Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

PLN sebagai Perusahaan Listrik Negara berusaha untuk mensuplay energi


listrik yang ada dengan seoptimal mungkin seiring dengan semakin meningkatnya
konsumen energi listrik. Agar dapat memanfaatkan energi listrik yang ada serta
menjaga kualitas sistem penyaluran dan kerusakan peralatan, maka diperlukan
suatu sistem pengaman dan sistem pemeliharaan instalasi gardu induk. Hal tersebut
harus memperhatikan aspek teknis, ekonomis dan yang sesuai dengan kondisi
peralatan yang ada.
Suatu sistem hakekatnya adalah peranan penting bagi peralatan dan manusia
itu sendiri. Pemeliharaan instalasi Gardu Induk pada hakekatnya adalah untuk
mendapatkan kepastian atau jaminan bahwa sistem suatu peralatan yang dipelihara
akan berfungsi secara optimal meningkatkan umur teknisnya dan keamanan bagi
personil. Salah satu peralatan yang dipelihara adalah CB / PMT pemutus Tenaga,
yaitu salah satu peralatan proteksi yang terpasang di Gardu Induk yang berfungsi
untuk memutuskan dan menghubungkan tenaga listrik dalam keadaan berbeban.
PMT dapat memutuskan hubungan tenaga listrik dalam keadaan gangguan maupun
dalam keadaan berbeban, dan proses ini harus dilakukan dengan cepat. Pemutus
tenaga atau CB Harus dijaga keandalanya agar dapat melaksanakan tugas
sebagaimana mestinya,untuk itu perlu diadakan adanya pemeliharaan yang
bertujuan untuk menjaga keandalan kerja dari PMT.

1.2. Tujuan Kerja Praktek


Kurikulum studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Surakarta, mata
kuliah kerja praktek merupakan kuliah yang wajib dilaksanakan oleh mahasiswa
dalam persyaratan kelulusan.

1
Kerja praktek yang dilakukan di gardu induk 150 kV Palur, PT. PLN
(Persero) Transmisi Jawa Bagian Tengah (Trans JBT) APP Salatiga bertujuan
untuk :
1.2.1. Mengetahui peralatan-peralatan pada gardu induk.
1.2.2. Mengetahui cara pemeliharaan Circuit Breaker (PMT) pada gardu
induk 150 kV Palur.
1.2.3. Menjelaskan cara kerja sistem proteksi Circuit Breaker (PMT) pada
gardu induk 150 kV Palur.

1.3. Tempat dan Waktu Praktek


Kerja praktek ini dilaksanakan selama satu bulan, dimulai tanggal 01
Agustus 2016 sampai dengan 31 Agustus 2016, bertempat PT. PLN (Persero)
Transmisi Jawa Bagian Tengah Area Pelaksana Pemeliharaan Salatiga
Basecamp Surakarta Gardu Induk 150kV Palur.

1.4. Pembatasan Masalah


Mengingat luasnya ruang lingkup dan persepsi pembaca terhadap judul
Pemutus Tenaga (PMT) maka dapat diidentifikasikan masalah pada
pemeliharaan Pemutus Tenaga (PMT) dengan menggunakan vanguard.

1.5. Metode Pengumpulan Data


Metode yang digunakan untuk pengumpulan data dalam pelaksaan
kerja praktek ini adalah :
1.5.1. Pengamatan langsung
Dilakukan dengan cara mengamati langkah-langkah yang
dikerjakan dalam proses pemeliharaan dua tahunan pada bay Solo
Baru 2 dan mencatat point-point penting ketika uji keserempakan dan
uji tahanan kontak dalam pemeliharaan Pemutus Tenaga (PMT)
menggunakan vanguard di PT. PLN (Persero) Transmisi Jawa Bagian
Tengah APP Salatiga Gardu Induk 150 kV Palur.

2
1.5.2. Wawancara
Berupa pengumpulan informasi dan konsultasi secara lisan
dengan pihak-pihak yang terkait.

1.5.3. Pengambilan data


Dilakukan ketika proses pemeliharaan dua tahunan pada bay
Solo Baru 2 dengan mencatat hasil-hasil pengujian Pemutus Tenaga
(PMT) dengan menggunakan vanguard untuk memperoleh data hasil
uji keserempakan dan uji tahanan kontak di PT. PLN (Persero)
Transmisi Jawa Bagian Tengah APP Salatiga gardu induk 150 kV
Palur.
1.5.4. Studi Pustaka Berupa pengumpulan literature dari para ahli dan
internet sebagai data pelengkap.

3
BAB II
TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

2.1 Sejarah PT PLN (PERSERO) APP Salatiga


PT PLN (Persero) APP Salatiga merupakan salah satu unit dari PT.PLN
(Persero) P3B Jawa Bali dimana dibentuk berdasarkan SK Direktur
No.1466.K/DIR/2011 tanggal 13 Desember 2011. Sejak 1 Januari 2016. PT.PLN
(Persero) P3B Jawa Bali APP Salatiga berubah nama menjadi PT.PLN (Persero)
Transmisi Jawa Bagian Tengah APP Salatiga atau PT.PLN (Persero) Trans JBT
APP Salatiga. Proses Bisnis APP Salatiga adalah Pelaksana Pemeliharaan. Tugas
utama PT PLN (Persero) APP Salatiga adalah mengelola transmisi dan transaksi
tenaga listrik di wilayah sistem Salatiga, Yogyakarta, Surakarta secara unggul,
andal, terpercaya Wilayah Kerja PT PLN (Persero) APP Salatiga adalah meliputi 3
(tiga) daerah atau Basecamp yaitu Basecamp Salatiga, Yogyakarta dan Surakarta
dengan jumlah gardu induk yang dikelola sebanyak 31 (tiga puluh satu), dimana
terdapat 62 Trafo IBT Dan Trafo Distribusi (3638 MVA) serta panjang transmisi
2101,702 kms.

2.2 Visi dan Misi PT.PLN (PERSERO)


a. Visi
Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang pertumbuh
kembang, Unggul dan Terpercaya dengan bertumpu pada potensi
Insani.
b. Misi
1) Melakukan dan mengelola penyaluran tenaga listrik.
2) Menjalani bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait
berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan
dan pemegang saham.
3) Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk
meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

4
4) Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong
kegiatan ekonomi.
5) Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.

2.2.1 Visi dan Misi PT. PLN (PERSERO) Trans JBT APP Salatiga
a. Visi
Menjadi unit pengelola transmisi dan transaksi tenaga listrik
yang Unggul, Andal dan Terpercaya berkelas dunia.
b. Misi
1) Melakukan dan mengelola penyaluran tenaga listrik tegangan
tinggi secara efisien, andal, dan akrab lingkungan.
2) Mengelola transaksi tenaga listrik secara kompetitif,
transparan dan adil.

2.3 Moto
Listrik untuk kehidupan yang lebih baik . (the electricity for a better life)

Gambar 2.1 Wilayah Kerja PT PLN (Persero) APP Salatiga

5
4. Struktur Organisasi PT. PLN (Persero) APP Salatiga

2.5. Jumlah Aset di PT. PLN (PERSERO) APP SALATIGA

Dalam menjalankan fungsinya sebagai pengelola dan pemeliharaan,


APP Salatiga memiliki aset yang terpasang dan tersebar di seluruh wilayah
Salatiga, Surakarta dan Yogyakarta. Jumlah aset yang dimiliki APP Salatiga
s.d tahun 2012 adalah Rp 3,935 Triliun.
Jumlah Gardu Induk yang dikelola APP Salatiga saat ini berjumlah 31
unit, baik GIS maupun GI Konvensional baik di GITET 500 Kv maupun GI
150 Kv.

6
Berikut tabel Gardu Induk yang di kelola oleh PT PLN (PERSERO) ,
TRANSMISI JAWA BAGIAN TENGAH, AREA PELAKSANA
PEMELIHARAAN SALATIGA :

Tabel 1.Gardu Induk dikelola APP Salatiga


No Base Camp Jumlah 500 Kv 150Kv
GI GIS GI GIS
1 Salatiga 8 - - 8 -
2 Surakarta 12 1 - 10 1
3 Yogyakarta 11 - - 9 2

2.6. Gambar Single Line Diagram Gardu Induk 150 kV Palur

7
BAB III

PERALATAN UMUM GARDU INDUK

3.1. Sistem Tenaga Listrik


Sistem Tenaga Listrik (Electric Power System) meliputi 3 komponen,
yaitu :
3.1.1. Sistem Pembangkit Listrik
3.1.2. Sistem Transmisi Tenaga Listrik
3.1.3. Sistem Distribusi tenaga Listrik

3.2. Pengertian Gardu Induk


Gardu Induk (GI) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari saluran
transmisi distribusi listrik. Dimana suatu sistem tenaga yang dipusatkan pada
suatu tempat berisi saluran transmisi dan distribusi, perlengkapan hubung
bagi, transfomator, dan peralatan pengaman serta peralatan control.
Fungsi utama dari gardu induk :
1. Untuk mengatur aliran daya listrik dari saluran transmisi ke saluran
transmisi lainnya yang kemudian didistribusikan ke konsumen.
2. Sebagai tempat control.
3. Sebagai pengaman operasi sistem.
4. Sebagai tempat untuk menurunkan tegangan transmisi menjadi tegangan
distribusi.
Oleh karena itu, jika dilihat dari segi manfaat dan kegunaan dari
gardu induk itu sendiri, maka peralatan dan komponen dari gardu induk harus
memiliki keandalan yang tinggi serta kualitas yang tidak diragukan lagi, atau
dapat dikatakan harus optimal dalam kinerjanya sehingga masyarakat sebagai
konsumen tidak merasa dirugikan oleh kinerjanya.
Sesuatu yang berhubungan dengan rekonstruksi pembangunan
gardu induk harus memiliki syarat-syarat yang berlaku dan pembangunan

8
gardu induk perlu diperhatikan besarnya beban. Maka perencanaan suatu
gardu induk harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Operasi, yaitu dalam segi perawatan dan perbaikan mudah
2. Flexsibel
3. Konstruksi sederhana dan Kuat
4. Memiliki tingkat keandalan dan daya guna yang tinggi
5. Memiliki tingkat keamanan yang tinggi

Jenis Gardu Induk Berdasarkan Isolasi Busbar:


1. Gardu Induk Konvensional adalah Gardu Induk yang peralatan
instalasinya berisolasikan udara bebas karena sebagian besar
peralatannya terpasang di luar gedung (switch yard) dan sebagian kecil
di dalam gedung (HV cell, dll) dan memerlukan areal tanah yang relatif
luas.
2. Gardu Induk GIS (Gas Insulated Switchgear) adalah suatu gardu
induk yang semua peralatan switchgearnya berisolasikan gas SF-6 ,
karena sebagian besar peralatannya terpasang di dalam gedung dan
dikemas dalam tabung system penyaluran (transmisi) secara
keseluruhan.

3.3. Sistem Peralatan Utama Pada Gardu Induk 150 kV


3.3.1. Lighting Arrester (LA)
3.3.2. Potensial Transformer (PT)
3.3.3. Pemisah Tegangan (PMS)
3.3.4. Current Trasformer (CT)
3.3.5. Pemutus Tegangan (PMT)
3.3.6. Busbar / Rel
3.3.7. Transformator Daya
3.3.8. SCADA dan Telekomunikasi

9
3.4. Fungsi dan Spesifikasi Peralatan Gardu Induk
3.4.1. Lighting Arrester (LA)

Gambar 3.1 Lighting Arrester (LA)

Lighting Arrester merupakan peralatan yang memiliki peran


penting didalam koordinasi isolasi peralatan digardu induk. Fungsi
utama dari Lightning arrester adalah melakukan pembatasan nilai
tegangan pada peralatan gardu induk yang dilindunginya dari
tegangan surja (surja hubung maupun surja petir) dan pengaruh follow
current. Sebuah arrester harus mampu bertindak sebagai insulator,
mengalirkan beberapa milli ampere arus bocor ketanah pada tegangan
sistem dan berubah menjadi konduktor yang sangat baik, mengalirkan
ribuan ampere arus surja ketanah, memiliki tegangan yang lebih
rendah dari pada tegangan withstand dari peralatan ketika terjadi
tegangan lebih, dan menghilangkan arus susulan yang mengalir dari
sistem melalui arrester (power follow current) setelah surja petir atau
surja hubung berhasil didisipasikan. Panjang lead yang
menghubungkan Arrester pun perlu diperhitungkan, karena induktive
voltage pada lead ini ketika terjadi surja akan mempengaruhi nilai
tegangan total paralel terhadap peralatan yang dilindungi.

10
3.4.2. Potensial Transformer (PT)

Gambar 3.2 Potensial Transformer (PT)


Potensial Transformer atau trafo tegangan adalah suatu
peralatan listrik yang dapat mentransformasi tegangan sistem yang
lebih tinggi ke suatu tegangan sistem yang lebih rendah untuk
peralatan indikator, alat ukur atau meter dan relay. Pada gardu induk
terdapat dua jenis potensial transformer yaitu potensial transformer
bus dan potensial transformer Line yang secara umum fungsi dan
kegunaannya sama, hanya saja yang membedakan adalah
penempatannya.
Adapun fungsi potensial transformer antara lain :
a. Mentransformasikan besaran tegangan sistem yang dapat
digunakan untuk peralatan proteksi dan pengukuran yang lebih
aman, akurat dan teliti.
b. Mengisolasi bagian primer yang tegangannya sangat tinggi
dengan bagian sekunder yang tegangannya sangat rendah untuk
digunakan sebagai sistem proteksi dan pengukuran peralatan
dibagian primer.
Adapun bagian-bagian potensial transformer ada 2 jenis yaitu :

11
a. Trafo Tegangan Magnetik (Magnetic Voltage Transformer / VT)
Disebut juga trafo tegangan induktif. Terdiri dari belitan primer
dan sekunder pada inti besi yang prinsip kerjanya belitan primer
menginduksikan tegangan ke belitan sekundernya.
b. Trafo Tegangan Kapasitif (Capasitive Voltage Transformer /
CVT) Trafo tegangan ini terdiri dari rangkaian seri 2 (dua)
kapasitor atau lebih yang berfungsi sebagai pembagi tegangan
dari tegangan tinggi ketegangan rendah pada primer, selanjutnya
tegangan pada satu kapasitor ditransformasikan menggunakan
trafo tegangan yang lebih rendah agar diperoleh tegangan
sekunder.

3.4.3. Pemisah Tegangan (PMS)

Gambar 3.3 Pemisah Tegangan (PMS)


Disconnecting Switch atau pemisah (PMS) adalah suatu
peralatan sistem tenaga listrik yang berfungsi sebagai saklar pemisah
rangkaian listrik tanpa arus beban (memisahkan peralatan listrik dari
peralatan lain yang bertegangan), dimana pembukaan atau penutupan
PMS ini hanya dapat dilakukan dalam kondisi tanpa beban.
Adapun 2 macam fungsi PMS yaitu :

12
a. Pemisah peralatan, berfungsi untuk memisahkan peralatan listrik
dari peralatan lain atau instalasi lain yang bertegangan. PMS ini
boleh dibuka atau ditutup hanya pada rangkaian yang tak
berbeban.
b. Pemisah tanah (pisau pentanahan atau pembumian) berfungsi
untuk mengamankan dari arus tagangan yang timbul sesudah
saluran tegangan tinggi diputuskan atau induksi tegangan dari
penghantar atau kabel lainnya. Hal ini perlu untuk keamanan bagi
orang-orang yang bekerja pada peralatan instalasi.

3.4.4. Current Transformer (CT)

Gambar 3.4 Current Transformer (CT)

Trafo arus (Current Transformer) yaitu peralatan yang


digunakan untuk melakukan pengukuran bessaran arus pada instalasi
tenaga listrik disisi primer (TET, TT dan TM) yang berskala besar
dengan melakukan transformasi dari besaran arus yang besar menjadi

13
besaran arus yang kecil secara akurat dan teliti untuk keperluan
pengukuran dan proteksi.
Adapun fungsi Current Transformer antara lain :
a. Mengkonversi besaran arus padea sistem tenaga listrik dari
besaran primer menjadi besaran sekunder untuk keperluan
pengukuran sistem metering dan proteksi.
b. Mengisolasi rangkaian sekunder terhadap rangkaian primer,
sebagai pengamanan terhadap manusia atau operator yang
melakukan pengukuran.
c. Standarisasi besaran sekunder, untuk arus nominal 1 Amp dan 5
Amp.
Secara fungsi trafo arus dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Trafo arus pengukuran
1) Trafo arus pengukuran untuk metering memiliki
ketelitian tinggi pada daerah kerja (daerah pengenalnya)
5 % sampai 120% arus nominalnya tergantung dari
kelasnya dan tingkat kejenuhan yangh relatif rendah
dibandingkan trafo arus untuk proteksi.
2) Penggunaan trafo arus pengukuran untuk amperemeter,
watt meter, VARh-meter, dan KWh meter.
b. Trafo arus proteksi
1) Trafo arus proteksi, memiliki ketelitian tinggi pada saat
terjadi gangguan dimana arus yang mengalir beberapa
kali dari arus pengenalnya dan tingkat kejenuhan cukup
tinggi.
2) Penggunan trafo arus proteksi untuk relay arus lebih
(OCR dan GFR), relay beban lebih, relay differensial,
relay daya, dan relay jarak.
3) Perbedaan mendasar trafo arus pengukuran dan proteksi
adalah pada titik saturasinya.

14
4) Trafo arus untuk pengukuran dirancang supaya lebih
cepat jenuh dibandingkan trafo arus proteksi sehingga
konstruksinya semakin luas penampang inti yang lebih
kecil.

3.4.5. Pemutus Tegangan (PMT)

Gambar 3.5 Pemutus Tegangan (PMT)

Pemutus tegangan (PMT) atau juga sering disebut circuit


breaker (CB) merupakan peralatan saklar ataupun switching yang
digunakan untuk mengalirkan dan memutus arus beban dalam kondisi
normal ataupun pada saat kondisi abnormal/gangguan yang
disebabkan oleh short circuit/hubung singkat mapun gangguan yang
lainnya. Karena pengoperasian PMT pada saat kondisi rangkaian
berbeban maka akan timbul busur api, oleh karena itu PMT harus
dilengkapi dengan pemadam busur api. Pemadam busur api pada PMT
dapat dilakukan dengan beberapa macam bahan, misalnya minyak,
udara, dan gas sulfur (SF6).

15
Pemutus tegangan (PMT) dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa jenis yaitu :
a. Berdasarkan rating tegangan
1) PMT tegangan rendah (Low Voltage)
Dengan range tegangan 0,1 s/d 1 kV
2) PMT tegangan menengah (Medium Voltage)
Dengan range tegangan 1 s/d 35 kV
3) PMT tegangan tinggi (High Voltage)
Dengan range tegangan 35 s/d 245 kV
4) PMT tegangan ekstra tinggi (Extra High Voltage)
Dengan range tegangan lebih besar dari 245 kV
b. Berdasarkan jumlah mekanik penggerak / tripping coil
1) PMT single pole
PMT jenis ini mempunyai mekanik penggerak pada
masing-masing pole, umumnya PMT jenis ini dipasang pada
bay penghantar agar PMT bisa reclose satu fasa.
2) PMT three pole
PMT jenis ini mempunyai suatu mekanik penggerak
untuk 3 fasa, yang berfungsi untuk menghubungkan fasa satu
dengan fasa lainnya yang dilengkapi kopel mekanik,
umumnya PMT jenis ini dipasang pada bay trafo, bay kopel
serta PMT 20 kV untuk distribusi.
c. Berdasarkan media isolasi
1) PMT gas SF6
PMT ini menggunakan gas SF6 sebagai media pemadam
busur api yang timbul pada waktu memutus arus listrik. Gas
SF6 ini mempunyai kekuatan dielektrik yang lebih tinggi
dibandingkan dengan udara dan kekuatan dielektrik ini
bertambah seiring dengan pertambahan tekanan. Umumnya
PMT jenis ini merupakan tipe tekanan tunggal (Single
Pressure Type), dimana selama operasi membuka atau

16
menutup PMT, gas SF6 ditekan kedalam suatu
tabung/silinder yang menempel pada kontak bergerak. Pada
waktu pemutusan, gas SF6 ditekan melalui nozzle dan tiupan
inilah yang akan mematikan busur api.
2) PMT minyak
PMT jenis ini menggunakan minyak/oil sebagai media
pemadam busur api yang timbul pada saat PMT bekerja
membuka atau menutup. PMT minyak dapat dibedakan
menjadi 2, yaitu PMT menggunakan banyak minyak (bulk
oil) dan PMT menggunakan sedikit minyak (small oil).
PMT jenis ini digunakan mulai dari tegangan menengah 6
kV sampai tegangan ekstra tinggi 425 kV dengan arus
nominal 400 A s/d 1250 A
3) PMT udara hembus
PMT ini menggunakan udara sebagai media pemadam
busur api dengan menghembuskan udara bertekanan keruang
pemutus.
4) PMT hampa udara
Ruang hampa udara (vacuum) mempunyai kekuatan
dielektrik (dielektrik strength) yang tinggi dan sebagai media
pemadam busur api yang baik. PMT jenis vakum umumnya
digunakan untuk tegangan menengah

17
3.4.6. Busbar / Rel

Gambar 3.6 Busbar / Rel


Busbar merupakan salah satu bagian dalam suatu gardu induk
yang berfungsi sebagai tempat terhubungnya semua bay yang ada
pada gardu induk tersebut, baik bay line maupun bay trafo. Pada
umumnya sebuah gardu induk didesain dengan dua busbar (double
busbar), sehingga jika terjadi gangguan pada salah satu busbar maka
seluruh bay akan dipindah ke busbar yang lainnya. Namun juga masih
terdapat gardu induk yamg memiliki satu busbar (single busbar).
Pada busbar gardu induk juga dilengkapi dengan potensial
transformer (PT bus), current transformer (CT bus) dan juga kopel.
Potensial transformer bus dan Current Transformer Bus berfungsi
untuk megukur tegangan dan arus yang ada pada bus tersebut. Selain
itu PT bus dan CT bus juga berfungsi untuk sistem proteksi pada
busbar, yang mana jika busbar dalam kondisi abnormal atau dalam
keadaan gangguan bisa terdeteksi oleh sistem proteksi gardu induk.
Kopel merupakan switch yang dipasang pada busbar yang
berfungsi untuk menghubungkan bus satu dengan bus lainnya. Secara
umum dan prinsip kerja kopel adalah sama dengan PMT, karena kopel
juga dilengkapi dengan sistem pemadam busur api yang berfungsi

18
untuk memadamkan busur api ketika proses pemutus dan
penyambungan kopel.

3.4.7. Transformator Daya

Gambar 3.7 Transformator Daya

Transformator daya adalah suatu peralatan pada gardu induk


yang digunakan untuk mentransformasikan daya atau energi listrik
dari tegangan tinggi ketegangan rendah ataupun sebaliknya, melalui
suatu lilitan prinsip induksi elektromagnet.
Trafo daya memiliki bagian-bagian yang masing-masing
komponen memiliki fungsi yang berbeda, diantaranya adalah :
a. Elektromagnetic circuit (inti besi)
Bagian ini digunakan sebagai media jalannya flux yang
timbul akibat induksi arus bolak-balik pada kumparan yang
mengelilingi inti besi pada primer sehingga dapat menginduksi
pada kumparan sekunder. Inti besi dibentuk dari lempengan-
lempengan besi tipis berisolasi yang disusun sedemikian rupa
dapat menghantarkan flux.
b. Current Carrying Circuit (Winding/belitan)
Winding terdiri dari batang tembaga berisolasi yang
mengelilingi inti besi, dimana saat arus bolak-balik (AC)

19
mengalir pada belitan tembaga tersebut, inti besi akan terinduksi
dan menimbulkan flux magnetic.
c. Bushing
Bushing merupakan sarana penghubung antara belitan
dengan jaringan luar, yang terdiri dari sebuah konduktor yang
diselubungi oleh isolator. Isolator tersebut bersebut berfungsi
sebagai penyekat antara konduktor bushing dengan body main
tank transformator.
d. Oil reservation dan expansion
Oil reservation merupakan bagian yang digunakan sebagai
pendingin pada trafo. Saat terjadi kenaikan suhu operasi pada
trafo minyak ini akan memuai sehingga volumenya bertambah.
Sebaliknya saat terjadi penurunan suhu operasi, makan minyak
akan menyusut dan volume minyak akan turun. Konservator
digunakan untuk menampung minyak pada saat trafo mengalami
kenaikan suhu.
Untuk menghindari agar minyak trafo tidak berhubungan
langsung dengan udara luar, maka saat ini konservator dirancang
dengan menggunakan brether bag atau sejenis balon karet yang
dipasang didalam tangki konservator.
e. Tap Changer
Tap Changer merupakan bagian dari trafo daya yang
digunakan sebagai penyesuaian ratio belitan agar tegangan
output/sekunder besarnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan
sistem. Penyesuaian ratio dilakukan dengan mengubah
banyaknya belitan pada sisi primer yang diharapkan dapat
mengubah ratio antara belitan primer dan sekunder. Hal ini
dikarenakan transformator dituntut untuk memiliki nilai tegangan
output/sekunder yang stabil meskipun besarnya tegangan
input/primer tidak selalu sama.

20
Proses perubahan ratio belitan ini dapat dilakukan pada saat
trafo sedang berbeban (onload tap changer) atau saat trafo tidak
berbeban (offload tap changer).
f. NGR (Neutral Grounding Resistance)
NGR adalah sebuah tahanan yang dipasang seri dengan
netral sekunder pada transformator sebelum terhubung ke
ground/tanah. Tujuan dipasangnya NGR adalah untuk
mengontrol besarnya arus gangguan yang mengalir dari sisi netral
ketanah. Pada trafo daya terdapat dua jenis NGR yaitu :
1) Liquid
Liquid merupakan jenis NGR yang menggunakan
larutan air murni yang ditampung didalam bejana dan
ditambahkan garam (NaCl) untuk mendapatkan nilai
resistansi yang diinginkan.
2) Solid
Solid merupakan NGR jenis padat yang terdiri dari
stainless steel, FeCrAl cast iron copper nickel atau nichrome
yang diatur sesuai nilai tahanannya.

3.4.8. SCADA dan Telekomunikasi

Gambar 3.8 SCADA dan Telekomunikasi

21
Data yang diterima scada (supervisory control and data
Acqusition) interface dari berbagai masukan (sensor, alat ukur, relay
dll) baik berupa data digital dan data analog dirubah dalam bentuk
data frekuensi tinggi (50 KHz sampai dengan 500 KHz) yang
kemudian ditransmisikan bersama tenaga listrik tegangan tinggi. Data
frekuensi tinggi yang dikirimkan tidak bersifat kontinyu tapi secara
paker persatuan waktu. Dengan kata lain berfungsi sebagai sarana
komunikasi suara dan komunikasi data serta tele proteksi dengan
memanfaatkan penghantarnya dan bukan tegangan yang terdapat pada
penghantar tersebut. Oleh sebab itu, bila penghantar tak bertegangan
maka Power Line Carrier (PLC) akan tetap berfungsi asalkan
penghantar tersebut tidak terputus. Dengan demikian diperlukan
peralatan yang berfungsi memasukkan dan mengeluarkan sinyal
informasi dari energi listrik diujung-ujung penghantar.
Adapun tiga bagian utama scada yaitu :
a. Master Station
Master station merupakan kumpulan perangkat keras dan
lunak yang ada dikontrol centre. Biasanya desain untk sebuah
master station tidak sama.
Bagian-bagian utama master station adalah :
1) Server
2) Workstation
3) Aplikasi
4) LAN (Local Area Network)
5) Peripheral penunjang
6) Link komunikasi data
b. Remote Station
Remote station adalah stasiun yang dipantau, atau diperintah
dan dipantau oleh master station, yang terdiri dari gateway, IED,
Local HMI, RTU dan meter energi.

22
BAB IV
CIRCUIT BREAKER / PEMUTUS TENAGA (PMT) DI GI
PALUR 150 KV

4.1 Pengertian
Berdasarkan IEV ( International Electrotchnical Vocabulary) 441-14-20
disebutkan bahwa CB/ Circuit Breaker atau pemutus tenaga/ PMT meupakan
peralatan saklar mekanis, yang mampu menutup, mengalirkan, dan memutus arus
beban dalam kondisi normal serta abnormal / saat terjadi gangguan seperti kondisi
short circuit / hubung singkat.
Suatu pemutus tenaga harus mempunyai beberapa syarat antara lain :
1. Mampu menyalurkan arus maksimum system secara terus menerus sesuai
kapasitas nominalnya.

2. Mampu memutuskan dan menutup jaringan dalam keadaan berbeban maupun


terhubung singkat tanpa menimbulkan kerusakan pada PMT itu sendiri.

3. Dapat memutuskan arus hubung singkat dengan kecepatan tinggi agar arus
hubung singkat tidak sampai merusak peralatan system atau membuat system
kehilangan kestabilan, dan merusak pemutus tenaga itu sendiri.

4.2 Perinsip Kerja PMT


Pada kondisi normal PMT dapat dioperasikan lokal oleh operator untuk
maksud switching dan perawatan. Pada kondisi abnormal/gangguan pada CT
(Current Transformer) akan membaca arus lebih yang lewat apabila sudah di
tentukan kemudian relay akan mendeteksi gangguan dan menutup rangkaian trip
circuit, sehingga trip coil energized, lalu mekanis penggerak PMT akan dapat
perintah buka dari relay dan beroperasi membuka kontak – kontak PMT, maka
gangguan pun akan hilang. Mekanis penggerak yang digunakan pada Gardu Induk
150 KV PALUR ini adalah menggunakan mekanis penggerak Spring(Pegas) dan
ada beberapa yang dikombinasikan dengan mekanis penggerak pneumatic, dengan

23
maksud hanya sebagai penggerak pada pegas membuka atau menutup. Pada waktu
pemutusan / menghubungkan daya listrik akan terjadi busur api, yang terjadi pada
kontak – kontak di dalam ruang pemutus. Pemadam busur api dapat dilakukan oleh
beberapa macam bahan peredam, diantaranya yaitu dengan minyak, udara, dan gas.
bahan GAS SF6 (Sulphur Hexafluoride).

4.3 Fungsi PMT


Fungsi utama PMT adalah sebagai alat membuka / menutup suatu rangkaian
listrik dalam kondisi berbeban, serta dapat membuka / menutup saat terjadinya arus
gangguan (hubung singkat) pada jaringan / peralatan lain. Pada dasarnya PMT
terdiri satu atau lebih ruang pemutus yang terdapat satu unit kontak tetap dan ketika
terjadinya pemutusan / menghubungkan arus daya listrik akan terjadi busur api
diantara kontak – kontak dalam ruang pemutus.

4.4 Klasifikasi PMT


Klasifikasi PMT dapat dibagi atas beberapa jenis, antara lain berdasarkan
tegangan rating / nominal, jumlah mekanik penggerak, media isolasi.

4.4.1 Berdasarkan besar/ kelas tegangan


- PMT tegangan rendah
Dengan range tegangan 0,1 s/d 1kV (SPLN 1.1995-3.3).
- PMT tegangan menengah
Dengan range tegangan 1 s/d 35kV (SPLN 1.1995-3.4).
- PMT tegangan tinggi
Dengan range tegangan 35 s/d 245kV (SPLN 1.1995-3.5).
- PMT tegangan extra tinggi
Dengan range tegangan lebih besar dari 245kVAC (SPLN 1.1995-3.6).

4.4.2 Berdasarkan jumlah mekanik penggerak/ tripping coil.


PMT dapat dibedakan menjadi:
- PMT single pole

24
PMT type ini mempunyai mekanik penggerak pada masing- masing pole, umumnya
PMT jenis ini dipasang pada bay penghantar agar PMT bisa reclose satu fasa.

Gambar 4.1 PMT Single Pole

- PMT three pole one drive


PMT jenis ini mempunyai satu penggerak mekanik untuk tiga fasa, guna
menghubungkan satu fasa dengan fasa yang lain dilengkapi dengan kopel mekanik.
Umumnya PMT ini dipasang pada bay trafo dan bay kopel serta PMT 20kV untuk
saluran distribusi.

Gambar 4.2 PMT Three Pole

25
4.4.3 Berdasarkan media isolasi
Jenis PMT dapat dibedakan menjadi:
- PMT gas SF6
- PMT Minyak
- PMT Udara Hembus (air blast)
- PMT Hampa Udara (vacuum)

4.4.4 Berdasarkan proses pemadaman busur api listrik diruang pemutus


Pada PMT SF6 dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
 Tipe tekanan tunggal (single pressure type)
PMT tipe tekanan tunggal terisi gas SF6 dengan tekanan kira-kira 5 Kg / cm2,
selama terjadi proses pemisahan kontak – kontak , gas SF6 ditekan( fenomena
thermal overpressure ) kedalam suatu tabung / cylinder yang menempel pada kontak
bergerak selanjutnya saat terjadi pemutusan gas SF6 ditekan melalui nozzle yang
menimbulkan tenaga hembus / tiupan dan tiupan ini yang memadamkan busur api.
 Tipe tekanan ganda (double pressure type)
PMT tipe tekanan ganda terisi gas SF6 dengan sistim tekanan tinggi kira-kira 12
Kg / cm2 dan sistim tekanan rendah kira-kira 2 Kg / cm2, pada waktu pemutusan
busur api gas SF6 dari sistim tekanan tinggi dialirkan melalui nozzle ke sistim
tekanan rendah. Gas pada sistim tekanan rendah kemudian dipompakan kembali ke
sistim tekanan tinggi, saat ini PMT SF6 tipe ini sudah tidak diproduksi lagi.

4.5 PMT PADA G.I PALUR


Pada G.I Palur, PMT menggunakan media pemadaman gas SF6. Gas SF6
berfungsi sebagai pemadam busur api listrik yang terjadi di antara kontak – kontak
pada waktu membuka dan sebagai isolasi di antara bagian – bagian yang
bertegangan dan bagian yang bertegangan pada body.
Gas SF6 dalam keadaan murni adalah lembam (inert) mempunyai stabilitas
thermal yang baik dan sebagai pemadam busur api yang baik sekali juga sebagai
isolasi yang tinggi. Gas SF6 adalah salah satu senyawa kimia yang stabil hingga

26
suhu 500oC, lembab, tidak berbau, tidak beracun, tidak mudah menyala dan tidak
berwarna.
Berat jenis gas SF6 sekitar 5 kali udara. Ada tekanan yang sama,
kemampuan menstransfer panas sekitar 2 sampai dengan 2,5 kali udara dan
dielektrik – strengthnya sekitar 2,4 kali udara. Pada tekanan 3kg per cm2 sama
dengan dielektrik strength minyak, sifat ini dimungkinnya jarak yang lebih pendek
yang memungkinkan ukuran yang lebih kecil dari peralatan untuk besar kilovolt
(kV) yang sama.
Ada penurunan nilai gas dari gas setelah periode pemadaman busur api, tapi
sangat sedikit dan tidak ada efek terhadap dielektrik strengthnya dan kemampuan
pemutusan. Setelah proses pemadaman busur apai gas SF6 menjadi SF4, SF2 dan
menyatu kembali saat proses pendinginan dan membentuk gas SF6 semula. Sisa
yang dihasilkan yang di bentuk oleh busur api adalah metallic florida yang terlihat
dalam bentuk power keabuan – abuan dan di hilangkan dengan filter yang
mengandung alumunia aktif (Al2O3).
Keuntungan Pemutus Tenaga (PMT) / Circuit Breaker SF6 :
1. Kecepatan dan tekanan gas yang rendah digunakan untuk memperkecil
beberapa kecenderungan terhadap chopping current (proses pemutus arus
sebelum mencapai titik nol) dan arus kapasitif dapat diputuskan tanpa
pelayanan kembali.
2. Peredaran gas merupakan siklus tertutup yang dihubungkan dengan
kecepatan gas yang rendah memberikan operasi yang cepat dan tidak ada
aliran keatmosfir seperti Air Blast Circuit Breaker.
3. Siklus gas tertutup memelihara bagian dalam tetap kering sehingga tidak
ada masalah kelembaban.
4. Sifat pemadaman busur api dari gas SF6 menghasilkan busur api sangat
singkat dan erosi kontak hanya sedikit. Kontak dapat dilepas pada
temperature yang tinggi tanpa merugikan pemeliharaan kontak.
5. Tidak ada endapan karbon juga tracking atau kegagalan isolasi dieliminir.

27
6. Interupter Chamber dari Circuit breaker seluruhnya tertutup dari
atmosfir, oleh karena itu cocok digunakan dalam tambang batu bara atau
dibeberapa industry dimana terdapat bahaya letupan.
7. Memberikan penyatuan dalam desain dari high voltage metal-clad
switchgear dimana untuk pemecahan dari masalah polusi atau kebutuhan
gardu induk di daerah urban atau tidak dimungkinkannya pembangunan
instalasi open type out door.

4.6 Pengoperasian PMT


4.6.1 Pembukaan Jaringan
PMT dioperasikan lebih dahulu lepas (≠), baru kemudian pemisah – pemisahnya
lihat gambar 4.3.
Sebelum pemisah dikeluarkan / dioperasikan harus diperiksa apakah PMT sudah
terbuka sempurna (dilihat secara visual atau dengan melihat penunjuk ampermeter
ketiga fasanya apakah sudah menunjukkan nol).

Gambar 4.3 Diagram satu garis urutan pembukaan jaringan

Keterangan:
Urutan Pembukaan Jaringan :
1. PMT
a. PMT ≠
2. PMS Line
b. PMS Bus ≠
3. PMS Tanah
c. PMS Line ≠
4. PMS Bus
d. PMS Tanah //
// : CLOSE
≠ : OPEN

28
4.6.2 Penutupan Jaringan
PMT dioperasikan setelah pemisah – pemisah dimasukkan (//) lihat pada
gambar 4.4.
Setelah PMT dimasukkan (//) diperiksa apakah terjadi kebocoran isolasi(misalnya
gas SF6) pada PMT.

Gambar 4.4 Diagram satu garis urutan penutupan jaringan.

Keterangan:
Urutan penutupan Jaringan :
1. PMS Tanah
a) PMS Tanah ≠
2. PMS Line
b) PMS Line //
3. PMT
c) PMS Bus //
4. PMS Bus
d) PMT //
// : CLOSE
≠ : OPEN

29
BAB V
PEMELIHARAAN PMT PADA GARDU INDUK 150 kV PALUR

5.1 PROGRAM PEMELIHARAAN


5.1.1 Pengertian Pemeliharaan
Pemeliharaan adalah suatu kegiatan yang sangat penting, karena pemeliharaan
terbaik akan memperpanjang umur peralatan dan akan menjamin berfungsinya
peralatan dengan baik. Pemeliharaan yang telah dilaksanakan tidak ada bekasnya
namun dapat di rasakan pengaruhnya.
5.1.2 Tujuan Pemeliharaan
Tujuan pemeliharaannya adalah untuk mempertahankan kondisi atau menjaga agar
peralatan menjadi tahan lama dan meyakinkan bahwa peralatan dapat berfungsi
sebagaimana mestinya sehingga dapat dicegah terjadinya gangguan yang dapat
menyebabkan kerusakan.
Tujuan pemeliharaan peralatan listrik tegangan tinggi adalah untuk menjamin
kontinuitas penyaluran tegangan tinggi dan menjamin keandalan antara lain:
a. Untuk meningkatkan keandalan ketersediaan dan efisiensi.

b. Untuk memperpanjang umur peralatan sesuai dengan usia teknisnya.

c. Untuk mengurangi resiko terjadinya kegagalan atau kerusakan peralatan.

d. Untuk meningkatkan keamanan peralatan.

e. Untuk mengurangi lama waktu pemadaman akibat sering terjadinya gangguan.

5.2 PEMELIHARAAN PMT


Untuk mendapatkan operasi yang optimal diperlukan pemeliharaan yang baik
terhadap peralatan. Berdasarkan fungsinya dan kondisi peralatan bertegangan atau
tidak, jenis pemeliharaan
pada Pemutus dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. In Service / Visual Inspection
2. In Service Measurement / On Line Monitoring

30
3. Shutdown Measurement / Shutdown Function Check/Treatment
4. Conditional (Pasca relokasi / Pasca Gangguan/bencana alam)
5. Overhaul
In Service Inspection, In Servise Measurement/On Line Monitoring, Shutdown
Measurement/ Shutdown Function Check, Conditional dan Overhaul sebagaimana
dimaksud dalam butir 1 s/d 5 di atas, merupakan bagian dari uraian kegiatan
pemeliharaan yang tertuang dalam KEPDIR 114.K/DIR/2010.
Periode pemeliharaan shutdown measurement dan shutdown function check
dilaksanakan setiap 2 Tahun dan kegiatan pemeriksaan maupun pengujian mengacu
kepada Failure Mode Effect Analysis ( FMEA) dari setiap komponen peralatan
tersebut.

5.3 PENGUKURAN PMT


5.3.1 Pengukuran Tahanan Isolasi
Pengukuran tahanan isolasi PMT ini dilakukan saat posisi close dan open.
Besar dari nilai tahanan isolasi PMT diharapkan mencapai nilai yang sebesar –
besarnya. Batasan tahanan isolasi PMT sesuai Buku Pemeliharaan Peralatan
SE.032/PST/1984 dan menurut standard VDE (catalouge 228/4) minimum
besarnya tahanan isolasi pada suhu operasi dihitung “ 1 kilo Volt = 1 MΩ (Mega
Ohm). Artinya 1 kV harus mampu mengisolasi tegangan sebesar I MΩ. sebagai
contoh hasil uji PMT 150 kV antara fasa dan tanah adalah 300 MΩ dengan tegangan
uji 5 kV artinya 300/5 = 60 MΩ/1 kV, nilai tersebut telah sesuai dengan standar.
Bila tahanan isolasi tidak mencapai nilai standar maka perlu dilakukan pembersihan
isolator dan uji ulang. Tegangan yang digunakan untuk mengukur besarnya tahanan
isolasi PMT yaitu dengan megger skala 5000 V.
Dengan Pengukuran :
1. Atas – Bawah (PMT OFF)
2. Atas – Tanah (PMT OFF)
3. Bawah – Tanah (PMT OFF)
4. Fasa – Tanah (PMT ON)

31
Cara Pengukuran
Kesiapan obyek yang akan diukur dilakukan dengan urutan sebagai berikut:
1 ). Pemasangan pentanahan lokal (Local Grounding) disisi I/P dan O/P terminal
dengan tujuan membuang muatan induksi (Residual Current) yang masih
tersisa.
2 ). Pembersihan permukaan porselin bushing memakai material cleaner + lap
kain yang halus dan tidak merusak permukaan isolator. Tujuannya agar
pengukuran memperoleh hasil yang akurat.

Gambar 5.1 Pemasangan pentanahan lokal dan pelepasan terminal atas dan
terminal bawah.

3 ). Melakukan pengukuran tahanan isolasi PMT kondisi terbuka (open) antara:


a). Terminal atas ( Ra, Sa, Ta ) terhadap badan / tanah.
b). Terminal bawah ( Rb, Sb, Tb ) terhadap badan / tanah.
c). Terminal fasa atas – bawah (Ra-Rb, Sa-Sb, Ta-Tb)
4 ). Melakukan pengukuran tahanan isolasi PMT kondisi tertutup (closed):
a) Terminal fasa R / Merah ( Ra+Rb ) terhadap tanah.
b) Terminal fasa S / Kuning ( Sa+Sb ) terhadap tanah.
c) Terminal fasa T / Biru ( Ta+Tb) terhadap tanah.

32
Gambar 5.2 Terminal tempat Pengukuran Tahanan Isolasi PMT
Keterangan:
Ra = Terminal atas fasa R (Merah)
Rb = Terminal bawah fasa R
Sa = Terminal atas fasa S (Kuning)
Sb = Terminal bawah fasa S
Ta = Terminal atas fasa T (Biru)
Tb = Terminal bawah fasa T
5 ). Mencatat hasil pengukuran tahanan isolasi serta suhu sekitar.
6 ). Hasil pengukuran ini merupakan data terbaru hasil pengukuran dan sebagai
bahan evaluasi pembanding dengan hasil pengukuran sebelumnya.
7 ). Memasang kembali terminasi atas dan bawah seperti semula.
8 ). Melepas pentanahan lokal sambil pemeriksaan akhir untuk persiapan pekerjaan
selanjutnya.

Gambar 5.3 Pengukuran Tahanan Isolasi pada PMT

33
Gambar 5.4 Hasil Pengukuran / pengujian Tahanan Isolasi PMT BAY
SOLOBARU2 Lokasi GI Palur

5.3.2 Pengukuran Tahanan Kontak


Pengukuran Tahanan Kontak PMT ini dilakukan saat posisi tertutup atau
close. Dengan menggunakan alat ukur micro ohmmeter. Besar dari nilai tahanan
kontak PMT diharapkan mencapai nilai yang serendah – rendahnya.
Nilai tahanan kontak PMT yang normal harus (acuan awal) disesuaikan
dengan petunjuk/manual dari masing – masing pabrikan PMT (dikarenakan nilai
ini dapat berbeda antar merk). Nilai standar normal yang menjadi acuan yaitu R ≤
120 % nilai pabrikan atau Nilai Pengujian FAT ,nilai saat pengujian komisioning.
Berikut terlampir daftar nilai standar pabrikan beberapa PMT:

34
Khusus untuk PMT yang tidak memiliki data awal dapat menggunakan nilai standar
PMT tipe sejenis atau nilai pengukuran terendah PMT tersebut mengacu pada
history pemeliharaan (trend 3 kali periode pemeliharaan sebelumnya).
Jika hasil pengukuran tahanan kontak melebihi standar yang ada yaitu
sebesar R < 100 micro ohm maka dilakukan pengujian ulang dan pengecekan pada
PMT untuk menganalisa penyebab kesalahan dan mengetahui apakah perlu
dilakukan perbaikan. Jika dipaksakan operasi, maka dikhawatirkan terjadi
kerusakan pada PMT tersebut akibat panas yang ditimbulkan oleh alat kontak.
Kejadian ini tentu akan mengganggu sistem operasi dan kerugian material. Namun
apabila nilai tetap tidak memenuhi standar maka perlu dipertimbangkan untuk
mengganti PMT Baru dengan jenis isolasi yang lebih baik lagi.
Rangkaian tenaga listrik sebagian besar terdiri dari banyak titik sambungan.
Sambungan adalah dua atau lebih permukaan dari beberapa jenis konduktor
bertemu secara fisik sehingga arus/energi listrik dapat disalurkan tanpa hambatan
yang berarti. Pertemuan dari beberapa konduktor menyebabkan suatu hambatan /
resistan terhadap arus yang melaluinya sehingga akan terjadi panas dan menjadikan
kerugian teknis. Rugi ini sangat signifikan jika nilai tahanan kontaknya tinggi.
Sambungan antara konduktor dengan PMT atau peralatan lain merupakan tahanan
kontak yang syarat tahanannya memenuhi kaidah Hukum Ohm sebagai berikut:
E=I.R
Jika didapat kondisi tahanan kontak sebesar 1 Ohm dan arus yang mengalir adalah
100 Amp maka ruginya adalah:
W = I2 . R
W = 10.000 watts
Prinsip dasarnya adalah sama dengan alat ukur tahanan murni (Rdc), tetapi pada
tahanan kontak arus yang dialirkan lebih besar I=100 Amperemeter

35
Gambar 5.5 Cara Pengamanan pada saat Pengukuran Tahanan Kontak di
Switchyard
Cara Pengukuran
Alat ukur tahanan kontak terdiri dari sumber arus dan alat ukur tegangan
(drop tegangan pada obyek yang diukur). Dengan sistem elektronik maka
pembacaan dapat diketahui dengan baik dan ketelitian yang cukup baik pula.
Digunakanya arus sebesar 100 Ampere karena pembagi dengan angka 100 akan
memudahkan dalan menentukan nilai tahanan kontak dan lebih cepat. Harus
diperhatikan skala yang digunakan jangan sampai arus yang dibangkitkan sama
dengan batasan skala sehingga kemungkinan akan terjadi overload dan hasil
penunjukan tidak sesuai dengan kenyataannya.

Gambar 5.6 Pengukuran Tahanan Kontak pada PMT

36
Pelaksanaan Pengukuran:
1. Hubungkan obyek yang akan diukur ke tanah
2. Hubungkan ke tanah alat ukur yang akan digunakan.
3. Sambungkan terminal (+) dan (-) ke kedua sisi terminal yang akan diukur
(obyek).
4. Hubungkan kabel ukur mVolt sedekat mungkin dengan obyek yang akan
diukur.
5. Setelah siap posisikan saklar on / off ke posisi on.
6. Pilih saklar pada skala 200 Ampere.
7. Atur pembangkit arus sehingga display menunjuk angka 100 Ampere.
8. Tekan saklar pengubah dari Ampere ke Ohm.
9. Catat penunjukan dan dikalibrasikan terhadap skala pembatas.

Gambar 5.7 alat ukur micro ohmmeter yang digunakan di GI 150 kV PALUR

Gambar 5.8 Hasil Pengukuran / pengujian Tahanan Kontak PMT BAY


SOLOBARU2 Lokasi GI Palur

37
Gambar 5.9 Hasil Tahanan Kontak PMT 150 kV BAY SOLOBARU2 GI Palur

5.3.3 Pengukuran Keserempakan (Breaker Analyzer)


Pengukuran breakeranalizer pada PMT digunakan untuk mengukur
kecepatan PMT saat membuka atau menutup. Sedangkan satuan yang digunakan
adalah ms (mili sekon). Jadi ketika PMT dilepas secara bersamaan maka akan
terlihat keserempakannya. Pengukuran Keserempakan dilakukan PMT pada saat
close dan pada saat open adalah ≤ 10 ms.
Pada waktu PMT trip akibat terjadi suatu gangguan pada sistem tenaga
listrik diharapkan PMT bekerja dengan cepat sehingga clearing time yang
diharapkan sesuai standard SPLN No 52-1 1983 untuk system 70 KV = 150 milli
detik dan SPLN No 52-1 1984 untuk system 150 kV = 120 milli detik, dan Grid
Code Jawa Bali untuk sistem 500 kV = 90 milli detik dapat terpenuhi. Langkah
pengukuran keserempakan beserta konfigurasi alat uji dengan PMT dapat mengacu
pada instruksi kerja alat uji keserempakan PMT. Perbedaan waktu yang terjadi antar
phasa R , S , T pada waktu PMT membuka dan menutup kontak dapat diketahui
dari hasil pengukuran. Sehingga pengukuran keserempakan pada umumnya

38
sekaligus meliputi pengukuran waktu buka tutup PMT. Nilai yang dapat diketahui
dalam pengukuran keserempakan adalah Δt yang merupakan selisih waktu tertinggi
dan terendah antar phasa R, S, T sewaktu membuka atau menutup kontak.
Apabila rata-rata keserempakan < 10 ms Maka PMT atau circuit breaker
tersebut dapat melaksanakan atau melakukan trip sesuai dengan kinerja
keserempakan yang normal atau keandalanya masih dapat teratasi. Tetapi apabila
nilai rata-rata keserempakan > 10 ms maka unjuk kerja keserempakan PMT kurang
mencapai keandalan atau keandalanya kurang maka perlu diadakan bleeding atau
penyetelan pada PMT tersebut.

Gambar 5.10 Contoh Pengujian O-C-O PMT Single Pole Merk NISSIN
tipe SO 11:

39
Keterangan:

Cara Pengukuran:
1. Masukkan (ON) PMT yang akan diuji.
2. Pasang pentanahan (grounding) pada sisi atas kontak, hal ini untuk
mengurangi resiko arus induksi yang mengalir melalui alat uji.
3. Pasang pentanahan (grounding) alat uji.
4. Buat rangkaian seperti gambar dibawah:

Gambar 5.11 Rangkain Uji untuk PMT

Langkah Pengujian:
1. Closing Time ( Kondisi PMT Off / Open )
(a) Posisikan Switch Squence pada ( C / Close )
(b) Nyalakan Switch Power

40
(c) Tekan tombol Ready hingga lampu LED Ready menyala
(d) Putar Switch Start
(e) Tunggu beberapa saat hingga printer mencetak
2. Opening Time ( Kondisi PMT On / Close )
(a) Posisikan Switch Squence pada ( O / Open )
(b) Nyalakan Switch Power
(c) Tekan tombol Ready hingga lampu LED Ready menyala
(d) Putar Switch Start
(e) Tunggu beberapa saat hingga printer mencetak
3. Close – Open Time ( Kondisi PMT Off / Open )
(a) Posisikan Switch Squence pada ( CO / Close-Open )
(b) Nyalakan Switch Power
(c) Tekan tombol Ready hingga lampu LED Ready menyala
(d) Putar Switch Start
(e) Tunggu beberapa saat hingga printer mencetak
4. Open – Close Time ( Kondisi PMT On / Close )
(a) Posisikan Switch Squence pada ( O-C / Open-Close )
(b) Nyalakan Switch Power
(c) Tekan tombol Ready hingga lampu LED Ready menyala
(d) Putar Switch Start
(e) Tunggu beberapa saat hingga printer mencetak
5. Open – Close – Open Time ( Kondisi PMT On / Close )
(a) Posisikan Switch Squence pada ( O-C-O / Open-Close-Open )
(b) Nyalakan Switch Power
(c) Tekan tombol Ready hingga lampu LED Ready menyala
(d) Putar Switch Start
(e) Tunggu beberapa saat hingga printer mencetak

41
Gambar 5.12 Hasil Pengukuran / Pengujian Keserempakan pada PMT 150 kV
BAY SOLOBARU2 Pada GI Palur

Gambar 5.13 Hasil Pengukuran / Pengujian Keserempakan pada PMT 150 kV


BAY SOLOBARU2 Pada GI Palur

5.3.4 Pengukuran Pentanahan


Pengukuran tahanan pentanahan pada peralatan PMT yang diukur adalah
sistem tahanan pentanahannya, dengan cara ground yang terdapat pada PMT
dihubungkan alat ke tanah dengan jarak 5 meter. Satuan yang dipakai dalam
pengukuran tahanan pentanahan adalah ohm (Ω).
Nilai tahanan pentanahan di Gardu Induk bervariasi besarnya. Nilai tahanan
pentanahan dapat ditentukan oleh kondisi tanah itu sendiri, misalnya tanah kering

42
tanah cadas, atau berkapur. Semakin kecil nilai pentanahannya maka akan semakin
baik. Menurut IEEE std 80: 2000 (guide for safety in ac substation - grounding),
besarnya nilai tahanan pentanahan untuk switchgear adalah ≤ 1 ohm.
Harga pentanahan makin kecil makin baik. Untuk perlindungan personil dan
peralatan perlu diusahakan tahanan pentanahan lebih kecil dari 1 Ohm. Hal ini tidak
praktis untuk dilaksanakan dalam suatu sistem distribusi, saluran transmisi, ataupun
dalam substation distribusi. Beberapa peralatan/standar yang telah disepakati
adalah bahwa saluran transmisi, substation harus direncanakan sedemikian rupa,
sehingga tahanan pentanahan tidak melebihi harga 1ohm.
Ada beberapa macam merk alat ukur tahanan tanah yang dipergunakan,
antara lain:
a. KYORITSU Model 4120
b. GOSSEN METRAWATT BAUER [GEOHM 2]
c. ABB METRAWATT Type M5032
Cara kerja alat ukur tersebut menggunakan prinsip alat ukur Galvanometer (Prinsip
Kesetimbangan), sebagai contoh sederhana:

Gambar 5.14 Rangkaian Galvanometer


Keterangan:
R1 & R2 : Nilai tahanan yang telah ditetapkan.
R variabel : Nilai tahanan yang bisa diubah-ubah.
Rx : Tahanan yang belum diketahui nilainya ( Rx = ? )
Formula : R1 . Rvar = R2 . Rx
Cara kerja Galvanometer:

43
Atur atau tentukan nilai tahanan R variabel (Rvar) sedemikian rupa sehingga jarum
galvanometer menunjuk angka Nol (kondisi setimbang). Dan setelah kondisi
setimbang maka nilai Rx bisa dicari dengan menggunakan Formula di atas.

Gambar 5.15 Alat Ukur Tahanan

Gambar 5.16 Pengukuran / Pengujian Tahanan Pentanahan PMT 150 kV


BAY SOLOBARU GI Palur.

5.3.5 Hal – hal lain yang dilakukaan saat pemeliharaan


Selain pengukuran dari nilai tahanan isolasi, tahanan kontak,
breakeranalizer, dan tahanan pentanahan, hal lain yang perlu dilakukan saat
pemeliharaan PMT adalah:
1. Pemeriksaan motor PMT, dapatkah motor PMT tersebut bekerja secara normal.
2. Pemeriksaan sistem tekanan busur api, dan sistem aksesoris kelengkapan sebagai
pendukung operasi dari PMT.
3. Pencatatan telah berapa kali PMT tersebut melakukan pemutusan.
4. Pembersihan pada isolatornya.

44
BAB VI
PENUTUP

Akhirnya setelah pelaksanaan kerja praktek di PT PLN (Persero) APP


Basecamp Semarang, penulis telah lebih banyak mengetahui tentang sistim
transmisi gardu induk, khususnya gardu induk 150 KV Palur. Untuk akhir dari
laporan ini penulis member sedikit kesimpulan dan saran.

6.1 Kesimpulan
Dari hasil yang didapat selama praktek kerja di Gardu Induk 150 KV Palur, maka
penulis dapat menarik kesimpulan yaitu :
1. Gardu Induk adalah area yang terdiri dari peralatan listrik tegangan tinggi yang
berfungsi sebagai stasiun transformasi daya yang diserap dari stasiun transmisi atau
stasiun pembangkit.
2. Gardu Induk Less Attended Substation Operation (LASO) yaitu pengoperasian
GI 150kV yang memberdayakan petugas GI seminimal mungkin tanpa mengurangi
keandalan operasi.
3. GI 150kV Palur menggunakan konsep LASO pola 3 yang membutuhkan SDM
sebanyak 3 orang petugas, yaitu 1 orang sebagai supervisor dan 2 orang operator
sebagai petugas pemeliharaan dengan pola waktu kerja dibagi menjadi 3 bagian,
yaitu jam 07.30 – 16.00 (waktu 1), jam 16.00 – 22.00 (waktu 2), dan jam 22.00 –
07.30 (waktu 3).
4. Gardu Induk 150 kV LASO Palur merupakan jenis Gardu Induk pasangan luar
karena peralatan tegangan tinggi (Transformator, PMT, PMS, CT, PT dan
sebagainya) berada di luar gedung, sedangkan perlatan kontrolnya berda di dalam
gedung.
5. Di dalam Gardu Induk 150 KV Palur bahwa PMT (Pemutus Tenaga) berfungsi
sebagai alat pembuka atau penutup suatu rangkaian listrik dalam kondisi berbeban,
serta mampu membuka atau menutup saat terjadinya arus gangguan (hubung
singkat) pada jaringan atau peralatan lain.

45
6. Dari setiap pemutusan tenaga listrik dengan tegangan dan arus operasi yang besar
selalu diikuti dengan terjadinya busur api. Besar busur api tergantung pada besar
arus yang diputuskan, dan hal ini dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada
kontak – kontak pemutus tenaga, untuk itu busur api yang terjadi harus dipadamkan
dilengkapi dengan komponen busur api dengan media – media pemadaman tertentu.
7. Tipe pemutus tenaga dengan media gas SF6 mempunyai sifat pemadaman yang
lebih baik dibandingkan pemutus tenaga lainnya, karena sifatnya yang tidak
berwarna, tidak berbau, tidak mudah terbakar, dan tidak beracun.
8. Pemeliharaan terhadap PMT suatu kegiatan yang penting, karena pemeliharaan
yang baik akan memperpanjang umur peralatan dan akan menjamin berfungsinya
peralat dengan baik. Pemeliharaan tersebut dilakukan pada pengukuran tahanan
isolasi, tahanan kontak, breaker analizer dan juga tahanan pentanahan pada PMT.

6.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan sehubungan dengan hasil selama
mengikuti Praktek Kerja adalah sebagai berikut :
1. Pelaksanaan kegiatan pemeliharaan jaringan perlu dipertahankan sehingga dapat
meningkatkan kualitas pelayanan maupun kualitas penyaluran tenaga listrik secara
keseluruhan.
2. Pengetahuan akan pemeliharaan PMT termasuk di dalamnya ini hendaknya
lebih dikenalkan kepada kalangan akademika. Tidak hanya terbatas pada PMT
saja namun juga pada peralatan tegangan tinggi. Dengan demikian, kalangan
akademika ini dapat lebih mengetahui, mengkaji dan hingga bisa mengembangkan
proses pemeliharaan tersebut. Harapannya, dari kalangan akdemika dapat
menyumbangkan inovasi agar penyaluran energi listrik di Indonesia menjadi lebih
optimal.
3. Kepada mahasiswa yang melaksanakan KP (Kerja Praktek), berusahalah untuk
lebih proaktif, agresif dan aktif untuk menanyakan hal – hal yang belum di ketahui
kepada pembimbing praktek.

46