Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH FARMASI FISIKA 2

SISTEM DISPERSI

Disusun Oleh :
Jaya Sukmana 260110110086
Firdha Senja M. 260110110096
Dita Apriani 260110110104
Aryo Dwi Wicaksono 260110110110

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2014
I. PENDAHULUAN SISTEM DISPERSI
Sistem dispersi adalah campuran dari dua zat yang terdiri dari fase
terdispersi dan medium pendispersi dimana zat yang terdispersi tersebut berada
dalam bentuk partikel-partikel yang tersebar secara merata ke dalam medium
pendispersi (Kopeliovich, 2013).
Sistem dispersi dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa cara. Seperti
berdasarkan ukuran partikel, ada tidaknya pengendapan, dan gaya Brown
(Wikipedia, 2014).

I.1 Klasifikasi Sistem Dispersi


1. Dispersi Molekuler
Dispersi molekuler merupakan suatu bentuk zat padat yang terdistribusi secara
homogen ke dalam medium pendispersinya.
2. Koloid
Koloid merupakan sistem dispersi mikro-heterogen. Fase koloid tidak dapat
dipisahkan dengan gaya gravitasi, gaya sentrifugal, dan gaya lainnya. Fase
koloid ini dapat dipisahkan dari medium pendispersinya menggunakan
mikrofiltrasi.
3. Dispersi Kasar
Dispersi kasar adalah sistem dispersi heterogen dimana fase terdispersinya
memiliki ukuran yang besar dari dispersi molecular dan koloid. Sistem ini
ditandai dengan terjadinya pengendapan yang cepat akibat gaya gravitasi yang
mempengaruhinya. Fase terdispersinya dapat dipisahkan dari medium
endispersinya menggunakan penyaringan

Berikut adalah penggolongan sistem dispersi menurut ukuran partikelnya:


(Martin, Swarbrick, dan Cammarata, 2008).

Contoh-Contoh Sistem Dispersi


Fase Medium Dispersi Dispersi
Terdispersi Pendispersi Molekuler Koloid Kasar
Gas Gas Udara - -
(Oksigen,
Nitrogen, dll)
Cair Gas - Aerosol Aerosol
Padat Gas - Asap, awan, Debu
partikel di
udara
Gas Cair Oksigen Whipped Busa
dalam air cream,
shaving cream
Cair Cair Minuman Emulsi Susu,
beralkohol mayonnaise
Padat Cair Larutan gula Darah Lumpur
Gas Padat Hidrogen Aerogel, Dry sponge
dalam logam styrofoam
Cair Padat Merkuri Agar, gelatin Wet sponge
dalam Emas
Padat Padat Plastisizer Cranberry Gravel,
dalam plastik glass granit
(Wikipedia, 2014).
II. KOLOID
II.1 Pendahuluan Koloid
Koloid adalah sistem dispersi. Sistem dispersi atau sistem sebaran adalah
suatu sistem yang menunjukkan bahwa suatu zat terbagi (terdispersi) dalam zat
lain. Zat yang terbagi atau didispersikan disebut fase terdispersi fase intern, atau
fase diskontinu. Sedangkan zat yang digunakan untuk mendispersikan disebut
sebagai fase pendispersi, fase ekstern, atau fase kontinu (Martin, 1993).
Dispersi halus atau koloid adalah sistem dua fase yang ketercampurannya
berada di antara homogen dan heterogen, agak keruh, serta memiliki diameter
partikel 10-7 cm sampai 10-5 cm. partikel koloid tidak dapat dilihat dengan
mikroskop biasa, tetapi dapat dilihat dengan mikroskop ultra, mudah diendapkan,
dan tidak dapat melewati kertas saring biasa maupun membran semipermeabel.
Bentuk Koloid

(Martin, Swarbrick, dan Cammarata, 2008).

II.2 Penerapan Farmasetika dari Koloid


Beberapa jenis obat (zat aktif) tertentu ternyata mempunyai sifat terapetik
yang tidak biasa atau meningkat apabila diformulasian menjadi bentuk koloid.
Contohnya, perak klorida kooidal, perak iodida,perak protein merupakan
antibakteri yang efektif dan tidak menyebabkan iritasi. Sifat ini dimiliki oleh
garam-garam perak dalam bentuk ion. Selain itu, tembaga koloidal digunakan
dalm pengobatan kanker, emas koloidal sebagai zat pendiagnosis paresis, serta air
raksa dalam bentuk koloid digunakan untuk sifilis (Martin, Swarbrick, dan
Cammarata, 2008).

II.3 Tipe Koloid


Sistem koloid dimana fase terdispersinya mempunyai daya adsorbsi relatif
lebih besar disebut koloid liofil yang bersifat lebih stabil. Sedangkan jika partikel
terdispersinya mempunyai daya adsorbsi relatif lebih lemah disebut koloid liofob
yang bersifat kurang stabil. Sol liofil/liofob mudah terkoagulasi dengan sedikit
penambahan larutan elektrolit.
1. Koloid liofil (suka pelarut).
Koloid dimana terdapat gaya tarik menarik yang cukup besar antara fase
terdispersi dengan medium pendispersi. Contoh, disperse kanji, sabun, dan
deterjen (Ratna dkk, 2009)
Koloid liofilik atau koloid yang suka dengan pelarut atau medium
pendispersinya. Karena afinitasnya (kesukaanya) terhadap medium
pendispersi, bahan-bahan tersebut membentuk dispersi koloid, atau sol,
dengan relatif mudah. Jadi, sol koloidal liofilik biasanya diperoleh hanya
dengan melarutkan bahan dalam pelarut yang digunakan. Sebagai contoh,
disolusi gom atau gelatin dalam air atau seluloid dalam amil asetat akan
membentuk suatu sol (Martin, Swarbrick, dan Cammarata, 2008).

2. Koloid liofob (tidak suka pelarut)


Koloid dimana terdapat gaya tarik menarik antara fase terdispersi dengan
medium pendispersi yang cukup lemah atau bahkan tidak ada sama sekali.
Contoh, dispersi emas, belerang dalam air.
Koloid liofobik umumnya tersusun dari partikel-partikel anorganik yang
terdispersi dalam air. Untuk mendapatkan koloid liofobik diperlukan metode
khusus, seperti metode dispersi atau metode kondensasi.

a. Metode Dispersi
Pada metode ini, partikel-partikel kasar akan direduksi ukurannya.
Dispersi dapat dicapai dengan menggunakan generator ultrasonikyang
berintensitas tinggi yang bekerja pada frekuensi lebih dari 20.000 putaran per
menit. Dapat juga digunakan proses penggilingan (milling dan grinding) pada
metode ini, walaupun efisiensinya rendah. Alat yang digunakan yaitu
penggiling koloid (colloid mill), di mana bahan diiris antara dua set lempeng
yang berdekatan, hanya mengurangi sebagian kecil dari total partikel ukuran
partikel koloid.

b. Metode Kondensasi
Pada metode ini, bahan-bahan berdimensi subkoloid diagregasi
menjadi partikel-partikel yang berada pada daerah ukuran koloid. Syarat
terbentuknya koloid liofobik dengan cara kondensasi adalah adanya keadaan
lewat jenuh dengan derajat yang tinggi diikuti dengan pembentukan dan
pertubuhan inti. Keadaan lewat jenuh juga dapat dicapai dengan penggantian
pelarut atau mengurangi temperatur.
Metode kondensasi yang lain bergantung pada suatu reaksi kmia
seperti reduksi, oksidasi, hidrolisis, atau penguraian rangkap. Oksidasi
hidrogen sulfide menghasilkan pembentukan atom belerang dan suatu sol
belerang. Jika larutan FeCl3 ditambahkan ke dalam air dengan volume besar,
akan terjadi hidrolisis dengan pembentukan suatu sol besi (III) oksida hidrat.

Berikut ini adalah tabel perbedaan dari sol liofilik dan sol liofobik:
(Ratna dkk, 2009).

3. Koloid Gabungan
Koloid gabungan atau koloid amfifilik merupakan golongan ke tiga dari
penggolongan koloid. Molekul-molekul atau ion-ion tertentu disebut amfifil atau
zat aktif permukaan. Amfifil atau zat aktif permukaan ini berciri mempunyai dua
daerah yang berbeda yang melawan afinitas larutan dalam molekul atau ion yang
sama. Jika ada dalam suatu medium cair dengan konsentrasi rendah, amfifil
berada terpisah dan mempunyai ukuran seperti subkoloid. Jika konsentgrasi
ditingkatkan, terjadi agregasi pada suatu jangkauan konsentrasi yang sangat
sempit
Amfifil mungkin anionic, kationik, nonionik, atau amfolitik. Hal ini
menyebabkan mudahnya terjadi koloid gabungan.
(a) Misel bola dalam air; (b) misel dalam media nonair; (c) misel laminar,
terbentuk pada konsentrasi tinggi, dalam air

II.4 Sifat – Sifat Optik Koloid


1. Efek Faraday-Tyndall
Efek Tyndall merupakan satu bentuk sifat optik yang dimiliki oleh sistem
koloid. Pada tahun 1869, Tyndall menemukan bahwa apabila suatu berkas cahaya
dilewatkan pada sistem koloid maka berkas cahaya tadi akan tampak. Tetapi
apabila berkas cahaya yang sama dilewatkan pada dilewatkan pada larutan sejati,
berkas cahaya tadi tidak akan tampak. Singkat kata efek Tyndall merupakan efek
penghamburan cahaya oleh sistem koloid (Martin, 1993).
Efek Tyndall dapat dideteksi menggunakan ultramikroskop yang
dikembangkan oleh Zsigmondy. Dengan alat ini, dapat diuji titik-titik cahaya yang
menimbulkan kerucut Tyndall. Namun, penggunaan ultramikroskop sekarang
sudah berkurang karena alat ini sering kali tidak dapat digunakan untuk melihat
koloid liofilik. Maka mulailah digunakan mikroskop elektron untuk mengamati
ukuran, bentuk, dan struktur partikel-partikel koloid (Martin, 1993).

2. Pemendaran Cahaya (Light Scattering)


Sifat ini berdasarkan efek Tyndall dan merupakan metode yang paling
banyak digunakan untuk menentukan berat molekul koloid. Sifat ini juga
digunakan untuk mengetahui bentuk dan ukuran partikel. Pemendaran dapat
diuraikan dalam batasan kekeruhan, T, yaitu penurunan fraksional intensitas
karena pemendaran ketika cahaya melewati 1 cm larutan. Pada suatu konsentrasi
fase terdispers tertentu, kekeruhan sebanding dengan berat molekul kooidal
liofilik. Karena kebanyakan koloidal liofilik mempunyai turbiditas yang rendah,
maka relatif lebih mudah mengukur cahaya yang terpendar pada suatu sudut
tertentu terhadap berkas sinar (Martin, 1993).
Kekeruhan dapat dihitung dari intensitas cahaya yang tersebar dengan
syarat dimensi partikel kecil dibandingkan dengan panjang gelombang yang
digunakan. Berat molekul koloid bisa didapatkan dari persamaan berikut:
Hc/ = 1/M + 2Bc
 turbiditas, c konsentrasi solut dalam g/cm3 larutan, M berat rata-rata bobot
molekul, dan B suatu tetapan interaksi, H adalah tetapan sistem tertentu dan setara
dengan:
321 3 n 2 (dn / dc) 2
H =
34 N

II.5 Sifat Kinetis Kolod


1. Gerak Brown
Robert Brown (1827) menyatakan bahwa pergerakan partikel
koloid sebesar 5 μm yang tidak beraturan dijelaskan sebagai hasil
pemboman partikel oleh medium pendispersi. Gerak ini dipengaruhi oleh
viskositas dari medium pendispersi dan ukuran partikel. Jika medium
pendispersi viskositasnya meningkat, yaitu dengan penambahan gliserin
atau suatu zat serupa, maka akan menurunkan dan akhirnya menghentikan
gerakan Brown. Dan kecepatan partikel meningkat dengan berkurangnya
ukuran partikel (Martin, 1993).

2. Difusi
Partikel akan berdifusi secara spontan dari tempat yang
berkonsentrasi tinggi ke rendah, sampai konsentrasinya seimbang.

dc
dq   DS dt
dx
Berdasarkan hukum pertama Fick : jumlah zat dq yang berdifusi dalam
waktu dt melewati bidang seluas S adalah berbanding lurus dengan
perubahan konsentrasi dc terhadap jarak yang dilalui dx.

D: koefisien difusi yaitu jumlah zat yang berdifusi per satuan waktu
melewati satu satuan luas jika dx/dt ( disebut konsentrasi gradien) sama
dengan satu. D mempunyai dimensi luas per satuan waktu.
Partikel koloidal berbentuk sferis, maka persamaan Sutherland-
Einstein atau Stokes-Einstein:

kT RT RT 4N
D  D 3
6r 6rN 6N 3Mv
(Martin, 1993).

3. Viskositas
Viskositas dispersi koloid dipengaruhi oleh bentuk partikel fase
dispersi. Koloid bulat (sferokoloid) membentuk dispersi dengan viskositas
relatif rendah sedangkan koloid linier bersifat lebih kental. Jika koloid
linier didispersikan dalam pelarut yang afinitasnya rendah terhadap koloid
tersebut maka bentuknya cenderung dianggap bulat dan viskositasnya
menurun (Martin, 1993).
Hubungan viskositas dengan jenis koloid yaitu :
 Pada koloid hidrofilik, partikel fase dispersnya tersolvatasi dengan
molekul solven maka dengan adanya kenaikan kadar akan
menyebabkan kenaikan viskositas secara nyata sehingga cps besar.
 Pada koloid hidrofobik, dimana fase dispersnya tidak tersolvatasi oleh
molekul solven sehingga kadar tidak mempengaruhi vskositasnya
(Martin, 1993).

4. Sedimentasi
Kecepatan sedimentasi v dari partikel-partikel bulat yang

mempunyai kerapatan ρ dalam mediu yang berkerapatan serta

viskositas diberikan oleh Hukum Stokes:


2r 2 (    0 ) g
v
9 0
Di mana g adalah percepatan gravitasi.
Kecepatan sedimentasi juga dipengaruhi oleh adanya gaya Brown
sehingga untuk membentuk sedimentasi memerlukan gaya yang lebih
besar. Yaitu dengan menggunakan ultrasentifuge. Persamaan
dimodifikasi menjadi:
dx 2r 2 (    0 ) 2 x
v 
dt 9 0
2
Dimana x adalah percepatan sudut (Martin, 1993).
II.6 Sifat Listrik Koloid
Elektroforesis
Elektroforesis adalah peristiwa mengalirnya partikel-partikel koloid menuju
elektroda, bergeraknya partikel koloid ke dalam satu elektroda menunjukkan
bahwa partikel-partikel koloid bermuatan listrik. Gejala ini dapat diamati dengan
menggunakan alat sel elektroforesis seperti pada gambar.

Berkaitan dengan pergerakan partikel bermuatan melewati cairan dibawah


pengaruh perbedaan potensial. Suatu sel elektroforesis disi dengan dua elektroda
dan mengandung dispersi partikel. Jika digunakan potensial di seberang elektroda,
partikel-partikel berpindah ke arah elektroda yang bermuatan berlawanan. Laju
perpindahan partikel diamati dengan bantuan ultramikroskop dan merupakan
fungsi muatan pada partikel tersebut. Sebagai bidang shear partikel ditempatkan
pada pinggir lapisan yang terikat kuat, potensial yang menentukan laju adalah
potensial zeta (Martin, 1993).
Dari diketahuinya arah dan laju perpindahan, tanda dan besarnya potensial
zeta dalam sistem kolid dapat ditentukan melalui persamaan:
v 4
   ( 9  10 4 )
E 
 : potensial zeta dalam volt; v adalah keceatan bergerak (migrasi) sol dalam
cm/sek di dalam tabung elektroforesis yang panjangnya tertentu dalam cm;
visakositas medium () dalam poise (dyne sek/cm2 ); tetapan dielektrik medium
; gradien potensial E dalam volt/cm. Suku v/E disebut sebagai mobilitas (Martin,
1993).

II.7 Solubilisasi
Kemampuan dari misel untuk meningkatkan kelarutan zat yang secara
normal tidak larut, atau hanya sedikit larut, dalam medium dispersi yang
digunakan. Tempat molekul mengalami penglarutan dalam suatu misel
berhubungan dengan keseimbangan antara sifat olar dan non polar dari molekul
tersebut. Lawrence menyatakan bahwa molekul non polar dalam sistem air dari
zat aktif permukaan ionic terletak pada inti hidrokarbon dari misel tersebut,
sedangkan molekul polar cenderung teradsorpsi pada permukaan misel. Molekul
polar- non polar akan cendrung meluruskan diri dalam posisi di tengah di dalam
molekul-molekul surfaktan membentuk misel (Martin, 1993).

Misel bola nonionik surfaktan, polioksietilen monostearat dalam air.


Benzena dan toluena, molekul nonpolar, ada di dalam misel. Asam salisilat,
lebih polar. Bagian non polar dari molekulnya mengarah ke pusat misel,
sedangkan bagian polarnya mengarah ke rantai hidrofilik yang melingkar-lingkar
ke luar ke dalam medium air. Asam p- hiroksibenzoat, molekul polar, terletak
diantara rantai hidrofil surfaktan (Martin, 1993).
Faktor-faktor yang mempengaruhi solubilisasi (Martin, 1993) :
 Kimiawi Surfaktan:
Rantai alkil lipofilik lebih panjang akan lebih mensolubilisasi obat
hidrofobik. Surfaktan ionik: peningkatan jari-jari inti hidrokarbon, meningkatkan
solubilisasi.
 pH
Merubah kesetimbangan antara solubilisat terion dan takterion.
 Titik Krafft
Suhu yang menunjukkan terjadinya kelarutan surfaktan = kmk (cmc)
 Titik keruh (cloud point)
Suhu yang menunjukkan terjadinya kekeruhan (pengkabutan) yang tiba-
tiba. Jika suhu dinaikkan terjadi surfaktan memisah sebagai presipitat atau kalau
konsentrasi tinggi sebagai suatu gel

III. SUSPENSI
III.1 Pendahuluan Suspensi
Suspensi adalah suatu dispersi kasar dimana partikel zat padat yang tidak
larut terdispersi dalam suatu medium cair. Suspensi memiliki diameter partikel >
0,1 mm. Partikel pada suatu suspensi tidak menggumpal dan tetap terdistribusi
merata di seluruh sistem dispersi. Persyaratan suatu suspensi ialah zat yang
tersuspensi tidak boleh cepat mengendap. Selain itu, bila partikel-partikel tersebut
mengendap maka tidak boleh membentuk gumpalan padat atau harus terdispersi
kembali apabila dikocok. Suspensi tidak boleh terlalu kental sehingga mudah
dituang dari botol atau melewati jarum injeksi. Untuk sediaan obat luar, suspensi
harus cukup cair sehingga dengan mudah tersebar di permukaan. Tetapi pada
sediaan obat luar, suspensi juga tidak boleh terlalu mudah bergerak sehingga
mudah hilang dari permukaan (Martin, 1993).
Untuk tujuan farmasi, kestabilan fisika dari suspensi bisa didefinisikan
sebagai keadaan dimana partikel tidak menggumpal dan tetap terdistribusi merata
diseluruh sistem dispersi. Walaupun merupakan suatu kemungkinan yang kecil
untuk benar-benar mencegah pengendapan dalam suatu periode waktu yang lama,
perlu juga dipertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan
pengendapan (Martin, 1993).

III.2 Sifat Antarmuka Partikel Tersuspensi


Harus dilakukan suatu kerja (W) untuk memperkecil suatu padatan
menjadi partikel-partikel kecil dan mendispersikan dalam suatu pembawa.
Besarnya luas permukaan partikel (akibat ukuran partikel kecil) menyebabkan
sistem tidak stabil secara termodinamik. Partikel berenergi tinggi dan cenderung
mengelompok kembali sehingga mengurangi luas permukaan total dan
mengurangi energi bebas permukaan. Oleh karena itu, partikel dalam suspensi cair
cenderung untuk berflokulasi. Partikel berflokulasi akan membentuk suatu
gumpalan lunak dan ringan yang bersatu karena gaya Van Der Waals yang lemah.
Partikel yang melekat dengan gaya yang lebih kuat akan membentuk gumpalan
yang disebut agregat. Selanjutnya akan terjadi pertumbuhan dan peleburan kristal
bersama dalam endapan sehingga menghasilkan caking (Martin, 1993).
Pembentukan setiap jenis gumpalan flokulat atau agregat dianggap sebagai
suatu sistem untuk mencapai keadaan yang lebih stabil secara termodinamik.
Kenaikan dalam kerja W atau energi bebas permukaan ΔF diperoleh dengan
membagi zat padat menjadi partikel-partikel yang lebih kecil dan mengakibatkan
luasnya permukaan total ΔA yang digambarkan dengan :

Dimana:
ΔF adalah kenaikan dalam kerja (W) atau energi bebas permukaan
γ SL adalah tegangan antarmuka medium cair dan partikel padat
ΔA adalah kenaikan luas permukaan total
Agar mencapai suatu keadaan yang stabil, sistem tersebut cenderung
mengurangi energi bebas permukaan; kesetimbangan dapat dicapai jika ΔF = 0.
Solusinya dapat dilakukan penambahan surfaktan untuk menurunkan tegangan
permukaan. Namun hasilnya tidak akan sampai 0, sehingga suatu suspensi
biasanya mempunyai tegangan antarmuka positif tertentu dan partikel cenderung
untuk berflokulasi (Martin, 1993).

III.3 Flokulasi dan Deflokulasi


Flokulasi terjadi apabila gaya tolak menolak antar partikel relatif kecil
sehingga partikel cenderung untuk mendekat dan menggumpal dengan jarak yang
cukup untuk membuat flokulat yang renggang. Partikel yang terflokulasi akan
mengendap dengan cepat tetapi, karena ikatan antar partikel lemah menjadi
mudah untuk didispersikan kembali (Martin, 1993).
Deflokulasi terjadi jika energi tolak-menolak antara partikel tersuspensi
tinggi maka partikel tidak akan menggumpal (berkelompok). Bila partikel
mengendap secara sempurna maka partikel-partikel tersebut membentuk susunan
yang tertutup dengan partikel kecil mengisi ruang-ruang dari partikel besar.
Partikel-partikel di bawah semakin tertekan oleh partikel diatas sehingga lama-
lama menjadi masa yang kompak (caking) dan tidak dapat dikembalikan dengan
pengocokan (Martin, 1993).
Gaya pada permukaan suatu partikel mempengaruhi derajat flokulasi dan
penggumpalan suspensi. Gaya tarik-menarik itu adalah gaya London Van Der
Waals dan gaya tolak menolak adalah dari interaksi listrik rangkap disekitar tiap
partikel. Pada kurva dibawah terlihat jika energi tolak menolak tinggi, potensial
barrier juga tinggi dan partikel ditolak. Sistem tersebut tidak memflokulasi dan
pengendapan terjadi sempurna. Kurva tersebut menunjukkan kondisi deflokulasi
sehingga, agar partikel dapat tersuspensi kembali, dibutuhkan energi barrier yang
tinggi dan tidak mudah dicapai dengan pengocokan (Martin, 1993).
Gambar. Kurva potensial energi untuk antaraksi partikel dalam suspensi
Secara ringkas, perbedaan antara flokulasi dan deflokulasi adalah
Flokulasi Deflokulasi
1. Ikatan lemah 1. Ikatan lebih kuat
2. Memisah dengan cepat 2. Memisah perlahan-lahan
3. Tak terbentuk cake 3. Terjadi agregasi membentuk cake
4. Mudah diresuspensi 4. Sukar diresuspensi
Tabel. Perbedaan Flokulasi dan Deflokulasi

III.4 Pengendapan dalam Suspensi


Pada teori pengendapan, kecepatan pengendapan ditentukan dengan
hukum Stokes:
d 2 ( s   o ) g
v 
18 o
Dimana:
v = kecepatan akhir (cm/detik)
d = diameter partikel (cm)
Ps = Kerapatan fase terdispers
Po = Kerapatan medium pendispers
g = percepatan gravitasi
no = viskositas medium pendispersi (poise)
Suspesi encer dibidang farmasi secara kasar mengandung 2 gram zat padat
per 100 ml cairan. Dalam suspensi encer partikel tidak saling mempengaruhi satu
dengan lainnya selama terjadi pengendapan atau pengendapan bebas. Dalam
konsentrasi yang lebih tinggi dapat terjadi pengendapan terhalang (hindered
settling). Partikel saling mempengaruhi ketika jatuh sehingga hukum Stokes tidak
dapat digunakan (Martin, 1993).
Partikel-partikel dalam suspensi cair cenderung untuk bergabung (bersatu)
disebabkan gaya van der Waals yang lemah membentuk suatu gumpalan yang
lunak dan ringan yang dikenal dengan istilah flokulasi atau berflokulasi (Martin,
1993).
Pada waktu menyelidiki pengendapan dalam sistem yang terflokulasi,
diketahui bahwa flokulat cenderung untuk jatuh bersama-sama, menghasilkan
suatu batas yang nyata antara endapan dan cairan. Cairan di atas endapan adalah
jernih karena partikel-partikel kecil yang ada di dalam sistem akan bergabung
dengan flokulat. Hal ini bukan soal pada suspensi yang mengalami deflokulasi
yang mempunyai suatu jarak ukuran partikel, sehubungan dengan hukum Stokes,
partikel yang lebih besar mengendap lebih cepat daripada partikel yang lebih
kecil. Tidak ada batasan jelas terbentuk (jika tidak hanya satu ukuran partikel yang
ada), dan supernatan tetap keruh untuk suatu periode waktu yang lama. Apakah
supernatan itu jernih atau keruh selama tahap awal dari pengendapan adalah
merupakan suatu indikasi (petunjuk) yang baik apakah sistem tersebut mengalami
flokulasi atau mengalami deflokulasi (Martin, 1993).
Menurut Hiestand, laju awal pengendapan dari partikel-partikel yang
terflokulasi ditentukan oleh ukuran flokulat dan porositas dari massa agregat.
Selanjutnya laju bergantung pada proses pemadatan dan pengaturan kembali
dalam endapan tersebut. Istilah endapan (subsidence) seringkali digunakan untuk
menggambarkan pengendapan dalam sistem yang mengalami flokulasi (Martin,
1993).

III.5 Parameter Pengendapan (Sedimentasi)


Dua parameter yang berguna yang bisa diturunkan dari penyelidikan
sedimentasi adalah volume sedimentasi dan derajat flokulasi. Volume sedimentasi,
F, didefinisikan sebagai perbandingan dari volume akhir endapan, Vu, terhadap
volume awal dari suspensi, Vo, sebelum mengendap (Martin, 1993).
F = Vu / Vo
Volume sedimentasi dapat mempunyai nilai yang berjarak kurang dari 1
sampai lebih besar dari 1, dan dalam hal ini, volume akhir dari endapan (F) adalah
lebih kecil dari volume awal dari suspensi dimana F = 0,5. Jika volume endapan
dalam suatu suspensi yang mengalami flokulasi sama dengan volume awal
suspensi, maka F=1. Produk yang demikian dikatakan dalam keseimbangan
flokulasi (flocculation equilibrium) dan menunjukkan tidak adanya supernatan
jernih pada pendiaman. Oleh karena itu secara farmasetis dapat diterima. F dapat
mempunyai harga lebih dari 1, yang berarti bahwa volume akhir dari endapan
adalah lebih besar dari volume suspensi awal. Hal ini terjadi karena hasil flokulat
yang terbentuk dalam suspensi adalah sebegitu longgar dan lunak sehingga
volume yang dapat dicapai lebih besar dari volume suspensi awal (Martin, 1993).

Gambar. Sedimentasi Partikel

Derajat Flokulasi adalah parameter yang lebih mendasar dari pada F.


Karena, β menghubungkan volume endapan yang mengalami flokulasi dengan
volume dalam suatu sistem yang mengalami deflokulasi. Derajat flokulasi
merupakan rasio F terhadap F¥ (Martin, 1993).

 = F /F ¥
F¥ adalah volume sedimentasi suspensi terdeflokulasi (terpeptisasi).

F¥ = V ¥ / Vo
Subtitusi persamaan diatas didapatkan:
Sehingga dapat dikatakan bahwa:

(Martin, 1993).

III.6 Formulasi Suspensi


Pendekatan membuat suspensi yang stabil :
1. Menggunakan pembawa terstruktur à menjaga partikel terdeflokulasi
di dalam suspensi
2. Menggunakan prinsip flokulasi yang mudah diresuspensi dengan
sedikit pengocokan (Martin, 1993).
Pembasahan Partikel
Dispersi awal dari suatu serbuk yang tidak larut dalam suatu pembawa
merupakan suatu tahap yang penting dalam proses pembuatan berskala besar,
dengan menaburkannya pada permukaan cairan. Seringkali sulit unuk
mendispersikan serbuk yang mengandung lapisan udara yang teradsorpsi, atau
yang mengandung sedikit lemak atau kontaminan lain, serbuk tersebut tidak dapt
dibasahi dengan segera, dan walaupun mungkin mempunyai kerapatan yang
tinggi, ia akan mengambang pada permukaan cairan tersebut. Zat-zat yang berada
dalam serbuk harus terutama sekali sasuai mempunyai efek ini karena masuknya
udara, dan zat ini gagal untuk dibasahi bahkan jika dipaksa berada di bawah dari
permukaan dari medium suspensi. Daya membasahi dari suatu serbuk ditentukan
dengan mudah dengan mengamati sudut kontak, yang dibuat oleh serbuk dengan
permukaan cairan. Sudut kontak ini mendekati 90° jika partikel-partikel tersebut
mengambang pada cairan. Suatu serbuk yang melayang di bawah cairan
mempunyai sudut yang lebih kecil, dan serbuk yang tenggelam jelas menunjukkan
tidak adanya sudut kontak. Serbuk yang tidak mudah dibasahi dengan air dan
dengan demikian menunjukkan suatu sudut kontak yang besar (Martin, 1993).
Surfaktan snagat berguna dalam mengurangi tegangan antar muka antar
partikel-partikel zat padat dan suatu pembawa dalam pembuatan suatu suspensi.
Sebagai akibat dari tegangan permukaan yang menjadi rendah, perpanjangna
sudut kontak diperendah, udara digantikan dari permukaan partikel, dan akan
terjadi pembasahan dan deflokulasi. Eksema dan zat higroskopis yang serupa juga
berharga dalam menggiling zat-zat yang tidak larut. Secara nyata gliserin mengalir
ke dalam ruang antara partikel untuk menggantikan udara dan selama
berlangsungnya pencampuran, melapisi dan memidahkan zat tersebut sehingga
dapat mempenetrasi dan membasahi masing-masing partikel tersebut. Dispersi
dari partikel lem (gum) koloidal dengan alcohol, gliserin dan propilen glikol, yang
membiarkan air untuk berpenetrasi ke celah-celah antara partikel-partikel tersebut
adalah suatu pengerjaan yang terkenal dalam bidang farmasi (Martin, 1993).

Flokulasi Terkontrol
Zat-zat yang digunakan elektrolit, surfaktan, dan polimer. Elektrolit
bekerja sebagai zat pemflokulasi dengan Menurunkan penghalang (barrier) listrik
di antara partikel dan pembentukan jembatan antar partikel sehingga terjadi
keterikatan satu sama lain membentuk struktur yang longgar. Surfaktan ionik
maupun non ionik dapat digunakan sebagai flokulasi partikel yang tersuspensi.
Polimer memiliki rantai panjang diadsorbsi pada permukaan partikel dengan
bagian tersisa mengarah keluar medium dispers membentuk jembatan flokulasi
(Martin, 1993).
Gambar. Diagram caking, memperlihatkan flokulasi suspensi bismut subnitrat
oleh KH2PO4

Flokulasi Dalam Pembawa Terstruktur


Jika F (volume sedimentasi) tidak mendekati satu ditambahkan zat
pensuspensi untuk menghalangi pengendapan flokulat. Contoh zat:
Karboksimetilselulosa (CMC), Karbopol 934, Veegum, tragakan, atau bentonit
baik tunggal atau dalam kombinasinya (Martin, 1993).
Inkompatibilitas fisik tidak akan terjadi karena sebagian besar koloid
hidrofilik bermuatan negatif sehingga kompatibel dengan bahan pemflokulasi
anionik. Akan tetapi, jika kita memflokulasikan suspensi partikel bermuatan
negatif dengan elektrolit kationik (alumunium klorida, penambahan hidrokoloid
dapat menghasilkan produk yang inkompatibel, seperti dibuktikan oleh
terbentuknya massa berserabut dan tidak enak dilihat yang tidak memiliki atau
sedikit memiliki daya pensuspensi dan mengndap dengan cepat (Martin, 1993).
Pada kondisi ini, koloid pelindung perlu digunakan untuk mengubah
muatan partikel dari negatif menjadi positif. Hal ini dapat dicapai dengan
mengadsorbsikan amin asam lemak (yang sudah dipastikan tidak toksik) atau
bahan-bahan seperti gelatin, yang bermuatan positif dibawah titk isoeletriknya,
pada permukaan partikel. Selanjutnya, kita dapat menggunakan elektrolit anionik
untuk menghasilkan flokulat yang kompatibel dengan bahan pensuspensi
bermuatan negatif (Martin, 1993).

Pertimbangan Rheologik
Viskositas akan berhubungan dengan perubahan sifat aliran dan kualitas
penyebaran. Prinsip reologi dapat diterapkan dalam suatu penelitian mengenai
faktor-faktor berikut ini yaitu viskositas suspensi yang mempengaruhi
pengandapan partikel-partikel terdispersi, perubahan sifat alir suspensi jika wadah
dikocok dan jika produk dituang dari botol, serta kualitas penyebaran lotion ketika
dioleskan pada daerah tertentu. Pertimbangan reologi juga penting dalm pembutan
suspensi (Martin, 1993).

Gambar. Reogram berbagai zat pensuspensi


Gambar. Reogram yang menunjukkan tiksotropi

Pembuatan Suspensi
1. Skala Besar: Dispersi zat padat dalam cairan menggunakan bola, kelereng dan
colloid mill.
2. Skala Kecil: Menumbuk halus bahan tidak larut ditambahkan pembawa tang
mengandung penstabil dispersi dan perlahan menambahkan sisa fase cair
dimana obat dapat dilarutkan (Martin, 1993).

IV. EMULSI
IV.1 Pendahuluan Emulsi
Emulsi merupakan jenis koloid dengan fase terdispersinnya berupa fase
cair dengan medium pendispersinya bisa berupa zat padat, cair, ataupun gas.
Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak dapat
bercampur, biasanya terdiri dari minyak dan air, dimana cairan yang satu
terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain. Dispersi ini tidak
stabil, butir – butir ini bergabung (koalesen) dan membentuk dua lapisan yaitu air
dan minyak yang terpisah yang dibantu oleh zat pengemulsi (emulgator) yang
merupakan komponen yang paling penting untuk memperoleh emulsi yang
stabil. Zat pengemulsi (emulgator) merupakan komponen yang paling penting
agar memperoleh emulsi yang stabil. Zat pengemulsi adalah PGA, tragakan,
gelatin, sapo dan lain-lain. Emulsi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu
emulsi vera (emulsi alam) dan emulsi spuria (emulsi buatan). Emulsi vera dibuat
dari biji atau buah, dimana terdapat disamping minyak lemak juga emulgator yang
biasanya merupakan zat seperti putih telur (Anief, 2000).
Konsistensi emulsi sangat beragam, mulai dari cairan yang mudah dituang
hingga krim setengah padat. Umumnya krim minyak dalam air dibuat pada suhu
tinggi, berbentuk cair pada suhu ini, kemudian didinginkan pada suhu kamar, dan
menjadi padat akibat terjadinya solidifikasi fase internal. Dalam hal ini, tidak
diperlukan perbandingan volume fase internal terhadap volume fase eksternal
yang tinggi untuk menghasilkan sifat setengah padat, misalnya krim stearat atau
krim pembersih adalah setengah padat dengan fase internal hanya hanya 15%.
Sifat setengah padat emulsi air dalam minyak, biasanya diakibatkan oleh fase
eksternal setengah padat (Anief, 1999).
Polimer hidrofilik alam, semisintetik dan sintetik dapat digunakan bersama
surfakatan pada emulsi minyak dalam air karena akan terakumulasi pada antar
permukaan dan juga meningkatkan kekentalan fase air, sehingga mengurangi
kecepatan pembentukan agregat tetesan. Agregasi biasanya diikuti dengan
pemisahan emulsi yang relatif cepat menjadi fase yang kaya akan butiran dan
yang miskin akan tetesan. Secara normal kerapatan minyak lebih rendah daripada
kerapatan air, sehingga jika tetesan minyak dan agregat tetesan meningkat,
terbentuk krim. Makin besar agregasi, makin besar ukuran tetesan dan makin
besar pula kecepatan pembentukan krim (Anief, 1999).
Semua emulsi memerlukan bahan anti mikroba karena fase air
mempermudah pertumbuhan mikroorganisme. Adanya pengawetan sangat penting
untuk emulsi minyak dalam air karena kontaminasi fase eksternal mudah terjadi.
Karena jamur dan ragi lebih sering ditemukan daripada bakteri, lebih diperlukan
yang bersifat fungistatik atau bakteriostatik. Bakteri ternyata dapat menguraikan
bahan pengemulsi ionik dan nonionik, gliserin dan sejumlah bahan pengemulsi
alam seperti tragakan dan gom (Anief, 1999).
Masing – masing emulsi dengan medium pendipersi yang berbeda juga
mempunyai nama yang berbeda,yaitu sebagai berikut:
a) Emulsi gas (aerosol cair)
Emulsi gas merupakan emulsi dengan fase terdispersinnya berupa fase
cair dan medium pendispersinnya berupa gas.Salah satu contohnya hairspray,
dimana dapat membentuk emulsi gas yang diingikan karena adannya bantuan
bahan pendorong atau propelan aerosol.

b) Emulsi cair
Emulsi cair merupakan emulsi dengan fase terdispersinya maupun
pendispersinnya berupa fase cairan yang tidak saling melarutkan karena kedua
fase bersifat polar dan non polar.Emulsi ini dapat digolongkan menjadi 2
jenis yaitu emulsi minyak didalam air contoh susu terdiri dari lemak sebagai
fase terdispersi dalam air jadi butiran minyak didalam air atau emulsi air
dalam minyak contoh margarine terdispersi dalam minyak jadi butiran air
dalam minyak.

c) Emulsi padat
Emulsi padat merupakan emulsi dengan fase terdispersinnya cair
dengan fase pendispersinnya berupa fase padat.Contoh : Gel yang dibedakan
menjadi gel elastic dan gel non elastic dimana gel elastic ikatan partikelnya
tidak kuat sedangkan non elastic ikatan antar partikelnya membentuk ikatan
kovalen yang kuat (Anief, 1999).
Gel elastic dapat dibuat dengan mendinginkan sol iofil yang pekat contoh
gel ini adalah gelatin dan sabun.Sedangkan gel non-elastis dapat dibuat secara
kimia sebagai contoh gel silica yang terbentuk karena penambahan HCl pekat
dalam larutan natrium silikat sehingga molekul – molekul asam silikat yang
terbentuk akan terpolimerisasi dan membentuk gel.
Terdapat 2 tipe emulsi yaitu sebagai berikut (Anief, 1999) :
1) Emulsi A/M yaitu butiran – butiran air terdispersi dalam minyak
Pada emulsi ini butiran – butiran air yang hidrofilik stabil dalam minyak yang
hidrofobik.
2) Emulsi M/A yaitu butiran – butiran minyak terdispersi dalam air
Minyak yang hidrofobik stabil dalam air yang hidrofilik
Emulsi merupakan suatu sistem yang tidak stabil, sehingga dibutuhkan zat
pengemulsi atau emulgator untuk menstabilkan. Tujuan dari penstabilan adalah
untuk mencegah pecahnya atau terpisahnya antara fase terdispersi dengan
pendispersinnya. Dengan penambahan emulgator berarti telah menurunkan
tegangan permukaan secara bertahap sehingga akan menurunkan energi bebas
pembentukan emulsi, artinya dengan semakin rendah energi bebas pembentukan
emulsi akan semakin mudah (Anief, 1999).
Namun kesetabilan emulsi juga dipengaruhi beberapa faktor lain yaitu, ditentukan
gaya – gaya:
 Gaya tarik – menarik yang dikenal gaya Van der walss. Gaya ini menyebabkan
partikel – partikel koloid membentuk gumpalan lalu mengendap
 Gaya tolak – menolak yang terjadi karena adanya lapisan ganda elektrik yang
muatannya sama saling bertumpukan.
Sedangkan bentuk – bentuk ketidak stabilan dari emulsi sendiri ada beberapa
macam yaitu sebagai berikut (Ladytulipe, 2009) :
o Flokulasi, karena kurangnya zat pengemulsi sehingga kedua fase tidak tertutupi
oleh lapisa pelindung sehingga terbentuklah flok –flok atau sebuah agregat
o Koalescens, yang disebabkan hilangnya lapisan film dan globul sehingga
terjadi pencampuran
o Kriming, adanya pengaruh gravitasi membuat emulsi memekat pada daerah
permukaan dan dasar
o Inversi massa (pembalikan massa ) yang terjadi karena adannya perubahan
viskositas
o Breaking/demulsifikasi, lapisan film mengalami pemecahan sehingga hilang
karena pengaruh suhu.
Emulsi dapat mengalami kestabilan namun juga dapat mengalami
kerusakan (demulsifikasi) dimana rusaknya emulsi ini disebabkan faktor suhu,
rusaknya emulgator sendiri, penambahan elektrolit sehingga semua ini akan dapat
menyebabkan timbulnya endapan atau terjadi sedimentasi atau membentuk
krim.Contoh penggunaan proses demulsifikasi dengan menambahkan elektrolit
guna pemisahan karet dalam lateks yaitu menambahkan asam format asam asetat
(Nuranimahabah,2009).
Cara Menentukan Tipe Emulsi
1) Uji pengenceran.
Metode ini tergantung pada kenyataan bahwa suatu emulsi M/A dapat
diencerkan dengan air dan emulsi A/M dengan minyak. Saat minyak
ditambahkan, tidak akan bercampur ke dalam emulsi dan dan akan nampak
nyata pemisahannya. Tes ini secara benar dibuktikan bila penambahan air
atau minyak diamati secara mikroskop.

2) Uji Konduktivitas.
Emulsi dimana fase kontinyu adalah cair dapat dianggap memiliki
konduktivitas yang tinggi dibanding emulsi dimana fase kontinyunya adalah
minyak. Berdasarkan ketika sepasang elektrode dihubungkan dengan sebuah
lampu dan sumber listrik, dimasukkan dalam emulsi M/A, lampu akan
menyala karena menghantarkan arus untuk kedua elektrode. Jika lampu
tidak menyala, diasumsikan bahwa sistem A/M.

3) Uji Kelarutan Warna


Bahwa suatu pewarna larut air akan larut dalam fase berair dari emulsi.
Sementara zat warna larut minyak akan ditarik oleh fase minyak. Jadi ketika
pengujian mikroskopik menunjukkan bahwa zat warna larut air telah ditarik
untuk fase kontinyu, uji ini diulangi menggunakan sejumlah kecil pewarna
larut minyak, pewarnaan fase kontinyu menunjukkan tipe A/M.

IV.2Teori Emulsifikasi
Teori emulsifikasi ini dapat terbagi menjadi 2, yaitu "Teori Tegangan
Permukaan" dan "Teori Oriented-Wedge".

Teori tegangan permukaan menjelaskan bahwa dalam hal ini, sebuah


emulgator dapat membentuk emulsi dengan menurunkan tegangan permukaannya.
Suatu emulsi dapat stabil secara termodinamika apabila energi bebasnya kecil atau
sama dengan nol. Sementara kita tahu bahwa energi bebas merupakan perkalian
antara tegangan permukaan dan luas permukaan.
Sehingga apabila tegangan permukaannya yang diturunkan, maka dapat
menurunkan pula energi bebasnya dan menghasilkan suatu emulsi yang stabil.
Selain itu, dengan adanya penurunan pada tegangan permukaan juga dapat
mengurangi gaya tolak menolak antara kedua cairan yang saling tidak bercampur
pada awalnya dan juga mengurangi gaya tarik menarik antara cairan yang sejenis
sebagaimana kita tahu bahwa suatu emulsi pada awalnya merupakan campuran zat
cair yang saling tidak bercampur karena kuatnya gaya kohesi (tarik menarik
dengan cairan sejenis) dan juga lemahnya gaya adhesi (tarik menarik dengan zat
cair yang berbeda yang dengan kata lain antara kedua zat cair, gaya tolak
menolaknya besar) sehingga dengan demikian lebih mendorong kedua cairan
untuk saling terpisah (Anief, 1999).
Kemudian Teori oriented wedge, berdasarkan definisi per katanya yang
wedge artinya pengganjal atau penjepit, teori tersebut ingin menjelaskan peranan
emulgator dalam pembentukan emulsi yang stabil dengan berperan sebagai suatu
pengganjal atau penjepit.
Dua cairan yang saling terpisah tersebut dengan adanya emulgator sebagai
pengganjal atau penjepit akhirnya dapat saling menyatu. Kenapa emulgator
tersebut bisa mengganjal atau menjepit kedua cairan yang saling berbeda sifatnya?
Karena emulgator tersebut memilki kedua sifat tersebut. Sebagaimana kita tahu
bahwa suatu emulsi yang terdiri dari dua cairan yang saling tidak bercampur, pada
umumnya karena cairan yang satu bersifat hidrofilik sementara yang satunya lagi
bersifat lipofilik. Oleh karena itulah dalam hal ini, emulgator tersebut dapat
menjepit karena memiliki kedua sifat tersebut. Bagian dari emulgator yang
bersifat hidrofilik akan memegang cairan yang bersifat hidrofilik sementara
bagian lainnya dari emulgator yang bersifat lipofilik memengang cairan satunya
lagi yang bersifat lipofilik (Martin, 1993).
Berdasarkan teori yang kedua ini, bisa diketahui bahwa suatu emulgator
memiliki dua sifat yaitu hidrofilik dan lipofilik. Pada kenyataannya, distribusi
kekuatan sifatnya tersebut tidak sama, hanya salah satu sifatnya saja yang akan
lebih dominan. Ukuran dari keseimbangan antara sifat hidrofilik dan lipofilik ini
ditetapkan dalam suatu ukuran yang disebut dengan HLB (Hidrofilik Lipofilik
Balance).
Dengan adanya HLB tersebut, oleh Griffin, diberikan suatu skala yang
menetapkan bahwa nilai HLB yang kecil menunjukkan sifat emulgator yang lebih
lipofilik sementara yang nilai HLBnya besar menunjukkan sifat hidrofiliknya
yang lebih dominan (Martin, 1993).
Sebelumnya, perlu diketahui bahwa dalam emulsi ini, terdapat dua tipe,
yaitu tipe A/M (Air dalam Minyak) dan tipe M/A (Minyak dalam Air). Yang
menentukan suatu emulsi merupakan tipe A/M atau M/A adalah jumlah dari tiap-
tiap zatnya. Untuk tipe A/M artinya jumlah air lebih sedikit dibandingkan minyak
sehingga air berperan sebagai zat terdispersi (fase internalnya) dan minyak
berperan sebagai zat pendispersi (fase eksternalnya), begitu juga sebaliknya, untuk
tipe M/A, jumlah minyak sebagai zat terdispersi lebih sedikit dibandingkan
dengan jumlah air sebagai zat pendispersinya (Martin, 1993).
Selain jumlah zatnya, HLB suatu emulgator juga dapat mempengaruhi tipe
emulsi. Apabila kita menginginkan untuk membuat emulsi tipe A/M maka kita
harus menggunakan HLB yang sesuai yaitu yang memiliki sifat lipofilik yang
lebih dominan yaitu yang antara 3-6. Sementara apabila kita menginginkan tipe
emulsi M/A maka kita harus menggunakan HLB yang memiliki sifat hidrofilik
yang lebih dominan yaitu yang antara 8-18. Jadi tergantung dari sifat zat cair
pendispersinya yang jumlahnya lebih banyak, apabila yang jumlah pendispersinya
lebih banyak adalah minyak (yang bersifat lipofilik) maka HLB yang digunakan
haruslah yang sesuai dengan yang jumlahnya lebih banyak yaitu yang HLBnya
kisaran lipofilik juga (3-6) begitu pula sebaliknya. Dengan kata lain, apabila tidak
sesuai maka tipe emulsi yang diinginkan mungkin tidak dapat tercapai (Anief,
1999).
Dalam hal ini fungsi dari mengetahui harga HLB tiap emulgator adalah
untuk mengetahui seberapa banyak emulgator yang dibutuhkan sebenarnya
sampai pada harga HLB berapa hingga dapat membentuk emulsi yang optimal dan
stabil. Tiap jenis minyak memiliki HLB butuhnya masing-masing, misalnya saja
parrafin liquid, parrafin liquid memiliki HLB butuh 12, artinya untuk dapat
membentuk suatu emulsi yang stabil dengan jenis minyak ini, perlu menggunakan
emulgator dengan kisaran HLB demikian. Diketahuinya HLB butuh parrafin
liquid adalah sebesar 12, ditentukan berdasarkan percobaan. HLB butuh ini juga
tergantung dari tipe emulsi yang diinginkan, akan berbeda apabila kita ingin
membuat emulsi dengan parrafin liquid tetapi tipe emulsinya M/A maka HLB
butuhnya menjadi 5 (Martin, 1993).

Adsorpsi Monomolekuler.
Zat yang aktif pada permukaan, mengurangi tegangan antarmuka karena
adsorpsinya pada batas minyak/air membentuk lapisan-lapisan monomolekular.
Tetesan-tetean terdispersidikelilingi oleh suatu lapisan monolayer yang saling
melekat yangmembantu mencegah terjadinya pengelompokkan antar dua
tetesan ketikakedua tetesan tersebut saling mendekat (Martin, 1993).

Adsorpsi Molekular.
Adsorsi molekular dapat terjadi dengan penggunaanzat pengemulsi
(seperti ; koloida liofilik berhidrat) yang dapat membentuksuatu lapisan
multimolekular pada antarmuka dan bukan suatu lapisanmonomolekular. Karena
zat pengemulsi itu membentik lapisan-lapisanmultilayer sekeliling tetesan yang
bersifat hidrofilik, maka zat ini cenderunguntuk membentuk emulsi o/w (Martin,
1993).

Adsorpsi Partikel Padat.


Partikel-partikel padat yang berbagi halus yang dibasahi sampai derajat
tertentu oleh minyak dan air, dapat bekerja sebagai zat pengemulsi. Hal ini
diakibatkan oleh keadaannya yang pekat padaantarmuka dimana dihasilkan dapat
mencegah terjadinya penggabungan.Serbuk yang mudah dibasahi oleh air akan
membentuk emulsi tipe o/w,sedangkan serbuk yang mudah dibasahi oleh minyak
akan membentukemulsi w/o (Martin, 1993).

IV.3 Kestabilan Emulsi


Bila dua larutan murni yang tidak saling campur/larut seperti minyak dan
air, dicampurkan, lalu dikocok kuat-kuat, maka keduanya akan membentuk sistem
dispersi yang disebut emulsi. Secara fisik terlihat seolah-olah salah satu fasa
berada di sebelah dalam fasa yang lainnya. Bila proses pengocokkan dihentikan,
maka dengan sangat cepat akan terjadi pemisahan kembali, sehingga kondisi
emulsi yang sesungguhnya muncul dan teramati pada sistem dispersi terjadi dalam
waktu yang sangat singkat .
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kestabilan emulsi (Martin, 1993):
1) bebas koalesensi fase dalam,
2) bebas kriming,
3) tetap baik dari segi penampilan, bau, warna, dan sifat fisis lain-nya.

V. GEL
Gel adalah sistem padat atau setengah padat dari paling sedikit dua
konstituen yang terdiri dari massa seperti pagar yang diselusupi oleh cairan. Jika
matriks yang saling melekat kaya akan cairan maka produk ini seringkali
disebut jelly. Contoh jelly ephedrin sulfat dan jelly yang biasa dimakan. Jika
cairannya hilang dan tinggal kerangkanya saja, gel ini dikenal sebagai xerogel
(Martin, 1993).
Gel bisa digolongkan baik dalam sistem dua fase atau dalam sistem satu
fase. Massa gel dapat terdiri dari gumpalan (flokulat) partikel-partikel kecil dan
bukan molekul-molekul besar seperti ditemukan pada gel aluminium hidroksida,
magma bentonit dan magma magnesium. Struktur ge1 dalam sistem dua fase ini
tidak selalu stabil. Gel-gel tersebut mungkin tiksotropik yang membentuk massa
setengah padat pada pendiaman dan menjadi cairan jika dikocok (Martin, 1993).
Sebaliknya, suatu gel mungkin terdiri dari makromolekul-makromolekul
yang berupa jalinan/anyaman benang-benang. Unit-unit tersebut seringkali terikat
bersama-sama dengan gaya van der Walls yang lebih kuat sehingga membentuk
daerah kristal dan daerah amorf di seluruh sistem tersebut seperti terlihat pada
Gambar 13d. Contoh gel seperti itu ialah tragacanth dan karboksimetilselulosa.
Gel-gel ini dianggap sebagai sistem satu fase, karena tidak ada batas-batas yang
jelas antara makromolekul terdispers dan cairan (Martin, 1993).
Gel bisa dibagi dua golongan, yakni: gel anorganik dan gel organik. Gel
anorganik umumnya merupakan sistem dua-fase, sedangkan gel organik
merupakan sistem satu-fase, karena matriks padat dilarutkan dalam cairan
membentuk suatu campuran gelatin yang homogen. Gel bisa juga mengandung
air, dan ini disebut hidrogel, contohnya: gelatin gel. Gel bisa juga mengandung
cairan organik, dalarn hal ini disebut organogel, misalnya: petrolatum (Martin,
1993).
VI. PENGGOLONGAN SEMISOLID FARMASETIK
Sediaan-sediaan semisolid, terutama preparat semisolid yang digunakan
sebagai basis untuk jelly, salep-salep dan suppositoria, dapat digolongkan seperti
yang terlihat pada Tabel dibawah. Susunan tersebut adalah asal saja (seadanya)
dan masih mengandung beberapa kesulitan, seperti juga penggolongan lain.

Tabel Penggolongan Basis Semi solid


Golongan Contoh
I. Organel
A. Tipe Hidrokarbon Petroleum, gel minyak mineral-polietilen
B. Lemak Hewani dan Lemak Lemak babi, minyak tumbuhan
Nabati dihidrogenasi, minyak coklat
C. Lemak dasar sabun Aluminium stearat, gel minyak mineral
D. Organogel Hidrofilik Basis karbowax, salap polietilen glikol

II. Hidrogel
A. Hidrogel organic Pasta pectin, Jelly tragacanth
B. Hidrgel anorganik Gel bentonit, gel Magn Al silikat koloidal

III. Semisolid tipe emulsi


A. Basis yang dapat diemulsikan Petroleum hidrofilik, lemak wool
1. Air dalam minyak (abs) Basis tween anhidrat
2. Minyak dalam air
B. Basis teremulsi
1. Air dalam minyak Lemak wool hidrat, salap air mawar
2. Minyak dalam air Salap hidrofilik, vanishing cream

(Martin, 1993).
Selama ini ada kekacauan dalam definisi, sebagian karena cepatnya
perkembangan tipe basis yang lebih baru. Batasan seperti "tipe emulsi", "tercuci-
air", "larut dalam air", "mengabsorbsi air", "basis pengabsorpsi", "hidrofilik";
"tidak berlemak" dan lainnya telah ada daiam Iiteratur, seperti juga pada label-
label basis dalam perdagangan, di mana artinya tidak jelas dan-kadang-kadang
membingungkan. Misalnya tidak berlemak telah digunakan baik untuk basis yang
dapat terdispersi dalam air yang tidak mengandung lemak, serta untuk basis-basis,
o/w karena mereka rasakan tidak berlemak jika disentuh dan dapat dihilangkan
dari kulit dan pakaian “krim" dan "pasta" juga sering dikacaukan. Pasta pektin
adalah suatu jelly, sedangkan pasta zink oksida adalah suatu suspensi semisolid.
Apakah arti dari basis_mengadsorpsi (adsorption base)? Apakah tersirat bahwa
basis tersebut teradsorpsi dengan cepat ke dalam kulit? Apakah obat tersebut
tercampur sedemikian rupa dalam basis tersebut sehingga mudah dilepaskan dan
di-absorpsi secara berurutan atau apakah basis tersebut sanggup
mengabsorbsi airdalam jumlah besar? Contoh di atas menunjukkan kesulitan-
kesulitan yang timbul bila digunakan nama-nama yang berbeda untuk produk
yang sama atau jika diberikan definisi-defmisi yang berbeda untuk istitah yang
sama (Martin, 1993).

VII. SIFAT – SIFAT RHEOLOGI DARI SEMISOLID


Pembuat salep farmasetis dan krim kosmetik menyadari adanya keinginan
untuk mengontrol konsistensi bahan non-Newton.
Instrumen yang paling baik untuk menentukan sifat-sifat rheologi dari
semisolid di bidang farmasi adalah viskometer putar (rotational
viscometer). Untuk analisis semisolid yang berbentuk emuLsi dan suspensi
digunakan cone plate viscometer (hlm. 1106). Viscometer Stormer terdiri dari cup
yang stationer dan bob yang berputar, alat ini juga baik untuk semisolid jika
dimodifikasi seperti yang disarankan oleh Kosterbauder dan Martin (Martin,
1993).
Kurva konsistensi untuk basis salep yang dapat mengemulsi, Petrolatum
Hidrofilik dan Petrolatum Hidrofilik yang telah dicampur dengan air, Akan
terlihat bahwa penambahan air ke dalam petrolatum hidrofilik menurunkan
yieldpoint (perpotongan antara ekstrapolasi kurva menurun dan sumhu horizontal,
muatan dalam gram) dari 520 sampai 340 g. Viskositas plastis (kebalikan dari
kemiringan kurva yang menurun ke bawah) dan tiksotropi (daerah lengkung
histeresis) ditingkatkan dengan penambahan air ke dalam Petrolatum Hidrofilik
(Martin, 1993).
Efek temperatur terhadap konsistensi dari suatu basis salep dapat dianalisis
dengan menggunakan suatu viskometer putar yang didesain dengan tepat.
menunjukkan perubahan viskositas plastis dan tiksotropi dari petrolatum dan
Plastibase sebagai fungsi dari temperature. Viskometer Stormer yang dimodifikasi
digunakan untuk memperoleh kurvakurva ini. Kedua basis menunjukkan koefisien
temperatur dari viskositas plastis yang sama. Hasil ini menerangkan.suatu
kenyataan bahwa basis tersebut mempunyai derajat kelembutan (softness) yang
hampir sama jika diraba di antara dua jari. Kurva "yield value"terhadap
temperatur ternyata mengikuti pola hubungan yang hampir sama. Kurva pada
Gambar-18 memperlihatkan dengan jelas perubahan tiksotropi terhadap
temperature yang membedakan kedua basis tersebut (Petrolatum dan Plastibase).
Karena tiksotropi merupakan suatu akibat dari struktur gel, Gbr 18 menunjukkan
bahwa matrix malam (wax) dari petroleum kemungkinan besar pecah dengan
naiknya temperature sedangkan strutur resin dari plstibase tahan terhdp perubahan
suhu (Martin, 1993).

DAFTAR PUSTAKA
Amalia, Lala. 2009. Emulsi. Tersedia online di
http://ladytulipe.wordpress.com/2009/01/04/emulsi/ [diakses 01 Juli 2014]
Anief, M., (1999). Sistem Dispersi, Formulasi Suspensi dan Emulsi. Yogyakarta :
Gadjah Mada University Press.
Anief. 2000. Ilmu Meracik Obat, Teori dan Praktek. Jogjakarta : UGM Press
Kopeliovich, D. 2013. Classification of Dispersion. Available online at
http://www.substech.com/dokuwiki/doku.php?
id=classification_of_dispersions [diakses tanggal 1 Juli 2014].
Martin, A., Swarbrick, J., dan Cammarata, A. 2008. Farmasi Fisik: Dasar-Dasar
Kimia Fisika dalam Ilmu Farmasetika. UI Press. Jakarta.
Nuranimahabah. 2009, koloid suspense larutan (kimia). Tersedia online di
http://nuranimahabbah.wordpress.com/2009/05/16/koloid-suspensi-
larutan-kimia/ [diakses 01 Juli 2014]
Ratna dkk. 2009. Koloid Liofil dan Koloid Liofob. Tersedia di http://www.chem-
is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_x/koloid-liofil-dan-koloid-liofob/
[diakses tanggal 1 Juli 2014].
Sumardjo, D. 2006. Pengantar Kimia. EGC. Jakarta.
Wikipedia. 2014. Dispersion (Chemistry). Available online at
http://en.wikipedia.org/wiki/Dispersion_(chemistry) [diakses tanggal 1 Juli
2014].