Anda di halaman 1dari 22

STUDI LITERATUR

PUSAT PENJUALAN KOMPUTER, ELEKTRONIK, DAN PAMERAN GOWA

A. PENGERTIAN

a) Pusat : centre (bahasa Inggris)

- merupakan pokok/pangkal dari berbagai hal/urusan


- bagian utama yang merupakan tempat terjadinya berbagai aktivitas
Sehingga pusat berarti suatu pokok/pangkal terjadinya berbagai kegiatan dimana terdapat
satu kegiatan yang paling dominan dan berpotensi dalam kegiatan tersebut.

b) Penjualann, dalam proses penjualan, penjual atau penyedia barang dan jasa memberikan
kepemilikan suatu komoditas kepada pembeli untuk suatu harga tertentu. Penjualan dapat
dilakukan melalui berbagai metode, seperti penjualan langsung, dan melalui agen penjualan.
c) Elektronik alat yang dibuat berdasarkan prinsip elektronika; hal atau benda yang
menggunakan alat-alat yang dibentuk atau bekerja atas dasar elektronika
d) Pameran adalah suatu kegiatan penyajian karya seni rupa untuk dikomunikasikan sehingga
dapat diapresiasi oleh masyarakat luas. Pameran merupakan suatu bentuk dalam usaha jasa
pertemuan.
e) Gowa Kabupaten Gowa adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan,
Indonesia. ibu kota kabupaten ini terletak di kota Sungguminasa. Kabupaten ini memiliki luas
wilayah 1.883,32 km² dan berpenduduk sebanyak ± 652.941 jiwa.

B. PENGERTIAN SHOPPING MALL


Shopping mall merupakan bentuk pusat perbelanjaan yang sedang berkembang di
berbagai negara. Secara umum, masyarakat mengartikan shopping mall itu sebagai
bangunan pertokoan ataupun pusat perbelanjaan. Berikut beberapa pendapat para ahli
dalam mendefenisikan Shopping Mall.
• Shopping defined as looking at, pricing or buying merchandising displayed for sale.
Shopping adalah kegiatan mencari, kemudian membeli barang dagangan yang dipajang
untuk dijual. (Hornbeck, 1962).
• The world mall has mean an area asually lined with shade trees and used as a public walk
or promenade. Shopping Mall dapat di artikan sebagai suatu area yang memanjang,
dinaungi pepohonan dan biasanya berfungsi sebagai fasilitas pejalan kaki. (Rubenstein,
1992)
• A shopping mall is a complex of retail store and related facilities planned as unified group
to give maximum shopping convenience to the customer and maximum exposure to the
merchandise. Suatu pusat perbelanjaan adalah suatu kompleks toko pengecer dari
fasilitas pendukungnya yang direncanakan sebagai suatu kesatuan untuk memberikan
kenyamanan yang maksimal bagi pengunjung dan promosi maksimal bagi barang-barang
yang dijual. (Chiara and Callender, 1969).
Dalam Kamus Arsitektur dan Konstruksi kata “mall” adalah “a public plaza, walk or system of
walks set with trees and designed for pedesrtrian use”, artinya adalah sebuah ruang
publik, jalan dengan pepohonan dan didisain untuk pengguna pedestrian.
Dalam perkembangannya, sesuai dengan konteks kota dimana pertumbuhan populasi yang
menyebar diluar CBD (Central Building District) dan menyebabkan bermunculannya pusat
perbelanjaan di pinggiran kota, dimana akhirnya masing-masing daerah memiliki satu
pusat perbelanjaan skala besar dan beberapa dalam skala kecil menyebabkan terjadinya
persaingan satu sama lain. Alasan ini yang menyebabkan Shopping Mall mempunyai
tujuan seperti yang dikemukakan oleh Chiara dan Callendar.
“The sub-urban are becoming megacenter, complete with several departent store, office
buildings, motels, amusement and of course parking area. Area sub-urban telah
berkembang menjadi pusat perdagangan yang besar (mega center) lengkap dengan
department store, perkantoran, motel dan fasilitas hiburan lainnya serta area parkir”.
Shopping Mall adalah jenis dari pusat perbelanjaan yang secara arsitektur berupa bangunan
tertutup dengan suhu yang diatur dan memiliki jalur untuk berjalan jalan yang teratur
sehingga berada di antara antar toko-toko kecil yang saling berhadapan. Karena bentuk
arsitektur bangunannya yang melebar (luas), umumnya sebuah mal memiliki tinggi tiga
lantai. Di dalam sebuah mal, penyewa besar (anchor tenant) lebih dari satu (banyak).
Seperti jenis pusat perbelanjaan lain seperti toko serba ada untuk masuk di dalamnya
(http://id.wikipedia.org/wiki/Mal, diakses 15 April 2014)
Di Inggris istilah Shopping Mall digunakan dan tumbuh secara bertahap di kalangan generasi
muda. Di Indonesia istilah mall dipakai dan berkembang untuk menyatakan sebuah jenis
pusat perbelanjaan tertutup dengan skala besar yang menawarkan tidak hanya fasilitas
berbelanja namun juga fasilitas hiburan atau rekreasi serta tempat bersosialisasi dengan
unitu-unit retail yang terhubung oleh koridor dan
void besar.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Shopping Mall adalah sebuah
jenis pusat perbelanjaan tertutup yang terdiri dari berbagai macam jenis unit-unit retail,
restoran serta fasilitas rekreasi dan hiburan yang terdapat didalam satu bangunan,
dengan unit-unit yang disewakan atau dijual dan dikelola oleh sebuah manajemen
terpadu.

C. KARAKTERISTIK FISIK MALL

Karakteristik fisik sebuah mall antara lain :


a. Pintu Masuk : tunggal
b. Atrium : di sepanjang koridor
c. Koridor : tunggal
d. Lebar koridor : 3-5 meter
e. Lantai : 1-3 lantai
f. Parkir : mengelilingi bangunan mall
g. Magnet : di setiap ujung koridor
h. Jarak antar magnet : 100-200 meter
Prinsip-prinsip mall yang terdapat dalam Time Saver Standard for Building Types . meliputi:
1. Terdiri dari jalur pejalan kaki utama (pedestrian way) atau koridor utama dengan satu atau
lebih tambahan jalur pejalan kaki atau koridor tambahan yang berhubungan dengan koridor
utama dan lokasi parkir atau jalan yang berdekatan.
2. Semua toko menghadap dan memiliki pintu masuk kearah koridor baik utama maupun
tambahan.
3. Untuk mengatasi masalah parkir karena tingginya harga dan semakin berkurangnya lahan
bagi suatu shopping mall, maka dapat disediakan bangunan parkir bertingkat (double decked)
atau basement.
D. JENIS-JENIS MALL
Menurut rubenstein dalam nasution (2007), dalam central city mall, jenis mall dikelompokkan
sebagai berikut :
a) Mall terbuka (open mall)
Pada mall terbuka semua jalan yang direncanakan mengutamakan kenyamanan pejalan kaki.
Mall terbuka ini dapat terletak di pusat kota atau di daerah pinggiran kota. Sistem
penghawaan dilakukan secara alami namun kondisi cuaca sagat mempengaruhi
kenyamanannya.
b) Mall terpadu (integrated mall)
Merupakan tipe mall yang sebagian terbuka dan bagian yang lainnya tertutup. Pada mall
bagian yang tertutup diletakkan di tengah sebagai pusat dan menjadi magnet yang menarik
pengunjung untuk masuk ke dalam kawasan mall tersebut.
c) Mall tertutup (enclosed mall)
Merupakan bangunan yang lengkap dimana pengunjung dan penjual yang terlindung dalam
suatu bangunan yang tertutup sehingga memungkinkan untuk berinteraksi sosial, pameran
dan pertunjukan lainnya. Sistem penghawaan dilakukan secara mekanis yang lazim
dinamakan dengan emac (enclosed mall air conditioned). Mall semacam ini yang paling
banyak diterapkan di daerah tropis.

E. PENGELOMPOKAN ZONA PENJUALAN DALAM MALL


Menurut Parnes, 1948, zona penjualan dalam mall dibagi dalam dua area penjualan
barang-barang yaitu :
Area penjualan barang-barang umum (General Sales), memiliki karakteristik :
• Ruang berukuran kecil
• Terbuka
• Ruang-ruang yang saling berhubungan dengan jarak berkesinambungan antara
pengunjung dengan bagian penjualan barang.
• Ruang-ruang yang tidak dibatasi oleh dinding-dingding atau partisi-partisi

Area penjualan barang-barang khusus (Special Sales Area), memiliki karakteristik :


• Ruang yang berukuran lebih kecil
• Menjual satu macam barang
• Perletakannya pada tempat-tempat tertentu
seluruh ruang dalam zona penjualan ini berhubungan langsung dengan lainnya
tanpa adanya gangguan dari zona lain. Pengunjung dapat berpindah dari satu tempat
penjualan ke lainnya dalam segala arah, tanpa perlu membuang tenaga dan tanpa
kehilangan arah. Seluruh arus menuju zona penjualan clan jalur jalan harus melalui zona
lain yang meliputi, jalan masuk, tangga, elevator dan lain sebagainya. Organisasi
pergerakan dalam zona penjualan ini akan lebih mudah apabila pergerakan pengunjung
clan barang diatur melalui bermacam-macam lorong yang jalur-jalur yang ada mulai dari
memasuki bangunan sampai dengan kluar dari bangunan tersebut.

F. DIMENSI MALL
Pengadaan fasilitas komersial seperti mall merupakan salah satu pendukung kegiatan
perdagangan yang tidak lepas dari pengaruh dan fungsi daerah atau kawasan tersebut
terhadap lingkup pelayanannya. Mall yang akan dirancang disini harus memperhatikan
ketentuan-ketentuan yang mengatur besar luas lantai bangunan yang disediakan
berdasarkan pelayanannya.
Menurut buku Pedoman Perencanaan Lingkungan Permukiman Kota yang
dikeluarkan oleh Direktorat Pekerjaan Umum, untuk standar kebutuhan luas lantai pusat
perbelanjaan dan niaga adalah 0,2m2 / penduduk.

G. KARAKTER NON FISIK MALL

Tabel Ciri-ciri pusat perbelanjaan


No Ciri-ciri Utama Neighborhood Community Regional Center
Center Center
1 Fungsi Utama Menjual barang Beberapa fungsi Beberapa fungsi
kebutuhan dari neighborhood dari community
seharihari dan center ditambah center ditambah
pelaksanaan penjualan penjualan
perorangan barangbarang barangbarang
belanja umum
2 Pertokoan Supermarket dan Berbagai macam Satu atau lebih
Utama toko obat toko dan departemen store
departemen store utama
kecil
3 Lokasi Persilangan jalan Persilangan Persilangan jalan
kolektor atau jalan jalanjalan utama jalur cepat atau
sekunder atau jalan jalur jalan tol
cepat
4 Radius area 0,5 mil 2 mil 4 mil
pelayanan
5 Minimal jumlah 4000 jiwa 35.000 jiwa 150.000 jiwa
penduduk yang
dilayani

6 Total luas 0,16-0,3 ha 0,4-1,21 ha 1,62-4,46 ha


lahan
7 Luas lantai 2700-6900 m2 6900-23000 m2 23000-36800 m2
keseluruhan
8 Jumlah 5-20 15-40 40-80
pertokoan
9 Penyediaan Rasio area parkir 4:1 (luas area parkir 4 kali luas lantai
parkir keseluruhan)

Sumber : de Chiara, Joseph & Lee Koppelman, Planning Design Crietria


International Council of Shopping Center (1999) mengklasifikasikan pusat perbelanjaan
menjadi beberapa tipe berdasarkan skala pelayanannya, yaitu:
Tabel 2.2 Tipe Pusat Perbelanjaan
Tipe Pusat Perbelanjaan Karakteristik Contoh di Indonesia

1. Neighborhood Center Terletak disekitar daerah Indomaret, Alfamart, Hero


permukiman dengan skala Supermarket
pelayanan lingkungan dan
ditujukan untuk melayani
kebutuhan sehari-hari
(makanan, minuman,
obatobatan, perkakas rumah
tangga, dan lain-lain)

2. Community Center Hampir serupa dengan tipe Ramayana Department Store


neighborhood center, namun
dengan skala pelayanan yang
lebih luas dan dari segi
kuantitas lebih banyak jenis
barang yang ditawarkan.
Biasanya terdapat department
store yang banyak
menawarkan potongan harga.

3. Regional Center Pusat perbelanjaan skala Pondok Indah Mall dan ITC
wilayah dengan anchor tenant Kuningan
sebagai pusatnya dan tokotoko
lain. Dilengkapi dengan fasilitas
parkir yang cukup besar.

4. Super-Regional Center Pusat perbelanjaan skala kota Mega Mall Pluit dan Kelapa
yang serupa namun lebih besar Gading Mall
dari regional center dengan
lebih banyak anchor tenant.
Biasanya terletak di pusat kota.

5. Fashion Speciality Pusat perbelanjaan dengan ITC Roxy Mas dan Ratu Plaza
Center sebuah spesialisasi retail-retail
fashion, elektronik ataupun
unit-unit retail yang sejenis.

6. Power Center Didominasi oleh suatu anchor Carrefour dan Hypermart


tenant, menawarkan banyak
program diskon dalam skala
layanan wilayah.
7. Theme / Festival Center Pusat perbelanjaan dengan Cilandak Town Square dan FX
tipikal ataupun tema tertentu, Mall
biasanya didominasi berupa
unit-unit restoran maupun
fasilitas hiburan.

8. Outlet Center Biasanya terletak dikawasan Pasar Seni Ancol


rekreasi atau turisme, terdiri
dari unit-unit retail yang
menjual barang dengan brand
sendiri, tersusun berjajar
maupun berupa cluster.

Sumber: International Council of Shopping Center (1999)

H. Pengelompokan Individu
Individu yang melakukan kegiatan dalam mall dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Pengunjung, merupakan faktor yang paling menentukan dalam aktivitas perbelanjaan.
Pengunjung dapat dibedakan menjadi tiga macam:
• Pengunjung yang datang khusus berbelanja
• Pengunjung yang mempunyai tujuan berbelanja dan berekreasi
• Pengunjung yang mempunyai tujuan hanya berekreasi
2. Penyewa, merupakan individu atau badan usaha yang menggunakan ruang dan fasilitas
yang disediakan untuk usaha komersial, hak untuk menggunakan tersebut dinyatakan dalam
system sewa.
3. Pengelola, merupakan individu yang tergabung dalam suatu badan yang mempunyai tugas
mengelola, mengatur, dan mengorganisasi mall agar dapat berjalan dengan baik dan sesuai
dengan tujuan dari mall itu sendiri.

I. PENGELOMPOKAN KEGIATAN
Berdasarkan pengelompokan individu di atas, maka kegiatan yang ada di dalam mall
dapat dibagi menjadi :
1. Kelompok Kegiatan Utama, merupakan kelompok aktivitas yang di dalamnya terdapat
kegiatan paling pokok dalam mall, yaitu jual beli, individu yang terlibat adalah pengunjung
dan penyewa. Aktivitas rekreasi dalam mall dimasukkan pula dalam kelompok aktivitas ini,
mengingat dalam mall kegiatan rekreasi juga merupakan unsur yang penting di samping
unsur perbelanjaan. Dalam aktivitas
ini tercakup pula aktivitas-aktivitas yang bersifat temporer, seperti pameran dan
pertunjukan.
2. Kelompok Aktivitas Pengelola, merupakan kelompok aktivitas yang mendukung fungsi
mall sebagai bangunan komersil. Dalam kata lain, kelompok aktivitas inilah yang
mengorganisasikan fungsi-fungsi yang terkait dalam mall.
3. Kelompok Aktivitas Pelengkap, merupakan kelompok aktivitas yang mendukung
fungsi utama mall yang bersifat pelengkap.
4. Kelompok Aktivitas Pelayanan, merupakan kelompok aktivitas yang berfungsi sebagai
servis atau pelayanan kepada individu-individu dalam mall.
5. Kelompok Aktivitas Penunjang, merupakan kelompok aktivitas yang berfungsi
mendukung aktivitas yang ada. Kelompok aktivitas ini antara lain mencakup aktivitas parkir,
mekanikal elektrikal, bongkar muat barang dan pemeliharaan.

J. PENGELOLAAN DAN KEPEMILIKAN

a) Sistem pengelolaan
Sistem bangunan komersial, sistem manajemen yang digunakan dalam pengelolaan shopping
mall harus benar-benar baik, karena berhasil tidaknya usaha Shopping Mall tersebut sedikit
banyaknya tergantung oleh manajemen atau pengelolaan yang dilakukan.
Secara umum manajemen Shopping Mall meliputi :
 Divisi Accounting
Yaitu divisi yang mengatur keuangan perusahaan termasuk bertanggung jawab terhadap
pengembalian modal perusahaan.
 Divisi Operasional
Yaitu divisi yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dan perawatan
bangunantermasuk juga masalah parkir dan keamanan bangunan
 Divisi Promosi
Yaitu divisi yang bertanggung jawab mengenalkan Shopping Mall tersebut kepada
masyarakat, secara tidak langsung mempengaruhi keuntungan penyewa.
 Divisi Merketing
Yaitu divisi yang bertanggung jawab terhadap terisinya toko yang disediakan, dengan
melakukan pendekatan kepada pengusaha secara langsung.
b) Sistem Kepemilikan
Ruang atau unit toko yang ada pada Shopping Mall dapat dipergunakan melalui sistem
kontrak/sewa. Siapapun berhak menyewa apabila memenuhi persyaratan yang telah
ditentukan. Adapun sewa Shopping Mall adalah sewa ruang beserta fasilitas yang disediakan
seperti listrik, AC dan sebagainya.

K. JENIS PENJUALAN
Terdapat dua jenis penjualan yang berlangsung dalam Shopping Mall yaitu barang dan jasa.
Perbandingan antara kedua jenis penjualan tersebut diperkirakan berkisar 70% barang dan
30% jasa.
Sedangkan berdasarkan frekuensi penjualan dan tingkat kebutuhan, barang yang dijual
dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
a. Conpencience goods
Merupakan barang kebutihan sehari-hari dengan frekuensi penjualan tinggi
seperti daging, gula, roti, ikan dan lain-lain.
b. Demonds goods
Merupakan barang yang dibutuhkan dengan frekuensi sedang, seperti
pakaian, sepatu, barang elektronika, arloji, dan lain-lain.
c. Impulse goods
Merupakan barang yang memenuhi kebutuhan kenikmatan dan kepuasan, yang merupakan
barang-barang yang mewah, seperti perhiasan, berlian dan lain-lain.
L. PERBANDINGAN AREA DALAM MALL
Di dalam merencanakan suatu Mall, perlu mengetaui berapa perbandingan antara area
lantai penjualan dengan area service dan area operasi, perbandingan yang sudah lazim dan
sering digunakan adalah sebagai berikut :
Luas area penjualan (sales area) dengan luasan keseluruhan (gross floor) adalah 50%
sampai 70%. Apabila rasio area penjualan adalah 50% maka pembagian area lainnya dapat
dilakukan adalah :
Non-Produktive area = 18 %
Non-selling area = 32 %
Total proctive area = 50 % + 32 % (sales area + non selling area) Keterangan:
• Area lantai keseluruhan (gross floor area), adalah jumlah total keseluruhan lantai dalam
Mall.
• Area produktif (productive area), adalah total area yang digunakan untuk pengoprasian
usaha pertokoan yang ada (tidak termasuk tangga, elevator, koridor, lavatory dan
sebagainya).
• Area tidak produktif (non produktif area), adalah total lantai keseluruhan dikurangi area
produktif (termasuk tangga, elevator koridor, lavatory dan sebagainya).
• Area penjualan (sales area), adalah area penghubung langsung dengan keseluruhan proses
(termasuk tangga, elevator koridor, lavatory dan sebagainya).
• Area bukan penjualan (non selling area), adalah bagian dari area produktif yang
berhubungan tidak langsung dengan penjualan (termasuk gudang, ruang penerimaan barang,
ruang istirahat dan sebagainya).

M. LINGKUP PELAYANAN
Shopping Mall sebagai salah satu fasilitas komersial dan merupakan fasilitas pendukung
perdagangan pada suatu daerah tidak lepas dari letak dan fungsid daerah terhadap lingkup
pelayanannya dalam skala kota / regional. Berdasarkan hal tersebut maka dapat ditentukan
sampai sejauh mana fasilitas dan sarana yang harus disediakan oleh Shopping Mall.
Didalam evaluasi dan Revisi Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) Kota Semarang 2000-
2010 memuat standar dari Direktorat Pekerjaan Umum, lingkungan pelayanan dari sarana
pembelanjaan dihitung dari standar jumlah pendukung.
1. Skala Kota / Regional
Meliputi dan melayani 120.000 jiwa untuk tiap unit fasilitas dengan luas lantai sebesar
36.000 m2.
2. Skala Sub Pusat
Melingkupi dan melayani 30.000 jiwa untuk tiap unit fasilitas dengan luas lantai sebesar
13.500 m2.
3. Pasar
Melingkupi dan melayani 10.000 jiwa untuk tiap unit fasilitas dengan luas lantai sebesar 5.000
m2.
4. Toko dan Warung
5. Melingkupi dan melayani 3.000 jiwa untuk tiap unit fasilitas dengan luas lantai sebesar
1.200 m2.

N. KRITERIA PEMILIHAN LOKASI


Menurut Bednar, 1990, untuk keberhasilan terbentuknya sebuah ruang publik di dalam
bangunan, maka harus ada hubungan pergerakan secara langsung antara eksterior dengan
interior. Keterkaitan antara karakter lokasi dengan karakter bangunan tidak dapat dipisahkan,
misalnya potensi pejalan kaki yang melalui area tersebut akan membuat karakter bangunan
lebih hidup dan menarik.
Lokasi shopping mall sebagai bangunan komersial sebaiknya terletak pada zona perdagangan
dan bisnis kota, berada dipusat kota (pusat kegiatan masyarakat perkotaan), mempunyai
akses langsung dengan sistem transportasi perkotaan dan berdekatan dengan fasilitas –
fasilitas penunjang yang dibutuhkan. Hal ini berarti lokasi tapak berada di dalam kawasan
Central Business District (CBD).
Adapun beberapa pertimbangan yang perlu dalam pemilihan lokasi shopping mall, antara lain:
1. Lokasi sebuah pusat komersial harus berada di kawasan perdagangan dan jasa, karena
kawasan perdagangan sendiri merupakan faktor potensial untuk menarik pengunjung.
2. Lokasi mudah dicapai, pencapaian dengan berjalan kaki, kendaraan pribadi maupun
umum. Untuk shopping mall yang berada dalam kawasan CBD pencapaiannya sebaliknya baik
ditempuh sekitar 10 – 15 menit., sedangkan yang berada diluar CBD bisa ditempuh dalam
waktu 25 menit dari kota. Bagi yang menggunakan kendaraan umum, jarak maksimum dari
pemberhentian (halte) maksimal 201 meter.
3. Kondisi topografi pada lokasi harus dapat mendukung perencanaan dari segi konstruksi
dan ekonomi.
4. Tersedianya jaringan utilitas yang memadai.

O. SIRKULASI
Alur sirkulasi menurut Ching, 1999 dapat diartikan sebagai “tali” yang mengikat
ruang – ruang suatu bangunan atau suatu deretan ruang – ruang dalam maupun luar,
menjadi saling berhubungan. Unsur – unsur sirkulasi menurut Ching, yang meliputi:
1. Pencapaian bangunan, merupakan pandangan dari jauh, terdiri dari tiga macam yaitu
langsung, tersamar, dan berputar.
2. Jalan masuk atau pintu ke dalam bangunan, yang terbagi menjadi tiga macam, yaitu
rata, menjorok keluar, dan menjorok kedalam.
3. Konfigurasi bentuk jalan atau alur gerak, terdiri dari linear, radial, spiral, grid, network,
dan komposit (gabungan).
4. Hubungan ruang dan jalan, jalan dengan ruang – ruang dihubungkan dengan cara –
cara seperti melewati ruang – ruang, menembus ruang – ruang, dan berakhir dalam
ruang.
Berdasarkan data arsitek jilid I (1991), tempat untuk penerimaan / pengiriman
barang terpisah dari sirkulasi pengunjung dan berhubungan dengan gudang
penyimpanan. Penerimaan / pengiriman barang dapat dilakukan langsung ke gudang
penyimpanan. Area parkir penerimaan / pengiriman barang perlu dibuat khusus agar
tidak mengganggu lalu lintas parkir kendaraan lain.

P. TINJAUAN RUANG PAMERAN

1) Pengertian Ruang Pamer


Ruang Pamer ( showroom ) adalah “ room used for the display of good marchandise “,
yang artinya adalah ruangan yang dipergunakan untuk kepentingan pemajangan benda koleksi
atau barang dagangan ( Ernst Neufert, 1980 : 359 )
2) Tipe – Tipe Ruang Pamer
a) Kamar sederhana berukuran sedang, merupakan bentuk yang paling lazim.
b) Aula dengan balkon, merupakan bentuk ruang yang lazim juga dan salah satu yang tertua.
c) Aula pengadilan ( ciere strorytall ), merupakan aula besar dengan jendela – jendela tinggi
di kedua sisinya.
d) Galeri lukis terbuka ( skylighted Picture Gallery ), merupakan tipe ruang yang paling
umum dalam museum seni. Ruangan ini tampak paling sederhana bagi pengunjung,
namun bagi arsitek dianggap sebagai yang paling sulit dirancang.
e) Koridor pertunjukan, merupakan suatu jalan atau lorong. Digunakan untuk display supaya
tidak tampak kosong.
f) Tipe ruangan yang bebas, dapat dibagi saat pameran. Ruangan ini tak berjendela tapi ada
tempat yang dibuka untuk masuknya cahaya alami.( kutipan ; Setyawan, 2001 : 35 )
3) Sarana Pameran dalam Ruang Pamer
a) Sarana pokok pameran
1) Panil, merupakan sarana pokok pameran yang digunakan untuk menggantung astau
menempelkan koleksi, terutama yang bersifat dua dimensi dan cukup dilihat dari
ssisi depan.
2) Vitrin, merupakan salah satu sarana pokok pameran yang diperlukan untuk tempat
meletakkan benda – benda koleksi yang umumnya tiga dimensi, dan relatif bernilai
tinggi serta mudah dipindahkan.
3) Pedestal atau alas koleksi, merupakan tempat meletakkan koleksi.
Biasanya berbentuk tiga dimensi.
b) Sarana penunjang pameran
1) Label, merupakan bentuk informasi verbal.
2) Sarana penunjang koleksi, bisa juga disebut dengan koleksi penunjang. Koleksi
penunjang biasanya dibuat untuk memudahkan pengunjung memperoleh
gambaran yang lebih jelas mengenai hal yang berkaitan dengan keberadaan koleksi.
Contohnya foto, sketsa, miniatur,denah,dll.
3) Sarana pengamanan, ada yang berupa pagar pembatas, rambu petunjuk, alarm
cctv, dll.
4) Sarana publikasi. Bentuk sarana ini berupa brosur,poster, iklan, dsb.
5) Sarana pengaturan cahaya, biasanya berupa instalasi lampu listrik di dalam vitrin,
atau di luar vitrin.
6) Sarana pengaturan warna
7) Sarana pengaturan udara, berupa AC, ventilasi, atau kipas angin.
8) Sarana audiovisual, biasanya berupa rekaman video dengan monitornya atau
penayangan penjelasan mengenai slide yang ditayangkan.
9) Sarana angkutan dalam ruang, berupa rak dorong.
10) Dekorasi ruangan, berpengaruh terhadap kenyamanan dan kebersihan ruang
pameran.( Depdikbud, 1993 : 7 )

4) Tata ruang Ruang Pamer


Dalam buku Time Saver Standards For Building Types dinyatakan bahwa desain dari ruang
pamer haruslah dapat memperkuat dan mengangkat hubungan antara pengunjung dengan
koleksi yang dipamerkan.
Setiap pengunjung memiliki pilihan yang berbeda. Perencanaan fisik dan hubungan setiap
ruang pameran dibutuhkan untuk menawarkan pilhan – pilihan pada pengunjung. Layout
dari ruang pamer dan sirkulasi utamanya haruslah fleksibel dan memberikan kesempatan
pada pengunjung untuk memilih rute – rute yang sesuai dengan waktu berkunjung yang
mereka miliki.
Idealnya semua ruang pamer berada pada satu lokasi yang sama atau saling berdekatan.
Hal ini akan mendukung pengawasan keamanan dan perawatan kondisi lingkungan. Ada
beberapa penngecualian, apabila desain yang diterapklan adalah desain multy-story atau
pameran menempati ruang yang telah disediakan khusus. Lokasi yang saling berdekatan
diperlukan sebagai patokan sirkulasi pada ruang pamer.
Pameran temporer memerlukan penataan tersendiri. Ruang pamer haruslah fleksibel dan
mampu untuk menampung berbagai bentuk layout dan bentuk – bentuk pameran yang
berbeda. Mungkin harus ada penambahan ruang untuk penyewaan akustik atau pameran
yang berhubungan dengan penjualan.
5) Sirkulasi Ruang Pamer
Menurut DA. Robbilard, beberapa pola keterkaitan ruang pamer dan sirkulasi antara lain :
a. Sirkulasi dari ruang ke ruang (room to room), pengunjung mengunjungi ruang pamer
secara berurutan dari ruang yang satu ke ruang pamer berikutnya.
b. Sirkulasi dari koridor ke ruang pamer (corridor to room), memungkinkan
pengunjunguntuk mengitari jalan sirkulasi dan memilih untuk memasuki ruang pamer
melalui ruang koridor. Bila pengunjung tidak menghendaki suatu ruang pamer maka
pengunjung dapat langsung menuju ke ruang pamer berikutnya.
c. Sirkulasi dari ruang pusat ke ruang pamer (nave to room), disini pengunjung dapat
melihat secara langsung seluruh pintu ruang pamer, sehingga memudahkan
pengunjung untuk memilih memasuki ruamg
pamer yang disukai.
d. Sirkulasi terbuka (open), sirkulasi pengunjung menyatu dengan ruamg pamer. Seluruh
koleksi yang dipajang dapat terlihat secara langsung oleh pengunjung dan pengunjung
dapat bergerak bebas dan cepat untuk memilih koleksi mana yang hendak diamati.
e. Sirkulasi linier (linear), dalam suatu ruang pamer terdapat sirkulasi utama yang
membentuk linier dan menembus ruang pamer tesebut.

Q. TINJAUAN RUANG PENJUALAN


a. Pengertian Ruang Penjualan
Ruang penjualan merupakan ruang yang fungsi utamanya adalah memamerkan dan
menjual barang. Desain dari ruang ini meliputi koordinasi dari arsitektural, desain interior,
dan elemen penjualan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan klien (konsumen).(
Joseph De Chiara, Julius Panero,
Martin Zelnik.1991 : 252 )
b. Tipe – Tipe Ruang Penjualan
Ada beberapa tipe ruang penjualan, yaitu :
Berdasarkan jenis barang yang dijual ( merchandise ), terbagi menjadi :
a) Convienience store, merupakan toko yamg menjual barang kebutuhan sehari – hari
seperti beras, gula, susu,bumbu dapur, dsb.
b) Demand store, menjual kebutuhan sehari – hari dimana frekuensinya
tidak sesering convenience store seperti toko pakaian, sepatu, tas, dsb.
c) Impuls store, toko yang menjual barang – barang mewah seperti toko perhiasan,
elektronik, dsb.( William P Spence. 1979: 409 )
Berdasarkan kwantitas barang yang dijual
a) Toko grosir, yaitu toko yang menjual barang dalam jumlah besar atau secara partai,
dimana barang tersebut disimpan di tempat lain, yang terdapat di toko
tersebutmerupakan contohnya saja.
b) Toko eceran ( retail ), yaitu toko yang menjual barang dalam jumlahsedikit ( eceran ).
Berdasarkan variasi barang yang dijual
a) Speciality shop, yaitu toko yang menjual barang dagangan sejenis, seperti toko
pakaian, toko sepatu, yoko buku, dll.
b) Variety shop,yaitu toko yang menjual bermacam – macam barang.
c. Sistem Pelayanan
Ada beberapa jenis system pelayanan pada ruang penjualan, yaitu:
1) Self service pembeli dengan keranjang atau kereta dorong mengambil sendiri
barang – barang yang dibutuhkan kemudian membayar ke kasir dan dibungkus.
2) Self Selection
Pembeli memilih dan mengambil barang yang dibutuhkan sendiri dan membayarnya
di kasir, pramuniaga yang akan membawa barang tersebut ke kasir dan kemudian
membungkusnya.
3) Personal Service
Untuk memperoleh kebutuhannya pembeli dilayani oleh pramuniaga, kemudian
pramuniaga membungkus barang tersebut setelah pembeli melakukan pembayaran.
d. Tata ruang Ruang Penjualan ( interior display )
Tujuan penciptaan tata ruang ruang penjualan adalah menyediakan fasilitas yang
memudahkan barang – barang perniagaan atau pajangan pada ruang toko tersebut,
yang berlandaskan pada prinsip teater yaitu membiarkan konsumen melihat sendiri
barang – barang, memilih dan akhirnya membeli.
Menurut Louis Parnes ( 1948 ) dalam bukunya Planning Store That Pay, interior
display adalah penampakan barang – barang perniagaan. Hal tersebut menolong
bertambahnya penjualan oleh karena memamerkan barang niaga secara terbuka
sehingga dapat dilihat keadaannya. Hal – hal prinsip tersebut merupakan kekuatan
psikologis yaitu membuat pengunjung tertarik unutk menambah belanjaannya. Pada
toko tertentu, system penyajiannya adalah memilih sendiri, sehingga toko tersebut
tidak perlu memiliki pramuniaga. Penampakan barang perniagaan yang disajikan adalah
penyusunan atau penataan dan dramatisasi keterbukaan gambar – gambar yang
penting serta nilai – nilai reklamis. Sedangkan penyusunan dan perencanaan
diidentifikasi secara lengkap dan menyeluruh. ( Yulia Purnama.2003 : 23 )
Ada enam jenis layout sebagai rancangan dasar yang dapat diterapkan dalam ruang
toko,yaitu :
1) Straight plan ( Garis lurus )
Rancangan garis lurus adalah sebuah bentuk tata ruang yang konvensional yang
memanfaatkan dinding dan proyeksi untuk menciptakan ruang yang lebih kecil. Ini
merupakan rancangan ekonomis untuk dijalankan dan dapat disesuaikan dengan
beberapa jenis pusat perbelanjaan.
2) Pathway plan ( Jalan kecil )
Rancangan ini direkomendasikan untuk toko – toko pakaian karena kemampuannya
untuk meminimalisasi perasaan kacau , rancangan ini juga memfokuskan kepada
perhatian pembelanja terhadap barang – barang dagangan lain di jalan kecil.
3) Diagonal plan
Untuk swalayan rancangan diagonal optimal, rancangan ini memiliki kualitas uyang
menarik dan dinamis karena rancangan ini tidak didasarkan pada garis lurus, maka
rancangan ini mengundang perubahan dan surkulasi.
4) Curved plan
Rancangan kurva menciptakan sebuah lingkungan khusus yang menarik bagi
konsumen, tema kurva dapat ditekankan dengan didnding, atap dan sudut.
5) Varied plan
Untuk produk – produk yang memerlukan barang dagangan pendukung yang sangat
berdekatan, rancangan bervariasi sangat fungsional.
6) Geometric plan
Rancangan ini adalah rancangan yang paling eksotis, karena dapat memberikan
kemudahan penunjukan rak.
e. Sirkulasi Ruang Penjualan
Dalam suatu gerakan manusia di dalm ruang akan membentuk pola ruang gerak yang
dipengaruhi oleh bentuk kegiatan yang ada, jarak pencapaian maupun bentuk sirkulasi di
dalammya. Bentuk dan skala ruang sirkulasi betapapun harus disesuaikan dengan gerakan
manusia sebagaimana mereka berjalan – jalan, beristirahat, dan menikmati
pemandangan sepanjang jalan tersebut ( Francis DK Ching. 1979: 286 ).
Lokasi dan desain kasir dan unit pengemasan adalah hal penting dan tersedia,
seringkali hal ini bertindak sebgai pusat kontrol. ( Joseph De
Chiara.2001: 107 )
Adapun standar sirkulasi lebar gang untuk pramuniaga 1ft 8 inchi ( 50,80 cm ), untuk
gang umum utama minimum 4 ft 6 inchi (137,16 cm ), rata – rata
5 ft 6 inchi – 7 ft ( 167,64 cm ), maksimum 11 ft, gang umum sekunder 3 ft (
91,44 cm ) – 3 ft 6 inchi ( 106,68 cm ).( Joseph De Chiara. 2001: 108 )
Dalam pengaturan kelebaran gang – gang meliputi zona aktivitas yang langsung
berdekatan dengan unit display barang, harus mampu menampung pemakai untuk berdiri
atau jongkok, dimana mereka memandang sepintas, memilih barang. Hal tersebut sama
halnya satu zona sirkulasi yang dapat dipakai dua jalur oleh pembeli. ( Julius Panero. 1975:
205 )
R. TINJAU DARI ELETRONIK

a. Pengertian
Electronik adalah suatu barang atau benda yang berhubungan dengan listrik yang biasanya
menjadi kebutuhan sekunder manusia. Jenis barang-barang elektronik Sedangkan pengertian
‘elektronik’ erat kaitannya dengan barang-barang elektronika, atau lebih tepatnya barang
elektronika yang dibutuhkan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, yaitu :
 Audio-Visual
Produk dan alat-alat audio-visual diklasifikasi menjadi 3, yaitu :
Alat-alat audio : Alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi dan suara.
Alat-alat visual : alat-alat yang dapat menghasilkan rupa dan bentuk yang dikenal sebagai alat
peraga.
Alat-alat audio-visual : alat-alat yang dapat
menghasilkan rupa dan suara dalam satu unit.
 Elektronik Rumah Tangga Alat-alat elektronik yang difungsikan sebagai barang-barang
kebutuhan rumah tangga. 3. Perangkat Komputer
Menurut Microsoft Encarta Reference Library 2005, sebuah komputer sebagai alat pengolah
data untuk menghasilkan informasi, memiliki elemen-elemen, yaitu: Hardware (perangkat
keras), Software (perangkat lunak), dan Brainware
(manusia).
 Telepon Seluler
Telepon selular (ponsel) atau telepon genggam (telgam) atau handphone (HP) atau disebut
pula adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang
sama dengan telepon konvensional saluran tetap, namun dapat dibawa ke mana-mana
(portabel, mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan
kabel (nirkabel; wireless).
S. FUNGSI DAN TUJUAN

Dari uraian diatas pengertian yang dijelaskan pada fungsi yaitu sebagai suatu wadah suatu
tempat berupa bangunan tempat yang merupakan pusat berlangsungnya aktifitas dan
kegiatan jual beli komputer dan barang elektronik lainnya kemudia dilanjutkan dengan
kegiatan untuk menyajikan barang untuk membuat masyarakat tertarik dengan barang itu dan
letaknya di kabupaten gowa yang strategis berada diantara kota makassar dan gowa. Pada
dasarnya fungsi dari pusat penjualan komputer elektronik dan pameran gowa ini adalah
sebagai sarana umum bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan mengenai barang
barang elektronik yang siap di jual serta fungsi dan manfaatnya serta sebagai sarana perantara
perkembangan dunia tentang teknologi pada masyarakat gowa.
Tujuan sendiri yaitu agar mendapat ilmu mengenai pemahaman terhadap kasus terbaru
mengenai barang keluaran terbaru dengan fungsinya sebagai pusat perbelanjaan komputer
yang mencakup pemahaman tentang kebutuhan dan kelayakan akan lokasi, pola aktifitas yang
terjadi di dalamnya dan kebutuhan akan ruang-ruang dan bentuknya. Dan sebagai pengenal
bagaimana kabupaten gowa telah melewati yang namanya perkembangan tehnologi yang
terbaru guna untuk meningkatkan pengetahuan di era kemajuan ini.
STUDI KASUS/BANDING

Mall Mangga Dua, Jakarta

Mangga Dua Mall merupakan salah satu pusat perdagangan komputer di Jakarta yang berlokasi
di kawasan bisnis dengan aktivitas yang paling padat, yaitu kawasan Mangga Dua Business
Center di Jl. Mangga Dua Raya, Jakarta Pusat.
Mall Mangga Dua dibangun oleh PT. Duta Pertiwi dan dikelola oleh PT. Simasred.

Gambar 2. Lokasi site Mall Mangga Dua yang berlokasi di


kawasan Mangga Dua Bussiness Center, Jakarta
Sumber : www.panoramio.com
Mangga Dua adalah bangunan single building yang terdiri dari enam lantai tipikal dan satu
basement, terdiri di atas lahan seluas 23.508 m² saleable area 28.481 m² dan luas total lantai
bangunan tanpa basement sebesar 88.246 m². Untuk luas basement berukuran 18.426 m².
Semua penyewa pada Mall Mangga Dua adalah produsen dan pedagang dengan jumlah
seluruh penyewa adalah 761. Adapun tipe penyewa (tenant) pada Mall Mangga
Dua, yaitu :
- Small tenant, adalah pedagang kecil yang memiliki area kios dengan dengan luas sekitar 4 m²,
6 m², 9 m².
- Medium tenant, adalah pedagang menengah yang memiliki area kios dengan luas sekitar 15
m², 20 m², 24 m², 27 m², 36 m².
- Large tenant, adalah pedagang besar yang memiliki area kios dengan luas sekitar 42 m² dan
90 m².
Dalam Mall Mangga Dua juga terdapat sebuah supermarket di lantai 4 dengan luas 2497 m²
dan pijasera dengan luas 736, 75 m².
Tata ruang pada Mall Mangga Dua menggunakan prinsip tata ruang yang terdapat pada
shopping mall, yaitu penempatan kios atau toko yang menghadap pada koridor utama dan
koridor tambahan dan area tengah koridor yang luas sebagai tempat pameran.

Gambar 3. Penempatan ruang pada denah lantai 3 dan 4


Mall Mangga Dua
Sumber : Dok. Pribadi

DENAH DAN SITEPLAN


Sistem utilitas bangunan yang terdapat pada Mall Mangga Dua meliputi sistem
berikut, yaitu : Sistem transportasi vertikal pada bangunan menggunakan eskalator yang
terletak pada ujungujung koridor dan lift yang terletak didalam core bangunan.
Sistem pengkondisian udara buatan AC central, di mana aliran udara dialirkan melalui
diffuser yang dikontrol oleh ruangan AHU ditiap lantainya.
Sistem pemadam kebakaran menggunakan water sprinkler dan sensor smoke
detector. Selain itu disetiap lantai disediakan hidran tabung pemadam api dengan jarak 50 m.
Sistem pencahayaan yang digunakan oleh Mall Mangga Dua adalah gabungan antara buaran
dan alami, yaitu oleh lampu buatan dan cahaya matahari yang menembus skylight pada atap
Mall dengan intensitas cahaya yang cukup menerangi dalam ruang Mall.
Bandung Electronic Center

Gambar 4. Bandung Electronic Mall


Sumber :
http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=246102
&page=10

Bandung Electronic Center merupakan sentra bisnis teknologi informasi dan elektronik
terlengkap di Bandung dengan luas bangunan ± 30.265 m2. Dengan berdagang secara
berkelompok akan lebih menguntungkan dibandingkan secara individu atau perseorangan,
sedangkan Bandung belum memiliki tempat yang khusus sebagai pusat elektronik, khususnya
teknologi informasi, yang besar dan lengkap. Dari dasar itulah BEC (Bandung Electronic Center)
dengan konsep One Stop Information Technology Shopping Center and Full Cyber Building
pertama kali dibangun di Bandung. Lokasi terletak di tengah kota, tepatnya di Jl. Purnawarman,
Bandung. BEC dikelola oleh PT. Bandung Arta Mas Istana Plaza. Dengan luas lahan 15.000 m 2
ini BEC dibangun dengan konsep mall terdiri dari enam tingkatan lantai.
Bangunan terdiri dari lantai, antara lain :
Mezzanine : Untuk supermarket, exhibition, dan area parkir yang menampung sekitar 500
mobil yang terdiri dari 3 lantai.
Lower Ground Floor : untuk telepon selular
Upper Ground Floor : untuk telepon selular
Lantai 1 : untuk perangkat komputer
Lantai 2 : untuk perangkat komputer dan aksesoris, audio-video, dan foodcourt
Lantai 3 : untuk elektronik rumah tangga

Gambar 5. Denah lantai 1 dan 2 Bandung Electronic Center


Sumber : Dokumen Pribadi

Ruang Sewa BEC


Sebagai pusat perbelanjaan dan perdagangan elektronik yang terbesar dan termegah, setiap
harinya mampu menyedot pengunjung dari berbagai penjuru. Adapun unit-unti toko yang
berada di bangunan berlantai tiga yang terdiri dari unit-unit :
Retail Shop (tenant) dan anchor tenant dengan tipe-tipe sebagai berikut :
- Kecil : Unit-unit dengan luas 10-15 m2 yang terletak di lantai LG, UG, lantai 1, dan lantai 2.
- Sedang : Unit-unit yang memiliki luas 15-20 m2,
yang terletak di lantai LG, UG, lantai 1, dan lantai 2

Gambar 6. Tenant ukuran sedang di BEC


Sumber : http://www.google.com

- Besar : Unit-unit yang memiliki luas di atas 20 m2 terletak di basement dan lantai 3

Gambar 7. Tenant ukuran besar di BEC


Sumber : http://www.google.com

Ruang-ruang yang tedapat di dalam BEC adalah retail shop yang tersebar di tiap-tiap lantai.

PLAZA KENARI MAS JAKARTA

Kawasan Kenari Jakarta Pusat merupakan kawasan yang strategis namun juga kawasan utama
yang sudah terkenal di tahun 70-an dan berkembang seiring berjalan nya waktu. Kini area ini
tidak saja terkenal di Jakarta saja namun diseluruh Indonesia hingga mancanegara. Kawasan ini
terkenal menjadi kawasan pusat perdagangan Alat Listrik & Elektrikal, Lampu, LED, Lampu hias
& Lampu asesoris, Tools & Hardware, Sanitary, Pompa & Filter Air, Pemanas Air, Alat Rumah
tangga, Alat safety, Kunci & Handle Pintu dengan eceran maupun grosiran.

Gambar floorplan plaza kenari mas jakarta

Lantai basement 1 dan 2 Plaza Kenarimas didominasi oleh barang barang furniture interior dan
exterior yang berukuran besar, seperti ranjang, meja, kursi, sofa, lemari, bahkan ada furniture berupa
pendopo berukuran 2,5 m - 3 m yang biasanya diletakan di taman. Tidak hanya furnitur berukuran
besar, di lantai basement 1 juga terdapat perlengkapan dapur dan Kitchen Set.

Aneka kunci dan pegangan pintu dari model yang standard sampai yang elegant bisa dilihat terpajang
pada display toko asesoris interior dan exterior rumah di lantai 1 Mall Kenari Mas. Masih di lantai ini
juga terdapat toko lampu yang menyediakan bermacam-macam kebutuhan lampu. Seperti lampu
hias, lampu taman, lampu penerang jalan, lampu properti panggung, lampu flip-flop, lampu disco
hingga lampu tidur.

Naik ke lantai 2 terdapat produk-produk elektronik kebutuhan rumah tangga. Seperti kipas angin,
exhaust fan, air conditioner, blower dan sebagainya. Tidak hanya barang-barang kebutuhan
pertukangan dan bangunan yang tersedia di mall ini. Di lantai 3 pengunjung bisa menemukan toko-
toko yang menjual handphone, laptop, komputer, printer, jasa isi ulang tinta printer serta asesoris-
asesoris komputer.

Oleh karena itu bagi sebagian warga Jakarta Timur atau Jakarta Pusat yang merasa terlalu jauh mencari
perlengkapan komputer di pusat belanja elektronik Harco Mangga Dua (lihat lokasi Harco Mangga
Dua), maka Mall Kenarimas dapat juga menjadi alternatif tempat belanja kebutuhan hardware dan
software. Sedangkan di lantai 3A atau lantai 4 terdapat hiburan Billiard, Karaoke dan Foud Court.
Masih terdapat 2 lantai lagi menuju keatas namun terlihat masih kosong belum di fungsikan.
Lokasi Plaza Kenari Mas tepatnya berada di Jalan Kramat Raya, berhadapan dengan Pasar Lama Kenari
dan berhadapan juga dengan Rumah Sakit Mohamad Ridwan Meuraksa (lihat lokasi RS Moh. Ridwan
Meuraksa) dekat dengan Kampus Universitas Indonesia Jalan Salemba Raya.