Anda di halaman 1dari 8

Tugas Mata Kuliah : Dinamika Masyarakat Perkotaan dan Wilayah

Nama : Muhammad Fauzi Ibrahim Hasan


NIM : 17.70.251.002

Pertanyaan
Berikan penjelasan yang lengkap dan paripurna tentang korelasi antara dinamika masyarakat
dan perencanaan pembangunan kota!

Jawaban
Dinamika masyarakat menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat
dan berdampak pada kondisi sosial, ekonomi, lingkungan, budaya, politik, maupun
pertahanan dan keamanan. Dinamika masyarakat yang diiringi dengan pertumbuhan
penduduk yang cepat di daerah perkotaan menjadi salah satu pendorong bagi pemerintah
maupun para perencana kota untuk mengubah sedemikian rupa praktek perencanaan
pembangunan kota. Bagi pemerintah yang semula berperan sebagai regulator, kini telah
berkembang menjadi fasilitator.

Perencanaan pembangunan kota itu sendiri adalah suatu proses yang dinamis karena
mengikuti atau menyesuaikan perkembangan maupun perubahan-perubahan yang terjadi di
masyarakat kota. Aspek-aspek sosial, budaya, ekonomi, lingkungan adalah beberapa aspek
pembangunan yang sangat dinamis dan selalu berubah. Perubahan-perubahan tersebut perlu
dimasukkan ke dalam rencana pembangunan kota sebagai pedoman perencanaan
pembangunan. Di sisi lain, rencana pembangunan kota yang baik adalah rencana yang mampu
menggambarkan visi pembangunan kota serta bersifat partisipatif (social participation) dari
lapisan atas hingga ke lapisan bawah untuk menunjang pembangunan kota.

Walau demikian perlu dipahami bahwa perencanaan pembangunan kota berawal dari topik
besar yaitu Perencanaan Kota. Perencanan kota adalah perencanaan penggunaan ruang kota
(termasuk perencanaan pergerakan dalam ruang kota) dan perencanaan kegiatan pada ruang
kota. Perencanaan penggunaan ruang diatur dalam bentuk perencanaan tata ruang kota,
sedangkan perencanaan kegiatan dalam kota diatur dalam perencanaan pembangunan kota,
baik jangka panjang, menengah, maupun jangka pendek. Tata ruang kota menjadi landasan
dan juga sasaran perencanaan pembangunan kota.

1
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa korelasi antara dinamika masyarakat dan
perencanaan pembangunan kota sepatutnya dapat tergambarkan dalam rencana
pembangunan suatu kota dalam jangka waktu tertentu. Perencanaan pembangunan kota ini
dibutuhkan untuk mewadahi dinamika masyarakat yang terjadi agar terbangun keteraturan
dalam masyarakat, masyarakat dapat memperoleh pelayanan dengan optimal, serta dapat
mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Beberapa hal dalam dinamika sosial yang patut menjadi perhatian dalam perencanaan
pembangunan kota yaitu manajemen konflik, kemiskinan, urbanisasi, rekayasa sosial,
partisipasi masyarakat, interaksi antara tingkah laku sosial dan lingkungan, social network,
dan pemberdayaan masyarakat.

Manajemen Konflik
Konflik adalah hal yang alamiah terjadi dalam kehidupan manusia. Konflik dapat timbul baik
karena adanya perbedaan tujuan atau pemahaman maupun karena adanya kesamaan
kepentingan sehingga menimbulkan persaingan. Dalam lingkup perencanaan pembangunan
kota, konflik yang terjadi di masyarakat harus mampu dikelola agar tidak merugikan pihak
manapun.

Indonesia pernah mengalami beberapa konflik baik horizontal maupun vertikal. Konflik
horizontal terjadi antar-komponen dalam masyarakat seperti konflik antar-etnis di
Singkawang (1996), konflik Sampit (1999), konflik Ambon (1998-2000), serta konflik Poso
(2000-2005). Sementara itu konflik vertikal terjadi antara pihak yang berbeda kelas
kedudukan misalnya antara rakyat dengan penguasa, golongan miskin dengan golongan kaya
yang berpengaruh. Contoh dari konflik ini yakni penolakan masyarakat setempat pada
pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Bantargebang, Bekasi; konflik
antara Pedagan Kaki Lima dengan pemerintah kota yang tengah melakukan penertiban;
konflik karena menempati ruang di sempadan sungai; serta masyarakat yang menderita
akibat pencemaran lingkungan oleh industri.

Berbagai kejadian konflik sosial di atas hendaknya menjadi pembelajaran penting bagi para
pemerintah maupun perencana kota tentang membangun komitmen melaksanakan
perencanaan pembangunan kota yang jelas, tepat sasaran, transparan, dan partisipatif agar
potensi-potensi muncul konflik sosial dapat terhindari. Bahkan sebaliknya, manakala

2
perencanaan pembangunan kota dapat menumbuhkan keeratan dan ikatan komunal yang
kuat di tengah-tengah masyarakat, kehidupan masyarakat perkotaan justru akan semakin
produktif.

Kebijakan Anti-Kemiskinan
Dalam beberapa diskursus tentang kemiskinan, secara umum dapat ditarik kesamaan
diantara berbagai penjelasannya yaitu kemiskinan dianalogikan sebagai suatu bentuk
ketidakberdayaan atau kekurangan. Analogi ini menyebabkan banyak pihak yang kesulitan
untuk memahaminya. Dampaknya bagi pembangunan di negara ini adalah pemerintah
kesulitan menentukan langkah-langkah kebijakan yang tepat dalam menanggulangi
kemiskinan.

Salah satu tujuan dilakukannya pembangunan adalah untuk mengentaskan kemiskinan,


mengurangi kesenjangan antara golongan kaya dan miskin. Bagi para perencana
pembangunan kota, agenda yang selalu dipikirkan yaitu memberikan akses ke fasilitas publik
dan lapangan pekerjaan yang memadai bagi masyarakat miskin.

Pekerjaan menanggulangi kemiskinan harus diakui bukanlah pekerjaan yang mudah.


Setidaknya berbagai program pengentasan kemiskinan yang pernah dilakukan pemerintah
telah menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan sejak Orde Baru hingga orde pascareformasi
saat masih berkutat pada isu yang sama. Secara absolut Indonesia masih berhadapan dengan
isu kemiskinan yang tampak seperti tidak kunjung tuntas. Program-program yang berbasis
memacu pertumbuhan ekonomi nasional dan pemberdayaan masyarakat seperti IDT (Inpres
Desa Tertinggal), PDM-DKE (Pemberdayaan Daerah dalam Mengatasi Dampak Krisis
Ekonomi), PPK (Program Pengembangan Kecamatan), P2KP (Program Penanggulangan
Kemiskinan di Perkotaan), PKH (Program Keluarga Harapan), P2DTK (Percepatan
Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus), PPIP (Program Pembangunan Infrastruktur
Perdesaan), dan sebagainya memang cukup bermanfaat namun belum menunjukkan hasil
memuaskan. Para ahli berpandangan meskipun jumlah orang miskin menurun, kesenjangan
dalam banyak hal justru melebar.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa besaran aliran dana dan program yang digulirkan
ternyata belum mampu mengatasi besaran masalah dan tekanan kemiskinan di masyarakat.
Kebijakan dan upaya pengentasan kemiskinan hendaknya dilakukan secara menyeluruh, tidak

3
sepotong-sepotong (parsial), dan temporer. Upaya pengentasan sepatutnya tidak hanya
menyentuh isu-isu ekonomi saja, namun juga perlu ada perbaikan pada kerentanan hidup,
ketidakberdayaan, kelemahan fisik/ jasmani, dan keterisolasian.

Urbanisasi
Secara konseptual, urbanisasi adalah pengkotaan, proses menjadi kota; peningkatan
persentase penduduk perkotaan; kota tumbuh meluas, daerah pinggiran yang semula
perdesaan menjadi kota. Adapun pendapat lain dari pakar perkotaan bahwa urbanisasi
adalah suatu proses terbentuknya perkotaan yang berbeda dengan kehidupan pedesaan,
dalam konteks ekonomi, sosial, dan mentalitas masyarakatnya.

Urbanisasi menjadi proses kehidupan yang tidak sama tingkatannya baik ditinjau dari aspek
kecepatannya maupun kepadatannya. Secara alamiah, urbanisasi memberi hasil yang tidak
merata, bahkan dapat menciptakan kesenjangan. Sisi lain, urbanisasi dapat dengan cepat
terjadi bahkan tidak dapat dicegah seiring dengan perkembangan proses maupun teknologi
komunikasi yang demikian cepat. Kendati demikian, bukan berarti urbanisasi dapat begitu
saja menghasilkan peningkatan kehidupan bagi para pelakunya, melainkan terjadinya
kesenjangan sosial dan dominasi kemiskinan kotalah yang menjadi hasilnya.

Wilayah pedesaan yang seringkali menjadi “objek” yang bertransformasi dan tereksploitasi
menjadi wilayah kota, perlahan-lahan mulai meninggalkan aktivitas di sektor pertanian.
Faktanya adalah sektor pertanian harus tetap eksis untuk mendukung kebutuhan primer
manusia baik di wilayah pedesaan maupun di perkotaan. Tidak hanya sektor pertanian,
umumnya di negara dunia ketiga seperti Indonesia, proses urbanisasi cenderung dapat
menghasilkan kemiskinan kota, kesenjangan wilayah, serta kerusakan lingkungan. Setidaknya
ketiga hal itulah yang kerapkali disematkan pada konsepsi urbanisasi dalam teori-teori
pembangunan kota.

Oleh karena itu, proses merencanakan pembangunan kota hendaknya betul-betul jeli melihat
potensi dari proses urbanisasi. Para perencana pembangunan kota dituntut untuk memiliki
visi menjadikan urbanisasi sebagai alat menaikkan kemampuan ekonomi perdesaan serta
dapat bersinergi dengan sektor pertanian. Urbanisasi harus dikondisikan menjadi strategi
pembangunan wilayah lokal dan menaikkan fungsi dan nilai tambah perdesaan, karena

4
umumnya sektor pertanian tidak mampu menjadi multiplikasi pembangunan, melainkan
kehidupan urbanlah yang mampu menjadi multiplikasi kegiatan ekonomi.

Rekayasa Sosial (Social Engineering)


Dalam perencanaan pembangunan kota, rekayasa sosial umumnya digunakan sebagai
metode yang mencakup strategi, cara-cara, langkah, dan upaya untuk melakukan perubahan
dalam masyarakat sesuai dengan tujuan perubahan yang dikehendaki. Upaya-upaya yang
dimaksudkan dalam rekayasa sosial ini adalah upaya yang dapat diambil dalam mengelola dan
mengatasi segala bentuk permasalahan sosial yang berpotensi timbul akibat adanya kegiatan
pembangunan. Rekayasa sosial tidaklah bermakna negatif, melainkan konsep ini bertujuan
untuk mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan masyarakat sehingga dapat menjamin
keberlangsungan hidup khususnya bagi masyarakat yang terkena dampak pembangunan.
Rekayasa sosial menjadi sarana untuk mencapai perubahan sosial secara terencana.

Rekayasa sosial dalam konteks perencanaan pembangunan kota menjadi faktor penting yang
perlu diperhatikan. Bagi suatu daerah yang memerlukan akselerasi perubahan dalam
pembangunan, tidak menutup kemungkinan dalam proses perumusan program-program
pembangunan dihadapkan pada potensi penolakan oleh masyarakat. Karena rumus
umumnya, segala bentuk perubahan seringkali berdampak pada persoalan keuangan
masyarakat, baik yang terkait dengan biaya hidup, biaya transportasi, dan sebagainya.
Perubahan cenderung mengganggu kemapanan, stabilitas, maupun waktu penyesuaian.
Penolakan masyarakat akan semakin menguat apabila perubahan yang ditawarkan
cenderung berbiaya tinggi dan membutuhkan waktu penyesuaian yang lama.

Oleh karena itu, para perencana kota ataupun perencana sosial, dituntut untuk dapat
melakukan prediksi/ prakiraan yang teliti dengan tujuan menghilangkan atau meredam
potensi konflik yang muncul dari sebuah rencana pembangunan. Rekayasa sosial yang
dilakukan dapat berupa langkah-langkah produktif yang efektif dan efisien agar masyarakat
menerima perubahan, terlibat dalam pembangunan, dan bahkan bersama-sama pemerintah
melakukan pengawasan pada pembangunan.

Partisipasi Masyarakat
Dalam mengakomodasi kepentingan masyarakat dalam pembangunan kota, upaya yang
dapat dilakukan yaitu melalui pendekatan partisipatif. Isu ini mengemuka saat peran

5
pemerintah dianggap semakin besar dalam proses penyelenggaraan pembangunan.
Dampaknya adalah masyarakat menjadi sangat bergantung kepada pemerintah dan berujung
pada pelemahan keswadayaan masyarakat. Adanya peranserta masyarakat melalui
pendekatan partisipatif dapat mengoreksi kekurangan pelaksanaan pembangunan yang
bertumpu pada negara dan mekanisme pasar. Sebagai bagian dari instrumen pembangunan,
partisipasi masyarakat diharapkan dapat menyentuh langsung kebutuhan masyarakat serta
dapat menggerakkan segala sumberdaya lokal untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan
demikian, partisipasi masyarkat dalam perencanaan pembangunan telah memungkinkan
masyarakat bertindak sebagai objek sekaligus subjek pembangunan kota.

Sebagai objek dan subjek pembangunan, masyarakat berhak memiliki suara untuk
menentukan jenis pembangunan yang akan dilakukan di lingkungan mereka di masa
mendatang. Salah satu saluran yang dapat dimanfaatkan dalam melaksanakaan budaya
partisipatif dalam perencanaan pembangunan adalah melalui Musrenbang (Musyawarah
Rencana Pembangunan), terutama di tingkat dusun, desa, kelurahan, ataupun kecamatan.

Partisipasi masyarakat diperlukan selain untuk pelaksanaan pembangunan, juga ditujukan


untuk mendukung pengamanan dan pemeliharaan hasil-hasil pembangunan kota sehingga
memiliki daya guna dan hasil guna secara maksimal.

Interaksi antara Tingkah Laku Sosial dan Lingkungan


Pembangunan, urbanisasi, dan pencemaran lingkungan hidup adalah tiga fenomena yang
tidak dapat dipisahkan dan harus mendapat perhatian pemerintah kota dimana pun.
Pertumbuhan ekonomi yang lebih banyak terpusat di kota-kota menjadi daya tarik bagi
penduduk desa untuk bermigrasi. Akibatnya tekanan penduduk semakin tinggi, tuntutan akan
kebutuhan penyediaan sarana-prasarana penunjang aktivitas semakin besar, hingga berujung
pada pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan yang semakin lepas kendali.

Urbanisasi – baik berupa migrasi penduduk maupun penyebaran pengaruh kota hingga ke
desa – telah memberi tantangan besar pada pengelolaan lingkungan perkotaan. Masalah-
masalah yang muncul seperti kesehatan lingkungan, persoalan sumber daya air,
berkurangnya ruang terbuka hijau, kebisingan kota yang berlebih, produktivitas penduduk,
berkurangnya kenyamanan, dan kualitas hidup para penduduk di kota merupakan beberapa
hasil interaksi sosial dengan lingkungan fisik dan alam sekitarnya. Oleh karenanya, masalah

6
lingkungan yang dihadapi pemerintah kota menjadi semakin komplek. Setidaknya terdapat
empat masalah lingkungan yang dihadapi pemerintah yaitu akses terhadap infrastruktur dan
pelayanan lingkungan, polusi dari limbah dan emisi, hilangnya sumberdaya alam
(pencemaran air tanah dan penurunan permukaan tanah), dan bencana lingkungan (karena
faktor alam dan manusia).

Proses perencanaan dan pembangunan kota haruslah dapat mencegah terjadinya degradasi
lingkungan serta dapat mewujudkan pembangunan yang bekelanjutan, agar masyarakat
dapat hidup dengan sehat, tenang, dan semakin produktif hingga generasi mendatang.

Social Network/ Pola Interaksi Sosial Cybernetic


Perkembangan dunia yang semakin cepat dalam dekade terakhir ini banyak dimotori oleh
perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK). Perkembangan ini pun telah
merambah ke segala bidang kehidupan dari peradaban manusia. Manusia darimana pun
menjadi semakin mudah dijangkau, semakin mudah untuk berkomunikasi, semakin mudah
untuk bertukar informasi, dimana pun dan kapan pun.

Merebaknya berbagai wahana (platform) media sosial menjadikan pola interaksi sosial antar-
manusia mengalami perubahan yang signifikan. Interaksi sosial yang tercipta di zaman siber
seperti saat ini telah “memaksa” manusia untuk bergerak lebih cepat serta membuka peluang
manusia untuk mendapatkan informasi yang lebih beragam. Manusia di era sibernetika
adalah manusia yang sangat mementingkan efektivitas dan efisiensi waktu. Tidak hanya
tentang kecepatan namun juga tentang percepatan, sehingga sedemikian rupa manusia di era
sibernetika dapat melakukan berbagai hal secara mangkus (efektif) dan sangkil (efisien)
sebagai dampak dari pasokan informasi yang melimpah. Oleh karenanya, kecepatan dan
percepatan menjadi ciri khas dari manusia sibernetik.

Tidak dapat dipungkiri, perkembangan dunia TIK inipun menjadi peluang bagi pemerintah
untuk lebih dekat masyarakatnya dalam proses menjalani roda pemerintah dan perencanaan
pembangunan. Berbagai instansi pemerintahan saat ini telah membuka saluran-saluran yang
berorientasi pada aspek transparansi dan akuntabilitas untuk mendapatkan kepercayaan
masyarakat dalam pengelolaan pembangunan. Hal ini bisa dilihat dari dibukanya akun
komunikasi di beberapa media sosial yang dimiliki berbagai instansi pemerintah sehingga
memudahkan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, kritik, dan sarannya;

7
pengembangan e-planning, e-budgeting, maupun whistle blowing system yang mudah
diakses masyarakat.

Dunia TIK telah menyediakan beragam informasi yang dapat diakses oleh siapapun. Harapan
yang muncul adalah melalui perkembangan TIK ini, semoga rencana pembangunan perkotaan
yang dirumuskan oleh para perencana kota dapat lebih menjawab berbagai permasalahan
kota yang dihadapi dan dapat memberi solusi terbaik untuk perkembangan kota tersebut.

Pemberdayaan Masyarakat
Paradigma pemberdayaan masyarakat yang menjadi salah satu isu utama pembangunan
muncul sebagai tanggapan atas kenyataan bahwa masih adanya kesenjangan yang terjadi
antara masyarakat di daerah perdesaan, kawasan terpencil, dan terbelakang. Suatu hal yang
paradoks jika dibandingkan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi perkotaan.
Pemberdayaan masyarakat telah menempatkan masyarakat sebagai pusat perhatian
sekaligus sebagai pelaku utama pembangunan (people-centered development).

Keterlibatan/ peran serta masyarakat masih terbatas pada implementasi dan penerapan
program pembangunan. Sementara untuk menjadi masyarakat yang kreatif, daya masyarakat
tidak dikembangkan dari dalam dirinya dan harus menerima keputusan yang sudah diambil
pihak luar.

Ditinjau dari perangkat aturan, pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah telah menjadikan pemberdayaan masyarakat sebagai salah
satu instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam Undang-Undang
Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional juga disebutkan
bahwa salah satu tujuan dari Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah
mengoptimalkan adanya partisipasi masyarakat.

Pemerintah pernah melakukan pemberdayaan masyarakat melalui berbagai program


pembangunan seperti PPK, P2KP, PMPD (Pemberdayaan Masyarakat dan Pembangunan
Desa), dan KPEL (Kemitraan dan Pengembangan Ekonomi Lokal). Memang salah satu tujuan
program pemberdayaan tersebut adalah pengentasan kemiskinan, karena fokus utama
pemberdayaan masyarakat ini adalah membuat masyarakat menjadi lebih berdaya. Kondisi
ketidakberdayaan ini banyak dialami oleh masyarakat yang tergolong miskin.