Anda di halaman 1dari 27

REFERAT

HIDRONEFROSIS

Pembimbing :

Dr. Dyah Sri Puspitaningsih, Sp. Rad

Disusun oleh :

Sakinah Mawaddah R 1113103000035

Nihayatul Kamila 1113103000079

ViancaSamara A 1114103000045

M. Azmi Awaluddin 1113103000013

Azir Adityo Rahman D 1113103000060

KEPANITERAAN KLINIK ILMU RADIOLOGI

RUMAH SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN DAN PROFESI DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2018

1
KATA PENGANTAR

Segala puji serta syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas keagungan
dan rahmat serta nikmat-Nya yang dilimpahkan, sehingga kami dapat menyelesaikan
referat berjudul “Hidronefrosis” ini. Tak lupa pula saya panjatkan shalawat serta
salam kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat serta
pengikutnya.

Kami mengucapkan terima kasih kepada dr. Dyah Sri P, Sp. Rad selaku
pembimbing saya yang telah memberi bimbingan, arahan, serta saran sehingga referat
ini dapat terselesaikan dengan baik, serta seluruh pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari kata sempurna, oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak. Semoga referat
ini dapat bermanfaat bagi kami yang sedang menempuh kepaniteraan klinik Ilmu
Radiologi dan bagi para peserta pendidikan selanjutnya.

Jakarta, September 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... 2


DAFTAR ISI.................................................................................................................. 3
BAB I ............................................................................................................................. 4
PENDAHULUAN ......................................................................................................... 4
BAB II............................................................................................................................ 5
TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................ 5
2.1 Anatomi ................................................................................................................ 5
2.2 Definisi ................................................................................................................. 5
2.3 Epidemiologi ........................................................................................................ 8
2.4 Etiologi ................................................................................................................. 8
2.4 Manifestasi Klinis ................................................................................................ 8
2.5 Gambaran Radiologi ............................................................................................ 8
2.5.1 BNO-IVP ..................................................................................................... 12
2.5.2 Ultrasonografi .............................................................................................. 17
2.5.3 CT-Scan ....................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 27

3
BAB I

PENDAHULUAN

Hidronefrosis merupakan dilatasi dari system kolektivus, yakni pelvis dan


calices renalis. Apabila dilatasi tersebut juga terjadi pada ureter, maka disebut dengan
hidroureteronefrosis. Nefropati obstruktif merupakan kerusakan pada parenkim ginjal
yang menyebabkan obstruksi aliran urin sepanjang traktus urinarius. Dilatasi pelvis
dan calices renalis dapat terjadi tanpa obstruksi sehingga hidronefrosis tidak selalu
berimplikasi dengan adanya uropati obstruktif.1,2

Secara demografis, angka kejadian hidronefrosis pada laki-laki dan perempuan


sama pada kelompok usia < 20 tahun. Pada usia 20-60 tahun, prevalensi tersebut lebih
tinggi pada perempuan, sedangkan pada kelompok usia > 60 tahun, angka kejadian
tersebut berbanding terbalik.1

Manifestasi klinis pada hidronefrosis dapat dibagi menjadi akut dan kronis.
Pada hidronefrosis akut, dapat muncul gejala seperti nyeri panggul, nyeri meningkat
dengan diuresis, mual serta muntah. Sedangkan pada hidronefrosis kronis sering
asimptomatik sehingga sering ditemukan secara tidak sengaja pada saat pemeriksaan
radiologi. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan peningkatan tekanan darah, edema
bilateral, dan vesica urinaria terpalpasi membesar.1,2

Pemeriksaan radiologi pilihan untuk kasus hidronefrosis adalah ultrasonografi


sebagai diagnostik awal. Pada hidronefrosis, terdapat dilatasi system pielocaliceal.
CT-scan dengan kontras dapat dilakukan untuk mempertajam diagnosis dengan
kemampuannya untuk membedakan hidronefrosis dengan kondisi patologis lain
seperti kista sinus renalis.1

Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang hidronefrosis dari


berbagai macam referensi, sehingga diharapkan dapat memahami tentang sifilis
kongenital dan penatalaksanaannya.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi
Ginjal mengatur homeostasis cairan tubuh dengan sekresi hasil dari produk
metabolic dan racun, regulasi volume cairan tubuh dan tekanan darah, dan
pengaturan mineral dan keseimbanhgan asam basa.

Ginjal terdiri dari bagian dalam medulla renal dan bagian luar cortex renal.
Fungsional unit dari ginjal dinamakan nephrons. Tiap ginjal diperkirakan terdiri dari
satu miliar nefron. Tiap nefron terdiri atas pembuluh darah khusus diesbut
glomerulus, yang dimana di kelilingi oleh kapsul bowmen. Tiap glomerulus
tersambung ke beberapa epitel segmen khusus yang diketahui dengan nama renal
tubule.
Tubule selanjutnya digi menjadi beberapa segemn. Segmen ertama proximal
tubule, yang subnya terbagi menjadi loop of Henle di bagi lagi menjadi thin
descending , thin ascending dan thick asending limbs. Segmen ketiga terdapat distal
tubule dibagi menjadi distal convoluted tubule dan the cortical, medullary, dan
papillary collecting ducts. Medula terdiri atas loops of Henle, medullary dan papillary
collecting duct, dan renal pyramids.

5
6
yang project ke minor calyces. Nephron terdapat dekat dengan corticomedullary
junction mempunyai glomeruli besar dan loops of Henle descend dalam ke renal
papillary yang lokasinya lebih superficially di cortex renal.

Percabangan arteri renal ke interlobular arteri dibagi menjadi arcuate arteri


berlokasi pada corticomedullary junction. Yang setelajh itu menjadi interlobular
arteris akhirnyaibagi menjadi afferent arterioles, yang dimana semuanya menuju
glomerulus. Glomerulus didreinasi oleh arteriole afferent dibagi menjadi peritubular
capillary network dikenal dengan vasa recta. Vasa recta anastomose membentuk

7
veneous channals. Pengaturan ginal yang unik ini yang dimana berlokasi antara dua
resistive capillary networks .

2.2 Definisi
Hidronefrosis (obstruksi jalur urin) dapat diklasifikasikan berdasarkan
penyebabnya (kongenital dan didapat) dan level tingginya obstruksi (lower,mid dan
upper urinary tract)1

2.3 Epidemiologi
Secara demografis, angka kejadian hidronefrosis pada laki-laki dan perempuan
sama pada kelompok usia < 20 tahun. Pada usia 20-60 tahun, prevalensi tersebut lebih
tinggi pada perempuan, sedangkan pada kelompok usia > 60 tahun, angka kejadian
tersebut berbanding terbalik.1

2.4 Etiologi
Etiologi hidronefrosis disebabkan oleh kelainan kongenital pada jalur urin yang
sering berupa obstruksi dan kelainan obstruksi yang didapat.

A. Kongenital
Kelainan bawaan utama penyempitan jalur urin terutama pada laki-laki ialah
meauts eksternal (stenosis meatal). Lainnya dapat berupa stenosis distal utetra,
katup posterior uretra, ektopik ureter, ureterokokel, dan ureterovesiko dan
ureteropelviko junction.
B. Kelainan didapat
Dapat berupa kelainan primer jalur urin dan kelainan sekunder yang berasal
dari lesi retroperitoneal yang menekan jalur urin. Penyebab utamanya adalah (1)
striktur uretra yang disebabkan oleh infeksi atau trauma (2) Pembesaran prostat
yang disebabkan oleh benign prostatic hyperplasia atau kanker prostat (3) Tumor
kandung kemih yang menyebabkan penyempitan orifisium ureter (4)
Penyempitan kandung kemih oleh ekstensi kanker prostat atau kanker serviks (5)
Batu ginjal/ureter (6) Tumor retroperitoneal (7) Kehamilan.1

2.4 Manifestasi Klinis


A. Gejala
i. Lower dan midtract (uretra dan kandung kemih)

8
Gejala pada obstruksi pada uretra dan kandung kemih dapat berupa
keluhan BAK tidak puas, pancaran urin lemah, BAK berdarah, BAK
terasa panas, dan urin keruh.
ii. Upper tract (ureter dan ginjal)
Gejala pada obstruksi bagian atas berupa keluhan striktur ureter atau
keluhan batu ginjal, berupa nyeri pada pinggang yang menjalar
sepanjang ureter, demam, BAK terasa panas, hematuria hebat, urin
keruh, mual-muntah, penurunan berat badan. Obstruksi pada jalur
perkemihan atas juga dapat tanpa gejala/keluhan.1

B. Tanda
i. Lower dan midtract
Palpasi pada uretra dapat ditemukan adanya indurasi jika terjadi striktur.
Pada pemeriksaan rectal touche dapat ditemukan pembesaran prostat.
Pancaran urin maksimum dapat dilihat scara akurat dengan flowmeter.
Jika terdapat divertikel atau adanya reflux vesikoureter maka pancaran
urin juga menurun.1
ii. Upper tract
Hidronefrosis atau pelebaran ginjal dapat diperiksa dengan palpasi dan
perkusi. Dapat dilakukan pemeriksaan Ballotemen dan ketokan pada
sudut costovertebra. Pada obstruksi akibat penyempitan oleh kanker
ovarium dapat ditemukan adanya pembesaran pada KGB inguinal.
Asites dapat ditemukan pada anak dengan obstruksi jalur perkemihan
yang hebat.1
C. Temuan laboratorium
Anemia dapat ditemukan pada hidronefrosis hebat uni/bilateral (fase uremia)
atau adanya infeksi kronik pada jalur perkemihan. Leukositosis dapat ditemukan
pada fase akut infeksi. Dapat ditemukan adanya hematuria mikroskopik jika
terdapat adanya infeksi ginjal atau vesikel, tumor atau batu ginjal.
2.5 Patofisiologi

A. Lower Tract
Tekanan hidrostatik oleh obstruksi pada distal jalur urin dapat menyebabkan
dilatasi pada uretra. Dinding uretra dapat menebal, dan dapat ditemukan adanya

9
divertikulum atau abses periuretra. Uretra pars prostat dapat juga terlihat
menebal.
B. Midtract
Pada awalnya (fase kompensasi), otot dinding kandung kemih menjadi
hipertrofi dan menebal. Fase selanjutnya (dekompensasi) terjadi penurunan
kontraktilitas dan kekakuan otot kandung kemih
1. Fase kompensasi
a) Trabekulasi dinding kandung kemih
Hipertrofi kandung kemih akibat distensi yang kama akan membentuk
struktur bundek otot kandung kemih dengan deposit serat kolagen akan
menjadi kencang dan memberi tampilan yang kasar pada permukaan
mukosa yang digambarkan sebagai trabekulasi. Otot trigonal kandung
kemih yang hipertrofi menyebabkan peningkatan resistensi urin pada
kandung kemih. Dan menyebabkan obstruksi fungsional pada
ureterovesiko junction sehingga terjadi aliran balik ke ginjal dan terjadi
hidroureterinefrosis.1
b) Cellules
Normal tekanan intravesikal adalah 30cm pada awal miksi. Pada
hipertrofi kandung kemih dapat meningkatkan 2-4 kali lebih besar
tekanan intravesikal, sehingga mendorong mukosa diantara otot
superfisial dan membentuk kantung kecil/cellules
c) Divertikel
Proses pendorongan mukosa melewati otot terus menerus akan
membentuk sakulus dan divertikel (bentuk akhirnya). Divertikel tidak
memiliki dinding otot makan tidak dapat mengeluarkan urin secara
efisien walaupun obstruksi penyebabnya telah dihilangkan.1
2. Fase dekompensasi
Efek dekompensasi pada otot detrusor dapat terjadi, berupa peningkatan
jumlah urin residu sekitar 500 mL atau lebih.
C. Upper Tract
1. Ureter
Normalnya urin pada kandung kemih tidak akan mengalir ke ureter jika
terjadi tekanan karena adanya “katup” ureterovesikal yang kompeten. Pada
kasus hipertrofi kandung kemih, terjadi peningkatan resistensi urin dan

10
secara progresif akan terjadi aliran balik ke ureter dan ginjal dan
menyebabkan dilataasi ureter dan hidronefrosis. Selanjutnya pada fase
dekompensasi, “katup” ureterovesikal tidak bekerja dan menyebabkan reflux
vesikoureter dan peningkatan tekanan pada kandung kemih secara langsung
akan tersalurkan ke renal pelvis dan menyebabkan hidronefrosis.1

Gambar . Perubahan kandung kemih pada


obstruksi pro stat.

Selanjutnya reflux vesikoureter atau obstruksi oleh batu akan


menyebabkan penebalan otot ureter untuk mendorong urin lebih kuat (fase
kompensasi). Hal ini akan menyebabkan elongasi dan terbentuknya liku-liku
pada ureter, lalu akan terbentuk pertumbuhan jaringan ikat fibrosa. Maka dari
itu penebalan dinding ureter yang lama akan membuat ureter melemah dan
kehilangan kontraktilitasnya (fase dekompensasi).
2. Ginjal
Normalnya tekanan pada renal pelvis tidak ada. Ketika terdapat adanya
tekanan akibat reflux atau obstruksi pelvis dan kaliks dilatasi. Derajat
hidronefrosis akan berkembang berdasarkan durasi dan lokasi obstruksinya.
Semakin tinggi lokasi obstruksi, akan semakin besar efeknya kepada ginjal.
Jika letak obstruksinya pada ureteropelviko junction, maka tekanannya akan
disalurkan ke parenkim ginjal.1

11
Perubahan awal pada hidronefrosis terlihat pada kaliks. Bentuk normal
kaliks berupa cekung/konkav dan peningkatan pada kaliks akan membuat
forniks tumbul dan membulat. Tekanan tinggi yang persisten pada
intrapelvik akan menyebabkan papilla renal datar dan menjadi cembung.
Perubahan pada parenkim dapat terjadi karena (1) kompresi atrofi pada
peningkatan tekanan intrapelvik dan (2) Iskemik atrofi akibat perubahan
hemodinamik, yang bermanifestasi pada pembuluh arkuata yang melewati
piramid ginjal.1

Gambar . Proses terbentuknya hidronefrosis bilateral dan unilateral.

2.5 Gambaran Radiologi

2.5.1 BNO-IVP
Modalitas-modalitas baru dalam pencitraan traktus urinarius mucul seiring
dengan perkembangan di bidang radiologi. Namun, modalitas intravenous urogram
(IVU) tetap menjadi teknik dasar dalam pemeriksaan traktus urinarius. Pemeriksaan
ini disebut pula dengan BNO-IVP (Blaas Nier Overzight – Intra Vena Pielografi) atau
KUB (Kidney Ureter Bladder). Keuntungan dari pemeriksaan ini adalah

12
kemampuannya dalam mendemonstrasikan traktus urinarius secara keseluruhan dari
bagian atas hingga bawah.3
Pemeriksaan BNO-IVP diindikasikan pada pasien dengan gejala maupun
tanda yang mengarah pada gangguan traktus urinarius. Kontraindikasi terhadap
penggunaan media kontras intravascular merupakan kontraindikasi pemeriksaan
BNO-IVP. Kontraindikasi relatif dari pemeriksaan ini adalah kondisi dehidrasi yang
memiliki risiko untuk terjadinya contrast media – associated nephrotoxicity. Selain
itu, gangguan fungsi renal juga merupakan kontraindikasi relatif karena juga
dipercaya sebagai faktor risiko contrast media – associated nephrotoxicity. Myeloma
dan kondisi yang berkaitan terkadang menjadi kontraindikasi bahaya dari presipitasi
protein-protein abnormal dan molekul media kontras dalam tubulus ginjal. Dehidrasi
harus benar-benar dicegah pada kondisi-kondisi di atas apabila BNO-IVP harus
dilakukan.3
Iodinated water-soluble contrast media dapat digunakan dalam pemeriksaan
urogram intravena. Secara umum, dosis yang digunakan adalah 300 mg setiap kg
berat badan pada pasien dewasa. Harus diperhatikan pada pasien dengan gagal
jantung, gangguan fungsi renal, orang tua, dan pediatric. Kebanyakan radiologis lebih
memilih agen non-ionik pada kondisi tersebut. Terdapat beberapa perbedaan di antara
berbagai macam agen kontras:di antara agen ionic konvensional, garam sodium
cenderung menimbulkan efek diuresis osmotic yang lebih rendah dibandingkan garam
meglumine sehingga konsentrasi kontras dalam urin lebih tinggi. Kontras non-ionik
dan ionic osmolalitas rendah juga memproduksi diuresis osmotic yang lebih rendah,
menimbulkan peningkatan konsentrasi dalam urin dan densitas pielograpik yang
signifikan daripada yang terjadi pada agen osmolalitas tinggi yang lain.3
Persiapan yang harus dilakukan oleh pasien sebelum pemeriksaan BNO-IVP
yakni:
1. Puasa 4 – 6 jam sebelum pemeriksaan, dengan tujuan agar gaster kosong dalam
kaitannnya dengan reaksi simpang, bukan untuk membuat pasien dalam kondisi
dehidrasi.

2. Bowel preparation dilakukan pada beberapa departemen. Beberapa berpendapat


bahwa hal ini akan membuat pasien dehidrasi, dan lebih menganjurkan untuk CT-
scan

13
3. Jika pasien berisiko untuk mengalami reaksi simpang dengan media kontras
namun pemeriksaan BNO-IVP harus dilakukan, digunakan agen non-ionik, dapat
pula diberikan kortikosteroid atau antihistamin sebagai profilaksis.3
Foto polos abdomen, yang juga sering disebut KUB (kidney ureter bladder)
merupakan pemeriksaan radiologis yang paling sederhana. Biasanya merupakan
pemeriksaan awal sebelum dilakukan pemeriksaan lain, seperti urografi intravena.
Kontur ginjal dapat terlihat pada foto polos abdomen, sehingga dapat dinilai ukuran,
jumlah, dan posisi anatomisnya. Ukuran normal ginjal pada orang dewasa bervariasi.
Panjang rata-rata ginjal dewasa sekitar 12-14 cm. Sedangkan pada anak di atas 2
tahun, panjang ginjal normal adalah sama dengan jarak antara batas atas vertebrae L1
dan batas bawah vertebrae L4. Foto polos abdomen biasa diambil dengan posisi
sebagai berikut:3,6
1. Foto abdomen supine full-length anteroposterior (AP) harus dikerjakan. Batas
terbawah foto setinggi simfisis pubis dengan sinar bersentral di level krista iliaka.
2. Foto renal supine AP dalam kondisi inspirasi dan ekspirasi diambil untuk
menentukan apakah gambaran kalsifikasi terproyeksi pada ginjal.
Kontras dimasukkan melalui vena antecubital dengan jarum nomor 19G untuk
orang dewasa. Injeksi bolus kontras diberikan secara cepat dalam waktu kurang dari 1
menit.3
Urutan foto
 Immediate nephrogram. Segera setelah injeksi kontras, foto AP diambil dan
menunjukkan nefrogram, dimana kontras terfiltrasi ke tubulus proksimal ginjal.
 Foto 5 menit. Foto AP diambil kembali setelah 5 menit. Pada ginjal dengan fungsi
ekskresi yang normal, akan terlihat system pelvicaliceal pada titik ini. Kompresi
abdomen biasanya diaplikasikan agar terjadi distensi system pelvicaliceal.
Kompresi dikontraindikasikan pada: (a) trauma abdomen atau renal, (b) massa
abdomen, (c) riwayat operasi abdomen dalam waktu dekat, atau (d) foto 5 menit
menunjukkan dilatasi system kolektivus.
 Foto 10 menit. Foto AP dapat diambil kembali untuk menunjukkan system
kolektivus pada kondisi distensi maksimal.
 Foto pengosongan. Foto abdomen AP supine diulangi dan harus
mendemonstrasikan traktus urinarius secara keseluruhan dengan pengisisan buli
pada 20 menit.

14
 Lain-lain. Pencitraan buli spesifik dapat dikerjakan sebelum dan sesudah mikturisi
dan volume residu diukur.3
Terdapat beberapa kondisi khusus yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan
BNO-IVP:
1. Pasien dengan gangguan fungsi renal berat tidak boleh dibuat dehidrasi.
Preliminary tomography mungkin dibutuhkan untuk menentukan level tomografi
optimal untuk memvisualisasikan ginjal. Dosis yang lebih tinggi daripada
biasanya harus diberikan. Meskipun terdapat kemungkinan fungsi ginjal semakin
memburuk, tomografi selama nefrogram dini harus dilakukan.
2. Pada pasien hipertensi, radiologis melakukan injeksi bolus intravena secara sangat
cepat, diikuti oleh sekuens foto renal untuk mendeteksi ketidakseuaian waktu
munculnya pielogram, yang dapat mengindikasikan stenosis arteri renalis.
3. Fizzy drink dapat diberikan pada anak-anak untuk membuat gaster berisi udara
dan terdilatasi, sebagai jendela untuk melihat ginjal. Posisi RPO (right posterior
oblique) berguna untuk visualisasi ginjal kanan. Tomografi dibutuhkan, meskipun
peningkatan dosis radiasi. Kompresi abdomen biasanya tidak dilakukan pada
anak-anak. Ekskresi kontras mungkin lambat pada bayi usia 1 bulan dan
visualisasi traktus urinarius optimum setelah 3 jam.3
Dalam pemeriksaan urogram, metode yang biasa digunakan untuk menilai
ginjal yakni berurutan dari: (1) korteks eksternal, (2) medulla internalis, (3) calices
mayor dan minor serta kolumna renalis, (4) pelvis renalis dan ureteropelvic junction,
(5) ureter, zona normal konstriksi dan peristaltik, (6) uretero-vesicle junction, (7)
vesica urinaria, (8) ureter terhadap spine, (9) muskulus psoas, (10) fascia Gerota dan
hubungan dengan korteks, (11) hubungan dengan region suprarenal.4

15
Gambar : Penilaian Urogram
Sumber: Mescahn, 1975

Hidronefrosis adalah dilatasi pelvis dan calices renal. Dalam BNO-IVP,


hidronefrosis terlihat sebagai blunting dari fornix dengan preservasi papilla. Dengan
meningkatnya keparahan, papilla renalis menjadi flattened dan akhirnya menjadi
konkaf terlihat dari calices ballon out.5
Obstruksi pelviureteric junction berkaitan dengan hidronefrosis terisolasi
namun obstruksi di bawah level ini berkaitan dengan beberapa derajat distensi ureter,
atau yang disebut juga hidroureter. Namun penyebab hidronefrosis tidak selalu
diakibatkan oleh obstruksi, seperti halnya pada atrofi postobstruksi, diabetes
insipidus, serta pielonefritis yang berkaitan dengan lepasnya endotoksin inhibitor
peristaltic ureter.5

16
Gambar : BNO-IVP
Sumber: Sutton, 2003

2.5.2 Ultrasonografi
Pemeriksaan ini mempunyai banyak keuntungan terutama pada keadaan gawat
darurat yaitu dapat dilakukan pada tempat tidur, tidak ada radiasi, tidak membutuhkan
kontras, dapat dilakukan berulang, dan cepat. Sedangkan kekurangan dari
pemeriksaan ini dibandingkan pemeriksaan lain yaitu tidak dapat menilai fungsi ginjal
dan tidak bisa mengidentifikasi ukuran batu ureter.7

17
Pemeriksaan USG merupakan salah satu modalitas untuk penilaian awal dari
sistem pelvicaliks. Pemeriksaan dilakukan dengan posisi pasien supinasi, right lateral
decubitus (RLD), atau left lateral decubitus (LLD). Saat pemeriksaan pasien diminta
untuk menarik napas yang dalam agar gambaran ginjal lebih terlihat. Kemudian
transduser diletakkan sedikit posterior dari garis midaksilla. Gambaran ginjal terlihat
paling baik pada bidang koronal. Gambaran yang normal menunjukan setiap ginjal
dikelilingi oleh kapsul fibrosa yang hiperekoik. Dibawahnya terdapat korteks dan
kolumna renal yang isoekoik.8

Gambar : Ginjal normal pada Pemeriksaan USG


Sumber : Gray’s Surface Anatomy and Ultrasound, 20188

Ultrasound sangat baik untuk digunakan dalam mendiagnosis obstruksi kronik dan
juga sebagai lini pertama investigasi dalam mencari penyebab sebuah penyakit.
Seperti yang diindikasikan diatas, ultrasound sering tampak lebih samar pada

18
obstruksi akut, walaupun terdapat laporan mengenai perkembangan atau peningkatan
dalam keakuratan dengan teknik Doppler. Analisis spektral dari arteri arkuata dan
interlobar dapat mendemonstrasikan peningkatan indeks resistif pada ginjal yang
terobstruksi. Hal ini merefleksikan adanya reduksi atau penurunan aliran darah dan
terlihat pada beberapa kondisi termasuk penyakit parenkim ginjal akut. Indeks resistif
diatas 0.70 atau lebih dari 0.08 ginjal kontralateral mensugestikan adanya obstruksi
disertai gejala klinis yang sesuai. Selain itu, derajat hidronefrosis terbagi menjadi
tiga. Hidronefrosis ringan memberikan gambaran hipoekoik di bagian tengah ginjal.
Pada hidronefrosis sedang terlihat pelebaran peilokalikises yang sama baiknya seperti
pada urografi. Sedangkan pada hidronefrosis derajat berat tampak kalises berupa
suatu zona bebas eko yang lobulated, parenkim ginjal terlihat tidak jelas.9

Gambar Hidronefrosis Derajat Ringan, Sedang, dan Berat


Sumber : Ultrasound of Urogenital System, 200610

19
2.5.3 CT-Scan
Normal Computed Tomography
Gambaran multiplanar dari ginjal dapat memperlihatkan gambaran yang
indah mengenai detail anatomi ginjal. Kontur normal yang halus, orientasi
kraniokaudal, struktur internal, dapat didemonstrasikan secara mudah dan memberi
mimik spesimen patologis. Densitas dari korteks dan medulla ginjal pada CT tanpa
kontras tampak terlihat sama, dan mereka terlihat sama dengan penyerapan dari hati.
Parenkim ginjal secara khusus berkisar dari 27-47 houndsfield unit pada CT tanpa
kontras. Sinus pada ginjal paling umum terletak anterior dan medial dari jaringan
parenkim, dan hal tersebut mudah untuk dibedakan dari parenkim dari penyerapan
jaringan lemaknya, walaupun tanpa kontras intravena.11
Bagian sentral dari sinus ginjal mempunyai penyerapan jaringan lemak dengan
penyerapan linear cairan pembuluh darah ginjal dari aorta menuju vena cava inferior.
Traktus urothelial juga berasal dari lemak sinus ginjal pada aspek anteromedial dari
ginjal, dan pada daerah ini termasuk kaliks dan pelvis ginjal. Sistem collecting
biasanya kolaps, namun disana dapat juga terdapat sejumlah kecil cairan
kaliks. Gambaran ginjal bervariasi seiring dengan adanya penundaan waktu sampai
akuisisi gambar setelah injeksi intravena kontras iodin. Pada CT tanpa kontras ureter
sulit untuk divisualisasikan dalam pertanyaan klinis mengenai nefrolitiasis, dan
kontras intravena bisa membuat ureter terlihat terpisah dari kalsifikasi plebolit pelvis.
Kontras intravena harus diberikan secara hati - hati karena dapat menimbulkan risiko
anafilaksis bahkan kematian. pada pasien dengan disfungsi ginjal, dapat juga
menimbulkan risiko nefrotoksisitas yang diinduksi kontras, yang dapat menghasilkan
insufiensi ginjal sementara, gagal ginjal permanen, bahkan kematian. Keuntungan
klinis dari kontras intravena biasanya menyediakan keuntungan disamping
kemungkinan komplikasi yang dapat ditimbulkan. Penyengatan dari kontras secara
signifikan dapat memperbaiki visualisasi dari struktur pelvis dan abdomen dapat
memperlihatkan karakter pembuluh darah. setelah delay atau fase penundaan waktu,
CT potongan tipis dilakukan yang dikenal dengan CT urografi. Seleksi dari kontras
intravena juga mempunyai berbagai pertimbangan.11

20
21
Gambar II

Obstruksi Pelviureteric junction


Kondisi ini mempunyai sebuah spektrum keparahan dari hidronefrosis
antenatal yang parah dengan adanya kerusakan kortikal global sampai hidronefrosis
pada orang dewasa yang didemonstrasikan secara radiologi tanpa adanya gejala klinis
yang jelas dan adanya penurunan fungsi dari ginjal. Penyebab dari kondisi ini masih
belum jelas secara keseluruhan dan mempunyai banyak kontroversi. Kemungkinan
yang ada termasuk hasil terdapatnya kondisi iskemik intrauteri, kelebihan kolagen
didalam dinding dari pelviureteric junction (PUJ) atau adanya pembuluh darah yang
menyimpang. Diantaranya sampai 20% berhubungan dengan arteri asesorius ginjal

22
yang berada diseputar pelviureteric junction, yang dapat terlihat pada IVU sebagai
lekukan yang halus. Pada beberapa kasus, bagaimanapun pembuluh darah yang
memperdarahi terlihat sekunder sebagai akibat dari perkembangan hidronefrosis dan
bukan sebagai penyebabnya. Lesi tersebut adalah hidronefrosis yang berkembang dari
sebuah pelviureteric junction yang menyempit, yang gagal untuk relaks dan
mentransmisikan gelombang peristaltik ke ureter. Mulanya hal ini terjadi secara
intermiten. Pada orang dewasa klinis yang timbul adalah episode nyeri pinggang yang
mana pada dewasa muda bisa berhubungan dengan konsumsi dalam jumlah banyak
cairan yang dapat merangsang diuresis.5

Gambar III

23
Gambar IV

Hidronefrosis dan Hidroureter


Pelvis renalis yang membesar tidak langsung dapat dikatakan hidronefrosis,
namun Hal tersebut dapat dikatakan sebagai pelvis ekstrarenal prominens, yang mana
sebuah varian yang normal.
Obstruksi pada pelviureteric junction berhubungan dengan satu kelainan
tersendiri yaitu hidronefrosis, namun obstruksi dibawah level pelviureteric junction
berhubungan dengan beberapa tingkat distensi ureter (hidroureter). Hal ini merupakan
obstruksi kronik yang paling ditandai, dimana sering juga dapat terjadi perubahan liku
dari ureter. Hal utama yang menjadi penyebab hidronefrosis obstruktif (yang paling
sering berhubungan dengan hidroureter) adalah sebagai berikut:
-Kalkulus pelvis renal, kalkulus ureter
-Obstruksi pelviureteric junction
-Tumor
A. Kompresi ekstrinsik dari ureter pada retroperitoneum (biasanya metastasis
limfanodus) atau pelvis ( keganasan ginekologi, karsinoma buli, prostat, atau
rektosigmoid) Tumor urothelial pada ureter atau pelviureteric junction.
-Lesi massa inflamatori (penyakit Crohn, abses appendiks atau divertikular)
-Striktur uretra
-Filling defect pada ureter
-Fibrosis retroperitoneal
-Hidronefrosis pada kehamilan dan hidroureter
Hidronefrosis juga dapat terlihat pada kondisi non-obstruktif. Penyebab yang
paling umumnya adalah hidronefrosis postobstruktif (sering diiringi dengan atrofi),
ketika sebelumnya terdapat obstruksi yang telah mereda, terdapat refleks vesikoureter
yang parah dan megaureter primer. Aliran berlanjut dari volume urin yang begitu
besar juga dapat memberikan gambaran tersebut, contohnya pada diabetes insipidus.
Hidronefrosis nonobstruktif dan hidroureter juga terlihat pada pielonefritis yang parah
karena adanya pelepasan endotoksin yang menginhibisi peristalsis ureter.

24
Gambar V

Gambar VI

25
Gambar VII

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Tublin M, Borhani AA, Furlan A, Heller MT. Diagnostic Imaging:


Genitourinary. Edisi ke-3. Philadelphia: Elsevier; 2016.
2. Reynard J, Brewster S, Biers S. Oxford Hanbook of Urology. Edisi ke-3.
China: Oxford University Press; 2013.
3. Dawson P. Intravenous Urography. Dalam: Dawson P, Clauss W. Contrast
Media in Practice. Edisi ke-2. Germany: Springer; 1998.
4. Meschan, I. Synopsis of Analysis of Roentgen Signs in General Radiology.
Philadelphia: W. B. Saunders Company; 1975.
5. Kabala JE. The Kidney and Ureters. Dalam: Sutton D. Textbook of Radiology
and Imaging Sutton. Volume 2. China: Elsevier; 2003
6. Gerst SR, Hricak H. Radiology in Uthe Urinary Tract. Dalam: Tanagho EA,
McAninch JW. Smith’s General Urology. Edisi ke-17. USA: McGraw-Hill;
2008.
7. Blok B. Renal Ultrasound. Am Coll Emerg Physicians. 2008.
8. Smith C, Dilley A. Gray’s Surface Anatomy and Ultrasoud. Philadelphia:
Elsevier; 2018.
9. Rasjad S. Radiologi Diagnostik. Jakarta: FKUI; 2000.
10. Baxter G, Sidhu P. Ultrasound of Urogenital System. New York: Thieme;
2006
11. Grayson, Timopthy H. Radiology Review Manual. America: Williams &
Wilkins; 1991

27