Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN TUGAS KULIAH PENGANTARBLOK II

ETIKA, HUKUM, DAN KOMUNIKASI MEDIK


“MENGANALISIS DAFTAR MASALAH TERKAIT PROFESI
DOKTER”

Dosen Pembimbing: Trisnawati, S.Si, M.Kes


Nama: Siti Shaihany Yustikawari
NIM: 702014090

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2014
Nestapa Puvelia, bocah 5 tahun yang diamputasi tangannya

Merdeka.com - Puvelia bocah berumur 5 tahun di Bandung ini harus merelakan


kedua tangannya diamputasi setelah menjalani operasi hari ini. Rabu (21/5).Bocah ini
akan melewati semasa hidupnya tanpa kedua tangan karena bakteri ganas yang
menyerang tangannya sehingga menyebabkan pembusukan mulai dari jari hingga
melebihi siku tangannya.Awalnya Puvelia mengalami sakit gejala typhus dan dibawa
ke sebuah klinik yang berada di Purwakarta, namun sepulang dari klinik tersebut
tangan Puvelia malah hitam dan melepuh layaknya luka bakar. Karena khawatir
dengan kondisi anaknya ibu Puvelia, Siti Halimah (28) merujuk anaknya ini ke
Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung untuk perawatan.Sesampainya di sana ternyata
dokter RSHS memutuskan untuk mengamputasi tangan Puvelia karena infeksi yang
sudah parah.

Berikut Kisah nestapa Puvelia, bocah 5 tahun diamputasi tangannya :


1. Dirawat di klinik Eka Medika Purwakarta karena typhus
Merdeka.com - Kisah nestapa bocah imut bernama Puvelia yang harus kehilangan
kedua tangannya ini berawal dari sakit gejala tifus yang dia derita sehingga ibu
Puvelia Siti Halimah (28) membawanya ke Klinik Eka Medika Purwakarta untuk
menyembuhkan penyakitnya. Bukan tambah membaik setelah dirawat 3 hari di klinik
tersebut, Puvelia malah makin parah lantaran tangannya sepulang dari klinik tersebut
melepuh dan menghitam layaknya luka bakar. Sehingga orangtua Puvelia
membawanya kembali ke klinik tersebut. Siti Halimah mengatakan, dia membawa
pulang Puvelia karena setelah dirawat 3 hari di klinik tersebut, kondisi dari Puvelia
tidak kunjung membaik, bahkan setelah di bawa pulang keadaannya makin parah
dengan tangan seperti itu. "Lalu saya minta pulang saja, tapi saya penasaran
kemudian kembali dibawa ke klinik, tapi setelahnya tangan anak saya malah kaya
kebakar hitam-hitam," terang Siti.
2. Diinfus lalu tangan gosong layaknya luka bakar
Merdeka.com - Puvelia Audriana Putri, bocah 5 tahun ini mengalami infeksi di
tangan setelah mendapat perawatan di klinik Eka Medika Purwakarta yang
mengakibatkan pembusukan pada tangannya. Pembusukan di tangan Puvelia dimulai
ketika didiagnosis menderita tyfus sehingga harus dirawat. Puvelia sempat diinfus di
lengan kanannya, tapi tak lama kemudian bengkak. Infus kemudian dicabut dan
dipindahkan ke lengan kiri. Setelah tiga hari bocah imut itu dibawa pulang. Menurut
Siti Halimah (28) ibu dari Puvelia, kondisi Puvelia menjadi lebih parah lagi, selain
hitam-hitam tangan anaknya juga melepuh. "Saya sendiri enggak mau memojokkan
satu pihak dulu, tapi anak saya kondisinya memang jadi kaya kebakar setelah di bawa
ke klinik," kata Siti. Hingga sekarang dua lengannya melepuh, mulai dari jari hingga
melebihi siku. Bahkan dua lengannya kini tak bisa digerakkan.

3. Dirujuk ke RSHS dan didiagnosa memiliki penyakit paru-paru


Merdeka.com - Siti Halimah ibu dari bocah 5 tahun bernama Puvelia ini
menceritakan, penderitaan anaknya dimulai saat mengalami gejala tifus. Dia lalu
membawa anaknya ke klinik dekat rumah. Di klinik tersebut anaknya diinfus di
tangan kiri. Karena mengalami pembengkakan, infus kemudian dipindah ke tangan
kanan. "Lalu saya minta pulang saja, tapi saya penasaran kemudian kembali dibawa
ke klinik, tapi setelahnya tangan anak saya malah kaya kebakar hitam-hitam," terang
Siti.Lebih parah lagi, selain hitam-hitam tangan anaknya juga melepuh. "Saya sendiri
enggak mau memojokkan satu pihak dulu, tapi anak saya kondisinya memang jadi
kaya kebakar setelah di bawa ke klinik," kata Siti. Pihak klinik, Siti melanjutkan, juga
tidak bisa menjelaskan mengapa tangan Puvelia bisa membusuk, dan malah merujuk
agar anaknya dibawa ke rumah sakit. "Sampai sekarang anak saya masih di rawat
intensif, di sini juga belum bisa menjelaskan, waktu awal datang disebutkan RSHS
bahwa anak saya mengalami gangguan di paru-paru," ungkapnya.
4. Membusuk, tangan Puvelia terpaksa diamputasi
Merdeka.com - Puvelia Audria Putri bocah 5 tahun yang menderita pembusukan
pada kedua tangannya, baru saja melewati operasi amputasi di Rumah Sakit Hasan
Sadikin (RSHS) Bandung. Puve dioperasi karena terkena infeksi bakteri ganas
Pseudomonas Aeruginosa yang menyebabkan tangannya membusuk. Operasi bocah 5
tahun ini berjalan lancar. Rencananya operasi akan dilakukan dua tahap karena
pertimbangan klinis pasien.Kasubag Humas RSHS Bandung dr. Nurul Wulandhani
mengatakan operasi tahap pertama, dilakukan amputasi sampai batas beberapa cm
sebelum siku. Setelah itu dilakukan operasi grafting atau cangkok kulit yang diambil
dari kulit paha. "Operasi tahap kedua, akan dilakukan amputasi pada seluruh jarinya
kecuali kelingking," katanya di RSHS Bandung. Sebelum operasi, Puvelia telah
menjalani perawatan intensif di rumah sakit pelat merah tersebut sejak 24 Februari
lalu, tepatnya setelah mendapat rujukan dari medik setempat. Dia ditangani beberapa
tim medis spesialis dari rumah sakit. Sebelumnya, RSHS menduga pembusukan
diduga berasal dari bakteri ganas jenis pseudomonas aeruginosa. "Ini hal yang bisa
dikatakan langka, kasus serupa baru sekali kita tangani selain Puve, dulu ini warga
Batam yang pernah mengalami kejadian serupa," kata Dirut RSHS Bandung Bayu
Wahyudi. Menurut dia, kondisi Puve yang juga mendapat rujukan dari klinik di
Purwakarta berangsur membaik. Namun untuk tangan saat diterima pihak RSHS,
beberapa jaringan selnya sudah mati.
Analisis :
Mengenai kejadian tersebut dokter telah melakukan kelalaian atau dalam
dunia medis yang lebih dikenal dengan malpraktik. Menurut Buku Etika Kedokteran
dan Hukum Kesehatan edisi empat pengertian malpraktik adalah menjalankan
pekerjaan yang buruk kualitasnya atau tidak tepat. Dokter tersebut telah melakukan
malpraktik, hal tersebut terbukti karena dokter telah melakukan kelalaian dalam
tindakan medis.
Disisi lain dokter juga melanggar undang-undang yang sama yaitu Undang-
Undang No.29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 51 yaitu melanggar
karena dokter tidak memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan
standar prosedur operasional. Selain ketidaktelitian, hal yang memungkinkan
terjadinya malpraktik pada dunia medis yaitu dokter tidak melakukan tindakan medis
sesuai dengan standar profesi kedokteran.
Kejadian tersebut juga berhubungan dengan KODEKI Pasal 7a mengenai
kewajiban umum seorang dokter ialah seorang dokter harus, dalam setiap praktik
medisnya, memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis
dan moral sepenuhnya disertai rasa kasih sayang (compassion) dan penghormatan
atas martabat manusia.
Pada pasal 2 dalam KODEKI yaitu harus senantiasa berupaya melaksanakan
profesinya sesuai dengan standar profesi yang tertinggi, pasal 8 yaitu memperhatikan
semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh, pasal 10 yaitu mempergunakan
segala ilmu dan keterampilannya untuk kepentingan pasien. Dengan memberikan
pelayanan dibawah standar, berarti seorang dokter telah melakukan malpraktik dan
dapat dikenakan pasal 350 KUHP, yaitu “Barang siapa karena kesalahannya
menyebabkan orang lain mendapat luka berat atau luka sedemikian sehingga
berakibat penyakit atau halangan sementara untuk menjalankan jabatan atau
pekerjaannya, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 5 tahun.
Seseorang harus memberikan pertanggungjawaban tidak hanya atas kerugian
yang ditimbulkan dari tindakannya sendiri, tetapi juga atas kerugian yang
ditimbulkan dari tindakan orang lain yang berada di bawah pengawasannya. (Pasal
1367 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).
Berdasarkan kasus di atas dokter tersebut telah melakukan pelanggaran, yaitu
pelanggaran pada sumpah hippokrates. Adapun sumpah hippokrates adalah:
1. Saya akan memperlakukan guru yang mengajarkan ilmu ini dengan penuh
kasih sayang sebagaimana terhadap orang tua saya sendiri, jika perlu akan
saya bagikan harta saya untuk dinikmati bersamanya.
2. Saya akan memperlakukan anak-anaknya sebagai saudara kandung saya dan
saya akan mengajarkan ilmu yang telah saya peroleh dari ayahnya, kalau
mereka memang mau mempelajarinya, tanpa imbalan apapun.
3. Saya akan meneruskan ilmu pengetahuan ini kepada anak-anak saya sendiri,
dan kepada anak-anak guru saya, dan kepada mereka yang telah mengikatkan
diri dengan janji dan sumpah untuk mengabdi kepada ilmu pengobatan, dan
tidak kepada hal-hal yang lainnya.
4. Saya akan mengikuti cara pengobatan yang menurut pengetahuan dan
kemampuan saya akan membawa kebaikan bagi penderita, dan tidak akan
merugikan siapapun.
5. Saya tidak akan memberikan obat yang mematikan kepada siapapun meskipun
diminta, atau menganjurkan kepada mereka untuk tujuan itu. Atas dasar yang
sama, saya tidak akan memberikan obat untuk menggugurkan kandungan.
6. Saya ingin menempuh hidup yang saya baktikan kepada ilmu saya ini dengan
tetap suci dan bersih.
7. Saya tidak akan melakukan pembedahan terhadap seseorang, walaupun ia
menderita penyakit batu, tetapi akan menyerahkannya kepada mereka yang
berpengalaman dalam pekerjaan ini.
8. Rumah siapapun yang saya masuki, kedatangan saya itu saya tujukan untuk
kesembuhan yang sakit dan tanpa niat-niat buruk atau mencelakakan, dan
lebih jauh lagi tanpa niat berbuat cabul terhadap wanita ataupun pria, baik
merdeka maupun hamba sahaya.
9. Apapun yang saya dengar atau lihat tentang kehidupan seseorang yang tidak
patut disebarluaskan, tidak akan saya ungkapkan karena saya harus
merahasiakannya.
10. Selama saya mematuhi sumpah saya ini, izinkanlah saya menikmati hidup
dalam mempraktekkan ilmu sya ini, dihormati oleh semua orang, disepanjang
waktu ! Tetapi jika sampai saya mengkhianati sumpah ini, balikkanlah nasib
saya.
Salah satu sumpah hippokrates nomor empat yang berbunyi saya akan
mengikuti cara pengobatan yang menurut pengetahuan dan kemampuan saya akan
membawa kebaikan bagi pasien, dan tidak akan merugikan siapa pun. Dokter terbukti
melanggar sumpah hippokrates karena memberikan tindakan medis yang salahdan
tidak menerapkan belajar sepanjang hayat. Apabila dokter tersebut telah menerapkan
belajar sepanjang hayat maka sedikit kemungkinan munculnya kesalahan dalam
pengobatan kepada pasien.
Dokter Frizar: Daripada saya dituntut biarkan saja pasien mati

Merdeka.com - Setelah mendapatkan vonis selama 10 bulan penjara, pihak dokter


Ayu Sasiary Prawarni dan dokter Hendry Simanjuntak mengajukan Peninjauan
Kembali (PK) ke Mahkamah Agung (MA). Mereka yakin tidak bersalah karena hasil
keputusan Majelis Kode Etik Kedokteran menyatakan demikian.Ketua Perkumpulan
Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Cabang Jakarta dokter Frizar Irmansyah
mengancam, jika PK tidak dimenangkan maka akan terjadi kekacauan pada
masyarakat."Kalau sampai PK ditolak kemungkinan dokter akan melakukan
defensive medicine," ujar Frizar saat konferensi pers di Rumah Makan Natrabu,
Jakarta, Rabu (27/11).

Defensive medicine merupakan suatu sikap atau tindakan tenaga kesehatan dalam hal
ini dokter, yang melakukan suatu pemeriksaan diagnostik atau tindakan pengobatan
yang tidak berdasarkan kepentingan pasien, melainkan untuk membela diri jikalau di
suatu saat terdapat tuntutan malapraktik dari pihak tertentu. Ditanya apakah tindakan
itu tidak melanggar sumpah dokter, dr Ronny Mewengkang menjawab, "Sekarang
siapa yang mau menerima pasien yang sedang kritis dan kemungkinan akan
meninggal? Kalau nanti akhirnya bisa berakhir di penjara."

Tindakan defensive medicine ini tidak hanya berdampak pada pasien. Frizar
mengatakan, "Karena dampaknya akan sangat luar biasa. Hasilnya akan menjadi
acuan, sehingga dokter akan mengalami kemunduran. Karena tindakannya itu tidak
hanya merugikan dokter tapi rumah sakit juga,"."Daripada saya dituntut biarkan saja
pasien mati," tutup Frizar.
Analisis :
Dalam kasus diatas dapat kita analisis bahwa tindakan yang dilakukan dr
Frizar yang menyatakan bahwa biarkan saja pasien mati dari pada saya ditutut telah
menyalahi aturan dari Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) yaitu pada :
Pasal 7a
Setiap dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan
medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya disertai
rasa kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas martabak mereka.
Pasal 7d
Setiap dokter harus senantiasa mengingat kewajiban melindungi hidup
makhluk insani.
Setiap perbuatan dokter terhadap pasien bertujuan untuk memelihara
kesehatan dan kebahagiaannya. Dengan sendirinya ia harus mempertahankan dan
memelihara kehidupan manusia.
Pasal 8
Dalam melakukan pekerjaan seorang dokter harus memperhatikan
kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanann
kesehatan yang menyeluruh ( promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif),
baik fisik maupun psikososial, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi
masyarakat yang sebenar-benarnnya.
Dokter adalah tenaga profesi yang memiliki kemampuan untuk menggerakkan
potensi yang ada bagi terwujudnya tujuan kesehatan individu, keluarga, dan
masyarakat umumnya. Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat itu,
pelayanan kedokteran mencakup semua aspek (pelayanan kessehatan paripuna), yaitu
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Pasal 13
Setiap dokter wajib melakukkan pertolongan darurat sebagai suatu tugas
perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu
memberikannya.
Setiap orang wajib memberikan pertolongan pertama kepada siapa pun yang
mengalami kecelakaan atau sakit mendadak, apalagi seorang dokter. Pertolongan
utama yang diberikan tentulah sesuai kemampuan masing-masing dan sesuai dengan
sarana yang tersedia.
Secara tidak langsung tidakan dr Frizar telah menyimpang dari sumpah dokter
yang telah ia ikrarkan. Adapun Sumpah Dokter Indonesia adalah :
Demi Allah saya bersumpah, bahwa:
1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.
2. Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan
bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter.
3. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur
profesi kedokteran.
4. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena
keprofesian saya.
5. Saya tidak akan mempergunakan pengetahuan dokter saya untuk sesuatu
yang bertentangan dengan perikemanusian, sekalipun di ancam.
6. Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dan saat pembuahan.
7. Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien, dengan
memperhatikan kepentingan masyarakat.
8. Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak
terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan,
gender, politik, kedudukan sosial dan jenis penyakit dalam menunaikan
kewajiban terhadap pasien.
9. Saya akan memberi kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan
terima kasih yang selayaknya.
10. Saya akan perlakukan teman sejawat saya seperti saudara sekandung.
11. Saya akan mentaati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia.
12. Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan
mempertaruhkan kehormatan diri saya.
Diduga korban malpraktik, pasien meninggal setelah koma dua pekan

Solo (Espos) - Seorang pasien di RSUD dr Moewardi, Ny Puji Setyorini diduga kuat
menjadi korban malpraktik seorang dokter ahli kandungan. Setelah mengalami koma
beberapa hari, Puji meninggal dunia pada Rabu (24/11). Jenazah dibawa pulang ke
Jongke, Karanganyar, oleh kerabat almarhumah pada pukul 10.00 WIB.

Berdasar informasi yang dihimpun Espos, Selasa (23/11), peristiwa berawal ketika
Ny Puji hendak melahirkan melalui operasi sesar yang akan ditangani oleh dokter ahli
kandungan yang dikenal dengan nama dr Teguh SpOG pada Jumat (12/11).

Selama mengandung bayinya, Ny Puji memang menjadi pasien dr Teguh. Namun,


karena ada kelainan pada kandungannya, yaitu plasenta bayi menutup jalan keluar,
maka dokter merujuk Ny Puji untuk menjalani operasi sesar di RSUD dr Moewardi.
“Ketika akan dioperasi, dokter menjelaskan bahwa Ny Puji hanya akan dibius lokal
(spinal anastesi). Namun, setelah menjalani spinal anastesi, pasien langsung hilang
kesadaran dan layar monitor menunjukkan garis lurus yang artinya pasien dinyatakan
telah meninggal,” tutur Ny Sukamdi, salah satu kerabat dekat pasien tersebut.

Meski telah dinyatakan meninggal, sejumlah tenaga paramedis masih mengupayakan


menyelamatkan pasien dengan menggunakan alat kejut jantung dan infus, tutur Ny
Sukamdi lagi. Akhirnya setelah menghabiskan waktu sekitar 10 menit, pasien
kembali sadar.Begitu pasien sadar, dokter langsung memutuskan untuk melanjutkan
operasi padahal kondisi pasien baru saja lolos dari kondisi kritis. “Sejak dibius pada
hari itu, Sabtu (13/11), saudara kami itu tidak sadar sampai hari ini (Senin, 22/11).
Bayi memang berhasil dikeluarkan tapi akhirnya juga meninggal dunia,” jelas kerabat
Ny Puji lagi.
Sementara itu, dr Teguh, menurut kerabat Ny Puji, terkesan tidak bertanggungjawab
dan ketika keluarga menanyakan mengapa peristiwa bisa seperti itu, dengan santainya
dia menjawab,”Itu kan salah keluarga Ibu, kenapa memilih saya?”. Bahkan hingga
sekarang dr Teguh sudah tidak menangani pasien lagi dan menurut kabar dokter
bersangkutan pergi ke Sumbawa dan pasien Ny Puji diserahkan ke dokter lain.

Ny Puji meninggal di RSUD dr Moewardi pukul 08.00 WIB dan dibawa pulang oleh
keluarganya sekitar pukul 10.00 WIB ke Jongke Karanganyar. Saat ditemui Espos,
Rabu (24/11), di RSUD dr Moewardi, pihak keluarga belum mau memberikan
keterangan terkait kronologi dan penyebab meninggalnya Puji. Mereka mengatakan
masih dalam keadaan berduka. Sama halnya dengan pihak RSUD dr Moewardi. Salah
satu staf Humas mengatakan belum bisa memberikan keterangan. Ia hanya
mengetahui bahwa pasien tersebut dirawat di RSUD dr Moewardi sekitar dua pekan.
Pasien sempat dirawat di ruang ICU dan ICCU dengan keadaan koma setelah
dilakukan operasi sesar.

Bayinya juga sempat dibawa ke RS dr Oen untuk perawatan karena ada sebuah alat
yang membantu permasalahan bayi tetapi tidak tersedia di RSUD dr Moewardi. Pada
akhirnya bayi tersebut juga meninggal. Wakil Direktur Pelayanan RSUD dr
Moewardi, Yusuf Subagyo, membantah ada malpraktik yang menyebabkan Ny Puji
koma dan meninggal.

“Keadaan awal pasien sudah tidak baik. Sama halnya dengan keadaan bayinya. Kami
sudah memberikan pengertian kepada keluarga sebelumnya serta meminta
persetujuan dengan keluarga tentang pelaksanaan operasi tersebut. Kami sudah
berusaha memberikan pelayanan yang terstruktur. Kami melihat masalah itu muncul
karena faktor komunikasi,” jelasnya saat dihubungi Espos, Rabu (24/11). Ia
menambahkan, pihak rumah sakit dan dokter akan menjelaskan permasalahan
tersebut lebih lengkap kepada Espos, Kamis (24/11) besok.
Analisis :
Definisi malpraktik itu diantaranya :
1. Dokter kurang menguasai ilmu pengetahuan kedokteran dan keterampilan
yang sudah berlaku umum dikalangan profesi kedokteran.
2. Dokter memberikan pelayanan medik dibawah standar.
3. Dokter melakukan kelalaian berat atau kurang hati-hati, yang dapat
mencakup:
a. Tidak melakukan suatu tindakan yang seharusnya dilakukan
b. Melakukan tindakan yang seharusnya tidak dilakukuan
4. Melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan hukum.
Dalam kasus malpraktik yang di alami oleh Ny Puji Setyorini terlihat bahwa
dokter yang menangani beliau lalai, berlepas tangan dan tidak melakukan
kewajibannya sebagai seorang dokter yang baik terhadap pasiennya seperti yang telah
ditetapkan dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI), diantaranya :
Pasal 2
Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai
dengan standar profesi yang tertinggi.
Pasal 7a
Setiap dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan
medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya disertai
rasa kasih sayang ( compassion) dan penghormatan atas martabak mereka.
Pasal 7d
Setiap dokter harus senantiasa mengingat kewajiban melindungi hidup
makhluk insani.
Pasal 8
Dalam melakukan pekerjaan seorang dokter harus memperhatikan
kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanann
kesehatan yang menyeluruh ( promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif),
baik fisik maupun psikososial, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi
masyarakat yang sebenar-benarnnya.
dr Teguh tidak melakukan upaya terbaiknya dalam menghadapi kondisi Ny
Puji malah langsung merujukya ke RSUD tanpa berkomunikasi terlebih dahulu
kepada dokter yang akan menangani Ny Puji mengenai kondisi pasien pada saat itu
meliputi upaya apa saja yang dapat menolong pasien, apa yang harus dilakukan dan
apa yang tidak harus dilakukan. Kurangnya komunikasi antar teman sejawat
menyebabkan munculnya bayak kerugian. Diantaranya tidak terselamatkannya Ny
Puji dan bayinya.
Dokter yang menangani Ny Puji di RSUD juga seharusnya menggambil
tindakan medis yang tepat. Contohnya tidak langsung melangsungkan operasi
selanjutnya setelah pasien keluar dari masa kritisnya.
Terbukti dalam kasus tersebut bahwa dokter belum melakukan salah satu
kewajibannya sesuaidengan Undang-Undang No.29 tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran Pasal 51 yang menyatakan bahwa kewajiban dokter atau dokter gigi
adalah memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar
prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien.
Dalam kasus juga terlihat bahwa dr Teguh tidak menerapkan Etika
Kedokteran Indonesia (KODEKI) pada pasal 7a, yaitu tidak berempati terhadap
pasien dan keluarga pasien.
KESIMPULAN

Dari beberapa kasus diatas dapat dilihat bahwa kasus yang paling dominan
adalah:
1. Kasus malpraktik profesi dokter
2. Pelanggaran etik kedokteran
3. Melanggar hak pasien dan kewajiban dokter
4. Tidak mengamalkan sumpah dokter
Pada kasus ini seharusnya keluarga pasien tidak langsung mengadukan ke
polisi tapi mereka harus mengadu ke MKDKI terlebih dahulu, paling tidak ke pihak
Rumah Sakit terlebih dahulu.
DAFTAR PUSTAKA

Hanafiah, M.Jusuf dan Amri Amir. 2008. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan
edisi 4. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
Guwandi. 2007. Hukum Medik. Jakarta: FK UI.
Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2013 Tentang Pendidikan Kedokteran dan
Undang-Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran.
Bandung: Citra Umbara.
www.okezone.com diunduh pada tanggal 11 November 2014.
www.kompas.com diunduh pada tanggal 11 November 2014.
www.indosiar.com diunduh pada tanggal 11 November 2014.