Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Prinsip transparansi mengharuskan informasi tersedia dan dapat langsung diakses oleh pihak-
pihak yang berkepentingan dengan informasi tersebut. Prinsip pengungkapan dan transparansi
menyatakan bahwa perusahaan harus mengungkapkan semua informasi material mengenai
perusahaan secara akurat dan tepat waktu. Beberapa informasi material tersebut antara lain
kondisi keuangan, struktur kepemilikan, transaksi pihak berelasi, dan tata kelola perusahaan.
Laporan keuangan perusahaan harus di audit oleh auditor eksternal yang independen dan
kompeten, serta media komunikasi harus memberikan akses informasi yang relevan yang sama,
tepat waktu, dan efisien dari sisi biaya untuk semua pemangku kepentingan.

Aturan pengungkapan yang transparan akan mengurangi ketidakseimbangan informasi sehingga


kemungkinan terjadinya tindakan yang dapat merugikan perusahaan dapat diperkecil. Adanya
praktik pengungkapan yang baik disuatu pasar modal dapat meningkatkan minat investor untuk
berinvestasi dan juga melindungi investor. Informasi yang disampaikan perusahaan kepada
investor perlu disediakan secara reguler, dapat diandalkan, dan dapat dibandingkan dengan
cukup rinci agar investor dapat menilai akuntabilitas manajemen, dan mengambil keputusan

Terdapat dua jenis pengungkapan, yaitu pengungkapan wajib dan pengungkapan sukarela.
Regulator mrnrtapkan pengungkapan wajib apa saja yang harus dilakukan perusahaan. Peraturan
Bapepam- LK mengharuskan perusahaan publik untuk menyampaikan laporan keuangan tengah
tahunan dan tahunan (X.K.2), serta menyampaikan laporan tahunan (X.K.6). Bursa efek
indonesia juga mengatur kewajiban perusahaan tercatat untuk menyampaikan laporan keuangan
interim ( Peraturan No I-E). Perusahaan secara sukarela juga dapat melakukan pengungkapan
sukarela, melebihi pengungkapan wajib yang diharuskan regulator. Yang perlu diungkapkan
adalah yang material yaitu informasi yang jika tidak diungkapkan atau disajikan secara tidak
wajar akan mempengaruhi pengambilan keputusan ekonomis oleh pengguna informasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengungkapan
Pengungkapan adalah informasi yang diberikan oleh perusahaan kepada pihak-pihak yang
berkepentingan mengenai keadaan perusahaan. Pengungkapan semua informasi didalamnya
harus diungkapkan termasuk informasi kuantitatif (seperti komponen persediaan dalam nilai
mata uang), dan komponen kualitatif (seperti tuntutan hukum).
Prinsip pengungkapan penuh (full disclosure principle) atau prinsip keterbukaan
adalah menyajikan semua informasi dalam laporan keuangan yang dapat memengaruhi
pemahaman pembaca.Penafsiran atas prinsip ini sangat subyektif dan berpotensi
menyebabkan terlalu banyak informasi yang disajikan.Oleh karena itu, prinsip materialitas
digunakan agar hanya mengungkapkan informasi tentang peristiwa yang mungkin
berdampak material terhadap posisi atau hasil keuangan entitas
B. Kebijakan Pengungkapan
Menurut OECD (2004) pengungkapan harus termasuk, namun tidak terbatas pada, informasi
material terkait :
1. Kinerja keuangan dan operasi perusahaan
2. Tujuan perusahaan
3. Kepemilikan dan hak suara utama
4. Kebijakan remunerasi untuk anggota dewan komisaris dan direksi dan informasi
mengenai anggota dewan termasuk kualifikasinya, proses seleksi, jabatan direktur dan
komisaris perusahaan yang lain dan apakah mereka independen
5. Transaksi pihak berelasi
6. Faktor- faktor resiko yang diketahui
7. Isu terkait karyawan dan pemangku kepentingan lain
8. Struktur dan kebijakan tata kelola, terutama kode atau kebijakan tata kelola yang ada dan
proses implementasinya.

Berdasarkan undang-undang PT No.40 tahun 2007 dan UU pasar modal, perusahaan terdaftar
harus membuat dan menyerahkan laporan keuangan yang disusun berdasarkan standar akuntansi
keuangan. Laporan keuangan tersebut terdiri dari laporan posisi keuangan ( neraca), Laporan
laba rugi komperhensif, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan
keuangan. Didalam laporan keuangan juga terdapat pengungkapan mengenai struktur
kepemilikan perusahaan laporan keuangan auditan dapat diperoleh dari perusahaan dan diwebsite
bursa efek indonesia.

Penerapan standar pelaporan yang berkualitas dapat secara signifikan meningkatkan


kemampuan investor untuk melakukan pengawasan atas perusahaan dengan membverikan
pelaporan yang semakin meningkatkan keandalannya dan daya bandingnya dan juga
memberikan informasi yang lebih baik mengenai kinerja perusahaan. Prinsip pengungkapan dan
transparansi mendukung adanya pengembangan standar internasional yang berkualitas tinggi
yang dapat berperan dalam transparansi dan daya banding alporan keuangan antar perusahaan
dan juga antar negara. Standar tersebut harus dikembangkan dengan melibatkan sektor privat dan
pihak lain yang berkepentingan seperti asosiasi profesi dan ahli yang independen. Standar
domestik yang berkualitas tinggi dapat dicapai dengan membuat standar domestik tersebut
konsisten dengan standar akuntansi internasional tersebut.

Indonesia telah melakukan konvergensi terhadap IFRS, yang resmi dicanangkan pada
tahun 2008, dengan target pencapaian tahun 2012. Saat ini mayoritas PSAK sudah merupakan
hasil konvergensi dengan IFRS, walaupun semuanya belum IFRS versi terakhir.

Peraturan Bapepam-LK No X.K.6 mengenai kewajiban penyampaian laporan tahunan


mengharuskan perusahaan terdaftar untuk menyampaikan laporan tahunan kepada OJK paling
lama 4 bulan setelah tahun buku berakhir. Laporan tahunan wajib dimuat dalam website emiten
atau perusahaan publik bersamaan dengan disampaikan laporan tahunan tersebut kepada OJK.
Laporan wajib memuat : a) ikhtisar data laporan keuangan penting, b) laporan dewan komisaris,
c) laporan direksi, d) profil perusahaan, e) analisis dan pembahasan manajemen, f) tata kelola
perusahaan, g) tanggung jawab sosial perusahaan, h) laporan keuangan tahunan yang telah
diaudit, dan i) surat pernyataan tanggung jawab dewan komisaris dan direksi atas kebenaran isi
laporan tahunan. Didalam aturan tersebut juga diatur kewajiban pengungkapan mengenai sistem
manajemen resiko dan pengendalian internal. Namun belum ada aturan yang mengharuskan
perusahaan mengungkapkan kepatuhannya terhadap pedoman GCG yang dikerluarkan KNKG.
Didalam laporan tersebut juga diharuskan dilakukan pengungkapan mengenai anggota dewan,
diantaranya terkait kualifikasi, kehadiran dalam rapat, independensi, remunerasi. Hal lain juga
wajib diungkapkan adalah kepemilikan, termasuk informasi mengenai pemegang saham utama
dan pengendali, baik langsung maupun tidak langsung, sampai kepada pemilik individu, yang
disajikan dalam bentuk skema atau diagram. Aturan terkait kepemilikan ultimat tersebut baru
diatur dalam peraturan X.K.6 yang direvisi pada tahun 2012. Transaksi pihak berelasi juga harus
diungkapkan. Hal ini juga di atur dalam PSAK no. 7 pengungkapan pihak berelasi, yang juga
mengatur mengenai kewajiban untuk mengungkapkan remunerasi dewan. Kewajiban
mengungkapkan remunerasi dewan tersebut juga diatur dalam peraturan X.K.6. peraturan
Bapepam-LK (X.K.1) juga mengharuskan perusahaan untuk mengungkapkan kepada publik
informasi yang secara material dapat mempengaruhi harga saham dalam waktu 2 hari.

C. Prinsip Comply or Explain terhadap CG code

Idealnya, perusahaan publik harus mengungkapkan dalam laporan tahunan pernyataan mengenai
bagaimana perusahaan menerapkan CG code sehingga memungkinkan pemegang saham untuk
mengevaluasi bagaimana prinsip-prinsip tersebut telah diterapkan, pernyataan apakah
perusahaan publik telah mematuhi atau tidak mematuhi semua prinsip dalam CG code tersebut
selama satu periode tahun buku. Perusahaan harus mengungkapkan alasan mengapa perusahaan
tidak mematuhi CG code tersebut. Salah satu negara yang sudah mewajibkan hal tersebut adalah
inggris. Di Indonesia sampai saat ini belum ada kewajiban melaksanakan prinsip “ comply or
explain” tersebut, namun OJK merencanakan untuk menerapkan ketentuan tersebut.

D. Saluran Komunikasi

Saluran yang digunakan perusahaan untuk mendiseminasi informasi harus memberikan akses
yang adil, tepat waktu, dan efisien bagi pengguna informasi. Salurtan untuk komunikasi dapat
bernilai sama pentingnya dengan isi informasi itu sendiri. Internet dan teknologi informasi lain
dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan desimenasi informasi karena informasi diinternet dapat
diakses dengan mudah dan tepat waktu kepada siapapun yang mempunyai akses ke internet.
Peraturan Bapepam-LK X.K.6 mengharuskan perusahaan publik untuk menyediakan soft copy
laporan keuangan mereka di website perusahaan. Pengumuman yang disampaikan perusahaan ke
bursa efek indonesia akan ditampilkan dalam website, termasuk laporan keuangan dan laporan
tahunan perusahaan publik.
E. Pengungkapan dan Transparansi oleh Pihak Perantara (intermediaries)

Kerangka tata kelola perusahaan harus dilengkapi dengan pendekatan efektif yang menyediakan
dan mendorong analisis, broker, agen pemeringkat, dan pihak lain untuk melakukan analisis atau
memberikan nasihat yang relevan untuk investor, yang bebas dari konflik kepentingan yang
dapat mempengaruhi integritas analisi atau nasihat pihak- pihak tersebut.

Selain diperlukan auditor ekternal yang kompeten dan independen, dan juga untuk memfasilitasi
diseminasi informasi yang tepat waktu, diperlukan langkah-langkah untuk memastikan integritas
dari profesi dan aktivitas pihak-pihak yang melakukan analisis dan memberikan saran ke pasar.
Pihak-pihak perantara tersebut memerankan peranan penting dalam mendorong dewan untuk
mengikuti praktik tata kelola perusahaan yang baik.

Masalah akan timbul jika pihak-pihak perantara tersebut memiliki konflik kepentingan yang
dapat mempengaruhi kepentingan mereka.konflik tersebut dapat terjadi jika pihak yang
memberikan masukan ke perusahaan juga ingin memberikan jasa lain ke perusahaan, atau jika
mereka memiliki kepentingan material diperusahaan atau di perusahaaan pesaing.
Salah satu solusi dari permasalahan tersebut adalah keharusan pengungkapan penuh atas konflik
kepentingan dan bagaimana entitas perantara mengelola konflik tersebut. Salah satu aspek
pengungkapan yang penting adalah bagaimana entitas merancang insentif untuk karyawannya
untuk mengeliminasi potensi konflik kepentingan, sehingga investor dapat menilai rasio yang
ada dan kemungkina bias yang timbul.
Prinsip OECD kelima (V), terdapat enam sub-bagian dari pembahasan mengenai
pengungkapan dan transparansi ini. Berikut adalah uraian dan penjelasannya.
a) Pengungkapan harus mencakup informasi material tentang: 1) Keuangan dan hasil operasi
perusahaan; 2) Tujuan perusahaan; 3) Kepemilikan saham mayoritas dan hak suara; 4)
Kebijakan remunerasi untuk dewan komisaris dan direksi, dan informasi tentang anggota
dewan, termasuk kualifikasi mereka, proses seleksi, perangkapan jabatan dan
independensinya; 5) Transaksi dengan pihak terkait (afiliasi); 6) Faktor-faktor risiko yang
akan diperkirakan; 7) Hal-hal penting berkiatan dengan karyawan dan pemangku
kepentingan (stakeholder) lainnya; dan 8) Struktur dan kebijakan tata kelola khususnya
bekaitan dengan isi dari pedoman atau kebijakan tata kelola perusahaan dan penerapannya.
b) Informasi harus disajikan dan diungkapkan sesuai dengan standar kualitas akuntansi yang
berkualitas tinggi dan pengungkapan keuangan dan non-keuangan.
c) Audit tahunan harus dilakukan oleh auditor independen, kompeten dan berkualitas dalam
rangka memberikan jaminan eksternal dan obyektif kepada pengurus dan pemegang saham
bahwa laporan keuangan cukup mewakili posisi keuangan dan kinerja perusahaan dalam
semua hal yang material.
d) Auditor eksternal harus bertanggung jawab kepada pemegang saham dan berkewajiban
kepada perusahaan untuk melakukan kerja profesional dalam melakukan audit.
e) Media penyebaran informasi harus memberikan akses informasi yang relevan bagi pengguna
secara sama (equal), tepat waktu, dan biaya yang efisien.
f) Kerangka tata kelola perusahaan harus mengarah dan mendorong terciptanya ketentuan
mengenai analisa atau saran dari analis, pedagang perantara efek, pemeringkat dan pihak
lainnya yang relevan dengan keputusan investor, tidak mengandung benturan kepentingan
yang material yang mungkin mempengaruhi integritas analisa atau saran yang diberikan.
Untuk meningkatkan implementasi tata kelola yang baik di Emiten dan Perusahaan
Publik, pendekatan “comply or explain” dapat digunakan. Pelaksanaan Pedoman Umum Good
Corporate Governance oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia baik perusahaan terbuka
(Emiten/Perusahaan Publik) maupun perusahaan tertutup pada dasarnya bersifat comply and
explain. Di mana perusahaan diharapkan menerapkan seluruh aspek Pedoman Good Corporate
Governance ini. Apabila belum seluruh aspek pedoman ini dilaksanakan maka perusahaan harus
mengungkapkan aspek yang belum dilaksanakan tersebut beserta alasannya dalam laporan
tahunan. Namun demikian mengingat Pedoman ini hanya merupakan acuan sedangkan
pelaksanaannya diatur lebih lanjut oleh otoritas masing-masing industri maka penerapan ini
bersifat voluntary dan tidak terdapat sanksi hukum apabila perusahaan tidak menerapkan
pedoman ini. Penerapan pendekatan ini akan meningkatkan fleksibilitas implementasi ketentuan
dibandingkan bila ketentuan tersebut diwajibkan melalui peraturan.
Pengungkapan melalui media penyebaran informasi merupakan hal penting dalam
informasi itu sendiri. Internet dan teknologi informasi lainnya juga memberi peluang untuk
penyebaran informasi yang lebih baik tentang tata kelola perusahaan. Dengan
mempertimbangkan pengungkapan secara berkelanjutan atau pengungkapan kini, praktek yang
baik adalah melakukan pengungkapan yang ”segera” atas kejadian yang material. Kerangka
corporate governance harus memastikan bahwa keterbukaan informasi perusahaan secara akurat
dan tepat waktu harus dilakukan. Keterbukaan tersebut harus mencakup, tetapi tidak terbatas
pada informasi yang material mengenai kinerja keuangan perusahaan, transaksi benturan
kepentingan, pengelolaan risiko, struktur pengelolaan dan kebijakan perusahaan, khususnya
tentang prinsip corporate governance. Semua informasi yang disajikan harus disiapkan dan
disajikan sesuai dengan standar akuntansi yang berkualitas tinggi. Laporan keuangan harus
diaudit oleh auditor yang independen, kompeten dan memiliki kualifikasi yang tinggi. Dalam
pelaksanaan tugasnya akuntan publik harus beranggungjawab kepada pemegang saham.
Kerangka corporate governance juga harus memiliki mekanisme yang mendorong penggunaan
analis, brokers, dan pemerintah yang tidak memiliki benturan kepentingan dengan perusahaan.
Hal tersebut untuk memastikan terjaganya integritas profesi-profesi tersebut.

F. Peran Pengendalian Internal dan Manajemen Risisko dalam Mengurangi Konflik


Keagenan dan Penegakan GCG

Sistem tata kelola perusahaan yang efektif memungkinkan perusahaan mencapai tingkat
kepatuhan dan kinerja yang sesuai ekspektasi pemegang saham dan pemangku kepentingan. Oleh
karena itu, diperlukan pengendalian internal yang efektif dan manajemen resiko dalam proses
bisnis normal dan juga proses tata kelola perusahaan, dan kedua hal tersebut membentuk
kerangka akuntabilitas dan pelaporan reguler ke pemegang saham (HK CPA,2005)

Pengendalian internal sangat penting untuk memastikan keberhasilan operasi perusahaan dan
berjalannya operasi sehari-hari perusahaan, serta membantu perusahaan mencapai tujuan
usahanya. Cakupan pengendalian intern sangat luas, yaitu termasuk semua pengendalian yang
terkait proses strategis, tata kelola, dan manajemen, yang mencakup semua aktivitas dan operasi
perusahaan. Tidak hanya terbatas pada aspek keuangan dan pelaporan semata. Cakupannya juga
bukan hanya semata aspek kepatuhan, tetapi juga aspek kinerja perusahaan.
Pengendalian internal (COSO, 2013) adalah proses, yang dipengaruhi oleh dewan, manajemen,
dan personel lain diperusahaan, yang dirancang untuk memberikan keyakinan memadai terkait
pencapain tujuan berikut :
1. Efektivitas dan efisiensi operasi
2. Keandalan pelaporan keuangan
3. Kepatuhan terhadap hukum dan regulasi yang berlaku

Kerangaka pengendalian internal COSO (2013) menyebutkan tiga kategori tujuan yang terkait
dengan aspek pengendalian internal yang berbeda-beda, yaitu tujuan operasi, tujuan pelaporan,
dan tujuan kepatuhan.

Pengendalian Internal terdiri dari 5 komponene yang terintegrasi yaitu (COSO, 2013):
1. Lingkungan Pengendalian
Lingkungan Pengendalian adalah kumpulan standar, proses dan struktur yang memberikan dasar
untuk menjalankan pengendalian internal dalam perusahaan. Direksi dan Dewa Komisaris adalah
pihak yang bertanggung jawab untuk memberikan contoh (sering disebut istilah tone at the spot)
pentingnya pengendalian internal bagi seluruh karyawan di perusahaan. Lingkungan
pengendalian terdiri atas nilai integritas dan etika organisasi, parameter yang memungkinkan
Dewan Komisaris untuk menjalankan fungsi pengawasannya, dan mempertahankan orang –
orang yang kompeten, serta ukuran, insentif dan imbalan kenerja yang sesuai untuk mendorong
akuntabilitas atas kinerja.

2. Penilaian Risisko
Penilaian resiko adalah proses dinamis dan interatif untuk mengidentifikasi dan menilai risiko
dari pencapaian tujuan perusahaan. Penilaian risiko merupakan dasar untuk menentukan
bagaimana mengelola risiko. Sebelum melakukan penilaian risiko, perusahaan perlu menetapkan
tujuan perusahaan, yang kemudian dikaitkan dengan berbagai tingkat yang ada di perusahaan
terkait dengan operasi, pelapor dan kepatuhan. Manajemen menetapkan tujuan tersebut dengan
cukup jelas yang memungkinkan mereka unutk mengidentifikasi dan menganalisis risiko dari
tujuan tersebut. Penilaian risiko juga mengharuskan manajemen untuk mengidentifikasi dan
menganalisis risiko dari tujuan tersebut. Penilaian risiko juga mengharuskan manajemen
mempertimbangkan pengaruh dari kemungkinan perusahaan yang etrjadi dalam lingkungan
ekternal dan perubahan dalam model bisnis perusahaan yang dapat menyebabkan pengendalian
internal menjadi tidak efektif.

3. Aktivitas Pengendalian
Aktivitas pengendalian dalam tindakan yang dilakukan berdasarkan kebijakan dan prosedur
untuk memastikan arahan manajemen untuk memitigasi risiko untuk mencapai tujuan telah
dijalankan. Aktivitas tersebut dilakukan di tiap tingkat dalam perusahaan, dalam setiap proses
bisnis. Beberapa aktivitas tersebut antara lain otoritas dan persetujuan, varifikasi, rekosiliasi, dan
penitian kinerja bisnis. Dalam aktivitas pengendalian diperlukan adanya pemisahaan tugas, yang
apabila tidak dimungkinkan maka perlu diganti dengan aktivitas pengendalian yang lain.

4. Komunikasi
Informasi sangat penting bagi perusahaan untuk menjalankan pengendalian internal. Manajemen
mendapatkan atau menghasilkan dan menggunakan informasi yang relevan dari berbagai sumber
(internal & ekternal) untuk mendukung berfungsinya komponen pengendalian internal.
Komunikasi adalah proses berkelanjutan dan interatif untuk menyediakan, membagi, dan
mendapatkan informasi yang diperlukan. Komunikasi internal adalah cara mendiseminasikan
informasi di dalam perusahaan. Komunikassi ekternal memungkinkan perusahaan untuk
mendapatkan informasi yang relevan dari luar dan memberikan informasi yang dperlukan pihal
ekternal
5. Aktivitas Monitoring
Monitoring adalah evaluasi untuk menilai apakah tiap elemen dari pengendalian internal sudah
ditetapkan berfungsi sebagaimana seharusnya. Evaluasi terus menerus diterapkan dalam proses
bisnis yang berbagai tingkat di perushaan akan memberikan informasi yang tepat waktu.
Evaluasi terpisah yang dilakukan secara periodik dapat dilakukan secara periodic dapat
dilakukan sesuai kebutuhan. Temuan dari monitoring akan dievaluasi terhadap kriteria yang
ditetapkan regulator, badan yang menetapkan standar yang diakui, atau Direksi dan Dewan
Komisaris. Setiap defisiensi dikomuniskasikan ke Direksi dan dewan Komisaris.

F. Peran Akuntansi Profesional


Berikut adalah beberapa peran akuntansi professional terkait prinsip pengungkapan dan
transparansi :
1. Akuntan manajemen mempunyai peranan dalam menyiapkan laporan keuangan sesuai
dengan standar akuntansi yang berlaku, serta memastikan perusahaan menyampaikan
informasi yang transparan, akurat, dan tepat waktu ke pemegang saham dan pemangku
kepentingan lain.
2. Akuntan manajemen membantu Direksi dan satuan tugas terkait dalam merancang dan
mengimplementasikan system informasi dan system pengendalian internal yang mendorong
keterbukaan terhadap pemegang saham. Akuntan public pada saat melakukan audit juga
melakukan pengujian atas pengendalian internal dan memberikan rekomendasi perbaikan
yang diperlukan.
3. Auditor internal secara berkala melakukan pengujian atas pengendalian internal serta
melaporkan hasilnya kepada Direksi dan Dewan Komisaris (juga Komite Audit). Auditor
internal membantu Direksi dalam memperkuat dan meningkatkan pengendalian internal.
Auditor internal memberikan saran/masukan unutk memeperbaiki proses
mengidentifikasikan risiko dan manajemen risiko.
4. Akuntan professional sebagai anggota Komite Audit, membantu Dewan Komisaris dalam
melakukan fungsi pengawasan atas system pelaporan keuanang, system penegndalian
internal dan manjamen risiko perusahaan serta ketaatan terhadap aturan yang berlaku,
termasuk aturan terkait pengungkapan dan tranparansi.

G. Pelaksanaan Prinsip Pengungkapan dan Transparansi di Indonesia menurut Hasil


Penilaian Bank Dunia dan IICD-ASEAN CG Scorecard

Hasil Penilaian oleh Bank Dunia


Pada saat world Bank (2010) melakukan studi belum ada aturan mengenai kewajiban
pengungkapan pemegang saham ultimat, sehingga salah astu kelemahan yang disebutkan oleh
Bank Dunia adalah belum adanya kewajiban tersebut. Namun pada tahun 2012, Bapepam-LK
telah merevisi peraturan X.K.6 yang mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan mengenai
pemegang saham ultimat tersebut.
Hasil studi World Bank (2010) memberikan beberapa rekomendasi terkait pengungkapan dan
transparansi, yaitu:
1) Regulasi yang lebih baik terkait pengungkapan kepemilikan dan pengungkapan non keuangan
lainnya.
2) Mengharuskan perusahaan untuk mengungkapkan ketaatan terhadap kode GCG
3) Meningkatkan kapabilitas Bapepam-LK untuk mengawasi pengungkapan perusahaan.

Pengungkapan aspek non keuangan perlu diatur secara lebih efektif dan dipatuhi oleh perusahaan
public. Pengungkapan tersebut antara lain mencakup remunasi anggota dewan (termasuk
remunasi tiap individu anggota dewan, kebijakan remunerasi, dan kaitannya dengan kinerja
jangka panjang perusahaan serta kebijakan manajemen risiko dan konfilk kepentingan).

Hasil Penelitian oleh IICD – ASEAN CG Scorecard


Rata – rata skor untuk kategori ini relative yang paling tinggi dibandingkan skor di kategori lain
karena beberapa praktik pengungkapan telah diwajibkan oleh Bapepam-LK atau BEI. Rata- rata
skor ini adalah 53,7 pada tahun 2012 dan 63,5 pada tahun 2013, dengan skor maksimum 85,0
dan skor minimum 19,5 untuk tahun 2012 dan 90,0 dan 33,3 untuk tahun 2013. Beberapa
pengungkapan yang diwajibkan antara lain, indicator kinerja keuangan, transaksi pihak berelasi
(nama pihak-pihak berelasi, sifat, dan nilai transaksi pihak berelasi).. laporan keuanagn interim,
dan laporan keuangan auditan. Laporan keuangan auditan harus dipublikasi dalam waktu 90 hari
sejak tanggal tutup buku serta harus ada pernyataan Direksi yang menyatakan kewajaran laporan
keuangan. Berikut adalah beberapa area yang masih perlu ditingkatkan dalam katagori ini :
a) Perusahaan public hanya mengungkapkan kepemilikan langsung oleh pemegang saham
besar, anggota direksi dan komisaris. Perusahaan public belum melakukan pengungkapan
kepemilikan tidak langsung dari pihak – pihak tersebut.
b) Perusahaan public jarang yang melakuakn pengungkapan di laporan tahunan terkait dengan
ketaantan terhadap kode GCG, karena belum ada aturan yang mewajibkan.
c) Perusahaan pubik melakuakn pengungkapan profil anggota Direksi dan Komisaris, tetapi
kebanyakan tidak mengungkapkan jabatan yang dipegang anggota dewan di peusahaan
terdaftar lainnya.
d) Sebagian besar perusahaan public juga tidak mengungkapkan audit fee dan non-audit fees
yang dibayarkan kepada KAP yang mengaudit perusahaan mereka.

H. Menggunakan ASEAN CG Scorecard untuk Menilai Praktik Pengungkapan dan


Transparansi
Berikut adalah hal – hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan penilaian praktik
pengungkapan dan transparansi di perusahaan terbuka dengan menggunakan ASEAN CG
Scorecard:
1. Struktur kepemilikan yang transparansi mengungkapkan identitas pemegang saham dengan
kepemilikan 5% atau lebih, mengungkapakan kepemilikan saham secara langsung maupun
tidak langsung dari pemegang saham mayoritas/substansi, mengungkapkan kepemilikan
saham langsung dan tidak langsung oleh ditektur dan komisaris, mengungkapkan perusahaan
induk, perusahaan anak, perusahaan asosiasi, ventura bersama, entitas bertujuan khusus.
2. Kualitas laporan tahunan yaitu terkait pengungkapan risiko utama, tujuan peruahaan,
indicator kinerja kuangan dan non keuangan, kebijakan dividen, kebijakan whistle-blowing,
informasi mengenai direktur dan komisaris (biografi, pelatihan yang diikuti, jumlah rapat,
jumlah kehadiran dalam rapat remunarasi), pernyatan mengenai kepatuhan terhadap CG
Code (Comply or Explain)
3. Pengungkapan transaksi pihak berelasi kebijakan review dan persetujuan terhadap transaksi
pihak berelasi, informasi pihak berelasi, sifat serta jumlah transaksi.
4. Pengungkapan transaksi perdagangan orang dalam oleh pihak dalm perusahaan.
5. Pengungkapan audit fee dan non audit fee serta apakah besaran non-audit fee lebih besar
daripada audit fee (jika ya nilainya nol)
6. Penggunaan saluran komunikasi pelaporan interim website, analysts briefing, press
conferences.
7. Informasi yang terdapat dalam website apakah mencakup informasi yang lengkap dan terkini.
Informasi tersebut adalah laporan tahunan dan laporan keuangan, anggaran dasar, panggilan
RUPS, operasi bisnis perusahaan, struktur pemegang saham, struktur grup bisnis perusahaan,
maeri yang disampaikan ke analis dan media.
8. Penerbitan laporan keuangan dan laporan tahuanan secara tepat waktu serta pernyataan
kewajaran laporan keuangan tahuanan oleh Direksi.
9. Pengungkapan nomor kontak unit/pihak yang bertanggung jawab atas hubungan investor

Dalam ASEAN CG Scorecard juga diberikan penilaian tambahan (bonus) dan pengurangan
(penalti) untuk beberapa hal, yaitu :
a) Bonus jika perusahaan mengumumkan laporan keuangan dalam waktu kurang dari 60 hari
dan jika perusahaan pengungkapkan rincian remunerasi Presiden Direktur.
b) Penalti jika perusahaan menerima opini audit selain opini wajar tanpa pengecualian, serta
jika perusahaan merevisi laporan keuangan selain karena alasan perubahan kebijakan
akuntansi.

Prinsip V OECD : Keterbukaan dan Transparansi


Pada prinsip ke-5 ini ditegaskan bahwa kerangaka kerja corporate governance harus memastikan
bahwa keterbukaan informasi yang tepat waktu dan akurat dilakukan atas semua hal yang
material berkaitan dengan perusahaan, termasuk didalamnya keadaan keuangan, kinerja,
kepemilikan dan tata kelola perusahaan.
Prinsip ini diperlukan untuk mengurangi informasi asimestri yang merupakan pemicu dari
adanya konflik kepentingan antara principal dan agen. Dengan lebih banyak pengungkapan ke
public, maka pemegang saham public dan pemangku kepentingan akan lebih mudah memonitor
dan menilai kinerja perusahaan. Pemegang saham pengendali dan manajemen akan lebih sulit
mengekspropriasi pemegang saham public dan pemengku kepentingan karena tindakan mereka
akan lebih muda dideteksi.
Prinsip VI OECD : Tanggung Jawab Dewan
Prinsip CG dari OECD yangke VI berkaitan dengan tanggung jawab komisaris dan direksi
perusahaan. Dalam prinsip ini dinyatakan bahwa kerangka kerjatata kelola perusahaan harus
memastikan adanya pengarahan strategis dan monitoring yang efektif terhadap direksi oleh
dewan komisaris serta akuntabilitas dewan terhadap pemegang saham.berkaitan dengan adanya
dua macam struktur pengawasan dan pengolahan perusahaan yaitu dual board dan single board
prinsip ini secara umum dapat diterapkan baik pada perusahaan yang memisahkan fungsi dewan
komisaris sebagaipengawas (non-excutive director) dan direksi sebagai pengurus perusahaan
(excutive sirector), maupun pada perusahaan yang menyatakan antara pengawas dan pengurus
perusahaan dalam satu dewan.
Prinsip ini pada dasarnya menyatakan bahwa perlu ada pengawasan dan pengawasan strategis
terhadap agen (di Indonesi direksi) oleh dewan (di Indonesia dewan komisaris) untuk
mengurangi kemungkinan agen melakukan tindakan yang merugikan perusahaan dan
memastikan tindakannya adalah untuk kepentingan terbaik perusahaan.
BAB III
PEMBAHSAN KASUS

A. Latar Belakang Satyam Computer Service


Kasus penipuan terbesar di India adalah kasus Satyam Computer Services (Satyam)
(Bhasin,2013), Satyam adalah perusahaan pengekspor jasa perangkat lunak terbesar, dengan
operasi menyebar di 68 negara. Kasus yang oleh media india diberi nama “India’s Enron”
(Basilico et al., 2012; Bhasin, 2013), tersebut meliputi penipuan ( fraud ) dan manipulasi laporan
keuangan selama periode 10 tahun. Ironisnya, Satyam berarti “truth” dalam bahasa India kuno
“Sanskrit” (Basilico et al., 2012). Satyam bahkan pernah memenangkan “Golden Peacock
Aword” untuk the best governaned company di tahun 2008 (Basilico et al., 2012; Behan, 2009).
Kasus penipuan di Satyam tersebut dilakukan oleh Chairman perusahaan tersebut, yaitu
Ramalinga Raju (Raju), Mr. Ramalinga Raju (Chairman dan pendiri Satyam), yang telah
ditangkap dan mengaku melakukan penipuan sebesar $1.47 billion (atau Rs 7,800). Raju dan
saudaranya, B Rama Raju, yang merupakan Managing Director menyembunyikan penipuan
tersebut dari dewan, manajer senior dan auditor perusahaan.

B. Sejarah Satyam Computer Services Limited


Satyam Computer Services Limited adalah perusahaan yang sedang “naik daun” dalam
industry “outsourced” IT Sercices di India. Satyam didirikan tahun 1987 di Hyderbad (India)
oleh Ramalinga Raju (Sharma,2011). Pada awal berdirinya perusahaan tersebut hanya
mempunyai 20 pegawai dan kemudian berkembang pesat menjadi perusahaan global. Satyam
menawarkan jasa outsourcing teknologi informasi (TI) dan proses bisnis untuk berbagai sector
industry (Bhasin,2013).

Pada tahun 2004, bisnis jasa TI Satysm mencakup 13,120 orang teknisi yang melayani 300
pelanggan di seluruh dunia. Pada saat itu, pasar jasa TI di seluruh dunia diestimasi sekkitar $400
billion, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sekitar 6.4%. untuk dapat bersaing secara
kompetitif, baik dengan pesaing domestic dan global, perusahaan melakukan berbagai strategi
pertumbuhan (Bhasin, 2013).
Satyam memengkan berbagai penghargaan untuk inovasi, tata kelola dan akuntabilitas
perusahaan di tahun 2007, Ernst & Young memberi penghargaan with ‘Enterpreaneur of the
year’ (Rishi and Singh,2011). Pada bulan April 2008, Satyam memenangkan penghargaan dari
MZ Consult sebagai ‘leader in Indian CG and accountability’ (Bhasin,2013). Di tahun yang
sama, di bulan September the World Council For Corporate Governance yang berbasis di
London menganugerahi Satyam ‘Global Peacock Award’ untuk akuntabilitas perusahaan yang
global excellence (Behan,2009; Rishi and Singh,2011). Namun, kurang dari lima bulan setelah
memenangkan penghargaan tersebut, Satyam diketahui melakukan penipuan akuntansi.

Pada tanggal 7 januri 2009, Raju menyampaikan surat ke Board of Directors dari satyam
yang menyatakan bahwa ia telah manipulas angka-angka di lakukan bertahun-tahun. Raju
menyatakan bahwa ia telah menyebabkan asset di neraca Satyam dicatat lebih (overstated)
sebesar $1,04 bilion. Sejumlah $1,47 bilion dari utang bank dan kas sebenarnya tidak ada.
Satyam juga menjelaskan kurang liabilitas di dalam neraca. Satyam mencatat lebih laba hampir
di setiap kusrtal selama bebrapa tahu untuk memenuhi ekspektasi analis (Bhasin,2013).

Pada tanggal yang sama 7 januari 2009, Ramalinga Raju juga mengajukan pengunduran
diri setelah menginformasikan anggota board dan Securities and Exchange Board of India
(SEBI) bahwa laporan keuangan Satyam telah dimanipulasi.

C. Permasalahan
1. Manipulasi Laporan Keuangan
Dalam laporan keuangannya, satyam melaporkan kinerja yang sangat baik dalam semua
parameter operasi (dapat dilihat di table 1)
Kinerja 2003-04 2004-05 2005-06 2006-07 2007-08 Average Groth
Rate (%)
Penjualan Bersih 25,415,4 34,642,2 46,343,1 62,284,7 81,372,8 38
Laba Operasi 7,743 9.717 15,714,2 17,107,3 20,857,4 28
Laba Bersih 5,557,9 7,506,6 12,397,5 14,232,3 17,157,4 33
Arus Kas Operasi 4,165,5 6,386,6 7,868,1 10,390,6 13,708,7 35
ROCE (%) 27,95 29,85 31,34 31,18 29,57 30
ROE (%) 23,57 25,88 26,85 28,14 26,12 26
Selama periode 2003-2008, hampir semua ukuran keuangan menjadi perhatian investor
menunjukkan perusahaan mengalami pertumbuhan yang pesat. Satyam menghasilkan total
pedapatan Rs. 25,415.4 juta pada tahun 2003-04. Pada bulan maret 2008, pendapatan perusahaan
bertumbuh lebih dari3 kali lipat, dengan rata-rata pertumbuhan 38%. Rata-rata tingkat
pertumbuhan laba operasi, laba bersih dan arus kas operasi perusahaan masing-masing adalah
28%, 33% dan 35%. Laba per saham perusahaan juga memiliki tingkat pertumbuhan sebesar
40%. Harga saham perusahaan awalnya dibulan januari 2003 adalah sebesar 138,08 INR
menigkat tajam menjadi 526,25 INR, yaitu penigkatan 300% dalam periode 5 tahun (www.
Capitaliq.com, dalam Bhasin,2013). Berdasarkan data-data resebut. Satyam menunjukkan
pertumbuhan perusahaan dan nilai pemegang saham yang signifikan. Namun, angka-angka
dalam laporan keuangan tersebut tidak menunjukkan kondisi Satyam yang sesungguhnya
(Bhasin,2013)
Table 2 neraca dan laporan laba rugi Satyam: pada tanggal 30 September 2008. (Rs.
Dalam crore)
Aktual Dilaporkan Selisih
Saldo kas dan bank 321 5.361 5040
Bunga diakru atas deposito bank Nil 376 376
Liabilitas disajikan lebih rendah 1.230 None 1.230
Piutang disajikan lebih tinggi 2.161 2.651 490
Total
Pendapatan 2.112 2.700 588
Laba bersih 61 649 588

Perbedaan yang timbul antara laba operasi actual dan laba yang dicatat dilaporan keuangan
akibat manipuasi yang dilakukan telah bertambah bertahun-tahun. Perbedaan tersebut
menjadi sulit untuk dikelola perusahaan. Raju menjelaskan bahwa berbagai upaya untuk
menghilangkan perbedaan tersebut tidak berhasil dan akuisisi Maytas merupakan upaya
terakhir untuk mengganti asset fiktif dengan asset riil (Sharma, 2011). Tetapi investor
beranggapan upaya tersebut merupakan upaya untuk mengalirkan kas keluar dari Satyam,
yang mana keluarga Raju hanya mempunyai kepemilikan sedikit, ke perusahaan yang
dikendalikan oleh Raju dan keluarganya (Bhasin,2013).

2. Menciptakiptakan berbagai rekening Koran


Raju dan kepala internal audit global menggunakan berbagai teknik untuk
melakukan penipuan tersebut. Raju menciptakan berbagai rekening Koran untuk melakukan
penipuan. Ia memanipulasi akun bank untuk menambah nilai kas di neraca. Ia juga
memanipulasi laporan laba rugi dengan mencatat pendapatan bunga dari akun bank palsu
tersebut.

Kepala internal audit global perusahaan membuat identitas pelanggan palsu dan
membuat tagihan palsu untuk pelanggan palsu dan membuat tagihan palsu untuk pelanggan
palsu tersebut untuk meningkatkan total pendapatan perusahaan. Ia juga memalsukan
persetujuan board untuk mendapatkan peminjaman atas nama perusahaan melalui
pendaftaran saham perusahaan melalui AmericanDepository Receips di Amerika Serikat
tidak pernah dicatat dalam neraca (Bhasin,2013).

3. Menggaji karyawan fiktif

Raju juga mengungkapkan bahwa ia membuat 6.000 akun gaji palsu selama beberapa
tahun dan menggelapkan uang tersebut setelah disetor perusahaan. Namun, menurut JPU
Mantan Chairman Satyam Computer Services, B.Ramalinga Raju, menjarah gaji untuk
13.000 karyawan, yang sebenarnya tidak ada. Dalam bahasa inggris, karyawan fiktif ini
disebut ghost (hantu).

Terjemahan cuplikan tulisan Eric Bellman dan Niraj Sheth, “Satyam paid 13.000 ghost
employees” dalam The Wall Street Journal, edisi 23 Januari 2009. Ini bukan satu-satunya
bentuk fraud di Satyam, ada banyak fraud lain yang masih massif dan terstruktur.

Menurut JPU, gaji karyawan fiktif ini berjumlah sekitar US$4 Juta sampai $6 Juta per bulan.
Uang-uang ini disalurkan ke perusahaan bayangan (front compenies) dan melalui rekening
bank milik adik Tuan Raju dan ibunya, untuk membeli ribuan hektar tanah.

S. Bahar Kumar, pengacara untuk keluarga Raju, menyatakan dakwaan JPU didasarkan atas
spekulasi dan merupakan kebohongan besar.

JPU tidak member bukti-bukti dalam persidangan terbuka. Namun, dakwaan ini menunjukkan
bahwa sangkaan Fraud di Satyam lebih dalam dan luas dari apa yang diakui Raju awal bulan ini.
Dalam surat kepada Dewan tanggal 7 januari, Raju menjelaskan selama bertahun-tahun Satyam
melakukan fraud yang meninggikan laba perusahaan, termasuk saldo bank fiktif di atas US$ 1
miliar.

Menurut pengacara Kumar, tidaklah mungkin untuk seorang mempermainkan rekening 13.000
pegawai fiktif. Ia juga telah membantah bahwa raju telah mengakui pegawai fiktif, krtika Raju
diintrogasi. Selain diperiksa polisi, Satyam juga diinvestigasi Serious Fraud Investigation Office
dan Securities and Exchange of India.

Behan (2009) menyampaikan sejumlah praktik board governance di Satyam:

1. Komposisi Dewan

Dari 6 orang non executive board, empat diantaranya akademisi, satu orang mantan
sekretaris cabinet dari pemerintah India, dan satu orang mantan CEO dari perusahaan
teknologi. Dua dari independent directors Satyam mempunyai jabatan sebagai anggota
board dalam perusahaan lain.

2. Indepencensi Dewan

UU Perseroan India mengharuskan sepertiga dari board of directors harus Independen,


tetapi perusahaan mepunyai direksi untuk menunjuk independent directors tersebut.
(Kunal, 2011). Satyam menyebut 5 dari 9 directors di perusahaannya adalah independen
directors. Salah satu independent directors Satyam adalah Profesor dari Harvard Business
school yaitu Krisna Palepu, yang menerima pembayaran sebesar $200.000 dalam setahun
terkait jasa yang diberikannya ke perusahaan. Dalam kasus Satyam,independent directors
ditunjuk oleh pihak yang paling terlibat dalam kasus tersebut.

Posisi Chaiman dan CEO di Satyam dipegang oleh dua orang brbeda, namun keduanya
adalah saudara (yaitu Ramalinga Raju dan B. Rama. Raju). Selain itu non-manajement
directors juga tidak melakukan pertemuan secara berkala dengan manajement directors.
Tujuh dari Sembilan directors yang hadir dalam rapat board pada saat pengambilan
keputusan bulat untuk mengakuisi Maytas Infra dan Maytas Properties. Dua directors
tidak berpatisipasi dalam pengambilan keputusan tersebut adalah pendiri perusahaan
(Ramalinga Raju dan B.Rama Raju), karena peraturan yang ada hanya memperbolehkan
directors yang tidak memiliki benturan kepentingan yang dapat ikut dalam pengambilan
keputusa. Hal ini menimbulkan kecurigaan atas peranan independent directors yang
hadir dalam rapat tersebut. independent directors seharusnya juga mempertanyakan
mengapa perusahaan mempunyai saldo kas yang sangat besar (sebagaimana yang
disajikan dalam laporan keuangan yang talah dimanipulasi).

3. Komite Dewan

Pada bulan agustus 2008, Satyam mengakui bahwa mereka tidak memiliki anggota
komite audit yang ahli keungan, sebagaimana yang diharuskan regulator pasar modal di
Amerika Srikat. Peranan komite audit adalah memastikan transparansi di perusahaan,
laporan keuangan dan pengungkapan keuangan memberikan informasi yang tepat,
memadai dan dipercaya dan meminimalisir kasus penipuan, iregularitas dan kegagalan
pengendalian internal dalam perusahaan. Namun dalam kasu Satyam komite auditnya
gagal menjalankan fungsi tersebut (Sharma 2011).

Satyam juga tidak mempunyai Nominating/corporate governance, struktur dewan


di Satyam justru memiliki satu komite yang jarang dimiliki perusahaan lain, yaitu
“investors Governance Committee”(Behan 2011).

Peran Auditor Eksternal


Kantor Akuntan Publik PricewaterhouseCoopers (PwC), mengaudit buku-buku Satyam dari
bulan Juni 2000 sampai diskotekif kecurangan di tahun 2009. Banyak pihak mengkritik PwC
karena tidak dapat mendeteksi penipuan tersebut. Salah Satu pos yang menjadi perhatian adalah
$ 1,04 miliar yang diklaim Satyam dalam neracanya sebagai deposito "tanpa bunga". Menurut
profesional akuntansi, "setiap perusahaan yang masuk akal akan menginvestasikan uangnya ke
rekening berbunga, atau mengembalikan kelebihan uang tersebut kepada para pemegang saham.
Sejumlah besar uang tunai seharusnya merupakan 'bendera merah' bagi auditor agar diperlukan
verifikasi dan pengujian lebih lanjut. Selanjutnya, tampak bahwa auditor tidak memverifikasi
secara independen dengan bank dimana Satyam mengklaim memiliki deposito ".

Selain itu, kecurangan Satyam terus berlanjut selama beberapa tahun dan melibatkan manipulasi
neraca dan laporan laba rugi. Kapanpun Satyam membutuhkan lebih banyak pendapatan untuk
memenuhi perkiraan analis, ia hanya menciptakan sumber "fiktif" dan memang berkali-kali,
tanpa auditor pernah menemukan kecurangan tersebut. Dengan curiga, Satyam juga membayar
PwC dua kali tagihan perusahaan lain untuk audit tersebut, yang menimbulkan pertanyaan
tentang apakah PwC terlibat dalam penipuan tersebut. Selanjutnya, PwC menemani perusahaan
tersebut selama hampir 9 tahun dan tidak menemukan kecurangan tersebut, sedangkan Merrill
Lynch menemukan kecurangan tersebut sebagai bagian dari due diligence hanya dalam 10 hari.

PwC awalnya menyatakan bahwa mereka telah melakukan audit sesuai standar auditing yang
berlaku (Bhasin,2012). Seminggu setelah pengakuan Raju, auditor Satyam akhirnya mengakui
bahwa laporan audit mereka salah karena berdasarkan laporan keuangan yang salah yang
diberikan oleh Satyam (Sharma,2011).

Berdasarkan hasil investasi Serious Froud Investigatioan Office (SFIO), peran PwC dalam Kasus
Satyam mirip peran Arthur Anderson dalam kasus Endron. Partner PwC S, Goplakrishnan and S
Talluri, menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui adanya kasus penipuan yang dialami oleh
perusahaan. Namun laporan SFIO bahwa auditor tidak menggunakan mekanisme pengujian yang
independen, namun menggunakan alat investgasi Satyam PwC juga tidak melaporkan ke
pemegang saham adanya kelemahan pengendalian dalam Sistim Informasi dan eksposur risiko
dari penipuan, walaupun mereka sudah mengobservasi adanya kelemahan pengendalian tersebut
(Sharma,2011).

Kepala internal audit Satam, VSP Gupta, juga menyatakan bahwa walaupun cakupan sumber
daya internal audit Satyam tidak memadai untuk ukuran bisnis perusahaan. PwC mengabaikan
fakta tersebut dan tetap memberikan sertifikasi atas perusahaan. PwC bahkan tidak melakukan
uji pengendalian 1% dari seluruh invoice dan juga tidak melakukan verifikasi yang memadai
atas piutang . PwC juga tidak melakukan tugasnya dengan baik dalam memverifikasi saldo kas
dan bank. Seharusnya, jika perusahaan mengklaim mempunyai saldo kas dan bank dengan
jumlah tertentu auditor harus melakukan pengecekan atas saldo tersebut dan juga pengecekan
atas mekanisme pengendalian internal. Auditor tidak dapat hanya mengandalkan catatan yang
dibuat perusahaan(Sharma,2011).

Hal lain juga menjadi sorotan dalam investigasi atas auditor adalah antara tahun 2003-2008
audit fee yang dibayarkan Satyam ke PwC mengalami peningkatan tiga kali lipat . audit fee ini
jauh lebih tinggi disbanding audit fee yang dibayar perusahaan lain yang sjenis, seperti TCS,
Infosys,Wirpo, ke auditor mereka. Laporan SFIO juga menyebutkan bahwa PwC melakukan
outsourcing fungsi audit ke KAP lain (Lovelock and Lewis), tanpa persetujuan dari Satyam.

Proses Hukum

Otoritas di India segera melakukan investigasi setelah kasus penipuan tersebut terungkap.
Otoritas india menagkap Raju dan saudaranya (B.Ramu Raju, mantan managing director),
Srinivas Vdlami (kepala internal audit), dan juga Direktur Keuangan (Srinivas Vadlamani)
dengan tuntutan melakukan penipuan. Otoritas India juga menangkap dan mengajukan tuntutan
kepada atas beberapa auditor perusahaan (PwC) (senior partnere Sgopalakrisnhan dan Srinivas
Talluri) dengan tuntutan terlibat dalam penipuan (Sharma,2011).

Adanya kasus Satyam tersebut dan peran dari PwC dalam kasus tersebut menyebabkan investor
juga khawatir dengan klien-klaen yang fiaudit oleh PwC, yang mengakibatkan penurunan harha
saham dari sekitar 100 klien PwC, yang bervariasi antara 5-15% (Bhasin,2013).

Kejadian Setelahnya

Satyam semula berniat mengakuisisi saham di Maytas Infrastucture Limited. Pada tanggal 16
desember 2008, Board of Directors Satyam termasuk 5 independendent directors, telah
menyetujui proposal untuk membeli 51% perusahaan di Maytas Infrastructure (perusahaan di
bidang pengembangan infrastruktur, konstruksi dan manajemen proyek) senilai $300 juta dan
semua saham Maytas Properties (perusahaan investasi real estat) senilai $1.6 juta. Raju memiliki
37% kepemilikan di Maytas Infrastrure dan 35% kepemilikan di Maytas Properties (seluruh
saham dimiliki anggota keluarga Raju). Tanpa menunggu persetujuan pemegang saham, Board
of Directors menyetujui keputusan manajemen (Bhasin,2013).

Keputusan untuk melakukan akuisisi tersebut kemudian dibatalkan 12 jam kemudian, setelah
infestor menjual saham Satyam dan mengancam akan menuntut amanjemen perusahaan. Hal ini
kemudian diikuti dengan tuntutan hokum di Amerika Serikat terkait dengan keputusan akuisisi
Maytas tersebut. Investment bank DSP Merril Lynch, yang ditunjuk Satyam mencari patner atau
pembeli untuk perusahaan, akhirnya melaporkan perusahaan (blew the whistle) dan
menghentikan perikatannya dengan perusaan segera mereka menemukan adanya kejanggalan
keuangan (Bhasin,2013).

Segera setelah berita penipuan yang dilakukan Satyam Merrill Lynch memutuskan perikatannya
dengan Satyam dan PwC mendapat banyak perhatian dari banyak pihak serta ijin operasinya
dicabut. Harga saham Satyam mengalami penurunan signifikan, yang mengakibatkan kerugian
besar bagi investor. Raju didakwa melakukan tindakan criminal, termasuk konspiras Krimina,
melanggar kepercayaan dan pemalsuan (Bhasin,2013).

Pemerintah india mengambil bebrapa tindakan untuk menyelamatkan perusahaan agar tidak
mengalami nasib yang sama seperti Endron dan WorlCom. Pemerintah menunjuk bord of
Directors baru yang mengusahakan perusahaan agar stabil dan mengembalikan kepercayaan
berbagai pihak dalam perusahaan sehingga perusahaan dapat dijual dalam jangka waktu 100 hari.
Bebrapa perusahaan akhirnya ada yang mengajukan penawaran untuk membeli perusahaan pada
tanggal 13 April 2009, dengan perusahaan pemenangnya adalah Tech Mahendra, yang membeli
Satyam dengan harga $1,13 per lembar, kurang dari sepertiga saham Satym sebelum Raju
menguangkapkan penipuan tersebut (Bhasin,2013).

Prinsip V dan VI OECD

1. Prinsip V OECD : Keterbukaan dan Transparansi


Pada prinsip ke-5 ini ditegaskan bahwa kerangaka kerja corporate governance
harus memastikan bahwa keterbukaan informasi yang tepat waktu dan akurat dilakukan atas
semua hal yang material berkaitan dengan perusahaan, termasuk didalamnya keadaan
keuangan, kinerja, kepemilikan dan tata kelola perusahaan.
Prinsip ini diperlukan untuk mengurangi informasi asimestri yang merupakan
pemicu dari adanya konflik kepentingan antara principal dan agen. Dengan lebih banyak
pengungkapan ke public, maka pemegang saham public dan pemangku kepentingan akan
lebih mudah memonitor dan menilai kinerja perusahaan. Pemegang saham pengendali dan
manajemen akan lebih sulit mengekspropriasi pemegang saham public dan pemengku
kepentingan karena tindakan mereka akan lebih muda dideteksi.
2. Prinsip VI OECD : Tanggung Jawab Dewan
Prinsip CG dari OECD yangke VI berkaitan dengan tanggung jawab komisaris
dan direksi perusahaan. Dalam prinsip ini dinyatakan bahwa kerangka kerja tata kelola
perusahaan harus memastikan adanya pengarahan strategis dan monitoring yang efektif
terhadap direksi oleh dewan komisaris serta akuntabilitas dewan terhadap pemegang
saham.berkaitan dengan adanya dua macam struktur pengawasan dan pengolahan perusahaan
yaitu dual board dan single board prinsip ini secara umum dapat diterapkan baik pada
perusahaan yang memisahkan fungsi dewan komisaris sebagaipengawas (non-excutive
director) dan direksi sebagai pengurus perusahaan (excutive sirector), maupun pada
perusahaan yang menyatakan antara pengawas dan pengurus perusahaan dalam satu dewan.
Prinsip ini pada dasarnya menyatakan bahwa perlu ada pengawasan dan
pengawasan strategis terhadap agen (di Indonesi direksi) oleh dewan (di Indonesia dewan
komisaris) untuk mengurangi kemungkinan agen melakukan tindakan yang merugikan
perusahaan dan memastikan tindakannya adalah untuk kepentingan terbaik perusahaan.

Pembahasan Masalah

1. Tidak terlaksananya prinsip Keterbukaan dan Transparansi (prinsip V OECD) di


Satyam Computer Services Limited , Raju telah manipulas angka-angka di lakukan
bertahun-tahun dan telah menyebabkan asset di neraca Satyam dicatat lebih
(overstated) sebesar $1,04 bilion. Sejumlah $1,47 bilion dari utang bank dan kas
sebenarnya tidak ada. Satyam juga menjelaskan kurang liabilitas di dalam neraca.
Satyam mencatat lebih laba hampir di setiap kuartal selama bebrapa tahu untuk
memenuhi ekspektasi analis
2. Prinsip VI OECD : Tanggung Jawab Dewan

Tidak terpenuhinya syarat kemampuan dan integritas anggota dewan


mengakibatkan pelaksanaan fungsi pengawasan dan pemberian nasihat untuk
kepentingan perusahaan tidak terlaksana dengan baik. Dari 6 orang non executive
board, empat diantaranya akademisi, satu orang mantan sekretaris cabinet dari
pemerintah India, dan satu orang mantan CEO dari perusahaan teknologi. Dua dari
independent directors Satyam mempunyai jabatan sebagai anggota board dalam
perusahaan lain.

Satyam juga tidak mempunyai Nominating/corporate governance, struktur


dewan di Satyam justru memiliki satu komite yang jarang dimiliki perusahaan lain,
yaitu “investors Governance Committee”