Anda di halaman 1dari 51

METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN GEDUNG

BAB 1. PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Latar belakang Paket Pekerjaan PEKERJAAN PEMBANGUNAN GEDUNG X adalah dalam


rangka optimalisasi penyediaan sarana dan prasarana pendukung Gedung X, Kab. YY
guna menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan dan diharapkan dengan adanya
pengembangan dengan kegiatan pembangunan gedung bedah sentral terpadu inidapat
terus memperlancar kegiatan di rumah sakit, khususnya untuk bagian Pembedahan.

2. MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dan tujuan dari uraian Metode Pelaksanaan ini adalah untuk menjelaskan secara
garis besar uraian tahapan pelaksanaan dari pekerjaan umum, pekerjaan utama dan
pekerjaan penunjang, sehingga dapat dilihat keterkaitan dari masing - masing pekerjaan
maupun antar pekerjaan terhadap spesifikasi yang telah disyaratkan. Dalam metode ini
juga akan digambarkan pelaksanaan pekerjaan dengan memperkecil gangguan terhadap
lingungan dan lalulintas pekerjaan.

3. LOKASI DAN LINGKUP PEKERJAAN .

Lokasi pekerjaan berada di Lingkungan Gedung X

4.LINGKUP PEKERJAAN
Lingkup pekerjaan Paket Pekerjaan Pembangunan Gedung Bedah Sentral Terpadu (Gedung
F) RSUD Ciawi adalah sebagai berikut:

PEKERJAAN PERSIAPAN
PEKERJAAN STRUKTUR
I PEKERJAAN PONDASI
II LANTAI 1
III LANTAI 2
IV LANTAI 3
V LANTAI 4
VI LANTAI ATAP
VII LANTAI ATAP LIFT
VIII LANTAI ROFF TOP
IX PEKERJAAN ATAP BAJA
X POWER HOUSE
XI GROUND RESERVOIR

PEKERJAAN ARSITEKTUR
I LANTAI DASAR
II LANTAI 1
III LANTAI 2
IV LANTAI 3
V LANTAI 4
VI LANTAI ATAP
VII PEKERJAAN FACADE
VIII POWER HOUSE
IX GROUND RESERVOIR

PEKERJAAN MEKANIKAL
I INSTALASI AIR BERSIH
II INSTALASI AIR KOTOR, BEKAS DAN VENT
III INSTALASI AIR HUJAN
IV INSTALASI HYDRANT DAN SPRINKLER
V INSTALASI GAS MEDIS
VI INSTALASI TATA UDARA
VII INSTALASI ELEVATOR ( LIFT )

PEKERJAAN ELEKTRIKAL
I PEKERJAAN PERALATAN UTAMA
II PEKERJAAN KABEL FEEDER
III PEKERJAAN INSTALASI DAYA DAN PANEL
IV INSTALASI PENERANGAN DAN ARMATUR
INSTALASI PENANGKAL PETIR DAN GROUNDING
V PANEL

PEKERJAAN ELEKTRONIK
I PEKERJAAN TELEPHONE
II PEKERJAAN TATA SUARA
III PEKERJAAN FIRE ALARM
IV PEKERJAAN CCTV
V PEKERJAAN DATA DAN LAN
VI PEKERJAAN NURSE CALL

BAB II Metode Penyelesaian Pekerjaan


Metode Pelaksanaan Pekerjaan Struktur

1 - PEKERJAAN PERSIAPAN
Pekerjaan persiapan awal yang dibutuhkan dalam pelaksanaan proyek. Sebelumnya segala izin yang
dibutuhkan sudah diurus, time schedule telah dibuat, dan kontraktor telah memiliki Shop Drawing.
Pekerjaan pendahuluan yang dilakukan dalam proyek ini meliputi :
1. Pekerjaan Mobilisasi dan Demobilisasi
Mobilisasi bertujuan untuk mengadakan/ mendatangkan peralatan, personil, dan
perlengkapan untuk melaksanakan semua item pekerjaan di lapangan, dan mengembalikan
pada keadaan yang diinginkan sesuai dengan gambar kerja.
Dalam Pelaksanaan Proyek ini Mobilisasi dan Demobilisasi Peralatan yang dilakukan terdiri
dari:
 Tower Crane
 Alat Pancang
 Genset
 Mix Batching Plan
 Truck
 Concrete Pump
 Wheel Loader
 Scafolding
 Bar Cutter
 Bar Bender
 Excavator
 Buldoser
 Baby Roller
 Compresssor
 Concrete vibrator

Personil terdiri dari:


 Kepala Proyek
 Site Manager
 Tenaga Ahli di bidangnya masing-masing
 Quality Control
 Koordinator HSE
 Logistik
 Surveyor
 Operator-operator alat berat
 Tenaga harian

Pada saat mobilisasi alat berat diangkut menggunakan mobil trailer, trailer yang digunakan
harus memiliki perlengkapan yang memadai.
Demobilisasi
Pekerjaan ini merupakan pekerjaan pengembalian dan pemindahan peralatan yang telah
dipergunakan. Dan mengembalikan kondisi lapangan yang telah digunakan sebgai tempat
penyimpanan alat, barak pekerja, gudang, dan lain sebaginya kembali ke kondisi awal.

2. Pekerjaan Pengukuran dan Pembersihan Lapangan


Sebelum Pekerjaan dimulai terlebih dahulu dilakukan pembersihan lokasi dari sampah,
rumput, dan berbagai hal lain yang dapat menggangu pelaksanaan pekerjaan. Pembersihan
dilakukan dengan menggunakan bantuan alat berat excavator. Sampah-sampah yang
dihasilkan dari pekerjaan ini dikumpulkan di suatu tempat yang telah disetujui oleh pengawas,
kemudian baru diangkut dengan menggunakan dump truck untuk dibuang ke tempat
pembuangan sampah akhir.
Seiring pembersihan lokasi dibuat papan nama proyek, papan nama proyek ini dipasang pada
tempat yang mudah dilihat dengan mencantumkan data-data proyek antara lain nama proyek,
pekerjaan, lokasi, nilai proyek, waktu pelaksanaan, pengawas pelaksana proyek, dll.
Setelah pekerjaan pembersihan lapangan selesai dilakukan, barulah dilakukan pengukuran
lokasi. Hal ini bertujuan untuk menentukan letak bangunan, elevasi dan titik ikat (Bench Mark).
Dalam pengukuran digunakan alat Theodolit dan rambu ukur. Pengukuran ini dilakukan oleh
seorang surveyor. Titik-titik yang menjadi acuan ditandai dengan menggunakan patok. Patok
terbuat dari kayu bulat dengan panjang ± 1m yang ditancapkan kedalam tanah.

3. Pekerjaan Pemasangan Bouplank


Pekerjaan ini biasanya dilakukan seiring atau setelah pekerjaan pengukuran dilakukan.
Pemasangan Bouwplank (Pematokan) dilaksanakan bersama-sama oleh Pihak Proyek,
Perencana Pengawas, Pelaksana dan dibuat Berita Acara Pematokan.
Bowplank terbuat dari papan yang bagian atasnya dipakukan pada patok kayu persegi 5/7 cm
yang tertanam dalam tanah cukup kuat. Untuk menentukan ketinggian papan bouwplank
secara rata bagian atasnya dari papan bowplank harus di waterpass (horizontal dan siku),
sedangkan untuk mengukur dari titik As ke As antar ruangan digunakan meteran. Setiap titik
pengukuran ditandai dengan paku dan dicat dengan cat merah dan ditulis ukuran pada papan
bouwplank agar mudah di cek kembali. Pemasangan papan bowplank dilaksanakan pada jarak
1,5 m dari As sekeliling bangunan dan dipakukan pada patok – patok yang terlebih dahulu
ditancapkan kedalam tanah.

Gambar Contoh pelaksanaan Pekerjaan Bouplank

Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan ini dapat dilihat pada Kurva S


4. Pembuatan Direksi Keet
Dalam pelaksanaan proyek ini Direksi Keet yang dibuat terdiri dari Kantor ukuran 5x10m,
Ruang rapat Ukuran 4x4m, gudang ukuran 6 x 10m, barak pekerja ukuran 3x10m (2 Lantai),
rumah genset, serta Toilet.

Untuk Ruang kantor dan ruang Rapat didalamnya dilengkapi meja, kursi, gambar kerja, time
schedule, struktur organisasi proyek, papan tulis, alat pemadam kebakaran, buku tamu, buku
direksi dan laporan harian proyek. Ruang ini digunakan sebagai kantor sementara kontraktor
dan dipakai sewaktu-waktu perlu dilakukannya rapat kerja.

Barak kerja dibuat untuk tempat tinggal sementara tenaga kerja selama proyek berlansung.

Contoh Gambar Barak Pekerja

Gudang penyimpanan bahan ini dibuat untuk tempat bahan material yang sifatnya untuk
menjaga keselamatan dari bahan tersebut. Untuk Gudang penyimpanan semen,
tempatnyaharus baik sehingga terlindung dari kelembaban atau keadaan cuaca lain yang
merusak. Lantai penyimpanan harus kuat dan berjarak minimal 30 cm dari permukaan tanah.

Gambar Gudang Material

Letak direksikeet dibuat pada tempat yang mudah dijangkau dan mudah dicapai dalam proses
bongkar muat material yang akan digunakan.

Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan ini dapat dilihat pada Kurva S

5. Pembuatan Jalan Kerja Proyek.


Pekerjaan ini dilakukan untuk mempermudah aksesibiltas kendaraan yang masuk ke dalam
lokasi proyek, sehingga pengangukatan material dapat berjalan lancar. Jalan tersebut terbuat
dari material timbunan tanah yang dipadatkan. Jika cuaca panas dan permukaan jalan kering
maka dapat dilakukan pennyiraman dengan menggunakan water tanker. Pekerjaan ini
dilakukan beriringan dengan pekerjaan Direksi Keet.

Selain Pekerjaan diatas, ada hal lain yang perlu disampaikan kepada setiap orang dilokasi
proyek yaitu memberikan aturan bahwa setiap orang yang berada di dalam lokasi proyek harus
selalu memakai alat pelindung diri dan Senantiasi mematuhi peraturan K3 yang ada di lokasi.

II. PEKERJAAN STUKTUR


1. PEKERJAAN GALIAN TANAH PONDASI
a. Setelah pekerjaan Pendahuluan dan pekerjaan pemancangan selesai dilakukan, hal yang
dilakukan selanjutnya yaitu pekerjaan galian tanah pondasi. Galian tanah pondasi
diperlukan untuk perletakan pondasi plat.
b. Pengalian dilakukan sesuai dengan gambar rencana pondasi dan telah mendapat
persetujuan dari pengawas. Bidang horizontal galian tanah harus mempunyai jarak yang
lebih besar dari lebar pondasi, hal ini berfungi untuk memungkinkan pemasangannya,
penopangan dan lain-lain. Kedalaman galian harus sesuai dengan gambar rencana.

c. Tanah hasil galian ditumpuk ditempat yang telah ditentukan oleh pengawas, karena
tanah tersebut akan dipakai kembali.

2. PEKERJAAN LANTAI KERJA


a. Setelah tanah digali dan diberikan urugan pasir, selanjutnya dibuat lantai kerja dengan
campuran beton 1Pc:3Ps:5Kr. Sebelum campuran beton diletakkan, dasar tanah
diratakan terlebih dahulu. Tebal dari lantai kerja ini sekitar 5 cm, setelah lantai kerja
mengeras barulah diatasnya diletakkan pondasi Plat Setempat.

3. PENEYEMPROTAN ANTI RAYAP


a. Penyemprotan anti rayap dilakukan sebelum lantai kerja dibuat. Daerah – daerah yang
disemprotkan antara lain seluruh lapisan bawah dan dinding samping mat foundation.
Penyemprotan anti rayap ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan penghalang
kimia atara kontruksi bangunan dan tanah, sehinga melindungi bangunan dari serangan
rayap. Material yang digunakan adalah STEDFAST 15 EC dengan komposisi satu liter
stedfast 15 EC dicampur dengan 50 liter air. Aplikasi untuk 1m memputuhkan lima liter
campuran. Pada waktu penyemprotan anti rayap ini kondisi tanah harus kering / tidak
ada genangan air.

4. PEKERJAAN URUGAN PASIR


a. Permukaan tanah yang sudah digali diatasnya diberikan pasir urug, kemudian
dipadatkan dengan menggunakan alat stamper. Urugan pasir ini berfungsi untuk
menstabilkan permukaan tanah asli dan menyebarkan beban. Urugan Pasir dipadatkan
perlapis hingga mencapai ketebalan Urugan Pasir yang sesuai dengan gambar kerja dan
spesifikasi teknis yang ada yaitu sekitar 7 cm.

5. PEKERJAAN URUGAN TANAH


a. Pekerjaan urugan tanah dilakukan setelah pondasi selesai dan telah mengeras. Tanah
hasil galian dikembalikan lagi, dan digunakan untuk menimbun pondasi. Tanah tersebut
dipadatkan lapis demi lapis baik dengan cara manual atau menggunakan alat stamper.
b. Selain itu urugan tanah juga dilakukan pada permukaan lantai. Bagian lantai yang perlu
ditinggikan di urug dengan tanah urug. Tanah urug yang dipakai dapat berasal dari hasil
galian ataupun tanah urug yang didatangkan. Tanah dihamparkan kemudian dipadatkan
lapis demi lapis hingga didapatkan kepadatan dan ketebalan yang sesuai dengan
spesifikasi teknis.

6. PEKERJAAN PONDASI
Dalam Proyek ini ada dua buah jenis pondasi yang digunakan yaitu pondasi tiang pancang dan
Pondasi Plat Setempat, yang mana metode pelaksanaan kedua pondasi tersebut berbeda.
Pondasi Plat Setempat dipakai pada bangunan Pos Jaga, Pagar dan Bangunan Utama,
sedangkan Pondasi Tiang Pancang Digunakan pada Gudang, bangunan Utama dan Pagar Luar.
Adapun Pelaksanaan Pekerjaan Tiang Pancang yaitu :
a. Pondasi Tiang Pancang
Tiang Pancang yang digunakan yaitu Tiiang Pancang Beton dengan ukuran 35x35 cm dan
panjang sekitar 30 m. Tiang Pancang ini merupakan barang pabrikan. Sekitar 1 minggu
sebelum kegiatan pemancangan dilakukan, tiang pancang telah dipesan.
Pelaksanaan pemancangan yaitu sebagai berikut :
 Melakukan pengukuran kembali dengan theodolit untuk mendapatkan titik-titik
yang akan dipancang dan sesuai dengan gambar kerja.
 Setelah didapatkan titik-titik yang akan dipancang, selanjutnya diatur posisi atau
kedudukan dari crane.
 Setelah itu dilakukan penyetelan tiang pancang agar tepat pada posisinya
(Centre Line).
 Jika tiang pancang telah pas (Centre) maka selanjutnya tiang pancang dipukul
dengan menggunakan hammer. Jika tiang pancang tersebut telah hampir
tertancap seluruhnya namun setelah dilakukan tes calendering (PDA Test) masih
belum mencapai tanah keras, maka tiang pancang disambung dengan
menggunakan las.
 Kegiatan pemancangan dapat dihentikan jika hasil tes calendering (PDA Test)
telah menunjukkan nilai yang diinginkan atau telah mencapai tanah keras.
Untuk mengetahui tiang pancang telah mencapai tanah keras yaitu jika dipukul
hammer (alat pemukul) akan membalik.
 Sisa tiang pancang yang muncul di permukaan tanah dipotong dan dibobok
dengan menggunakan alat potong, kemudian besi dari tiang pancang yang
muncul disambungkan ke pilecap

Proses Pelaksanaan Pemancangan


Proses Alur Pelaksanaan Pemancangan

b. Pondasi Plat Setempat


Pondasi Plat Setempat terbuat dengan mutu beton K-300. Hal pertama dilakukan yaitu
merakit tulangan dan bekisting pondasi sesuai dengan gambar kerja. Perakitan dan
pembuatan mal ini dapat dilakukan bersamaan dengan pengalian tanah pondasi. Setelah
itu bekisting diletakkan diatas lantai kerja dan besi tulangan dimasukkan ke dalam
bekisting. Sebelum besi tulangan diletakkan di dalam bekisting, diatas lantai kerja di
berikan beton tahu kira-kira berukuran 2x2x2 cm dengan mutu beton yang sama. Beton
tahu ini berfungsi agar kedudukan tulangan pas berada di tengah dan memberikan ruang
untuk selimut beton yang cukup.

Jika tulangan dan bekisting telah dipasang maka campuran beton dapat dituang.
Ketinggian curahan harus diperhatikan agar seluruh rongga dapat tertutupi oleh material.

Bahan-bahan yang digunakan dalam campuran beton harus sesuai dengan job mix design
yang ada. Bebas dari material organik, debu dan telah mendapat persetujuan dari
pengawas.

STRUKTUR ATAS PONDASI

Sebelum di lakukan penegcoran struktur kolom, balok dan struktur atas pondasi maka di lakukan
pemasangan Tower Crane
1. PEKERJAAN COR BALOK SLOOF
Pengecoran balok sloof dilakukan setelah pondasi plat setempat dan pile cap selesai dilakukan.
Pada dasarnya pelaksanaan balok sloof sama dengan pelaksanaan Pondasi Plat Setempat.
Bekisting dan tulangan besi dirakit terlebih dahulu sesuai dengan shop drawing. Setelah itu
barulah campuran beton dituangkan, campuran beton yang digunakan sama dengan
campuran beton Pondasi yaitu mutu beton K-300. Campuran beton tersebut terlebih dahulu
telah dilakukan job mix design dan nilai slump tesnya sesuai dengan spesifikasi teknis. Dalam
pelaksanaan pekerjaan ini perlu adanya persetujuan dari pengawas.

2. PEKERJAAN COR BETON KOLOM


Proses pelaksanaan pekerjaan ini sebagai berikut :
 Pekerjaan Pembesian. Fabrikasi pembesian dilakukan ditempat fabrikasi. Besi yang digunakan
sesuai gambar rencana. Besi ini dirakit dan dibentuk sesuai dengan shop drawing.
 Pembuatan Bekisting. Bekisting dibuat dari multiplex 9 mm yang diperkuat dengan kayu usuk
4/6 dan diberi skur-skur penahan agar tidak mudah roboh.
 Melakukan Kontrol Kualitas. Ada 2 kontrol kualitas yang dilakukan. Kontrol kualitas pertama
yaitu Kontrol Kualitas Sebelum dilakukan pengecoran meliputi kontrol kualitas terhadap posisi
dan kondisi bekisting, posisi dan penempatatan pembesian, jarak antar tulangan, panjang
penjangkaran, ketebalan beton decking (Beton tahu), ukuran baja tulangan yang digunakan,
posisi penempatan water stop.

 Kontrol Kualitas kedua yaitu Kontrol kualitas saat pengecoran. Pada saat berlangsungnya
pengecoran, campuran dari Concrete mixer Truck diambil sampelnya. Sampel diambil menurut
ketentuan yang tercantum dalam spesifikasi.

 Pekerjaan Kontrol kualitas ini akan dilakukan bersama-sama dengan konsultan pengawas untuk
selanjutnya dibuat berita acara pengesahan kontrol kualitas.
 Kegiatan pengecoran.
 Pengecoran dilakukan secara langsung dan menyeluruh
 Kegiatan Curing (perawatan)
 Curing (perawatan) dilakukan sehari (24 jam) setelah pengecoran selesai dilakukan dengan
dibasahi air dan dijaga/dikontrol untuk tetap dalam keadaan basah.
Proses Pelaksanaan Pekerjaan Kolom

3. PEKERJAAN COR BETON BALOK & RING BALOK


Pelaksanaan pekerjaan ini sama dengan pelaksanaan pekerjaan kolom, hanya saja dalam
pengerjaan bekisting perlu adanya tambahan kayu dolken/ubar. Kayu ini berfungsi sebagai
steger/penopang dari bekisting agar bekisting tetap pada tempatnya (tidak terjadi lendutan).
Kayu steger tersebut ditegakkan dengan jarak sekitar 40 cm. Pelaksanaan pengecoran balok
atau ring balok, biasanya seiringan dengan pelaksanaan Pelat lantai.

4. PEKERJAAN COR BETON PLAT LANTAI


Proses pelaksanaan pekerjaan ini yaitu :
 Pekerjaan Pengukuran dan Bekisting
 Pemasangan bekisting pelat lantai didahului dengan pengukuran posisi balok. Pengukuran
dilakukan dengan cara memberi tanda as bangunan pada kolom lantai bawah yang tadinya ada
pada lantai bawah. Pengukuran ini ditujukan untuk mengantisipasi kesalahan pada posisi balok.

 Dari hasil pengukuran tersebut maka bekisting balok dan pelat dapat difabrikasi pada posisi
yang benar diatas perancah yang telah disiapkan. Pengaturan level balok dan pelat dapat
dilakukan dengan mengatur ketinggian perancah (Scafolding). Proses pemasangan bekisting ini
dibantu oleh surveyor untuk mengontrol level balok dan pelat.
 Pekerjaan Pembesian
 Fabrikasi pembesian dilakukan di tempat fabrikasi, setelah bekisting siap, besi tulangan yang
telah siap dipasang dan dirangkai dilokasi. Pembesian balok dilakukan terlebih dahulu, setelah
itu diikuti dengan pembesian pelat lantai. Panjang penjangkaran dipasang 30xD Tulangan
Utama.
 Leveling Pengecoran pelat lantai
 Agar pengecoran pelat lantai mencapai level yang benar dan tidak terjadi perbedaan tinggi
finishing cor, maka perlu dibuat alat bantu leveling pengecoran. Leveling pengecoran dibuat
dari besi siku L.50.50.5 yang ditumpukan pada beberapa titik besi beton. Besi beton ini
ditancapkan hingga posisi besi siku tidak lagi bergeser. Penempatan besi siku diukur dengan
waterpass dan diukur pada level sesuai gambar desain.
 Pekerjaan Kontrol Kualitas
 Kontrol kualitas yang dilakukan sama dengan kontrol kualitas yang dilakukan pada pekerjaan
kolom.
 Pengecoran beton
 Pengecoran dilakukan dengan Ready Mix truck yang dibantu dengan penggunaan Concrete
Pump. Dalam hal ini pengecoran dilakukan secara sekaligus balok dan pelat seluruh lantai.
Untuk mempercepat proses pengecoran dipakai Concrete Pump. Pengecoran dibantu dengan
alat vibrator untuk meratakan dan memadatkan campuran. Selanjutnya finishing lantai cor ini
adalah rata namun dibiarkan kasar karena selanjutnya akan dilakukan pekerjaan lantai.
 Pekerjaan curing
 Sama hal nya dengan pekerjaan kolom, Curing (Perawatan) dilakukan sehari setelah dilakukan
pengecoran.

Proses Pelaksanaan Pekerjaan Balok & Pelat Lantai

III. PEKERJAAN ATAP


Dalam proyek ini ada Bangunan Gedung Kantor dan Gudang memakai rangka atap yang terdiri dari
baja Ringan yang dikerjakan setelah pekerjaan cor balok dan kolom–kolom selesai dikerjakan,
rangka atap dipasang sedemikian rupa sehingga kokoh dan rapi, agar atap penutupnya dapat
dipasang dengan baik dan sempurna, dimensi rangka baja dan penempatannya disesuaikan dengan
spesifikasi teknis dan gambar rencana.

Atap penutup terdiri dari atap genteng metal zincalume tebal 0,35 mm dan atap spandek,
setelahitu dipasang juga nok atas genteng dengan bahan yang sama dengan atap penutup,
kemudian talang jurai dari genteng metal juga dipasang, ukuran dimensi disesuaikan dengan
spesifikasi teknis dan gambar rencana.

Pada proyek ini juga digunakan canopy atap grill aluminium dan canopy kaca mika, dimana
pemasangan material tersebut dilakukan oleh orang yang berpengalaman dalam mengerjakannya.

Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan ini dapat dilihat pada Kurva

IV. PEKERJAAN ARSITEKTURAL


1. PEKERJAAN DINDING
Setelah pekerjaan struktur lantai satu selesai, maka pekerjaan dinding dapat segera dimulai.
Sebelum dinding dipasang, batu bata yang digunakan terlebih dahulu di rendam di dalam air
sebentar.
Adapun peralatan yang digunakan yaitu waterpass, skrop, ember, benang, sipatan, pacul, dan
cetok.

Proses Pengerjaan dinding bata ringan yaitu :


.
 Sebelum di lakukan pemasang pekerjaan dinding dilakukan pengukuran bangunan (uit-
zet) serta letak-letak dinding bata yang akan dilaksanakan secara teliti dan sesuai dengan
gambar.
 Di dalam satu hari, pasangan batu tidak boleh lebih tinggi dari 2,5 meter
danpengakhirannya harus dibuat bertangga menurun dan tidak tegak bergigi,untuk
menghindari retak dinding dikemudian hari.
 Pekerjaan pasangan dilaksanakan waterpas (horizontal) dengan menggunakan benang
dan tiap kali lantai diteliti kerataannya. Pemasanganbenang terhadap pasangan
dibawahnya tidak boleh lebih dari 30 cm.

 Pada semua pasangan setengah batu satu sama lain harus terdapat pengikatan yang
sempurna.

 Untuk pasangan batu bata maupun beton ringan aerasi (hebel) tidakdibenarkan
menggunakan batu bata ataupun hebel pecahan separuh panjang,
 kecuali sesuai dengan peraturannya (di sudut).
 Lapisan yang satu dengan lapisan yang diatasnya harus dipasang secara zig-zag
(berselang-seling dengan perbedaan separuh panjang).

 Pada pasangan satu batu dan pasangan yang lebih tebal (kalau ada), maka
 pelaksanaan harus sesuai petunjuk / peraturan yang disyaratkan (NI-3).

 Untuk dinding bata dan kolom harus diberi angkur 10 mm tiap 1 m tinggisedangkan
dinding hebel diberi besi strip lebar 1”, tebal 3 mm tiap 60 cm tinggi.
 Demikian juga setiap luas dinding 12 m2 harus diberi penguat kolom praktisdan balok.
Khusus untuk dinding ruang genset, setiap luas dinding 6 m² diberiperkuatan kolom
praktis dan balok. Semua pertemuan tegak lurus harusbenar-benar bersudut 90 derajat.
 Sebelum dimulai pemasangan hebel harus direndam lebih dahulu di dalam airdan
permukaan yang akan dipasangpun harus basah.

 Tebal siar pasangan batu hebel tidak boleh kurang dari 1 cm (10 mm) dan siarnya harus
benar-benar terisi adukan.
 Gunakan alat roskam (trowel) bergigi yang sesuai dengan ketebalan blok yangditentukan
pada gambar.
 Jaga kekentalan campuran, tutup sambungan antar blok yang tidak merata
 dengan adukan Mortar agar tidak terlihat lobang-lobang yang terdapat padadinding,
sebelum plesteran dipasang.

 Bersihkan permukaan dari debu, minyak atau kotoran lain yang dapat mengurangi
efektifitas perekatan.

 Bilamana di dalam pasangan ternyata terdapat batu bata ataupun batu hebel
 yang cacat atau tidak sempurna, maka wajib untuk diganti
 Untuk pekerjaan rangka kayu / kosen, gunakan beton ringan aerasi (hebel)
 Lintel pada ujung atas kusen, atau blok bata tipe Ublok dan diisi oleh tulanganringan serta
pasangan beton ringan.

 Rangka kayu/kosen harus dipasang terlebih dahulu untuk dapat melanjutkan pekerjaan
pasangan.

 Rangka kayu/kosen, pemasangannya harus diperkuat dengan angkur besiberbentuk L,


yang ujungnya disekrup kedalam kosen, sedangkan ujung bengkoknya
ditanamkankedalam pasangan dinding/kolom praktis. Panjang angkur terpasang tidak
lebih dari 22,50 cm.Tiap-tiap angkur dipasang dengan jarak 60 cm satu sama lainnya.

 Pekerjaan pemasangan pipa dan / atau alat-alat yang ditanam di dalam


 dinding, maka harus dibuat pahatan dengan kedalaman yang cukup padapasangan
dinding sebelum diplester. Pahatan tersebut setelah dipasangnyapipa/alat-alat, harus
ditutup dengan adukan plesteran yang dilaksanakansecara sempurna, yang dikerjakan
bersama-sama dengan plesteran seluruhdinding.

 Untuk lebar pahatan lebih dari 7 cm sebelum diplester harus dipasang kawat ayam yang
dipakukan pada dinding hebel, untuk menghindari keretakandikemudian hari.

 Sesudah pasangan bata hebel selesai dikerjakan, dan sudah kering baru pekerjaan
plesteran dimulai.

 Plesteran menggunakan adukan yang sama dengan adukan untuk pasangan.

 Untuk pengakhiran sudut plesteran / dinding, hendaknya dibuat dengan suduttumpul.

 Untuk kolom dengan pipa-pipa air hujan, digunakan non shrink concrete (betonnon
menyusut), bisa menggunakan Sika Grout 215 (new) adalah semengrouting siap pakai
yang mempunyai karakteristik tidak menyusut denganwaktu kerja yang sesuai untuk
temperature lokal. dan dapat mengalir sangatbaik.

2. PEKERJAAN PLESTERAN

Meliputi penyediaan bahan plesteran, penyiapan dinding / bidang yangakan diplester,


sertapelaksanaan pekerjaan pemlesteran itu sendiri pada dinding-dinding yang akan
diselesaikan dengancat, sesuai dengan yang tertera dalam gambar denah dan notasi
dipenyelesaian dinding. Seluruh dinding pasanganbata baik yang terlihat ataupuntidak
terlihat (pasangan batu bata biasa atau beton ringan aerasi (hebel) diatas plafond dan
dinding shaft) harus tetap diplester.

1. Bahan

1.1. Untuk plesteran dinding batu bata biasa :


a. Semen yang dipergunakan dalam pekerjaan ini harus memenuhi persyaratan
C sesuai NI-8.
b. Pasir yang dipergunakan dalam pekerjaan ini harus halus dengan warna asli/
alami, sesuai NI-3 dan telah mendapat persetujuan dari MK / Perencana /Pemberi Tugas.
c. Air untuk mengaduk kedua bahan tersebut diatas harus sesuai NI-3 pasal 10.

1.2. Untuk plesteran dinding hebel (blok beton ringan aerasi)


a. Semen yang dipergunakan dalam pekerjaan plesteran blok beton ringan
aerasi ini harus memenuhi standar khusus / mutu internasional (minimal telah
lulus DIN 18555).
b. Pasir yang dipergunakan dalam pekerjaan ini harus halus dengan warna asli/
alami, sesuai NI-3 dan telah mendapat persetujuan dari MK / Perencana /Pemberi Tugas.
c. Air untuk mengaduk bahan tersebut harus sesuai NI-3 pasal 10.

2.Jenis Pekerjaan

2.1. Jenis-jenis plesteran yang digunakan adalah sebagai berikut :


a. Plesteran kedap air (1 PC : 3 Psr) digunakan untuk menutup dinding-dinding
kedap air (untuk pasangan batu bata biasa). Sedangkan untuk pasangan blok beton aerasi
(hebel) menggunakan adukan PM 410.
b. Plesteran dinding-dinding sisi luar bangunan yang tidak terlindung dipakai plesteran 1 PC : 3
Psr.
c. Plesteran beton (1 PC : 3 Psr), digunakan untuk menutup dinding-dinding beton.
d. Plesteran biasa (1 PC : 5 Psr), digunakan untuk menutup seluruh permukaan dinding selain
dinding kedap air, dinding sisi luar atau dinding beton untuk pasangan batu bata biasa.
e. Plesteran biasa untuk dinding blok beton aerasi selain daerah basah digunakan PM 200,
setelah setelah itu dilakukan pengacian dengan menggunakan PM 300, kecuali jika ditentukan
lain dalam gambar.
f. Plesteran sudut (1 PC : 3 Psr), digunakan untuk membuat pengakhiran sudut
dari bidang-bidang plesteran.

3. Persiapan Dinding yang akan diplester

3.1. Uraian Persiapan :

a. Semua siar dipermukaan dinding batu bata biasa maupun blok beton aerasi (hebel) dikerok
sedalam + 1 cm agar bahan plesteran dapat lebih merekat.

b. Permukaan bidang yang akan diplester harus dibersihkan dan disiram air sebelum bahan
plester dimulai (permukaan dinding harus basah pada waktu diplester).

c. Semua bidang plesteran harus dijaga kelembabannya selama seminggu sejak penempelan
plesterannya (dengan jalan menyiramnya dengan air).

d. Untuk pekerjaan plesteran pada dinding beton, bidang beton itu harus dikasarkan terlebih
dahulu sebelum pekerjaan plesteran dimulai.

4.0. Pelaksanaan Pekerjaan Plesteran

Antara lain harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

4.1. Adukan Plesteran

Semua bahan plesteran harus diaduk dengan mesin atau dengan tangan sesuai
persyaratan MK/Perencana/Pemberi Tugas. Apabila dipandang perlu dan sesuai
dengan rencana, Kontraktor diperkenankan menggunakan bahan-bahan kimia
sebagai campuran.
Hanya semen yang baik yang boleh dipergunakan.

4.2. Contoh-contoh

a. Kontraktor harus membuat contoh-contoh bidang plesteran dari setiap macam pekerjaan
plesteran sesuai dengan yang diminta, sehingga jenis/macampekerjaan tersebut dapat diterima
oleh Perencana/Pemberi Tugas.Dan untuk seterusnya semua pekerjaan plesteran harus sama
dengan contohyang dibuat.

b. Untuk dapat mencapai tebal plesteran yang rata, sebaiknya diadakan pemeriksaan secara
silang oleh pelaksana dengan menggunakan garisanpanjang yang digerakkan secara vertikal dan
horizontal (silang) dan ataudengan alat bantu lainnya. Tebal plesteran harus diukur supaya
mendapatkanketebalan yang sama pada kedua muka dinding dan hasil akhir dari dindingtembok
setelah diplester adalah 15 cm kecuali ditentukan lain. Setelah itu barudiadakan pengacian.
5.3. Sudut-sudut Plesteran

Semua sudut vertikal dan horizontal, luar dan dalam harus dilaksanakan secara
sempurna, tegak dan siku.

5.4. Perbaikan Bidang Plesteran

Bilamana terdapat bidang plesteran yang berombak (tidak rata) harus diperbaikisecarasempurna.
Bagian-bagian yang akan diperbaiki hendaknya dibobok secara teratur (dibuat bobokan yang
berbentuk segi empat) dan plesteran baru harus rata dengan sekitarnya.

5.5. Naad Plesteran

a. Naad-naad harus dibuat sesuai dengan gambar rencana.


b. Besarnya naad akan ditentukan kemudian.
c. Pembuatan naad harus lurus dan rata baik horizontal maupun vertikal, dan kedalamannya
harus sama.
d. Pembuatan naad harus menggunakan list kayu (sesuai ukuran naad) dan benang untuk
mengukur kelurusan horizontal/vertikal agar rapi.

3. PEKERJAAN KERAMIK DAN HOMOGENOUS TILE


Pekerjaan ini Meliputi :
1. Keramik untuk lantai dan dinding, termasuk seperti nozing / skirting
2. Additive dan grouting yang diperlukan
3. Bagian yang terkait :
Pekerjaan Sealent
Pekerjaan lantai beton
Pekerjaan dinding batu bata
a. Umum
1.Pembuatan Layout / pola harus digelar untuk memungkinkan pengaturan ubin dengan
pemotongan yang minimum. Ukuran-ukuran harus dikontrol untuk menghindari pengaturan
lebih kecil dari setengah (1/2) ukuran ubin.
2. Penempatan ubin : ubin-ubin harus dipasang sesuai gambar untuk semua lantai
dan area dinding, permukaan harus lurus dan rata terhadap garis acuan yang diinginkan.
Naad/siar-siar harus saling tegak lurus.
3. Penempatan ubin harus sedapat mungkin mengurangi pemotongan ke arah
pasangan terbaik. Perubahan fractional dalam ukuran-ukuran tanpa mengganggu
kesatuan hubungan lebar masih diijinkan., Bila dibutuhkan, ubin dipotong dengan
peralatan yang sesuai dan permukaan harus dihaluskan. Ubin yang rusak dan
jelek harus digantil.
4. Jangan memulai pekerjaan bila pekerjaan-pekerjaan lain masih lalu-lalang
didalam area pemasangan.

B. Ubin Keramik / homogenous tile untuk lantai


1. Ratakan permukaan yang kasar dan tidak rata dengan peralatan plesteran.
2. Dengan hati-hati tempatkan ubin dengan benar dan rata sesuai dengan yang diinginkan.
3. Dimana floor drain terjadi /ada, miringkan lantai untuk mendapatkan drainage yang baik.

C. Ubin keramik / homogenous tile Dinding


1. Bersihkan debu-debu dan partikel-partikel lain, bersihkan dengan sikat dan air bersih.
2. Ratakan dengan lapisan plesteran.
3. Tekanlah ke permukaan yang cukup dengan peralatan untuk plester menempel pada dinding.
4. Finishing permukaan plester harus lurus dan benar untuk menghasilkan kerataan pada jarak
tertentu dan memudahkan pemasangan ubin.
E. Adukan PC +pasir / Tile adhesive Mortar

1. Terapkan adukan dengan tekanan ke seluruh area yang tidak lebih dari pada permukaan yang
dapat ditutup oleh ubin dimana adukan masih plastis.
2. Terapkan dengan rata tanpa berlubang.
3. Sisirlah / ratakan adukan tanpa menimbulkan lubang dalam 10 menit sebelum ubin dipasang.
4. Tebal bantalan adukan adalah sekitar 10 mm sampai 15 mm.

1. Rendam ubin yang akan dipasang agar ubin jenuh.


2. Tekan ubin dengan secukupnya pada adukan yang masih plastis.
3. Ratakan ke arah permukaan yang benar.
4. Tekan dan ketok ubin untuk mendapatkan minimum 80% permukaan adukan tertutup pada
setiap unit ubin tersebut.
5. Aturlah ubin sebelum pemasangan sehingga bagian sudut setiap ubin rata dengan bagian
sudut ubin disebelahnya.
6. Berilah adukan tambahan bila masih kurang rata, pengisian dengan semen murni tidak
diijinkan.

F. Grout
1. Penuhi naad dengan maksimum grout.
2. Sebelum grout diberi, goreslah naad-naad tersebut.
3. Isi naad/siar dengan grouting dan ratakan.
4. Grouting harus memiliki kesamaan warna, rata, tanpa berlubang, dan sebagainya.
5. Grouting : AM 50, PM 810 atau setara

4. PEKERJAAN KUSEN PINTU DAN JENDELA


A. PEKERJAAN KOSEN, PINTU/JENDELA ALUMINIUM

Meliputi penyediaan kosen-kosen, pintu-pintu/jendela aluminium sesuai yang


ditunjukkan dalam gambar dan spesifikasi ini, aksesori yang diperlukan untuk
pemasangan dan kelengkapannya, penyimpanan dan perawatan, serta
pembangunannya sesuai yang telah ditunjukkan dalam gambar.
Bagian ini menjelaskan “Commercial Quality” kosen dan pintu-pintu aluminium untuk
pintu dan bukaan-bukaan yang berhubungan, termasuk aluminium panels dan
louvres pada pintu-pintu dan frame tersebut.

Bagian yang terkait :


 Pekerjaan Pasangan Dinding
 Pekerjaan Pengecatan
 Pekerjaan Alat Penggantung dan Penguci

1. Persiapan

a. Sebelum fabrikasi kontraktor harus melakukan check di site semua dimensi-dimensi


dan kondisi project untuk menghindari informasi yang terlambat.

b. Kontraktor harus mereview gambar-gambar dan kondisi lapangan dengan cermat,


ukuran-ukuran dan lubang-lubang, persiapan mock-up sambungan detail dan profil
aluminium yang berhubungan langsung dengan material-material struktural lain.

c. Proses fabrikasi harus diutamakan disiapkan sebelum mulai pelaksanaan, dengan


mempersiapkan shop drawings yang menunjukkan lay-out, lokasi, merk, kualitas,
bentuk dan dimensi sesuai yang diarahkan oleh MK dan Pemberi Tugas.
d. Semua frame-frame untuk partisi, jendela-jendela dan pintu-pintu harus secara akurat di
fabrikasi untuk mengepaskan dengan pengukuran site.

2. Fabrication / Assembly

a. Shop Assembly

Dimana dimungkinkan harus siap dipasang di site proyek. Bila tidak merupakan shop
assembly, lakukan pra-pengepasan di shop untuk memastikan assembly lapangan
yang baik dan tepat guna.

b. Sambungan-sambungan / Joints
1. Buatlah dengan hati-hati agar pekerjaan-pekerjaan ekspose match untuk
memberikan garis dan design yang kontinyu. Pakailah perlengkapan mesin untuk
mengepaskan frame dengan kaku bersama-sama pada titik-titik joints contact
dengan hairline joints, waterproof joints dari belakang dengan sealant.
2. Pemakaian sealant tidak diijinkan pada permukaan ekspose.

3. Pemasangan

a. Erection Tolerances :
1. Batas perbedaan tegak dan level :
3 mm dalam 3 m, secara vertikal (V)
3 mm dalam 6 m secara horizontal (H)
2. Batas-batas perbedaan dari lokasi secara teoritis : 6 mm untuk setiap memberi
pada setiap lokasi.
3. Batasan perimbangan secara teoritis pada akhir-ke-akhir dan akhir-ke-tepi
sejajar dari permukaan rata tidak lebih dari 50 mm terpisah atau out-of-flush
dengan lebih dari 6 m.

b. Set unit-unit dengan tegak, level dan garis yang benar, tanpa terkelupas atau merusak
frame.

c. Pasanglah anchor dengan kuat pata tempatnya, memungkinkan untuk pergerakan,


termasuk ekspansi dan kontraksi.

d. Pisahkan material-material yang tidak sama pada titik-titik hubungan, termasuk


metal-metal yang berhubungan dengan pasangan atau permukaan beton, dengan cat
bituminous atau preformed separators untuk menghindari kontak dan korosi.

e. Set sill members pada bantalan sealant. Set member-member lain dengan internal
sealant dan baffles untuk memberi konstruksi yang weathertight.

f. Pasanglah pintu-pintu dan hardware sesuai dengan instruksi tertulis dari manufaktur.

g. Potongan aluminium profil harus dibuat dengan dasar yang baik untuk menghindari
kerusakan, tergores atau rusak pada permukaannya; dan harus dijauhkan darimaterial-material
baja/besi untuk menghindari debu-debu besi menempel pada
permukaan aluminium.

h. Pengelasan diijinkan hanya dari bagian dalam, menggunakan non activated gas
(argon) dan tidak boleh diekspose.
i. Buatlah match joints members dengan sekrup yang cocok, rivets, las; untuk
mendapatkan bentuk dan kualitas yang dibutuhkan atau sesuai yang terlihat dalam
gambar.

j. Peralatan anchor untuk aluminium frame haruslah dengan hot dip galvanized steel
tebal 2-3 mm di set pada interval 60 mm.

k. Fastener harus dari stainless steel atau material non corrosive lain, concealed type. Paskan
frame bersama-sama pada titik-titik contact joints dengan hairline joints,waterproof joints
dari bagian belakang dengan sealant untuk menahan (watertight) 1000 kg/cm².

l. Aluminium frame harus disiapkan untuk mengantisipasi modifikasi-modifikasi berikut


:
Perubahan fixed-window
Propel window, rotate window, etc.
Pintu-pintu kaca frameless
Movable partisi tanpa kerusakan pada lantai dan ceiling
Sediakan dengan aksesori-aksesori penunjang untuk tujuan-tujuan diatas.

m. Paskan hardware dan material-material reinforcing pada metal lain yang berhubungan
langsung dengan aluminium frame dan hubungan harus dengan chromium coat pada
permukaannya untuk menghindari kontak korosif.

n. Toleransi pemasangan (erection) untuk aluminium frame pada sisi dinding 10-15 mm harus
diisi dengan grouting.

o. Sebelum pemasangan aluminium frame, khususnya pada propel window, upper dan lower
window, sill harus di check level dan waterpass pada bukaan-bukaan dinding.
p. Untuk pemasangan (erection) frame pada area watertight khususnya pada ruang
dengan AC, harus disediakan synthetic rubber atau synthetic resin untuk swing door
dan double door.
q. Tepi-tepi akhir frame pada dinding harus di set dengan sealant untuk membuatnya
sound proof dan watertight.

r. Lower sill pada frame aluminium exterior harus diberi flashing untuk menahan air
hujan.

4. Adjusting
Test fungsi operasi pintu-pintu setelah operasi penutupan daun pintu, latching speeds dan
hardware-hardware lain sesuai dengan instruksi manufaktur untuk memastikan operasi daun
pintu yang halus (smooth).
5. Protection
a. Semua aluminium harus dilindungi dengan tipe-tipe proteksi atau material-material lain yang
disetujui oleh Owner saat diserahkan ke lapangan.

b. Protective material tersebut hanya boleh dibuka bila diperlukan pada saat protective
material akan dipakai pada aluminium.
c. Tepi-tepi pintu harus dilindungi dengan plastic tape atau zinc chromate primer
(transparent varnish) pada saat plasteran akan dilaksanakan. Bagian-bagian lain
harus tetap dilindungi dengan lacquer film sampai seluruh pekerjaan selesai.

B. PEKERJAAN KOSEN, PINTU HOLLOW METAL/BAJA


Meliputi penyediaan kosen-kosen, pintu-pintu/jendela baja sesuai yang ditunjukkan
dalam gambar dan spesifikasi ini, aksesori yang diperlukan untuk pemasangan dan
kelengkapannya, penyimpanan dan perawatan, serta pembangunannya sesuai yang
telah ditunjukkan dalam gambar.
Bagian ini menjelaskan “Commercial Quality” kosen dan pintu-pintu besi untuk pintu
dan bukaan-bukaan yang berhubungan, termasuk hollow metal panels dan louvres
pada pintu-pintu dan frame tersebut.

Bagian yang terkait :


 Pekerjaan Pasangan Dinding
 Pekerjaan Pengecatan
 Pekerjaan Alat Penggantung dan Penguci

1. Pemasangan

a. Frames : pasang rangka baja customize untuk pintu-pintu, transome, sidelights,


borrowed lights, dan bukaan-bukaan lainnya, dengan ukuran dan profil yang
diindikasikan.

1. Pasanglah frame dan aksesori sesuai dengan instruksi pemasangan dari


manufaktur dan sesuai spesifikasi.

2. Setting Masonry Anchorage Devices : pasanglah perlengkapan anchor untuk


pasangan bata, dimana ditunjukkan untuk mengencangkan kosen-kosen pada
in-place concrete atau konstruksi pasangan.

 Pastikan dan periksa bahwa dimana frame-frame pintu akan dipasang


terdapat pasangan dan jalur beton praktis baik untuk sisi tegak kosen (jamb)
maupun pada head (palang atas pintu). Konfirmasikan dimensi dan perkuatan
beton praktis yang dibutuhkan kepada kontraktor pekerjaan pasangan.

 Set perlengkapan/peralatan anchor berlawanan dengan lokasi anchor, sesuai


dengan detail-detail dari shop drawing dan instruksi dari manufaktur peralatan
anchorage. Biarkan lubang drill yang kasar, tanpa dilebarkan, dan bebas dari
debu dan puing-puing.

3. Angker (anchor) pada lantai mungkin di set dengan fastener powder actuated
sebagai pengganti peralatan angker untuk pasangan dan mesin sekrup, bila hal
ini ditunjukkan dalam shop drawings.

4. Penempatan frames : set frame dengan tepat pada posisinya, tegak, sejajar, dan
ganjallah/palanglah dengan kuat sampai angker permanen dipasang. Setelah
pasangan konstruksi dinding selesai, pindahkan palang dan spreader, biarkan
permukaan dengan halus dan tidak cacat/rusak.

Pada eksisting konstruksi beton atau pasangan bata, set frame dan
kencangkan pada tempatnya dengan mesin sekrup dan peralatan angker
untuk pekerjaan pasangan.

Pada fire-rated openings, tempatkanlah frame sesuai dengan ketentuan pada


NFPA 80.
Lakukan sambungan lapangan (field splice) hanya pada lokasi-lokasi yang
disetujui. Lakukanlah pengelasan, pengamplasan, dan finishing sesuai
dengan yang dibutuhkan untuk menyembunyikan (concealed) bekas
sambungan pada bagian-bagian yang diekspose.

Pindahkan spreader bars hanya bila frame dan buck telah di set dan
dikencangkan dengan sempurna.

b. Pintu-pintu : pasanglah pintu-pintu non fire-rated dengan akurat pada kosen/frame


yang direncanakan, dengan clearance sebagai berikut :

1. Jambs dan head : 3/32 inch (2 mm)


2. Pertemuan tepi-tepi, pintu-pintu berpasangan : 1/8 inch (3 mm)
3. Bawah : 3/8 inch (9 mm), dimana tidak ada treshold atau karpet
4. Bawah : 1/8 inch (3 mm), bila ada treshold atau karpet

c. Pasanglah pintu-pintu fire-rated dengan clearance sesuai dengan yang


dispesifikasikan dalam NFPA 80.

d. Sesuaikan dengan NFPA 105 untuk pemasangan pintu-pintu smoke-control (bila


ada).

2. Penyetelan (adjusting) dan Pembersihan


a. Final adjustment : check dan setel kembali operasi item-item hardware pada saat
sebelum dilakukan final inspection. Biarkan pekerjaan dalam kondisi operasi yang
baik dan lengkap. Pindahkan dan gantilah pekerjaan-pekerjaan yang cacat, termasuk
pintu-pintu dan frame-frame yang terkelupas, bengkok/melengkung, atau akan
diterima bila terjadi kondisi sebaliknya (baik).

b. Tentukan pada lapisan dasar (Prime Coat Touchup) : segera setelah terpasang,
lakukanlah pengamplasan halus bila ada karat atau bagian yang cacat/rusak dari
prime coat dan terapkan sentuhan primer cepat kering (air drying) yang cocok.

C. PEKERJAAN PLAFOND
Dalam proyek ini plafond yang digunakan ada dua jenis yaitu plafond gypsum dan plafond
beton ekspose. Plafond gypsum digunakan pada bangunan Pos jaga, Gedung kantor, dan
storage. Dimana rangka plafond menggunakan rangka besi hollow. Sedangkan untuk plafond
beton ekspose digunakan pada bangunan Mekanikal & Elektrikal.
Adapun cara pelaksanaan Plafond Gypsum yaitu :
 Rangka hollow dipasang terlebih dahulu sesuai dengan gambar kerja (Shop Drawing).
Biasanya pemasangan rangka plafond ini beriringan dengan pemasangan rangka atap
baja ringan.
 Memperhatikan ruangan, dan mencari sisi dari ruang yang siku terlebih dahulu.
 Pasang alat bantu (Scafolding), jika bisa scafolding yang digunakan memiliki roda
supaya tidak merusak keramik.
 Kemudian pasang papan gypsum sesuai dengan gambar kerja.
 Pemasangan diatur pertemuan antar papan pertigaan.
Sedangkan untuk plafond beton ekspose, dilakukan oleh orang yang mengerti akan pekerjaan
tersebut. Pekerjaan ini bertujuan mempercantik tampilan dari beton , dengan menggunakan
bahan semen portlang dan pasir pasang.

Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan ini dapat dilihat pada Kurva S

D. PEKERJAAN PENGECATAN
Pada permukaan dinding luar dan dalam, gypsum dilakukan pekerjaan pengecatan dengan cat
air dengan terlebih dahulu membersihkan permukaan dari kotoran-kotoran, dinding-dinding
diratakan/dihaluskan dengan plamir, sebelum dicat dengan cat air dilakukan pengecatan
dengan cat dasar.

Untuk bahan-bahan dari kayu seperti : piri-piri, lisplank, Kozen kayu dan Pintu panel dilakukan
pengecatan dengan cat minyak, sebelum dicat permukaan bahan -bahan tersebut dibersihkan
terlebih dahulu lalu diberi alkali kemudian dicat dengan cat dasar untuk kemudian baru di cat
dengan cat minyak.

Untuk bahan-bahan dari Besi seperti : railing tangga, penutup besi, pagar, dan lain
sebagainy.sebelum dicat permukaan bahan-bahan tersebut dibersihkan terlebih dahulu lalu
diberi minayk cat kemudian dicat dengan cat dasar untuk kemudian baru di cat dengan cat
minyak.Jenis, mutu dan bahan cat serta pengerjaan pengecatan disesuaikan dengan spesifikasi
teknis dan gambar-gambar rencana.

Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan ini dapat dilihat pada Kurva S

E. PEKERJAAN SANITAIR
Pekerjaan sanitair yang dilakukan meliputi pekerjaan pemasangan pipa air bersih dan air kotor,
pipa buangan air hujan, pemasangan kran air, Floor Drain,Kloset, dan lain sebagainya.
Pemasangan ini berdasarkan persetujuan pemilik dan dilihat oleh konsultan pengawas.

Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan ini dapat dilihat pada Kurva S

V. PEKERJAAN ELEKTRIKAL & MEKANIKAL

 Sebelum pekerjaan elektrikal dilaksanakan, perlu ditunjukkan contoh-contoh material, tipe


dan juga merek yang akan digunakan untuk mendapatkan persetujuan.
 Pengadaan material untuk pekerjaan elektrikal disimpan di sekitar lokasi terdekat dengan
area pekerjaan dan melindungi diri dari kemungkinan kerusakan material menyebabkan
benturan perangkat keras, sedangkan material lain disimpan di gudang tertutup.
 Teknis pelaksanaan pekerjaan ini sesuai dengan gambar desain, RKS dan spesifikasi teknis
pekerjaan elektrikal dan mekanikal.
 Pelaksanaan pekerjaan elektrikal dan mekanikal sesuai dengan perencanaan dan
membutuhkan kontrol yang lebih lanjut, sehingga dikerjakan oleh orang yang
berkompeten di bidangnya.
 Untuk pekerjaan instalasi listrik, telepon, ducting, dan fire alarm dilakukan sebelum
plesteran dan dinding dan pemasangan plafond.
 Instalasi Stop Kontak dan Saklar-Saklar dipasang pada dinding dengan rapi sesuai
penempatannya pada gambar-gambar rencana, setelah semua instalasi titik api dan
instalasi stop kontak dan saklar terpasang barulah diberi lampu-lampu sesuai dengan
spesifikasi teknis dan gambar-gambar rencana.

Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan ini dapat dilihat pada Kurva S

Pekerjaan Elektrikal Arus Kuat dan Arus Lemah

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Elektrikal Arus Kuat dan Arus Lemah adalah sebagai berikut :

Persiapan

 Pembuatan dan pengajuan gambar shop drawing pekerjaan elektrikal arus kuat dan arus lemah.
 Approval material yang akan digunakan.
 Persiapan lahan kerja.
 Sebelum pekerjaan dilaksanakan, terlebih dahulu material kerja dan alat bantu kerja disiapkan.
Pemasangan sparing kabel

 Sparing dipasang dulu apabila ada pengecoran beton lantai, untuk menghindari bobokan beton
pada saat penyambungan kabel antar lantai.

Pekerjaan Elektrikal Arus Kuat dan Arus Lemah

Pemasangan instalasi kabel


 Kabel vertical ditanam pada dinding dengan perlindungan pipa conduit, dimana pipa tersebut
harus ditanam dulu pada dinding bata sebelum dinding diplester. Supaya tidak mudah bergerak pada
saat dinding diplester, maka pipa yang ditanam diberi klem dengan jarak sekitar 1 m.
 Kabel horizontal dipasang pada plat lantai beton dengan menggunakan pipa pelindung conduit
yang diberi perkuatan klem dengan jarak sekitar 1 m, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan
maintenance. Pemasangan kabel horizontal harus sejajar, tidak boleh saling melintas.

Pemasangan panel

 Panel listrik dipasang pada dinding yang sudah ditentukan, rata dan tidak miring.
 Semua kabel yang masuk ke dalam panel listrik diberi tanda sesuai dengan kegunaannya dan
dilengkapi dengan ring karet supaya lubang panel bagian atas dapat terlindung dari debu/kotoran.
Khusus untuk kabel dengan Ø 16 mm2 harus diberi sepatu kabel dalam panel.
 Pada sisi pintu panel bagian dalam harus dibuat diagram instalasinya termasuk daya cadangan
yang sudah direncanakan, hal ini perlu untuk memudahkan bila ada perbaikan instalasi.
Pemasangan fitting dan armature

 Fitting dan armature dipasang setelah kabel ditest ketahanannya, agar tidak terjadi
bongkar/pasang armature.
Pemasangan saklar dan stop kontak

 Marking jalur conduit pada dinding dan bobok dinding bata, jangan lupa gunakan cutter.
 Pasang conduit dan inbow dos.
 Tunggu sampai plester dinding akhir.
 Sambungan saklar, stop kontak dengan aslinya.
 Pasang saklar dan stop kontak, gunakan waterpass agar rata.
Testing dan commissioning

 Test tahanan kabel sebesar 2 ohm dan grounding serta test fitting/armature selama ± 1 x 24 jam

Pekerjaan Pemipaan Instalasi Air Bersih & Air Kotor

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Pemipaan Instalasi Air Bersih & Air Kotor, adalah sebagai berikut:

Persiapan
 Pembuatan dan pengajuan gambar shop drawing pekerjaan pemipaan instalasi air bersih dan air
kotor.
 Approval material yang akan digunakan.
 Persiapan lahan kerja.
 Sebelum pekerjaan dilaksanakan, terlebih dahulu material kerja dan alat bantu kerja disiapkan.

Instalasi Air Bersih & Air Kotor

Pekerjaan pemasangan pompa dan tangki air


 Pemasangan package booster pump (pararel 3 pompa), kapasitas 120 ltr/mnt berikut
accesoriesnya.
 Pemasangan roof tank modular sistem bahan FRP, kapasitas evektive 8 m3 berikut accesoriesnya.

Pekerjaan instalasi plumbing air bersih


 Tentukan dan beri tanda jalur instalasi dan titik outletnya.
 Pasang pipa PVC kelas AW (diameter sesuai gambar kerja) beserta gate valve, fitting dan
accessories lainnya sesuai dengan tanda yang sudah dibuat.
 Untuk pipa yang melintasi lantai (terutama lantai dasar, maka kedalaman pipa harus cukup,
minimal 50 cm supaya tidak mudah pecah.
 Pipa yang akan disambung, bagian ujungnya harus dibersihkan dengan ampelas supaya
sambungan dapat lengket dengan kuat.
 Khusus untuk sambungan ke sanitary (kran), pipa diberi soket draat luar dan diberi lapisan seal tape
baru disambungkan ke alat sanitair.

Pekerjaan instalasi plumbing air kotor, air bekas dan vent


 Pipa air kotor meggunakan pipas PVC kelas AW yang tahan terhadap tekanan 10 bar,
penyambungan pipa menggunakan lem PVC yang kuat sehingga tidak mudah bocor.
 Tentukan dan beri tanda jalur instalasi dan titik outletnya.
 Pasang pipa PVC kelas AW (diameter sesuai gambar kerja) beserta gate valve, fitting dan
accessories lainnya sesuai dengan tanda yang sudah dibuat.
 Pasangan clean out dan accessories lainnya.
 Pipa PVC yang horizontal digantung pada plat lantai beton menggunakan besi siku dan pipa diikat
pada besi siku supaya tidak bergerak saat menerima beban air.
 Pipa air kotor vertikal ditanam pada dinding, dikerjakan pada saat dinding belum diplester + aci.
Pipa yang ditanam di dinding harus diklem supaya tidak bergerak saat menerima beban air.
 Untuk pipa yang melintasi lantai terutama lantai dasar, maka kedalaman pipa harus cukup,
minimal 50 cm supaya tidak mudah pecah.
 Pipa yang akan disambung, bagian ujungnya harus dibersihkan dengan ampelas supaya
sambungan dapat lengket dengan kuat.
 Untuk lantai dasar, pipa air hujan diberi bantalan yang cukup kuat agar sambungan tidak kendor
akibat beban air hujan yang dapat menyebabkan kebocoran.
 Pemasangan vent out untuk instalasi pipa air kotor padat.
 Pemasangan roof drain untuk instalasi pipa air hujan.
 Buat sumur resapan dan bak kontrol.

Testing dan commissioning


 Sebelum disambung ke sanitair semua pipa plumbing harus di test dulu dengan menggunakan
tekanan hydrostatis sebesar 5 – 8 bar selama 24 jam, dimana pada saat itu tidak boleh ada penurunan
tanah.
 Khusus untuk instalasi air bersih, sebelum digunakan pipa dibersihkan dahulu (flushing) dari
kotoran yang mungkin masih tersisa dalam pipa. Pembersihan pipa dapat melalui lubang clean out.
 Sebelum test commissioning terlebih dahulu dilakukan test intern yang dimaksudkan apabila
ada kegagalan fungsi dari instalasi dan peralatan yang terpasang dapat segera ditanggulangi/diperbaiki.
 Test commissioning dari fungsi masing-masing peralatan yang terpasang.

PEKERJAAN GAS MEDIS DI RUMAH SAKIT

1.1 Cakupan
1. Sistem Oksigen (O2)
2. Sistem Nitrous Oxide (N20)
3. Sistem Karbon Dioksida (C02)
4. Siatem Nitrogen (N2)
5. Sistem Medical Compressed Air ( Air )
6. Sistem Medical Vacuum (VAC)
7. Sistem Pembuangan Gas Anesthesi (WAGD)

2.1 Pekerjaan Terkait


1. Sistem Pemipaan dengan tembaga
2. Sistem Kontrol system / network BAS
3. Sistem Pengetesan system dan instalasi
4. Sistem Standart mutu produk
5. Training petugas

3.1 Persyaratan Umum


1. Pensuplaian, instalasi dan pengetesan termasuk dalam sistem pemipaan gas medik adalah
system yang sangat penting dan khusus serta dikerjakan oleh pekerja yang khusus.

2. Komponen - komponen yang termasuk didalamnya, tetapi tidak dibatasi diantaranya:

1. Pipa tembaga, Fitting, Valves, Box Valves Alarm dan alat sensor serta Outlet Gas Medik
2. Pompa Vacuum, Motor, Control Panel dan Tangki beserta kelengkapannya
3. Compressor Air, Motor, Control Panel, Alat pengering, Alat Penyaring,Tangki beserta
kelengkapannya
4. Manifold beserta kelengkapannya
5. Zone box Valve atau katub pembagi area
6. Control Panel Gas atau Area Alarm
7. Instalasi pipa tembaga type L
8. Wall outlet gas

3. Menyerahkan pengaturan shop drawings untuk menjelaskan metode pelaksanaan:

1. Pemenuhan denah instalasi yang akan terpasang.


2. Dimensi peralatan dan tampilan komponen yang akan dipasang.
3. Pengaturan dimensi pipa dan tata letak komponen.
4. Diagram instalasi pipa dan control.

4. Menyediakan data dan meyerahkan dokumen persetujuan material dan komponen:

1. Pengidentifikasian seluruh komponen dalam daftar peralatan pada tiap sistem.


2. Nama dan alamat pabrik pembuat peralatan
3. Diagram pemasangan instalasi dari seluruh alarm dan komponen elektrik.
4. Buku pedoman perbaikan dan training untuk operator.
5. Laporan hasil uji coba / Sertifikat pabrik.

4.1 Jaminan Kualitas

1. Seluruh peralatan pemipaan, instalasi dan uji coba akan dilengkapi dengan edisi terakhir ( meliputi
revisi dan perubahan ) dari standar dan kode yang mengacu kepada:

1. NFPA 99 Fasilitas Perawatan Kesehatan ( 1999 )


2. NFPA 70 Kode Elektrik Nasional.
3. NFPA 50 Sistem 02 pada perlindungan konsumen.
4. CSA Z305. 1-1992 Sistem Pemipaan Gas Medik Tidak Mudah Terbakar.
5. ASTM B-819/280 Spesifikasi Standar Untuk Pipa Tembaga Tanpa Kelm Pada Sistem Pemipaan
Gas Medik.
6. UL Quality control product
7. CGA G-4. 1 Peralatan Kebersihan Untuk Servis Oksigen.
8. CGA V-1 Outlet Valve Cylinder Compressor Gas dan Penghubung Inlets
9. HTM 2022 Medical gas pipeline system

5.1 Pabrik
1. Suatu pabrik dapat menyediakan peralatan sistem gas medik sekaligus sebagai sumber pensuplai .
Pada pabrik tersebut harus tersedia sebuah produk khusus untuk pemeriksaan pada waktu tertentu oleh
kontraktor selama penginstalan peralatan sistem pemipaan. Pabrik harus memiliki distributor dalam
negri agar menjamin pasokan dan perawatan komponen.

2. Pabrik/kontraktor wajib bersedia diadakan kunjungan atau pemeriksaan system dan produk yang
telah dipasang, serta dapat memperlihatkan populasi produk yang telah dipergunakan di instansi
lain.Dapat memberikan bukti keaslian produk dari Negara asal.

BAGIAN 2 – PRODUK

2.1. Pipa, Fitting dan Sambungan

1. Pemipaan: seluruh distribusi sistem pemipaan gas medis menggunakan pipa tembaga yang
memiliki standart khusus gas medis dianataranya ASTM – B 280, 819 Type “ L “

2. Fitting: seluruh fitting terbuat dari tembaga dengan standart type “ L “

3. Sistem pengelasan : semua sambungan pipa gas medis di sambung mengunakan pengelasan perak
dengan Acytelin/Elpiji dan Oksigen.dan dikerjakan oleh tenaga yang sudah berpengalaman dibidang
pengelasan tembaga.

4. Jika tahap pengelasan sudah selesai harus dilakukan pembersihan instalasi pipa dengan udara
tekan dan nitrogen yang dialirkan keseluruh instalasi pipa hingga kotoran dan sisa pengelasn tidak ada
yang tertinggal di dalam instalasi.

5. Pengetesan : setelah dilakukan pengelasan harus dilakukan pemeriksaan kebocoran setiap


sambungan atau instalasi masing-masing gas dengan ketentuan test tekan 2 kali tekanan kerja selama
2 x 24 jam tanpa ada perubahan tekanan.

2.2. Shut-Off Valve

1. Valve harus didesain dalam sistem 4 baut, berbadan perunggu, berpenutup ganda, berujung penuh,
bertype bola menyatu dengan pengaman teflon (TFE) dan segel Viton, cincin kemas “O”, bola perunggu
yang disegel langsung, bukti pemadaman batang, bertekanan sampai 4137 kPa (600 psig)

2. Valve harus dioperasikan hanya oleh sebuah pengungkit dengan arah seperempat dari posisi buka
penuh ke posisi tutup penuh. Semua valve harus dilengkapi dengan tipe “K”yang telah dicuci dan
dilumasi untuk perluasan pipa tembaga pada tepi kedua inlet dan outlet dari ujung valve sebagai
fasilitas instalasi.

3. Valves harus didesain seperti itu agar dapat “berputar keluar” selama insatalasi untuk mencegah
terjadinya kerusakan selama operasi tembaga. Sebuah label menunjukkan kesesuaian gas dan nilai
tekan yang harus terpasang pada masing-masing valve

4. Setiap valve harus telah dicuci dan dilumasi untuk oksigen dan perluasan pipa yang terpasang pada
kedua ujungnya. Dan dinyatakan lulus test tekanan oleh UL dan CSA.

2.3. Box Zone Valve


1. Masing-masing box zone valve harus terdiri dari komponen yang menyertainya.Box valve baja
dapat dipasang tunggal atau ganda dengan perpanjangan tabung, lensa alumunium dan jendela cabut
yang dapat dipindahkan.
2. Box valve harus dirancang dengan panjang dan lebar sesuai jumlah Valve lengkap dengan enamel
yang dibakar pada ujungnya. Pada sisi yang berlawanan dari box, akhirnya dapat disetel menjadi 2
bagian yang bertujuan sebagai alat pendukung pemasangan. Box Valve Baja harus dapat menampung
berbagi sudut dinding yang ketebalannya antara 1mm atau 1,5 mm serta harus sesuai.

3. Bingkai pintu harus dirancang dari alumunium sehingga dapat dipasang di belakang box dengan
skrup yang tersedia. Bagian depan yang mudah dipindahkan harus tersusun atas jendela transfaran
dengan sebuah cincin tarik yang menjadi pusat jendela.
4. Akses zone shut off valve harus dengan tarikan dari cincin rakitan untuk memindahkan jendela dari
bingkai pintu. Jendela dapat diinstal ulang tanpa menggunakan alat akan tetapi hanya setelah
pegangan valve telah dikembalikan pada posisi buka.
5. Valve harus didesain dalam sistem 4 baut, berbadan perunggu, berpenutup ganda, berujung penuh,
bertype bola menyatu dengan pengaman teflon (TFE) dan segel Viton, cincin kemas “O”, bola perunggu
yang disegel langsung, bukti pemadaman batang, bertekanan sampai 2760 kPa (400 psig). Valve harus
dioperasikan hanya oleh sebuah pengungkit dengan arah seperempat dari posisi buka penuh ke posisi
tutup penuh. Semua valve harus dilengkapi dengan tipe “K”yang telah dicuci dan dilumasi untuk
perluasan pipa tembaga untuk kesesuaian panjang di bawah tepi bok.
6. Masing-masing valve harus disupplai dengan mengidentifikasi gantungan pada baut ke atas badan
valve dengan tujuan agar diperbolehkan memasang label pada gas. Kemasan label harus tersedia
dalam masing-masing kotak valve dan diaplikasikan oleh pemasang.
7. Pressure gauge akan terbaca pada 0-700 kPa (0-100 psig) untuk semua gas kecuali nitrogen yang
akan terbaca pada 0-2000 kPa (0-300 psig) dan vacum yang akan terbaca pada -100-0 kPa (0-30” Hg).

2.4 OUTLET GAS MEDIS

2.4a Outlet Gas Medis (“Ohmede Compatible”) Cepat-Terhubung

1. Outlet Gas Medis harus sesuai dengan “Ohmeda” dengan pertukaran Cepat-Terhubung pada
dinding outlet yang dirancang untuk menyembunyikan pipa. Outlet ganda yang sudah mempunyai pusat
tempat garis pada 127 mm (5”) diantara pelayanan gas.
2. Masing-masing Cepat-Terhubung pada outlet sudah memiliki kode pewarnaan berukuran besar
pada plat untuk didata yang mendekati aesthetic. Pada plat yang dirakit harus memiliki lencana index
untuk keamanan penguncian gas yang spesifik permukaan nya pada plat sesuai besi tajam yang
digantung pada plat.
3. Salah satu buah plat chromed fascia yang sudah ditutup pada plat. Dengan kotak bagian belakang
yang digantung. Outlet harus disesuaikan ukurannya dari 10 mm (3/8”) sampai 32 mm (1-1/4”) dengan
ketebalan dinding yang bervariasi.
4. Outlet yang dirancang harus termasuk gas yang spesifikasinya 1.6 mm (16 ga) baja yang digantung
pada plat dirancang untuk lokasi outlet ganda. Pada beberapa pesanan 127 mm (5”).
5. Masing-masing kotak kasar harus sesuai pada type “K” 6.4 mm (1/4”) pada sisi diameter
potongaan pipa tembaga inlet, yang perak pada badan outlet. Badan harus berukuran 32 mm (1-1/4”)
diameter perbuahnya. Untuk tekanan pelayanan gas yang positiv, outlet harus dilengkapi dengan
pemeriksaan valve yang utama dan kedua. Pemeriksaan valve yang kedua harus ditingkatkan minimal
1379 kPa (200 psi) bahkan pemeriksaan valve yang utama dipindahkan untuk perawatan.
6. Palang pintu/valve dirakit sesuai dengan Ohmede Cepat-Terhubung dan menerima hanya untuk
pelayanan adaptasi Ohmede jenis gas yang spesifik.
7. Semua outlet harus terdaftar pada UL, disetujui oleh CSA, dirakit oleh pabrik sendiri, dicoba,
dibersihkan untuk pelayanan oksigen, dan disuplai dengan melindungi permukaan dan dibungkus untuk
melindungi outlet selama penanganan dan pemasangan pada letak pekerjaan.
2.4b. Outlet Gas Medis DISS

1. Outlel Gas Medis harus sesuai dengan Diameter Index Safety System (DISS) pada dinding outlet
yang dirancang untuk menyembunyikan pipa.

2. Masing-masing DISS pada outlet sudah memiliki kode pewarnaan berukuran besar pada plat untuk
didata yang mendekati aesthetic. Pada plat yang dirakit harus memiliki lencana index untuk keamanan
penguncian gas yang spesifik permukaan nya pada plat sesuai besi tajam yang digantung pada plat.

3. Salah satu buah plat chromed fascia akan menutup outlet. Dengan kotak bagian belakang yang
digantung. Outlet harus disesuaikan ukurannya dari 10 mm (3/8”) sampai 32 mm (1-1/4”) dengan
ketebalan dinding yang bervariasi.

4. Outlet yang dirancang harus termasuk gas berspesifikasi 1.6 mm (16 ga) baja yang digantung pada
plat dirancang untuk lokasi outlet ganda. Pada beberapa pesanan 127 mm (5”).

5. Masing-masing kotak kasar harus sesuai pada type “K” 6.4 mm (1/4”) pada sisi diameter
potongaan pipa tembaga inlet, yang perak pada badan outlet. Badan harus berukuran 32 mm (1-1/4”)
diameter perbuahnya. Untuk tekanan pelayanan gas yang positiv, outlet harus dilengkapi dengan
pemeriksaan valve yang utama dan kedua. Pemeriksaan valve tang kedua harus ditingkatkan pada
minimal 1379 kPa (200 psi) bahkan pemeriksaan valve yang utama dipindahkan untuk perawatan.

6. Palang pintu/valve dirakit sesuai dengan DISS dan menerima hanya untuk melayani adaptasi DISS
jenis gas yang spesifik.

7. Semua outlet harus terdaftar pada UL, disetujui oleh CSA, dirakit oleh pabrik sendiri, dicoba,
dibersihkan untuk pelayanan oksigen, dan disuplai dengan melindungi permukaan dan dibungkus untuk
melindungi outlet selama penanganan dan pemasangan pada letak pekerjaan.

2.5 Lokasi Panel Alarm (Digital) :

1. Masing-masing lokasi alarm harus berdasarkan mikroprosesor dan mikroprosesor itu sendiri
masing-masing dipajang pada papan pensensoran. Pensensoran harus mampu dilokasikan ( kotak
alarm) atau diatur dengan menggantung garis pipa pada sepasang kawat yang terbelit sampai 1,524 m
(5000 ft). Masing-masing unit yang disensor dan unit yang dipajang harus mempunyai gas yang spesifik;
i.e. sensor gas yang spesifik dengan DISS nut & nipple, modul yang terpajang dengan pesan yang rusak
pada pemeriksaan sensor / penghubung.
2. Masing-masing lokasi alarm harus sesuai pada area yang akan terpasang dengan ketebalan
baja(1.3 mm) dan dipasang untuk memudahkan pemeriksaan dan perawatan.
3. Masing-masing pelayanan yang spesifik harus terus dimonitor berdasarkan sensor mikroprosesor.
Tekanan atau vacum harus dipajang melalui Digital merah LED. Untuk pelayanan tekanan harus
berukuran 0-1724 kPa ( 0-250 psig). Untuk vacum harus berukuran -100-0 kPa (0-30” Hg). Masing-
masing tekanan harus diindikasikan dengan lampu indikasi MERAH alarm dengan Tekanan RENDAH
atau TINGGI, lampu berwarna KUNING indikasi berbahaya mendekati tekanan rendah atau tinggi
sedang lampu berwarna HIJAU kondisi tekanan NORMAL, suplai power alarm dengan tegangan 220 V.
4. Alarm harus berukuran parameter; Tinggi/Rendah yang diatur, unit Imperial/metric dan
Pengulangan alarm yang memungkinkan (1 sampai 60 menit). Parameter itu bisa diakses dengan fungsi
mode kalibrasi pada alarm. Pengaturan harus disetel melalui dua papan tombol penekan. Alarm harus
didiagnosis sendiri dengan pesan rusak yang terpajang pada perawatan.
5. Masing-masing pelayanan harus dilabelkan dengan kode label pewarnaan ISO atau USA, dan sinyal
alarm harus kelihatan berjarak 12 m (40 ft) dan harus kelihatan jika sinar lain masuk ke ruangan.
6. Masing-masing pelayanan gas harus mudah untuk mengatur monitor pada tingkat tinggi dan
rendahnya alarm. Lokasi alarm juga harus mampu terhubung dengan Sistem Manajemen Informasi
rumah sakit Amico (AIMS) untuk memudahkan pemantauan tekanan.

2.6. Sistem Manajemen Informasi Network

1. Sistem Manajemen Informasi sesuai dengan kebutuhan perkembangan teknologi yang sudah
dituntut lebih canggih dan mampu memberikan pelayanan informasi yang akurat dan handal.

2. Network system harus berdasar pada microprocessor yang merupakan masukan jaringan dari
Microsoft Window. Hal ini berlanjut dengan pemeriksaan perangkat medik seperti Area Alarm, Master
Alarm, Manifold, Compressor Air, Pompa Vacuum dan Tangki Liquid. Network akan akses dengan
internet atau LAN yang di operasikan dengan PC.

3. Kondisi alarm harus selalu ditampilkan pada PC agar garfik yang menggambarkan perangkat dan
kondisi yang salah dan tidak berfungsi dapat terdeteksi.

4. Sistem network terdiri dari jaringan penghubung modul pada masing-masing perangkat medik.
Sebuah modul hub gerbang yang akan langsung di akses dalam PC.

5. Sistem network akan dapat difungsikan oleh pengguna yang memiliki kemampuan pada situasi,
jarak dan kondisi alarm sehingga dapat terpantau dimanapun.

6. Sistem networking mempunyai kapasitas untuk e-mail dan pemberian nomor halaman dengan
kondisi seleksif dari pengguna.

7. Tiap kondisi alarm akan dimonitor pada Vacuum dan Sistem Air ( Contohnya; Status Pompa yang
digunakan,Jadwal perawatan, Pengering Tak Berfungsi, dan Temperatur Tinggi.

8. Sistem network akan memantau kemampuan jadwal pemeliharaan pada medical compressor air
dan medical vacuum system secara on line.

9. Sistem network akan menghasilkan setiap kejadian error pada system gas medis pada PC dengan
berdasar pada standar laporan medical gas dan dapat dicetak.

2.7 Digital Manifold Tekanan Tinggi (Sumber Utama pada Penyuplaian) Gas O2, N20, N2 dan CO2

1. Manifold , O2,N2O,N2 dan CO2 harus beroperasi secara automatis berpindah jika tekanan silinder
sebelah kiri habis / low pressure segera pindah ke kanan dengan tekanan yang lebih tinggi tanpa
melakukan tindakan apapun dan berpindah secra aman. Manifold dilengkapi alat utama dengan 4 unit
regulator tekana, 2 regulator tekanan tinggi dan 2 regulator tekanan rendah.

2. Perlengkapan kontrol harus dibuat secara seri untuk mengurangi tekanan silinder ke garis
pengiriman tekanan. Unit ini harus mampu secara otomatis merubah dari silinder utama ke silinder
kedua tanpa rasa berat atau fluktuasi dalam pengiriman tekanan. Manifold harus diblokan jika dalam
perbaikan atau perawatan.

3. Manifold dilengkapi dengan sensor mikroprosesor dirakit untuk penyediaan pengeluaran indikasi
tekanan yang lebih akurat dan ama, dilengkapi dengan indicator tekanan digital.
4. Untuk menghindari kelebihan tekanan baik disuplai sistem pendistribusian gas dan manifold harus
dipasang sensor tekanan tinggi / safety valve.

5. Pressure Gauge harus dipasang dengan lampiran kearah masing-masing tekanan tinggi regulator
dan juga pada pengeluaran akhir untuk pengiriman pipa tekanan. Gauge akan menjadi indikasi yang
diatur tekanannya kekiri dan kekanan pada manifold

6. Kontrol panel terdiri dari enam warna LED, tiga untuk Bank Kiri dan tiga untuk Bank Kanan; HIJAU
berarti Bank dapat digunakan, suplai gas berarti dalam keadaan siap sedangkan LED warna MERAH
berarti Bank dalam keadaan kosong. LED warna KUNING kondisi manifold Siap PAKAI / STAND BY Baik
itu bank kiri maupun kanan keduanya merupakan tekanan dan jalur tekanan utamanya diletakkan di
pintu depan rak LED. Seluruh tekanan transduksi, tombol mikro, dan tampilan LED sebelum dikawati
harus dihubungkan ke papan lingkar mikroprocessor. Manifold mampu dihubungkan dengan pilihan
pada Sistem Manajemen Informasi rumah sakit. ( LAN )

7. Header Bar : adalah pusat instalasi bertekanan tinggi harus dilengkapi dengan pengaman / check
valve yang dapat menutup secara otomatis jika mengalami kebocoran. Untuk itu header bar harus
memiliki standart test dari UL dan diperiksa CSA.

8. Manifold harus mempunyai ketetapan dalam seleksi bidang pada psi atau tampilan BAR.

9. Manifold harus menyediakan auto power, 240 VAC. Untuk control senseor network dan LED.

10. Manifold harus terdaftar UL, CSA dan standar ISO / NFPA 99

2.12 Mesin Vacuum dan Kompress Air

1 Medical Vacuum system dan Medical compress Air adalah system khusus untuk melayani rumah
sakit yang memiliki ketentuan dan syarat yang khusus.

2 Semua mesin di disain ganda atau dobel sistem dengan masing-masing unit ditentukan dengan
jumlah medical outlet yang terpasang,tekanan maksimum 10 bar untuk compress air dan 50 mmhg
untuk mesin vaccum, Kapasitas tangki dan bentuk tangki disesuaikan dengan kapasitas mesin dan
kondisi ruang.

3 Mesin compress air harus oil free dilengkapi dengan system driyer dan filter agar menjamin
kandungan gas menjadi lebih kering, dengan kapasitas yang disesuaikan dengan kapsitas mesin.

4 Masing-masing mesin compressor harus type scroll agar menjamin kompresi udara yang stabil,
tidak berisik dan tahan lama.

5 Untuk mesin medical vaccum menggunakan type rotary vane agar kondisi lebih tahan lama, tidak
bersik dan dilengkapi dengan filter.

6 Masing-masing mesin dilengkapi dengan panel control dengan system bergantian dan dilengkapi
hour meter / HM untuk memudahkan pengontrolan perawatan berkala, dioperasikan dengan system
AUTO dan MANUAL dengan panel control system layar sentuh / digital.

Mesin Medical gas harus diletakan dalam ruangan khusus dilengkapi dengan system Ventilasi udara
yang cukup dan diberikan tanda-tanda yang khusus pula. Ruangan mesin dan tabung gas sebaiknya
diberi tembok pemisah agar menjamin keamanan ruang gas medis.Rata-rata ruang sentral gas medis 6
meter x 4 meter.

PEKERJAAN PENGADAAN DAN PEMASANGAN UNIT LIFT


Metode pelaksanaan untuk pekerjaan pengadaan dan pemasangan unit Lift:
PEKERJAAN PERSIAPAN
Pelaksanaan persiapan pekerjaan pengadaan dan pemasangan Lift meliputi
1) Klasifikasi final Specifikasi Teknis unit Lift
2) Membuat Shop Drawing untuk disetujui oleh pihak terkait sebagai gambar pelaksanaan.
3) Membuat schedule pelaksanaan pekerjaan.
4) Monitoring Lapangan.
2. PABRIKASI
Pelaksanan pekerjaan pabrikasi, dapat dilaksanakan setelah Final Specifikasi Teknis dan Shop Drawing
disetujui bersama.
3. SHIPMENT
Pengiriman ( pengapalan ) dilaksanakan setelah seluruh kelengkapan unit Lift selesai diproduksi, dan
diperkirakan 1 ( satu ) minggu setelah tiba di pelabuhan Tanjung Priok unit tersebut akan sampai
dilokasi proyek.

4. UNIT ONSITE.
Pengiriman unit dari pelabuhan Tanjung Priok ke lokasi proyek, sesuai kondisi lapangan dengan
menggunakan Truk Container.
Untuk kelancaran pekerjaan tersebut diatas, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan oleh pihak
lain ( MK ) antara lain :
-. Pengadaan lokasi penempatan unit onsite.
-. Pengadaan jalan masuk kelokasi penempatan untuk akses Truk Container dan Forklit

5. PEKERJAAN PEMASANGAN UNIT LIFT


Pekerjaan pemasangan Lift dapat dimulai setelah :
1) Hoistway Lift ( termasuk ruang mesin ) telah selesai pengerjaannya
2) Unit Lift dan sudah masuk kelokasi proyek.

B) Adapun beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh kontraktor sipil dalam pembuatan
Hoistway Lift antara lain :
1) Ukuran bersih Hoistway Lift dan ketegak lurusannya.
2) Kedalaman pith Lift .
3) Tempat dudukan beam mesin Lift / dudukan ( reaction force )
4) Hoisting hook untuk pengangkatan mesin lift.
5) Ketinggian over head dan ruang mesin Lift.
6) Ring balok (kelipatan 2,5 M ) untuk pemasangan bracket Main dan CWT Rail Lift.
7) Tinggi dan lebar bersih kolom / balok praktis untuk pemegang jamb ( kusen ) pintu Lift pada
setiap lantai.
8) Lubang sparing untuk Hall Button, Indicator dan Fireman Switch.
Ukuran / dimensi dari hal tersebut diatas telah tercantum dalam Shop Drawing Lift
TAHAPAN PEKERJAAN PEMASANGAN LIFT
Pemasangan Steger Bambu.
Adalah pemasangan perancang bambu guna pemasangan komponen lift yang akan dipasang di area
hoistway lift dan dapat dilaksanakan setelah seluruh hoistway lift selesai dikerjakan.

Plumb / Centering
Adalah pelaksanaan pekerjaan untuk menentukan as pintu seluruh lantai dan maju mundurnya posisi lift
serta titik as seluruh pemasangan komponen lift yang akan dipasang didalam hoistway lift.

Pemasangan Bracket Main dan CWT rail.


Adalah pemasangan bracket pengikat / kedudukan rel yang terdiri dari dua bagian pekerjaan :
- Pemasangan dynabolt untuk mengikat bracket (bila ring balok dibuat dari bahan beton).
- Pengelasan bracket dudukan rel terhadap bracket yang telah dipasang pada ring balok pada setiap
jarak 2,5 meter dan apabila ring balok terbuat dari baja maka langsung dilas ke ring balok baja
tersebut.

Pemasangan Main dan CW rail.


Adalah Penyusunan rel peluncur car lift dan beban (CounterWeight) mulai dari bawah yang kemudian
dilakukan pengecekan untuk mencari ketegakan rel tersebut satu persatu dengan acuan kawat
plumb yang telah disiapkan.

Periksa QC
Pengechekan oleh Team QC dari Kantor pusat mengenai pemasangan Rail dengan menggunakan form -
form dari kantor pusat.

Pengangkatan Mesin, Panel Kontrol Lift


Adalah Pemindahan mesin lift dari lantai penempatan sementara ke ruang mesin lift dengan
menggunakan alat pengangkat chain block melalui lubang hoistway lift. Bisa juga diangkat dengan
menggunakan bantuan alat Tower Crane.

Pemasangan Sill, Jamb dan Header.


Adalah pemasangan komponen lift didaerah pintu lift. Pekerjaan ini dapat dilaksanakan setelah as pintu
lift ditentukan dan garis pinjam finishing lantai (elevasi) tersedia didaerah sekitar pintu lift.

Setting Mesin
Adalah proses pengesetan mesin lift dan panel lift di ruang mesin dengan melakukan pengelotan as
pulley mesin terhadap as car lift dan as counter weight.

Assembling Sangkar.
Adalah pelaksanaan perakitan car lift, biasanya dilaksanakan dilantai dasar.

Roping
Adalah Pelaksanaan pemasangan wire rope (seling) yang menghubungkan antara car dan couhter
weight.

Pemasangan Door dan Setting


Adalah Pemasangan pintu (Hall Door) pada setiap lantai dan dilaksanakan mulai dari lantai atas.
Pekerjaan ini dapat dilaksanakan setelah penutupan celah didaerah sekitar pintu (sill, jamb &
pocket) lift selesai dikerjakan.

Wirring dan Koneksi Kabel


Adalah Pelaksanaan penyambungan kabel-kabel lift yang akan dipasang didaerah hoistway lift, car lift
dan ruang mesin dan penurunan kabel kabel tail core serta pembuatan jalur kabel / tray diruang
mesin untuk koneksi dari panel ke mesin.

Slow Speed Test


Adalah Pelaksanaan Pengetesan untuk menjalankan lift secara manual dan diteruskan dengan setting
mekanik yang diperlukan (terutama daerah pintu) dengan melakukan terlebih dahulu
pembongkaran steger bambu.

High Speed Test


Adalah Pelaksanaan Pengetesan fungsi seluruh sistem operasional lift secara otomatis.

Reksa Uji
Proses pengajuan dan pemeriksaan kelayakan lift oleh pihak depnaker sebelum lift dioperasikan.
ST 1
Proses penyerahan unit pertama ke pihak kedua sebagai syarat bahwa unit telah terpasang dengan baik

Free Maintenance
Service rutin unit sesuai dengan bunyi yang tercantum dalam kontrak yang telah disepakati bersama.

Pekerjaan pengangkatan mesin dan panel dapat dilaksanakan dengan langkah- langkah sebagai berikut :

1. Pengangkatan dengan menggunakan tower crane


Mesin dan panel langsung diangkat ke ruang mesin dengan menggunakan tower crane secara bertahap
dari luar gedung, dimana berat mesin adalah 2 ton, sehingga perlu diperhatikan mengenai safety
(letak tali tower crane)
2. Pengangkatan dengan menggunakan Chain Block (20 ton)
Metode ini akan dipakai seandainya pada saat pengangkatan tower crane telah dibongkar atau tower
crane tidak dapat mengangkat(overload). Dalam hal ini mesin harus terlebih dahulu didekatkan
dengan lobang hoistway yang akan dilalui menuju ruang mesin. Sebelumnya dilakukan persiapan
terlebih dahulu seperti pemasangan chain block dan rantai untuk mengangkat mesin dan panel
tersebut serta hook atau balok / kolom diatap ruang mesin sebagai tempat menggantungkan chain
block tersebut. Setelah segala persiapan selesai dilakukan maka akan dilakukan pengikatan rantai
ke mesin atau panel dan setelah dilakukan pengecehekan semua safety maka mesin atau panel
dapat dilakukan pengangkatan. Selama perjalanan keatas akan dilakukan pengawalan mesin agar
rantai tidak terbelit atau mesin menabrak bibir lantai dan lain lainnya.

Metode Pre - Commissioning Test.


Hal - hal yang perlu dipersiapkan sebelum dilaksanakan Commisioning Test :
. Sub panel daya + grounding tersedia didalam ruang mesin Lift.
. Tegangan yang dibutuhkan adalah 380 VAC dengan daya sesuai kebutuhan KW meter.
. Sistem penerangan dan pendingin ruang mesin lift sudah terpasang
. Kebersihan ruang mesin
. Kebersihan hoistway lift
. Pintu lift pada setiap lantai sudah terpasang

Metode Commissioning Test.


Testing commisioning bisa dilakukan setelah persiapan test terpenuhi dengan langkah- langkah sebagai
berikut :
. Merger kabel kontrol
. Merger terminal RST dan VW pada control panel
. MCCB pada sub panel di on-kan
. Cek tegangan RST
. MCCB pada control panel lift di on-kan
. Cek tegangan komponen power suplay
. Nyalakan lampu pada sangkar Lift
. Fungsikan Interphone.
. Program slow speed
. Fungsikan gavenor safety
. Fungsikan Final limit up & down
. Balance sangkar lift

. Setting pintu pada seluruh lantai


. Program test high speed
. Setting level.
PENGADAAN DAN PEMASANGAN UNIT ESCALATOR
Metode pelaksanaan untuk pekerjaan pengadaan dan pemasangan unit escalator adalah sebagai
berikut :
1. PEKERJAAN PERSIAPAN
Pelaksanaan persiapan pekerjaan pengadaan dan pemasangan Escalator meliputi :
a. Klarifikasi final specifikasi teknis unit escalator
b. Membuat shop drawing untuk disetujui oleh pihak terkait sebagai gambar pelaksanaan.
c. Membuat schedule pelaksanaan pekerjaan.
d. Pembuatan site office untuk penyimpanan sebagian material dan alat kerja.

2. PABRIKASI
Pelaksanaan pekerjaan pabrikasi, dapat dilaksanakan setelah final specifikasi teknis dan shop
drawing disetujui bersama.

3. SHIPMENT
Pengriman (pengapalan) dilaksanakan setelah seluruh kelengkapan unit escalator selesai
diproduksi, dan diperkirakan 3 (tiga) minggu setelah pengapalan unit tersebut akan sampai dilokasi
proyek.

4. UNIT ON SITE
Pengiriman unit dari pelabuhan tanjung periok ke lokasi proyek secara bertahap, sesuai kondisi
lapangan dengan mengunakan truk container.
Untuk kelancaran pekerjaan tersebut diatas, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan oleh
pihak lain (Kontraktor Sipil), antara lain :
Pengadaan lokasi penempatan unit onsite (diperkirakan sebannyak ….. case)
Pengadaan jalan masuk kelokasi penempatan untuk akses truk container dan forklif.

5. PEKERJAAN PEMASANGAN UNIT ESCALATOR


Pekerjaan pemasangan escalator dapat dimulai setelah :
a. Unit escalator sudah masuk ke lokasi proyek
b. Hoistway escalator telah selesai pengerjaannya.
Adapun beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh kontraktor sipil dalam pembuatan
hoistway escalator, antara lain :
a. Ukuran bersih hoistway escalator dan ketegak lurusnya.
b. Kedalaman pit escalator.
c. Tempat dudukan escalator (reaction force)
d. Hoisting hook untuk pengangkatan escalator (Kapasitas 8 ton).
Ukuran / dimensi dari hal tersebut diatas telah tercantum dalam shop drawing escalator.
v Pekerjaan Pemasangan Escalator terdiri dari beberapa tahap antara lain :
v Pekerjaan Pemasangan Escalator :
Transportasi ke void escalator.
Yaitu pengangkatan unit untuk di letakkan ditempat yang paling dekat dengan lobang dengan
menggunakan Hand Pallet dan Pallet kotak atau dengan menggunakan forklift.
Joint Frame dan Rail
Pekerjaan penyambungan potongan frame dan rail escalator menjadi satu sebelum diletakkan di pit
escalator.peralatan yang harus disediakan yaitu joice, hand pallet, kunci – kunci, peralatan
pengelasan.
Wiring dan Koneksi Kabel
Koneksi safety device dan panel escalator serta pemasangan kabel – kabel
Erection Frame
Peletakkan Unit Escalator ke dalam void / pit escalator dengan menggunakan Chain block yang
diletakkan di hook yang disediakan oleh gedung
Plumb / Centering
Proses pengukuran level escalator terhadap finishing floor untuk dipakai sebagai ukuran
pemasangan bracket.
Pemasangan Bracket
Pekerjaan Pemasangan bracket untuk dudukan kaca escalator serta outside deck
Pemasangan Out Side
Adalah Cover Frame yang dipasang pada sisi luar kaca escalator
Pemasangan Kaca
Pemasangan Kaca escalator dengan posisi menumpang pada bracket.
Pemasangan Handrail
Pemasangan karet pegangan untuk penumpang yang naik di escalator.
Pemasangan Inside Deck dan Skirt Guard
Pemasangan Cover Frame yang dipasang pada sisi dalam kaca escalator dan pemasangan dinding
pembatas step sisi kanan kiri bagian dalam escalator
Testing
Pelaksanaan pengetesan escalator dengan secara bertahap dengan langkah pertama escalator
dijalankan manual, maintenant,baru sesudahnya dapat dijalankan secara normal.
Pemasangan Step
Adalah pemasangan seluruh step ( pijakan kaki penumpang escalator ) sebelum pelaksanaan
running test

METODE PELAKSANAAN PENEMPATAN ESCALATOR PADA VOID (ERECTION)


Hal hal yang diperlukan dalam pelaksanaan erection antara lain :
1. Persiapan
Dalam hal ini dibagi menjadi dua yaitu :
- Persiapan peralatan antara lain Chaion blok, Square pallet, Hand Pallet, Wire rope dll.
- Persiapan lokasi yaitu :
Pengechekan void (pengukuran void dan pembersihan area)
Pengechekan penempatan wire rope (hook atau lubang untuk hook)
2. Erection Unit
Setelah Escalator berada dekat di void dan telah di joint/Assembly maka langkah pertama yang
dilakukan adalah pemasangan chain block pada hook atau ware rope yang diikatkan pada lubang
dilantai atas void. Kemudian ujung rantai diikatkan pada frame escalator (upper dan lower
escalator) untuk kemudian diangkat dan diletakkan di void escalator seperti gambar dibawah ini.

METODE PELAKSANAAN PENGETESAN ESCALATOR


1. Check Input Tegangan 3 Phase.
2. Check Wiring dan Mechanik.
3. Test Maintenant Speed.
4. Check Roller Step, Chain dan Hand Rail.
5. Setting Seluruh Safety Switch.
6. Check Pelumasan.
7. Penambahan Step 50 % Dari Total.
8. Test Normal Speed.
9. Pembersihan.
10. Check Pelumasan.

PEKERJAAN AC DAN FAN

A. Dalam pelaksanaan proyek ini, pihak kontraktor harus melihat bahwa pekerjaan ini
dilakukan dengan tanpa mengganggu peralatan /perangkat- perangkat yang ada di gedung,
untuk itu beberapa langkah perlu untuk dilakukan.
B. Langkah Pertama adalah pihak kontraktor harus membuat :
1. Perencanaan detail pelaksanaan dari sistem AC yang tertuang di dalam RKS dan gambar
perencanaan yang telah dibuat oleh pihak konsultan serta sesuai dengan schedule
pelaksanaan yang telah ditetapkan.
2. Kontraktor harus mengecek dan mere-chek terhadap unit-unit eguipment yang akan dipakai
dan apabila terdapat keragu-raguan harus segera menanyakan ke Konsultan
Perencana/PENGAWAS dan apabila terjadi kesalahan sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Kontraktor.
3 Langkah ke dua adalah mengadakan konsultasi dengan pihak Konsultan PENGAWAS
yang telah ditunjuk oleh pihak pemberi tugas tentang detail desain, perencanaan detail
pelaksanaan kontruksi dari sistem AC. Jika Pemberi Tugas belum setuju dengan
perencanaan kontraktor, kareNA dianggap tidak sesuai dengan RKS dan Desain yang
telah ditentukan konsultan, maka harus mengadakan perubahan sesuai dengan permintan
dan hasil diskusi dengan pihak Pemberi Tugas. Pihak Pemberi Tugas berhak memutuskan
untuk merubah sedikit dari desain yang telah ditentukan oleh konsultan seandainya
terjadinya perubahan bentuk dan ukuran fisik dari gedung, sehingga tidak memungkinkan
desain dari konsultan diterapkan.
4. Langkah ke tiga adalah seandainya pihak Pemberi Tugas setuju dengan Perencana,
Kontraktor berhak untuk melakukan pekerjaannya dengan memasang terlebih dahulu
peralatan-peralatan yang telah disiapkan dan diperiksa bersama dengan pihak Pemberi tugas
/ Konsultan PENGAWAS baik dari segi spesifikasi peralatan, Bill Of Quantity.
5. Langkah ke empat adalah jika pihak kontraktor akan memasang unit-unit AC seperti Outdoor
Unit (OU), Indoor Unit (IU), ventilasi mekanis dan assesorisnya, maka pihak kontraktor,
Konsultan PENGAWAS dan pemberi tugas harus mengadakan diskusi tentang cara terbaik
untuk pemasangan tersebut.
6. Langkah ke lima adalah kontraktor perlu memperhatikan bahwa pemasangan peralatan
harus berada pada ruang peralatan utama dan assesoris lainnya serta sudah dihubungkan
dengan central kontrol panel, maka sistem AC siap untuk dihubungkan dengan Catu Daya
(PU-AC).
7. Langkah ke enam adalah jika pihak kontraktor telah memasang semua unit peralatan utama,
alat pembantu dan assesoris lainnya serta sudah dihubungkan dengan central control
panel, maka sistem AC siap untuk dihubungkan dengan Catu Daya (PU-AC).
8. Langkah ke tujuh adalah pihak kontraktor dan Konsultan PENGAWAS disaksikan oleh Pemberi
Tugas mengadakan pengujian semua unit AC dan ventilasi mekanis bersama-sama.
9. Langkah ke Delapan adalah pihak kontraktor harus membuat laporan tentang semua
pekerjaan yang telah dilakukan kepada pihak Konsultan PENGAWAS.
10. Jika terdapat kesalahan/kekeliruan dalam memilih unit/equipment maka kontraktor harus
bersedia menggantinya tanpa biaya tambahan.

KONDISI DARI PERENCANAAN DAN OPERASI


A. Perencanaan sistem air conditioning dan ventilasi harus mengacu pada data- data meteorologi
setempat.

B. Kondisi perencanaan :
a. Temperatur ruangan
b. Kelembaban nisbi
: 22°C ± 2°C.
: 55 - 60%.

C. Fungsi dari sistem tata udara dan ventilasi :


a. Menjaga penghuni yang ada di dalamnya dari kondisi terburuk.
b. Menjaga kenyamanan bagi penghuninya.
c. Menjaga ruangan dari asap rokok yang mengganggu.
d. Menciptakan udara yang segar bagi penghuni yang ada di dalam ruangan.
D. Uraian sistem AC yang akan dipasang.

a. Sistem AC yang dikehendaki adalah Air Cooled Type, sistem ini adalah Self Contained dimana
Outdoor Unit (compressor, condensor) dan Indoor Unit (Evaporator, Fan, kontrol-kontrol)
terpisah, Satu Outdoor Unit (OU) hanya dapat dihubungkan dengan satu Indoor Unit (IU).
Outdoor Unit ditempatkan di luar ruangan (udara terbuka) dan Indoor Unit ditempatkan di
dalam ruangan.
b. Pengoperasian AC secara keseluruhan harus dapat dilakukan melalui central controller yang
ditempatkan pada ruangan tertentu seperti ditunjukkan pada gambar perencanaan.

SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN AIR CONDITIONING DAN VENTILASI MEKANIS

1 SPLIT UNIT

A. Lingkup Pekerjaan.
Lingkup pekerjaan untuk butir ini adalah pengadaan dan pemasangan AC Split seperti ditunjukkan
pada gambar – gambar rencana yang melengkapi dokumen ini.

B. Umum.
Spesifikasi teknis berikut ini menjelaskan hanya ketentuan-ketentuan dasar saja, untuk
ketentuan dari kapasitas dan lain-lainnya lihat gambar/schedule peralatan.
Semua AC split dan AC Casstte harus memenuhi standart ARI 441.

C. Spesifikasi Teknis.
• Split system air conditioning yang digunakan adalah dari type air cooled split dan air cooled
condensing unit. Pemasangan seluruh peralatan ini harus sesuai dengan schedule dari pabrik
pembuatnya
• Outdoor Unit dari type air cooled secara utuh berasal dari assembling pabrik (factory
assembled) terhadap semua komponen, pengabelan listrik dan control, pemipaan refrigerant,
leakage testing untuk seluruh sistem.
• Compressor hendaknya dari jenis Rotary Hermatic untuk jenis wall mounted yang
didinginkan oleh gas refrigerant dan motor dilindungi secara “inherent”. Coil condenser harus
terbuat dari tembaga, fin dari aluminium yang direkatkan secara mekanis. Fan condenser harus
dari jenis propeller dan dihubungkan langsung dengan fan motor.
• Coil harus sudah diuji terhadap kebocoran dan telah didehydrated dan dilapisi gas refrigerant
secukupnya dari pabrik pembuatnya.
• Fan harus telah dibalance statis maupun dinamis dipabriknya. Fan motor hendaknya dari jenis
permanent split capasitor yang dilindungi secara inherent serta mempunyai bantalan peluru
yang dilumasi secara tetap. Dinding dan rangka hendaknya telah dicat anti karat dan sesuai
untuk pemasangan di luar.
• Evaporator blower terbuat dari jenis wall mounted sesuai dengankebutuhan. Fan terbuat
dari jenis centrifugal dan telah dibalance di pabrik, baik secara statis maupun secara dinamis.
• Dinding unit minimal dari plat besi ukuran 20 gauges. Seluruh panel atau lubang – lubang
berpintu harus dapat dengan mudah dibuka dan rangka hendaknya dilengkapi dengan titik –
titik penyangga yang telah diperkuat. Dinding dan rangka hendaknya dilapisi dengan cat anti
karat.
• Rak pengembunan air hendaknya terletak di bawah coil pendingin dan harus cukup besar untuk
menampung seluruh pengembunan uap air dari coil pada kondisi maksimal. Dinding pada unit
ini hendaknya diisolasi yang mulai pada daerah/tempat masuk sampai keluarnya udara pada
unit tersebut.
• Isolasi harus cukup kuat, tebal serta berat jenisnya cukup untuk menghalangi terjadinya
pengembunan. Isolasi harus tahan terhadap aliran udara dan tahan api sesuai dengan
persyaratan NFPA-20 standart.

2. EXHAUST FAN

A. Lingkup Pekerjaan.
Lingkup pekerjaan untuk item ini adalah pengadaan dan pemasangan fan seperti ditunjukkan pada
gambar – gambar rencana yang melengkapi dokumen .

B. Umum.
• Spesifikasi teknis berikut ini menjelaskan hanya ketentuan-ketentuan dasar saja, untuk
ketentuan dari kapasitas dan lain-lainnya lihat gambar/schedule peralatan.
• Fan harus sudah mendapatkan sertifikat sesuai dengan standart yang berlaku di negara
dimana fan tersebut dibuat untuk testing dan rating (performance).
• Sound pressure level harus dilengkapi dalam dB dengan RE 10-12 watt pada octave band mid
freq. 60 – 4000 Hz.
• Dasarnya semua fan harus mempunyai noise level yang rendah dalam operasinya dan
dalam batas yang normal.

B. Spesifikasi Teknis.

Centrifugal Fan
• Fan dari jenis centrifugal forward curve atau backward curve (airfoil) dan direncanakan suatu
putaran yang tenang dengan komponen – komponen sebagai berikut :
• Volute casing dari galvanized steel.
• Impeller dari mid steel.
• Shaft dari mid steel.
• Pelumasan memakai grease ball atau roller bearing.
• Fan dan motor duduk pada suatu rangka dudukan (base frame) dengan posisi motor dapat
diatur untuk ketegangan tali kipas (bila motor dan fan tidak terhubung langsung).

Axial Fan
• Impeller fan dari type airfoil blade, adjustable pitch.
• Material fan :
• Casing dari hot dipped galvanized steel.
• Impeller dari aluminium die-cast.
• Shaft dari carbon steel.
• Pelumasan dari grease ball bearing
• Fan lengkap dengan counter flens untuk penyambungan ke ducting.
• Dilengkapi dengan accessories bell mouth (inlet cone) bila inlet suction tidak disambungkan ke
duct (seperti ditunjukkan dalam gambar).

Propeller Fan ( Wall / Ceiling Fan )


• Fan dari type propeller untuk dinding maupun ceiling kecuali bila dinyatakan ceiling fan dari type
centrifugal seperti ditunjukkan dalam gambar.
• Untuk fan dinding yang berhubungan dengan luar lengkap dengan automatic shutter dari jenis
aluminium.
• Untuk high-pressure fan, rangka terbuat dari baja yang dicat anti karat dengan impeller dari
aluminium die-cast.
• Untuk intake atau pressurized fan bila diperkirakan akan terkena air hujan harus dipasang
canopy lengkap dengan galvanized wire mesh. Bahan canopy dari galvanized sheet BJLS 80
• Rangka dudukan fan pada dinding dari baja dengan baut – baut yang tahan karat.
PEMIPAAN.
• Jalur –jalur pipa yang terlihat pada gambar rencana adalah gambar dasar yang menunjukkan
route dan ukuran pipa. Contractor wajib menyesuaikan dengan shop drawing dan dengan jalur –
jalur instalasi lainnya berikut detail dan potongan – potongan yang diperlukan.

Material
• Pipa refrigerant : pipa tembaga atau sesuai spesifikasi pabrik.
• Pipa condensasi : pipa PVC klas AW.

Konstruksi Pemasangan Pipa


• Pipa sampai diameter 2” – sambungan ulir.
• Pipa di atas diameter 2,5” – sambungan flens/las.
• Pipa sebelum dipasang harus dibersihkan dahulu bagian dalamnya dari kotoran – kotoran
yang melekat.
• Setiap potongan pipa dengan las/gergaji harus dibersihkan dahulu dari sisa –sisa las/gergaji,
diratakan sehingga mencapai ukuran asli.
• Untuk sambungan ulir harus memakai seal tape dan tidak diperkenankan memakai plumber
rope.
• Pipa – pipa yang menembus dinding atau plat beton harus memakai sleeve dan sekitarnya diisi
dengan bahan caulking.
• Jarak gantungan pipa / penyanggah tidak boleh lebih dari :
Sampai diameter ½” berjarak 1,5 mm
Diameter ¾” s/d 1” berjarak 2,0 mm
Diameter 1 ¼ ” s/d 2 ½ ” berjarak 2,3 mm
Diameter 3” s/d 5” berjarak 2,5 mm
Diameter 6” ke atas berjarak 3,0 mm
• Pipa – pipa yang ditahan lantai ditunjang pakai clamp atau collar yang dipasang erat pada pipa
dan bertumpu pada floor memakai rubber pad.
• Semua pipa harus dipasang sejajar dengan dinding/bagian dari bangunan pada arah horizontal
maupun vertical.
• Sudut belokan yang diperbolehkan adalah 90O dan 450. Pipa pembuangan menggunakan long
radius dan jika kondisi tidak memungkinkan maka penggunaan short radius harus mendapat
persetujuan tertulis dari Konsultan Perencana dan Konsultan PENGAWAS.
• Semua pipa harus bertumpu pada support dengan baik.
• Sebelum pipa dipasang, support harus dipasang dahulu dalam keadaan sempurna.
• Pipa dan fitting harus bebas dari tegangan dalam yang diakibatkan dari bahan yang dipaksakan.

Isolasi Pipa
• Pipa yang diisolasi adalah pipa refrigerant dan pipa kondensasi.
• Ketebalan isolasi pipa adalah :
- Diameter s/d 1” - tebal ¾ “
- Diameter 1½ “ s/d 4” - tebal 1 “
- Diameter 2½ “ s/d 4” - tebal 1 “
- Diameter 5” ke atas - tebal 1½ “
• Setelah diisolasi dibalut dengan vinyl tape atau yang dianjurkan oleh pabrik pembuat isolasi.
• Perlindungan isolasi terhadap kerusakan.
• Untuk pipa dan alat bantu pipa (accessories) yang diisolasi dan berada di :¾ Ruang terbuka (pipa
terlihat).¾ Ruang terbuka yang terkena hujan.
Harus memakai metal jacketing dari bahan aluminium tebal 0,5 mm dengan sistem sambungan
yang sedemikian rupa sehingga mudah dilepas tanpa merusak pelindungnya.
• Setiap gantungan pipa yang diisolasi tanpa memakai metal jacketing, antara klem gantungan
dan isolasi harus memakai metal dudukan (saddle) dari BJL80 selebar 6 “ dan setengah lingkaran
atau penuh dan sesuai type gantungan.

Pipa Pembuangan Air


• Kontraktor harus memasang pipa pembuangan air (drain) dari mesin – mesin AC sampai ke
tempat pembuangan yang terdekat/tersembunyi atau yang tidak mengganggu.
• Bahan yang digunakan adalah PVC klas AW.
• Pipa condensasi drain harus dilengkapi dengan bak control, leher angsa serta peralatan lain yang
diperlukan. Pipa diberi isolasi yang harus terbuat dari bahan fiberglass tahan api setebal 1”
kemudian dilapisi dengan “vapor barrier” dan diperkuat dengan adhesive tape/aluminium
tape.
• Jika pipa menembus dinding, lantai, langit – langit dan lain – lain, pipa harus diberi lapisan isolasi
getaran yang dilindungi dengan pipa yang lebih besar ukurannya.

Sambungan Pipa
• Sambungan pipa refrigerant harus menggunakan fitting yang sesuai dengan diameter pipanya
dan menggunakan system sambungan las perak.
• Untuk pipa – pipa lurus yang panjangnya lebih dari 40 m dan pada tempat – tempat yang
dianggap perlu harus dilengkapi dengan sambungan expansi (expansion joint).
• Pada setiap sambungan pipa harus memakai balok kayu berbentuk lingkaran penuh dari kayu
jati selebar 2 “ dan setebal sama dengan isolasi. Ukuran diameter dalam kayu tepat sama
dengan diameter luar pipa. Sambungan antara kayu dan isolasi harus rapat dan memakai
perekat.
• Selanjutnya pada sambungan tersebut dibalut dengan adhesive aluminium foil tape selebar 8 “.

4. PEKERJAAN LISTRIK / KONTROL. A. Lingkup Pekerjaan.


Lingkup pekerjaan dalam butir ini adalah pengadaan dan pemasangan seluruh instalasi listrik,
pengabelan, panel – panel dan instrumentasi kontrol sesuai gambar rencana yang
melengkapi dokumen ini.

B. Umum
Jalur –jalur kabel dan perletakan panel dan motor seperti yang terlihat pada
gambar rencana adalah gambar dasar yang menunjukkan route dan lokasi panel serta instrument
kontrol. Kontraktor wajib menyesuaikan dengan shop drawing
dan dengan jalur – jalur instalasi lainnya berikut detail yang diperlukan serta wajib mengikuti
peraturan – peraturan yang dikeluarkan oleh :
• Perusahaan Listrik Negara (PLN).
• Lembaga Masalah Ketenagaan (LMK).
• Dinas Pemadam Kebakaran.
• Lembaga Pengujian Bahan.
• Dinas Keselamatan Kerja.
C. Spesifikasi Teknis.
a. Peralatan Listrik.
Motor Listrik.
semua motor listrik mempunyai power factor minimum 0,8, putaran motor max. 1.450 Rpm
(memenuhi standart NEMA, B.S, DIN, dan JIS).

Panel.
• Panel – panel tenaga harus dari merk yang sama dengan yang digunakan pada instalasi listrik dan
dibuat dari plat besi setebal 2 mm, dilengkapi dengan kunci Yale atau setaraf. Pengecatan
dengan cat dasar dan duco minimum 2 kali. Warna finishing ditentukan kemudian.
• Tiap – tiap panel dan unit mesin harus digrounded.
• Panel starter harus dilengkapi dengan pilot lamp (green, red, white),voltmeter serta
amperemeter dengan selector switch 3 phase, plat nama untuk peralatan yang dilayani serta
push button ON, OFF dan disconnecting switch bila memakai remote start stop.

b. Wiring.
• Wiring untuk instalasi listrik dan control harus dipasang dalam metal conduit JIS Standart
(Maruichi dan National) dan diklem dengan rapi.
• Kabel yang dipasang di dalam tanah jenis NYFGbY dan harus dipasang sekurang – kurangnya
sedalam 75 cm dengan pasir sebagai alas dan pelindung, kemudian dilindungi dengan batu
pelindung sebelum diurug kembali.
• Pada route kabel, setiap 50 m dan setiap belokan supaya diberi tanda adanya galian kabel dan
tanda arah kabel.
• Untuk kabel yang menyeberangi selokan, jalan raya atau instalasi lainnya harus dilindungi
dengan pipa galvanis.
• Jari – jari pembelokan kabel hendaknya minimum 15 kali diameter kabel.
• Menghubungkan kabel pada terminal harus menggunakan “kabel schoen”, kabel 25 mm ke
atas pemasangannya harus menggunakan timah pateri lalu dipress hydraulic sedangkan yang
lebih kecil cukup dengan tang press tangan.
• Setiap kabel yang menuju terminal peralatan harus dilindungi memakai metal flexible conduit.

5. PEKERJAAN LAIN – LAIN. Pondasi.


• Semua pondasi beton yang diperlukan untuk mesin – mesin pendingin (AC), fan, panel – panel
termasuk dalam pekerjaan Kontraktor dan dikoordinasikan dengan Kontraktor sipil dan
mengikuti petunjuk – petunjuk pabrik pembuat peralatan tersebut.
• Kontraktor AC harus menyerahkan layout beserta ukuran pondasi atau ukuran concrete
house keeping pad untuk masing – masing peralatan sebelum dilaksanakan oleh pihak lain
kepada Konsultan Perencana/Konsultan PENGAWAS.
• Termasuk pekerjaan Kontraktor untuk menyediakan dan memasang inertia concrete block,
peredam getaran (vibration eliminators), support – support, hangers seperti ditunjukkan dalam
gambar rencana dan disesuaikan dengan kondisi – kondisi setempat serta berkonsultasi dengan
Manajemen Konstruksi dan Kontraktor Sipil.
• Kontraktor harus menjamin bahwa instalasi yang terpasang tidak akanmenyebabkan
penerusan suara/getaran (vibration & noise transmission) kedalam ruangan – ruangan yang
dihuni dan bertanggung jawab atas semua modifikasi yang diperlukan.
BABIII.MANAJEMENLINGKUNGANHIDUP

ManajemenLingkunganHidupsangatdiperlukanuntukmenjagakondisilingkunganbaikdikant
or,basecamp,lokasikerjadansekitarnyaselamamasapelaksanaanpekerjaan
lingkungandalamkondisibaikdan
terjaga.Lingkunanhidupyangbaiksanganmenunjangkenyamanankerjadankelestarianalam,p
ekerjaaninimeliputi:
a.PersiapanPersonil
- PersonilyangkompetendibidangLingkunganHidup.
b.Peralatan
- Peraralanuntukpengambilansampleair,alatPengontrolKebisingan,alatKontrol
KebersihanUdara
c.PembuatanLaporan
- Membuatlaporankondisilingkungansecaraberkalaselamamasapelaksanaan
pekerjaan,laporanhasilpengujiansimleair;laporankondisikebersihanudara,laporan
tingkatkebisingan, gunaevaluasiuntukmenjagalingkunganhidupdisekitardan
melakukanperbaikanlingkunganhidup jika terjadikerusakanakibatdampak
pelaksanaanpekerjaan

BABIV.MANAJEMENMUTU
ManajemenMutusangatdiperlukanuntukmenjagamutuhasilpekerjaansesuaidenganspesifika
si.Dalampengendalianmutu,timmanajemenmutuharusselalumemonitorproses
pekerjaanmulaipengawasanpengadaanmaterial,peralatan,personilhinggapelaksanaanpeker
jaansampaiselesai.Pekerjaaninimeliputi:

a.PersiapanPersonil
- PersonilyangkompetendibidangManajemenMutu.

b.PengawasanMutuMaterial,Peralatan,dan Personil
- Pengawasanmulaidarimaterial,peralatan,dan tenagakerjahingapelaksanaan
pekerjaanakanmampumeningkatkannilaimutuhasilpekerjaan.

c.PembuatanLaporan
- Membuatlaporansecaraberkalaselamamasapelaksanaanpekerjaansebagaibahan
evaluasidan perbaikansecararutindalamsetiapkegiatanpekerjaan.Hasilpekerjaan
yangefektif, tepatmutu,tepatbiayadan tepatwaktu

BAB V. METODE QUALITY CONTROL


Pengendalian quality proyek merupakan kunci utama dalam pencapaian target mutu suatu
perusahaan karena hal ini adalah suatu proses untuk memberikan kepuasan bagi pelanggan
yang nantinya akan berdampak positif bagi citra perusahaan.nisasi pengendalian mutu
proyek terlampir. Berikut ini adalah flow chart kegiatan Quality Control :

Gambar . Flow chart Quality Control

Demi terwujudnya realisasi target mutu yang maka dibuat suatu rencana target sebagai acuan
dasar bagi perusahaan untuk menjalankan dan menjamin mutu produk yang dihasilkan. Data
mengenai project quality plan terlampir.
Pelaksanaan quality prosedur yang merupakan alur kegiatan yang ditetapkan dan harus
dipenuhi untuk mencapai target kualiatas/mutu yang dicita-citakan perusahaan. Data mengenai
project quality prosedur .
Gambar. Standard Operational Procedure of Quality Control

BAB VI. METODE KESEHATAN KESELAMATAN KERJA dan LINGKUNGAN (K3L)

1. LINGKUP PEKERJAAN
Bagian ini mengatur mengenai pelaksanaan program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3l) dalam
pelaksanaan pekerjaan.

2.PEDOMAN DAN STANDAR

1) Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja


2) Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. No.Kep. 1135/MEN/1987 tentang Bendera Keselamatan Dan
Kesehatan Kerja
3) Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. No.: Kep.245/MEN/1990 tentang Hari Keselamatan Dan
Kesehatan Kerja Nasional
4) Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.I. No. Per.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja

3. KESELAMATAN KERJA

a. Dari permulaan hingga penyelesaian pekerjaan dan selama masa pemeliharaan, Kontraktor
bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan pekerja, material dan peralatan
teknis serta konstruksi.
b. Wajib menjaga keselamatan kerja di ruang kerja dengan melengkapi dengan perlengkapan
keselamatan kerja seperti safety line, rambu - rambu, papan promosi keselamatan, dan lain
- lain.
c. Wajib menjamin keselamatan tenaga kerja yang terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan
dari segala kemungkinan yang terjadi dengan memenuhi aturan dan ketentuan kesehatan dan
keselamatan kerja yang berlaku (Jamsostek).
d. Menyediakan obat-obatan menurut syarat-syarat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK)
yang selalu dalam keadaan siap digunakan di lapangan, untuk mengatasi segala
kemungkinan musibah bagi semua petugas dari pekerja lapangan.
e. Setiap pekerja diwajibkan menggunakan sepatu pada waktu bekerja dan di lokasi harus
disediakan Alat Pelindung Diri (APO) berupa safety belt, safety helmet, masker/kedok las
terutama untuk dipakai pada pekerjaan pemasangan kuda-kuda baja dan pekerjaan yang
beresiko tertimpa benda keras.
f. Menyediakan air bersih, kamar mandi dan WC yang layak dan bersih bagi semua petugas
dan pekerja. Membuat tempat penginapan di lapangan pekerjaan untuk para pekerja tidak
diperkenankan, kecuali atas ijin PPK.
g. Apabila terjadi kecelakaan, sesegera mungkin memberitahukan kepada Konsultan
danmengambil tindakan yang perlu untuk keselamatan korban korban kecelakaan itu.

4. PROSEDUR OPERASI STANDAR (SOP) KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)

1) Membuat SOP Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).


2) SOP diajukan kepada Konsultan untuk dievaluasi.
3) Menyampaikan laporan pelaksanaan SOP kepada Direktur Keselamatan, Ditjen Perkeretaapian,
Direktur Prasarana Ditjen Perkeretaapian, PPK, dan Konsultan.

5. MATRIK PROGRAM K3

a. Safety Health and Environmental Induction Kegiatan ini dilaksanakan setiap ada tamu ataupun
pekerja baru yang memasuki wilayah kerja proyek
b. Safety Health and Environmental Talk Program ini bertujuan untuk sosialisasi dan pembahasan
mengenai seluruh permasalahan penerapan K-3L dan Lingkungan selama masa pelaksanaan
proyek. Pelaksanaan Safety talk setiap 1 minggu sekali
c. Safety Health and Environmental Patrol / Inspection Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin,
bertujuan untuk memonitor pelaksanaan K-3L di seluruh lingkungan proyek dan menjaga
konsistensi pelaksanaan K-3L.
d. Safety Health and Environmental Meeting Program SHE meeting dilaksanakan seminggu sekali
dimana dalam kegiatan ini membahas permasalahan dan kejadian yang terjadi dan rencana
tindak lanjut untuk memperbaikinya serta membahas permasalahan yang mungkin terjadi serta
langkah-langkah pencegahannya.
e. Safety Health and Environmental Audit Program ini dilaksanakan insidental bertujuan untuk
melakukan audit terhadap kedisiplinan dalam pelaksanaan standar K-3L di lingkungan proyek
terhadap peraturan yang diberlakukan dalam lingkungan perusahaan.
f. Safety Health and Environmental Trainning Pelatihan terhadap seluruh komponen proyek yaitu
karyawan, subkon, mandor dan seluruh pekerja mengenai K-3L, P3K dan respon terhadap
keadaan darurat
g. Housekeeping Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari bertujuan untuk menjaga kebersihan,
kerapihan, kenyamanan di lingkungan kerja.

Gambar Perlengkapan K3

Gambar Pemakaian Perlengkapan K


6. DIAGRAM ALIR K3