Anda di halaman 1dari 32

METODE PENELITIAN NON POSITIVIS

ETNOMETODOLOGI

DISUSUN OLEH :

A. YAYAN ANDRIYANI A062172001

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2018
KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur kami haturkan kepada Allah Subhanahu


Wata’ala yang telah memberikan banyak nikmat, taufik dan hidayah. Sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Etnometodologi” dengan baik
tanpa ada halangan yang berarti.

Makalah ini telah kami selesaikan dengan maksimal berkat kerjasama dan
bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu kami sampaikan banyak terima kasih
kepada segenap pihak yang telah berkontribusi secara maksimal dalam
penyelesaian makalah ini.
Diluar itu, penulis sebagai manusia biasa menyadari sepenuhnya bahwa
masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, baik dari segi tata bahasa,
susunan kalimat maupun isi. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati , kami
selaku penyusun menerima segala kritik dan saran yang membangun dari
pembaca. Semoga makalah ini dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan dan
memberikan manfaat nyata untuk masyarakat luas.

Makassar, 10 Mei 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 01

BAB II PEMBAHASAN 03

A. PENGERTIAN ETNOMETODOLOGI 03

B. INTI ETNOMETODOLOGI 04

C. MENGENAL LEBIH JAUH ETNOMETODOLOGI 05

D. TAHAPAN ETNOMETODOLOGI 07

E. PENJABARAN ETNOMETODOLOGI SEBAGAI METODELOGI RISET AKUNTANSI. 11

F. MELAMPAUI ETNOMETODOLOGI: KRITIS, POSMDERMIS ATAU RELIGIOUS 12

BAB III PENUTUP 15

ii
BAB I

PENDAHULUAN

Dalam kehidupan yang sifatnya dinamis ini, manusia sebagai makhluk

sosial tidak akan pernah bisa lepas dari individu-individu yang lain. Sehingga

mereka akan selalu bersentuhan dengan indvidu lainnya, dengan kelompok

individu, bahkan antara kelompok individu dengan kelompok individu yang lain,

atau dalam dunia sosial lebih dikenal dengan istilah Interaksi Sosial. Interaksi

sosial yang terbangun melahirkan gejala-gejala sosial (fakta sosial) dalam

kehidupan masyarakat. Ilmu sosial hadir dengan tujuan untuk membangun

pemahaman atas setiap fakta sosial yang terjadi ditengah masyarakat. Pemahaman

tersebut dapat ditempuh melalui pengamatan sosial. Pengamatan sosial tidak

hanya dilakukan dengan satu cara dan dari satu sudut pandang sosial saja,

sehinggan hal ini kemudian melahirkan banyak metodologi yang dapat

dipergunakan dalam melakukan pengamatan sosial. Diantara metodologi yang ada

salah satunya adalah Etnometodologi.

Etnometodologi sebagai sebuah cabang studi sosiologi berurusan dengan

pengungkapan realitas dunia kehidupan (lebenswelt) dari individu atau

masyarakat. Sekalipun etnometodologi oleh beberapa pakar dipandang sebagai

sebuah studi pembaharuan dalam sosiologi, etnometodologi memiliki kesamaan

dengan beberapa pendekatan sosiologi sebelumnya yaitu fenomenologi.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Etnometodologi

Etnometodologi adalah salah satu cabang ilmu sosiologi yang mempelajari

tentang berbagai upaya, langkah, dan penerapan pengetahuan umum pada

kelompok komunitas untuk menghasilkan dan mengenali subjek, realitas, dan alur

tindakan yang bisa dipahami bersama-sama (Kuper, 2000).

Neuman (1997) mengartikan etnometodologi sebagai keseluruhan

penemuan, metode, teori, suatu pandangan dunia. Pandangan etnometodologi

berasal dari kehidupan. Etnometodologi berusaha memaparkan realitas pada

tingkatan yang melebihi sosiologi, dan ini menjadikannya berbeda banyak dari

sosiologi dan psikologi. Etnometodologi memiliki batasan sebagai kajian akal

sehat, yakni kajian dari observasi penciptaan yang digunakan terus-menerus

dalam interaksi sosial dengan lingkungan yang sewajarnya.

Secara terminology, etnometodologi diterjemahkan sebagai sebuah metode

pengorganisasian masyarakat dengan melihat beberapa aspek kebutuhan,

diantaranya: pencerahan dan pemberdayaan. Etnometodologi bukanlah metode

yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, melainkan menunjuk

pada permasalahan apa yang akan diteliti. Etnometodologi adalah studi tentang

bagaimana individu menciptakan dan memahami kehidupan sehari-hari,

metodenya untuk mencapai kehidupan sehari-hari.

2
Etnometodologi merupakan rumpun penelitian kualitatif yang beranjak

dari paradigma fenomenologi. Ciri utama dari etnometodologi adalah ciri

“reflektif”nya, yang berarti bahwa cara orang bertindak dan mengatur struktur

sosialnya adalah sama dengan prosedur memberikan nilai terhadap struktur

tersebut.

B. Inti Etnometodologi

Etnometodologi merupakan suatu studi empiris tentang bagaimana orang

menanggapi pengalaman dunia sosialnya sehari-hari. Etnometodologi

mempelajari realitas sosial atas interaksi yang berlangsung sehari-hari.

Garfinkel tiga hal kunci dasar etnometodologi, yaitu :

1. Ada perbedaan antara ungkapan yang objektif dengan yang


diindikasikan
2. Refleksitas berbagai tindakan praktis.
3. Kemampuan menganalisis tindakan tersebut dalam kehidupan sehari-
hari.

Menurut Bogdan dan Biklen (1982:37) etnometodologi tidaklah selalu

mengacu pada suatu model atau metode pengumpulan data pada saat peneliti

melakukan penelitian di lapangan, akan tetapi lebih merupakan arah kemana

problematika penelitian itu tertuju. Dengan demikian, etnometodologi mengacu

pada suatu studi mengenai bagaimana seseorang individu dalam suatu komunitas

bertindak dan bertingkah laku serta berusaha memahami kehidupan sehari-hari

aktor yang diteliti.

Dengan demikian, etnometodologi mengisyaratkan upaya

mendeskripsikan dan memahami masyarakat dalam kehidupan sehari-hari,

3
misalnya bagaimana pola interaksi, cara berpikir, perasaan mereka, dan cara

bicara mereka.

C. Mengenal Lebih Jauh Etnometodologi

Garfinkel melukiskan sasaran perhatian etnometodologi adalah realitas

objektif fakta sosial, fenomena fundamental sosiologi karena merupakan setiap

produk masyarakat setempat yang diciptakan dan diorganisir secara alamiah, terus

menerus, prestasi praktis, selalu, hanya, pasti dan menyeluruh, tanpa henti dan

peluang menghindar, menyembunyikan diri, melampaui atau menunda.

Garfinkel mememunculkan etnometodologi sebagai bentuk ketidak

setujuannya terhadap pendekatan-pendekatan sosiologi konvensional selalu

dilengkapi asumsi, teori, proposisi, dan kategori yang membuat peneliti tidak

bebas didalam memahami kenyataan social menurut situasi dimana kenyataan

sosial tersebut berlangsung. Garfinkel sendiri mendefenisikan etnometodologi

sebagai penyelidikan atas ungkapan-ungkapan indeksikal dan tindakan-tindakan

praktis lainnya sebagai kesatuan penyelesaian yang sedang dilakukan dari

praktek-praktek kehidupan sehari-hari yang terorganisir.

Etnometodologi Grafinkel ditujukan untuk meneliti aturan interaksi sosial

sehari-hari yang berdasarkan akal sehat. Apa yang dimaksudkan dengan dunia

akal sehat adalah sesuatu yang biasanya diterima begitu saja, asumsi-asumsi yang

berada di baliknya dan arti yang dimengerti bersama. Inti dari etnometologi

Granfikel adalah mengungkapkan dunia akal sehat dari kehidupan sehari-hari.

4
Ada kesamaan antara metode yang digunakan Garfinkel dengan dengan

pemikiran Wittgenstein yang mengatakan bahwa pemahaman umum terdapat

dalam percakapan serta transaksi sosial sehari-hari. Etnometodologi di satu sisi

meneliti biografi dan maksud yang dikandung oleh aktor-aktor sosial dan di sisi

lain menganalisis pemahaman umum (common-sense). Sebagaimana yang

diungkapkan dalam karyanya Studies in Ethnometodology dia menunjukkan

bahwa:

1. Perbincangan sehari-hari secara umum memaparkan sesuatu yang lebih

memiliki makna daripada langsung kata-kata itu sendiri.

2. Perbincangan tersebut merupakan praduga konteks makna yang umum.

3. Pemahaman secara umum yang meyertai atau yang dihasilkan dari

perbincangan tersebut mengandung suatu proses penafsiran terus menerus

secara intersubjektif.

4. Transaksi dan peristiwa sehari-hari memiliki metodologi, terencana dan

rasional, sehingga dengan peristiwa tersebut seseorang akan memahami

ucapan orang lain melalui pemahaman aturan itu sesuai dengan kaidah-

kaidahnya.

Dalam prakteknya, etnometodogi Grafinkel menekankan pada kekuatan

pengamatan atau pendengaran dan eksperimen melalui simulasi. Pengamatan atau

pendengaran digunakan Grafinkel ketika melakukan penelitian pada sebuah toko.

Di sana Grafinkel mengamati setiap pembeli yang keluar dan masuk di toko

tersebut serta mendengar apa yang dipercakapkan orang-orang tersebut.

5
Sementata untuk eksperimen (simulasi), Grafinkel melakukan beberapa

latihan pada beberapa orang. Latihan ini terdiri dari beberapa sifat, yaitu

responsif, provokatif dan subersif. Pada latihan responsif yang ingin diungkap

adalah bagaimana seseorang menanggapi apa yang pernah dialaminya. Pada

latihan provokatif yang ingin diungkap adalah reaksi orang terhadap suatu situasi

atau bahasa. Sementara latihan subersif menekankan pada perubahan status atau

peran yang biasa dimainkan oleh seseorang dalam kehidupan sehari-harinya. Pada

latihan subersif, seseorang diminta untuk bertindak secara berlainan dari apa yang

seharusnya dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Latihan pertama (responsif) adalah meminta orang-orang tersebut

menuliskan apa yang pernah mereka dengar dari para familinya lalu membuat

tanggapannya. Latihan kedua (provokatif) dilakukan dengan meminta orang-orang

bercakap-cakap dengan lawannya dan memperhatikan setiap reaksi yang

diberikan oleh lawan mereka tersebut. Sementara latihan ketiga (subersif) adalah

menyuruh mahasiswanya untuk tinggal di rumah mereka masing-masing dengan

berprilaku sebagai seorang indekos. Lewat latihan-latihan ini orang menjadi sadar

akan kejadian sehari-hari yang tidak pernah disadarinya. Latihan ini adalah

strategi dari Grafinkel untuk mengungkapkan dunia akan sehat, sebuah dunia yang

dihidupi oleh masing-masing orang tanpa pernah mempertanyakan mengapa hal

tersebut harus terjadi sedemikian.

D. Tahapan Etnometodologi

1. Tahap pertama : Analisis Indeksikalitas

6
Pernahkah anda membaca indeks sebuah buku? Apa yang anda harapkna?

Tentu anda mengharapkan akan menemukan tema tertentu yang anda cari di

halaman belakang buku tersebut. Halam indeks biasanya akan memberikan

daftar panjang berbagai tema secara aldabetis dan mengarahkan anda pada

halaman tertentu di mana tema tersebut muncul dalam buku. Jika kemudian

anda menemukan penjelasan pada buku tersebut tergantung pada konteks apa

yang dbicarakan halaman yang satu tidak selalu menjelaskan hal yang sama

seperti pada halaman lain. Inilah indeksikalitas.

Dalam kesaharian, kita layakanya buku dan melakukan hal serupaa. Kita

membuat indeks-indeks atau tema melalui ungkapan maupun bahas tubuh.

Etnometodologi memahami bahwa apa yag kita lakukan tidak mungkin lepas

dengan lingkungan sekitar kita, atau dengan kata lain, kita membutuhkan

persutujuan anggota kelompok kita untuk melakukan tindakan tertentu.

Misalnya, llazim bagi kita menggelengkan kepala untuk mengekspresikan

“tidak”, namun di komunitas india, menggelengkan kepala dimaknai dengan

“ya”. Adalah tugas pertama etnometodologi untuk mencari tema atau

ekspresi indeksikalitas ini. Pencarian tema dilandasi dengan asumsi bahwa

ungkapan atau utterance, sangat relative pada sang pengungkap dan sangat

dibatasi oleh waktu dan tempat. Mari kita lihat beberapa contoh ungkapan

berikut ini :

Ungkapan 1 : belilah sekotak amplop untuk persediaan ATK kita.

Ungkapan 2: Besok sudah libur lebaran, kamu sudah terima

amplop?

7
Ungkapan 3 : bisa dipastikan urusan perijinan kali ini akan lancer

karena amplop yang kita berikan pada kepala dinas

tadi dalam map pertutup, langsung ia ambil dan

masukkan dalam sakunya sambil tersenyum senang.

Dalam tiga ungkapan di atas, indeks amplop memiliki arti yang berbeda dalam

tempat dan ruang yang berbeda. Indeksikalitas bukanlah fakta yang objektif,

namun subjektif pada ruang dan waktu adalah kegagalan dari sains positivis.

2. Tahap kedua ; Analisis Refleksivitas

Setelah peneliti mengamati dan menemukan ekspresi indeksikalitas, ia

harus mampu meneelah refleksivitas dari ekspesii tersebut. Refleksivitas yang

dimaksud adalah “uninteresting essential reflexivity of account.

Kata yang menarik dan perlu digaris bawahu adalah uninteresting atau

tidak menarik. Sekilas jika kita membaca hal ini maka muncul sedikit

kejanggalan: jika tidak menarik mengapa kemudian perlu diteliti? Jawabannya

terletak pada kesadaran informan serta komunitas. Telah saya jelaskan

sebelumnya garfinkel sangat dipengaruhi pula oleh pemikiran Huserl,

penggagas fenomenologi. Disini Garnfinkel masih terbawa paradigm Huserl

bahwa realitas adalah bentukan kesadaran, namun kesadaran di sini yang

disorot Garnfinkel adalah justru ketidaksadaran.

Mari kita kembali ke contoh amplop tadi. Jika saya adalah pelaku

penerima amplop tunjangan Hari Raya (THR), maka saya tidak akan tertarik

untuk membahas dan memikirkan mengapa saya menganggap amplop penting

atau mengapa saya perlu untuk menerima amplop. Jika orang lain adalah

8
pelaku penerima suap, maka ia pun juga tidak akan tertarik untuk

mendiskusikan dan menjelaskan perilakunya. Seluruh aktivitas keseharian

yang dilakukan berada pada tataran praktis dan pragmatis. Merupakan tugas

etnometodologis untuk mengunggapkan hal-hal yang di anggap

pelaku/informan tidak menarik bagi pelaku/informan yang terjadinya suatu

aktivitas.

Etnometodologi harus mencari tahu bagaimana individu-individu, dalam

ketidaktertarikan mereka untuk membahas tindakan mereka, selalu melakukan

studi tentang apa yang terjadi disekitar mereka.

3. Tahap Ketiga : Analisis Aksi Konsektual

Tahap ketiga studi etnometodologi adalah mengungkapkan aktivitas

keseharian bersifat praktis yang dapat dikenali dan dapat dilaporkan. Mahkota

penelitian etnometodologi adalah suatu penjelasan tentang keteraturan dan

keterkaitan antara ekspresi indeksikalitas, rasionalisasi atas ekspresi

indeksikalitas dan akhirnya berakhir pada sebuah aksi indeksikalitas. Sifat aksi

yang dapat dikenali dan dapat dilaporkan inilah yang menjadi bentuk

akuntabilitas. Jadi, akuntabilitas di etnometodologi tidak sama dengan konsep

akuntabilitas atau pertanggungjawaban yang kita kenal di akuntansi. Aksi

dalam etnometodologi selalu merujuk pada aksi organaniztionaly

demonstrable atau aksi organizational akibat interaksi antar anggota

kelompok/ komunitas/ organisasi.

Misalnya, di Bali sudah menjadi aktivitas rutin bahwa sembahyang dengan

melakukan persembahan dan pembakaran dupa diadakan di tokok-toko,

9
perempatan jalan, depan rumah dan jembatan. Seseorang yang telah tinggal di

Bali dan melakukan aktivitas ini tidak akan melihat hal ini sebagai hal yang

baru atau unik. Ia tidak menganggap aktivitas ini sebagai hal yang perlu

diperhatikan. Namun, jika aktivitas sembahyan ini dibawa ke Jawa, maka ini

akan terlihat dan terperhatikan, karena mayoritas masyarakat Jawa tidak

melakukan aktivitas tersebut.

4. Tahap keempat : penyajian Common Sense Knowledge of Sosial Structure.

Muara dari semua penelitian sosial adalah pemahaman pola struktur sosial.

Mengapa sumbangan taysakuran dalam budaya jawa dicatat? Mengapa

kecurangan akuntansi dilakukan berjamaah? Etnometodologi yang dilakukan

dengan baik akan memberikan gambaran tentang indeks-indeks yang

dilakukan dalam keseharian dan kesepakatan komunitas. Pemahaman relasi

indeks dan refleksivitas akan mengungkap aksi indeksikalitas yang terbentuk,

dan bagaimana aktivitas dilakukan. Akhirnya, pemahaman ini akan mengarah

pada budaya umum atau common culture.

Jelas bahwa aktivitas dalam praktik akuntansi juga dapat ditelaah melalui

etnometodologi. Pada akhirnya seorang etnometodologi mampu menjelaskan

bahwa aktivitas/ praktik akuntansi sebenarnya merupakan suatu norma yang

telah diasumsikan disetujui dan dipraktikkan semua anggota masyarakat.

Maksud dari common sense ialah sesuatu taken for granted ( yang dianggap

pasti).

a. Penjabaran Etnometodologi sebagai Metodelogi Riset Akuntansi

10
Ada suatu kesalahan umum dalam penjabaran metodologi yang

sedemikian sering dilakukan sehingga tidak lagi dianggap sebagai suatu

kesalahan. Ini mungkin sudah menjadi backround expectancies dari para peneliti.

Banyak dari mahasiswa yang saat menyajikan metodologi penelitian, terjebak

dalam pembahasan normative definitive tentang apa yang dimaksud dengan

paradigm, metode penelitian kualitatif dan lain-lain.

Dalam buku Ari kamayanti menyampaikan bahwa iya selalu meminta

mahaiswa menyajikan bab metode penelitian sebagai sebuah custom-made

method. Artinya seandainya metode penelitian tersebut dibaca oleh orang lain,

mereka hanya akan merelasikan metode penelitian dengan isu penelitian yang

sedang ditelaah. Sederhananya, pastikan bahwa metode penelitian anda tidak akan

dapat di copas oleh orang lain untuk penelitian mereka karena begitu terikatnya

pembahasan metodologi dengan isu penelitian anda. Ini yang ia sebutkan sebagai

embeddeedness between methodology and research issue.

Penyajian etnometodologi sebagai sebuah metodologi riset akuntansi

sebaiknya juga menggunakan rumus yang sama. Pastikan penyajian metodologi

anda unik dan hanya milik anda.

b. Melampaui Etnometodologi: Kritis, Posmdermis atau religious

Beberapa peneliti telah mengaitkan etnometodologi dengan cara pandang

kritis. Salah satunya adalah Freund & Abrams (1976). Mereka berpendapat bahwa

Marxsisme dan etnometodologi dapat diitegrasikan. Pada penjelasan Freund &

Abrams (1976) bahwa penelitian etnometodologi dapat berpihak dan tidak netral

dan bahwa dengan mengubah tujuan penelitian dari memahami aktivitas

11
keseharian menuju mengubah dunia, mengkonstruksi humanism baru, maka

etnometodologi kritis pun dapat dilakukan.

Jika etnometodologi interpretif berhenti pada pemahaman common sens

knowledge of sosial structure,maka etnometodologi kritis akan menganggap

keberadaan struktur sosial yang ditemui sebagai hasil supresi ideologi dominan.

Dalam kasus Freund & Abrams (1976), mereka menggunakan teori Marx tentang

kapitalisme dan menggap bahwa karena etnometodologi sebenarnya juga

merupakan kritik atas positivism, sinergi keduanya akan menghasilkan

metodologi yang lebih baik untuk melakukan perubahan melalui pemahaman akan

keseharian sebagai bentuk dominasi.

Etnometodologi yang menghasilkan pemahaman atas aktivitas keseharian

digunakan untuk melakukan dekonstruksi lain. Paradigm postmodern menolak

penunggalan atas kebenaran lalu melakukan dekonstruksi atau redefinisi atas

kebenaran tersebut. Jika hal ini di tarik ke tataran etnometodologi, maka common

sense knowledge of sosial structure yang dianggap mapan tersebut ditantang

kebenarannya. Bahkan etnometodologi postmodern bahkan tidak akan

menghasilkan sebuah pola common jika dengan mengakui pola tersebut berarti

mengakui penunggalan kebenaran.

Etnometodologi bahkan dapat diesktensi dalam paradigm religious.

Paradigm interpretif tidak mengambil kebenaran empiris berdasarkan proses

induktif. Paradigm interpretif tidak melakukan penghakiman apakah struktur

sosial baik atau buruk. Ia mengambil posisi netral. Paradigma kritis berkutat pada

12
perebutan materi, sehingga keadilan yang ada pada sebuah masyarakat diukur dari

distribusi materi.

Jika anda menggunakan etnometodologi religious, tentukan terlebih

dahulu nilai religious apa yang akan dijadikan dasar. Nilai terebut yang kemudian

menjadi koridor kbenaran pengetahuan yang kan dihasilkan. Ini bertolak belakang

dari penelitian induktif yang secara an sich menganggap data yang diambil dari

lapangan sebagai kebenaran. Bahkan anda berhak melakukan kontruksi struktur

sosial apabila struktur sosial yang ditemui tidak sesuai dengan interprestasi anda

akan wahyu llahiyah atas struktur sosial ideal.

13
BAB III

PENUTUP

Etnometodologi merupakan suatu studi empiris tentang bagaimana orang

menanggapi pengalaman dunia sosialnya sehari-hari. Etnometodologi

mempelajari realitas sosial atas interaksi yang berlangsung sehari-hari. Garfinkel

tiga hal kunci dasar etnometodologi, yaitu :

1. Ada perbedaan antara ungkapan yang objektif dengan yang


diindikasikan
2. Refleksitas berbagai tindakan praktis.
3. Kemampuan menganalisis tindakan tersebut dalam kehidupan sehari-
hari.

Bagi etnometodologi, minat dan kepentingannya berbeda. Satu-satunya

yang dapat dideskripsikan dengan pasti dalam kehidupan sosial adalah semua

yang dilakukan individu secara bersama dalam kesehariannya yang berpangkal

pada akal dan kreasi. Akahirnya, etnometodologi sampai pada sebuah keyakinan

bahwa pendekatan ini mampu menunjukkan kebenaran tentang apa yang individu

bangun melalui upaya mereka sendiri.

14
BAB I

PENDAHULUAN

Dalam kehidupan yang sifatnya dinamis ini, manusia sebagai makhluk

sosial tidak akan pernah bisa lepas dari individu-individu yang lain. Sehingga

mereka akan selalu bersentuhan dengan indvidu lainnya, dengan kelompok

individu, bahkan antara kelompok individu dengan kelompok individu yang lain,

atau dalam dunia sosial lebih dikenal dengan istilah Interaksi Sosial. Interaksi

sosial yang terbangun melahirkan gejala-gejala sosial (fakta sosial) dalam

15
kehidupan masyarakat. Ilmu sosial hadir dengan tujuan untuk membangun

pemahaman atas setiap fakta sosial yang terjadi ditengah masyarakat. Pemahaman

tersebut dapat ditempuh melalui pengamatan sosial. Pengamatan sosial tidak

hanya dilakukan dengan satu cara dan dari satu sudut pandang sosial saja,

sehinggan hal ini kemudian melahirkan banyak metodologi yang dapat

dipergunakan dalam melakukan pengamatan sosial. Diantara metodologi yang ada

salah satunya adalah Etnometodologi.

Etnometodologi sebagai sebuah cabang studi sosiologi berurusan dengan

pengungkapan realitas dunia kehidupan (lebenswelt) dari individu atau

masyarakat. Sekalipun etnometodologi oleh beberapa pakar dipandang sebagai

sebuah studi pembaharuan dalam sosiologi, etnometodologi memiliki kesamaan

dengan beberapa pendekatan sosiologi sebelumnya yaitu fenomenologi.

BAB II
PEMBAHASAN

E. Pengertian Etnometodologi

Etnometodologi adalah salah satu cabang ilmu sosiologi yang mempelajari

tentang berbagai upaya, langkah, dan penerapan pengetahuan umum pada

16
kelompok komunitas untuk menghasilkan dan mengenali subjek, realitas, dan alur

tindakan yang bisa dipahami bersama-sama (Kuper, 2000).

Neuman (1997) mengartikan etnometodologi sebagai keseluruhan

penemuan, metode, teori, suatu pandangan dunia. Pandangan etnometodologi

berasal dari kehidupan. Etnometodologi berusaha memaparkan realitas pada

tingkatan yang melebihi sosiologi, dan ini menjadikannya berbeda banyak dari

sosiologi dan psikologi. Etnometodologi memiliki batasan sebagai kajian akal

sehat, yakni kajian dari observasi penciptaan yang digunakan terus-menerus

dalam interaksi sosial dengan lingkungan yang sewajarnya.

Secara terminology, etnometodologi diterjemahkan sebagai sebuah metode

pengorganisasian masyarakat dengan melihat beberapa aspek kebutuhan,

diantaranya: pencerahan dan pemberdayaan. Etnometodologi bukanlah metode

yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, melainkan menunjuk

pada permasalahan apa yang akan diteliti. Etnometodologi adalah studi tentang

bagaimana individu menciptakan dan memahami kehidupan sehari-hari,

metodenya untuk mencapai kehidupan sehari-hari.

Etnometodologi merupakan rumpun penelitian kualitatif yang beranjak

dari paradigma fenomenologi. Ciri utama dari etnometodologi adalah ciri

“reflektif”nya, yang berarti bahwa cara orang bertindak dan mengatur struktur

sosialnya adalah sama dengan prosedur memberikan nilai terhadap struktur

tersebut.

F. Inti Etnometodologi

17
Etnometodologi merupakan suatu studi empiris tentang bagaimana orang

menanggapi pengalaman dunia sosialnya sehari-hari. Etnometodologi

mempelajari realitas sosial atas interaksi yang berlangsung sehari-hari.

Garfinkel tiga hal kunci dasar etnometodologi, yaitu :

4. Ada perbedaan antara ungkapan yang objektif dengan yang


diindikasikan
5. Refleksitas berbagai tindakan praktis.
6. Kemampuan menganalisis tindakan tersebut dalam kehidupan sehari-
hari.

Menurut Bogdan dan Biklen (1982:37) etnometodologi tidaklah selalu

mengacu pada suatu model atau metode pengumpulan data pada saat peneliti

melakukan penelitian di lapangan, akan tetapi lebih merupakan arah kemana

problematika penelitian itu tertuju. Dengan demikian, etnometodologi mengacu

pada suatu studi mengenai bagaimana seseorang individu dalam suatu komunitas

bertindak dan bertingkah laku serta berusaha memahami kehidupan sehari-hari

aktor yang diteliti.

Dengan demikian, etnometodologi mengisyaratkan upaya

mendeskripsikan dan memahami masyarakat dalam kehidupan sehari-hari,

misalnya bagaimana pola interaksi, cara berpikir, perasaan mereka, dan cara

bicara mereka.

G. Mengenal Lebih Jauh Etnometodologi

Garfinkel melukiskan sasaran perhatian etnometodologi adalah realitas

objektif fakta sosial, fenomena fundamental sosiologi karena merupakan setiap

produk masyarakat setempat yang diciptakan dan diorganisir secara alamiah, terus

18
menerus, prestasi praktis, selalu, hanya, pasti dan menyeluruh, tanpa henti dan

peluang menghindar, menyembunyikan diri, melampaui atau menunda.

Garfinkel mememunculkan etnometodologi sebagai bentuk ketidak

setujuannya terhadap pendekatan-pendekatan sosiologi konvensional selalu

dilengkapi asumsi, teori, proposisi, dan kategori yang membuat peneliti tidak

bebas didalam memahami kenyataan social menurut situasi dimana kenyataan

sosial tersebut berlangsung. Garfinkel sendiri mendefenisikan etnometodologi

sebagai penyelidikan atas ungkapan-ungkapan indeksikal dan tindakan-tindakan

praktis lainnya sebagai kesatuan penyelesaian yang sedang dilakukan dari

praktek-praktek kehidupan sehari-hari yang terorganisir.

Etnometodologi Grafinkel ditujukan untuk meneliti aturan interaksi sosial

sehari-hari yang berdasarkan akal sehat. Apa yang dimaksudkan dengan dunia

akal sehat adalah sesuatu yang biasanya diterima begitu saja, asumsi-asumsi yang

berada di baliknya dan arti yang dimengerti bersama. Inti dari etnometologi

Granfikel adalah mengungkapkan dunia akal sehat dari kehidupan sehari-hari.

Ada kesamaan antara metode yang digunakan Garfinkel dengan dengan

pemikiran Wittgenstein yang mengatakan bahwa pemahaman umum terdapat

dalam percakapan serta transaksi sosial sehari-hari. Etnometodologi di satu sisi

meneliti biografi dan maksud yang dikandung oleh aktor-aktor sosial dan di sisi

lain menganalisis pemahaman umum (common-sense). Sebagaimana yang

diungkapkan dalam karyanya Studies in Ethnometodology dia menunjukkan

bahwa:

19
5. Perbincangan sehari-hari secara umum memaparkan sesuatu yang lebih

memiliki makna daripada langsung kata-kata itu sendiri.

6. Perbincangan tersebut merupakan praduga konteks makna yang umum.

7. Pemahaman secara umum yang meyertai atau yang dihasilkan dari

perbincangan tersebut mengandung suatu proses penafsiran terus menerus

secara intersubjektif.

8. Transaksi dan peristiwa sehari-hari memiliki metodologi, terencana dan

rasional, sehingga dengan peristiwa tersebut seseorang akan memahami

ucapan orang lain melalui pemahaman aturan itu sesuai dengan kaidah-

kaidahnya.

Dalam prakteknya, etnometodogi Grafinkel menekankan pada kekuatan

pengamatan atau pendengaran dan eksperimen melalui simulasi. Pengamatan atau

pendengaran digunakan Grafinkel ketika melakukan penelitian pada sebuah toko.

Di sana Grafinkel mengamati setiap pembeli yang keluar dan masuk di toko

tersebut serta mendengar apa yang dipercakapkan orang-orang tersebut.

Sementata untuk eksperimen (simulasi), Grafinkel melakukan beberapa

latihan pada beberapa orang. Latihan ini terdiri dari beberapa sifat, yaitu

responsif, provokatif dan subersif. Pada latihan responsif yang ingin diungkap

adalah bagaimana seseorang menanggapi apa yang pernah dialaminya. Pada

latihan provokatif yang ingin diungkap adalah reaksi orang terhadap suatu situasi

atau bahasa. Sementara latihan subersif menekankan pada perubahan status atau

peran yang biasa dimainkan oleh seseorang dalam kehidupan sehari-harinya. Pada

20
latihan subersif, seseorang diminta untuk bertindak secara berlainan dari apa yang

seharusnya dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Latihan pertama (responsif) adalah meminta orang-orang tersebut

menuliskan apa yang pernah mereka dengar dari para familinya lalu membuat

tanggapannya. Latihan kedua (provokatif) dilakukan dengan meminta orang-orang

bercakap-cakap dengan lawannya dan memperhatikan setiap reaksi yang

diberikan oleh lawan mereka tersebut. Sementara latihan ketiga (subersif) adalah

menyuruh mahasiswanya untuk tinggal di rumah mereka masing-masing dengan

berprilaku sebagai seorang indekos. Lewat latihan-latihan ini orang menjadi sadar

akan kejadian sehari-hari yang tidak pernah disadarinya. Latihan ini adalah

strategi dari Grafinkel untuk mengungkapkan dunia akan sehat, sebuah dunia yang

dihidupi oleh masing-masing orang tanpa pernah mempertanyakan mengapa hal

tersebut harus terjadi sedemikian.

H. Tahapan Etnometodologi

1. Tahap pertama : Analisis Indeksikalitas

Pernahkah anda membaca indeks sebuah buku? Apa yang anda harapkna?

Tentu anda mengharapkan akan menemukan tema tertentu yang anda cari di

halaman belakang buku tersebut. Halam indeks biasanya akan memberikan

daftar panjang berbagai tema secara aldabetis dan mengarahkan anda pada

halaman tertentu di mana tema tersebut muncul dalam buku. Jika kemudian

anda menemukan penjelasan pada buku tersebut tergantung pada konteks apa

yang dbicarakan halaman yang satu tidak selalu menjelaskan hal yang sama

seperti pada halaman lain. Inilah indeksikalitas.

21
Dalam kesaharian, kita layakanya buku dan melakukan hal serupaa. Kita

membuat indeks-indeks atau tema melalui ungkapan maupun bahas tubuh.

Etnometodologi memahami bahwa apa yag kita lakukan tidak mungkin lepas

dengan lingkungan sekitar kita, atau dengan kata lain, kita membutuhkan

persutujuan anggota kelompok kita untuk melakukan tindakan tertentu.

Misalnya, llazim bagi kita menggelengkan kepala untuk mengekspresikan

“tidak”, namun di komunitas india, menggelengkan kepala dimaknai dengan

“ya”. Adalah tugas pertama etnometodologi untuk mencari tema atau

ekspresi indeksikalitas ini. Pencarian tema dilandasi dengan asumsi bahwa

ungkapan atau utterance, sangat relative pada sang pengungkap dan sangat

dibatasi oleh waktu dan tempat. Mari kita lihat beberapa contoh ungkapan

berikut ini :

Ungkapan 1 : belilah sekotak amplop untuk persediaan ATK kita.

Ungkapan 2: Besok sudah libur lebaran, kamu sudah terima

amplop?

Ungkapan 3 : bisa dipastikan urusan perijinan kali ini akan lancer

karena amplop yang kita berikan pada kepala dinas

tadi dalam map pertutup, langsung ia ambil dan

masukkan dalam sakunya sambil tersenyum senang.

Dalam tiga ungkapan di atas, indeks amplop memiliki arti yang berbeda dalam

tempat dan ruang yang berbeda. Indeksikalitas bukanlah fakta yang objektif,

namun subjektif pada ruang dan waktu adalah kegagalan dari sains positivis.

22
2. Tahap kedua ; Analisis Refleksivitas

Setelah peneliti mengamati dan menemukan ekspresi indeksikalitas, ia

harus mampu meneelah refleksivitas dari ekspesii tersebut. Refleksivitas yang

dimaksud adalah “uninteresting essential reflexivity of account.

Kata yang menarik dan perlu digaris bawahu adalah uninteresting atau

tidak menarik. Sekilas jika kita membaca hal ini maka muncul sedikit

kejanggalan: jika tidak menarik mengapa kemudian perlu diteliti? Jawabannya

terletak pada kesadaran informan serta komunitas. Telah saya jelaskan

sebelumnya garfinkel sangat dipengaruhi pula oleh pemikiran Huserl,

penggagas fenomenologi. Disini Garnfinkel masih terbawa paradigm Huserl

bahwa realitas adalah bentukan kesadaran, namun kesadaran di sini yang

disorot Garnfinkel adalah justru ketidaksadaran.

Mari kita kembali ke contoh amplop tadi. Jika saya adalah pelaku

penerima amplop tunjangan Hari Raya (THR), maka saya tidak akan tertarik

untuk membahas dan memikirkan mengapa saya menganggap amplop penting

atau mengapa saya perlu untuk menerima amplop. Jika orang lain adalah

pelaku penerima suap, maka ia pun juga tidak akan tertarik untuk

mendiskusikan dan menjelaskan perilakunya. Seluruh aktivitas keseharian

yang dilakukan berada pada tataran praktis dan pragmatis. Merupakan tugas

etnometodologis untuk mengunggapkan hal-hal yang di anggap

pelaku/informan tidak menarik bagi pelaku/informan yang terjadinya suatu

aktivitas.

23
Etnometodologi harus mencari tahu bagaimana individu-individu, dalam

ketidaktertarikan mereka untuk membahas tindakan mereka, selalu melakukan

studi tentang apa yang terjadi disekitar mereka.

3. Tahap Ketiga : Analisis Aksi Konsektual

Tahap ketiga studi etnometodologi adalah mengungkapkan aktivitas

keseharian bersifat praktis yang dapat dikenali dan dapat dilaporkan. Mahkota

penelitian etnometodologi adalah suatu penjelasan tentang keteraturan dan

keterkaitan antara ekspresi indeksikalitas, rasionalisasi atas ekspresi

indeksikalitas dan akhirnya berakhir pada sebuah aksi indeksikalitas. Sifat aksi

yang dapat dikenali dan dapat dilaporkan inilah yang menjadi bentuk

akuntabilitas. Jadi, akuntabilitas di etnometodologi tidak sama dengan konsep

akuntabilitas atau pertanggungjawaban yang kita kenal di akuntansi. Aksi

dalam etnometodologi selalu merujuk pada aksi organaniztionaly

demonstrable atau aksi organizational akibat interaksi antar anggota

kelompok/ komunitas/ organisasi.

Misalnya, di Bali sudah menjadi aktivitas rutin bahwa sembahyang dengan

melakukan persembahan dan pembakaran dupa diadakan di tokok-toko,

perempatan jalan, depan rumah dan jembatan. Seseorang yang telah tinggal di

Bali dan melakukan aktivitas ini tidak akan melihat hal ini sebagai hal yang

baru atau unik. Ia tidak menganggap aktivitas ini sebagai hal yang perlu

diperhatikan. Namun, jika aktivitas sembahyan ini dibawa ke Jawa, maka ini

akan terlihat dan terperhatikan, karena mayoritas masyarakat Jawa tidak

melakukan aktivitas tersebut.

24
4. Tahap keempat : penyajian Common Sense Knowledge of Sosial Structure.

Muara dari semua penelitian sosial adalah pemahaman pola struktur sosial.

Mengapa sumbangan taysakuran dalam budaya jawa dicatat? Mengapa

kecurangan akuntansi dilakukan berjamaah? Etnometodologi yang dilakukan

dengan baik akan memberikan gambaran tentang indeks-indeks yang

dilakukan dalam keseharian dan kesepakatan komunitas. Pemahaman relasi

indeks dan refleksivitas akan mengungkap aksi indeksikalitas yang terbentuk,

dan bagaimana aktivitas dilakukan. Akhirnya, pemahaman ini akan mengarah

pada budaya umum atau common culture.

Jelas bahwa aktivitas dalam praktik akuntansi juga dapat ditelaah melalui

etnometodologi. Pada akhirnya seorang etnometodologi mampu menjelaskan

bahwa aktivitas/ praktik akuntansi sebenarnya merupakan suatu norma yang

telah diasumsikan disetujui dan dipraktikkan semua anggota masyarakat.

Maksud dari common sense ialah sesuatu taken for granted ( yang dianggap

pasti).

c. Penjabaran Etnometodologi sebagai Metodelogi Riset Akuntansi

Ada suatu kesalahan umum dalam penjabaran metodologi yang

sedemikian sering dilakukan sehingga tidak lagi dianggap sebagai suatu

kesalahan. Ini mungkin sudah menjadi backround expectancies dari para peneliti.

Banyak dari mahasiswa yang saat menyajikan metodologi penelitian, terjebak

dalam pembahasan normative definitive tentang apa yang dimaksud dengan

paradigm, metode penelitian kualitatif dan lain-lain.

25
Dalam buku Ari kamayanti menyampaikan bahwa iya selalu meminta

mahaiswa menyajikan bab metode penelitian sebagai sebuah custom-made

method. Artinya seandainya metode penelitian tersebut dibaca oleh orang lain,

mereka hanya akan merelasikan metode penelitian dengan isu penelitian yang

sedang ditelaah. Sederhananya, pastikan bahwa metode penelitian anda tidak akan

dapat di copas oleh orang lain untuk penelitian mereka karena begitu terikatnya

pembahasan metodologi dengan isu penelitian anda. Ini yang ia sebutkan sebagai

embeddeedness between methodology and research issue.

Penyajian etnometodologi sebagai sebuah metodologi riset akuntansi

sebaiknya juga menggunakan rumus yang sama. Pastikan penyajian metodologi

anda unik dan hanya milik anda.

d. Melampaui Etnometodologi: Kritis, Posmdermis atau religious

Beberapa peneliti telah mengaitkan etnometodologi dengan cara pandang

kritis. Salah satunya adalah Freund & Abrams (1976). Mereka berpendapat bahwa

Marxsisme dan etnometodologi dapat diitegrasikan. Pada penjelasan Freund &

Abrams (1976) bahwa penelitian etnometodologi dapat berpihak dan tidak netral

dan bahwa dengan mengubah tujuan penelitian dari memahami aktivitas

keseharian menuju mengubah dunia, mengkonstruksi humanism baru, maka

etnometodologi kritis pun dapat dilakukan.

Jika etnometodologi interpretif berhenti pada pemahaman common sens

knowledge of sosial structure,maka etnometodologi kritis akan menganggap

keberadaan struktur sosial yang ditemui sebagai hasil supresi ideologi dominan.

Dalam kasus Freund & Abrams (1976), mereka menggunakan teori Marx tentang

26
kapitalisme dan menggap bahwa karena etnometodologi sebenarnya juga

merupakan kritik atas positivism, sinergi keduanya akan menghasilkan

metodologi yang lebih baik untuk melakukan perubahan melalui pemahaman akan

keseharian sebagai bentuk dominasi.

Etnometodologi yang menghasilkan pemahaman atas aktivitas keseharian

digunakan untuk melakukan dekonstruksi lain. Paradigm postmodern menolak

penunggalan atas kebenaran lalu melakukan dekonstruksi atau redefinisi atas

kebenaran tersebut. Jika hal ini di tarik ke tataran etnometodologi, maka common

sense knowledge of sosial structure yang dianggap mapan tersebut ditantang

kebenarannya. Bahkan etnometodologi postmodern bahkan tidak akan

menghasilkan sebuah pola common jika dengan mengakui pola tersebut berarti

mengakui penunggalan kebenaran.

Etnometodologi bahkan dapat diesktensi dalam paradigm religious.

Paradigm interpretif tidak mengambil kebenaran empiris berdasarkan proses

induktif. Paradigm interpretif tidak melakukan penghakiman apakah struktur

sosial baik atau buruk. Ia mengambil posisi netral. Paradigma kritis berkutat pada

perebutan materi, sehingga keadilan yang ada pada sebuah masyarakat diukur dari

distribusi materi.

Jika anda menggunakan etnometodologi religious, tentukan terlebih

dahulu nilai religious apa yang akan dijadikan dasar. Nilai terebut yang kemudian

menjadi koridor kbenaran pengetahuan yang kan dihasilkan. Ini bertolak belakang

dari penelitian induktif yang secara an sich menganggap data yang diambil dari

lapangan sebagai kebenaran. Bahkan anda berhak melakukan kontruksi struktur

27
sosial apabila struktur sosial yang ditemui tidak sesuai dengan interprestasi anda

akan wahyu llahiyah atas struktur sosial ideal.

BAB III

PENUTUP

Etnometodologi merupakan suatu studi empiris tentang bagaimana orang

menanggapi pengalaman dunia sosialnya sehari-hari. Etnometodologi

mempelajari realitas sosial atas interaksi yang berlangsung sehari-hari. Garfinkel

tiga hal kunci dasar etnometodologi, yaitu :

28
4. Ada perbedaan antara ungkapan yang objektif dengan yang
diindikasikan
5. Refleksitas berbagai tindakan praktis.
6. Kemampuan menganalisis tindakan tersebut dalam kehidupan sehari-
hari.

Bagi etnometodologi, minat dan kepentingannya berbeda. Satu-satunya

yang dapat dideskripsikan dengan pasti dalam kehidupan sosial adalah semua

yang dilakukan individu secara bersama dalam kesehariannya yang berpangkal

pada akal dan kreasi. Akahirnya, etnometodologi sampai pada sebuah keyakinan

bahwa pendekatan ini mampu menunjukkan kebenaran tentang apa yang individu

bangun melalui upaya mereka sendiri.

29