Anda di halaman 1dari 25

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah
memberikan kekuatan dan kemampuan sehingga dapat menyelesaikan makalah
tentang “Reformasi pendidikan” tepat pada waktunya walaupun banyak
kekurangan di dalamnya. Penulis juga berterima kasih kepada Bapak selaku
Dosen mata kuliah Profesi Kependidikan yang telah memberikan tugas ini kepada
penulis. Sehingga penulis dapat mengkaji dan memberikan perspektif tentang
perkembangan reformasi pendidikan di Indonesia.

Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka


menambah wawasan pengetahuan kita tentang reformasi pendidikan. Semoga
makalah ini bisa dengan mudah dipahami oleh pembaca dan dapat memberikan
kontribusi positif dalam rangka peningkatan mutu pendidikan nasional.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dan mendukung dalam penyusunan makalah ini. Penulis sadar makalah
ini belum sempurna dan memerlukan berbagai perbaikan, oleh karena itu penulis
menerima kritik dan saran yang membangun demi perbaikan ke arah yang lebih
baik.
.

Palembang, 15 Agustus 2017

Penulis
Kelompok I

Reformasi Pendidikan 1
DAFTAR PUSTAKA

LEMBAR JUDUL

KATA PENGANTAR

Bab1 PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan

Bab II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Reformasi
2.2 syarat reformasi
2.3 ciri- cirri reformasi
2.4 Pengertian pendidikan dan visi pendidikan
2.5 Ruang lingkup profesi kependidikan
2.6 Pengertian Reformasi Pendidikan
2.7 Ruang Lingkup Reformasi Pendidikan
2.8 Alasan perlunya reformasi dalam dunia pendidikan
2.9 Beberapa Gagasan Reformasi Pendidikan Dan Pembelajaran Di Indonesia
2.10
Pentingnya Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Reformasi Pendidikan

2.11 Perubahan Kurikulum Di Indonesia

Bab III PENUTUP


3.1 Kesimpulan

Reformasi Pendidikan 2
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang
yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban manusia di
dunia. Oleh sebab itu, hampir semua negara menempatkan variabel pendidikan
sebagai sesuatu yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa
dan negara. Begitu juga Indonesia menempatkan pendidikan sebagai sesuatu
yang penting dan utama. Hal ini dapat dilihat dari isi Pembukaan UUD 1945
alinea IV yang menegaskan bahwa salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia
adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satunya adalah perkembangan
reformasi pendidikan yang ada di indoneisa.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Dalam penulisan Makalah ini akan dirumuskan beberapa masalah antara lain
adalah sebagai berikut:
1. Apa itu Pengertian reformasi ?
2. Apa itu Syarat reformasi ?
3. Apa itu ciri- cirri reformasi?
4. Apa itu Pengertian pendidikan dan visi pendidikan?
5. Apa itu Ruang lingkup profesi kependidikan?
6. Apa Pengertian Reformasi Pendidikan?
7. Apa saja Ruang Lingkup Reformasi Pendidikan?
8. Alasan perlunya reformasi dalam dunia pendidikan?
9. Apa saja Gagasan Reformasi Pendidikan Dan Pembelajaran Di Indonesia?
?
10. Bagaimana
Pentingnya Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Reformasi Pendi
dikan?
11. Bagaimana Perubahan Kurikulum Di Indonesia?

1.3 TUJUAN
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk

1 Mengetahui itu Pengertian reformasi


2 Mengetahui Syarat reformasi

Reformasi Pendidikan 3
3 Mengetahui ciri- cirri reformasi
4 Mengetahui Pengertian pendidikan dan visi pendidikan
5 Mengetahui Ruang lingkup profesi kependidikan
6 Mengetahui Pengertian Reformasi Pendidikan
7 Mengetahui Ruang Lingkup Reformasi Pendidikan
8 Mengetahui Alasan perlunya reformasi dalam dunia pendidikan
9 Mengetahui Beberapa Gagasan Reformasi Pendidikan Dan Pembelajaran Di In
donesia
10 Mengetahui Pentingnya Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Reform
asi Pendidikan
11 Mengetahui Perubahan Kurikulum Di Indonesia

BAB 2

REFORMASI PENDIDIKAN

PROFESI DAN PENERAPANNYA DALAM DUNIA PENDIDIKAN

2.1 Pengertian Reformasi


Profesi dalam bahasa latin berarti pekerjaaan. Sedangkan menurut Kamus
besar bahasa Indonesia Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi
pendidikan keahlian (keterampilan di bidang tertentu)

Reformasi Pendidikan 4
Profesi mempunyai ciri-ciri yang diantaranya dalah:

1. Adanya pengetahuan khusus , yang biasanya keahlian dan keterampilan ini


dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun tahun.
2. Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi,hal ini biasanya setiap
profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
3. Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksanaan profesi
harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
4. Izin khusus untuk menjalankan profesi . setiap profesi akan selalu berkaitan
dengan kepentingan masyarakat, dimana nila-nilai kemanusiaan berupa
keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya.
5. Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi.

2.2 Profesi juga mempunyai syarat syarat yaitu:


1. Melibatkan kegiatan intelektual
2. Menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus
3. Memerlukan persiapan profesional yang alam dan bukan sekedar latihan
4. Memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan
5. Menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen
6. Mempunyai organisasi profesional yang terjalin kuat dan terjalin erat

2.3 ciri ciri profesi


2.3.1 Ciri-Ciri Profesi
1. Memiliki fungsi yang signifikansi sosial
2. Memiliki keahlian dan keterampilan tingkat tertentu
3. Memperoleh keahlian dan keterampilan melalui metode ilmiah
4. Memiliki batang tubuh disiplin ilmu tertentu
5. Studi dalam waktu lama di pergurun tinggi
6. Pendidikan ini juga merupakan wahana sosialisasi nilai-niai profesional di
kalangan mahasiswa/siswa yang mengikutinya
7. Berpegengan teguh kepada kode etik yang dikontrol oleh organisasi profesi
dengan sanki-sanki tertentu
8. Bebas memutuskan sendiri dalam memecahkan masalah berhubungan dengan
pekerjaannya.
9. Memberi layanan sebaik-baiknya kepada klien dan otonom dari campur
tangan pihak luar.
10. Mempunayi prestise yang tinggi di masyarakat dan berhak mendapat imbalan
yang layak.

Profesi ini sendiri secara umum sering dikaitan pada kependidikan dalam
UU No.2/2009, tentang sisdiknas maupun daLam UU No. 20/2003, tentang
sisdiknas tidak dikenal istilah profesi kependidikan. Kata profesi dalam kedua

Reformasi Pendidikan 5
undang undang itu dikenal untuk suatu gelar berasamaan dengan gelar akademik
dan vokasi. Dalam Undang-Undang tersebut menggunakan dua istilah sebagia
pengganti kata profesi yaitu pendidik atau tenaga kependidikan. Perihal pendidik
dan kependidikan diatur dalam bab XI UU No. 20/2003, tentang sisdiknas. Pasal
39 menyatakan bahwa:

1. Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan,


pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses
pendidikan pada satuan pendidikan.
2. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugaas merencanakan dan
melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian
kepada masyarakat , terutama bagi pendidik perguruan tinggi. Pada
penjelasannya disebutkan bahwa tenaga kependidikan meliputi pengelolaan
satuan pendidikan, penilik, pamong belajar, pengawas, penelitian,
pengembangan, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar.

Perihal pendidik, yaitu guru dan dosen, secara yuridis diakui sebagai
pekerjaan atau profesi yang profesional dalam UU No.14/2005, tentang Guru dan
Dosen. Pada bab 1 pasal 1 di nyatakan bahwa:

1. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama pendidik, mengajar,


membimbing,mengarahkan,melatih,menilai, dan mengevaluasi peserta didik
pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah.
2. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuan dengan tugas utama
menstransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan
pengabdian kepada masyarakat.

Sudah jelas bahwa ada identitas pfofesi yang melekat pada pekerjaan atau
profesi di dunia keguruan dan ilmu pendidikan. Dan terkait dengan definisi
profesioanl disinggung dalam UU No.14/2005, tentang guru dan dosen,
profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakuakn oleh seseorang yang
menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran

Reformasi Pendidikan 6
dan kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta
memerlukan pendidikan profesi (pasal 1 ayat 4).

2.4 Pengertian pendidikan dan visi pendidikan


definisi pendidikan (padagogie) diartikan oleh para tokoh pendidikan
sebagai berikut :
1. John dewey
Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental
secara intelektual dan emosional kearah dan sesama manusia.
2. SA.Bratanata dkk.
Pendidikan adalah usaha yang sengaja diadakan baik langsung maupun
dengan cara yang tidak langsung untuk membantu anak dalam perkembangan
kedewasaannya.
3. Ki Hajar Dewantara
Mendidik adalah menentukan segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-
anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi tingginya.

Pendidikan dalam arti luas adalah hidup. Pendidikan adalah segala


pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang
hidup. Pendidikan adalah situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan
individu.

Pendidikan dalam arti sempit adalah sekolah. Pendidikan adalah


pengajaran yang diselenggarakan disekolah sebagai lembaga pendidikan formal.
Pendidikan adalah pengaruh yang di upayakan sekolah terhadap anak dan remaja
yang diserahkan kepadanya agar mempunyai kemampuan yang sempurna dan
kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas-tugas sosial mereka.

Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai usaha pemberian informasi dan


bentuk keterampilan saja, namum diperluas sehingga mencangkup usaha untuk
mewujudkan keinginan,kebutuhan,dan kemampuan individu sehingga tercapai
pola hidup pribadi dan sosial yang memuaskan, pendidikan bukan semata mata
sebagai sarana untuk persiapan kehidupan yang akan datang, tetapi untuk
kehidupan anak sekarang yang sedang mengalami perkembangan menuju ke
tingkat kedewasaanya.

Reformasi Pendidikan 7
Pendidikan merupakan sistem terbuka, sebab tidak mungkin pendidikan
dapat melaksanakan fungsinya dengan baik bila ia mengisolasi diri dengan
lingkungannya. Fungsi pendidikan dalam arti mikro ialah membantu (secar sadar)
perkembangan jasmani dan rohani peserta didik. Fungsi pendidikan secara makro
ialah sebagai alat:

a. Pengembangan pribadi
b. Pengembangan warga negara
c. Pengembangan kebudayaan
d. Pengembangan bangsa

Pelaksanaan pendidikan selama ini banyak di warnai dengan pendekatan


sarwa negara (state driven) di masa yang akan datang harus berorientasi pada
aspirasi masyarakat (putting customer first). Pendidikan harus mengenali siapa
pelanggannnya (need asseeement). Setelah mengetahui aspirasi dan kebutuhan
mereka , baru ditentukan sistem pendidikan , macam kurikulumnya, dan
persyaratan pengajarannya.

Pendekatan sarwa negara mengakibatkan terjadinya sentralisasi sistem


pendidikan. Untuk masa depan, visi pendidikan tidak lagi berorientasi pada
sentralisasi kekuasaan, melainkan desentralisasi dan memberikan otonomi kepada
satuan dibawah atau kepada daerah. Berperannya masyarakat dalam bidang
pendidikan sekaligus menunjukkan bahwa negara bukan satu satunya
penyelenggara pendidikan. Desentralisasi dan otonomi pendidikan merupakan isu
masa depan yang harus di wujudkan dalam visi pendidikan di masa-masa yang
akan datang. Di masa depan demokrasi dalam bidang pendidikan harus menjadi
rujukan bagi praktik demokrasi di Indonesia. Kita harus mampu hidup dalam
suasana schooling and working in demoratic state, yang harus di tanamkan dari
pendidikan dasar.

Visi berikutnya yang perlu memperoleh perhatian ialah mereka meletakkan


information and technology, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dalam proses pendidikan. Hal ini berarti mulai dari tingkat pendidikan rendah
sampai ke perguruan tinggi merupakan jalur linier pendididkan, pengenalan,
pemahaman, dan pengalaman ilmu dan teknologi di lembaga pendidikan.

Reformasi Pendidikan 8
Dengan memperhatikan visi pendidikan masa depan tersebut dan juga
memperhatikan otonomi daerah , maka proses dan sistem pendidikan di negara
kita harus melakukan repositioning. Atau dengan kata lain, kita bisa
mempertahankan sistem lama yang telah ketinggalan dengan munculnya
paradigma baru pendidikan.

Perbandingan tentang pendidikan dari Undang-Undang Republik


Indonesia nomor 2 tahun 1989 tentang sisdiknas dengan Undang Undang
Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sisdiknas pada bab 1 di
ketentuan umum.

Tentang pendidikan di bab 1 ketentuan umum pada Undang Undang Republik


Indonesia nomor 2 tahun 1989 tentang sisdiknas:

1. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui


kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa
yang akan datang.
2. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa
indonesia dan yang berdasarkan pada pancsaila dan Undang-Undang Dasar
1945
3. Sistem pendidikan nasional adalah satu keseluruhan yang terpadu dari semua
satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan yang lainnya
untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan nasional.
4. Jenis pendidikan adalah pendidikan yang dikelompokan sesuai dengan sifat
dan kekhususan tujuannya.
5. Jenjang pendidikan adalah suatu tahap dalam pendidikan berkelanjutan yang
ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan para peserta didik serta
keluasan dan kedalaman bahan pengajaran.
6. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan
dirinya melalui proses pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan
tertentu.
7. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri
dalam penyelenggaaan pendidikan.
8. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang bertugas membimbing,
mengajar dan atau melatih peserta didik.

Reformasi Pendidikan 9
9. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan
bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan belajar mengajar.
10. Sumber daya pendidikan adalah pendukung dan penunjang pelaksanaan
pendidikan yang terwujud sebagai tenaga, dana, sarana dan prasarana yang
tersedia atau diadakan dan didayagunakan oleh keluarga, masyarakat, peserta
didik dan pemerintahan, baik sendiri-sendiri mupun bersamaan.
11. Warga negara adalah warga negara republik indonesia
12. Materi adalah materi yang bertanggung jawab atas bidang pendidikan
nasional.

Tentang pendidikan di bab 1 ketentuan umum pada Undang Undang Reublik


Indoensia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas:

1. Pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana


belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
2. Pendidikan nasioanal adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan
Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar
pada nilai-nilai agama. Kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap
tuntunan perubahan norma.
3. Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang
saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasioanl.
4. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan
potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan
jenis pendidikan tetentu.
5. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan
diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.
6. Pendidikan adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru,
dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilator, dan
sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya serta berpartisipasi dalam
menyelenggarakan pendidikan.

Reformasi Pendidikan 10
7. Jalur pendidikan adalah wahana yang di lalui peserta didik untuk
mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yanag sesuai
dengan tujuan pendidikan.
8. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan
tingkat perkembagan peserta didik, tujuan yang akan di capai, dan
kemampuan yang dikembangkan.
9. Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan
pendidikan suatu satuan pendidikan.
10. Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang
menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal
pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.
11. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang
yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan
tinggi.
12. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di alur pendidikan formal yang
dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
13. Pendidikan infomal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
14. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditunjukan
kepada anak sejak lahir dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui
pemberian rangsangan. Pendidikan untuk mebantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam
memasuki pendidikan lebih lanjut.
15. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpusat dari
pendidik dan pembelajaranya menggunakan berbagai sumber belajar melalui
teknologi komunikasi, infomasi, dan media lain.
16. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelengaraan pendidikan
berdasarkan keikhlasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi
masyarakat sebagai perwujudkan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat.
17. Standar nasioanal pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem
pendidikan diseluruh wilayah hukum negara kesatuan Republik Indonesia.
18. Wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus di ikuti oleh
warga negara indonesia atas tanggung jawab pemerintah pusat dan pemerintah
daerah.
19. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi,
dan bahan pelajaran serta cara di gunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Reformasi Pendidikan 11
20. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidikan sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar.
21. Evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjamin, dan penetapan
mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur,
jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban
penyelenggaraan pendidikan.
2.5 Ruang lingkup profesi kependidikan

Ruang lingkup profesi kependidikan dapat dikategorikan menjadi dua


kelompok, yaitu profesi pengajaran (teaching profession) yang dalam konteks
indonesia disebut tenaga pendidik, yaitu tenaga kependidikan yang berkualitas
sebagai guru, dosen, koselor, pamong belajar, tutor, instruktur, fasiltor, dan
lainnya, serta berpartisipasi dalam pendidikan, dan bukan pendidikan (non-
teaching proffesion), yaitu tenaga kependidikan terdiri atas sejumlah profesi yang
sebagian besar diantaranya memperoleh status profesi sebagai jabatan fungsional
dari pemerintahan.

Program pendidikan profesi sebagaimana dimaksut memiliki beban belajar


yang diatur berdasarakan persyaratan latar belakang bidang keilmuan dan satuan
pendidikan tempat penugasan dengan ketentuan sebagaimana berikut:

1. Beban belajar untuk menjadi guru pada satuan pendidikan Taman Kanak
Kanak (TK) atau Raudhatul Athfal (RA) atau Taman Kanak Kanak Luar Biasa
(TKLB) atau bentuk lain sederajat yang berlatar belakang S1 atau DIV
kependidikan untuk TK atau RA atau TKLB atau bentuk lain yang sederajat
adalah 18 sampai 20 satuan kredit semester.
2. Beban belajar untuk menjadi guru satuan pendidikan Sekolah Dasar (SD)atau
Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau Sekolah Dasar Laur Biasa (SDLB) atau bentuk
lain yang sederajat yang berlatar belakang S1 atau DIV kependidikan untuk
SD atau MI atau SDLB atau bentuk lain yang sederajat adalah 18 sampai
dengan 20 satuan kredit semester.
3. Beban belajar untuk menjadi guru pada satuan pendidikan TK atau RA atau
TKLB atau bentuk lain yang sederajat yang berlatar belakang S1 atau DIV
kependidikan selain untuk TK atau RA atau TKLB atau bentuk lain yang
sederajat adalah 36 sampai 40 satuan kredit semester.

Reformasi Pendidikan 12
4. Beban belajar untuk menjadi guru pada satuan pendidikan SD atau MI atau
SDLB dan bentuk lain yang sederajat yang berlatar belakang S1 atau DIV
kependidikan untuk SD atau MI atau SDLB atau bentuk lain yang sederajat
adalah 36 sampai dengan 40 satuan kredit semester.
5. Beban belajar untuk menjadi guru pada satuan pendidikan TK atau RA atau
TKLB atau bentuk lain yang sederajat pada satuan pendidikan SD atau MI
atau SDLB atau bentuk lain yang sederajat yang berlatar belakang sarjana
psikologi adalah 36 sampai dengan 40 satuan kredit semester.
6. Beban belajar untuk menjadi guru pada satuan pendidikan Sekolah Menengah
Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTS) atau Sekolah Menengah
Pertama Luar Biasa (SMPLB) atau bentuk lain yan sederajat dan satuan
pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah (MA) atau
Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) atau Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) atau Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) atau bentuk lain
yang sederajat, baik yang berlatar belakang S1 dan DIV non kependidikan
adalah 36 sampai dengan 40 satuan kredit semester.

Beban belajar diatur dalam kerangka dasar dan struktur kurikulum oleh
perguruan tinggi penyelenggara pendidikan profesi yang mengacu pada standar
nasional pendidikan. Muatan belajar pendidikan profesi pendidikan meliputi
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan
kompetensi profesional. Bobot muatan belajar disesuaikan dengan latar belakang
pendidikan dengan latar belakang pendidikan sbb:

1. Untuk lulusan program setara satu S1 atau DIV kependidikan dititik beratkan
pada penguatan kompetensi profesioanal.
2. Untuk lulusan program S1 atau DIV kependidikan dititik beratkan pada
pengembangan kompetensi pedagogik.

Beberapa profesi yang termasuk dalam ruang lingkup profesi kependidikan


dimaksud adalah antara lain:

1. Guru
UU NO. 202003, tentang sisdiknas ; UU NO 20/2005 tentang guru dan dosen;
PP No 74/2008 tentang guru, mendefinisikan guru sebagai pendidik profesional

Reformasi Pendidikan 13
dengan tugas utama mendidik,mengajar, membimbing, mengarahkan,melatih,
menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Profesi guru
dikukuhkan sebagai jabatan fungsional berdasarkan keputusan presiden No.
87/1999 tentang rumpun jabatan fungsional pegawai negeri sipil (PNS), dan
peraturan menteri negara pemberdayaan aparatur negara dan reformasi birokrasi
No. 16/2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya. Pengertian
fungsional guru adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup, tugas,
tanggung jawab, dan wewenag untuk melakukan kegiatan mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, meniali, dan mengevaluasi peserta didik
pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar,
pendidikan menengah sesuai dengan peraturan perundang undangan yang
diduduki oleh PNS.

2. DOSEN
UU No. 20/2003 tentang sisdiknas; UU No. 14/2005 tentang guru dan dosen;
PP No. 37/2009 tentang dosen, mendefinisikan dosen sebagai pendidik profesional
dan ilmuan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan
menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, melalui pendidikan,
penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Profesi dosen dikukuhkan sebagai
jabatan berdasarkan keputusan presiden No. 87/1999, tentang rumpun jabatan
fungsional pegawai negeri sipil (PNS), dan keputusan menteri negara koordinator
bidang pengawasan pembangunan dan pendayagunaan aparatur negara
(MENKOWASBANGPAN) No. 38/KEP/MK. WASPAN/8/1999 tentang jabatan
fungsional dan angka kreditnya, yang kemudian disempurnakan melalui peraturan
Men-PAN No. PER/60/M. PAN/6/2005. Dosen berkedudukan sebagai pejabat
fungsional dengan tugas utama mengajar pada perguruan tinggi.

3. Pengelolah satuan pendididkan


Sesuai dengan UU No. 20/2003 tentang sisdiknas; PP No. 17/2010 tentang
pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan; PP No. 66/2010 tentang terhadap
PP No. 17/2010, yang dimaksud dengan pengelolaan satuan pendidikan adalah
pemegang pengaturan kewenangan dalam penyelenggaraan system pendidikan
nasional, yaitu pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupten/kota,

Reformasi Pendidikan 14
penyelenggara pendidikan yang didirikan oleh masyarakat, dan satuan pendidikan
agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan
nasional. Dalam bahasa teknis, pengelola satuan pendidikan adalah para manager
dan birokrat penddikan, baik dalam lingkungan pemerintah maupun swasta.
4. Penilik
Profesi penilik dikukuhkan sebagai jabatan fungsional berdasarkan dengan
keputusan presiden No. 87/1999. Tentang rumpun jabatan fungsional pegawai
negeri sipil (PNS); dan berdasarkan materi negara pemberdayaan aparatur negara
dan reformasi birokrasi No. 14 tahun 2010 tentang jabatan fungsional penilik dan
angka kreditnya.penilik tenaga adalah tenaga kependidikan dengan tugas utama
melakukan kegiatan pengendalian mutu dan evaluasi dampak program pendidikan
anak usia dini, pendidikan kesetaraan dan keaksaraan, serta khusus pasa jalur
pendidikan non formal dan informal (PNFI). Jabatan fungsional adalah jabatan
fungsional yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab, dan wewenag
untuk melakukan kegiatan pengendalian mutu dan evaluasi dampak PAUD.

2.6 Pengertian Reformasi Pendidikan


Setelah di bahas sebelumnya tentang pendidikan, profesi, serta ruang
lingkup pofesi kependidikan maka tidak lepas dari kegiatan reformasi pendidikan
yang terjadi di indonesia saat ini. Reformasi memiliki arti memperbaiki,
membetulkan, menyempurnakan dengan membuat sesuatu yang salah menjadi
benar. Reformasi berimplikasi pada merubah sesuatu, menghilangkan yang tidak
sempurna menjadi lebih sempurna seperti melalui perubahan kebijakan
institusional. Sedangkan pendidikan adalah pengetahuan tentang mendidik.
Sehingga reformasi pendidikan merupakan upaya perubahan dalam lingkup
pendidikan. Reformasi pendidikan dapat diibaratkan sebagai pohon yang terdiri
dari empat bagian yaitu akar, batang, cabang, dan daunnya. Akar reformasi yang
merupakan landasan filosofi yang tidak bersumber dari cara hidup masyarakat.
Sebagai akarnya reformasi pendidikan adalah masalah setralisasi, disentralisasi,
masalah pemerataan mutu dan siklus politik pemerintahan setempat. Sebagai
batangnya adalah berupa mandat dari pemerintah dan standar standarnya tentang
struktur dan tujuannya. Cabang-cabang refomasi pendidikan adalah managemen
lokal, pemberdayaan guru, perhatian pada daerah setempat. Sedangkan daun daun
informasi pendidikan adalah keterlibatan orang tua peserta didik dan keterlibatan

Reformasi Pendidikan 15
masyarakat untuk menenetukan misi sekolah yang dapat di terima dan berniali
bagi masyarakat setempat. Berdasarkan perumpamaan tersebut dapat diketahui
bahwa dalam menjalankan reformasi pendidikan di indonesia harus dilaksanakan
secara bersama dengan melibatkan semua aspek dimulai dari pihak keluarga,
masyarakat, sekolah, serta pemerintahan yang saling berkesinambungan
menjalankan reformasi pendidikan yang ada sesuai dengan tujuan awal
dibentuknya reformasi pendidikan di indonesia.
2.7 Ruang lingkup reformasi pendidikan

1) Reformasi Pelaksanaan Sistem Pendidikan Nasional yang sedang


dilaksanakan oleh Kemdiknas mencakup:
1. Reformasi yang berorientasi pada perbaikan kondisi internal, yang
diistilahkan sebagai Reformasi Birokrasi.

2. Reformasi yang berorientasi pada perbaikan layanan kepada pihak


eksternal yang diistilahkan sebagai Reformasi Layanan.
2) Reformasi Birokrasi dilaksanakan dengan mengacu pada
PermenpanNo.15/2008 yang mengarahkan bahwa reformasi birokrasi harus
mencakup:
1. Penguatan Organisasi

2. Pembenahan Tata-laksana

3. Penataan dan Penguatan Sumber Daya Manusia


3) Reformasi Layanan Pendidikan dilaksanakan dengan bertumpu pada
pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi sehingga layanan dapat
diberikan darimana saja, kapan saja,dengan menggunakan media apa saja.

2.8 Alasan Perlunya Reformasi Dalam Dunia Pendidikan

Secara teoretis, pandangan filsafat proses-evolutif, bahwa kehidupan ini


berproses menuju pada penyempurnaan. Begitu pula dalam perkembangannya
pendidikan terus berproses. Salah satunya dalam hal kurikulum. Kurikulum
mestinya perlu dievaluasi bahkan dirubah dalam periode tertentu. Digulirkannya
Kurikulum Berbasis Kompetensi karena memang sudah menjadi kebutuhan dan
tuntutan zaman. Secara praktis, kenyataan bahwa pendidikan di Indonesia dewasa

Reformasi Pendidikan 16
ini mengalami banyak tantangan dan masalah. Di antaranya para lulusan (output)
yang tidak berkualitas dan kesejahteraan para tenaga kependidikan yang kurang
memadai. Maka reformasi Undang-Undang dan sistem pendidikan yang menjamin
peningkatan kualitas pendidikan tak dapat dihindari. Usaha-usaha reformasi
sistemik nampaknya sudah ada, misalnya dengan adanya UU Sisdiknas No. 20 thn
2003, dan RUU Guru dan Dosen, No, 14 thn 2005. Secara komprehensif-
managerial, reformasi pendidikan dan pengajaran dewasa ini menunut
pengembangan secara menyeluruh pada seluruh aspek manajemen pendidikan.
Bekembangnya pendidikan sebagai suatu sistem managemen apabila terjadi
pembaharuan-pembaharuan yang konstruktif dalam organisasi, struktur,
personalia, finansial, informasi, dan lingkungan.

2.9 Beberapa Gagasan Reformasi Pendidikan Dan Pembelajaran Di Indonesia


Pembelajaran hendaknya tidak lagi hanya menekankan segi kognitif
(misalnya Nilai Ebtanas Murni) yang lebih mengembangkan Intelligence
Quotient (IQ) tetapi juga kecerdasan secara majemuk, yakni Multiple 3
Intelligences :
1. Emotional Intelligences (EI)
2. Spiritual Intelligence (SI)
3. Adversity Qoutient (AQ)

Tujuan pendidikan harus menyeluruh yakni mengembangkan seluruh aspek


hidup dari para siswa. Begitu pula dalam pembelajaran guru tidak hanya jatuh
pada kecenderungan untuk mengembangkan segi kognitif saja. Karena bisa saja
orang pintar dan punya pengetahuan akan tetapi tidak punya integritas moral dan
kepribadian. Misalnya ia tahu bahwa korupsi tidak boleh dilakukan akan tetapi
tetap saja terjadi. Bisa saja orang memiliki kekayaan dan kemampuan manajerial
tentang meningkatkan kesejhateraannya, akan tetapi mereka memiliki kekosongan
tentang arti hidupnya. Dalam arti mereka tidak memiliki kemampuan spiritual
yang mendalam. Bisa saja orang memiliki pengetahuan, status dan kekayaan akan
tetapi tidak jarang terdengar mereka mati bunuh diri. Pembelajaran bukan lagi
menekankan keaktifan guru tetapi siswa yang aktif untuk mengembangkan diri
dan mengkonstruksi pengetahuan dan kehidupan mereka Pendidikan tidak lagi

Reformasi Pendidikan 17
secara sentralistik-otoriter tetapi pendidikan yang lebih desentralisasi, otonomi,
demokratis dan dialogal, serta global Pendidikan tidak lagi memperhatikan hasil
akhir tetapi sebagai proses yang memperkembangkan anak didik, maka kurikulum
bukan lagi berorientasi pada banyaknya materi tetapi memperhatikan konsep
dasar, tantangan zaman, dan juga kebutuhan local.

2.10 Pentingnya pengembangan sumber daya manusia dalam reformasi


pendidikan
Seperti yang kita ketahui bahwa keadaan pendidikan di Indonesia pada
masa sekarang masih sangat menghawatirkan sebab pendidikan di Indonesia saat
ini belum mampu membawa Indonesia keluar dari lingkaran krisis yang
berkepanjangan. Bukan saja hal itu, krisis moral jugamenjadi bagian yang
menambah deret persoalan yang di hadapai bangsa kita. Contohnya tawuran antar
pelajar, mencontek yang sudah di jadikan sebagai budaya di indonesia, dan lain
lain. Beradasarakan persoalan yang melanda dunia pendidikan tersebut, reformasi
pendidikan saat ini dituntut untuk dapat mamapu memperbaiki permasalahan
tersebut degan membentuk peserta didik menjadi sumber daya manusia yang
bermutu dan berdedikasi tinggi sehingga tidak semakin memperburuk kondisi
pendidikan Indonesia. Selain itu, dapat menciptakan sumber daya manusia yang
kreativ yang merupakan proses untuk menghasilkan sesuatu yang baru dari
elemen yang ada dengan menyusun kembali elemen tersebut. Dalam menciptakan
sumber daya pendidikan yang menghasilkan sumber daya manusia yang
berkualitas di butuhkan sumber daya pendidik. Ada dua metafora yang
menggambarkan tentang pentingnya pengembangan sumber daya pendidik, yang
pertama pendidik diibaratkan sebagai air, sumber air tersebut harus terus menerus
bertambah agar sungai dapat mengalirkan air terus menerus dan agar sungai tidak
kering, dengan perumpamaan tersebut pendidik harus lebih banyak menambah
ilmu pengetahuannya dengan informasi yang baru dan yang berkembang. Yeng
kedua yaitu, jabatan pendidik diumpamakan dengan sebatang pohon buah buahan.
Pohon itu tidak akan berbuah lebat dan bermutu tinggi jika tidak menyerap zat zat
makanan yang berfungsi bagi pertumbuhan pohon buah tersebut. Begitu juga
dengan tenaga pendidik yang perlu bertumbuh dan berkembang. Baik
pertumbuhan pribadi (personal growth) maupun pertumbuhan profesi

Reformasi Pendidikan 18
(proffesional growth), itulah sebabnya para tenaga pendidik harus terus menerus
belajar, membaca informasi yang terbaru serta mengembangkan ide-ide kreatif,
agar dapat menjadi tenaga pendidik yang berkualitas dan dapat menciptakan
proses belajar mengajar yang sesuai dengan sistem pendidikan yang ada, dan
menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi sesuai dengan era
globalisasi saat ini. Dan jika sudah berkualitas maka sangat mudah bagi bangsa
Indonesia untuk menjadi negara yang maju.

2.11 Perubahan kurikulum di indonesia

Tidak dapat di pungkiri pendidikan di Indonesia mengalami perubahan


disebabkan kurikulum yang berubah juga. Sebab kurikulum merupakan pedoman
dalam penyelenggaraan pendidikan. Sehingga jika kurikulum di Indonesia
berubah maka pendidikan di Indonesia juga akan berubah pula. Melihat dari
pengertian kurikulum itu sendiri, maka bisa dikatakan bahwa kurikulum
merupakan alat yang sagat penting bagi keberhasilan suatu pendidikan. Kurikulum
ibarat jantung pendidikan, jika jantung itu berfungsi baik maka keseluruhan badan
pun akan berfungsi dengan baik pula. Tanpa kurikulum yang sesuai dan tepat,
maka tujuan dan sasaran dari pendidikan sebagus apapun akan tetap sulit untuk
dicapai.
Adapun kurikulum itu bersifat dinamis. Kurikulum tidak bisa bersifat stagnan
karena kurikulum itu sendiri terkait erat dengan perubahan dan perkermbangan
yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara, serta tidak
terlepas dari pengaruh global, perkermbagan ilmu pengetahuan dan teknologi,
serta seni dan budaya, kurikulum akan terus menerus mengalami perubahan agar
suatu kurikulum mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah tanpa
dapat dicegah, dan untuk mempersiapkan peserta didik yang mampu bersaing di
masa depan dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam sejarah pendidikan Indonesia sudah beberapa kali mengalami
perubahan dan perbaikan kurikulum. Perubahan kurikulum tersebut didasari pada
kesadaran bahwa perkembangan dan perubahan yang terjadi menuntut perlunya
perbaikan sistem pendidikan nasional, termasuk penyempurnaan kurikulum untuk

Reformasi Pendidikan 19
mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan
perubahan.

1. Tahun 1947- leer plan ( Rencana pelajaran)


Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan mengunakan istilah
leer plan yang artinya rencana pelajaran. Kurikulum ini lebih bersifat politis
dimana terdapat perubahan orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan
Indonesia. Bentuknya memuat dua hal pokok( daftar nama pelajaran dan jam
pengajarannya), plus garis-garis besar pengajaran. Rencana pelajaran 1947
memberikan keutamaan pendidikan watak kesadaran bernegara dan
bermasyarakat, materi pelajaran di hubungkan dengan kejadian sehari-hari,
perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.

2. Tahun 1952- rencana pelajaran terurai

Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran dengan merinci silabus
setiap mata pelajaran. Yang menjadi ciri dalam kurikulum ini adalah setiap
pelajaran haus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan
sehari-hari.

3. Tahun 1964- rentjana pendidikan

Pokok pokok pikiran yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa
pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik
untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran pada program
pancawhardana yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik,
keprigelan, dan jasmani.

4. Tahun 1968- kurikulum 1968

Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari kurikulum 1964, yaitu


dilakukannnya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari pancawhardana
menjadi pembinaan jiwa pancasila,pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.
Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada
pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

Reformasi Pendidikan 20
Kurikulum ini merupakan kurikulum terintegrasi pertama. Beberapa mata
pelajaran, seperti sejarah, ilmu bumi, dan beberapa cabang ilmu sosial
mengalalami fusi menjadi ilmu pengetahuan sosial. Beberapa mata pelajaran,
seperti ilmu hayat, ilmu pengetahuan alam, dan sebagainya mengalami fusi
menjadi pengetahuan alam (IPA) atau yang di sebut dengan sains.

5. Tahun 1975 – kurikulum 1975

Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien


“yang melatar belakangi adalah pengaruh konsep dibidang manajemen, yaitu
MBO (management by objective) yang terkenal saat itu. Metode, materi, tujuan
pengajaran dirinci dalam prosedur pengembangan sistem intruksional (PPSI).
Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan
bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi : petunjuk umum, tujuan intruksional
khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar , dan
evaluasi. Pada kurikulum 1975 guru dibuat sibuk dengan berbagai catatan
kegiatan belajar mengajar.

6. Tahun 1984 – kurikulum 1984

Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan


pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering
disebut ”kurikulum 1975 yang disempurnakan”.posisi siswa ditempatkan sebagai
subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga
melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau student
active learning (SAL).

7. Tahun 1994 dan 1999 – kurikulum 1994 dan suplemen kurikulum 1999

Kurikulum 1994 lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum


sebelumnya yaitu mengkombinasikan antara kurikulum 1975 yag berorientasi
tujuan dan pendekatan proses yang dimiliki kurikulum 1984. Beban belajar siswa
dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hinggal lokal. Materi muatan lokal
disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah
kesenian.

Reformasi Pendidikan 21
8. Tahun 2004 – kurikulum berbasis kompetensi

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).setiap pelajaran diurai berdasar


kompetensi yang harus dicapai siswa. Kurikulum ini cenderung sentralisme
pendidikan, kurikulum disusun oleh tim pusat secara rinci ; Daerah/sekolah hanya
melaksanakan. Kurikulum yang tidak disahkan oleh keputusan/peraturan menteri
pendidikan ini mengalami banyak perubahan dibandingkan kurikulum sebelumnya
baik dari orientasi, teori-teori pembelajaran pendukungnya bahkan jumlah jam
pelajaran dan durasi tiap jam pelajarannya.

9. Tahun 2006- kurikulum tingkat satuan pendidikan

Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan. Muncullah kurikulum tingkat satuan


pendidikan. Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi
pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan
kurikulum 2004. Perbedaan yang paling menonjol pada kurikulum ini adalah lebih
kontrukstif sehingga guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan
pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi siswa
berada. Hal ini disebabkan karangka dasar (KD), Standar kompetensi lulusan
(SKL), standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran
untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan
Nasional.

Dampak reformasi pendidikan dengan perubahan kurikulum membuat


perubahan paradigma dalam proses pembelajaran yang tadinya berpusat pendidik
(teacher center ) menjadi pembelajarn yang berpusat pada peserta didik (student
center).

Dalam metode pembelajaran inkuiri ini , peserta didik diharapkan untuk lebih
inovatif. menurut Dyer dkk, dalam membentuk keterampilan inovatif meliputi :

1. Observasi
2. Bertanya
3. Melakukan percobaan
4. Membangun jaringan

Reformasi Pendidikan 22
Menggunakan metode pembelajaran inkuiri dalam proses pembelajaran maka
transisi teacher center dan student center dapat berjalan sesuai tujuan reformasi
pendidikan saat ini.

10. Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 mendefinisikan standar kompetensi lulusan (SKL) sesuai


dengan yang seharusnya, yakni sebagai kriteria mengenai kualifikasi kemampuan
kelulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan, acuan dan
prinsip negara yang demokratis serta tanggung jawab. Berdasarkan pada landasan
yuridis penyusun kurikulum 2013 mengacu pada pasal 36 Undang Undang No. 20
tahun 2003, yang menyatakan bahwa penyusunan kurikulum harus
memperhatikan peningkatan iman dan takwa, peningkatan ahlak mulia,
peningkatan potensi, kecerdasan dan minat peserta didik, keragaman potensi
daerah dan lingkungan, tuntutan pembangunan daerah dan nasional, tuntutan
dunia kerja, perkembagan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, agama, dinamika
perkembangan global, dan persatuan nasional dan nilai nilai kebangsaan.

BAB 3

Kesimpulan

Reformasi memiliki arti memperbaiki, membetulkan, menyempurnakan


dengan membuat sesuatu yang salah menjadi benar. Reformasi berimplikasi pada
merubah sesuatu, menghilangkan yang tidak sempurna menjadi lebih sempurna
seperti melalui perubahan kebijakan institusional. Sedangkan pendidikan adalah
pengetahuan tentang mendidik. Sehingga reformasi pendidikan merupakan upaya
perubahan dalam lingkup pendidikan. Reformasi pendidikan dapat diibaratkan
sebagai pohon yang terdiri dari empat bagian yaitu akar, batang, cabang, dan
daunnya. Akar reformasi yang merupakan landasan filosofi yang tidak bersumber
dari cara hidup masyarakat. Sebagai akarnya reformasi pendidikan adalah masalah
setralisasi, disentralisasi, masalah pemerataan mutu dan siklus politik
pemerintahan setempat. Sebagai batangnya adalah berupa mandat dari pemerintah

Reformasi Pendidikan 23
dan standar standarnya tentang struktur dan tujuannya. Cabang-cabang refomasi
pendidikan adalah managemen lokal, pemberdayaan guru, perhatian pada daerah
setempat. Sedangkan daun daun informasi pendidikan adalah keterlibatan orang
tua peserta didik dan keterlibatan masyarakat untuk menenetukan misi sekolah
yang dapat di terima dan berniali bagi masyarakat setempat. Berdasarkan
perumpamaan tersebut dapat diketahui bahwa dalam menjalankan reformasi
pendidikan di indonesia harus dilaksanakan secara bersama dengan melibatkan
semua aspek dimulai dari pihak keluarga, masyarakat, sekolah, serta pemerintahan
yang saling berkesinambungan menjalankan reformasi pendidikan yang ada sesuai
dengan tujuan awal dibentuknya reformasi pendidikan di indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

B Hamzah.2007. Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Hasan, Fuad. 2010. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka cipta.

Lakstiko, Runtuwene.2012. Kebijakan Reformasi Pendidikan Di


Indonesia.jakarta:

Rineka cipta.

Sagana, Syaiful. 2003. Konsep dan makna pembelajaran.Bandung: Alfabeta.

Suparno,Paul Sj.2002. Reformasi Pendidikan Sebuah Rekomendasi.Yogyakarta :

Kanisius

Reformasi Pendidikan 24
Wiyono, Ketang.2015. Profesi Pendidikan.Universitas Sriwijaya. Indralaya.

Wiyono, Ketang.2014. Belajar dan Pembelajaran.Universitas Sriwijaya.


Indralaya.

Kemendiknas 2010. Reformasi Pelaksanaan Sistim Pendidikan Nasional.

Reformasi Pendidikan 25