Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM BIOSISTEMATIKA HEWAN

KOLEKSI DAN PRESERVASI


Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah praktikum
Dosen pengampu : Rahmat Taufiq M.A.,S.Si.,M.IL.

Disusun oleh :
Kelompok 4
Miftahus Sa’Adah (1167020047 )
Nur Zamilah (1167020054 )
Puji Nuriyah Andini (1167020060 )
Ricky Mushoffa S. (1167020061 )
Salsabila Aliansi (1167020068 )
Yuni Setiyowati (1167020080 )
Zahra Salsabila (1167020081 )

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017 M/1438 H
I. PENDAHULUAN
1.1 Tujuan:
Untuk mengidentifikasi dan koleksi keanekaragaman hayati.
1.2 Dasar Teori:
Tujuan koleksi dan preservasi meliputi tujuan jangka pendek dan jangka
panjang. Preservasi jangka pendek dilakukan untuk keperluan rutin penelitian yang
disesuaikan dengan kegiatan program atau proyek tertentu. Preservasi jangka panjang
dilakukan dalam kaitannya dengan koleksi dan konservasi plasma nutfah mikroba,
sehingga apabila ssuatu saat diperlukan, dapat diperoleh kembali atau dalam keadaan
tersedia. Koleksi spesimen merupakan asset ilmiah yang penting sebagai bahan
penelitian keanekaragaman fauna baik taraf nasional ataupun taraf internasional.
Kegiatan pengelolaan yang dapat dilakukan adalah proses pengawetan, perawatan,
perekaman data, pengawasan dalam penggunaan spesimen ilmiah. Pembuatan awetan
spesimen diperlukan untuk tujuan pengamatan spesimen secara praktis tanpa harus
mencari bahan segar yang baru, terutama untuk spesimen yang sulit ditemukan
dialam (Skerman, 2013).
Menurut Pratiwi (2006), koleksi spesimen yaitu pengawetan yang digunakan
dalam mempertahankan organ spesimen. Teknik koleksi dibedakan menjadi dua yaitu
koleksi basah dan koleksi kering. Koleksi kering dilakukan untuk hewan seperti kelas
Mammalia, Amphibi dan Aves, sedangkan koleksi basah digunakan untuk kelas
Reptil dan Pisces. Persiapan koleksi spesimen yaitu mematikan objek, fiksasi dan
pengawetan. Objek yang akan dijadikan spesimen harus dimatikan terlebih dahulu,
hal ini dilakukan bertujuan untuk memudahkan dalam melakukan pengawetan,
kemudian dilakukan fiksasi yang bertujuan mempertahankan ukuran dan bentuk sel
tubuh, dilanjutkan pengawetan spesimen agar spesimen tersebut tidak rusak sehingga
dapat dijadikan koleksi rujukan dalam identifikasi hewan (Yayuk, 2010).
Preservasi adalah kegiatan yang terencana dan terkelola untuk memastikan berbagai
sampel yang diawetkan bisa digunakan untuk jangka waktu yang lama. Tujuan
presevasi meliputi tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Kelebihan teknik
preservasi yaitu untuk mempertahankan spesimen supaya terhindar dari jamur dan
kerusakan, teknik preservasi mudah dilakukan khususnya pada spesimen basah,
sedangkan kekurangannya yaitu terdapat kesulitan dalam melakukan teknik
preservasi misalnya alat dan bahan yang kurang lengkap (Winker, 2000).
Menurut Dermici et al (2012), pengawetan hewan dapat dilakukan dengan
cara-cara sebagai berikut: 1. Pengawetan tulang (rangka), 2. Pengawetan insekta
(insektarium), 3. Pengawetan kering (taksidermi), 4. Pengawetan basah. Pengawetaan
makhluk hidup baik tumbuhan maupunn hewan bertujuan untuk menghilangkan atau
menghambat proses penghancuran (dekomposisi) oleh mikroorganisme. Pengawetan
obyek biologi terdiri atas dua cara yaitu pengawetan basah dan pengawetan kering.
Pengawetan basah dilakukan dengan mengawetkan obyek biologi dalam suatu cairan
pengawet. Pengawetan kering dilakukan dengan mengeringkan obyek biologi hingga
kadar air yang sangat rendah, sehingga organisme perusak penghancur tidak bekerja.
Obyek biologi yang berukuran kecil misalnya plankton, cacing dan protozoa
diawetkan dalam bentuk slide mikroskop. Pengawetan basah dibuat dengan cara
merendam tumbuhan atau hewan baik dalam bentuk utuh ataupun bagian-bagiannya
dalam larutan pengawet (Satino, 2007).
Semua mikroba hasil koleksi dipelihara dengan peremajaan secara berkala
dengan memperbarui media tumbuhnya setiap 1-3 bulan. Penyimpanan dengan cara
peremajaan berkala ini memiliki kelemahan, yaitu kemungkinan terjadinya
kontaminasi, hilangnya viabilitas, dan terjadinya perubahan genetik melalui seleksi
varian. Cara penyimpanan ini hanya dilakukan untuk jangka pendek, yaitu ketika
mikroba masih digunakan untuk kegiatan penelitian. Cara kriogenik dapat
menyimpan mikroba paling lama setahun, sedangkan cara kering beku dapat
menyimpan bertahun-tahun dan masih mempertahankan stabilitas genetiknya. Namun
demikian, secara periodik, viabilitas mikroba perlu diuji untuk mengetahui viabilitas
mikroba sekaligus menentukan apakah kedua metode penyimpanan tersebut sesuai
untuk penyimpanan koleksi mikroba pengakumulasi logam berat dan perdegrasi tenol
(Yuniarti, 2003).
Dalam koleksi hewan perlu memperhatikan beberapa hal, diantaranya jangan
sampai mengganggu keberadaan satwa langka atau merusak sisa-sisa peninggalan
dalam gua yang sudah ditinggalkan manusia purba. Spesimen awetan yang dibuat
harus dibersihkan dari rambut dan kulit dengan cara dikerok hal ini digunakan untuk
isolasi dari bakteri patogen dan jamur. Alat pelabelan dapat dimulai dari data
lapangan yang berisikan semua data identitas spesimen dari lapangan yang dicatat
dalam buku lapangan dan merupakan catatan kerja (nama spesies, tanggal
pengambilan, kolektor, lokasi, suhu, arus, kedalaman, kecerahan, posisi, salinitas, pH,
parameter kualitas air lainnya, teknik koleksi, nama lokal dan lainnya). Catatan
tersebut sangat membantu dalam melengkapi label. Teknik pelabelan tidak semua
data dituliskan dalam label, hanya berisikan informasi tertentu saja misalnya: nama
jenis, nama suku, nomor katalog, koordinat, nama lokasi, nama kolektor, nama
identifikator, tanggal identifikasi, tanggal pengambilan dan alat yang digunakan
(Pratiwi, 2006).
II. METODE PRAKTIKUM
2.1 Alat dan Bahan
NO Nama alat Jumlah
1. Mikroskop cahaya 1 buah
2. Mikroskop stereo I buah
3. Botol spesimen 5 buah
4. Jarum pentul secukupnya
5. Cup gelas 5 buah
6. Tusuk sate 20 buah
7. Styrofoam 1 buah
8. Gelas objek 1 buah
9. Batang pengaduk 1 buah
10 Sekop/csngkul 1 buah
11. Plastik secukupnya
12. Lup 1 buah
13. Label secukupnya

No Nama bahan jumlah


1. Detergen Secukupnya
2. Gula pasir Secukupnya
3. Air secukupnya

2.2 Prosedur Kerja

2.2.1 Pembuatan Pitfall Trap

Detergent + gula pasir

 Dimasukkan secukupnya ke dalam masing-masing 5


buah cup gelas
 Ditambahkan dengan air secukupnya
 Di aduk hingga melarut

Lahan pengamatan

 Di gali menggunakan sekop atau cangkul sedalam


±10 cm di buat sebanyak 5 plot dengan masing-
masing jarak 5 m
 Lalu dimasukkan cup gelas yang telah berisi larutan
di masing-masing plot
 Permukaan tanah di ratakan kembali sampai dengan
bagian mulut cup gelas,
 Setelah itu, di buat penutup pitfall trap dengan tusuk
sate dan platik atau terpal dengan ukuran 20x20 cm
di masing-masing plot untuk menutup lubang
jebakan agar tidak terkena air hujan secara langsung
dan di beri label di masing-masing pitfall trap
 Lalu di biarkan selama 1 hari kemudian spesimen
yang tertangkap di kumpulkan pada botol spesimen
Hasil spesimen
yang di dapat

2.2.2 Identifikasi Spesimen yang Tertangkap

Spesies

 Di letakkan pada gelas objek


 Di amati di bawah mikroskop
 Di identifikasi morfologinya dari masing-masing
spesimen
 Di catat dan di dokumentasikan
Hasil

2.3 Tabel Tangkapan Spesimen yang di Dapat

Nama Spesimen Jumlah

Semut hitam 289 ekor

Semut rangrang 2 ekor

Jangkrik 1 ekor

Kumbang 2 ekor

Laba-laba 1 ekor
III.HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Tabel hasil pengamatan

Hari Pertama

NO. NAMA SP PLOT Jumlah


1 2 3 4 5
1. Semut hitam 15 12 10 30 20 87
(kecil)
Jumlah 15 12 10 30 20 87

Hari Kedua

NO. NAMA SP PLOT Jumlah


1 2 3 4 5
1. Semut hitam 30 40 5 10 20 105
(kecil)
2. Semut 2 1
rangrang
3. Kumbang 1 1

4. Bekicot 1 1

Jumlah 30 42 6 10 21 109

Hari ketiga

NO. NAMA SP PLOT Jumlah


1 2 3 4 5
1. Semut hitam 32 23 14 15 13 97
(kecil)
2. Jangkrik 1 1

3. Kumbang 1 1
4. Laba-laba 1 1

5. Kodok 1 1

Jumlah 33 25 14 16 13 101
No Klasifikasi Gambar Literatur
1 Semut Kepala
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Hymenoptera
Famili : Formicidae (Anton, 2013)
Genus : Polyrhachis
Spesies : Polyrhachis boltoni Antena

(Miller, 2013)

Kaki

(Miller, 2013)

Badan

(Miller, 2013)
Kumbang Kepala dan Antena
2
Kingdom : Animalia
Phylum: Arthropoda
Class: Insecta
Order: Coleoptera (Lie, 2012)
Family: Coccinellidae
Genus :Coccinella Sayap
Species: Coccinella transversalis

(Lie, 2012)

Elytra

(Lie, 2012)
3 Laba-Laba Badan
Kingdom : Animalia
Ordo : Araneae
Divisi : Arthropoda
Spesies : Hesperus
(Cak, 2012)
Genus : Latrodectus
Kaki
Class : Arachnida
Spesies : Araneus diadematus

(Lukman, 2014)
4. Jangkrik Kepala dan Antena
Kingdom: Animalia
Pylum: Arthropoda
Kelas: Insecta
Ordo: Ortoptera
(Rian, 2010)
Sub Ordo: Ensifera
Badan
Famili: Gryllidae
Sub Famili: Gryllidae
Genus: Gyllids mitratus

(Rian, 2010)
Kaki

(Rian, 2010)
Ekor

(Rian, 2010)
5. Semut Hitam Tubuh semut hitam
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Hexapoda
Ordo : Hymenoptera (Sarah, 2016)
Famili : Formicidae
Genus : Dolichoderus
Spesies : Dolichoderus thoracicus

1. Semut Rang-rang (Oecophylla sp)


Semut ini termasuk ke dalam genus Oecophylla karena memiliki ciri-ciri
sebagai berikut : memiliki warna merah kehitaman (Orange dengan abdomen bergaris
kehitaman) dan memiliki ukuran tubuh panjang 1-2 cm yang dilengkapi dengan
protonom yang melebar. Tubuh dari jenis ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu
kepala, thorax dan abdomen. Bentuk abdomen bulat 4 segmen dan bentuk mulut
runcing serta memiliki tipe mulut penghisap dan penggigit.
Pada bagian kepala terdapat sepasang antenna yang variable dan matasitor dan
mulut. Mulut berfungsi sebagai alat untuk mengunyah dan menjilat. Metamorfosis
pada jenis ini adalah metamorfosis yang sempurna.. Makanan dari jenis ini sebagian
besar adalah berasal dari insecta kecil lainnya, dan juga nektar. Biasanya orang
Indonesia menyebut semut ini sebagai semut karerangga atau semut rang-rang, karena
biasanya membangun sarang di daun-daun pohon.
Semut adalah serangga eusosial yang berasal dari keluarga Formisidae, dan
semut termasuk dalam ordo Himenoptera bersama dengan lebah dan tawon.
Morfologi semut : Tubuh semut terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala, mesosoma
(dada), dan metasoma (perut). Morfologi semut cukup jelas dibandingkan dengan
serangga lain yang juga memiliki antena, kelenjar metapleural, dan bagian perut
kedua yang berhubungan ke tangkai semut membentuk pinggang sempit (pedunkel)
di antara mesosoma (bagian rongga dada dan daerah perut) dan metasoma (perut yang
kurang abdominal segmen dalam petiole). Petiole yang dapat dibentuk oleh satu atau
dua node (hanya yang kedua, atau yang kedua dan ketiga abdominal segmen ini bisa
terwujud).
Salah satu jenis semut adalah semut hitam. Semut Hitam atau Lasius
fuliginosus sering dijumpai dipohon, tempat sampah, kolong rumah, dapur, dan
tempat – tempat teduh lainya yang dekat dengan makanan. Semut hitam pada pohon
bunga tertentu cenderung menyebabkan pohon tersebut lapuk pada batangnya,
dikarenakan amonia yang ditinggalkan pada batangnya sebagai tanda buat kloninya
2. Laba-laba
Laba-laba, atau disebut juga labah-labah, adalah sejenis hewan berbuku-buku
(arthropoda) dengan dua segmen tubuh, empat pasang kaki, tak bersayap dan tak
memiliki mulut pengunyah. Semua jenis laba-laba digolongkan ke dalam ordo
Araneae; dan bersama dengan kalajengking, ketonggeng, tungau —semuanya berkaki
delapan— dimasukkan ke dalam kelas Arachnida. Bidang studi mengenai laba-laba
disebut arachnologi. Laba-laba merupakan hewan pemangsa (karnivora), bahkan
kadang-kadang kanibal. Mangsa utamanya adalah serangga. Hampir semua jenis
laba-laba, dengan perkecualian sekitar 150 spesies dari suku Uloboridae dan
Holarchaeidae, dan subordo Mesothelae, mampu menginjeksikan bisa melalui
sepasang taringnya kepada musuh atau mangsanya. Meski demikian, dari puluhan
ribu spesies yang ada, hanya sekitar 200 spesies yang gigitannya dapat
membahayakan manusia.
Tidak semua laba-laba membuat jaring untuk menangkap mangsa, akan tetapi
semuanya mampu menghasilkan benang sutera --yakni helaian serat protein yang
tipis namun kuat-- dari kelenjar (disebut spinneret) yang terletak di bagian belakang
tubuhnya. Serat sutera ini amat berguna untuk membantu pergerakan laba-laba,
berayun dari satu tempat ke tempat lain, menjerat mangsa, membuat kantung telur,
melindungi lubang sarang, dan lain-lain. Serangga (disebut pula Insecta, dibaca
"insekta") adalah kelompok utama dari hewan beruas (Arthropoda) yang bertungkai
enam (tiga pasang); karena itulah mereka disebut pula Hexapoda (dari bahasa Yunani
yang berarti "berkaki enam"). Kajian mengenai peri kehidupan serangga disebut
entomologi Serangga termasuk dalam kelas insekta (subfilum Uniramia) yang dibagi
lagi menjadi 29 ordo, antara lain Diptera (misalnya lalat), Coleoptera (misalnya
kumbang), Hymenoptera (misalnya semut, lebah, dan tabuhan), dan Lepidoptera
(misalnya kupu-kupu dan ngengat). Kelompok Apterigota terdiri dari 4 ordo karena
semua serangga dewasanya tidak memiliki sayap, dan 25 ordo lainnya termasuk
dalam kelompok Pterigota karena memiliki sayap.
Mulanya laba-laba memiliki 8 kaki sedangkan serangga hanya 6 saja.
Serangga memiliki 3 bagian tubuh yang berbeda, kepala, dada dan perut, sementara
baru saja 2, kepala sedangkan dada yang dikenal sebagai cephalothorax. Seperti
halnya diatas, perbedaan yang menarik lainnya. Laba-laba memiliki mata yang
sederhana, sedangkan serangga memiliki mata yang majemuk. Laba-laba memiliki
rahang menusuk sementara serangga memiliki rahang yang lebih cocok untuk
mengunyah. Semua laba-laba dapat membuat benang sutra (walaupun tidak semua
jaring laba-laba merajut) sementara seranggapaling tidak dapat. Laba-laba tidak bisa
terbang dimana banyak serangga memiliki sayap yang memungkinkan mereka untuk
melakukannya.
3. Kumbang
Kumbang adalah sekelompok serangga yang membentuk ordo Coleoptera,
sebagian besar kumbang memilik dua pasang sayap. Pasangan sayap yang berada
didepan disebut elytra. Pasangan sayap ini mengeras dan menebal yang dapat
melindungi pasangan sayap dibelakangnya dan juga melindungi bagian belakang
tubuh kumbang. Penyebaran kumbang sangat luas. Kumbang dapat ditemukan di
semua habitat besar, kecuali di lautan dan wilayah kutub. Mereka berinteraksi dengan
ekosistemnya dalam berbagai cara. Beberapa spesies kumbang adalah penghasil
detritus, dengan menghabcurkan jaringan hewan dan tumbuhan yang mati, memakan
bangkai jenis-jenis tertentu dan memakan sampah.
Kumbang umumnya memliki eksoskeleton sangat keras dan sayap depan
keras. Kepala biasanya telah sangat mengeras dan bervariasi dalam ukuran. Pada
kepala terdapat mulut yang mengarah ke depan atau kadang-kadang berputar ke
bawah. Mata kumbang majemuk dan mungkin memperlihatkan kemampuan
beradaptasi yang luar biasa. Antena kumbang utamanya dalah organ pemcium tetapi
dapat juga digunakan untuk merasakan lingkungan sekitarnya secara fisik. Pada
beberapa famili, antena juga dapat digunakan untuk kawin atau untuk pertahanan bagi
beberapa jenis kumbang. Dalam Coleoptera, bentuk antena sangat bervariasi, tetapi
sering kali serupa dalam beberapa famili. Antena kumbang bentuknya bervariasi,
mungkin lebih tebal di ujung daripada di dasar, seperti benang, membengkok dengan
sudut tajam, meneyrupai untaian manik-manik, menyerupai sisir atau bergerigi.
Kaki kumbang yang beruas banyak biasanya berujung pada dua atau lima ruas
kecil yang disebut tarsi. Sayap pada kumbang terhubung ke pterathorax. Sayap tidak
digunakan untuk terbang tetapi cenderung untuk menutupi bagian belakang tubuh dan
melindungi pasangan sayap kedua. Kemudian kumbang memiliki bagian-bagian
mulut yang sama dengan belalang. Dari bagian mulut, yang paling umum dikenal
mungkin mandibel atau rahang. Yang terlihat seperti penjepit besar di depan beberapa
kumbang.
4. Semut Hitam
Semut hitam D. thoracicus biasanya keluar dari sarangnya pada waktu pagi
dan sore hari ketika suhu tidak terlalu panas. Semut akan menuju pucuk- pucuk
tanaman untuk mendapatkan cahaya matahari sambil menjalankan aktivitasnya. Akan
tetapi pada siang hari ketika suhu udara panas, semut akan bersembunyi pada tempat-
tempat yang terlindung dari sengatan sinar matahari secara langsung, seperti di dalam
sarang, di balik dedaunan, di tanah, dan lain-lain (Elzinga, 1978 ).
Semut hitam Dolichoderus thoracicus hidup dalam organisasi sosial yang
terdiri dari sejumlah individu dan membentuk suatu masyarakat yang disebut koloni.
Koloni semut terdiri dari kelompok-kelompok yang disebut kasta. Semut hitam terdiri
dari beberapa kasta, yaitu: ratu, pejantan, dan pekerja. Semut pekerja dibagi dua,
yaitu pekerja dan prajurit. Kasta-kasta semut mempunyai tugas yang berbeda-beda,
akan tetapi tetap saling berinteraksi dan bekerja sama demi kelangsungan hidupnya
5. Jangkrik
Tubuh jangkrik mempunyai rangka luar dari bahan kitin yang disebut
eksoskeleton. Jangkrik bersayap dua pasang, sepasang sayap depan dan sepasang
sayap belakang, namun ada juga jenis jangkrik yang tidak bersayap, meskipun
demikian jangkrik yang diternakkan pada umumnya mempunyai sayap jika telah
dewasa (imago). Sayap depan diistilahkan dengan nama tegmina, yaitu sayap yang
berbentuk seperti kertas perkamen dengan venasi atau alur-alur pembuluh darah yang
sangat kompleks pada sayap. Tubuh jangkrik dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu
caput (kepala), toraks (dada), dan abdomen (perut). Pada kepala jangkrik terdapat
sepasang antena, mata majemuk, mata oseli, labrum (bibir atas), labium (bibir
bawah), mandibula (gigi), dan alat tambahan lain yang berfungsi sebagai lidah yaitu
palpus maksilaris dan palpus labialis. Di dalam kepala jangkrik terdapat otak yang
terdiri atas otak depan, otak tengah, dan otak belakang dengan fungsi masing-masing
yang berbeda, namun semuanya berkaitan dengan sistem indera dan hormon yang ada
pada tubuh jangkrik.Antena digunakan sebagai sensor rasa dan bau (chemoreceptor),
mata majemuk digunakan sebagai sensor cahaya (chromoreceptor) untuk melihat
bentuk dan warna, sedangkan mata tunggal digunakan untuk membedakan intensitas
cahaya (Abi, 2017).

IV. KESIMPULAN
Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa dari jebakan didapatkan
beberapa spesies diantaranya jangkrik (Gyllids mitratus), laba-laba (Araneus
diadematus), semut rang-rang (Polyrhachis boltoni), semut hitam (Dolichoderus
thoracicus), dan juga kumbang (Coccinella transversalis) yang merupakan insecta
dan memiliki ciri masing-masing.
Daftar pustaka
Abi, H. 2017. The Identification of The Morphology of Insects That Have Potentia
as Pests and The Level of Damage on Red Timber Tree (Shorea Leprosula)
seedings in PT. Sari Bumi Kusuma. Jurnal hutan lestari.vol. 5 (3) : 645-646.
Anton. 2013. kepala+semut&safe. Available at https://www.google.co.id/.diakses
pada [15-10-17] pukul [18.40 WIB].
Cak. 2012.laporan-musuh-alami. Availabel at http://sahatostcak.blogspot.co.id/.
diakses pada [15-10-17] pukul [20.20 WIB].
Dermici, B., Gultiken M.E., Karyigit, M.O dan Atalar, K. 2012. Is Frozen
Taxidermy an Alternative Method for Demonstration of Dermatopaties.
Eurasian Journal of Veterinary Sciences. 28 (3): Hal 172-176.
Elzinga, R.J. 1981.Fundamental of Entomology.Department of Entomology
Kansas State University. New Jersey.Prentice Hall. Inc., Englewood Cliffs.
Lie. 2012. Coccinellidae-anatomi.svg. Available at https:/commons.
wikimedia.org/wiki/ diakses pada [15-10-17] pukul [20.07 WIB].
Luqman. 2014. Laba-laba. Available at http://m-luqmanulhakim.blogspot.co.id/
diakses pada [15-10-17] pukul [20.30 WIB].
Miller. 2013. pesticide-makes-invading-ants-suicidally-aggressive. Available at
http://www.nature.com/ diakses pada [15-10-17] pukul [19.20 WIB].
Pratiwi, R. 2006. Bagaimana Mengkoleksi dan Merawat Biota Laut. Oseana. 91
(2): Hal 1-9.
Rian. 2010. skinny-cricket-chorus. Available at http://www.tricountypestco.com/
diakses pada [15-10-17] pukul [21.04 WIB.
Sarah. 2016. Teks-laporan-hasil-observasi-semut. Available at http:

//sarahsungyeol.blogspot.co.id/ diakses pada [15-10-17] pukul [21.04 WIB].

Satino. 2007. Penyediaan Spesimen Awetan Sebagai Media Pembelajaran.


Yogyakarta: Diva Press.
Sitiatava Putra. 2014. Buku pintar budidaya kroto, ulat hongkong dan jangkrik.
Yogyakarta: FlashBook.

Skerman, V. B. D. 2013. Histologycal Laboratory Methods. Edinbergh:

Livingstone.
Winker, K. 2000. Obtaining, Preserving, and Preparing Bird Specimens. Journal
of Field Ornoithology. 71 (2): Hal 250-297.
Yayuk, S., Hartini, U. dan Sartiarni, E. 2010. Koleksi, Preservasi, Identifikasi,
Kurasi dan Manajemen Data. Bandung: Angkasa Duta.
Yuniarti, Erny. 2003. Koleksi, Karakterisasi dan Preservasi Mikroba Remediasi.
Jurnal Pertanian. 1 (1): Hal 1-9.