Anda di halaman 1dari 2

PERENCANAAN KONSTRUKSI BAJA STRUKTUR GEDUNG

DENGAN SISTEM RANGKA BRESING KONSENTRIS KHUSUS

Oleh
Mario
NIM : 15008109
(Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Program Studi Teknik Sipil)

Struktur gedung dengan rangka baja berpengaku konsentrik merupakan sistem struktur
rangka baja pemikul beban gempa yang paling umum di Indonesia. Pada sistem ini, balok,
kolom dan bresing tersusun membentuk suatu struktur truss, sehingga gaya lateral yang
terjadi disalurkan sesuai dengan karakter struktur truss. Bresing konsentrik memliki
kelebihan dalam hal kekakuan elastis yang tinggi, dan proses pemeliharaan yang relatif
mudah. Respon inelastis bresing konsentrik saat terjadi gempa besar melalui pelelehan pada
bresing yang mengalami gaya aksial tarik dan tekuk pada bresing yang mengalami gaya
aksial tekan.

Tugas akhir ini berusaha memaparkan proses perencanaan struktur gedung baja dengan
sistem rangka bresing konsentrik khusus. Berbeda dengan sistem rangka bresing konsentrik
biasa, sistem rangka ini diharapkan mampu memiliki deformasi inelastik yang cukup besar
sehingga proses perencanaan struktur khususnya pada bagian detailing agak sedikit lebih
rumit dibandingkan dengan sistem rangka konsentrik biasa.

Gedung yang didesain nantinya akan berfungsi sebagai apartemen 15 lantai di kota Padang
dan berdiri di atas tanah lunak. Peraturan yang digunakan dalam mendesain adalah SNI Baja
03-1729-2002 dilengkapi dengan peraturan ANSI/AISC 360-05 (Specification for Structural
Steel Building), kemudian untuk pembebanan masih mengacu pada PPURG (Perencanaan
Pembebanan Rumah dan Gedung) tahun 1987, dengan beban gempa didesain sebagai beban
respon spektrum mengacu pada RSNI Gempa 03-1726-201x.
Perencanaan struktur diawali dengan desain elemen bresing, kemudian elemen struktur
lainnya dengan memperhitungkan gaya dalam yang terjadi pada tiap elemen struktur dengan
batasan faktor strength ratio agar struktur tidak menjadi terlalu boros. Setelah didapat desain
elemen struktur yang cukup optimal, dilakukan perhitungan detailing struktur yang meliputi
perhitungan baseplate dan sambungan. Perencanaan struktur dilakukan dengan konsep
capacity design untuk menjamin kelelehan pertama terjadi pada elemen pengaku yang
kemudian dilanjutkan pada elemen pendukungnya. Terakhir, untuk memperlihatkan kinerja
bangunan dilakukan analisis pushover terhadap hasil desain akhir struktur hingga struktur
mengalami keruntuhan.

Berdasarkan hasil dari analisis pushover, mekanisme plastifikasi sudah memenuhi konsep
capacity design, dimana kelelehan terjadi pada bresing terlebih dahulu baru kemudian balok
dan kolom. Bresing dileleh terlebih dahulu adalah bresing tekan yang mana disebabkan oleh
perbedaan kuat nominal baja. Kuat tekan nominal lebih ditentukan oleh tekuk sedangkan kuat
tarik ditentukan oleh kuat leleh baja. Berdasarkan hasil perhitungan, struktur memiliki
respon modifikasi gempa (R) sesuai dengan desain awal yaitu sebesar 6, hal ini menunjukkan
hasil desain yang sudah optimal untuk menahan beban gempa. Struktur memiliki kekakuan
elastis yang tinggi, namun daktilitas yang kurang baik, hal ini disebabkan karena pada
bresing yang sudah terjadi tekuk kekuatannya menurun drastis. Selain faktor modifikasi
respon, bangunan ini juga sudah dicek berdasarkan batasan perpindahan, simpangan antar
lantai, dan drift sesuai dengan peraturan SNI.

Kata kunci: bresing konsentrik, capacity design, detailing, analisis pushover.