0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan12 halaman

Pengurusan Jenazah

Makalah ini membahas tentang pengurusan jenazah menurut ajaran Islam. Terdiri dari empat langkah yaitu memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan menguburkan jenazah. Setiap langkah dijelaskan secara rinci prosedur dan tata caranya berdasarkan dalil-dalil agama.

Diunggah oleh

Bunga
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan12 halaman

Pengurusan Jenazah

Makalah ini membahas tentang pengurusan jenazah menurut ajaran Islam. Terdiri dari empat langkah yaitu memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan menguburkan jenazah. Setiap langkah dijelaskan secara rinci prosedur dan tata caranya berdasarkan dalil-dalil agama.

Diunggah oleh

Bunga
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

MELAKSANAKAN PENGURUSAN
JENAZAH

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3
 Angga Reza
 Ririn Asriani
 Aswandi
 Milda
 Muh. Akbar Yesa
 Idhul Fatrah
 Rendy
 Yaya Anwar Rahman

SMA NEGERI 5 BONE


TAHUN AJARAN 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur atas segala limpahan karunia Allah SWT atas izin-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Tak lupa pula kami panjatkan shalawat
serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW. Beserta keluarganya,
para sahabatnya, dan seluruh ummatnya yang senantiasa istiqomah hingga akhir
zaman.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas kelompok pelajaran
Pendidikan Agama Islam berjudul Pengurusan Jenazah. Dalam makalah ini kami
menguraikan pengertian, cara memandikan, menshalati,mengantarkan dan
menguburkan jenazah disertai dengan rukun-rukunnya yang sesuai dengan aturan
ajaran Islam dan diperkuat Hadits dari ulama-ulama dunia.
Dalam penyelesaian makalah ini, kami mendapatkan bantuan serta bimbingan dari
beberapa pihak. Oleh karena itu, rasa terima kasih sedalam-dalamnya kami
sampaikan kepada guru Pelajaran Pendidikan Agama Islam, Orang tua kami yang
banyak memberikan dukungan baik moril maupun materil, Semua pihak yang tidak
dapat kami rinci satu per satu yang telah membantu dalam proses penyusunan
makalah ini.
Akhirul kalam, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna.
Karena itu kami mengharapkan saran dan kritik konstruktif demi perbaikan makalah
di masa mendatang. Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat dan memenuhi
harapan berbagai pihak. Aamiin.

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...............................................................................................ii
DAFTAR ISI ..............................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................................1

A. Latar Belakang ...............................................................................................1


B. Rumusan Masalah ..........................................................................................1
C. TujuanMasalah ...............................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN ...........................................................................................2

A. Pengertian Jenazah .........................................................................................2


B. Pengurusan Jenazah .......................................................................................2
1. Memandikan Jenazah ...............................................................................2
2. Mengkafani Jenazah .................................................................................3
3. Menshalatkan Jenazah ..............................................................................5
4. Penguburan Jenazah .................................................................................6
BAB III PENUTUP ...................................................................................................8

A. Kesimpulan ....................................................................................................8
B. Saran ...............................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................9

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Syariat Islam mengajarkan bahwa setiap manusia pasti akan mengalami
kematian yang tidak pernah di ketahui kapan waktunya. Sebagai makhluk sebaik-
baik ciptaan Allah SWT dan di tempatkan pada derajat yang tinggi, maka islam
sangat menghormati orang muslim yang telah meninggal dunia. Oleh sebab itu,
menjelang menghadapi kehariban Allah SWT orang yang telah meninggal dunia
mendapatkan perhatian khusus dari muslim lainnya yang masih hidup.
Dalam ketentuan hukum islam, orang muslim terhadap orang muslim lainnya
yang telah meninggal dunia mempunyai kewajiban kolektif (fardu kifayah) untuk
melakukan 4 hal, yaitu : memandikan, mengkafani, menshalati, dan
menguburkannya. Untuk lebih jelasnya 4 hal tersebut akan di uraikan dalam
penjelasan berikut ini :

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian jenazah ?
2. Bagaimana tata cara memandikan jenazah ?
3. Bagaimana tata cara mengkafani jenazah ?
4. Bagaimana tata cara menshalati jenazah ?
5. Bagaimana tata cara menguburkan jenazah ?

C. Tujuan Masalah
Bagian tujuan penelitian atau penulisan disesuaikan dengan bagian
rumusan permasalahan. Rumusan tujuan pun dapat dirinci sebagai rumusan
masalah, yaitu menjadi sub bagian yang spesifik.
Perumusan tujuan ini memiliki fungsi agar pembaca sekaligus penulis sendiri
selalu ingat akan kematian dan mempersiapkan diri untuk menyambut kematian,
serta agar pembahasan ini dapat menambah wawasan, dan pula untuk mengetahui
bagaimana tata cara yang terbaik dalam mengiring jenazah hingga
mengantarkannya ke dalam liang kubur sebagai suatu penghormatan terakhir
bagi jenazah.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Jenazah
Pengertian Jenazah
Kata jenazah diambil dari bahasa Arab (‫ )ذح جن‬yang berarti tubuh mayat dan
kata ‫ ذ جن‬yang berarti menutupi. Jadi, secara umum kata jenazah memiliki arti
tubuh mayat yang tertutup. Dalam firman Allah SWT tentang tata cara
pengurusan jenazah, yaitu :
ُّ‫ت َذآئِقَ ُّةُ نَ ْفسُّ ُكل‬ ْ ُّ‫ون ِإلَ ْينَا ثُم‬
ُِّ ‫ُّۖٱل َم ْو‬ َُّ ُ‫ت ُ ْر َجع‬
“ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada kami
kamu di kembalikan.” (QS. Al’Ankabut : 57).

B. Pengurusan Jenazah
Menurut syari’at islam, mengurus jenazah ada empat langkah. Yaitu :
1. Memandikan Jenazah

Hukum memandikan jenazah termasuk dalam fardhu kifayah menurut


golongan jumhur ulama, fardhu kifayah berarti kewajiban yang bagi setiap
mukallaf. Apabila ada sebagian mukallaf yang mengurus jenazah tersebut, berarti
sudah gugur kewajibannya. Hal ini merujuk kepada hadist yang di riwayatkan
oleh Ibn. Artinya, “ Dari Ibnu Abbas , bahwa Rosulullah bersabda mengenai
seseorang yang jatuh dari kendaraannya, kemudian meninggal. ‘Mandikanlah ia
dengan air dan daun bidara’. “(HR Bukhari 1186 dan Muslim 2092).
Orang yang berhak untuk memandikan jenazah di antaranya memenuhi syarat
sebagai berikut :
1. Orang yang berakal, muslim, baligh dan cukup umur
2. Niat bagi orang yang memandikan jenazah
3. Orang sholih, jujur dan dapat di percaya
Orang yang di utamakan dalam memandikan jenazah
Apabila jenazah laki-laki, maka berhak memandikan jenazah adalah laki-laki
dari keluarganya. Jika dari pihak keluarga tidak ada yang bisa memandikan,
maka boleh di wakili oleh orang laki-laki lain yang bisa memandikannya.
Apabila jenazah perempuan, maka yang paling utama berhak memandikannya
adalah keluarganya. Jika dari pihak keluarga tidak ada yang mampu untuk
memandikannya, maka boleh perempuan lain yang mampu dan biasa
memandikan jenazah.

2
Alat-alat yang di gunakan : air, kapas, shampo, kapur barus, daun bidara, minyak
wangi, pengusir bau busuk, sebuah spon penggosok, penutup aurat jenazah, 2
sarung tangan (untuk yang memandikan), alat penggerus (sebagai penghalus
kapur barus dan spon-spon plastik), masker (untuk yang memandikan), gunting
(sebagai pemotong pakaian jenazah)
Tata Cara Memandikan Jenazah :

Pertama kali yang harus di lakukan yaitu jenazah di baringkan di atas


dipan/batang pohon pisang atau alat lainnya,buka semua pakaiannya dengan
halus (tidak kasar) apabila susah di buka karena telah kaku maka membuka
pakainnya melalui guntingan-guntingan, jaga dan pelihara auratnya (tutupi
sehingga mencucinya di bawah kain penutup), kemudian melunakkan persendian
jasad tersebut terlebih dahulu. Apabila kuku serta bulu ketiak jenazah panjang,
hendaklah memotongnya begitupun bulu kelaminnya, maka jangan
mendekatinya karena merupakan aurat besar. Mulailah dengan
membasahi/mencuci anggota wudlunya dan mandikanlah di mulai dari anggota
wudlu sebelah kanan dan bagian badan sebelah kanannya. Mandikan dengan
lembut dan bersihkan denga seluruh badannya termasuk hidung dan telinga
dengan alat korek kupis kapas, setelah itu kepala jenazah di angkat sampai
setengah duduk dan mengurut perutnya dengan perlahan hingga semua kotoran
dalam perutnya keluar. Petugas yang memandikan jenazah hendaknya memakai
sarung tangan maupun kain untuk membersihkan qubul dan dhuburnya tanpa
harus melihat maupun menyentuh auratnya. Setelah jenazah di mandikan,
kemudian mewudhui jenazah di sarankan untuk menyela jenggot dan mencuci
rambut jenazah menggunakan busa perasan daun bidari atau dengan
menggunakan perasan sabun, kemudian sisa perasan daun bidari tersebut di
gunakan untuk membasuh sekujur tubuh jenazah. Setelah semua proses
pemandian sudah di laksanakan, kemudian petugas menghanduki jenazah dengan
kain atau semisal. Jika jenazah tersebut perempuan, maka rambut kepalanya di
pintal atau di pilah menjadi 3 pilahan kemudian di letakkan di sebelah belakang
punggungnya. Sebelum di kafani berilah wangi-wangian yang tidak mengandung
alkohol.
2. Mengkafani Jenazah
Mengkafani jenazah adalah menutupi atau membungkus jenazah dengan sesuatu
yang dapat menutupi tubuhnya walau hanya sehelai kain. Hukum mengkafani jenazah
muslim dan bukan mati syahid adalah fardhu kifayah. Dalam sebuah hadist di
riwayatkan, “ Kami hijrah
bersama Rasulullah SAW
dengan mengharapkan
keridhaan Allah SWT,
maka tentulah akan kami
terima pahalanya dari Allah
SWT, karena di antara
kami ada yang meninggal
sebelum memperoleh hasil

3
duniawisedikit pun juga. Misalnya, Mash’ab bin Umair dia tewas terbunuh di perang
Uhud dan tidak ada buat kain kafannya kecuali selembar kain burdah. Jika kepalanya
di tutup, akan terbukalah kakinya dan jika kakinya tertutup, maka tersembul
kepalanya dan menaruh rumput izhir pada kedua kakinya. ” (H.R Bukhari)
Tata Cara Mengkafani Jenazah

• Untuk mayat laki-laki :


1. Bentangkan kain kafan sehelai demi sehelai, yang paling bawah lebih lebar
dan luas serta setiap lapisan di beri kapus barus
2. Angkatlah jenazah dalam keadaan tertutup dengan kain dan letakkan di atas
kain kafan memanjang lalu di taburi wangi-wangian
3. Tutuplah lubang-lubang (hidung,telinga,mulut,kubul,dan dubur) yang
mungkin masih mengeluarkan kotoran dengan kapas
4. Selimutkan kain kafan sebelah kanan yang paling atas, kemudian ujung
lembar sebelah kiri. Selanjutnya, lakukan seperti ini selembar demi selembar
dengan cara yang lembut
5. Ikatlah dengan tali yang sudah di siapkan sebelumnya di bawah kain kafan 3
atau 5 ikatan
6. Jika kain kafan tidak cukup untuk menutupi seluruh badan mayat maka
tutuplah bagian kepalanya dan bagian kakinya yang terbuka boleh di tutup
dengan daun kayu,rumput aau kertas. Jika seandainya tidak ada kain kafan
kecuali sekedar menutup auratnya saja, maka tutuplah dengan apa saja yang
ada
• Untuk mayat perempuan
1. Kain kafan untuk mayat perempuan terdiri dari 5 lembar kain putih, yaitu:
- Lembar pertama, untuk menutupi seluruh badan
- Lembar kedua, untuk kerudung kepala
- Lembar ketiga, sebagai baju kurungan
- Lembar keempat, untuk menutup pinggang hingga kaki
- Lembar kelima, untuk menutup pinggul dan paha
2. Susunlah kain kafan yang sudah di potong-potong untuk masing-masing
bagian dengan tertib. Kemudian, angkatlah jenazah dalam keadaan tertutup
dengan kain dan letakkan di atas kain kafan sejajar, serta taburi dengan
wangi-wangian atau dengan kapur barus
3. Tutuplah lubang-lubang yang mungkin masih mengeluarkan kotoran dengan
kapas
4. Tutuplah kain pembungkus pada kedua pahanya
5. Pakaikan sarung
6. Pakaikan baju kurung
7. Dandani rambutnya dengan 3 dandanan, lalu julurkan kebelakang
8. Pakaikan kerudung

4
9. Membungkus dengan lembar kain terakhir dengan cara menemukan kedua
ujung kain kiri dan kanan lalu di gulungkan ke dalam
10. Ikat dengan tali pengikat yang telah di siapkan
3. Menshalatkan Jenazah

Menshalatkan jenazah orang islam hukumnya adalah fardhu kifayah.


Rasulullah SAW, bersabda : “ Shalatlah olehmu orang-orang yang meninggal ”.
(H.R Ibnu Majah) serta “ Barang siapa menshalati jenazah, maka ia mendapatkan
satu qirath. Jika ia menghadiri penguburannya, maka ia mendapatkan dua qirath.
Satu qirath sama dengan gunung Uhud “ (H.R Tsaubah)

Tata cara menshalati jenazah :


1. Niat shalat jenazah laki-laki :
‫تعلى هلل موما ما \ما اما ية كفا فرض تكبيرات اربع ميتة\ الميت هذه \هذا على صلى ا‬
“ Saya niat shalat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah karena
menjadi makmum karena Allah
Ta’aala “
Niat shalat jenazah perempuan :
“Saya niat shalat atas mayit
perempuan ini empat kali takbir
fardhu kifayah karena menjadi
makmum karena Allah Ta’aala “
2. Berdiri bagi yang kuasa tanpa
rukuk dan sujud
3. Takbir 4 kali
Takbir pertama di mulai dengan mengangkat tangan,membaca ta’awudz,
kemudian membaca Al-Fatihah
Takbir kedua dan membaca shalawat Nabi
“ Ya Allah berikanlah kesejahteraan kepada Muhammad dan keluarganya,
sebagaimana Engkau telah memberikan kesejahteraan kepada Ibrahim dan
keluarganya. Berkatilah Muhammad dan keluarganya, sebagimana Engkau
telah memberkati Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha
Terpuji lagi Bijaksana “
Takbir ketiga dan membaca do’a untuk si mayat
“ Ya Allah, ampunilah dia, kasihanilah dia, maafkanlah dia dan
sentosakanlah dia, muliakan tempatnya, lapangkanlah kuburnya, sucikanlah
dia dengan air embun dan es, sucikanlah dia dari kesalahannya, sebagaimana
sucinya kain putih dari kotoran. Gantikanlah rumahnya dengan rumah yang
lebih baik daripada rumahnya, dan gantikan keluarganya dengan keluarga
yang lebih baik, masukkan dia ke dalam syurga. Dan jauhkan ia dari siksa
kubur dan siksa neraka “
Takbir keempat lalu diam sejenak dan membaca do’a
“ Ya Allah janganlah Engkau tahan untuk kami pahalanya dan janganlah
Engkau tinggalkan fitnah untuk kami setelah kepergiannya “

5
Setelah takbir keempat juga membaca do’a lalu mengucapkan sekali salam ke
kanan. Pada setiap takbir mengangkat kedua tangan
4. Penguburan Jenazah
Setelah di shalatkan, jenazah segera di kuburkan. Jenazah sebaiknya di
pikul oleh 4 orang jamaah. Bagi para pengiring, boleh berjalan di depan
jenazah, di belakangnya, di samping kanan atau kirinya. Para pengiring tidak
di benarkan untuk duduk sebelum jenazah di letakan, sebab Rasulullsh SAW
telah melarangnya.
Sebelum proses penguburan sebaiknya lubang kubur di persiapkan
terlebih dahulu, dengan kedalaman minimial 2 meter agar bau tubuh yang
membusuk tidak tercium ke atas untuk menjaga kehormatannya sebagai
manusia serta jenazah terjaga dari jangkauan binatang buas. Lubang kubur
yang di lengkapi liang lahad lebih baik daripada syaq, Rasulullah SAW
bersabda : “ Liang lahad itu adalah bagi kita (kaum muslimin),sedangkan syaq
bagi selain kita (non muslim). “ (H.R Abu Dawud dan di nyatakan shahih oleh
Syaikh Al-Albani dalam “Ahkamul Janaaiz” hal145). Lahad adalah liang
(membentuk huruf U memanjang) yang di buat khusus di dasar kubur pada
bagian arah kiblat untuk meletakkan jenazah di dalamnya. Syaq adalah liang
yang di buat khusus di dasar kubur pada bagian tengahnya (membentuk huruf
U memanjang).
Tata cara penguburan jenazah :
1. Setelah liang kubur sudah di gali, kemudian jenazah siap untuk di
kuburkan
2. Jenazah di angkat di atas tangan untuk di letakkan di dalam kubur
3. Jenazah di masukkan ke dalam kubur. Di sunahkan memasukkan jenazah
ke liang lahat dari arah kaki kuburan lalu di turunkan ke dalam liang
kubur secara perlahan. Jika tidak memungkinkan, boleh menurunkannya
dari arah kiblat
4. Petugas yang memasukkan jenazah ke lubang kubur hendaknya
mengucapkan : “ BISMILLAHI WA’ALA MILLATI RASULILLAHI
(Dengan menyebut Asma Allah dan berjalan di atas millah Rasulullah
SAW). “ ketika menurunkan jenazah ke lubang kubur. Demikianlah yang
di lakukan Rasulullah SAW. Di sunahkan membaringkan jenazah dengan
bertumpu pada sisi kanan jasadnya (dalam posisi miring) dan menghadap
kiblat sambil di lepas tali-talinya selain tali kepala dan kedua kaki.
5. Tidak perlu meletakkan bantalan dari tanah ataupun batu di bawah
kepalanya, sebab tidak ada dalil shahih yang menyebutkannya. Dan tidak
perlu menyingkap wajahnya, kecuali bila jenazah tersebut meninggal
dunia saat mengenakan kain ihram sebagimana yang telah di jelaskan
6. Setelah jenazah di letakkan di dalam rongga liang lahad dan tali-tali
selain kepala dan kaki di lepas, maka rongga liang lahad tersebut di tutup
dengan batu bata atau papan kayu/bambu dari atasnya (agak samping)
7. Lalu sela-sela batu bata itu di tutup dengan tanah liat agar menghalangi
sesuatu yang masuk sekaligus untuk menguatkannya

6
8. Di sunahkan bagi para pengiring untuk menabur 3 genggaman tanah ke
dalam liang kubur setelah jenazah di letakkan di dalamnya. Demikianlah
yang di lakukan Rasulullah SAW. Setelah itu di tumpahkan (diuruk)
tanah ke atas jenazah tersebut
9. Hendaknya meninggikan makam kira-kira sejengkal sebagai tanda agar
tidak di langgar kehormatannya, di buat gundukan seperti punuk unta,
demikianlah bentuk makam Rasulullah SAW (H.R Bukhari)
10. Kemudian di taburi dengan batu kerikil sebagai tanda sebuah makam dan
di perciki air, berdasarkan tuntunan sunnah Nabi SAW. Lalu di letakkan
batu pada makam bagian kepalanya agar mudah di kenali
11. Haram hukumnya menyemen dan membangun kuburan. Demikian pula
menulis batu nisan. Dan di haramkan juga duduk di atas kuburan,
menginjaknya serta bersandar padanya. Karena Rasulullah SAW telah
melarang dari hal tersebut. (H.R Muslim)
12. Kemudian pengiring jenazah mendoakan keteguhan bagi jenazah
tersebut (dalam menjawab pertanyaan 2 malaikat yang di sebut dengan
fitnah kubur). Karena ketika itu ruhnya di kembalikan dan ia di tanya di
dalam kuburnya. Maka di sunahkan agar setelah selesai menguburkannya
orang-orang itu berhenti sebentar untuk mendoakan kebaikan bagi
jenazah tersebut (dan doa ini tidak di lakukan secara berjamaah, tetapi
sendiri-sendiri). Sesungguhnya jenazah tersebut bisa mendapatkan
manfaat dari doa mereka
Wallahu a’lam bish-shawab.

7
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hidup dan mati adalah hak Allah SWT. Apabila Allah SWT telah
menghendaki kematian seseorang, tidak seorang pun dapat menghindar dan lari
dari takdir-Nya. Manusia adalah ciptaan Allah SWT yang sempurna diantara
ciptaan Allah SWT yang bagus, maka dari itu kita sebagai manusia sebagai umat
beragama wajib patuh pada perintah Allah SWT dan menjauhkan diri dari
larangan-Nya. Karena Allah SWT akan memuliakan manusia yang beramal
shaleh dan memberi balasan atas apa yang di lakukan di dunia. Orang yang
beramal shaleh akan mendapatkan balasan dengan kebaikan dan barakah-Nya,
sedangkan orang yang tidak beramal shaleh akan mendapatkan azab-Nya.
Maka dari itu orang yang meninggal dunia wajib di hormati karena ia adalah
makhluk Allah SWT yang mulia. Oleh sebab itu,sebelum jenazah meninggalkan
dunia menuju alam baru (alam kubur) hendaknya di hormati dengan cara : di
mandikan, di kafani, di sholatkan, dan di kubur seperti yang di jelaskan di atas
serta dilakukan dengan kelembutan dan kasih sayang karena roh jenazah masih
menyaksikan keluarga yang di tinggalkan.

B. Saran
Dari kesimpulan yang dijabarkan diatas, maka dapat diberi saran antara lain :
1. Kita semua sebagai makhluk Allah SWT harus siap siaga menghadapi
sakaratul maut yang pasti dialami oleh seluruh manusia.
2. Apabila ada sanak saudara atau tetangga yang meninggal dunia, kita wajib untuk
mengurusnya sekaligus menghormatinya karena untuk menuju alam yang baru,
jenazah hendaknya dalam keadaan bersih.

8
DAFTAR PUSTAKA
- Tuntunan Lengkap Mengurus Jenazah, M. Nashiruddin Al-Albani. 1999. Jakarta :
Gema Insani
- Tuntunan Perawatan Jenazah, Ust. Abdurahim. Jakarta : Sandro Jaya Jakarta
- Motivasi Peziarah, Christriyati. Yogyakarta : Putra Widya
- Tuntunan Shalat Wajib dan Sunah Lengkap, Rofidah Rinawati, S.Ag. Cv. Mitra
Mandiri Indonesia
- Petunjuk merawat jenazah dan Shalat jenazah, Abdul Karim. 2004. Jakarta :
Amzah
- Shalat dan Merawat Jenazah, Abd. Ghoni Asyukur. 1989. Bandung : Sayyidah

Anda mungkin juga menyukai