Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Air ketuban adalah cairan yang dihasilkan janin dan selaput yang
mengelilinginnya. Volume air ketuban akan terus bertambah dan mencapai puncaknya
pada minggu ke 34 kehamilan. Jumlah akan relative bertahan 37-40 minggu. Normalnya
jumlah air ketuban adalah 1-1,5 liter. Seirung dengan bertambanya usia kehamilan,
jumlah cairan ini terus meningkat. Normalnya, pada usia kehamilan 10-20 minggu,
jumlah air ketuban sekitar 50 250 nl. Ketika memasuki minggu ke 30-40, jumlanya
mencapai 500 1500 ml. ditinjau dari fungsinya, cairan ini sangat penting untuk
melindungi perumbuhan dan perkembangan janin terhadap trauma dari luar,
menstabilkan perubahan suhu , pertukaran cairan, sarana yang memungkinkan janin
bergerak bebas, sampai mengatur tekanan dalam rahim. Tak hanya itu air ketuban juga
berfungsi melindungi janin dari infeksi.
Cairan ketuban adalah cairan yang ada di dalam kantung amnion. Cairan ini
terdiri dari 98% air dan sisanya garam onorganik serta bahan organic. Cairan ini
dihasilkan selaput ketuban dan diduga dibentuk oleh sel-sel amnion, ditambah air kencing
janin, serta cairan otak pada anensefalus.
Pada ibu hamil, jumlah cairan ketuban ini beragam pada keadaan normal
banyaknya air ketuban dapat mencapai 1000 cc kemudian menurun lagi setelah minggu
ke 38 sehingga khirnya hanya tinggal beberapa ratus cc saja. Kelainan air ketuban bias
berbentuk melebihi atau kurang dari volume yang normal. Diperkirakan janin menelan
lebih kurang 8-10 cc air ketuban atau 1% dari seluruh volume dalam setiap jam.
Kelainana air ketuban adalah suatu keadaan dimana jumlah air ketuban jauh lebih
banyak dari normal, misalnya lebih dari 2 liter
Pada makalah ini kita kan membahas kelainan air ketuban sepert: KPSW,
Polihidramnion, dan Olighidramnion.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan KPSW, Polihidramnion, dan Olighidramion?
2. Apa saja penyebab terjadinya KPSW, Polihidramnion, dan Olighidramnion?
3. Apa saja tanda dan gejala KPSW, Polihidramnion, dan Olighidramnion?
4. Bagaimana penatalaksanaan KPSW, Polihodramnion, dan Olighidramnion?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan KPSW, Polihidramnion, dan
Olighidramion.
2. Utuk mengetahui apa saja penyebab terjadinya KPSW, Polihidramnion, dan
Olighidramion.

1
3. Utuk mengetahui apa saja tanda dan gejala KPSW, Polihidramnion, dan
Olighidramion.
4. Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan KPSW, Polihidramnion, dan
Olighidramion.

D. Manfaat
Manfaat yang dapat kita ambil dari makalah ini ialah memudahkan proses belajar
mengajar didalam kelas, menambah wawasan setiap individu mahasiswa mengenai
kelainan air ketuban beserta penyebab, tanda dan gejala, serta penatalaksanaan kelainan
air ketuban.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. KPSW
1. Pengertian
Ketuba Pecah Sebelum Waktunya (KPSW) atau Ketuban Pecah Dini (KPD) atau
Ketuban Pecah Prematur (KPP) adalah keluarnya cairan dari jalan lahir atau vagina
sebelum proses persalinan.
Ketuban pecah premature yaitu pecahnya membrane khorioamniotik sebelum
onset persalinan atau disebut juga Premature Rupture Of Membrane = Prelabour
Rupture Of Membrane = PROM
PROM adalah pecahnya ketuban sebelum in partu, yaitu bila pembukaan pada
primi kurang dari 3 cm dan pada multi para kurang dari 5 cm. bila periode laten terlalu
panjag dan ketuban sudah pecah, maka dapat terjadi infeksi yang dapat menigkatkan
angka kematian ibu dan anak.
Pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan mulai dan ditunggu satu jam
sebelum terjadinya inpartu.
Dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. PPROM (Preterm Premature Rupture Of Membranes) ketuban pecah pada
saat usia kehamilan < 37 minggu.
2. TPROM (Term Premature Ruptur Of Membranes) ketuban pecah pada usia
kehamilan > 37 minggu.

2. Penyebab
Penyebab dari ketuban pecah sebelum waktunya (KPSW) tidak atau masih belum
diketahui secara jelas maka diketahui secara jelas maka upaya preventif tidak dapat
dilakukan, kecuali dalam usaha menekan infeksi.
Faktor yang berhubungan dengan meningkatnya insiden ketuban pecah dini antara
lain:
a. Serviks yang inkopetensia kanalisa servikalis yang selalu terbuka oleh karena
kelainan pada serviks uteri (akibat persalinan atau curettage)
b. Tekanan intra uteri yang meninggi atau meningkat secara berlebihan
(overdistensi uterus) misalnya trauma, hidramnion dan kehamilan ganda
c. Kelainan letak sungsang, sehingga tidak ada begian terendah yang menutupi
pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghadapi tekanan terhadap membrane
bagian bawah
d. Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun dari vagina
atau infeksi cairan ketuban bias menyebabkan KPD.
e. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam dapat
menyebabkan terjadinya KPD karena infeksi.
f. Kelainan bawaan dari selaput ketuban.

3
g. Defisiensi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C).
h. Kemungkinan kesempitan panggul : perut gantung, bagian terendah belum
masuk ke PAP, CPD

3. Tanda dan Gejala


Adapun tanda dan gejala KPSW antara lain:
a. Keluar cairan ketuban dari vagina tanpa disertai rasa mules, cairan dapat
keluar sedikit atau banyak.
b. Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin
bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi
c. Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti amoniak
d. Pemeriksaan abdomen uterus lunak tidak nyeri tekan
e. Pemeriksaan mikroskopik terlihat lanugo dan vernik kaseosa.

4. Penatalaksanaan
Anjurkan mengenai penatalaksanaan optimum dari kehamilan dengan
komplikasiketuban pacah dini tergantung pada umur kehamilan janin, tanda infeksi
intra uterin dan populasi pasien. Pada umumnya lebih baik untuk membawa semua
pasien dengan ketuban pecah dini kerumah sakit dan melahirkan bayi yag berumur
lebih dari 36 minggu dalam 24 jam dari pecahnya ketuban untuk memperkecil resiko
intra uterin. Adapun penatalaksanaan KPSW berdasarkan umur kehamilan antara lain:
a. Kehamilan < 37 minggu
1. Bila tidak ada infeksi :
- Rawat RS
- Istirahat baring
- Pemberian antibiotic
- Pematangan paru (kortikosteroid)
- Penilaian tanda-tanda infeksi
2. Bila ada infeksi
- Antibiotik
- Kortikosteroid
- Terminasi kehamilan
b. Kehamilan > 37 minggu
1. Bila tidak ada infeksi
- Lahirkan bayi
- Antibiotik
2. Bila ada infeksi
- Antibiotik
- Lahirkan bayi
- Post partum : antibiotic diteruskan 24-48 jam setelah bebas panas

4
B. Polihidromnion
1. Pengertian
Polihidromnion adalah suatu kejadian dimana jumlah air ketuba jauh lebih
banyak dari normal biasanya lebih dari 2 liter. Dalam beberapa literature ada yang
menbagi polihidromnion menjadi dua tergantung dari berapa lama perjalanan
penyakitnya, yaitu:
a. Polihidramnion akut
Terjadinya pertambahan air ketuban yang sangat tiba-tiba dan cepat dalam waktu
beberapa hari saja.
b. Polihidramnion kronis
Pertambahan air ketuban yang terjadi secara perlahan-lahan dalam beberapa
minggu atau bulan dan biasanya terjadi pada kehamilan lanjut.

2. Penyebab
Sampai sekarang penyebab hidramnion masih belum bisa dipastikan secara
benar, salah satu yang dicurigai adalah adanya proses infeksi. Dua pertiga kasus
polihidromniontidak diketahui sebabnya seperti yang disebutkan sebelumnya,
produksi paling dominan air ketuban adalah hasil dari proses urinasi atau produksi air
kencing janin. Sudah dijelaskan bahwa janin meminum air ketuban dalam jumlah
yang seimbangdengan air kencing yang di produksi. Bila keseimbangan ini beruba,
yaitu produksi air kencing berlebihan atau bayi tidak mampu meminum air ketuban,
dapat terjadi polihidromnion.
Pada cacat bawaan sehingga air ketuban tak bisa tertelan, misalnya karena
sumbatan atau penyempitan saluran pencernaan bagian atas, volume air ketuban akan
meningkat secara drastic. Demikian pula bila kemampuan menelan janin mengalami
gangguan, misalnya janin lemah karena hambatan pertumbuhan atau kecacatan yang
menyangkut system syaraf pusat hingga fungsi gerakan menelah mengalami
kelumpuhan. Ketidaksesuaian golongan darah ibu dan janin juga bisa mengakibatkan
terjadinya polihidramnion.

3. Tanda dan Gejala


Adapun tanda dan gejala polihidramnion antara lain:
a. Perut terasa lebih besar dari pada biasa
b. Sesak nafas, nyeri ulu hati dan sianosis
c. Nyeri perut karena tegangnya uterus
d. Kelihatan perut sangat buncit dan tegang, kulit perut mengkilat, retak-retak dan
kadang ambilicus mendatar
e. Edema pada tungkai vulva dan abdomen
f. Perut tegang dan nyeri tekan

5
g. Fundus uteri lebih tinggi dari usia kehamila sesungguhya
h. Bagian-bagian janin sukar dikenali
i. DJJ sukar dikenali
4. Penatalaksanaan
Dilakukan pemeriksaan ultrasonografi secara teliti antara lain untuk melihat
penyebab dari keadaan tersebut dilakukan pemeriksaan OGTT untuk menyingkirkan
kemungkinan diabetes gestasional.
Bila etiologi tidak jelas, pemberian indomethacin dapat member manfaat bagi
50% kasus. Pemeriksaan USG janin dilihat secara seksama untuk melihat adanya
kelainan ginjal janin.
Meskipun sangat jarang, kehamilan monokorionik sindroma twin tranfusin,
terjadi polihidramnion pada kantung resipien dan harus dilakukan amniosentesis
berulang untuk mempertahankan kehamilan.

C. Oligohidramnion
1. Pengertian
Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal
yaitu kurang dari 500 cc. VAK (Volume Air Ketuban)meningkat secara stabil saat
kehamilan, volumenya sekitar 30 cc pada 10 minggu dan mencapai puncaknya 1 liter
pada 34-36 minggu yang selanjutnya berkurang. Rata-rata sekitar 800 cc pada akhir
trimester pertam asampai pada minggu ke-40 berkurang lagi menjadi 350 ml pada
kehamilan 42 minggu, dan 250 ml pada kehamilan 43 minggu. Tingkat penurunan
sekitar 150 ml/minggu pada kehamilan 38-43 minggu.

2. Penyebab
Penyebab pasti terjadinya oligohidramnion masih belum diketahui. Beberapa
keadaan berhubungan dengan olighidramnion hampir selalu berhubungan dengan
obstruksi saluran traktus urinarius janin atau renal agenesis.
Tetapi ada juga yang mengatakan kejadian olighidramnion ada kaitanya degan
renal agenosis janin. Etiologi primer lainnya mungkin kaena amnion kurang baik
perumbuhannya dan etiologi sekundernya lainnya misalkan pada ketuban pecah dini.

3. Tanda dan Gejala


Adapun tanda dan gejala olighidromnion antara lain:
a. Uterus tampak lebih kecil dari usia kehamilan
b. Ibu merasa nyeri di perut pada setiap pergerakan janin
c. Sering berakhir dengan partus prematurus
d. Bunyi jantung janin sudah terdengar mulai bukan ke 5 dan terdengar lebih jelas
e. Persalinan lebih lama dari biasanya
f. Sewaktu his akan sakit sekali

6
g. Bila ketuban pecah air ketuban sedikit sekali bahkan tidak ada keluar

4. Penatalaksanaan
Penanganan olighidramnion bergantung pada situasi klinik dan dilakukan
pada fasilitas kesehatan yang lebih lengkap mengingat prognosis janin yang tidak
baik. Kompresi tali pusat selama proses persalian biasa terjadi pada oligohidramnion,
oleh karena itu persalinan dengan section caesarea merupakan pilihan terbaik pada
kasus oligohidramnion.
Selain itu, pertimbangan untuk melakukan SC karena:
a. Indeks kantung amion (ICA) 5 cm atau kurang
b. Deselerasi frekuensi detak jantung janin
c. Kemungkinan aspirasi mekonium pada kehamilan post term.

7
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Air ketuban adalah cairan yang dihasilkan janin dan selaput yang
mengelilinginya. Volume air ketuban akan terus bertambah dan mencapai puncaknya
pada minggu ke 34 kehamilan.
Adapun kelainana air ketuban adalah suatu keadaan dimana jumlah air ketuban
jauh lebih banyak dari normal, misalnya lebih dari 2 liter. Adapun beberapa kelaian pada
air ketuban yaitu KPSW, Polihidromnion, dan Olighidromnion.
Ketuba Pecah Sebelum Waktunya (KPSW) atau Ketuban Pecah Dini (KPD) atau
Ketuban Pecah Prematur (KPP) adalah keluarnya cairan dari jalan lahir atau vagina
sebelum proses persalinan.
Polihidromnion adalah suatu kejadian dumana jumlah air ketuba jauh lebih
banyak dari normal biasanya lebih dari 2 liter.
Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal
yaitu kurang dari 500 cc. VAK (Volume Air Ketuban)meningkat secara stabil saat
kehamilan, volumenya sekitar 30 ccpada 10 minggu dan mencapai puncaknya 1 liter
pada 34-36 minggu yang selanjutnya berkurang
B. Saran
Bagi ibu hamil hendaknya makan makanan yang sehat dan bergizi seimbang serta
tingkatkan konsumsi cairan disertai istirahat yang banyak.
Dan juga diharapkan para petugas kesehatan terutama bidan menjadi seorang
yang professional dimana tanggap dalam menghadapi masalah yang patologis. Sebagai
bidan harus mengetahui tanda dan gejala awal dari masalah-masalah (kondisi patologis),
termasuk infeksi-infeksi yang dapat terjadi pada kehamilan dan persalinan