Anda di halaman 1dari 19

I.

Pendahuluan
Taenia yang disebut sebagai cacing pita, adalah suatu cacing parasit berbentuk
panjang dan bersegmen. Dari total 32 spesies Taenia yang diketahui, ada 2 jenis cacing
pita yang penting secara medis, yaituTaenia solium (cacing pita babi, pork tapeworm)
dan Taenia saginata(cacing pita sapi, cattle atau beef tapeworm).Pada manusia, bentuk
larva (cysticercus) Taenia solium dapat menimbulkan infeksi yang dikenal sebagai
sistiserkosis (cysticercosis). Apabila sistiserkosis mengenai jaringan otak maka disebut
sebagai neurosistiserkosis (NCC).1

Taeniasis merupakan penyakit yang endemik pada beberapa daerah tertentu,


terutama negara-negara yang sedang berkembang. Taeniasis karena T.solium dapat
menyebabkan neurosistiserkosis dengan berbagai komplikasi bahkan sampai kematian.
Taeniasis dinyatakan sebagai masalah kesehatan masyarakat yang penting di seluruh
dunia dan dianggap sebagai penyakit parasit yang harus dieradikasi. Wallin dan Kutzke
menganggap neurosistiserkosis sebagai infeksi yang semakin meningkat jumlahnya. 1,2
II. Epidemiologi
Taeniasis tersebar di seluruh dunia. Daerah endemik berat dilaporkan di Afrika
sebelah selatan, Gurun Sahara, bagian Timur Mediterania, dan sebagian Uni Sovyet.
Sedangkan India, Asia Selatan, Jepang, Filipina dan Amerika Latin tergolong daerah
endemik sedang. Prevalensi infeksi T.saginata lebih tinggi dibandingkan dengan
T.solium. Prevalensi terutama tinggi di daerah pedesaan. 1
Sekitar 50 juta pasien taeniasis dijumpai di seluruh dunia. Sekitar 50.000
pasien meninggal akibat neurosistiserkosis. Taeniasis akibat T.saginata dijumpai
dengan prevalensi tinggi (> 10%) di Asia Tengah, Timur Tengah, Afrika Tengah dan
Timur. Sedangkan daerah dengan prevalensi rendah (< 1%) adalah Asia Tenggara,
Eropa dan Amerika Tengah serta Selatan. T.solium endemik di Amerika Tengah dan
Selatan, Asia Tenggara, India, Filipina, Afrika, Eropa Timur dan Cina. 1,2
Di Indonesia infeksi T.saginatapertama kali dilaporkan di Malang oleh
Luchtman pada tahun 1867 dan infeksi T.solium ditemukan pertama kali di Kalimantan
Barat oleh Bonne pada tahun 1940. Di Indonesia, Taeniasis dilaporkan dari daerah Bali,
Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Irian Jaya, dan lokasi

1
transmigrasi asal Bali seperti Sulawesi Tengah dan Lampung. Bali merupakan suatu
daerah endemik dengan prevalensi 0.5% - 9.4%. Fakta melaporkan suatu daerah
hiperendemik di Bali dengan prevalensi 23%. Di Pulau Samosir prevalensi berkisar
sekitar 9.5% juga dijumpai pada daerah hiperendemik dengan prevalensi 21%.
Prevalensi taeniasis di Irian Jaya dilaporkan sekitar 8% dan di Timor sekitar 7%.1,7
Di daerah Bali spesies T.saginata dijumpai lebih sering dibandingkan dengan
T.solium. Hal yang sama juga dijumpai di Pulau Samosir. Mengingat bahwa sebagian
besar penduduk tidak mengonsumsi daging sapi, diduga sebagian besar cacing pita
tersebut digolongkan sebagai Taenia asiatica. Di Irian Jaya spesies T.solium lebih
dominan dibandingkan dengan T.saginata.1,7
Menurut laporan Abdussalam dari WHO, terdapat peningkatan insidens
taeniasis setiap tahun di seluruh dunia. Faktor-faktor epidemiologi yang memudahkan
penyebaran penyakit ini yaitu : adanya sumber infeksi yaitu pasien taeniasis, cara
pembuangan tinja sembarangan sehingga terjadi kontaminasi tanah atau tumbuh-
tumbuhan oleh telur taenia, adanya binatang perantara yang dipelihara di tempat yang
terkontaminasi, pengawasan pemotongan daging yang tidak baik, kebiasaan makan
daging yang tidak masak sempurna.4,13
III. Etiopatogenesis1,3
Cacing pita dewasa (Taenia) termasuk dalam family Taeniidae, subkelas
Cestoda. Cacing ini terdiri dari bagian kepala yang disebut skoleks (scolex), diikuti oleh
bagian leher yang tanpa ruas dan bagian-bagian ruas atau proglotid. Pada ujung
proglotid terdapat proglotid gravid yang penuh dengan telur. Keseluruhan cacing dari
skoleks sampai proglotid gravid disebut sebagai strobila.
Taenia saginata mempunyai panjang 4-10 meter dengan 1000-2000 proglotid.
Skoleks berukuran 1-2 mm dengan 4 batil isap (sucker) tanpa rostellum atau alat
pengait. Proglotid gravid mempunyai uterus dengan percabangan lateral 15-30 buah.
Taenia solium mempunyai panjang 4-10 meter dengan 1000-2000 proglotid.
Skoleks mempunyai 4 batil isap dengan 25-30 alat pengait. Uterus gravid memiliki
percabangan lateral 7-13 buah.
Taenia asiatica mempunyai gambaran morfologi yang sangat mirip dengan
T.saginata, tetapi memiliki alat isap yang rudimeter dengan rostelum telanjang.

2
Gambar 1. Taenia solium dan Taenia saginata
Proglotid gravid T.saginata dapat keluar secara pasif bersama tinja pada waktu
defekasi, tetapi dapat juga keluar secara aktif, bergerak pada permukaan kulit dan
kadang-kadang dapat mencapai aksilla. Sedangkan proglotid T.solium hanya keluar
secara pasif. Telur T.saginata dan T.solium tidak dapat dibedakan secara morfologi.
Telur ini berbentuk bulat dengan ukuran 30-40 mikron, berwarna kuning tengguli
dengan dinding telur berstruktur radier dan terdapat embryo hexacanth dengan 6 alat
pengait di dalamnya.2
Hospes definitive taenia hanya manusia, sedangkan hospes (binatang)
perantara alami Taenia solium dan Taenia saginata ialah babi dan sapi. Adapun hospes
perantara alami T.asiatica adalah babi. Cacing dewasa hidup pada bagian proksimal
jejunum. Proglotid gravid terlepas dari strobila, keluar bersama tinja, kemudian pecah
dan mengeluarkan telur. Telur dapat tahan beberapa minggu di luar tubuh, jika termakan
oleh sapi atau babi ; akibat pengaruh asam lambung, getah pancreas dan empedu, telur
akan pecah dan mengeluarkan embryo hexacanth yang mampu menembus dinding usus.

3
Embrio ini melalui peredaran darah menuju jaringan otot dan subkutan. Dalam waktu
12-15 minggu menjadi kista, yang pada sapi disebut cycticercus bovis dan pada babi
disebut cycticercus cellulosae. Jika daging yang mengandung sistiserkus termakan
manusia, larva akan keluar dari kista dan tumbuh menjadi cacing dewasa dalam jejunum
dalam waktu 5-12 minggu. Cacing pita dewasa dapat tahan hidup sampai 20 tahun
dalam usus. 1,5,15

Tabel 1. Gambaran Karakteristik T.solium, T.saginata, dan T.asiatica 1

Karakteristik T. solium T. asiatica T. saginata


Sistiserkus
Hospes perantara Babi, manusia, Babi, sapi, Sapi
anjing kambing, kera
Lokalisasi Otot, otak, Visera terutama Otot, visera
kulit, mata, hati (alat dalam)
lidah
Ukuran (mm) Skoleks 5-8 x 3-6 2x2 rostelum 7-10 x 4-6 tak ada
Rostelum dengan pengait rostelum dan
dengan pengait rudimenter pengait
Cacing dewasa Rostelum Rostelum tanpa Tanpa rostelum dan
Skoleks dengan pengait pengait pengait
Cabang uterus pada 7-12 terutama 16-21 tunggal dan 18-32 tunggal dan
proglotid gravid dalam grup aktif aktif
Keluarnya proglotid dan pasif

4
Gambar 2. Siklus Hidup Taenia4
Sistiserkus dapat ditemukan hampir di jaringan mana saja, namun setiap spesies
memiliki predileksi jaringan tertentu. Di babi, sistiserkus T.solium ditemukan paling
banyak di otot skeletal, jantung, hati dan otak. Pada manusia, sspesies ini paling banyak
ditemukan di jaringan subkutan, otot skeletal, mata dan otak. Penyakit serius hampir
selalu disebabkan oleh sistiserkus yang ada dalam sistem saraf pusat (neurosistiserkus0
atau di jantung. Sistiserkus T.asiatica biasanya bisa didapatkan di jaringan hati. 5

Gambar 3. Patogenesis Sistiserkosis

5
IV. Gejala Klinik Taeniasis sp
a. Gejala Klinik Taeniasis solium
Kait-kait pada skoleks Taenia solium umunya tidak banyak
menimbulkan gangguan pada dinding usus tempatnya melekat.6
Penderita taeniasis umumnya asimptomatik atau mempunyai keluhan
yang umumnya ringan, berupa rasa tidak enak di perut, gangguan pencernaan,
diare, konstipasi, sakit kepala, anemia , nyeri abdomen, kehilangan berat badan,
malaise, anoreksia, peningkatan nafsu makan, rasa sakit ketika lapar (hunger
pain), indigesti kronik, dan hiperestesia. Sangat jarang terjadi komplikasi
peritonitis akibat kait yang menembus dinding usus. Sering dijumpai kalsifikasi
pada sistiserkus namun tidak menimbulkan gejala, akan tetapi sewaktu-waktu
terdapat pseudohipertrofi otot, disertai gejala miositis, demam tinggi, dan
eosinofilia 6,7,8,9,11
Gejala klinik yang berhubungan dengan abdomen lebih umum terjadi
pada anak-anak dan umumnya akan berkurang dengan mengkonsumsi sedikit
makanan. Pada anak-anak, juga dapat terjadi muntah, diare, demam, kehilangan
berat badan, dan mudah marah. Gejala lainnya yang pernah dilaporkan adalah
insomnia, malaise, dan kegugupan.9
Adapun gejala yang muncul disebabkan oleh karena adanya iritasi pada
tempat perlekatan skoleks serta sisa metabolisme cacing yang terabsorpsi yang
menyebabkan gejala sistemik dan intoksikasi ringan sampai berat.11
b. Gejala Klinik Taeniasis saginata
Gambaran klinik dan diagnosa Taeniasis saginata pada usus hampir
serupa dengan infeksi Taeniasis solium.12 Pada taeniasis saginata terjadi
inflamasi sub-akut pada mukosa usus.11
Proglotid dari Taenia saginata dapat bermigrasi ke berbagai organ seperti
apendiks, uterus, duktus biliaris, dan nasofaring sehingga menyebabkan
appendisitis, kholangitis, kolesistitis dan sindrom lainnya. Pada kasus yang
langka, dapat ditemukan obstruksi usus atau perforasi.14,11
Kelainan patologis yang tampak pada penderita umumnya tidak jelas.
Namun dapat timbul gejala seperti rasa tidak enak pada perut, mual, muntah, dan

6
diare. Gejala lainnya berupa ileus yang dapat ditimbulkan oleh adanya obstruksi
usus karena banyaknya jumlah cacing.15
c. Gejala Klinik Sistiserkosis
Sistiserkus pada kebanyakan organ biasanya tidak atau sedikit
menimbulkan reaksi jaringan.10 Suatu penelitian post mortem menyebutkan
bahwa 80% dari seluruh kasus sistiserkosis asimptomatik.9 Akan tetapi, kista
yang telah mati pada sistem saraf pusat dapat menimbulkan respon jaringan
yang berat. Infeksi pada otak (sistiserkosis serebri) dapat menimbulkan gejala
yang berat, akibat dari efek massa dan inflamasi yang disebabkan oleh
degenerasi sistiserkus dan pelepasan antigen.10 Sistiserkus dapat juga
menginfeksi sumsum tulang belakang, otot, jaringan subkutan, dan mata.10
Perubahan yang terjadi berhubungan dengan stadium peradangan. Dalam
stadium koloidal, kista terlihat sama dengan kista koloid dengan materi gelatin
dalam cairan kista dan degenerasi hialin dari larva. Dalam stadium granular-
nodular, kista mulai berkontraksi dan dindingnya digantikan dengan nodul fokal
limfoid serta nekrosis. Akhirnya, pada stadium kalsifikasi nodular jaringan
granulasi digantikan oleh struktur kolagen dan kalsifikasi.17
Gejala timbul tergantung dari jumlah dan lokasi larva.9
Neurosistiserkosis merupakan bentuk sistiserkosis yang menyerang sistem saraf
pusat dan paling membahayakan. Pada kasus tertentu, gejala yang timbul
mungkin timbul sangat lambat, tetapi progresif. Namun, dapat juga gejala timbul
secara tiba-tiba akibat obstruksi cairan serebrospinal akibat adanya sistiserkus
yang melayang-layang di dalam cairan. Gejala yang paling sering adalah sakit
kepala kronik dan kejang atau epilepsi (70-90%). Gejala lainnya yang mungkin
timbul adalah peningkatan tekanan intrakranial, hidrosefalus, tanda neurologis
fokal, perubahan status mental,mual, muntah, vertigo, ataxia, bingung, gangguan
perilaku, dan demensia progresif, dan sakit kepala kronik.9,10,21Sedangkan
apabila neurosistiserkosis menyerang sumsum tulang belakang dapat
menyebabkan kompresi, transverse myelitis, dan meningitis. Namun kasus ini
jarang. 9

7
Adapun bentuk manifestasi klinis dari sistiserkosis terbagi atas 4:17
a. Infeksi inaktif, ditandai dengan penemuan residu infeksi aktif sebelumnya
(kalsifikasi intraparenkimal). Gejala yang timbul: sakit kepala, kejang,
psikosis.
b. Infeksi aktif, terdiri atas neurosistiserkosis parenkim aktif dan ensefalitis
sistiserkal.
c. Neurosistiserkosis ekstraparenkimal yang memiliki bentuk neurosistiserkosis
ventrikular.
d. Bentuk lain: sistiserkosis spinal, sistiserkosis oftalmika, penyakit
serebrovaskular, dan lain-lain.
Pada mata (sistiserkosis oftalmika), sistiserkus paling sering ditemukan
pada vitreous humor, rongga subretina dan konjungtiva. Gejala yang umum
adalah kaburnya penglihatan atau berkurangnya visus, rasa sakit yang berat,
sampai buta. Sistiserkus di otot biasanya asimptomatik. Namun, dalam jumlah
banyak dapat menimbulkan pseudohipertrofi, miositis, nyeri otot, kram, dan
kelelahan. Larva di jantung menimbulkan gangguan konduksi dan miokarditis.9
Pada kulit, sistiserkus mungkin dapat terlihat sebagai nodul subkutan.
Larva juga dapat menyebabkan vaskulitis atau obstruksi arteri kecil yang
menimbulkan stroke. Akan tetapi, hal ini jarang terjadi.9
V. Penegakkan Diagnosis
a. Diagnosis Taeniasis sp
Diagnosa taeniasis dapat ditegakkan dengan 2 (dua) cara yaitu :11
a) Menanyakan riwayat penyakit (anamnesis).
Didalam anamnesis perlu ditanyakan antara lain apakah penderita pernah
mengeluarkan proglotid(segmen) dari cacing pita baik pada waktu buang air besar
maupun secara spontan. bila memungkinkansambil memperhatikan contoh potongan
cacing yang diawetkan dalam botol transparan.11
b) Pemeriksaan tinja
Tinja yang diperiksa adalah tinja sewaktu berasal dari defekasi spontan. Sebaiknya
diperiksa dalamkeadaan segar. Bila tidak memungkinkan untuk diperiksa segera , tinja
tersebut diberi formalin 5 10 %atau spiritus sebagai pengawet. Wadah pengiriman

8
tinja terbuat dari kaca atau bahan lain yang tidakdapat ditembus seperti plastik Kalau
konsistensi padat dos karton berlapiskan parafin juga boleh dipakai.Pemeriksaan tinja
secara mikroskopis dilakukan antara lain dengan metode langsung (secara natif),
bahanpengencer yang dipakai NaCL 0,9 % atau lugol. Dari satu spesimen tinja dapat
digunakan menjadi 4sediaan.Bilamana ditemukan telur cacing Taenia SP, maka
pemeriksaan menunjukkan hasil positif taeniasisPada pemeriksaan tinja secara
makroskopis dapat juga ditemukan proglotid jika keluar.Pemeriksaan dengan metode
langsung ini kurang sensitif dan speifik , terutama telur yang tidak selalu adadalam tinja
dan secara morfologi sulit diidentifikasi metode pemeriksaan lain yang lebih sensitif
dan spesitikmisalnya teknis sedimentasi eter, anal swab, dan coproantigen (paling
sensitif dan spesifik)23
Dinyatakan penderitataeniasis, apabila ditemukan telur cacing Taenia sp pada
pemeriksaan tinjasecara mikroskapis dan/atau adanya riwayat mengeluarkan proglotid
atau ditemukan proglotid padapemeriksaan tinja secara makroskopis dengan atau tanpa
disertai gejala klinis (tabel 2)23
Tabel 2 : Penegakkan diagnosis taeniasis berdasarkan anamnesis dan pemeriksan tinja

- DiagnosisTaeniasis solium
Diagnosis pasti Taeniasis solium ditegakkan jika ditemukan cacing
dewasa (segmen atau skoleks yang khas bentuknya) pada tinja penderita atau
pada pemeriksaan daerah perianal. Namun, telur dan proglotid tidak akan
ditemukan pada feses selama 2-3 bulan setelah cacing dewasa mencapai bagian
atas jejunum. Pemeriksaan dilakukan dengan memeriksa 3 sampel yang
disarankan untuk dikumpulkan pada hari yang berbeda.Telur cacing yang
ditemukan tidak dapat dibedakan dengan Echinococcus, penentuan mungkin

9
dapat dilakukan apabila ditemukan proglotid yang matang atau gravid dengan
menghitung percabangan uterus.7,9,11,23
Cara lain untuk mendiagnosa taeniasis adalah dengan menemukan
proglotid atau telur dalam feses. Telur juga dapat ditemukan dengan
menggunakan pita adhesif yang ditempelkan pada daerah sekitar anus.9
Tabel 3. Perbedaan Morfologik T. saginata dan T. solium1

Adapun pemeriksaan coproantigen dan molekuler yang mempunyai


sensitivitas yang lebih tinggi daripada pemeriksaan feses. Namun, pemeriksaan
ini belum tersedia pada luar laboratorium penelitian. Metode serologis juga
hanya tersedia pada lingkungan penelitian. Dengan metode serologis seperti
ELISA dan PCR, dapat dibedakan spesies dari Taenia.9
- DiagnosisTaeniasis saginata
Diagnosa Taenia saginata dapat menggunakan pita perekat (tes Graham).
Untuk Taenia saginata test ini sangat sensitif, namun tidak pada Taenia solium.
Pemeriksaan diagnostik terbaik untuk taeniasis intestinal adalah deteksi
koproantigen ELISA yang dapat mendeteksi molekul spesifik dari taenia pada
sampel feses yang menunjukkan adanya infeksi cacing pita. Sensitivitas dari
ELISA sekitar 95% dan efektivitasnya sekitar 99%.13,25
- Diagnosis Sistiserkosis
Dinyatakan tersangka sistiserkosisapabila pada : 11
a) Anamnesis :
1. Berasal dari /berdomisili didaerah endemis taeniasis / Sistiserkosis
2. Gejala taeniasis ( )
3. Riwayat mengeluarkan proglotid ( )

10
4. Benjolan ( nodul subkutan ) pada salah satu atau lebih bagian tubuh ( + )
5. Gejala pada mata dan gejala sistiserkosis lainnya ( )
6. Riwayat / gejala epilepsi ( - )
7. Gejala peninggian tekanan intra kranial ( - )
8. Gejala neurologis lainnya (- )
b) Pemeriksaan Fisik :
1. Teraba benjolan /nodul sub kutan atau intra muskular satu lebih
2. Kelainan mata ( oscular cysticercosis ) dan kelainan lainnya yang disebabkan oleh
sistiserkosis ( )
3. Kelainan neurologis ( - )
c) Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan tinja secara makroskopis : Proglotid ( )
2. Pemeriksaan tinja secara mikroskopis : telur cacing taenia sp ( )
3. Pemeriksaan serologis : sistiserkosis ( + )
4. Pemeriksaan biopsi pada nodul subkutan gambaran menunjukkan patologi anatomi
yang khas untuksistiserkosis (+).
Paling sedikit gejala klinis yang harus ditemukan pada tersangka sistiserkosis ialah
teraba benjolan/nodulsubktan atau intra muskular baik satu atau lebih pada orang yang
berasal dari/berdomisili di daerah endemistaeniasis/sistiserkosis.Dinyatakan penderita
sistiserkosis apabila pada tersangka sistiserkosis sudah dipastikan diagnosisnya
denganpemeriksaan serologis danatau pemeriksaan biopsi.11
Pemeriksaan serologis dilakukan dengan metode ELISA (Enzyme Linked Immuno
Sorbent Assay) dan atauImmunoblot Spesimen yang diperiksa berupa serum (darah
vena yang diambil kurang lebih 5ml). Tempatpemeriksaan di Laboratorium yang telah
ditentukan. Pengiriman spesimen serum menggunakan tabung / botolsteril dan es batu
(suhu 1 C).Pada tersangka sistiserkosis yang menunjukkan respon positif terhadap
obat sistiserkosis, membantu menegakkandiagnosis (dapat dianggap sebagai penderita
sistiserkosis).18,19
- DiagnosisNeurosistiserkosis
Dinyatakan tersangka neurosistusekosis apabila :11
a) Anamnesis

11
1) Berasal dari / berdomisili didaerah endemis
2) Gejala taeniasis ()
3) Riwayat mengeluarkan proglotid ()
4) Gejala pada mata dan gejala sistiserkosis lainnya ()
5) Riwayat /gejala epilepsi (+), dengan atau tanpa disertai sakit kepala yang
berlangsung lebih dari dua minggu,serta mual dan / atau muntah pada orang yang
berasal dari / berdomisili di daerah endemis.
6) Gejala peninggian tekanan intra kranial ()
7) Gejala neurologis lainnya ()
b) Pemeriksaan fisik
1) Teraba benjolan / nodul sub kutan atau intra muskular satu atau lebih
2) Kelainan mata (ocular cysticercosis) dan kelainan lainnya yang disebabkan
cysticercosis ()
3) Kelainan neurologis ()
c) Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan secara tinja makroskopis : proglotid (+)
2) Pemeriksaan tinja secara mikroskopis : telur cacing Taenia sp (+)
3) Pemeriksaan darah tepi : Hb , leukosit (leukositosis), Eritrosit, hitung jenis
(Eosinofilia), laju endapdarah / LED (meningkat) dan gula darah
4) Punksi lumbal : sel (eosinofil meningkat 70 %), Protein (meningkat 100 %)
glukosa (menurun 70 %dibandingkan dengan glukosa darah) NaCI
5) Pemeriksaan serologi (ELISa dan atau Immunoblot) : sistiserkosis (+) Spesimen
yang diperiksa berupacairan otak (LCS) kurang lebih sebanyak 2-3 cc. Tempat
pemeriksaan di laboratorium yang telahditentukan. Pengiriman spesimen cairan
otak dengan tabung/botol steril dan es batu (suhu 1 C).9
Tes serologi kebanyakan menggunakan antigen yang tidak terfraksi yang
menyebabkan positif dan negatif palsu. Hal ini diperkirakan karena aviditas kista
dengan immunoglobulin yang menyebabkan positif palsu.16 Pada manusia ada
beberapa jenis pemeriksaan serologis termasuk enzyme-linked
immunoelectrotransfer blot (EITB), ELISA, fiksasi komplemen, dan
hemaglutinasi.Antibodi mungkin ditemukan pada serum atau cairan

12
serebrospinal.9 Namun, immunoblot assay CDC, yang menggunakan serum
spesimen, sangat spesifik dan lebih sensitif dibandingkan pemeriksaan enzim
immunoassay lainnya (umumnya ketika terdapat lebih dari 2 lesi sistem saraf
pusat, sensitivitas lebih rendah daripada hanya ada satu kista).10 Dekade terakhir
pemeriksaan standar dengan metode serologis untuk diagnosa sistiserkosis adalah
immunoblot yang dibantu dengan pemeriksaan spesifik ELISA.18,19
Pemeriksaan EITB telah terbukti spesifik untuk infeksi T.solium. EITB sensitif
pada kista parenkim aktif multipel atau neurosistiserkosis ekstraparenkim.
Meskipun demikian sensitivitasnya rendah pada pasien dengan kista parenkimal
atau kalsifikasi sehingga pada infeksi inaktif pemeriksaan serologi seringkali
negatif. Pemeriksaan serologi berperan penting di daerah yang belum memiliki
fasilitas CT dan MRI.16 Pemeriksaan EITB menunjukkan spesifisitas dan
sensitivitas yang masing-masing bernilai mendekati 100% dan 98% apabila
pemeriksaan dilakukan pada neurosistiserkosis dengan 2 kista atau lebih yang
masih hidup.13 Pemeriksaan ELISA dengan menggunakan antigen rekombinan
memiliki sensitivitas 90% dan spesifisitas 100%. Namun, kelemahan ELISA
adalah tidak dapat mendeteksi kista yang telah berdegenerasi.13
6) Bila memungkinkan dilakukan pemeriksaan foto kepala (untuk kista yang sudah
mengalami kalsifikasi)dan lebih baik lagi pemeriksaan CT Scan (Computerized
tomography scanning) atau MRI (magnetic resonance imaging). Pencitraan
merupakan metode utama untuk neurosistiserkosis.17 Untuk mendiagnosa
neurosistiserkosis dan mengevaluasi gejala neurologis dapat dipakai CT scan dan
MRI.9 CT scan adalah metode terbaik untuk mendeteksi kalsifikasi yang
merupakan infeksi inaktif. CT lebih unggul daripada MRI, sebaliknya MRI lebih
sensitif untuk menemukan kista di parenkim dan ekstraparenkim otak, termasuk
dalam mendeteksi reaksi peradangan.17 Pada hasil dari pemeriksaan CT scan atau
MRI, mungkin dijumpai nodul padat, kista, kista yang telah terkalsifikasi, lesi
cincin, atau hidrosefalus.10
Pada pemeriksaan radiologis, apabila dijumpai kista yang hidup, dinding kista
tidak terlihat dan cairan sistiserkus memiliki kepadatan yang sama dengan cairan
serebrospinal. Ketika parasit mulai kehilangan kemampuan untuk memodulasi

13
respon imun, pada awalnya, akan terlihat peningkatan kontras sekitar kista. Pada
akhirnya, akan terlihat gambaran peningkatan kontras seperti cincin atau nodul.20
Kista yang tidak aktif (terkalsifikasi) pada berbagai bagian tubuh, termasuk
otak dan otot, mungkin dapat terlihat pada foto X-ray. Biopsi dapat dilakukan
untuk nodul subkutan dan larva di mata dapat ditemukan pada pemeriksaan mata.
Spesies dari larva dapat diidentifikasi setelah operasi.9
Untuk menyatakan seseorang menderita sistiserkosis diperlukan
beberapa kriteria, antara lain : 17
Kriteria Mayor:
Penemuan berdasarkan pemeriksaan pencitraan, di mana ditemukan
sistiserkus berukuran 0,52 cm.
Ditemukannya antibodi spesifik antisistiserkal menggunakan EITB.
Kriteria Minor:
Kejang
Peningkatan tekanan intrakranial
Kalsifikasi intraserebral pungtata
Nodul subkutan atau hilangnya lesi setelah pengobatan dengan anti parasit
Diagnosis dapat ditegakkan apabila dijumpai dua kriteria mayor, atau
satu kriteria mayor dan dua kriteria minor, ditambah riwayat pajanan.16
VI. Penatalaksanaan
Berbagai macam obat dapat dipakai sebagai terapi taeniasis. Obat pilihan untuk
infeksi cacing pita saat ini ialah prazikuantel dan niklosamid. 1
a. Prazikuantel (Biltricide, Cesol)
Prazikuantel diberikan sebagai dosis tunggal 10mg/kgBB dosis tunggal, dua jam
kemudian dapat diberikan laksans (magnesium sulfat).1
b. Niclosamide (Nicloside, Yamesan)
Dosis niclosamid adalah 2 gram (4 tablet @ 500mg) sekali makan atau diberikan
1 gram dengan jarak 1 jam, pagi pagi pada waktu perut kosong. Pada infeksi T. solium
dianjurkan pemberian laksans untuk mencegah autoinfeksi yang secara teoritis dapat
menimbulkan sistiserkosis. 1

14
Setelah 3 bulan tinja diperiksakembali untuk mencari adanya telur cacing atau
adanya pengeluaran proglotid. Jika tidak ditemukan telur atau proglotid berarti terjadi
kesembuhan sempurna.1
Pengobatan untuk sisteserkosisterdiri dari obat antiparasit :1
1. Praziquantel dengan dosis 50 mg/kg BB/hari, dosis tunggal /dibagi 3 dosis per
oral selama 15 hari, atau
2. Albendazole 15 mg/kg BB/hari, dosis tunggal dibagi 3 dosis per oral selama 7
hari. Untuk pengobatan dengan praziquantel maupun albendazole,reaksi dari
tubuh dapat dikurangi dengan memberikan kortikosteroid (prednison 1mg/kg
BB/hari dosis tunggal/dibagi 3 dosis atau dexamethasone dengan dosis yang
setara dengan prednison). Pemberian praziquantel maupun albendasole harus
dibawah pengawasan petugas kesehatan atau dilakukan dirumah sakit.
Pengobatan untuk neurosisteserkosis terdiri dari obat antiparasit, pembedahan
dan obat-obat simtomatik. Obat antiparasit yang efektif adalah prazikuental dan
albendazol. Pengobatan pilihan adalah dengan pemberian1;
1. Prazikuental 50 mg/kgBB/hari selama 14 hari. Untuk mengurangi akibat
reaksi radang karena kematian larva biasanya diberikan prdnison 30 mg/hari,
1-2 hari sebelum pemberian prazikuantel sampai 3-4 hari setelah pemberian
prazikuantel.
2. Albendazol cukup efektif untuk pengobatan neurosisteserkosis dengan dosis
15 mg/kgBB/hari selama 8-15 hari.Albendazool memmiliki daya penetrasi ke
otak lebih besar, kadarnya tidak dipengaruhi oleh steroid dan harganya lebih
murah. Pada kasus-kasus tertentu dapat dipertimbangkan terapi pembedahan.1
VII. Pencegahan 7,13,20
Untuk mencegah terjadinya penularan taeniasis, dilakukan tindakan-tindakan
sebagai berikut5:
1. Mengobati penderita, untuk mengurangi sumber infeksi, dan mencegah
terjadinya autoinfeksi dengan larva cacing

2. Peningkatan kinerja pengawasan daging yang dijual, agar bebas larva cacing
(sistiserkus)

15
3. Memasak daging sampai di atas 50oC selama 30 menit, untuk membunuh kista
cacing, membekukan daging7

4. Menjaga kebersihan lingkungan dan tidak memberikan tinja manusia sebagai


makanan babi, tidak membuang tinja di sembarang tempat

5. Pada daerah endemik, sebaiknya tidak memakan buah dan sayur yang tidak
dimasak dan yang tidak dapat dikupas
6 Hanya meminum air yang telah dikemas dalam botol, air yang disaring, atau air
yang dididihkan selama 1 menit
7. Dapat dilakukan pemberian pendidikan mengenai kesehatan
8. Pada babi, dapat dilakukan pemberian oxfendazole oral (30 mg/kg BB). Bila
perlu, vaksinasi dengan TSOL18, setelah dilakukan eliminasi parasit dengan
kemoterapi

VIII. Komplikasi
Taeniasis dapat menyebabkan komplikasi yang paling sering yaitu
neurosistiserkosis. Menurut laporan WHO diperkirakan sebanyak 50 juta penduduk di
dunia mengalami neurosistiserkosis, dan sebanyak 50.000 orang meninggal dunia.
Neurosistiserkosis dapat menyebabkan kejang (paling sering) terjadi sebanyak 50%,
nyeri kepala hebat, stroke (menyebabkan defisit neurologis), gangguan kejiwaan hingga
kematian.Komplikasi lainnya yaitu ileus obstruksi, kerusakan pada mata, otot (mialgia)
dan juga bisa terjadi sindrom loeffler.25
IX. Prognosis
Infeksi T. saginata mempunyai prognosis baik, jarang sekali menimbulkan
komplikasi. Infeksi oleh T. solium dapat memberi komplikasi serius terutama
sistiserkosis pada susunan saraf pusat yang dapat memberi prognosis kurang
baik.Neurosisteserkosis tanpa pengobatan memberikan angka kematian sekitar 50%.
Pengobatan memberi hasil efektif pada 70-80% kasus dan menurunkan mortalitas
menjadi 6-16%.1
X. Kesimpulan

Taeniasis merupakan masalah di masyarakat yang harus diatasi,terjadi pada


manusiadengan higiene dan pola hidup yang tidak sehat. Gejala yang dapat timbul yaitu

16
anemia, mual, muntah, nyeri perut, konstipasi, diare hingga berak berdarah, batuk, lesu,
dan juga pruritus. Gejala paling berat hingga menyebabkan morbiditas yang berat ketika
pasien telah mengalami neurosistiserkosis, atau anemia berat.Diagnosis ditegakkan
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan ditemukannya telur, larva atau cacing
dalam preparat tinja, baik preparat langsung ataupun kultur. Pengobatan dilakukan
dengan antihelmintik yang tepat. Pencegahandengan memperbaiki dan meningkatkan
higiene pribadi masyarakat sehingga siklus hidup cacing ini dapat terhambat atau
terputus. Prognosis pada taeniasis, apabila infeksi yang terjadi ringan dan tanpa
komplikasi maka prognosanya cenderung baik.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Setiati, Siti et.al. 2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi Keenam. Interna
Publishing : Jakarta.
2. Nanjappa, Sowmya. 2015. Taenia Infection.
http://emedicine.medscape.com/article/999727-overview#a4
3. Wandra, Toni et.al. 2003. Taenia solium Cysticercosis, Irian Jaya, Indonesia. Emerging
Infectious Disease Jul ; vol. 9(No. 7) 884-8
4. Centres for Disease Control and Prevention. 2013. Taeniasis.
http://www.cdc.gov/dpdx/taeniasis/
5. The Centre For Food Security & Public Health. 2005. Taenia Infection. Iowa State
University.
6. Handojo, I., dan Margono, S.S., 2008. Taenia saginata. Dalam: Sutanto I., Ismid, I.S.,
Sjarifuddin, P.K., dan Sungkar, S., ed. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran ed 4. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 79-82.
7. Soedarto, 2008. Parasitologi Klinik. Surabaya: Airlangga University Press, 19-26.
8. Tolan, R.W., 2011. Taenia Infection. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/999727-overview#a0104.
9. Center for Food Security and Public Health (CFSPH), 2005. Taenia Infections.
Available from: http://www.ivis.org/advances/Disease_Factsheets/taenia.pdf
10. Pearson, R.D., 2009a. Taeniasis solium and Cysticercosis (Pork Tapeworm Infection).
Available from: http://www.merckmanuals.com/professional/sec14/ch184/ch184j.html
11. Ideham, B., dan Pusarawati, S., 2007. Helmintologi Kedokteran. Surabaya: Airlangga
University Press, 77-81, 89-99.
12. Pearson, R.D., 2009b. Taeniasis saginata (Beef Tapeworm Infection). Available from:
http://www.merckmanuals.com/professional/sec14/ch184/ch184i.html
13. World Health Organization (WHO), 2009. Report of the WHO Expert Consultation on
Foodborne Trematode Infections & Taeniasis/Cysticercosis. Availablefrom:
http://www.who.int/neglected_diseases/preventive_chemotherapy/WHO_HTM_NTD_P
CT_2011.3.pdf
14. Center for Food Security and Public Health (CFSPH), 2005. Taenia Infections.
Available from: http://www.ivis.org/advances/Disease_Factsheets/taenia.pdf

18
15. Handojo, I., dan Margono, S.S., 2008a. Taenia saginata. Dalam: Sutanto I., Ismid, I.S.,
Sjarifuddin, P.K., dan Sungkar, S., ed. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran ed 4. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 79-82
16. White, C.A., 1997. Neurocysticercosis: A Major Cause of Neurological Disease
Worldwide. Clin Infect Dis 24: 101-115
17. Wiria, A.E., 2008. Sistiserkosis. Dalam: Sutanto I., Ismid, I.S., Sjarifuddin, P.K., dan
Sungkar, S., ed. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran ed 4. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 86-89
18. Margono, S.S., Ito, A., Sato, M.O., Okamoto, M., Subahar, R., Yamasaki, H., et al.,
2003. Taenia solium Taeniasis/Cysticercosis in Papua, Indonesia in 2001: Detection of
Human Worm Carriers. Journal of Helminthology 77: 39-42 [Abstract].
19. Garcia, M.D.L., Torres, M., Correa, D., Flisser, A., Sosalechuga, A., Velasco, O., et al.,
1999. Prevalence and Risk of Cysticercosis and Taeniasis in An Urban Population of
Soldiers and Their Relatives. Am J Trop Med Hyg 61 (3): 386389.
20. Garcia, H.H., Evans, C.A.W., Nash, T.E., Takayanagui, O.M., White, A.C., Botero, D.,
et al., 2002. Current Consensus Guidelines for Treatment of Neurocysticercosis.
American Society for Microbiology 15 (4): 747-756.
21. Tenzer, R., 2009. Cysticercosis. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/781845-overview
22. Del Brutto O.H., 2005. Neurocysticercosis. Semin Neurol 25(3): 243-251
23. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), 2010. Taeniasis: Resources for
Health Professionals. Available from:
http://www.cdc.gov/parasites/taeniasis/health_professionals/index.html
24. Garca, H.H., Gonzalez, A.E., Evans, C.E.A., and Gilman R.H., 2003. Taenia solium
Cysticercosis. Lancet 362: 547-556.
25. Zafar, M., 2017. Neurocysticercosis. Available from:
https://emedicine.medscape.com/article/1168656-overview#a1

19