Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

“Aliran Syi’ah”

Oleh :
KELOMPOK I
1. Wanda Wulandari
2. Monro
3. Rika Anggreni
4. Murni
5. Elisa
6. Jumlianti

Madrasah Aliyah Negeri 3 BONE


2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah Tentang “Aliran Syi’ah”.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
maupun inpirasi terhadap pembaca.

Lappariaja, 07 Februari 2017

Penulis

KELOMPOK 1

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ............................................................................... i

KATA PENGANTAR ................................................................................ ii

DAFTAR ISI ............................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................... 1

A. Latar Belakang ................................................................... 1


B. Rumusan Masalah .............................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN ...................................................................... 2

A. Pengertian Syi’ah ............................................................... 2


B. Sejarah Aliran Syi’ah ......................................................... 4
C. Tokoh-tokoh Aliran Syi’ah ................................................ 7
D. Ajaran-ajaran Aliran Syi’ah ............................................... 9
E. Sekte-sekte Dalam Aliran Syi’ah ....................................... 10

BAB III PENUTUP ................................................................................ 12

A. Kesimpulan......................................................................... 12
B. Saran ................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 13

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Sejarah Islam mencatat bahwa hingga saat ini terdapat dua macam aliran
besar dalam Islam.. Keduanya adalah Ahlussunnah (Sunni) dan Syi’ah. Tak dapat
dipungkiri pula, bahwa dua aliran besar teologi ini kerap kali terlibat konflik
kekerasan satu sama lain, sebagaimana yang kini bisa kita saksikan di negara-
negara seperti Irak dan Lebanon.
Syiah, syiah ini berbeda pendapatnya dengan aliran lain di antaranya
dalam pendirian, bahwa penunjukan imam sesudah wafat Nabi di tentukan oleh
Nabi sendiri dengan nash. Nabi tidak boleh melupakan nash itu terhadap
pengangkatan khalifahnya, sehingga menyerahkan pekerjaan pengangkatan itu
secara bebas kepada umatnya dan halayak ramai. Selanjutnya syi'ah berpendirian
bahwa seseorang imam yang di angkat itu harus ma'sum atau terpelihara dari pada
dosa besar atau dosa kecil, dan bahwa Nabi Muhammad dengan nash
meninggalkan wasiatnya untuk mengangkat Ali bin Abi thalib menjadi
khalifahnya, bukan orang lain, dan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah seorang
sahabatnya yang pertama dan utama.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian aliran Syi’ah?


2. Siapa saja tokoh-tokoh dalam aliran Syi’ah?
3. Bagaimana sejarah kemunculan aliran Syi’ah?
4. Apa pokok ajaran Syi’ah?
5. Apa saja sekte-sekte dalam aliran Syi’ah?

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Syiah

Syiah secara etimologi (kebahasaan) berarti pengikut, pendukung,


pembela, pencinta, yang kesemuanya mengarah kepada makna dukungan kepada
ide atau individu dan kelompok tertentu.1 Sedangkan menurut Ahmad Al-Waili
dan Abd al-Qadir Syaib al-Hamdi Guru Besar pada Universitas Islam Madinah,
sebagaimana dikutip oleh Fadil, Syiah menurut bahasa adalah pengikut atau
pembantu.2

Muhammad Husayn Thabathaba’i dalam bukunya “Islam Syiah”,


menyebutkan bahwa Syiah adalah kaum muslimin yang menganggap pengganti
Nabi saw. merupakan hak istimewa keluarga Nabi, dan mereka yang dalam
bidang pengetahuan dan kebudayaan Islam mengikuti mazhab Ahl al-Bayt.3

Muhammad Jawad Maghniyah, seorang ulama beraliran Syiah,


sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab, memberikan definisi tentang kelompok
Syiah, bahwa mereka adalah “kelompok yang meyakini bahwa Nabi Muhammad
saw. telah menetapkan dengan nash (pernyataan yang pasti) tentang khalifah
(pengganti) Beliau dengan menunjuk Imam Ali. Definisi ini sejalan dengan
definisi yang dikemukakan oleh Ali Muhammad al-Jurjani (1339-1413), seorang
Sunni penganut aliran Asy’ariyah, yang menulis dalam bukunya at-Ta’rifat
(defenisi-defenisi) bahwa: Syiah adalah mereka yang mengikuti Sayyidina Ali ra.

1
M.Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan Mungkinkah? Kajian Konsep
Ajaran dan Pemikiran (Jakarta: Lentera Hati, 2007), hlm. 60.
2
Fadil SJ, Syiah Dalam Perspektif Sejarah: Dari Hadits al-Indzar Sampai Imamah,
Jurnal STAIN Malang, No. 5 Tahun 1998, hlm. 80.
3
Allamah Sayyid Muhammad Husayn Thabathaba’i, Islam Syiah: Asal-Usul dan
Perkembangannya, diterjemahkan dari, Shi’ite Islam, penerjemah, Djohan Effendi (Jakarta:
Pustaka Utama Grafiti, 1989), hlm. 32.

2
dan percaya bahwa beliau adalah imam sesudah Rasul saw. Dan percaya bahwa
imamah tidak keluar dari beliau dan keturunannya.4

Sedangkan dalam pandangan Abu Zahrah, 5 bahwa Syiah adalah mazhab


politik yang pertama lahir dalam Islam. Mazhab mereka tampil pada akhir masa
pemerintahan Utsman, kemudian tumbuh dan berkembang pada masa Ali. Mereka
mengagumi bakat-bakat, kekuatan beragama, dan ilmunya. Sehingga mereka
mengeksploitasi kekaguman mereka terhadap Ali untuk menyebarkan pemikiran-
pemikiran mereka tentang dirinya. Ketika keturunan Ali, yang sekaligus
keturunan Rasulullah mendapat perlakuan zalim yang semakin hebat dan banyak
mengalami penyiksaan pada masa Bani Umayyah, rasa cinta mereka terhadap
keturunan Ali semakin mendalam. Mereka memandang Ahl al-Bayt sebagai
syuhada dan korban kezaliman. Dengan demikian semakin meluaslah daerah
mazhab Syiah dan pendukungnya semakin banyak.

Dari berbagai pernyataan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Syiah


adalah golongan yang lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib dari sahabat
lainnya, yang percaya bahwa Ahl al-Bayt lebih berhak untuk memegang tampuk
kekhalifahan sesudah wafatnya Nabi Muhammad saw atas dasar wasiat dari Rasul
dan kehendak dari Allah.

Kemudian perlu diketahui bahwa di zaman Rasulullah syiah-syiah atau


kelompok yang ada sebelum Islam, semuanya dihilangkan oleh Rasulullah,
sehingga saat itu tidak ada lagi kelompok-kelompok atau syiah. Hal mana karena
Rasulullah diutus untuk mempersatukan umat dan tidak diutus untuk membuat
kelompok-kelompok. Allah berfirman : Ali Imran 103
  
   
  
   
  
 

4
M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah, hlm. 61.
5
Imam Muhammad Abu Zahrah, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, penerj.
Abd.Rahman Dahlan dan Ahmad Qarib, (Jakarta: Lpgos, 1996), hlm. 34.

3
   
   
   
   
 
Terjemahan: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah,
dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat
Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah)
bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu
menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang
bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu
Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat
petunjuk.”
B. Sejarah Aliran Syi’ah

Sebagaimana dipahami dari pengertian Syiah di atas, bahwa kelompok


Syiah adalah para pendukung Ali bin Abi Thalib dan mereka percaya bahwa
kepemimpinan setelah Nabi wafat adalah hak Ali bin Abi Thalib dan
keturunannya. Dari sinilah bermulanya persoalan yang pada akhirnya
menimbulkan suatu polemik yang panjang diantara umat.
Ketika Nabi wafat, persoalan penggantian dipahami sebagai penggabungan
kepemimpinan politik dan religius, suatu prinsip yang dikenal baik oleh orang
Arab, meskipun tentu saja, dengan tingkat penekanan yang berbeda pada salah
satu dari dua aspek ini. Bagi sebagian orang politik lebih diperhatikan dari pada
religius, sedang bagi yang lain religius lebih diperhatikan ketimbang politik.6
Pendapat yang paling populer adalah bahwa Syi’ah lahir setelah gagalnya
perundingan antara pihak pasukan Khalifah ‘Ali dengan pihak pemberontak
Mu’awiyah bin Abu Sufyan di Shiffin, yang lazim disebut sebagai peristiwa
tahkîm atau arbitrasi. Akibat kegagalan itu, sejumlah pasukan ‘Ali
memberontak terhadap kepemimpinannya dan keluar dari pasukan ‘Ali. Mereka

6
Sayyid H. Muhammad. Jafri, Origin And Early Development of Shi’a Islam (New York:
Longman,1979). Terjemahan Indonesia oleh Meth Kieraha, Awal dan Sejarah Perkembangan
Islam Syiah dari Saqifah Sampai Imamah, (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1989), hlm. 42.

4
ini disebut golongan Khawarij. Sebagian besar orang yang tetap setia terhadap
khalifah disebut Syî’atu ‘Alî (pengikut ‘Ali).
Sebagaimana dijelaskan oleh Thabathaba’i dalam bukunya “Islam Syiah”,
setelah Nabi wafat, para pengikut dan sahabat Ali percaya bahwa kekhalifahan
dan kekuasaan agama berada di tangan Ali. Kepercayaan ini berpangkal pada
pandangan tentang kedudukan dan tempat Ali dalam hubungannya dengan Nabi,
para sahabat dan kaum muslimin umumnya. Namun sebelum jasad Nabi
dimakamkan, para sahabat yang lain telah berkumpul di suatu tempat dan
bertindak lebih jauh dan tergesa-gesa menetapkan seorang khalifah pengganti
Nabi tanpa berunding dengan Ahl al-Bayt, keluarga-keluarganya ataupun
beberapa sahabatnya, yang sedang sibuk mengurusi jenazah Nabi.
Setelah selesai pemakaman Nabi, Ali dan para sahabatnya – seperti
“Abbas, Zubair, Salman, Abu Dzar, Miqdad, dan Ammar – mengetahui tentang
pelaksanaan pemilihan khalifah. Mereka mengajukan protes terhadap cara
musyawarah dan pemilihan dalam pengangkatan khalifah tersebut, dan juga
terhadap mereka yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pemilihan itu. Akibat
protes yang mereka lakukan ini menjadikan mereka dikenal sebagai kaum partisan
atau syiah Ali.7
Mereka berpendapat bahwa penunjukan Ali sebagai pengganti Nabi telah
terjadi ketika Nabi Muhammad saw. dalam perjalanan pulang dari ibadah haji
pada waktu haji wada’ pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 11 H bertepatan dengan
tahun 632 M. Di suatu tempat yang bernama Ghadir Khum yang terletak antara
Mekkah dan Madinah, dikisahkan bahwa Nabi telah membuat sebuah proklamasi
yang amat menentukan, yang telah diriwayatkan orang dengan berbagai macam
versi. Yang paling populer diantara berbagai riwayat itu adalah perkataan Nabi
yang berbunyi: “Barang siapa yang menganggap saya sebagai pemimpinnya,
maka harus pula menganggap Ali adalah pemimpinnya.8

7
Allamah Sayyid Muhammad Husayn Thabathaba’i, Islam Syiah, hlm. 39-40.
8
A. Rahman Zainuddin dan M. Hamdan Basyar (Ed.), Syiah dan Politik di Indonesia:
Sebuah Penelitian (Bandung: Mizan, 2000), hlm. 40.

5
Hasyimi dalam bukunya “Syiah dan Ahlusunnah” 9 menjelaskan bahwa
bibit partai Syiah yaitu pendapat yang menyatakan bahwa Ali lah yang berhak
menjadi Khalifah dan untuk selanjutnya adalah para pendukung Ali. Partai Syiah
ini pada mulanya adalah partai politik yang bertujuan merebut kekuasaan. Paham
politik mereka yaitu bahwa khalifah haruslah turun-menurun dari turunan Ali bin
Abi Thalib.
Asas ajaran mereka, bahwa khalifah yang dalam istilah Syiah disebut
“imam”, adalah Saiyidina Ali , setelah wafat Muhammad, kemudian berturut-turut
imam itu telah ditetapkan oleh Allah dari keturunan Ali. Menurut mereka, bahwa
mengakui imam dan mentaatinya adalah sebagian dari iman.
Muhammad Abu Zahrah mengatakan, Syiah adalah mazhab politik yang
pertama lahir dalam Islam. Mazhab ini tampil pada akhir masa pemerintahan
Utsman, kemudian tumbuh dan berkembang pada masa Ali. Setiap kali Ali
berhubungann dengan masyarakat, mereka semakin mengagumi bakat-bakat,
kekuatan beragama, dan ilmunya. Karena itu para propagandis Syiah
mengekploitasi kekaguman mereka terhadap Ali untuk menyebarkan pemikiran-
pemikiran mereka tentang dirinya. Di antara pemikiran itu ada yang menyimpang
dan ada pula yang lurus.
Ketika keturunan Ali, yang sekaligus keturunan Rasulullah mendapat
perlakuan zalim yang semakin hebat dan banyak mengalami penyiksaan pada
masa Bani Umayyah, rasa cinta mereka terhadap keturunan Ali semakin
mendalam. Mereka memandang Ahl al-Bayt ini sebagai syuhada dan korban
kezaliman. Dengan demikian, semakin meluaslah daerah mazhab Syiah dan
pendukungnya semakin banyak.10
Partai Syiah ini kemudian pecah menjadi berpuluh-puluh sekte, yang satu
sama lain sangat berbeda. Ada sekte yang sangat ekstrim, yang mengatakan
bahwa Ali adalah Tuhan dan ada sekte yang tidak perlu ibadat, hanya ibadat batin
saja. Diantara sekte-sekte yang banyak itu yang paling masyhur adalah sekte

9
A. Hasyimi, Syiah dan Ahlusunnah: Saling Rebut Pengaruh dan Kekuasaan Sejak Awal
Sejarah Islam di Kepulauan Nusantara ( Surabaya: Bina Ilmu, 1983), hlm. 39-40.
10
Imam Muhammad Abu Zahrah, Aliran politik dan Aqidah dalam Islam (Jakarta: Logos,
1996), hlm. 34.

6
Zaidiyah, Kisaniyah, Imamiyah yang juga mempunyai cabang seperti Ithna
Ashariyah, Ismailiyah, dan sebagainya.
Partai Syiah yang mulanya hanya bergerak dalam bidang politik, kemudian
lama kelamaan mereka juga mempunyai mazhab dalam fiqih, pendapat dalam
filsafat, ajaran dalam tasawuf, dan keyakinan dalam aqidah.
Namun dari sekte-sekte partai Syiah yang ekstrimlah yang kemudian
banyak sekali menjelma paham-paham sesat menyesatkan, terutama dalam bidang
aqidah, filsafat dan tasawuf. Pengaruhnya meliputi seluruh dunia Islam, sampai ke
Indonesia, dan juga dalam kalangan mereka banyak lahir ahli-ahli pikir, ulama-
ulama, fuqaha-fuqaha, filosuf-filosuf, ahli-ahli tasawuf dan penyair.11

C. Tokoh-Tokoh Aliran Syi’ah

Dalam pertimbangan Syi’ah, selain terdapat tokoh-tokoh populer seperti


‘Ali bin Abi Thalib, Hasan bin ‘Ali, Husain bin ‘Ali, terdapat pula dua tokoh
Ahlulbait yang mempunyai pengaruh dan andil yang besar dalam pengembangan
paham Syi’ah, yaitu Zaid bin ‘Ali bin Husain Zainal ‘Abidin dan Ja’far al-Shadiq.
Kedua tokoh ini dikenal sebagai orang-orang besar pada zamannya.
Pemikiran Ja’far al-Shadiq bahkan dianggap sebagai cikal bakal ilmu fiqh dan
ushul fiqh, karena keempat tokoh utama fiqh Islam, yaitu Imam Abu Hanifah,
Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal, secara langsung atau
tidak langsung pernah menimba ilmu darinya. Oleh karena itu, tidak heran bila
kemudian Syaikh Mahmud Syaltut, mantan Rektor Universitas al-Azhar, Mesir,
mengeluarkan fatwa yang kontroversial di kalangan pengikut Sunnah
(Ahlussunnah—pen.). Mahmud Syaltut memfatwakan bolehnya setiap orang
menganut fiqh Zaidi atau fiqh Ja’fari Itsna ‘Asyariyah.12
Adapun Zaid bin ‘Ali bin Husain Zainal ‘Abidin terkenal ahli di bidang
tafsir dan fiqh. Pada usia yang relatif muda, Zaid bin ‘Ali telah dikenal sebagai
salah seorang tokoh Ahlulbait yang menonjol. Salah satu karya yang ia hasilkan

11
A. Hasyimy, Syiah dan Ahlusunnah, hlm. 40
12
Ibid …, hlm. 13-15.

7
adalah kitab al-Majmû’ (Himpunan/Kumpulan) dalam bidang fiqh. Juga karya
lainnya mengenai tafsir, fiqh, imamah, dan haji.13
Selain dua tokoh di atas, terdapat pula beberapa tokoh Syi’ah, di
antaranya:
1. Nashr bin Muhazim
2. Ahmad bin Muhammad bin ‘Isa al-Asy’ari
3. Ahmad bin Abi ‘Abdillah al-Barqi
4. Ibrahim bin Hilal al-Tsaqafi
5. Muhammad bin Hasan bin Furukh al-Shaffar
6. Muhammad bin Mas’ud al-‘Ayasyi al-Samarqandi
7. Ali bin Babawaeh al-Qomi
8. Syaikhul Masyayikh, Muhammad al-Kulaini
9. Ibn ‘Aqil al-‘Ummani
10. Muhammad bin Hamam al-Iskafi
11. Muhammad bin ‘Umar al-Kasyi
12. Ibn Qawlawaeh al-Qomi
13. Ayatullah Ruhullah Khomeini
14. Al-‘Allamah Sayyid Muhammad Husain al-Thabathaba’i
15. Sayyid Husseyn Fadhlullah
16. Murtadha Muthahhari
17. ‘Ali Syari’ati
18. Jalaluddin Rakhmat14
19. Hasan Abu Ammar15

13
Ibid …, hlm. 15.
14
Beliau adalah salah seorang tokoh Ahlulbait/Syi’ah Indonesia. Karya tulisnya dalam
bidang keislaman antara lain Islam Alternatif (1988), Membuka Tirai Kegaiban: Renungan-
renungan Sufistik (1995), Rintihan Suci Ahli Bait Nabi (1997), Catatan Kang Jalal (1998), Islam
Aktual (1998), dan Islam dan Pluralisme (2006). Pakar komunikasi yang juga pengasuh SMA Plus
Muthahhari, Bandung, ini adalah Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (Ijabi).
Periode 2004-2008. Ijabi sendiri adalah organisasi kemasyarakatan yang berbasiskan pada kaum
Ahlulbait/Syi’ah Indonesia.
15
Beliau adalah Doktor lulusan CIIS, Qum, Iran, yang lahir di Bondowoso, Jawa Timur.
Pada 2 Oktober lalu beliau berkesempatan menyampaikan materi pada acara Seminar Lintas
Mazhab “Rasionalisme Islam Perspektif Syi’ah dan Sunni” di Ruang Teater Lt. 4 Fakultas
Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliau hadir sebagai representasi Syi’ah.

8
D. Ajaran-ajaran Aliran Syi’ah

Kaum Syi’ah memiliki lima prinsip utama yang wajib dipercayai oleh
penganutnya. Kelima prinsip itu adalah al-tauhid, al-adl, al-nubuwwah, al-
imamah, dan al-ma’ad.
1. Al-Tauhid
Kaum syi’ah mengimani bahwa Allah itu ada, Maha Esa, tunggal, tempat
bergantung segala makhluk, tidak beranak, dan tidak diperanakkan, dan tidak
seorang pun serupa dengan-Nya. 16 Keyakinan seperti ini tidak berbeda dengan
akidah kaum muslimin pada umumnya
2. Al-‘Adl
Kaum syi’ah mempunyai keyakinan bahwa Allah Maha Adil. Allah tidak
menyukai perbuatan zalim dan perbuatan buruk seperti berdusta dan memberikan
beban yang tak dapat dipikul oleh manusia. Allah juga bersih dari aib, cacat, dan
celah.
3. Al-Nubuwwah
Kepercayaan syiah terhadap keberadaan Nabi-Nabi juga tidak berbeda dengan
kaum muslimin lain. Menurut mereka, Allah mengutus sejumlah Nabi dan Rasul
ke muka bumi untuk membimbing umat manusia. Rasul-Rasul itu memberikan
kabar gembira bagi orang yang mentauhidkan Allah dan melakukan amal sholeh
dan kabar siksa/ancaman bagi orang yang mengingkari Allah dan durhaka.

Hadir pula pembicara Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara (Guru Besar Filsafat UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta) sebagai perwakilan Sunni.
16
Al-Sayyid Amir Muhammad al-Kazhimi al-Quzwini, Al-Syi’ah fi Aqa’idihim wa
Ahkamihim, Dar al-Zahra, Beirut, 1977, hlm. 26

9
4. Al-Imamah
Imamah merupakan masalah yang penting bagi kaum syi’ah. Bagi mereka,
imamah berarti kepemimpinan dalam urusan agama dan dunia sekaligus. Ia
pengganti Rasul dalam memelihara syari’at, melaksanakan hudud (hak/hukuman
terhadap pelanggar hukum Allah), dan mewujudkan kebaikan dan ketentraman
umat.17
5. Al-Ma’ad
Secara harfiah Al-Ma’ad berarti tempat kembali. Yang dimaksud di sini
adalah hari akhirat. Kaum syi’ah percaya sepenuhnya akan adanya hari akhirat,
bahwa hari akhirat itu pasti akan terjadi.

E. Sekte-sekte dalam Aliran Syi’ah

Dari 22 sekte yang ada dalam tubuh Syi’ah, yang nampaknya masih ada
sampai sekarang ini hanya tiga: Imamiah, Ismailiah, dan Zaidiah.
1. Imamiah
Syi’ah ini dinamakan imamah karena kepercayaan mereka yang kuat tentang
imam bahwa yang berhak memimpin umat Islam hanyalah imam. Yang berhak
menggantikan Nabi sebagai pemimpin hanyalah Ali bin Abi Thalib. Hak Ali atas
kepemimpinannya itu bukan dilihat dari sudut kecakapan, sifat, atau lainnya, tapi
yang terpenting adalah bahwa hal itu sudah diwasiatkan oleh Nabi.18
2. Ismailiah
Syi’ah Islamailiah adalah sekte Syi’ah yang berpendapat bahwa imam itu
hanya tujuh. Penganut aliran Ismailiah sampai sekarang masih ada, terutama di
India. Pemimpinnya adalah Prince Karim Khan, cucu Agha Khan, yang kini
menetap di Jenewa.19

Sayyid Mahbuddin al-Khatib, Mengenal Pokok-Pokok Ajaran Syi’ah al-Imamah dan


17

Perbedaannya Dengan Ahlussunnah, Ahli bahasa Munawwar Putera, PT Bina Ilmu, Surabaya,
1984, hlm. 25.
18
Drs. H.M. Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid, PT. Raja Grafindo Persada, 1994, hlm 138
19
Ibid…s, hlm 140

10
3. Zaidiah
Sekte Syi’ah pengikut Zaid bin Ali Husain bin Ali bin Abi Thalib ini
berkembang di daerah Yaman. Syi’ah ini lebih moderat disbanding syi’ah lainnya.
Kalau sekte syi’ah yang lain, khususnya Imamiah dan Ismailiah secara tegas
menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW. Menunjuk Ali dan memberi wasiat
kepadanya untuk menggantikan beliau menjadi pemimpin umat Islam setelah
beliau wafat, Zaidiah tidak berpendapat demikian.
Menurut kelompok Zaidiah, Nabi tidak menunjuk Ali secara tegas dengan
menyebutkan namanya, tapi hanya memberikan deskripsi atau isyarat yang
bersifat umum. Karena itu, kelompok ini tidak menganggap Abu Bakar, Umar dan
Usman sebagai orang yang zalm yang merampas atau merebut hak kekhalifahan
Ali. Meskipun demikian, mereka tetap beranggapan bahwa Ali bin Abi Thalib
lebih utama.20

20
Ibid…, hlm 142

11
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa


 Syi’ah adalah salah satu aliran dalam Islam yang meyakini bahwa ‘Ali bin Abi
Thalib dan keturunannya adalah imam-imam atau para pemimpin agama dan
umat setelah Nabi Muhammad saw.
 Sebagaimana dipahami dari pengertian Syiah di atas, bahwa kelompok Syiah
adalah para pendukung Ali /bin Abi Thalib dan mereka percaya bahwa
kepemimpinan setelah Nabi wafat adalah hak Ali bin Abi Thalib dan
keturunannya. Dari sinilah bermulanya persoalan yang pada akhirnya
menimbulkan suatu polemik yang panjang diantara umat.
 Tokoh-tokoh populer seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan bin ‘Ali, Husain bin
‘Ali, terdapat pula dua tokoh Ahlulbait yang mempunyai pengaruh dan andil
yang besar dalam pengembangan paham Syi’ah, yaitu Zaid bin ‘Ali bin
Husain Zainal ‘Abidin dan Ja’far al-Shadiq.
 Dari 22 sekte yang ada dalam tubuh Syi’ah, yang nampaknya masih ada
sampai sekarang ini hanya tiga: Imamiah, Ismailiah, dan Zaidiah.
 Zaid bin ‘Ali bin Husain Zainal ‘Abidin terkenal ahli di bidang tafsir dan fiqh.
Pada usia yang relatif muda, Zaid bin ‘Ali telah dikenal sebagai salah seorang
tokoh Ahlulbait yang menonjol. Salah satu karya yang ia hasilkan adalah kitab
al-Majmû’ (Himpunan/Kumpulan) dalam bidang fiqh. Juga karya lainnya
mengenai tafsir, fiqh, imamah, dan haji
B. Saran

Agar umat islam lebih waspada terhadap paham syi’ah yang sesat
disebabkan karena syi’ah itu adalah buatan yahudi yang ingin melihat Islam itu
hancur dengan menggunakan berbagai cara agar umat Islam ikut dengan cara dan
gaya hidup yahudi

12
DAFTAR PUSTAKA

Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi.
Dinukil dari kitab Firaq Mu'ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin 'Ali Al-
Awaji Al-khotib, Sayyid Muhibudin, Mengenal Pokok-pokok Ajaran Syi'ah
Al-Imamiyah, Surabaya:PT.bina ilmu, 1984

Asy-Syahrastani, Muhammad bin Abd Al-Karim, Al-Milal wa An-Nihal, Beirut-


Libanon: Dar al-Kurub al-'Ilmiyah, 1951

Abu Zahrah, Muhammad, Aliran Politik Dan Aqidah Dalam Islam, Jakarta :
Logos Publishing House, 1996

A. Nasir, Sahilun, Pemikiran Kalam (Teologi Islam) Sejarah, Ajaran, dan


Perkembangannya, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2010

Nasution, Harun, Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan,


Jakarta: UI-Press, 1986

Razak, Abdur dan Anwar, Rosihan, Ilmu Kalam, Bandung: Puskata Setia, 2006

https://www.scribd.com/doc/110284163/Makalah-Aliran-Syi-Ah, diakses pada


tanggal 1 Februari 2017

13