Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

TYPOID FEVER

A. DEFINISI
Demam typoid adalah infeksi yang disebabkan oleh salmonella thypi
atau salmonella parathyphi A, B dan C. penyakit ini mempunyai tanda yang
khas berupa penjalaran yang cepat berlangsung kurang lebih 3 minggu di
sertai demam, taksosnia, pembesaran limpa dan erupsi kulit (Soedarto, 2005).
Demam typoid adalah suatu penyakit sistemik akut yang berlangsung
3-5 minggu, disebabkan oleh salmonella thypoi yang ditandai demam tingi,
sakit kepala lemah, batuk, spienomegali, gangguan kesadaran, distensi
abdomen, feses yang menyerupai sop katang dan leukopeni.(Darmawati,
1990)

B. ETIOLOGI
Demam tipoid dan demam paratipoid disebabkan oleh salmonella typhi,
salmonella paratyphi A, salmonella paratyphi B, salmonella paratyphi C.
(www.medikastore.com 04/01/2007)

C. TANDA DAN GEJALA


Pola awal penyakit keluhan dan tanda gejala meliputi
- Anoreksia
- Rasa malas
- Sakit kepala bagian depan
- Nyeri otot
- Gangguan nyeri perut
Pada minggu ke I keluhannya
- Demam hingga 400C
- Denyut lemah
- Nadi 80-100 x/mnt
Akhir minggu ke I
- Lidah tampak kotor, berkerak, berwarna merah di ujung dan tepi
- Epistaksis
- Tenggorokan kering dan beradang
- Ruam kulit, pada abdomen salah satu sisi tapi tak merasa
- Bercak-bercak selama 3-5 hari lalu hilang sempurna
Pada minggu ke II
Demam turun khususnya pagi hari, pasien sakit akut, disorientasi lemas
Pada minggu ke III
- Gejala berkurang dan suhu mulai turun
- Terjadi komplikasi perdarahan dan perforasi karena lepasnya kerak
dan ulkus
- Bila keadaan buruk terjadi tanda-tanda delirium
- Otak bergerak terus
- Inkontinentia urine
- Nyeri perut
- Bila nadi ditambah peritonitis maka hal ini menunjukkan terjadi
perforasi usus, keringat dingin, sukar bernapas dan denyut nadi
lemah, menandakan ada perdarahan.
Pada minggu ke IV (stadium penyembuhan)
- Merupakan fase penyembuhan bila tidak ada tanda-tanda
komplikasi
- Mereda 2-4 minggu
- Malaise tetap ada selama 1-2 bulan

D. PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI


(Pathway Terlampir)
Penularan bakteri salmonella typhi dan salmonella paratyphi terjadi
melalui makanan dan minuman yang tercemar serta tertelan melalui mulut.
Sebagian bakteri dimusnahkan oleh asam lambung. Bakteri yang dapat
melewati lambung akan masuk ke dalam usus, kemudian berkembang biak.
Apabila respon imunitas humoral mukosa (immunoglobulin A) usus
kurang baik maka bakteri akan menembus sel-sel epitel (terutama sel M).
selanjutnya ke lamina propia. Didalam lamina propia bakteri berkembang biak
dan ditelan oleh sel-sel makrofag kemudian dibawa ke plaques payeri di ilium
distal. Selanjutnya Kelenjar getah bening mesenterika. Melalui duktus
torsikus, bakteri yang terdapat di dalam makrofag ini masuk kedalam sirkulasi
darah mengakibatkan bakteremia pertama yang asimtomatik atau tidak
menimbulkan gejala. Selanjutnya menyebar keseluruh organ retikuloendotelial
tubuh terutama hati dan limpa diorgan-organ ini bakteri meninggalkan sel-sel
fagosit dan berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid, kemudian masuk
lagi kedalam sirkulasi darah dan menyebabkan bakteremia kedua yang
simtomatik, menimbulkan gejala dan tanda penyakit infeksi sistemik.
Didalam hati, bakteri masuk ke dalam kandung empedu. Berkembang
biak dan di ekskresikan ke dalam lumen usus melalui cairan empedu.
Sebagian dari bakteri ini dikeluarkan melalui feses dan sebagian lainnya
menembus usus lagi. Proses yang sama kemudian terjadi lagi, tapi dalam hal
ini makrofag telah teraktivasi. Bakteri salmonella thypi yang berada di dalam
makrofag yang telah teraktivasi, akan merangsang makrofag menjadi
hiperaktif dan melepaskan beberapa mediator (sintokin) yang akan
menimbulkan gejala reaksi inflamasi sistemik seperti : demam dan koagulasi,
pada keadaan yang lebih berat dapat terjadi sepsis dan syok septik.
Di dalam plaques payeri makrofag hiperaktif menimbulkan reaksi hiperflasia
jaringan salmonella typhi di dalam makrofag dapat merangsang reaksi
hipersnsitivitas tipe lambat yang dapat menyebabkan hyperplasia dan nekosos
jaringan. Perdarahan saluran cerna dapat terjadi akibat erosi pembuluh darah
plaques payeri yang mengalami hiperflasia patologis jaringan limpoid ini
dapat berkembang ke lapisan otot. Lapisan serosa usus sehingga dapat
mengakibatkan perforasi. Endotoksin yang dihasilkan samonella typhi dapat
menempel direseptor sel endotel kapiler seluruh organ, sehingga bisa
menimbulkan komplikasi kardiovaskuler, gangguan neuropsikiatrik dan
gangguan organ lainnya.
E. KOMPLIKASI
Komplikasi intestinal
a. Perdarahan intestinal
Pada plaques payeri usus yang terinfeksi dapat terbentuk tukak/luka,
jika luka menembus lumen usus dan mengenai pembuluh darah maka
akan terjadi perdarahan. Selanjutnya jika luka menembus dinding usus
maka perforasi terjadi, apalagi kalau terjadi gangguan koagulasi.
b. Perforasi usus
Biasa timbul pada minggu ke 3 namun dapat terjadi pula minggu ke 1.
gejalanya : mengeluh nyeri perut yang hebat terutama di daerah
kuadran kanan bawah menyebar keseluruh perut disertai tanda-tanda
ileus.
Komplikasi ekstra intestinal
a. Komplikasi paru
Dapat terjadi pneumoni, empiema atau pleuritis
b. Komplikasi hepatobilier
Pembengkakan hati ringan di jumpai pada 50% penderita
c. Komplikasi kardiovaskuler
Miokarditis terjadi 1-5% penderita, sedangkan kelainan EKG pada 10-
15% penderita
d. Komplikadi neuropsikiatrik
Gejala dapat berupa delirium dengan atau tanpa kejang, semikoma/
koma

F. DIAGNOSIS
Diagnosis demam tipoid dapat dipastikan dengan kultur dari darah dan
bahan yang dicurigai yang positif tapi hasil kultur yang negatif tidak
menyingkirkan demam tifoid. Reaksi widal dengan titer antibody O 1/200 atau
titer antibody H 1/400 menunjang diagnosis empat kali lipat setelah 1 minggu
dapat memastikan diagnosis demam tipoid.

G. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. Pemeriksaan darah perifer lengkap
Dapat ditemukan leukopeni, dapat pula leukosistosis atau kadar leukosit
normal. Leukositosis dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi
sekunder. Dapat pula ditemukan anemia ringan dan trombositopeni.
Pemeriksaan hitung jenis leukosit dapat terjadi aneosinofilia maupun
limfopeni laju endap darah dapat meningkat.
2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT sering meningkat, tapi akan kembali normal setelah
sembuh. Peningkatan SGOT, SGPT ini tidak memerlukan penanganan
khusus.
3. Pemeriksaan ujiwidal
Dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri salmonella
typhi. Pada uji widal terjadi suatu reaksi aglutinasi antara antigen bakteri
salmonella tupi dengan antibody salmonella yang sudah dimatikan dan
diolah di laboratorium.
Uji widal dimaksudkan untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum
penderita tersangka demam tifoid.

H. PENATALAKSANAAN
Hingga saat ini tetap digunakan Trilogi penatalaksanaan demam tifoid
1. Istirahat tirah baring dan perawatan profesional, dengan tujuan
mencegah komplikasi dan mempercepat pernyembuhan. Dalam perawatan
perlu dijaga kebersihan tempat tidur, pakaian, dan perlengkapan yang
dipakai serta hygiene perorangan. Posisi penderita perlu di awasi untuk
mencegah dekubitus dan pneumonia ortostatik.
2. Diet dan terapi penunjang (simtomatik dan suportif) dengan tujuan
mengembalikan rasa nyaman dan kesehatan penderita secara optimal.
Dimasa lalu penderita diberi diet bubur saring, kemudian ditingkatkan
menjadi bubur kasar dan akhirnya nasi, yang perubahannya disesuaikan
dengan tingkat kesembuhan penderita. Bubur saring ditujukan untuk
menghindari komplikasi perdarahan saluran cerna atau perforasi usus. Hal
ini karena pendapat bahwa pemberian makan padat dini yaitu nasi dengan
lauk pauk rendah selulosa (menghindari sementara sayuran berserat) dapat
diperiksa dengan aman pada penderita demam tifoid. Sebaiknya pemilihan
diet diserahkan sesuai kemauan penderita.
3. Pemberian antibiotik, dengan tujuan menghentikan dan mencegah
penyebaran bakteri. Obat antibiotik yang sering digunakan untuk
pengobatan demam tifoid adalah :
a. Kloramfenikol
Obat yang paling unggul tapi tidak memataikan, sehingga sering
timbul pembawa hasil. Juga dapat mengakibatkan anemia anoplastik.
Dosis : 100 mg/kg. Dibagi per oral atau IV
Kontra indikasi : hipersensitivitas, anemia, wanita hamil dan
menyusui.
Indikasi : typhord fever dan infeksi yang disebabkan salmonella
Efek samping : bisa membuat lidah pahit setelah minum.
b. Ampicillin dan amoxilin
Kerja lebih lambat dari chorampenikol, bisa 5-6 hari, sedang
chlorampenicol rata-rata 1 hari. Juga menimbulkan pembawa basil.
Dosis : 1-2 gr IV untuk 2 minggu
Kontra indikasi : hipersensitivitas penicillin, infeksi mononukleusis.
Indikasi : thypoid fever, infeksi resp trat, GUT dan ENT, kulit dan
jaringan
Efek samping : reaksi alergi, anafilaksis
c. Thrampenicol
Bekerja lebih lambat dari ampicilin, karena itu baru dipakai bila
resistensi terhadap chlorampenicol dan ampicillin.
Dosis : 4 x 0,5 gr selama 10-15 hari
Kontra indikasi : hipersensitivitas, anemia wanita hamil dan menyusui
Indikasi : Resp tract, hepato-biliary, GIT dan ENT, infeksi thipoid
dan paratyphoid.
Efek samping anemia aplastik, distress GI, optic peripheral neuritis.
d. Trimethropin cotrimoxasaol
Untuk organisme yang resisten terhadap obat-obatan dan
menghilangkan demam, juga mengobati pembawa basil. Bila
pemakaian lama mengakibatkan gangguan darah.
Dosis : 2 tablet atau 1 caplet forte
Kontra indikasi : hipersensitifitas sulfonamide gangguan fungsi renal
dan hepar, bayi kurang bulan, ibu hamil dan menyusui.
Indikasi : infeksi salmonella
e.Efek samping leucopenia, trombositopenia, megaloblastik

I. ASUHAN KEPERAWATAN
Ada proses keperawatan yang merupakan pendekatan secara sistematis
untuk mengenal kebutuhan pasien dan merupakan proses pemecahan masalah
yang dinamis untuk memperbaiki kesehatan klien hingga maksimal dengan
tahap berikut :
1. Pengkajian
a. Data yang dikumpulkan meliputi unsur biopsikospiritual yang
komprehensif. Data berasal dari klien, keluarga, tenaga kesehatan dan
catatan dari status klien serta pemeriksaan penunjang. Selain mengkaji
dengan anamnesa, juga dilakukan pemeriksaan fisik dengan cara
inspeksi, perkusi, palpasi dan auskultasi.
b. Pengelompokan data dari penyakit febris typhoid
1) Suhu badan, minggu ke 1 mencapai 400C selama 3-4
minggu
2) Gejala subjektif : pusing, anoreksia, malaise
3) Nadi : saat demam lambat
4) Abdomen : pembesaran limfa, nyeri abdomen, distensi
abdomen
5) Kulit : serat spot putih setelah minggu 1 sering terjadi
infeksi kulit
6) Respirasi : batuk non produtktif
7) Gastrointestinal : konstipasi, diare, komplikasi cholecystitis
akut
8) Sensori : mungkin terjadi ketulian, otitis media bila
berlanjut akan terjadi ketulian
9) Musculoskeletal : nyeri sendi karena keterbatasan aktivitas
10) Saluran kemih : retensio urine
11) Kardiovaskuler : tachykardi, hipotensi dan shock jika
perdarahan, infeksi sekunder dan septicemia.
12) Central nervus sistem : delirium, stupor, perubahan
kepribadian, katatonik apasia.

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
No Diagnosa keperawatan Rencanan
Tujuan dan kriteria
Dx
1 Hipertermi ybd Tujuan suhu tubuh klien turun dan bertahan
peningkatan dalam batas normal setelah dilakukan tindakan
metabolisme tubuh keperawatan selama 3x24 jam
sekunder terhadap Kriteria Hasil
proses infeksi
Tidak pernah

Kadang-kadang

salmonella typhosa
Jarang

Sering
Selalu

Indikator

1 2 3 4 5
Suhu tubuh dalam 1 2 3 4 5
batas normal
Perubahan warna 1 2 3 4 5
kulit
Vital sign dalam 1 2 3 4 5
batas normal
Kedinginan ketika 1 2 3 4 5
panas
Intervensi :
1. Observasi TTV (suhu, nadi respirasi) tiap 8
jam
2. Kaji napas yang dirasakan klien
3. Berikan kompres hangat bila klien panas
4. Laksanakan terapi dokter untuk pemberian
anti peretik
2 Nyeri yang Tujuan
berhubungan dengan Klien mampu mentoleransi level nyerinya
agen injury fisik setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
3x24 jam.
Kriteria Hasil
Kadang-kadang

Tidak pernah
Jarang
Sering
Selalu

Indikator

1 2 3 4 5
Melaporkan nyeri 1 2 3 4 5
Frekuensi terhadap 1 2 3 4 5
nyeri
Lamanya nyeri 1 2 3 4 5
Ekspresi wajah 1 2 3 4 5
nyeri
Menjaga daerah 1 2 3 4 5
nyeri

Intervensi
1. Kaji ulang nyeri secara komprehensif
meliputi lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, skala nyeri dan faktor pencetus.
2. Observasi TTV
3. Beri posisi nyaman pada klien
4. Observasi respon nonverbal tentang
ketidaknyamanan
5. Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam
6. Anjurkan penggunaan cara mengontrol nyeri
saat nyeri berlangsung
7. Laksanakan terapi analgesik sesuai advis
dokter
3 Ketidakseimbangan Tujuan
nutrisi kurang dari Kebutuhan nutrisi klien tercukupi/seimbang
kebutuhan tubuh ybd setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
ketidakmampuan 3x24 jam.
dalam Kriteria Hasil
mencerna/mengabsorb
Tidak adekuat

Kurang adekuat

Jarang adekuat

Agak adekuat
si makanan karena

Adekuat
faktor biologis Indikator

1 2 3 4 5
Intake makanan 1 2 3 4 5
oral
Intake 1 2 3 4 5
minuman oral
Jumlah 1 2 3 4 5
makanan dan
minuman yang
masuk

Intervensi
1. Observasi porsi makan klien
2. Kaji rasa mual setelah makan
3. Berikan makan sesuai diit
4. Anjurkan klien untuk makan sedikit-sedikit
tapi sering
5. Laksanakan terapi dokter untuk pemberian
antacid.

4 Intoleransi aktivitas Tujuan


ybd efek Aktivitas klien meningkat setelah dilakukan
deconditioning tirah tindakan selama 3x24 jam
baring Kriteria Hasil

Memerlukan bantuan orang lain

Mandiri dengan menggunakan alat


Memerlukan pengawasan
Tergantung

Mandiri
Indikat
or

1 2 3 4 5
Makan 1 2 3 4 5
Mandi 1 2 3 4 5
Toiletin 1 2 3 4 5
g
Berpak 1 2 3 4 5
aian
Berhias 1 2 3 4 5

Intervensi
1. Kaji ulang kemampuan aktivitas klien dalam
memenuhi ADL
2. Observasi kemampuan ADL setiap hari
3. Bantu dalam ADL klien sesuai kemampuan
klien, anjurkan untuk melakukan ADL
sendiri
4. Libatkan keluarga untuk membantu klien
dalam pemenuhan ADL
5. Laksanakan advis dokter untuk pemberian
vitamin
5 Resiko infeksi ybd Tujuan
prosedur invasif Infeksi pada klien tidak terjadi setelah dilakukan
tindakan selama 3x24 jam
Kriteria Hasil

Kadang-kadang

Tidak pernah
Agak berat

Jarang
Berat
Indikator

1 2 3 4 5
Menunjukkan 1 2 3 4 5
penyebaran infeksi
Menunjukkan 1 2 3 4 5
penambahan
penularan infeksi
Menunjukkan tanda 1 2 3 4 5
dan gejala infeksi

Intervensi
1. Observasi TTV
2. Observasi tanda dan gejala infeksi baik local
dan sistemik
3. Jaga kebersihan daerah penusukan infus
4. Jelaskan pada klien dan keluarga dan tentang
tanda-tanda infeksi
5. Anjurkan untuk makan-makanan yang tinggi
protein
6. Laksanakan advis dokter untuk pemberian
antibiotik
6. PK perdarahan Tujuan
meminimalkan terjadinya perdarahan
Kriteria hasil
1. Tanda-tanda vital dalam batas normal
2. Trombosit, Hb dalam batas normal
Intervensi
1. Observasi TTV
2. Kaji dan monitor adanya perdarahan
3. Kolaborasi dengan dokter untuk
pemeriksaan Trombosit dan Hb
4. Kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian terapi anti perdarahan
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito Lynda Jual, Diagnosa Keperawatan, Alih Bahasa Monica Ester.


Jakarta, EGC : 2001.

H. Lismidar, et.al. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung : Tarsito, 2005.

Iowa Outcomes Project, Nursing Intervention Classification (NIC), Second


Edition, Mosby, St, Louis New York, 2001.

Iowa Outcomes Project, Nursing Outcomes classification (NOC), Second Edition,


Mosby, St, Louis New York, 2001.

Nanda, Diagnosa Keperawatan. Alih Bahasa Mahasiswa PSIK B. FK. UGM


Yogyakarta, 2002.

Soedarto, Penyakit-Penyakit Di Indonesia, Jakarta : Widya Medika, 2005.

Winarto Surachmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, Bandung : Tarsito, 2006.

www.medicastore.com 04/01/2007.
LAPORAN PENDAHULUAN
TYPHOID FEVER

DISUSUN OLEH :
NAMA : RINI SUNARYATI
NIM : PB1601091

PROGRAM PROFESI NERS


STIKES MUHAMMADIYAH KLATEN
TA 2016/2017