Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA


PEMBANGUNAN NASIONAL

Oleh :

NAMA : JUANZAH

NIM : 202010078

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIEM) BONGAYA

TAHUN AKADEMIK 2020


DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..................................................................1
1.2 Rumusan Masalah............................................................2
1.3 Tujuan Penulisan..............................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan.................3
2.2 Makna, Hakikat dan Tujuan Pembangunan Nasional......5
2.3 Visi dan misi pembangunan nasional...............................7

BAB III PEMBAHASAN


3.1 Pancasila sebagai paradigma pembangunan bidang
politik dan hukum..............................................................8
3.2 Pancasila sebagai paradigma pembangunan ekonomi. . .9
3.3 Pancasila sebagai paradigma pembangunan HANKAM..11
3.4 Pancasila sebagai paradigma pembangunan sosial
budaya..............................................................................11
3.5 Pancasila sebagai paradigma pembangunan IPTEKS....13
BAB III PENUTUP
4.1 Simpulan...........................................................................14
4.2 Saran................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................16

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Istilah paradigma pada mulanya dipakai dalam bidang filsafat
ilmu pengetahuan. Menurut Thomas Kuhn, orang yang pertama kali
mengemukakan istilah tersebut menyatakan bahwa ilmu pada
waktu tertentu didominasi oleh suatu paradigma. Paradigma
adalah pandangan mendasar dari para ilmuwan tentang apa yang
menjadi pokok persoalan suatu cabang ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, paradigma sebagai alat bantu para
illmuwan dalam merumuskan apa yang harus dipelajari, apa yang
harus dijawab, bagaimana seharusnya dalam menjawab dan aturan-
aturan yang bagaimana yang harus dijalankan dalam mengetahui
persoalan tersebut.Suatu paradigma mengandung sudut pandang,
kerangka acuan yang harus dijalankan oleh ilmuwan yang mengikuti
paradigma tersebut. Dengan suatu paradigma atau sudut pandang
dan kerangka acuan tertentu, seorang ilmuwan dapat menjelaskan
sekaligus menjawab suatu masalah dalam ilmu pengetahuan. Istilah
paradigma makin lama makin berkembang tidak hanya di bidang ilmu
pengetahuan, tetapi pada bidang lain seperti bidang politik, hukum,
sosial dan ekonomi.
Istilah paradigma makin lama makin berkembang dan biasa
dipergunakan dalam berbagai bidang kehidupan dan ilmu
pengetahuan. Misalnya politik, hukum, ekonomi, budaya. Dalam
kehidupan sehari-hari, paradigma berkembang menjadi terminology
yang mengandung pengertian sumber nilai, kerangka pikir, orientasi
dasar, sumber asas, tolak ukur, parameter, serta arah dan tujuan dari
suatu perkembangan, perubahan, dan proses dalam bidang tertentu,
termasuk dalam pembangunan. Berdasarkan latar belakang tersebut,
maka dalam penulisan ini akan diberi judul “ Pancasila Sebagai
Paradigma Pembangunan Nasional”.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa maksud pancasila sebagi paradigma pembangunan?
2. Bagaimana pancasila sebagai paradigma pembangunan bidang
politik dna hukum!
3. Bagaimana pancasila sebagai paradigma pembangunan ekonomi!
4. Bagaimana pancasila sebagai paradigma pembangunan
HANKAM!
5. Bagaimana Pancasila sebagai paradigma pembangunan sosial
budaya!
6. Bagaimana Pancasila sebagai paradigma pembangunan IPTEKS!

1.3 Tujuan Penulisan


1 Untuk mengetahui pancasila sebagi paradigma pembangunan
2 Untuk mengetahui pancasila sebagai paradigma pembangunan
bidang politik dna hukum
3 Untuk mengetahui pancasila sebagai paradigma pembangunan
ekonomi
4 Untuk mengetahui pancasila sebagai paradigma pembangunan
HANKAM
5 Untuk mengetahui Pancasila sebagai paradigma pembangunan
sosial budaya
6 Untuk mengetahui Pancasila sebagai paradigma pembangunan
IPTEKS

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan

Istilah paradigma berasal dari kata Inggris paradigm yang


berarti model, pola, atau contoh. Paradigma awalnya digunakan dalam
ranah ilmu pengetahuan.

Dalam ranah ilmu pengetahuan, paradigma diartikan sebagai


model atau kerangka berpikir. Namun, seiring berjalannya waktu,
istilah paradigma mulai digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan


(2019) karya Edi Rohani, dijelaskan bahwa dalam kehidupan sehari-
hari, paradigma berkembang menjadi terminologi yang mengandung
pengertian sebagai sumber nilai, kerangka pikir, orientasi dasar,
sumber asas, tolak ukur, parameter, serta arah dan tujuan dari suatu
perkembangan, perubahan, dan proses dalam bidang tertentu,
termasuk dalam pembangunan maupun proses pendidikan.

Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa paradigma


menempati posisi dan fungsi yang strategis dalam setiap proses
kegiatan. Perencanaan, pelaksanaan, dan pemanfaatan hasil dalam
setiap kegiatan dapat diukur dengan paradigma tertentu yang diyakini
kebenarannya.

Dalam konteks negara Indonesia, paradigma yang diyakini


kebenarannya adalah pancasila. Pancasila bisa dikatakan sebagai
paradigma karena pancasila dijadikan landasan, acuan, metode, nilai,
dan tujuan yang ingin dicapai dalam setiap program pembangunan
nasional.

3
Pembangunan nasional sendiri merupakan rangkaian upaya
pembangunan berkesinambungan yang meliputi aspek politik,
ekonomi, sosial, budaya, serta pertahanan dan keamanan.
Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka mewujudkan
kemakmuran masyarakat Indonesia.

Lebih lanjut, Heri Herdiawanto dan kawan-kawan dalam


bukunya yang berjudul Spiritualisme Pancasila (2018), menjelaskan
bahwa secara filosofis hakikat kedudukan pancasila sebagai
paradigma pembangunan nasional mengandung suatu konsekuensi
bahwa dalam setiap pelaksanaan pembangunan nasional harus
didasarkan atas nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila.

Dengan menempatkan pancasila sebagai paradigma


pembangunan nasional, maka semangat, arah, dan gerak
pembangunan nasional harus mencerminkan pengamalan semua sila
pancasila sebagai sebuah kesatuan yang utuh.

Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka mencapai


masyarakat adil yang berkemakmuran dan makmur yang berkeadilan.
Dalam pembukaan UUD 1945 disebutan bahwa tujuan negara adalah “
melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah
Indonesia,memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan
bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kepada kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social”. Tujuna
pertama merupakan manifestasi dari negara hokum formal,
sedangkan  tujuan kedua dan ketiga merupakan manifestasi dari
pengertian negara hukum material, yang secara keseluruhan sebagai
manifestasi tujuan khusus. Sementara tujuan yang terakhir adalah
perwujudan dari kesadaran suatu bangsa yang hidup di tengah-tengah
pergaulan masyarakat internasional.

4
Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam sila pancasila
dikembangkan atas dasar ontomologis manusia, baik sebagai makhluk
individu atau social. Nilai-nilai Pancasila harus dikembalikan kepada
kondisi objektif masyarakat Indonesia. Maka dari itu,pancasila harus
menjadi paradigm perilaku manusia Indonesia, termasuk dalam
pembanguan nasionalnya.

Berdasarkan pemikiran diatas,maka pembangunan nasional


sebagai sarana untuk mewujudkan tujuan nasional harus dikembalikan
pada hakitkat manusia yang monopluralis yang memiliki cirri-ciri yaitu :

(1) Terdiri dari jiwa dan raga,


(2) Sebagai makhluk individual dan social,serta
(3) Sebagai pribadi dan makhluk Allah.

Sebagai konsekuensi pemikiran diatas, maka pembangunan


nasional harus meliputi aspek jiwa seperti akal, kehendak ;raga
(jasmani); pribadi; social; dan ketuhanan yang terkristalisasi dalam
nilai-nilai pancasila. Dengan demikian pancasila dapat dijadikan tolak
ukur atau paradigm pembanguna nasional diberbagai bidang.

2.2 Makna, hakikat, dan tujuan pembangunan nasional

Pembangunan nasional dapat diartikan sebagai


rangkaianupaya pembangunan yang berkesinambungan dan meliputi
seluruh kehidupan  masyarakat,  bangsa, dan  negara untuk
melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional.

Hakikat  pembangunan  nasional  adalah  pembangunan


manusia  Indonesia  seutuhnya  dan pembangunan masyarakat
Indonesia seluruhnya. Pembangunan nasional dilaksanakan untuk
mewujudkan tujuan  nasional seperti termaktub dalam pembukaan
UUD 1945 alinea  IV, yaitu …. melindungi segenap bangsa Indonesia

5
dan seluruh  tumpah  bangsa Indonesia,memajukankesejahteraan
mum,  mencerdaskan  kehidupan  bangsa, dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi,
dan  keadilan  sosial  serta  mewujudkan  cita-cita bangsa
sebagaimana ternaktub dalam alinea II pembukaan UUD 1945.

Pembangunan nasional yang dilakukan oleh bangsa Indonesia


dewasa  ini diartikan  sebagai  pengamalan  Pancasila.  Masa
pembangunan  akan  memberi kesempatan  yang  menguntungkan
bagi  Pancasila untuk memberi  pengaruh  yang  mendalam dan
mendasar  pada sistem nilai sosial-budaya  masyarakat Indonesia.

Seperti  yang berkali-kali di ungkapkan oleh para  ilmuwan 


sosial, para ahli  filsafat,  dan para  pejabat tingkat tinggi didalamp
pemerintahan  bahwa  pembangunan  nasional  mengandung arti
pembaharuan.Pembangunandan pembaharuan dengan
sendirinyamembawa perubahan-perubahan sosial maupun budaya.

Perubahan tersebut dapat bersifat dangkal dan bersifat


fundamental.Perubahan yang bersifat dangkal akan mudah dan
cepatberubah. Misalnya, dapat dilihat dalam perubahan mode
pakaian,selera arsitektur rumah atau tempat tinggal, dan popularitas
lagu-lagu generasi muda yang sedang digandrungi di kalangan
mereka.Adapun perubahan-perubahan sosial-budaya yang mendasar
dapatdialami bersama dalam reformasi. Misalnya, masyarakat
pertanian menjadi masyarakat industri,  masyarakat  tradisional
menjadimasyrakat modern, tata hidup pedesaan menjadi tata
hidupperkotaan, serta perubahan masyarakat Indonesia dari
kedudukandijajah oleh kekuasaan asing menjadi masyarakat yang
merdekadidalam negara yang daitur dan diurus oleh kekuasaan
nasional

6
2.3 Visi dan Misi Pembangunan Nasional

Visi Terwujudnya masyarakat Indonesia yang damai,


demokratis berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera dalam
wadah Negara Republik Indonesia yang sehat, mandiri, beriman dan
bertaqwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum  dan 
lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos
kerja yang tinggi dan berdisiplin.

Misi Untuk mewujudkan visi bangsa Indonesia masa depan,


misiyang ditetapkan adalah sebagai berikut:

1. Pengamalan Pancasila secara konsisten


2. Penegakan kedaulatan rakyat dalam segala aspek
3. Peningkatan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-
hari
4. Penjaminan kondisi aman, damai dan tertib
5. Perwujudan sistem hukum nasional
6. Perwujudan kehidupan sosial buadaya yang dinamis dankreatif
7. Pemberdayaan masyarakat dan seluruh kekuatan ekonomi
nasional
8. Perwujudan otonomi daerah
9. Perwujudan kesejahteraan rakyat
10. Perwujudan aparatur negara
11. Perwujudan sistem dan pendidikan nasional yangdemokratis
12. Perwujudan politik luar negeri yang berdaulat.

7
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Bidang Politik Dan


Hukum

Pembangunan politik memilki dimensi yang strategis karena


hampir semua kebijakan public tidak dapat dipisahkan darinya. Hal ini
juga banyak menimbulkan kekecewaan masyarakat, antara lain :

(1) kebijakan hanya dibangun atas dasar kebijakan politik


tertentu;
(2) kepentingan masyarakat kurang mendapat perhatian;
(3) pemerintah dan elite politik kurang berpihak pada
masyarakat;
(4) adanya tujuan tertentu untuk melanggengkan kekuasaan
elite politik.

Persoalan mengenai kemampuan dan kedewasaan rakyat


dalam berpolitik menjadi prioritas pembangunan bidang politik. Hal ini
sesuai dengan kenyataan objektif bahwa manusia adalah subjek
negara dan  karena pembangunan politik harus dapat meningkatkan 
hrakat dan martabat manusia. namun cita-cita ini sulit diwujudkan
karena tidak ada kemauan dari para elite politik sebagai pemegang
kebijakan politik.

Pembangunan politik semakin tidak jelas arahnya ketika terjadi


banyak penyelewengan dan tidak dapat ditegakkan oleh  hukum.
Apabila dianalisis, kegagalan tersebut dapat dijabarkan yaitu :

1. Tidak jelasnya paradigma pembangunan politik dan hokum karena


tidak adanya blue print

8
2. Penggunaan pancasilasebagai paradigm pembangunan masih
bersifat parsial
3. Kurang berpihak pada hakikat pembangunan politik dan hukum

Prinsi-prinsip yang kurang sesuai dengan nilai-nilai panasila


telah membawa implikasi yang luas dan mendasar bagi kehidupan
manusia Indonesia. Pembangunan bidang hokum yang didasari pada
nilai-nilai moral baru sebatas pada tataran filosofis dan konseptual.
Hokum nasional yang dikembangkan secara realistis jarang dapat
terwujud karena setiap upaya penegakan hokum dipengaruhi oleh
keputusan politik.  Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
pembangunan dibidang politik telah mengalami kegagalan.

3.2 Pancasila Sebagai Paradigama Pembangunan Ekonomi

Hampir semua pakar ekonomi Indonesia memiliki kesadaran


akan pentingnya moralitas kemanusiaan dan ketuhanan sebagai
landasan pembangunan ekonomi. Namun dalam praktiknya, mereka
tidak mampu meyakinkan permerintah tentang konsep dan konsep
yang sesuai dengan kondisi Indonesia. bahkan tidak sedikit pakar
ekonomi Indonesia yang mengikuti pendapat pakar barat tentang
pembangunan ekonomi Indonesia.

Pandangan tentang merkantilisme melahirkan system ekonomi


kapitalis pada akhir abad 18. Sedangkan pada abad 19 di Eropa lahir
pemikiran baru sebagai reaksi dari system ekonomi kapitalis yang
dikenla dengan system ekonomi sosialis yang juga memperjuangkan
nasib kaum proletar yang ditindas oleh kaum kapitalis.

System pertama mengutamakan individu, system kedua


mengutamakan kepentingan orang banyak. Manakah yang lebih
penting?

9
Apabila dikaji secara kritis, maka dapat disimpulkan bahwa
tidak ada suatu sistempun yang paling sempurna. Oleh karena itu
menjadi sangat penting dan mendesak untuk mengembangkan system
ekonomi yang mendasarkan ada system moralitas dan humanistic
sehingga lahirlah system ekonomi yang berperikemanusiaan.

System ini mendasarkan pada tercapainya kesejahteraan


rakyat secara luas. Pembangunan ekonomi bukan hanya mengejar
pertumbuhan saja, melainkan untuk tujuan kemanusiaan yaitu
terciptanya kesejahteraan seluruh bangsa. Pemikiran ini melahirkan
system ekonomi Indonesia yang berdasarkan atas asas kekeluargaan.
Dengan demikian, pembangunan ekonomi harus mampu
menghindarkan diri dari persaingan bebas, monopoli, dan bentuk
lainnya yang dapat menimbulkan penindasan, penderitaan dan
kesengsaraan rakyat kecil.

Sesuai dengan paraddigma pancasila,pengelolaan ekonomi


Indonesia diserahkan kepada tiga bentuk badan usaha yaitu :

1. Koperasi sebagai soko guru ekonomi indonesia merupakan badan


usaha nonprofit yang berpihak pada kepentingan rakyat kecil.
2. BUMN atau BUMD sebagai badan usaha yang berwenang
mengelola sector-sektor ekonomi yang menguasai hajat hidup
orang banyak.
3. Badan Usaha Swasta sebagai badan usaha profit millik perseroan
atau kelompok yangmengelola sector ekonomi yang belum mampu
ditangani oleh koperasi dan atau BUMN/BUMD.

Apabila ketiga lembaga ini mampu melaksanakan tugasnya,


maka bangsa Indoensia masih memilki harapan bahwa ekonomi
Indonesia akan mengalami kemajuan dan tingkat stabilitas yang

10
mantap.namun kenyataannya ketiga pengelola ekonomi ini tidak
berkembang.

3.3 Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan HANKAM

Salah satu tujuan dibentuknya pemerintah Negara Indonesia


adalah untuk “melindungi segenap bangsa Indonesia dan  seluruh
tumpah darah Indonesia”. Untuk itu, pemerintah berkewajiban 
membangun sistem pertahanan dan keamanan yang mampu
mewujudkan tujuan dan cita-cita tersebut. Atas dasar pemikiran
tersebut, pemerintah menyusun dan memperkenalkan sistem
“pertahanan dan keamanan rakyat semesta” (hankamrata). Sistem ini
pada dasarnya sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dimana pemerintah
dan rakyat memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam usaha bela
negara. Disamping itu, Pancasila menganjurkan agar bangsa
Indonesia dapat hidup berdampingan secara damai.

Meskipun demikian, sistem hankamrata tidak mungkin


dilaksanakan secara absolut karena melibatkan seluruh rakyat dalam
praktik bela negara.Terlebih, dengan persyaratan-persyaratan yang
harus dipenuhi, meliputi persyaratan fisik, teoritis, dan strategis.
Bertolak dari pemikiran tersebut, TNI memiliki kedudukan dan fungsi
yang strategis. Pembangunan TNI secara modern bukan semata-mata
untuk kepentingan militer, melainkan untuk kepentingan sosial dan
ekonomis. oleh karena itu, dibentuklah sistem pertahanan dan
keamanan yang profesional dengan TNI sebagai pengamannya.

3.4 Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan Sosial Budaya

Pembangunan sosial budaya harus dilaksanakan atas dasar


kepentingan nasional yaitu terwujudnya kehidupan masyarakat yang
demokratis, tentram, aman, dan damai. Pemikiran tersebut bukan
berarti bangsa Indonesia harus steril dari pengaruh budaya asing.

11
Artinya, pengaruh budaya asing harus diterima apabila diperlukan
dalam membangun masyarakat Indonesia yang modern. Namun, perlu
diingat bahwa masyarakat modern bukan berarti masyarakat yang
berbudaya Barat (westernisasi), melainkan masyarakat yang tetap
berpijak pada akar budayanya.

Berdasarkan pemikiran di atas, maka tidak berlebihan apabila


Pancasila merupakan satu-satunya paradima pembangunan bidang
sosial budaya. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari kesepakatan
bangsa Indonesia bahwa Pancasila merupakan kristlisasi nilai-nilai
kehidupan masyarakat Indonesia. Meskipun demikian, kita harus
menyadari bahwa penggunaan Pancasila sebagai paradigma
pembangunan sosial budaya bukan satu-satunya jaminan mencapai
keberhasilan optimal.

Argumen di atas dapat dilihat dari keberhasilan masa Orde


Baru dalam melaksanakan pembangunan pada umumnya, bidang
sosial budaya pada khususnya. Sekilas kita dapat menyaksikan
masyarakat yang tertib, aman, dan damai. Namun sebenarnya
pemerintah Orde Baru menanam bom yang siap meledak, serta
menghancurkan masyarakat Indsonesia.

Kegagalan pembangunan bidang sosial budaya hampir serupa


dengan kegagalan pembangunan bidang politik. Orde Baru yang
belum berhasil mewujudkan cita-citanya berganti dengan masa
reformasi. Akan tetapi, nyatanya perjuangan masa reformasi sering
dimanfaatkan oleh kepentingan politik tertentu, sehingga masa
reformasi yang diharapkan dapat memperbaiki bidang sosial
budayapun belum dapat mencapai cita-citanya. Pertikaian antar
kelompok yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia merupakan bukti
kegagalan dalam membangun sistem sosial budaya yang sesuai
ddengan nilai-nilai kebenaran, serta harkat dan martabat manusia.

12
Oleh karena itu, nilai-nilai Pancasila harus dihayati dan
diamalkan kembali agar dapat menjadi dasar pembangunan bidang
sosial budaya. Menurut Koentowijoyo, Pancasila sebagai paradigma
mempunyai ciri khas, seperti:

1. Universal karena mampu melepas simbol-simbol dari keterkaitan


struktur
2. Transedental karena mampu meningkatkan derajat kemerdekaan
manusia dan kebebasan spiritual.

3.5 Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan Ipteks

Pengembangan dan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi


dan seni (ipteks) merupakan salah satu persyaratan menuju
terwujudnya kehidupan masyarakat bangsa yang maju dan modern.
Namun demikian, pengembangan ipteks bukan semata-mata untuk
mengejar kemajuan material, melainkan harus memperhatikan aspek
spiritual. Artinya, pengembangan ipteks diarahkan untuk mencapai
kebahagian lahr dan batin.

Dengan kemampuan akalnya, manusia dapat mengembangkan


kreativitasnya guna menguasai ipteks sehingga mampu mengelola
kekayaan alam yang diberikan oleh Tuhan. Namun, di sisi lain,
teknologi dapat sangat berbahaya apabila salah penggunaannya,
seperti halnya teknologi nuklir yang dapat menimbulkan malapetaka
bagi manusia.

Atas dasar kenyataan di atas, maka perkembangan ipteks


harus memperhatikan aspek nilai. Sebagai bangsa yang telah memiliki
pandangan hidup Pancasila, maka tidak berlebihan apabila
pengembangan ipteks didasarkan atas paradigma Pancasila. Oleh
karena itu, pengembangan ipteks harus didasarkan pada nilai-nilai
moral yang tekandung dalam sila-sila Pancasila.

13
BAB III

PENUTUP

4.1 Simpulan

Paradigma adalah pandangan mendasar dari para ilmuwan


tentang apa yang menjadi pokok persoalan suatu cabang ilmu
pengetahuan. Istilah paradigma makin lama makin berkembang
tidak hanya di bidang ilmu pengetahuan, tetapi pada bidang lain
seperti bidang politik, hukum, sosial dan ekonomi.
Pancasila pada hakikatnya bersifat humanistik karena
memang pancasila bertolak dari hakikat dan kedudukan kodrat
manusia itu sendiri. Hal ini sebagaimana tertuang dalam sila
Kemanusiaan yang adil dan beradab. Oleh karena itu,
pembangunan sosial budaya harus mampu meningkatkan harkat dan
martabat manusia, yaitu menjadi manusia yang berbudaya dan
beradab. Pembangunan sosial budaya yang menghasilkan manusia-
manusia biadab, kejam, brutal dan bersifat anarkis jelas bertentangan
dengan cita-cita menjadi manusia adil dan beradab.
Keanekaragaman suku, adat-istiadat, dan agama serta berada
pada ribuan pulau yang berbeda sumber kekayaan alamnya,
memungkinkan untuk terjadi keanekaragaman kehendak dalam
kehidupan bermasyarakat, karena tumbuhnya sikap premordalisme
sempit, yang akhirnya dapat terjadi konflik yang negative, oleh karena
itu dalam kehidupan dilingkungan bermasyarakat dibutuhkan alat
perekat antar masyarakat dengan adanya kesamaan cara pandang
tentang misi dan visi yang ada di lingkungan masyarakat. Dengan
adanya Pancasila dapat dijadikan sebagai suatu elemen mampu
menahan emosi dari banyaknya perbedaaan kebudayaan di
lingkungan masyarakat. Agar dapat mewujudkan kehidupan yang

14
demokratis, aman, tentram, nyaman, dan adil di lingkungan
masyarakat.

4.2 Saran-saran
Berdasarkan hasil yang telah penulis kemukakan pada
pembahasan merujuk pada referensi buku dan internet, maka penulis
perlu memberikan saran - saran adalah sebagai berikut:
1. Pancasila sebagai dasar negara yang akhir-akhir ini dilupakan,
maka sebagai warga negara Indonesia perlu memahami
Pancasila melalui berbagai media yang difasilitasi instansi
terkait.
2. Pancasila sangat penting bagi kehidupan bernegara, berm
asyarakat dan juga perlu diterapkan dalam kehidupan keluarga.
3. Perlu adanya pendidikan politik agar rakyat tahu akan hak dan
kewajiban dalam berpolitik.
4. Era globalisasi sangat mempengaruhi kehidupan bangsa dan
bernegara terutama masyarakat yang selama ini Pancasila
sebagai pedoman hidup dalam bernegara dikesampingkan, maka
Pancasila sebagai dasar negara dikenalkan kepada anak-anak
pada tingkat dasar.

15
DAFTAR PUSTAKA

Sugito AT dkk.2010.Pendidikan Pancasila.Semarang;Pusat


Pengembangan MKU-  MKDK UNNES.

Setijo, Pandji. Pendidikan Pancasila. Grasindo,

Listyarti, Retno. 2005.Pendidikan Kewarganegaraan SMA untuk kelasXI


kurikulum 2004. Jakarta: Esis.Budiyanto.

Abdul Karim,2007. Pendidikan Kewarganegaraan SMA untukkelas XII


kurikulum 2006. Jakarta: Grafindo.

Drs. Chotib, Drs. H. M. Djazuli, Drs. H. Tri Suharno, Drs. H. Suardi


Abubakar, Drs. H. Muchlis Catio, M.Ed. Kewarganegaraan 3
Menuju Masyarakat Madani. Yudhistira

https://www.gurupendidikan.co.id/pancasila-sebagai-paradigma-
pembangunan/, dikses pada tanggal 01 Januari 2020 pukul 16.06
WITA

16