Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH PEMICU I

“Perpindahan Kalor Konduksi”

LEMBAR COVER
Oleh Kelompok 5
Hafiz Hakim (1606907940)
Irene Abigail W (1606907833)
Natashya Elly F (1606908054)
Prayoga Agusto H (1506746405)
Zakaria Hafiz (1606908003)
Zata Amalia S (1706104451)

Program Studi Teknik Kimia (Rabu Siang)


Departemen Teknik Kimia FTUI
Depok – 2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan
penyertaan-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah Pemicu I mata kuliah Perpindahan Kalor ini
tepat pada waktunya. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas PBL Perpindahan Kalor
(PK) dan juga sebagai media pembelajaran mandiri untuk dapat lebih memahami topik mengenai
sistem insulasi serta perpindahan kalor konduksi dalam kondisi tunak dan tak-tunak.

Dalam proses penulisan makalah ini, kami menemui banyak kesulitan. Namun, berkat bantuan
dan bimbingan berbagai pihak, makalah ini akhirnya dapat terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu,
kami mengucapkan kepada:

1. Dr. Dianursanti, S.T., M.T. dan Dr. Tania Surya Utami S.T., M.T. selaku fasilitator dan
pembimbing kami dalam penyusunan makalah ini.

2. Teman-teman kelompok 5 yang selalu kompak untuk mengerjakan tugas dan mempelajari
pemicu bersama walaupun dihadapkan oleh situasi dan kesibukan yang berbeda-beda.
3. Semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini yang tidak dapat kami
sebutkan satu persatu.
Selain itu, kami juga menyadari bahwa baik dalam segi sistematika penyusunan maupun materi
yang dipaparkan masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami berharap agar adanya kritik
dan saran yang sekiranya dapat membantu kami untuk perbaikan di masa yang akan datang. Semoga
makalah ini bisa bermanfaat.

Depok, 13 Maret 2018

Kelompok 5

2
DAFTAR ISI

LEMBAR COVER ................................................................................................................................ 1


KATA PENGANTAR ........................................................................................................................... 2
DAFTAR ISI .......................................................................................................................................... 3
BAB 1
Pendahuluan ........................................................................................................................................... 5
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................................ 5
1.2 Tujuan Pembahasan................................................................................................................. 5
BAB 2
Soal dan Pembahasan ............................................................................................................................. 6
2.1 Tugas A: Studi Kasus ................................................................................................................... 6
2.2 Tugas B: Perpindahan Kalor Konduksi Tunak ............................................................................ 9
2.3 Tugas C: Perpindahan Kalor Konduksi Tak-Tunak ................................................................... 20
2.4 Tugas D: Perpindahan Kalor Konduksi Tak-Tunak ................................................................... 24
BAB III
Penutup ................................................................................................................................................ 31
3.1 Kesimpulan............................................................................................................................ 31
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................................... 32

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Densitas dan titik didih gas…………………………………………………………………24
Tabel 2. Tabel Kalor Laten Uap……………………………………………………………………..25
Tabel 3. Tabel Kalor Laten Zat pada 1 atm………………………………………………………….26

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Dinding yang terdiri dari berbgai macam bahan yang terdapat bahan insulasi
didalamnya…………………………………………………………………………………………….3
Gambar 2. Perpindahan panas melalui dinding dan analogi elektrik……………….....……………..9
Gambar 3. Perpindahan panas melalui silinder.....………………………………………………….10
Gambar 4. Konduksi pada bola berongga………………………………………………….…..........10
Gambar 5. Konduksi pada bola berongga…………………………………………....….....………..11
Gambar 6. Konduksi pada bola berongga……………………………………………….………......12
Gambar 7. Gambar konduksi satu dimensi dengan sumber kalor silinder………………………….12
Gambar 8. Ilustrasi Tahanan Kontak Termal………………………………………………………..12
Gambar 9. Penurunan temperatur akibat tahanan kontak termal……………………………………14
Gambar 10. Distribusi Suhu Sistem 2……………………………………………………………….15
Gambar 11. Bagan menunjukan unsur untuk analisis bujur sangkar kurvilinier aliran kalor dua
dimensi……………………………………………………………………………………………….17

3
Gambar 12. Nomenklatur yang Digunakan dalam Analisis Numerik Konduksi Kalor Dua
Dimensi………………………………………………………………………………………………18
Gambar 13. Nomenklatur untuk Persamaan Node dengan Kondisi Batas Konveksi……………….19
Gambar 14. Skema dari padat semi tak-berhingga………………………………………………….23
Gambar 15. Balok isi nitrogen………………………………………………………………………24
Gambar 16. Balok berongga………………………………………………………………………...26

4
BAB 1
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Perpindahan Kalor adalah salah satu ilmu yang mempelajari apa itu perpindahan panas,
bagaimana panas yang ditransfer, dan bagaimana relevansi juga pentingnya proses tersebut.
Perpindahan kalor dari suatu zat ke zat lain seringkali terjadi dalam industri proses. Perpindahan kalor
terdiri dari 3 jenis, yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi. Pada makalah ini, penulis hanya terfokus
pada perpindahan kalor secara konduksi.

Konduksi terjadi ketika adanya gradien suhu melalui suatu padatan atau fluida stasioner. Secara
umum, konduksi dibagi menjadi 2 jenis, yakni konduksi tunak dan konduksi tak tunak. Konduksi tunak
adalah mekanisme perpindahan kalor secara konduksi di mana tidak terdapat perubahan variabel
tertentu terhadap perubahan waktu. Sementara, konduksi tak tunak adalah mekanisme perpindahan
kalor secara konduksi di mana terdapat perubahan variabel tertentu terhadap perubahan waktu.
Variabel yang dimaksud pada pernyataan di atas adalah perbedaan temperatur.

Dalam pembelajaran konduksi, maka ada persamaan dasar yang harus dikuasai yakni
Persamaan Fourier juga pengetahuan mengenai nilai konduktivitas termal dari suatu bahan. Pada
konduksi tunak, akan dibahas lebih lanjut mengenai nilai koefisien perpindahan kalor menyeluruh,
ketebalan kritis suatu isolator, nilai laju perpindahan kalor konduksi tunak pada sistem dengan
penampang yang berbeda dan sistem dengan sumber kalor. Untuk menyelesaikan masalah konduksi
tunak, dapat digunakan metode analitik, metode grafik, dan metode numerik. Sedangkan pada
konduksi tak tunak akan dibahas mengenai 3 jenis pendekatan dalam menyelesaikan permasalahan
perpindahan kalor tak tunak, yaitu pendekatan sistem kapasitas kalor tergabung, pendekatan aliran
kalor transien dengan asumsi benda padat semi tak-berhingga, dan pendekatan kondisi batas konveksi.

1.2 Tujuan Pembahasan


Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dari pemicu 1, perpindahan kalor konduksi adalah:

 Memahami fenomena perpindahan panas konduksi tunak yang terjadi dari setiap kasus.
 Memahami hukum Fourier dan menerapkannya dalam kasus yang diberikan pada berbagai
bentuk/dimensi benda (dinding datar, silinder, dan bola).
 Mampu mendesain sistem insulasi dari suatu bahan dengan menentukan koefisien perpindahan
kalor menyeluruh, tebal kritis isolasi, dan tahanan kontak termal yang terjadi.
 Mampu menentukan sudut pandang dimensi yang diperlukan dalam penyelesaian kasus
perpindahan kalor konduksi (satu dimensi atau dua dimensi).
 Memahami perpindahan kalor konduksi dimensi rangkap dan mampu menyelesaikan kasus
dengan pendekatan analitik, grafik, dan numerik.
 Memahami fenomena perpindahan kalor konduksi tak tunak yang terjadi dari setiap kasus.
 Mampu menyelesaikan perpindahan kalor konduksi tak tunak dengan pendekatan kapasitas
kalor tergabung.
 Mampu menyelesaikan perpindahan kalor konduksi tak tunak dengan pendekatan aliran kalor
transien.

5
BAB 2
Soal dan Pembahasan

2.1 Tugas A: Studi Kasus


1. Bagaimanakah mekanisme peredaman panas yang terjadi dalam suatu sistem insulasi?
Pembahasan
Insulasi berfungsi untuk menguragi pepindahan kalor konduksi, konveksi dan radiasi,
namun perpindahan kalor secara konduksilah yang sangat berpengaruh material yang
digunakan haruslah memiliki nilai konduktivitas termal yang sangat rendah dan biasanya
material tidak padat dan didalam material terdapat jutaan kantong udara kecil.

Gambar 1. Dinding yang terdiri dari berbgai macam bahan yang terdapat bahan insulasi
didalamnya. (Sumber: https://www.careerride.com/mcq-daily/heat-transfer-test-questions-set-
4-192.aspx)

Ketika panas mengenai dinding maka kalor di pindahkan secara konveksi dari
lingkungan ke dinding pertama dan akan melewati L1, L2 dan L3. Setelah kalor melewati
bahan pertama (L1) maka akan menuju material kedua (L2) disini insulasi terjadi, material
kedua memiliki konduktivitas termal yang rendah sehingga laju alir perpindahan kalornya
lambat maka kalor yang dialirka persatuan waktupun sedikit.

2. Karakteristik material yang seperti apa yang dapat digunakan sebagai material insulasi yang
baik?
Pembahasan
a. Sifat Kimia

6
1) Daya serap air rendah.
2) Memiliki daya tahan terhadap minyak dan ozon.
3) Memiliki kekedapan dan kekenyalan higroskopis yang tinggi.
4) Stabil ketika mengalami radiasi.
5) Tidak berubah oleh perubahan suhu, siraman air, kelembaban, sinar matahari, dan
polaritas listrik.
b. Sifat Termal
1) Kemampuan menahan panas tinggi (daya hantar panas rendah).
2) Koefisien muai panas rendah.
3) Konduktivitas panas rendah.
4) Memiliki tahananan jenis yang tinggi dan tidak mudah terbakar.
c. Sifat Kelistrikan (Kekuatan Listrik)
1) Memiliki kekuatan gerak (tracking strength) yang tinggi agar tidak terjadi erosi karena
tekanan listrik permukaan.
2) Memiliki kekuatan dielektrik (penyekat) yang tinggi agar dimensi isolasi menjadi kecil,
sehingga harga menjadi ekonomis karena membutuhkan energi yang lebih sedikit.
Kekuatan listrik ditujukan untuk mencegah terjadinya kebocoran arus listik di antara ke
dua penghantar yang berbeda potensial atau mencegah loncatan listrik ke tanah.
d. Sifat Mekanis
1) Kekuatan tekan (pressure strength) biasanya untuk isolator antena.
2) Kelenturan terhadap tarikan.
3) Kerapuhan: bahan tidak mudah rapuh akibat dari kondisi tertentu.
4) Keregangan (tensile strength) biasanya untuk isolator hantaran udara.
5) Ketebalan isolasi optimal yang ditentukan berdasarkan rule of thumb mengenai biaya,
iklim, dan kenyamanan.

3. Faktor apa sajakah yang dapat mempengaruhi efektivitas sistem insulasi peredam panas?
Pembahasan
a. Material Insulasi

Bahan material yang digunakan sebagai sistem insulasi peredam panas dapat mempengaruhi
efektivitas alat tersebut dalam meredam panas, tentunya bahan material yang digunakan adalah
material yang tahan panas.
b. Hubungan Antara Material Insulasi dengan Bentuk dan Kondisi Pipa

Untuk jaringan pipa yang berkelok-kelok, bahan material yang biasa digunakan adalah jenis
foam, karena jika menggunakan fiberglass akan mudah retak, sedangkan untuk pipa yang dekat
dengan sumber panas tidak dapat menggunakan bahan material jenis foam karena mudah
meleleh, sehingga lebih baik menggunakan bahan material jenis fiberglass karena tahan panas.
c. Jenis Kebutuhan Insulasi
Insulasi dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :

7
1. Insulasi kering  memerlukan penghalang (barrier) luar untuk mencegah water
ingress. Tipe yang umum digunakan :

 Extruded polystyrene
 Fiberglass
 Mineral wool
 Closed cell polurethane foam (CCPUF)
 Open cell polyurethane foam (OCPUF)
 Polyisocyanurate foam (PIF)
 Vacuum insulation panels (VIP)
2. Insulasi basah  tidak memerlukan penghalang (barrier) luar untuk mencegah water
ingress. Tipe yang umum digunakan :

 Polyurethane
 Polypropylane
 Multi-layered
 Synthetic polyurethane
 Synthetic polypropylane
d. Densitas atau Massa Jenis

Densitas atau massa jenis suatu material dapat ditentukan sifatnya dalam menghantarkan panas.
Semakin besar nilai densitas suatu material, maka semakin mudah material tersebut dapat
menghantarkan panas. Hal ini dapat terjadi karena susunan atom yang semakin rapat dapat
lebih mudah menghantarkan energi panas. Maka, untuk sistem insulasi peredam panas,
dibutuhkan bahan material yang densitasnya kecil, karena susunan atomnya yang tidak rapat
sehingga sulit untuk menghantarkan energi panas.
e. Difusivitas Termal

Difusivitas termal menunjukkan rasio dari panas yang dihantarkan terhadap panas yan
disimpan per satuan volume. Dapat juga dikatakan bahwa difusivitas termal menggambarkan
seberapa cepat energi panas berdifusi melewati suatu material. Difusivitas termal dapat
didefinisikan melalui persamaan dibawah ini:
𝑝𝑎𝑛𝑎𝑠 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖ℎ𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑘
𝛼= =
𝑝𝑎𝑛𝑎𝑠 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑠𝑖𝑚𝑝𝑎𝑛 𝜌𝐶𝑝

dimana nilai k menggambarkan seberapa baik suatu material tersebut mampu menghantarkan
panas, sedangkan Cp merupakan kapasitas panas mendefinisikan seberapa banyak energi dari
suatu bahan yang disimpan per satuan unit volume.
f. Konduktivitas Termal

Setiap material yang digunakan sistem insulasi umumnya memiliki nilai konduktivitas termal
yang rendah. Akibatnya, oleh karena konduktivitas termal dirumuskan berbanding lurus
terhadap laju alir, maka laju alir kalor pun menjadi sangat lambat dengan semakin kecilnya
nilai konduktivitas termal suatu maerial. Hal tersebut sesuai dengan tujuan dari sistem insulasi,

8
yaitu untuk menghambat laju alir kalor sehingga nilai lajunya menjadi sangat kecil dan nilai
kalor semakin lambat untuk berpindah.

Konduktivitas termal menunjukkan kemampuan bahan menghantarkan panas. Nilai


konduktivitas termal yang besar menunjukkan bahwa bahan tersebut adalah konduktor yang
baik, sehingga semakin rendah nilai konduktivitas termal maka bahan tersebut akan semakin
sulit menghantarkan panas.
g. Nilai R

Nilai R pada suatu bahan material sistem insulasi menunjukkan kemampuan bahan tersebut
untuk menahan atau mengurangi perpindahan dari satu sisi ke sisi yang lain. semakin besar
nilai R maka akan semakin baik suatu bahan untuk dijadikan insulator. Nilai R dapat
dirumuskan:
∆𝑇
𝑅=
𝑞/𝐴
dengan ∆T merupakan perubahan suhu, q adalah laju perpindahan kalor, dan A adalah luas
area.

Satuan R adalah ᴼC m2/W atau ᴼF ft2 h/Btu(menggunakan aliran kalor per satuan luas). Nilai
R bergantung pada jenis, ketebalan, dan densitas material. Dalam menghitung nilai R dari
isolator multi-lapisan, maka nilai R dari isolator individual dijumlahkan sesuai dengan
banyaknya insulasi.
h. Permeabilitas Udara

Merupakan sifat suatu material yang memungkinkan masuknya udara untuk melewai pori-
porinya. Semakin tinggi permeabilitas udara, maka semakin kecil nilai konduktivitas termalnya
dan akan semakin sulit untuk menghantarkan panas.
i. Suhu Jangkauan
Merupakan suhu dari lingkungan yang dapat dilindungi oleh material tersebut. Suhu jangkauan
ini adalah faktor yang penting karena dengan adanya data ini, maka dapat diketahui apakah
material tersebut dapat bersifat sebagai konduktor yang baik pada suhu tertentu atau tidak.

2.2 Tugas B: Perpindahan Kalor Konduksi Tunak

1. Bagaimanakah mekanisme perpindahan kalor konduksi yang terjadi pada dinding datar,
dinding berlapis, silinder panjang, dan bola berongga?
Pembahasan
Mekanisme perpindahan kalor dapat diamati melalui tingkat perpindahan panas suatu
sistem. Pada dasarnya adanya pepindahan kalor terjadinya karena adanya perbedaan suhu yang
menjadi driving force dalam perpindahan kalor. Jumlah total perpindahan kalor Q dalam selang
waktu terntu dapat ditentukan dengan:

9
∆𝑡

𝑄̇ = ∫ 𝑄̇ 𝑑𝑡 (𝑘𝐽)
0

Laju perpindahan kalor per satuan luas disebut heat flux, rata-rata heat flux pada permukaan
dapat ditentukan dengan

𝑄̇
𝑞̇ = (𝑊/𝑚2 )
𝐴
Konduksi adalah perpindahan energi dari energi partikel yang banyak ke energi partikel yang
lebih sedikit sebagai dampak dari interaksi antar partikel. Dengan menganggap panas melewati
dinding dengan tebal ∆𝑥 = 𝐿 dan daerah permukaan A. Suhu yang melewati dinding adalah
ΔT = T2-T1 maka
𝑑𝐸𝑤𝑎𝑙𝑙
𝑄̇𝑖𝑛 − 𝑄̇𝑜𝑢𝑡 =
𝑑𝑡
Pada kondisi tunak,

𝑄̇𝑖𝑛 − 𝑄̇˙𝑜𝑢𝑡 = 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛


Laju perpindahan panas yang melewati lapisam akam berbanding lurus dengan perbedaan suhu
dan luas area sedangkan berbading terbalik dengan ketebalannya. Setiap bahan memiliki
konduktivitass termal masing masing yaitu k. Maka dari itu, laju perpindah panas
konduktivitasnya dapat ditentukan melalui persamaan yang disebut sebagai Hukum Fourier
(𝑇2 − 𝑇1 )
𝑞 = −𝑘𝐴 (𝑊)
𝛥𝑥
Jika dalam sistem terdapat lebih dari satu bahan, seperti dalam hal dinding lapis
rangkap, maka aliran kalor dapat diamati berdasarkan perbedaan suhu atau gradien suhu pada
lapisan batas antar permukaan. Perpindahan kalor dapat dihitung menggunakan Hukum Fourier
untuk tiap-tiap bahan.

Gambar 2. Perpindahan panas melalui dinding dan analogi elektrik.


(Sumber: Holman, J. (2010). Heat Transfer. 10th ed. Jakarta: Erlangga, pp.30.)
Laju kalir kalor pada masing-masing bahan:
(𝑇2 − 𝑇1 ) (𝑇3 − 𝑇2 ) (𝑇4 − 𝑇3 )
𝑞 = −𝑘𝐴 𝐴 == −𝑘𝐵 𝐴 == −𝑘𝐴 𝐶 (𝑊)
𝛥𝑥 𝛥𝑥 𝛥𝑥

10
Dengan mengguanakan analogi elektrik laju perpindahan dapat ditulis
𝑇4 − 𝑇1
𝑞= (𝑊)
𝛥𝑥𝐴 𝛥𝑥𝐵 𝛥𝑥𝐶
− −
𝑘𝐴 𝐴 𝑘𝐴 𝐵 𝑘𝐴 𝐶
Untuk silinder panjang berongga yang panjangnya sangat besar dibandingkan
diameternya, dapat dianalisis dengan mengasumsikan bahwa aliran kalor berlangsung pada
arah radial saja (arah sumbu), sehingga laju perpindahan kalor pada sistem ini merupakan
fungsi dari r, sehingga Hukum Fourier menjadi
(𝑇𝑖 − 𝑇𝑜)
𝑞𝑟 = −𝑘2π rL 𝑟
𝐿𝑛( 𝑟𝑜 )
𝑖

Gambar 3. Perpindahan panas


melalui silnder (Sumber:
Holman, J. (2010). Heat
Transfer. 10th ed. Jakarta:
Erlangga, pp.30.)

Sedangkan, pada bola berongga, mekanisme perpindahan kalor diasumsikan berasal


dari rongga di dalam bola menuju lapisan terluar, maka untuk keadaan tunak, satu dimensi dan
tanpa adanya sumber kalor, diasumsikan besar perpindahan kalor pada setiap lapisannya sama
(qr = qr+dr)

Gambar 4. Konduksi pada bola berongga. (Sumber: Fundamentals of Heat and Mass
Transfer 7th Edition, Incropera, Halaman 122)

Dengan asumsi-asumsi diatas, maka dapat ditentukan besar perpindahan kalornya melalui
Hukum Fourier yang dibentuk menjadi persamaan
4𝜋𝑘(𝑇𝑠,1 − 𝑇𝑠,2 )
𝑞𝑟 =
1 1
𝑟1 − 𝑟2

11
2. Bagaimana pula mekanisme perpindahan kalor konduksi pada sistem dengan sumber kalor
dalam dinding datar, silinder pejal, silinder berongga, dan bola pejal?
Pembahasan
- Pada dinding datar
Mekanisme perpindahan kalor pada dinding datar dengan heat generation yang seragam

Gambar 5. Konduksi pada bola


berongga. (Sumber:
Fundamentals of Heat and Mass
Transfer 7th Edition, Incropera,
Halaman 127)

Erlangga, pp.30.)
Laju perpindahan panasnya dapat diketahui melalui persamaan:

𝑞̇ 𝐿 = ℎ(𝑇𝑠 − 𝑇∞ )

- Pada silinder pejal


Pada silinder pejal, sumber kalor muncul pada geometri radial yang berbeda-beda. Pada
keadaan tunak, panas yang digenerasikan oleh silinder sama besar dengan laju perpindahan
panas yang terkonveksikan oleh permukaan silinder (atau arah perpinahan dari sumbu
menuju selimut silinder).

Gambar 6. Konduksi pada bola berongga. (Sumber: Fundamentals of Heat and Mass
Transfer 7th Edition, Incropera, Halaman 132)

Laju perpindahan panasnya dapat diketahui melalui persamaan:

𝑞̇ (𝜋𝑟𝑜 2 𝐿) = ℎ(2𝜋𝑟𝑜 𝐿)(𝑇𝑠 − 𝑇∞ )

12
- Pada silinder berongga

Karena kalor yang dibangkitkan sama dengan kalor yang dilepas di permukaan, Hukum
Fourier menjadi
𝑑𝑇 𝑑𝑇
𝑞 = 𝑘𝐴𝑟 (− ) = −𝑘2𝜋𝑟𝐿
𝑑𝑟 𝑑𝑟

Gambar 7. Gambar konduksi satu dimensi dengan sumber kalor silinder.


(Sumber: www.tekkim.undip.ac.id)

3. Apa yang dimaksud dengan tahanan kontak termal?


Pembahasan
Tahanan kontak termal adalah suatu daerah di mana analogi resistansi elektrik yang
terabaikan tiba-tiba menjadi begitu berpengaruh adalah pada interfasa dari dua media
penghantar. Tidak ada dua permukaan padatan yang selamanya memberikan kontak termal
sempurna ketika keduanya disambungkan. Adanya faktor kekasaran permukaan, menyebabkan
terbentuknya celah udara yang sempit. Konduksi melalui kontak bagian padatan ke padatan
sangat efektif, tetapi konduksi yang melalui celah udara yang memiliki nilai konduktivitas
termal yang kecil sangat tidak menguntungkan, ditambah lagi dengan kemungkinan terjadinya
radiasi termal pada celah tersebut.

Penentuan tahanan kontak


termal pada suatu sistem di antara dua
permukaan yang berbeda bergantung
pada besar laju perpindahan kalor yang
lewat diantara celah kedua permukaan
serta gradien temperatur yang terdapat
pada permukaan yang satu dengan
lainnya. Oleh karena perpindahan kalor
pada masing-masing sistem sangat
bergantung pada permukaan dan bentuk
yang dilaluinya, maka perhitungan pada
sistem dengan bentuk yang berbeda-
beda juga memiliki cara yang berbeda- Gambar 8. Ilustrasi Tahanan Kontak
beda pula. Termal: (a) situasi fisis; (b) profil.
(Sumber: http://www.cdeep.iitb.ac.in/)

13
Gambar 9. Penurunan temperatur akibat tahanan kontak termal.
(Sumber: sumber: Fundamentals of Heat and Mass Transfer 7th Edition, Incropera, Halaman 102)
Untuk menentukan tahanan kontak termal dapat digunakan persamaan:
𝑇𝐴 − 𝑇𝐵
𝑅𝑡ℎ,𝑐 =
𝑞"
4. Bagaimana metode penyelesaian kalor untuk sistem 2 dimensi dengan bentuk tak-beraturan
dan yang membutuhkan kondisi batas tertentu?
Pembahasan
Untuk menentukan laju transfer pada sistem 2 dimensi kondisi tunak, terdapat 3 metode yaitu
metode matematis, grafik dan numeris. Untuk kondisit tunak tanpa adanya kalor yang
dibangkitkan maka berlaku persamaan laplace

𝜕𝑇 2 𝜕𝑇 2
+ = 0 … … (1)
𝜕𝑥 2 𝜕𝑦 2
Laju kalor arah x dan y dapat dihitung dengan persamaan Fourier
𝜕𝑇
𝑞𝑥 = −𝑘𝐴𝑥 … … (2)
𝜕𝑥
𝜕𝑇
𝑞𝑦 = −𝑘𝐴𝑥 … . . (3)
𝜕𝑦
Metode Analisis Matematis

14
Gambar 10. Distribusi Suhu Sistem 2 Dimensi (Sumber: Buku Frank P.Incopera 7th)

Dalam menyelesaikan persamaan Laplace, digunakan metode pemisahan-variabel. Hal yang


harus diperhatikan dalam metode ini adalah persamaan differensial dapat dianggap mempunyai
bentuk hasil perkalian.

𝑇 = 𝑋𝑌 𝑑𝑖 𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑋 = 𝑋(𝑥) 𝑑𝑎𝑛 𝑌 = 𝑌(𝑦) (2)


Hal yang harus diperhatikan pertama kali adalah kondisi batas bilamana pada pinggir atas plat
terdapat distribusi suhu gelombang.

𝑇 = 𝑇1 pada y=0
𝑇 = 𝑇1 pada x=0
𝑇 = 𝑇1 pada x = W
𝜋𝑥
𝑇 = 𝑇𝑚 ( 𝑊 ) + 𝑇1 pada y = H

Dengan mensubtitusi persamaan (2) ke dalam persamaan (1), maka didapatkan

1 𝑑2𝑋 1 𝑑2𝑌
− = (3)
𝑋 𝑑𝑥 2 𝑌 𝑑𝑦 2
Pada persamaan (3) bagian kiri dan bagian kanan tidak saling bergantung satu sama lain, karena
keduanya memiliki variable bebas yang berbeda. Maka masing-masing bagian harus sama
dengan suatu konstanta, sehingga persamaan differensialnya menjadi

𝑑2𝑋
+ 𝜆2 𝑋 = 0
𝑑𝑥 2 (4)
2
𝑑 𝑌
+ 𝜆2 𝑌 = 0 (5)
𝑑𝑦 2
λ2 merupakan konstanta separasi yang nilainya ditentukan oleh kondisi batas. Dalam
memperoleh bentuk persamaan lain dari persamaan (4) dan (5) maka nilai λ2 yang tepat adalah
saat λ2 > 0.

Untuk λ2 > 0: 𝑋 = 𝐶1 𝑐𝑜𝑠𝜆𝑥 + 𝐶2 𝑠𝑖𝑛𝜆𝑥

𝑌 = 𝐶3 𝑒 −𝜆𝑦 + 𝐶4 𝑒 𝜆𝑦 (6)

𝜋𝑥
𝑇𝑚 𝑠𝑖𝑛 = (𝐶1 𝑐𝑜𝑠𝜆𝑥 + 𝐶2 𝑠𝑖𝑛𝜆𝑥)(𝐶3 𝑒 −𝜆𝑦 + 𝐶4 𝑒 𝜆𝑦 )
𝑊
Untuk memudahkan dalam mengolah persamaan, maka perlu ada substitusi, yaitu:

𝜃 = 𝑇 − 𝑇1
Akibat adanya substitusi tersebut maka persamaan diferensial dan penyelesainnya tetap sama,
namun dengan kondisi batas yang berbeda.

𝜃=0 pada y=0


𝜃=0 pada x=0

15
𝜃=0 pada x=W
𝜋𝑥
𝜃 = 𝑇𝑚 ( 𝑊 ) pada y = H

Dengan menerapkan kondisi batas yang baru kepada persamaan (6), dan ada beberapa nilai
𝑛𝜋
yang memenuhi persamaan 𝑠𝑖𝑛𝜆𝑊 = 0, maka dapat dituliskan 𝜆 = 𝑊 . Dengan demikian dapat
dihasilkan suatu persamaan deret tak hingga.

𝑛𝜋𝑥 𝑛𝜋𝑦
𝜃 = 𝑇 − 𝑇1 = ∑ 𝐶𝑛 𝑠𝑖𝑛 𝑠𝑖𝑛ℎ (7)
𝑊 𝑊
𝑛=1

Jika diaplikasikan pada boundary condition dengan T1 dan T2, maka



𝑛𝜋𝑥 𝑛𝜋𝐻 (8)
𝜃 = 𝑇2 − 𝑇1 = ∑ 𝐶𝑛 𝑠𝑖𝑛 𝑠𝑖𝑛ℎ
𝑊 𝑊
𝑛=1

Deret sinus Fourier dengan variabel Cn dapat diganti menggunakan perbedaan temperatur
sehingga

2 (−1)𝑛+1 + 1 𝑛𝜋𝑥
𝑇2 − 𝑇1 = (𝑇2 − 𝑇1 ) ∑ 𝑠𝑖𝑛 (9)
𝜋 𝑛 𝑊
𝑛=1

Persamaan ini diperoleh karena nilai Cn didapat dari

2 1 (−1)𝑛+1 + 1
𝐶𝑛 = (𝑇2 − 𝑇1 ) . (10)
𝜋 𝑛𝜋𝐻 𝑛 )
𝑠𝑖𝑛 𝑊

Sehingga diperoleh persamaan akhir untuk boundary condition dengan temperatur yang
berbeda sebagai berikut:
∞ 𝑛𝜋𝑦
𝑇 − 𝑇1 2 (−1)𝑛+1 + 1 𝑛𝜋𝑥 sinh( 𝑊 )
= ∑ 𝑠𝑖𝑛 . (11)
𝑇2 − 𝑇1 𝜋 𝑛 𝑊 sinh(𝑛𝜋𝐻) )
𝑛=1 𝑊
Penyelesaian secara grafik

16
Gambar 11. Bagan menunjukan unsur untuk analisis bujur sangkar kurvilinier aliran kalor
dua dimensi.
(Sumber: J.P Holman, 2010)

Pada sistem dua dimensi seperti yang diperlihatkan pada gambar 2, menggunakan benda dua
dimensi sebagai objek untuk koordinat x dan y. Garis-garis aliran-kalor dan isotherm
membentuk berkas-berkas garis lengkung kurvilinier sebagaimana terlihat pada Gambar 3-3b.
Aliran kalor melintasi bagian-bagian kurvilinier ini diberikan oleh hukum Fourier
Δ𝑇
𝑞 = −𝑘Δ𝑥(1)
Δ𝑦 (12)
Aliran kalor ini sama untuk semua bagian dalam jalur aliran-kalor, jika) bahan ini dibuat
sedemikian rupa, sehingga Δ𝑥 = Δ𝑦, maka Δ𝑇 dapat diasumsikan sama untuk setiap jalur
aliran-kalor. Dari kondisi tersebut diperoleh persamaan berupa:
∆𝑇𝑚𝑒𝑛𝑦𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ (13)
∆𝑇 =
𝑁 )
Di mana N adalah jumlah kenaikan suhu antara lapisan dalam dan luar. Aliran kalor yang
melalui setiap jalur harus sama karena tidak tergantung dari dimensi Δ𝑥 𝑑𝑎𝑛 Δ𝑦, kalau
keduanya dibuat sama. Maka persamaan untuk perpindahan kalor secara total:
𝑀 𝑀 (14)
𝑞= . 𝑘. ∆𝑇𝑚𝑒𝑛𝑦𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ = . 𝑘. (𝑇2 − 𝑇1 )
𝑁 𝑁 )
Di mana M adalah jumlah jalur aliran-kalor. Sehingga untuk menghitung perpindahan kalor,
hanya perlu menggambarkan bujur-sangkar kurvilinier ini, dan menghitung banyakanya
tambahan suhu dan jalur aliran-kalor.

5. Dalam aplikasi teknik yang melibatkan sistem dengan geometri yang lebih kompleks,
dibutuhkan pendekatan numeric agar perhitungan yang diperoleh lebih akurat.
Bagaimanakah pendekatan ini dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan perpindahan
kalor
Pembahasan
Salah satu pendekatan dalam penyelesaian masalah yang terjadi pada perpindahan kalor
adalah melalui metode analisis numerik. Pendekatan ini disebut sebagai teknik beda berhingga
(finite-difference technique).
Pendekatan numerik beda berhingga dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Benda dua dimensi dibagi atas beberapa increment kecil yang sama pada arah x dan arah y.
Semakin kecil increment-nya, maka akan semakin baik penghitungan distribusi suhu.

17
Gambar 12. Nomenklatur yang Digunakan dalam Analisis Numerik Konduksi Kalor Dua
Dimensi
(Sumber: Holman, J.P. 2010. Heat Transfer. 10th ed. McGraw-Hill)

2. Titik-titik node diberi tanda seperti terlihat pada gambar 1, dengan m sebagai pertambahan
arah x dan n sebagai pertambahan arah y.

3. Suhu pada setiap node ditentukan menggunakan gradien suhu sehingga aproksimasi beda
berhingga untuk persamaan (1)
𝑇𝑚+1,𝑛 + 𝑇𝑚−1,𝑛 − 2𝑇𝑚,𝑛 𝑇𝑚,𝑛+1 𝑇𝑚,𝑛−1 − 2𝑇𝑚,𝑛
+ =0 (1)
(∆𝑥)2 (∆𝑦)2

apabila Δx = Δy, maka:

𝑇𝑚+1,𝑛 + 𝑇𝑚−1,𝑛 + 𝑇𝑚,𝑛+1 𝑇𝑚,𝑛−1 − 4𝑇𝑚,𝑛 = 0 (2)

4. Jika terdapat generasi kalor, maka persamaannya menjadi


𝑇𝑚+1,𝑛 + 𝑇𝑚−1,𝑛 − 2𝑇𝑚,𝑛 𝑇𝑚,𝑛+1 𝑇𝑚,𝑛−1 − 2𝑇𝑚,𝑛 𝑞
+ +
(∆𝑥)2 (∆𝑦)2 𝑘 (3)
=0
apabila Δx = Δy, maka:

𝑇𝑚+1,𝑛 + 𝑇𝑚−1,𝑛 + 𝑇𝑚,𝑛+1 𝑇𝑚,𝑛−1 − 4𝑇𝑚,𝑛 = 0

atau jika dengan generasi kalor:

𝑞(∆𝑥)2
𝑇𝑚+1,𝑛 + 𝑇𝑚−1,𝑛 + 𝑇𝑚,𝑛+1 𝑇𝑚,𝑛−1 − 4𝑇𝑚,𝑛 + =0 (4)
𝑘
5. Jika suhu telah ditentukan, maka aliran kalor dapat dihitung dari:
∆𝑇
𝑞 = ∑ 𝑘∆𝑥 (5)
∆𝑦
dimana T ditentukan pada batas-batas. Jika kita menggunakan kisi yang cukup halus, kedua
nilai yang didapat semestinya saling mendekati dan yang paling baik adalah menggunakan
rata-rata dari kedua nilai tersebut untuk perhitungan.

18
6. Jika benda padat berada dalam kondisi batas konveksi, auhu pada permukaan harus
dihitung dengan cara yang berbeda dari metode di atas. Persamaan umumnya jika Δx = Δy
saat terjadi konveksi dipermukaan adalah
ℎ∆𝑥 ℎ∆𝑥 1
𝑇𝑚,𝑛 ( + 2) − 𝑇∞ − 2 (2𝑇𝑚−1,𝑛 + 𝑇𝑚,𝑛+1 + 𝑇𝑚,𝑛−1 ) = 0 (6)
𝑘 𝑘

Gambar 13. Nomenklatur untuk Persamaan Node dengan Kondisi Batas Konveksi
(Sumber: Holman, J.P. Heat Transfer 10th Edition. 2010)

7. Jika terjadi konveksi di bagian sudut (corner) dan Δx = Δy, persamaannya menjadi:
ℎ∆𝑥 ℎ∆𝑥
2𝑇𝑚,𝑛 ( + 1) − 2 𝑇∞ − (𝑇𝑚−1,𝑛 + 𝑇𝑚,𝑛−1 ) = 0 (7)
𝑘 𝑘

8. Persamaan untuk setiap node dapat dilihat pada Table 3-2 Summary of Nodal formulas for
finite-difference calculation (J.P Holman Heat Transfer 10th ed: page 92-93) atau pada
lampiran 1.

9. Jika jumlah node banyak, maka dapat digunakan metode matrix, dengan persamaan:
a11T1 + a12T2 + … + a1nTn = C1
a21T1 + a22T2+ … = C2
a31T1 + … = C3
……………………………………………..
an1T1 + an2T2 + … + annTn = Cn (8)

Dimana T1, T2,…,Tn adalah node temperatur yang belum diketahui. Bentuk matriksnya,
yaitu:

Persamaan (8) dapat ditulis menjadi [A][T] = [C], dan problemnya adalah untuk mencari
[A]-1 seperti, [T] = [A]-1 [C]. Dimana [A]-1 adalah

19
Maka solusi akhir untuk temperatur yang tidak diketahui ditulis seperti

Metode lama yang menggunakan beberapa node saja, yang dapat dikerjakan dengan
perhitungan tangan adalah metode relaksasi (relaxation method). Biasanya metode relaksasi
hanya digunakan jika tidak ada computer tersedia. Dalam metode ini persamaan node dibuat
sama dengan sisa qm,n dan kemudian digunakan prosedur perhitungan berikut:

1. Nilai suhu node diandalkan.


2. Nilai sisa untuk setiap node dihitung dengan persamaan yang bersangkutan dan suhu yang
diasumsikan
3. Sisa-sisa “direlaksasi” hingga nol dengan mengubah asumsi suhu node. Sisa yang terbesar
direlaksasi terlebih dahulu.
4. Pada setiap perubahan suhu node, dihitung sisa-sisa baru untuk node-node penghubung.
5. Prosedur ini diteruskan hingga sisa-sisa menjadi cukup dekat dengan nol.

Metode penyelesaian lainnya ialah analisis transien yang dilaksanakan sampai


didapatkan keadaan tunak, eliminasi langsung (eliminasi Gauss), atau teknik-teknik iterasi
yang lebih rumit. Di samping itu tersedia berbagai program komputer untuk penyelesaian sosal-
soal perpindahan kalor.

2.3 Tugas C: Perpindahan Kalor Konduksi Tak-Tunak

1. Apakah yang dimaksud dengan analisis transien dalam perpindahan kalor konduksi tak-
tunak? Bagaimana hubungannya dengan bilangan Biot?
Pembahasan
Perpindahan kalor yang dibahas dalam proses transien mencakup perpindahan panas
secara konduksi dan konveksi mayoritasnya, namun tidak menutup kemungkinan terjadi pula
perpindahan panas secara radias. Analisis konduksi kalor transien dilakukan dengan hanya
mengkaji perpindahan panas yang terjadi dalam sistem padat itu sendiri (saat kondisi batasnya
mengalami perubahan secara tiba-tiba). Analisis harus dilakukan untuk memperhitungkan
perubahan energi dalam benda yang bergantung pada waktu (time-dependent).

Untuk menganalisis proses transien ini digunakan pendekatan dengan membedakan


penggunaan metode analisis berdasarkan bentuk geometrinya. Dua sistem dalam analisis kalor
transien sama dengan perpindahan kalor para keadaan tunak, yaitu sistem satu dimensi (one-
dimensional system) dan sistem dimensi rangkap (multi-dimensional system).

20
Dalam penyelesaian analisis perpindahan kalor transien dengan bentuk geometri yang
lebih kompleks (sistem dimensi rangkap), diguakan beberapa macam pendekatan seperti
analisis grafik dan metode numerik transien (finite-difference method).

Angka Biot adalah rasio tahanan internal didalam benda (panas konduksi) terhadap
tahanan eksternal benda (panas konveksi), sehingga angka Biot yang kecil menyatakan
kecilnya tahanan termal panas konduksi, dan juga perbedaan temperatur yang kecil di dalam
benda. Angka Biot digunakan untuk menentukan metode apa yang sebaiknya digunakan dalam
perhitungan perpindahan kalor konduksi sistem tak tunak. Angka Biot dapat dihitung dengan
persamaan sebagai berikut:
ℎ𝑠
𝐵𝑖= 𝑘

atau
ℎ ∆𝑇 𝑐𝑜𝑛𝑣𝑒𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑎𝑡 𝑡ℎ𝑒 𝑠𝑢𝑟𝑓𝑎𝑐𝑒 𝑜𝑓 𝑡ℎ𝑒 𝑏𝑜𝑑𝑦
𝐵𝑖 = =
𝑘/𝐿𝑐 ∆𝑇 𝐶𝑜𝑛𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑟𝑒𝑠𝑖𝑠𝑡𝑎𝑛𝑐𝑒 𝑎𝑡 𝑡ℎ𝑒 𝑠𝑢𝑟𝑓𝑎𝑐𝑒 𝑜𝑓 𝑡ℎ𝑒 𝑏𝑜𝑑𝑦
dimana h merupakan koefisien perpindahan kalor keseluruhan, k merupakan konduktivitas
termal, dan Lc merupakan setengah tebal plat untuk plat dan jari-jari untuk silinder dan bola.

Nilai yang sangat kecil dari bilangan Biot (Bi ≤ 0,1) dapat diartikan bahwa tahanan konduktansi
internal benda tersebut dapat diabaikan jika dibandingkan dengan konveksi permukaan benda,
dimana kalor dianggap seragam pada semua bagian benda, maka metode analisis perpindahan
kalor yang digunakan adalah Lumped-Heat Capacity, sedangkan jika bilangan Biot bernilai
lebih dari 0,1 (Bi > 0,1) dapat diartikan bahwa nilai tahanan konduktansi internal benda tersebut
tidak diabaikan, dimana dianggap terdapat gradien temperatur, maka metode analisis
perpindahan kalor yang digunakan adalah benda padat semi-tak-berhingga.

2. Dapatkah anda menjelaskan mekanisme perpindahan kalor konduksi yang terjadi jika
tahanan internal sistem diabaikan?
Pembahasan
Perpindahan kalor konduksi jika tahanan internal sistem diabaikan berarti suhu disetiap titik
didalam benda sampai ke satu titik sebelum permukaan benda dianggap seragam atau sama.
Mekanisme perpindahan kalor yang terjadi hanya antara benda (dalam hal ini dianggap sistem),
dan lingkungan secara konveksi. Dengan persamaan
𝑑𝑇
𝑞 = ℎ𝐴(𝑇 − 𝑇∞ ) = −𝑐𝜌𝑉
𝑑𝜏
Perlu diperhatikan bahwa tahanan internal sistem dapat diabaikan dengan mengacu bahwa
bilang Biot dari sistem tersebut bernilai kurang dari 0.1.
𝑉
ℎ(𝐴)
< 0.1 = 𝐵𝑖 = 𝐵𝑖𝑜𝑡 𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟
𝑘
Asumsi lain yang dapat mendukung pemakaian tahanan internal sistem diabaikan yaitu benda
sumber panas tersebut ukurannya terbilang kecil.

21
Untuk kondisi dimana gradien temperatur sistem tidak diabaikan (terdapat perbedaan
temperatur pada setiap titik dalam sistem), maka pendekatan yang digunakan adalah
pendekatan spasial yang menjelaskan perhitungan perpindahan kalor dengan distribusi
temperatur yang dependen terhadap waktu dan tempat.

3. Bagaimana pula mekanisme perpindahan kalor konduksi jika tahanan internal sistem tidak
diabaikan?
Pembahasan
Mekanisme perpindahan kalor konduksi jika tahanan internal sistem tidak diabaikan
berarti gradien temperatur atau perbedaan suhu pada setiap titik pada sistem mempengaruhi
laju perpindahan kalor yang terjadi. Sistem seperti ini memiliki bilangan biot lebih dari 0,1 atau
bisa dibilang memiliki bilangan biot yang besar. Untuk mengetahui perpindahan kalornya
maka perlu diketahui analisis yag tepat untuk mencari besar laju perpindahan kalor kalor
transiennya. Persamaan yang digunakan dalam diperlukan persamaan diferensial yang
bergantung pada waktu dan tempat suatu titik yang dikaji dalam sistem.

Untuk kondisi dimana gradien temperatur tidak diabaikan, maka pendekatan yang
digunakan adalah pendekatan spasial yang menjelaskan perhitungan perpindahan kalor dalam
sistem dengan distribusi temperatur yang dependen terhadap waktu dan tempat.

Analisis dalam kondisi ini berpusat untuk mengetahui perpindahan kalor konduksi yang
terjadi pada suatu sistem (biasanya benda padat) dengan adanya perubahan kondisi batas.
Untuk menganalisis konduksi transien dalam sistem padatan ini, terdapat dua jenis pendekatan
benda padat:

 Benda padat berhingga (finite solids), yaitu dinding plat, silinder panjang dan bola

 Benda padat semi-tak berhingga (semi-infinite solids), menunjukan keberadaan


respon termal transien dari bermacam-macam benda yang permukaannya
mengalami perubahan temperatur atau perubahan heat flux.

Sedangkan, dalam penyelesaian analisis perpindahan kalor transien dengan bentuk


geometri yang lebih kompleks (sistem dimensi rangkap), digunakan beberapa macam
pendekatan seperti analisis grafik dan metode numerik transien (finite-difference method).

Suatu bentuk penyederhanaan (idealisasi) dari bentuk geometri untuk menghasilkan


solusi analitikal dimana diasumsikan suatu benda memiliki permukaan dengan luas tak hingga
kecuali pada satu permukaan yang akan diidentifikasi, sehingga perubahan tecara tiba-tiba
terhadap permukaan yang diidentifikasi tersebut akan menghasilkan analisis konduksi transien
satu dimensi. Oleh karena dalam sistem benda padat semi-tak berhingga distribusi temperatur
pada titik permukaan yang diidentifikasi tidak diabaikan, maka pada aliran kalor transien
digunakan persamaan diferensial:
𝜕𝑇
𝑞𝑜 = −𝑘𝐴 ( )
𝜕𝑥 𝑥=0

22
Karena fungsinya tidak konstan dan berubah sesuai perubahan waktu, maka distribusi
temperaturnya digunakan untuk menghitung aliran panas pada suatu letak tertentu. Persamaan
diferensial untuk distribusi temperatur T(x,τ) adalah

𝜕 2 𝑇 1𝜕𝑇
=
𝜕𝑥 2 𝛼𝜕𝜏
dengan kondisi batas

𝑇(𝑥, 0) = 𝑇𝑖
𝑇(0, 𝜏) = 𝑇𝑜 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝜏 > 0
sehingga, pada permukaan aliran kalornya adalah
𝑘𝐴(𝑇𝑜 − 𝑇𝑖 )
𝑞𝑜 =
√𝜋𝛼𝜏
4. Sistem seperti apakah yang dimaksud dengan benda solid semi tak-berhingga?
Pembahasan
Sebuah benda padat semi tak berhingga adalah suatu benda teridealisasi yang memiliki
sebuah permukaan tunggal yang rata dan meluas ke segala arah tak berhingga, seperti terlihat
dalam Gambar 2. Benda teridealisasi ini digunakan untuk mengindikasikan bahwa perubahan
temperatur dalam benda tersebut di area dekat permukaan bergantung pada kondisi termal pada
sebuah permukaan tunggal. Bumi, misalnya, bisa dianggap sebagai medium semi-tak
berhingga dalam menentukan variasi temperatur dekat permukaannya. Demikian juga dinding
tebal dapat dijadikan model medium semi-tak berhingga jika pusat perhatian kita adalah variasi
temperatur di area yang dekat dengan sebuah sisinya, dan sisi yang lain terlalu jauh untuk
berdampak pada area tersebut selama pengamatan. Sedangkan suhu pada inti dinding tidak
berubah dalam hal ini.

Gambar 14. Skema dari padat semi tak-berhingga.


(Sumber: http://highered.mcgraw-hill.com)

23
2.4 Tugas D: Perpindahan Kalor Konduksi Tak-Tunak

1. Peti es portable memiliki dimensi dalam 6 × 8 × 10 inci, ketebalan peti 1 inci, dan terbuat
dari sejenis busa dengan nilai k = 0,006 Btu/hr.ft.oF. Peti es tersebut tersebut diisi oleh
cairan nitrogen dengan ketinggian 9 inci, pada tekanan 1 atm. Peti diletakkan dalam
lingkungan bersuhu 70oF, dan koefisien perpindahan kalor konveksi di bagian luar peti
diperkirakan 5 Btu/hr.ft2.oF. Peti tidak tertutup dengan rapat, sehingga ketinggian cairan
nitrogen di dalamnya mengalami penurunan. Perkirakan waktu yang dibutuhkan hingga
ketinggian cairan nitrogen di dalamnya mengalami penurunan. Perkirakan waktu yang
dibutuhkan hingga ketinggian cairan nitrogen berkurang 1 inci.
Pembahasan
Diketahui: Panjang x Lebar x Tinggi = 6 in x 8 in
kgabus= 0.006 Btu/˚F.ft.hr x 10 in
hair = 5 Btu/ ˚F.ft .hr
2
Tudara = 70
P = 1 atm
Asumsi:
Tutup memiliki ketebalan 1 in dengan lebar dan panjang 6 in dan 8 in
Tidak ada konveksi dari bawah
Steady-state, konduktivitas termal tidak berubah terhadap waktu

Tabel 1. Densitas dan titik didih gas

Sumber: http://www.airproducts.com/products/Gases/gas-facts/phyisical-properties-boiling-
points-and-densities.aspx
Panjang x Lebar x Tinggi = 6 in x 8 in x 10 in

10in
in
8 in
6 in

24
Gambar 15. Balok isi nitrogen.
Tuap nitrogen = -321 ˚F

𝐴𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 = 2 𝑥 10/12 𝑥 8/12 + 2 𝑥 10/12 𝑥 6/12 + 8/12 𝑥 6/12 = 2,28 𝑓𝑡 2

𝐴𝑙𝑢𝑎𝑟 = 2 𝑥 12/12 𝑥 10/12 + 2 𝑥 12/12 𝑥 8/12 + 10/12 𝑥 8/12 = 3,55 𝑓𝑡 2

𝑅 = (1/ℎ𝐴𝑙𝑢𝑎𝑟 + 𝑥/𝑘𝐴𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚) = (1/(5 × 3,55) + (1/12𝑓𝑡)/(0,006 × 2,28)

= 0,056 ˚𝐹 /𝐵𝑡𝑢 + 6,09 ˚𝐹 /𝐵𝑡𝑢 = 6,146 ˚𝐹 /𝐵𝑡𝑢

𝛥𝑇 = 𝑇𝑢𝑑𝑎𝑟𝑎 − 𝑇𝑢𝑎𝑝 𝑛𝑖𝑡𝑟𝑜𝑔𝑒𝑛 = 70 − (−321) = 391 ˚𝐹

𝑞 = 391 ˚𝐹 /6,146 (˚𝐹. ℎ𝑟 /𝐵𝑡𝑢) = 63,61 𝐵𝑡𝑢/ℎ𝑟

Tabel 2. Tabel Kalor Laten Uap

Sumber: https://www.engineeringtoolbox.com/fluids-evaporation-latent-heat-d_147.html

Kalor Uap = 86 Btu/lb


Densitas Nitrogen saat 1 atm =50,5 lb/ft3
Maka kita bisa mencari kalor yang dibutukan untuk menguapkan 1 in nitrogen adalah
𝑉𝑛𝑖𝑡𝑟𝑜𝑔𝑒𝑛 (−) = 1𝑥 6 𝑥 8 𝑖𝑛 = 48 𝑖𝑛3 = 0,028 𝑓𝑡3

𝑚𝑛𝑖𝑡𝑟𝑜𝑔𝑒𝑛 = 50,2 𝑙𝑏/𝑓𝑡3 𝑥 0,028 𝑓𝑡3 = 1,4 𝑙𝑏

𝑄𝑢𝑎𝑝 = 𝑚𝑛𝑖𝑡𝑟𝑜𝑔𝑒𝑛(−) 𝑥 𝐿𝑢𝑎𝑝

= 1,4 𝑙𝑏 𝑥 86 𝐵𝑡𝑢/𝑙𝑏 = 120,4 𝐵𝑡𝑢

𝑡 = 𝑄𝑢𝑎𝑝 ∶ 𝑞 = 120,4 𝐵𝑡𝑢 ∶ 63,61 𝐵𝑡𝑢/ℎ𝑟 = 1,89 ℎ𝑟 = 1,89 ℎ𝑟 𝑥 3600 𝑠/ℎ𝑟 =


6814 𝑠s

2. Lakukan perhitungan kembali atas sistem pada soal no.1 di atas dengan menggunakan
pendekatan faktor bentuk. Bandingkan dan analisis kedua hasil perhitungan yang
diperoleh.
Pembahasan

25
8 corners
12 edges
10 5 walls
8 inc
inch

Gambar 16. Balok berongga.


6
inch
Diketahui:
Dimensi peti es = 6 x 8 x 10 inchi
k = 0,006 Btu/hr.ft.ᴼF
Tinggi nitrogen = 9 inchi
P = 1 atm
T∞ = 70ᴼF
h = 5 Btu/hr.ft.ᴼF
Ditanya : t saat cairan nitrogen berkurang 1 inch?

 Titik didih nitrogen = -195.8ᴼC = -320,4ᴼF


 Kalor penguapan (U) = 48 kkal/kg = 200,832 kJ/kg (dari tabel kalor laten pada 1 atm)
 Massa jenis Nitrogen cair = 0,808 g/mL

Tabel 3. Tabel Kalor Laten Zat pada 1 atm

Sumber: Abdullah, M. 2012. Fisika Dasar. Bogor : InstitutPertanian Bogor

1. Mengonversi data yang diketahui


- Volume peti
1𝑓𝑡 3
𝑉 = (6𝑥8𝑥10)𝑖𝑛𝑐ℎ = 480 𝑖𝑛𝑐ℎ3 𝑥 = 0.2778𝑓𝑡 3
1728 𝑖𝑛𝑐ℎ3
- Volume Nitrogen yang akan menguap
3
1𝑓𝑡 3
𝑉= (6𝑥8𝑥1)𝑖𝑛𝑐ℎ = 480 𝑖𝑛𝑐ℎ 𝑥 3
= 0.0278𝑓𝑡 3
1728 𝑖𝑛𝑐ℎ
- Kalor penguapan Nitrogen (U)

26
𝑘𝐽 𝑘𝑔 1 𝐵𝑡𝑢
𝑈 = 200.832 𝑥 𝑥 = 86.34 𝐵𝑡𝑢/𝑙𝑏𝑚
𝑘𝑔 2.2046 𝑙𝑏𝑚 1.05506 𝑘𝐽
- Massa jenis nitrogen cair (ρ)
𝑔 1 𝑙𝑏𝑚/𝑓𝑡 3
𝜌 = 0.808 𝑥 = 50.44 𝑙𝑏𝑚/𝑓𝑡 3
𝑚𝐿 0.01601846 𝑔/𝑚𝐿
2. Mencari massa nitrogen
mNitrogen = VNitrogen x ρNitrogen
= 0.0278 ft3 x 50.44 lbm/ft3
= 1.4022 lbm
3. Mencari kalor laten (Q laten)
Qlaten = U x mNitrogen
= 86.34 Btu/lbm x 1.4022 lbm
= 121.068 Btu
4. Mencari nilai faktor bentuk (S) pada peti es yang meliputi walls, edges, dan corners:
𝐴 6𝑖𝑛𝑐ℎ 𝑥 8 𝑖𝑛𝑐ℎ
Walls: 𝑆𝑤𝑎𝑙𝑙 = = = 36 inch = 3 ft
𝐿 1 𝑖𝑛𝑐ℎ
𝐴 8𝑖𝑛𝑐ℎ 𝑥 9 𝑖𝑛𝑐ℎ
𝑆𝑤𝑎𝑙𝑙 = 𝐿
= 1 𝑖𝑛𝑐ℎ
= 72 inch = 6 ft
𝐴 6𝑖𝑛𝑐ℎ 𝑥 9 𝑖𝑛𝑐ℎ
𝑆𝑤𝑎𝑙𝑙 = = = 54 inch = 4.5 ft
𝐿 1 𝑖𝑛𝑐ℎ
Edges: 𝑆𝑒𝑑𝑔𝑒 = 0,54 𝐷 = 0,54 𝑥 8 inch = 4.32 inch = 0.36 ft
𝑆𝑒𝑑𝑔𝑒 = 0,54 𝐷 = 0,54 𝑥 6 inch = 3.24 inch = 0.2025 ft
𝑆𝑒𝑑𝑔𝑒 = 0,54 𝐷 = 0,54 x 9 inch = 4.86 inch = 0.405 ft
Corners: 𝑆𝑐𝑜𝑟𝑛𝑒𝑟𝑠 = 0,15 𝐿 = 0,15 𝑥 1 inch = 0.15 inch = 0.0125 ft
Dari 8 corners, 12 edges, dan 5 walls, maka nilai total faktor bentuk adalah
𝑆 = 𝑆𝑤𝑎𝑙𝑙𝑠 + 𝑆𝑒𝑑𝑔𝑒𝑠 + 𝑆𝑐𝑜𝑟𝑛𝑒𝑟𝑠
={[(1x3 ft)+(2x6 ft)+(2x4.5 ft)]+[(4x0.36 ft)+(4x0.2025 ft)+(4x0.405 ft)] +
(8x0.0125 ft)}
= 27.97 ft
5. Menghitung nilai hambatan (R)
- Konduksi
1 1
𝑅𝑠 = = = 5.9588 𝐵𝑡𝑢/ℎ𝑟℉
𝑘 𝑆 0.006𝐵𝑡𝑢/ℎ𝑟. 𝑓𝑡℉ 𝑥 27.97 𝑓𝑡
- Konveksi
Mencari luas peti luar
𝐴 = (1𝑥8𝑥10)𝑖𝑛2 + (2𝑥10𝑥10)𝑖𝑛2 + (2𝑥8𝑥10)𝑖𝑛2 = 440 𝑖𝑛𝑐ℎ2 = 3.0556 𝑓𝑡 2
1 1
𝑅0 = = = 0.0654 𝐵𝑡𝑢/ℎ𝑟
ℎ 𝐴 5𝐵𝑡𝑢/ℎ𝑟𝑓𝑡℉ 𝑥 3.0556𝑓𝑡 2
Maka 𝑅𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = 𝑅𝑠 + 𝑅0 = 5.9588 + 0.0654 = 6.0242 𝐵𝑡𝑢/ℎ𝑟℉
6. Menghitung fluks kalor
𝑞 ∆𝑇 𝑇∞ − 𝑇 (70 − (−320.4)℉
𝑞" = = = = = 64.81 𝐵𝑡𝑢/ℎ𝑟
𝐴 𝑅 𝑅 6.0242 𝐵𝑡𝑢/ℎ𝑟℉
7. Menghitung waktu yang dibutuhkan hingga ketinggian cairan nitrogen berkurang 1 inch
𝑄 121.068 Btu
𝑡= = = 1.87 ℎ𝑟 = 6732 𝑠
𝑞 64.81 𝐵𝑡𝑢/ℎ𝑟

27
Faktor bentuk digunakan untuk mengoreksi perpindahan kalor konduksi dengan bentuk
peti seperti pada soal. Jika tanpa menggunakan faktor bentuk, maka nilai A (luas permukaan)
yang digunakan hanya nilai rata-ratanya saja, sedangkan jika menggunakan faktor bentuk,
maka kita meninjau dari segi walls, edges, dan corners dengan jumlah tertentu sesuai dengan
bentuk geometrisnya.
Pada hasil perhitungan t tanpa menggunakan faktor bentuk, diperoleh nilai sebesar 6814
s, sedangkan jika menggunakan nilai faktor bentuk diperoleh nilai t sebesar 6732 s. Penggunaan
faktor bentuk memungkinkan hasil yang lebih akurat dibandingkan dengan tanpa faktor bentuk,
karena meninjau dari seluruh sistem yang ada dan memberikan nilai koreksi.

3. Kontainer logam tipis dengan diameter 6 inci dan tinggi 8 inci, diisi dengan air hingga
kedalaman 6 inci. Kontainer tesebut kemudian dipanaskan di atas kompor listrik pada suhu
1000oF. Suhu air mula-mula adalah 50oF, dan dilakukan pengadukan selama proses
pemanasan. Jika dibutuhkan waktu 6 menit untuk menaikkan suhu air menjadi 200oF,
hitunglah nilai konduktansi antara bagian bawah container dan kompor listrik.
Pembahasan
Diketahui : Dibutuhkan waktu 6 menit untuk
D : 6 in T1 : 50⁰F menaikkan 50ͦF menjadi 200ͦF
h : 8 in T2 : 200⁰F T(6menit) = 200ͦF
t : 6 menit T1 = 50ͦF
Ditanya : nilai konduktansi (k) antara Tω = 1000ͦF
bagian bawah kontainer dan kompor
listrik? 𝜃 𝑇 6𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 − Tω
=
𝜃𝑖 𝑇₁ − Tω
Jawab: = exp(−𝐵𝑖. 𝐹𝑜)
Asumsi : Air berbentuk silinder (200 − 1000)
mengikuti wadah = exp −𝐵𝑖(6.60)
(50 − 1000)
Properti termal dan koefisien − 800
panas konstan = exp(−𝐵𝑖. 𝐹𝑜)
− 950
Radiasi diabaikan 0,84 = exp-Bi(360)
Temperatur air seragam karena -Bi.(360) = -0,17185
dilakukan pengadukan sehingga Bi = 4.77 . 10-4
analisis lumped dapat diterapkan ℎ.𝐴𝑠
1 Bi = 𝜌.𝐶𝑝.𝑉
V water = 4 π D2t ℎ
1 2 2 Bi = 𝜌.𝐶𝑝.𝐿𝑐
= 4 π (6) 6 = 169.56 m

As
1
= 4 π D2 𝑙𝑏𝑚 𝑙𝑏𝑚 6 = 4.77 . 10-4
62,3 .1 . 𝑓𝑡
𝑓𝑡3 𝑙𝑏𝐹 12
1
= 4 π (6)2 = 28.26 m h = 0,015 Btu/s.ftoF
𝑉 = 54 Btu/h.ftoF
Lc = 𝐴𝑠
= t silinder Maka, nilai konduktansi antara bagian
=6m bawah kontainer dan kompor listrik
adalah sebesar 54 Btu/h.ftoF

28
4. Iga sapi diasumsikan berbentuk silinder dengan diameter 5 inci dan panjang 10 inci. Nilai
k dan α dari iga sapi tersebut mendekati nilai k dan α dari air. Iga sapi baru saja dikeluarkan
dari lemari pendingin pada suhu 40oF dan akan dipanggang di dalam oven dengan suhu
325oF. Koefisien perpindahan kalor konveksi pada bagian dalam oven adalah 10
Btu/hr.ft2.oF. Berapakah waktu yang dibutuhkan agar suhu di bagian tengah iga sapi
mencapai 200oF?
Pembahasan
Diketahui: D = 5 inch ρ = 62,3 lbm/ft3 h oven 10Btu/hr.ft2.°F
L = 10 inch α = 5,26 x10-3 ft2/hr Cp = 4210 J/kg.K
k iga = k air = 0,3273 Btu/ft.hr.°F Ti = 40°F
T∞ = 325°F T0 = 200°F
Asumsi: -Nilai Cp tak berubah dari karena kenaikan suhu.
-Nilai k dan α iga sapi dianggap sama dengan air
Ditanya: Waktu yang dibutuhkan agar suhu di bagian tengah iga sapi mencapai 200 °F?
Mencari Nilai Biot untuk mengecek apakah dapat diselesaikan dengan Lumped Heat-Capacity
ℎ𝑠
𝐵𝑖 =𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠 = 𝑟
𝑘
Btu 5
(10 . ft2. °F) x (12) 𝑓𝑡
𝑀𝑎𝑘𝑎 𝐵𝑖 = hr
0,3273 Btu/ft. hr. °F
𝐵𝑖 = 6,365
Dengan acuan buku heat transfer (2006): cengel, dari tabel 4-1 ialah korelasi bilangan biot
dengan nilai λ1 dan A1

Lalu kita akan melakukan interpolasi


7.0 − 6.325 𝑥 − 2.0490
=
7.0 − 6.0 2.0937 − 2.0490
7. −6.325 𝑎 − 1.5253
=
7.0 − 6.0 1.5411 − 1.5253
Lalu didapatkan nilai 2.065 dan 1.531

Nilai Biot lebih dari 0.1, maka tidak dapat diabaikan perbedaan temperature didalam objek.
Digunakan metode perhitungan Bessel., mendapatkan hubungan teta dengan τ, lalu dapat
mendapatkan nilai t
𝑇(𝑟,𝑡)−𝑇∞ 2 𝜆 𝑟
(𝑟, 𝑡)𝑠𝑖𝑙𝑖𝑛𝑑𝑒𝑟 = = 𝐴1 𝑒 −𝜆1 𝜏 𝐽0 ( 𝑟1 ) , 𝜏 > 0,2 dengan
𝑇𝑖 −𝑇∞ 0

Pusat silinder (r = 0): 𝐽0 (0) = 1, sehingga


𝑇0 − 𝑇∞ 2
𝜃0,𝑠𝑖𝑙𝑖𝑛𝑑𝑒𝑟 = = 𝐴1 𝑒 −𝜆1 𝜏
𝑇𝑖− 𝑇∞
𝛼𝑡
τ= 𝑟 2
0

29
5 2
( ) 𝑓𝑡 2 𝑥 (0,294)
24
𝑡= = 2,426 sekon
5,26 x10−3 ft2 /hr

30
BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan

 Perpindahan kalor konduksi terbagi ke dalam 2 jenis, yaitu konduksi tunak (steady state) dan
konduksi tak tunak (unsteady state). Pada konduksi tunak (steady state), tidak adanya
perubahan variabel tertentu terhadap waktu. Sementara, konduksi tak tunak (unsteady state),
terdapat adanya perubahan variabel tertentu terhadap waktu.

 Pada sistem insulasi berlangsung perpindahan kalor konduksi tunak (steady state).

 Faktor – faktor yang perlu dipertimbangkan dalam desain suatu sistem insulasi adalah
materaial insulasi, hubungan antara material insulasi dan kondisi juga bentuk pipa, jenis
kebutuhan insulasi, densitas atau massa jenis, difusivitas termal, konduktivitas termal, nilai
R, permeabilitas udara, dan suhu jangkauan. 


 Laju perpindahan kalor pada sistem dengan penampang yang berbeda dapat ditentukan
dengan menggunakan persamaan Fourier, yaitu:
𝑑𝑇
𝑞 = −𝑘𝐴
𝑑𝑥
Dimana nilai A berbeda-beda, tergantung pada objek benda.

 Pengaruh keberadaan sumber kalor dapat mempengaruhi distribusi temperatur pada suatu
sistem, sehingga laju perpindahan kalor juga akan dipengaruhi. Persamaan umum yang
digunakan adalah:

𝑑 2 𝑇 𝑞̇
+ =0
𝑑𝑥 2 𝑘
 Untuk menyelesaikan kasus perpindahan kalor konduksi 2 dimensi, dapat digunakan 3
metode analisis penyelesaian masalah. Ketiga metode tersebut adalah analisis matematik,
analisis grafik, dan analisis numerik.

 Untuk menyelesaikan kasus perpindahan kalor konduksi tak tunak dapat digunakan 3 jenis
pendekatan penyelesaian masalah, yaitu pendekatan kapasitas kalor tergabung, pendekatan
aliran kalor transien, dan pendekatan kondisi batas konveksi.

31
DAFTAR PUSTAKA

Incropera, F. (2007). Fundamentals of heat and mass transfer. New York: Wiley.
Holman, J. (2010). Heat transfer. Boston: McGraw Hill Higher Education.

Kothandarman, P. (2006). Fundamental Heat and Mass Transfer. 3rd ed. Delhi: New Age
Internasional, pp.63-64.
Cengel, Yunus. 2006. Heat Transfer 2nd Edition. USA: Mc. Graw-Hill.

32