Anda di halaman 1dari 16

Sejarah Lengkap Kerajaan Majapahit, History of The Kingdom of Majapahit.

Dalam perkembangan sejarah Indonesia, Kerajaan Majapahit dikatakan berperan penting


dalam penyatuan Nusantara. Majapahit merupakan kerajaan besar yang disegani banyak negara
asing dan membawa keharuman nama Indonesia sampai jauh di luar wilayah Indonesia. Namun
demikian, pada hakikatnya sejarah Majapahit menerima unsur-unsur politik, ekonomi, sosial,
budaya dari Singasari. Bahkan Kerajaan Majapahit dapat disebut sebagai kelanjutan dari Kerajaan
Singasari.

Asal Usul Kerajaan Majapahit.

Majapahit (Sanskerta: सम्राट सूची, Vilvatikta) adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa
Timur, Indonesia, yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini
mencapai puncak kejayaannya menjadi kemaharajaan raya yang menguasai wilayah yang luas di
Nusantara pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389.
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Nusantara
dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia.Menurut
Negarakertagama, kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan,
hingga Indonesia timur, meskipun wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan. Sebelum
berdirinya Majapahit, Singhasari telah menjadi kerajaan paling kuat di Jawa. Hal ini menjadi
perhatian Kubilai Khan, penguasa Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan yang bernama
Meng Chi ke Singhasari yang menuntut upeti. Kertanagara, penguasa kerajaan Singhasari yang
terakhir menolak untuk membayar upeti dan mempermalukan utusan tersebut dengan merusak
wajahnya dan memotong telinganya. Kubilai Khan marah dan lalu memberangkatkan ekspedisi
besar ke Jawa tahun 1293.

Ketika itu, Jayakatwang, adipati Kediri, sudah menggulingkan dan membunuh Kertanegara.
Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya,
menantu Kertanegara, yang datang menyerahkan diri. Kemudian, Wiraraja mengirim utusan ke
Daha, yang membawa surat berisi pernyataan, Raden Wijaya menyerah dan ingin mengabdi
kepada Jayakatwang. Jawaban dari surat di atas disambut dengan senang hati. Raden Wijaya
kemudian diberi hutan Tarik. Ia membuka hutan itu dan membangun desa baru. Desa itu dinamai
Majapahit, yang namanya diambil dari buah maja, dan rasa "pahit" dari buah tersebut. Ketika
pasukan Mongol tiba, Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongol untuk bertempur melawan
Jayakatwang. Setelah berhasil menjatuhkan Jayakatwang, Raden Wijaya berbalik menyerang
sekutu Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya secara kalang-
kabut karena mereka berada di negeri asing.
Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir mereka untuk menangkap angin muson agar dapat
pulang, atau mereka terpaksa harus menunggu enam bulan lagi di pulau yang asing.

Pendirian Kerajaan Majapahit.

Tanggal pasti yang digunakan sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit adalah hari
penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yaitu tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 saka yang
bertepatan dengan tanggal 10 November 1293. Ia dinobatkan dengan nama resmi Kertarajasa
Jayawardhana. Kerajaan ini menghadapi masalah. Beberapa orang terpercaya Kertarajasa,
termasuk Ranggalawe, Sora, dan Nambi memberontak melawannya, meskipun pemberontakan
tersebut tidak berhasil. Pemberontakan Ranggalawe ini didukung oleh Panji Mahajaya, Ra Arya
Sidi, Ra Jaran Waha, Ra Lintang, Ra Tosan, Ra Gelatik, dan Ra Tati. Semua ini tersebut disebutkan
dalam Pararaton. Slamet Muljana menduga bahwa mahapatih Halayudha lah yang melakukan
konspirasi untuk menjatuhkan semua orang tepercaya raja, agar ia dapat mencapai posisi tertinggi
dalam pemerintahan. Namun setelah kematian pemberontak terakhir (Kuti), Halayudha ditangkap
dan dipenjara, dan lalu dihukum mati. Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309.

Putra dan penerus Wijaya adalah Jayanegara. Pararaton menyebutnya Kala Gemet, yang
berarti "penjahat lemah". Kira-kira pada suatu waktu dalam kurun pemerintahan Jayanegara,
seorang pendeta Italia, Odorico da Pordenone mengunjungi keraton Majapahit di Jawa. Pada tahun
1328, Jayanegara dibunuh oleh tabibnya, Tanca. Ibu tirinya yaitu Gayatri Rajapatni seharusnya
menggantikannya, akan tetapi Rajapatni memilih mengundurkan diri dari istana dan menjadi
bhiksuni. Rajapatni menunjuk anak perempuannya Tribhuwana Wijayatunggadewi untuk menjadi
ratu Majapahit. Pada tahun 1336, Tribhuwana menunjuk Gajah Mada sebagai Mahapatih, pada
saat pelantikannya Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang menunjukkan rencananya
untuk melebarkan kekuasaan Majapahit dan membangun sebuah kemaharajaan. Selama kekuasaan
Tribhuwana, kerajaan Majapahit berkembang menjadi lebih besar dan terkenal di kepulauan
Nusantara. Tribhuwana berkuasa di Majapahit sampai kematian ibunya pada tahun 1350. Ia
diteruskan oleh putranya, Hayam Wuruk.
Letak Geografis Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Majapahit berawal dari sebidang tanah yang dihadiahkan oleh Jayakatwang
kepada Raden Wijaya. Hadiah itu diberikan setelah Raden Wijaya mendapat pengampunan
jayakatwang atas bantuan Bupati Sumenep Arya Wiraraja. Tanah yang diberikan kepada raden
Wijaya itu bernama tanah Trik (tanah Tarik). Ditanah trik itu Raden Wijaya mempersiapkan
berdirinya Kerajaan Majapahit. Dalam waktu singkat Majapahit berhasil menguasai wilayah Jawa
Timur. Selanjutnya Majapahit berkembang menjadi penguasa seluruh wilayah Nusantara.

Sumber - Sumber Sejarah Majapahit.


Sumber Sejarah keberadaan Majapahit berasal dari berbagai sumber. Diantaranya sebagai berikut :

 Prasasti Butak (tahun 1292), yang dikeluarkan Raden Wijaya setelah berhasil naik tahta
kerajaan. Prasasi itu memuat peristiwa reruntuhan Singasari dan perjuangan Raden Wijaya
untuk mendirikan Majapahit.

 Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijayakrama, yang menceritakan Raden Wijaya
ketika menghadapi musuh dari Kediri dan tahun-tahun awal perkembangan Majapahit.

 Kitab Pararaton, yang menceritakan tentang pemerintahan raja-raja Singasari dan


Majapahit.

 Negarakertagama, yang menceritakan tentang perjalanan Hayam Wuruk ke jawa timur.

Kehidupan Sosial Kerajaan Majapahit.

Kehidupan sosial masyarakat Majapahit tidak jauh berbeda dengan kehidupan sosial
masyarakat pada zaman Singasari. Hal ini karena Majapahit merupakan kelanjutan dari Kerajaan
Singasari. Namun demikian, kehidupan sosial masyarakat Majapahit terus dikembangkan. Bahkan
dalam masyarakat Majapahit telah terdapat pembagian tugas, baik dalam tugas pemerintahan,
tugas keagaaman maupun sosial masyarakatnya. Pada zaman Majapahit mulai muncul
kepercayaan bahwa raja merupakan penjelmaan Dewa di dunia. Di dunia, raja memegang
kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan, dan dalam menjalankan pemerintahan dibantu oleh
Dewan Saptaprabu.
Dewan itu memberikan berbaga nasihat agar perjalanan pemerintahan seorang raja tetap pada jalan
yang diinginkan semua rakyatnya. Raja tidak dapat berbuat sesuka hati, dengan demikian,
pemerintah yang baik akan mengakibatkan semakin baiknya kehidupan rakyatnya.

Perkembangan Politik Kerajaan Majapahit.

Ketika Raja Jayakatwang berhasil menduduki Istana kerajaan Singasari, pada saat itu
Raden Wijaya berhasil menyelamatkan diri dan meminta bantuan bupati Arya Wiraraja. Atas
bantuan itu, Jayakatwang memberikan sebidang tanah yang diberi nama tanah Trik kepada Raden
Wijaya. Di tanah trik itulah Raden Wijaya merencanakan berdirinya kerajaan Majapahit. Kerajaan
Majapahit yang telah membawa harum nama Indonesia mencapai kejayaannya pada masa
pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan dibantu oleh Patih Gajah Mada.

HistoriografI Kerajaan Majapahit.

Hanya terdapat sedikit bukti fisik dari sisa-sisa Kerajaan Majapahit, dan sejarahnya tidak
jelas. Sumber utama yang digunakan oleh para sejarawan adalah Pararaton ('Kitab Raja-raja')
dalam bahasa Kawi dan Nagarakretagama dalam bahasa Jawa Kuno. Pararaton terutama
menceritakan Ken Arok (pendiri Kerajaan Singhasari) namun juga memuat beberapa bagian
pendek mengenai terbentuknya Majapahit. Sementara itu, Nagarakertagama merupakan puisi Jawa
Kuno yang ditulis pada masa keemasan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk.
Kakawin Nagarakretagama pada tahun 2008 diakui sebagai bagian dalam Daftar Ingatan Dunia
(Memory of the World Programme) oleh UNESCO. Setelah masa itu, hal yang terjadi tidaklah
jelas. Selain itu, terdapat beberapa prasasti dalam bahasa Jawa Kuno maupun catatan sejarah dari
Tiongkok dan negara-negara lain.
Keakuratan semua naskah berbahasa
Jawa tersebut dipertentangkan. Tidak dapat disangkal bahwa sumber-sumber itu memuat unsur
non-historis dan mitos. Beberapa sarjana seperti C.C. Berg menganggap semua naskah tersebut
bukan catatan masa lalu, tetapi memiliki arti supernatural dalam hal dapat mengetahui masa depan.
Namun, banyak pula sarjana yang beranggapan bahwa garis besar sumber-sumber tersebut dapat
diterima karena sejalan dengan catatan sejarah dari Tiongkok, khususnya daftar penguasa dan
keadaan kerajaan yang tampak cukup pasti.

Tahun 2010 sekelompok pengusaha Jepang dipimpin Takajo Yoshiaki membiayai


pembuatan kapal Majapahit atau Spirit Majapahit yang akan berlayar ke Asia. Menurut Takajo,
hal ini dilakukan untuk mengenang kerjasama Majapahit dan Kerajaan Jepang melawan Kerajaan
China (Mongol) dalam perang di Samudera Pasifik. Menurut Guru Besar Arkeologi Asia Tenggara
National University of Singapore John N. Miksic jangkauan kekuasaan Majapahit meliputi
Sumatera dan Singapura bahkan Thailand yang dibuktikan dengan pengaruh kebudayaan, corak
bangunan, candi, patung dan seni. Bahkan ada perguruan silat bernama Kali Majapahit yang
berasal dari Filipina dengan anggotanya dari Asia dan Amerika. Silat Kali Majapahit ini
mengklaim berakar dari Kerajaan Majapahit kuno yang disebut menguasai Filipina, Singapura,
Malaysia dan Selatan Thailand.

Lahirnya Gagasan Persatuan Nusantara.

Gajah Mada telah berhasil menumpas para pemberontak, terutama pemberontak Sadeng
tahun 1331. Itulah sebabnya ia diangkat langsung oleh Ratu Tribhuana menjadi Patih Mangkubumi
Majapahit. Pada saat diangkat menjadi Patih Mangkubumi Majapahit itulah, Gajah Mada
mengucapkan sumpahnya yang terkenal dengan nama Sumpah Palapa. Dalam sumpah itu Gajah
Mada menyatakan bahwa dirinya tidak akan hidup bermewah-mewahan sebelum seluruh
Nusantara dipersatukan dibawah panji Majapahit.
Untuk mencapai tujuan itu, Gajah Mada melakukan bermacam-macam cara. Bahkan
seluruh aktivitas dalam pemerintahan Majapahit langsung dipegang oleh Gajah Mada. Satu persatu
daerah yang berada di wilayah Nusantara tunduk kepada Majapahit. Cita-cita yang dijalankan itu
begitu tegas sehingga timbul peristiwa yang sangat pahit, yaitu peristiwa Bubat. Peristiwa ini
terjadi tahun 1357, yang berawal dari usaha Hayam Wuruk yang hendak meminang putri Pajajaran
sebagai permaisuri. Lamaran Hayam Wuruk diterima, yang selanjutnya pada saat kedatangan Raja
beserta putri dan pasukan Pajajaran terjadi perselisihan dengan Gajah Mada, Hingga muncullah
perang Bubat. Dengan terjadinya peristiwa bubat tahun 1357, secara politis cita-cita Gajah Mada
berhasil mencapai persatuan Nusantara. Namun pada kenyataannya Gajah Mada telah gagal
mewujudkan cita-citanya itu. Walaupun demikian, Gajah Mada telah berhasil membawa
Majapahit ke puncak kejayaanya sehingga namanya terkenal sampai jauh di luar wilayah
Majapahit.

Kebudayaan Kerajaan Majapahit.

Nagarakretagama menyebutkan budaya keraton yang adiluhung dan anggun, dengan cita
rasa seni dan sastra yang halus, serta sistem ritual keagamaan yang rumit. Peristiwa utama dalam
kalender tata negara digelar tiap hari pertama bulan Caitra (Maret-April) ketika semua utusan dari
semua wilayah taklukan Majapahit datang ke istana untuk membayar upeti atau pajak. Kawasan
Majapahit secara sederhana terbagi dalam tiga jenis: keraton termasuk kawasan ibu kota dan
sekitarnya; wilayah-wilayah di Jawa Timur dan Bali yang secara langsung dikepalai oleh pejabat
yang ditunjuk langsung oleh raja; serta wilayah-wilayah taklukan di kepulauan Nusantara yang
menikmati otonomi luas.

Ibu kota Majapahit di Trowulan merupakan kota besar dan terkenal dengan perayaan besar
keagamaan yang diselenggarakan setiap tahun. Agama Buddha, Siwa, dan Waisnawa (pemuja
Wisnu) dipeluk oleh penduduk Majapahit, dan raja dianggap sekaligus titisan Buddha, Siwa,
maupun Wisnu. Nagarakertagama sama sekali tidak menyinggung tentang Islam, akan tetapi
sangat mungkin terdapat beberapa pegawai atau abdi istana muslim saat itu.

Walaupun batu bata telah digunakan dalam candi pada masa sebelumnya, arsitek
Majapahitlah yang paling ahli menggunakannya. Candi-candi Majapahit berkualitas baik secara
geometris dengan memanfaatkan getah tumbuhan merambat dan gula merah sebagai perekat batu
bata. Contoh candi Majapahit yang masih dapat ditemui sekarang adalah Candi Tikus dan Gapura
Bajang Ratu di Trowulan, Mojokerto. Beberapa elemen arsitektur berasal dari masa Majapahit,
antara lain gerbang terbelah candi bentar, gapura paduraksa (kori agung) beratap tinggi, dan
pendopo berdasar struktur bata. Gaya bangunan seperti ini masih dapat ditemukan dalam arsitektur
Jawa dan Bali.

".... Raja [Jawa] memiliki bawahan tujuh raja bermahkota. [Dan] pulaunya berpenduduk banyak,
merupakan pulau terbaik kedua yang pernah ada.... Raja pulau ini memiliki istana yang luar biasa
mengagumkan. Karena sangat besar, tangga dan bagian dalam ruangannya berlapis emas dan perak,
bahkan atapnya pun bersepuh emas. Kini Khan Agung dari China beberapa kali berperang
melawan raja ini; akan tetapi selalu gagal dan raja ini selalu berhasil mengalahkannya." —
Gambaran Majapahit menurut Mattiussi (Pendeta Odorico da Pordenone).
Catatan yang berasal dari sumber Italia mengenai Jawa pada era Majapahit didapatkan dari
catatan perjalanan Mattiussi, seorang pendeta Ordo Fransiskan dalam bukunya: "Perjalanan
Pendeta Odorico da Pordenone". Ia mengunjungi beberapa tempat di Nusantara: Sumatera, Jawa,
dan Banjarmasin di Kalimantan. Ia dikirim Paus untuk menjalankan misi Katolik di Asia Tengah.
Pada 1318 ia berangkat dari Padua, menyeberangi Laut Hitam dan menembus Persia, terus hingga
mencapai Kolkata, Madras, dan Srilanka. Lalu menuju kepulauan Nikobar hingga mencapai
Sumatera, lalu mengunjungi Jawa dan Banjarmasin. Ia kembali ke Italia melalui jalan darat lewat
Vietnam, China, terus mengikuti Jalur Sutra menuju Eropa pada 1330.

Di buku ini ia menyebut kunjungannya di Jawa tanpa menjelaskan lebih rinci nama tempat
yang ia kunjungi. Disebutkan raja Jawa menguasai tujuh raja bawahan. Disebutkan juga di pulau
ini terdapat banyak cengkeh, kemukus, pala, dan berbagai rempah-rempah lainnya. Ia
menyebutkan istana raja Jawa sangat mewah dan mengagumkan, penuh bersepuh emas dan perak.
Ia juga menyebutkan raja Mongol beberapa kali berusaha menyerang Jawa, tetapi selalu gagal dan
berhasil diusir kembali. Kerajaan Jawa yang disebutkan di sini tak lain adalah Majapahit yang
dikunjungi pada suatu waktu dalam kurun 1318-1330 pada masa pemerintahan Jayanegara.

Ekonomi Kerajaan Majapahit.

Majapahit merupakan negara agraris dan sekaligus negara perdagangan. Pajak dan denda
dibayarkan dalam uang tunai. Ekonomi Jawa telah sebagian mengenal mata uang sejak abad ke-8
pada masa kerajaan Medang yang menggunakan butiran dan keping uang emas dan perak. Sekitar
tahun 1300, pada masa pemerintahan raja pertama Majapahit, sebuah perubahan moneter penting
terjadi: keping uang dalam negeri diganti dengan uang "kepeng" yaitu keping uang tembaga impor
dari China. Pada November 2008 sekitar 10.388 keping koin China kuno seberat sekitar 40
kilogram digali dari halaman belakang seorang penduduk di Sidoarjo. Badan Pelestarian
Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur memastikan bahwa koin tersebut berasal dari era
Majapahit.
Alasan penggunaan uang logam atau koin asing ini tidak disebutkan dalam catatan sejarah,
akan tetapi kebanyakan ahli menduga bahwa dengan semakin kompleksnya ekonomi Jawa, maka
diperlukan uang pecahan kecil atau uang receh dalam sistem mata uang Majapahit agar dapat
digunakan dalam aktivitas ekonomi sehari-hari di pasar Majapahit. Peran ini tidak cocok dan tidak
dapat dipenuhi oleh uang emas dan perak yang mahal.

Beberapa gambaran mengenai skala ekonomi dalam


negeri Jawa saat itu dikumpulkan dari berbagai data
dan prasasti. Prasasti Canggu yang berangka tahun
1358 menyebutkan sebanyak 78 titik perlintasan
berupa tempat perahu penyeberangan di dalam
negeri (mandala Jawa). Prasasti dari masa Majapahit
menyebutkan berbagai macam pekerjaan dan
spesialisasi karier, mulai dari pengrajin emas dan
perak, hingga penjual minuman, dan jagal atau
tukang daging. Meskipun banyak di antara
pekerjaan-pekerjaan ini sudah ada sejak zaman sebelumnya, namun proporsi populasi yang
mencari pendapatan dan bermata pencarian di luar pertanian semakin meningkat pada era
Majapahit.

Menurut catatan Wang Ta-Yuan, pedagang Tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada saat
itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua, sedangkan komoditas impornya adalah mutiara,
emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari besi. Mata uangnya dibuat dari campuran
perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga. Selain itu, catatan Odorico da Pordenone, biarawan
Katolik Roma dari Italia yang mengunjungi Jawa pada tahun 1321, menyebutkan bahwa istana
raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata.

Kemakmuran Majapahit diduga karena dua faktor. Faktor pertama; lembah sungai Brantas
dan Bengawan Solo di dataran rendah Jawa Timur utara sangat cocok untuk pertanian padi. Pada
masa jayanya Majapahit membangun berbagai infrastruktur irigasi, sebagian dengan dukungan
pemerintah.
Faktor kedua; pelabuhan-pelabuhan Majapahit di pantai utara Jawa mungkin sekali berperan
penting sebagai pelabuhan pangkalan untuk mendapatkan komoditas rempah-rempah Maluku.
Pajak yang dikenakan pada komoditas rempah-rempah yang melewati Jawa merupakan sumber
pemasukan penting bagi Majapahit.

Nagarakretagama menyebutkan bahwa kemashuran penguasa Wilwatikta telah menarik


banyak pedagang asing, di antaranya pedagang dari India, Khmer, Siam, dan China. Pajak khusus
dikenakan pada orang asing terutama yang menetap semi-permanen di Jawa dan melakukan
pekerjaan selain perdagangan internasional. Majapahit memiliki pejabat sendiri untuk mengurusi
pedagang dari India dan Tiongkok yang menetap di ibu kota kerajaan maupun berbagai tempat
lain di wilayah Majapahit di Jawa.

Struktur Pemerintahan Kerajaan Majapahit.

Majapahit memiliki struktur pemerintahan dan susunan birokrasi yang teratur pada masa
pemerintahan Hayam Wuruk, dan tampaknya struktur dan birokrasi tersebut tidak banyak berubah
selama perkembangan sejarahnya.Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia dan ia
memegang otoritas politik tertinggi.

 Aparat birokrasi.

Raja dibantu oleh sejumlah pejabat birokrasi dalam melaksanakan pemerintahan, dengan
para putra dan kerabat dekat raja memiliki kedudukan tinggi. Perintah raja biasanya
diturunkan kepada pejabat-pejabat di bawahnya, antara lain yaitu:

Rakryan Mahamantri Katrini, biasanya dijabat putra-putra raja

Rakryan Mantri ri Pakira-kiran, dewan menteri yang melaksanakan pemerintahan

Dharmmadhyaksa, para pejabat hukum keagamaan

Dharmma-upapatti, para pejabat keagamaan


Dalam Rakryan Mantri ri Pakira-kiran terdapat seorang pejabat yang terpenting yaitu
Rakryan Mapatih atau Patih Hamangkubhumi. Pejabat ini dapat dikatakan sebagai perdana menteri
yang bersama-sama raja dapat ikut melaksanakan kebijaksanaan pemerintahan. Selain itu, terdapat
pula semacam dewan pertimbangan kerajaan yang anggotanya para sanak saudara raja, yang
disebut Bhattara Saptaprabhu.

Pembagian wilayah kerajaan Majapahit.

Dalam pembentukannya, kerajaan Majapahit merupakan kelanjutan Singhasari,[18] terdiri


atas beberapa kawasan tertentu di bagian timur dan bagian tengah Jawa. Daerah ini diperintah oleh
uparaja yang disebut Paduka Bhattara yang bergelar Bhre atau "Bhatara i". Gelar ini adalah gelar
tertinggi bangsawan kerajaan. Biasanya posisi ini hanyalah untuk kerabat dekat raja. Tugas mereka
adalah untuk mengelola kerajaan mereka, memungut pajak, dan mengirimkan upeti ke pusat, dan
mengelola pertahanan di perbatasan daerah yang mereka pimpin.

Selama masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350 s.d. 1389) ada 12 wilayah di Majapahit,
yang dikelola oleh kerabat dekat raja. Hierarki dalam pengklasifikasian wilayah di kerajaan
Majapahit dikenal sebagai berikut:

Bhumi: kerajaan, diperintah oleh Raja

Nagara: diperintah oleh rajya (gubernur), atau natha (tuan), atau bhre (pangeran atau bangsawan)

Watek: dikelola oleh wiyasa,


Kuwu: dikelola oleh lurah,

Wanua: dikelola oleh thani,

Kabuyutan: dusun kecil atau tempat sakral.

Pemerintahan Kerajaan Majapahit menurut Prasasti.

Sedangkan dalam Prasasti Wingun Pitu (1447 M) disebutkan bahwa pemerintahan


Majapahit dibagi menjadi 14 daerah bawahan, yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre.
Daerah-daerah bawahan tersebut yaitu: Kahuripan, Daha, Tumapel, Wengker, Matahun, Wirabumi,
Kabalan, Kembang Jenar. Pajang, Jagaraga, Keling, Kelinggapura, Singhapura, Tanjungpura.

Saat Majapahit memasuki era kemaharajaan Thalasokrasi saat pemerintahan Gajah Mada,
beberapa negara bagian di luar negeri juga termasuk dalam lingkaran pengaruh Majapahit, sebagai
hasilnya, konsep teritorial yang lebih besar pun terbentuk: Ketiga kategori itu masuk ke dalam
lingkaran pengaruh Kerajaan Majapahit. Akan tetapi Majapahit juga mengenal lingkup keempat
yang didefinisikan sebagai hubungan diplomatik luar negeri:

Mitreka Satata, yang secara harafiah berarti "mitra dengan tatanan (aturan) yang sama".
Hal itu menunjukkan negara independen luar negeri yang dianggap setara oleh Majapahit, bukan
sebagai bawahan dalam kekuatan Majapahit. Menurut Negarakertagama pupuh 15, bangsa asing
adalah Syangkayodhyapura (Ayutthaya di Thailand), Dharmmanagari (Kerajaan Nakhon Si
Thammarat), Marutma, Rajapura dan Sinhanagari (kerajaan di Myanmar), Kerajaan Champa,
Kamboja (Kamboja), dan Yawana (Annam). Mitreka Satata dapat dianggap sebagai aliansi
Majapahit, karena kerajaan asing di luar negeri seperti China dan India tidak termasuk dalam
kategori ini meskipun Majapahit telah melakukan hubungan luar negeri dengan kedua bangsa ini.

Pola kesatuan politik khas sejarah Asia Tenggara purba seperti ini kemudian diidentifikasi
oleh sejarahwan modern sebagai "mandala", yaitu kesatuan yang politik ditentukan oleh pusat atau
inti kekuasaannya daripada perbatasannya, dan dapat tersusun atas beberapa unit politik bawahan
tanpa integrasi administratif lebih lanjut. Daerah-daerah bawahan yang termasuk dalam lingkup
mandala Majapahit, yaitu wilayah Mancanegara dan Nusantara, umumnya memiliki pemimpin asli
penguasa daerah tersebut yang menikmati kebebasan internal cukup luas. Wilayah-wilayah
bawahan ini meskipun sedikit-banyak dipengaruhi Majapahit, tetap menjalankan sistem
pemerintahannya sendiri tanpa terintegrasi lebih lanjut oleh kekuasaan pusat di ibu kota Majapahit.
Pola kekuasaan mandala ini juga ditemukan dalam kerajaan-kerajaan sebelumnya, seperti
Sriwijaya dan Angkor, serta mandala-mandala tetangga Majapahit yang sezaman; Ayutthaya dan
Champa.

5 Penyebab runtuhnya kerajaan majapahit

Faktor-faktor penyebab runtuhnya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha secara umum


sebagai berikut.

 Tidak adanya pembentukan pimpinan yang baru (kaderisasi), seperti yang terajdi pada
masa Kerajaan Majapahit. Gajah Mada sebagai Patih Amangkubhumi memegang segala
jabatan yang penting, ia tidak memberi kesempatan kepada generasi penerus untuk
tampil, sehingga setelah meninggal Gajah Mada tidak ada penggantinya yang cakap dan
berpengalaman.
 Kelemahan pemerintahan pusat sebagai akibat berlangsungnya perang saudara seperti
Perang Paregregyang justru melemahkan kekuasaan kerajaan seperti Bre Wirabhumi
dengan Wikrama Wardhana.
 Terdesaknya kerajaan sebagai akibat munculnya kerajaan yang lebih besar dan kuat.
Contohnya kerajaan Majapahit diserang kerajaan Demak.
 Berlangsungnya perang saudara seperti Perang Paregreg yang justru melemahkan
kekuasaan kerajaan seperti Bre Wirabumi dengan Wikrama Wardhana.

Anda mungkin juga menyukai