Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Di Indonesia dapat ditemui banyak sekali gunung berapi yang aktif. Hal
ini disebabkan karena Indonesia terletak pada pertemuan lempeng tektonik
Eurasia dan Indo-Australia. Akibat dari tubrukan kedua lempeng tersebut
mengakibatkan banyak terbentuknya gunung berapi di Jawa bagian selatan dan di
Sumatera bagian barat. Salah satu gunung yang terbentuk di daerah pertemuan
lempeng tersebut dan masih aktif adalah gunung Merapi yang terletak di Jawa
bagian selatan tepatnya terletak di Magelang, Klaten dan Boyolali Propinsi Jawa
Tengah dan Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Gunung
Merapi merupakan jenis gunung api basaltic andesitic. Gunung ini merupakan
gunung api strato karena letusannya yang bersifat efusif. Karena itu gunung ini
memiliki bawah permukaan yang berlapis. Gunung ini masih terus beraktivitas
hingga saat ini. Untuk memantau aktivitas kegempaan vulkanik gunung Merapi
terdapat beberapa stasiun seismik yang dipasang, antara lain : stasiun Deles,
Plawangan, Pusung London, dan Klatakan. Selain aktivitas kegempaan vulkanik
gempa tektonik jauh yang disebabkan oleh tumbukan lempeng dapat terekam oleh
seismograf yang terdapat di stasiun seismik gunung Merapi. Oleh karena sering
terjadinya peningkatan aktivitas gunung berapi di Indonesia, maka Indonesia
sering menjadi lahan nikmat terjadinya suatu bencana alam yang menimbulkan
korban jiwa, harta dan benda. Maka dengan tugas ini akan dibahas mengenai
bagaimana manajemen bencana gunung meletus dari pra bencana gunung meletus
hingga pasca bencana gunung meletus. Selain itu dalam makalah ini penulis juga
akan memberikan gambaran yang jelas mengenai upaya mitigasi dampak yang
muncul dari terjadinya gunung meletus, serta untuk meminimalisasi kerugian
akibat bencana meletusnya Gunung Merapi baik secara material maupun
nonmaterial.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep bencana gunung meletus?
2. Bagaimana manajemen bencana gunung meletus?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Meningkatkan pengetahuan masyarakat (public awareness) dalam
menghadapi serta mengurangi dampak/resiko bencana, sehingga
masyarakat dapat hidup dan bekerja dengan aman (safe).

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Untuk pemenuhan tugas mata kuliah keperawatan kritis I
2. Untuk mengetahui mengenai konsep bencana gunung meletus
3. Untuk mengetahui manajemen bencana gunung meletus dari pra
bencana gunung meletus hingga pasca bencana gunung meletus.

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Bencana Gunung Meletus


2.1.1 Definisi Bencana Alam dan Gunung Meletus
Bencana alam adalah serangkaian peristiwa yang menjadi ancaman
stabilitas kehidupan manusia, baik yang disebabkan oleh alam atapun non
alam (UU No 24 th 2007).
Bencana adalah kejadian yang mengakibatkan kerusakan,
hilangnya nyawa manusia, gangguan ekologis, atau memburuknya derajat
kesehatan pada suatu skala tertentu sehingga mengundang respon dari luar
masyarakat (WHO,2002).
Bencana adalah peristiwa atau kejadian pada suatu daerah yang
mengakibatkan kerusakan ekologi, kerugian kehidupan manusia, serta
memburuknya kesehatan dan pelayanan kesehatan yang bermakna
sehingga memerlukan bantuan luar biasa dari pihak luar (Depkes RI,
2001).
Gunung api adalah lubang kepundan atau rekahan dalam kerak
bumi tempat keluarnya cairan magma atau gas atau cairan lainnya ke
permukaan bumi. Material yang dierupsikan ke permukaan bumi
umumnya membentuk kerucut terpancung. Gunung meletus terjadi akibat
magma di dalam perut bumi didorong keluar oleh gas yang bertekanan
tinggi, atau karena gerakan lempeng bumi, tumpukan tekanan, dan panas
cairan magma (IDEP, 2002).

2.1.2 Jenis – jenis Letusan Gunung Meletus


a. Tipe A, magma naik melalui pipa kepundan dan memecahkan kubah yang
lama, kemudian membentuk kubah baru atau lidah lava. Pada fase ini,
mulai ada letusan kecil namun tidak terlalu berbahaya yang menghasilkan
awan panas atau Wadus gembel.
b. Tipe B, fase ini sangat umum dan dimulai dengan naiknya magma melalui
pipa kepundan dan memecahkan penutup di atasnya dengan letusan-
letusan kecil dan keluarnya lava. Fase utama akan menghancurkan
sebagian puncak gunung api. Pada fase akhir, lava membentuk kubah atau

3
lidah lava dengan viskositas tinggi atau sangat kental. Awan panas yang
keluar bisa mencapai sekitar 12-14 km dari pusat letusan.
c. Tipe C, letusan dimulai dengan naiknya magma dengan kandungangas
yang cukup tinggi. Ltusan yang terjadi memcahkan pantuup di atasnya dan
memlepaskan gas yang terkandung dan tidak ada aliran yang terbentuk.
Biasanya erupsi berlangusng singakat, setelah tekanan gas berkurang,
kubah atau lidah lava terbentuk.
d. Tipe D, merupakan letusan yang paling berbahaya, tanpa aliran lava
adanya aliran lava, puncak gunung api di hancurkan , kaldera terbentuk
dan banyak sekali awan panas atau wedus gembel.

2.1.3 Penyebab Gunung Meletus


a. Peningkatan kegempaan vulkanik
Aktivitas yang tidak biasa pada gunung berapi, seperti frekuensi
gempa bumi meningkat yang mana dalam sehari bisa terjadi puluhan kali
gempa tremor yang tercatat di alat Seismograf. Selain itu terjadi
peningkatan aktivitas Seismik dan kejadian vulkanis lainnya hal ini
disebabkan oleh pergerakan magma, hidrotermal yang berlangsung di
dalam perut bumi. Jika tanda-tanda seperti diatas muncul dan terus
berlangsung dalam beberapa waktu yang telah ditentukan maka status
gunung berapi dapat ditingkatkan menjadi level waspada. Pada level ini
harus dilakukan penyuluhan kepada masyarakat sekitar, melakukan
penilaian bahaya dan potensi untuk naik ke level selanjutnya dan kembali
mengecek sarana serta pelaksanaan shift pemantauan yang harus terus
dilakukan.
a. Suhu kawah meningkat secara signifikan
Pada gunung dengan status normal, volume magma tidak terlalu
banyak terkumpul di daerah kawah sehingga menyebabkan suhu di sekitar
normal. Naiknya magma tersebut bisa disebabkan oleh pergerakan
tektonik pada lapisan bumi dibawah gunung seperti gerakan lempeng
sehingga meningkatkan tekanan pada dapur magma dan pada akhirnya
membuat magma terdorong ke atas hingga berada tepat dibawah kawah.
Pada kondisi seperti ini, banyak hewan hewan di sekitar gunung
bermigrasi dan terlihat gelisah. Selain itu meningkatnya suhu kawah juga
membuat air tanah di sekitar gunung menjadi kering.

4
b. Terjadinya deformasi badan gunung
Peningkatan gelombang magnet dan listrik sehingga menyebabkan
perubahan struktur lapisan batuan gunung yang dapat mempengaruhi
bagian dalam sepeti dapur magma yang volume-nya mengecil atau bisa
juga saluran yang menghubungkan kawah dengan dapur magma menjadi
tersumbat akibat deformasi batuan penyusun gunung.
c. Akibat tekanan yang sangat tinggi
Jika sepanjang perjalanan magma menyusuri saluran kawah
terdapat sumbatan, bisa menimbulkan ledakan yang dikenal dengan
letusan gunung berapi. Semakin besar tekanan dan volume magma-nya
maka semakin kuat ledakan yang akan terjadi.

2.1.4 Proses Terjadinya Gunung Meletus


Peristiwa vulkanisme sangat berhubungan dengan naiknya magma dari
dalam perut bumi. Magma adalah campuran batu-batuan dalam keadaan cair,
liat dan sangat panas yang terdapat dalam perut bumi. Aktivitas magma
disebabkan oleh tingginya suhu magma dan banyaknya gas yang terkandung
di dalamnya. Adanya aktivitas ini dapat menyebabkan retakan-retakan dan
pergeseran kulit bumi. Proses terjadinya vulkanisme dipengaruhi oleh aktivitas
magma yang menyusup ke dalam litosfer (kulit bumi). Penyusupan magma ke
dalam litosfer dapat dibedakan menjadi dua, sebagai berikut :
a) Intrusi magma
Instrusi magma merupakan peristiwa menyusupnya magma diantara
lapisan batuan, tetapi tidak mencapai permukaan bumi. Intrusi magma
dibedakan sebagai berikut :
1. Intrusi datar (sill atau lempeng intrusi) yaitu magma menyusup
diantara dua lapisan batuan, mendatar dan paralel dengan lapisan
batuan tersebut.
2. Lakolit yaitu magma yang menerobos diantara lapisan bumi paling
atas. Bentuknya seperti lensa cembung.
3. Gang (korok) yaitu batuan hasil intrusi magma yang menyusup dan
membeku di sela –sela lipatan (korok).
4. Diatermis yaitu lubang (pipa) diantara dapur magma dan kepundan
gunung berapi. Bentuknya seperti silinder memanjang.
b) Ekstrusi magma
Ekstrusi magma merupakan peristiwa penyusupan magma hingga keluar
ke permukaan bumi dan membentuk gunung api. Hal ini terjadi apabila

5
tekanan gas cukup kuat dan ada retakan pada kulit bumi sehingga
menghasilkan letusan yang sangat dahsyat.

2.1.5 Dampak Terjadinya Gunung Meletus


a. Dampak Negatif
1. Dampak dari abu gunung merapi yaitu berbagai jenis gas seperti
Sulfur Dioksida (SO2), gas Hidrogen Sulfida (H2S), Nitrogen
Dioksida(NO2), serta debu dalam bentuk partikel debu (Total
Suspended Particulate atau Particulate Matter).
2. Kecelakaan lalu lintas akibat jalan berdebu licin, jatuh karena
panik,serta makanan yang terkontaminasi, dan lain-lain.
3. Banyak dari penduduk, terutama sekitar Gunung Merapi yang
kehilangan pekerjaan rutin kesehariannya.
4. Timbulnya penyakit pada korban seperti ISPA
5. Hujan debu dari Merapi juga meluas dan membatasi jarak pandang.
6. Lalu lintas, baik darat maupun udara, mulai terganggu.Bahkan,
penerbangan dari dan ke Yogyakarta ditutup sementara waktu
7. Kebakaran hutan karena terkena laharnya.
8. Sektor pertanian terganggu akibat bencana ini yang menyebabkan
pendapatan bisnis para petani menurun drastis.
9. Sektor perikanan terjadi kerugian sekitar 1.272 ton.
10. Sektor pariwisata, kunjungan wisatawan berkurang sehingga
menyebabkan tingkat hunian hotel dari 70 persen turun menjadi 30
persen.
b. Dampak Positif
1. Penambangan pasir mendapatkan pekerjaan baru yaitu bekerja untuk
mendapat pasir di pinggiran lahar dingin
2. Hasil muntahan vulkanik bagi lahan pertanian dapat menyuburkan
tanah, namun dampak ini hanya dirasakan oleh penduduk sekitar
gunung.
3. Bahan material vulkanik berupa pasir dan batu dapat digunakan
sebagai bahan material yang berfungsi untuk bahan bangunan, dan
lain-lain.
2.1.6 Tanda dan Gejala Bencana Gunung Meletus

1. Suhu di sekitar gunung naik


2. Mata air menjadi kering
3. Sering mengeluarkan suara gemuruh, kadang disertai getaran (gempa)
4. Tumbuhan di sekitar gunung layu

6
5. Binatang di sekitar gunung bermigrasi
6. Peningkatan kegempaan vulkanik
7. Peningkatan suhu kawah
8. Peningkatan gelombang magnet dan listrik, hingga terjadinya deformasi
pada tubuh jantung
9. Lempeng-lempeng bumi saling berdesakan dan magma di perut bumi
pun mendesak serta mendorong permukaan bumi dan memicu aktivitas
geologis, vulkanik, dan tektonik
10. Akibat tekanan yang amat tinggi, magma mendesak keluar (erupsi) dari
permukaan bumi sebagai lava

2.1.7 Status Kegiatan Gunung Meletus


a. Aktif-Normal (level 1), kegiatan gunung api baik secara visual,
maupun dengan instrumentasi tidak ada gejala perubahan kegiatan.
Tidak ada gejala tekanan magma.
b. Waspada (level 2), berdasarkan hasil pengamatan visual dan
instrumentasi mulai terdeteksi gejala perubahan kegiatan, misalnya
jumlah gempa vulkanik, suhu kawah (solfatara/fumarola) meningkat
dari nilai normal. Aktifitas vulkanik san seismik/kegempaan gunung
sudah meningkat
c. Siaga (level 3), kenaikan kegiatan semakin nyata. Hasil pantauan visual
dan seismik berlanjut didukung dengan data dari instrumentasi lainnya.
Letusan dapat menjadi dalam waktu 2 minggu
d. Awas (level 4), semua data menunjukkan bahwa letusan utama segera
menjelang. Letusan-letusan asap/abu sudah mulai terjadi. Letusan dapat
menjadi dalam waktu 24 jam

2.2 Manajemen Bencana


Manajemen bencana merupakan seluruh kegiatan yang meliputi aspek
perencanaan dan penanggulangan bencana, pada sebelum, saat dan sesudah
terjadi bencana yang dikenal sebagai Siklus Manajemen Bencana.
Manajemen Bencana ini bertujuan untuk mencegah kehilangan jiwa;
mengurangi penderitaan manusia; memberi informasi masyarakat dan pihak

7
berwenang mengenai risiko, serta mengurangi kerusakan infrastruktur utama,
harta benda dan kehilangan sumber ekonomis.

Kesiapsiagaan Bencana

Tanggap Darurat

Pra Bencana Saat Bencana

Mitigasi

Pencegahan

Pasca Bencana Pemulihan/

Rekonstruksi Rehabilitasi

Gambar 1. Siklus Manajemen Bencana


1. Kegiatan Pra Bencana Gunung Meletus
a. Kegiatan Pencegahan Bencana
Adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi
atau menghilangkan risiko bencana, baik melalui pengurangan ancaman
bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana. Kegiatan
pencegahan bencana meliputi :
1. Pembuatan peta rawan bencana : Jenis ancaman
bahaya
2. Pengembangan peraturan-peraturan : Standar
pelayanan kesehatan
3. Penyebarluasan informasi : Masalah kesehatan yang
dapat terjadi dan Peraturan, anjuran untuk petugas dan masyarakat

8
b. Kegiatan Mitigasi
Merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik
melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan
kemampuan menghadapi ancaman bencana (PP No. 21 tahun 2008).
Kegiatan tersebut meliputi:
1. Pembangunan dan rehabilitasi fisik (RS, Puskesmas, gudang obat)
2. Pengadaan sarana kesehatan (ambulans)
3. Pengadaan alkes, obat dan bahan habis pakai
4. Penetapan lokasi pembangunan sarana kesehatan di daerah aman
5. Pengaturan jalur evakuasi di setiap sarana kesehatan
6. Jaminan asuransi
c. Kegiatan Kesiapsiagaan
Merupakan serangkaian yang dilakukan untuk mengantisipasi
bencana melalui pengorganisasian serta langkah yang tepat dan berdaya
guna. Kegiatan kesiapsiagaan meliputi :
1. Penyiapan sarana dan prasarana kesehatan (alkes, obat)
2. Penyiapan dana operasional
3. Pembentukan tim reaksi cepat
4. Penyebarluasan informasi
a) Masalah kesehatan akibat bencana
b) Usaha-usaha yang harus diambil oleh individu, keluarga dan
masyarakat korban
c) Bagaimana menolong warga masyarakat lain
d) Bagaimana bertahan dengan perlindungan atau peralatan dan
bahan yang ada sebelum bantuan datang
2. Kegiatan Saat Terjadi Bencana
Mencakup kegiatan tanggap darurat untuk meringankan penderitaan
sementara, seperti kegiatan search and rescue (SAR), bantuan darurat dan
pengungsian. Kegiatan saat terjadi bencana yang dilakukan segera pada
saat kejadian bencana, untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan,
terutama berupa penyelamatan korban dan harta benda, evakuasi dan
pengungsian, akan mendapatkan perhatian penuh baik dari pemerintah
bersama swasta maupun masyarakatnya. Pada saat terjadinya bencana
biasanya begitu banyak pihak yang menaruh perhatian dan mengulurkan
tangan memberikan bantuan tenaga, moril maupun material.
a) Keadaan Darurat

9
Adalah situasi/kondisi kehidupan atau kesejahteraan individu manusia
atau masyarakat akan terancam, apabila tidak dilakukan yang tepat
dan segera, sekaligus menuntut tanggapan dan cara penanganan yang
luar biasa (diluar prosedur rutin/standar).
b) Manajemen Kedaruratan
Adalah seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan
penanggulangan kedaruratan, pada menjelang, saat dan segera setelah
terjadi keadaan darurat. Manajemen kedaruratan ini mencakup :
1. Siaga darurat
1. Tanggap darurat, kegiatannya :
 Manajemen dan koordinasi
1) Mendirikan Posko
2) Membuat tim reaksi cepat
 Perlindungan, penerimaan dan pendataan
1) Evakuasi korban yang masih hidup dan meninggal
2) Memberikan pertolongan dan perlindungan korban selamat
di tempat penampungan
3) Mendata dan mencatat korban
 Pangan dan nutrisi
1) Tahap awal : pemberian makanan siap santap
2) Mendirikan dapur umum
Pemberian jatah makan per keluarga yang disesuaikan
makanan pokok setempat
 Logistik dan transportasi
1) Pengumpulan, pengadaan, penyimpanan dan penyaluran
bantuan logistik
2) Menyiapkan gudang dan sarana transportasi termasuk BBM
 Penampungan sementara
1) Ditempatkan bangunan gedung yang aman : sekolah,
gudang, kantor, lapangan dengan mendirikan tenda-tenda
2) Air bersih
Penyediaan air bersih untuk mandi, cuci, masak; sumber air
dari sungai/sumur/air tanah/mata air
 Sanitasi lingkungan
1) Penyediaan sarana MCK
2) Pengelolaan sampah (pengumpulan dan pembuangannya
 Pelayanan kesehatan
1) Pemerintah menyediakan tenaga medis, alkes, dan obat-
obatan
2) Setiap korban bencana mendapat perawatan kesehatan
gratis

10
3) Pemberian imunisasi dan vaksin mencegah timbulnya
penyakit
 Pelayanan masyarakat
1) Media : radio, televisi
2) Informasi : penyuluhan, pertemuan warga
 Pendidikan
1) Menyediakan buku pelajaran, alat tulis
2) Pelaksana Dinas Pendidikan
3) Pemulihan darurat

3. Kegiatan Pasca Bencana


Mencakup kegiatan pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi. Kegiatan
pada tahap pasca bencana, terjadi proses perbaikan kondisi masyarakat
yang terkena bencana, dengan memfungsikan kembali prasarana dan
sarana pada keadaan semula. Pada tahap ini yang perlu diperhatikan adalah
bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi yang akan dilaksanakan harus
memenuhi kaidah-kaidah kebencanaan serta tidak hanya melakukan
rehabilitasi fisik saja, tetapi juga perlu diperhatikan juga rehabilitasi psikis
yang terjadi seperti ketakutan, trauma atau depresi.
a) Kegiatan Pemulihan/ Rehabilitasi
Adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau
masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana
dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar
semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca
bencana.
1. Rehabilitasi sarana dan pra sarana kesehatan inti
 Perbaikan RS, Puskesmas, Pustu, Polindes
 Perbaikan alat transportasi : Pusling, Ambulans
 Perbaikan lain di fasilitas kesehatan : aliran listrik, sarana air
bersih
2. Pelayanan pemulihan kesehatan korbn/pengungsi (rujukan, gizi, air
bersih, kesling, P2M, Post Traumatic Stress)
b) Kegiatan Rekonstruksi
Adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana,
kelembagaan pada wilayah pasca bencana, baik pada tingkat pemerintahan
maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya

11
kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan
ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek
kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana.
1. Pembangunan kembali sarana dan prasarana kesehatan
2. Meningkatkan dan memantapkan rencana penanggulangan (UU
No. 24/2007).

2.3 Penanggulangan Bencana Gunung Meletus


2.3.1 Penanggulangan Pra Bencana Gunung Meletus
Beberapa persiapan yang harus dilakukan dalam menghadapi
letusan gunung api antara lain :
a. Mengenali tanda-tanda bencana, karakter gunung api dan
ancaman- ancamannya
b. Membuat peta ancaman, mengenali daerah ancaman, daerah
aman
c. Membuat sistem peringatan dini
d. Mengembangkan Radio komunitas untuk penyebarluasan
informasi status gunung api
e. Mencermati dan memahami Peta Kawasan Rawan gunung api
yang diterbitkan oleh instansi berwenang
f. Membuat perencanaan penanganan bencana
g. Mempersiapkan jalur dan tempat pengungsian yang sudah siap
dengan bahan kebutuhan dasar (air, jamban, makanan,
pertolongan pertama) jika diperlukan
h. Mempersiapkan kebutuhan dasar dan dokumen penting
i. Memantau informasi yang diberikan oleh Pos Pengamatan
gunung api (dikoordinasi oleh Direktorat Vulkanologi dan
Mitigasi Bencana Geologi). Pos pengamatan gunung api
biasanya mengkomunikasikan perkembangan status gunung
api lewat radio komunikasi.
2.3.2 Penanggulangan Intra Bencana Gunung Meletus
Penanganan yang harus di lakukan pada saat terjadi gunung
meletus atau bencana adalah :
a. Mengetahui lokasi bencana dari informasi yang di dapat, dan
harus memperhatikan hal-hal berikut:
1. Lengkapi semua informasi dan klasifikasi kebenaran berita
2. Bila benar berita di laporkan sesuai ketentuan (alur
pelaporan)

12
3. Berita distribusikan untuk kordinasi dengan unit kerja
terkait (persiapan tim)
4. Puskodalmet di bentuk (aktifkan organisasi kerangka/
organisasi tugas yang sudah ditetapkan saat preparednees)
5. Sistem Komunikasi memegang peran penting.
b. Tugas pengendalian fasilitas dan logistik seperti :
1. Mampu mengetahui dan menyiapkan kebutuhan semua unit
kerja ( fasilitas Puskodal, fasilitas dan logistik di lapangan)
2. Menyiapkan dan berkoordinasi dgn sektor lain dalam
penyiapan kebutuhan korban (RS lapangan, shektering
pengungsi, jamban, air bersih, transportasi tim dan korban)
3. Mempu mengelola semua bantuan logistik dari hasil
koordinasi atau bantuan Lokasi bencana tindakan yang
harus di lakukan
 Lakukan seleksi korban
 Untuk memberikan prioritas pelayanan
 Gunakan Label / Tag
 Penyelamatan dan mengefaluasi korban maupun harta
benda
 Memenuhi kebutuhan dasar
 Penyelamatan, serta pemulihan sarana dan prasarana
 Perlindungan
 Pengurusan pengungsi
Hal-hal berikut ini sebaiknya dilakukan oleh setiap orang
jika terjadi letusan gunung api:
a) Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah,
aliran sungai kering dan daerah aliran lahar
b) Hindari tempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan
c) Masuk ruang lindung darurat
d) Siapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan;
e) Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh, seperti baju
lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya;
f) Melindungi mata dari debu, bila ada gunakan pelindung mata
seperti kacamata renang atau apapun yang bisa mencegah
masuknya debu ke dalam mata;
g) Jangan memakai lensa kontak;
h) Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung;
i) Saat turunnya abu gunung api usahakan untuk menutup wajah
dengan kedua belah tangan.
2.3.3 Penanggulangan Pasca Bencana Gunung Meletus

13
Pasca bencana adalah periode/waktu/masa setelah tahap kegiatan
tanggap darurat terjadinya bencana. Sementara penanganan pasca bencana
adalah segala upaya dan kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan
perbaikan fisik maupun non fisik yang dilakukan setelah terjadinya
bencana/masa tanggap darurat, meliputi rehabilitasi dan rekontruksi
sarana, prasarana, fasilitas umum yang rusak akibat bencana alam dalam
upaya pemulihan kehidupan masyarakat.
a. Rehabilitasi
Dalam tahap rehabilitasi, upaya yang dilakukan adalah perbaikan
fisik dan non fisik serta pemberdayaan dan pengembalian harkat
korban. Sasaran utama tahap rehabilitasi adalah untuk memperbaiki
pelayanan masyarakat atau publik sampai pada tingkat memadai.
Dalam tahap rehabilitasi ini juga diupayakan penyelesaian berbagai
permasalahan yang terkait dengan aspek kejiwaan/ psikologis melalui
penanganan trauma korban bencana gunung meletus.
b. Rekontruksi
Upaya yang dilakukan pada tahap rekontruksi adalah
pembangunan kembali sarana, prasarana, serta fasilitas umum yang
rusak akibat gunung meletus dengan tujuan agar kehidupan masyarakat
kembali berjalan normal. Biasanya melibatkan semua masyarakat,
perwakilan lembaga swadaya masyarakat, dan dunia usaha. Sasaran
utama tahap ini adalah terbangunnya kembali masyarakat dan
kawasan.

Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekontruksi wilayah pasca bencana


gunung meletus diprioritaskan kepada pemulihan perumahan dan
pemukiman, sarana prasarana publik serta ekonomi masyarakat.
1. Sektor Perumahan
a. Memfasilitasi pengelolahan hunian sementara, hal ini diberikan pada
tahap rehabilitasi, ketika keadaan rumah masih dalam keadaan yang
tidak memungkinkan untuk dihuni. Tujuan hunian sementara ini juga
guna untuk dapat mengkoordinasi masyarakat yang menjadi korban
dengan baik sehingga komunikasi tidak terputus.
b. Memfasilitasi pengorganisasian pembersihan rumah dan lingkungan
serta pembenahan rumah yang terdampak oleh pemerintah

14
c. Pembuatan panduan dan prinsip mekanisme subsidi rumah dalam
perencanaan
2. Sektor Infrastruktur
a. Pembersihan jalan yang tertutup dengan abu akibat erupsi
b. Memfasilitasi rembug desa untuk pembangunan kembali jalan dan
jembatan desa. Hal ini berkenaan juga dengan bantuan pemberian
bantuan.
c. Memfasilitasi pengelolahan air bersih dan jamban untuk
keberlanjutan hidup mereka dibagian rehabilitasi hunian sementara.
3. Sektor Sosial
Pada sektor sosial rehabilitasi dan rekontruksi ini bertujuan untuk
mengembalikan kembali kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan
sosial seperti trauma, pendidikan, agama, dan sejenisnya.
a. Penyediaan trauma healing terlebih untuk psikis yang sempat
diperhatikan dan bantuan dari mahasiswa yang menyalurkan
rehabilitasi sosial.
b. Penyediaan layanan kesehatan umum dan fasilitas pemulihan dini
seperti bantuan tenda pustu, peralatan medis umum seperti aqades
dan kasa steril, betadine, sofratule, abocath, cairan infus, handscone,
alkohol 70% dsb dan obat obatan bagi korban yang terdampak.
c. Fasilitas bantuan pernyediaan makana tambahan untuk balita
sehingga kebutuhan makanan balita terpenuhi dan tidak terjangkit
penyakit diare
d. Bantuan biaya dan peralatan sekolah untuk siswa SD SMP dan SMA
yang terdampak dan pemenuhan kebutuhan ruang kelas sementara.
e. Pemulihan kegiatan keagamaan dan revitalisasi kegiatan keagamaan
f. Revitalisasi sistem keamanan desa agar terkoordinasi dengan baik
g. Memberikan pembinaan dan pelatihan kepada msyarakat saat
terjadinya bencana.
4. Sektor Ekonomi
Kegiatan rehabilitasi dan rekontruksi sangat perlu diperhatiakan
ketika bencana gunung meletus terjadi maka kegiatan ekonomi para
penduduk juga akan menghilang sementara waktu.
a. Program diversifikasi / alternatif usaha pertanian berupa bantuan
pompa air padi, pompa air jagung, hand spryer padi dan jagunga
untuk permbersihan lahan yang tertutup abu.
b. Penyediaan bibit tanaman cepat panen untuk pengalihan kegiatan
berkebun dari tanaman biasa menjadi tanaman cepat panen

15
c. Bantuan modal usaha untuk pedagang dan industri kecil menengah
pada IKM melalui pelatihan dan fasilitasi bantuan investasi mesin /
peralatan produksi.

2.4 Upaya Mencegah Dampak Bencana


Upaya untuk mencegah/mengurangi dampak yang ditimbulkan
akibat suatu bencana :
a. Pendekatan Teknis yang dilakukan untuk mengurangi bencana
contohnya :
1. Membuat rancangan/desain yang kokoh dari bangunan sehingga tahan
terhadap gempa.
2. Membuat material yang tahan terhadap bencana
3. Membuat rancangan teknis pengaman (tanggul banjir, tanggul lumpur,
tanggul tangki)
b. Pendekatan manusia untuk membentuk manusia agar paham dan sadar
tentang bahaya bencana. Perilaku dan cara hidup manusia harus dapat
diperbaiki dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan potensi
bencana.
c. Pendekatan Administratif
1. Penyusunan tata ruang dan tata lahan yang memprihitungkan aspek
risiko bencana.
2. Sistem perijinan dengan memasukkan aspek analisa risiko bencana.
3. Mengembangkan program pembinaan dan pelatihan bencana di
seluruh tingkat masyarakat dan lembaga pendidikan.
4. Menyiapkan prosedur tanggap darurat dan organisasi tanggap darurat
di setiap organisasi (pemerintah, industri berisiko tinggi)
b. Pendekatan Kultural
1. Ada anggapan Bencana adalah takdir sehingga harus diterima apa
adanya
2. Pemerintah mengembangkan budaya dan tradisi lokal untuk
membangun kesadaran akan bencana
2.5 Peran Perawat dalam Bencana
2.5.1 Peran Perawat dalam Manajemen Bencana
1. Fase pre-impact
a. Perawat mengikuti pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kesehatan
dalam penanggulangan ancaman bencana untuk setiap fasenya
b. Perawat ikut terlibat dalam berbagai dinas pemerintahan, organisasi
lingkungan, palang merah nasional, maupun lembaga-lembaga

16
kemasyarakatan dalam memberikan penyuluhan dan simulasi
persiapan menghadapi ancaman bencana kepada masyarakat
c. Perawat terlibat dalam program promosi kesehatan untuk
meningkatkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana
yang meliputi hal-hal berikut
1) Usaha pertolongan diri sendiri
2) Pelatihan pertolongan pertama dalam keluarga seperti
menolong anggota keluarga yang lain
3) Pembekalan informasi tentang bagaimana mennyimpan dan
membawa persediaan makanan dan penggunaan air yang aman
4) Perawat juga dapat memberikan beberapa alamat dan nomor
telepon darurat seperti dinas kebakaran, rumah sakit, dan
ambulans
5) Memberikan informasi tempat-tempat alternatif penampungan
atau posko-posko bencana
6) Memberikan informasi tentang perlengkapan yang dapat
dibawa seperti pakaian seperlunya, radio portable, senter
beserta baterainya, dan lainnya.
2. Fase impact
a. Bertindak cepat
b. Do not promise. Perawat seharusnya tidak menjajikan apapun
dengan pasti, dengan maksud memberikan harapan yang besar
pada para korban selamat.
c. Berkonsentrasi penuh pada apa yang dilakukan
d. Koordinasi dan menciptakan kepemimpinan
e. Untuk jangka panjang, bersama-sama pihak yang terkait dapat
mendiskusikan dan merancang master plan of revitalizingg,
biasanya untuk jangka waktu 30 bulan pertama
3. Fase post-impact
a. Bencana tentu memberikan bekas khusus bagi keadaan fisik,
sosial, dan psikologis korban.
b. Selama masa perbaikan perawat membantu masyarakat untuk
kembali pada kehidupan normal.
c. Beberapa penyakit dan kondisi fisik mungkin memerlukan jangka
waktu yang lama untuk normal kembali bahkan terdapat keadaan
dimana kecacatan terjadi.
2.5.2 Peran perawat di dalam Posko Pengungsian dan Posko
Bencana

17
a. Memfasilitasi jadwal kunjungan konsultasi medis dan cek
kesehatan sehari-hari
b. Tetap menyusun rencana prioritas asuhan keperawatan harian
c. Merencanakan dan memfasilitasi transfer pasien yang
memerlukan penanganan kesehatan di RS
d. Mengevaluasi kebutuhan kesehatan harian
e. Memeriksa dan mengatur persediaan obat, makanan, makanan
khusus bayi, peralatan kesehatan
f. Membantu penanganan dan penempatan pasien dengan penyakit
menular maupun kondisi kejiwaan labil hingga membahayakan
diri dan lingkungannya berkoordinasi dengan perawat jiwa
g. Mengidentifikasi reaksi psikologis yang muncul pada korban
(ansietas, depresi yang ditunjukkan dengan seringnya menangis
dan mengisolasi diri) maupun reaksi psikosomatik (hilang nafsu
makan, insomnia, fatigue, mual muntah, dan kelemahan otot)
h. Membantu terapi kejiwaan korban khususnya anak-anak, dapat
dilakukan dengan memodifikasi lingkungan misal dengan terapi
bermain.
i. Memfasilitasi konseling dan terapi kejiwaan lainnya oleh para psikolog
dan psikiater
j. Konsultasikan bersama supervisi setempat mengenai pemeriksaan
kesehatan dan kebutuhan masyarakat yang tidak mengungsi

Langkah-langkah dalam penanggulangan bencana:


1. Pengkajian awal terhadap korban bencana, yang mencankup
a. Keadaan jalan napas, apakah terdapat sumbatan napas? Sifat
pernapasan cepat, lambat, tidak teratur
b. Sistem kardiovaskular, meliputi tekanan darah; tinggi atau rendah;
nadi cepat, lambat, atau lemah
c. Sistem muskuloskeletal, seperti luka, trauma, fraktur
d. Tingkat kesadaran, komposmentis-koma
2. Pertolongan darurat
Evaluasi melalui sistem triange sesuai dengan urutan prioritas
a. Atasi masalah jalan napas, atur posisi ( semi fowler, fowler tinggi),
bebaskan jalan napas dari sumbatan, berikan oksigen sesuai
kebutuhan, awasi pernapasan.
b. Atasi perdarahan, bersihkan luka dari kotoran dan benda asing,
desinfeksi luka, biarkan darah yang membeku, balut luka.

18
c. Fraktur atau trauma, imobilisasikan dengan memasang spalak,
balut
d. Kesadaran terganggu, bebaskan jalan napas, awasi tingkat
kesadaran dan tanda-tanda vital
3. Rujukan segera ke puskesmas/rumah sakit

BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Bencana alam adalah serangkaian peristiwa yang menjadi ancaman


stabilitas kehidupan manusia, baik yang disebabkan oleh alam atapun non alam.
Peristiwa vulkanisme sangat berhubungan dengan naiknya magma dari dalam
perut bumi. Aktivitas magma disebabkan oleh tingginya suhu magma dan
banyaknya gas yang terkandung di dalamnya. Tahapan manajemen bencana pada
kondisi sebelum kejadian/pra bencana : kesiagaan, peringatan dini, dan mitigasi.
Penanganan pasca bencana adalah segala upaya dan kegiatan yang dilakukan
meliputi kegiatan perbaikan fisik maupun non fisik yang dilakukan setelah
terjadinya bencana/masa tanggap darurat, meliputi rehabilitasi dan rekontruksi
sarana, prasarana, fasilitas umum yang rusak akibat bencana alam dalam upaya
pemulihan kehidupan masyarakat.

3.2 Saran

Sebaiknya di setiap gunung api yang masih aktif ada pos pengawasan yang
dilengkapi dengan alat-alat pemantauan yang akurat. Informasikan atau

19
komukasikan segala tanda bahaya yang diperoleh sedini mungkin kepada
masyarakat atau melalui kepala desa masing-masing. Buat sirene tanda bahaya
untuk mengingatkan penduduk untuk segera mengungsi bila keadaaan tambah
gawat. Pembuatan sungai yang khusus untuk aliran lahar dan membuat tanggul
yang kokoh untuk melindungi desa dari aliran lahar.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2014. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang


Penyelenggaraan Penaggulangan Bencana.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Dan Badan Koordinasi Nasional
Penanganan Bencana. 2006. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko
Bencana 2006-2009.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2010. Buku Panduan Pengenalan
Karakteristik Bencana Dan Upaya Mitigasinya di Indonesia.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2010. Rencana Nasional
Penanggulangan Bencana 2010 – 2014.
Deples RI. 2007. Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat
Bencana. Jakarta : Depkes RI Bhakti Husada.
Ferry Efendi dan Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan
Praktek dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Putri Cep Alam, et al. 2013. Upaya Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah Pasca
Bencana Erupsi Gunung Merapi di Kecamatan Kemalang Kabupaten
Klaten Provinsi Jawa Tengah. Journal of Public Policy and Management
Reveiw Universitas Diponegoro Vol 2 no 3.
Waluyo, dkk. 2008. Ilmu Pengetahuan Sosial Untuk SMP/MTS Kelas VII.
Jakarta. Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/12406/BAB%20III.pdf?
sequence=7&isAllowed=y

20