0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan4 halaman

Prinsip Dasar dan Teknik CT Scan

1. CT scan menggunakan sinar X dan detektor yang berputar mengelilingi pasien untuk mengumpulkan data atenuasi. 2. Data mentah diolah untuk merekonstruksi gambar irisan jaringan dengan nilai Hounsfield yang menggambarkan kerapatannya. 3. Kualitas gambar CT dipengaruhi oleh resolusi, kemampuan mendeteksi kontrast, dan kemunculan artefak selama akuisisi dan rekonstruksi gambar.

Diunggah oleh

AmaliaCandha
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan4 halaman

Prinsip Dasar dan Teknik CT Scan

1. CT scan menggunakan sinar X dan detektor yang berputar mengelilingi pasien untuk mengumpulkan data atenuasi. 2. Data mentah diolah untuk merekonstruksi gambar irisan jaringan dengan nilai Hounsfield yang menggambarkan kerapatannya. 3. Kualitas gambar CT dipengaruhi oleh resolusi, kemampuan mendeteksi kontrast, dan kemunculan artefak selama akuisisi dan rekonstruksi gambar.

Diunggah oleh

AmaliaCandha
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PRINSIP DASAR CT SCAN

Prinsip fisika dan teknologi pada CT Scan meliputi proses akuisisi data, pengolahan data,
tampilan gambar, penyimpanan dan dokumentasi. Tahap pertama pada akuisisi data adalah
scanning, Selama scanning tabung sinar-X dan detektor berputar mengelilingi pasien untuk
mendapatkan gambaran, detektor menangkap radiasi yang diteruskan melalui pasien dari
beberapa lokasi (Seeram,2001). Sebagai hasil, nilai transmisi relatif (Hounsfield, 1973) atau
pengukuran atenuasi (Sprawls, 1995) dapat dihitung dengan formula sebagai berikut :
Nilai transmisi relatif dikirim ke komputer dan disimpan sebagai raw data/data mentah.

Teknik scanning pada CT Scan ada dua cara ( Seeram,2001) :

1. Teknik Scanning Aksial Slice by Slice

Teknik scanning aksial slice by slice sering disebut teknik konvensional atau scanning

sequence mempunyai keuntungan mudah untuk menentukan slice. Teknik scanning aksial

slice by slice terdiri atas 4 tahap yaitu tahap start, gerakan tabung dan detektor berputar

pada kecepatan konstan. Tahap kedua energi dikeluarkan tabung sinar X dan data

dikumpulkan setelah berputar 360. Tahap ketiga stop, yaitu tabung dan detektor bergerak

perlahan untuk berhenti dan tahap keempat meja dan index pasien siap pada posisi scanning

berikutnya. Teknik ini mempunyai beberapa keterbatasan yaitu :

a. Waktu pemeriksaan lama.

b. Terdapat Inter Scan Delay (ISD) yaitu jeda antar slice yang satu dengan slice yang

lain sehingga menyebabkan terjadinya slice by slice miss registration.

c. Reformat gambar dua dimensi atau tiga dimensi kurang akurat.

d. Bila kelainan terdapat pada area yang sangat kecil tidak dapat terlihat karena faktor

pernapasan yang tidak tepat.

2. Teknik volume scanning

Teknik volume scanning ini sering disebut teknik spiral atau helical karena bentuk

irisannya seperti spiral. Teknik ini mempunyai keuntungan waktu pemeriksaan lebih cepat,

volume coverage yang lebih besar dan sangat bagus untuk aplikasi gambar tiga dimensi.

Namun teknik ini juga mempunyai keterbatasan yaitu :


a. Tidak ada slice yang pasti sehingga untuk melokalisir slice sangat sulit dilakukan.

b. Secara prinsip, raw data diperoleh bukan dari bidang datar tetapi diperoleh dari non planar

geometri sehingga gambar yang dihasilkan tetap lebih baik pada konvensional slice by slice.

c. Kemampuan tabung sinar X harus cukup tinggi untuk dapat digunakan berputar secara kontinyu

selama scanning volume jaringan dan diimbangi dengan meningkatnya kapasitas sistem

pendingin.

d. Gerakan pada scanning spiral sangat berpengaruh terhadap terjadinya artefak.

Ketika Hounsfield menemukan CT scanner, dia menggunakan berkas sinar homogen.

Pada awal penelitiannya karena berkas sinar tersebut memuaskan maka digunakan pada

hukum Lamber-Beer, hubungan exponensial menguraikan apa yang terjadi pada foton saat

melewati jaringan, dengan menggunakan persamaan (Seeram,2001) :

I = I0 e -x

Di mana I adalah intensitas yang diteruskan, I0 adalah intensitas awal, x adalah tebal objek, e

adalah konstanta Eulars (2.718) dan adalah koefisien attenuasi linier.

Tujuan CT adalah menghitung koefisiensi atenuasi linier, yang menandai adanya jumlah

atenuasi yang terjadi. Oleh karena itu ini merupakan pengukuran kuantitatif unit per sentimeter

(cm-1) dari sini dihasilkan persamaan linier (Curry et al, 1990).

Persamaan I = I0 e -x dapat dipecahkan untuk mencari nilai :

I = I0 e -x

I/ I0 = e -x

Ln I/ I0 = - x

Ln I/ I0 = x

= ( I/x) . ( Ln I/ I0 )

Di mana Ln adalah bilangan logaritma. Pada CT, nilai I dan I0 sudah diketahui (diukur oleh

detektor) dan nilai x juga diketahui. Akhirnya nilai dapat dihitung.


Masalah pada CT adalah untuk menentukan atenuasi dalam jaringan dan menggunakan

informasi ini untuk merekonstruksi gambar pada irisan jaringan. Atenuasi adalah pengurangan

intensitas berkas sinar radiasi saat melewati objek beberapa foton diserap tapi yang lain

dihamburkan. Atenuasi tergantung pada jumlah elektron, nomor atom, kepadatan jaringan, dan

energi radiasi yang digunakan. Sebagai tambahan, karena ada dua tipe berkas sinar (homogen

dan heterogen) maka bagaimana masing-masing berkas sinar diatenuasi adalah penting untuk

dipahami pada pembelajaran CT. Rotasi tabung sinar-X dan detektor diatur untuk

mengumpulkan pengukuran-pengukuran pancaran atau tembusan yang menggambarkan data

akusisi geometri pada sistem CT (Seeram,2001)

Pengolahan data merupakan penyusunan prinsip matematika yang ada pada CT.

Pengolahan data merupakan tiga satuan langkah suatu proses. Pertama, data mentah (raw

data) yang mengalami beberapa bentuk sebelum pengolahan (processing), yang terdapat

perbaikan dan beberapa reformating (format ulang) pada data yang terjadi. Hal ini diperlukan

untuk mempermudah tahap selanjutnya pada pengolahan data, yaitu rekonstruksi gambar.

Tahap terakhir pada pengolahan data adalah penyimpanan gambar dari rekonstruksi gambar

digital. Gambar ini disimpan pada memory disk sebagai penyimpanan sementara /penyimpanan

jangka pendek (Seeram,2001)

Kriteria dari sebuah gambar hasil CT Scan adalah meliputi resolusi spasial (spatial

resolution), kemampuan mendeteksi kontras dan artefak. Resolusi Spasial adalah kemampuan

untuk menghasilkan objek-objek dengan tingkat kontras yang tinggi. Dalam hal ini, tingkat

kontras yang tinggi merupakan perbedaan antara hitam dan putih. Semakin kecil ukuran

gambaran putih di depan backgroud gambaran hitam, maka akan lebih sulit dilihat jika

dibandingkan dengan melihat gambaran putih yang ukurannya lebih besar pada backgroud

yang sama. Resolusi kontras yang tinggi ini diukur dalam satuan line pairs/cm (lp/cm), atau

dapat juga diukur dalam MTF (%). Semakin tinggi tingkat lp/cm sebuah mesin CT Scan, maka

resolusi spasialnya akan semakin bagus (Amarudin,2002).


Kemampuan mendeteksi kontras (Contras Detectability) adalah kemampuan

menghasilkan obyek dengan tingkat kontras yang rendah. Kemampuan mendeteksi kontras

(Contrast detectability) dipengaruhi oleh ketelitian image dan noise. Tingkat kontras yang

rendah mengacu kepada kemampuan CT Scan secara akurat untuk mengukur perbedaan

kerapatan antara dua objek yang sangat kecil.

Artefak pada CT Scan adalah ketidaksesuaian antara tingkat kerapatan obyek dengan

nilai Hounsfield Unit (HU) yang sebenarnya. Terjadinya artefak pada CT Scan dapat

disebabkan pada akuisisi data, pasien, scanner yang tidak sempurna, maupun pada proses

rekonstruksi.

Noise dalam image CT ditentukan oleh jumlah kuanta sinar-X yang sampai ke detektor

dan kemudian membentuk image. Noise sangat ditentukan oleh mAs, kV, algorithma, slice

thickness, ukuran tubuh pasien, mode operasi (kombinasi parameter-parameter), dan display

image (monitor, dan lain-lain). Noise pada image CT dapat kita lihat dari bintik-bintik pada

image, dan berhubungan dengan amplitudo sinyal yang diukur dan sensitivitas dari alat ukur

(Amarudin, 2002).

Anda mungkin juga menyukai