Anda di halaman 1dari 4

SEJARAH ANGKATAN 66

Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Semangat avant-grade sangat
menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam
aliran sastra, munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, absurd, dan
lain-lain. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya sastra pada
masa ini. Sastrawan pada akhir angkatan yang lalu termasuk juga dalam kelompok ini diantaranya
Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan
Moehammad, Sapardi Djoko Damono, dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra
Indonesia, H.B. Jassin.

Nama angkatan ’66 dicetuskan Hans Bague (H.B) Jassin melalui bukunya yang berjudul Angkatan
’66. Angkatan ini lahir bersamaan dengan kondisi plitik Indonesia yamg tengah mengalami
kekacauan akibat merajalelanya paham komunis. Pada saat itu, PKI hendak menguasai Negara dan
berusaha menggantikan ideologi Pancasila dengan ideologi komunis. Oleh karena itu, karya sastra
yang lahir pada periode ini lebih banyak yang berwarna protes terhadap keadaan sosial dan politik
pada masa itu.

Pada masanya karya sastranya berupa novel, cerpen dan drama kurang mendapat perhatian,
bahkan sering menimbulkan kesalahpahaman. Ia lahir mendahului jamannya. Beberapa sastrawan
pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arif C. Noer, Akhudiat,
Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu
Wijaya, Wisran Hadi, Wing Karjo, Taufik Ismail dan masih banyak lagi.

LATAR BELAKANG MUNCULNYA ANGKATAN 66

Munculnya sastra angkatan ‘66 ini didahului dengan adanya kemelut di segala bidang kehidupan
di Indonesia yang disebabkan oleh aksi teror politik G30S/PKI dan ormas-ormas yang bernaung
dibawahnya. Angkatan ‘66 mempunyai cita-cita ingin adanya pemurnian pelaksanaan Pancasila
dan melaksanakan ide-ide yang terkandung di dalam Manifest Kebudayaan. Tumbuhnya sastra
angkatan ‘66 sejalan dengan tumbuhnya aksi-aksi sosial politik di awal angkatan ‘66 yang
dipelopori oleh KAMMI/KAPPI untuk memperjuangkan Tritura. Munculnya nama angkatan ‘66
telah diumumkan oleh H.B. Jassin dalam majalah Horison nomor 2 tahun 1966. Pada tulisan
tersebut dikatakan bahwa angkatan ‘66 lahir setelah ditumpasnya pengkhianatan G.30S/PKI.
Penamaan angkatan ‘66 ini pun mengalami adu pendapat. Sebelum nama angkatan ‘66
diresmikan, ada yang memberi nama angkatan Manifest Kebudayaan (MANIKEBU). Alasan
penamaan ini karena Manifest Kebudayaan yang telah dicetuskan pada tahun 1963 itu
pernyataan tegas perumusan perlawanan terhadap penyelewengan Pancasila dan perusakan
kebudayaan oleh Lekra/PKI. Beberapa sastrawan merasa keberatan dengan nama angkatan
MANIKEBU. Mereka berpandangan bahwa sastrawan yang tidak ikut menandatangani atau
mendukung Manifest Kebudayaan akan merasa tidak tercakup di dalamnya, meskipun hasil
ciptaannya menunjukkan ketegasan dalam menolak ideologi yang dibawa oleh PKI dalam
lapangan politik dan kebudayaan.
Pemberian atau penamaan “Angkatan 66” pertama kali dikemukakan oleh H.B.Jassin dalam
artikelnya berjudul Angkatan ’66 Bangkitnya Satu Generasi, dimuat dalam majalah Horison,
Agustus 1966; kemudian dimuat kembali dalam bunga rampainya berjudul Angkatan ’66.
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis.
Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada mas
ini.
Faktor-faktor penyebab pertumbuhan sastra cukup pesat, antara lain adanya taman Ismail
Marzuki, didirikannya penerbit Pustaka Jaya, adanya maecenas yang stabil. Maecenas adalah
sebagai pelindung seni dan kebudayaan dan pemerintah DKI menyelenggarakan lomba menulis
roman, naskah drama yang bisa merangsang pengarang sehingga muncul kegiatan seni budaya.

CIRI-CIRI ANGKATAN 66

 Mulai dikenal gaya efik (bercerita), dan pada puisi muncul puisi-puisi balada.
 Puisinya menggambarkan kemuraman (batin), hidup yang menderita
 Prosanya menggambarkan maslah kemasyarakatan, misalnya tentang perekonomian yang
buruk, pengangguran, dan kemiskinan.
 Cerita dengan latar perang dalam prosa mulai berkurang, dan pertentangan dalam politik
pemerintahan lebih banyak mengemuka.
 Banyak terdapat penggunaan gaya retorik dan slogan dalam puisi.
 Muncul puisi mantra dan surealisme (absurd) pada awal tahun 1970-an yang banyak berisi
tentang kritik sosial dan kesewenang-wenangan terhadap kaum lemah.

PENULIS/KARYA ANGAKATAN 66

Sutardji Calzoum Bachri

o O
o Amuk
o Kapak

 Abdul Hadi WM
o Laut Belum Pasang – (kumpulan puisi)
o Meditasi – (kumpulan puisi)
o Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur – (kumpulan puisi)
o Tergantung Pada Angin – (kumpulan puisi)
o Anak Laut Anak Angin – (kumpulan puisi)

 Sapardi Djoko Damono


o Dukamu Abadi – (kumpulan puisi)
o Mata Pisau dan Akuarium – (kumpulan puisi)
o Perahu Kertas – (kumpulan puisi)
o Sihir Hujan – (kumpulan puisi)
o Hujan Bulan Juni – (kumpulan puisi)
o Arloji – (kumpulan puisi)
o Ayat-ayat Api – (kumpulan puisi)

 Goenawan Mohamad
o Interlude
o Parikesit
o Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang – (kumpulan esai)
o Asmaradana
o Misalkan Kita di Sarajevo

 Umar Kayam
o Seribu Kunang-kunang di Manhattan
o Sri Sumarah dan Bawuk – (kumpulan cerita pendek)
o Lebaran di Karet, di Karet – (kumpulan cerita pendek)
o Pada Suatu Saat di Bandar Sangging -
o Kelir Tanpa Batas
o Para Priyayi
o Jalan Menikung

 Danarto
o Godlob
o Adam Makrifat
o Berhala

 Putu Wijaya
o Telegram
o Stasiun
o Pabrik
o Gres – Putu Wijaya
o Bom
o Aduh – (drama)
o Edan – (drama)
o Dag Dig Dug – (drama)

 Iwan Simatupang
o Ziarah
o Kering
o Merahnya Merah
o Koong
o RT Nol / RW Nol – (drama)
o Tegak Lurus Dengan Langit

 Arifin C. Noer
o Tengul – (drama)
o Sumur Tanpa Dasar – (drama)
o Kapai Kapai – (drama)

 Djamil Suherman
o Sarip Tambak-Oso
o Umi Kulsum – (kumpulan cerita pendek)
o Perjalanan ke Akhirat
o Sakerah