Anda di halaman 1dari 51

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Profil Kesehatan Puskesmas Bulili Tahun 2017 merupakan gambaran


situasi kesehatan masayarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Bulili, Profil
Kesehatan ini memuat data- data dan Informasi yang berhubungan dengan
keadaan umum,Pembangunan Kesehatan, Seperti data Penduduk, Fasilitas
Kesehatan, Tenaga Kesehatan dan Pencapaian Program- program Kesehatan.
Keseluruhan data yang ada merupakan gambaran tingkat Pencapaian
penyelenggaran pelayanan Kesehatan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal
(SPM) Bidang Kesehatan yang diukur melalui indikator Indonesia Sehat dan
Indikator Kinerja SPM Bidang Kesehatan. Data yang tersedia kumpulkan
dianalisis dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan Grafik serta untuk memberikan
gambaran Kegiatan Selama Tahun 2017 juga disertakan Foto- Foto Program dan
Kegiatan Kesehatan.
Dengan demikian jelas bahwa tujuan diterbitkannya Profil Kesehatan
Puskesmas Bulili Tahun 2017 ini adalah dalam rangka menyediakan data untuk
Perencanaan,Pemantauan,dan Mengevaluasi pencapaian pembangunan Kesehatan
di Wilayah Kerja Puskesmas Bulili Tahun 2018 Mengacu Pada Visi dan Misi
Puskesmas Bulili Tahun 2015-2018

Sumber data dalam penyusunan Profil kesehatan Puskesmas Bulili


Tahun 2017 ini yaitu laporan bulanan dari puskesmas (LB1,LB2,LB3, dan LB4)
,laporan Program, Laporan Tahunan (LT1,LT2,LT3) dan data Pendukung lainnya
dari Instansi Lintas Sektor lainnya diantaranya BPS Kota palu dan Kecamatan
palu Selatan.
Kesulitan dalam menyusun Profil Kesehatan Puskesmas Bulili Tahun
2017 ini adalah data input untuk mengisi tabel- tabel yang ada tidak seluruhnya
dapat diperoleh dari data rutin SP2TP ( System Pencatatan dan Pelaporan Terpadu
Puskesmas) ,maupun data Program Lainnya .

1 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


Profil Kesehatan Puskesmas Bulili Tahun 2017 ini terlihat terlihat
Program kesehatan baik dari Segi Internal Maupun koodinasi Kerja sama Lintas
Sektor terkait yang diharapkan mempunyai Peran Penting dalam Pencapaian Visi
dan Misi Puskesmas Bulili Tahun 2015-2018

B. Visi dan Misi

VISI

Terwujudnya masyarakat bulili sehat secara mandiri

MISI

1. Mendorong masyarakat untuk hidup sehat

2. Meningkatkan sumber daya manusia petugas kesehatan

3. Menjalin kerjasama lintas sektor

Tata Nilai

1. Keprofesionalan

Profesionalan adalah merupakan komitmen para anggota suatu Profesi

untuk meningkatkan kemampuannya secara terus menerus.

2. Kedisiplinan

Kedisiplinan adalah taat kepada hukum yang berlaku.

3. Beretika

Beretika adalah Sebagai pandangan manusia dalam berperilaku menurut

ukuran dan nilai yang baik.

4. Tanggung jawab

Tanggung jawab adalah Perwujudan kesadaran akan kewajibanya.

2 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


MOTTO

“ GERTAK MENPAN “

Gerakan Serentak Menuju Terdepan.

C. Sistimatika Penyajian

Sistimatika penyajian Profil Kesehatan Puskesmas Bulili pada tahun

2017 disusun dengan sistimatika sebagai berikut :

Bab-I : Pendahuluan

Bab ini berisi penjelasan tentang maksud dan tujuan penyusunan

Profil Kesehatan dan sistimatika penyajiannya.

Bab-II : Gambaran Umum

Bab ini menyajikan tentang gambaran umum Wilayah Kerja

Puskesmas Bulili. Selain uraian tentang letak geografis, administratif dan

informasi umum lainnya, bab ini juga mengulas faktor-faktor yang

berpengaruh terhadap kesehatan dan faktor-faktor lainnya misalnya

kependudukan, ekonomi, pendidikan, sosial budaya dan lingkungan.

Bab-III : Situasi Derajat Kesehatan

Bab ini berisi uraian tentang indikator mengenai mortalitas,

morbiditas dan angka status gizi masyarakat di wilayah kerja Puskesmas

Bulili.

Bab-IV : Situasi Upaya Kesehatan

Bab ini menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar,

pemberantasan penyakit menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan

sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat. Upaya pelayanan kesehatan yang

3 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


diuraikan dalam bab ini juga mengakomodir indikator kinerja Standar

Pelayanan Minimum bidang kesehatan.

Bab-V : Situasi Sumber Daya Kesehatan

Bab ini menguraikan tentang sarana kesehatan, tenaga kesehatan,

pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya.

Bab-VI : Kesimpulan

Bab ini diisi dengan sajian tentang hal-hal penting yang perlu disimak

dan ditelaah lebih lanjut dari profil kesehatan di tahun tersebut. Selain

keberhasilan-keberhasilan yang perlu dicatat, bab ini juga mengemukakan

hal-hal yang dianggap masih kurang dalam rangka penyelenggaraan

pembangunan kesehatan.

Lampiran

Pada Lampiran ini berisi table Resume atau angka pencapaian

Program Puskesmas tahun 2017 , Profil Puskesmas Bulili disajikan dalam

bentuk tercetak ( berupa Buku) tau Dalam Bentuk lain ( soft Copy)

4 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


BAB II
GAMBARAN UMUM
A. Keadaan Geografi

Puskesmas Bulili terletak di kelurahan Birobuli Selatan Kecamatan


Palu Selatan dengan jarak Tempuh dari pusat Kota sejauh ± 6 Km dan jarak
dari Pusat kecamatan sejauh 2 Km. Yang memiliki luas wilayah 14,15 Km²
dan Secara administatif pemerintahan terdiri atas 2 kelurahan, 15 RW serta 56
RT dengan luas Wilayah perkelurahan sebagai Berikut:
Tabel. 2.1
Distribusi Luas Wilayah , RW dan RT dirinci menurut kelurahan
di Puskesmas Bulili Tahun 2017

NO Kelurahan Luas Wilayah ( Km2) RW RT


1 Petobo 10,40 9 28
2 Birobuli Selatan 3,75 6 28
Puskesmas 14,15 15 56
Sumber : Kecamatan Palu Selatan

Secara Administratif Puskesmas Bulili berbatasan dengan beberapa


kelurahan di Kota Palu dan secara langsung juga berbatasan dengan wilayah
Kabupaten Sigi Biromaru, Sebab wilayah kerja Puskesmas Bulili berada
paling selatan dari wilayah Administartif kota Palu. Untuk lebih jelasnya
maka berikut ini kami jabarkan batasan wilayah kerja Puskesmas Bulili:
Sebelah Timur : Desa Ngatabaru dan Desa Luru Kec. Sigi Biromaru

Sebelah Barat : Kelurahan Tinggede, Kec. Marawola

Sebelah Utara : Kelurahan Birobuli Utara dan Kelurahan Kawatuna

Sebelah Selatan : Desa Mpanau dan Desa Kalukubula Kec. Sigi Biromaru

5 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


B. Demografi

1. Pertumbuhan Penduduk
Sampai dengan tahun 2017 jumlah penduduk di wilayah kerja
Puskesmas Bulili berjumlah 21.432 Jiwa Pada tahun tahun 2016
berjumlah 19.601 jiwa Berdasarkan data dari BPS tersebut terjadi
peningkatan Jumlah Penduduk jumlah sebanyak 1,74% dari tahun
sebelumnya dimana jumlah rumah tangga 3.775 Rumah Tangga dengan
rata - rata jiwa per rumah tangga 5,19 jiwa dengan kepadatan penduduk
1,385 per Km2.
Tabel . 2.2
Distribusi Kepadatan Pertumbuhan Penduduk berdasarkan
Luas Wilayah dan Jumlah Rumah Tangga Wilayah Kerja
Puskesmas Bulili Tahun 2017

Jumlah Jumlah Kepadatan


Rata2 jiwa/
N LUAS Jmlh
KELURAHAN Rumah Rumah Penduduk
O WILAYAH Pddk
(km2) Tangga Tangga per km2
( jiwa)
1 B. Selatan 3,8 11.891 2.464 4,48 2940,80
2 PETOBO 10,4 9.541 1.311 , 6,54 824,33
PUSKESMAS 14,2 21.432 3.775 5,19 1.385
Sumber : BPS kota Palu

3,775
Berdasarkan Kelompok umur Pada tahun 2017 jumlah
pertumbuhan penduduk menurut jenis kelamin dimana pertumbuhan
penduduk Laki- laki 10.792 jiwa pertumbuhan penduduk Perempuan
10.640 jiwa hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan laki - laki lebih
besar dari pertumbuhan perempuan dengan rasio jenis kelamin 101,02 %
dan Angka Berat Tanggungan (Dependent Rate) 39 % selengkapnya dapat
di lihat pada tabel 2.3:

6 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


Tabel. 2.3
Distribusi Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin
Wilayah Kerja Puskesmas Bulili Tahun 2016
KELOMPOK JUMLAH PENDUDUK
NO UMUR LAKI- LAKI-LAKI+ RASIO JENIS
(TAHUN) PEREMPUAN
LAKI PEREMPUAN KELAMIN
1 0–4 632 556 1155 107.73
2 5–9 927 903 1831 102.77
3 10 – 14 955 977 1921 96.62
4 15 – 19 948 857 1797 109.68
5 20 – 24 1040 975 1919 96.82
6 25 – 29 1111 985 1969 99.90
7 30 – 34 1027 847 1727 103.90
8 35 – 39 827 782 1512 93.35
9 40 – 44 753 742 1431 92.86
10 45 – 49 743 711 1388 95.22
11 50 – 54 674 553 1136 105.42
12 55 – 59 499 353 806 128.33
13 60 – 64 306 197 430 118.27
14 > 65 174 313 579 84.98
JUMLAH 9850 9751 19601 101.02
ANGKA BEBAN TANGGUNGAN (DEPENDENCY
33
RATIO)
Sumber: Data BPS tahun 2016

7 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


Grafik. 2.1
Komposisi Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin
Wilayah Kerja Puskesmas Bulili Tahun 2016
2500

2000
1921 1919 1969
1831 1797 1727
1512
1431 1388
1500
1155 1136
1000 806
579
430
500

0
0 - 4 5 - 9 10 - 15 - 20 - 25 - 30 - 35 - 40 - 45 - 50 - 55 - 60 - >65
14 19 24 29 34 39 44 49 54 59 64

LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH RASIO

2. Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan
sumber daya manusia pada tahaun 2016 Di wilayah Kerja Puskesmas
Bulili jumlah penduduk 10 tahun ke atas 16,651 Jiwa, dengan dukungan
sarana pendidikan yang tersebar di dua kelurahan sebanyak 29 Sekolah
termasuk TK, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi bahkan sekolah SLB,
yang memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan.
Tabel 2.4
Jumlah Sarana Pendidikan Di Puskesmas Bulili Tahun 2016

NO Perguruan SLTA/ SLTP/


Kelurahan SLB SD TK
Tinggi MA MTS
1 Birobuli Selatan 2 2 2 0 3 7
2 Petobo 0 1 2 1 5 4
Total 2 3 4 1 8 11
Sumber:SP2TP Puskesmas Bulili tahun 2016

8 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


BAB III
DERAJAT KESEHATAN

Puskesmas dan jaringan adalah sarana pelayanan kesehatan terdepan yang


langsung bertanggung jawab terhadap wilayah kerjanya menyadari bahwa
kesehatan adalah salah satu hak asasi manusia dan merupakan salah satu investasi
penting untuk keberhasilan pembangunan bangsa, Pembangunan kesehatan pada
hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya. Dalam kaitan ini perlu di perhatikan bahwa salah satu sasaran agenda
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang ditandai oleh meningkatnya
angka harapan hidup, menurunnya tingkat kematian bayi dan kematian ibu
melahirkan serta perbaikan Status Gizi masyarakat.
A. Mortalitas (Angka Kematian)

Pada Tahun 2016, di wilayah kerja Puskesmas Bulili jumlah kelahiran


Bayi 362 jiwa, dan terdapat dua kematian janin seperti yang dapat dilihat
pada Tabel di bawah ini:

Tabel 3.1
Jumlah Kelahiran dan Kematian Janin Menurut jenis Kelamin
di wilayah Puskesmas Bulili
Tahun 2016

JUMLAH KELAHIRAN
N Laki-laki Perempuan Laki-laki + perempuan
KEL.
O Hidup
Hidup Hidup +
Hidup + Hidup
M Mati Hidup Mati
+ Mati Mati
Mati
BIROBULI
1 111 0 111 93 0 93 204 0 204
SELATAN
2 PETOBO 82 2 84 73 0 73 155 2 157

195 166 0 166 359 2 361

Sumber : Data KIA Puskesmas Bulili tahun 2016

1. Angka Kematian Neonatal, Bayi dan Balita ( AKN, AKB dan AKABA)

9 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator yang sangat
penting untuk mengetahui gambaran permasalahan kesehatan yang ada di
masyarakat. Angka kematian bayi juga dapat digunakan indikator tingkat
keberhasilan program yang di jalankan puskesmas, khususnya untuk
program kesehatan ibu dan anak.
Upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita tidak terlepas
dari upaya peningkatan derajat kesehatan ibu, Perbaikan Gizi Keluarga,
Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, penyakit kesehatan
dasar,serta pelayanan kesehatan lanjutan.
Faktor yang menjadi penyebab kematian bayi antara lain: ANC
(Ante Natal Care) pada ibu hamil yang kurang, status Gizi ibu hamil,
kondisi sosial ekonomi masyarakat serta beberapa kasus yang disebabkan
karena adanya kelainan bawaan.
Pada tahun 2016 terdapat satu kematian neonatal dan satu
kematian balita sehingga angka kematian neonatal 6 per 1000 kelahiran
hidup angka ini sudah melebihi dari target SDGs 12 per 1000 kelahiran
hidup dan balita 3 per 1000 kelahiran hidup angka ini sudah melebihi
dari target SDGs 25 per 1000 kelahiran hidup. ini dapat dilihat pada tabel
3.2 sebagai berikut:

Tabel 3.2
Jumlah Kematian Balita Menurut jenis Kelamin di wilayah
Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan Kota Palu
Tahun 2016

JUMLAH KEMATIAN
N LAKI-LAKI PEREMPUAN
KEL
O
An. An.
Neonatal Bayi Balita Neonatal Bayi Balita
Balita Balita
1 B.SEL 0 0 1 1 1 0 0 0

2 PTB 0 0 0 0 0 0 0 0
Angka
Kematian 0 0 5 3 6 0 0 0
Balita
Sumber : Data KIA Puskesmas Bulili Tahun 2016
Ket : Angka kematian yang di laporkan tersebut diatas belum tentu menggambarkan AKN,
AKB dan AKABA yang sebenarnya di Populasi

10 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


2. Kematian Ibu (MMR) = Maternal Mortality Rate

Angka Keamatian ibu adalah salah satu indikator kesehatan yang


cukup penting untuk menggambarkan resiko yang di hadapi oleh ibu
selama kehamilan persalinan dan masa nifasnya. Angka kematian ibu
(maternal) yaitu kematian ibu pada masa kehamilan dan bukan
disebabkan oleh kecelakaan. Yang dapat menjadi penyebab langsung dari
kematian ibu adalah kejadian kehamilan dan komplikasi kehamilannya,
Proses persalinan serta komplikasi yang terjadi pada masa nifas.
Penyebab lain yang dapat mengakibatkan kematian pada ibu adalah
Status kesehatan ibu, Status reproduksi, akses terhadap kesehatan dan
perilaku sehat. Sementara faktor sosial ekonomi yang dapat berhubungan
dengan kematian ibu antara lain Status wanita dalam keluarga dan
Masyarakat. Oleh karena maka hal penting yang perlu di lakukan adalah
memberikan pelayanan kesehatan kepada ibu untuk mengurangi dampak
langsung kematian ibu dalam jangka panjang perlu pemberdayaan wanita
dalam keluarga dan masyarakat.
Angka kematian ibu adalah jumlah ibu yang meninggal akibat
kehamilan persalinan nifas per 100.000 kelahiran hidup dalam kurun
waktu yang sama.
Pada tahun 2016, terdapat satu kematian ibu nifas, sehingga
angka kematian ibu di wilayah kerja Puskesmas Bulili tahun 2016
sebanyak satu orang atau 279 per 100.000 kelahiran hidup, angka ini jauh
lebih tinggi dari target SDGs 2016 yaitu 70 per 100.000 kelahiran hidup.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3.3 :

Tabel.3.3
Jumlah Kematian Ibu di Wilayah Puskesmas Bulili
Kecamatan Palu Selatan Kota Palu
Tahun 2016

11 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


KEMATIAN IBU

KEMATIAN IBU KEMATIAN IBU


N LAHIR KEMATIAN IBU
KEL BERSALIN NIFAS
O HIDUP
< 20 20- ≥35 < 20 20- ≥35 < 20 20- ≥35
Jumlah
th 34 th th th 34 th th th 34 th th

1 B.SELATAN 204 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1

2 PETOBO 155 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

JUMLAH 359 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1

ANGKA KEMATIAN IBU (DILAPORKAN) 279

B. Morbiditas (Angka Kesakitan)

Angka kesakitan (morbidity) secara umum dapat digambarkan


berdasarkan laporan penyakit misalnya laporan LB1 (laporan Kesakitan) serta
dapat dilihat pada gambaran 10 besar penyakit yang ada di wilayah kerja
Puskesmas Bulili selama kurun waktu tahun 2016.
Tabel.3.4
10 Penyakit terbanyak pada semua kelompok umur
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016
Jumlah
No Nama Penyakit Kasus %
1 Peny.Akut Lain pada saluran pernapasan Bagian Atas 2.852 32,46
2 Penyakit dan kelainan susunan saraf lainnya 1.888 13,49
3 Gastritis(maag) 1,027 11,67
4 Penyakit Tekanan darah Tinggi 966 10,96
5 Diare 531 6.03
6 Penyakit Pulpa dan Jaringan Periapikal 510 5,79
7 Penyakit lain pada saluran pernapasan bagian atas 500 5,68
8 Penyakit Kulit Alergi 453 5,15
9 Karies Gigi 446 5,07
10 Gannguan gigi dan jaringan penyangga laiinya 325 3,69
Jumlah 8804 100

Dari tabel 3.4 dapat kita liat tingginya penyakit tidak menular
terutama Penyakit Akut Saluran pernapasan bagian Atas, Gastritis dan
Hipertensi dimana penyakit tidak menular sangat berkaitan dengan gaya
hidup tidak sehat. Yang dimaksud adalah kebiasaan merokok, kurang

12 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


aktivitas fisik, dan diet tidak sehat. Diet tidak sehat meliputi asupan kalori
berlebih dan kontaminasi bahan berbahaya.
Adapun penjabaran penyakit dari program P2 sebagai berikut :
1. Jumlah Penderita TB Paru BTA (+)

Pada tahun 2016 jumlah suspek yang diperiksa 49 suspek dengan


penemuan Kasus baru TB Paru BTA (+) pada sebanyak 10 orang.
dengan CNR kasus baru per 100.000 penduduk 50,37 persentase BTA
(+) terhadap suspek 20,4 % Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium
tersebut maka dilakukan pemberian pengobatan anti tuberkulosis secara
rutin selama 6 bulan kepada semua penderita yang dinyatakan positif.
Tabel.3.5
Jumlah Penemuan Kasus Baru TB Paru BTA (+)
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

JUMLAH KASUS BARU JUMLAH SELURUH


BTA+ KASUS TB
NO KELURAHAN
L P L P
L+P L+P
JUMLAH JUMLAH
1 B.SELATAN 1 1 2 4 2 6
2 PETOBO 5 3 8 8 3 11
JUMLAH (KAB/KOTA) 6 4 10 12 5 17
CNR KASUS BARU 30,22 20,15 50,37
BTA+ PER 100.000
PENDUDUK
CNR SELURUH 60,44 25,18 85,62
KASUS TB PER
100.000 PENDUDUK
Sumber data: Pengelola Program TB Paru PKM Bulili

Pada tahun 2016 jumlah penderita TB Paru yang di obati


sebanyak 10 orang dengan angka kesembuhan ada 7 orang atau 70 % dari
jumlah penderita. Dan tidak ada kematian selama pengobatan, hal ini
dilihat pada tabel 3.6:

Tabel.3.6
Angka Kesembuhan Kasus Baru TB Paru BTA (+)
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016
N BTA (+) ANGKA KESEMBUHAN ANGKA JUMLAH
KEL
O DIOBATI (CURE RATE) KEBERHASILAN KEMATIAN

13 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


PENGOBATAN SELAMA
L P L+P (SUCCESS RATE/SR) PENGOBAT
AN
L P L+P ∑ ∑ ∑ % L P L+P L P L+P
1 B.SELATAN 1 1 2 1 1 2 100 100 100 100 0 0 0
2 PETOBO 5 3 8 3 2 5 60 80 100 87,5 0 0 0
JUMLAH
6 4 10 4 3 7 66,67 83,3 100 90 0 0 0
(KAB/KOTA)
ANGKA KEMATIAN SELAMA
PENGOBATAN PER 100.000
PENDUDUK
Sumber data: Program SP2TP Puskesmas Bulili Thn 2016

2. Persentase Balita dengan Pneumonia Ditangani

Penyakit pneumonia adalah penyakit peradangan yang


disebabkan oleh bakteri maupun jamur yang dapat menyerang pada
semua kelompok umur tetapi lebih spesifik pada anak balita, Penyakit ini
memiliki perbedaan jumlah kasus yang cukup jauh dari penyakit lain,
oleh karena penyakit ini lebih banyak dan lebih sering terjadi pada anak-
anak.Kewaspadaan penanganan kasus ini lebih di tekankan karena
frekuensi penderita batuk pilek pada balita cukup tinggi.
Dalam kewaspadaan dini pada penyakit pneumonia ini terutama
pada Higyene Perorangan dan perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
terutama kebersihan lingkungan sekitar serta perhatikan sirkulasi udara
dalam rumah sehingga tidak merasak sesak bila berada dalam rumah.
Hasil Laporan dari SP2TP tahun 2016 jumlah perkiraan penderita
yang ada di wilayah kerja puskesmas Bulili sebanyak 213 termasuk yang
ditemukan di rumah sakit. kasus pnemunia yang ditemukan dan
ditangani pada anak balita sebanyak 155 kasus. Berikut ini dapat di lihat
Gambaran kasus Pneumonia pada anak balita tahun 2016

Tabel.3.7
Penemuan Penderita penyakit Pneumonia pada Balita
Menurut Jenis Kelamin di wilayah Puskesmas Bulili
Kecamatan Palu Selatan Kota Palu
Tahun 2016
PNEUMONIA PADA BALITA
KELURAHAN
JUMLAH PENDERITA DITEMUKAN DAN DITANGANI

14 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


PERKIRAAN
L P L+P
PENDERITA
L P L+P JMLH % JMLH % JMLH %
B.SELATAN 62 62 124 37 59.7 46 73.7 83 66.7
PETOBO 44 44 88 38 86.4 34 77.8 72 81.6
106 106 213 75 70.8 80 75.4 155 72.9
Sumber data: SP2TP Puskesmas Bulili

Grafik.3.1
Penemuan Penderita penyakit Pneumonia pada Balita
Menurut Jenis Kelamin di wilayah Puskesmas Bulili
Kecamatan Palu SelatanKota Palu
Tahun 2016
155
160

140

120

100 83 B. SELATAN
80
72 75
80 PETOBO

60 JUMLAH
46
37 38 34
40

20

0
L P L+P

3. Penyakit Menular Seksual (IMS)

Penyakit menular Seksual adalah penyakit menular yang


penularannya secara langsung maupun tidak langsung antara penderita
yang telah terinfeksi dengan orang yang belum terinfeksi sama sekali
seperti penyakit HIV, AIDS dan Syphilis. Penularan secara langsung
dapat terjadi dengan hubungan seksual sedangkan penularan tidak
langsung dapat melalui penularan seperti jarum suntik.
Upaya pelacakan kasus IMS ini dilakukan melalui pendataan di
tempat – tempat berisiko seperti Panti pijat dan tempat lain serta telah di
lakukan kerja sama anatara Dinas kesehatan kota Palu dengan Puskesmas
dan Lebaga Pemasyarakatan Kelas II A Palu untuk mendeteksi adanya

15 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


kasus PMS di tempat tersebut.Adapun Hal – Hal yang di laksanakan di
LP adalah Penyuluhan kesehatan pada seluruh Napi yang ada di LP serta
Pengambilan sampel darah.
Pada tahun 2016 terdapat lima pasien HIV dan Empat pasien Aids
diwilayah kerja Puskesmas Bulili seperti yang terlihat pada tabel 3.8
Tabel.3.8
Penemuan Penderita HIV dan AIDS Menurut Kelompok Umur
dan Jenis Kelamin di wilayah Puskesmas Bulili
Kecamatan Palu Selatan Kota Palu
Tahun 2016

HIV AIDS

NO KELOMPOK UMUR Proporsi Proporsi


L P L+P Kelompok L P L+P Kelompok
Umur Umur
1 < 1 TAHUN 0 0 0 0.00 0 0 0 0.00
2 1 - 4 TAHUN 0 0 0 0.00 0 0 0 0.00
3 5 - 14 TAHUN 0 0 0 0.00 0 0 0 0.00
4 15 - 19 TAHUN 0 0 0 0.00 0 0 0 0.00
5 20 - 29 TAHUN 2 0 2 40.00 1 0 1 25.00
6 30 - 39 TAHUN 2 0 2 40.00 2 0 2 50.00
7 40 - 49 TAHUN 0 0 0 0.00 0 0 0 0.00
8 50 - 59 TAHUN 1 0 1 20.00 1 0 1 25.00
9 ≥ 60 TAHUN 0 0 0 0.00 0 0 0 0.00
JUMLAH (KAB/KOTA) 5 0 5 4 0 4
PROPORSI JENIS KELAMIN 100.0 0.00 100.0 0.00

4. Diare

Diare merupakan penyakit endemis khususnya di negara-negara


berkembang seperti Indonesia. Penyakit ini senantiasa ada dan sering
terjadi peningkatan jumlah penderita khususnya pada musim-musim
hujan. Di Wilayah Kerja Puskesmas Bulili berdasarkan hasil rekapan
tahunan STP (Surveilans Terpadu Penyakit) Puskesmas Bulili tahun
2016, penyakit diare sebanyak 643 penderita atau sebesar 92.0 % dari
perkiraan kasus 699 kasus yang kesemuanya mendapatkan penanganan
pengobatan dan pemberian oralit dan tablet zinc bagi penderita bayi dan
balita dibandingkan tahun 2014 jumlah penderita diare tahun ini
mengalami peningkatan hal ini sangat perlu mendapatkan perhatian lebih

16 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


besar karena bisa menimbulkan lonjakan kasus dan risiko kematian
apabila tidak mendapatkan perhatian secara cepat dan tepat.
Untuk dapat mengetahui secara jelas mengenai penemuan dan
penanganan kasus diare berdasarkan kelompok umur di wilayah kerja
Puskesmas Bulili pada tahun 2016 maka dapat dilihat pada tabel di
bawah ini

Tabel.3.9
Penemuan Penderita penyakit Diare Menurut Jenis Kelamin
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

DIARE
JUMLAH DIARE DITANGANI
KELURAHAN PERKIRAAAN
KASUS L P L+P
L P L+P JML % JML % JML %
B.SELATAN 123 121 244 189 154 144 119 333 136
PETOBO 92 89 455 153 167 157 176 310 68
Jumlah 214 210 699 342 159.4 301 143.1 643 92.0
Angka kesakitan
Diare per 100.000 214
penduduk
Sumber Data: P2M Puskesmas Bulili

Grafik.3.2
Penemuan Penderita penyakit Diare Menurut Jenis Kelamin
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

17 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


699
700 643

600

500 455

400 342 333


301 310 B. SELATAN
300 244 PETOBO
189
200 153 144157 JUMLAH

100

0
Jumlah L P Penderita
Perkiraan
Kasus

5. Kusta

Penyakit kusta merupakan penyakit dengan masa inkubasi yang


cukup lama antara 2-5 Tahun atau bahkan dapat mencapai 20 tahun.
Penyakit ini disebabkan oleh Mycobacterium Leprae walaupun penularan
penyakit ini tidak semudah penyakit lain yang dapat menular langsung
namun penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang dapat
menimbulkan dampak sosial karena dapat menimbulkan kecatatan
apabila terlambat penangannya.Pada ttahun 1982 WHO
merekomendasikan kepada indonesia untuk melakukan pengobatan
penderita kusta dengan Multi Drug Therapy (MDT) Baik pada penderita
kusta tipe Multy Bacili (MB) maupun Penderita Pausy Bacilli (PB)
Kegiatan penemuan penderita Kusta di lakukan baik secara Pasif
maupun aktif, pengobatan,pengendalian pengobatan dan Pencegahan
kecacatan dilakukan untuk menekan jumlah penderita Drop Out
pengobatan oleh efek samping dari pengobatan yang cukup banyak pada
tahun 2016 di wilayah kerja Puskesmas Bulili tidak ditemukan adanya
penyakit kusta tapi meskipun Penyakit Kusta ini perlu menjadi perhatian
serius bagi pengelola program Kusta untuk berusaha menemukan kasus-
kasus baru yang kemungkinan masih tersembunyi di Masyarakat.
6. Penyakit Dapat Dicegah Dengan Imunisasi ( PD3I).

18 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


Ada 7 ( tujuh) penyakit yang dapat di cegah dengan imunisasi,
Penyakit ini dapat menyebabkan kematian pada anak walaupun sebagian
anak dapat bertahan dan menjadi kebal.
Berikut ini adalah Gambaran Kasus PD3I tahun 2016.
Tabel.3.10
Jumlah Kasus Penyakit Menular yang dapat di cegah dengan Imunisasi (PD3I)
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

No Nama Penyakit Jumlah Kasus


1 Polio Meilitis 0
2 Campak 33
3 Hepatitis B 0
4 Tetanus Neonatorum 0
5 Tuberculosis (TB Paru) 10
6 Difteri 0
7 Portusis 0
Jumlah 43
Sumber data: LB1 Puskesmas Bulili

7. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Penyakit Demam Berdarah merupakan salah satu penyakit


menular yang bersumber dari Vector dan merupakan penyakit yang
cenderung ada di setiap tahunnya dan angka kesakitannya atau
prevalensi penyakit yang cenderung meningkat.
Upaya penanganan kasus demam berdarah telah dilakukan baik
secara Preventif, Promotif maupun secara kuratif dengan melaksanakan
beberapa hal misalnya penyuluhan kesehatan, Pemeriksaan jentik
Nyamuk secara berkala setiap 3 bulan, abatesasi, serta Fogging di
Wilayah sekitar penderita Positif DBD. Dapat dilihat pada tabel 3.9:

Tabel.3.11
Jumlah Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD)
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

DEMAM BERDARAH
DENGUE (DBD)
NO KELURAHAN PUSKESMAS JUMLAH KASUS
L P L+P

19 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


1 B.SELATAN BULILI 16 10 26
2 PETOBO 10 8 18
JUMLAH (PUSKESMAS) 26 18 44
INCIDENCE RATE PER 100.000 PENDUDUK 130.9 90.7 221.6
Sumber Data : SP2TP Puskesmas Bulili

Jika di lihat pada tabel tersebut diatas berdasarkan Jumlah kasus


pada tahun 2016 menurut jenis kelamin sebanyak 44 kasus dengan
Incedence Rate per 100.000 penduduk 221.6 % dengan jumlah kematian
satu orang. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya dari tahun 2014 ke
tahun 2016 mengalami penurunan jumlah kasus dimana pada tahun 2014
sebanyak 57 kasus dengan Incedence Rate per 100.000 penduduk
268,1%.
8. Angka Kesakitan Malaria

Penyakit Malaria merupakan salah satu penyakit yang disebabkan


oleh Vektor Nyamuk. Upaya penanganan kasus malaria di tahun 2016 ini
dilaksanakan melalui kegaiatan penemuan dan pengobatan penderita
malaria secara Pasive Case Detektion (PCD) berdasarkan laporan
Program P2 Malaria tahun 2016 dari 19 suspek semuanya dilakukan
pemeriksaan darah dan semua hasilnya negatif. Berikut ini gambaran
kasus Malaria tahun 2016.

Tabel.3.12
Jumlah Kasus Malaria
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016
MALARIA
KELURAHAN SEDIAAN DARAH Positif
SUSPEK
DIPERIKSA
L P L+P L P L+P L P L+P
B.SELATAN 6 3 9 6 3 9 0 0 0
PETOBO 5 5 10 5 5 10 0 0 0

20 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


11 8 19 11 8 19 0 0 0
Sumber Data: SP2TP Puskesmas Bulili

BAB IV
SITUASI UPAYA KESEHATAN
A. Pelayanan Kesehatan

1. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-1 dan K-4

Pelayanan antenatal Care dipantau melalui K1 dan K4 . K1 adalah


kunjungan baru ibu hamil, sedangkan K4 adalah pelayanan ibu hamil
sesuai standar 10 T paling sedikit 4 kali selama masa kehamilannya yaitu

21 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


1 kali pada trisemester pertama, 1 kali pada trisemester kedua dan 2 kali
pada trisemester ketiga.
Dari 409 ibu hamil, cakupan K-1 412 (100,7 %) dan K-4
sebanyak 391 (95,6%). Dari persentase cakupan K1 dan K-4
menggambarkan bahwa kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan
kandungannya sedini mungkin ke Puskesmas, Pustu dan Poskesdes sudah
meningkat.
Jumlah persalinan yang ditolong oleh bidan atau tenaga kesehatan
yang memiliki kompetensi kebidanan adalah 352 (86,1% ) persalinan
yang mendapatkan pelayanan kesehatan Nifas 353 (86,3%) dengan
jumlah ibu Nifas mendapatkan Vitamin A 353 (86,3%).
Persentase cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan tahun ini
menggambarkan tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat
terhadap persalinan yang baik meskipun dari keseluruhan ibu hamil
masih ada yang belum memeriksakan diri ke Puskesmas kemungkinan
yang terjadi adalah ibu hamil memeriksakan diri ke rumah Sakit atau
Dokter Praktek, Hal ini dimungkinkan karena letak wilayah kerja
puskesmas Bulili di dalam Kota. Berikut adalah gambaran cakupan K1
dan K4 dirinci menurut kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Bulili.

Tabel.4.1
Cakupan K1 dan K4
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

IBU HAMIL IBU BERSALIN/NIFAS

PERSALINAN MENDAPAT IBU NIFAS


NO KEL K1 K4 DITOLONG MENDAPAT
YANKES NIFAS
JML JML NAKES VIT A

JML % JML % JML % JML % JML %

1 B.SELATAN 235 236 100.4 224 95.3 244 203 83.2 204 83.6 204 83.6

2 PETOBO 174 176 101.1 167 96.0 165 149 90.3 149 90.3 149 90.3

JUMLAH 409 412 100.7 391 95.6 409 352 86.1 353 86.3 353 86.3

Sumber Data: KIA / Persalianan Puskesmas Bulili

22 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


2. Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil dan WUS

Pelaksanaan Program Imunisasi Tetanus Toksoid bagi ibu hamil


harus memperhatikan usia kehamilan dan jarak kehamilan. Imunisasi TT
bagi ibu hamil dilakukan oleh program Imunisasi Puskesmas. Dari
kegiatan yang dilaksanakan didapatkan data cakupan sebagai berikut:
Tabel.4.2
Cakupan TT pada ibu hamil
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

IMUNISASI TETANUS TOKSOID PADA IBU HAMIL

JML TT-1 TT-2 TT-3 TT-4 TT-5 TT2+


KEL
BUMIL
JM JM
JML % JML % JML % % % JML %
L L
B.SELATAN 235 202 86.0 156 66.4 34 14.5 26 11.1 23 9.8 239 101.7
PETOBO 174 91 52.3 59 33.9 28 16.1 26 14.9 21 12.1 134 77.0
409 293 71.6 215 52.6 62 15.2 52 12.7 44 10.8 373 91.2
Sumber data: Program Imunisasi PKM Bulili
Jika kita melihat Cakupan TT1 maupun TT2 dibandingkan
dengan cakupan K1 tidak ada kolerasi anatara cakupan kedua kegiatan
ini, dimungkinkan karena pemberian Imunisasi TT1 tidak diberikan pada
ibu hamil K1 serta PWS imunisasi yang memasukan ibu hamil luar
wilayah yang datang untuk mendapatkan Imunisasi TT di Puskesmas
Bulili oleh karena berpengaruh pada indeks pemakaian Vaksin yang
rendah apabila hasil imunisasi ibu hamil luar wilayah tidak dimasukkan
dalam cakupan imunisasi.
3. Cakupan Pemberian Tablet Besi ( Fe1 dan Fe3)

Pemberian tablet besi pada ibu hamil bertujuan untuk


menanggulangi anemia gizi seperti ibu hamil, balita, anak sekolah dan
wanita usia subur termasuk remaja putri dan wanita pekerja.
Tabel.4.3
Cakupan Fe1 pada Ibu Hamil
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

23 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


JUMLAH FE1 (30 TABLET) FE3 (90 TABLET)
NO KELURAHAN
IBU HAMIL JUMLAH % JUMLAH %
1 B. SELATAN 235 239 101.70 224 95.32
2 PETOBO 174 179 102.87 167 95.98
PUSKESMAS 437 418 102.20 391 95.60

Grafik.4.1
Cakupan Fe1 pada Ibu Hamil
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016
437
450 409
391
400
350
300
235 239 224 B. SELATAN
250
174 179 167 PETTOBO
200
JUMLAH
150
100
50
0
Jumlah Ibu Hamil FE1 FE3

4. Komplikasi Kebidanan dan Cakupan Neonatus Komplikasi yang


ditangani

Untuk mencegah berbagai resiko yang dapat timbul pada ibu saat
hamil dan persalinan termasuk diantaranya resiko kematian pada ibu dan
bayinya maka sangat diperlukan penemuan kasus ibu hamil pada resiko
hal- hal yang menjadi pada ibu antaralain penyakit jantung, DM, Asma,
Hipertensi dan lain- lain. Sedangkan faktor lain yang juga dapat menjadi
resiko adalah Anemia,letak janin lunsang lintang,hamil lebih bulan,
pendarahan pada masa kehamilan oedema dan lain- lain.
Cakupan pelayanan Neonatal adalah cakupan kunjungan petugas
pada bayi usia 0-7 hari untuk KN1 dan 8-28 haru untuk KN2. Hal ini
dimaksud untuk memantau kesehatan bayi sampai dengan usia 28 hari
serta memberikan konseling dan penjelasan pada ibu dan keluarga

24 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


tentang kondisi bayi. Sehingga mendapatkan penanganan yang lebih
cepat dan tepat.
Tabel.4.4
Cakupan Komplikasi Kebidanan dan Neonatus Komplikasi yang ditangani
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

PENANGANAN KOMPLIKASI
DENGAN KOMPLIKASI

PENANGANAN PERKIRAAN NEONATAL


JUMLAH LAHIR
PERKIRAAN BUMIL

KOMPLIKASI NEONATAL
JMLH IBU HAMIL

HIDUP
KELURAHAN

KEBIDANAN KOMPLIKASI
KEBIDANAN

L P L+P

NO

L+ L+
 % L P L P  %  %  %
P P

1 B. Selatan 235 47 59 125.5 107 106 213 16 16 32 10 62.3 10 62.9 20 62.6

2 Petobo 174 35 41 117.8 80 78 158 12 12 24 8 66.7 10 85.5 18 75.9

409 82 100 122.2 187 184 371 28 28 56 18 64.2 20 72.5 38 68.3

Sumber data : KIA pusksemas Bulili

5. Keluarga Berencana

Program keluarga berencana adalah bagian dari program


pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan ekonomi
masyarakat dan menekan laju pertumbuhan penduduk sehingga pada
akhirnya nanti mampu menngkatkan kualitas sumber daya manusia
sebagai kodal dasar pembangunan bangsa.
Indikator keberhasilan Program KB diketahui dari pencapaian
target KB baru, dan cakupan peserta KB aktif.
a. Persentase KB aktif
Keluarga Berencana adalah suatu usaha untuk mengatur
kelahiran dengan perancanaan waktu dan yang di inginkan oleh
pasangan usia subur. Jumlah peserta KB sebesar 1,021 orang yang
tersebar di wilayah kerja Puskesmas Bulili.
Banyak alasan mengapa orang harus ber- KB yaitu:
1) Menunda Kehamilan atau kelahiran
2) Menjarangkan kelahiran pertama dan seterusnya
3) Menghentikan kehamilan dengan alasan tertentu
Berikut gambaran pencapaian cakupan akseptor KB aktif di
dua kelurahan yang ada dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

25 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


Gambar 4.1
Persentase KB Aktif
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

PIL
18,5% IUD
36,4%
SUNTIK
16,2%
IMPLAN MOW
10,9% 13%

KONDOM
1,5% MOP
3,5%

b. Persentase KB Baru

Banyaknya macam alat Kontrasepsi memberikan Konsukensi


memilih bagi masyarakat. Dalam pemilihan alat kontrasepsi yang
tidak dapat menimbulkan efek kesehatan yang kurang baik bagi
penggunanya.
Jumlah peserta KB baru yang ada di wilayah kerja Puskesmas
Bulili tahun 2016 sebanyak 360 pasangan. Berikut ini gambar
distribusi pengguna alat kontasepsi di wilayah kerja puskesmas Bulili
tahun 2016 dapat kita lihat pada gambar di bawah ini:
Gambar .4.2
Persentase Peserta KB Baru
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

26 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


IUD MOP MOW IMPLAN
3,3% 0% 0,3% 4,2%
KONDOM
2,5%

PIL
48,6%

SUNTIK
41,1%

6. Persentase Berat Badan Lahir Rendah ( BBLR)

Perkembangan keadaan gizi Balita dapat dipantau melalui hasil


pencatatan dan pelaporan program program perbaikan Gizi masyarakat
yang tercermin dalam hasil penimbangan bayi dan Balita setiap bulan di
Posyandu. Menurut laporan SP2TP pada tahun 2016 di wilayah
Puskesmas Bulili menunjukkan jumlah Bayi Lahir Hidup sebanyak 355
Bayi, dengan jumlah Bayi baru lahir ditimbang sebanyak 529 bayi.
Untuk kasus bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
pada tahun 2016 yaitu sebanyak 13 Bayi, ini dapat dilihat pada tabel
dibawah ini:
Tabel.4.5
Persentase Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016
BBLR
JUMLAH LAHIR HIDUP
N
KEL L P L+P
O

L P L+P  %  %  %

1 B. Selatan 106 98 204 2 1.9 4 4.1 6 1.6

2 Petobo 66 85 151 2 3.0 5 5.9 7 4.6

27 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


PUSKESMAS 172 183 355 4 2.3 9 4.9 13 2.5

Sumber Data: SP2TP Bulili

7. Kunjungan Neonatus

Kunjungan Neonatus 1 Kali (KN 1) tahun 2016 sasaran sebanyak


371 dengan capaian 355 atau 95.7% melakukan kunjungan Neonatus
atau dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel.4.6
Cakupan Kunjungan Neonatus
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016
Kunjungan
Jumlah Kunjungan Neonatal
N Jumlah Bayi Neonatal 3 Kali
NO KELURAHAN 1 Kali (KN1)
( lengkap )
Total Total % Total %
1 B. Selatan 213 204 95.8 204 95.8
2 Petobo 158 151 95.6 151 95.6
JUMLAH 371 355 95.7 355 95.7
Sumber Data: PWS KIA Bulili 2016

8. Persentase Bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif

Air Susu Ibu (ASI) Eklusif adalah Pemberian hanya ASI saja
tanpa makanan dan Minuman lain yang dianjurkan sampai 6 Bulan
pertama kehidupan Bayi. ASI mengandung zat- zat Gizi berkualitas
Tinggi. Yang berguna untk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan
bayi/ anak. ASI mengandung Whey lebih banyak yaitu 65: 35, Komposisi
ini menyebabkan Protein ASI lebih mudah di serap di bandingkan susu
sapi. Pada susu Sapi perbandingannya adalah 20:80. Mengandung lebih
banyak Casein yang tidak mudah di serap. Hal ini di buktikan dengan
penelitian di Bogor tahun 2001
Menurut WHO Bayi yang diberi susu selain ASI, mempunyai
resiko 17 kali lebih besar mengalami dire, dan 3 sampai 4 kali lebih besar
kemungkinan terkena ISPA dibandingkan dengan bayi yang
mendapatkan ASI.

28 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


Pada tahun 2016 cakupan ASI Ekslusif adalah sebesar 139 bayi
atau 60,4 % dari jumlah bayi sebanyak 230 bayi dilihat dari persetase
pemberian ASI Ekslusif tersebut meningkat dari tahun sebelumnya
37,4 % tapi belum mencapai target nasional 80 % selain itu banyak hal
yang mempengaruhi capaian pemberian ASI Ekslusif masih sangat
minim dengan Alasan orang tua kurangnya Produksi Asi pada ibu
menyusui, Kesibukan Ibu sehingga meninggalkan anaknya untuk
melasanakan aktifitasnya dengan jalan pemberian bantuan Asi dengan
Susu Sapi. Berikut gambaran Capaian ASI Ekslusif di wilyah kerja
Puskesmas Bulili:

Tabel.4.7
Persentase Bayi Yang mendapatkan ASI Ekslusif
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016
JUMLAH BAYI YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF
JUMLAH BAYI USIA 0-6 BULAN
KELURAHAN
L P L+P
L P L+P  %  %  %
B. Selatan 60 55 115 34 56.7 33 60.0 67 58.3
Petobo 56 59 115 36 64.3 36 61.0 72 62.6
PKM 116 114 230 70 60.3 69 60.5 139 60.4

Sumber Data: PWS- KIA Bulili

Grafik.4.2
Persentase Pemberian ASI Ekslusif
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

29 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


250 230

200

139
150
115 115

100 72
67 62.6 60.4
58.3

50

0
B. Selatan Petobo PKM

Jumlah Bayi Jumlah Bayi yang mendapat Asi Ekslusif %

9. Cakupan pelayanan Kesehatan Bayi

Tabel.4.8
Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016
PELAYANAN KESEHATAN BAYI
JUMLAH BAYI
N L P L+P
KELURAHAN
O
L P L+P  %  %  %

1 B.SELATAN 107 106 213 110 102.8 111 104.7 221 103.8

2 PETOBO 80 78 158 68 85.0 73 93.6 141 89.2

PKM 187 184 371 178 95.2 184 100 362 97.6

Sumber Data: SP2TP Puskesmas Bulili

Upaya Kesehatan pelayanan Bayi adalah suatu upaya yang


dilakukan diwilayah kerja Puskesmas Bulili untuk meningkat derajat

30 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


kesehatan bagi bayi yang ada di wilayh kerja Puskesmas Bulili dimana
jumlah bayi yang ada sebanyak 371 bayi dan mendapat pelayanan
kesehatan sebanyak 362 atau 97.6% ini menunjukkan bahwa pencapai
dalam pelayanan kesehatan Bayi cukup meningkat dibandingkan dengan
tahun sebelumnya.
10. Cakupan Kelurahan “ Universal Child Imunization”( UCI)

Posyandu merupakan tempat yang sangat akrab dengan warga


masyarakat. Asumsi masyarakat pada umumnya, Posyandu identik
dengan penimbangan Balita serta imunisasi.
Pemberian Imunisasi pada Bayi dan anak balita sangat besar
peranannya didalam meningkatkan kekebalan tubuh atau daya tahan
tubuh pada bayi dalam melawan berbagi macam kuman penyakit.
Ada beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan pemberian
imunisasi pada bayi dan anak balita yang dikenal dengan nama PD3I
penyakit dapat di cegah dengan Imunisasi,di wilayah kerja puskesmas
Bulili yang terdapat dua kelurahan sudah termasuk kelurahan UCI.

11. Persentase Cakupan Imunisasi Bayi

Salah satu upaya kesehatan yang dilakukan diwilayah kerja


Puskesmas Bulili adalah pemberian Imunisasi pada Bayi dengan
pemberian Imunisasi BCG, Polio dan Imunisasi dasar Lengkap, Capaian
Imunisasi Bayi untuk BCG 97,8 % atau 363, Polio 4 sebanyak 362 Bayi
dan Imunisasi dasar Lengkap 386 Bayi . Hal ini dapat dilihat pada tabel
dibawah ini
Tabel.4.9
Cakupan Imunisasi Pada Bayi
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

Bayi Di Imunisasi
Imunisasi Dasar
Jumlah
NO KELURAHAN BCG Polio 4 Lengkap
Bayi
 %  %  %

31 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


1 B.SELATAN 213 206 96.7 205 96.24 220 103.29
2 PETOBO 158 157 99.4 157 99.37 166 105.06
PKM 371 363 97.8 362 97.57 386 104.04
Sumber Data: SP2TP Bulili

Grafik.4.3
Cakupan Imunisasi pada Bayi
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

371 363 362 386


400

300
213 206 205 220
200 158 157 157 166

100

0
B.SELATAN PETOBO PKM
Jumlah Bayi BCG Polio Imunisasi Dasar lengkap

12. Cakupan pemberian Vitamin A pada Bayi dan Balita

Vitamin A adalah salah satu Zat Gizi yang sangat di perlukan


oleh tubuh yang berguna untuk kesehatan mata (agar terhindar dari
penyakit rabun senja) dan untuk kesehatan tubuh (agar meningkatkan
daya tahan tubuh untuk melawan penyakit). Anak yang kekurangan
Vitamin A untuk jangka waktu lama akan mengakibatkan terjadinya
gangguan mata, dan bila tidak cepat mendapat Vitamin A akan
mengakibatkan kebutaan. Selain itu anak yang kekurangan Vitamin A
bila terserang campak,Diare,atau penyakit Infeksi lainnya akan
berdampak pada parahnya penyakit yang diderita sampai dapat
mengakibatkan kematian.
Vitamin A dapat diperoleh dari ASI atau makanan yang bersal
dari hewan seperti Susu, Daging, Hati, Telur, atau dari sayuran hijau
serta Buah berwarna merahatau kuning seperti mangga dan pepaya.

32 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


Kapsul Vitamin A berwarna Biru dengan dosis 100.000 IU di
berikan kepada bayi berusia 6-11 bulan, sedangkan Vitamin A berwarna
Merah dengan Dosis 200.000 IU untuk anak balita usia 12-59 bulan.
Cakupan pemberian kapsul Vitamin A pada bayi dan balita di puskesmas
Bulili pada periode Februari dan agustus tahun 2016 mencapai pada bayi
6-11 bulan 415 bayi atau 101,72 % dan pada balita 12-59 bulan 1.791
atau 85,86 % dan balita 6-59 bulan sebanyak 1.460 atau 57,41 %. Dalam
upaya peningkatan pemberian Vitamin A yang ada di wilayah kerja
Puskesmas Bulili harus adanya kerja sama yang baik bagi lintas sektor,
Kader dan petugas kesehatan yang diluar gedung.

13. Cakupan Baduta di Timbang

Tabel.4.10
Cakupan Baduta di Timbang
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016
Anak 0-23 Bln ( BADUTA)
JUMLAH BADUTA
NO KELURAHAN DILAPORKAN (S)
JUMLAH (D) % (D/S) BGM

JUMLAH JUMLAH L+P JUMLAH %


1 B.SELATAN 540 494 91.5 7 1.4
2 PETOBO 666 608 91.3 5 0.8
PKM 1,206 1,102 91.4 12 1.1

14. Cakupan Pelayanan Anak Balita

Balita merupakan salah satu aset bagi pembangunan bangsa di


kemudian hari, oleh karena itu sangatlah perlu memperhatinkan
kesehatan balita sejak dini. Hal ini di maksudkan untuk mempersiapkan

33 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


generasi muda yang sehat dan cerdas, sehat di maksud disini adalah sehat
jasmani maupun rohani.
Pola penyakit pada balita tidak jauh berbeda dari pola penyakit
yang terjadi pada bayi pada kunjungan Balita yang datang ke Puskesmas
untuk mendapat pelayanan di Puskesmas Bulili tahun 2016 sebanyak 787
Balita atau 37,7 %. Hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel.4.11
Cakupan Pelayanan Kesehatan Balita
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016
ANAK BALITA (12-59 BULAN)
MENDAPAT PELAYANAN KESEHATAN
N (MINIMAL 8 KALI)
KELURAHAN JUMLAH
O
L P L+P
L P L+P JML % JML % JML %

1 B. Selatan 450 437 887 248 55.1 228 52.2 476 53.7

2 Petobo 603 596 1,199 161 26.7 150 25.2 311 25.9

1,053 1,033 2,086 409 38.8 378 36.6 787 37.7


PUSKESMAS
Sumber Data: SP2TP Bulili

15. Cakupan Balita ditimbang

Tabel.4.12
Cakupan Balita Ditimbang
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota PaluTahun 2016

BALITA DI TIMBANG

NO KELURAHAN Jumlah BGM


Balita JUMLAH
% (D/S)
(D)
Jumlah %
1 B. Selatan 1,434 952 66.4 14 1.5
2 Petobo 1,038 838 80.7 7 0.8
Puskemas 2,472 1,790 72.4 21 1.2
Sumber Data: SP2TP Bulili

16. Cakupan Balita Gizi Buruk mendapat perawatan

Pada tahun 2016 terdapat satu kasus buruk yang telah dilakukan
penangan dan pendampingan serta bantuan dana dari dinas kesehatan

34 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


kota Palu dan sehingga status Gizinya naik walaupun masih dalam status
Gizi kurang sehingga penanganannya akan dilanjutkan ke CFC.
Sementara Gizi Kurang sebanyak 57 anak ditangangani dalam CFC
sebanyak 41 anak dan yang status Gizinya menjadi baik sebanyak 39
anak.

17. Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat

Tabel.4.13
Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

MURID KELAS 1 SD DAN SETINGKAT


SD DAN SETINGKAT
MENDAPAT PELAYANAN KESEHATAN
(PENJARINGAN)
JUMLAH
N L P L+P
(PENJARINGAN)

KELURAHAN
PELAYANAN
KESEHATAN

O
MENDAPAT
JUMLAH

%
L P L+P ∑ % ∑ % ∑ %

1 B.SELATAN 90 77 167 90 100.0 77 100.0 167 100.0 4 4 8

2 PETOBO 63 72 135 63 100.0 72 100.0 135 100.0 5 5 10

PUSKESMAS 153 149 302 153 100.0 149 100.0 302 100.0 9 9 18

CAKUPAN PENJARINGAN KESEHATAN


100.0 100.0 100.0
SISWA SD & SETINGKAT

Sumber Data: Petugas UKS Puskesmas Bulili

a. Rasio Tumpatan / Pencabutan Gigi Tetap

35 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


Indikator yang digunakan untuk upaya mempertahankan gigi
tetap adalah rasio antara penambalan dan pencabutan gigi tetap. Pada
tahun 2016 upaya mempertahankan gigi tetap 61 dengan jumlah
pencabutan 151 dengan rasio 0,4.
b. Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak SD dan Setingkat

Upaya kesehatan yang dilakukan melalui program kesehatan


gigi dan mulut yaitu UKGS yang bertujuan memberikan pelayanan
kesehatan gigi dan mulut bagi anak- anak usia sekolah.
Pada tahun 2016 ada 8 sekolah dasar yang menjadi sasaran
kegiatan UKGS. Dari 8 sekolah yang menjadi sasaran tersebut
pencapaian target mencapai 100%. Artinya semua sekolah yang
menjadi target sasaran mendapatkan pelayanan UKGS. Adapun
Program dari UKGS meliputi 3 kegiatan:
 Sikat Gigi Massal
 Pemeriksaan Gigi
 Pencabutan Gigi
Dari tiga upaya kegiatan UKGS yang diatas, dari 1.813
jumlah siswa yang mendapat pemeriksaan kesehatan gigi sebanyak
546 siswa atau 30,1 % dari jumlah siswa keseluruhan dan yang
memerlukan perawatan sebanyak 398 siswa namun yang mendapat
perawatan yang ditindak lanjuti di puskesmas sebanyak 19 atau
4,8%.
Program ini dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan
kepada anak sekolah tentang cara merawat gigi yang baik dan benar
dengan cara menyikat gigi.untuk lebih terinci dapat dilihat pada tabel
sebagai berikut:

Tabel.4.14
Cakupan Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Pada Anak SD dan
Setingkat di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

36 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


JUMLAH MURID
JML PERLU MENDAPAT
NO KEL MURID SD/MI % %
SEK PERAWATAN PERAWATAN
SD/MI DIPERIKSA
1 B.S 3 1,029 328 31.9 260 8 3.1
2 PTB 5 784 218 27.8 138 11 8.0
8 1.872 1,813 30.1 398 19 4.8
Sumber Data: Petugas UKS Puskesmas Bulili

18. Cakupan Pelayanan Kesehatan Usila

Upaya kesehatan lansia ditujukan untuk meningkatkan kesehatan


dan kemampuan lansia untuk dapat hidup mandiri dan produktif serta
dapat selalu berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat.
Peningkatan upaya pelayanan kesehatan pada lansia tidak terlepas
dengan petambahan penduduk lanjut usia secara bermakna seiring
dengan peningkatan umur harapan hidup dengan adanya keberhasilan
berbagai upaya pembangunan khususnya di Bidang Kesehatan.
Usia lanjut merupakan salah satu kelompok masyarakat yang
rentan terhadap berbagai macam masalah keehatan. Berbagai Upaya
pendekatan pelayanan kesehatan pada lansia telah di lakukan misalnya
dengan melakasanakan posyandu di wilayah kerja puskesmas Bulili.
Tahun 2016 Jumlah Posyandu diwilayah kerja Puskesmas Bulili
sebanyak 5 Posyandu yang tersebar di dua kelurahan yakni 2 posyandu
petobo dan 3 posyandu di kelurahan Birobuli Selatan.
Cakupan usila yang dibina di Posyandu tahun 2016 sebanyak 682
oarang atau 49,06 % dari jumlah lansia yang ada sebanyak 1390 orang.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel.4.15
Cakupan Pelayanan Usila
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

USILA (60TAHUN+)
NO KELURAHAN
JUMLAH MENDAPAT PELAYANAN KESEHATAN
L P L+P L % P % L+P %
1 B.SELATAN 402 397 799 178 44.28 191 48.11 369 46.18
2 PETOBO 300 291 591 134 44.67 179 61.51 313 52.96

37 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


PUSKESMAS 702 688 1,390 312 44.44 370 53.78 682 49.06

Sumber data: Pengelola Program Usila Puskesmas Bulili

B. Perilaku Hidup Masyarakat

1. Persentase Rumah Tangga Ber PHBS

Dari beberapa faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan,


faktor perilaku merupakan faktor terbesar yang berpengaruh sehingga
diharapkan masyarakat mampu menerapkan perilaku hidup bersih dan
sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Pada tahun 2016 dilakukan percontohan RT Binaan dimana dari
53 Kepala Keluarga yang ber PHBS sebanyak 28 Kepala Keluarga
(52,83%). Dalam pemantauan rumah tangga yang ber-PHBS digunakan
sepuluh indikator perilaku, yang mana setiap rumah tangga mayoritas
hanya memenuhi beberapa kriteria saja. Hal ini disebabkan karena
tingkat pengetahuan, kesadaran dan kepedulian masyarakat masih sangat
kurang, seperti masih adanya masyarakat yang lebih suka mengkonsumsi
air yang tidak dimasak dengan alasan lebih nikmat sebagai pelepas
dahaga, masih banyaknya bapak-bapak yang merokok tidak pada
tempatnya sehingga anak-anak sekolah pun sudah ada yang mulai belajar
merokok, masih ada masyarakat yang tidak mencuci tangan atau sekedar
membilas dengan air tanpa memakai sabun sebelum makan sehingga
kebiasaan-kebiasaan seperti itu dapat mempermudah masuknya kuman
penyakit ke dalam tubuh. Dan masih banyak lagi kebiasaan-kebiasaan
masyarakat yang dianggap sepele namun mereka kurang menyadari
bahwa perilaku tersebutlah yang menyebabkan mereka sakit. Terlebih
dengan penyakit-penyakit yang berbasis lingkungan, yang mana
penyebabkan juga karena kondisi lingkungan yang tidak sehat / bersih
oleh kekurang pedulian masyarakat atau perilaku mereka yang kurang
bersih.
C. Keadaan Lingkungan

1. Persentase Rumah Sehat

38 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


Rumah adalah salah satu persyaratan pokok bagi kehidupan
manusia. Dari jaman dulu hingga sekarang manusia mendesain rumahnya
(tempat tinggal) sedemikian rupa agar penghuninya merasa aman dan
nyaman. Namun kadang dalam membangun sebuah rumah kurang
memperhatikan unsur kesehatan/ sanitasi lingkungan. seperti ventilasi,
pencahayaan, sarana pembuangan air limbah, pembuangan sampah,
jamban keluarga dan sarana air bersih.
Pada tahun 2016, jumlah rumah yang diperiksa kesehatan
lingkungan 3555 rumah yang ada di wilayah kerja Puskesmas Bulili.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut yang dinyatakan rumah sehat
dengan berbagai kriteria penilaian adalah 3.005 rumah atau 89,57%, yang
berarti masih banyak rumah yang belum memenuhi syarat dari segi
kesehatan lingkungan.
Dapat dilihat dari cakupan pemanfaatan jamban keluarga yang
sangat rendah utamanya di daerah pinggir sungai yang kebanyakan
masyarakatnya membuang hajat di sungai, di kebun, atau di sawah. Di
samping itu rumah yang memiliki SPAL juga masih sedikit, umumnya
mereka membuang. limbahnya / comberan dikolom rumah jika rumah
panggung atau di samping rumah jika rumah permanen/semi permanen,
sehingga air limbah tersebut menjadi genangan air yang menimbulkan
bau dan menjadi sarang vektor penyakit.
Dari kondisi lingkungan fisik yang kurang memadai seperti di
atas akan memberikan kontribusi jelek terhadap lingkungan biologis.
Kepemilikan sarana sanitasi yang kurang seperti saluran pembuangan air
limbah dan jamban keluarga mengakibatkan masyarakat membuang
limbah rumah tangga dan tinja di sembarang tempat, hal ini jelas akan
menunjang terjadinya penularan penyakit. Di samping itu tingkat
pendidikan yang rendah dapat mempengaruhi perilaku dan pola pikir
masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
2. Persentase Keluarga yang memiliki Akses terhadap Air Bersih

39 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Kebutuhan manusia
akan air sangatlah kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi,
mencuci, dan sebagainya. Di antara kegunaan-kegunaan tersebut yang
paling penting adalah kebutuhan untuk minum. Untuk itu air harus
mempunyai persyaratan khusus agar tidak menimbulkan penyakit bagi
manusia. Di antaranya tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna, tidak
terkontaminasi oleh bakteri patogen serta tidak mengandung zat-zat
kimia tertentu dalam jumlah yang terbatas.
Untuk memenuhi kebutuhannya akan air bersih tersebut, maka
masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Bulili mengakses air dari
berbagai sumber, jumlah penduduk sebanyak 19.855 jiwa yang
menggunakan sumber air bersih sebanyak 18.712 jiwa atau 94,24 %.
3. Persentase Penyelenggaraan Air Minum memenuhi Syarat
Kesehatan

Air merupakan kebutuhan yang sangat Vital dalam kehidupan


manusia. Di Wilayah Puskesmas Bulili Tahun 2016, dengan Jumlah
Penduduk 19.855 Jiwa dengn jumlah penduduk yang memiliki akses air
minum sebanyak 18.712 jiwa atau 94,24 %.

4. Persentase Penduduk yang memiliki akses Sanitasi Layak ( Jamban


Sehat)

Jamban keluarga merupakan suatu bangunan yang digunakan


untuk tempat membuang dan mengumpulkan kotoran/najis manusia yang
lazim disebut kakus atau WC, sehingga kotoran tersebut disimpan dalam
suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab atau penyebar penyakit
dan mengotori lingkungan pemukiman. Kotoran manusia yang dibuang
dalam praktek sehari-hari bercampur dengan air, maka pengolahan
kotoran manusia tersebut pada dasarnya sama dengan pengolahan air
limbah. Oleh sebab itu pengolahan kotoran manusia. pada tahun 2016
Jumlah penduduk yan memilki akses Sanitasi layak (Jamban sehat) 4.970

40 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


Penduduk atau 25 % dari jumlah penduduk pengguna Jamban 19.855
Penduduk.
5. Persentase Desa STBM

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang selanjutnya disebut


sebagai STBM adalah pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan
sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan.
Komunitas merupakan kelompok masyarakat yang berinteraksi secara
sosial berdasarkan kesamaan kebutuhan dan nilai-nilai untuk meraih
tujuan. Open Defecation Free yang selanjutnya disebut sebagai ODF
adalah kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak buang air
besar sembarangan. Cuci Tangan Pakai Sabun adalah perilaku cuci
tangan dengan menggunakan sabu bersih yang mengalir.Pengelolaan Air
Minum Rumah Tangga yang selanjutnya disebut sebagai PAMRT adalah
suatu proses pengolahan, penyimpanan dan pemanfaatan air minum dan
air yang digunakan untuk produksi makanan dan keperluan oral lainnya
seperti berkumur, sikat gigi, persiapan makanan/minuman bayi.
Sanitasi total adalah kondisi ketika suatu komunitas:

 Tidak buang air besar (BAB) sembarangan.


 Mencuci tangan pakai sabun.
 Mengelola air minum dan makanan yang aman.
 Mengelola sampah dengan benar.
 Mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman.

Pada tahun 2016 di wilayah kerja Puskesmas Bulili memiliki 2


kelurahan yang melaksanakan Desa STBM .
6. Persentase tempat- tempat Umum memenuhi syarat

Tempat umum meliputi sarana sekolah dan sarana kesehatan dan


hotel diwilayah kerja Puskesmas Bulili tahun 2016 yang terdata sebanyak
16 unit dan semuanya dilakukan pemeriksaan yang memenuhi syarat
sebanyak 14 unit atau 87,5 % dari jumlah yang ada.

41 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


7. Persentase Tempat pengelolaan makanan memenuhi syarat, dibina
dan Diuji petik
Tempat pengelolahan makanan adalah sarana yang menyediakan
berbagai macam makanan baik dari segi makanan ringan maupun yang
berat berupa Nasi, Lauk Pauk dan Lainnya pada tahun 2016 jumlah TPM
yang ada 53 unit dan semua dibina serta semua TPM yang ada sudah
100 % memenuhi syarat.

8. Pengunaan Obat

Tabel.4.16
10 Besar Pemakaian Obat Terbanyak
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016
No Nama Obat Jumlah
1 Paracetamol 500 mg 31.474
2 Amoksisili 500 mg 24.836
3 Vitamin B Kompleks tablet 21.720
4 Deksametason 0,5 mg 21.498
5 Asam Askorbat (Vit. C) 50 mg 19.577
6 Kalsium Laktat (Kalk) tablet 500 mg 17.474
7 CTM 16.402
8 Hemaford 14.850
9 Tablet Tambah Darah 14.400
10 Asam Mefenamat 500 mg 13772

Dari tabel tersebut dapat terlihat pemakaian obat terbanyak adalah


paracetamol hal ini dimungkinkan karena merupakan obat analgesik dan
anti piretik sehingga banyak diberikan untuk pasien dengan berbagai
macam diagnosa karena sebagian besar penyakit disertai nyeri dan panas.

42 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


BAB V
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
Sumber daya kesehatan merupakan suatu peluang yang memiliki berupa
sarana dan Prasarana, Tenaga, Pembiayaan dan Metode kebijakan pelayanan
kesehatan dalam melakukan setiap kegiatan program.
Upaya kesehatan dapat berdayaguna dan berhasilguna bila pemenuhan
sumber daya kesehatan yaitu tenaga, biaya dan sarana kesehatan dapat memadai
dan sesuai dengan kebutuhan pemenuhan sumber daya kesehatan dapat diukur
dengan beberapa indikator kecukupan sebagai berikut:
A. Sarana Kesehatan

Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan derajat


kesehatan masyarakat adalah dengan penyediaan sarana kesehatan dalam
rangka meningkatkan kualitas dan pemerataan jangkauan pelayanan
kesehatan.
Yang dimaksud dengan sarana kesehatan dalah suatu wadah atau
benda baik berupa alat,bahan ataupun gedung yang digunakan dalam
penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Pembangunan Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) yang
dikenal dengan nama puskesmas Bulili yang memiliki wilayah kerja dua
kelurahan tentunya juga dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas pelayanan
kesehatan pada masyarakat di kota palu.

43 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


Puskesmas Bulili dalam melaksanakan fungsinya sebagai pusat
pelayanan kesehatan membutuhkan sarana dan Prasarana penunjang,
1. Puskesmas dan Jaringannya

Untuk mendukung pelayanan kesehatan pada masyarakat hal ini


paling mutlak tersedia adalah sarana gedung tempat pelayanan. Adapun
tempat pelayanan kesehatan di wilayah kerja puskesmas bulil pada tahun
2016 terdiri dari 1 unit gedung Puskesmas induk, 1 Unit gedung Perawatan
(rawat Inap), 1 Unit gedung persalinan, 2 unit Pustu yang terletak di
masing - masing kelurahan, sementara itu terdapat pula Rumah sakit
bersalin “ Nasana Pura” dan Rumah Sakit Islam (RSI) tetapi sementara ini
belum berfungsi dengan baik dan 2 Unit POSKESDES serta 1 Klinik
pelayanan yang menggunakan bekas puskesmas Mabelopura yang
sementara dalam tahap renovasi yang durencanakan pada awal tahun 2016
akan di resmikan menjadi pustu Touwa untuk lebih memudahkan
masyarakat menjangkau pelayanan kesehatan.
2. Sarana Pelayanan Kesehatan

Suber daya kesehatan merupakan salah satu faktor pendukung


penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas, yang diharapkan dapat
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah Puskesmas Bulili
junlah sarana pelayanan Kesehatan menurut pemelikan pengelolahnya
dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel.5.1
Jumlah sarana Pelayanan Kesehatan Menurut Kepemilikan/ Pengelolah
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016
NO FASILITAS KESEHATAN
PEM.KAB/KOTA TNI/POLRI BUMN SWASTA JUMLAH

RUMAH SAKIT

1 RUMAH SAKIT UMUM 1 1

PUSKESMAS DAN JARINGANNYA

JUMLAH TEMPAT TIDUR 12

4 PUSKESMAS PEMBANTU 3

SARANA PELAYANAN LAIN

2 BALAI PENGOBATAN/KLINIK 1 1

44 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


3 PRAKTIK DOKTER BERSAMA -

4 PRAKTIK DOKTER PERORANGAN 12 12

SARANA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN

5 PEDAGANG BESAR FARMASI 1 1

6 APOTEK 8 8

7 TOKO OBAT 1 1

8 PENYALUR ALAT KESEHATAN 1 1

3. Posyandu Menurut Strata

Pos Pelayanan terpadu atau Posyandu yng ada di Puskesmas Bulili


berjumlah 14 Buah. Starta posyandu ini bervariasi, yaitu tingkat madya 7
buah (50 %), tingkat purnama 4 (28,57 %), Tinkat Madiri 3 buah (21,43)
dilihat dari angka diatas posisi posyandu terbanyak berada pada tingat
posyandu Madya.
4. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKMB)

Upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dilakukan dengan


menerapkan berbagai pendekatan, termasuk di dalamnya dengan
melibatkan potensi masyarakat. Hal ini sejalan dengan konsep
pemberdayaan pengembangan masyarakat.
UKMB diantaranya terdiri dari Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu),
Pos Kesehatan Kelurahan (Poskesdes) di desa Siaga dan Tanaman Obat
Keluarga (Toga)
Upaya kesehatan bersumber masyarakat tersebar di dua kelurahan
di Puskesmas Bulili. UKMB yang telah sejak lama dikembangkan dan
mengakar dimasyarakat adalah Posyandu. Dalam menjalankan fungsinya,
Posyandu diharapkan dapat melaksanakan 5 Program Prioritas yaitu
Kesehatan ibu dan anak, Keluarga berencana perbaikan Gizi, Imunisasi,
dan Penanggulangan diare.
Poskesdes merupakan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat
yang dibentuk di kelurahan dalam rangka mendekatkan penyediaan
pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat kelurahan, dengan kata lain

45 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


salah satu wujud upaya untuk mempermudah akses masyrakat terhadap
pelayanan kesehatan.
Kegiatan utama Poskesdes yaitu pengamatan dan kewaspadaan dini
(Surveilans perilaku beresiko, Lingkungan dan masalah kesehatan
lainnya), Pelayanan kegawatdaruratan kesehatan dan kesiapsiagaan
terhadap bencana serta pelayanan kesehatan. Pelayanan yang diberikan
poskesdes juga mencakup tempat pertolongan persalinan dan pelayanan
KIA. Poskesdes merupakan salah satu indikator sebuah klurahan Siaga.
Sampai dengan tahun 2016 Poskesdes berjumlah 2 Buah dan Posbindu 5
Buah. Sementara untuk kelurahan sudah siaga 100% merupakan
Kelurahan Siaga.
B. Tenaga Kesehatan

Upaya kesehatan dapat berdaya guna dan berhasil guna ditunjang


dengan tenaga, Biaya dan sarana yang memadai. Pada tahun 2016 jumlah
tenaga kesehatan yang ada di puskesmas Bulili sebanyak 52 orang deangan
rincian sebagai berikut:

Tabel .5.2
Komposisi Pegawai Munurut Tingkat Pendidikan
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016
NO TINGKAT PENDIDIKAN JUMLAH PERSENTASE
1 S1 Kedokteran 4 8%
2 S1 Kesmas 3 6%
3 Apoteker 1 2%
4 S1. Perawat 2 4%
5 D3 Keperawatan 14 28%
6 D3 Kebidanan 9 18%
7 D3 Kesling 1 2%
9 D3 Farmasi 2 4%
10 D1 kebidanan 7 14%
11 Perawat Gigi D3 2 4%
12 SPK 3 6%
13 SPPH 1 2%
14 SMA/ Pekarya 1 2%
Jumlah 50 100%

46 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


Sumber Data: Bagian Tata Usaha Puskesmas Bulili

Dilihat dari jumlah tenaga Puskesmas Bulili memiliki jumlah tenaga


yang sangat memadai tetapi masih ada tenaga kesehatan yang dibutuhkan
seperti tenaga Analisis yang Khusus di bagian laboratorium dan untuk
sementara ini yang bertugas sebagai tenaga analalis di laboratorium adalah
perawat. Untuk lebih lanjut dapat dilihat Distribusi tenaga menurut unit kerja
di Puskesmas Bulili sebagai berikut:

Tabel .5.3
Distribusi Ketenagaan Menurut Unit Kerja
di wilayah Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

Perawatan
No Jenis Tenaga PKM PUSTU POSKESDES JUMLAH
(UGD)
1 S1 Kedokteran 4 4
2 S1 Kesmas 3 3
3 Apoteker 1 1
4 S1 keperawatan 2 2
5 D3 Keperawatan 9 3 2 14
6 D3 Kebidanan 7 2 9
7 D3 Kesling 1 1
9 D3 Farmasi 2 2
10 D1 kebidanan 7 7
11 Perawat Gigi 2 2
12 SPK 3 3
13 SPPH 1 1
14 SMA/ Pekarya 1 1
Jumlah 43 3 2 2 50
Sumber Data: tata Usaha Puskesmas Bulili

C. Pembiayaan Kesehatan

Apapun bentuk dari suatu program, jika tidak ditunjang oleh sumber
daya pembiayaan hasilnya pasti tidak akan maksimal atau akan mengalami
kegagalan. Program tidak dapat dipisahkan dari sumber pembiayaan atau
dana.
Pembiayaan merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung
pencapaian pembangunan kesehatan, baik yang bersumber dari pemerintah,
maupun masyarakat termasuk swasta. Sumber daya pembiayaan adalah suatu

47 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


sumber daya yang sangat fundamental yang saling berkaitan erat dengan
sumber daya tenaga, sarana dan Prasarana serta sumber daya lingkungan.
Sumber pembiayaan kesehatan Puskesmas Bulili berasal dari alokasi
dana rutin, Dana Duafa, dan Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK)
serta dana Program baik yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU)
maupun dari anggaran APBN. Untuk dana rutin puskesmas turun setiap
Triwulan dalam setiap tahunnya. Realisasi anggaran pembiayaan dari dana
yang diterima puskesmas Bulili pada tahun 2016 dapat kita lihat pada tabel di
bawah ini:

Tabel.5.4
Realisasi Anggaran Kesehatan Kota Pau
Puskesmas Bulili Kecamatan Palu Selatan
Kota Palu Tahun 2016

No Sumber Biaya Jumlah Anggaran


1 DUAFA RP. 3.270.000,-
2 RUTIN(DAU) Rp. 110.058.200,-
3 BOK Rp. 68.000.000,-
4 BPJS Rp. 275.750.640,-
JUMLAH Rp. 456.478.840,-

48 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan data kegiatan program kesehatan yang dicapai Puskesmas


Bulili, maka dapat disimpulkan, sebagai berikut :

1. Dari Cakupan kunjungan ibu hamil K-1 (100,7 %) dan K-4 (95,6%) di
wilayah Puskesmas Bulili menunjukkan bahwa kesadaran ibu hamil untuk
memeriksakan kehamilannya ke sarana kesehatan cukup tinggi.
2. Masih tingginya angka kematian ibu yang mencapai 563 per 100.000
kelahiran hidup, angka ini jauh lebih tinggi dari target MDGs 2016 yaitu
102 per 100.000 kelahiran hidup, salah satu penyebabnya adalah adanya
kehamilan diusia yang masih sangat muda.
3. Jumlah persalinan oleh Nakes di wilayah Puskesmas Bulili sebanyak 352
(86,1%) persalinan, jumlah ini menurun dari tahun sebelumnya yang
kemungkinan disebabkan karena ibu hamil memeriksakan diri ke Rumah
Sakit atau Dokter praktek swasta karena mengingat letak wilayah kerja
Puskesmas Bulili berada dalam kota.
4. Pencapaian cakupan imunisasi diwilayah Puskesmas Bulili pada tahun
2016 sudah lebih baik dari tahun sebelumnya, dimana pada tahun ini
semua desa mencapai UCI (Desa yang cakupan imunisasi dasarnya >
85%)
5. Persentase bayi yang mendapat ASI eksklusif pada tahun 2016 sebanyak
60,4% jumlah ini menunjukkan peningkatan dari yang signifikan dari
tahun sebelumnya yang hanya 37,4%, hal ini menunjukkan peningkatan
kesadaran masyarakat akan pentingnya ASI ekslusif bagi bayi.

49 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


6. Peningkatan jumlah kunjungan balita di posyandu dari tahun sebelumnya
56,1% menjadi 72,4%.
7. Masih adanya kejadian Gizi buruk yang kemungkinan disebabkan oleh
beberapa faktor diantaranya sosial budaya dan ekonomi keluarga, tingkat
pengetahuan dan kekurang pedulian masyarakat terhadap tumbuh
kembang Balitanya.
8. Masih rendahnya cakupan kepemilikan sarana sanitasi yang memenuhi
syarat kesehatan seperti Jamban keluarga, pengelolaan limbah, dan tempat
sampah disebabkan karena sebagian besar masyarakat menganggap hal
tersebut tidak begitu penting dan bukan merupakan suatu kebutuhan
sehingga hal ini pula yang menjadi salah satu penyebab masih banyaknya
penyakit-penyakit berbasis lingkungan yang ditemukan di masyarakat
seperti ISPA, diare dan Penyakit kulit alergi maupun infeksi.
9. Persentase Cakupan rumah tangga ber PHBS di wilayah Puskesmas Bulili
masih sangat rendah, hal ini disebabkan karena masih kurangnya tingkat
pengetahuan, kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk ber-Perilaku
Hidup bersih dan Sehat

B. Saran

1. Perlunya sosialisasi kepada masyarakat tentang Pelayanan Kesehatan ibu


dan anak, sehingga diharapkan pada masa yang akan datang cakupan
kunjungan ibu hamil K – 1 dan K – 4, cakupan pemberian ASI Eksklusif,
serta angka persalinan oleh tenaga kesehatan.
2. Perlunya peningkatan kerjasama dengan semua sektor terkait dalam upaya
meningkatkan cakupan penimbangan bayi di posyandu, utamanya
kerjasama dengan tim penggerak PKK desa.
3. Perlunya kerjasama lintas sektor utamanya dalam memicu masyarakat
dalam upaya meningkatkan kepemilikan sarana sanitasi serta menjaga
kebersihan lingkungan sekitar.
4. Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang
kesehatan diperlukan kerja keras oleh petugas kesehatan untuk melakukan
penyuluhan tentang pentingnya sanitasi dan PHBS.

50 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017


5. Mengingat Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan
yang banyak bersentuhan langsung ke masyarakat terutama Puskesmas
Bulili masih memerlukan peningkatan sumber daya manusia dan fasilitas –
fasilitas kesehatan lainya yang dapat mendukung terlaksananya program
kegiatan yang dilaksanakan di Puskesmas.

51 PROFIL KESEHATAN PUSKESMAS BULILI TAHUN 2017