Anda di halaman 1dari 19

BIOETIK DALAM KESEHATAN REPRODUKSI

REFERAT

UNIVERSITAS ANDALAS

Oleh :

dr. Wahyuridistia Marhenriyanto


Peserta PPDS OBGIN

Pembimbing :
dr. Hj. Desmiwarti, Sp.OG (K)

SUB BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI SOSIAL


PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP Dr. M. DJAMIL PADANG
2018
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS
SUB BAGIAN BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI SOSIAL
FK UNAND/RS. DR. M.DJAMIL PADANG

LEMBARAN PENGESAHAN

Nama : Wahyuridistia Marhenriyanto


Semester : VI PPDS OBGIN
Telah menyelesaikan referat : Bioetik Dalam Kesehatan Reproduksi

Padang, September 2018


Mengetahui/Menyetujui Pembimbing
Peserta PPDS 0
Obstetri & Ginekologi

(dr. Hj. Desmiwarti, Sp.OG (K))


(dr. Wahyuridistia Marhenriyanto)

Mengetahui
KPS PPDS OBGIN
FK UNAND RS. Dr. M. DJAMIL PADANG

(dr. H. Syahredi S.A., Sp.OG (K))


PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS (PPDS)
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
OBSTETRI & GINEKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ANDALAS / RSUP. Dr. M. DJAMIL PADANG

Lembar Penilaian Peserta PPDS Obstetri & Ginekologi FK. Unand / RSUP Dr. M. Djamil
Padang
Nama : dr. Wahyuridistia Marhenriyanto
Semester : VI (Enam)
Materi : Referat Bioetik dalam Kesehatan Reproduksi
KRITERIA
NO NILAI KETERANGAN
PENILAIAN

1 Pengetahuan

2 Keterampilan

3 Attitude

Note : NBL : 80
Padang, September 2018
Staf Penilai

dr. Hj. Desmiwarti., Sp.OG (K)


BAB I
PENDAHULUAN

Dewasa ini masalah kesehatan reproduksi mendapat perhatian khusus


secara global sejak diangkatnya isu tersebut dalam Konferensi Internasional tentang
Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and
Development, IPCD), di Cairo Mesir pada tahun 1994.
Keputusan penting dalam konferensi tersebut adalah disepakatinya perubahan
paradigma pengelolaan masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan
pengendalian populasi dan penurunan fertilitas/keluarqa berencana menjadi pendekatan
yang terfokus pada kesehatan reproduksi serta hak reproduksi. Keputusan itu
diambil dengan alasan kestabilan pertumbuhan penduduk dapat dicapai lebih baik bila
kebutuhan kesehatan reproduksi terpenuhi dan hak reproduksi dihargai. Dengan demikian
pengendalian kependudukan telah bergeser ke arah yang lebih luas, yang meliputi
pemenuhan kebutuhan kesehatan reproduksi bagi pria dan wanita sepanjang siklus
hidup, termasuk hak-hak reproduksi, kesetaraan, martabat dan pemberdayaan wanita; serta
tanggung jawab pria dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi.
Kesepakatan ICPD di Cairo, Mesir pada tahun 1994 tersebut dipertegas dalam
Konferensi Sedunia IV tentang Wanita tahun 1995 di Beijing, Cina dan ICPD + 5, di Haque
pada tahun 1999. Pada konferensi internasional tersebut telah ditetapkan definisi kesehatan
reproduksi yaitu suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-
mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan denqan sistem
reproduksi, serta fungsi dan prosesnya. Karenanya setiap individu mempunyai hak untuk
mengatur jumlah keluarganya, kapan mempunyai anak, dan memperoleh penjelasan
yang lengkap tentang cara-cara kontrasepsi, sehingga dapat memilih cara yang
tepat dan disukai. Selain itu, hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan
reproduksi lainnya, seperti pelayanan antenatal, persalinan, nifas dan pelayanan
bagi bayi baru lahir, kesehatan remaja dan lain-lain, perlu dijamin (Depkes RI, 2008).
Perkembangan yang begitu pesat di bidang biologi dan kedokteran membuat
etika kedokteran tidak mampu lagi menampung keseluruhan permasalahan yang
berkaitan dengan kehidupan. Etika kedokteran bebricara tentang bidang medis dan
profesi kedokteran saja, terutama hubungan dokter dengan pasien, keluarga,
masyarakat dan teman sejawat. Oleh karena itu sejak tiga dekade terakhir ini telah
dikembangkan bioetika atau disebut juga etika biomedis. Dalam masalah kesehatan
reproduksi hal yang sering menjadi permasalahan terkait dengan etika dan hukum
kesehatan yaitu : aborsi, teknologi reproduksi berbantu dan keluarga berencana.

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
A. Pengertian Bioetika
Bioetik berasal dari kata bios yang berarti kehidupan dan ethos yang
berarti norma-norma atau nilai-nilai moral. Bioetika medis merupakan studi
interdisipliner tentang masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan di
bidang biologi dan ilmu kedokteran baik skala mikro maupun makro, masa
kini dan masa mendatang (Bertens, 2001).
Konsil Kedokteran Indonesia, dengan mengadopsi prinsip etika
kedokteran Barat, menetapkan bahwa, praktik kedokteran Indonesia
mengacu kepada 4 kaidah dasar moral yang sering juga disebut kaidah
dasar etika kedokteran atau bioetika, yaitu:
− Beneficence
− Non - Maleficence
− Justice
− Autonomi

1. Beneficence
Dalam arti bahwa seorang dokter berbuat baik, menghormati martabat
manusia, dokter tersebut harus berusaha maksimal agar pasiennya tetap
dalam kondisi sehat. Perlakuan terbaik kepada pasien merupakan poin
utama dalam kaidah ini. Kaidah beneficence menegaskan peran dokter
untuk menyediakan kemudahan dan kesenangan kepada pasien
mengambil langkah positif untuk memaksimalisasi akibat baik daripada
hal yang buruk.

2. Non – Malficence
Non-malficence adalah suatu prinsip yang mana seorang dokter tidak
melakukan perbuatan yang memperburuk pasien dan memilih
pengobatan yang paling kecil resikonya bagi pasien yang dirawat atau
diobati olehnya. Pernyataan kuno Fist, do no harm, tetap berlaku dan
harus diikuti.

3. Justice
Memperlakukan sesama dengan adil, membagi keuntungan dan beban
dengan sama rata. Fasilitas kesehatan harus mempertimbangkan 4 faktor
yang tekait Justice ini yaitu, membagi sumber daya yang adil bagi seluruh
pasien, mempertimbangkan kebutuhan, hak dan obligasi dan konflik
potensial yang mungkin terjadi. Teknologi reproduksi berbantu merupakan
contoh dilema karena tidak tersedia untuk seluruh pasien, hanya untuk
pasien yang mampu.

4. Autonomi
Dalam kaidah ini, seorang dokter wajib menghormati martabat dan hak
manusia. Setiap individu harus diperlakukan sebagai manusia yang
mempunyai hak menentukan nasib sendiri. Dalam hal ini pasien diberi
hak untuk berfikir secara logis dan membuat keputusan sendiri. Autonomi
bermaksud menghendaki, menyetujui, membenarkan, membela, dan
membiarkan pasien demi dirinya sendiri (Hanafiah, 2009).

B. Kesehatan Reproduksi
Menurut International Conference on Population and Development,
ICPD( ICPD ) di Kairo, Mesir pada tahun 1994 dan di New York pada tahun
2000 telah disepakati definisi kesehatan reproduksi yaitu suatu keadaan
sejahtera fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari
penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem
reproduksi (Depkes RI, 2008).
Ruang lingkup kesehatan reproduksi secara luas meliputi (Djaja S,
2002):
− Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir
− Keluarga berencana
− Pencegahan dan penanggulangan infeksi saluran reproduksi (ISR),
termasuk penyakit menular seksual (PMS)-HIV/AIDS
− Pencegahan dan Penanggulangan Komplikasi Aborsi
− Kesehatan Reproduksi Remaja
− Pencegahan dan Penanganan Infertilitas
− Kanker pada Usia Lanjut dan Osteoporosis
− Berbagai aspek kesehatan reproduksi lainnya, misalnya kanker leher
rahim dll.
Dari berbagai aspek kesehatan reproduksi, hal yang sering menjadi
masalah terkait dengan etika dan hukum kesehatan yaitu masalah aborsi,
teknologi reproduksi berbantu dan keluarga berencana.

C. Pertimbangan Etik Operasi Ginekologi


Ketika memberikan perawatan di lokasi internasional, dokter kandungan-
ginekolog harus dipandu oleh prinsip etika universal yang sama yang
mereka gunakan dalam praktik sehari-hari mereka di rumah. Misalnya,
mungkin tergoda untuk mendokumentasikan perawatan yang disediakan
dengan fotografi atau untuk membagikan informasi pasien untuk tujuan
pendidikan. Namun, rasa hormat terhadap individu mengharuskan bahwa
invasi privasi semacam itu membutuhkan persetujuan, seperti di Amerika
Serikat. Dokter kandungan-gynecologists juga akan menghadapi tantangan
unik ketika berusaha untuk memberikan perawatan yang sesuai secara etis
dalam pengaturan sumber daya rendah. Beberapa masalah yang paling
sering ditemui berkaitan dengan kerentanan pasien, informed consent,
ketersediaan sumber daya medis dan sosial, kompetensi dan pelatihan
bedah, kesinambungan perawatan, dan upaya keberlanjutan. Selain itu,
hambatan bahasa dan kurangnya kompetensi budaya dapat menghadirkan
tantangan bagi dokter yang bepergian ke bagian dunia yang tidak dikenal.
Ahli kandungan-gynecologists di arena global harus berusaha semaksimal
mungkin untuk mematuhi standar tertinggi praktik klinis sambil mengakui
bahwa, mengingat sumber daya lokal, ini mungkin tidak layak dalam semua
kasus.

D. Aborsi
Di Amerika Serikat, definisi aborsi terbatas pada terminasi kehamilan
sebelum 20 minggu, didasarkan pada tanggal hari pertama haid normal
terakhir. Definisi lain yang sering digunakan adalah pelahiran janin/ neonatus
yang beratnya kurang dari 500 g.
Abortus dapat terjadi secara spontan atau buatan. Abortus spontan
(miscarriage) dapat merupakan suatu mekanisme alamiah untuk
mengeluarkan hasil konsepsi yang abnormal. Abortus buatan (pengguguran,
aborsi, abortus provocatus) adalah abortus yang terjadi akibat intervensi
tertentu yang bertujuan untuk mengakhiri proses kehamilan. Abortus buatan
dapat bersifat legal (abortus provocatus medicinalis/ terapeuticus) yang
dilakukan berdasarkan indikasi medik. Abortus buatan ilegal (abortus
provocatus criminalis) adalah abortus yang dilakukan berdasarkan indikasi
non medik. Abortus ini dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten atau
tenaga yang tidak kompeten. Aborsi yang dilakukan oleh tenaga yang tidak
kompeten biasanya dengan cara-cara memijit-mijit perut bagian bawah,
memasukkan benda asing atau jenis tumbuh-tumbuhan/ rumput-rumputan
ke dalam leher rahim, dan pemakaian bahan-bahan kimia yang dimasukkan
ke dalam jalan lahir sehingga sering terjadi perdarahan dan infeksi yang
berat, bahkan dapat berakibat fatal.
Berlandaskan lafal sumpah Hippocrates, lafal sumpah Dokter Indonesia
dan International Code of Medical Ethics maupun KODEKI, setiap dokter
wajib menghormati dan melindungi makhluk hidup insani. Karena itu, aborsi
berdasarkan indikasi non medis adalah tidak etis ((Hanafiah, 2009).
Abortus legal buatan dilakukan dengan cara tindakan operatif (paling
sering dengan cara kuretase, aspirasi vakum) atau dengan cara medikal.
Dalam deklarasi Oslo (1970) dan UU No 23 tahun 1992 tentang kesehatan,
mengenai abortus buatan legal terdapat ketentuan-ketentuan sebagai
berikut :
− Abortus buatan legal hanya dilakukan sebagai suatu tindakan terapeutik
yang keputusannya disetujui secara tertulis oleh 2 orang dokter yang
dipilih berkat kompetensi profesional mereka dan prosedur
operasionalnya dilakukan oleh seorang dokter yang kompeten di
instalasi yang diakui suatu otoritas yang sah, dengan syarat tindakan
tersebut disetujui oleh ibu hamil bersangkutan, suami atau keluarga.
− Jika dokter yang melaksanakan tindakan tersebut merasa bahwa hati
nuraninya tidak membenarkan ia melakukan pengguguran itu, ia berhak
mengundurkan diri dan menyerahkan pelaksanaan tindakan medik itu
kepada teman sejawat lain yang kompeten.
− Yang dimaksud dengan indikasi medis dalam abortus buatan legal ini
adalah suatu kondisi yang benar-benar harus diambil tindakan tersebut
sebab tanpa tindakan tersebut dapat membahayakan jiwa ibu atau
adanya ancaman gangguan fisik, mental dan psikososial jika kehamilan
dilanjutkan, atau risiko yang sangat jelas bahwa anak yang akan
dilahirkan menderita cacat mental, atau cacat fisik yang berat.
− Hak utama untuk memberikan persetujuan tindakan medik adalah pada
ibu hamil yang bersangkutan, namun pada keadaan tidak sadar atau
tidak dapat memberikan persetujuannya dapat diminta pada suaminya/
wali yang sah.
Suatu masalah yang sulit dihadapi adalah kehamilan tidak diinginkan
(KTD) seperti pada kasus kegagalan kontrasepsi, kehamilan diluar nikah ,
kehamilan karena perkosaan, tidak adanya akses untuk pelayanan KB,
tekanan pasangan, dan faktor ekonomi. Setiap wanita memiliki hak
reproduksi yaitu hak menentukan jumlah, penjarakan, dan waktu kelahiran
anak. Oleh karena aborsi atas alasan non medis dianggap tindakan
melanggar hukum (tindakan kriminal) dan aborsi bukan salah satu cara KB
di Indonesia, banyak wanita dengan KTD mencari pelayanan aborsi pada
tenaga tidak terlatih dan memakan sendiri bermacam-macam obat untuk
menggugurkan kandungannya. Akibatnya, angka kesakitan dan kematian ibu
di Indonesia akibat aborsi tidak aman menjadi tinggi.
Aborsi tidak aman merupakan ancaman bagi kesehatan dan hidup
wanita. Tindakan konkrit pemecahan masalah aborsi tidak aman merupakan
bagian upaya peningkatan kualitas kesehatan reproduksi di Indonesia dan
pemenuhan hak reproduksi wanita. Penelitian pada banyak negara
menunjukkan bahwa di negara-negara yang mengizinkan aborsi dengan
indikasi yang lebih luas, insiden aborsi tidak aman lebih rendah dan angka
kematian akibat aborsi tidak aman jauh lebih rendah dibandingkan dengan
negara-negara yang melarang aborsi secara ketat (Berrer, 2004).
Di Indonesia diperkirakan sekitar 1,5-2 juta aborsi tidak aman setiap
tahunnya, dan kontribusi angka kematian ibu (AKI) sebab aborsi tidak aman
adalah 11,1%. Oleh karena itu dalam beberapa tahun terakhir ini
diperkenalkan program aborsi berbasis konseling dengan tujuan
menyelenggarakan aborsi yang aman sesuai standar setelah pasien
mendapat konseling dengan baik. Bukan mustahil bahwa ibu dengan KTD
mengurungkan niatnya untuk aborsi setelah mendapat konseling tersebut.
Selanjutnya konseling pasca-aborsi, pendidikan, dan pelayanan KB harus
diberikan secara bermutu sehingga dapat mencegah aborsi berulang.
Secara rinci KUHP mengancam pelaku-pelaku abortus buatan ilegal
sebagai berikut :
1. Wanita yang sengaja menggugurkan kandungan atau menyuruh orang
lain melakukannya, hukuman maksimal 4 tahun (KUHP pasal 336)
2. Seseorang yang menggugurkan kandungan tanpa seizinnya, hukuman
maksimal 12 tahun, dan bila wanita tersebut meninggal, hukuman
maksimum 15 tahun (KUHP pasal 347)
3. Seseorang yang menggugurkan kandungan wanita dengan seizin wanita
tersebut, hukuman maksimum 5 tahun 6 bulan, dan bila wanita tersebut
meninggal, maksimum 7 tahun (KUHP pasal 348)
4. Dokter, bidan atau juru obat yang melakukan kejahatan di atas, hukuman
ditambah dengan sepertiganya dan pencabutan hak pekerjaannya (KUHP
pasal 349)
5. Barang siapa mempertunjukkan alat/ cara menggugurkan kandungan
kepada anak di bawah usia 17 tahun/ di bawah umur, hukuman
maksimum 9 bulan (KUHP pasal 383)
6. Barang siapa menganjurkan/ merawat/ memberi obat kepada seorang
wanita dengan memberi harapan agar gugur kandungannya, hukuman
maksimum 4 tahun (KUHP pasal 299)

E. Kontrasepsi
Visi program keluarga berencana nasional telah di ubah mewujudkan
keluarga yang berkualitas tahun 2015. Keluarga yang berkualitas adalah
keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang
ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis (Saifudin, 2003).
Program Keluarga Berencana Nasional merupakan salah satu program
dalam rangka menekan laju pertumbuhan penduduk. Salah satu pokok
dalam program Keluarga Berencana Nasional adalah menghimpun dan
mengajak segenap potensi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam
melembagakan dan membudayakan Norma Keluarga Kecil Bahagia
Sejahtera dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya manusia
Indonesia. Cara yang digunakan untuk mewujudkan Norma Keluarga Kecil
Bahagia Sejahtera yaitu mengatur jarak kelahiran anak dengan
menggunakan alat kontrasepsi (Wiknjosastro, 2005).
Sejak program KB menjadi program nasional pada tahun 1970 berbagai
program kontrasepsi telah ditawarkan dalam program KB di Indonesia. Mulai
dari cara tradisional, sistem kalender, barier, hormonal (pil, suntikan, susuk
KB), alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR), dan kontrasepsi mantap
(KONTAP).
Dari sudut pandang hak-hak pasien/klien, segala cara kontrasepsi yang
ditawarkan haruslah mendapat persetujuan pasangan suami-isteri (pasutri),
setelah memperoleh penjelasan (persetujuan setelah penjelasan, PSP)
dengan cara lisan untuk cara-cara non bedah dan secara tertulis untuk cara
kontap. Seorang dokter harus memberikan konseling kepada pasutri atau
calon akseptor, dengan penjelasan lebih dahulu tentang indikasi kontra,
efektivitas, dan keamanan setiap jenis kontrasepsi, dan akhirnya pasutrilah
yang menentukan pilihannya.
Di Indonesia, kontrasepsi mantap (kontap, sterilisasi) yaitu tubektomi
pada wanita dan vasektomi pada pria telah dikembangkan sejak tahun 1974
oleh PUSSI (perkumpulan untuk sterilisasi sukarela), yang kemudian
berubah nama menjadi PKMI (perkumpulan kontrasepsi mantap indonesia).
tujuan kontap adalah kontrasepsi permanen, namun tidak mustahil karena
sesuatu alasan (biasanya musibah), akseptor kontap meminta rekanalisasi.
Oleh karena itu, pertimbangan dan keputusan mengikuti kontap haruslah
hati-hati.
Peraturan perundangan tentang kontap belum ada di Indonesia.
Penerimaan masyarakat terhadap metode kontrasepsi ini belum bulat. Tokoh
agama banyak yang menentang cara kontrasepsi ini karena mengurangi
harkat martabat dan kodrat seseorang. Oleh karena itulah kontap tidak
termasuk dalam program nasional KB.

F. Teknologi Reproduksi Buatan


1. Pengertian Inseminasi Buatan (Bayi Tabung)
Kata inseminasi berasal dari bahasa Inggris “insemination” yang
artinya pembuahan atau penghamilan secara teknologi, bukan secara
alamiah. Bayi tabung adalah suatu teknologi reproduksi berupa teknik
pembuahan sel telur (ovum) di luar tubuh wanita. Awal berkembangnya
teknik ini bermula dari ditemukannya teknik pengawetan sperma.
Sperma bisa bertahan hidup lama bila dibungkus dalam gliserol yang
dibenamkan dalam cairan nitrogen pada temperatur -321 derajat
fahrenheit. Pada mulanya program ini bertujuan untuk menolong
pasangan suami istri yang tidak mungkin memiliki keturunan secara
alamiah disebabkan tuba falopi istrinya mengalami kerusakan permanen.
Namun kemudian mulai ada perkembangan dimana kemudian program
ini diterapkan pada yang memiliki penyakit atau kelainan lainnya yang
menyebabkan tidak dimungkinkan untuk memperoleh keturunan.

2. Bayi Tabung dari Aspek Etik, Medis, Sosial, dan Hukum Dari aspek
etik (moral)
Jika dilihat dari sudut pandang etika, kasus inseminasi buatan (bayi
tabung) ini sangat terlihat ketidaksesuainnya dengan budaya ketimuran,
khususnya Indonesia sendiri. Sebagian agamawan menolak Fertilisasi
invitro pada manusia, sebab mereka berasumsi bahwa kegiatan tersebut
termasuk Intervensi terhadap “karya Illahi”. Dalam artian, mereka yang
melakukakan hal tersebut berarti ikut campur dalam hal penciptaan yang
tentunya itu menjadi hak prioregatif Tuhan. Padahal semestinya hal
tersebut bersifat natural, bayi itu terlahir melalui proses alamiah yaitu
melalui hubungan sexsual antara suami-istri yang sah menurut agama.
Komisi Etik dari berbagai Negara memberi pandangan dan
pegangan terhadap hak reproduksi dan etika dalam rana reproduksi
manusia dengan memperhatikan beberapa asas yaitu :
1. Niat untuk berbuat baik.
2. Bukan untuk kejahatan.
3. Menghargai kebebasan individu untuk mengatasi takdir.
4. Tidak bertentangan dengan kaidah hukum yang berlaku.
Melakukan bayi tabung melalui sperma dari pasangan nikah yang
sah. Karena hal tersebut tidak melanggar etika, dan secara biologis
anak yang nanti lahir dari hasil bayi tabung merupakan anak kandung,
yang secara psikologis memiliki hubungan kasih sayang timbal balik
yang sempurna antara anak dan orang tua (ayah). Dari pada anak yang
dilahirkan dari sperma donor akan menimbulkan hubungan kasih
sayang semu antara anak dan orang tuanya.
Dari aspek medis
Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan peraturan perundang-
undangan yang menyinggung masalah ini. Dalam Undang-Undang No.
23 /1992 tenang Kesehatan, pada pasal 16 disebutkan, hasil
pembuahan sperma dan sel telur di luar cara alami dari suami atau istri
yang bersangkutan harus ditanamkan dalam rahim istri dari mana sel
telur itu berasal. Hal ini menjawab pertanyaan tentang kemungkinan
dilakukannya pendonoran embrio. Jika mengacu pada UU No.23/1992
tentang Kesehatan, upaya pendonoran jelas tidak mungkin.

Dari aspek sosial


Jika dari sudut pandang sosial, ini akan berdampak pada sang
anak. Posisi anak akan menjadi tidak jelas di mata masyarakat. Jika
anak yang dihasilkan dari sperma donor atau bank sperma maka status
anak menjadi tidak jelas karena bukan berasal dari sperma ayah
kandungnya. Selain itu akan ada pandangan negatif dari masyarakat
terhadap si wanita, karena akan dianggap mempunyai anak tanpa
suami atau punya anak diluar nikah. Si anak pun akan dipandang
menjadi seseorang yang berbeda dan dikecilkan oleh masyarakat.

Dari aspek hukum


Dari sudut pandang hukum jelas sudah ada undang-undang yang
mengatur mengenai hal ini, yang tidak bisa di ganggu gugat lagi karena
sudah melalui rundingan dan kesepakatan. Adapun hukum-hukum yang
mengatur mengenai bayi tabung sebagai berikut :

1) Ketentuan program bayi tabung di Indonesia


Pelaksanaan bayi tabung tersebut diatur dalam Undang-Undang
nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan dalam Peraturan
Menteri Kesehatan nomor 73 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan
Pelayanan Teknologi Reproduksi Buatan. Dalam kedua peraturan
tersebut pelaksanaan bayi tabung yang diperbolehkan hanya kepada
pasangan suami isteri yang sah, lalu menggunakan sel sperma dan
sel telur dari pasangan tersebut yang kemudian embrionya ditanam
dalam rahim istri yang sah. Hal ini dilakukan untuk menjamin status
anak tersebut sebagai anak sah dari pasangan suami isteri tersebut.
Penetapan seorang anak sebagai anak sah adalah berdasar
pada pasal 42 Undang-Undang nomor 1 tahun 1974 tentang
perkawinan. Untuk membuktikan secara hukum bahwa seorang
anak adalah anak sah dari pasangan suami istri, yang dibutuhkan
adalah sebuah akta kelahiran dari anak tersebut.
Karena anak hasil bayi tabung merupakan anak sah, maka hak
dan kewajiban dari anak yang dilahirkan dengan menggunakan
program bayi tabung sama dengan anak yang tidak menggunakan
program bayi tabung. Sehingga anak hasil bayi tabung dalam hukum
waris termasuk kedalam ahli waris golongan I yang diatur dalam
pasal 852 KUH Perdata.

2) Pandangan hukum medis


UU Kesehatan no. 36 tahun 2009, pasal 127 menyebutkan
bahwa upaya kehamilan di luar cara alamiah hanya dpat dilakukan
oleh pasangan suami istri yang sah dengan ketentuan :
− Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang
bersangkutan ditanam dalam rahim istri dari mana ovum itu
berasal.
− Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian
dan kewenangan untuk itu.
− Pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.

3) Undang-undang Bayi Tabung

Salah satu aturan tentang bayi tabung terdapat dalam pasal 16


UU No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan yang berbunyi:

Ayat 1
Kehamilan di luar cara alami dapat dilaksanakan sebagai upaya
terakhir untuk membantu suami istri mendapat keturunan

Ayat 2

Upaya kehamilan di luar cara alami sebagaimana dimaksud dalam


ayat 1 hanya dapat dilaksanakan oleh pasangan suami istri yang
sah, dengan ketentuan:

1. Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang


bersangkutan ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum itu
berasal.

2. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan


kewenangan untuk itu.

3. Ada sarana kesehatan tertentu

Ayat 3

Ketentuan mengenai persyaratan penyelenggaraan kehamilan diluar


cara alami sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2)
ditentukan dengan P.P

3. Pandangan Negara Islam Tentang Bayi Tabung

Lokakarya yang dibuat oleh The International Islamic Center for


Population studies and Research di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir
pada bulan November 2000, membuat beberapa pernyataan, antara lain
:

a. Fertilisasi in Vitro diperbolehkan, kecuali menggunakan sperma,


ovum, atau embrio yang berasal dari donor.

b. Pre-Implantation Genetic Diagnosis (PGD) diperbolehkan untuk alasan


medik, untuk menghindari penyakit keturunan, dan penyakit tertentu,
kecuali memilih jenis kelamin tertentu
c. Penelitian-penelitian untuk pematangan folikel (folikel maturation),
pematangan oosit invitro (in vitro maturation of oosit), dan
pertumbuhan oosit in vitro (in vitro growth of oosit) diperbolehkan

d. Implantasi embrio pada suami yang sudah meninggal, belum


mempunyai keputusan tetap

e. IVF pada wanita pasca-menopause, dilarang; karena mempunyai


resiko yang tinggi pada kesehatan ibu dan bayinya

f. Transplantasi uterus masih dalam pertimbangan; diperbolehkan untuk


mengadakan penelitian pada binatang

g. Penggunaan sel tunas (stem cells) untuk tujuan pengobatan,


(therapeutik cloning) masih di dalam perdebatan, diminta untuk dapat
disetujui

h. Reproduktif Cloning atau duplikasi manusia tidak diperbolehkan


BAB III
KESIMPULAN

1. Praktik kedokteran Indonesia mengacu kepada 4 kaidah dasar moral yang


sering juga disebut kaidah dasar etika kedokteran atau bioetika, yaitu:
Beneficence, Non - Maleficence, Justice, Autonomi
2. Dari berbagai aspek kesehatan reproduksi, hal yang sering menjadi masalah
terkait dengan etika dan hukum kesehatan yaitu masalah aborsi, teknologi
reproduksi buatan dan keluarga berencana
3. Abortus buatan dapat bersifat legal (abortus provocatus medicinalis/
terapeuticus) yang dilakukan berdasarkan indikasi medik. Abortus buatan ilegal
(abortus provocatus criminalis) adalah abortus yang dilakukan berdasarkan
indikasi non medik
4. Visi program keluarga berencana nasional telah di ubah mewujudkan keluarga
yang berkualitas tahun 2015. Keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang
sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan
kedepan, bertanggung jawab, harmonis
5. Pelaksanaan bayi tabung tersebut diatur dalam Undang-Undang nomor 23
tahun 1992 tentang kesehatan dan dalam Peraturan Menteri Kesehatan nomor
73 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Teknologi Reproduksi
Buatan
DAFTAR PUSTAKA

Berer, M. (2004). National laws and unsafe abortion: The parameters of change.

Reproductive health matters, 12(24), 1 – 8.

Bertens, K. Etika. Gramedia Pustaka Utama, 2007.

Chang, William. 2009. Bioetika : Sebuah Pengantar . Yogyakarta :Kanisius. Hal 13-

16

Djaja, S, dkk. 2002. Kebijakan Dalam Kesehatan Reproduksi, edisi 1: KDT,Jakarta

Hanafiah, M.Jusuf, Amri Amir. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan. Jakarta:EGC.

Hal 3-4, 2009.

Moeloek F.A. Etika dan Hukum Teknik Reproduksi Buatan. Kuliah Umum Temu

Ilmiah I Fertilitas Endokrinologi Reproduksi, Bandung, 4-6 Oktober 2002.

The World Health Report 2005: Make Every Mother and Child Count.” World Health

Organization, 2005.