Anda di halaman 1dari 40

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF

ASUHAN KEBIDANAN PADA By Ny “N” NCB SMK 1 HARI DENGAN

BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RUANG PERINATOLOGI

RSIA TRISNA MEDIKA TULUNGAGUNG 2017

Disusun Oleh :
MARIA GABRIELA SIN LAMAKADU
16618073

PROGRAM STUDI BIDAN PENDIDIK (D.IV) MINAT KLINIK


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KADIRI
2017
LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL
ASUHAN KEBIDANAN PADA By Ny “N” NCB SMK 1 HARI DENGAN

BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI RUANG PERINATOLOGI

RSIA TRISNA MEDIKA TULUNGAGUNG 2017

NAMA MAHASISWA

MARIA GABRIELA SIN LAMAKADU


16618073

MENGETAHUI

Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik/CI

= Erike Yunica Firidulla, SST., M. PH = = =


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat, terdapat beberapa indikator

yang digunakan, pada umumnya tercermin dalam kondisi morbiditas,

mortalitas, dan status gizi. Derajat kesehatan Indonesia digambarkan

melalui Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA),

Angka Kematian Ibu (AKI), dan angka morbiditas beberapa penyakit.

Derajat kesehatan masyarakat juga dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-

faktor tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan

kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, melainkan juga

dipengaruhi faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, keturunan, dan

faktor lainnya (Kemenkes RI, 2011).

Pembangunan kesehatan saat ini telah berhasil meningkatkan status

kesehatan masyarakat. AKI dan AKB senantiasa menjadi indikator

keberhasilan pembangunan pada sektor kesehatan. Pada periode 2004

sampai dengan 2007 terjadi penurunan AKI dari 307 per 100.000 kelahiran

hidup menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB dari 35 per 1000

kelahiran hidup menjadi 34 per 1000 kelahiran hidup. Namun demikian

keberhasilan tersebut masih perlu terus ditingkatkan, mengingat AKI dan

AKB di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara

Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) lainnya. Target

Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun


2010-2014 mengamanatkan agar AKI dapat diturunkan menjadi 118 per

100.000 kelahiran hidup pada tahun 2014. Selain itu, kesepakatan global

Millennium Development Goals (MDGs) menargetkan AKI di Indonesia

dapat diturunkan menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015

dan AKB menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun

(www.depkes.go.id).

Menurut Menteri Kesehatan (2007), berdasarkan Survey Kesehatan

Rumah Tangga (2001), penyebab kematian bayi baru lahir di Indonesia

diantaranya BBLR (berat badan lahir rendah) 29%, asfiksia 27%, tetanus

neonatorum 10%, masalah pemberian makanan 10%, gangguan hematologik

6%, infeksi 5%, dan lain-lain 13% (SKRT, 2001).

BBLR diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan

33%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosio-

ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR

didapatkan di negara berkembang. Angka kejadian di Indonesia sangat

bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain yaitu berkisar antara 9% -

30% (WHO, 2007).

Menurut Mitayami (2011) faktor penyebab BBLR adalah komplikasi

obstetri, komplikasi medis, faktor ibu dan faktor janin. Faktor ibu diantaranya

adalah dikarenakan penyakit, usia ibu, keadaan sosial ekonomi dan kondisi ibu

saat hamil. Penyebab langsung kematian bayi adalah komplikasi pada bayi

Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), asfiksia dan infeksi. Penyebab tidak

langsung AKB adalah faktor lingkungan, perilaku, genetik dan pelayanan

kesehatan sendiri.
Dalam beberapa dasawarsa ini perhatian terhadap janin yang mengalami

gangguan pertumbuhan dalam kandungan sangat meningkat.Hal ini

disebabkan masih tingginya angka kematian perinatal dan neonatal karena

masih banyak bayi yang dilahirkan dengan berat lahir yang rendah. Kalaupun

bayi menjadi dewasa ia akan mengalami gangguan pertumbuhan, baik fisik

maupun mental (Mochtar, 1998).

Kejadian BBLR yang tinggi menunjukkan bahwa kualitas kesehatan dan

kesejahteraan masyarakat itu masih rendah. Untuk itu diperlukan upaya untuk

menurunkan angka kejadian BBLR agar kualitas kesehatan dan kesejahteraan

masyarakat menjadi meningkat.

Walaupun sebagian besar proses persalinan terfokus pada Ibu, tetapi karena

proses tersebut merupakan pengeluaran hasil kehamilan (bayi) maka

penatalaksanaan persalinan baru dapat dikatakan berhasil apabila selain

ibunya, bayi yang dilahirkan juga berada dalam kondisi yang optimal.

Memberikan asuhan segera, aman dan bersih untuk bayi baru lahir merupakan

bagian esensial asuhan bayi baru lahir.

Berdasarkan permasalahan yang diuraikan diatas maka penulis tertarik

untuk mengambil judul “asuhan kebidanan pada bayi “N” NCB SMK 1 hari

dengan bayi baru lahir rendah di ruang perinatologi RSIA Trisna Medika

Tulungagung Tahun 2017”.


1.2. Tujuan

1.2.1 Umum

Penulis mampu menerapkan pola pikir dalam melaksanakan asuhan

kebidanan pada bayi baru lahir dengan manajemen kebidanan Helen

Varney.

1.2.2 Khusus

1. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian data dasar pada bayi BBLR

(NCB SMK).

2. Mahasiswa mampu menetapkan interpretasi data dasar pada bayi BBLR

(NCB SMK).

3. Mahasiswa mampu menetapkan diagnosa / masalah potensial pada bayi

BBLR (NCB SMK).

4. Mahasiswa mampu melaksanakan antisipasi kebutuhan segera pada bayi

BBLR (NCB SMK).

5. Mahasiswa mampu menetapkan intervensi pada bayi BBLR (NCB

SMK).

6. Mahasiswa mampu melaksanakan intervensi pada bayi BBLR (NCB

SMK).

7. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi yang baik pada bayi BBLR

(NCB SMK).
1.3. Metode Pengambilan Data

1.3.1 Wawancara

Mengumpulkan data dengan cara Tanya jawab secara langsung dengan

pasien, keluarga sehingga mendapatkan permasalahan yang dialami oleh

pasien.

1.3.2 Observasi

Pengamatan langsung terhadap perubahan yang terjadi pada pasien.

1.3.3 Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan pada pasien yang meliputi inspeksi/palpasi, auskultasi dan

perkusi untuk mendapatkan data objektif.

1.3.4 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan pasien yang meliputi pemeriksaan lab untuk menegakkan

diagnosa.

1.3.5 Studi Kepustakaan

Dengan mempelajari buku-buku dan makalah yang berhubungan dengan

asuhan kebidanan ini ( Baru bayi lahir rendah).

1.4. Sistematika Penulisan

BAB I : Pendahuluan

Terdiri dari latar belakang, tujuan, tekhnik pengambilan data,

dan sistematika penulisan.

BAB II : Tinjauan Pustaka

Terdiri dari konsep bayi baru lahir, asfiksia

Manajemen asuhan kebidanan

BAB III : Tinjauan Kasus


Berisi tentang pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi

dan evaluasi

BAB IV : Pembahasan

BAB V : Penutup
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1. Konsep Teori Bayi Baru Lahir


2.1.1. Definisi Bayi Baru Lahir

Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan
37 minggu sampai 42 minggu dan berat lahir 2500 gram sampai 4000
gram (Menurut Dep. Kes. RI, 2005).

Bayi baru lahir dalam presentasi belakang kepala melalui vagina, tanpa
memakai alat pada usia kehamilan genap 37 - 42 minggu dengan berat
badan 2500-4000 gram, nilai apgar > 7 dan tanpa cacat bawaan (Ahonyin,
2010).

2.1.2. Etiologi

Untuk setiap kehamilan harus ada spermatozoa, ovum, pembuahan ovum


(konsepsi dan nidasi hasil konsepsi, sehingga terbentuknya janin).

2.1.3 Fisiologi

Neonatus adalah bayi yang baru mengalami proses kehamilan dan harus
menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterin ke kehidupan ekstra uterin.
Beralih dari ketergantungan mutlak pada ibu menuju kemandirian
fisiologis. 3 fakta yang mempengaruhi perubahan dan proses vital
neonatus yaitu : maturasi, adaptasi, transisi, selain itu pengaruh kehamilan
dan proses persalinan mempunyai peranan penting dalam morbiditas dan
mortalitas bayi, 4 aspek transisi pada BBL yang paling cepat berlangsung
adalah system pernafasan, sirkulasi, kemampuan menghasilkan sumber
glukosa (Anonyin, 2010).

2.1.4 Patofisiologi.

Segera setelah lahir, BBL harus beradaptasi dari keadaan yang


sangat tergantung menjadi mandiri secara fisiologis. Banyak perubahan
yang akan dialami oleh bayi yang semula berada dalam lingkungan interna
(dalam kandungan Ibu)yang hangat dan segala kebutuhannya terpenuhi
(O2 dan nutrisi) ke lingkungan eksterna (diluar kandungan ibu) yang
dingin dan segala kebutuhannya memerlukan bantuan orang lain untuk
memenuhinya.
Saat ini bayi tersebut harus mendapat oksigen melalui sistem sirkulasi
pernafasannya sendiri yang baru, mendapatkan nutrisi oral untuk
mempertahankan kadar gula yang cukup, mengatur suhu tubuh dan
melawan setiap penyakit.
Periode adaptasi terhadap kehidupan di luar rahim disebut Periode
Transisi. Periode ini berlangsung hingga 1 bulan atau lebih setelah
kelahiran untuk beberapa sistem tubuh. Transisi yang paling nyata dan
cepat terjadi adalah pada sistem pernafasan dan sirkulasi, sistem
termoregulasi, dan dalam kemampuan mengambil serta menggunakan
glukosa.

2.1.5 Tanda – Tanda Bayi Sehat


1. Barat badan bayi 2500 – 4000 gram
2. Umur kehamilan 37 – 40 minggu
3. Bayi segera menangis
4. Bergerak aktif, kulit kemerahan
5. Menghisap ASI dengan baik
6. Tidak ada cacat bawaan
2.1.6 Ciri – Ciri Bayi Normal
1. BB 2500 – 4000 gram
2. PB 48 – 52 cm
3. LD 30 – 38 cm
4. LK 33 – 35 cm
5. Bunyi jantung dalam menit pertama ± 180x/menit, kemudian menurun
kira-kira 120x/menit
6. Pernafasan pada menit pertama ± 80x/menit, kemudian menurun kira-
kira 40x/menit
7. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subcutan cukup
terbentuk dan dilapisi vernik caseosa
8. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna
9. Kuku agak panjang dan lemas
10. Genitalia bayi perempuan labia mayora menutupi labia minora,
sedangkan bayi laki-laki testis sudah turun
11. Reflek isap dan menelan terbentuk dengan baik
12. Reflek :
a. Rooting (mencari arah sentuhan) : baik
b. Tonik neck (mengangkat kepala) : baik
c. Morro ( mengagetkan) : baik
d. Sucking (menghisap) : baik
e. Swallowing (menelan) : baik
f. Graff (mengenggam) : baik
g. Steping (menginjak) : baik
h. Babysky (jari-jari membuka) : baik

13. Graff reflek sudah baik, apabila diletakkan sesuatu benda diatas
telapak tangan bayi akan mengenggam
14. Eliminasi baik, urine dan mekonium akan keluar dalam 24 jam
pertama mekonium berwarna kecoklatan (Anonym, 2008).

2.1.7 Penanganan Segera Bayi Baru Lahir


Menurut Wiknojosastro, 2007 asuhan segera, aman dan bersih
untuk bayi baru lahir adalah :
1) Pencegahan Infeksi
a. Cuci tangan sebelum dan sesudah bersentuhan dengan bayi
b. Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum
dimandikan.
c. Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama
klem, gunting, penghisap lender, De lee dan benang tali pusat telah
didisinfeksi tingkat tinggi atau steril
d. Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dank ain yang digunakan
untuk bayi sudah dalam keadaan bersih, demikian pula dengan
timbangan, pita pengukur, thermometer, dan stetoskop.
2) Melakukan Penilaian
a. Apakah bayi menangis kuat dan bernafas tanpa kesulitan
b. Apakah bayi bergerak dengan aktif
c. Jika bayi bernafas megap-megap atau lemah maka segera lakukan
tindakan resusitasi bayi baru lahir
3) Pencegahan Kehilangan Panas
a. Mekanisme Kehilangan Panas
 Evaporasi
Penguapan cairan ketuban pada permukaan tubuh oleh panas
tubuh bayi sendiri karena setelah lahir tubuh bayi tidak segera
dikeringkan
 Konduksi
Kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh
bayi dengan permukaan yang dingin, meja, tempat tidur,
timbangan yang temperaturenya lebih rendah dari tubuh bayi
akan menyerap panas tubuh bayi, bila bayi diletakkan diatas
benda-benda tersebut
 Radiasi
Kehilangan panas tubuh terjadi karena bayi ditempatkan didekat
benda-benda yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari
suhu tubuh bayi, karena benda-benda tersebut menyerap radiasi
panas tubuh bayi (walaupun tidak bersentuhan secara langsung)
 Konveksi
Kehilangan panas tubuh terjadi saat bayi terpapar udara sekitar
yang lebih tinggi, ruang yang dingin, adanya aliran udara dari
kipas angin, hembusan udara dari ventilasi, atau pendingin
ruangan
b. Mencegah kehilangan panas
Cegah terjadinya kehilangan panas melalui upaya berikut :
 Keringkan bayi dengan seksama
 Mengeringkan dengan cara menyeka tubuh bayi, juga
merupakan rangsangan taktil untuk membantu bayi
melalui pernafasan
 Selimuti bayi dengan kain bersih dan hangat, ganti
handuk atau kainyang telah basah oleh cairan ketuban
dengan selimut yang baru
 Selimuti bagian kepala bayi
 Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yang
relative luas dan bayi akan lebih cepat kehilangan panas
jika bagian tersebut tidak tertutup
 Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya,
pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan
tubuh dan mencegah kehilangan panas, sebaliknya
pemberian ASI harus dimulai dalam waktu 1 jam
pertama kelahiran
 Bayi sebaiknya dimandikan sedikitnya 6 jam setelah
lahir
Praktik memandikan bayi yang dianjurkan adalah :
a. Tunggu sedikitnya 6 jam setelah bayi lahir sebelum
memandikan bayi (lebih lama jika bayinya mengalami
asfeksia atau hipotermi)
b. Sebelum memandikan bayi, periksa bahwa suhu tubuh stabil
(suhu aksila antara 36.5-37.5C) jika suhu tubuh bayi masih
dibawah 36.5C selimuti kembali tubuh bayi secara longgar,
tutupi bagian kepala dan tempatkan bersama ibunya, atau
lakukan persentuhan kulit ibu dan bayi serta selimuti
keduanya. Tunda memandikan bayi hingga sehu tubuh bayi
tetap stabil dalan waktu ± 1 jam
c. Tunda untuk memandikan bayi yang sedang mengalami
masalah pernafasan
d. Sebelum bayi dimandikan, pastikan ruang mandinya hangat
dan tidak ada tiupan angin. Siapkan handuk kering dan
bersih untuk mengeringkan tubuh bayi dan siapkan beberapa
lembar kain atau selimut bersih dan kering untuk
menyelimuti tubuh bayi setelah dimandikan
e. Memandikan bayi secara cepat dengan air bersih dan hangat
f. Segera keringkan bayi dengan menggunakan handuk bersih
dan kering
g. Ganti handuk yang basah dengan selimut yang bersih dan
kering kemudian selimuti tubuh bayi secara longgar,
pastikan bagian kepala bayi diselimuti dengan baik
h. Bayi dapat diletakkan bersentuhan kulit dengan ibu dan
anjurkan ibu untuk menyusui bayinya
4) Membebaskan jalan nafas
Bayi normal akan menangis spontan segera setelah lahir, apabila bayi
tidak langsung menangis penolong segera membersihkan jalan nafas
5) Merawat tali pusat
Setelah plasenta dilahirkan dan kondisi ibu dianggap stabil, klem tali
pusat, potong lalu ikat
6) Mempertahankan suhu tubuh bayi
Pada waktu lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhu badannya
dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk membuatnya tetap
hangat. BBL harus dibungkus/dibedong agar hangat, suhu tubuh bayi
merupakan tolak ukur kebutuhan akan tempat tidur yang hangat sampai
suhu tubuhnya sudah stabil. Suhu tubuh bayi harus dicatat.
7) Pencegahan Infeksi
a. Memberikan vit K
Diberikan peroral selama 3 hari untuk mencegah terjadinya
perdarahan dan parental dengan dosis 0,5 – 1 mg IM
b. Memberikan obat tetes atau salap mata
c. Untuk mencegah penyakit mata karena klamidia (PMS) perlu
diberikan obat mata pada jam pertama persalinan, yaitu pemberian
obat mata Eritromisin 0.5%/tetrasilin 1%, sedangkan salep mata
biasaya diberikan 5 jam setelah bayi lahir. Perawatan mata harus
segera dikerjakan setelah bayi selesai perawatan tali pusat yang
lazim dipakai adalah larutan perak nitrat atau neosaprin dan
langsung diteteskan pada mata bayi segera setelah lahir
2.1.8. Perubahan – perubahan pada BBL
Perubahan dari kehidupan intra uterin menuju ekstra uterin, memerlukan
perubahan fisiologis dan biokimia, perubahan ini meliputi :
1. Perubahan system pernafasan
 Masih berkembang dengan masih tumbuhnya alveoli, alveoli
baru hingga usia 8 bulan
 Bayi bernafas dengan hidung dan tidak secara otomatis bernafas
dengan mulut ketika terjadi gangguan pernafasan
 ayi normal memiliki 30-60 tarikan nafas/menit, waktu bernafas
dadadan perut naik dan turun secara teratur
 Dalam keadaan normal, tangis bayi terdengar keras dan bernada
sedang, kecuali jika terdapat kerusakan neurologi, infeksi,
hipotermi maka tangisan akan bernada lemah
2. Perubahan system kardiovaskular
 Denyut jantung cepat 120-160x/menit
 Sirkulasi perifer berjalan lambat, mengakibatkan sianosis ringan
pada tangan dan kaki, perbedaan warna kulit
 Hb 15-20 gr/dl, Eritrosit 5-7x/105, Leukosit 18x10 gr/dl
 Perubahan darah dapat berlangsung
3. Perubahan system ginjal
Ginjal sangat penting dalam kehidupan bayi namun muatan
kerjanya kecil sehingga setelah kelahiran aie seni encer, warna
kekuning-kuningan, tidak berbau, urin tidak nampak keruh
termasuk merah muda akibat lendir bebas membrane mukosa
4. Perubahan Gastroinstinal
a. Usus, lambung BBL secara structural lengkap, tetapi secara
fungsional belum matang
b. Jumlah asam lambung pada beberapa hari sama dengan orang
dewasa. Namun pada hari ke- 10 bayi benar-benar tidak
memiliki HCI yang dapat meningkatkan resiko infeksi
c. Waktu pengosongan lambung adalah 2.5 – 3 jam
d. Perut mempunyai kapasitas rendah (15-30 ml) yang akan
meningkat pesat pada minggu pertama kelahiran
e. Pada waktu lahir, usus dalam keadaan stabil hanya beberapa
jam
f. Mekonium akan dikeluarkan dalam waktu 24 jam
5. Adaptasi imunologi
BBL memperlihatkan kerentanan terhadap infeksi terutama yang
masuk melalui mukosa pernafasan dan gastrointestinal, salah
satu usaha yang ditetapkan untuk mencegah mikroba yaitu
dengan praktek persalinan yang bersih dan aman, menyusui bayi
dengan ASI sedini mungkin terutama kolostrum.
6. Perubahan masa transisi BBL
a. Periode I : reaktifitas (30 menit pertama setelah lahir) bayi
terjaga dengan mata terbuka, memberikan respon terhadap
stimulasi dan menyerupai kemampuan menghisap yang
tinggi.
b. Periode II : reaktifitas (2-5 jam setelah kelahiran) bayi
bangun dari tidur nyenyak, denyut jantung dan pernafasan
meningkat, pengeluaran mekonium urine dan menghisap
c. Periode III : stabilitas (12-24 jam kulit kemerahan dan
hangat) bayi lebih mudah tidur dan terbangun (Suherni,
2009).
2.1.8. Apgar Score
Merupakan alat untuk mengkaji kondisi bayi sesaat setelah
lahir dalam hubungannya dengan lima variable kemampuan
bernafas, frekuensi jantung, warna, tonus otot dan irrtabilitor
reflek. Penilaian dilakukan pada 1 menit setelah kelahiran untuk
memberi kesempatan memulai perubahan, penilaian berikutnya
pada menit ke-5 dan ke-10, penilaian awal dapat dilakukan lebih
sering bila ada nilai yang lebih rendah dan diperlukan resusitasi,
agar memperoleh indikasi aktivitas resusitasi yang digunakan,
misalnya pada menit ke-3 dan ke-5, penilaian menit ke-10
memberikan indikasi morbiditas pada masa mendatang, nilai yang
terendah berhubungan dengan kondisi neurologi.
System apgar score : 5 klasifikasi yang digunakan dan
kriteria penilaian 0-2.
Tanda 0 1 2
Appearance(warna) Biru, pucat Badan pucat, tungkai biru Semuanya merah muda
Pulse (denyut) Tidak terba < 100 >100
Grimace (rangsangan) Tidak ada Menyeringai menangis
Aktivity (tonus otot) Lemas Fleksi tungkai Bergerak aktif, FT baik
Respiration (pernafasan) Tidak ada Lambat, tidak teratur Baik, menangis kuat

Penilaian tertinggi adalah 10


a. Nilai 0-3 menunjukkan bayi mengalami depresi serius dan
membutuhkan resusitasi segera
b. Nilai 4-6 menunjukkan bayi mengalami depresi sedang dan
membutuhkan resusitasi segera
c. Nilai 7-10 menunjukkan bayi dalam keadaan baik (Anonim, 2008).
Respiratory Distress Dengan Score Down
Frekuensi nafas < 60/ menit 60-80/ menit >80/menit
Retraksi Tidak ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat
Sianosis Tidak sianosis Sianosis hilang Sianosis menetap
dengan O2 walaupun diberi O2

Normal 1 (sesak) 2 (apnea)


Air Entry Udara masuk Penurunan ringan Tidak ada udara masuk
udara masuk
Merintih Tidak merintih Dapat didengar Dapat didengar tanpa
dengan stetoskop alat bantu
Evaluasi Gawat Nafas dengan Menggunakan Skore Down
Score ≤ 3 tidak gawat nafas
Score 4-5 gawat nafas
Score ≥ 6 ancaman gagal nafas (pemeriksaan gas darah harus dilakukan)

2.2. Konsep Bayi Baru Lahir Rendah (BBLR)


2.2.1 Definisi Bayi Baru Lahir (BBLR)
 Bayi BBLR adalah berat badan kurang dari 2.500 gram yaitu
karena umur hamil kurang dari 37 minggu atau berat badan lahir
rendah dari semestinya sekalipun umur cukup atau karena kombinasi
keduanya.(Manuaba, 1998 : 326).
 BBLR ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang
dari 2.500 gram (sampai dengan 2.499 gram).(Sarwono, 2006 : 376).
 BBLR yaitu keadaan yang disebabkan oleh masa kehamilan kurang
dari 37 minggu dengan berat badan yang sesuai atau bayi yang
beratnya kurang dari berat semestinya menurut masa
kehamilannya.(Sarwono, 2007 : 771).
 BBLR adalah kelahiran bayi kurang dari 37 minggu, bayi yang
beratnya kurang dari seharusnya umur kehamilan. Bayi yang lahir
dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan tuanya
kehamilan.(Rustam Mochtar, 1998 : 448).

2.2.2. Pembagian Kehamilan Menurut WHO


Untuk menentukan apakah bayi lahir itu premature SMK, matur
normal dan KMK. WHO (1979) membagi umur kahamilan dalam 3
kelompok :

1. Preterm yaitu umur kahamilan kurang dari 37 minggu (259 hari)


2. Aterm yaitu umur kahamilan antara 37 – 42 minggu (259 – 293
hari)
3. Post term yaitu umur kahamilan lebih dari 42 minggu (294 hari)
2.2.3. Klasifikasi BBLR
BBLR dapat diklasifikasikan sebagai berikut berdasarkan berat
badan lahir :

 BBLR (berat badan lahir rendah)


Yaitu berat badan lahir < 2.500 gram
 BBLSR (berat badan lahir sangat rendah)
Yaitu berat badan lahir antara 1.000 – 1.500 gram
 BBLASR (berat badan lahir amat sangat rendah)
 Yaitu berat badan lahir < 1.000 gram

2.2.4. Macam – Macam BBLR


Bayi BBLR dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu :

 Prematuvitas Murni
Masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai
dengan berat badan untuk masa gestasi itu atau biasa disebut
neonates kurang bulan. Sesuai masa kehamilan (NKB-SMK).
 Dismaturitas
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya
untuk masa gestasi itu. Berarti bayi mengalami retardasi
pertumbuhan intrauterine dan merupakan bayi yang kecil untuk
masa kehamilannya (KMK).

2.2.5. Etiologi
Faktor – faktor yang dapat menyebabkan terjadinya persalinan
dengan berat badan lahir rendah adalah :

 Faktor Ibu
 Penyakit
Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan
misalnya Taksemia Gravidarum, perdarahan antepartum,
trauma fisis dan psikologis. Penyakit lainnya ialah infeksi
akut yang dapat merupakan faktor etiologi prematuritas.
 Usia kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun
Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia ibu
dibawah 20 tahun dan pada Multigravida yang jarak antara
kelahirannya terlalu dekat. Kejadian terendah adalah pada
usia ibu antara 26 – 35 tahun.
 Keadaan sosial ekonomi
Keadaan ini sangat berperan terhadap timbulnya
prematuritas. Kejadian tertinggi terdapat pada golongan
sosial ekonomi yang rendah. Hal ini disebabkan oleh
keadaan gizi kurang baik dan pengawasan antenatal yang
kurang teratur.
 Faktor pekerja yang terlalu berat
 Faktor kehamilan
 Hamil dengan hidramnion.
 Hamil ganda.
 Perdarahan Antepartum (plasenta previa).
 Komplikasi hamil ( pre-eklamsia/eklamsia dan ketuban pecah.
dini.
 Faktor janin
 Cacat bawaan
 Infeksi dalam rahim (Toxoplasmosis, Rubella,
Citomegalovirus, Herpes,Sifilis atau disebut dengan TORCH).

2.2.6. Patofisiologi
Semakin kecil dan semakin premature bayi itu maka semakin
tinggi resiko gizinya. Beberapa faktor yang memberiakn efek pada
masalah gizinya.
a) Menurunnya simpanan zat gizi. Hampir semua lemak glikogen dan
mineral seperti zat besi, kalsium, fosfor, dan seng di deposit selama 8
minggu terakhir kehamilan. Dengan demikian bayi preterm
mempunyai peningkatan potensi terhadap hipoglikemia, rikets dan
anemia.
b) Meningkatnya kkal untuk pertumbuhan BBLR memerlukan sekitar
120 kkal/kg/hari dibandingkan neonates aterm sekitar 108 kkal/kg/hari
c) Belum matangnya funsi mekanis dari saluran pencernaan koordinasi
antara reflex isap dan menelan. Dengan penutupan epiglottis untuk
mencegah aspirasi pneumonia, belum berkembang dengan baik
sampai kehamilan 32-42 minggu. Penundaan pengosongan lambung
dan buruknya motalitis usus sering terjadi pada bayi preterm.
d) Kurangnya kemampuan untuk mencerna makanan. Bayi preterm
mempunyai lebih sedikit garam empedu, yang diperlukan untuk
mencerna dan mengabsorsi lemak dibandingkan bayi aterm. Produksi
amylase pancreas lipase yaitu enzim yang terlibat dalam pencernaan
lemak dan karbohidrat juga menurun. Kadar lactase juga rendah
sampai sekitar kehamilan 34 minggu,
e) Paru-paru yang belum matang dngan peningkatan kerja bernafas dan
kebutuhan kalori yang meningkat. Masalah pernafasan juga akan
mengganggu makanan secara oral.
f) Potensi untuk kehilangan panas akibat luasnya permukaan tubuh
dibandingkan dengan berat badan, dan sedikitnya lemak pada jaringan
bawah kulit memberikan insulusi. Kehilangan panas ini meningkatkan
keperluan kalori.
(More,2004).
2.2.7. Komplikasi
Komplikasi langsung yang dapat terjadi pada bayi berat lahir
rendah antara lain :

a) Hipotermi
b) Hipoglikemia
c) Gangguan cairan dan elektrolit
d) Hiperbilirubinemia
e) Syndrome gawat nafas
f) Infeksi
g) Apnea of prematurity
h) Anemia
Masalah jangka panjang yang mungkin timbul pada bayi dengan
berat lahir rendah (BBLR) antara lain :
a) Gangguan perkembangan
b) Gangguan pertumbuhan
c) Gangguan penglihatan (retinopati)
d) Gangguan pendengaran
e) Penyakit paru kronis
f) Kenikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit
g) Kenaikan frekuensi yang sering masuk rumah sakit
h) Kenaikan frekuensi kelainan bawaan.
(Cunningham, 2006).
2.2.8. Gambaran Klinis BBLR (premature/persalinan premature)
 Kram hebat seperti pada saat menstruasi atau kemungkinan
tertukar dengan nyeri disekitar ligament.
 Nyeri tumpul pada punggung bawah berbeda dari nyeri punggung
bawah yang biasa dialami oleh wanita hamil.
 Nyeri atau tekanan suprapubis mungkin tertukar dengan infeksi
saluran kemih
 Sensasi adanya tekanan atau berat badan pelvis
 Perubahan karakter atau jumlah rabas vagina (lebih kental, lebih
encer, berair, berdarah, berwarna coklat, tidak berwarna)
 Diare
 Kontraksi uterus tidak dapat dipalpasi yang dirasakan lebih sering
dari setiap 10 menit selama 1 jam atau lebih dan tidak mereda
dengan tidur berbaring.
 Ketuban pecah dini

Gambaran klinis pada bayi premature :


 Jaringan lemak bawah kulit sedikit, tipis, merah dan transparan,
tonus otot yang kurang baik.
 Abdomen menonjol dan kepalanya besar.
 Garis kulit berkembang kurang sempurna (pada telapak kaki).
 Rambut lanugo biasanya terlihat pada punggung dan bahu.
 Pada bayi perempuan, klitorisnya relative lebih besar dengan vulva
yang merging karena labia mayora menonjol.
 Pada bayi laki-laki scrotumnya belum berkembang dengan
sempurna.
 Tengkorak kepala keras, gerakan bayi terbatas.
 Kulit tipis, kering berlipat-lipat, mudah diangkat, abdomen cekung
atau rata.
 Tali pusat tipis, lembek dan berwarna kehijauan.
(Mochtar, 2005).
2.2.9. Kecil Masa Kehamilan (KMK/IUGR)
1. Definisi

IUGR adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat
badan seharusnya untuk masa kehamilan dikarenakan mengalami
gangguan pertumbuhan dalam kandungan. (Prawirohardjo, 2007)
2. Etiologi

a) Faktor Ibu
Hipertensi dan penyakit ginjal kronik, perokok, penderita
penyakit DM yang berat, toksemia, hipoksia Ibu (tinggal di daerah
pegunungan, hemoglobinopati, penyakit paru kronik) gizi buruk,
drug abbuse, peminum alkohol.
b) Faktor Uterus dan Plasenta
Kelainan pembuluh darah (hemangioma, inersia tali pusat
yang tidak normal, uterus bikornis, infark plasenta, tranfusi dari
kembar yang satu ke kembar yang lain (gemelli), sebagian plasenta
lepas.
c) Faktor Janin
Gemelli, kelainan kromosom, cacat bawaan, infeksi dalam
kandungan missal TORCH.
d) Penyebab lain seperti social ekonomi yang rendah
(Mochtar, 2005)
3. Gejala dan Tanda

Berbeda dengan bayi premature bayi KMK yang cukup


umur telah memiliki organ dalam yang sempurna
Jika elama di dalam rahim pertumbuhannya menjadi lambat akibat
asupan gizi yang kurang, maka segera setelah dilahirkan, ketika
mulai diberikan zat gizi yang adekuat pertumbuhannya akan
menjadi pesat.
Janinyang tumbuh secara lambat karena fungsi plasenta
yang buruk bisa mengalami kekurangan oksigen saat persalinan.
Hal ini dikarenakan setiap kontraksi arteri ibu yang menuju ke
plasenta pada saat melewati rahim akan mengalami tekanan
sehingga aliran darah ke plasenta berkurang. Cunningham, 2007)
4. Klasifikasi IUGR

a) Proportinate IUGR
Janin yang menderita disters yang lama dimana gangguan
pertumbuhan terjadi berminggu-minggu sampai berbulan-bulan.
Sebelum bayi lahir sehingga berat badan, panjang dada, lingkar
kepala, dalam porsi yang seimbang, akan tetapi keseluruhannya
masih dibawah masa gestasi yang sebenarnya. Bayi ini tidak
menunjukkan adanya wasted oleh karena retardasi pada janin
terjadi sebelum terbentuknya adipose tissue.
b) Disporpotionate IUGR
Terjadi karena distress subakut gangguan terjadi beberapa
minggu sampai beberapa hari sampai janin lahir. Pada keadaan ini
panjang dan lingkar kepala normal akan tetapi berat tidak sesuai
dengan masa gestasi.bayi tampak wasted dengan tanda-tanda
sedikitnya jaringan lemak di bawah kulit,kulit kering kriput dan
mudah di angkat,bayi kelihatan kurus dan lebih panjang.
Berdasarkan Umur kehamilan:
 Kurang bulan atau preterem atau premature:usia kehamilan
kurang dari 37 minggu .
 Cukup bulan atau aterm atau fullterm :usia kehamilan 37-42
minggu.
 Lebih bulan atau postterm atau serutinus:usia kehamilan lebih
dari 42 minggu.
(Mochtar, 2005).
2.2.10. Penatalaksanaan Bayi Bau Lahir Rendah (BBLR)
Dengan memperhatikan gambaran klinik dan berbagai
kemungkinan yang dapat terjadi pada bayi prematuritas maka
perawatan dan pengawasaan di tujukan pada pengaturan
suhu,pemberian makan bayi ,ikterus ,pernapasan, hipoglikemia dan
menghindari infeksi.
a) Pengaturan suhu badan bayi BBLR
Bayi premature dengan cepat akan kehilangan panas badan
dan menjadi hipotermi karena puasat pengaturan panas belum
berfungsi dengan baik, metabolisme rendah dan permukaan
relative luas. Oleh karena itu bayi premature harus dirawat dalma
incubator sehingga panas badannya mendekati incubator rahim,
apabila tidak ada incubator bayi dapat dibungkus dengan kain dan
disampingnya ditaruh botol berisi air panas sehingg panas
badannya dapat dipertahankan
b) Makanan bayi premature
Alat pencernaan bayi belum sempurna, lambung kecil,
enzim pencernaan belum matang, sedangkan kebutuhan protein 3-
5gram perkilogram berat badan dan kalori 110 kal/kgBB sehingga
pertumbuhan dapat meningkat. Pemberian minum bayi sekitar 3
jam setelah lahir dan didahului dengan menghisap cairan
lambung. Reflek masih lemah sehingga pemberian minum
sebaiknya sedikit demi sedikit dengan frekuensi yang lebih
sering. ASI merupakan makanan yang paling utama sehingga
ASIlah yang paling dahulu diberikan, bila faktor menghisapnya
kurang maka ASI dapat diperas dan diberikan dengan sendok
perlahan-lahan atau dengan memasang sonde. Permulaan cairan
yang diberikan 50-60cc/kgBB/hari terus dinaikkan sampai
mencapai sekitar 200cc/kgBB/hari.
c) Ikterus
Semua bayi premature menjadi ikterus karena system enzim
hatinya belum mature dan bilirubin tak berkonjugasi tidak
dikonjugasikan secara efisien sampai 3-5hari berlalu. Ikterus
dapat diperberat oleh polisetemia, memar hemolisisas dan infeksi
karena hiperbilirubinemia dapat menyebabkan kern ikterus maka
warna bayi harus sering dicatat dan bilirubin diperiksa, bila
ikterus muncul dini atau lebih cepat bertambah coklat.
d) Pernafasan
Bayi premature munkin menderita penyakit membrane
hialin, pada penyakit ini tanda-tanda gawat pernafasan selalu ada
dalam 4jam bayi harus dirawat telentang atau tengkurap dalm
incubator, dada abdomen harus dipaparkan untuk mengobservasi
pernafasan.
e) Hipoglikemia
Mungkin paling timbul pada bayi premature yang sakit bayi
beberat badan lahir rendah, harus diantisipasi sebelum gejala
timbul dengan pemeriksaan gula darah secara teratur.
f) Mencegah infeksi
Bayi premature mudah sekali mengalami infeksi karena
daya tahan tubuh masih lemah, kemampuan leokosit masih
kurang dan pembentukan antibody belum sempurna. Oleh karena
itu, tindakan preventive sudah dilakukan sejak antenatal sehingga
tidak terjadi persalinan dengan premature.(BBLR).
(Prawirohardjo, 2008).

2.2.11. Perbedaan antara Premature dan IUGR


 Prematuritas
Gestasi kurang dari 37 minggu, dan berat badan sesuai
dengan masa gestasi. Prematuritas ini memiliki ciri diantaranya :
berat badan kurang dari 2500gram, panjang badan kurang dari
45cm, lingkar kepala kurang dari 33cm, dan lingkar dada kurang
dari 33cm, masa gestasinya kurang dari 37 minggu kulit tipis dan
transparent, kepala lebih besar daripada badan, lanugo banyak
terutama pada dahi, pelipis, telinga dan lengan, lemak subkutan
kurang, ubun-ubun dan sutura lebar, labia minora belum tertutup
oleh labia mayora (pada wanita) dan pada laki-laki testis belum
turun, tulang rawan dandaun telinga immature, bayi kecil, posisi
masih posisi fetal, pergerakan kurang dari lemah, tangisan lemah,
pernafasan belum teratur dan sering mengalami serangan apnea
reflek tonus lemah. Reflek menghisap dan menelan serta reflex
batuk belum sempurna.
 IUGR/KMK
Kulit berselubung verniks kaseosa tipis atau tidak ada, kulit pucat
atau bernoda mekonium, kering keriput tipis, bayi tampak gesit,
aktif dan kuat, tali pusat berwarna kuning kehijauan.
(Varney, 2007).
BAB 3
TINJAUAN KASUS
Asuhan Kebidanan Pada By “N” NCB SMK umur 1 hari Dengan
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di Ruang Perinatologi RSIA Trisna
Medika Tulungagung 2017

3.1 Pengkajian Data


Tanggal/ Pukul MRS : 12-12-2017 WIB
Tanggal Pengkajian : 12-12-2017
Pukul : 19.00 WIB
Tempat : Ruang Perinatologi

3.1.2 Data Subyektif


1. Biodata
a. Bayi
Nama Bayi : Bayi Ny “N”

Umur : 1 hari

Tgl/jam lahir : 11-12-2017

Jenis Kelamin : Laki-laki

b. Orang Tua
Nama Ibu : Ny “N” Nama Ayah : Tn “S”

Umur : 36 tahun Umur : 38 tahun

Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan :- Pendidikan : -

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : petani

Alamat : Kanigoro, Banaran, Kauman, Tulungagung


2. Keluhan Utama.
Bayi lahir dengan dengan berat badan rendah yaitu 2100 gram, Keadaan umum
bayi lemah, pergerakan kurang aktif.
3. Riwayat Kesehatan Keluaga
Ibu mengatakan dalam keluarga menderita penyakit Pre Eklamsia Ringan.
4. Riwayat kehamilan dan pesalinan.
a. Ibu mengatakan usia kehamilan 35-36 minggu, dan sering memeriksakan
kehamilan di Bidan. Tidak ada penyulit selama hamil, terapi didapat:
Tablet Fe, Kalk, Vit. C. Imunisasi TT.
b. Ibu mengatakan bayi lahir dengan SC dengan komplikasi persalinan PPT
dan APB . Air ketuban warna keruh dan tidak bau BB :2100 gr, PB :45
cm,A-S=6-8, Jk : Laki-laki.
6. Riwayat imunisasi/ vit K
Vit K : 1 jam setelah bayi lahir

7. Pola kebiasaan sehari-hari


a. Nutrisi : Bayi belum mendapatkan ASI
b. Eliminasi : Bayi Sudah BAB dan BAK
c. Istirahat :-
d. Aktifitas : tonus otot masih lemah
e. Pola hygiene : bayi dimandikan, menggantikan kain yang basah
dan kotor dengan kain yang bersih dan hangat.

3.1.2 Data Obyektif


1. Pemeriksaan Umum
KU : Lemah
Apgar Score :<3
Suhu : 36 C
HR : 130
Pernapasan : 36 X/menit
Tanggal lahir : 11-12-2017
Antropometri : BBL : 2100 gram

PB : 45 cm

LLA :-

LK :-

LD :-

Pemeriksaan Khusus
a. Pemeriksaan Fisik
 Inspeksi
Kepala : bersih, warna rambut hitam,tidak ada caput succedenum
tidak terdapat cephal hematoma, UUB/UUK sudah
menutup, UUB tidak cekung.

Mata : Bentuk simetris, alis mata ada, konjungtiva tidak anemis,


sclera tidak ikterus, palpebra tidak oedema.

Hidung : Simetris, tidak ada kelainan bentuk, tidak ada pernafasan


cuping hidung.
Telinga : Simetris, tidak ada kelainan bentuk, bersih.
Mulut : Simetris, tidak ada stomatitis, tidak ada labio palato
schisis, bibir kemerahan lembab, monoriasis
Leher :Tidak ada pembesaran vena jugularis, pembesaran
kelenjar limfe
Dada :Simetris, pergerakan dada teratur, ada retraksi otot-otot
pernafasan,
Abdomen : tali pusat basah terbungkus kasa, dan tidak ada
pembesaran abdomen, kulit perut tampak tipis dan
pembuluh darah pada abdomen terlihat jelas.
Genetalia : jenis kelamin laki-laki, skrotum berwarna kecokelatan,
testis sudah turun
Anus : berlubang
Ekstrimitas :
Atas : simetris ka/ki, pergerakan masih lemah, tidak ada
sindaktil dan polidaktil, warna kemeahan.
Bawah : simetris ka/ki, pergerakan masih lemah, tidak ada
sindakil, polidakltil, warna kebiruan
 Palpasi
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan pembesaran vena
jugularis
Dada : tidak ada pembesaran

Abdomen : tidak ada nyeri takan, tidak kembung.


 Auskultasi
Dada : tidak ada whezing, ronchi, tidak ada suara merintih
- Antropometri
BBL : 2100 gram LLA :-
PB : 45 cm
LK : -
LD : -
- Reflek
Moro Reflek : ada, lemah
Tonik Neck Reflek : ada, lemah
Graps reflek : ada, lemah
Rooting Reflek : ada, lemah
Sucking Reflek : ada, lemah
Swallowing Reflek : ada, lemah

I. IDENTIFIKASI DIAGNOSA/MASALAH
Dx :NCB SMK 1 hari dengan bayi baru lahir rendah.

Ds : -

Do : Ku : lemah
warna kulit : kemerahan
gerak : kurang aktif
Suhu :36 0C
Pernapasan : 42X/menit
Moro Reflek : ada,lemah
Tonik Neck Reflek : ada,lemah
graps Reflek : ada,lemah
Rooting Reflek : ada,lemah
Sucking Reflek : ada,lemah
Swallowing Reflek : ada,lemah
Riwayat Persalinan : Air ketuban keruh

Masalah : Reflek masih lemah dan pergerakan masih kurang efektif.


Kebutuhan : Kehangatan, nutrisi, dan pencegahan infeksi.
Dx :NCB SMK 1 hari dengan bayi baru lahir rendah.
Ds : -
Do : KU : lemah
S : 36C
II. ANTISIPASI DIAGNOSA/MASALAH POTENSIAL
- Hipoglikemia
- Hipotermi
- Kematian
III. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
Hangatkan bayi dan kalaborasi dengan dr,sp.A
IV. INTERVENSI
Tanggal Pengkajian : 12-12-2017
Pukul : 19.00 WIB
Dx : NCB SMK 1 hari dengan bayi baru lahir rendah.

Tujuan : Kondisi bayi berkembang baik dan tidak terjadi komplikasi


Kriteria Hasil :
K.U : Stabil
BB : lebih dari 15% dari BB lahir dalam 1 minggu
Refleks hisap : kuat
Suhu : 36,5 o c – 37,5 o c
HR : 120 – 140 x/ menit
Pernapasan : 30 - 40 x/ menit
BB : Menurun tidak lebih dari 5% dari berat badan lahir

Intervensi:
1. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
R/: mencegah terjadinya infeksi
2. Jaga bayi agar tetap hangat/tempatkan bayi dalam inkubator
R/ mencegah kehilangan panas dari konduksi serta mencegah hipotermi
3. Observasi tanda-tanda vital setiap 3 jam
R/ deteksi dini adanya komplikasi
4. Ganti segera pakaian/ popok yang basah akibat air kencing/feses
R/ mengurangi kehilangan panas secara induksi.
5. Beri therapy sesuai anjuran dokter
Injeksi genta 2 x 7,5 mg dan Goforan 2 x 150 mg secara IM
R/ mencegah terjadinya perdarahan dan mencegah infeksi
6. Beri cairan sesuai dengan kebutuhan
R/ Mencegah terjadinya bayi dehidrasi atau bayi kuning
7. Jaga hygiene tubuh bayi dan lingkungan sekitar
R/ menghindari transmisi memberi rasa aman pada bayi
V. IMPLEMENTASI
Tanggal Pengkajian : 12-12-2017
Pukul : 19.00 WIB
Dx : NCB SMK 1 hari dengan bayi baru lahir rendah.

1. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan


2. Menjaga bayi agar tetap hangat dengan cara menutup box bayi
3. Mengobservasi tanda-tanda vital
Pukul 16.35 WIB : - S : 36,2 0C
- HR : 132 x/menit
- RR : 36 x/menit
Pukul 17.00 WIB : - S : 36,20C
- HR : 136 x/menit
- RR :38 x/menit
Pukul 20.00 WIB : - S : 36,20C
- HR : 136 x/menit
- RR : 38 x/menit
4. Mengganti popok bayi yang basah.
5. Memberi therapy sesuai dengan anjuran dokter.
6. Memberi cairan sesuai dengan kebutuhan bayi (20-30 cc)
7. Menjaga hygiene tubuh bayi dan lingkungan sekitar

VI. EVALUASI
Tanggal : 12 Desember 2017 Jam : 20.00 WIB
Dx :NCB SMK 1 hari dengan bayi baru lahir rendah.

S : Bayi masih dalam perawatan


O : KU : Baik
BBL : 2100 gram
Gerakan : aktif
Warna kulit : kemerahan
TTV : S : 36,2C
N : 136x/menit
RR : 38 x/menit
BAK/BAB : (+)
Reaksi terhadap rangsangan, menangis
Sucking (menghisap) : ada, Kuat
Stapping (menginjak) : ada, lemah
Graft (mengenggam) : ada, kuat
Morro (Mengagetkan) : ada, lemah
A : NCB SMK 1 hari dengan bayi baru lahir rendah.
P : intervensi dilanjutkan
 Menjaga bayi tetap hangat dengan cara menyelimuti bayi
 Mengobservasi TTV setiap 1 jam
 Memenuhi kebutuhan cairan bayi
BAB 4
PEMBAHASAN

Bayi BBLR adalah berat badan bayi kurang dari 2100 gram yaitu karena
umur hamil kurang dari 37 minggu atau berat badan lahir rendah dari semestinya
sekalipun umur cukup atau karena kombinasi keduanya. (Manuaba, 1998 ;326)
Pada Asuhan Kebidanan yang saya buat, penulis akan membahas masalah
yang terjadi pada by.Ny ”N” usia 1 hari. Penulis melaksanakan asuhan kebidanan
kepada by.Ny “N” pada tanggal 12-12-2017 di ruang Perinatologi RSIA Trisna
Medika Tulungagung dikaitkan dengan teori yang dibahas dalam tinjauan pustaka.
Setelah dilakukan asuhan kebidanan sesuai 7 langkah varney yaitu pada
pengkajian didapatkan bayi Ny “N” umur 1 hari dengan Berat Badan Lahir
Rendah (BBLR). Bayi lahir dengan SC, ketuban keruh. Pada Asuhan Kebidanan
yang saya buat, antara tinjauan teori dengan tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan.
Pada kasus ini, by.”N” di diagnosa sebagai bayi BBLR (Berat Badan Lahir
Rendah) sesuai dengan teori Wiknjosastro tahun 2006 yang menyebutkan bahwa
BBLR kondisi dimana berat bayi saat dilahirkan tidak mencapai 2,5 kg (2500
gram) tanpa memandang usia kehamilan karena berat badan lahir by.”N” sebesar
2100 gram. Kasus by.“N” ini disebabkan karena kehamilan ganda yang umumnya
menyebabkan adanya pertumbuhan janin yang kurang sehingga mengalami BBLR
sesuai dengan teori yang ada. Faktor lain yang dapat memicu terjadinya BBLR di
antaranya faktor ibu (penyakit, usia < 20 tahun atau diatas 35 tahun, keadaan
sosial ekonomi),faktor pekerjaan yang terlalu berat, faktor kehamilan, dan faktor
janin.
Dari ciri-ciri yang biasa ditemukan pada bayi BBLR pada teori yang telah
dikemukakan terdapat beberapa ciri-ciri yang sama yaitu kulit tipis dan
mengkilap, tulang rawan telinga sangat lunak atau belum terbentuk, pada bayi
laki-laki skrotum berwarna kecokelatan dan belum banyak lipatan, pernafasan
tidak teratur, aktivitas dan tangisannya lemah, daya hisap dan menelan masih
lemah, panjang badan < 45 cm, lingkar dada < 30 cm, lingkar kepala < 33 cm.
Untuk penanganan kasus by.”N” dengan BBLR ini sudah terhitung tepat,
yaitu dengan memperhatikan hal-hal seperti mempertahankan suhu dengan,
memberikan kehangatan pada by.”N” dengan menutup Inkubator bayi, mencegah
infeksi dengan nosokomial salah satunya juga dengan cara minimal handling,
pengawasan nutrisi / PASI sesuai instruksi dokter dan penimbangan rutin
dilakukan setiap harinya.
BAB 5

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Bayi baru lahir dapat dibagi menjadi dua yaitu bayi normal (sehat)
yang memerlukan perawatan biasa dan bayi gawat (high risk baby)
yaitu yang memerlukan penanggulangan khusus.

Pada tinjauan kasus dapat ditarik kesimpulan asuhan kebidanan


dengan diagnosa bayi Ny”N” NCB SMK usia 1 hari dengan Berat
Badan Lahir Rendah (BBLR) dalam kasus ini telah diuraikan bahwa
bayi BBLR adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir
kurang dari 2100 gram. Disebutkan pula bahwa BBLR sangat rentan
terhadap hipotermi dan infeksi, dari kasus yang telah diikaji dan telah
dilakukan penatalaksanaan yang adekuat ternyata tidak jauh berbeda
dengan teori yaitu Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang
berat badannya kurang dari 2500 gram, tetapi dari kasus bayi Ny “N”
tidak menderita hipotermi ataupun infeksi karena tenaga
kesehatan/Bidan melakukan pemantauan ketat pada bayi dan juga
telah dilakukan penanganan pada BBLR dengan baik. Tenaga
kesehatan (Bidan) juga telah menangani bayi sesuai dengan yang telah
dijelaskan pada teori yaitu mempertahankan suhu tubuh bayi,
mencegah infeksi, pengawasan nutrisi/PASI dan penimbangan BB
bayi dengan ketat.

5.2. Saran

1. Petugas Kesehatan (Bidan)

a. Bidan yang profesional harus mampu mengambil tindakan cepat


jika ada masalah yang muncul.
b. Mampu memberikan nasehat-nasehat apa yang harus dilakukan
pasien dalam menghadapi masalah kebidanan.
2. Bagi Institusi Pendidikan
a. Sebagai acuan dalam memberikan materi/mata ajar untuk
Mahasiswa.
b. Sebagai masukan terhadap kemungkinan adanya kekurangan dalam
pembelajaran kepada Mahasiswa.
c. Mampu memberikan ketrampilan pentatalaksanaan BBL dengan
beat badan lahir rendah (BBLR) sesuai dengan mutu standar
pelayanan kesehatan.
3. Bagi Mahasiswa
a. Sebagai acuan atau perbandingan yang harus dipelajari dan diteliti
kembali.
b. Diharapkan dengan adanya Asuhan Kebidanan ini Mahasiswa
mampu merealisasikan dalam praktek dilapangan.
4. Bagi orang tua
a. Mampu menjaga kehangatan tubuh bayi dengan dekapan

b. Segera memberikan ASI kepada bayinya


DAFTAR PUSTAKA

Depkes. 2007. Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal. revisi 2007. Jakarta

Manuaba, Ida Bagus Gde, SpOG. 2008. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan
dan Keluarga Berencana. Jakarta : EGC.

Mochtar, Rustam, MPH. 2008. Sinopsis Obstetri. Jilid I. Jakarta : ECG.

Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka.

Prawirohardjo, Sarwono. 2006. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.


Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.

Varness, Helen, dkk. 2001. Buku Saku Bidan. Jakarta : EGC.