Anda di halaman 1dari 18

CRITICAL BOOK REOPRT

GEOGRAFI TANAH

Dosen pengampu : Dr. Dwi Wahyuni Nurwihastuti. S.Si.,M.Si.

Oleh :
Nama : Lia Muniar Lumbantoruan
Kelas : Pend. Geo A17
NIM : 3173131021

PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTASILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. yang telah memberikan rahmat serta
Karunia -Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas Critical Book Report sebagai tugas
untuk penambahan nilai saya.

Di sini saya ucapkan terimakasih kepada Ibu Dr. Dwi Wahyuni Nurwihastuti. S.Si.,M.Si.
selaku dosen pengampu mata kuliah Geografi Tanah. Serta saya ucapkan terimakasih kepada
keluarga dan rekan-rekan yang telah memberikan dukungan dan doa sehingga saya mampu
menyelesaikan tugas ini dengan lancar dan tanpa halangan apapun.

Dalam penyusunan tugas ini tidak luput dari kesalahan dan kekeliruan, untuk itu saya
mohon kritik dan saran demi perbaikan. Semoga penyusunan Critical Book Report ini
memberikan manfaat bagi pembaca dan dapat memberikan pengetahuan serta wawasan.

Medan, 24 september 2018

Lia Muniar Lumbantoruan

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................................. i


DAFTAR ISI................................................................................................................................................ ii
IDENTITAS BUKU ................................................................................................................................... iii
1.1. INFORMASI BIBLIOGRAFI BUKU UTAMA .............................................................................. iii
1.2. INFORMASI BIBLIOGRAFI BUKU PEMBANDING .................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah..................................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................................................................. 1
C. Tujuan................................................................................................................................................. 1
BAB II RINGKASAN BUKU ................................................................................................................... 2
2.1. BUKU UTAMA................................................................................................................................. 2
2.2. BUKU PEMBANDING..................................................................................................................... 7
BAB III KELEBIHAN DAN KEKURANGAN...................................................................................... 12
3.1. KELEBIHAN ................................................................................................................................... 12
3.1.1. BUKU UTAMA........................................................................................................................ 12
3.1.2. BUKU PEMBANDING .......................................................................................................... 12
3.2. KEKURANGAN ............................................................................................................................. 12
3.2.1. BUKU UTAMA ....................................................................................................................... 12
3.2.2. BUKU PEMBANDING .......................................................................................................... 12
BAB IV PENUTUP ................................................................................................................................... 13
4.1. KESIMPULAN ................................................................................................................................ 13
4.2. SARAN ............................................................................................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................ 14

ii
IDENTITAS BUKU

1.1. INFORMASI BIBLIOGRAFI BUKU UTAMA


Judul : Mekanika Tanah
Penulis : L.D. Wesly
Penerbit : Badan Penerbit Pekerjaan Umum
Tahun Terbit : 1973
Dimensi Buku : 22 x 13 cm
Tebal buku : VIII + 178 Halaman

1.2. INFORMASI BIBLIOGRAFI BUKU PEMBANDING


Judul : Mekanika Tanah
Penulis : Ir. Elly Madyayanti
Penerbit : Erlangga
Tahun Terbit : 1992
Dimensi Buku : 20,5 x 14 cm
Tebal buku : v + 181 Halaman

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Laporan resensi buku adalah laporan yang bertujuan untuk mengetahui isi buku, tetapi
lebih menitikberatkan pada evaluasi (penjelasan, interpretasi, dan analisis) kita mengenai
keunggulan dan kelemahan buku, apa yang menarik dari buku tersebut dan bagaimana isi buku
tersebut bisa mempengaruhi cara berpikir kita dan menambah pemahaman kita terhadap suatu
bidang kajian tertentu. Sehingga laporan resensi buku merupakan suatu proses yang dilakukan
untuk mencari kelebihan dan kelemahan buku.
Diharapkan dengan adanya laporan resensi buku ini, mahasiswa dapat menambah
pemahaman tentang materi ini dan mampu berpikir lebih kritis maupun sistematis, sehingga
untuk kedepannya mahasiswa sebagai calon guru dapat mengaplikasikan materi ini di lapangan
atau setelah menjadi guru.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan dari latar belakang, penulis membatasi materi yang akan kami kritik,
antara lain:
1. Bagaimana isi di setiap struktur ?
2. Bagaimana inti sari atau ringkasan dari setiap bab buku ?
3. Bagaimana kelebihan dan kekurangan buku ?

C. Tujuan
Adapun tujuan critikal book ini untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan isi buku,
menguji kualitas buku dengan membandingkan terhadap karya dari penulis yang sama atau
penulis lainnya. Kemudian manfaatnya untuk memenuhi tugas kuliah dan untuk menambah
pengetahuan tentang bagaimana mengkritik sebuah buku.

1
BAB II

RINGKASAN BUKU

2.1. BUKU UTAMA


BAB I SIFAT-SIFAT UMUM TANAH
Semua macam tanah ini secara umum terdiri dari tiga bahan yaitu butiran tanahnya
itu sendiri, serta air dan udara yang terdapat dalam ruangan antara butir-butir tersebut.
Ruangan ini disebut pori (voids). Apabila tanah sudah benar-benar kering maka tidak akan
ada air sama sekali dalam porinya. Air dapat di hilangkan sama sekali dari tanah apabila
diambil tindakan khusus untuk maksud itu, misalnya dengan memanaskan didalam oven.

Sebaliknya kita sering menemukan keadaan dimana pori tanah tidak mengandung
udara sama sekali, jadi pori tersebut menjadi penuh terisi air. Di Indonesia sering terdapat
tanah yang tidak jenuh air sehingga perlu kita insyafi bahwa pemakaian teori-teori untuk
tana semacam ini kurang tepat. Walaupun demikisn, jumlah udara yang terdapat pada tanah
yang tidak jenuh air, biasanya sangat sedikit sehingga untuk keperluan soal-soal praktis
masih dapat dianggap sebagai tanah yang jenuh air.

Sifat-sifat suatu macam tanah tertentu banyak bergantung pada ukuran butirannya.
Karena itu pengukuran besarnya butiran tanah merupakan suatu percobaan yang sangat
sering dilakukan dalam bidang mekanika tanah. Besarnya butiran juga merupakan dasar
untuk klasifikasi atau pemberian nama kepada macam-macam tanah tertentu. Biasanya suatu
macam tanah tertentu terdiri dari butiran-butiran yang termasuk beberapa golongan, yaitu
kerikil sering mengandung pasir dan lepung, dan pasir sering mengandung pasir lanau atau
lempung.

BAB II DESKRIPSI DAN KLASIFIKASI TANAH

Landasan Umum untuk menyatakan dan klasifikasi tanah dalam teknik sipil.

Dari sudut pemandangan teknis, tanah-tanah itu dapat digolongkan kedalam macam
pokok berikut ini :
1. Batu kerikil (grsvel) : terdiri dari batu krikil biasanya terdiri dari pecahan-pecahan
batu, terkadang terdiri dari zat mineral.

2
2. Pasir (sand)
3. Lanau (silit): merupakan peralihan antara lempung dan pasir halus dan lebih mudah di
tembus oleh air.
4. Lempung inoganik (Clay): terdiri dari butir-butir sangat kecil dan menunjukkan sifat-
sifat plastisitas dan cohesi.
1. Deskripsi Sistematik

Klasifikasi tanah dapat dilakukan secara visuil atau dapat didasarkan pada hasil-hasil
percobaan laboratorium. Apabila sudah diketahui bahwa butir-butir tanah tersebut,
seluruhnya lebih halus dari 0,06mm, maka tak perlu lagi mengukur lebih lanjut
ukuran-ukuran butirannya, untuk menentukan apakah tanah itu lanau atau lempung.

2. Deskripsi Visuil
Bila hampir seluruh tanah itu lebih kasar dari ukura batas ini, maka diberi nama yang
sesuai, dengan memperhatikan perbandingan relatip dari ukuran butir-buti yang ada,
sebagai dasar untuk menyatakan contoh Krikil kepasiran dimana artinya suatu bahan
yang hampir selutuhnya terdiri dari pasir, tetapi ada mengandung sejumblah lempung.

BAB III PEMADATAN TANAH

Tanah yang digunakan untuk pembuatan tanggul, bendungan tanah, dasar jalan
harus dipadatkan untuk:

1. Menaikan kekuatannya
2. Memperkecil “compressibility”nya dan daya rembesan airnya.
3. Memperkecil pengaruh air terhadap tanah tersebut.
Pemadatan adalah suatu proses dimana udara pada pori-pori tanah di keluarkan dengan
salah satu mekanis. Proses pemadatan berlaianan sama sekali dengan proses.
“consolidasi” dan kedua istilah ini tidak boleh dicampur baur.
Tujuan pemadatan dilapangan adalah memadatkan tanah pada keadaan kadar air
optiumnya, sehingga tercapai keadaan paling padat. Dengan demikian tanah tersebut
akan mempunyai kekuatan yang relatif besar,compressibility yg kecil, dan pengruh aiir
terhadapnya akan diperkecil.

3
BAB IV REMBESAN AIR DALAM TANAH

Pori-pori ini selalu berhubungan dengan yang lain sehingga air dapat mengalir
melalui ruangan pori tersebut. Proses ini disebut dengan rembesan (sepage) dan
kemampuan tanah untuk dapat di rembes air disebut daya rembes(permetely).

Daya Rembesan dimana rembesan air dalam tanah hampir selalu berjalan dengan secara
“linier”, yaitu jalan atau garis yang di tempuh air merupakan gais dengan bentuk yang
teatur (smoth curve)

Syarat-syarat pada perbatasan

1. Perbatasan yang tidak dapat dirembes air.


2. Perbatasan air dengan tanah.
3. Permukaan rembesan
4. Garis rembesan

BAB V KONSOLIDASI DAN PENURUNAN

Pada Umumnya Konsolidasi ini akan berlangsung dalam sau juurusan saja, yaitu
jurusan vertikal, karena lapisan yang kena tambahan beban itu tidak dapat bergerak
dalam jurusan horizontal ( ditahan oleh tanah disekelilingnya).

Pada waktu konsolidasi berlangsung, gedung atau bangunan diatas lapisan


tersebut akan menurun (steele). Dalam bidang teknik sipil ada dua hal yang perlu
diketahui mengenai penurunan itu, yaitu :

a. Besarnya penurunan yang akan terjadi.


b. Kecepatan penurunan ini.

Bilamana tanah terdiri dari lempungg mka penurunan akan agak besar sedangkan
kalau tanah terdiri dari pasir, penurunan kecil. Karena itu lempung dikatakan
mempunyai “high compressibility” dan pasir mempunyai “low compressibility.”
Penurunan pada lempung biasanya makan waktu yang lama, karna daya rembesan air
sangat rendah. Dalam istilah Normally Consoliated. Dimana istilah ini digunakan untuk

4
menggambarkan suatu sifat yang penting dari lapisan lempung endapan (sedimentary
clay). Lapisan semacam ini setelah pengendapannya akan mengalami konsolidasi dan
penurunan akibat tekanan dari lapisan- lapisan kemudian yang mengendap di atasnya.
Dalam bab ini juga membahas mengenai pengukuran konsolidasi, besarnya penurunan
dan hasil percobaan konsolidasi.

BAB VI KEKUATAN GESER TANAH

1. Teori Dasar
Keruntuhan geser ( shear failure) dalam tanah adalah akibat gerak relatip antara
butirannya, bukanlah karena butirannya sendiri hancur. Oleh krena itu kekuatan
tanah tergantung gaya-gaya yang bekerja antara butirnya. Dengan demikian kekuatan
geser tanah dapat dianggap terdiri dari dua bagian (components):
1. Bagian yang bersifat kohesi yang tergantung kepada macam tanah dan kepadatan
butirannya.
2. Bagian yang mempunyai sifat gesekan (frictional) yang sebanding dengan
tegangan efektif yang bekerja pada bidang geser

Pengukuran Kekuatan Geser dimana ada 2 penentuan nilai U juga tidak sulit asal
kedua hal yang berikut di perhatikan : 1. Keadaan air, 2. Kecepatan percobaan.

Cara melakukan percobaan yaitu

1. Percobaan geser langsung


2. Percobaan triaxial

BAB VII TEKANAN TANAH DAN DINDING PENAHAN

Tegangan ini bekerja dalam keadaan dimana deformasi ( gerakan) horizontal tidak
dapat terjadi, karena pada setiap tempat deformasi ini dihindarkan oleh tanah
disekelilingnya.

Pada pembuatan dinding penahan, kita terlebih dahulu melakukan penggalian tanah
kemudian, setelah dinding selesai kita mengisi tanah kembali dibelakang dinding
tersebut. Apabila dinding ini sungguh kaku sehingga tidak dapt bergerak sedikitpun,
maka tegangan yang bekerja pada dinding ini akan tetap besar. Tegangan yang bekerja

5
dalam hal ini disebut tegangan tanah aktif. Ada juga beberapa keadaan dimana dinding
ditekan sehingga bergerak kebelakang. Ada beberapa menghitung tekanan tanah yaitu
dengan Cara Rankine dan Cara coulombs untuk tanah yang tidak berkohesi.

BAB VIII KEMANTAPAN LERENG

Dalam bidang teknik sipil ada 3 macam lereng yang perlu kita perhatikan yaitu

1. Lereng alam
2. Lereng yang dibuat dalam tanah asli.
3. Lereng yang dibuat dari tanah yang dipadatkan.

Pada setiap lereng ini kemungkinan terjadinya longsor selalu ada dan bilamana perlu
kita harus melakukan pemeriksaan atau peniilaian terhadap lereng tersebut untuk
mengetahui apakah akan longsor atau tidak. Biasanya jelas bahawa tanah longsor itu
pada suatu bidang tetrentu. Bidang ini disebut bidang gelincir (slip surface) atau bidang
geser (shear surface),

Bilamana terjadi tanah longsor, maka hal itu berarti bahwa kekuatan geser tanah
telah dilampaui yaitu perlawanan geser pada bidang gelincir tidak cukup besar untuk
menahan gaya-gaya yg bekerja pada bidang tersebut.

Dalam buku ini juga membahas mengenai perhitungan kemantapan lereng (limit
equilibrium) , yang mana ada bebeerapa cara yaitu :

a. Rotational slides
b. Translational slides

Cara-cara untuk mebnstabilkan lereng

Pada prinsipnya, cara yang dipakai untuk menjadikn lereng supaya lebih aman ada
2 golongan yaitu:

a. Memperkecil gaya penggerakan atau momen penggerak .


Yaitu dengan cara mengubah bentuk lereng yang bersangkutan, ada cara
 Membuat lereng lebih datar, yaitu mengurangi sudut kemiringan.
 Memperkecil ketinggian lereng.

6
b. Memperbesar gaya melawan atau momen melawan
 Dengan memakai “counterweight” yaitiu tanah timbunan pada kaki lereng
 Dengan mengurangi tegangan air pori didalam lereng
 Dengan cara mekanis
 Dengan injeksi

2.2. BUKU PEMBANDING


BAB I DEFINISI-DEFINISI TANAH

Untuk keperluan-keperluan teknis, tanah dianggap merupakan suatu lapisan


sedimen lepas seperti krikil, pasir, lanau, lempung, atau suatu campuran dari bahan-
bahan tersebut. Hendaknya jangan dikacaukan dengan definisi tanah secara geologis,
yang merupakan bahan organic pada permukaan yang terpengaruh cuaca, atau tanah
lapisan atas. Tanah terdiri dari butir-butir berbagai macam ukuran yang dijadikan satu,
dengan ruang-ruanh diantara butir-butir yang dikenal sebagai pori-pori. Porositas suatu
tanah didefinisikan sebagai perbandingan antara isi butir dengan isi contoh seluruhnya.
Pori-pori di dalam tanah di bawah muka air tanah harus dianggap sebagai terisi penuh
dengan air, dalam hal mana derajat kejenuhan adalah 1, atau porsentase kejenuhan 100
persen.

BAB II PEMADATAN

Dalam semua pekerjaan teknik sipil, tanah dipergunakan sebagai suatu ahan
bangunan. Pemadatan suatu tanah dilakukan untuk meningkatkan sifat-sifat tanah, dan
merupakan suatu cara yang ditentukan oleh sarjana teknik. Pemadatan dilakukan dengan
menggilas atau menumbuk dan menimbulkan pemampatan pada tanah dengan mengusir
udara dari pori-pori. Adalah tidak mungkin menghilangkan air dari pori-pori dengan
pemadatan, akan tetapi penambahan air pada tanah yang sedikit lembab membantu
pemadatan dengan mengurangi tarikan permukaan. Akan tetapi terdapat suatu kadar air
optimum, di atas mana tambahan air akan menyebabkan meningkatnya pori-pori.

7
BAB III KLASIFIKASITANAH

A. IDENTIFIKASI DI LAPANGAN
Di dalam teknik sipil suatu tanah dapat meliputi setiap lapisan endapan
lepas. Ini dapat meliputi pasir, lempung, kerikil, napal ( marl ), dan sebagainya.
Supaya dapat membahas sifat-sifat dari tipe tipe tanah yang berbeda, pertama-
tama perlu untuk mempunyai beberapa cara untuk mengklasifikasikan mereka.
Ada banyak cara untuk mengklasifikasikan tanah, berdasar geologis, berdasar
kadar mineral, berdasarkan ukuran butir atau berdasar plastisitas. Dua yang
terakhir merupakan yang paling banyak digunakan oleh para ahli teknik sipil.

Dalam system ukuran butir, tanah dibagi kedalam tanah tidak kohesif
berbutir kasar, tanah kohesif berbutir halus, dan tanah organic yang selanjutnya
dibagi lagi kedalam kerikil, pasir, lanau dan lain-lain. Sedangkan dalam
plastisitas, tanah kohesif berbutir halus dibagi kedalam lanau dan lempung
menurut plastisitasnya.

B. PEMBAGIAN UKURAN BUTIR


Ada sejumlah system-sistem klasifikasi ukuran butir yang dipakai menurut
British Standard Institution yang meliputi:

1. Analisis Kasar ( percobaan saringan )


Untuk analisis kasar, baik basah ataupun kering, dapat dipakai saringan.
Dalam kedua keadaan, suatu contoh tanah yang dikeringkan dalamtungku
ditimbang dan dilewatkan melalui suatu kelompok saringan. Berat tanah kering
yang tertahan diatas setiap saringan dicatat, dan dihitung porsentase dari contoh
total yang melewati setiap saringan.
2. Analisis Halus
Teori analisis halus adalah berdasarkan pada hukum Stoke mengenai
hukum penurunan ( settlement ), yaitu bola-bola kecil didalam suatu cairan
akan turun pada kecepatan-kecepatan yang berbeda tergantung kepada ukuran
bola itu.

8
BAB IV DAYA REMBES
Daya rembes merupakan suatu ukuran kemudahan air mengalir melalui batu-batu
dan tanah. Hal ini penting bagi ahli teknik sipil pada waktu memperhitugkan rembesan
dibawah bendungan-bendungan, pengeringan bidang tanah atau penurunan muka air
tanah. Ketelitian pengukuran daya rembes harus selalu diingat bahwa pengukuran daya
rembes suatu tanah tidak akan pernah diteliti.

Pertama-tama adanya perkisaran yang sangat luas dari harga-harga yang tercakup
untuk suatu lanau halus, akan membatasi derajat ketelitian yang diperoleh secara normal
di dalam perhitungan-perhitungan. Variasi yang luas dari tanah pada suatu tempat akan
menyebabkan variasi-variasi di dalam daya rembes, tergantung kepada arah pengaliran.

Suatu taksiran daya rembes tanah dapat dibuat dengan memakai lubang-lubang
bor yyang dibuat pada waktu penyelidikan di lapangan. Terdapat banyak cara empiris
untuk menentukan daya rembes dengan jalan ini, dan dengan diberikan batas
ketidaktelitian yang umum dalam menentukan daya rembes, ini adalah metoda-metoda
yang memuaskan dan dapat diterima akal.

BAB V KONSOLIDASI
Penurunan merupakan penyebab yang paling umum bagi keruntuhan fondasi-
fondasi dan karenanya sangat penting untuk memahami mekanisme penurunan.
Deformasi elastic dari tanah apabila dibebani, akan terjadi segera setelah beban
dipasang, dank arena itu relative dapat diperbaiki dengan mudah. Akan tetapi,
konsolidasi jangka panjang dari tanah lempung dapat memerlukan waktu bertahun-
tahun untuk menjadi sempurna, dengan mengakibatkan kerusakan pada konstruksi yang
terjadi lama setelah penyelesaian pekerjaan.

Pada tanah berbutir kasar, konsolidasi terjadi dengan cepat dan karenanya
merupakan masalah yang berbeda. Mungkin terdapat pula penurunan yang lebih lanjut
pada waktu konsolidasi hamper sempurna, yang disebabkan oleh “rangkak” dalam
massa tanah, ini dikenal sebagai penurunan sekunder. Konsolidasi jangka panjang dari
tanah-tanah lempung barangkali merupakan tipe penurunan yang paling menyulitkan.

9
BAB VI KEKUATAN GESER

Kekuatan geser suatu tanah dapat didefinisikan sebagai tahanan maksimum dari
tanah terhadap tegangan geserdi bawah suatu kondisi yang diberikan. Kondisi-kondisi
yang ditekankan di atas terutama bersangkutan dengan sifat-sifat drainase tanah. Untuk
suatu tanah berbutir kasar, drainase pada umumnya baik dan terjadi seperti yang
dihasilkan dalam percobaan. Akan tetapi suatu tanah berbutir halus, akan mongering
dengan sangat lambat dan karenanya kecepatan percobaan merupakan suatu faktor yang
penting. Ada beberapa percobaan geser dasar yang dapat dilakukan terhadap suatu
tanah, yang mana apabila dilakukan dengan kondisi drainase yang sama, harus
memberikan hasil-hasil yang sebanding. Percobaan tersebut diantaranya:

1. Percobaan kotak geser


2. Percobaan tekan Tri-Axial
3. Percobaan-percobaan yang lebih lanjut, meliputi:
a. Percobaan tekan bebas
b. Percobaan baling-baling, dan
c. Percobaan geser sisa
BAB VII TEKANAN-TEKANAN TANAH PADA DINDING PENAHAN
A. Tekanan Aktif ( Active Pressure )
Suatu dinding penahan tanah dalam keseimbangan menahan tekanan horizontal.
Tekanan ini dapat dievaluasi dengan teori elastic, akan tetapi adalah lebih praktis
untuk memakai suatu koefisien tekanan tanah pada dasar Ko, jadi apabila berat
tanah di atas suatu kedalaman z dan Yz, maka tekanan tanah horizontal pada dasar =
KoYz.

B. Tekanan Pasif ( Passive Resistance )


Dalam hal-hal tertentu, suatu dinding dapat terdorong kearah tanah, seperti
pada perluasan kepala jembatan atau di sebelah luar dari suatu dinding penahan.
Harga maksimum dari tekanan ini pada titik keruntuhan tanah dikenal sebagai
tekanan pasif atau tahanan pasif.

10
C. Dindig-Dinding Turap
Dinding-dinding turap pada umumnya bergantung kepada tahanan pasif tanah
untuk mempertahanka keseimbangan. Persoalan dengan turap ialah untuk
menentukan kedalaman turap yang harus dipancang supaya stabil dan ekonomis.
Apabila tanah yang harus ditahan tinggi, maka biasanya turap akan perlu diikat ke
belakang di dekat permukaan untuk mempertahankan keseimbangan. Untuk
kedalaman-kedalaman yang kecil, turap dapat bekerja sebagai suatu kantilever.
Apabila turap mengalami tekanan aktif dari tanah yang ditahan, maka tanah di
depan turap akan mengalami tekanan pasif.

BAB VIII STABILITAS LERENG

Suatu keruntuhan teknis yang paling umum adalah longsornya suatu timbunan
atau galian, dan telah dilakukan sejumlah besar penelitian untuk mencari sebab-sebab
keruntuhan ini. Air sering merupakan penyebab kelongsoran tanah, baik dengan
mengikis suatu lapisan pasir, melumasi batuan ataupun meningkatkan kadar air suatu
lempung, dan karenanya mengurangi kekuatan geser. Apabila terjadi suatu longsoran
dalam tanah lempung, seringkali didapat merupakan sepanjang bsur lingkaran, dan
karenanya bentuk inilah yang dianggap terjadi pada waktu mempelajari stabilitas suatu
lereng. Busur lingkaran ini, dapat memotong permukaan lereng melalui titik kaki lereng,
atau memotong dasar lereng dan menyebabkan pengangkatan pada dasar.

Sebab-sebab keruntuhan lereng pada suatu galian akan sangat berbeda dengan
pada suatu timbunan. Suatu galian adalah suatu kasus tanpa pembebanan dimana tanah
dihilangkan, oleh karena itu menyebabkan suatu sokongan tegangan di dalam tanah.
Tahanan tanah akan menghambur dengan waktu dan suatu bagian dari persoalan
perencana adalah untuk meramalkan sifat-sifat tanah selama masa hidup rencana dari
suatu galian.

11
BAB III

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

3.1. KELEBIHAN

3.1.1. BUKU UTAMA


1. Dalam buku utama ini menjabarkan pembahasan perbabnya dilakukan secara
strukur, atau berurut.
2. Memberika rumus-rumus dalam menghitung contohya menghitung lempung
tanah, besar butiran tanah.
3. Dalam buku memberikan penjelasan mengenai Tanah seblum membahas
rumusan.
4. Dilengkapi dengan gambar.
3.1.2. BUKU PEMBANDING
1. Dalam buku pembanding ini memberikan kelebihan dimana buku ini terlebih
dahulu menjelaskan bagaimana tanah itu, apa defenisi dari tanah itu.
2. Dalam buku memberikan cara-cara mengitung misalnya rembesan tanah
rumusan yang dibuat tersusun.
3. Dilengkapi dengan gamabar.

3.2. KEKURANGAN
3.2.1. BUKU UTAMA
Kekurangan dalam buku utama ini adalah kurangnya penjelasan sebelum
memasuki rumus-rumus yangakan di pelajari. Contohnya pengertian tanah itu
apa, pencetus tanah asal tanah terbentuk. Kemudian pada buku ini kurangnya teori
dan contoh soal.
3.2.2. BUKU PEMBANDING
Dalam buku ini kekurangannya hampir sama dengan buku utama dimana
kurangnya pembahasan contoh soal, dan kurangnya teori mengenai Tanah.

12
BAB IV

PENUTUP

4.1. KESIMPULAN
Kesimpulan dari kedua buku ini adalah bahwa buku ini membahas mengenai Tanah,
klasifikasi perhitungan tanah dan jenis-jenis Tanah. Bagaimana cara menghitung rembesan
air bagaimana sifat-sifat tanah dan bagaimana benukan butiran tanah. Kedua buku
merupakan buku yang cocok digunakan oleh teknik sipil.

4.2. SARAN
Hendaknya buku yang kita revisi dapat menjadi penambahan ilmu kita mengenai tanah
Dan dapat dijadikan sarana mendewasakan pembacanya menjadi orang sadar dan
bertanggung jawab.

13
DAFTAR PUSTAKA

Wesly.L.D.1973. Mekanika Tanah. Jakarta: Badan penerbit pekerjaan


Madyayanti, Elly.1992. Mekanika Tanah. Jakarta: Erlangga

14