Anda di halaman 1dari 18

4.

4 Aspek Hukum dan Etika Profesi


4.4.1 Kebijakan rumah sakit atau rekam medis mengenai keamanan dan
kerahasiaan rekam medis
Kebijakan rumah sakit atau rekam medis mengenai keamanan dan
kerahasiaan rekam medis dapat diketahui melalui standart operasional
prosedur yang ada di rekam medis RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo yaitu
sebagai berikut:
a. Keamanan Rekam Medis
Keamanan rekam medis adalah memberikan perlindungan baik fisik
maupun elektronis bagi informasi rekam medis agar terjamin ketersediaan
dan kerahasiaan. Yang bertujuan sebagai berikut :
1) Menjamin ketersediaan dan kerahasiaan informasi rekam medis
2) Mencegah bocornya atau tersebarnya informasi medis
3) Menjaga kelengkapan dan keamanan berkas rekam medis
Dalam menjalankan standar operasional yang dibuat oleh rekam medis
RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo didasarka oleh kebijakan-kebijakan antara
lain:
1) Undang-undang nomor 29 tahun 2004 tentang praktek kedokteran
2) Permenkes Ri nomor 269/Menkes/III/2008 tentang rekam medis
3) Keputusan Dirjenyanmed Depkes RI No 78/YanMed/RSUmdik/YMU/1991
tentang Petunjuk pelaksanaan penyelenggaran rekam medis di rumah sakit
Prosedur yang harus dijalankan oleh petugas rekam medis RSUPN Dr
Cipto Mangunkusumo dalam menjaga keamanan rekam medis adalah
1) Petugas pendaftaran pasien melakukan pencatatan atau memasukkan ke
dalam komputer data demografi pasien secara lengkap sesuai dengan Kartu
Tanda Penduduk (KTP)
2) Mencatat berkas rekam medis yang keluar pada buku ekspedisi (memasukkan
komputer)
3) Memberikan berkas rekam medis langsung kepada petugas poliklinik
4) Petugas poliklinik mengembalikan berkas rekam medis ke unit rekam medis
setelah pasien selesai mendapatkan pelayanan pada hari yang sama atau 1 x
24 jam
5) Petugas ruang rawat inap mengembalikan berkas rekam medis ke unit rekam
medis setelah pasien pulang rawat dalam waktu 2 x 24 jam
6) Mencatat di buku ekspedisi pengembalian berkas rekam medis yang
dikembalikan ke unit rekam medis baik berkas rekam medis poliklinik atau
rekam medis rawat inap.
7) Petugas perakitan (assembling) rekam medis melakukan monitoring
kelengkapan formulir dan pengisian rekam medis serta kesesuaian nama dan
NRM dengan folder rekam medis
8) Petugas jaga siang dan malam mencatat rekam medis yang keluar untuk
keperluan berobat di IGD atau masuk rawat inap
9) Petugas rekam medis memasukkan dan mengedit data pada sistem komputer
sesuai dengan security level (password) yang dimiliki.

b. Kerahasiaan Rekam Medis


Kerahasiaan rekam medis adalah memberikan perlindungan bagi
informasi medis agar tidak terjadi kebocoran informasi medis pasien yang
bertujuan sebagai berikut :
1) Menjamin ketersediaan dna kerahasiaan informasi rekam medis
2) Mencegah bocornya / tersebarnya informai medis
3) Menjaga kelengkapan dan keamanan rekam medis
Dalam menjalankan standar operasional yang dibuat oleh rekam medis
RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo didasarkan oleh kebijakan-kebijakan
antara lain:
1) Undang-undang nomor 29 tahun 2004 tentang praktek kedokteran
2) Permenkes RI nomor 269/Menkes/III/2008 tentang rekam medis
3) Keputusan Dirjenyanmed Depkes RI No 78/YanMed/RSUmdik/YMU/1991
tentang Petunjuk pelaksanaan penyelenggaran rekam medis di rumah sakit
4) Surat keputusan direksi RSUP Nasional DR.Cipto Mangunkusumo NO.HK
02.04/IX.35/7026.2015 tentang revisi keputusan direktur utama RSC Nomor
: 785/TU.K/34/I/2013 Tentang Kebijakan Pelayanan Rekam Medis di RSUP
Nasional Dr.Cipto Mangunkusumo
Prosedur yang harus dijalankan oleh petugas rekam medis RSUPN Dr
Cipto Mangunkusumo dalam menjaga keamanan rekam medis adalah
1) Untuk melindungi kerahasiaan isi rekam medis ditetapkan ketentuan bahwa
hanya petugas rekam medis yang diizinkan masuk ruang penyimpanan rekam
medis
2) Masukkan nomor rekam medis kedalam program EHR (electronic health
record) setiap rekam medis yang keluar dari rak penyimpanan rekam medis
3) Petugas distribusi rekam medis (Runner) membawa rekam medis
menggunakan tas atau troly dalam keadaan tertutup
4) Dokter, perawat atau tenaga kesehatan lain menyimpan pada tempat khusus
yang tertutup
5) Mengetahui cara dan bentuk sosialisasi secara resmi kebijakan-kebijakan
mengenai keamanan dan kerahasiaan rekam medis diruang operasi atau ruang
prosedur selama pasien mendapatkan perawatan atau tindakan
6) Formulir konsultasi dan formulir pemeriksaan penunjang harus dalam
keadaan tertutup/ diliat sebelum diserahkan ke pasien
7) Dilarang menggunakan kamera atau gadget saat melakukan kegiatan
mengakses rekam medis
8) Pemusnahan formulir-formulir rekam medis yang salah tulis atau batal harus
dihancurkan dengan menggunakan mesin penghancur kertas (shredder) atau
digunting atau dirobek
4.4.2 Kebijakan rumah sakit atau rekam medis terkait prosedur pelepasan informasi
kepada pasien maupun pihak ketiga
Pemberian informasi rekam medis kepada pihak ke-3 adalah pemberian
informasi rekam medis kepada pihak ke-3 atau penanggung pembayaran
(asuransi) dan instansi lain dengan izin dari pasien secara tertulis. Prosedur
ini bertujuan untuk memberikan informasi rekam medis kepada pihak ke-3
secara aman dan bertanggungjawab.
a. Dasar pelepasan informasi ini sesuai dengan kebijakan:
1) Undang-undang nomor 29 tahun 2004 tentang praktek kedokteran
2) Permenkes Ri nomor 269/Menkes/III/2008 tentang rekam medis
3) Keputusan Dirjenyanmed Depkes RI No 78/YanMed/RSUmdik/YMU/1991
tentang Petunjuk pelaksanaan penyelenggaran rekam medis di rumah sakit
4) Surat keputusan direksi RSUP Nasional DR.Cipto Mangunkusumo NO.HK
02.04/IX.35/7026.2015 tentang revisi keputusan direktur utama RSC Nomor
: 785/TU.K/34/I/2013 Tentang Kebijakan Pelayanan Rekam Medis di RSUP
Nasional Dr.Cipto Mangunkusumo
Prosedur yang harus dijalankan oleh petugas rekam medis RSUPN Dr
Cipto Mangunkusumo dalam menjaga keamanan rekam medis adalah
1) Surat dari asuransi tentang permohonan informas medis mengenai pasien baik
rawat jalan maupun pasca rawat inap oleh Direksi didisposisikan kepad Unit
rekam medis
2) Petugas rekam medis akan menyiapkan rekam medis sesuai dengan
permohonan, kemudian surat beserta rekam medisnya disampaikan kepada
Unit Forensik
3) Unit forensik menghubungi / memberitahukan dokter yang merawat pasien,
agar dokter menjawab surat tersebut
4) Seteah surat selesai diproses dan diketik, surat jawaban tersebut dikirim oleh
Unit Forensikdan surat aslinya disimpan di dalam rekam medis
5) Rekam medis pasien tersebut oleh Unit Forensik dikembalikan ke Unit rekam
medis
6) Penyerahan rekam medis dan informasi rekam medis dicatat di buku
ekspedisi
Beberapa hal yang patut diperhatikan dalam proses dan prosedur
pelepasan informasi kesehatan (misalnya, saat memberikan salinan/fotocopy
RM) menurut Sudra ( 2009) dalam Khusnah (2017):
1) Semua permintaan copy RM harus tertulis dengan menggunakan formulir
“permintaan salinan RM” yang disediakan oleh RS. Sediakan formulir
permintaan fotocopy/salinan RM untuk diisi dan ditandatangani oleh pasien
atau walinya yang sah (lampirkan surat kuasa + bukti identitas diri sah yang
berlaku).
2) Pastikan bahwa peminta copy RM tersebut adalah memang pasien yang
berhak atas isi RM-nya.
3) Konsultasikan dan konfirmasikan permintaan tertulis ini kepada atasan
langsung Anda untuk mendapatkan persetujuan (atau penolakan).
4) Siapkan rekam medis yang akan dicopy dan pastikan bahwa yang dicopy
hanya sebatas yang dibutuhkan saja (prinsip need-to-know).
5) Fotocopy RM selayaknya dilaksanakan didalam lingkup RS dan hanya oleh
petugas RM yang berwenang. Berkas RM tidak boleh keluar dari RS.
6) Setelah di fotokopi, cek dan pastikan bahwa seluruh lembar RM tersebut tetap
utuh dan urut seperti sebelumnya.
7) Cek dan pastikan bahwa setiap lembar hasil copy pada kondisi jelas dan
terbaca, tidak ada bagian yang hilang/terlipat/tertutup dan tidak ada kotoran
yang mengganggu pembacaan hasil copy.
8) Bawa dan tunjukkan RM asli dan hasil copy-nya kepada peminta.
9) Tunjukkan lembar-lembar dari RM asli beserta hasil copynya tersebut dan
pastikan bahwa lembar yang di-copy sudah sesuai dengan yang diminta dan
sesuai dengan aslinya.
10) Setelah lembar copy dinyatakan sesuai dengan permintaan dan sesuai dengan
aslinya, maka masing-masing lembar copyan tersebut distempel SESUAI
DENGAN ASLINYA” dan ditandatangani oleh petugas/pejabat yang
berwenang.
11) Lembar copy RM diserahkan kepada pasien/peminta.
12) Pasien/peminta mengisi dan menandatangani bukti serah terima salinan RM.
Dalam bukti ini hendaknya dicantumkan jumlah lembar, jenis lembar/form,
dan tercantum kalimat “telah saya periksa isinya dan sesuai dengan aslinya”.
13) RM asli berikut bukti permintaan salinan dan bukti serah terima salinan RM
disimpan kembali oleh petugas yang berwenang.
Pelepasan informasi kepada pasien maupun pihak ketiga di RSUPN Dr.
Cipto Mangunkusumo diberikan dalam bentuk salinan resume medis. Pasien
tidak diperbolehkan mengcopy rekam medisnya untuk kepentingan apapun.
Bagian yang menjadi penanggungjawab pelepasan informasi ke pihak
asurasni dalam hal ini pihak ketiga adalah departemen forensik RSUPN Dr
Cipto Mangunkusumo.
1.4.3 Syarat-syarat pelepasan informasi kepada pasien maupun pihak ketiga
Dokumen rekam medis digunakan sebagai bukti pelayanan yang telah
diberikan tenaga kesehatan kepada pasien. Kegunaan dokumen rekam medis
salah satunya sebagai bukti informasi kepada pihak ketiga. Terdapat syarat-
syarat yang harus disiapkan oleh peminta informasi, syarat-syarat yang harus
disiapkan adalah:
a. Bila pasien lagsung yang mengambil cukup menunjukkan kartu pasien (KTP)
b. Bila diwakilkan :
1) Membawa surat kuasa asli bermaterai dari pasien kepada penerima kuasa
2) Fotocopy KTP pasien dan penerima kuasa
3) Mengisi formulir pelepasan informasi medis yang sdduah disiapkan oleh
bagian rekam medis
c. Bila pasien sudah meninggal, pengambilan dilakukan oleh ahli waris dengan
menyertakan :
1) Fotocopy kartu keluarga
2) Fotocopy KTP pasien (alm) & ahli waris langsung sesuai data kartu keluarga
atau kelurahan setempat
3) Mengisi formulir pelepasan informasi medis yang sudah disiapkan oleh
bagian rekam medis
d. Untuk pasien meninggal, jika ahli waris diwakilkan oleh orang lain harap
menyertakan :
1) surat kuasa asli bermaterai dari pasien kepada penerima kuasa
2) membawa semuas persyaratanyang tertera di poin “c”
3) fotocopy KTP penerima kuasa
4) Mengisi formulir pelepasan informasi medis yang sdduah disiapkan oleh
bagian rekam medis
e. Membayar biaya administrasi yang sudah dijelaskan oleh petugas
1) Pelayanan administrasi klain asuransi pasien hidup Rp 150.000,-
2) Pelayanan administrasi klaim asuransi pasien meninggal Rp 250.000,-
Harus diingat bahwa berkas rekam medis adalah milik sarana pelayanan
kesehatan, oleh karena itu pasien tidak berhak untuk membawa rekam medis
pasien tersebut keluar dari sarana pelayanan kesehatan tersebut. Hal ini
dijelaskan pula oleh PerMenKes No. 269/MENKES/PER/III/2008 BAB V
Pasal 12 yaitu :
Ayat (1) ”Berkas rekam medis milik sarana pelayanan kesehatan”
Ayat (2) “Isi rekam medis milik pasien”
Ayat (3) “Isi rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam bentuk
ringkasan rekam medis”.
Selanjutnya kepemilikan rekam medis ini juga dipertegas dalam Undang-
undang RI No. 29 Tahun 2004 Pasal 47 ayat (1):
”Dokumen rekam medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 merupakan
milik dokter, dokter gigi, atau sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi
rekam medis merupakan milik pasien.
Pelepasan Informasi RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo kepada pihak ketia
yaitu asuransi ditangani oleh departemen forensik. Departemen forensik yang
melakukan pelepasan informasi ini membuat sesuai dengan permintaan
pasien atau keluarga, format pembuatan formulir berdasarakan kepada
asuransi masing-masing.
Sedangkan pelepasan informasi untuk penelitian sendiri terdapat beberapa
syarat yang harus dipenuhi :
a. Surat izin dari kepala departemen
b. Menyerahkan surat pengantar dari bagian diklat RSUPN Dr Cipto
Mangunkusumo
c. Ketka dokter yang meminta datang, dipastikan doter menggunakan kartu
identitas kedokteran.
d. Jika dokter tidak memakai kartu identitas makan pihak rekam medis boleh
tidak melayani permintaan dokter
e. Untuk permintaan perhari maksimal 2 dokumen rekam medis, ketika
permintaan lebih dari 10 harus mengggunakan surat seperti yang ada di poin
a dan b
f. Setelah disipakan dokumen yang diminta dan ternyata tidak dikerjakan oleh
dokter maka dokumen akan dikembalikan ke bagian filing

1.4.4 Mengobservasi pelaksanaan perundang-undangan tentang kerahasiaan isi


rekam medis
Pada hasil pengamatan yang telah dilakukan, ada berkas rekam medis
karyawan yang bekerja di RSUPN Dr Cipto Magunkusumo masih dibawa
sendiri dan diletakkan dimeja kerja karyawan. Jika berpedomanan pada
standar operasional prosedur tentang keamanan rekam medis di RSUPN Dr
Cipto Mangunkusumo tindakan ini menyalahi aturan yang berlaku dan
sebaiknya dilakukan evaluasi ketaatan terhadap pelaksanaan SOP yang
berlaku.
Keamanan dan kerahasiaan data medis baik pasien maupun petugas yang
menjasi pasien di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo ini berhak dilindungi.
Berkas rekam medis semua pasien seharusnya ada didalam ruang rekam
medis, hal ini untuk mengantisipasi rekam medis hilang karena diletakkan di
tempat yang tidak seharusnya. Terlebih lagi, jika petugas tersebut masuk
kedalam IGD dan berkas diruang rekam medis tidak ada maka pelayanan
terhadap petugas tersebut akan terhambat karena penyediaan berkas rekam
medis terhambat.
Sebaiknya, dalam kasus ini dilakukan penanganan segera dengan cara
sosialisasi atau pemberitahuan terhadap petugas yang masih membawa
berkas rekam medis miliknya ke meja kerja masing-masing. Rekam medis
yang masih dimeja kerja, untuk dikembalikan ke bagian rekam medis untuk
memperlancar pelayanan jika dibutuhkan tiba-tiba.

1.4.5 Jenis-jenis formulir informed consent (persetujuan tindakan kedokteran) dan


pelaksanaannya
Informed consent adalah pengakuan atas hak autonomy pasien, yaitu hak
untuk dapat menentukan sendiri apa yang boleh dilakukan terhadap dirinya.
Doktrin informed consent mensyaratkan agar pembuat consent telah
memahami masalahnya terlebih dahulu (informed) sebelum mengambil
keputusan consent atau refusal (menerima atau menolak). Dengan demikian,
informed consent adalah suatu proses yang menunjukkan komunikasi yang
efektif antara dokter dengan pasien dan bertemunya pemikiran tentang apa
yang akan dan apa yang tidak akan dilakukan terhadap pasien Sampurna,
2008 dalam Khusnah (2017). Informed consent yang terdapat di RSUPN Dr
Cipto Mangunkusumo digunakan berdasarkan kebutuhan pasien yang akan
mendapatakan tindakan khusus.
a. Formulir pemberian informasi dan persetujuan umum (general consent) untuk
menerima pelayanan kesehatan
b. Formulir persetujuan pasien thalassemia baru
c. Formulir persetujuan pasien pindah dari icu ke rawat inap
d. Persetujuan konsultasi dokter dan dokter penanggung jawab pasien
e. Formulir persetujuan pemberian darah dan produk darah
f. Formulir persetujuan pemberian tranfusi darah lanjutan
g. Formulir persetujuan tindakan kedokteran kemoterapi
h. Formulir penolakan tindakan kedokteran kemoterapi
i. Formulir persetujuan tindakan kedokteran
j. Formulir penolakan tindakan kedokteran
k. Formulir persetujuan obat kelasi besi pada pasein thalassemia
l. Formulir persetujuan pasien hemodilasis baru unit hemodialisis anak
m. Persetujuan tindakan hemodialisis rutin / berulang unit hemodialisis anak RS
Cipto Mangunkusumo
n. Formulir persetujuan tindakan transplantasi bagi donor
o. Formulir penolakan tindakan transplantasi bagi donor
p. Surat pernyataan persetujuan tindakan / pemeriksaan penunjang
q. Formulir persetujuan prosedur tindakan radiologi
r. Persetejuan tertulis pemberian darah inkompatibel minor
Sebenarnya, consent (persetujuan) dapat diberikan dalam bentuk:
a. Dinyatakan (expressed):
1) secara lisan, dan
2) secara tertulis.
b. Tidak dinyatakan (implied). Pasien tidak menyatakannya, baik secara lisan
maupun tertulis, namun melakukan tingkah laku (gerakan) yang
menunjukkan jawabannya;misalnya menggulung lengan baju ketika akan
diambil darahnya Sampurna (2008) dalam Khusnah (2017).
Pernyataan tertulis diperlukan apabila dibutuhkan bukti di kemudian hari,
umumnya pada tindakan yang invasif atau yang beresiko mempengaruhi
kesehatan pasien secara bermakna. UU praktik kedokteran dan permenkes
tentang Persetujuan Tindakan Medis menyatakan bahwa semua jenis
tindakan operatif dan yang beresiko tinggi harus memperoleh persetujuan
tertulis Sampurna (2008) dalam Khusnah (2017).
UU Praktik Kedokteran Pasal 45 ayat (3) memberikan panduan pemberian
informasi dalam rangka informed consent, yaitu sekurang-kurangnya
meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan medis yang
dilakukan, alternatif tindakan lain dan risikonya, risiko dan komplikasi yang
mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan. dengan
merujuk kepada doktrin dan ketentuan hukum diatas, maka pelaksanaan
informed consent adalah sebagai berikut:
1) Pertindik dalam bentuk tertulis diperlukan pada tindakan medis yang
mengandung risiko tinggi atau yang membutuhkan bukti.
2) Selalu didahului dengan penjelasan oleh dokter yang merawat atau oleh
dokter penggantinya.
3) Informasi dapat diberikan secara lisan maupun tertulis dengan memberikan
kesempatan yang cukup untuk tanya-jawab. Bentuk tertulis dapat dijadikan
bukti bahwa informasi tersebut telah diberikan.
4) Informasi yang diberikan setidak-tidaknya meliputi diagnosis dan tata cara
tindakan medis, tujuan tindakan medis yang dilakukan, alternatif tindakan
lain dan risikonya, risiko dan kompilkasi yang mungkin terjadi, dan prognosis
terhadap tindakan yang dilakukan.
1.4.6 Jenis-jenis surat keterangan medis, baik untuk pengadilan maupun untuk non pengadilan
Departemen forensik mengeluarkan beberapa formulir yang dapat dijadikan sumber informasi bagi pasien. Untuk surat
keterangan medis untuk pengadilan, departemen forensik mengeluarkan visum et repertum baik untuk pasien hidup maupun
meninggal. Untuk alur sendiri dapat dilihat pada alur pelayanan dibawah ini :
a. Alur Pelayanan Patologi Forensik (Pasien Meninggal)

Jenazah Luar RS (KLL,DOA) Jenazah Dalam RS (SAKIT)

SPV?SKK?SK RT/RW Pemeriksaan Dokter

Ada?
Wajar/ Tidak

SKK SPV Lapor Polisi Tidak Wajar Wajar

Mediko Legal Non Mediko Legal

Outopsi VER SKK

Registrasi SKK Oleh Petugas Kamar


Jenazah

Pemulasaran Jenazah

Jenazah Keluar
Bagi korban meninggal yang merupakan pasien rawat RSCM sendiri akan
diperiksa oleh dokter kewajaran dan ketidakwajaran pasien meninggal. Jika
dinilai wajar, maka akan dinyatakan pada koran yang non mediko legal dan
akan dibuatkan suart keterangan kematian, setelah dilakukan registrasi oleh
petugas terhadap SKK yang dibuat maka jenazah dengan seijin dan
permintann dari keluarga korban akan dimandikan di ruang jenazah
(pemulasaran jenazah) dan jenazah dapat dibawa pulang.
Beda halnya jika hasil pemeriksaan dokter menyatakn bahwa pasien
meninggal secara tidak wajar, maka akan dilaporkan ke pihak polisi dan pihak
polisi untuk membuat Surat Permintaan Visum (SPV) kasus ini akan masuk
ke ranah hukum atau mediko legal. Jenazah akan dilakukan outopsi oleh
petugas rumah sakit dan dilakukan verifikasi sampai Surat Keterangan
Kematian (SKK) dibuat oleh dokter yang bertanggungjawab terhadap pasien
sebelumnya.
Pasien yang berasal dari luar RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo
memperoleh tindakan yang sama pembedanya pasien berasal dari kecelakaan
lalu lintas atau meninggal saat perjalan ke RSUPN DR Cipto
Mangunkusumo. Ketika keluaraga pasien membawa Surat Permintaan
Visum, maka pasien akan di outopsi oleh petugas visum dan diverifikasi
sampai surat ketengan kematian dibuatkan. Dan jenazah akan dilakukan
pemulasaran atas seijin keluarga setelah itu jenzaah dapat dibawa pulang ke
rumah jenazah.
Pasien yang berasal dari luar RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo dan
keluarga atau wali membawa Surat Keterangan Kematian maka petugas
RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo akan memandikan jenazah setelah itu
jenazah dapat dibawa pulang.
b. Alur Pelayanan Patologi Klinik (Pasien Hidup)

Korban Hidup

Triage IGD

Penanganan
kegawatan/ Gawat
kedaruratan Ya Tidak
Darurat

Ada SPV Tidak Ada

Penanganan
Kondisi Medis

Edukasi Penanganan Kasus Selanjutnya Pengumpulan


Barang Bukti

Dewasa Anak/
Dewasa

SPV Lapor Kepolisian Setempat Anak

Visum

Masukan hasil pemeriksaan Serahkan Hsail Pemeriksaan


dalam visum Kepada Pemohon
RSUPN DR Cipto Mangunkusumo yang merupakan rumah sakit rujukan
sering melayani permintaan visum pasien yang masih hidup seperti kekerasan
dalam rumah tangga, pelecehan seksual. Dari alur diatas, diketahui bahwa
korban yang mengajuka surat permintaan visum harus masuk melalui
Instalasi Gawat Darurat (IGD) terlebih dahulu, jika kasusu korabn tersebut
menurut hasil triage IGD merupakan kasus yang gawat maka akan dilakukan
penangan terhadap kasus korban setelah itu baru korban menjalani visum dan
petugas akan memasukkan hasil visum kedalam formulir visum et repertum
yang nantinya hasil tersebut akan diserahkan kepada korban atau pihak
berwenang yang menemani korabn dalam menjalani visum.
Korban yang dinyatakan tidak dalam kondisi gawat yang darurat oleh
petugas triage IGD dan korban tidak membawa surat permintaan visum maka
korban akan ditangani kondisi medisnya oleh petugas dan mengumpulkan
barang bukti, dalam tahap iini dibedakan lagi apakah korabn merupakn anak-
anak atau sudah dewasa. Jika korabn merupakan anak-anak maka petugas
akan melaporkan ke kepolisian setempat dan akan dibuatkan surat permintaan
visum sampai menajalani visum dan terbit hasil pemeriksaan visum et
repertum. Jika korban adalah seseorang yang sudah dewasa maka petugas
akan mengedukasi korban untuk penanganan kasus selanjutnya baiknya
bagaimana.
Untuk korban yang masih hidup tetapi tidak gawat darurat dan korban
membawa surat permintaan visum makan korabn akan lamgsung dilakukan
visum oleh petugas visum, tahap selanjutnya petugas akan mebuatkan hasil
visum dan menyerhkannya kepada pemohon.
c. Alur Pelayanan Laboratorium Forensik

Sampel dari dalam RS Sampel dari luar RS

Pendataan Administrasi RS

Pembukaan Segel

Pembuatan BA
Pembukaan Segel

Sampel dari Dalam RS

Pemeriksaan Sampel ke Lab Terpadu

Pembuatan BA Pembuatan BA hasil


Pemeriksaan Sampel Pemeriksaan Sampel

Visum

Masukan hasil Serahkan Hsail


pemeriksaan dalam visum Pemeriksaan Kepada
Pemohon
Pelayanan laboratorium forensik yang dimiliki RSUPN Dr Cipto
Mangunkusumo memiliki alur yang dimulai dari sampel berasal apakah dari
dalam rumah sakit atau dari luar rumah sakit, tahap selanjutnya akan
dilakukan pendataan administrasi rumah sakit dan akan dilakukan
pembukaan segel dari sempel. Sampel akan diperiksaan ke laboratorium
terpadu yang dimiliki RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo. Pembuatan hasil
pemeriksaan akan diserahkan kepada petugas forensik dan selanjutnya akan
diserahkan kepada pemohon.
Selain mengeluarkan untuk pengadilan, departemen ini juga
mengeluarkan Surat keterangan medis untuk non pengadilan, diantaranya
yaitu:
d. Surat Keterangan Dokter
e. Surat Keterangan Bebas Narkoba
f. Surat Keterangan Meninggal
g. Sertifikat Pengawetan Jenazah

1.4.7 Pelaksaan hak pasien terhadap rekam medis


Hak dan kewajiban sebagai pasien RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo
terdapat pada formulir general consent dan tata tertib pasien, penjelasan hak
dan kewajiban pasien dilakukan saat awal pasien mendaftar di RSUPN Dr
Cipto Mangunkusumo. Di dalam tata tertib pasien, terdapat 19 butir hak
pasien dan 8 butir kewajiban pasien yang sudah dipaparkan dengan jelas
disebutkan beberapa hal pokok diantaranya:
a. Menyetujui dan memberikan persetujuan untuk dirawat di RSUPN Dr Cipto
Mangunkusumo
b. Memberi kuasa kepada setia dan seluruh orang yang merawat pasein untuk
memeriksa dan atau memberikan informasi kesehatan
c. Menyetujui rumah sakit menjamin kerahasiaan informasi medis pasien
d. RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo dapat memberikan fasilitas selama
perawatan di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo
e. Rumah sakit menjaga privasi dna kerahasiaan penyakit saya selama dalam
perawatan
f. Rumah sakit bertanggungjawab terhadap barang milik pasien yang tidak
mampu membuat keputusan mengenai barang miliknya.
Sebagai tanda keabsahan dari tindakan yang dilakukan dokter kepada
pasien, pasien atau keluarga pasien wajib menandatangani formulir
persetujuan tindakan dikolom yang sudah disediakan dan terdapat kolom
tanda tangan DPJP, pasien atau wali pasien dan saksi sebagai piak ketiga.