Anda di halaman 1dari 13

I.

TUJUAN

1. Menghitung debit actual (Qaktual) suatu aliran


2. Menentukan hubungan perubahan waktu (x) terhadap debit air
3. Menentukan hubungan volume air terhadap debit air actual
4. Menentukan hubungan volume air terhadap waktu
5. Mengetahui penerapan Hydraulic Bench didalam bidang Infrastuktur
Lingkungan

II. PRINSIP PERCOBAAN

Hydraulic Bench adalah alat yang digunakan sebagai tempat sumber air
dan pengaturan aliran air agar dapat diketahui debit actual aliran tersebut.
Debit actual memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan dengan debit
teoritis. Mekanisme yang digunakan pada alay Hydraulic Bench adalah
prinsip tuas keseimbangan. Hydraulic Bench dilengkapi dengan tuas yang
menghubungkan beban dengan bak penampugan debit air. Tuas tersebut
dapat bergerak naik turun berdasarkan massa beban dan debit yang
mengalir, apabila tuas tersebut berada pada ketinggian seimbang setelah
diberi beban, maka massa debit air adalah tiga kali massa beban.
Perbandingan ini diperoleh dari perbandingan antara lengan Hydraulic
Bench yang diletakkan beban (1 panjang lengan) dengan lengan keseluruhan
(3 panjang lengan).

III. TEORI DASAR

Hydraulic bench adalah alat yang digunakan sebagai tempat sumber air
dan pengatur aliran air agar kita tahu debit aliran tersebut. Debit yang
dihitung dalam percobaan adalah debit aktual. Dan biasanya hasilnya debit
aktual lebih kecil dari pada debit teoritis. Hydraulic bench dilengkapi
dengan tuas yang menghubungkan beban dengan bak penampungan debit
air. Tuas tersebut dapat bergerak naik-turun berdasarkan massa beban dan
debit yang mengalir, apabila tuas tersebut berada pada ketinggian
seimbang setelah diberi beban, maka massa debit air tiga kali massa beban.
Hydraulic bench merupakan alat untuk menghitung debit aktual. Cara
kerjanya adalah dengan mengalirkan air dalam suatu debit tertentu kedalam
pipa terbuka alat ini. Setelah air dalam pipa berada pada debit yang stabil,
air akan terus melaju menuju bak penampungan air. Bak penampungan air
saat kosong beratnya sama dengan beban penahan yang ada di sebelahnya.
Air akan masuk kedalam bak penampungan air tersebut. Setelah bak terisi
air melebihi beban penahan, beban akan terangkat. Saat itu perhitungan
waktu dimulai.

Sumber : http://discoverarmfield.com/en/products/view/s16/hydraulic-flow-demonstrator
Gambar 3.1 Hydraulic Bench

Sumber:https://dokumen.tips/documents/hydraulic-bench-55b111a5c31ec.html
Gambar 3.2 Bagian-bagian Hydraulic Bench
Keterangan bagian bagian hydraulic bench:

 Pompa : untuk mengalirkan air ke dalam pipa


 Kran pengatur debit : kran ini digunakan untuk mengatur debit air
yang diinginkan dalam percobaan, tetapi kran ini tidak memiliki
skala.
 Pipe : Pipa untuk menyalurkan air menuju bak penimbangan. Pipa
berwarna bening untuk mengetahui apakah debit sudah stabil saat
waktu mulai dihitung
 Drain pipe : Drain pipe digunakan untuk mengalirkan air dari pipa
menuju bak penimbangan air.
 Measuring tank : digunakan untuk menimbang banyaknya air yang
dihasilkan oleh debit tersebut
 Lower tank : menampung air yang dibuang dari bak penimbangan
melalui drain valve, untuk kemudian di gunakan kembali dalam
proses pengaliran air melaluui pipa
 Drain valve : untuk membuang air dari bak penimbangan
 Power cut of switch : untuk menyalakan dan mematikan hydraulic
bench
 Bench supply valve : untuk membuka dan menutup drain valve
 Weight beam : untuk meletakan beban penahan bak penimbangan ai

Fluida yang digunakan dalam Hydraulic Bench adalah sama dimana


memenuhi persamaan kontinuitas dan persamaan aliran fluida (debit)
sebagai berikut :
Q1=Q2
A1.v1 = A2.v2
Massa air =  air . volume air
Volume air = Qaktual . t rata-rata
V air M air 3.𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛
Sehingga, Q aktual = t rata−rata = ρ air .t rata−rata = ρ air .t rata−rata

Keterangan :

Q = debit aliran (m3/s) v = kecepatan fluida mengalir (m/s)

V = Volume fluida yang masuk (m3) A = luas penampang pipa (m2)

t = waktu yang diperlukan untuk mencapai kondisi tertentu (s)

IV. DATA AWAL


Suhu awal : 25oC
Suhu akhir : 26oC
Suhu rata-rata : 25,5oC
Massa beban : 2,5 kg

Tabel 4.1 Data temperature terhadap massa jenis air


Temperatur/Suhu (oC) Massa jenis (kg/m3)
0 999.9
5 1000
10 999.7
20 998.2
30 995.7
40 992.2
50 988.1
60 983.2
70 977.8
80 971.8
90 965.3
100 958.4
1010
Massa jenis (kg/m3)
1000
Massa Jenis (kg/m3)
990

980

970

960 y = -0.0036x2 - 0.0685x + 1000.5


R² = 0.9993
950
0 20 40 60 80 100 120
Suhu (oC)
Grafik 4.1 Hubungan antara massa jenis air dan suhu

Berdasarkan grafik suhu terhadap massajenis air tersebut diperoleh


persamaan :
Y = -0,0036x2 – 0,0685x + 1000,5
Dimana factor x adalah sushu dan factor y adalah massa jenis air. Sehingga,
massa jenis air (  ) air pada suhu 25,5oC yaitu :
Massa jenis = -0,0036 (25,5)2 – 0,0685 (25,5) + 1000,5
= -2,3409 – 1,74675 + 1000,5
= 996,412 kg/m3

Tabel 4.2 Data yang diperoleh dari percobaan


Variasi t (s)
debit air t1 t2 t3 trata-rata
1 27,68 31,44 35,12 31,41
2 45,28 50,87 45,65 47,27
3 112,75 104,03 113,40 110,06
V. PENGOLAHAN DATA
 Massa air = 3 x massa beban
= 3 x 2,5 kg
= 7,5 kg
 Volume air = massa air /  air
= 7,5 kg / 996,412 kg/m3
= 7,527 x 10-3m3
= 7,527 x 10-3 m3
 Q aktual = Volume air / t rata-rata
Q1 = 7,527 x 10-3 m3/ 31,41 s
= 2,396 x 10-4 m3/s

Q2 = 7,527 x 10-3 m3/ 47,27 s


= 1,592 x 10-4 m3/s

Q2 = 7,527 x 10-3 m3/ 110,06 s


= 6,839 x 10-5 m3/s

VI. DATA AKHIR


Berdasarkan data awal yang diperoleh dari hasil percobaan dan data dari
hasil pengolahan data, diperoleh data akhir yaitu :
Tabel 6.1 Hasil perhitungan debit actual dengan Hydraulic bench
Massa Air
Variasi t rata-rata (s) Q actual Hydraulic bench (m3/s)
(kg)
1 7,5 31,41 2,396 x 10-4
2 7,5 47,27 1,592 x 10-4
3 7,5 110,06 6,839 x 10-5

VII. ANALISA A
Pada percobaan modul 01 ini digunakan alat bernama Hydraulic bench
sebagai wadah sumber air yang akan dihitung debit aktualnya. Variasi debit
air pada percobaan ini dilakukan sebanyak tiga kali. Penggunaan alat
Hydraulic bench yaitu dengan cara menyalakan pompa atau kran air terlebih
dahulu, lalu air akan mengalir menuju measuring tank yang mempunyai
drain valve untuk mengeluarkan air. Tutup measuring tank agar air yang
mengalir tertampung di dalamnya dan waktu dihitung saat beban terangkat
hingga beban turun ke garis atau posisi seimbang. Penghitungan waktu ini
dilakukan sebanyak tiga kali untuk setiap variasi debit. Hal ini diharapkan
dapat memperkecil tingkat kesalahan yang diperoleh.

Sumber:https://dokumen.tips/documents/hydraulic-bench-55b111a5c31ec.html
Gambar 3.2 Bagian-bagian Hydraulic Bench

Prinsip yang digunakan oleh alat hydraulic bench bekerja dengan


prinsip bahwa massa air sama dengan 3 kali massa beban. Perbandingan ini
didapatkan dari perbandingan lengan beban yang ada dengan lengan
keseluruhann di hydraulic bench tersebut.

Pada praktikum ini diketahui bahwa LB : LA = 3 : 1, sehingga:

𝑀𝐵 𝐿𝐴
= 𝑠𝑒ℎ𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎 𝑀𝐴 = 3 𝑀𝐵
𝑀𝐴 𝐿𝐵

Dari table dan grafik kerapatan terhadap suhu, dapat disimpulkan


bahwa temperature memiliki hubungan dengan kerapatan, dimana semakin
tinggi temperatur air maka kerapatannya pun semakin kecil. Hal ini
disebabkan karena adanya penambahan volume air yang digunakan
sehingga membuat kerapatan air semakin kecil. Maka, semakin tinggi
temperature juga menyebabkan nilai debit juga meningkat.
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil percobaan dan hasil
pengolahan data, terdapat beberapa variable lain yang dapat dianilisis
hubungannya. Diantaranta yaitu hubungan antara debit air dengan waktu,
hubungan volume air terhadap debit air, dan hubungan volume air terhadap
waktu.

Mencari Volume air (fluida) dengan:


V air = Qaktual x t rata-rata

Tabel 8.1 Perhitungan Volume fluida


t rata-rata (s) Q aktual (m3/s) Volume Fluida (m)

31,41 2,396 x 10-4 75,25836x 10-4

47,27 1,592 x 10-4 75,25384x 10-4

110,06 6,839 x 10-5 75,270034x 10-5

a. Hubungan waktu terhadap debit air


Grafik 8.1 Hubungan antara waktu terhadap debit air
3

2
Debit (m3/s)

1
y = -0.0197x + 2.7963
1 R² = 0.9145

0
0 20 40 60 80 100 120
waktu (s)

Berdasarkan rumus :

𝑉 𝑎𝑖𝑟
𝑄𝑎𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙 =
𝑡 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎
Diperoleh bahwa hubungan antara waktu terhadap debit yaitu berbanding
terbalik. Pernyataan ini berarti bahwa apabila waktu yang dibutuhkan untuk
mencapai kesetimbangan besar, maka debit dari aliran tersebut kecil.
Berdasarkan data yang telah diubah menjadi garfik diatas, didapatkan nilai
gradien negatif dari hasil regresi. Itu membuktikan bahwa adanya
perbandingan yang negatif (terbalik) antara sumbu y (debit) dan sumbu x
(waktu). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh dari
percobaan tersebut sama dan memenuhi persamaan debit, dimana adanya
perbandingan terbalik.

b. Hubungan volume terhadap debit air

Grafik 8.2 Hubungan antara volume aair terhadap debit air


0.00035

0.0003

0.00025
Debit (m3/s)

0.0002

0.00015

0.0001

0.00005

0
0.007524 0.0075398
Volume (m3)

Berdasarkan rumus Q = V / t dapat diketahui bahwa adanya hubungan


perbandingan lurus antara debit dengan volume. Berdasarkan rumus
tersebut, apabila volume diperbesar maka debit juga akan ikut membesar
atau bertambah. Namun, pertambahan debit ini tidak hanya dipengaruhi oleh
volume saja, tetapi dipengaruhi juga oleh luas penampang alat yang
mengairkan air tersebut serta kecepatan aliran itu sendiri. Hal tersebut sesuai
dengan rumus debit yang juga dipengaruhi oleh kecepatan dan luas
penampang yaitu Q = v.A.
Pada praktikum ini terdapat perbedaan, dimana variasi kecepatan
dilakukan namun dalam volume yang sama. Hal ini dapat dilihat melalui
grafik 8.2 maupun pada pengolahan data. Sehingga, dikarenakan tidak
terdapat variasi volume air menyebabkan grafik yang terbentuk yaitu hanya
garis vertical lurus keatas.

c. Hubungan antara volume dan waktu

Grafik 8.3 Hubungan antara volume air terhadap waktu


0.0075398
Volume air (m3)

0.007524
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (s)

Berdasarkan rumus V = Q.t iperoleh hubungan berbanding lurus antara


volume dan waktu, yang berarti jika waktu diperbesar maka volume akan
menjadi besar. Dari hasil percobaan yang telah diplotkan ke grafik,
diperoleh persamaan garis dengan gradien positif yang artinya adanya
perbandingan positif (berbanding lurus) antara sumbu x dan sumbu y.
Namun pada percobaan di atas, besarnya volume konstan dalam setiap
percobaan. Ini dikarenakan persamaan perlakuan dari variasi-variasi debit
yaitu menggunakan beban 2,5 kg pada Hydraulic Bench, maka volume air 3
kali berat beban adalah 7,5 kg.
Selama praktikum terdapat beberapa kesalahan yang mungkin saja
dapat terjadi sehingga akan mempengaruhi keakuratan hasil yang diperoleh.
Contohnya yaitu kesalahan dalam pengukuran suhu awal dan akhir dari
fluida yang akan berpengaruh kedalam nilai dari massa jenis fluida. Selain
itu kesalahan dalam kesigapan meletakkan beban saat tuas Hydraulic bench
sudah naik sehingga hal tersebut akan berpengaruh kepada waktu sampai
mencapai keseimbangan. Selain itu, kesigapan dalam menghentikan atau
menjalankan stopwatch yang kurang akan menyebabkan hasil yang
diperoleh menjadi jauh perbedaannya sehingga kekauratannya berkuarang.
Terdapat perbedaan antara debit aktual (Q aktual) dengan debit teoritis
(Q teoritis). Perbandingan Q aktual dengan Q teoritis disebut dengan Cd atau
koefisien discharge. Q aktual didapatkan dari hasil percobaan dengan
menghitung volume air dan waktu. Perhitungan volume dipengaruhi oleh
temperatur air saat percobaan. Temperatur air yang diukur berbeda saat awal
dan akhir percobaan, sehingga dalam perhitungan digunakan temperatur
rata-rata. Selain itu, hal yang membedakan nilai Q actual dengan Q teoritis
yaitu adanya Headloss. Karena pada kenyataannya fluida ideal itu tidak ada.

VIII. ANALISA B
Contoh-contoh aplikasi Hydraulic bench pada bidang Infrastruktur
Lingkungan yaitu diantaranya :
1. Hydraulic Bench merupakan alat untuk skala laboratorium untuk
pengukuran kecepatan maupun debit sederhana secara teoritis. Hyraulic
bench biasanya dihubungkan langsung ke alat-alat fluida lainnya seperti
venturi meter, orificemeter, rotameter,dll.

2. Dalam dunia teknik lingkungan khususnya pengolahan limbah, Hidraulic


Bench merupakan alat pembanding seberapa telitinya debit limbah yang
dialirkan dari suatu aliran secara aktual bila dibandingkan dengan hasil
perhitungan secara teoritis. Jadi, Hydraulic bench mendasari seberapa
akuratnya antara yang ditemui di lapangan dengan hasil yang kita
perhitungkan secara teoritis atau dapat dikatakan juga alat penguji yang
sederhana.
3. Hydraulic Bench juga dapat digunakan dalam mendesain alat ukur debit
PDAM agar dapat diketahui debit maksimum dan minimumnya dan dengan
begitu dapat diketahui berapa banyak pasokan yang digunakan konsumen
agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hydraulic bench ini digunakan
pada reservoir.

IX. KESIMPULAN
Percobaan modul ini bertujuan untuk mengetahui debit actual suatu
fluida dengan menggunakan tiga variasi kecepat yang berbeda pada alat
Hydraulic bench sehingga diperoleh beberapa waktu yang berbeda-beda
untuk selanjutnya diolah untuk mendapatkan nilai debit actual.
Tabel 9.1 Data debit actual setiap variasi kecepatan

Variasi Q aktual (m3/s)


2,396 x 10-4
1
1,592 x 10-4
2
6,839 x 10-5
3

Berdasarkan hasila analisis dari rumus, diperoleh hubungan antara


waktu terhadap debit ar yaitu berbanding terbalik, hubungan antara volume
air terhadap debit air berbanding lurus, dan hubungan antara volume air
terhadap waktu juga berbanding lurus. Namun, hubungan tersebut tidak
hanya berdasarkan rumus Q = V/t tetapi juga berdasarkan kecepatan aliran
dan luas penampang aliran yaitu Q = v.A.

Percobaan kali ini dapat di aplikasikan di berbagai alat ukur seperti


venturimeter, rotameter, orifacemeter lalu dapat diaplikasikan pada alat ukur
PDAM untuk pengukuran headloss yang digunakan dalam sistem
pengolahan air minum, pada turbin reaksi, turbo pump dan turbo blower.

X. DAFTAR PUSTAKA
 www.academia.edu/5136379/HUKUMBERNOULLI Diakses pada
2 Oktober 2017
 www.academia.edu/6427305/Vikositas Diakses pada 3 Oktober 2017
 http://www.ocean.itb.ac.id/wp-
content/uploads/2016/10/50639_Modul-Mekflu.pdf Diakses pada 3
Okttober 2017