Anda di halaman 1dari 6

Program PMT secara umum

1. Pengertian
Berbagai pengawasan tentang PMT yang ada di Masus saat ini adalah.
 PMT sebagai makanan tambahan bagi seseorang terhadap makanan sehari – hari
(splementation) untuk mengurangi kebutuhan gizinya.
Dengan demikian makanan yang diberikan berbentuk jajan atau makanan kecil, jumlahnya
sekelas untuk memenuhi kekurangan makanan seseorang terhadap kebutuhan yang dianjurkan.
 PMT sebagai pengganti salah satu dari makan pagi siang, malam yang (subsituation). Dengan
demikian makanan yang diberikan dapat berbentuk susunan hidangan lengkap dalam jumlah
yang cukup besar. (Depkes, UNICEF, 1980).
2. Jenis PMT
 PMT sebagai sarana pemilihan keadaan gizi, dalam arti kuratif dan rehabilaitas meeruuupakan
salah satu bentuk kegiatan pemberian zat gizi beruupa makanan dari kelurga daalam rangka
Program UPGK.
 PMT sebagai sarana penyuluhan merupakan salah satu cara penyuluhan gizi, khususnya untuk
meningkatkan keadaan gizi anak balita, ibu hamil dan ibu menyusui (Depkes-UNICEF, 1980)
3. Tujuan PMT
a. PMT sebagai sarana penyuluhan
Tujuan umumnya adalah memberikan pengtahuan dan menumbuhkan kesadaran maasyarakat ke
arah perbaikan cari pembagian pemberian makanan anak balita, ibu hamil dan ibu menyusui,
tujuan khususnya.
Adalah memperluas jangkauan pelayanan program UPGK serta mengumumkan
kesadaran masyarakat untuk menggunakan bahan makanan setempat dan dapat diusaahakan
secara swadana. (Depkes-UNICEF, 1980).
b. PMT sebagai sarana pemulihan
Tujuan umum dari PMT sebagai sarana pemulihan adalah memberikan makanan tambahan
kepada ibu hamil kurang Energi Kronis (KEK), ibu nifas KEK, bayi (6-11 bulan) dari keluarga
miskin sebagai upaya mempertahankan /meningkatkan status gizi GD. (Depkes, 1998).
Tujuan khususnya adalah :
Memperbaiki kedaan gizi yang menderita kurang gizi. (Depkes-UNICEF, 1980).
4. Sasaran Program PMT
 Semua anak balita
 Ibu hamil trimester III
 Ibu menyusui yang anaknya berumur dibawah 150 hari (Depkes-UNICEF, 1980).
PMT sebagai sarana penyuluhan diberikan kepada :
 Seluruh bayi umur 6-11 bulan dari keluarga miskin
 Seluruh anak umur 12-23 bulan dari keluarga miskin
 Seluruh ibu hamil KEK dari keluarga miskin (Depkes, 1998)
PMT sebagai sarana pemulihan diberikan ssetiap hari, sampai keadaan gizi penerima makanan
tambahan TN menunjukkan perbaikan PMT sebagai sarana penyususnan diberikan setiap hari,
tetapi harus secara periodik agar dapat mencapai tujuan PMT tersebut. (Depkes-UNICEF, 1980)
1) Program PMT Pemilihan JPS – Ok

1. Pengertian PMT Pemulihan

PMT pemulihan sebagai saarnaa pemulihan kedaan gizi daaalaam aarti kkuuratif daan
rehabilitatif merupakan salah satu bentuk kegiatan pemberiaan zat gizi berupa makanan dari luar
keluarga dalam rangka program UPGK. (Depkes-UNiCEF, 1980)

2. Tujuan PMT Pemulihan Program

a. Pengertian PMT Pemulihan


Sebagai sarana pemulihan keadaan gizi dalam arti kurattif dan rehabilitatif merupakan salah satu
bentuk kegiatan pemberian zat gizi berupa makanan sari luar keluarga.
b. PMT Pemulihan Program JPS-BK
Merupakan program perbaikan gizi untuk mengatasi masalah gizi masyarakat khususnya
golongan rawan akkibaaat krisis moneter.
c. Tujuan PMT Pemulihan Program JPS-BK

A. Mempertahankan dan meningkatkan status gizi baku Bentuk PMT


Pemulihan sesuai dengan ketentuan Depkes tahun 1998 tentang PMT pemulihan
bentuknya adalah sebagai berikut :

d. Bentuk dan jenis makanan yang disajikan bukan berupa makanan llengkap sesuai nasi dan
lauknyya tetapi berupa bahan makanan camppppuran untuk bayi usia 6-11 bulan dan berupa
jajanan atau makanan kecil dengan tetap memperhatikan aspek mutu dan keamanan pangan.
e. BML dan makanan jajanan untuk PMT pemulihan hari menggunakan bahan hasil pabrik atau
industri yang dibeli atau industri yang dibeli atau didatangkan dari kota seperti susu bubuk, susu
kaleng, macam-macam mie instan, roti atau kue-kue produk pabrik.
f. BML dan jajanan PMT pemulihan harus mengandung energi 363,9 KKAI dan protein masing-
masing 12,5 grsm untuk umur 6-11 bulan dan 40 ggr untuk 12-23 bulan
g. Makanan PMT pemulihan tersebut diberkan setiap hari selama 90 hari.

1. Konsumsi Gizi

Tingkat konsumen ditentukan oleh kualitas hidangan. Kkualitas hiidangan menunjukkan adanya
ssemmmua zat gizi yang diperlukan tubuh didalam susunan hidangaan dan perbandingan yang
satu dengan yang lain. Kuantitas menuunjukkan kuantitum masing-masing zat gizi terhadap
kebutuhan tubuh baik daari suatu kualitas maupun kuantitas maka tubuh mendapat kooondisi
kesehatan gizi yang ssebaik-baiknya. (Djaeni Sediaoetama, MSc

2. Konsumsi Energi

Energi adalah tenaga untuk melakukan perkerjaan, pangan merupakan bahan bakar yang
berfungsi sebagai sumber energi yang dipllukan tubuh untuk melaakukaan pekerjaan yang
penting. Energi yang dibutuhkan oleh individu untuk mempertahankan kehidupannya dalam
menunjang proses pertumbuhan, bisa berasal dari karbohidrat, lemak, protein. (Djaeni,
Sediaotama, 1991). Energi yang masuk melalui makanan yang dimakan harus sesuai dengan
kebutuhan masing-masing individu.. Untuk mengetahui apakah orang tersebut kelebihan atau
kekurangan energi yang masuk dari makanan, maka digunakan petunjuk utama yaitu berat badan
(Anmadjauhi – Sediautama, 1987).
Kebutuhan total energi pada individu dipengaruhi oleh tiga faktor (Hertog Nursanboto, 1992)
yaitu :
a. Metabolisme basah adalah jumlah panas yang dibutuhkan oleh tubuh dalam keadaan istirahat
total baik fisik, pencernaan, maupun emosinya.
b. Aktivitas fisik
c. Efek dinamik khusus pada makanan (SDA) : SDA adalah panas khusus yang dibutuhkan untuk
mencerna, menyerap dan memetabolisme zat gizi yang terdapat pada makanan yang masuk ke
dalam tubuh.
Efek kekurangan energi pada tubuh akan menyebabkan terjadinya masalah gizi
kurang. Gizi kurang dapat terjadi akibat tingkat konsumsi yang memang tidak mencukupi atau
tingkat konsumsi mencukupi namun tubuh mengalami gangguan pencernaan sehingga zat gizi
yang masuk terbuang lagi dengan percuma.

3. Konsumsi Protrein
Protein merupakan suatu zat makanan yang amat penting bagi tubuh, karena
disamping berfungsi sebagai bahan bakar dalam tubuh juga berfungsi sebagai zat pembangun
dan pengatur. Protein sebagai zat pembangun merupakan pembentuk jaringan-jaringan baru yang
selalu terjadi didalam tubuh serta mengganti jaringan-jaringan tubuh yang rusak dan yang perlu
dirombak. Fungsi protein bagi tubuh ialah untuk membentuk jaringan yang baru dan
mempertahankan jaringan yang telah ada. (F.G. Winarno, 1991)
Protein yang berasal dari protein hewani lebih tinggi nilainya daripada protein yang
berasal dari tumbuh-tumbuhan, karena protein hewani mengandung lebih lengkap asam-asam
amino essensial dan susunannya lebih mendekati sisman tubuh manusia.
(Poerwo Soedarmo dan Rediaotama).
3. Kebutuhan Energi dan Protein Anak Balita
Seperti diketahui kebutuhan energi dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu BMR. Aktivitas
fisik dan SDA. BMR mempunyai nilai tertinggi pada masa pertumbuhan, sepanjang kehidupan
manusia BMR mencapai titik perkembangan tertinggi pada usia dua tahun dan memasuki tahun
ketiga kehidupannya. Kemudian grafik BMR secara perlahan-lahan menurun sampai masa
remaja (Hertos Nursanyoti, 1992).
Pada kelompok anak balita kebutuhan protein belum dibedakan menurut jenis kelamin
laki-laki dan perempuan.
(A. Dgaeni Sediaotama, 1987).
Berdasarkan kebutuhan gizi yang dianjurkan (KGA) tahun 1993, kebutuhan energi
dan protein dapat dilihat dibawah ini :
- Umur 1 – 3 tahun : Kebutuhan energi 1250 kilo kalori dan kebutuhan protein 20 gr.
- Umur 4 – 6 tahun : Kebutuhan energi 1750 kilo kalori dan kebutuhan protein 32 gr.
Tingkat konsumsi zat gizi (Energi dan Protein) adalah perbandingan antara konsumsi
rata-rata individu dengan angka kecukupan gizi yang dianjurkan (RDA) dengan memperhatikan
koreksi berat badan. Klasifikasi tingkat konsumsi berdasarkan Depkes RI tahun 1990 dapat
dilihat pada tabel 1.
Tabel 1 : Klasifikasi Tingkat Konsumsi Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi Yang
Dianjurkan.

Tingkat Konsumsi Prosentase


1. Baik  100%
2. Sedang > 80 – 99%
3. Kurang 70 – 80%
4. Defisit < 70%

a. Status Gizi

1. Pengertian Status Gizi


Zat gizi dipengaruhi dari makanan yang dikonsumsi dan dicerna oleh organ-organ
tubuh. Apabila zat-zat gizi diperoleh dari makanan melebihi kebutuhan normal tubuh akan
menyebabkan kelebihan gizi bagi tubuh yang sering disebut over nutrition. (I Dewa Nyoman
Supariasa, 1990).
Sedangkan apabila makanan yang dikonsumsi tidak dapat memenuhi kebutuhan
normal tubuh akan menyebabkan kekurangan gizi yang disebut under nutrition. Dari kedua
keadaan ini (kelebihan dan kekurangan) sering disebut sebagai mainutrition atau gizi salon.
Apabila kejadian ini berlangsung lama atau dalam jangka waktu tertentu, maka keadaan tersebut
akan menemukan status gizi seseorang.
2. Faktor-Faktor Yang Menentukan Status Gizi
Secara langsung faktor penyebab kurang gizi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu
makanan yang dikonsumsi yang disebut faktor eksternal dan faktor dasar penentuan tingkat
kebutuhan gizi seseorang yang disebut faktor internal. Kedua faktor ini harus berada dalam
keadaan baik dan seimbang, apabila salah satunya tidak baik maka akan menyebabkan
kekurangan gizi.
(Apriadji Wied Harry, 1987)
Konsumsi makanan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya kandungan zat gizi
makanan itu sendiri. Ada tidaknya makanan yang tersedia untuk dikonsumsi oleh anggota
keluarga. Daya beli juga menentukan konsumsi makanan dimana apabila ekonomi baik maka
daya beli tinggi. Akhirnya makanan yang tersedia dalam keluarga juga banyak, hal ini
memungkinkan konsumsi keluarga yang baik.
(Apriadji Wied Harry, 1987).
3. Penilaian Status Gizi
Penilaian status sangatlah penting karena dapat digunakan sebagai dasar terhadap
penilaian keadaan kesehatan dan gizi individu maupun masyarakat, dan merupakan hal yang
sangat penting dalam program pembangunan dan perbaikan gizi seperti kesehatan masyarakat.
Penilaian status gizi dapat dilakukan dengan dua cara / metode penentuan yaitu secara
langsung dan tidak langsung metode penentuan status gizi secara langsung seperti antropometri.
Tanda-tanda klinis, biokimia dan biofisika. Sedangkan metode penentuan staff gizi secara tidak
langsung dapat dibagi lagi menjadi kualitatif seperti statistik vital, ragam konsumsi, pendapatan
dan lain-lain. Sedangkan kuantitatif seperti penimbangan dan lain-lain.
(I Dewe Nyoman Suprariasa, 1990)
Metode antropometri yang digunakan untuk menentukan status gizi telah digunakan
secara luas oleh masyarakat dunia termasuk di Indonesia. Pengukuran antropometri relatif lebih
mudah untuk dilakukan dan murah, tetapi untuk berbagai cara pengukuran antropometri ini
dibutuhkan keterampilaan dan peralatan dalam pelaksanaan.
Banyak indeks antropometri yang digunakan untuk menentukan status gizi antara lain :
Berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan berat badan menurut
tinggi badan (BB/TB) yang mana masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihannya.
Adapun indeks antropometri yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
indeks BB/U. Indeks BB/U memiliki kelebihan sebagai berikut :
a. Dapat lebih mudah dan lebih cepat dimengerti oleh masyarakat umum.
b. Sensitif untuk melihat perubahan status gizi jangka pendek.
c. Dapat mendeteksi kegemukan.
Namun demikian indeks berat badan menurut umur (BB/U) ini juga memiliki
kelemahan-kelemahan sebagai berikut :
a. Dapat mengakibatkan interprestasi status gizi yang keliru bila terdapat oedema.
b. Memerlukan data yang akurat, terutama untuk kelompok umur dibawah lima tahun
(balita).
c. Sering terjadi kesalahan dalam pengukuran, misalnya pengaruh pakaian ataupun gerakan
anak pada saat penimbangan.
Secara operasional sering mengalami hambatan karena masalah sosial budaya setempat.

Anda mungkin juga menyukai