Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I
PENDAHULUAN

Menurut psikologi, dewasa adalah periode perkembangan yang bermula
pada akhir usia belasan tahun atau awal usia duapuluhan tahun dan yang berakhir
pada usia tigapuluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi
dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan
pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan
mengasuh anak anak.
Proses perubahan terjadi secara terus menerus dari bayi sampai menjadi tua.
Oleh karena itu, zat-zat gizi tetap diperlukan untuk menyelenggarakan fungsi-
fungsi dasar, seperti menyediakan energi, mengatur reaksi-reaksi dalam tubuh dan
menyumbang struktur.
Zat gizi adalah zat-zat yang diperoleh dari bahan makanan yang dikonsumsi,
mempunyai nilai yang sangat penting (tergantung dari macam-macam bahan
makanannya) untuk memperoleh energi guna melakukan kegiatan fisik sehari-hari
bagi para pekerja. Termasuk dalam memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan
dan perkembangan yaitu penggantian sel-sel yang rusak dan sebagai zat pelindung
dalam tubuh (dengan cara menjaga keseimbangan cairan tubuh). Proses tubuh
dalam pertumbuhan dan perkembangan yang terpelihara dengan baik akan
menunjukkan baiknya kesehatan yang dimiliki seseorang. Seseorang yang sehat
tentunya memiliki daya pikir dan daya kegiatan fisik sehari-hari yang cukup
tinggi (Marsetyo dan Kartasapoetra, 1991).
Tubuh manusia memerlukan sejumlah pangan dan gizi secara tetap, sesuai
dengan standar kecukupan gizi, namun kebutuhan tersebut tidak selalu dapat
terpenuhi. Penduduk yang miskin tidak mendapatkan pangan dan gizi dalam
jumlah yang cukup.
Untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya tubuh melakukan
pemeliharaan dengan mengganti jaringan yang sudah aus, melakukan kegiatan,
dan pertumbuhan sebelum usia dewasa. Agar tubuh dapat menjalankan ketiga
2

fungsi tersebut diperlukan sejumlah gizi setiap hari, yang didapat melalui
makanan. Diperkirakan 50 macam senyawa dan unsur yang harus diperoleh dari
makanan dengan jumlah tertentu setiap harinya. Bila jumlah yang diperlukan
tidak terpenuhi maka kesehatan yang optimal tidak dapat dicapai (Ari Agung,
2002).








































3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Status gizi
2.1.1. Pengertian Gizi
Gizi mempunyai peran besar dalam daur kehidupan. Setiap tahap daur
kehidupan terkait dengan satu set prioritas nutrien yang berbeda. Semua orang
sepanjang kehidupan membutuhkan nutrien yang sama, namun dalam jumlah
yang berbeda. Nutrien tertentu yang didapat dari makanan, melalui peranan
fisiologis yang spesifik dan tidak tergantung pada nutrien yang lain, sangat
dibutuhkan untuk hidup dan sehat (Kusharisupeni, 2007).
Istilah gizi dan ilmu gizi di Indonesia baru dikenal sekitar tahun 1952-
1955 sebagai terjemahan kata bahasa Inggris nutrition. Kata gizi berasal dari
bahasa Arab ghidza yang berarti makanan. Menurut dialek Mesir, ghidza dibaca
ghizi. Selain itu sebagian orang menterjemahkan nutrition dengan mengejanya
sebagai nutrisi( Kamus Umum Bahasa Indonesia Badudu-Zain, 1994).
WHO mengartikan ilmu gizi sebagai ilmu yang mempelajari proses yang
terjadi pada organisme hidup. Proses tersebut mencakup pengambilan dan
pengolahan zat padat dan cair dari makanan yang diperlukan untuk memelihara
kehidupan, pertumbuhan, berfungsinya organ tubuh dan menghasilkan energi.
Zat gizi (nutrien) adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk
melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara
jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan. Makanan setelah dikonsumsi
mengalami proses pencernaan. Bahan makanan diuraikan menjadi zat gizi atau
nutrien. Zat tersebut selanjutnya diserap melalui dinding usus dan masuk kedalam
cairan tubuh (Almatsier, 2004).
2.1.2. Pengertian Status Gizi
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat gizi. Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah
satu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian. Status gizi yang baik
bagi seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan
dalam proses pemulihan. Status gizi masyarakat dapat diketahui melalui penilaian
konsumsi pangannya berdasarkan data kuantitatif maupun kualitatif (Supariasa, 2001).
4

Status gizi merupakan tanda-tanda penampilan seseorang akibat
keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran zat gizi yang berasal dari
pangan yang dikonsumsi pada suatu saat berdasarkan pada kategori dan indikator
yang digunakan (DepKes,2002).
Dalam menetukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku yang sering
disebut reference. Baku antropometri yang sering digunakan di Indonesia adalah
World Health Organization National Centre for Health Statistik (WHO-NCHS).
Berdasarkan baku WHO - NCHS status gizi dibagi menjadi empat : Pertama, gizi
lebih untuk over weight, termasuk kegemukan dan obesitas. Kedua, Gizi baik
untuk well nourished. Ketiga, Gizi kurang untuk under weight yang mencakup
mild dan moderat, PCM (Protein Calori Malnutrition). Keempat, Gizi buruk
untuk severe PCM, termasuk marasmus, marasmik-kwasiorkor dan kwashiorkor
(Supariasa, 2002).
Status gizi merupakan faktor yang terdapat dalam level individu (level yang
paling mikro). Faktor yang mempengaruhi secara langsung adalah asupan
makanan dan infeksi. Pengaruh tidak langsung dari status gizi ada tiga faktor yaitu
ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak, dan lingkungan kesehatan
yang tepat, termasuk akses terhadap pelayanan kesehatan (Riyadi, 2001 yang
dikutip oleh Simarmata, 2009).
Status gizi ditentukan oleh ketersediaan semua zat gizi dalam jumlah dan
kombinasi yang cukup serta waktu yang tepat. Dua hal yang penting adalah
terpenuhi semua zat gizi yang dibutuhkan tubuh dan faktor-faktor yang
menentukan kebutuhan, penyerapan dan penggunaan zat gizi tersebut.
Peran dan kedudukan Penilaian Status Gizi (PSG) di dalam ilmu gizi adalah
untuk mengetahui status gizi, yaitu ada tidaknya malnutrisi pada individu atau
masyarakat.
Definisi PSG adalah interprestasi dari data yang didapatkan dengan
menggunakan berbagai metode untuk mengidentifikasi populasi atau individu
yang berisiko atau dengan status gizi buruk (Hartriyanti, 2007).
Kelompok rentan gizi adalah suatu kelompok di dalam masyarakat yang
paling mudah menderita gangguan kesehatannya atau rentan karena kekurangan
gizi. Kelompok-kelompok rentan gizi ini terdiri dari :
5

a. Kelompok bayi, umur 0-1 tahun.
b. Kelompok di bawah lima tahun (balita): 1-5 tahun.
c. Kelompok anak sekolah, umur 6-12 tahun.
d. Kelompok remaja, umur 13-20 tahun.
e. Kelompok ibu hanil dan menyusui.
f. Kelompok usia (usia lanjut). (Notoatmodjo, 2003)

2.1.3 Penilaian Status Gizi Secara Langsung
1. Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari
sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam
pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan
tingkat gizi.
2. Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status
gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi
yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada
jaringan epitel (supervisial epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut dan
mukosa oral atau organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti
kelenjar tiroid.
3. Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang
diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh.
Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah, urine, tinja dan juga beberapa
jaringan tubuh seperti otot dan hati.
4. Biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi
dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan
dan jaringan.
2.1.4. Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung
1. Survei Konsumsi Makanan
6

Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak
langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi.
2. Statistik Vital
Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis
data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka
kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang
berhubungan dengan gizi.
3. Faktor Ekologi
Bengoa mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi
sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya.
Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti
iklim, tanah, irigasi dan lain-lain (Supariasa, 2002).
2.2. Pemeriksaan Antropometri
Pertumbuhan dipengaruhi oleh determinan biologis yang meliputi jenis
kelamin, lingkungan dalam rahim, jumlah kelahiran, berat lahir pada kehamilan
tunggal atau majemuk, ukuran orang tua dan konstitusi genetis, serta faktor
lingkungan (termasuk iklim, musim, dan keadaan sosial-ekonomi). Pengaruh
lingkungan, terutama gizi, lebih penting daripada latar belakang genetis atau
faktor biologis lain, terutama pada masa pertumbuhan. Ukuran tubuh tertentu
dapat memberikan keterangan mengenai jenis malnutrisi (Arisman, 2009).
Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros. Anthropos artinya
tubuh dan metros, artinya ukuran. Jadi antropometri adalah ukuran dari tubuh.
Jadi dapat ditarik pengertian antropometri gizi adalah berhubungan dengan
berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai
tingkat umur dan gizi. Berbagai jenis ukuran tubuh antara lain : berat badan, tinggi badan,
lingkar lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit.
Antropometri sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari
berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi. Gangguan ini
biasanya terlihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti
lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh (Supariasa, 2002).
Tujuan yang hendak dicapai dalam pemeriksaan antropometris adalah
besaran komposisi tubuh yang dapat dijadikan isyarat dini perubahan status gizi.
7

Tujuan ini dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu untuk: (1) penapisan status gizi,
(2) survei status gizi, dan (3) pemantauan status gizi. Penapisan diarahkan pada
orang per orang untuk keperluan khusus. Survei ditujukan untuk memperoleh
gambaran status gizi masyarakat pada saat tertentu, serta faktor-faktor yang
berkaitan dengan itu. Pemantauan bermanfaat sebagai pemberi gambaran
perubahan status gizi dari waktu ke waktu (Arisman, 2009).
Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan
mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh
manusia, antara lain: usia, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar
kepala, lingkar dada, lingkar pinggul dan tebal lemak di bawah kulit.
Faktor usia sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan
penentuan usia akan menyebabkan interpretasi status gizi menjadi salah. Hasil
pengukuran tinggi badan dan berat badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila
tidak disertai dengan penentuan usia yang tepat. Menurut Puslitbang Gizi Bogor
(1980), batasan usia digunakan adalah tahun usia penuh (Completed Year).
Berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting. Berat badan
menggambarkan jumlah dari protein, lemak, air, dan mineral pada tulang. Di
samping itu pula berat badan dapat dipergunakan sebagai dasar perhitungan dosis
obat dan makanan.
Pada masa bayi-balita, berat badan dapat dipergunakan untuk melihat laju
pertumbuhan fisik maupun status gizi, kecuali terdapat kelainan klinis seperti
dehidrasi, asites, edema dan adanya tumor. Pada remaja, lemak tubuh cenderung
meningkat, dan protein otot menurun. Pada orang yang edema dan asites terjadi
penambahan cairan dalam tubuh. Adanya tumor dapat menurunkan jaringan
lemak dan otot, khususnya terjadi pada orang kekurangan gizi.
Berat badan merupakan pilhan utama karena berbagai pertimbangan, antara
lain:
1) Parameter yang paling baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu
singkat karena perubahan-perubahan konsumsi makanan dan kesehatan.
2) Memberikan gambaran status gizi sekarang dan kalau dilakukan secara
periodik memberikan gambaran yang baik tentang pertumbuhan.
8

3) Merupakan ukuran antropometri yang sudah dipakai secara umum dan
luas di Indonesia sehingga tidak merupakan hal baru yang memerlukan penjelasan
secara meluas.
4) Ketelitian pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh ketrampilan
pengukur.
5) KMS (Kartu Menuju Sehat) yang digunakan sebagai alat yang baik untuk
didikan dan memonitor kesehatan anak menggunakan juga berat badan sebagai
dasar pengisiannya.
6) Karena masalah usia merupakan faktor penting untuk penilaian status
gizi, berat badan terhadap tinggi badan sudah dibuktikan dimana-mana sebagai
indeks yang tidak tergantung pada umur.
7) Alat pengukur dapat diperoleh di daerah pedesaan dengan ketelitian yang
tinggi dengan menggunakan dacin yang juga sudah dikenal oleh masyarakat.
Penentuan berat badan dilakukan dengan cara menimbang. Alat yang
digunakan di lapangan sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan:
1) Mudah digunakan dan dibawa dari satu tempat ke tempat yang lain.
2) Mudah diperoleh dan relatif mudah harganya.
3) Ketelitian penimbangan sebaiknya maksimum 0,1 kg.
4) Skalanya mudah dibaca.
5) Cukup aman untuk menimbang anak balita.
Pada prinsipnya, ada dua macam timbangan, yaitu beam (lever) balance
scales dan spring scale. Contoh beam balance ialah dacin, dan spring scale scale
adalah timbangan pegas (contohnya, timbangan kamar mandi). Kesulitan dalam
menimbang anak adalah anak terlalu aktif, sehingga sulit melihat skala dan anak
biasanya menangis.
Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi keadaan yang telah
lain dari keadaan sekarang, jika umur diketahui dengan tepat. Di samping itu
tinggi badan merupakan ukuran kedua yang penting, karena dengan
menghubungkan berat badan terhadap tinggi badan (quac stick), faktor umur
dapat dikesampingkan.
9

Pengukuran tinggi badan untuk anak balita yang sudah dapat berdiri
dilakukan dengan alat pengukur tinggi mikrotoa (microtoise) yang mempunyai
ketelitian 0,1 cm.
Untuk mendapatkan data antropometri yang baik harus dilakukan sesuai
dengan standar prosedur pengumpulan data antropometri. Tujuan dari prosedur
standarisasi adalah memberikan informasi yang cepat dan menunjukkan kesalahan secara
tepat sehingga perubahan dapat dilakukan sebelum sumber kesalahan dapat dipastikan.
Penyelia mempelajari hal-hal apa yang perlu diperhatikan untuk menjamin presisi dan
akurasi pengukuran dan ketrampilan apa yang perlu diberikan (Supariasa, 2002).
Idrus dan Kunanto (1990), memberikan pengertian mengenai presisi dan
akurasi. Presisi adalah kemampuan mengukur subyek yang sama secara berulang-
ulang dengan kesalahan yang minimum. Sedangkan akurasi adalah kemampuan
untuk mendapatkan hasil yang sedekat mungkin dengan hasil yang diperoleh
penyelia.
Berbagai penyebab terjadinya kesalahan-kesalahan dalam pengukuran. Di
antara penyebab antara lain pada waktu melakukan pengukuran tinggi badan tanpa
memperhatikan posisi orang yang diukur, misalnya belakang kepala, punggung,
pinggul, dan tumit harus menempel di dinding. Sikapnya harus dalam posisi siap
sempurna. Di samping itu pula kesalahan juga terjadi apabila petugas tidak
memperhatikan situasi pada saat anak diukur. Contohnya adalah anak
menggunakan sandal atau sepatu. Pada waktu penimbangan berat badan,
timbangan belum di titik nol, belum dalam keadaan seimbang, dan timbangan
tidak berdiri tegak lurus.
Kesalahan yang disebabkan oleh tenaga pengukur dapat terjadi karena
petugas pengumpul data kurang hati-hati atau belum mendapat pelatihan yang
memadai. Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran sering disebut
measurement error. Masalah lain juga timbul dalam penentuan status gizi adalah
alat ukur dan pengukuran.
Secara garis besar usaha untuk mengatasi kesalahan pengukuran, baik dalam
mengukur sebab maupun dampak dari suatu tindakan, dapat dikelompokkan
sebagai berikut:
10

a) Memilih ukuran yang sesuai dengan apa yang ingin diukur. Misalnya
mengukur tinggi badan menggunakan mikrotoa, dan tidak menggunakan alat ukur
lain yang bukan diperuntukkan untuk mengukur tinggi badan.
b) Peneraan alat ukur secara berkala. Alat timbang dan alat lainnya harus
selalu ditera dalam kurun waktu tertentu. Apabila ada alat yang rusak, sebaiknya
tidak digunakan lagi.
c) Pengukuran silang antar pengamat. Kegiatan ini perlu dilakukan untuk
mendapatkan presisi dan akurasi yang baik (Supariasa, 2002).
2.3. Standar Penilaian Status Gizi
Standar (baku) rujukan CDC-NCHS 2000 ditetapkan sebagai pembanding
dalam status gizi dan pertumbuhan perorangan maupun masyarakat di Indonesia.
Standar ini dipaparkan dalam persentil dan ketentuan eid indeks dari BB/TB.
Hasil pengukuran status gizi berdasarkan eid indeks dapat digolongkan
dalam persentase malnutrisi berat (< 70%), malnutrisi sedang ( 70-80%),
malnutrisi ringan ( 80-90%), gizi baik ( 90-110%), overweight ( 110-120%),
dan obesitas ( 120%).
Untuk menentukan status gizi digunakan berat badan (BB) terhadap tinggi
badan (TB) (CDC, 2000). Tabel Referensi CDC-NCHS 2000 untuk menentukan
status gizi (lampiran) (Supariasa, 2002).
2.4. Kebutuhan Gizi Dan Kecukupan Gizi
Kebutuhan gizi adalah jumlah zat gizi minimal yang diperlukan seseorang
untuk hidup sehat. Kebutuhan zat gizi masing-masing orang berbeda, salah
satunya karena faktor genetika. Kegunaan perhitungan kebutuhan gizi adalah
sebagai baku evaluasi konsumsi pangan dan gizi, perencanaan menu atau
konsumsi pangan, perencanaan produksi dan ketersediaan pangan. Sedangkan
kecukupan gizi yang dianjurkan (recommended dietary allowances/ RDA) adalah
jumlah zat gizi yang diperlukan seseorang atau rata-rata kelompok orang agar
hampir semua orang dapat hidup sehat.
Kebutuhan gizi seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai
berikut:

1. Pertumbuhan
11

Pertumbuhan ditandai dengan bertambahnya materi penyusun badan dan
bagian-bagiannya. Fase ini dimulai dari kandungan sampai usia dewasa muda.
Laju pertumbuhan tercepat terjadi sebelum kelahiran dan sewaktu bayi. Keperluan
tubuh akan zat gizi esensial pada waktu bayi lebih utama dibandingkan dengan
masa lain selam kehidupan. Pertumbuhan berikutnya adalah masa kanak-kanak.
Pada usia ini kegiatan fisik mulai meningkat. Kekurangan zat gizi pada dua masa
ini akan menimbulkan gangguan pertumbuhan fisik dan mental. Kebutuhan zat
gizi dan energi menjadi bervariasi seiring dengan laju pertumbuhan. Sampai masa
remaja, kebutuhan zat gizi sangat penting untuk perkembangan tubuh, seperti
terbentuknya tulang dan otot yang kuat, simpanan lemak yang cukup untuk
melindungi tubuh dan organnya, kulit yang sehat, rambut yang mengkilap, serta
gigi yang sehat.
2. Umur
Semakin tua umur manusia maka kebutuhan energi dan zat-zat gizi semakin
sedikit. Pada usia dewasa, zat gizi diperlukan untuk penggantian jaringan tubuh
yang rusak, meliputi perombakan dan pembentukan sel. Pada masa ini aktivitas
fisik mulai meningkat yaitu untuk melakukan pekerjaan atau bekerja.
3. Jenis kegiatan fisik dan ukuran tubuh
Makin banyak aktivitas fisik yang dikerjakan maka makin banyak energi
yang diperlukan. Untuk melakukan aktifitas fisik yang sama, orang yang berbadan
besar membutuhkan energi yang lebih banyak daripada orang yang berbadan
kecil. Akan tetapi, aktifitas fisik lebih berpengaruh terhadap pengeluaran energi
daripada perbedaan ukuran tubuh.
4. Keadaan sakit dan penyembuhan
Pada keadaan sakit terjadi perombakan protein tubuh. Oleh karena itu, agar
kondisi tubuh kembali normal maka pada periode penyembuhan diperlukan
peningkatan konsumsi protein. Kondisi sakit tidak saja memerlukan peningkatan
konsumsi protein, tetapi juga peningkatan zat-zat gizi lain sepertia air, vitamin,
mineral, karbohidrat, dan lemak.
5. Keadaan fisiologis khusus (hamil dan menyusui) (Auliana, 1999)


12

2.4.1. Pola Menu Sehari Menurut Kandungan Energi
Seseorang dapat menyusun menu sehari yang seimbang dengan
menggunakan daftar pola menu sehari menurut kandungan energi yang diucapkan
dalam jumlah penukar sebagaimana dapat dilihat pada tabel. Pola ini
menunjukkan jumlah penukar dari tiap golongan bahan makanan yang perlu
dimakan sehari sesuai dengan kebutuhan energi rata-ratanya sehari. Dengan
menggunakan berbagai jenis bahan makanan dalam tiap golongan bahan makanan
sesuai jumlah penukar yang tercantum dalam tabel, dapat dijamin bahwa menu
yang disusun seimbang dalam semua zat gizi dan bervariasi. (Almarsier, 2004)

2.4.2. Daftar Bahan Makanan Penukar
Dalam bahasa baku, menu ialah susunan bermacam makanan yang
dihidangkan. Makanan disini tidak terbatas hanya pada sesuatu yang dimakan,
tetapi juga sesuatu yang diminum. Lalu pengertian Daftar Bahan Makanan
13

Penukar ialah Daftar yang membuat bahan-bahan makanan dalam jumlah tertentu
dengan kandungan gizi yang kurang lebih sama sehingga bisa disaling tukarkan
satumacam bahan makanan dengan yang lainnya. Adanya Daftar Bahan Makanan
Penukar digunakan untuk memudahkan penyusunan menu yang bervariasi dan
bergizi dengan mengelompokkan bahan makanan berdasarkan peranannya dalam
pola menu makanan seimbang dan zat gizi yang dikandungnya. Daftar ini pertama
kali disusun di Indonesia pada tahun 1972 oleh Persatuan Ahli Gizi Indonesia dan
Bagian Gizi Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Bahan makanan dibagi ke
dalam delapan golongan yaitu:
1. Bahan makanan sumber karbohidrat
2. Bahan makanan sumber protein hewani
3. Bahan makanan sumber protein nabati
4. Sayuran
5. Buah-buahan
6. Susu
7. Minyak
8. Gula

Untuk tiap golongan bahan makanan disusun daftar bahan makanan dalam
jumlah yang zat gizinya setara dalam energi, karbohidrat, lemak, dan protein
(rincian daftar bahan makanan penukar dapat dilihat di lampiran Daftar Bahan
Makanan Penukar). Bahan makanan dalam jumlah tersebut dapat saling
menukarkan. Perhatikan terlebih dahulu bahan makanan tiap golongan yang
digunakan sebagai acuan, ukuran standar (dalam ukuran rumah tangga dan gram)
dan nilai energi, karbohidrat, lemak, dan proteinnya. (Isfiani, Ilma R, 2011)







14

BAB III
PEMBAHASAN

Pasien 1
Nama : Aminatul Wahyuda
Umur : 38 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Desa Ceurih, Kec. Ulee Kareng
Agama : Islam
Status : Sudah Menikah
Pemeriksaan : 27 Agustus 2014
Status Gizi :
TB : 150 cm
BB : 61 kg
Pola Makan :
Sarapan : Nasi Putih porsi, telor ceplok, udang goreng sambal lado,
kerupuk emping, teh (1 sendok gula)
Makan Siang : Nasi putih 1 porsi, udang tumis, tumis brokoli, ikan tongkol
sambal lado, kerupuk
Makan Malam : Nasi putih 1 porsi, udang tumis, tumis brokoli, ikan
tongkol sambal lado, kerupuk
Cemilan : Buah-buahan (Salak dan Rambutan), jus kates
Aktivitas sehari-hari : Kegiatan ibu rumah tangga (Mencuci, Menyapu,
Menggosok, Memasak)








15

Pasien 2
Nama : Eka Setiawansyah
Umur : 30 tahun
Alamat : Desa Pango Raya
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu rumah Tangga
Status : Sudah Menikah
Pemeriksaan : 27 Agustus 2014
Status Gizi :
TB : 153 cm
BB : 96 kg
Pola Makan :
Sarapan: -
Makan Siang (12.00): nasi putih 1 porsi, ikan sambal,
kuah asam keueng.
Makan Malam (20.00): Nasi Putih 1 porsi, ikan sambal, kuah
asam keueng, kerupuk melinjo.
Cemilan (16.30 dan 21.00): keripik singkong.
Aktivitas sehari-hari: aktivitas ibu rumah tangga (mencuci baju, mencuci
piring, menyapu, mengepel, dll)
Olahraga: -










16

Pasien 3
Nama : Muhammad Nasir
Umur : 38 tahun
Alamat : Desa Pango Raya
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Wirausaha (Fotokopi)
Status : Sudah Menikah
Pemeriksaan : 27 Agustus 2014
Status Gizi :
TB : 167 cm
BB : 60 kg
Pola makan :
Sarapan (09.00): Nasi gurih, telur dadar, perkedel kentang.
Makan Siang (13.00): nasi putih 1 porsi, ikan sambal, sayur bening,
kerupuk udang.
Makan Malam (19.30): Nasi Putih 1 porsi, telur sambal, sayur bening,
kerupuk udang.
Cemilan (16.00): pisang goreng 3 potong.
Aktivitas sehari-hari: usaha fotokopi
Olahraga: -











17

Dalam menilai status gizi para pasien dewasa di Puskesmas Kecamatan
Syiah Kuala, perlu dilakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan masing-
masing pasien. Kemudian berdasarkan hasil temuan ditentukan indeks massa
tubuh masing-masing pasien dengan cara membagi berat badan (dalam kilogram)
dengan tinggi badan di kuadratkan (dalam meter).
Dari hasil yang didapatkan, ditemukan hasil pasien pertama dengan indeks
massa tubuh 41,2 yang dapat digolongkan dalam klasifikasi obesitas kelas III,
dimana rentang nilainya di atas 40,00. Pasien kedua memiliki indeks massa tubuh
senilai 21,5 yang tergolong dalam klasifikasi normal dimana rentang nilai antara
18,50 - 24,99. Sementara itu pasien ketiga memiliki indeks massa tubuh 27,11
yang termasuk pada klasifikasi pre-obesitas dimana rentang nilai diantara 25,00
29,99.
Pasien pertama dan ketiga perlu mendapatkan edukasi tentang pentingnya
menjaga pola makan dan asupan nutrisi yang seimbang. Selain itu, pasien juga
perlu diingatkan untuk selalu menjaga keseimbangan antara nutrient intake
dengan energy expenditure. Pasien diajak untuk berolahraga sebagai hal yang
wajib untuk dilakukan di sela rutinitas harian minimal 30 menit dalam sehari
dengan jenis olahraga yang beragam dikarenakan pasien belum memasukkan
jadwal olahraga sebagai hal yang penting untuk dilakukan. Begitu juga halnya
dengan nutrisi yang seimbang perlu selalu menjadi perhatian masing-masing
individu, dimana mereka perlu mengkonsumsi panganan berkarbohidrat, protein,
lemak, vitamin dan mineral dalam jumlah yang cukup dan komposisi yang
seimbang. Dengan cara-cara yang telah disebutkan di atas, diharapkan pasien
pertama dan ketiga dapat menurunkan berat badan dan mencapai nilai indeks
massa tubuh yang normal.
Pasien kedua yang memiliki indeks massa tubuh dalam rentang nilai normal
perlu mempertahankan berat badannya saat ini dengan tetap menjaga pola makan
dan asupan nutrisi hariannya. Olahraga juga harus dimasukkan dalam jadwal
harian pasien di sela-sela rutinitas mengingat pasien belum berolahraga secara
rutin. Dengan cara ini, diharapkan pasien dapat tetap menjaga kebugaran,
kesehatan dan meningkatkan produktivitas kerja harian.
18

Almarsier (2004) menyatakan, Dokter selaku ahli kesehatan dalam
masyarakat dapat membantu menyusun menu harian yang seimbang dengan
menggunakan daftar pola menu sehari menurut kandungan energi yang diucapkan
dalam jumlah penukar. Pola ini menunjukkan jumlah penukar dari tiap golongan
bahan makanan yang perlu dimakan sehari sesuai dengan kebutuhan energi rata-
ratanya sehari. Dengan menggunakan berbagai jenis bahan makanan dalam tiap
golongan bahan makanan sesuai jumlah penukar, dapat dijamin bahwa menu yang
disusun seimbang dalam semua zat gizi dan bervariasi.
























19

BAB IV
KESIMPULAN

Zat gizi adalah zat-zat yang diperoleh dari bahan makanan yang dikonsumsi,
mempunyai nilai yang sangat penting untuk memperoleh energi guna melakukan
kegiatan fisik sehari-hari. Termasuk dalam memelihara proses tubuh dalam
pertumbuhan dan perkembangan yaitu penggantian sel-sel yang rusak dan sebagai
zat pelindung dalam tubuh (dengan cara menjaga keseimbangan cairan tubuh).
Peran dan kedudukan status gizi didalam ilmu gizi adalah untuk mengetahui
status gizi, yaitu ada tidaknya malnutrisi pada individu atau masyarakat.
Kebutuhan zat gizi masing-masing orang berbeda, salah satunya karena faktor
genetika. Kegunaan perhitungan gizi adalah sebagai baku evaluasi konsumsi
pangan dan gizi, perencanaan atau konsumsi pangan, perencanaan produksi dan
ketersediaan pangan. Sedangkan kecukupan gizi yang dianjurkan (Recommended
Dietary Allowances / RDA) adalah jumlah zat gizi yang diperlukan seseorang
atau rata-rata kelompok orang agar hamper semua orang dapat hidup sehat.
Semakin tua umur manusia maka kebutuhan energi dan zat-zat gizi semakin
sedikit. Pada usia dewasa, zat gizi diperlukan untuk pergantian zat tubuh yang
rusak, meliputi perombakan dan pembentukan sel. Kekurangan energi terjadi bila
konsumsi energi melalui makanan kurang dari energi yang dikeluarkan. Tubuh
akan mengalami keseimbangan energi negatif. Akibatnya, berat badan kurang dari
berat badan seharusnya (ideal). Bila hal ini dialami pada orang dewasa akan
menyebabkan penurunan berat badan dan kerusakan jaringan tubuh. Sedangkan,
kelebihan energi terjadi bila konsumsi energi melalui makanan melebihi energi
yang dikeluarkan. Kelebihan energi ini akan diubah menjadi lemak tubuh.
Akibatnya, terjadi berat badan lebih atau kegemukan.





20

DAFTAR PUSTAKA

WHO. 1995. Physical Status : the Use and Interpretation of Anthropometry.
Report of a WHO Expert Committee. WHO, Geneva.
WHO. 2007. WHO Reference 2007 for Child and Adolescent. WHO,
Geneva.
WHO. 2000. Nutrition for Health and Developmnetal, WHO, Geneva
Supariasa, Nyoman. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC
Sirajuddin, Saifuddin. 2011. Penuntun Praktikum Penilaian Status Gizi
Secara Biokimia dan Antropometri. Makassar: Laboratorium Terpada Fakultas
kesehatan Masyarakat Universitas hasanuddin.
Gibson 2005. Tinjauan Pustaka LILA. (Online)
http://www.scribd.com/doc/46253718/Tinjauan-Pustaka-Lila-Antropo
Dsb (Diakses pada tanggal 2 Agustus 2012)
Supariasta Nyoman Dewa I. 2001. Penilaian Status Gizi. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta
Supariasa,2001. Penilaian Status Gizi Dalam Antropometri.(Online)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25638/4/Chapter%20II.pdf
(diakses pada tanggal 2 Agustus 2012)
Sutalaksana,1996. . Bio Kimia Harper. Buku Kedokteran EGC.Jakarta.
Chinue, 2009 Perhitungan Kebutuhan Gizi. Malang.
Supariasta Nyoman Dewa I. 2001. Penilaian Status Gizi. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta