Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

BAYI BARU LAHIR (BBL) NORMAL

Di susun Oleh :

Anik Tyas Ifkarina (D0018006)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI
Jl. Cut Nyak Dhien No.16 Slawi-52416
Tahun 2019
LAPORAN PENDAHULUAN
BAYI BARU LAHIR (BBL) NORMAL

A. Pengertian Bayi Baru Lahir (BBL) Normal


Bayi baru lahir (neonatus) normal adalah bayi dari kehamilan 37 minggu
sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2.500 gr sampai dengan 4.000 gram.
Neonatus merupakan masa bayi baru lahir sampai usia 28 hari. Periode neonatal
adalah bulan pertama kehidupan. Selama periode neonatal bayi mengalami
pertumbuhan dan perubahan yang amat manakjubkan (Mary Hamilton, 2008).
Bayi baru lahir adalah bayi yang lahir melalui proses kelahiran sampai usia 4
minggu, dengan usia gestasi 38-42 minggu dan mampu menyesuaikan diri dari
kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. Pada saat adaptasi tersebut terjadi
gangguan-gangguan yang berpotensi menyebabkan kematian dan kesakitan
sedangkan perawatan bayi baru lahir meliputi tentang cara menjaga kehangatan bayi
(mencegah hipotermi), cara menyusui yang benar, pencegahan infeksi dan jadwal
pemberian imunisasi. (Pusdiknakes, 2008).

B. Ciri – Ciri BBL Normal


1. Berat badan : 2500 – 4000 gram
2. Panjang badan : 48 – 52 cm
3. Lingkar dada : 30 – 35 cm
4. Lingkar kepala : 33 – 35 cm
5. Detak jantung menit – menit pertama kira – kira 180 x/menit, kemudian
menurun 120 - 140 x/menit.
6. Pernafasan pada menit pertama 80 x/menit, menurun kira – kira 46 x/menit
7. Warna kulit kemerahan dan licin, karena jaringan subcutan terbatas dan diliputi
verniks caseosa.
8. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna.
9. Kuku agak panjang dan lemas
10. Pada genetalia wanita labia mayora sudah menutup
11. Untuk pengeluaran urin dan meconium akan keluar 24 jam pertama warna
meconium coklat kehitaman

2
C. Perubahan Fisiologis BBL Normal
Menurut Pusdiknakes (2008) perubahan fisiologis pada bayi baru lahir adalah :
1. Perubahan Sistem Pernapasan / Respirasi
Selama dalam uterus, janin mendapatkan oksigen dari pertukaran gas melalui
plasenta. Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru – paru.Paru-
paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx yang bercabang dan
kemudian bercabang kembali membentuk struktur percabangan bronkus
proses ini terus berlanjut sampai sekitar usia 8 tahun, sampai jumlah bronkus
dan alveolusnya akan sepenuhnya berkembang, walaupun janin
memperlihatkan adanya gerakan napas sepanjang trimester II dan III. Paru-
paru yang tidak matang akan mengurangi kelangsungan hidup BBL sebelum
usia 24 minggu. Hal ini disebabkan karena keterbatasan permukaan alveolus,
ketidakmatangan sistem kapiler paru-paru dan tidak tercukupinya jumlah
surfaktan.
a. Awal adanya napas
Faktor-faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi adalah :
Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim
yang merangsang pusat pernafasan di otak.
b. Penimbunan karbondioksida (CO2)
Setelah bayi lahir, kadar CO2 meningkat dalam darah dan akan
merangsang pernafasan. Berkurangnya O2 akan mengurangi gerakan
pernafasan janin, tetapi sebaliknya kenaikan CO2 akan menambah
frekuensi dan tingkat gerakan pernapasan janin.
c. Perubahan suhu
Keadaan dingin akan merangsang pernapasan.

2. Perubahan Pada Sistem Peredaran Darah


Untuk membuat sirkulasi yang baik, kehidupan diluar rahim harus terjadi 2
perubahan besar :
a. Penutupan foramen ovale pada atrium jantung.
b. Perubahan duktus arteriousus antara paru-paru dan aorta.

3
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh sistem
pembuluh. Oksigen menyebabkan sistem pembuluh mengubah tekanan
dengan cara mengurangi /meningkatkan resistensinya, sehingga mengubah
aliran darah.
Perubahan pada saat lahir :
a. Penghentian pasokan darah dari plasenta
b. Pengembangan dan pengisian udara pada paru-paru
c. Penutupan foramen ovale
d. Fibrosis

3. Pengaturan Suhu
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya, sehingga akan
mengalami stress dengan adanya perubahan lingkungan dari dalam rahim ibu
ke lingkungan luar yang suhunya lebih rendah. Suhu dingin ini menyebabkan
air ketuban menguap lewat kulit, pada lingkungan yang dingin , pembentukan
suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi untuk
mendapatkan kembali panas tubuhnya. Pembentukan suhu tanpa menggigil ini
merupakan hasil penggunaan lemak coklat untuk produksi panas. Timbunan
lemak coklat terdapat di seluruh tubuh dan mampu meningkatkan panas tubuh
sampai 100%.Untuk membakar lemak coklat, sering bayi harus menggunakan
glukosa guna mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi panas.
Lemak coklat tidak dapat diproduksi ulang oleh seorang BBL. Cadangan
lemak coklat ini akan habis dalam waktu singkat dengan adanya stress dingin.
Semakin lama usia kehamilan semakin banyak persediaan lemak coklat bayi.
Jika seorang bayi kedinginan, dia akan mulai mengalami hipoglikemia,
hipoksia dan asidosis.Sehingga upaya pncegahan kehilangan panas merupakan
prioritas utama dan bidan berkewajiban untuk meminimalkan kehilangan
panas pada BBL.

4. Metabolisme Glukosa
Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu.
Dengan tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir seorang
bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri. Pada setiap

4
bayi baru lahir, glukosa darah akan turun dalam waktu cepat (1 sampai 2
jam).Koreksi penurunan kadar gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :
a. melalui penggunaan ASI
b. melalui penggunaan cadangan glikogen
c. melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak.

BBL yang tidak mampu mencerna makanan dengan jumlah yang cukup, akan
membuat glukosa dari glikogen (glikogenisasi).Hal ini hanya terjadi jika bayi
mempunyai persediaan glikogen yang cukup.Bayi yang sehat akan menyimpan
glukosa dalam bentuk glikogen terutama di hati, selama bulan-bulan terakhir
dalam rahim. Bayi yang mengalami hipotermia, pada saat lahir yang
mengakibatkan hipoksia akan menggunakan cadangan glikogen dalam jam-
jam pertama kelahiran. Keseimbangan glukosa tidak sepenuhnya tercapai
dalam 3-4 jam pertama kelahiran pada bayi cukup bulan. Jika semua
persediaan glikogen digunakan pada jam pertama, maka otak dalam keadaan
berisiko.
Bayi yang lahir kurang bulan (prematur), lewat bulan (post matur), bayi yang
mengalami hambatan pertumbuhan dalam rahim dan stres janin merpakan
risiko utama, karena simpanan energi berkurang (digunakan sebelum
lahir).Gejala hipoglikemi dapat tidak jelas dan tidak khas,meliputi; kejang-
kejang halus, sianosis,, apneu, tangis lemah, letargi,lunglai dan menolak
makanan. Hipoglikemi juga dapat tanpa gejala pada awalnya. Akibat jangka
panjang hipoglikemi adalah kerusakan yang meluas di seluruh di sel-sel otak.

5. Perubahan Sistem Gastrointestinal


Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan. Reflek
gumoh dan reflek batuk yang matang sudah terbentuk baik pada saat
lahir.Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna
makanan (selain susu) masih terbatas. Hubungan antara esofagus bawah dan
lambung masih belum sempurna yang mengakibatkan “gumoh” pada bayi baru
lahir dan neonatus, kapasitas lambung masih terbatas kurang dari 30 cc untuk
bayi baru lahir cukup bulan. Kapasitas lambung ini akan bertambah secara
lambat bersamaan dengan tumbuhnya bayi baru lahir. Pengaturan makanan
yang sering oleh bayi sendiri penting contohnya memberi ASI on demand.
5
6. Sistem Kekebalan Tubuh/ Imun
Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan
neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang
matang akan memberikan kekebalan alami maupun yang di dapat. Kekebalan
alami terdiri dari struktur pertahanan tubuh yang mencegah atau
meminimalkan infeksi. Berikut beberapa contoh kekebalan alami:
perlindungan oleh kulit membran mukosa,fungsi jaringan saluran napas,
pembentukan koloni mikroba oleh kulit dan usus, perlindungan kimia oleh
lingkungan asam lambung.Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel
yaitu oleh sel darah yang membantu BBL membunuh mikroorganisme asing.

D. Keadaan yaang Harus Diwaspadai Selama Bayi Dirawat


1. Keadaan umum : Bayi yang sehat tampak kemerah – merahan aktif, tonus otot
baik, menangis keras, minum baik, suhu tubuh 36 5 O – 37 5 O C.
2. Suhu tubuh diukur 1x /hari, bila suhu rectal di bawah 36O C, bayi harus
diletakkan di tempat yang lebih panas.
3. Penimbangan berat badan dilakukan setiap hari. Dalam 3 hari pertama berat
badan akan turun karena bayi mengeluarkan air kencing dan meconium
sedangkan cairan yang masuk belum cukup pada hari ke 4 berat badan naik lagi.
4. Tinja akan keluar dalam waktu 24 jam. Setelah 2 – 3 hari warna tinja akan
tergantung dari jenis susu yang diminumnya.
5. Air kencing akan keluar dalam waktu 24 jam.
6. Perubahan warna kulit harus perlu diawasi untuk mencegah terjadinya ikterus,
syanosis / perdarahan pada kulit.
7. Perubahan pernafasan harus dihitung frekuensi dangkal / dalamnya, apakah
apnue, nafas cuping hidung, retraksi.
8. Bila bayi muntah, harus perlu dipantau warna, konsistensi dan jumlah muntahan
untuk mendeteksi apakah hal ini terjadi karena kesalahan pemberian susu, alergi
terhadap susu / gangguan saluran pernafasan.

6
E. Pathways

PROSES PERSALIAN NORMAL

Kepala bayi melewati Perubahan suhu tubuh dari Pemotongan tali pusat Adaptasi psikologis ibu
jalan lahir suhu intra uterin yang stabil
(35-37o C) Perubahan peran
Adanya luka terbuka
Banyaknya cairan Suhu ruangan Cemas
Amnion di jalan lahir
Kontaminasi pada luka
Koordinasi reflek menelan Penghilangan suhu tubuh Sekresi oksitosin
Menghisap belum sempurna (konveksi, radiasi, evaporasi) terhambat
Resti infeksi
Akumulasi cairan amnion Perubahan drastis suhu tubuh Pressure the ejection
Pada jalan napas of breast feeding

Bersihan jalan napas Proses adaptasi Ineffective breast feeding


Tidak efektif
Resti hipothermi
Resti gangguan pemenuhan
Kebutuhan nutrisi
Peningkatan insisible water loss
(IWL)

Resti kekurangan volume cairan

F. Penatalaksanaan Awal BBL Normal


1. Lakukan penilaian sepintas
a. Apakah bayi menangis kuat dan atau bernafas tanpa kesulitan
b. Apakah bayi bergerak dengan aktif
c. Jika bayi tidak menangis, tidak bernafas atau megap-megap lakukan langkah
resusitasi (lanjut kelangkah resusitasi pada asfiksia bayi baru lahir)

7
2. Keringkan tubuh bayi
Keringkan bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lain, kecuali bagian
tangan tanpa membersihkan vernik. Ganti handuk basah denga handuk/kain
kering. Pastikan bayi dalam kondisi mantap di atas perut ibu
3. Periksa kembali uterus ibu untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus
(hamil tunggal)
4. Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm
dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali
tali pusat pada bagian 2 cm distal dari klem pertama
5. Potong dan ikat tali pusat
a. Dengan satu tangan, pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut
bayi) dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut.
b. Ikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian
melingkar kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci
pada sisi lainnya
c. Lepaskan klem dan masukan kedalam wadah yang telah disediakan
6. Letakan bayi agar kontak kulit dengan ibu
Letakkan bayi tengkurap didada ibu. Luruskan bahu bayi sehingga bayi
menempel didada / perut ibu. Usahakan kepala bayi berada diantara payudara
ibu dengan posisi lebih rendah dari puting payudara ibu.
7. Selimuti bayi dan ibu dengan kain hangat dan pasang topi dikepala bayi
8.  Beri cukup waktu untuk melalukan kontak kulit ibu – bayi (di dada ibu paling
sedikit 1 jam)
9. Lakukan penimbangan dan pengukuran bayi
10. Berikan salep mata/tetes mata antibiotik profilaksi
11. Beri vitamin K 1 mg / neo K 0,5 mg dipaha kiri anterolateral setalah kontak
kulit ibu dan bayi
12. Berikan suntikan imunisasi hepatitis B (setelah 1 jam pemberian vitamin K1/
Neo K0 di paha kanan anterolateral

G. Pemeriksaan Bayi Baru Lahir


Pemeriksaan BBL bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin kelainan pada bayi.
Resiko terbesar kematian BBL terjadi pada 24 jam pertama kehidupan, sehingga jika
8
bayi lahir di fasilitas kesehatan sangat dianjurkan untuk tetap tinggal di fasilitas
kesehatan selama 24 jam pertama. Waktu pemeriksaan bayi baru lahir yaitu:
 Baru lahir sebelum usia 6 jam
 Usia 6-48 jam
 Usia 3-7 hari
 Minggu ke-2 pasca lahir
Langkah-langkah pemeriksaan:
 Pemeriksaan dilakukan dalam keadaan bayi tenang (tidak menangis)
 Pemeriksaan tidak harus berurutan, dahulukan menilai pernafasan dan tarikan
dinding dada bawah, denyut jantung serta perut
 Selalu mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir sebelum dan sesudah
memegang bayi

Pemeriksaan Fisik yang Dilakukan Keadaan Normal


Lihat postur, tonus dan aktivitas  Posisi tungkai dengan lengan fleksi
 Bayi sehat dan bergerak aktif
Lihat kulit  Wajah, bibir dan selaput lender, dada harus
berwarna merah muda, tanpa adanya
kemerahan atau bisul
Hitung pernapasan dan lihat tarikan  Frekuensi normal 40-60x/menit
dinding dada bawah ketika bayi sedang  Tidak ada tarikan dinding dada bawah
tidak menangis yang dalam
Hitung denyut jantung dengan  Frekuensi denyut jantung normal 120-
meletakkan stetoskop di dada kiri 160x/menit
setinggi apeks kordis
Lakukan pengukuran suhu ketiak dengan  Suhu normal adalah 36,5-37,5°C
thermometer
Lihat dan raba bagian kepala  Bentuk kepala terkadang asimetris karena
penyesuaian pada saat proses persalinan,
umumnya hilang dalam 48 jam
 Ubun-ubun besar rata atau tidak menonjol,
dapat sedikit menonjol saat bayi menangis
Lihat mata  Tidak ada kotoran/secret
Lihat bagian dalam mulut  Bibir, gusi, langit-langit utuh dan tidak ada
bagian terbelah

9
Masukkan satu jari yang menggunakan  Nilai kekuatan isap bayi. Bayi akan
sarung tangan ke dalam mulut, raba mengisap kuat jari pemeriksa
langit-langit
Lihat dan raba perut  Perut bayi datar, teraba lemas
Lihat tali pusat  Tidak ada perdarahan, pembengkakan,
nanah, bau yang tidak enak pada tali pusat,
atau kemerahan sekitar tali pusat
Lihat punggung dan raba tulang  Kulit terlihat utuh, tidak terdapat lubang
belakang dan benjolan pada tulang belakang
Pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah  Tidak terdapat sindaktili, polidaktili,
siemenline, dan kelainan kaki (pes equino
varus da vagus)
Lihat lubang anus 
 Hindari memasukkan alat atau jari  Terlihat lubang anus dan periksa apakah
dalam memeriksa anus mekonium sudah keluar
 Tanyakan pada ibu apakah bayi sudah  Biasanya mekonium keluar dalam 24 jam
BAB setelah lahir
Lihat dan raba alat kelamin luar  Bayi perempuan kadang terlihat cairan
Tanyakan kepada ibu apakah bayi sudah vagina berwarna putih atau kemerahan
BAK  Bayi laki-laki terdapat lubang uretra pada
ujung penis. Teraba testis di skrotum
 Pastikan bayi sudah BAK dalam 24 jam
setelah lahir
 Yakinkan tidak ada kelainan alat kelamin,
missal.hipospadia, rudimenter, kelamin
ganda
Timbang bayi  Berat lahir 2,5-4 kg
Timbang bayi dengan menggunakan  Dalam minggu pertama, BB mungkin
selimut, hasil peimbangan dikurangi turun dahulu (tidak melebihi 10% dalam
berat selimut waktu 3-7 hari) baru kemudian naik
kembali
Mengukur panjang dan lingkar kepala  Panjang lahir normal 48-52 cm
bayi  Lingkar kepala normal 33-37 cm

H. Penilaian BBL Normal


APGAR SCORE

10
APGAR 0 1 2
Biru/pucat Badan merah, Seluruh tuubuh
Appearance/ warna kulit
seluruh tubuh ekstremitas biru merah
Pulse/denyut jantung Tidak terdengar <100x/menit >100x/menit
Gerakan
Grimace/reflek iritability Tidak ada respon Gerakan sedikit
kuat/melawan
Fleksi pada
Activity/tonus otot Lemah Gerakan aktif
ekstremitas
Menangis
Respiration Tidak ada Menangis kuat
lemah/merintih
Interpretasi skor:
0–3 : asfiksia berat
4–6 : asfiksia sedang
7 – 10 : asfiksia ringan

I. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada BBL Normal antara lain :
1. Risiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
refleks hisap tidak adekuat.
2. Resiko tinggi perubahan suhu tubuh berhubungan dengan adaptasi dengan
lingkungan luar rahim, keterbatasan jumlah lemak.
3. Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan (pemotongan
tali pusat), tali pusat masih basah.

J. Intervensi Keperawatan

11
N DIAGNOSA
TUJUAN INTERVENSI
O KEPERAWATAN
1 Risiko tinggi Tujuan : Setelah dilakukan 1. Pantau intake dan out put
perubahan nutrisi tindakan keperawatan selama cairan
kurang dari kebutuhan 2x24 jam perubahan nutrisi 2. Kaji payudara ibu tentang
tubuh berhubungan tidak terjadi. kondisi putting
dengan refleks hisap Kriteria hasil : 3. Lakukan breast care pada
tidak adekuat.  Penurunan BB tidak lebih ibu secara teratur
dari 10% BB lahir. 4. Lakukan pemberian makan
 Intake dan output oral awal dengan 5-15 ml
makanan seimbang. air steril kemudian dextrosa
 Tidak ada tanda-tanda dan PASI
hipoglikemi. 5. Intruksikan ibu cara dan
posisi menyusui yang tepat
secara mandiri
6. Instruksikan pada ibu agar
mengkonsumsi susu ibu
menyusui
7. Pantau warna, konsentrasi,
dan frekuensi berkemih

2 Resiko tinggi Tujuan : Setelah dilakukan 1. Pertahankan suhu


perubahan suhu tubuh tindakan keperawatan selama lingkungan dalam zona
berhubungan dengan 2x24 jam perubahan suhu termoneural yang
adaptasi dengan tubuh tidak terjadi. ditetapkan dengan
lingkungan luar mempertimbangkan berat
rahim, keterbatasan badan neonatus, usia gestasi
jumlah lemak. Kriteria hasil : 2. Pantau aksila bayi kulit,
 Suhu tubuh normal 36- suhu timpatik dan
370 C. lingkungan sedikitnya
 Bebas dari tanda-tanda setiap 30-60 mnt
strees, dingin, tidak ada 3. Kaji frekuensi pernapasan
tremor, sianosis dan pucat perhatikan takipnea
(frekuensi > 60/mnt)
4. Tunda mandi pertama
sampai suhu 36,50 C
5. Mandikan bayi dengan
cepat untuk menjaga agar
bayi tidak kedinginan
6. Perhatikan tanda-tanda
dehidrasi (turgor kulit
buruk, pelambatan
berkemih, membrane
mukosa kering )
7. Lakukan pemberian makn
oral dini

3 Resiko tinggi terjadi Tujuan : Setelah dilakukan 1. Observasi tanda-tanda infeksi


infeksi berhubungan tindakan keperawatan selama 2. Pertahankan teknik septic
dengan trauma 3x24 jam infeksi pada tali dan aseptic.
jaringan (pemotongan pusat tidak terjadi. 3. Lakukan perawatan tali pusat
tali pusat), tali pusat setiap hari setelah mandi satu
masih basah. kali perhari.
Kriteria hasil : 4. Observasi tali pusat dan area
 Bebas dari tanda-tanda sekitar kulit dari tanda-tanda
infeksi. infeksi.
0
 TTV normal 12 : S : 36-37 C,
N :70-100x/menit, RR : 40-
60x/menit
 Tali pusat mongering
DAFTAR PUSTAKA

Anam, 2015. Laporan Pendahuluan Bayi Baru Lahir (BBL) Normal. Dokmen Tidak
Dipublikasikan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang.

Hamilton, Persis Marry.2008. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC

Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.

13