Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Setiap individu memahami berbagai pengalaman melalui panca indra atau
dalam terminologi NLP dikenal sebagai VAKOG (Visual, Auditory, Kinesthetic,
Olfactory dan Gustatory). Setelah berusia dua belas tahun, umumnya individu
memiliki preferensi dari kelima jalur informasi tersebut, umumnya di antara tiga jalur
berikut; Visual, Auditory atau Kinesthetic. Pemilihan jalur tersebut juga tergantung
pada material yang dipelajari individu. Seorang musisi lebih cenderung menggunakan
jalur pendengaran dibandingkan dua jalur yang lain. Pemahaman akan hal ini sangat
penting dimiliki oleh para pendidik karena menentukan efektifitas proses
pembelajaran.
Otak manusia juga menggunakan metode kerja dari kelima jalur informasi
tersebut dalam memproses dan mengambil kembali berbagai informasi yang telah
dipelajari. Individu umumnya mampu memvisualisasikan, berbicara dengan dirinya
sendiri, merasakan (secara fisik atau emosional), membedakan berbagai rasa,
membedakan berbagai aroma dan masih banyak lagi. Setiap individu memiliki
preferensi yang berbeda saat memproses informasi dan menindaklanjuti hasil
pemikirannya dalam bentuk tindakan atau eksperesi. Perbedaan ini dapat dengan jelas
anda perhatikan salah satunya melalui bahasa sensorik(sensory language) yang
digunakan, seperti; "Masalah itu terasa seperti beban yang sangat berat di pundak
saya." (Kinesthetic) "Dapatkah anda membayangkan apa yang sedang saya
bicarakan?" (Visual) "Hal tersebut terdengar tidak asing bagi saya." (Auditory).
Gangguan fungsi pendengaran merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat yang dapat menimbulkan keadaan ketergantungan dari anggota
masyarakat yang terkena terhadap kelompok masyarakat yang sehat. Salah satu
bentuk gangguan tersebut adalah tuli saraf (sensorineural hearing loss) atau tuna
rungu (bisu tuli). Alat bantu dengar adalah suatu intrumen dimana suara baik wicara
maupun suara lingkungan, diterima oleh mikrofon, kemudian dikonversi kembali
1
menjadi sinyal akustik. Ada beberapa alat bantu yang tersedia untuk kehilangan
pendengaran sensorineural yang dapat mendepresi frekuensi tinggi. suatu panduan
yang sangat berguna namun tidak terlalu kritis adalah adalah bahwa alat bantu dengar
akan sangat membantu bagi pasien kehilangan pendengaran lebih 30n Db dengan
kisaran 500 sampai 2000 Hz ditelinga dan pendengarannya lebih baik.
Diperkirakan dari 98 %dari semua alat bantu dengar yang tersedia dipasaran
sekarang dapat berupa Implan koklea (CI) adalah alat elektronik yang dimasukkan
melalui pembedahan bagi memberikan deria bunyi kepada seseorang yang pekak atau
pendengaran terjejas teruk. Implan koklea sering digelar bionik telinga, alat belakang
telinga (BTE, Bihind the ear), didalam telinga (ITE in the ear), atau di dalam
kanalis(in the canal).Implan Koklea merupakan terobosan besar di bidang kedokteran.
Implan Koklea merupakan alat prostetik dengan komponen internal yang dipasang
lewat pembedahan dan komponen eksternal yang memerlukan penyesuaian dan
pemrograman.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Adapun rumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut :
a. Apa pengertian trend dan isu ?
b. Bagaimana trend pada gangguan sistem sensori persepsi saat ini ?
c. Bagaimana isu pada gangguan sistem sensori persepsi saat ini ?
1.3 TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
a. Mengetahui pengertian trend dan isu.
b. Mengetahui dan memahami trend pada gangguan sistem sensori persepsi.
c. Mengetahui dan memahami isu pada gangguan sistem sensori persepsi.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN TREND DAN ISU


Trend adalah sesuatu yang sedang dibicarakan oleh banyak orang saat ini dan
kejadiannya berdasarkan fakta.
Isu adalah sesuatu yang sedang hangat dibicarakan oleh khalayak ramai namun
masih belum pasti kebenarannya dan hanya hasil dari pendapat seseorang.
Sensori persepsi adalah proses memilih, mengatur, dan menafsirkan
rangsangan sensorik yang membutuhkan fungsi organ utuh dan rasa, jalur saraf, dan
otak. Gangguan persepsi sensorik adalah perubahan jumlah pola dari stimulus yang
masuk, disertai dengan respon yang berkurang, berlebihan, terdistorsi, atau
menganggu rangsangan tersebut.

2.2 TREND PADA GANGGUAN SISTEM SENSORI PERSEPSI


Berikut ada beberapa trend yang termasuk penyebab gangguan sistem sensori
persepsi, diantaranya adalah :
1. Lensa Kontak (Soft Lens)
Pemakaian lensa kontak saat ini saat digemari kaum remaja, terutama remaja
perempuan. Namun, jika pemakaian lensa kontak tidak diiringi dengan perawatan
yang baik maka akan menimbulkan efek-efek buruk bagi tubuh, khususnya mata.
Pengguna lensa kontak hendaklah selalu menjaga kebersihan lensa kontak nya,
karena jika tidak, dapat mengakibatkan masalah mata yang cukup serius seperti mata
kering, penglihatan menjadi kabur, gatal hingga kebutaan. Konsekuensi dari kurang
memperhatikan kebersihan lensa kontak memang sangat fatal bagi kondisi mata.
Banyak orang yang tidak mencuci tangan sebelum memakaikan lensa kontak pada
mata. Hal ini bisa memicu terjadinya iritasi yang jika dibiarkan bisa menjadi infeksi
parah.
Menurut Dr. H. Dwight Cavanagh, seorang profesor ahli mata dari
Southwestern Medical Center, Amerika Serikat dalam tulisannya “Eye and Contact
3
Lens” pada 2003, mengungkapkan sebanyak 2.500 pengguna lensa kontak mengalami
“corneal ulcers”. Hal itu terjadi pada pengguna yang menggunakan lensa kontak
setiap hari.
Corneal ulcer yaitu kondisi dimana terdapat luka terbuka pada kornea. Hal ini
sering disebabkan oleh infeksi dan luka kecil atau goresan yang bisa terjadi akibat
penggunaan lensa kontak yang kurang hati-hati.
Gejala yang timbul biasanya produksi air mata yang meningkat, sensitif
terhadap cahaya, pandangan menjadi kabur, gatal dan nyeri. Jika gejala tersebut
dibiarkan dan tidak dilakukan perawatan intensif bisa memicu terjadinya kebutaan.
Usia lensa kontak, sangat dipengaruhi oleh perawatan dan pemakaian yang
dilakukan. Jika lensa kontak tidak diperlakukan dengan semestinya, bukan mustahil
lensa kontak akan aus sebelum waktunya.

2. Penggunaan Headset/Earphone
Kebiasaan menggunakan headset / earphone saat mendengarkan musik ternyata
memiliki dampak negatif bagi pendengaran manusia, apalagi jika digunakan dengan
volume yang berlebihan. Berikut merupakan beberapa efek negatif yang diakibatkan
oleh penggunaan headset / earphone yang berlebihan, yaitu : (1) kerusakan permanen
pada telinga. Hal ini terjadi bila telinga sudah tidak kuat lagi menanggung beban
suara keras dari earphone yang langsung terhubung dengan lubang telinga, biasanya
hal ini terjadi pada mereka yang masih berusia muda atau remaja. (2) “
mendengarkan pemutar musik personal secara reguler dalam volume tinggi ketika
muda sering kali tidka berdampak pada pendengaran, namun kelak kemampuan
mendengar bisa menghilang ”jelas seorang peneliti pada International Herald
Tribune. Pernyataan itu diberikan sembilan peneliti dari Committee on Emerging and
Newly Identified Helat Risks. Bahkan mereka juga menyatakan bahwa risiko
kehilangan pendengaran akan didapatkan dipertengahan usia 20-an. Bagaimanapun
mendengarkan musik melalui media portabel juga menimbulkan dampak lain. Musik
bisa mengisolasi pendengaran dari khalayak ramai. (3) ambang pendengaran,
paparan musik dengan esrphone / headset dapat mempengaruhi ambang pendengaran
4
manusia, terutama bila dilakukan dengan volume keras dan dlaam jangka waktu lama.
Secara perlahan efek ini akan mengarah pada gangguan pendengaran secara
permanen.

3. Teknology Laser Terbaru Dalam Bedah Mata


Katarak merupakan penyakit yang menjadi salah satu penyebab utama
kebutaan. Menurut data yang dilansir oleh WHO, sekitar 20 juta penduduk di dunia
mengalami kebutaan yang diakibatkan oleh katarak. Penduduk di negara Asia rentan
terserang katarak karena tingginya paparan sinar UV. Di Indonesia sendiri sekitar 3,7
juta penduduknya mengalami kebutaan (1,5%) dan 70% diantaranya disebabkan oleh
katarak. Angka tersebut akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya harapan
hidup di Indonesia.
“Tingginya tingkat kebutaan akibat katarak mendorong Jakarta Eye Center
(JEC) untuk mengajak para pakar kesehatan berbagi pengetahuan seputar penemuan
atau informasi terbaru dalam penanganan katarak melalui Jakarta Eye Center
International Meeting (JECIM). Dihadiri oleh para ahli kesehatan mata dari dalam
dan luar negeri, berbagai topik yang dibahas meliputi kasus-kasus katarak, teknik
bedah katarak serta teknologi terbaru dalam operasi katarak. Selain topik mengenai
katarak, dibahas juga masalah gangguan mata yang lain seperti glaukoma, retina,
okuloplasty,children eye care & strabismus dll. Pada hari ini juga ditayangkan operasi
katarak dan gangguan mata lain dengan teknologi terbaru secara langsung dari JEC,”
ujar Dr. Setiyo Budi Riyanto, SpM dari JEC.
Katarak adalah perubahan lensa mata yang tadinya jernih dan tembus cahaya
menjadi keruh, sehingga menyebabkan terganggunya penglihatan. Beberapa gejala
umum katarak adalah penglihatan menjadi tidak jelas seperti terdapat kabut
menghalangi objek, mata peka terhadap sinar atau cahaya, penglihatan pada satu mata
menjadi ganda, memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca dan
lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.

5
Dr. Darwan M. Purba, SpM dari JEC.menjelaskan, “Sebagian besar katarak
terjadi karena proses degeneratif atau penuaan, oleh karena itu katarak kebanyakan
dialami oleh orang berusia 60 tahun keatas. Katarak menyerang secara perlahan-lahan
sehingga banyak orang tidak menyadari telah mengalami gangguan katarak. Jika kita
merasa ada yang salah dengan penglihatan, apalagi jika penglihatan mulai terganggu
segeralah periksakan diri.”
Selain faktor pertambahan usia, katarak juga dapat disebabkan oleh paparan
sinar ultraviolet dalam jangka waktu yang lama, penggunaan obat-obat tertentu,
penderita miopia/rabun jauh dengan minus tinggi (-12) dan penyakit seperti diabetes.
Katarak yang bukan disebabkan oleh proses degeneratif terdiri dari secondary –
katarak yang terjadi setelah operasi mata akibat penyakit mata lain seperti glaukoma
dan yang diakibatkan karena gangguan kesehatan lain seperti diabetes atau kadang
dihubungkan dengan penggunaan steroid; traumatic – katarak akibat trauma atau
kecelakaan pada mata; congenital – katarak yang menyerang bayi sejak lahir atau
pada tahun-tahun pertama hidup seorang anak.;
Bagi sebagian masyarakat Indonesia katarak masih menjadi momok, padahal
penderita katarak termasuk yang telah mengalami kebutaan akibat katarak memiliki
kesempatan untuk sembuh total melalui operasi karena pada dasarnya yang terserang
hanya lensa mata, sementara bagian mata lain masih berfungsi dengan baik. Salah
satu teknik pembedahan terkini adalah Femtosecond Cataract Surgery, dimana
operasi penggantian lensa mata dilakukan tanpa sayatan dari pisau bedah melainkan
dengan menggunakan laser. Melalui teknik ini, sayatan akan jauh lebih akurat, luka
sayatan sangat minimal 1,8 - 2,0 mm dan proses operasi dapat dilakukan lebih cepat.
Selain itu masa penyembuhan hanya memerlukan waktu 1-2 hari.

Jakarta Eye Center (JEC) sebagai pusat layanan kesehatan mata terkemuka di
Indonesia kini menyediakan alat dengan teknologi terbaru Femtosecond Cataract
Surgery untuk operasi katarak. Untuk saat ini, JEC merupakan pusat kesehatan
pertama di Indonesia dan kedua di Asia yang memiliki alat tersebut. Alat ini
merupakan laser Femtosecond Cataract Surgery pertama yang diakui oleh Food and
6
Drug Administration (FDA) untuk operasi katarak. Dengan menggunakan platform
operasi 3D, alat tersebut memberikan visualisasi 3D, sayatan kornea dan fragmentasi
lensa dapat dilakukan dalam satu langkah. Layar sentuh intuitifnya dengan interface
grafis mempermudah prosedur operasi serta pencitraan yang dihasilkan
memungkinkan dokter untuk memperhitungkan ukuran, bentuk dan lokasi setiap
sayatan dengan lebih tepat.
Selain alat laser baru untuk operasi katarak, JEC juga menyediakan alat dengan
teknologi Laser Excimer terkini untuk mengkoreksi gangguan mata seperti rabun jauh
(myopia), rabun dekat (hypermetropia) dan silinder (astigmatisme).
“Alat ini memungkinkan operasi dilakukan tanpa alat harus menyentuh mata
atau yang disebut dengan no-touch procedure/treatment. Setelah mata diberikan obat
bius tetes, alat akan diarahkan ke arah kornea mata dan sinar laser dari alat tersebut
akan diaplikasikan ke kornea mata untuk melakukan koreksi. Dengan teknologi 6
dimensi, alat tersebut dapat mengikuti gerakan mata dari segala arah sehingga tingkat
akurasi jauh lebih tinggi. Luka sayatan yang dihasilkan laser excimer terbaru tersebut
sangat kecil yaitu 0,54 mm dan proses operasi hanya membutuhkan waktu sekitar 10
menit untuk kedua mata.,” tambah Prof. Dr. Istiantoro, SpM dari JEC.

4. Meningkatkan Sensori Sentuhan Dengan Stimulasi Gelombang Ultrasionik


Pada Otak
Para ilmuwan telah melakukan beberapa hal menakjubkan untuk otak manusia
dengan USG, seperti memecahkan pembekuan darah, meningkatkan kewaspadaan
bagi tentara, dan bahkan menghubungkan pikiran manusia dengan tikus. Sekarang,
mereka telah menunjukkan bahwa USG dapat mempertajam persepsi sensori
sentuhan.
Para peneliti di Virginia Tech Carilion Research Institute telah menunjukkan
bahwa dengan mengarahkan sinar ultra sound pada wilayah tertentu dari otak, mereka
dapat meningkatkan kemampuan peserta untuk mendeteksi perbedaan dalam sensori.
Untuk menguji teori mereka, tim peneliti dan para relawan dengan perangkat
EEG- monitoring dan menempatkan elektroda kecil di pergelangan tangan mereka.
7
Tepat setelah menstimulasi tangan mereka dengan elektroda, tim menemukan
perubahan pada otak para relawan di daerah yang berfungsi untuk memproses
rangsangan sentuhan. Selanjutnya member peserta dua tes neurologis klasik :pertama
mengukur kemampuan untuk membedakan apakah dua objek terdekat adalah sama
atau berbeda; kedua mengukur sensitivitas frekuensi tiupan pada kulit.
Hasilnya.USG sebenarnya melemahkan gelombang otak partisipan terkait
dengan sensori sentuhan, tetapi meningkatkan kinerja sensori pada tes. Para peneliti
berspekulasi hal itu bisa terjadi bahwa gelombang ultrasound spesifik yang mereka
gunakan mungkin telah mempengaruhi keseimbangan antara neuron yang
merangsang dan neuron yang menghambat pengolahan stimuli sensorik di wilayah
otak yang ditargetkan.
Gelombang ultrasonic hanya mempengaruhi wilayah yang sangat spesifik dari
sebagian kecil permukaan otak – memindahkan rangsangan kebagian otak lain tidak
menimbulkan efek yang spesifik. Penemuan ini bias membuat teknologi yang lebih
baik untuk stimulasi otak non – invasive dari dua kandidat terkemuka lainnya,
magnet dan arus listrik.

2.3 ISU PADA GANGGUAN SISTEM SENSORI PERSEPSI

Salah satu isu mengenai gangguan sistem sensori persepsi adalah : cara
menyembuhkan buta warna partsial. Buta warna didefinisikan sebagai kelainan atau
gangguan dalam melihat warna. Paling sering ditemui adalah gangguan melihat
warna merah-hijau. Gangguan warna biru-kuning lebih jarang. Sedangkan buta warna
total, yaitu tidak dapat melihat warna sama sekali, lebih jarang lagi. Untuk buta warna
ini tidak hanya dialami oleh orang dewasa, anak-anak pun banyak yang mengalami
gangguan ini.

Namun apakah buta warna dapat disembuhkan? Menurut beberapa ahli, buta
warna masih bisa disembuhkan dan itu ada beberapa tahapannya. Buta warna
disebabkan oleh dua hal, yaitu karena turunan dan karena dapatan (acquired). Buta

8
warna turunan terjadi akibat kurang atau tidak adanya sel konus. Fungsi sel ini adalah
'menangkap" warna. Ada tiga jenis sel konus, yaitu yang sensitive terhadap warna
merah, hijau, dan biru. Warna yang kita lihat merupakan perbaduan dari ketiganya.

Jika hanya satu atau dua jenis sel konus yang jumlahnya kurang atau tidak ada,
disebut buta warna sebagian. Artinya, penderita masih mampu melihat warna tertentu.
Sedangkan jika ketiganya tidak ada atau tidak berfungsi sama sekali, maka penderita
akan melihat dunia ini hitam, putih, dan abu-abu. Jenis yang terakhir ini dinamakan
buta warna total.

Sampai saat ini, belum ditemukan cara untuk menyembuhkan buta warna
turunan. Walaupun demikian, tersedia beberapa cara untuk membantu penderitanya.
Cara tersebut antara lain adalah:

1. Menggunakan kaca mata lensa warna. Tujuannya, agar penderita dapat


membedakan warna dengan lebih mudah. Cara ini terbukti efektif pada
beberapa penderita.
2. Menggunakan kaca mata dengan lensa yang dapat mengurangi cahaya silau.
Biasanya penderita buta warna dapat membedakan warna lebih jelas jika cahaya
tidak terlalu terang atau menyilaukan.
3. Jika tidak dapat melihat warna sama sekali (buta warna total), penderita
dianjurkan menggunakan kaca mata lensa gelap dan mempunyai pelindung
cahaya pada sisinya. Suasana lebih gelap diperlukan karena sel rod, yaitu sel
yang hanya bias membedakan warna hitam, putih, dan abu-abu, bekerja dengan
lebih baik pada kondisi cahaya yang suram.

Lain halnya dengan buta warna dapatan. Beberapa diantaranya masih dapat
disembuhkan. Misalnya, buta warna akibat katarak. Dengan mengoperasi kataraknya,
buta warnanya akan sembuh. Demikian pula dengan buta warna akibat efek samping
obat. Dengan menghentikan obat yang menjadi biang penyebab, penglihatan akan
normal kembali.

9
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Trend adalah sesuatu yang sedang dibicarakan oleh banyak orang saat ini dan
kejadiannya berdasarkan fakta. Isu adalah sesuatu yang sedang hangat dibicarakan
oleh khalayak ramai namun masih belum pasti kebenarannya dan hanya hasil dari
pendapat seseorang.
Gangguan persepsi sensorik adalah perubahan jumlah pola dari stimulus yang
masuk, disertai dengan respon yang berkurang, berlebihan, terdistorsi, atau
menganggu rangsangan tersebut.
Kebutuhan persepsi sensori merupakan kebutuhan manusia dimana merupakan
proses memilih,menafsirkan yang membutuhkan alat indra yang meliputi
pengelihatan,pendengaran,perabaan dan perasaan.pemenuhan kebutuhan persepsi
sensorik sangat dibutuhkan untuk berbagai hal dianjtaranya yaitu dalam komunikasi
antara perawat dengan pasien.adanya gangguan pada alat indra mempengarui persepsi
sensori seseorang dan persepsi setiap orang berbeda-beda yang dipengarui oleh
beberapa hal diantaranya lingkungan,pengalaman sebelumnya,gaya hidup,penyakit
dan jenis pengobatan seseorang.

3.2 SARAN
Sebagai mahasiswa kita harus peka terhadap semua perkembangan alat maupun
teknologi yang berpengaruh pada dunia kesehatan apalagi kita sebagai mahasiswa
tenaga keperawatan. Tren-tren dan isu-isu perlu kita pahami sebagai acuan untuk
menentukan tindakan dalam keperawatan apakah itu bisa kita jadikan pedoman atau
tidaknya, karena tidka bisa dipungkiri bahwa perkembangan zaman sangatlah
dibutuhkan, namun kita harus dapat menyaringnya.

10