Anda di halaman 1dari 8

Judul :

Meningkatkan Keamanan dan Pengawasan dalam Kasus Pencurian Sumber


Daya Alam (SDA) Indonesia olah Negara Asing

Oleh :

Rahayu Nadisa Dewi

G1D016039

UNIVERSITAS MATARAM

2016
Pendahuluan

Sumber daya alam (biasa disingkat SDA) adalah segala sesuatu yang berasal dari
alam yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Yang
tergolong di dalamnya tidak hanya komponen biotik, seperti hewan, tumbuhan,
dan mikroorganisme, tetapi juga komponen abiotik, seperti minyak bumi, gas
alam, berbagai jenis logam, air, dan tanah.

Sumber daya alam di Indonesia jika dibandingkan dengan negara – negara di


Asia, Indonesia adalah termasuk negara yang kaya akan sumber daya alamnya,
begitu pula dibandingkan dengan negara – negara maju, seperti Jepang, Amerika,
dan Singapura, Indonesia adalah negara yang sangat potensial dalam sisi sumber
daya alam.

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia


setelah Brasil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber
daya alam hayati yang dimiliki Indonesia dan hal ini, berdasarkan Protokol
Nagoya, akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang
berkelanjutan (green economy). Protokol Nagoya sendiri merumuskan tentang
pemberian akses dan pembagian keuntungan secara adil dan merata antara pihak
pengelola dengan negara pemilik sumber daya alam hayati, serta memuat
penjelasan mengenai mekanisme pemanfaatan kekayaan sumber daya alam
tersebut. Kekayaan alam di Indonesia yang melimpah terbentuk oleh beberapa
faktor, antara lain :

Tingginya tingkat biodiversitas Indonesia ditunjukkan dengan adanya 10% dari


tanaman berbunga yang dikenal di dunia dapat ditemukan di Indonesia, 12% dari
mamalia, 16% dari hewan reptil, 17% dari burung, 18% dari jenis terumbu
karang, dan 25% dari hewan laut. Di bidang agrikultur, Indonesia juga terkenal
atas kekayaan tanaman perkebunannya, seperti biji coklat, karet, kelapa sawit,
cengkeh, dan bahkan kayu yang banyak diantaranya menempati urutan atas dari
segi produksinya di dunia.

Sumber daya alam di Indonesia tidak terbatas pada kekayaan hayatinya saja.
Berbagai daerah di Indonesia juga dikenal sebagai penghasil berbagai jenis bahan
tambang, seperti petroleum, timah, gas alam, nikel, tembaga, bauksit, timah, batu
bara, emas, dan perak. Di samping itu, Indonesia juga memiliki tanah yang subur
dan baik digunakan untuk berbagai jenis tanaman. Wilayah perairan yang
mencapai 7,9 juta km2 juga menyediakan potensi alam yang sangat besar.
(https://id.wikipedia.org/wiki/Sumber_daya_alam: diakses 12 Oktober 2016 jam
12:00)
Indonesia yang juga letaknya strategis selain sumber daya alamnya yang baik,
membuat banyak negara ‘tertarik’ dan dengan mudah berinteraksi langsung
dengan negara ini. Namun, karena banyaknya negara yang mudah langsung
mengunjungi Indonesia, menyebabkan Indonesia rentan terhadap serangan
ataupun ‘pencurian’.

Ini karena negara – negara asing yang melihat banyak potensi alam di Indonesia,
sementara Indonesia belum mampu secara maksimal dalam mengolah atapun
menjaga, sehingga negara – negara asing yang ‘tertarik’ tersebut mengambil
kesempatan dengan mencuri atau mengambil sumber daya alam Indonesia secara
ilegal.

Sebagai contoh, pada kasus pencurian ikan yang marak terjadi, Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat banyak kapal berbendera asing masuk
dan mencuri ikan atau illegal fishing di laut Indonesia. Tercatat, pencuri ikan asal
Vietnam paling banyak yang tertangkap mencuri ikan di perairan
Indonesia.Menurut data KKP, kapal ikan asing (KIA) berbendera Vietnam yang
berhasil ditangkap oleh KKP selama tahun 2013 mencapai 17 kapal. Jumlah ini
menurun dibandingkan jumlah tangkapan di tahun 2012 yang mencapai 40 kapal
asal Vietnam. Sementara jumlah tangkapan terbesar terjadi pada tahun 2010 dan
2009, KKP menangkap masing-masing 115 dan 76 kapal nelayan Vietnam.
(https://lingkunganitats.wordpress.com/2014/12/25/kasus-pencurian-ikan-di-
wilayah-indonesia/ : diakses 2016-11-12 jam 14:27)

Kemudian pada pencurian pasir dalam kasus ‘Reklamasi Singapura’. Pekan


pertama Februari 2007, Armada Maritim Barat TNI-AL telah menangkap
sejumlah kapal pengekspor pasir yang tengah berlayar di perairan Kepulauan Riau
menuju Singapura. Dalam pemeriksaan awal ditemukan bahwa kapal-kapal
pengangkut pasir tersebut beroperasi secara ilegal. Penangkapan ini mau tidak
mau menaikkan suhu politik hubungan kedua negara yang memang sering naik
turun. (http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/singapura-bertambah-
luas-dengan-curi-pasir-indonesia.htm : diakses 2016-11-12 jam 14:41)

Dan masih banyak lagi kasus – kasus pencurian sumber daya alam lainnya seperti
pencurian pulau Indonesia, hewan – hewan langka Indonesia, pengerukan logam
alam Indonesia secara ilegal dan lainnya.

Dari banyaknya kasus tersebut, dapat kita simpulkan bahwa kurangnya negara ini
dalam meningkatkan keamanan dan pertahanan dalam melindungi sumber daya
alam. Perlunya turun tangan pemerintah dan kepedulian masyarakat yang memang
masih kurang akan kesadaran.
Seperti Kemenko Polhukam (Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum,
dan Keamanan) Republik Indonesia, adalah kementerian yang menangani kasus –
kasus diatas, dimana koordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan,
Badan Koordinasi Keamanan Laut, Tentara Nasional Indonesia, Kementerian
Luar Negeri, dan Kementerian Pertahanan. Serta tentunya peran masyarakat.

Peran Pemerintah dalam Kasus Eksploitasi SDA secara Ilegal

Salah satu peran pemerintah dalam kasus ini yaitu Kementerian Kelautan dan
Perikanan serta TNI – AL (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut).
Kementerian tersebut manangani berbagai kasus yang berhubugan dengan
kemaritiman, lebih tepatnya ‘pengawasan’. Pengawasan kemaritiman atau
kelautan Indonesia dapat dikatakan lebih baik dari tahun – tahun sebelumnya.
Mengingat sangat banyak kasus pencurian ikan yang terjadi dari rentang tahun
2001 hingga tahun 2013.

Sepanjang 2001 hingga 2013 terjadi 6.215 kasus pencurian ikan. Dari jumlah itu
lebih dari 60 persen atau 3.782 terjadi sampai November 2012. Berikut data
pencurian ikan sejak 2001 sampai 2012: Tahun 2001 Jumlah 155 kasus, Tahun
2002 Jumlah 210 kasus, Tahun 2003 Jumlah 522 kasus, Tahun 2004 Jumlah 200
kasus, Tahun 2005 Jumlah 174 kasus, Tahun 2006 Jumlah 216 kasus, Tahun 2007
Jumlah 184 kasus, Tahun 2008 Jumlah 243 kasus, Tahun 2009 Jumlah 203 kasus,
Tahun 2010 Jumlah 183 kasus, Tahun 2011 Jumlah 104 kasus, Tahun 2012
Jumlah 75 kasus. (http://m.tempo.co/read/news/2014/01/08/092543036/100-
Kapal-Asing-Curi-Ikan-di-Indonesia-Tiap-Tahun : diakses 2016-11-13 jam
10:34).

Pencurian ikan di Indonesia sendiri telah merugikan negara sebesar lebih dari Rp
100 triliun hanya pada periode Januari sampai Agustus 2014. Koalisi Rakyat
untuk Keadilan Perikanan (Kiara) menyatakan bahwa Kapal-kapal ikan pencuri
itu diketahui dari Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Filipina, Taiwan, Hongkong,
dan China. (https://www.selasar.com/ekonomi/pencurian-ikan-di-laut-nkri-sudah-
seperti-kanker-stadium-akhir : diakses 2016-11-13 jam 10:36)

Sehingga pada periode kepemimpinan baru, dua tahun terakhir, aksi perubahan
dalam menghadapi pencurian ikan oleh kapal asing dilakukan gencar – gencaran.
Tanpa ada negosiasi, kapal asing yang melakukan pencurian langsung
ditenggelamkan, dengan cara mengebom kapal tersebut melalui kapal TNI – AL.
Ada sekitar ratusan kapal yang ditenggelamkan dari dua tahun terakhir ini.
Keputusan itu memang sudah sangat baik, mengingat kerugian yang didapat
Indonesia sangatlah banyak. Sikap tegas seperti yang memang seharusnya
ditingkatkan.

Selain aksi pengenggelaman kapal asing, seharusnya pemerintah atau kementerian


yang bersangkutan juga perlu meningkatkan patroli pencegahan kapal asing yang
masuk ke zona laut Indonesia. Perlu ditingkatkan para pengawas atau yang biasa
bersangkutan yaitu para TNI – AL.

Diketahui bahwa KKP hanya memiliki 24 kapal pengawas laut. Meskipun


belakangan ada penambahan sekitar 2 atau 3 kapal, hal itu masih jauh dari
kebutuhan lautan Indonesia. Idealnya, Indonesia seharusnya memiliki 80 kapal
pengawas laut. (http://m.tempo.co/read/news/2014/01/08/092543036/100-Kapal-
Asing-Curi-Ikan-di-Indonesia-Tiap-Tahun : diakses 2016-11-13 jam 8:46)

Sangat baik jika negara ini langsung mengadakan pertemuan atau pelaporan
(tuntutan) atas pencurian ikan kepada negara yang melakukan aksi pencurian ini,
agar mereka jera terhadap pencurian yang mereka atau rakyat mereka lakukan.
Memang diketahui jika tuntutan atas pencurian ini sangatlah rumit, maka
sebaiknya pengawasan ditingkatkan dan manata ulang kasus – kasus pencurian
ikan di dalam negeri terlebih dahulu.

Kemudian, dari sisi instrument hukum, sangat perlu ditingkatkan dan diperkuat.
Diketahui bahwa Indonesia ‘sempat’ mengesahkan aturan yang membolehkan alih
muatan (transhipment) ‘di tengah laut’. Padahal, itu justru membuat semakin
mudahnya pencurian. Transhipment yang benar menurut Susi Pudjiastuti (Menteri
Kelautan dan Perikanan) adalah transhipment yang dilakukan di pelabuhan,
dengan pengawasan Bea dan Cukai.

Namun pada tahun ini, pemerintah melarang aksi transhipment ‘di tengah laut’
tersebut. Karena hal ini memalukan, mengingat hanya Indonesia satu – satunya
negara yang mengizinkan transhipment di tengah laut. Maka tindakan pelarangan
transhipment di tengah laut yang dilakukan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan
adalah tindakan benar.

Setidaknya, pemerintah Indonesia harus memiliki sikap tegas dan perlunya


peningkatan pengawasan. Karena pemerintah yang baik adalah pemerintah yang
langsung melakukan aksi, tidak hanya dalam teori.

Peran Masyarakat dalam Kasus Eksploitasi SDA secara Ilegal

Dapat dilihat pada kasus yang sama, yaitu pada kasus pencurian ikan, masyarakat
belum terlalu turut andil dalam pengawasan dan pencegahan pencurian ini.
Namun, sudah terdapat sebagian masyarakat yang peduli pada kasus ini. Seperti
pada komunitas yang dikenal dengan KIARA (Koalisi Rakyat untuk Keadilan
Perikanan). Organisasi ini adalah non- pemerintah. Namun, perlu adanya
masyarakat yang turut bergabung dalam pengawasan, selain anggota KIARA
tersebut. Seperti misalnya, melihat transaksi ilegal yang dilakukan kapal asing,
seharusnya langsung untuk melapor kepada pemerintah, dan apabila disogok,
janganlah untuk terbujuk, karena itu justru merugikan negara yang juga akan
merugikan diri sendiri.

Jika dilihat dari organisasi – organisasi yang peduli terhadap isu perikanan dan
kelautan, sudah dinilai cukup banyak. Namun, perlu ditingkatkan aksi dan sikap
dalam menghadapi kasus pencurian tersebut. Serta aktif dan bersikap tegas.

Terkadang, dalam beberapa kasus, ada masyarakat Indonesia yang justru


bekerjasama dengan kapal asing pencuri ikan. Itu disebabkan karena minimnya
pekerjaan yang didapat di negara sendiri, sehingga mereka terpaksa menerima
pekerjaan sebagai pengepul ikan ilegal yang bekerjasama dengan kapal asing
ilegal. Dari sini, bisa disimpulkan bahwa pemerintah juga kurang dalam
memperhatikan rakyat, pemerintah seharusnya memperhatikan lagi bagaimana
kondisi masyarakat dengan mengajak mereka untuk bekerjasama dan tentunya
membantu mereka, agar masyarakat sendiri lebih memihak pemerintah Indonesia.
Sehingga kasus pencurian ikan atau SDA lainnya dapat teratasi dengan mudah.

Kesimpulan
Kasus pencurian ikan oleh kapal negara asing yang dibahas merupakan salah satu
dari banyaknya kasus pencurian SDA yang dilakukan oleh negara asing. Kasus
pencurian lainnya yaitu pada kasus pencurian pasir Kepulauan Riau ’Reklamasi
Singapura’, kasus pencurian atau pengklaiman Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan
oleh malaysia, dan berbagai kasus pencurian lainnya yang dilakukan oleh negara
asing.

Sumber daya alam yang ada di Indonesia sangat perlu untuk dilindungi. Indonesia
negara yang memiliki hukum, tapi instrumen dalam hukum tersebut belum
dimaksimalkan, indonesia memiliki badan pengawas dan kementerian politik
hukum, namun belum mampu secara penuh aktif dalam bidangnya. Namun, jika
diperhatikan dari tahunk ke tahun, pengawasan Indonesia terhadap SDA yang ada
mulai meningkat, walaupun tidak meningat secara signifikan.

Perlunya pemahaman, inisiatif, serta aktif dalam menanggapi berbagai kasus yang
terkait masalah sumber daya alam yang ada di Indonsia. Serta kesadaran akan
pentingnya SDA negara jika dibandingkan dengan bekerja secara ilegal dengan
negara asing, yang mencuri pula SDA milik negara.
Peran masyarakat juga sangat diperlukan demi kelancaran pengawasan serta
pencegahan pencurian SDA tersebut. Kerjasama antara masyarakat dan
pemerintah Indonesia sangat diperlukan untuk kekompakan dalam menghadapi
berbagai kasus pencurian.

Diharapkan dengan adanya peningkatan aksi pengamanan dan pengawasan ini,


masyarakat ataupun pemerintah lebih memahami dan termotivasi untuk
melindungi sumber daya alam milik negara.
DAFTAR PUSTAKA

(https://id.wikipedia.org/wiki/Sumber_daya_alam: diakses 12 Oktober 2016 jam


12:00)

(https://lingkunganitats.wordpress.com/2014/12/25/kasus-pencurian-ikan-di-
wilayah-indonesia/ : diakses 2016-11-12 jam 14:27)

(http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/singapura-bertambah-luas-
dengan-curi-pasir-indonesia.htm : diakses 2016-11-12 jam 14:41)

(http://m.tempo.co/read/news/2014/01/08/092543036/100-Kapal-Asing-Curi-
Ikan-di-Indonesia-Tiap-Tahun : diakses 2016-11-13 jam 10:34).

(https://www.selasar.com/ekonomi/pencurian-ikan-di-laut-nkri-sudah-seperti-
kanker-stadium-akhir : diakses 2016-11-13 jam 10:36)

(http://m.tempo.co/read/news/2014/01/08/092543036/100-Kapal-Asing-Curi-
Ikan-di-Indonesia-Tiap-Tahun : diakses 2016-11-13 jam 8:46)

http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20141202160709-92-15307/menteri-susi-
larangan-transhipment-berlaku-di-semua-negara/