Anda di halaman 1dari 17

Mata Kuliah: Surveilans Kesehatan Masyarakat

(dr.Fazidah Aguslina Siregar, M.Kes, Ph.D)

Surveilans Diabetes Melistus


DISUSUN
OLEH:
KELOMPOK 8
NAMA KELOMPOK:

1. Putri Ayu Lestari 161000047


2. Gita Aristi Br. Ginting 161000077
3. Nurhamidah 161000081
4. Cut Hilda Kaswary 161000115
5. Tessa Trivera Gultom 161000130
6. Nadhil Syavirah 161000147
7. Cindy Grace N S 161000224
8. Rudolfo Putra 161000249
9. Devi Utami Effendi 151000180

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
Surveilans Diabetes Melistus.

Adapun makalahSurveilans Diabetes Melistusini telah kami usahakan semaksimal


mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar
pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan bayak terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan
baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang
dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin
memberi saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki
makalahManajemen Promosi Kesehatan.

Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalahSurveilans Diabetes


Melistusdapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi
terhadap pembaca.

Medan, Maret 2018

Penyusun

ii
Daftar Isi

KATA PENGANTAR ..................................................................................................................... ii

DAFTAR ISI....................................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................................................1

1.1 LATAR BELAKANG ................................................................................................... 1


1.2 RUMUSAN MASALAH ............................................................................................... 1
1.3 TUJUAN MASALAH ................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN................................................................................................................ 3

2. 1. PENGERTIAN DIABETES MELISTUS..................................................................... 3


2. 2. PENYEBAB DIABETES MELISTUS........................................................................ 3
2. 3. GEJALA DAN KOMPLIKASI DIABETES MELISTUS ..........................................4
2. 4. KLASIFIKASI DIABETES MELISTUS .....................................................................6
2. 5. CARA PENCEGAHAN DIABETES MELISTUS......................................................7
2. 6. SURVEILANS EPIDEMIOLOGI DIABETES MELISTUS....................................... 8

BAB III PENUTUP....................................................................................................................... 13

3.1. KESIMPULAN............................................................................................................ 13
3.2. SARAN........................................................................................................................ 13

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu PTM yang semakin meningkat prevalen
sinya. DM mempunyai karakteristik seperti hiperglikemia yang terjadi karena kelainansekresi ins
ulin, kerja insulin atau kedua-duanya yang
menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah (ADA,
2002). DM merupakan salah satu jenis penyakit tidak menular yang mendunia dengan prevalens
i kejadian yang terus mengalami peningkatan.

Pada abad ke21 ini diperkirakan terjadi peningkatan insidens dan prevalensi PTM se
caracepat, yang merupakan tantangan utama masalah kesehatan dimasa yang akan datang. WHO
memperkirakan, pada tahun 2020 PTM akan menyebabkan 73% kematian dan 60% seluruhkesak
itan di dunia. Diperkirakan negara yang paling merasakan dampaknya adalah negara berkembang
termasuk Indonesia.

Penderita diabetes mellitus di dunia meningkat tajam setiap tahunnya pada tahun
1994sebesar 110,4 juta menjadi 150 juta penderita dan pada tahun 2010 sebesar 279,3 juta dan
tahun2020 sebesar 300 juta (Hendromartono, 2000).

Terjadinya transisi epidemiologi yang paralel dengan transisi demografi dan


transisiteknologi di Indonesia dewasa ini telah mengakibatkan perubahan pola penyakit dari
penyakitinfeksi ke penyakit tidak menular (PTM) meliputi penyakit degeneratif dan man made
diseases yang merupakanfaktor utama masalah morbiditas dan mortalitas. Terjadinya
transisiepidemiologi ini disebabkan terjadinya perubahan sosial ekonomi, lingkungan dan
perubahanstruktur penduduk, saat masyarakat telah mengadopsi gaya hidup tidak sehat, misalnya
merokok,kurang aktivitas fisik, makanan tinggi lemak dan kalori, serta konsumsi alkohol yang
didugamerupakan faktor risiko PTM.

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang dimaksud Diabetes Melistus?
1.2.2 Apa saja yang menjadi penyebab penyakit Diabetes Melistus?
1.2.3 Apa saja gejala dan komplikasi penyakit Diabetes Melistus?
1.2.4 Apa saja klasifikasi penyakit Diabetes Melistus?
1.2.5 Bagaimana cara pencegahan penyakit Diabetes Melistus?
1.2.6 Bagaimana surveilans epidemiologi penyakit Diabetes Melistus?

1
1.3. Tujuan Masalah
1.3.1. Untuk mengetahuidefinisi Diabetes Melistus
1.3.2. Untuk mengetahui penyebab penyakit Diabetes Melistus
1.3.3. Untuk mengetahui gejala dan komplikasi penyakit Diabetes Melistus
1.3.4. Untuk mengetahui klasifikasi Diabetes Melistus
1.3.5. Untuk mengetahui cara pencegahab penyakit Diabetes Melistus
1.3.6. Untuk mengetahui surveilans epidemiologi penyakit Diabetes Melistus

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Diabetes Melistus
Diabetes mellitus adalah penyakit yang disebabkan oleh tingginya kadar gula dalam
darah akibat gangguan sekresi insulin. Diabetes mellitus di sebut juga penyakit kencing
manis. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, definisi kencing manis adalah penyakit yang
menyebabkan air kencing yang di produksi bercampur zat gula. Adanya kadar gula yang tinggi
dalam air kencing dapat menjadi tanda-tanda gejala awal penyakit Diabetes melitus.

Insulin adalah sejenis hormon yang di produksi oleh pankreas dan berfungsi untuk
mengendalikan kadar gula dalam darah. Penurunan sekresi insulin biasanya di sebabkan oleh
resistensi insulin dan kerusakan sel beta pankreas. Pada penderita penyakit Diabetes mellitus,
tubuh pasien tidak dapat memproduksi atau tidak dapat merespon hormon insulin yang
dihasilkan oleh organ pankreas.

Kekurangan insulin membuat tubuh tidak mampu mengubah glukosa menjadi sumber
energi bagi sel. Sehingga respon yang diterima tubuh adalah rasa lapar dan haus. Namun
semakin banyak karbohidrat yang dimakan, maka akan semakin tinggi penumpukan glukosa
dalam darah. Kondisi inilah yang kemudian di sebut sebagai penyakit gula atau penyakit kencing
manis atau Diabetes mellitus.

2.2. Penyebab Diabetes Melistus


Adapun penyebab Diabetes Melistus adalah :

1. Banyak Mengkonsumsi Makanan yang Mengandung Gula

Kita semakin sulit menghindari makanan yang mengandung gula, hal tersebut sangat
mudah di jumpai seperti es krim, sirup, minuman dalam kemasan, permen, aneka jajanan kue dan
lain-lain. Semua makanan dan minuman tersebut kadang tanpa kita sadari mengandung banyak
gula. Yang patut diwaspadai adalah gula yang terkandung dalam makanan dan minuman tersebut
tidak pernah kita ketahui berapa takarannya. Berbeda jika kita minum teh atau kopi buatan
sendiri, yang sudah diketahui berapa sendok teh takarannya. Kita boleh minum teh manis dan
kopi selama dalam batas yang wajar.

2. Kurang tidur

Kurang tidur dapat menyebabkan berkurangnya sistem kekebalan tubuh sehingga


tubuh mudah terserang penyakit. Selain itu kebiasaan begadang sambil minum kopi dan merokok

3
mempunyai resiko terkena penyakit diabetes. Oleh karena itu hindarilah kebiasaan begadang,
istirahatlah secara cukup, yaitu 8 jam dalam sehari agar tubuh dapat fit kembali.

3. Makan terlalu banyak karbohidrat dari nasi atau roti

Perlu Anda ketahui bahwa tubuh mempunyai kemampuan yang terbatas dalam
mengolah makanan yang Anda makan. Jika Anda makan terlalu banyak karbohidrat, maka tubuh
akan menyimpannya dalam bentuk gula dalam darah (glikogen). Jika hal ini berlangsung setiap
hari, maka dapat dibayangkan besarnya penumpukan glikogen yang disimpan dalam tubuh.
Inilah pemicu awal terjadinya gejala diabetes. Untuk penderita diabetes bisa juga membaca
artikel makanan diabetes melitus.

4. Merokok

Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang tidak baik selain minum minuman
beralkohol. Merokok dapat menjadi pemicu terjadinya diabetes. Selain merusak paru-paru,
merokok juga dapat merusak hati dan pankreas dimana hormon insulin diproduksi sehingga
dapat mengganggu produksi insulin di dalam kelenjar pankreas.

5. Kurangnya Aktivitas Fisik

Gaya hidup naik mobil ketika berangkat kerja, naik lift ketika berada dikantor, duduk
terlalu lama di depan komputer serta kurangnya aktivitas fisik lainnya membuat sistem sekresi
tubuh berjalan lambat. Akibatnya terjadilah penumpukan lemak di dalam tubuh yang lambat laun
berat badan menjadi berlebih.

Sebagai pencegahan, Anda dapat memperbanyak aktivitas fisik selama bekerja.


Misalnya jalan kaki ketika berangkat ke kantor, naik tangga, melakukan senam ringan sehabis
duduk terlalu lama dan lain-lain.

6. Faktor Keturunan

Diabetes juga dapat disebabkan karena faktor keturunan atau genetika. Biasanya jika
ada anggota keluarga yang menderita diabetes, maka kemungkinan besar anaknya juga menderita
penyakit yang sama. Para ahli diabetes telah sepakat menentukan persentase kemungkinan
terjadinya diabetes karena keturunan. Jika kedua orang tuanya (bapak dan ibu) menderita
diabetes, maka kemungkinan anaknya menderita penyakit diabetes yaitu 83%. Jika salah satu
orang tuanya (bapak atau ibu) adalah penderita diabetes, maka kemungkinan anaknya menderita
penyakit diabetes yaitu 53%. Sedangkan jika kedua orang tuanya normal/tidak menderita
diabetes, maka kemungkinan anaknya menderita penyakit diabetes yaitu 15%.

7. Pola makan tidak sehat

Yang disebut pola makan yang tidak sehat banyak sekali macamnya. Dan berkenaan
dengan diabetes melitus hal ini sangat menjadi penyebab dari diabetes. Makan-makanan yang

4
terlalu banyak mengandung gula dan juga makanan dengan indeks glikemik tinggi dapat memicu
Anda terkena diabetes nantinya. Makan-makanan mengandung lemak tinggi dan kolesterol tinggi
juga memicu diabetes. Karena makanan jenis ini dapat memicu kegemukan atau obesitas terjadi
pada diri Anda.

8. Kegemukan

Hampir 80% orang yang terjangkit diabetes pada usia lanjut biasanya kelebihan berat
badan. Kelebihan berat badan meningkatkan kebutuhan insulin pada tubuh. Orang dewasa yang
kegemukan memiliki sel-sel lemak yang lebih besar pada tubuh mereka. Diyakini bahwa sel-sel
lemak yang lebih besar tidak merespons insulin dengan baik. Gejala-gejala diabetes mungkin
bisa menghilang seiring menurunnya berat badan.

9. Usia

Resiko diabetes meningkat sejalan dengan bertambahnya usia, terutama setelah usia 40
tahun, karena jumlah sel-sel beta di dalam pankreas yang memproduksi insulin menurun seiring
bertambahnya umur.

10. Jenis Kelamin

Baik pria maupun wanita memiliki resiko yang sama besar untuk mengidap diabetes
sampai usia dewasa awal. Setelah usia 30 tahun, wanita memiliki resiko yang lebih tinggi
dibandingkan pria. Wanita yang terkena diabets selama kehamilan memiliki resiko lebih tinggi
untuk terjangkit diabetes Tipe II pada usia lanjut.

11. Infeksi pada kelenjar pankreas

Hormon insulin untuk mengatur kadar gula dalam darah dihasilkan oleh kelenjar
pankreas. Apabila sampai terjadi infeksi dalam tubuh dan kebetulan menyerang pankreas Anda
sehingga pankreas tidak bisa memproduksi hormon insulin dengan baik, maka tanda-tanda
diabetes akan muncul. Jaga kesehatan Anda agar tidak terkena infeksi oleh kuman atau bakteri.
Kecelakaan atau cedera yang merusak pankreas juga bisa merusak sel-sel beta, dan karenanya
menyebabkan diabetes

12. Kurang aktivitas fisik seperti olahraga

Kebanyakan orang di zaman medern ini tidak sempat sama sekali melakukan olahraga.
Padahal demi tubuh yang sehat seseorang dianjurkan untuk melakukan olah raga setiap harinya.
Bila tidak olahraga akan mengakibatkan efek lanjutan berupa obesitas. Sudah dijelaskan diatas,
bahwa obesitas itu sendiri menjadi penyebab dari diabetes melitus.

5
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa faktor yang
menyebabkan seseorang menderita penyakit diabetes, yaitu : pola makan yang salah, gaya hidup
yang kurang sehat, umur, dan kelainan genetik. Sedapat mungkin kita harus mengurangi atau
bahkan menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk yang dapat memicu terjadinya diabetes.

2.3. Gejala Dan Komplikasi Diabetes Melistus


Adapun gejala dari Diabetes Melistus adalah :

 Kelelahan yang berlebihan


 Peningkatan buang air kecil
 Haus dan mulut terasa kering
 Penurunan berat badan
 Sering lapar
 Penglihatan kabur
 Perasaan kebingungan
 Kerentanan terhadat infeksi tertentu

Penyakit diabetes merupakan penyakit yang perlu adanya perhatian khusus dari setiap
penderitanya, karena apabila tidak maka penyakit ini akan membahayakan kesehatan tubuh serta
berdampak pada komplikasi dengan penyakit lainnya. Berikut inilah beberapa komplikasi
diabetes :

 Penyakit gusi dan infeksi


 Masalah penglihatan, termasuk resiko katarak, glaukoma, dan infeksi mata. Suatu
kondisi yang disebut retinopati diabetes dapat menyebabkan kehilangan penglihatan
atau kebutaan
 Neuropati atau kerusakan saraf yang dapat menyebabkan rasa sakit atau mati rasa di
tangan dan kaki
 Masalah peredaran darah yang akhirnya dapat menyebabkan amputasi kaki (luka
gangren/luka diabetes)
 Penyakit jantung
 Masalah ginjal
 Tekanan darah tinggi

6
2.4. Klasifikasi Diabetes Melistus
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan bentuk diabetes melitus
berdasarkan perawatan dan simtoma:

1. Diabetes tipe 1, yang meliputi simtoma ketoasidosis hingga rusaknya sel beta di dalam
pankreas yang disebabkan atau menyebabkan autoimunitas, dan bersifat idiopatik.
Diabetes melitus dengan patogenesis jelas, seperti fibrosis sistik atau defisiensi
mitokondria, tidak termasuk pada penggolongan ini.

2. Diabetes tipe 2, yang diakibatkan oleh defisiensi sekresi insulin, seringkali disertai
dengan sindrom resistansi insulin.

3. Diabetes gestasional, yang meliputi gestational impaired glucose tolerance, GIGT dan
gestational diabetes mellitus, GDM.

4. Diabetes Melitus Tipe Lain :


a. Defek genetik fungsi sel beta.
b. Defek genetik kerja insulin : resisten insulin tipe A, leprechaunism, Sindrom
Rabson Medenhall, diabetes lipoatropik.
c. Penyakit Eksokrin Pankreas (suatu kelenjar yang mengeluarkan hasil produksinya
melalui pembuluh).
d. Endokrinopati
e. Karena obat atau zat kimia: vacor, pentamidin, asam nikotinat, glukokortikoid,
hormon tiroid, diazoxid, agonis beta adrenergik, tiazid, dilantin, interferon alfa
f. Infeksi : Rubella Kongenital
g. Sebab imunologi yang jarang : antibodi, anti iinsulin (tubuh menghasilkan zat anti
terhadap insulin sehingga insulin tidak dapat bekerja memasukkan glukosa ke
dalam sel).
h. Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM : sindrom Down, sindrom
Klinefelter, sindrom turner, sindrom Wolfram’s.

5. Diabetes Melitus Gestasional (DMG), yang meliputi pada golongan ini, kondisi diabetes
dialami sementara selama masa kehamilan.Artinya kondisi intoleransi glukosa didapati
pertama kali pada masa kehamilan, biasanya pada semester kedua dan ketiga. Diabetes
Melitus gestasional berhubungan dengan meningkatnya komplikasi perinatal (sekitar
waktu melahirkan) dan sang ibu memiliki resiko untuk menderita penyakit Diabetes
Melitus yang lebih besar dalam jangka waktu 5-10 tahun setelah melahirkan. Diabetes
tipe ini merupakan intolerensi karbohidrat akibat terjadinya hiperglikemia dengan
berbagai keparahan dengan serangan atau keparahan awal selama masa kehamilan.

7
2.5. Pencegahan Diabetes Melistus
Cara mencegah penyakit kencing manis (Diabetes Melistus) yaitu dengan menghindari
berbagai jenis makanan yang terlalu banyak mengandung glukosa, dan berbagai jenis makanan
olahan yang tinggi glukosa, serta rajin berolah raga dan melakukan aktivitas fisik minimal 30
menit perhari. terutama untuk anda yang beresiko tinggi terkena DM. terlebih apabila orang anda
menderita Kencing manis berarti resiko untuk terkena Dm dua kali lebih besar dibandingkan
mereka yang tidak memiliki status kesehatan keluarga yang menderita dm.

Selain itu mengontrol berat badan juga penting dalam rangka mencegah terjadinya
penyakit dm ini, lakukan pengecekan kadar gula darah untuk mengetahui berapa tinggi glukosa
dalam darah dan bisa melakukan pencegahan. sedangkan untuk mereka yang sudah terkena
penyakit DM. lakukan pola hidup sehat, jaga asupan kalori, batasi jumlah porsi makanan

2.6. Surveilans Epidemiologi Diabetes Melistus


Surveilans epidemiologi adalah serangkaian kegiatan yang dimulai dari pengumpulan,
pengolahan, penyajian, analisis data penyakit atau masalah kesehatan dan penyebarluasan luasan
informasi kepada pihak lain yang membutuhkan secara terus menerus dan tepat waktu, untuk
kepentingan pengambilan keputusan.

Surveilans Terpadu Penyakit (STP): Pelaksanaan surveilans epidemiologi penyakit


menular dan surveilans epidemiologi penyakit tidak menular dengan metode pelaksanaan
surveilans epidemiologi rutin terpadu beberapa penyakit yang bersumber data Puskesmas, RS,
Laboratorium dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Unsur-unsur dalam kegiatan surveilans :

1. Kegiatan pengamatan pengamatan terhadap penyakit dan masalah kesehatan serta faktor
determinannya
2. Sistematis adalah proses pengumpulan, pengolahan dan analisis data serta
penyebarluasan informasi epidemiologi
3. Terus menerus menunjukan kegiatan surveilans dilakukan setiap saat sehingga
informasi epidemiologis tersedia secara terus menerus.

Kegunaan surveilans epidemiologi :

1. Mengamati kecenderungan dan memperkirakan besar masalah


2. Mendeteksi serta memprediksi adanya KLB
3. Menentukan program penangulangan wabah
4. Memperkirakan dampak program penanggulangan
5. Mengevaluasi program penanggulangan

8
6. Mempermudah perencanaan program pemberantasan penyakit
7. Mengamati kemajuan suatu program pencegahan dan pemberantasan penyakit

A. Gejala Klinis Diabetes Melistus

Gejala klinis yang dialami oleh penderita diabetes dapat diketahui melalui pemeriksaan
di laboratorium. Pemeriksaan pertama adalah pemeriksaan kadar gula darah. Pada prosesnya
pengambilan darah untuk pengecekan ini dilakukan dua kali atau dalam dua kondisi yaitu setelah
puasa (8 jam tidak menerima asupan gula baik melalui makanan atau minuman) dan kondisi
biasa (tidak puasa atau minimal 2 jam setelah makan). Pada kedua pemeriksaan ini apabila, kadar
gula biasa ≥ 120 mg/dl atau kadar gula puasanya ≥ 126 mg/dl, berarti Anda positif (+) menderita
Diabetes. Jadi, segelah periksa gula darah Anda. Penanganan yang cepat dan tepat akan
memberikan hasil yang lebih baik.

Pada awalnya, pasien sering kali tidak menyadari bahwa dirinya mengidap diabetes
melitus, bahkan sampai bertahun-tahun kemudian. Namun, harus dicurigai adanya DM jika
seseorang mengalamikeluhan klasik DM berupa: poliuria (banyak berkemih)polidipsia (rasa haus
sehingga jadi banyak minum)polifagia (banyak makan karena perasaan lapar terus-
menerus)penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.

Jika keluhan di atas dialami oleh seseorang, untuk memperkuat diagnosis dapat
diperiksa keluhan tambahan DM berupa: lemas, mudah lelah, kesemutan, gatalpenglihatan
kaburpenyembuhan luka yang burukdisfungsi ereksi pada pasien priagatal pada kelamin pasien
wanita

Diagnosis DM tidak boleh didasarkan atas ditemukannya glukosa pada urin saja.
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan kadar glukosa darah dari pembuluh darah vena.
Sedangkan untuk melihat dan mengontrol hasil terapi dapat dilakukan dengan memeriksa kadar
glukosa darah kapiler dengan glukometer.

Seseorang didiagnosis menderita DM jika ia mengalami satu atau lebih kriteria di


bawah ini: Mengalami gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma sewaktu ≥200
mg/dLMengalami gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma puasa ≥126 mg/dLKadar gula
plasma 2 jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) ≥200 mg/dLPemeriksaan HbA1C ≥
6.5%. Keterangan:

Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa
memperhatikan waktu makan terakhir pasien.Puasa artinya pasien tidak mendapat kalori
tambahan minimal selama 8 jam.TTGO adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan memberikan
larutan glukosa khusus untuk diminum. Sebelum meminum larutan tersebut akan dilakukan
pemeriksaan kadar glukosa darah, lalu akan diperiksa kembali 1 jam dan 2 jam setelah meminum
larutan tersebut. Pemeriksaan ini sudah jarang dipraktekkan.Jika kadar glukosa darah seseorang

9
lebih tinggi dari nilai normal tetapi tidak masuk ke dalam kriteria DM, maka dia termasuk dalam
kategori prediabetes. Yang termasuk ke dalamnya adalah

Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT), yang ditegakkan bila hasil pemeriksaan
glukosa plasma puasa didapatkan antara 100 – 125 mg/dL dan kadar glukosa plasma 2 jam
setelah meminum larutan glukosa TTGO < 140 mg/dLToleransi Glukosa Terganggu (TGT),
yang ditegakkan bila kadar glukosa plasma 2 jam setelah meminum larutan glukosa TTGO
antara 140 – 199 mg/dL

Tabel kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis
DM:

Bukan DM Belum pasti DM DM

Kadar glukosa Plasma vena <100 100-199 ≥200


darah sewaktu
(mg/dL) Darah kapiler <90 90-199 ≥200

Kadar glukosa Plasma vena <100 100-125 ≥126


darah puasa
(mg/dL) Darah kapiler <90 90-99 ≥100

Sumber: Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia -


PERKENI tahun 2011

1. Hasil Sistem surveilans

Prevalensi diabetes melitus tergantung insulin di Provinsi Jawa Tengah pada tahun
2011 sebesar 0,09%, mengalami peningkatan bila dibandingkan prevalensi tahun 2010 sebesar
0,08%. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Semarang sebesar 0,97%. Sedangkan prevalensi kasus
DM tidak tergantung insulin lebih dikenal dengan DM tipe II, mengalami penurunan dari 0,70%
menjadi 0,63% pada tahun 2011. Prevalensi tertinggi adalah di Kota Magelang sebesar 7,99%.

2. Insiden

350 juta orang di seluruh dunia mengidap penyakit diabetes. Pada tahun 2004, sekitar
3.4 juta orang meninggal karena kadar gula darah yang tinggi. Lebih dari 80% kematian akibat
penyakit DM terjadi pada negara dengan tingkat penghasilan rendah dan menengah.WHO
memperkirakan jumlah kematian akibat diabetes akan meningkat dua kali lipat selama periode
2005-2030.Makanan sehat, aktivitas fisik secara rutin, menjaga berat badan dan menghindari
tembakau dapat mencegah atau memperlambat kemunculan DM tipe 2.

10
3. Distribusi
a. Distribusi Menurut Orang

Berdasarkan proses timbulnya penyakit Diabetes Mellitus dapat disimpulkan


bahwa orang yang berisiko mengalami Diabetes Mellitus adalah mereka yang memiliki
riwayat Diabetes dari keluarga. Pasien Diabetes Mellitus tipe 2 umumnya dewasa usia 40-
an dan mengalami kegemukan (obesitas).dan tidak aktif. Sedangkan pada Diabetes
Mellitus tipe 1 biasanya terdapat pada anak-anak dan remaja , salah satu penyebabnya
adalah seringnya mengkonsumsi fast food. Ibu yang melahirkan bayi dengan berat lebih
dari 4 kg juga berisiko mengalami Diabetes Mellitus.

b. Distribusi Menurut Tempat


Prevalensi Kejadian Diabetes Mellitus Di Beberapa Negara Tahun 2000 dan
2030 :

c. Distribusi menurut waktu

Lamanya seseorang menderita penyakit dapat memberikan gambaran mengenai


tingkat patogenesitas penyakit tersebut. Peningkatan angka kesakitan Diabetes Mellitus
dari waktu ke waktu lebih benyak disebabkan oleh faktor herediter, life style (kebiasaan
hidup) dan faktor lingkungannya. Komplikasi Diabetes Mellitus dengan penyakit lain
terkait dengan lamanya seseorang menderita Diabetes Mellitus, semakin lama seseorang
menderita Diabetes Mellitus maka komplikasi penyakit Diabetes Mellitus juga akan lebih
mudah terjadi.

B. Epidemiologi Diabetes Melistus

1. Orang

Diabetes mellitus tipe 1, diabetes anak-anak (bahasa Inggris: childhood-onset


diabetes, juvenile diabetes, insulin-dependent diabetes mellitus, IDDM) adalah diabetes yang
terjadi karena berkurangnya rasio insulin dalam sirkulasi darah akibat hilangnya sel beta
penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. IDDM dapat diderita oleh anak-anak
maupun orang dewasa.

2. Waktu

Pada penderita diabetes tipe I, gejalanya timbul secara tiba-tiba dan bisa berkembang
dengan cepat ke dalam suatu keadaan yang disebut dengan ketoasidosis diabetikum. Kadar gula
di dalam darah adalah tinggi tetapi karena sebagian besar sel tidak dapat menggunakan gula
tanpa insulin, maka sel-sel ini mengambil energi dari sumber yang lain. Sel lemak dipecah dan
menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun yang bisa menyebabkan darah

11
menjadi asam (ketoasidosis). Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan
sering kencing, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak). Pernapasan
menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah. Bau napas
penderita tercium seperti bau aseton. Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum bisa
berkembang menjadi koma, kadang dalam waktu hanya beberapa jam.

3. Tempat

Menurut data skrining dan diagnosis diabetes mellitus gestational (GDM) yang
dikeluarkan oleh ADA,2008 Stanard of Medical Care, pada wanita ras Hispanik, Afrika,
Amerika, Asia Timur dan Asia Selatan mempunyai risiko mendapat GDM berada di kategori
sedang.

12
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Diabetes mellitus adalah penyakit yang disebabkan oleh tingginya kadar gula dalam
darah akibat gangguan sekresi insulin. Diabetes mellitus di sebut juga penyakit kencing
manis. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, definisi kencing manis adalah penyakit yang
menyebabkan air kencing yang di produksi bercampur zat gula. Adanya kadar gula yang tinggi
dalam air kencing dapat menjadi tanda-tanda gejala awal penyakit Diabetes Melitus.

Cara untuk mengurangi komplikasi yang paling terkait diabetes dapat dikurangi
dengan menjaga tekanan darah, gula darah dan kadar kolesterol dalam rentang yang
direkomendasikan, serta menjadikan berat badan yang sehat, makan sehat, mengurangi asupan
alkohol, dan tidak merokok akan membantu mengurangi risiko Anda. Regular check-up dan
skrining yang penting untuk mendeteksi komplikasi awal

3.2. Saran

13
Daftar Pustaka