Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

MATA KULIAH : PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK DASAR I

REAKSI IDENTIFIKASI KATION

Oleh:

NAMA : SITI KHODIJAH DALIMUNTHE

NIM : 4161131036

JURUSAN : KIMIA

PROGRAM : PENDIDIKAN KIMIA (S1)

KELOMPOK : III (TIGA)

TGL PELAKSANAAN : 15 MARET 2018

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2018
I. JUDUL PERCOBAAN : UJI PENDAHULUAN TERHADAP SAMPEL

II. TUJUAN PERBOBAAN


1. Mengetahui warna endapan dari kation Pb2+
2. Mengetahui warna kation yang dihasilkan pada golongan I, II, dan III.
3. Mengetahui penyebab tidak terjadinya endapan pada kation
4. Mengetahui senyawa kompleks yang terbentuk berdasarkan percobaan
5. Mengetahui ion kation golongan dua yang terdapat pada sampel

III. TINJAUAN TEORITIS


Kimia analitik dibagi menjadi bidang-bidang yang disebut analisis kualitatif dan analisis
kuantitatif. Analisis kuantitatif berkaitan dengan identifikasi zat-zat kimia, mengenali unsur-
unsur senyawa apa yang ada dalam suatu sampel. Umumnya kimia dihadapkan dengan analisis
kualitatif, sejumlah unsur dipisahkan dan diidentifikasi melalui pengendapan dengan hidrogen
sulfida. Analisis kualitatif berkaitan dengan penetapan berapa banyak suatu zat tertentu yang
terkandung dalam suatu sampel. Zat yang ditetapkan tersebut dinyatakan sebagai analit (Day dan
Underwood, 2001: 2).
Analisis kualitatif adalah suatu analisisyang berhubungan dengan identifikasi suatu zat
atau campuran yang tidak diketahui. Analisis kualitatif lengkap sampel anorganik, meliputi
analisis identifikasi semua jenis kation maupun anion yang mungkin ada dalam sampel. Ion-ion
umum dijumpai dalam cuplikan jenis kation yaitu,
Tabel. 2.1 ion-ion yang umum dijumpai.
Kation Ag+,Pb2+, Hg2+, Hg22+, Bi3+, Cu2+, Cd2+, Sn2+, Sn4+, Sb3+, As3+, Fe3+,
Fe2+, Al3+, Cr3+, Mn2+, Zn2+, Ni2+, Co2+, Ba2+, Ca2+, Mg2+, Na+, K+,
NH4+
Dasar identifikasi atau pengenalan unsur-unsur terletak pada sifat-sifat fisika atau kimia
atau fisika. Sifat-sifat yang paling sederhana yang dipakai untuk pengenalan adalah sifat-sifat
yang dapat langsung diamati. Misalnya, warna suatu senyawa atau hasil reaksi dengan pereaksi
tertentu, dapat dipakai sebgai dasar pengenalan. Jika hendak mengnalisis sampel yang berisi
sejumlah ion, maka cara terbaik yang dapat dilakukan adalah mencari pereaksi-peraksi yang
ampu mengendapakan bersama sejumlah tertentu ion, yang dipisahkan kemudian dengan
penyaringan. Masing-masing kelompok ini selanjutnya diuraikan menjadi beberapa sub
kelompok dan demikian selanjutnya tinggal satu ion dalam larutan.
Secara umum Ion bermuatan positif yang kehilangan satu atau lebih elektron disebut
dengan kation karena kation yang tertarik menuju anoda. Suatu pereaksi menyebabkan sebagian
kation mengendap dan sebagian larut. Maka setelah dilakukan penyaringan terhadap endapan
terbentuk dua kelompok campuran yang masing-masingnya kurang dari campuran sebelumnya.
Reaksi yang terjadi saat pengidentifikasikan menyebabkan sebentuknya zat-zat baru yang
berbeda dari zat semula dan berbeda sifat fisiknya.
Menurut Chadijah (2012: 81), analisis kualitatif kation dalam larutan didapat pembagian
atas enam kelompok atau golongan yaitu,
1. Golongan perak, dipakai pereaksi HCl encer dan dihasilkan endapan klorida dari ion Ag (I), Hg
(I), Pb (II). Golongan ini juga dikenal sebagai golongan 1 atau golongan klorida.
2. Golongan tembaga-arsen, peraksi yang dipakai adalah asam sulfida, dalam suasana HCl encer,
akan didapatkan sejumlah garam sulfida dari Hg (II), Pb (II), Bi (III), Cu (II), Cd (II), Al (III), Sn
(IV) dan Sb (III). Golongan ini juga dikenal sebagai golongan II atau golongan sulfida.
3. Golongan aluminium, pereaksi pengendapan adalah campuran amonium hidroksi dan amonium
klorida dan menghasilkan endapan hidroksida atau oksida terhidrasi. Ion logam yang bereaksi
adalah Al (III), Fe (III), Mn (IV), dan Cr (III), golongan ini dinamakan golongan III atau
golongan hidroksida.
4. Golongan nikel, pereaksi pengendap adalah campuran amonium sulfida dan amonium klorida,
menghasilkan endapan sulfida larut dalam asam klorida. Ion logam bereaksi adalah Ni (III), Co
(II), Mn (II) dan Zn (II). Golongan ini dinamakan golongan IV atau golongan sulfida.
5. Golongan barium, ion-ion logam kelompok ini tidak dapat diendapkan sebagai senyawa klorida,
sulfida atau hidroksida tetapi dapat diendapkan sebagai senyawa karbonat. Pereaksi pengendap
adalah amonium karbonat dengan kondisi larutan tertentu. Ion logam terendapkan adalah Ba (II),
Sr (II) dan Ca(II). Golongan ini dinamakan golongan V atau karbonat.
6. Golongan magnesium, ion-ion dalam kelompok ini tidak dapat diendapkan dengan berbagai
pereaksi pengendap sebelumnya. Dalam kelompok ini terdapat ion Mg (II), K (I), Na (I) dan
amonium (I). Golongan ini dinamakan golongan VI atau golongan sisa.
Identifikasi kation banyak digunakan terhadap terutama sampel yang berupa bahan garam
yang mengandung banyak logam-logam, misalnya pasir besi dan sebagainya. Uji kation ini,
bahan-bahan galian tersebut dapat segera ditentukan tanpa memerlukan waktu yang lama.
Dengan adanya suatu unsur berguna untuk memisahkan bahan galian yang tercampur. Selain itu,
dapat juga di gunakan untuk kasus-kasus keracunan logam berat, seperti Hg dan Pb. Identifikasi
kation banyak digunakan atau dilakukan, mengingat karena bahan-bahan tersebut merupakan
bagian bahan obat, bahan baku, dan sedian obat. Namun, dapat juga sebagai pencemar yang
perlu di ketahui keberadaannya agar dapat diantisipasi bila membahayakan. Klasifikasi kation
yang paling umum di dasarkan pada perbedaan kelarutan dari klorida, sulfida dan karbonat
tersebut.
Suatu pereaksi menyebabkan sebagian kation mengendap dan sebagian larut, maka
setelah di lakukan penyaringan terhadap endapan terbentuk dua kelompok campuran yang massa
masing-masingnya kurang dari campuran sebelumnya. Reaksi yang terjadi saat
pengindentifikasian menyebabkan terbentuknya zat-zat baru yang berbeda dari zat semula dan
berbeda sifat fisiknya (Chadijah 2012: 84-85).
Penetapan amonium dengan prosedur gravimetri, amonium harus terdapat sebagai
kloridanya, semua kation lain tak boleh ada. Sedikit asam klorida (HCl) di tambahkan diikuti
dengan reagensia asam kloroplatina berlebih. Amonium dapat juga di tetapkan dengan
mengendapkannya dengan natrium tetrafenilborat sebagai amonium tetrafenilboron, yang sedikit
sekali dapat larut, dengan memakai prosedur yang serupa seperti yang di uraikan untuk kalium,
zat ini dikeringkan pada 100oC (Svehla, 1985: 527-528).
Kation dalam kelompok diendapkan sebagai senyawa, dengan menggunakan pereaksi
pengendap golongan tertentu. Endapan yang dihasilkan mengandung kation-kation dalam suatu
golongan. Pemisahan endapan dari larutannya biasanya cukup dilakukan dengan teknik
sentrifugasi yang diteruskan dengan dekantasi (Chadijah, 2012: 85).
Menurut Chadijah (2012: 85-91), pereaksi pengendap bila ditambahkan pada larutan
menghasilakn dekantasi yaitu:
1. Kation golongan I ( Hg22+, Ag+ dan Pb2+)
Kation golongan I terdiri dari tiga ion logam yang garam kloridanya tidak larut dalam
larutan asam. Pereaksi yang digunakan untuk menetapkan golongan ini adalah asam klorida
sehingga golongan I kadan-kadang disebut golongan asam klorida, golongan klorida, dan
golongan perak. Dalam suasana asam, klorida dari kation dari golongan lain larut.
2. Kation golongan II (Hg2+, Pb2+, Cu2+ dan Sb3+)
Sulfida dari kation golongan II meruapakan endapan yang dihasilkan dari penambahan
hidrogen sulfida dalam suasana asam encer kedalam larutan sampel. Golongan II sering juga
disebut asam hidrogen sulfida atau golongan tembaga III. Walaupun tidak dimasukkan
dalam skema pemisahan, karena bersifat sangat beracun arsen dan bismuth juga termasuk
dalam golongan ini.
3. Kation golongan III (Zn2+, Mn2+ dan Fe2+)
Ion-ion dari golongan III semuanya diendapkan oleh hidrogen sulfida dalam buffer amonia-
amonium klorida. Golongan ini golongan hidrogen sulfida basa atau golongan amunium
besi.
4. Kation golongan IV (Ca2+ dan Ba2+)
Kalsium dan barium terletak dalam suatu golongan sehingga keduanya memiliki sifat kimia
yang mirip, dan sulit unutk saling dipisahkan. Karena, hanya terdiri dari dua kation dan
memiliki kemiripan sifat, karena untuk golongan ini dibahas secara bersama-sama.
5. Kation golongan V (Mg2+, Na+, K+ dan Nh4+)
Senyawa ini memiliki derajat kelarutan yang sangat tinggi, sehingga kadang-kadan disebut
sebagai golongan larut.
Timbal merupakan logam putih kebiru-biruan dengan pancaran yang terang. Sifat sangat
lunak, mudah dibentuk, ductile dan bukan konduktor listrik yang baik. Memiliki resistasi yang
tinggi terhadap korosi, kegunaan timbal sangat efektif sebagai penyerap suara, digunakan
sebagai tameng radiasi disekeliling peralatan sinar-X dan reaktor nuklir juga dapat digunakan
sebagai penyerap getaran. Penggunaan timbal dalam cat telah diperketat unutk mencegah bahaya
bagi manusia (Syamsidar, 2013: 141).
Penetapan amonium dengan prosedur gravimetri, amonium harus terdapat sebagai
kloridanya, semua kation tidak boleh sama. Sedikit asam klorida (HCl) ditambahkan, dengan
reagensia asam kloroplatina berlebih. Amonium dapat ditetapkan dengan mengendapkannya
dengan natrium tetrafenilborat sebagai amonium tetrafenilboron (NH4[B(C6H5)4]) (Basset, dkk,
1994: 527).
Larutan amonia endapan putih dengan komposisi tercampur, pada dasarnya terdiri dari
merkurium (II) oksida dan merkurium (II) amidonitrat, garam ini kebanyakan senyawa-senyawa
merkurium, bersublimasi pada tekanan atmosfer (Svehla, 1985: 224).
Barium sulfat dapat diendapkan atau memakai asam sulfat, dalam larutan homogen
dengan memakai larutan asam sulfamat, yang menghasilkan ion sulfat saat dididihkan.
Pengendapan barium kromat biasanya dilangsungkan dalam asam asetat encer yang dibufferkan
dengan amonium asetat, pengendapan ulang diperlukan jika ada (Basset, dkk, 1994: 530-531).

IV. ALAT DAN BAHAN

A. ALAT

No. NamaAlat Ukuran Jumlah


1. Tabungreaksi - 6 buah

2. Raktabungreaksi - 1 buah

3. Lampuspiritus - 1 buah

4. KertasSaring - Secukupnya

5. PenjepitTabung - 1 buah
B. BAHAN

No Nama Bahan Rumus Konsentrasi Wujud Warna Jumlah


Kimia
1. Asam Klorida HCl 0,1 N Cair Bening Secukup
nya

2. NatriumHidroksid NaOH - Cair Bening Secukup


a nya

3. Amonium Sulfida (NH4)2S - Cair Hitam Secukup


nya

4. AsamNitrat HNO3 - Cair Bening Secukup


nya
5. AmoniaPekat NH3 (p) - Cair Bening Secukup
nya

6. KaliumKromat K2CrO4 - Cair Kuning Secukup


nya

7. Natriumtiosulfat Na2S2O3 - Cair Bening Secukup


nya

V. PROSEDUR KERJA
sampel

HCl encer

PbCl2,

air panas

Hasil: Pb2+ larut setelah ditambahkan air panas dan


embentuk endapan putih yang menandakan sampel
mengandung ion kation Pb2+
filtrat sampel

(NH4)2S

endapan

NaOH

CuS

HNO3

Cu2+ lembayung
NH3

Cu(NH3)4 biru
Na2S2O3

Hasil: terbentuk larutan yang berwarna coklat


yang menandakan bahwa titrat sampel
mengandung ion kation Cu

hasil titrat yang ke-2 sampel

dipanaskan dan ditambah (NH4)2S

endapan

HCl encer

larutan

NH4SCN

Hasil: larutan yang terbentuk


berwarna biru yang menandakan
adanya ion kation Co
VI. PEMBAHASAN DAN PEMBAHASAN

Identifikasi Kation Pb2+

Reaksi – Reaksi :
HCl + Pb2+  PbCl2
Pembahasan :
Secara Teori

VII. KESIMPULAN
1. Warna endapan dari Pb2+ adalah berupa endapan warna putih, sesuai dengan golongan
katiion pertama
2. Warna kation golongan I yang dihasilkan pada percobaan ini adalah berupa endapan putih
yaitu Pb2+, pada golongan II kation yang dihasilkan adalah larutan yang berwarna cokelat,
dan golongan III warna kation yang dihasilkan adalah berupa larutan berwarna biru.
3. Penyebab tidak terjadi endapan pada kation adalah zat atau senyawa yang terkandung pada
sampel memiliki kelarutan yang tinggi, sehingga tidak membutuhkan penambahan air panas.
Sedangkan pada percobaan yang mengandung endapan anyalah percobaan pertama yaitu
yang menghasilkan endapan putih setelah ditambahi dengan air panas yaitu (Pb2+).
Sedangkan pada percobaan kedua dan ketiga tidak mengandung endapan dan tidak
menggunakan air panas karena memiliki kelarutan yang relatif tinggi.
4. Senyawa kompleks yang terbentuk berdasarkan hasil percobaan adalah [Cu(NH3)4]2+ dan
[Co(SCN)4]2-
5. Ion kation golongan II yang dihasilkan pada sampel adalah ion Cu yang menghasilkan
larutan larutan berwarna cokelat

VIII. JAWABAN PERTNYAAN DAN TUGAS


1. Persamaan Reaksi pad aasing-masing percobaan yang dilakukan :
Ag(aq) + HCl(aq)  AgCl(s) + H(aq) endapan putih
Hg(aq) + HCl(aq)  HgCl(s) + H(aq) endapan putih
Pb2+(aq) + HCl(aq)  PbCl2(s) + H(aq) endapan putih
2. Persamaan Reaksi yang tidak mengahsilkan endapan yaitu :
Ag(aq) + HCl(aq)  AgCl(s) + H(aq) endapan putih
Hg(aq) + HCl(aq)  HgCl(s) + H(aq) endapan putih
3. Pada percobaan tidak didapat garam kompleks, yang terdapat hanyalah senyawa kompleks
yaitu [Cu(NH3)4]2+ dan [Co(SCN)4]2-
XI. DAFTAR PUSTAKA

Basset, J dkk. Vogel Texbook Of Quantitative Inorganic Analysis Including Elementary


Instrumental Analysis. Terj, A. Hadyan Pujaatmaka dan Ir. L.
Chadijah, Sitti., (2012). Dasar-dasar Kimia Analitik. Makassar: UIN Press
Day, R.A dan Underwood, A.L. 1993. Analisa Kimia Kuatitaif. Erlangga, Jakarta
Shevla, G.,1979. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro Dan Semimikro, Jakara:
Kalimon Media Pustaka
Syamsidar., (2013). Dasar Reaksi Kimia Anorganik. Makassar: UIN Press
Kusumarini, N., Utami, SR & Kusuma Z., (2014). Pelepasan Kation Basa Pada Bahan Pirosklatik Gunung
Merapi. Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan. Vol. 1 (2) : 01-06

Fatimah, D., (2004). Pengkajian senyawa Alumina siliko-fosfat sebagai pengolahan air bermasalah : studi
kasus ait tanah pantura (bekasi dan karawang). Jurnal zeolit Indonesia. Vol. 3(2)

Hendrawati & Maryam, S., (2008). Analisis kation dan anion air tanah di daerah sukabumi jawa barat.
Jurnal Valensi. Vol. 1(2)

Purwaningsih, D., (2009). Adsopsi multi logam Ag(I), Pb(II), Cr(III), Cu(II) DAN Ni(II) Pada Hibrida
Etilendiamino-Silika dari Abu sekam padi. Jurnal Penelitian Saintek. Vol. 14(1)