.2 Chemical Oxygen Demand COD 3000 Mg/ l

2.3 Derajat Keasaman pH 69

2.4 Amonia NH3 20 Mg/ l

2.5 Deterjen MBAS 5 Mg/ l

2.6 Phenol 2 Mg/ l

2.7 Fluorida F 30 Mg/ l

2.8 Klorida Cl 500 Mg/ l

2.9 Minyak & Lemak 30 Mg/ l

2.10 Nitrat NO3 50 Mg/ l

2.11 Nitrit NO2 5 Mg/ l

2.12 Sisa Klor Cl2 1 Mg/ l

2.13 Sulfat SO4 500 Mg/ l

2.14 Sulfida S 1 Mg/ l


NO. I T E M KIMIA Kode Nilai Satuan

2.15 Arsen As 1 Mg/ l

2.16 Barium Ba 5 Mg/ l

2.17 Besi Fe 30 Mg/ l

2.18 Kadmium Cd 1 Mg/ l

2.19 Kobalt Co 1 Mg/ l

2.20 Krom Heksavalen Cr 2 Mg/ l

2.21 Mangan Mn 10 Mg/ l

2.22 Nikel Ni 2 Mg/ l

2.23 Air Raksa Hg 0,005 Mg/ l

2.24 Selenium Se 1 Mg/ l

2.25 Seng Zn 5 Mg/ l

2.26 Tembaga Cu 5 Mg/ l

2.27 Timbal Pb 3 Mg/ l

2.28 Sianida CN 1 Mg/ l


II.5 Spesifikasi Instalasi Pengolahan Air Limbah PT. IPAL SIER

Bangunan pengolahan air limbah dan spesifikasinya


Berikut ini akan diuraikan mengenai : fungsi, kapasitas, spesifikasi, utilitas penunjang
masing masing bangunan pengolahan air limbah yang ada di PT. IPAL SIER (Persero).

1. Sumur pengumpul
Sumur pengumpul ini berfungsi sebagai tempat penampungan sementara air limbah yang
bersunber dari semua industri industri di kawasan PT. IPAL SIER (Persero). Namun, air
limbah atau air buangan dari setiap industry harus memenuhi standar yang telah ditentukan oleh
PT.IPAL SIER (Persero). Sumur ini berbentuk lingkaran (circular) dengan diameter 5 m dan
kedalaman 8 m. Sumur ini terbagi menjadi dua bagian yang dibatasi oleh beton setebal 30
cm,kedua bagian tersebut adalah :
Dua buah pipa yang besarnya masing masing 400 mm dan 600 mm yang berfungsi
sebagai saluran buangan industry dan perkantoran.
Dua buah rel yang terpasang pada dinding sumur dan papan yang terbentang 4 m
yang digunakan sebagai pijakkan petugas yang akan membersihkan sumur.
Saringan kasar yang terpasang pada piapa induk dan berfungsi untuk menahan benda
benda besar yang masuk dalam sumur basah seperti : kayu, plastic, kaleng, dan lain
lain.
Debit yang masuk ke sumur pengumpul ini 8000 l/hari. Jumlah debit yang masuk
tergantung pada aktifitas perkantoran dan pabrik disekitar PT. IPAL SIER (Persero). Dalam
sumur pengumpul limbah cair akan mengalami homogenisasi sehingga pada saat dialirkan ke
proses selanjutnya akan mempunyai kondisi dan beban pencemaran yang sama. Limbah cair di
sumur pengumpul ini dipompa menggunakan pompa sentrifugal dengan debit 60 l/ detik.
Gambar II.1 : Sumur pengumpul
Pada sumur ini diambil sample influent limbah cair untuk diteliti di dalam laboratorium
untuk diketahui jumlah COD, DO, dan lain lain. Hal tersebut dilakukan karena limbah cair
yang masuk ke dalam PT. IPAL SIER (Persero) harus memenuhi standart yang telah
ditentukan.

2. Sumur kering
Sumur yang ada di IPAL adalah sumur yang sering disebut dengan rumah pompa.Perlu kita
ketahui bahwa di dalam rumah pompa tersebut ada 4 pompa yang berfungsi membantu jalannya
pengolahan limbah yang ada dii IPAL. Pompa tersebut adalah pompa centrifugal yang secara
otomatis dapat bekrja dengan sendirinya dengan level control untuk memompa air limbah ke bak
pengendap pertama (primary settling tank).
Pompa ini masing masing dapat bekerja dalm mengalirkan air limbah dengan debit 60
liter/dt. Dan peralatan yang digunakan di rumah pompa ini antara lain :
Crane untuk mengangkat
Vertical centrifugal pump untuk pemomopaan air limbah.
Secara keseluruhan sumur pengumpul ini mempunyai fungsi sebagai berikut :
a) Sebagai tempat penampung sementara dari limbah industry di kawasan PT. IPAL SIER
(Persero) Surabaya. Sumur ini mampu menampung buangan industry dan perkantoran
dengan debit sebesar 10.000 m3/hari. Limbah yang terkumpul disumur pengumpul ini
dialirkan secara otomatis oleh pompa sentrifugal (centrifugal pump) berdasarkkan level
control menuju bak pengendap pertama (primary settling tank).
b) Pembersihan sampah sampah atau kotoran yang mengapung dilakukan secara manual oleh
operator melalui dua buah rel (jet savelling/ crame)
c) Pada sumur pengumpul ini juga terjadi proses homogenesis air limbah yaitu pemerataan.

3. Bak pengendap pertama (primary settling tank)


Bak pengendap pertama atau settling tank mempunyai fungsi umum yaitu :
a) Mengendapkan pertikel partikel terutama zat padat tersuspensi secara gravitasi
b) Penyaringan kotoran terapung
c) Sebagai tempat homogenisasi air limbah sebelum masuk ke oxidation ditch.
d) Pemerataan beban hidrolisis dan organic sehingga tidak akan terjadi shock loading pada
proses selanjutnya akibat flokulasi beban.
Bak pengendap pertama berbentuk persegi panjang yang dilengkapi dengan buffle serta
tiga bak kecil yang memiliki fungsi tertentu.

Gambar II.2 Primary Sattling Tank

Bak pengendap pertama ini dilengkapi dengan :


a) Meter air yang dihubungkan dengan baling baling yang fungsinya untuk mengetahui debit
air (influent) dengan jelas.
b) Penyekat (skimmer) yang mempunyai ketebalan 80 cm, berjumlah dua buah dan terpasang
secara simetris. Alat ini digunakan untuk menghalangi benda benda yang terapung agar
tidak masuk ke tahap slanjutnya, misalnya : plastic, busa deterjen, minyak dan partikel
terapung lainnya. Dan kemudian dibelokkan ke selokan dan di alirrkan ke bak floating
(floating tank) ini benda benda tterapung tersebut akan diambil secara mekanik sedangkan
air yang berada dibawah akan dialirkan kedalm oxidation ditch.
c) Pompa yang dipasang pada bagian bak besar (bak pengendapp pertama) yang berfungsi
untuk mengalirkan partikel terapung lumpur hasil dari pengendapan ke bak penampung
partikel partikel terapung ini dilengkapi dengan saluran air yang berbentuk selokan (parit)
sehingga aliran air limbah dapat berjalan mudah dan lancar sehingga operator mudah
mengontrolnya
d) Lumpur hasil pengendapan dibawa ke bak pengering lumpur (sludge drying bed) Factor.

4. Parit oksidasi (oxidation ditch)


Pada oxidation ditch ini, air limbah diolah secara biologis dengan bantuan
mikroorganisme pengurai air limbah, sehingga dibutuhkan oksigen untuk aktivitas organisme
dalam menguraikan bahan organic dalam air limbah. Kebutuhan oksigen diperoleh dari proses
aerasi dengan menggunakan Mammoth Rotor.

Gambar II.3 Oxidation Ditch


Oxidation ditch ini berbentuk parit melingkar memenjang yang berjumlah 4 buah.
Oxidation ditch ini mampu mengolah air limbah sebanyak 9000 m3/hari. Oxidation ditch ini
memiliki tepian permukaan kolam yang kasar serta dilapisi dengan batu kali sebagai tempat
menempelnya mikroorganisme.
Pada setiap unit oxidation ditch dilengkapi dengan unit mammoth rotor yang berfungsi
untuk mengaduk limbah sehingga dapat diperoleh oksigen yang cukup untuk proses pengolahan.
Pada oxidation ditch ini harus diteliti kadar lumpur yang masuk ke dalam bak oksidasi karena
jika terlalu banyak ataupun terlalu sedikit lumpur yang ada maka proses pengolahan tidak akan
berjalan dengan baik.

5. Distribution box
Di dalam bak pembagi ini lumpur aktif yang masih tercampur dengan air limbah dari
oxidation ditch akan dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian akan dialirkan ke bak pengendap
kedua (clarifier) dan satu bagian lagi akan dialirkan kedalam oxidation ditch (di recycle) sebesar
30% dari total lumpur yang masuk ke bak pembagi (distribution box).

Gambar II.4 Bak pembagi (Distribution Box)


Lumpur aktif dikembalikan ke oxidation ditch dengan bantuan return sludge pump tipe
screw pump conveyor, sedangkan air limbah dan lumpur aktif yang dialirkan menuju bak
pengendap kedua dilakukan dengan menggunakan prinsip perbedaan tekanan yaitu prinsip
perbedaan diameter dua buah pipa (yaitu pipa menuju secondary clarifier dan pipa menuju
distribution box). Fungsi dari bak ini adalah
a. Sebagai tempat penampung sementara air limbah dari oxidation ditch sebelum masuk ke
secondary clarifier.
b. Sebagai pembagi lumpur aktif yang akan dialirkan ke secondary clarifier yang akan
dikembalikan ke oxidation ditch.
Bak ini dilengkapi dua pompa yang berfungsi submersible yang berfungsi mengalirkan
lumpur yang akan dibuang ke bak pengering lumpur dan srew pump yang berfungsi untuk
mengembalikan lumpur ke oxidation ditch sebagai return sludge.
Spesifikasi pompa adalah :
a. Screw pump
- Daya : 17 KW
- Frekuensi putaran : 50 Hz
- Kapasitas : 60 m3/menit
b. Submersible pump
- Daya : 3,75 KW
- Frekuensi putaran : 50 Hz
- Kapasitas : 50 m3/ menit
c. Spesifikasi bak distri busi adalah :
- Panjang : 7,2 m
- Lebar :4m
- Kedalaman :3m

6. Bak pengendap kedua (secondary clarifier)


Bak pengendap kedua ini berfungsi sebagai pengendap lumpur yang terkandung dalam
air limbah setelah melewati proses oksidasi sehingga air menjadi bersih untuk dibuang ke
sungai. Pada bak pengendap kedua ini dilengkapi dengan alat pengeruk lumpur atau scrapper.
Alat ini berbentuk jembatan (scrubber bridge) yang mampu membentang dari arah tengah bak
seperti jari jari lingkaran yang mampu mengintari bak.
Gambar II.5 bak pengendap II (secondary claryfier)

Alat ini biasanya digerakkan oleh motor listrik dengan daya 0,25 KW dan frekuensinya 50 Hz.
Gerakan pada alat ini sangat lambat dikarenakan untuk mencegah terjadinya gelombang pada
air saat pemutaran. Gelombang air akan dapat mengganggu pengendapan (sedimentasi).
Spesifikasi dari bak pengendap kedua ini antara lain ;
Bentuk : cicular

Jumlah : 2 buah

Diameter : 21 m

Kemiringan dasar (slope) : 1,24

Kedalaman tepi : 2,5 m

Kedalaman tengah :3m

: 0,7
Kecepatan pelimpahan air m3/jam

Bak pengendapan kedua ini memiliki dua bagian yaitu :


a. Bagian dasar yang memiliki lengkungan yang berfungsi sebagai tempat penampungan
lumpur serta sekaligus meninggikan tekanan air sehingga lumpur tersebut dapat
dialirkan secara alami ke bak distribusi dengan menerapkan hukum bejana yang
didasarkan akan perbedaan tekanan.
b. Bagian tengah bak dimana terdapat pipa dengan diameter 5 m dengan panjang 2,5 m
yang berfungsi seperti buffel berfungsi sebagai pencegah aliran putaran olahan yang
berasal dari bak pendistribusi yang masuk ke bak ini.

7. Bak pengering Lumpur (sludge drying bed)

Bak ini berbentuk persegi panjang yang memiliki dasar kemiringan. Bak ini dilengkapi pasir
kasar, pasir halus dan batuan sebagai penyaring. Pasir ini harus terus diisi saat pengerukan
limbah cair karena jumlahnya akan terus berkurang pada saat pengerukan. Pengeringan di bak
ini dilakukan dengan bantuan dari sinar matahari langsung.
Di IPAL PT. SIER (Persero) Surabaya terdapat 2 jenis bak pengering yaitu:
Bak pengering Primer yang berfungsi untuk mengeringkan lumpur yang berasal dari bak
pengendap pertama.
Bak pengering sekunder yaitu bak pengering yang digunakan untuk mengeringkan
lumpur yang berupa return sludge dari bak pembagi.
II.6 Ketentuan Baku Mutu Air Limbah

Tabel I.1 Baku Mutu Air Limbah


BAB III
ANALISA DATA

III.1 Karakteristik Limbah PT.SIER


III.1.1 Analisa Laboratorium
Tabel 1. Efisiensi Penyisihan IPAL

Posisi Ulangan pH TSS COD BOD


( mg/l ) ( mg/l ) ( mg/l )
272 253. 1 1 13. 9

Inlet 2 7 424 292.8 131.8


IPAL 3 4 240 752.7 338.7
Ratarata 6 312 432.87 194.8

1 7 176 79.58 35.99


2 7 256 60.74 27.89
3 7 88 64.89 29.20
Ratarata 7 173.33 68.403 31.027

Outlet IPAL
Efisiensi Removal (%) 44.444 84.198 85.279

III.1.2 Hasil Analisis Outlet IPAL PT SIER-PIER

Bulan pH TSS COD BOD


( )
34.8
Maret 2015 7.13 32.8 76.8
April 2015 7.39 15.67 52.8 23.416
Mei 2015 6.56 22 57.6 17.235
Juni 2015 6.83 28.83 72.92 20.476
Juli 2015 6.38 18.4 62.24 24.262
Agustus 2015 7.18 20.8 68 17.376
September 2015 6.65 16 70.24 16.309
Oktober 2015 6.61 12 75.2 17.255
November 2015 6.82 18.8 97.28 24.383
Desember 2015 6.62 27.6 99.2 32.396
Januari 2016 7.66 20.2 83.52 30.302
Febbruari 2016 6.35 11.4 62.08 14.174
Maret 2016 6.33 9.2 64 30.221
Rata -Rata 6.808 32.531 72.452 23.277
Baku Mutu 6-9 150 100 50

Sumber: Hasil pengujian laboratoriam BLHD Pasuruan


III.1.3 Analisa Secara Kimia dan Fisika
Analisa secara kimia dilakukan dengan penambahan Al2(SO4)3 atau tawas dengan
kecepatan pengadukan 100 rpm dan waktu pengadukan 10 menit.

Pada analisa ke- 1 dan 2 air limbah ditambah tawas Al2(SO4)3 sebanyak 5 ml pada setiap analisa:

Analisa pH pH setelah Kecepatan Waktu


penambahan pengaduk pengendapan Keterangan
ke- awal
tawas (rpm) (menit)
Larutan menjadi jernih,
terbentuk flok, sebagian masih
1 8 7 100 10
terbentuk banyak floating dan
bau masih menyengat.
Larutan menjadi lebih jernih,
terbentuk flok dan sebagian
2 7 7 100 13
terbentuk sedikit floating dan
bau masih menyengat.

Pada analisa ke- 3 air limbah ditambahkan NaOH 5 ml :

Analisa pH pH setelah Kecepatan Waktu


penambahan pengaduk pengendapan Keterangan
ke- awal
NaOH (rpm) (menit)
Larutan menjadi jernih,
terbentuk flok yang lebih besar
sehingga cepat mengendap dan
3 7 10 100 8 bau tidak menyengat seperti
awal.
Tetapi pada pH ini tidak sesuai
dengan baku mutu yaitu 6-9.
II.2 Pembahasan
Pada pengolahan air limbah PT. SIER yang telah kami lakukan menggunakan proses
kimia dengan menambahkan larutan tawas atau Al2(SO4)3 sebanyak 5 ml setiap satu kali
percobaan lalu diaduk dengan kecepatan 100 rpm selama 10 menit sesuai dengan ketentuan pada
proses koagulasi. Pada percobaan pertama setelah penambahan tawas sebanyak 5 ml pH air
limbah tetap 7 . Selain pH waktu yang dibutuhkan untuk mengendapkan air limbah tersebut
adalah 10 meint. Hasil dari percobaan pertama adalah air limbah yang menjadi jernih lalu
terbentuk flok dan floating tetapi bau masih menyengat.
Pada percobaan kedua ditambahkan larutan tawas sebanyak 5 ml pH air limbah turun
menjadi 7 dan waktu yang diperlukan untuk mengendapkan flok yang terbentuk bertambah
menjadi 13 menit. Hasil percobaan kedua tetap sama seperti percobaan pertama hanya flok yang
terbentuk bertambah banyak tetapi floating yang terbentuk berkurang.
Kemudian pada percobaan ketiga air limbah yang telah di olah menggunakan tawas
ditambahkan larutan NaOH sebanyak 5 ml dengan perlakuan pengadukan dan waktu
pengadukan yang sama. Hasilnya air limbah PT. SIER yang mempunyai pH 7 setelah
ditambahkan larutan NaOH naik lagi menjadi 10 waktu pengendapan yang dibutuhkan selama 8
menit. Selain itu larutan menjadi jernih, terbentuk flok yang lebih besar sehingga cepat
mengendap dan bau tidak menyengat seperti awal. Tetapi dalam pH ini tidak di izinkan karena
melebihi baku mutu yang telah di tentukan di dalam S.K Gubernur No.72 tahun 2017 pada baku
mutu pengolahan limbah kawasan indsutri yaitu pH mempunyai rentan 6,0 9,0.
Hasil pengolahan air limbah (effluent) yang akan dibuang ke badan air telah memenuhi
baku mutu yang ditetapkan untuk air limbah golongan II, di antaranya pH sebesar 6.808 dengan
baku mutu 6-9, TSS sebesar 32,531 mg/l dan dengan baku mutu sebesar 200 mg/l, COD sebesar
72 mg/l dengan baku mutu sebesar 100 mg/l dan BOD sebesar 23,277 mg/l dengan baku mutu
sebesar 50 mg/l.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

IV.1 Kesimpulan

1. Proses pengolahan air limbah di IPAL PT SIER adalah pengolahan air limbah yang berasal
dari berbagai perusahaan/industri (baik limbah domestik maupun limbah industri) yang
berada di kawasan industri Rungkut dan Berbek dengan menggunakan activated
sludge/lumpur aktif.
2. Air limbah yang sudah diolah memenuhi mutu kualitas limbah cair kedalam golongan II
(bidang perikanan dan peternakan) sesuai Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 72 Tahun
2013, sehingga aman dibuang ke sungai kelas III (badan air yang menampung air limbah)
yaitu Sungai Tambak Oso.
3. Kebutuhan air pada IPAL PT SIER hanya digunakan untuk air sanitasi saja yang diperoleh
dari PDAM dan kebutuhan listriknya digunakan untuk menjalankan segala aktivitas dalam
IPAL PT SIER.
4. Hasil pengolahan limbah PT.SIER di antaranya pH sebesar 6.808 dengan baku mutu 6-9,
TSS sebesar 32,531 mg/l dan dengan baku mutu sebesar 200 mg/l, COD sebesar 72 mg/l
dengan baku mutu sebesar 100 mg/l dan BOD sebesar 23,277 mg/l dengan baku mutu
sebesar 50 mg/l.
5. Hasil pengolahan limbah secara kimia dan fisika dengan proses koagulasi yaitu penambahan
tawas diperoleh bahwa limbah tersebut akan terbentuk flok dan endapan. Larutan menjadi
lebih jernih dan bau berkurang.
6. pH awal sebelum penambahan tawas adalah 8 dengan baku mutu sebesar 6,0 9,0 dalam hal
ini sudah sesuai dengan standar baku mutu, tetapi ketika ada penambahan tawas pH menjadi
7 dengan kondisi fisik larutan menjadi lebih jernih dan bau nya berkurang.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Air Limbah. http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/47


606/Chapter
Anonim. 2013. Baku Mutu Air Limbah Bagi Industri (Pergub Jatim).
http://blh.jatimprov.go.id/index .php