Anda di halaman 1dari 19

Kebijakan Ekspor Impor

Makalah

Oleh:
Kelompok 1
Rizky Indah Lestari Dwi Putri 150810301075
Puspaning Rahmani Rahmat 150810301114
Muh Rofidatul Huda 160810301055
Rizky Renita Defy 160810101187
Apriyani Rahayu 160810101233

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Jember
2018
1.1 Analisis Pengganti Industri Import
Industrialisasi substitusi impor (ISI) adalah kebijakan perdagangan dan
ekonomi yang mendukung penggantian barang impor asing dengan barang
produksi dalam negeri. ISI didasarkan pada anggapan abhwa sebuah negara harus
mengurangi ketergantungannya pada negara asing dengan mengembangkan
produk industri dalam negerinya. Istilah ini lebih mengacu pada kebijakan
ekonomi pembangunan abad ke-20, namun sudah diusulkan pada abad ke-18 oleh
ekonom seperti Friedrich List dan Alexander Hamilton.
Kebijakan ISI diterapkan oleh negara-negara di belahan bumi selatan
dengan tujuan merintis pembangunan dan kemandirian melalui pembentukan
pasar dalam negeri. ISI beroperasi dengan membiarkan negara memimpin
pembangunan ekonomi lewat nasionalisasi, subsidisasi industri penting (termasuk
pertanian, pembangkit listrik, dan lain-lain), kenaikan pajak, dan kebijakan
perdagangan yang sangat proteksionis. Industrialisasi substitusi impor perlahan
ditinggalkan oleh negara-negara berkembang pada tahun 1980-an dan 1990-an
sebagai bagina dari program penyesuaian struktural IMF dan Bank Dunia. Kedua
institusi tersebut mengupayakan liberalisasi pasar global di belahan bumi selatan.
1.2 Timbulnya Pengertian Substitusi Impor
Kebanyakan Negara berkembang memajukan industrialisasi di negaranya
dengan harapan akan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Industrialisasi
dilakukan melalui dua cara, yaitu substitusi impor dan diversifikasi impor.
Penyelenggaraan industrialisasi membutuhkan banyak perlengkapan kapital, akan
tetapi kebanyakan negara berkembang belum mampu membuat perlengkapan
kapital secara mandiri. Untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan kapital, negara
akan mengekspor barang primernya agar dapat mengimpor dengan barang kapital.
Jadi perekonomian negara berkembang dibangun atas dasar ekspor produksi
barang impornya. Kebutuhan negara berkembang akan barang kapital
berkesinambungan dengan kebutuhan negara maju untuk memelihara
kelangsungan produksi barang-barang primer. Karena terlalu fokus pada produksi
primer untuk diekspor, negara berkembang mengalami ketidakstabilan pendapatan
dalam pembangunan ekonominya.
Ketidakstabilan pendapatan ini disebabkan oleh:
a. Persaingan barang impor semakin besar
b. Nilai tukar barang impor negara berkembang rendah
c. Fluktuasi harga produksi primer di pasar dunia
Untuk mengatasi kesulitan pendapatan devisa dan penggunaannya,
substitusi impor dan diversifikasi ekspor merupakan cara baik mengatasi masalah
tersebut. Melalui diversifikasi ekspor negara tidak hanya terpaku pada satu atau
dua macam barang ekspor, sehingga bila terjadi kerugian pada satu barang dapat
diimbangi dengan keuntungan dari barang lainnya. Karena dasar tukar barang
industry lebih tinggi dari barang produksi primer, negara dapat menghasilkan
sendiri barang kebutuhannya, hal tersebut akan mengurangi pengeluaran.
Masalah yang terjadi pada ekspor industri primer mengakibatkan kenaikan
ekspor lebih lambat daripada kenaikan impor. Ini disebabkan oleh elastisitas
pendapatan lebih rendah akan permintaan impor terhadap barang produksi primer.
Rendahnya elastisitas pendapatan terhadap impor produksi primer di
negara maju disebabkan oleh:
a. Kenaikan produksi barang primer di negara maju
b. Perubahan pola konsumsi yang menurunkan hasrat mengkonsumsi
c. Kemajuan teknologi yang mengurangi kebutuhan bahan baku
d. Perkembangan bahan sintetis
e. Diberlakukan peraturan yang membatasi impor barang produksi
impor
Tingginya elastisitas pendapatan terhadap impor barang produksi di
Negara berkembang disebabkan oleh
a. Bertambahnya jumlah penduduk dan berlakunya efek pamer
internasional
b. Kebutuhan barang produksi semakin besar
c. Usaha meningkatkan hasil produksi primer guna meningkatkan
pendapatkan devisa
d. Dorongan untuk mendirikan industry subtitusi impor dan
industry ekspor
Berhasilnya pembangunan ekonomi negara maju dimulai dengan
industrialisasi dengan menciptakan produk untuk memenuhi kebutuhan dalam
negeri. Setelah subtitusi berhasil, sebagian hasilnya diekspor ke luar negeri dan
ditukarkan dengan barang kebutuhan pembangunan. Negara berkembang selain
mengimpor barang industri juga mengekspor bahan makanan. Industri subtitusi
impor memerlukan banyak banyak alat dan mesin serta bahan makanan. Dalam
pelaksanaannya dibutuhkan banyak devisa untuk mengimpornya dan memicu
dinaikkannya pendapatan sektor ekspor. Kalau negara tidak berhasil menaikkan
pendapatan ekspornya, terpaksa harus mengadakan pinjaman luar negeri.
Pada awalnya industrialisasi didasarkan atas pasar dalam negeri dalam
bentuk barang substitusi impor. Adanya pasar tersebut mendorong industry
substitusi impor berkembang lebih pesat apabila disertai suatu proteksi sehingga
akan menghemat penggunaan devisa. Devisa yang dihemat dapat digunakan untuk
mengimpor barang kapital dan barang lainnya yang belum dapat diproduksi
sendiri.
1.3 Motif-Motif Substitusi Impor
a. Bagi negara berkembang, substitusi impor dimaksudkan untuk
mengurangi atau menghemat penggunaan devisa. Devisa merupakan
barang langka bagi negara berkembang, maka dalam penggunaannya
harus selektif. Penggunaan devisa lebih ditekankan pada proyek-proyek
yang mengurangi devisa namun memberikan hasil cukup dan dapat
menambah penghasilan devisa.
b. Substitusi impor timbul bila pemerintah suatu negara berusaha
memperbaiki neraca pembayarannya, baik melalui kuota maupun tarif.
Kebijakan macam ini akan mengurangi jumlah barang impor namun
permintaannya masih besar. Negara akan berinisiatif untuk menghasilkan
barang pengganti. Hal ini akan meningkatkan keuntungan sektor industri.
c. Beberapa negara mengadakan industrialisasi dengan tujuan memenuhi
kebutuhan dalam negeri dan adanya semangat kemerdekaan cinta produk
dalam negeri. Keadaaan ini mendorong timbulnya substitusi impor pada
barang konsumsi pokok maupun barang kapital. Jadi industri substitusi
impor dalam kasus ini tidak terlalu mempertimbangkan biaya, yang
penting tujuan politis dapat tercapai melalui usaha sendiri.
d. Anggapan bahwa industri subtitusi impor bukan untuk mengurangi atau
mengganti barang impor, namun karena pemerintah bertujuan untuk
mengembangkan perekonomian dalam negeri.
Adanya substitusi impor akan diperoleh keuntungan, berupa
penghematan devisa atau pertumbuhan infrastruktur. Kadang kenyataan tidak
sama dengan konsep teori. Walaupun menurut teori sangat untung, pada
kenyataannya hasil yang dicapai tidak seperti harapan. Ini dikarenakan ada
permasalahan dalam menghasilkan substitusi impor.
Masalah yang muncul dalam usaha substitusi impor antara lain :
a. Kualitas barang yang dihasilkan
Kebanyakan kualitas barang yang dihasilkan dalam negeri sering kali
lebih rendah dibandingkan barang impor. Kualitas yang rendah akan
menurunkan kepercayaan konsumen di luar negeri.
b. Biaya produksi
Pada tahap awal industrialisasi membutuhkan banyak modal dan capital
yang dibutuhkan juga banyak. Langkanya faktor capital pada Negara
berkembang memaksa untuk mendatangkan capital dan tenaga ahli dari
luar negeri. Sebagai hasil dari multplier effeck itu tidak dapat ditekan
biaya produksinya, sehingga mengakibatkan harga lebih mahal dibanding
produk impor.
c. Efisiensi alokasi faktor produksi
Dalam suatu perkembangan ekonomi diperlukan berbagai macam faktor,
antara lain: faktor kapital, faktor tenaga kerja, faktor sumber daya alam,
serta faktor wiraswasta dan teknologi.
 Kapital
Pada Negara berkembang, factor capital merupakan factor langka.
Namun seringkali penggunaannya kurang efisien. Untuk
mendorong mandirinya industry substitusi impor dapat diterapkan
proteksi.
 Tenaga kerja
Angkatan tenaga kerja negara berkembang pada umumnya kurang
terdidik. Untuk mengatasinya perlu mendidik tenaga kerja yang
ada ataupun dengan mendatangkan tenaga ahli dari luar negeri.
Namun mendatangkan tenaga ahli dari luar seringkali
mengkonsumsi kapital.
 Sumber daya alam
Negara berkembang mempunyai sumber daya alam yang
potensial. Namun baru sedikit yang diolah. Untuk mengolahnya
membutuhkan teknologi dan kemampuan wiraswasta yang
memadai. Hendaknya dipilih secara selektif sumber daya mana
saja yang potensial mendukung perekonomian.
 Wiraswasta dan teknologi
Jumlah wiraswasta masih belum tercukupi, ini karena mungkin
terbentur oleh keadaan sosial-budaya, sistem politik, ataupun
adat-istiadat setempat. Penggunaan wirasawasta harus seefisien
mungkin dengan pertimbangan berbagai alternatif.

2.1 Analisis Industri Pendorong Ekspor


a. Strategi Industri Pendorong Ekspor ( Outward looking )
Merupakan strategi yang memfokuskan pada pengembangan industri
nasional lebih berorientasi ke pasar internasional dalam usaha pengembangan
industri. Ekspor komoditi primer secara langsung berangsur-angsur diganti
dengan ekpor komoditi yang sudah diolah di dalam negeri dengan tujuan untuk
meningkatkan pendapatan yang dihasilkan, karena nilai jual komoditi yang telah
diolah lebih tinggi dibanding komoditi primer.
Strategi pendorong ekspor dilandasi oleh pemikiran bahwa laju
pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya bisa direalisasikan jika produk-produk
yang dibuat didalam negeri dijual dipasae X .
Rekomendasi agar strategi ini dapat berhasil :
 Nilai tukar harus realistis
 Adanya insentif untuk peningkatkan ekspor
 Tingkat proteksi impornya harus rendah
b. Kebijakan Promosi Ekspor ( Export Promotion Policy)
Promosi ekspor (PE) merupakan salah satu alternatif mengatasi cepat
jenuhnya pasar domestik, sebab pasar luar negeri relatif jauh lebih besar daripada
pasar domestik.Kebijakan PE umumnya dilakukan setelah berhasil melaksanakan
SI, kendati ada jugayang melakukan secara bersamaan.
Terdapat empat faktor yang membuat PE lebih mampu untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi dibanding kebijakan SI, yaitu :
 Kaitan sektor pertanian dengan sektor industri, misalnya agroindustri
yang berkembang karena berorientasi pada bahan baku pertanian. Dengan
adanya kaitan ini, maka permintaan sektor industri terhadap sektor
pertanian tetap dapatdipertahankan.
 Skala ekonomi (economies of scale) dapat dicapai karena permintaan
ekspor yangskalanya cukup besar, sehingga dapat diproduksi secara
manufaktur/ masal.
 Meningkatnya persaingan atas prestasi perusahaan karena kuatnya
persaingan pada pasar dunia.
 Dampak kekurangan devisa atas pertumbuhan ekonomi dapat diatasi.
Meskipun kebijakan PE memberikan manfaat.
Dari faktor-faktor tersebut, terdapat beberapa masalah, yaitu :
 Cepat jenuhnya pasar internasional
Cepat jenuhnya pasar internasional disebabkan oleh faktor permintaan dan
penawaran. Dilihat dan sisi permintaan,apa yang diekspor oleh NSB seperti
pakaian, makanan olahan, barang-barangelektronik sederhana, bahkan kendaraan,
umumnya merupakan barang kebutuhan pokok bagi negara maju. Sebagai barang
kebutuhan pokok, elastisitas permintaannya (elastisitas harga dan elastisitas
pendapatan) sangat rendah,sehingga pasarnya relatif tetap.
 Makin kuatnya kebijakan proteksi oleh negara-negara maju.
Meskipun negara-negara maju memiliki keunggulan komparatif dalam
produksi teknologi padat modal dan ilmu pengetahuan, mereka tetap melakukan
proteksi terhadap industri-industri yang berteknologi sederhana.
Kelompok ini mendasarkan pendapatan dan anjurannya pada prinsip-
prinsip efisiensi dan keuntungan yang terkandung di dalam persaingan dan
perdagangan bebas antarbangsa. Bertolak dari strategi promosi ekspor, negara-
negara berkembang diharapkan membuka wawasannya dan melangkah lebih jauh
dari pasar domestik yang sempit itu ke pasar-pasar dunia yang lebih luas, serta
melenyapkan setiap bentuk proteksi yang oleh aliran pemikiran ini diyakini hanya
akan menimbulkan distorsi harga-harga dan biaya.
Bertolak dari latar belakang konsep dan klasifikasi tersebut, mengenai
strategi promosi ekspor yang berorientasi ke luar versus strategi substitusi impor
yang berorientasi ke dalam.
Terdapat beberapa kategori pokok yang saling berkaitan sebagai berikut:
 Promosi Ekspor Berorientasi ke Luar dan menghadapi Hambatan-
hambatan Perdagangan
Promosi ekspor yang dilakukan negara-negara berkembang, baik itu
terhadap produk-produk primer maupun sekunder, sejak lama dipandang sebagai
salah satu unsur utama dalam setiap strategi pembangunan jangka panjang yang
dapat diandalkan. Daerah-daerah jajahan di Asia dan Afrika, yang kaya akan unit-
unit usaha pertambangan dan perkebunan (milik pihak asing), merupakan contoh
klasik dari wilayah yang menerapkan kebijakan-kebijakan berorientasi ke luar
bagi produk-produk primernya.
 Pengembangan Ekspor Komiditi Primer : Permintaan Terbatas,
Penyusutan pasar
Karena bahan-bahan pangan, produk pertanian nonpangan, dan bahan
mentah meliputi 40 persen seluruh ekspor negara-negara dunia ketiga dan bagi
banyak negara-negara miskin bahkan mengandalkannya sebagai sumber utama
pemasukan devisa maka faktor-faktor yang telah mempengaruhi tingkat
permintaan dan tingkat penawaran atas produk-produk primer dalam perdagangan
internasional.
 Pengembangan Ekspor Produk-Produk Manufaktur: Sedikit Hasil,
Setumpuk Hambatan
Sisi penawaran terdapat beberapa faktor yaitu:
 Salah satu di antaranya yang terpenting adalah kekakuan struktural di
banyak sistem produksi di perdesaan di negara-negara berkembang.
 Negara-negara berkembang dengan struktural pertanian yang dualistik,
pertumbuhan dalam pendapatan ekspor jarang sekali terdistribusikan pada
penduduk-penduduk di daerah perdesaan.
Tujuan utama strategi pembangunan pedesaan di negara-negara dunia
ketiga haruslah untuk mencukupi kebutuhan pangan, memberi nafkah dan
memenuhi segala kebutuhan pokok lainnya secara memadai kepada seluruh
warga, dan setelah itu barulah kemudian berusaha untuk mengembangkan
ekspornya.
Peluasan ekspor barang-barang manufaktur dari negara-negara dunia
ketiga sangat dipengaruhi oleh imbas keberhasilan ekspor yang spetakuler dari
negara-negara industri baru. Cina adalah pemimpin dari tingginya peningkatan
output manufakturdari duina ketiga. Namun, negara-negara berpenghasilan rendah
tetap hanya menghasilkan 3,3 dari total output dunia. Bahwa pertumbuhan
ekonomi negara-negara berkembang hanya akan dapat dicapai secara maksimal
melalui mekanisme pasar bebas, penerepan prinsip kebebasan berusaha,
keterbukaan ekonomi, dan pembatasan intervensi pemerintah sampai ke taraf yang
minimal.
Masalah-masalah berat sehubungan dengan lemahnya permintaan ekspor
yang menghambat kesempatan negara-negara berkembang dalam memperluas
kapasitas ekspor produk maufakturnya memilki landasan ekonomis yang berbeda
dari masalah-masalah permintaan yang menghambat perluasan ekspor komoditi-
komoditi. Meskipun elastisitas permintaan internasional terhadap perubahan harga
dan pendapatan bagi barang-barang manufaktur secara agregat lebh tinggi dari
pada bagi komoditi primer, tetapi hasilnya untuk kebanyakan negara-negara dunia
ketiga juga masih sangat terbatas, sehingga tidak sepantasnya ekspor manufakur
diandalkan.

3.1 Analisis Teknologi dan Pengangguran


PENGERTIAN PENGANGGURAN
Menurut Sadono Sukirno pengangguran adalah suatu keadaan dimana
sesorang yang termasuk dalam angkatan kerja ingin memperoleh pekerjaan tetapi
belum mendapatkanya.
Menurut Payaman J. Simanjuntak pengangguran adalah orang yang tidak
bekerja sama sekali atau bekerja kurang dari dua hari selama seminggu sebelum
pencacachan dan berusaha memperoleh pekerjaan. Untuk mengukur tingkat
pengangguran pada suatu wilayah bisa didapat dari persentase membagi jumlah
pengangguran dengan jumlah angkatan kerja dan dinyatakan dalam persen.
Pengangguran berakibat buruk terhadap kegiatan perekonomian
diantaranya :
a. Pengangguran menyebabkan tidak memaksimalkan tingkat kemakmuran
rakyat.
b. Pengangguran menyebabkan pendapatan pajak pemerintah berkurang.
Pengangguran diakibatkan oleh kegiatan ekonomi yang rendah dan dalam
kegiatan ekonomi yang rendah pendapatan pajak pemerintah semakin
sedikit.
c. Pengangguran tidak menggalakan pertumbuhan ekonomi. Pengangguran
menimbulkan dua akibat buruk pada kegiatan sektow swasta. Yang
pertama, pengangguran tenaga buruh diikuti pula oleh kelebihan kapasitas
mesinmesin perusahaan. Kedua, pengangguran yang diakibatkan oleh
keuntungan kelesuan kegiatan perusahaan yang rendah menyebabkan
berkurangnya keinginan untuk melakukan investasi.

PENGERTIAN TEKNOLOGI
Teknologi adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan
manusia dengan bantuan alat dan akal sehingga akan memperpanjang,
memperkuat atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indera dan otak
manusia.
Teknologi adalah sebagai “ pengetahuan mengenai bagaimana membuat
sesuatu ( know-how of making things )” dalam arti kemampuan untuk
mengerjakan sesuatu dengan nilai yang tinggi, baik nilai manfaat maupun nilai
jualnya.
Keuntungan dalam menggunakan teknologi :
a. Adanya perubahan
Setiap penemuan baru akan menciptakan perubahan yang baru. Ibarat
sebuah sub sistem kehadiran teknlogi baru sebagai subsistem baru dalam
masyarakat akan membawa konsekuensi, subsistem lain dalam sistem
tersebut mau tidak mau harus menyesuaikan diri akibat kehadiran
teknologi. Teknologi pasti akan mengubah pola aktifitas individu.
b. Adanya kemajuan
Teknologi merupakan simbol kemajuan. Seorang tidak akan ketinggalan
informasi apabila mereka menggenggam teknologi. Teknologi telah
mempengaruhi gaya hidup.
c. Adanya kemudahan
Teknologi diciptakan guna mempermudah aktivitas manusia. Seperyi
adanya smartphone yang memudahkan komunikasi, atm memudahkan
untuk tidak perlu lagi pergi ke teller dan masih banyak lagi.
d. Adanya peningkatan produktivitas
Perusahaan besar banyak memanfaatkan teknologi untuk efisiensi dan
peningkatan produktivitas produksinya. Teknologi juga dapat
meningkatkan keuntungan perusahaan dengan banyak. teknologi juga
dimanfaatkan sebagai alat kontrol untuk mengevaluasi kinerja seseorang.
e. Adanya kecepatan
Berbagai pekerjaan akan cepat selesai dengan menggunakan teknologi.
Seperti adanya omputer memudahkan untuk karyawan kantor, adanya
mesin memudahkan buruh untuk produksi dan masih banyak lagi.
f. Adanya popularitas
Dengan adanya teknologi yang canggih maka kita bisa mempromosikan
dan memperkenalkan barang produksi dengan cepat dan mudah. Seperti
dengan website, facebook, instagram,youtube dan masih banyak lagi.
Dengan cara seperti itu maka produk akan cepat dikenal oleh masyarakat.

Teknologi diciptakan untuk memrikan manfaat dan kemudahan bagi


manusia bukan untuk menggantikan peran manusia. Pengangguran terjadi bukan
karena teknologinya, tetapi kualitas sumber daya manusia yang belum siap dan
belum mampu untuk mengoperasikan teknologi tersebut. Sumber daya manusia
harus dituntut untuk berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi. Suatu
teknologi tidak akan bisa berjalan dengan baik jika tanpa operator dan teknologi
tidak akan bertahan lama jika tidak ada yang merawatnya. Maka sumber daya
manusia sangat diperlukan untuk mengoperasikan suatu teknologi.
Secanggih apapun teknologi pasti punya kelemahan, manusia perlu
diberikan pelatihan dan pendidikan mengenai IPTEK untuk melaraskan teknologi
yang ada. Solusi untuk mengatasi pengangguran adalah dengan cara :
1. Memberikan pelatihan khusus untuk mengasah keterampilan yang
dibutuhkan di dunia modern.
2. Memberikan pengarahan pentingnya menguasai teknologi.
3. Membyka pusat pelatihan kerja sumber daya manusia untuk membantu
transisi dari pekerjaan tradisional ke pekerjaan modern atau yang
menggunakan mesin dan alat yang canggih.

KONDISI RIIL DI INDONESIA


 TAHUN 2017
Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, pada tahun 2017 telah
terjadi kenaikan jumlah pengangguran di Indonesia sebesar 10.000 orang menjadi
7,04 juta orang pada Agustus 2017 dari Agustus 2016 sebesar 7,03 juta orang.
Meski mengalami peningkatan jika dilihat dari Tingkat Pengangguran
Terbuka (TPT) pada Agustus ini turun 0,11 poin dari 5,61 di Agustus 2016
menjadi 5,50 di periode yang sama tahun 2017. Selain itu, sektor-sektor yang
mengalami peningkatan persentase penduduk yang bekerja, ada pada sektor
industri meningkat 0,93 poin, perdagangan naik 0,74 poin dan jasa
kemasyarakatan naik 0,49 poin.

 TAHUN 2018
Jumlah angkatan kerja pada Agustus 2018 sebanyak 131,01 juta orang,
naik 2,95 juta orang dibanding Agustus 2017. Sejalan dengan itu, Tingkat
Partsipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga meningkat 0,59 persen poin.
Dalam setahun terakhir, pengangguran berkurang 40 ribu orang, sejalan
dengan TPT yang turun menjadi 5,34 persen pada Agustus 2018. Dilihat dari
tngkat pendidikan, TPT untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih
mendominasi di antara tngkat pendidikan lain, yaitu sebesar 11,24 persen.
Penduduk yang bekerja sebanyak 124,01 juta orang, bertambah 2,99 juta
orang dari Agustus 2017. Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan
persentase penduduk yang bekerja terutama pada Penyediaan Akomodasi dan
Makan Minum (0,47 persen poin), Industri Pengolahan (0,21 persen poin), dan
Transportasi (0,17 persen poin). Sementara lapangan pekerjaan yang mengalami
penurunan utamanya pada Pertanian (0,89 persen poin), Jasa Lainnya (0,11 persen
poin), dan Jasa Pendidikan (0,05 persen poin).
Sebanyak 70,49 juta orang (56,84 persen) bekerja pada kegiatan informal.
Selama setahun terakhir, pekerja informal turun sebesar 0,19 persen poin
dibanding Agustus 2017.
Persentase tertnggi pada Agustus 2018 adalah pekerja penuh (jam kerja
minimal 35 jam per minggu) sebesar 71,31 persen. Sementara penduduk yang
bekerja dengan jam kerja 1–7 jam memiliki persentase yang paling kecil, yaitu
sebesar 2,14 persen. Sementara itu, pekerja tdak penuh terbagi menjadi dua, yaitu
pekerja paruh waktu (22,07 persen) dan pekerja setengah penganggur (6,62
persen).

KEBIJAKAN PEMERINTAH
1. Pemerintah Indonesia menempatkan prioritas kebijakan yang lebih tinggi
untuk investasi dan perluasan proyek infrastruktur di seluruh Indonesia
termasuk bandara, kereta api, pelabuhan dan jalan tol dan pembangkit
listrik.
2. menggalakkan program pemagangan yang bertujuan untuk menyiapkan
para tenaga kerja, terutama kaum muda, untuk mendapatkan pengalaman
kerja serta peningkatan keterampilan, Dalam melaksanakan program ini,
pemerintah telah bekerja sama dengan 2.000 perusahaan di Indonesia di
mana setiap perusahaan memberikan kesempatan kepada 100 peserta
untuk mengikuti program pemagangan.
3. Kementerian Ketenagakerjaan juga menggalakkan program kewirausahaan
dengan memberikan pelatihan sekaligus modal usaha dan akses ke pasar
untuk pengembangan usaha mereka.
4. Bursa Kerja Daring Kementerian Ketenagakerjaan juga memanfaatkan
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu
mempercepat mengurangi pengangguran dengan mengoperasikan Bursa
Kerja Online (BKOL) yang terintegrasi di 34 provinsi.
5. Revitalisasi 70 BLK Kementerian Ketenagakerjaan juga melakukan
revitalisasi 70 Balai Latihan Kerja (BLK) terutama BLK-BLK yang
dimiliki dan dikelola pemerintah daerah (pemda) agar BLK mampu
mengikuti kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar kerja dan industri.

4.1 Kebijakan dalam Kegiatan Ekspor dan Impor


Pada awalnya, perdagangan suatu negara hanya terbatas pada wilayah
tertentu. Seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan akan barang dan
jasa memiliki varian yang bermacammacam. Suatu negara yang tidak dapat
memenuhi kebutuhan barang dan jasa di dalam negeri dapat mengimpor dari
negara lain, begitupun sebaliknya. Sutu negara yang memiliki kelebihan atau
potensi di dalam negeri dapat melakukan kegiatan ekspor ke luar negeri.
Pengertian ekspor adalah suatu barang atau jasa yang dijual keluar negeri dengan
mengharapkan pembayaran valuta asing, sedangankan impor adalah pembelian
suatu barang atau jasa dari luar negeri. Setiap negara memiliki potensi yang
berbeda, baik dari segi sumber daya alamnya, iklim, geografi, demografi, struktur
ekonomi, maupun struktur sosial. Perbedaan tersebut dapat menghasilkan produk
yang berbeda dengan kualitas dan kuantitas yang berbeda pula. Secara tidak
langsung, suatu negara perlu melakukan hubungan berupa perdagangan untuk
memenuhi kebutuhan antar negara tersebut. Dengan kemajuan teknologi saat ini,
maka distribusi barang atau jasa semakin cepat. Pada akhirnya, perkembangan
spesialisasi produk komoditi menjadi semakin luas. Jenis dan volume barang dan
jasa yang dibutuhkan untuk memuaskan kebutuhan konsumen semakin
meningkat. Perkembangan spesialisasi menandakan adanya perkempangan
perdagangan karena tidak semua sumber daya yang digunakan dapat dihasilkan di
dalam negeri.
Ekspor dan impor memiliki peranan penting pada cadangan devisa suatu
negara. Jika ekspor meningkat maka cadangan devisa juga akan meningkat,
sehingga persediaan impor beberapa bulan ke depan akan tercukupi dan akan
memperbesar kemampuan negara tersebut melakukan transaksi ekonomi. Ekspor
dapat dikatakan sebagai faktor “injeksi”, sedangkan impor dapat dikatakan
sebagai faktor “kebocoran” dalam pendapatan nasional. Semakin tinggi nilai
impor maka akan semakin mengurangi cadangan devisa negara tersebut.
Proses ekspor dibagi menjadi dua macam, yaitu:
 Ekspor langsung adalah proses penjualan barang atau jasa tanpa melalui
perantara atau pengirimana langsung kepada konsumen. Kelemahan dari
ekspor langsung adalah adanya biaya transport yang tinggi.
 Ekspor tidak langsung adalah proses penjualan barang atau jasa melalui
perantara dari negara asal. Keuntungan dari ekspor tidak langsung adalah
kita tidak perlu mengurusi surat atau administrasi. Sedangkan kelemahan
dari ekspor tidak langsung adalah kita tidak bisa memperoleh keuntungan
secara maksimal karena ditangani oleh pihak lain.
Terdapat empat tahap dalam proses ekspor, diantaranya ialah:
 Mengidentifikasi pangsa pasar di negara lain
 Menggunakan analisis SWOT untuk mengetahui kebutuhan pasar dengan
kemampuan ekspor suatu negara
 Pertemuan dengan agen atau eksportir
 Mengalokasikan sumber daya yang ada
Manfaat proses ekspor bagi suatu negara adalah sebagai berikut:
 Menjalin kerjasama dengan negara lain
 Menambah devisa negara
 Mengurangi kelebihan produk dalam negeri
 Memberikan lapangan pekerjaan
 Mengenalkan produk Indonesia ke luar negeri
Berdasarkan jenisnya, impor dibagi menjadi dua yaitu:
 Full Container Load (FCL), yaitu jenis pengiriman barang menggunakan
kontainer yang di dalamnya hanya berisi barng-barang dari satu shipper
saja. Oleh karena itu, impor jenis ini merupakan jenis impor yang
tergolong besar karena membutuhkan tempat yang besar dalam kontainer
dengan satu shipper.
 Less Than Container Load (LCL), yaitu jenis pengiriman barang
menggunakan kontainer yang di dalamnya berisi barng-barang dari
beberapa shipper. Jenis impor ini merupakan impor yang tergolong kecil
karena dalam satu kontainer terdapat barang-barang dari beberapa shipper.
Manfaat proses impor bagi suatu negara adalah sebagai berikut:
 Terpenuhinya kebutuhan suatu negara
 Memperoleh barang dengan harga yang lebih murah
 Bahan baku untuk proses produksi lain dapat terpenuhi
Kebijakan yang dapat dilakukan pemerintah dalam kegiatan ekspor dan impor
adalah:
 Kebijakan ekspor
a. Pemberian premi (subsidi) kepada pihak yang akan melakukan
kegiatan ekspor, tujuan utama dari pemberian subsidi adalah membuat
daya saing produk dalam negeri menguat terhadap produk dari luar
negeri. Subsidi juga merupakan kebijakan non tarif yang diberlakukan
pemerintah.
b. Diskriminasi harga, penetapan harga yang berbeda di setiap negara
tujuan ekspor. Diskriminasi harga merupakan penetapan harga yang
berbeda dengan produk yang sama dan konsumen berbeda.
Diskriminasi harga memiliki tiga tingkatan, yaitu:
1. Tingkat pertama, penjual mengenakan harga terpisah kepada setiap
pelanggan tergantung intensitas permintaannya.
2. Tingkat kedua, penjual mengenakan harga tidak terlalu mahal
kepada pembeli yang membeli volume yang lebih besar.
3. Tingkat ketiga, penjual mengenakan jumlah yang berbeda terhadap
berbagai kelas pembeli.
c. Politik dagang bebas, pemerintah memberikan kebebasan pada pelaku
ekonomi
d. Dumping, penetapan harga barang ekspor lebih murah dibanding di
dalam negeri. Politik dumping merupakan bentuk diskriminasi harga
internasional. Biasanya kebijakan ini dilakukan untuk melindungi
produk suatu negara di negara lain. Teradapat tiga tipe dumping, yaitu:
1. Persistant dumping, yaitu kecenderungan monopoli yang
berkelanjutan dari suatu perusahaan di pasar domestik untuk
memperoleh laba maksimum dengan menetapkan harga lebih
tinggi di dalam negeri daripada di luar negeri.
2. Predatory dumping, yaitu tindakan perusahaan untuk menjual
barangnya di luar negeri dengan harga yang lebih murah untuk
sementara, sehingga dapat mematikan atau mengalahkan
perusahaan lain dari persaingan bisnis. Setelah memonopoli pasar,
barulah harga dinaikkan untuk memperoleh laba maksimum.
3. Sporadic dumping, yaitu tindakan perusahaan dalam menjual
produknya di luar negeri dengan harga yang lebih murah (sporadic)
dibandingkan harga dalam negeri karena adanya kelebihan
produksi di dalam negeri.
 Kebijakan impor
a. Tarif (bea masuk), diambil pemerintah untuk dibebankan kepada setiap
barang impor. Tujuan dari tarif (bea masuk) ini adalah:
1. Menghambat impor barang-barang atau jasa luar negeri dengan
penetapan pajak yang tinggi atas barang-barang impor
2. Melindungi barang atau jasa produksi dalam negeri
3. Menambah penerimaan pemerintah dari pajak
Selain itu, juga terdapat macam-macam dari tarif yaitu:
1. Bea valorem
2. Bea specific
3. Bea compound
Sistem tarif dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
1. Single – Column Tarrifs, masing-masing barang satu tarif. Sifatnya
autonomous tarrifs >< conventional tarrifs
2. Double – Column Tarrifs, bila ditentukan sendiri dengan UU maka
bentuknya maksimum dan minimum
3. Tripple – Column Tarrifs, disebut prefential system
b. Kuota, total jumlah barang yang ditentukan dan dapat diimpor. Kuota
merupakan jenis kebijakan non tarif. Kuota juga dapat dijadikan
kebijakan ketika pemerintah khawatir apabila dengan adanya tarif
maka harga dalam negeri akan meningkat. Kuota dibagi empat macam,
yaitu:
1. Kuota mutlak
2. Negociated quota
3. Tarif quota
4. Mixing quota
Selain itu, terdapat kebijakan larangan ekspor dan impor. Larangan ekspor
diberlakukan guna menjaga kepercayaan barang-barang yang masih sangat
terbatas diproduksi dalam negeri. Sedangkan larangan impor diberlakukan
guna menjadi suatu kebijakan perdagangan internasional yang melarang
secara mutlak impor komunitas tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
Amir, MS, 2001, Seluk Beluk dan Teknik Perdagangan Luar Negeri, PPM,
Jakarta
Jeff Madurs, 2001, Pengantar Bisnis, Salemba Empat, Jakarta
Sutedi, A. (2014). Hukum Ekspor Impor. RAS.