Anda di halaman 1dari 44

Fungsi Pengawasan dalam Administrasi Pembangunan

PEMBAHASAN
Administrasi pembangunan adalah proses pengendalian usaha (administrasi) oleh
negara/pemerintah untuk merealisirkan pertumbuhan yang direncanakan ke arah suatu keadaan
yang dianggap lebih baik dan kemajuan di dalam berbagai aspek kehidupan bangsa.
Menurut SP. Sondang Siagian, administrasi pembangunan adalah suatu usaha atau
rangkaian usaha pertumbuhan dan perobahan yang berencana yang dilakukan secara sadar oleh
suatu bangsa, negara dan pemerintah menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation-
building).
Sebelum memasuki pengawasan dalam administrasi pembangunan, terlebih dahulu kita
perlu mengetahui definisi dari pengawasan itu sendiri. Pengawasan adalah proses dalam
menetapkan ukuran kinerja dan pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil
yang diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut. Sedangkan menurut Stoner,
pengawasan adalah proses untuk memastikan bahwa segala aktifitas yang terlaksana sesuai dengan
apa yang telah direncanakan.
Dalam rangka mengamankan pelaksanaan pembangunan agar tercapai secara efisien dan
efektif maka diperlukan suatu sistem pengawasan yang baik. Sama pentingnya dengan
perencanaan dan pelaksanaan program, dimana pengawasan merupakan bagian dari pelaksanaan
fungsi manajemen.
Pengawasan bukan merupakan suatu tujuan, melainkan sarana untuk meningkatkan
efisiensi dalam melaksanakan kegiatan. Didalamnya termasuk unsur pencegahan terhadap
penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi. Oleh karena itu, kegiatan pengawasan tidak
hanya dilakukan dalam tahap pelaksanaan. Artinya aspek pengawasan telah masuk selagi proyek-
proyek pembangunan masih dalam tahap perencanaan.
Perencanaan memberikan kerangka acuan bagi proses pengawasan, dan hasil dari
pengawasan seperti juga pemantauan merupakan umpan balik bagi proses perencanaan dan
pelaksanaan pada tahap berikutnya. Sedangkan pada tahap evaluasi, pengawasan dapat
menghasilkan keputusan untuk melakukan koreksi dan perbaikan dalam penyelenggaraan
pembangunan, dan dapat pula menghasilkan sanksi sesuai hukum yang berlaku.
Pengawasan mirip dengan pemantauan, perbedaannya adalah pengawasan lebih
menekankan pada akuntabilitas dan trasnparansi sektor public, dan lebih ditekankan pada
penanganan sumber dana (financial resources, serta terjadi pada saat proyek/program dilaksanakan
untuk deteksi dini penyimpangan. Pemantauan dan pengawasan pembangunan pada dasarnya
merupakan rangkaian kegiatan yang memiliki obyek yang sama, yakni mengikuti perkembangan
pelaksanaan pembangunan agar senantiasa sesuai dengan rencana. Dalam banyak literatur, kedua
kegiatan itu tidak dipisahkan. Tapi dalam pembahasan ini dilakukan pemisahan untuk
menunjukkan adanya dua kegiatan yang serupa tetapi tidak harus selalu sama, atau masing-masing
dilakukan oleh lembaga atau unit organisasi yang berbeda.
Disamping itu, kegiatan pengawasan bukan semata-mata mencari siapa yang bersalah,
tetapi apa yang salah dan mengapa kesalahan itu terjadi. Sehingga dalam kegiatan pengawasan ada
unsur membimbing dan mendidik terhadap pelaksana pembangunan untuk meningkatkan
kemampuan dan profesionalismenya. Pengawasan merupakan unsur yang pokok bagi setiap
manajemen, termasuk manajemen pembangunan.
Dalam konsep pengawasan ada unsur yang mengawasi dan diawasi. Di sini, selain kriteria
pelaksanaannya (proyek) pembangunan yang ditetapkan dalam rancangannya, terlihat pula segi
penegakan norma-norma etika. Pengawasan dengan hal demikian mengandung makna penegakan
hukum dan disiplin.
Dalam administrasi pembangunan, pengawasan ada hirarkinya, sesuai dengan tingkatan
dan ruang lingkupnya. Hal ini bersifat berjenjang dan dapat dilakukan sebagai bagian dari kegiatan
yang organik dari dalam dan dari luar. Oleh karena itu, dikenal adanya pengawasan fungsional dan
pengawasan melekat.
Pengawasan Fungsional yaitu:
1. Pengawasan internal adalah pengawasan yang dilakukan oleh aparat Pengawasan Fungsional
Pemerintah (APFP), seperti BPKP, Inspektorat Jenderal (Itjen), Badan Pengawas Daerah
(Bawasda) Propinsi dan Kabupaten.
2. Pengawasan eksternal adalah pengawasan yang dilakukan oleh aparatur diluar pemerintah seperti
BPK, DPRD.
Pengawasan melekat yaitu kegiatan yang bersifat sebagai pengendalian scr terus-menerus,
dilakukan atasan langsung terhadap bawahannya, agar pelaksanaan tugas bawahan tersebut
berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan rencana kegiatan dan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Johnson, Kast, dan Rosenzweig (1973) membagi sistem pengawasan ke dalam:
1. Pengawasan organisasional, yaitu sistem pengawasan umum yang menilai kinerja keseluruhan
dari suatu kegiatan di dalam organisasi. Standar pengukuran yang lazim digunakan bagi
pengawasan jenis ini adalah pengukuran efektivitas (measurement of effectiveness) dari kegiatan
tersebut. Dari hasil pengukuran effektivitas tersebut, umpan balik yang dihasilkan dapat digunakan
untuk mengevaluasi tujuan dan sasaran, merumuskan perencanaan tahap berikutnya, serta
memperbaiki petunjuk pelaksanaan kegiatan (standard operating procedures).
2. Pengawasan operasional yaitu sistem pengawasan yang digunakan untuk mengukur kinerja harian
suatu kegiatan dan memberikan langkah-langkah koreksi langsung.

Pelaksanaan pengawasan belum berlangsung optimal karena:


1. Banyak dan tersebarnya objek pemeriksaan
2. Keterbatasan aparat yang memiliki kemampuan SDM yang handal di bidang pengawasa
3. Belum berjalannya secara baik pengawasan melekat dari setiap tingkat pimpinan kepada bawahan.

Johnson, Kast, dan Rosenzweig (1973) juga menguraikan fungsi pengawasan dengan
mengidentifikasikan empat unsur pokok pengawasan. Unsur-unsur tersebut meliputi:
1. Penentuan standar kinerja
2. Perumusan instrumen pengawasan yang dapat dipergunakan dalam mengukur kinerja suatu
kegiatan,
3. Pembandingan hasil aktual dengan kinerja yang diharapkan
4. Pengambilan langkah-langkah pembenahan atau koreksi.

Dalam konsep pengawasan ada unsur yang mengawasi dan diawasi. Di sini, selain criteria
pelaksanaan (proyek) pembangunan yang ditetapkan dalam rancangannya (project design), terlihat
pula segi penegakan norma-norma etika. Misalnya, sasaran tidak tercapai apakah karena keadaan
yang berubah dari semula, karena kelalaian pelaksanaan atau ada unsur kesengajaan untuk
keuntungan pelakunya. Pengawasan dengan demikian mengandung makna penegakan hukum dan
disiplin.
Suatu pengawasan yang efektif membutuhkan tidak saja norma-norma etika tetapi juga
sistem informasi yang memadai. Kebutuhan informasi menjadi sangat penting artinya untuk
menilai situasi dan kondisi yang melingkupi suatu isu dan mengevaluasi alternatif langkah-langkah
selanjutnya.
Fungsi pengawasan yaitu:
1. Meningkatkan kebertanggungjawaban (accountability) dan keterbukaan (transparancy) sector
publik.
2. Menekankan langkah-langkah pembenahan atau koreksi (corrective actions) jika dalam suatu
kegiatan terjadi kesalahan atau perbedaan dari tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan.

Ruang lingkup pengawasan, terdiri atas :


1. Pengawasan administrasi umum pemerintahan meliputi :
a. Kebijakan daerah;
b. Kelembagaan;
c. Pegawai daerah;
d. Keuangan daerah (kebijakan anggaran); dan
e. Barang daerah.
2. Pengawasan urusan pemerintahan meliputi :
a. Urusan Wajib; dan
b. Urusan Pilihan.
3. Pengawasan lainnya, meliputi :
a. Dana Dekonsentrasi;
b. Tugas Pembantuan;
c. Review atas Laporan Keuangan; dan
d. Kebijakan Pinjaman Hibah Luar Negeri.

Daftar Pustaka
Tjokroamidjojo, Bintoro. 1974. Pengantar Administrasi Pembangunan. Jakarta: Lembaga
Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial.

Utomo, Tri Widodo. 1998. Administrasi Pembangunan. Bandung: Lembaga Administrasi


Negara.
PENGAWASAN DALAM PEMBANGUNAN

A. Pengertian Pengawasan
Pengawasan bisa didefinisikan sebagai suatu usaha sistematis oleh
manajemen bisnis untuk membandingkan kinerja standar, rencana, atau tujuan
yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk menentukan apakah kinerja sejalan
dengan standar tersebut dan untuk mengambil tindakan penyembuhan yang
diperlukan untuk melihat bahwa sumber daya manusia digunakan dengan
seefektif dan seefisien mungkin didalam mencapai tujuan.
George R. Tery (2006:395) mengartikan pengawasan sebagai
mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya mengevaluasi prestasi
kerja dan apabila perlu, menerapkan tidankan-tindakan korektif sehingga hasil
pekerjaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Robbin (dalam Sugandha, 1999 : 150) menyatakan pengawasan itu
merupakan suatu proses aktivitas yang sangat mendasar, sehingga
membutuhkan seorang manajer untuk menjalankan tugas dan pekerjaan
organisasi.
Kertonegoro (1998 : 163) menyatakan pengawasan itu adalah proses melaui
manajer berusaha memperoleh kayakinan bahwa kegiatan yang dilakukan sesuai
dengan perencanaannya.
Terry (dalam Sujamto, 1986 : 17) menyatakan Pengawasan adalah untuk
menentukan apa yang telah dicapai, mengadakan evaluasi atasannya, dan
mengambil tindakan-tidakan korektif bila diperlukan untuk menjamin agar hasilnya
sesuai dengan rencana.
Dale (dalam Winardi, 2000:224) dikatakan bahwa pengawasan tidak hanya
melihat sesuatu dengan seksama dan melaporkan hasil kegiatan mengawasi,
tetapi juga mengandung arti memperbaiki dan meluruskannya sehingga mencapai
tujuan yang sesuai dengan apa yang direncanakan.
Admosudirdjo (dalam Febriani, 2005:11) mengatakan bahwa pada
pokoknya pengawasan adalah keseluruhan daripada kegiatan yang
membandingkan atau mengukur apa yang sedang atau sudah dilaksanakan
dengan kriteria, norma-norma, standar atau rencana-rencana yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Siagian (1990:107) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan
pengawasan adalah proses pengamatan daripada pelaksanaan seluruh kegiatan
organisasi untuk menjamin agar supaya semua pekerjaan yang sedang dilakukan
berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.
Kesimpulannya, pengwasan merupakan suatu usaha sistematik untuk
menetapkan standar pelaksanaan tujuan dengan tujuan-tujuan
perencanaan,merancang system informasi umpan balik,membandingkan kegiatan
nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya,menentukan dan
mengukur penyimpangan-penyimpangan serta mengambil tindakan koreksi yang
diperlukan.

B. Tipe-Tipe Pengawasan
Donnelly, et al. (dalam Zuhad, 1996:302) mengelompokkan pengawasan
menjadi 3 Tipe pengawasan yaitu :
1. Pengawasan Pendahuluan (preliminary control).
Pengawasan yang terjadi sebelum kerja dilakukan. Pengawasan
Pendahuluan menghilangkan penyimpangan penting pada kerja yang diinginkan
yang dihasilkan sebelum penyimpangan tersebut terjadi. Pengawasan
Pendahuluan mencakup semua upaya manajerial guna memperbesar
kemungkinan bahwa hasil-hasil aktual akan berdekatan hasilnya dibandingkan
dengan hasil-hasil yang direncanakan.
Memusatkan perhatian pada masalah mencegah timbulnya deviasi-deviasi
pada kualitas serta kuantitas sumber-sumber daya yang digunakan pada
organisasi-organisasi. Sumber-sumber daya ini harus memenuhi syarat-syarat
pekerjaan yang ditetapkan oleh struktur organisasi yang bersangkutan.
Dengan ini, manajemen menciptakan kebijaksanaan-kebijaksanaan,
prosedur-prosedur dan aturan-aturan yang ditujukan pada hilangnya perilaku yang
menyebabkan hasil kerja yang tidak diinginkan di masa depan. Dipandang dari
sudut prespektif demikian, maka kebijaksanaan-¬kebijaksanaan merupakan
pedoman-pedoman yang baik untuk tindakan masa mendatang.
Pengawasan pendahuluan meliputi; Pengawasan pendahuluan sumber
daya manusia, Pengawasan pendahuluan bahan-bahan, Pengawasan
pendahuluan modal dan Pengawasan pendahuluan sumber-sumber daya
financial.
2. Pengawasan pada saat kerja berlangsung(cocurrent control)
Pengawasan yang terjadi ketika pekerjaan dilaksanakan. Memonitor
pekerjaan yang berlangsung guna memastikan bahwa sasaran-sasaran telah
dicapai. Concurrent control terutama terdiri dari tindakan-tindakan para supervisor
yang mengarahkan pekerjaan para bawahan mereka.
Direction berhubungan dengan tindakan-tindakan para manajer sewaktu
mereka berupaya untuk :
 Mengajarkan para bawahan mereka bagaimana cara penerapan metode¬-
metode serta prosedur-prsedur yang tepat.
 Mengawasi pekerjaan mereka agar pekerjaan dilaksanakan sebagaimana
mestinya.
3. Pengawasan Feed Back (feed back control)
Pengawasan Feed Back yaitu mengukur hasil suatu kegiatan yang telah
dilaksakan, guna mengukur penyimpangan yang mungkin terjadi atau tidak sesuai
dengan standar.
Pengawasan yang dipusatkan pada kinerja organisasional dimasa lalu.
Tindakan korektif ditujukan ke arah proses pembelian sumber daya atau operasi-
operasi aktual. Sifat kas dari metode-metode pengawasan feed back(umpan balik)
adalah bahwa dipusatkan perhatian pada hasil-hasil historikal, sebagai landasan
untuk mengoreksi tindakan-tindakan masa mendatang.
Adapun sejumlah metode pengawasanfeed back yang banyak dilakukan
oleh dunia bisnis yaitu:
 Analysis Laporan Keuangan (Financial Statement Analysis)
Analisis Biaya Standar (Standard Cost Analysis)
 Pengawasan Kualitas (Quality Control)
 Evaluasi Hasil Pekerjaan Pekerja (Employee Performance Evaluation)

C. Tahap-Tahap Proses Pengawasan


Tahap Proses Pengawasan :
1. Tahap Penetapan Standar
Tujuannya adalah sebagai sasaran, kuota, dan target pelaksanaan
kegiatan yang digunakan sebagai patokan dalam pengambilan keputusan. Bentuk
standar yang umum yaitu :
a. Standar phisik
b. Standar moneter
c. Standar waktu
2. Tahap Penentuan Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan
Digunakan sebagai dasar atas pelaksanaan kegiatan yang dilakukan
secara tepat.
3. Tahap Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan
Beberapa proses yang berulang-ulang dan kontinue, yang berupa atas,
pengamatan, laporan, metode, pengujian, dan sampel.
4. Tahap Pembandingan Pelaksanaan dengan Standar dan Analisa
Penyimpangan
Digunakan untuk mengetahui penyebab terjadinya penyimpangan dan
menganalisanya mengapa bisa terjadi demikian, juga digunakan sebagai alat
pengambilan keputusan bagai manajer.
5. Tahap Pengambilan Tindakan Koreksi
Bila diketahui dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan, dimana
perlu ada perbaikan dalam pelaksanaan.
Menurut Kadarman (2001, hal. 161) langkah-langkah proses pengawasan
yaitu:
a. Menetapkan Standar
Karena perencanaan merupakan tolak ukur untuk merancang pengawasan, maka
secara logis hal irri berarti bahwa langkah pertama dalam proses pengawasan
adalah menyusun rencana. Perencanaan yang dimaksud disini adalah
menentukan standar.
b. Mengukur Kinerja
Langkah kedua dalam pengawasan adalah mengukur atau mengevaluasi kinerja
yang dicapai terhadap standar yang telah ditentukan.
c. Memperbaiki Penyimpangan
Proses pengawasan tidak lengkap jika tidak ada tindakan perbaikan terhadap
penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.
Menurut G. R. Terry dalam Sukama (1992, hal. 116) proses pengawasan
terbagi atas 4 tahapan, yaitu:
1. Menentukan standar atau dasar bagi pengawasan.
2. Mengukur pelaksanaan
3. Membandingkan pelaksanaan dengan standar dan temukanlah perbedaan jika
ada.
4. Memperbaiki penyimpangan dengan cara-cara tindakan yang tepat.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa proses pengawasan
dilakukan berdasarkan beberapa tahapan yang harus dilakukan.
• Menetapkan standar pelaksanaan (perencanaan) sehingga dalam melakukan
pengawasan manajer mempunyai standard yang jelas.
• Penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan mengukur kinerja pegawai, sejauh
mana pegawai dapat menerapkan perencanaan yang telah dibuat atau ditetapkan
perusahaan sehingga perusahaan dapat mencapai tujuannya secara optimal.
• Pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standard dan penganalisa
penyimpangan-penyimpangan
• Pengambilan tindakan koreksi melakukan perbaikan jika ditemukan
penyimpangan¬-penyimpangan yang terjadi.

D. Pentingnya Pengawasan
Suatu prganisasi akan berjalan terus dan semakin komplek dari waktu ke
waktu, banyaknya orang yang berbuat kesalahan dan guna mengevaluasi atas
hasil kegiatan yang telah dilakukan, inilah yang membuat fungsi pengawasan
semakin penting dalam setiap organisasi. Tanpa adanya pengawasan yang baik
tentunya akan menghasilkan tujuan yang kurang memuaskan, baik bagi
organisasinya itu sendiri maupun bagi para pekerjanya.
Ada beberapa alasan mengapa pengawasan itu penting, diantaranya
a. Perubahan lingkungan organisasi
Berbagai perubahan lingkungan organisasi terjadi terus-menerus dan tak
dapat dihindari, seperti munculnya inovasi produk dan pesaing baru,
diketemukannya bahan baku baru dsb. Melalui fungsi pengawasannya manajer
mendeteksi perubahan yang berpengaruh pada barang dan jasa organisasi
sehingga mampu menghadapi tantangan atau memanfaatkan kesempatan yang
diciptakan perubahan yang terjadi.
b. Peningkatan kompleksitas organisasi
Semakin besar organisasi, makin memerlukan pengawasan yang lebih formal
dan hati-hati. Berbagai jenis produk harus diawasi untuk menjamin kualitas dan
profitabilitas tetap terjaga. Semuanya memerlukan pelaksanaan fungsi
pengawasan dengan lebih efisien dan efektif.

c. Meminimalisasikan tingginya kesalahan-kesalahan


Bila para bawahan tidak membuat kesalahan, manajer dapat secara
sederhana melakukan fungsi pengawasan. Tetapi kebanyakan anggota organisasi
sering membuat kesalahan. Sistem pengawasan memungkinkan manajer
mendeteksi kesalahan tersebut sebelum menjadi kritis.
d. Kebutuhan manager untuk mendelegasikan wewenang
Bila manajer mendelegasikan wewenang kepada bawahannya tanggung
jawab atasan itu sendiri tidak berkurang. Satu-satunya cara manajer dapat menen-
tukan apakah bawahan telah melakukan tugasnya adalah dengan
mengimplementasikan sistem penga-wasan.

E. Perancangan Proses Pengawasan


Wiliam H. Newman menetapkan prosedure sistem pengawasan dimana
dikemukakan 5 jenis pendekatan, yaitu:
1) Merumuskan hasil yang di inginkan yang dihubungkan dengan individu yang
melaksanakan.
2) Menetapkan penunjuk hasil dengan tujuan untuk mengatasi dan memperbaiki
penyimpangan sebelum kegiatan diselesaikan, yaitu dengan:
• Pengukuran input
• Hasil pada tahap awal
• Gejala yang dihadapi
• Kondisi perubahan yang diasumsikan
3) Menetapkan standar penunjuk dan hasil dihubungkan dengan kondisi yang
dihadapi.
4) Menetapkan jaringan informasi dan umpan balik dimana komunikasi pengawasan
didasarkan pada prinsip manajemen by excetion yaitu atasan diberi informasi bila
terjadi penyimpangan pada standar.
5) Menilai informasi dan mengambil tindakan koreksi
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diambil satu kesimpulan bahwa
proses pengawasan merupakan hal penting dalam menjalankan kegiatan
organisasi, oleh karena itu setiap pimpinan harus dapat menjalankan fungsi
pengawasan sebagai salah satu fungsi manajemen.
Pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan organisasi akan memberikan implikasi
terhadap pelaksanaan rencana, sehingga pelaksanaan rencana akan baik jika
pengawasan dilakukan secara baik, dan tujuan baru dapat diketahui tercapai
dengan baik atau tidak setelah proses pengawasan dilakukan. Dengan demikian
peranan pengawasan sangat menentukan baik buruknya pelaksanaan suatu
rencana.
Mengenai pentingnya pelaksanaan pengawasan untuk mensukseskan
rencana, Winardi (2000:172) mengungkapkan bahwa: “pengawasan berarti
membuat sesuatu terjadi, sesuai dengan apa yang menurut rencana akan terjadi.
Perencanaan dan pengawasan boleh dikatakan tidak dapat kita pisahkan satu
sama lain, dan mereka ibarat: kembar siam dalam bidang manajemen”.

F. Bidang-bidang Pengawasan Strategik


Bidang strategik yang dapat membuat organisasi secara keseluruhan
mencapai sukses yaitu :
• Transaksi Keuangan
o Analisis Laporan Keuangan (Financial Statement Analysis)
Analisa laporan keuangan merupakan proses yang penuh pertimbangan dalam
rangka membantu mengevalusi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan
pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan untuk menentukan estimasi
dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada
masa mendatang.
o Manajemen Kas (Cash Management)
o Pengelolaan Biaya (Cost Control)
• Hubungan Manajer dan Bawahan
Hubungan antara manager dan bawahan juga harus baik dan terjaga. Sebisa
mungkin ada hubungan 2 arah antara manager dan bawahan, bukan hubungan
searah dimana manager terus-terusan memberi perintah kepada bawahan tanpa
mau mendengar keluhan dan perasaan bawahannya. Bila ada hubungan
harmonis seperti keluarga dalam suatu perusahaan maka akan tercipta team kerja
yang solid dan kuat dalam menjalankan perusahaan.

G. Pengawasan Pelaksanaan Pembangunan


Pemantauan dan pengawasan pembangunan pada dasarnya merupakan rangkaian
kegiatan yang memiliki obyek yang sama, yakni mengikuti perkembangan pelaksanaan
pembangunan agar senantiasa sesuai dengan rencana. Dalam banyak literatur, kedua
kegiatan itu tidak dipisahkan. Tapi dalam pembahasan ini dilakukan pemisahanuntuk
menunjukkan adanya \ dua kegiatan yang serupa tetapi tidak harus selalu sama, atau
masing-masing dilakukan oleh lembaga atau unit organisasi yang berbeda. Menurut Steiss
(1982), salah satu fungsi pengawasan adalah meningkatkan
kebertanggungjawaban (accountability) dan keterbukaan(transparancy) sektor publik.
Pengawasan pada dasarnya berfungsi menekankan langkah-langkah pembenahan
atau koreksi (correctiveactions) jika dalam suatu kegiatan terjadi kesalahan atau perbedaan
dari tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan (Fayol, 1949; Jerome, 1961; Koonts dan
O’Donnell, 1968). Langkah-langkah pembenahan dari fungsi pengawasan sering kali lebih
dititik beratkan pada penanganan sumber-sumber dana (financial resources) agar sesuai
dengan peraturan yang berlaku dan untuk lebih meningkatkan efektivitas dan efisiensi
kegiatan secara menyeluruh (Anthony, 1965).Mockler (1972) menyatakan bahwa langkah-
langkahpengawasan seyogyanya lebih ditekankan pada hal-hal yang positif dan bersifat
pencegahan.
Untuk itu pengawasan memerlukan suatu standar kinerja atau indikator yang dapat
digunakan sebagai pembanding atau referensi dari kinerja aktualnya. Penentuan standar
kinerja bagi pengawasan ini membutuhkan masukan dan peran serta para pelaksana di
lapangan sehingga dapat dihasilkan suatu standar yang realistik dan akurat. Dengan
dasar argumen yang sama, Literer (1973) juga menyarankanpenggunaan standar kinerja
sebagai kerangka acuan (frame of reference) kegiatan. Pelaksanaan pembangunan pada
hakikatnya melibatkan tiga faktor, yaitu :
1. Manusia dengan beragam perilakunya
2. Faktor dana yang tergantung pada kemampuan keuangan Negara.
3. Faktor alam yang sulit diramalkan.
Oleh karena itu penyimpangan-penyimpangan dalam melaksanakan
pembangunan mungkin saja dapat terjadi. Dalam hal ini pengawasan perlu dilakukan
sehingga penyimpangan secara lebih dini dapat segera diketahui, guna menghindari
kerugian yang lebih besar. Keberhasilan sebuah rencana biasa diukur menurut tingkat
penyimpangan antara yang telah direncanakan dan apa yang dicapai, baik dari sudut
pencapaian sasaran, waktu, manfaat, maupun aturannya.
Pengawasan pelaksanaan pembangunan pada dasarnya merupakan rangkaian
kegiatan untuk mengikuti perkembangan pelaksanaan pembangunan dan menindaklanjuti
agar kegiatan pembangunan senantiasa sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Dalam
pengertian ini pengawasan termasuk pula mengarahkan dan mengkoordinasikan antar
kegiatan dalam pelaksanaan proyek-proyek agar pemborosan dan penyelewengan dapat
dicegah. Dengan demikian, kegiatan pengawasan harus bersifat obyektif, serta dapat
mengungkapkan fakta-fakta tentang pelaksanaan suatu pekerjaan. Sifat obyektif ini
meliputi unsur teknis dan administratif. Obyektif secara teknis misalnya, apakah pekerjaan
bangunan beton telah mengikuti spesifikasi teknis dan prosedur pekerjaan yang telah
ditentukan; sedangkan obyektif secara administrative misalnya, apakah suatu pekerjaan
telah mengikuti prosedur administratif yang baik dan benar sesuai peraturan yang berlaku.
Pengawasan bukan merupakan suatu tujuan, melainkan sarana untuk meningkatkan
efisiensi dalam melaksanakan kegiatan. Di dalamnya termasuk unsur pencegahan terhadap
penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi. Oleh karena itu, kegiatan
pengawasan tidak hanya dilakukan dalam tahap pelaksanaan. Artinya aspek pengawasan
telah masuk selagi proyek-proyek pembangunan masih dalam tahap perencanaan. Kegiatan
pengawasan bukan semata-mata mencari siapa yang bersalah, tetapi apa yang salah dan
mengapa kesalahan itu terjadi. Sehingga dalam kegiatan pengawasan ada unsur
membimbing dan mendidik terhadap pelaksana pembangunan untuk meningkatkan
kemampuan dan profesionalismenya. Pengawasan merupakan unsur yang pokok bagi
setiap manajemen, termasuk manajemen pembangunan. Dalam sistem administrasi negara,
pengawasan ada hirarkinya,sesuai dengan tingkatan dan ruang lingkupnya.
Pengawasan bersifat berjenjang dan dapat dilakukan sebagai bagian dari kegiatan
yang organik dari dalam dan dari luar. Oleh karena itu, dikenal adanya pengawasan internal
dan eksternal. Johnson, Kast, dan Rosenzweig (1973) membagi sistem pengawasan ke
dalam: (1) pengawasan organisasional dan (2) pengawasan operasional. Pengawasan
organisasional adalah sistem pengawasan umum yang menilai kinerja keseluruhan dari
suatu kegiatan di dalam organisasi. Standar pengukuran yang lazim digunakan bagi
pengawasan jenis ini adalah pengukuran efektivitas (measurement of effectiveness) dari
kegiatan tersebut.
Dari hasil pengukuran effektivitas tersebut, umpan balik yang dihasilkan dapat
digunakan untuk mengevaluasi tujuan dan sasaran, merumuskan perencanaan tahap
berikutnya, serta memperbaiki petunjuk pelaksanaan kegiatan(standard operating
procedures). Sedangkan pengawasan operasional adalah system pengawasan yang
digunakan untuk mengukur kinerja harian suatu kegiatan dan memberikan langkah-
langkah koreksi langsung (immediate corrective actions).
Johnson, Kast, dan Rosenzweig (1973) juga menguraikan fungsi pengawasan
dengan mengidentifikasikan empat unsur pokok pengawasan. Unsur-unsur tersebut
meliputi :
(1) Penentuan standar kinerja
(2) Perumusan instrumen pengawasan yang dapat dipergunakan dalam mengukur kinerja suatu
kegiatan
(3) Pembandingan hasil aktual dengan kinerja yang diharapkan.
(4) Pengambilan langkah-langkah pembenahan atau koreksi.
Dalam konsep pengawasan ada unsur yang mengawasi dan diawasi. Di sini, selain
kriteria pelaksanaan \ (proyek) pembangunan yang ditetapkan dalam
rancangannya (project design), terlihat pula segi penegakan norma-norma etika.Misalnya,
sasaran tidak tercapai apakah karena keadaan yang berubah dari semula, karena kelalaian
pelaksanaan atau ada unsur kesengajaan untuk keuntungan pelakunya.
Pengawasan dengan demikian mengandung makna penegakan hukum dan disiplin.
Pengawasan dapat menghasilkan keputusan untuk melakukan koreksi dan perbaikan dalam
penyelenggaraan pembangunan, dan dapat pula menghasilkan sanksi sesuai hukum yang
berlaku. Fungsi pengawasan tidak berdiri sendiri. Kast dan Rosenzweig (1979), Albanese
(1975), dan Gannon (1977) menekankan pentingnya hubungan perencanaan dan
pengawasan. Perencanaan memberikan kerangka acuan bagi proses pengawasan, dan hasil
dari pengawasan seperti juga pemantauan merupakan umpan balik bagi proses perencanaan
dan pelaksanaan pada tahap berikutnya.
Karakteristik perencanaan juga mempengaruhi proses pengawasan. Perencanaan
tentang suatu permasalahan yang kompleks dan bersifat multisektoral, misalnya, memiliki
lebih banyak stakeholders. Sehingga sistem pengawasan yang dibutuhkan, selain dapat
mengawasi kegiatan-kegiatan yang lazim dilakukan dalam suatu kegiatan, juga dapat
membantu melancarkan koordinasi antarsektor. Demikian pula perencanaan jangka
panjang membutuhkan aplikasi pengawasan yang berbeda dengan perencanaan jangka
menengah dan jangka pendek. Suatu pengawasan yang efektif membutuhkan tidak saja
norma-norma etika tetapi juga sistem informasi yang memadai. Kebutuhan informasi
menjadi sangat penting artinya untuk menilai situasi dan kondisi yang melingkupi suatu
isu dan mengevaluasi alternatif langkahlangkah selanjutnya.
Dari pembahasan diatas bahwa fungsi pengawasan termasuk fungsi yang sangat
penting, karena tindakan pengawasan sangat membantu mengurangi penyimpangan dan
pemborosan yang dilakukan pegawai dalam organisasi sertas berusaha untuk mencari jalan
pemecahannya.
Menurut Winardi (2000 : 589) fungsi pengawasan adalah sebagai berikut: Fungsi
pengawasan mencakup tindakan mengimplementasikan metode-metode yang menjawab 3
(tiga) buah pertanyaan dasar yaitu :
1. Apakah hasil yang direncanakan dan yang diekspektasikan ?
2. Dengan alat-alat apakah hasil aktual dapat dibandingkan dengan hasil yang
diekspektasikan ?
3. Tindakan-tindakan korektif apakah diperlukan dari orang yang diberi kekuasaan untuk itu ?

Fungsi
pengawasan dapat dibagi 3 macam tipe dasar fokus aktivitas pengawasan, sebagaimana
pada gambar berikut ini :
Gambar berikut melukiskan ketiga macam tipe yang dimaksud :
Gambar 2.1 Fungsi Pengawasan (Winardi, 2000 : 589)

Perencanaan dan pengawasan adalah kegiatan yang saling berkaitan, dengan


rencana menyediakan kerangka kerja untuk tahap pengawasan manajerial itu. Maka
indikator yang dipergunakan dalam penulisan ini adalah berdasarkan (Winardi, 2000:589),
bahwa dalam pengawasan diperlukan supervisi, monitoring dan evaluasi. yang pada intinya
pengawasan adalah bagian dari manajemen dimana manajemen adalah proses perencanaan,
pengorganisasian, pengerahan dan pengawasan usaha-usaha organisasi dan penggunaan
sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah
ditetapkan, seperti diutarakan oleh Stoner (dalam Handoko,1999 : 8).

DAFTAR PUSTAKA

Ginandjar. Administrasi Pembangunan Perkembangan Pemikiran dan Praktiknya di Indonesia.


Jakarta : LP3ES.

Sumbr Media :
http://www.google.com. Search. Fungsi Pengawasan Administrasi Pembangunan. Diunduh pada
tanggal 15 November 2010 pada jam 13.25 Wita.

http:\\www.anakciremai.com/makalah-manajemen-tentang-dasar-dan.html

http:\\www.elearning.gunadarma.ac.id//bab7_dasar_dan_teknik_pengawasan\

http:\\www.juwita.staff.gunadarma.ac.id
Pengawasan Pembangunan
A. Latar Belakang Permasalahan
Laporan pertanggungjawaban Bupati adalah merupakan tanggung jawab penyelenggaraan
seorang Kepala Daerah kepeda rakyatnya, hanya dalam pelaksanaan pertanggungjawabanya didepan
legislatif. Laporan pertanggungjawaban Bupati Kabupaten X tahun 2009 ternyata menimbulkan banyak
pertanyaan dari anggota legislatif, hal ini dikarenakan banyaknya ketidak sesuaian antara rencana/
program yang disepakati bersama dengan realisasi program.
Berbagai alasan disampaikan oleh Bupati diantaranya sebagian dana dialokasikan pada pelebaran
jalan Mahadewa yang menelan anggaran sangat banyak. Fokus pertanggung jawaban ini pada satu bidang
yaitu pembangunan pelebaran jalan Mahadewa yang dalam realisasinya jauh melebihi target program
yaitu Rp 1.500.000.000,00, yang ternyata belum ada dalam rencana anggaran pemerintah daerah.

B. Analisis Permasalahan dengan Teori


1. Kajian Tugas, Wewenang Kepala Daerah dan DPRD
Pada Pasal 25 UU (Undang-Undang) Nomor 32 Tahun 2004 disebutkan bahwa Kepala Daerah
mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut.
a. Memimpin penyelenggaraan pemerintah daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD
(Dewan perwakilan Rakyat Daerah)
b. Mengajukan rancangan Perda (Peraturan Daerah)
c. Menetapkan perda yang telah mendapat persetujuan bersama DPRD
d. Menyusun dan mengajukan rancangan Perda tentang APBD (Anggaran Perencanaan Belanja Daerah)
kepada DPRD untuk dibahas dan ditetapkan bersama
e. Mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah
f. Mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan, dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya
sesuai dengan peraturan perundang-undangan
g. Melaksanakan tugas dan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Seperti yang dipaparkan dalam pasal 25 UU Nomor 32 Tahun 2004 disebutkan bahwa Kepala Daerah
mempunyai tugas dan wewenang menyusun, mengajukan dan menetapkan APBD. Akan tetapi itu tidak
bisa dilakukan sewenang-wenang oleh Kepala Daerah, akan tetapi dilakukan bersama dengan persetujuan
DPRD.

DPRD mempunyai tugas dan wewenang yang diatur dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 62 dan 78,
yaitu:
a. Membentuk Perda yang dibahas dengan Kepala Daerah untuk mendapat persetujuan Bersama
b. Menetapkan APBD bersama dengan Kepala Daerah
c. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda, peraturan perundang-undangan lainnya,
Keputusan Kepala Daerah, APBD, kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program
pembangunan daerah, dan kerjasama internasional di daerah
d. Mengusulkan Pengangkatan dan pemberhentian Kepala Dearah/ Wakil Kepala Daerah kepada Presiden
melalui Menteri Dalam Negeri bagi DPRD Provinsi, dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur
bagi DPRD kabupaten/ kota
e. Memberikan pendapat dan pertimbangan kepada pemerintah daerah terhadap rencana perjanjian
internasional yang menyangkut kepentingan daerah
f. Meminta laporan keterangan pertanggung jawaban Kepala Daerah dalam pelaksanaan tugas
desentralisasi.
Dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 62 dan 78, menunjukan bahwa DPRD juga mempunyai peran
dalam pembentukan, penetapan dan pengawasan APBD. Pengawasan terkait keputusan kepala daerah
dan kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program pembangunan daerah. Serta meminta
laporan keterangan pertanggungjawaban Kepala Daerah dalam pelaksanaan tugas desentralisasi. Hal ini
berarti DPRD mempunyai peran penting dan strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah
terkait perencanaan dan pengawasan anggaran daerah.

Sebagai unsur penyelenggara pemerintah daerah, DPRD mempunyai peran untuk membuat kebijakan
berupa pengaturan dalam bentuk peraturan daerah (fungsi legislasi atau fungsi pengaturan), fungsi
anggaran, dan fungsi pengawasan politik. Sebagai wakil rakyat, DPRD mempunyai fungsi mewakili
kepentingan masyarakat apabila berhadapan dengan pihak eksekutif maupun pihak supra daerah, serta
fungsi advokasi yaitu melakukan agregasi aspirasi masyarakat.
2. Aspek Hubungan Kerja antara Kepala Daerah dan DPRD
Ada beberapa prinsip dasar dalam hubungan kerja antara Kepala Daerah dan DPRD, yaitu bahwa
kebijakan mengenai uang, orang, barang, dan tata ruang harus dibicarakan antara Kepala Daerah dengan
DPRD sebagai wakil rakyat. Sekurang-kurangnya ada enam aspek hubungan antara Kepala Daerah dan
DPRD yang secara nyata terjadi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, yaitu:
a. Penyusunan kebijakan daerah
b. Penyusunan APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah)
c. Kebijakan strategis kepegawaian
d. Kebijakan strategis pengelolaan barang
e. Laporan keterangan pertanggungjawaban
f. Kebijakan pengawasan pelaksanaan peraturan perundang-undangan dan anggaran
Dari permasalahan yang terjadi di kabupaten X, berkaitan dengan penyusunan APBD, laporan
keterangan pertanggungjawaban, dan kebijakan pengawasan pelaksanaan anggaran.
a) Hubungan dalam Perumusan Anggaran Daerah
Ada 3 kebijakan rutin dalam perumusan anggaran daerah yang perlu dibahas bersama antara Kepala
Daerah dan DPRD, yaitu:
- Perda APBD
- Perda Perhitungan APBD
- Perda Perubahan APBD.

Di luar yang rutin tersebut masih perlu disusun Perda tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah
sesuai peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya. Kebijakan lainnya dalam
perumusan anggaran daerah adalah mengenai penggunaan anggaran untuk keadaan mendesak dan
keadaan darurat yang mungkin belum tersedia dalam APBD.
Dalam hubungan kewenangan berkaitan dengan APBD, DPRD memiliki ‘senjata pamungkas’, berupa
penolakan pembahasan terhadap rancangan APBD yang diajukan oleh Kepala Daerah apabila terdapat
perbedaan yang sangat prinsipil antara lain KUA (Kebijakan Umum APBD) yang telah disepakati
sebelumnya ternyata tidak dijabarkan secara tepat, ataupun karena perhitungan anggaran tahun
sebelumnya belum selesai sehingga mengganggu prognosa kekuatan keuangan daerah.
Gambar 1.1 Proses Penyusunan APBD (PP No. 58/ 2005)
Prinsip-prinsip hubungan kerja dalam bidang pembuatan kebijakan keuangan daerah antara lain sebagai
berikut:
- Prinsip Keterbukaan
- Prinsip mengutamakan kepentingan rakyat sebagai pemilik kedaulatan
- Prinsip tanggung jawab dan tanggung gugat
b) Hubungan dalam Pengawasan dan Politik Daerah
Salah satu fungsi penting DPRD dalam penyelenggaraan pemerintahan adalah fungsi pengawasan, yang
seringkali kurang memperoleh perhatian. Fungsi pengawasan DPRD lebih bersifat pengawasan politik dan
kebijakan, bukan pengawasan teknis fungsional, karena fungsi tersebut dijalankan oleh instansi-instansi
pengawasan fungsional seperti Itjen (Inspektorat Jenderal), BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), Bawasda
(Badan Pengawas Keuangan Daerah), BPKP (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan).
3. Analisis permasalahan
Permasalan yang terjadi di kabupaten X tentu sudah jelas, bahwa Kepala Daerah melakukan
pelanggaran peraturan perundang-undangan terkait penyusunan, penetapkan, dan realisasi APBD seperti
dalam UU nomor 32 tahun 2004. Karena Kepala daerah merealisasikan anggaran daerah yang tidak ada
dalam APBD. Ini menunjukan Kepala Daerah menyalahgunakan wewenangnya dalam penetapan APBD
tanpa pertimbangan dan persetujuan dari DPRD. Kepala daerah juga terindikasi melakukan korupsi
anggaran daerah, karena menggunakan anggaran daerah tidak sesuai dengan APBD.
C. Penyebab Permasalahan
Permasalahan yang terjadi di kabupaten X dikarenakan beberapa hal sebagai berikut:
1. Kurangnya kompetensi dan tanggung jawab Kepala Daerah terhadap tugas dan wewenangnya seperti dalam
Pasal 25 UU Nomor 32 Tahun 2004.
2. Penyalahgunaan wewenang oleh Kepala Daerah penyusunan, penetapkan, dan realisasi APBD.
3. Kurangnya kompetensi dalam penggunaan Diskresi Jabatan Kepala Daerah
4. Pengawasan yang buruk dalam realisasi APBD terkait penggunaan anggaran daerah
Permasalahan di kabupaten X terjadi karena Kepala Daerah sewenang-wenang dalam mengalokasikan
anggaran daerah pada program yang tidak ada dalam APBD. Perubahan anggaran dapat dilakukan
sepanjang memenuhi kriteria kriteria perubahan APBD, seperti:
a. Perkembangan yang tidak sesuai dengan Kebijakan Umum APBD (KUA), yaitu:
- Perubahan asumsi ekonomi makro terhadap kemampuan fiskal daerah
- Pelampauan atau tidak tercapainya proyeksi pendapatan daerah
- Faktor yang menyebabkan terjadinya peningkatan belanja daerah
- Kebijakan pembiayaan yang harus dilakukan perubahan APBD
b. Penggunaan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya, antara lain untuk:
- Membayar bunga, pokok utang, dan atau obligasi
- Mendanai gaji dan tunjangan PNS (Pegawai Negeri Sipil)
- Mendanai kegiatan lanjutan (DPA-L)
- Mendanai program dan kegiatan baru dengan kriteria harus diselesaikan sampai dengan batas akhir
penyelesaian pembayaran dalam tahunanggaran berjalan
- Mendanai kegiatan yang capaian target kinerjanya itingkatkan dari yang telah ditetapkan semula dalam
DPA-SKPD tahun anggaran berjalan yang dapat diselesaikan sampai dengan batas akhir penyelesaian
pembayaran dalam tahun anggaran berjalan.
c. Keadaan darurat
Keadaan darurat yang di maksud adalah suatu kondisi yang sekurang-kurangnya memenuhi kriteria
yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 pasal 81 ayat 3, yaitu:
- Bukan merupakan kegiatan normal aktivitas pemerintah daerah dan tidak dapat diprediksi sebelumnya
- Tidak diharapkan terjadi secara berulang
- Berada di luar kendali dan pengaruh pemerintah daerah
- Memiliki dampak yang signifikan terhadap anggaran dalam rangka pemulihan yang disebabkan oleh
keadaan yang darurat

D. Analisis Fungsi Pengawasaan


Pada dasarnya pengawasan fungsional dilakukan secara bergantian oleh beberapa instansi, yaitu:
- Itjen (Inspektorat Jenderal)
- Bawasda (Badan Pengawas Keuangan Daerah)
- BPKP (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan)
- BPK (Badan Pemeriksa Keuangan).
Salah satu fungsi penting DPRD dalam penyelenggaraan pemerintahan adalah fungsi pengawasan,
yang seringkali kurang memperoleh perhatian. Fungsi pengawasan DPRD lebih bersifat pengawasan
politik dan kebijakan, bukan pengawasan teknis fungsional seperti yang dijalankan oleh instansi-instansi
pengawasan fungsional diatas.
DPRD mempunyai tugas dan wewenang yang diatur dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 62 dan
78, salah satunya adalah melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda, peraturan perundang-
undangan lainnya, Keputusan Kepala Daerah, APBD, kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan
program pembangunan daerah, dan kerjasama internasional di daerah. Tugas dan wewenang tersebut,
berimplikasi pada hubungan kerja antara DPRD dengan Kepala Daerah, terkait kebijakan pengawasan
pelaksanaan peraturan perundang-undangan dan anggaran.
Akan tetapi dalam kenyataannya Pengawasan yang dilakukan oleh DPRD terhadap Kepala Daerah
terkait realisasi anggaran dalam APBD tidak optimal. Ini dikarenakan budaya di indonesia yang Kepala
Daerah cenderung mengintervensi DPRD.
Karena pada dasarnya tidak ada seorangpun Kepala Daerah yang menginginkan peranan DPRD lebih
menonjol sehingga mengendalikan dirinya. Intervensi yang dimaksud juga dikarenakan berbagai berbagai
faktor dan hal seperti:
1. Keterbatasan anggaran, karena anggaran DPRD ditentukan oleh Kepala Daerah
2. Keterbatasan kualitas sumber daya manusia, karena anggota DPRD berasal dari berbagai latar belakang
keilmuan, pengalaman, dan keanggotaan yang bersifat temporer (Hanya Lima Tahunan)
3. Sekretariat DPRD juga bermasalah karena dari aspek kepegawaian dikendalikan oleh Kepala Daerah
4. Iklim politik yang selama ini menonjolkan peranan eksekutif.
Karena intervensi dari Kepala Daerah tersebut, menyebabkan DPRD tidak bisa melaksanakan tugas
dan wewenangnya sebagai pengawas anggaran daerah dengan optimal. Selain karena intervensi dari
Kepala Daerah terhadap DPRD, pengawasan kurang berjalan dengan baik juga dikarenakan konflik yang
terjadi antara Kepala Daerah dengan DPRD dalam bidang pengawasan. Konflik dalam bidang pengawasan
tersebut, disebabkan oleh beberapa hal antara lain:
- Pihak eksekutif bersifat tertutup dalam permintaan data dan informasi yang dibutuhkan oleh DPRD,
sehingga menimbulkan kecurigaan
- Kepala daerah sama sekali tidak menindaklanjuti berbagai rekomendasi hasil pengawasan yang dilakukan
DPRD, sehingga DPRD merasa tidak dihargai.
Dari internal DPRD sendiri juga terdapat Hambatan dalam Melaksanakan Fungsi Pengawasan,
diantaranya seperti:
 Belum tersusunnya agenda pengawasan DPRD

 Belum adanya Standar, Sistem, dan Prosedur baku pengawasan DPRD


Realisasi anggaran yang tidak sesuai dengan APBD di kabupaten X juga terjadi karena belum
optimalnya partisipasi masyarakat dalam pengawasan. Yang seharusnya masyarakat aktif berpartisipasi
dalam pengawasan anggaran daerah melalui DPRD, untuk menanggulangani penyelewengan anggaran,
belumlah terlaksana.
E. Kajian Perencanaan
Dalam menyusun anggaran daerah (APBD), langkah penting yang harus dilakukan adalah
memperhatikan urusan pemerintah yang menjadi kewenangan daerah disikapi sebagai satu kesatuan
dalam sistem perencanaan nasional yaitu Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP-D),
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM-D), dan Rencana Pembangunan Jangka Pendek
yang sering disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKP-D).
Dalam sinkronisasi perencanaan pembangunan dan penganggaran harus menjamin adanya keterkaitan
dan konsistensi antara perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan dan evaluasi serta pengendaliannya.
Permasalahan perencanaan yang terjadi di kabupaten X, pada dasarnya dari pihak Kepala daerah
kurang memperhatikan dan mentaati peraturan dalam:
- Kebijakan Umum APBD (KUA)
KUA merupakan sasaran dan kebijakan pemerintah dalam satu tahun anggaran yang menjadi petunjuk
dan ketentuan umum yang disepakati sebagai pedoman penyusunan Rencana APBD dan Rencana
Perubahan APBD.
- Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS).
PPAS merupakan Program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD
(Satuan Kerja Perangkat Daerah) untuk setiap program dan kegiatan sebagai acuan dalam menyusun RKA-
SKPD. PPAS setelah disepakati oleh DPRD, dimuat dalam nota kesepakatan antara Kepala Daerah dengan
Pimpinan DPRD.

F. Solusi Permasalahan
Dalam mengevaluasi pencapaian tujuan APBD secara khusus, terdapat 2 tujuan, yaitu:
- Optimalisasi pendapatan daerah
- Menjaga alokasi belanja yang efektif dan efisien.
Tujuan ini dicapai dengan meminimalkan resiko-resiko penyimpangan yang ada, baik pada sisi
penerimaan, maupun pada sisi belanja daerah.
Dan untuk mencapai tujuan itu, diperlukan upaya-upaya sebagai berikut:
1. Membuat Jaringan Kerjasama dengan Institusi Pengawasan
Lembaga pengawasan seperti Itjen, BPK, BPKP merupakan aparat pengawasan yang secara teknis ahli
dalam melakukan pemeriksaan (audit). Keahlian ini jarang dimiliki oleh para wakil rakyat yang mempunyai
kewenangan konstitusional dalam bidang pengawasan. Oleh karena itu, DPRD dapat menjalin kerjasama
dengan lembaga-lembaga ini untuk memberikan informasi seperti: laporan hasil pengawasan (Laporan
Hasil Audit).
Selanjutnya DPRD menyampaikan kepada pemerintah daerah untuk menindaklanjuti hasil pengawasan
tersebut.
2. Peran Serta Pengawasan Masyarakat
Untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pengawasan, DPRD dapat melakukan beberapa hal
seperti:
a. Membentuk komunitas atau forum pengawasan parlemen diberbagai kalangan dan tingkatan
b. Mengadakan pertemuan-pertemuan rutin dengan komunitas atau forum-forum tersebut, untuk
mendiskusikan berbagai persoalan dan berbagai informasi yang relevan dengan fungsi pengawasan
c. Merancang Perda yang mengatur tentang transparansi dan partisipasi publik yang mendorong
penyelenggaraan pemerintahan dilakukan secara transparan dan dengan partisipasi masyarakat
d. Meningkatkan kerjasama dengan pihak terkait terutama media masa, organisasi profesioanl, LSM
(Lembaga Swadaya Masyarakat), dan lembaga peradilan.
3. Anggaran Berbasis Kinerja
Anggaran berbasis kinerja maksudnya adalah sistem penyusunan dan pengelolaan anggaran daerah
yang berorientasi pada pencapaian hasil atau kinerja. Kinerja harus mencerminkan efektivitas dan efisiensi
pelayanan publik, yang berarti berorientasi pada kepentingan publik (Mardiasmo, 2002:105)

DAFTAR PUSTAKA & REFERENSI

Buku:
Wasistiono, Sadu. 2009. Meningkatkan Kinerja Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Fokus Media. Bandung.

Peraturan Perundang-undangan:
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan, Pengelolaan, dan Pertanggungjawaban
Keuangan Negara.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
2.1. Pengertian Pengawasan

Menurut samsudin mengatakan bahwa pengawasan sumber daya manusia adalah kegiatan
manajemen dalam mengadakan pengamatan terhadap:[1]

1. Sumber daya manusia yang ada didalam organisasi;

2. Sumber daya manusia yang benar-benar dibutuhkan;

3. Pasaran sumber daya manusia yang ada dan memungkinkan;

4. Kualitas sumber daya manusia yang dimiliki dan yang ada dipasaran tenaga kerja;

5. Kemampuan individual dari setiap sumber daya manusia dalam organisasi;

6. Upaya meningkatkan sumber daya manusia dalam organisasi;

7. Semangat kerja sumber daya manusia, dsb.

Pengawasan sebagi salahsatu fungsi manajemen merupakan suatu proses yang tidak terputus
untuk menjaga agar pelaksanaan tugas, fungsi, dan wewenang tidak menyimpang dari aturan yang telah
ditetapkan dalam rangka mencapai tujuan organisasi.

Pengawasan pada hakikatnya harus menegakkan pilar-pilar efesiensi, efektivitas, dan


akuntabilitas serta sesuai aturan dan tepat sasaran. Pimpinan dalam melakukan pengawasan terhadap
kinerja anggota adalah untuk mengetahui pelaksanaan tugas ataupun pekerjaan yang dibebankan pada
anggotanya.

Samsudin menjelaskan bahwa “dengan memerhatikan beberapa aspek pengawasan sumber Daya
manusia, maka perlu adanya ketentuan-ketentuan stanndar minimaldalam berbagai aspek sebagai
pedoman tolak ukur . tolak ukur semacam ini penting untuk memungkinkan sasaran-sasaran yang
diinginkan pada setiap aspek da[at dicapai dengan baik dan terkendali.”

Pengawasan merupakan fungsi fundamental yang keempat dari fungsi manajemen. Pengawasan
dapat dianggap sebagai aktivitas untuk menemukan, mengoreksi penyimpangan-penyimpangan penting
dalam hasil yang dicapai dari aktivitas-aktivitas yang direncanakan. Pengawasan harus mengusahakan
terjadinya hal-hal tertentu maksudnya mencapai tujuan melalui aktivitas-aktivitas yang telah
direncanakan.

Menurut samsudin ketentuan standar minimal tolak ukur kinerja, antara lain:[2]

1. Jumlah personel yang harus ada dalam organisasi atau perusahaan yang bersangkutan untuk mencapai
sasaran yang ingin dicapai,

2. Kualitas kemampuan tenaga kerja yang bagaimana yang harus mengisi bagian dalam organisasidengan
segala jenis latar belakang pendidikannya,

3. Sasaran-sasaran apa saja pada tiap bagian yang ingin dicapai dan keterkaitan antara bagian-bagian
tersebut sehingga dalam mencapai sasaran organisasi dapat dilakukan secara sistematis,
4. Pola karier dari para pegawai dalam organisasi yang berpengaruh terhadap peningkatan prestasi kerja,
dsb.

Pengawasan disini lebih menekankan kepada penentuan apa yang sedang dilaksanakan dengan
cara menilai hasil atau prestasi kerja yang dicapai maupun bilamana diketemukan penyimpangan atas
standar kinerja yang telah di tetapkan pengawasan adalah suatu kegiatan positif, karena berfungsi
mengarahkan seluruh pelaksanaan pekerjaan guna mencapai sasaran organisasi secara sistematis.
Pengawasan dalam arti manajemen yang diformalkan tidak akan ada tanpa adanya perencanaan,
perorganisasian, dan menggerakan yang terjadi pada kegiatan sebelumnya.

Kegagalan suatu pengawasan merupakan kegagalan perencanaan dan keberhasilan perencanaan


tersebut adalah merupakan keberhasilan dari tindakan pengawasan tersebut. Pengawasan yang efektif
akan membantu usaha-usaha untuk mengatur pekerjaan yang direncanakan untuk memastikan bahwa
pelasanaan pekerjaan tersebut berlangsung sesuai rencana.

2.2. Fungsi Pengawasan

Dalam kaitan dengan bahasan tentang fungsi pengawasan tersebut, berikut dikemukakan
pendapat dari beberapa ahli di bidang manajemen sumber daya manusia.

a. Fungsi pengawasan menurut Winardi[3]

 Menetapkan tujuan-tujuan dan merencanakan bagaimana mencapainya;

 Menentukan berapa banyak orang (karyawan) diperlukan serta keterampilan-keterampilan yang perlu
dimiliki mereka (organization);

 Menyeleksi individu-individu untuk mengisi posisi-posisi (staffing) dan kemudian mereka diberi tugas
kerja dan ia membantu mereka yang bertanggung jawab untuk melaksanakannya dengan baik (direction);

 Dengan aneka macam laporan, ia meneliti bagaimana baiknya rencana-rencana dilaksanakan dan ia
mempelajari kembali rencana-rencana sehubungan dengan hasil-hasil yang dicapai dan apabila perlu,
rencana-rencana tersebut dimodifikasi.

Berdasakan uraian tersebut, berikut ini dikemukakan bahwa terhadap fungsi pengawasan tersebut
yaitu menetapkan tujuan-tujuan dan merencanakan bagaimana mencapainya, hal ini berarti fungsi
pengawsan ini tidak bisa terlepas dari fungsi manajemen lainnya khususnya perencanaan (planning).
Apabila fungsi planning tersebut berjalan dengan baik, diharapkan didalam implementasinya juga dapat
berjalan dengan sempurna. Namun demikian, untuk mengontrol sejauh mana kesesuaian antara rencana
kerja dengan proses kerja serta hasil diperlukannya adanya pengawsan atau controlling.
Dalam planning disini tersebut, organisasi menetapkan apa yang ingin dikerjakan. Hal ini tentu saja terkait
dengan ditetapkannya tujuan organisasi, baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang, serta
bagaimana cara untuk mencapainya
b. Fungsi Pengawasan Menurut Nawawi[4]

Fungsi pengawasan Nawawi mengemukakan sebagai berikut. “Pengawas mempunyai peranan yang
penting dalam manajemen kepegawaian. Ia mempunyai hubungan yang terdekat dengan pegawai-
pegawai perseorangan secara langsung dan baik buruknya pegawai bekerja sebagian besar akan
tergantung kepada efektifnya ia bergaul dengan mereka”.

Atas dari uraian tersebut bahwa pengawasan dilaksanakan pada semua tingkatan manajemen dari
tingkat atas atau pucuk pimpinan tertinggi biasanya melakukan pengawasn terhadap seluruh bagian atau
unit organisasi tersebut. pelaksanaan pengawasan oleh pimpinan tidak hanya dengan membandingkan
hasil capaian/kinerja, tetapi terdapat cara lain misalnya pengawasan di awal kegiatan dan bersifat
preventif seperti pengaruh atas kebijakan yang telah ditetapkan atau prosedur kerja yang dibakukan.

c. Fungsi Pengawasan menurut Siagian

Siagian, mengemukakan sebagai berikut. “Fungsi pengawasan adalah menyoroti apa yang sedang
terjadi pada waktu pelaksanaan kegiatan operasional yang sedang berlangsung. Jika penyimpangan
ditemukan, tindakan korektif dapat saja diambil sehingga dengan demikian organisasi kembali ke rel yang
sebenarnya. Dengan kata lain, sorotan perhatian manajemen dalam menyelenggarakan fungsi pengawasn
adalah membandingkan isi rencana dengan kinerja nyata (actual performance).”

Berdasarkan uraian diatas berikut dikemukan bahwa pengawasan dilakukan untuk menjamin agar apa
yang dilaksanakan atau kinerja pegawai, unit, atau organisasi sesuai dengan apa yang telah direncanakan
sebelumnya. Kegiatan perncanaan oragnisasi maupun tindakan pengawasan adalah senantiasa berkaitan
satu dengan yang lainnya. sedangkan kinerja nyata (actual performance) disini adalah menitikberatkan
pada hasil yang dicapai dalam kurun waktu yang ditentukan (result oriented) atau manajemen
berdasarkan hasil(result management).

Pengawasan pada hakikatnya merupakan tindakan membandingkan das sollen dengan das
sein.disebabkan oleh karena keduanya kerapkali terjadi penyimpangan-penyimpangan, maka
pengawasan atau controlling bertugas untuk mensinyalirnya. Sebagai funsi manajemen, pengawas pada
hakikatnya harus menegakkan pilar-pilar efisiensi, efektifitas, dan akuntabilitas serta sesuai dengan aturan
dan tepat sasaran.

2.3. Tujuan Pengawasan

Saydam mengemukakan tujuan pengawasan yaitu: ”Terciptanya kondisi yang mendukung


kelancaran dan ketepatan pelaksanaan tugas, kebijaksanaan pertauran perundang-undangan yang
dilakukan oleh atasan langsung.”[5]

Adapun dari tujuan pengawasan adalah :

1. Mengetahui lancar atau tidaknya pekerjaan tersebut sesuai dengan yang telah direncanakan;
2. Memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat dengan melihat kelemahan-kelemahan, kesulitan-
kesulitan dan kegagalan-kegagalan dan mengadakan pencegahan agar tidak terulang kembali kesalahan-
kesalahan yang sama atau timbulnya kesalahan baru;

3. Mengetahui apakah penggunaan fasilitas pendukung kegiatan telah sesuai dengan rencana atau terarah
pada pasaran;

4. Mengetahui hasil pekerjaan dibandingkan dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan semula;

5. Mengetahui apakah segala sesuatu berjalan efisien dan dapatkah diadakan perbaikan-perbaikan lebih
lanjut sehingga mendapatkan efisiensi yang besar.

Disamping itu, Griffin menjelaskan bahwa terdapat empat tujuan dari pengawasan:

1. Adaptasi Lingkungan

Maksudnya adalah agar perusahaan dapat terus beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di lingkungan
perusahaan, baik lingkungan yang bersifat internal maupun lingkungan lingkungan eksternal.Dengan
demikian fungsi pengawasan tidak saja dilakukan untuk memastikan agar kegiatan perusahaan berjalan
sebagaimana rencana yang telah ditetapkan, akan tetapi juga agar kegiatan yang dijalankan sesuai dengan
perubahan lingkungan, karena sangat memungkinkan perusahaan juga merubah rencana perusahaan
disebabkan terjadinya berbagai perubahan di lingkungan yang dihadapi perusahaan.

2. Meminimumkan Kegagalan

Maksudnya adalah ketika perusahaan melakukan kegiatan produksi, misalnya perusahaan berharap agar
kegagalan seminimal mungkin. Oleh karena itu perusahaan perlu menjalankan fungsi pengawasan agar
kegagalan-kegagalan tersebut dapat diminimumkan.

3. Meminimumkan Biaya

Maksudnya adalah ketika perusahaan mengalami kegagalan maka akan ada pemborosan yang tidak
memberikan keuntungan bagi perusahaan. Maka untuk meminimumkan biaya sangat diperlukan adanya
pengawasan.

4. Antisipasi Kompleksitas Organisasi

Maksudnya adalah agar perusahaan dapat mengantisipasi berbagai kegiatan organisasi yang kompleks.
Kompleksitas tersebut mulai dari pengelolaan terhadap produk, tenaga kerja hingga berbagai prosedur
yang terkait dengan manajemen organisasi.
Pada dasarnya pengawasan bertujuan untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan yang terjadi
nantinya dapat digunakan sebai pedoman untuk mengambil kebijakan guna mencapai sasaran yang
optimal.

2.4. Proses Pengawasan

Pengawasan terdiri dari suatu proses berikut ini:

a. Menetapkan standar pelaksanaan

Standar mengandung arti sebagai suatu satuan pengukuran yang dapat digunakan sebagai patokan
untuk penilaian hasil-hasil. Tujuan, sasaran, kuota, dan target pelaksanaan dapat digunakan sebagai
standar. Tujuan dilakukan penetapan standar pelaksanaan yaitu agar dalam melakukan pengawasan
manajer mempunyai standard yang jelas.

b. Mengukur hasil pekerjaan

Pengukuran di sini adalah tindakan memastikan jumlah atau kapasitas suatu entisitas yang digariskan
dengan baik. tanpa pengukuran, seseorang pimpinan dipaksa utnuk menerka atau menggunakan metode
kira-kira(rule-of-thumb methods) yang mungkin tidak dapat dipercaya. Pada umumnya entisitas yang
sedang diukur dapat diklasifikasikan ke dalam dua buah kelompok,yakni pertama, yang berhubungan
dengan pelaksanaan sebuah program atau pelaksanaannya secara keseluruhan; dan
kedua,mempersoalkan output per unit kerja langsung yang dipergunakan.

Apabila dihadapkan problem pengukuran untuk tujuan pengawasan, yaitu dalam bentuk hasil-hasil
yang kentara dan yang tidak kentara (tangible-and-intangible achievements). Jumlah kesatuan yang
diproduksi, jumlah sample yang dibagikan adalah contoh hasil-hasil intengible adalah pengembangan para
pimpinan; afektifitas komunikasi;dan pembentukan moral pegawai.

Lebih lanjut, Martoyo menjelaskan sebagai berikut “ semua pengawasan sumber daya manusia ini
harus diamati dengan penuh perhatian untuk memungkinkan tercapainya efisiensi dan efektifitas
pengolaan organisasi. Dalam hal ini tetap di perhatikan aspek menusiawinya pada batas kewajaran atau
pada batas proporsionalitas yan tepat, khusunya dalam rangka hubungan perburuan pancasila”.

Berdasarkan paparan diatas, dapat dikemukakan bahwa pengawasan sumber daya manusia ini harus
diamati dengan penuh perhatian,hal ini dimaksudkan bahwa pengawasan tidak semata-mata ditujukan
untuk menemukan siapa yang salah dalam hal terjadinya penyimpangan dalam realisasi rencana. Namun,
suatu pengawasan adalah untuk mencari fakta tantang apa yang tidak beres dalam sistem, sehingga
terjadi penyimpangan tersebut. Dengan demikian, pengawasan yang efektifas, perbaikan sistem, serta
penyelenggaraan kegiatan oprasional dimungkinkan akan terjadi.

c. Membandingkan hasil pekerjaan dengan standar


Tahap kritis dari proses pengawasan adalah pembandingan pelaksanaan nyata dengan pelaksanaan
yang direncanakan atau standar yang telah ditetapkan. Penyimpangan-penyimpangan harus dianalisa
untuk menentukan mengapa standar tidak dapat dicapai.

Suatu pengawasan harus pula diarahkan pada pencarian dan penemuan siapa yang salah karena
penyimpangan hanya mungkin terjadi karena faktor manusianya. Jadi pengawasan ini adalah suatu
tindakan membandingkan hasil pekerjaan dengan standart yang telah ditetapkan oleh organisasi.

Dalam hal membandingkan hasil pekerjaan dengan dasar pengawasan, maka soal kekecualian yang
perlu mendapatkan perhatian pemimpin. pimpinan yang bersangkutan tidak perlu menghiraukan situasi-
situasi hasil pekerjaan sama dengan atau sangat berdekatan dengan hasil-hasil yang diharapkan.

d. Mengoreksi penyimpangan yang tidak dikehendaki melalui tindakan perbaikan.

Pengawasan atau pimpinan harus mampu memahami dengan pikiran yang jernih terhadap seluruh
pegawai yang diawasi. Apabila terjadi masalah atau semacam diskrepensi antara hasil pekerjaan yang
ditetapkan dalam rencana dengan kinerja yang ditampilkan oleh para pelaksana tugas. Dalam hal
mengkoreksi penyimpangan-penyimpangan, ini dapat dianggap sebagai tindakan memaksa agar
dilakukan usaha-usaha untuk mencapai hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan.

Apabila hasil analisa menunjukkan perlunya tindakan koreksi, tindakan ini harus diambil. Tindakan
koreksi dapat diambil dalam berbagai bentuk, seperti:

 Mengubah standar mula-mula (barangkali terlalu tinggi atau terlalu rendah)

 Mengubah pengukuran pelaksanaan (inspeksi terlalu sering frekwensinya, atau kurang, atau bahkan
mengganti sistem pengukuran itu sendiri.)

 Mengubah cara dalam menganalisa dan menginterpretasikan penyimpangan-penyimpangan.

2.5. Jenis-jenis Pengawasan

a. Menurut Nawawi, jenis-jenis pengawasan sebagai berikut:

1. Pengawasan internal

Pengawasan internal, yakni kegiatan pengawasan yang dilakukan orlh pimpinan/manajer puncak dan/
manajer unit/ satuan kerja di lingkungan organisasi dan/ unit/ satuan kerja masing-masing;

2. Pengawasan eksternal

Pengawasan eksternal, yakni kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh organisasi kerja dari luar
organisasi kerja yang diawasi dalam menjalankan tugas pokoknya.

b. Pengawasan berdasarkan metode atau cara melaksanakannya, menurut Nawawi


1. Pengawasan tidak langsung

Pengawasan tidak langsung, yakni kegiatan pengawasan yang dilakukan mengevaluasi laporan, baik
tertulis maupun lisan. Pengawassan ini disebut pengawasan jarak jauh. Dengan adanya laporan secara
tertulis yang merupakan fakta autentik, maka akan menjadi bahan bagi pengawas dalam mengetahui
sejauh mana kinerja yang telah dicapai.

2. Pengawasan langsung

Pengawasan langsung, yakni kegiatan pengawasan yang dilakukan dengan mendatangi personel dan/ unit
kerja yang diawasi. Kegiatannya dapat dilakukan dengan mengumpulkan dan mempelajari dokumen-
dokumen, melakukan observasi, wawancara, pengujian sampel, dll.

c. Pengawasan berdasarkan pelaksanaanya, menurut Nawawi

1. Pengawasan fungsional

Pengawasan fungsional (wasnal), yaitu proses pemantauan, pemeriksaan dan evaluasi oleh aparatur
pengawasan dalam sistem pemerintahan yang berfungsi dan tugas pokoknya khusus di bidang
pengawasan. Badan tersebut adalah Badan Pemeriksa Keuangan, Inspektorat Jenderal Pembangunan
(IRJENBANG), Badan Pengawas Keuangan dan Pembagunan (BPKP).

2. Pengawasan masyarakat

Pengawasan masyarakat adalah setiap penaduan, kritik, saran, pertanyaan, dll yang disampaikan
anggoata masyarakat mengenai pelaksanaan pekerjaan oleh unit/ organisasi kerja nonprofit di bidang
pemerintahan dalam melaksanakan tugas pokoknya memberikan pelayanan umum dan pembangunan
untuk kepentingan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

3. Pengawasan melekat

Pengawasan melekat (Waskat), yaitu proses pemantauan, pemeriksaan dan evaluasi oleh pimpinan
unit/organisasi kerja terhadap fungsi semua komponen dalam melaksanakan pekerjaan di lingkungan
suatu organisasi nonprofit dan terhadap pendayagunaan semua sumber daya, untuk mengetahui
kelemahan dan kelebihan yang dapat digunakan untuk pengembangan unit/organisasi di masa yang akan
datang.

Sasaran yang hendak dituju dalam pengawasan melekat adalah meningkatkan disiplin, prestasi
kerja, menekan penyalahgunaan wewenang, menekan kebocoran, pemborosan, pungutan liar, dan
pencapaian sasaran pelaksanaan pekerjaan.

Pegawasan melekat dilakukan oleh atasan langsung terhadap pelaksanaan pekerjaan bawahan.
Dalam hal ini atasan langsung berkewajiban mengawasi setiap pelakasanaan pekerjaan yang dilaksanakan
oleh bawahannya dengan tujuan agar pelaksanaan pekerjaan tersebut tidak terjadi penyimpangan. Oleh
karena itu, tugas tersebut tidak mungkin dilimpahkan kepada orang lain.

Pengawasan melekat dapat dilakukan melalui:


1. pengarisan struktur organisasi yang jelas dengan pembagian tugas dan fungsi beserta uraiannya yang jelas
pula;

2. perincian kebijaksanaan pelaksanaan dituangkan secara tertulis yang dapat menjadi pegangan dalam
pelaksanaannya oleh bawahan yang menerima pellimpahan wewenang dari atasan;

3. rencana kerja yang menggambarkan kegiatan harus dilaksanaan, bentuk hubungan kerja antarkegiatan
dan hubungan antara berbagai kegiatan beserat sasaran yang harus dicapainya.

4. prosedur kerja yang merupakan petunjuk pelaksanaan yang jelas dari atasan kepada bawahannya;

5. pencatatan hasil kerja serta pelaporannya yang merupakan alat untuk mendapatkan informasi yang
diperlukan;

6. pembinaan personel yang terus-menerus agar para pelaksana menjadi unsur yang mampu melaksanakan
tugas yang menjadi tanggungjawabnya.

Dalam pelaksanaan pengawasan yang melekat, atasan juga perlu melakukan pemantauan atas
berbagai aspek. Aspek yang perlu dipantau adalah:

 sasaran

 sistem kerja

 pelaksanaan tugas itu sesndiri.

Sedangkan cara pemantauannya dibagi menjadi:

 pemantauan dilakukan secara formal pada waktu tertentu

 pemantauan dilakukan secara informal yang bersifat terus-menerus melaksanakan komunikasi terbuka
antara atasan dengan bawahan.

Setelah melakukan pamantauan, perlu adanya evaluasi mengenai bagaimana ketetapan pemakaian
sarana, sistem kerja, pelaksanaan pekerjaan, dan hasil dari pekerjaan tersebut. Langkah-langkah evaluasi
dalam pengawasan melekat adalah sebagai berikut:

1. pengumpulan data;

2. melakukan analisis terhadap data yang masuk;

3. membandingkan dengnan standar kerja yang ada;

4. menganalisis sebab-sebab terjasinya penyimpangan;

5. menyusun pelaksanaan tindak lanjut yang akan dilakukan terhadap penyimpangan yang terjadi.

2.6. Pentingnya Pengawasan

Suatu organisasi akan berjalan terus dan semakin komplek dari waktu ke waktu, banyaknya orang
yang berbuat kesalahan dan guna mengevaluasi atas hasil kegiatan yang telah dilakukan, inilah yang
membuat fungsi pengawasan semakin penting dalam setiap organisasi. Tanpa adanya pengawasan yang
baik tentunya akan menghasilkan tujuan yang kurang memuaskan, baik bagi organisasinya itu sendiri
maupun bagi para pekerjanya.

Ada beberapa alasan mengapa pengawasan itu penting, diantaranya :

a. Perubahan lingkungan organisasi

Berbagai perubahan lingkungan organisasi terjadi terus-menerus dan tak dapat dihindari, seperti
munculnya inovasi produk dan pesaing baru, diketemukannya bahan baku baru dsb. Melalui fungsi
pengawasannya manajer mendeteksi perubahan yang berpengaruh pada barang dan jasa organisasi
sehingga mampu menghadapi tantangan atau memanfaatkan kesempatan yang diciptakan perubahan
yang terjadi.

b. Peningkatan kompleksitas organisasi

Semakin besar organisasi, makin memerlukan pengawasan yang lebih formal dan hati-hati. Berbagai
jenis produk harus diawasi untuk menjamin kualitas dan profitabilitas tetap terjaga. Semuanya
memerlukan pelaksanaan fungsi pengawasan dengan lebih efisien dan efektif.

c. Meminimalisasikan tingginya kesalahan-kesalahan

Bila para bawahan tidak membuat kesalahan, manajer dapat secara sederhana melakukan fungsi
pengawasan. Tetapi kebanyakan anggota organisasi sering membuat kesalahan. Sistem pengawasan
memungkinkan manajer mendeteksi kesalahan tersebut sebelum menjadi kritis.

d. Kebutuhan manager untuk mendelegasikan wewenang

Bila manajer mendelegasikan wewenang kepada bawahannya tanggung jawab atasan itu sendiri tidak
berkurang. Satu-satunya cara manajer dapat menentukan apakah bawahan telah melakukan tugasnya
adalah dengan mengimplementasikan sistem pengawasan.

2.7. Prinsip-prinsip Pengawasan

Pengawasan mempunyai sifat menyeluruh dan luas, maka dalam pelaksanaanya diperlukan prinsip-
prinsip pengawasan yang dapat dipatuhi dan dijalankan, adapun prinsip-prinsip pengawasan itu adalah
sebagai berikut :

1. Objektif dan menghasilkan data, Artinya pengawasan harus bersifat objektif dan harus dapat
menemukan fakta-fakta tentang pelaksanaan pekerjaan dan berbagai faktor yang mempengaruhinya.
2. Berpangkal tolak dari keputusan pimpinan, Artinya untuk dapat mengetahui dan menilai ada tidaknya
kesalahan-kesalahan dan penyimpangan, pengawasan harus bertolak pangkal dari keputusan pimpinan
yang tercermin dalam:

a) Tujuan yang ditetapkan

b) Rencana kerja yang telah ditentukan

c) Kebijaksanaan dan pedoman kerja yang telah digariskan

d) Perintah yang telah diberikan

e) Peraturan-peraturan yang telah ditetapkan.

3. Preventif, Artinya bahwa pengawasan tersebut adalah untuk menjamin tercapainya tujuan yang telah
ditetapkan, yang harus efisien dan efektif, maka pengawasan harus bersifat mencegah jangan sampai
terjadi kesalahan- kesalahan berkembangnya dan terulangnya kesalahan-kesalahan.

4. Bukan tujuan tetapi sarana, Artinya pengawasan tersebut hendaknya tidak dijadikan tujuan tetapi sarana
untuk menjamin dan meningkatkan efisiensi dan efekt ifitas pencapaian tujuan organisasi.

5. Efisiensi, Artinya pengawasan haruslah dilakuan secara efisien, bukan justru menghambat efisiensi
pelaksanaan kerja.

6. Apa yang salah, Artinya pengawasan haruslah dilakukan bukanlah semata- mata mencari siapa yang salah,
tetapi apa yang salah, bagaimana timbulnya dan sifat kesalahan itu.

7. Membimbing dan mendidik, Artinya “pengawasan harus bersifat membimbing dan mendidik agar
pelaksana dapat meningkatkan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas yang ditetapkan

Karakteristik pelaksanaan pengawasan yang berhasil

1. Meningkatkan disiplin dan prestasi kerja pegawai;

2. Terjadi pengurangan tingkat penyalahgunaan wewenang dan berkuranganya kebocoran dan pemborosan
serta berbagai bentuk pungutan;

3. Semakin berkurangnya kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan pekerjaan.


BAB I
PENDAHULUAN

1. LATARBELAKANG
Kewenangan yang luas dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah perlu didukung
oleh suatu lembaga pengawasan di daerah, sehingga kewenangan tersebut tidak disalah
gunakan oleh aparat Pemerintah Daerah. Urgensi lembaga pengawasan di daerah sangat
dibutuhkan, bukan hanya karena luasnya kewenangan yang dimiliki, namun juga praktek
penyelenggaraan pemerintahan daerah yang tidak selalu mulus. Dengan demikian,
pengawasan pada umumnya dan pengawasan fungsional pemerintah pada khususnya,
memegang peranan penting dalam mengarahkanclean government dan good governance
Peran pengawasan fungsional pemerintah yang cenderung belum efisien, danefektif
menjadi penyebab terjadinya tindak pidana korupsi, termasuk dalam penyelenggaraan
pemerintahan daerah. Hasil survei Transparency International2009, Indonesia berada pada
peringkat 111 dari 180 negara dengan tingkat korupsi yang tinggi, meski terjadi sedikit
peningkatan pada Indeks Persepsi Korupsi (IPK) diIndonesia, yakni dari 2,3 (2007) menjadi
2,6 (2008) dan 2,8 (2009).
Fenomena belum efisien dan efektifnya peranan pengawasan fungsional pemerintah
tidak hanya bersifat umum, namun juga bersifat khusus di lingkungan Pemerintah Daerah,
sehingga diras akan kebutuhan akan pentingnya suatu bentuk koordinasi yang tepat, dan
komitmen yang tinggi dalam upaya efektivitas pelaksanaan fungsi pengawasan yang
dilakukan.

2. RUMUSAN MASALAH
a. Apa pengertian dan ruang lingkup pengawasaan, serta bagaimana pegawasan
dalam pelaksanaan pemerintah daerah ?
b. Apa Maksud dan tujuan dari pengawasaan dalam pelaksanaan pemerintaah daerah?

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian dan Ruang Lingkup Pengawasan dalam pelaksanaan pemerintah daerah


Pengawasan terhadap pemerintahan daerah terdiri atas pengawasan hirarki dan
pengawasan fungional. Pengawasan hirarki berarti pengawasan terhadap pemerintah
daerah yang dilakukan oleh otoritas yang lebih tinggi.
Pengawasan fungsional adalah pengawasan terhadap pemerintah daerah, yang
dilakukan secara fungsional baik oleh departemen sektoral maupun oleh pemerintahan yang
menyelenggarakan pemerintahan umum (departemen dalam negeri)59.
Dengan demikian pengawasan terhadap pemerintahan daerah dalam system
pemerintahan Indonesia lebih ditujukan untuk memperkuat otonomi daerah,bukan
untuk ”mengekang” dan ”membatasi”.
Istilah pengawasan dan pengendalian dalam bahasa Indonesia jelas sekali bedanya,
meskipun dalam literatur manajemen yang berbahasa Inggris,kedua pengertian tersebut
tidak dibedakan dan tercakup dalam kata ”controlling” yang diterjemahkan dengan istilah
pengawasan dan pengendalian, sehingga istilah controlling lebih luas artinya dari
pengawasan.
Jadi pengawasan adalah termasuk pengendalian. Pengendalian berasal dari kata
kendali, sehingga pengendalian mengandung arti mengarahkan,memperbaiki, kegiatan,
yang salah arah dan meluruskannya menujuh arah yang benar.61 Produk langsung kegiatan
pengawasan adalah untuk mengetahui, sedangkan kegiatan pengendalian adalah langsung
memberikan arah kepada obyek yang dikendalikan.
Secara normatif, pengertian pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah
diatur dalam ketentuan Pasal 1 ayat (4) PP Nomor 79 Tahun 2005, dan Pasal 1 ayat (1)
Permendagri 23 tahun 2007. Pasasl 1 ayat 4 PP Nomor 79 Tahun 2005, menyatakan :
Pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah proses kegiatan
yang ditujukan untuk menjamin agar Pernerintahan Daerah berjalan secara efisien dan
efektif sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 1 ayat (1) PP 23 tahun 2007, menyatakan :
Pengawasan atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah adalah proses kegiatan
yang ditujukan untuk menjamin agar Pemerintahan Daerah berjalan secara efisien dan
efektif sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pengertian pengawasan penyelenggaraan daerah sebagaimana yang diatur dalam PP
No. 79 Tahun 2005 dan Permendagri No. 23 Tahun 2007 pada dasarnya tidak ada
perbedaan, karena Permendagri tersebut merupakan ketentuan teknis operasional dari PP
Nomor 79 Tahun 2005 yang mengatur mengenai tata cara pelaksanaan pengawasan
penyelenggaraan pemerintahan daerah. Artinya pengawasan adalah proses kegiatan yang
diadakan untuk menjamin supaya pemerintahan daerah berjalan secara efisien dan efektif
sesuai dengan rencana yang telah ditetapakan dan ketentuan peraturan perundang-
undangan. Pengawasan adalah sarana/alat yang digunakan untuk menjamin agar
penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan dalam koridor hukum yang berlaku
guna mewujud tujuan otonomi daerah itu sendiri.
Dari berbagai definisi/pengertian pengawasan, baik yang dikemukakan para
sarjana, maupun yang diatur dalam peraturan perundang-undangan, pada dasar saling
melengkapi. Karena hakekat dari pengawasan adalah untuk menjamin agar suatu kegiatan
dan pekerjaan terlaksana, atau terselenggara sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Namun dalam penelitian ini pendekatan pengertian pengawasan yang dipakai adalah
pengertian yuridis formal sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Peemrintah Nomor 79
Tahun 2005 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 2007.
Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, pengawasan diorientasikan untuk
menjamin agar pemerintahan daerah berjalan secara efisien dan efektif dalam koridor
peraturan perundang-undangan yang berlaku guna mencapai tujuan penyelenggaraan
pemerintahan daerah, yakni untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah selain dilakukan secara internal
oleh lembaga pengawasan internal, juga dilakukan secara ekternal oleh lembaga
pengawasan eksternal seperti Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK). Pengawasan oleh
lembaga pengawasan eksternal dilakukan terhadap pengelolaan dan tanggung jawab
terhadap keuangan negara, sementara pengawasan oleh lembaga pengawasan internal
adalah pengawasan yang dilakukan terhadap administrasi umum pemerintahan dan
pengawasan terhadap urusan pemerintahan.
Pengawasan ditinjau dari ”jenisnya”, terdiri atas ”pengawasanpreventif”,
dan ”pengawasan represif”. Arti harafiah pengawasan preventif adalah pengawasan yang
bersifat mencegah. Mencegah artinya menjaga jangan sampai suatu kegiatan itu terjerumus
pada kesalahan. Pengawasan preventif adalah pengawasan yang bersifat mencegah agar
pemerintah daerah tidak mengambil kebijakan yang bertentangan dengan peraturan
perundangundangan yang berlaku. Dalam pengertian yang lebih operasional, yang
dimaksud dengan pengawasan preventif adalah pengawasan terhadap pemerintahan daerah
agar pemerintah tidak menetapkan kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan
umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, atau peraturan perundang-
undangan lainnya.67 Pengawasan ”represif”, yaitu pengawasan yang berupa penangguhan
atau pembatalan terhadap kebijakan yang telah ditetapkan daerah baik berupa peraturan
daerah, peraturan kepala daerah, keputusan DPRD, maupun keputusan pimpinan DPRD
dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pengawasan represif berupa
penangguhan atau pembatalan terhadap kebijakan daerah yang dinilai bertentangan
dengan kepentingan umum, peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, dan atau
peraturan perundang-undangan lainnya. Kepentingan umum adalah kepentingan
masyarakat luas yang mencakup hal-hal yang berkaitan dengan kepatutan atau kebiasaan
yang berlaku disuatu tempat seperti norma agama, adat istiadat, budaya dan susila, serta
hal-hal yang membebani masyarakat dan 67 Hanif Nurcholis, Teori dan Praktik
Pemerintahan dan Otonomi Daerah (edisi revisi), Grasindo, Jakarta, 2007, hal.
313.menimbulkan biaya ekonomi tinggi.68.
Sedangkan yang dimaksud dengan peraturan yang lebih tinggi, yaitu UUD Negara
Republik Indonesia 1945, undang-undang/peraturan pemerintah pengganti undang-
undang, peraturan pemerintah, peraturan presiden, peraturan menteri. Sementara yang
dimaksud dengan peraturan perundangundangan lainnya, yaitu peraturan daerah provinsi
dan peraturan gubernur, serta peraturan daerah kabupaten/kota atau peraturan
bupati/walikota yang mengatur obyek yang sama.
Pengawasan ditinjau dari ”ruang lingkupnya” terdiri dari”pengawasan intern”,
dan ”pengawasan ekstern”. Pengawasan ”intern”adalah pengawasan yang dilakukan oleh
aparat dalam organisasi itu sendiri.69
Pengawasan intern lebih dikenal dengan pengawasan fungsional. Pengawasan
fungsional adalah pengawasan terhadap pemerintah daerah yang dilakukan secara
fungsional oleh lembaga yang dibentuk untuk melaksanakan pengawasan fungsional, yang
kedudukannya merupakan bagian dari lembaga yang diawasi, Inspektorat Jendral,
Inspektorat Propinsi, Kabupaten/Kota.
Pengawasan intern dilakukan oleh pejabat yang mempunyai hubungan atau kaitan
erat dari segi pekerjaan (hirarki) disebut dengan pengawasan dalam organisasi itu sendiri
(control intern). Pengawasan dalam bentuk internal dapat diimplikasikan secara luas,
dimana tidak hanya dilakukan dalam hubungan dinas secara langsung dari segi organisasi
atau suatu instansi, tetapi juga diartikan sebagai pengawasan umum tingkat eksekutif.
Pengawasan internal dapat dibedakan dalam (a) Pengawasan intern 68 Hanif
Nurcholis, Op.Cit, hal 314. 69 Viktor M. Situmorang, SH., Jusuf Juhir, SH., Op.Cit, hal. 28.
dalam arti sempit; dan (b) Pengawasan intern dalam arti luas. Pengawasan intern dalam
arti sempit, menuurut H. Bohari diartikan sebagai pengawasan yang dilakukan oleh
pengawas dimana pejabat yang diawasi itu dengan aparat pengawas sama-sama bernaung
dalam pimpinan seorang Menteri/Ketua Lembaga Negara.
Lembaga yang diberi wewenang untuk melakukan pengawasan intern pada tingkat
pusat adalah Inspektorat Jendral Departemen. Menurut Permendagri Nomor 130 Tahun
2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Dalam Negeri, Inspektorat Jenderal
Departemen Dalam Negeri mempunyai tugas melaksanakan pengawasan fungsional di
lingkungan Departemen.
Insepektorat Jenderal Departemen Dalam Negeri, selain mempunyai tugas
membantu Menteri Dalam Negeri, dalam melakukan pengawasan terhadap tugas-tugas
pokok Departemen Dalam Negeri, lembaga tersebut berkewajiban melakukan pengawasan
umum terhadap pemerintahan daerah.
Lembaga pengawasan internal pada tingkat daerah, adalah inspektorat provinsi dan
inspektorat kabupaten/kota, yang pembentukannya diatur dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 41 Tahun 2007, dan Permendagri Nomor 64 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis
Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Inspektorat Provinsi, menurut ketentuan Pasal 1 ayat (1) Permendagri Nomor 64
Tahun 2007 adalah aparat pengawas fungsional yang berada dibawah dan
bertanggungjawab kepada gubernur. Inspektorat provinsi mempunyai tugas melakukan
pengawasan terhadap pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah provinsi, pelaksanaan
pembinaan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota dan pelaksanaan
urusan pemerintahan di daerah kabupaten/kota. Untuk melaksanakan tugasnya, maka
Inspektorat Provinsi menyelenggarakan fungsi:
a. perencanaan program pengawasan;
b. perumusan kebijakan dan fasilitasi pengawasan; dan
c. pemeriksaan, pengusutan, pengujian, dan penilaian tugas pengawasan
Inspektorat Kabupaten/Kota menurut ketentuan Pasal 1 ayat (2) Permendagri
Nomor 64 Tahun 2007, adalah aparat pengawas fungsional yang berada dibawah dan
bertanggungjawab kepada bupati/walikota, yang mempunyai tugas melakukan pengawasan
terhadap pelaksanaan urusan pemerintahan di daerah kabupaten/kota, pelaksanaan
pembinaan atas penyelenggaraan pemerintahan desa, dan pelaksanaan urusan
pemerintahan desa. Untuk melaksanakan tugasnya, maka Inspektorat Kabupaten/Kota
menyelenggarakan fungsi:
a. perencanaan program pengawasan;
b. perumusan kebijakan dan fasilitasi pengawasan; dan
c. pemeriksaan, pengusutan, pengujian dan penilaian tugas pengawasan.
Inspektorat provinsi, kabupaten/kota melakukan pengawasan terhadap
penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan ruang lingkup pengawasan sebagaimana
diatur dalam Bab II Permendagri Nomor 23 Tahun 2007.
Menurut ketentuan Pasal 2, pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah
meliputi admininstaris umum pemerintahan, dan urusan pemerintahan.
Administrasi umum pemerintahan meliputi kebijakan daerah; kelembagaan;
pegawai daerah; keuangan daerah; dan barang daerah. Sedangkan pengawasan terhadap
urusan pemerintahan daerah adalah pengawasan terhadap urusan wajib; urusan pilihan;
dan dana Dekonsentrasi; Pengawasan ”intern dalam arti luas” pada hakekatnya sama
dengan pengawasan dalam arti sempit. Perbedaannya hanya terletak pada tidak adanya
korelasi langsung antara pengawas dengan pejabat yang diawasi, artinya pengawas yang
melakukan pengawasan tidak bernaungan dalam satu departemen/lembaga negara, tetapi
masih dalam satu kelompok eksekutif.
Aparat yang melakukan pengawasan dalam arti luas seperti Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Inspektorat Jenderal Pembangunan (Irjenbang).
Menurut Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga
Pemerintah Non Departemen, BPKP mempunyai tugas melaksanakan tugas Pemerintahan
di bidang pengawasan keuangan dan pembangunan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tugas, BPKP menyelenggarakan
fungsi :
a. pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang pengawasan keuangan dan
pembangunan;
b. perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengawasan keuangan dan
pembangunan;
c. koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BPKP;
d. pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan terhadap kegiatan pengawasan
keuangan dan pembangunan;
e. penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan
umum, ketatausahaan, organisasi dan tatalaksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan,
hukum, persandian, perlengkapan dan rumah tangga.
Sedangkan “pengawasan ekstern”, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh satuan unit
pengawasan yang berada diluar organisasi yang diawasi, dan tidak mempunyai hubungan
kedinasan. Pengawasan ekstern ini menurut UUD Negara Republik Indonesia 1945 adalah
Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK). Pengawasan ekstern selain dilakukan oleh BPK, juga
dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR/D), dan masyarakat.
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) merupakan badan pengawas tertinggi dalam hal
keuangan Negara, sebagaimana diatur dalam Bab VIIIA Pasal 23E s/d Pasal 23F UUD
Negara Republik Indonesia 1945. Kedudukan Badan Pemeriksaan Keuangan diatur lebih
lanjut dengan UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksaan Keuangan. Menurut
ketentuan Pasal 2 UU Nomor 15 Tahun 2006, BPK merupakan satu lembaga Negara yang
bebas dan mandiri dalam memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.
Tugas BPK adalah memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara
yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga Negara lainnya, Bank
Indonesia, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Layanan Umum (BLU), dan
lembaga atau badan lain yang mengelola keuangan Negara.
BPK sesuai fungsinya memeriksa, menguji, dan menilai penggunaan keuangan
APBD, apakah APBD digunakan sesuai dengan tujuan penganggarannya atau tidak. BPK
melakukan pengawasan penggunaan APBD dalam tahun berjalan. Hasil pemeriksaan BPK
dilaporkan kepada DPR untuk pengelolaan keuangan negara, dan kepada DPRD untuk
pengelolaan keuangan daerah. Dilihat dari tugas dan fungsinya, maka antara BPK dan
BPKP hampir tidak ada perbedaannya, yakni sama-sama melakukan pengawasan terhadap
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Dengan tugas yang demikian maka
terkesan bahwa tugas dan fungsi BPK sama dengan tugas dan fungsi BPKP70.
Sementara pengawasan DPR/D dikenal dengan pengawasan politik, yakni
pengawasan terhadap pemerintah/daerah sesuai dengan tugas, wewenang, dan haknya.
Pengawasan DPR dilakukan melalui dengar pendapat, kunjungan kerja, pembentukan
panitia khusus, dan pembentukan panitia kerja sebagaimana diatur dalam tata tertib dan
peraturan perundang-undangan. DPR melaksanakan pengawaasan terhadap pelaksanaan
kebijakan daerah; pelaksanaan kerjasama internasional daerah. DPRD melakukan
pengawasan melalui pemandangan umum fraksi-fraksi dalam rapat paripurna; rapat 70
Hanif Nurcholis, Op.Cit, hal 314 pembahasan dalam sidang komisi; rapat pembahasan
dalam panitia-panitia yang dibentuk berdasarkan tata tertib DPRD; rapat dengar pendapat
pemerintah daerah dan pihak-pihak lain yang diperlukan; kunjungan kerja
Sedangkan pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat dikenal
dengan “pengawasan masyarakat” (Wasmas). Pengawasan Masyarakat diperlukan dalam
mewujudkan peran serta masyarakat guna menciptakan penyelenggaraan pemerintahan
yang efektif, efisien, bersih dan bebas dari, korupsi, kolusi serta nepotisme.72 Keikutsertaan
masyarakat dalam pengawasan penyelenggaraan pemerintahan/pemerintahan daerah
dilakukan melalui pengaduan atas dugaan terjadinya penyimpang atau penyalahgunaan
kewenangan pemerintahan. Pengawasan masyarakat tersebut diatur dalam Permendagri
Nomor 25 Tahun 2007 tentang Pedoman Penanganan Pengaduan Masyarakat di
Lingkungan Departemen Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah.
Selain pengawasan sebagaimana diuraikan diatas, pengawasan penyelenggaraan
pemerintahan juga dilakukan oleh “lembaga peradilan”.
Lembaga peradilan melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan
pemerintahan daerah didasarkan pada kebijakan daerah, peraturan perundangundangan
yang lebih tinggi, dan peraturan lainnya. Semua peraturan yang menjadi acuan/pedoman
penyelenggaraan pemerintahan daerah menjadi obyek pengawasan peradilan.
Dalam “aspek material”, Makamah Agung melakukan pengawasan mengenai apakah
kebijakan yang menjadi acuan pemerintah daerah sesuai dengan peraturan yang lebih
tinggi, atau tidak melalui lembaga “judicial review”. Dalam“aspek penegakan hukum”,
semua lembaga peradilan melakukakan pengawasan terhadap peraturan perundang-
undangan yang menjadi acuan/pedoman dalam pemerintahan daerah dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan dan tujuannya.
Berkaitan dengan tindakkan hukum Tata Usaha Negara seperti tindakkan hukum
kepala daerah dan perangkatnya, serta pimpinan dewan, pengawasannya dilakukan oleh
Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN).
Pengawasan PTUN merupakan pengawasan terhadap perbuatan hukum badan atau
Pejabat Tata Usaha Negara yang bersumber pada suatu ketentuan Hukum Tata Usaha
Negara yang dapat menimbulkan hak atau kewajiban pada orang lain. Oleh karena itu,
tindakan hukum pejabat Hukum Tata Usaha Negara yang tidak sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku dapat dibatalkan oleh PTUN.74.

2. Maksud dan Tujuan Pengawasan Pelaksanaan Pemerintah Daerah


Sebagaimana telah diuraikan di atas, pengawasan penyelenggaraan 74 Hanif
Nurcholis, Op.Cit, hal 341. pemerintahan daerah dilakukan dengan maksud dan tujuan
tertentu, secara umum maksud dan tujuan penyelenggaraan pemerintahan daerah
diselenggarakan supaya apa yang telah direncanakan dapat terlaksana sebagaimana yang
dikehendaki. Dengan pengawasan akan diketahui apakah tujuan yang akan dicapai telah
dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, atau tidak.
Pengawasan adalah instrumen atau alat yang diadakan atau dilaksanakan dengan
maksud untuk mengetahui kendala, hambatan, serta untuk menghindari kesalahan-
kesalahan, kecurangan-kecurang, dan kelalaiankelalaian dalam penyelenggaraan
pemerintahan, sehingga maksud dan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat
dalam penyelenggaraan pemerintahan sunguh-sungguh dapat diwujudkan.
Sedangkan untuk mengetahui tujuan pengawasan, maka terlebih dahulu harus
diketahui batasan definisi pengawasan seperti diuraikan terdahulu, yakni ”setiap usaha
untuk mengetahui sejauhmana pelaksanaan tugas yang dibebankan dilaksanakan menurut
ketentuan dan sasaran yang hendak dicapai”. Menurut difinisi tersebut, tujuan pengawasan
yaitu untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya tentang pelaksanaan tugas
atau pekerjaan, apakah terlaksana sesuai rencana atau tidak, sesuai dengan yang semestinya
atau tidak.
Karakteristik atau prinsip yang dianut dan dikembangkan dalam praktek
penyelenggaraan pemerintahan yang baik meliputi :
a. ”Participation” (partisipasi). Setiap orang atau warga masyarakat, laki-laki maupun
perempuan memiliki hak suara yang sama dalam proses pengambilan keputusan, baik
secara langsung, maupun melalui lembaga perwakilan, sesuai dengan kepentingan dan
aspirasinya masing-masing.
b. “Rule of Law” (Aturan Hukum). Kerangka aturan hukum dan perundang-undangan harus
berkeadilan, ditegakan dan dipatuhi secara utuh, terurama aturan hukum tentang hak asasi
manusia.
c. “Transparency” (Transparansi). Transparansi harus dibangun dalam rangka kebebasan
aliran informasi.
d. “Responsiveness” (Daya Tanggap). Setiap institusi dan prosesnya harus diarahkan pada
upaya untuk melayani berbagi pihak yang berkepentingan (stakeholders).
e. “Consensus Orientation” (berorientasi Konsesnsus). Pemerintahan yang baik akan
bertindak sebagai penengah bagi berbagai kepentingan yang berbeda untuk mencapai
konsensus atau kesempatan yang terbaik bagi kepentingan masing-masing pihak,dan jika
dimungkinkan juga dapat diperlakukan terhadap berbagai kebijakan dan prosedur yang
akan ditetapkan pemerintah.
f. “Equity” (Berkeadilan). Pemerintahan yang baik akan memberi kesempatan yang baik
terhadap laki-laki maupun perempuan dalam upaya mereka untuk meningkatkan dan
memelihara kualitas hidupnya.
g. “Effectiveness and Efficiency” (efektivitas dan efisiensi). Setiap proses kegiatan dan
lembaga diarahkan untuk menghasilkan sesuatu yang sesuai kebutuhan melalui
pemanfaatan yang sebaik-baiknya berbagi sumber yang tersedia.
h. “Accountability” (Akuntabilitas). Para pengambil keputusan dalam organisasi sektor
publik, swasta, dan masyarakat madani memiliki petanggungjawaban (akuntabilitas)
kepada publik (masyarakat umum), sebagaimana halnya kepada para pemilik
(stakeholders).
i. ”Strategic Vision" (Visi Strategis). Para pimpinan dan masyarakat memiliki perspektif
yang luas dan jangka panjang tentang penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan
pembangunan manusia, bersama dengan dirasakannya kebutuhan untuk pembangunan
tersebut.
BAB III

PENUTUP

1.1 Kesimpulan

Pengawasan merupakan suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan tujuan dengan
tujuan-tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata
dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-
penyimpangan serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan.

Tipe-tipe pengawasan yaitu ; Pengawasan Pendahuluan (preliminary control),Pengawasan pada saat


kerja berlangsung (cocurrent control), Pengawasan Feed Back (feed back control). Tahap Proses
Pengawasan ; Menetapkan standar pelaksanaan (perencanaan), Penentuan pengukuran pelaksanaan
kegiatan, Pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standard dan penganalisa penyimpangan –
penyimpangan, Pengambilan tindakan koreksi.

Pengawasan penting disebabkan karena Perubahan lingkungan organisasi, Peningkatan kompleksitas


organisasi, Meminimalisasikan tingginya kesalahan-kesalahan, Kebutuhan manager untuk
mendelegasikan wewenang, Komunikasi dan Menilai informasi dan mengambil tindakan koreksi.

Tahap-tahap dalam proses controlling adalah :


1. Penetapan standar pelaksanaan
2. Penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan
3. Pengukuran pelaksanaan kegiatan
4. Pembanding pelaksanaan dengan standar dan analisa penyimpangan
5. Pengambilan tindakan koreksi bila diperlukan.

Karakteristik-karakteristik proses controlling yang efektif diantaranya adalah : akurat, tepat waktu,
obyektif dan menyeluruh, terpusat pada titik-titik controlling strategik, realistik secara ekonomis,
terkoordinasi dengan aliran kerja organisasi, fleksibel, bersifat sebagai petunjuk dan operasional,
realistic secara organisasional, serta diterima para anggota organisasi.

1.2 Saran

Pengawasan dirasa sangat dibutuhkan dalam suatu organisasi. Karena jika tidak ada pengawasan dalam
suatu organisasi akan menimbulkan banyaknya kesalahan-kesalahan yang terjadi baik yang berasal dari
bawahan maupun lingkungan.

Pengawasan menjadi sangat dibutuhkan karena dapat membangun suatu komunikasi yang baik antara
pemimpin organisasi dengan anggota organisasi. Serta pengawasan dapat memicu terjadinya tindak
pengoreksian yang tepat dalam merumuskan suatu masalah.

Pengawasan lebih baik dilakukan secara langsung oleh pemimpin organisasi. Disebabkan perlu adanya
hak dan wewenang ketegasan seorang pemimpin dalam suatu organisasi. Pengawasan disarankan
dilakukan secara rutin karena dapat merubah suatu lingkungan organisasi dari yang baik menjadi lebih
baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

http://rheinduniatulisan.blogspot.com/2010/08/fungsi-controlling-pengawasan-dan.html

http://ghiezaenimotivator.blogspot.com/2012/06/pengendalian-controlling.html

http://ardanpraja.blogspot.com/2012/05/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html

http://Ariel.blogspot.com/2012/05/Controlling dalam perspektif islam.html

http://ardanpraja.blogspot.com/2012/05/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html

http://evynurhidayah.blogspot.com/2011/04/makalah-mpk-pengawasan-manajemen.html

http:\\www.anakciremai.com/.../makalah-manajemen-tentang-dasar-dan.html
http:\\www.elearning.gunadarma.ac.id/...

http://www.zulfikarfathoni.com/2013/04/controling.html

Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah, hlm.243