Anda di halaman 1dari 125

LAMPIRAN I SURAT EDARAN MENTERI PEKERJAAN UMUM

NOMOR : 01 / SE / M /2011
TANGGAL : 23 Februari 2011

Pedoman Operasi dan Pemeliharaan


Bangunan Pengaman Pantai

1. Lingkup

Lingkup Pedoman Operasi dan Pemeliharaan Bangunan Pengaman Pantai ini mencakup:
a. Sosialisasi pengamanan pantai;
b. inventarisasi;
c. pemantauan kondisi bangunan;
d. evaluasi kondisi dari kinerja bangunan;
e. pengoperasian pompa air dan pintu air;
f. penentuan metode umum pemeliharaan;
g. pemilihan cara pelaksanaan pemiliharaan;
h. pemantauan pelaksanaan pemeliharaan; dan
i. evaluasi pelaksanaan pemeliharaan.

2. Acuan Normatif

Pedoman Pemeliharaan Bangunan Pengaman Pantai ini merujuk pada:


• Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
• Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan
Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten /
Kota.

1 dari 52
3. Istilah dan Definisi

Beberapa istilah dan definisinya dalam lingkup kepantaian dan bangunan pantai:

a. Bangunan Pengaman Pantai


Bangunan sipil yang dibangun untuk melindungi dan mengamankan pantai dari erosi /
abrasi dan banjir pantai / rob, menjaga stabilitas muara untuk mendukung lalu lintas
navigasi, serta revitaslisai kawasan pantai

b. Armor
Lapis pelindung bagian luar bangunan pengaman pantai, dapat terdiri dari unit-unit batu
kosong atau batu buatan.

c. Bangunan Kaku
Bangunan yang memiliki struktur kaku (rigid), yang dibangun secara masif dan umumnya
menggunakan material beton atau pasangan batu.

d. Berm Pantai (beach berm)


Bagian pantai arah darat yang relatif datar merupakan bagian dari pantai belakang. Berm
dibentuk oleh deposisi material pantai akibat aksi gelombang.

e. Downdrift
Hilir dari bagian yang ditinjau dengan berpatokan pada arah transpor sedimen dominan
yang terjadi pada perairan pantai.

f. Garis pantai
Tempat atau garis yang merupakan garis batas daratan dengan pengaruh air laut yang
berupa ujung berm.

g. Groin
Bangunan yang dibuat tegak lurus atau kira-kira tegak lurus pantai, berfungsi
mengendalikan erosi yang disebabkan oleh terganggunya keseimbangan angkutan pasir
sejajar pantai (longshore sand drift).

h. Jeti (Jetty)
Bangunan menjorok ke laut yang berfungsi sebagai pengendalian penutupan muara sungai
atau saluran oleh sedimen.

i. Operasi bangunan pengaman pantai


Upaya menyusun landasan bagi tindak pemeliharaan bangunan pengaman pantai, mulai
dari sosialisasi, inventarisasi, pemantauan, dan evaluasi; serta pengaturan kerja sistem
drainase atau sistem lain yang terkait dengan bangunan pengaman pantai termasuk
kegiatan membuka-menutup pintu air dan menjalankan pompa air drainase.

j. Pantai (shore)
Daerah yang merupakan pertemuan antara laut dan daratan diukur pada saat pasang
tertinggi dan surut terendah.

k. Pemecah Gelombang (breakwater)


Konstruksi pengaman pantai yang posisinya sejajar atau kira-kira sejajar garis pantai
dengan tujuan untuk meredam gelombang datang.

l. Pemeliharaan bangunan pengaman pantai


Upaya menjaga dan mengamankan bangunan pengaman pantai agar selalud apat
berfungsi dengan baik guna memperlancar pelaksanaan operasi dan mempertahankan
kelestariannya.

2 dari 52
m. Pengisian pasir (sand nourishment)
Kegiatan untuk membentuk pantai menjadi stabil dengan menambahkan pasir ke pantai.

n. Piping
Salah satu bentuk erosi tanah yang terjadi di bawah permukaan. Biasanya berhubungan
dengan keruntuhan tanggul dimana aliran turbulen dari air dalam pori menghanyutkan
butiran tanah mulai dari mulut aliran rembesan dan erosi tanah yang berada di bagian atas.

o. Polder
Sebidang tanah yang rendah, dikelilingi oleh embankment/timbunan atau tanggul yang
membentuk semacam kesatuan hidrologis buatan, yang berarti tidak ada kontak dengan air
dari daerah luar selain yang dialirkan melalui perangkat manual.

p. Revetmen (revetment)
Struktur di pantai yang dibangun menempel pada garis pantai dengan tujuan untuk
melindungi pantai yang tererosi.

q. Rubble Mound
Tipe bangunan pantai yang dibuat dari tumpukan batu kosong, atau batu buatan, disusun
membentuk kemiringan.

r. Tanggul Laut (sea dike)


Struktur pengaman pantai yang dibangun sejajar pantai dengan tujuan untuk melindungi
dataran pantai rendah dari genangan yang disebabkan oleh air pasang, gelombang dan
badai.

s. Tembok Laut (sea wall)


Struktur pantai yang dibangun dalam arah sejajar pantai dengan tujuan untuk melindungi
pantai terhadap hempasan gelombang dan mengurangi limpasan genangan areal pantai
yang berada di belakangnya.

t. Updrift
Hulu dari bagian yang ditinjau dengan berpatokan pada arah transpor sedimen dominan
yang terjadi pada perairan di pantai.

u. Runup
Elevasi maksimum dari dorongan gelombang di atas tinggi air tenang.

v. Wilayah Pesisir
Daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di
darat dan laut.

4. Penjelasan Umum
Operasi dan pemeliharaan bangunan pengaman pantai adalah rangkaian kegiatan yang
bertujuan agar bangunan pengaman pantai dapat berfungsi sesuai maksud pembangunannya.
Berdasarkan lingkup pelaksanannya, kegiatan operasi terbagi dalam 3 bidang, yaitu yang
mencakup: sosialisasi, operasi bangunan pengaman pantai, dan operasi bangunan pendukung.
Sosialisasi yang dimaksud berupa sosialisasi kebijakan pemerintah. Kebijakan yang
disosialisasikan menyangkut beberapa larangan atas kegiatan yang dapat merusak

3 dari 52
lingkungan. Disamping itu, dilakukan juga sosialisasi untuk tata cara pemanfaatan sumber daya
alam yang benar sesuai aturan pemerintah.
Pemeliharaan dilakukan terhadap bangunan pengaman pantai dan kelengkapannya sesuai
dengan hasil pemantauan yang dilakukan. Dalam pedoman ini diuraikan langkah-langkah
penilaian atas kondisi fisik dan fungsi bangunan yang menjadi dasar untuk pengambilan
keputusan. Saran tindakan berdasarkan hasil penilaian disampaikan untuk memberi arah bagi
tindakan yang akan dipilih untuk mengatasi masalah yang dialami bangunan. Diagram lingkup
kegiatan operasi dan pemeliharaan sebagaimana terlihat pada Gambar 1.

OPERASI DAN PEMELIHARAAN BANGUNAN PENGAMAN PANTAI

OPERASI PEMELIHARAAN

SOSIALISASI KEBIJAKAN PEMERINTAH


• Larangan -
• Tatacara pemanfaatan sempadan pantai

BANGUNAN PENGAMAN PANTAI

INVENTARISASI Pada awal operasi &


pemeliharaan (satu kali)

PEMANTAUAN 2 (dua) kali per tahun

EVALUASI Setiap akhir pemantauan

PEMELIHARAAN/
REHABILITASI
BANGUNAN PENDUKUNG
• Operasi bangunan
o Pompa air
o Pintu air } Sesuai manual operasi bangunan

Gambar 1. Diagram lingkup kegiatan operasi dan pemeliharaan bangunan pengaman pantai.

5. Bangunan Pengaman Pantai

Jenis-jenis bangunan pengaman pantai yang dikelola oleh Kementerian Pekerjaan Umum
terdiri dari:
a. Revetmen
b. Tembok Laut
c. Pemecah Gelombang
d. Groin
e. Jeti
f. Tanggul Laut
g. Pengisian Pasir

4 dari 52
Revetmen, Tembok Laut, Pemecah Gelombang, dan Groin termasuk golongan struktur keras
(hard structure) yang mengamankan pantai dengan fisiknya keras dan tidak mudah rusak
menghadapi gaya-gaya alam, sementara pengisian pasir adalah cara termasuk golongan
struktur lunak (soft structure) yang bekerja dengan cara mengorbankan sebagian volumenya
terbawa oleh gaya gelombang dan arus. Adanya pasir di pantai menyebabkan gaya gelombang
tidak langsung menyentuh tanah asli di pantai, sehingga tanah pantai tidak tergerus.
Dalam konteks pengamanan pantai, Jeti juga memiliki fungsi pengamanan khususnya pada
bagian muara agar aliran air menuju ke laut tidak terganggu dan laju penumpukan sedimen di
muara dapat direduksi. Dengan demikian banjir di muara akibat berkurangnya penampang
sungai dapat dihindari. Dalam hal lain, pengamanan yang diberikan oleh tanggul laut lebih
mengarah pada terhindarnya daerah rendah di belakang pantai dari genangan akibat proses
pasang surut.
Bagian berikut secara singkat memberikan gambaran dari setiap jenis bangunan pantai yang
disebutkan. Subbab 5.1 hingga 5.7 menjelaskan bentuk dan cara kerja tiap jenis bangunan
pengaman pantai yang telah disebutkan sebelumnya, sementara subbab 5.8 menjelaskan
bangunan pendukung yang ada pada bangunan pantai. Pada subab 5.9 dijelaskan beberapa
jenis bangunan pelengkap yang dibuat pada bangunan pengaman pantai.

5.1. Revetmen
Revetmen adalah bangunan yang berfungsi untuk melindungi bagian darat pantai tepat di
belakang bangunan terhadap erosi dan abrasi akibat arus dan gelombang. Revetmen yang
ditempatkan pada permukaan pantai memperkuat profil pantai dengan material yang tahan
gaya gelombang dan gerusan air, dengan demikian profil pantai tidak akan mudah terganggu.
Revetmen merupakan konstruksi yang tidak masif dan karenanya dapat dibangun mengikuti
bentuk profil pantai seperti gambar berikut.

Gambar 2. Sketsa struktur revetmen.

5 dari 52
Gambar 3. Pengaman pantai tipe revetmen, Bali.

Konstruksi yang lazim dipergunakan antara lain susunan batu kosong, blok-blok beton, plat
beton, yang disebut konstruksi tipe rubble mound dengan armor pada terluar yang disebut
lapisan pelindung. Antara tanah pantai yang dilindungi dan revetmen harus diselipkan lapisan
filter (dapat berupa geotekstil) yang berfungsi untuk mencegah hanyutnya butiran material
pantai yang halus.
Bila terdapat kemungkinan erosi pada bagian kaki bangunan, maka harus dirancang agar ujung
badan yang menghadap laut dilengkapi dengan tumit agar dapat melindungi bangunan saat
terjadi arus yang mengerosi.

5.2. Tembok Laut


Tembok laut adalah bangunan yang berfungsi mengamankan bagian darat pantai di belakang
konstruksi terhadap erosi akibat gelombang dan arus dan sebagai penahan tanah di belakang
konstruksi. Bangunan ini ditempatkan sejajar atau kira-kira sejajar dengan garis pantai,
membatasi secara langsung bidang daratan dengan air laut. Bangunan ini dapat dipergunakan
untuk pengamanan pada pantai berlumpur atau berpasir. Umumnya digunakan untuk
memperkuat bagian tertentu dari profil pantai yang terjal.

Tembok Batu
TEMBOK LAUT

Pasir
HHWL

MWL

Tanah Keras Batu


Kerikil Profil Asli

Gambar 4. Sketsa tembok laut.

6 dari 52
Gambar 5. Aplikasi tembok laut di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan.

Tembok laut merupakan konstruksi yang masif, direncanakan agar dapat menahan gaya
gelombang yang relatif tinggi. Bahan konstruksi yang lazim dipergunakan antara lain pasangan
batu dan beton. Kerusakan tembok laut antara lain akibat pondasi yang kurang dalam, dan
terjadinya overtopping yang mengakibatkan aliran air di belakang tembok.

5.3. Pemecah Gelombang


Pemecah Gelombang adalah bangunan yang berfungsi untuk mencegah erosi pantai secara
tidak langsung. Bangunan ini bekerja dengan cara meredam dan mereduksi energi gelombang.
Tujuannya adalah memperkecil tinggi gelombang yang lolos ke dalam perairan dalam naungan
bangunan ini dan mengurangi transpor sedimen tegaklurus pantai.
Ada dua jenis pemecah gelombang, yaitu pemecah gelombang yang tersambung dengan
pantai, dan pemecah gelombang lepas pantai (detached). Jenis yang relevan dengan
pengamanan pantai adalah pemecah gelombang lepas pantai.

Gambar 6. Sketsa layout dan unjuk kerja pemecah gelombang lepas pantai.

7 dari 52
Gambar 7. Pengaman pantai tipe Pemecah Gelombang lepas pantai di Sanur, Bali.
Pemecah gelombang lepas pantai berfungsi pula sebagai penahan dan pereduksi besarnya
angkutan sedimen sejajar pantai maupun sedimen tegak lurus pantai. Karena energi
gelombang direduksi, maka perairan di belakangnya menjadi tenang dan mengakibatkan
terbentuknya endapan yang disebut Tombolo.

5.4. Groin
Groin adalah bangunan yang berfungsi sebagai pengaman pantai terhadap erosi karena
gangguan keseimbangan angkutan pasir sejajar pantai (longshore sanddrift). Groin bekerja
dengan menahan atau mengurangi besarnya angkutan pasir sejajar pantai. Karena tujuannya
mengurangi angkutan pasir sepanjang pantai, maka groin hanya cocok untuk pantai yang
berpasir.

Gambar 8. Sketsa dan cara kerja groin.

8 dari 52
Tipe lurus Tipe T Tipe L

Gambar 9. Beberapa tipe groin.

Groin dapat dibedakan tipenya menurut bentuk, yaitu: tipe lurus, tipe T, dan tipe L
sebagaimana ditunjukkan dalam gambar. Groin juga dapat dibuat melengkung, berbentuk mirip
ekor ikan, dan juga bentuk lain sesuai keperluannya dan kaitannya dengan estetika pantai.
Berdasarkan konstruksinya, groin dapat dibangun dari tumpukan batu, caison beton, turap,
tiang yang dipancang berjajar, atau tumpukan silinder beton yang bagian dalamnya diisi
dengan adukan beton. Namun demikian, konstruksi tumpukan batu lebih banyak dipilih untuk
aplikasi pada tempat-tempat terbuka karena mampu bertahan terhadap beban gelombang yang
besar dan berguna untuk mengurangi refleksi gelombang.
Dengan adanya groin, maka gerakan sedimen sejajar pantai akan tertahan dibagian hulu
(updrift) groin dan sebaliknya kemungkinan akan terjadi erosi di bagian hilir (downdrift) groin.
Makin panjang groin makin tinggi kapasitasnya menahan sedimen. Sebaliknya untuk groin
yang rendah dan pendek kapasitasnya untuk menahan sedimen akan lebih kecil.

Gambar 8. Groin di pantai Padang, Sumatera Barat.

5.5. Jeti
Jeti adalah bangunan yang berfungsi mengendalikan penutupan muara sungai atau saluran
oleh sedimen (Pedoman Umum Perbaikan Muara Sungai dengan Jeti, Pd T-07-2004-A). Dalam
lingkup yang lebih luas, jeti juga digunakan untuk menjaga kestabilan alur pelayaran dan inlet
pasang surut. Pada pantai dengan arus dan angkutan sedimen sejajar pantai, jeti juga

9 dari 52
berfungsi untuk menahan arus yang melintang alur dan mengalihkannya agar melintas melalui
bagian perairan yang lebih dalam sehingga resiko ganguan lebih kecil untuk pelayaran.
Jeti merupakan struktur yang tersambung dengan pantai dan umumnya dibangun pada salah
satu atau kedua sisi alur tegak lurus terhadap garis pantai dan memanjang ke dalam laut.

Gambar 9. Jeti di muara Kali Gawean Anyar, Slamaran, Pekalongan.

Cara kerja jeti adalah dengan membatasi aliran pasang surut, sehingga ada peluang untuk
mengurangi tingkat pendangkalan alur dan mengurangi volume pengerukan yang diperlukan.
Apabila bangunannya diperpanjang hingga melampaui daerah gelombang pecah, jeti
memberikan keleluasaan manuver yang lebih baik bagi kapal yang memasuki alur karena
dapat memberikan perlindungan terhadap gelombang. Jeti dibangun dengan cara yang serupa
dengan breakwater.

5.6. Tanggul Laut


Tanggul Laut (sea dike) merupakan struktur pengaman pantai yang dibangun sejajar pantai
dengan tujuan untuk melindungi dataran pantai yang rendah dari genangan akibat air pasang,
gelombang dan badai.
Tanggul ini dibuat dengan tujuan untuk memisahkan pantai dari hinterland. Biasanya badan
tanggul dibangun dari material halus seperti pasir, pasir kelanauan dan lempung. Material
kedap air diperlukan agar air tidak merembes melalui badan tanggul.
Resiko keruntuhan badan tanggul (stabilitas lereng) dan erosi akibat piping menentukan
kelandaian badan tanggul di bagian darat, sementara badan arah laut biasanya dibuat sangat
landai dengan tujuan untuk mengurangi runup gelombang dan pengaruh erosi akibat
gelombang.
Material yang digunakan sebagai pelindung dapat berupa rumput-rumputan, aspal, batu-batuan
atau pelat beton tergantung tingkat perlindungan yang dibutuhkan. Kemiringan badan
bangunan yang semakin terjal membutuhkan lapisan armor pelindung yang lebih kuat. Bila
terdapat kemungkinan erosi pada bagian kaki bangunan, maka harus dirancang agar ujung
badan yang menghadap laut dilengkapi dengan tumit agar dapat melindungi bangunan saat
terjadi arus yang mengerosi.

10 dari 52
Pada kondisi tertentu, tanggul dapat dibuat dari tembok beton dengan kaki yang melebar
(parapet). Dibelakang tembok diisi dengan tumpukan tanah yang ditimbun pada kaki tembok.

http://www.encora.eu DL20081516

Gambar 10. Tanggul laut sebagai penahan air dan gelombang, Netherland.

RUMPUT

Bagian kedap air

ASPAL
1:3 1:3
MUKA AIR DESAIN
LEMPUNG /
HHWS Urugan batu 1:5 PASIR

Gambar 11. Potongan melintang konstruksi tanggul laut.

5.7. Pengisian Pasir


Pengisian pasir (beach nourishment) adalah solusi struktur lunak yang berfungsi untuk
memberikan pengamanan bagi sarana dan prasarana di darat terhadap pengaruh badai dan
diterapkan untuk mencegah erosi garis pantai lebih lanjut. Bila tidak ada badai, pengaruh dari
gelombang pecah hanya sebatas sisi sebelah laut dari berm. Secara alamiah berm dan dune
berperan sebagai buffer pelindung antara bangunan di darat dengan air dan gelombang.
Sasaran penggunaan cara ini adalah mengisi pantai dengan material dan membentuk dune
secara artifisial yang nantinya akan dierosi oleh gelombang dan arus bila tidak ada suplai
natural.
Material yang dipilih adalah material dengan ukuran butiran dan kepadatan yang sama atau
lebih besar dibanding material aslinya yang ditambahkan pada bagian pantai yang tererosi
untuk menggantikan kekurangan pasokan alaminya. Pengisian pasir tidak hanya melindungi
pantai pada lokasi yang diisi, namun juga dapat memberikan perlindungan pada bagian
downdriftnya yaitu dengan memberikan sumber pasir pada suatu titik di bagian updrift.

11 dari 52
6

Penampang asli
4 Penampang setelah pengisian
Penampang rencana

0
Elevasi, m (msl)

-2

-4

-6

-8
0 100 200 300 400 500

Jarak dari garis pantai, m

Gambar 12. Ilustrasi kondisi sebelum pelaksanaan, setelah pengisian, dan penampang rencana.

INLET JETI
GELOMBANG
GELOMBANG

Garis pantai BANGUNAN


sebelumnya UJUNG GELOMBANG GROIN

Garis pantai
Garis pantai sebelumnya
setelah pengisian
pasir Garis pantai Garis pantai
sebelumnya setelah pengisian
pasir

Garis pantai
setelah pengisian
pasir

BANGUNAN
UJUNG

b. Pengisian pasir c. Pengisian pasir


a. Pengisian pasir
distabilkan dengan distabilkan dengan
pada bagian
bangunan rangkaian groin
downdrrift dari
penghalang pengujung yang bergradasi

Gambar 13. Pola penempatan pengisian pasir dan kombinasi dengan bangunan lain untuk
menstabilkan pasir isian.

12 dari 52
Gambar 14. Pengisian pasir di pantai Kuta Bali, dikombinasi dengan groin.

Pengisian pasir secara umum mencakup pembuatan profil pantai yang lebih lebar dan/atau
bukit pasir yang bersifat substansial untuk mengurangi kerusakan akibat badai (relatif terhadap
tingkat kerusakan yang terjadi bila tanpa pengisian pasir). Tingkat pengamanan yang diberikan
bukan ukuran utama, karena adanya ketidakpastian frekuensi badai (dengan intensitas tinggi)
yang akan terjadi. Ada resiko badai tertentu dapat menimbulkan kerusakan bangunan di pantai
meski ada tindak pengisian pasir. Taraf pengamanannya sendiri akan berkurang setelah terjadi
erosi oleh badai besar, dan tentu akan tetap kurang jika tidak dilakukan pemeliharaan
(pengembalian bentuk) kembali setelah badai berlalu. Taraf pengamanan akan dapat dijaga
jika pengisian kembali pasir terjadwal dengan baik, dan biasanya merupakan kunci dari desain.
Untuk memberikan tingkat pengamanan yang lebih, cara pengisian pasir seringkali
dikombinasikan dengan bangunan groin.

5.8. Bangunan Pendukung


Bangunan pendukung merupakan bangunan yang mendukung kegiatan operasi yang dilakukan
pada bangunan pengaman pantai bersangkutan. Masuk dalam kelompok bangunan pendukung
adalah Pompa Air dan Pintu Air. Keduanya perlu dioperasikan secara tepat untuk mengatasi
masalah drainase dan menjaga kondisi keamanan kondisi bangunan pengaman pantai
bersangkutan.
Pompa air umumnya digunakan pada sistem polder dimana elevasi tanah aslinya rendah dan
harus dilindungi dengan tanggul keliling. Air drainase dalam sistem ini dikumpulkan dalam
suatu kolam tampung dan akan dibuang ke luar menggunakan pompa.
Pintu air digunakan pada kawasan yang memiliki elevasi cukup untuk pembuangan air secara
gravitasi. Pintu dibuka saat air laut surut dan ditutup saat air pasang agar tidak menggenangi
lahan.

13 dari 52
Gambar 15. Pompa air pada sistem polder di Teluk Gong, Jakarta.

Gambar 16. Muara drainase pada bangunan pengaman pantai di Bengkulu.

5.9. Bangunan Pelengkap


Bangunan ini bersifat melengkapi penggunaan bangunan utama atau menunjang kegiatan di
daerah tempat bangunan pengaman berada. Dapat beruapa akses menuju bangunan
pengaman pantai, atau bangunan yang menunjang kegiatan masyarakat sekitar.
Jalan setapak, merupakan bangunan pelengkap yang merupakan akses ke bangunan
pengaman dan dimanfaatkan untuk keperluan rekreasi atau wisata. Sementara shelter nelayan,
bangunan pendaratan, jalan desa, outlet drainase merupakan contoh dari bangunan pelengkap
yang berfungsi menunjang kegiatan masyarakat di daerah setempat seperti terlihat pada
Gambar 19.

14 dari 52
Gambar 17. Shelter nelayan sebagai bangunan pelengkap.

6. Material Bangunan Pengaman Pantai

Pilihan bentuk dan material konstruksi bangunan pengaman pantai dikonstruksi dengan pilihan
bentuk dan material yang disesuaikan dengan kondisi lingkungannya. Badan Penelitian dan
Pengembangan di Kementerian Pekerjaan Umum juga membuat beberapa produk pendukung
yang dapat diaplikasikan untuk bangunan pengaman pantai. Terkait dengan keperluan
pemeliharaan, material bangunan pengaman pantai dapat dibagi dalam dua kategori besar,
yaitu material alam dan material buatan.

6.1. Material Alam

6.1.1. Batu
Batu digunakan untuk konstruksi kaku (tembok/beton) maupun lentur (tumpukan batu). Pada
konstruksi lentur, batu digunakan baik sebagai lapisan inti maupun lapisan pelindung di bagian
permukaan. Untuk lapis inti umumnya digunakan batu guling yang bisa diperoleh dari hasil
pemecahan batu gunung (stone crushing), sementara untuk lapis pelindung harus digunakan
batu dengan ukuran yang besar. Ukuran yang besar mutlak perlu karena stabilitas batu lapis
pelindung tergantung pada berat dan bentuk butiran serta kemiringan sisi bangunan.
Pengadaannya dilakukan langsung dari sumbernya dengan ukuran yang dibutuhkan. Batu
alam yang digunakan umumnya diperoleh dari batuan gunung yang dibentuk menyerupai
kubus sehingga dapat disusun dengan rapih membentuk talud yang diinginkan. Ukuran batu
alam yang digunakan dapat mencapai bobot 4 ton, namun kemungkinan pengadaannya sangat
tergantung pada cadangan di sumbernya, juga volume yang dibutuhkan. Untuk mendapatkan
tekstur dan warna tertentu demi tujuan estetika dapat dipilih jenis batu alam yang karakternya
sesuai untuk kondisi laut.

15 dari 52
Gambar 18. Batu alam untuk bagian inti dan lapis lindung di Nusa Dua, Bali.

Gambar 19. Aplikasi batu kali pada revetmen di Pekalongan, Jawa Tengah.

Gambar 20. Aplikasi batu kapur (limestone) pada groin di Sanur.

16 dari 52
6.1.2. Pasir
Penggunaan material pasir dibedakan menjadi dua kategori: sebagai bahan campuran (beton),
dan sebagai bahan utama (untuk pengisian pasir pantai). Sebagai bahan campuran beton,
pasir yang digunakan adalah pasir pasang yang bebas lumpur sesuai persyaratan untuk
pembetonan. Meskipun pekerjaan dilakukan di pantai, pasir laut tidak boleh digunakan untuk
campuran beton.
Khusus untuk pengisian pasir, material harus dipilih dari ukuran butiran dan karakter yang
mendekati kondisi material aslinya. Sumbernya dapat diperoleh dari beberapa tempat baik dari
bagian darat pantai lain yang memiliki jumlah kandungan yang besar maupun dari daerah lepas
pantai atau merupakan hasil pengerukan untuk pembuatan dan pemeliharaan alur pelayaran.
Hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan material pengisi adalah bahwa
sumber material tidak boleh dari tempat yang terlalu dekat dengan pantai yang diisi karena
keseimbangan profil pantai mungkin akan berubah. Bila sumber berada dekat dengan pantai
yang diisi, dapat terjadi transpor material yang mengembalikan pasir dari pantai yang diisi ke
pantai sumbernya untuk mengembalikan pasir yang diambil karena terjadi defisit pada profil
pantai di daerah sumber.
Jika lokasi pengerukan material pinjaman terlalu dekat dengan pantai yang diisi dan perairan
terlalu dangkal, terbentuk batimetri yang tidak beraturan akibat pengerukan yang secara
signifikan mempengaruhi penyebaran gelombang datang. Hal ini dapat berakibat pada erosi di
titik tertentu. Praktisnya, bila diambil dari dasar laut, daerah sumber harus dipilih pada perairan
dengan kedalaman kurang lebih dua kali dari kedalaman pengisiannya.

Gambar 21. Pasir hasil pengerukan diisi kepantai dengan disemprotkan oleh kapal keruk.

6.1.3. Bambu
Bambu pada bangunan pengaman pantai berfungsi sebagai kerangka bangunan yang menjadi
wadah material pengisinya. Tergantung pada materi pengisinya, bambu dipancang serapat
mungkin membentuk barisan yang memanjang sesuai panjang bangunan yang akan dibuat.
Pada jarak tertentu, dipasang pengaku sehingga wadah yang terbentuk dari struktur rangka
bambu kuat untuk menampung material pengisi dan tidak mudah digoyang gelombang.
Untuk material isi digunakan bahan-bahan berbutir halus atau kasar sesuai kondisi pantai yang
diamankan. Bahan pengisi dari tanah digunakan untuk pengaman pantai yang memiliki energi
gelombang yang rendah. Untuk pantai dengan gelombang yang sedang atau besar digunakan
pengisi berupa kantong-kantong pasir atau batu untuk meredam energi seperti contoh pada
Gambar 24.

17 dari 52
Gambar 22. Cerucuk bambu sebagai kerangka bangunan pengaman pantai.

6.1.4. Tanah
Tanah sebagai material bangunan pengaman pantai secara khusus digunakan untuk konstruksi
tanggul laut. Tanah harus memenuhi standar spesifikasi teknis yang berlaku untuk timbunan,
dan untuk bagian kedap tekstur tanah harus dapat menahan air. Untuk itu umumnya digunakan
tanah lempung atau lempung dengan campuran pasir yang tidak lebih dari 20%.
Apabila material tanah menjadi pilihan, jenis tanah liat yang kedap air diperlukan apabila
tanggul harus dibangun pada tanah berpasir. Dengan sifat tanah liat yang kedap air maka inti
yang dibangun masuk ke dalam tanah dasar akan dapat mencegah rembesan air melalui
tanah berpasir di bawah tanggul.

Gambar 23. Tanah lempung pasiran di kawasan tambak AWS (d/h Dipasena), pantai timur Lampung.

18 dari 52
6.2. Material Buatan

6.2.1. Pipa Beton (Buis Beton)


Pipa beton bulat/silinder atau dikenal dengan sebutan “buis beton” atau “gorong-gorong” kerap
digunakan sebagai material untuk membentuk bangunan pengaman pantai. Bangunan yang
dibentuk dengan material ini memiliki struktur masif karena pipa beton ditumpuk dan diisi
dengan adukan beton cycloop dan antar lapisan dibuat bertautan dengan penulangan ringan.

Foto: BengkuluS20070522, J. Siahaan

Gambar 24. Contoh tembok laut pipa beton silinder di Bengkulu.

Pipa beton bulat dibuat dari beton bertulang yang dicetak dengan cetakan baja. Umumnya
yang digunakan adalah pipa beton dengan diameter 100 cm dan tinggi pipa 50 cm. Tebal
dinding pipa 10 cm dan didalamnya dilengkapi besi tulangan berdiameter 10 mm yang disusun
ke arah memanjang dan melintang dengan jarak antar tulangan 10 cm. Untuk campuran
betonnya, digunakan komposisi semen, pasir, dan kerikil dengan perbandingan 1:2:3 atau
minimal setara dengan mutu beton K-175.

6.2.2. Blok Beton


Material blok beton banyak dipergunakan dalam bangunan pengaman pantai sebagai armor
(material pelindung) yang melapisi bagian terluar bangunan. Penggunaan blok beton sebagai
alternatif pengganti batu memiliki kelebihan karena dapat dibuat dengan bentuk yang
diinginkan. Bentuk blok beton yang banyak dikenal untuk pengaman pantai antara lain adalah,
quadripod, tetrapod, dolos, tribar, dan kubus.
Salah satu besaran yang mempengaruhi bobot unit armor adalah nilai koefisien kestabilan
armor yang dikenal dengan Kd. Untuk tinggi gelombang yang sama, makin tinggi harga Kd,
makin ringan bobot unit armor yang dibutuhkan. Bentuk blok beton berkaitan erat dengan
koefisien kestabilannya, oleh karena itu bentuk yang dipilih akan menentukan dimensi blok
beton yang digunakan.

19 dari 52
Tampak Atas Tampak Bawah Tampak Samping

Gambar 25. Unit armor blok beton jenis Quadripod.

Tampak Atas Tampak Bawah Tampak Samping

Gambar 26. Unit armor blok beton jenis Tetrapod.

Tampak Atas Tampak Bawah Tampak Samping

Gambar 27. Unit armor blok beton jenis Dolos.

Tampak Atas Tampak Bawah Tampak Samping

Gambar 28. Unit armor blok beton jenis Tribar.

Tampak Atas Tampak Samping Isometri

Gambar 29. Unit armor blok beton jenis Kubus.

20 dari 52
Tabel 1. Koefisien Stabilitas KD untuk Batu dan Berbagai Bentuk Blok Beton

Lengan Bangunan Ujung (kepala)


Bangunan Kemiringan
Lapis Lindung n Penem- KD KD
patan Gelomb. Gelomb. Gelomb. Gelomb. Cot θ
Pecah Tidak Pecah Tidak
Pecah Pecah
Batu pecah
Bulat halus 2 Acak 1,2 2,4 1,1 1, 1,5-3,0
Bulat halus >3 Acak 1,6 3,2 1,4 2,3 ∗2
Bersudut kasar 1 Acak ∗1 2,9 ∗1 2,3 ∗2
1,9 3,2 1,5
Bersudut kasar 2 Acak 2,0 4,0 1,6 2,8 2,0
1,3 2,3 3,0
Bersudut kasar >3 Acak 2,2 4,5 2,1 4,2 ∗2
3
Bersudut kasar 2 Khusus∗ 5,8 7,0 5,3 6,4 ∗2
Paralelepipedum 2 Khusus 7,0-20,0 8,5-24,0 - -
8,0 6,0 1,5
Tetrapod dan Quadripod 2 Acak 7,0 8,0 4,5 5,5 2,0
3,5 4,0 3,0
8,3 9,0 1,5
Tribar 2 Acak 9,0 10,0 7,8 8,5 2,0
6,0 6,5 3,0
Dolos 2 Acak 15,8 31,8 8,0 16,0 2,0
7,0 14,0 3,0
Kubus dimodifikasi 2 Acak 6,5 7,5 - 5,0 ∗2
Hexapod 2 Acak 8,0 9,5 5,0 7,0 ∗2
Tribar 1 Seragam 12,0 15,0 7,5 9,5 ∗2
Catatan:
n : jumlah susunan butir batu dalam lapis pelindung
1
∗ : penggunaan n= 1 tidak disarankan untuk kondisi gelombang pecah
∗2 : sampai ada ketentuan lebih lanjut tentang nilai KD, penggunaan KD dibatasi kemiringan 1:1,5 sampai 1:3
3
∗ : batu ditempatkan dengan sumbu panjangnya tegak lurus permukaan bangunan
Sumber: Shore Protection Manual, 1984.

21 dari 52
Gambar 30. Contoh pemecah gelombang kubus beton polos di Kalimantan Barat.

Gambar 31. Contoh groin menggunakan kubus beton di Pariaman, Sumatera Barat.

Gambar 32. Contoh penggunaan tetrapod di Tanah Lot, Bali.

22 dari 52
Agar mampu menahan abrasi akibat hempasan gelombang, maka beton yang digunakan
adalah beton dengan mutu K-300 atau lebih. Blok beton dicetak dengan cetakan besi yang
dibuat khusus sehingga dapat dibongkar pasang. Setelah proses pengerasan beton selesai,
cetakan dapat dibuka dan hasil cetakan dirawat sampai mencapai usia yang cukup dan
mencapai kekuatan karakteristiknya. Pemasangan dilakukan setelah blok-blok beton cukup
umur.
Blok beton yang banyak digunakan di Indonesia untuk pekerjaan pengamanan pantai berskala
kecil dan menengah umumnya berbentuk kubus. Kubus beton dicetak dengan panjang sisi 40
cm, 50 cm, atau lebih besar.

6.2.3. Tiang Beton Bertulang


Tiang beton bertulang merupakan salah satu alternatif material yang digunakan untuk
pengaman pantai namun terbatas pada lokasi tertentu. Dari segi biaya material ini lebih mahal
dibanding material jenis lain, oleh karena itu penggunaannya hanya untuk daerah yang penting
dengan nilai ekonomis tinggi seperti pelabuhan, daerah industri, niaga, dan pariwisata atau
untuk daerah-daerah dengan lahan sangat terbatas.
Dalam lingkup bangunan pengaman pantai, tiang beton bertulang dapat diaplikasikan untuk
pembuatan jetty maupun groin. Dalam aplikasi lain tiang beton digunakan sebagai turap
dermaga yang menjadi konstruksi penahan tanah atau dikenal sebagai konstruksi bulkhead.
Bagian yang telah dilindungi tiang dapat direklamasi dan dimanfaatkan untuk melakukan
aktivitas atau mendirikan bangunan.

Gambar 33. Dermaga dengan tiang pancang beton bertulang, Cirebon.

Tiang beton bertulang umumnya dibuat dengan mutu beton K-300, K-450, K-500 hingga K-600
yang dibuat dari campuran semen khusus untuk penggunaan di perairan laut (marine). Pada
masa sekarang, tiang ini sudah diproduksi di pabrik (prefab) dengan sistem prategang,
sentrifugal atau gabungan keduanya sesuai dengan tujuan penggunaanya. Dengan cara
tersebut diperoleh tiang beton bertulang dengan kepadatan yang lebih tinggi dan daya dukung
serta momen lentur ijin yang lebih besar dibanding pencetakan konvensional.

23 dari 52
7. Operasi Bangunan Pengaman Pantai

7.1. Sosialisasi Pengamanan Pantai


Kebijakan terkait pengamanan pantai yang ditetapkan oleh pemerintah pada dasarnya
merupakan landasan hukum agar upaya pengamanan pantai dapat berjalan secara efektif.
Pemahaman masyarakat tentang perlunya pengamanan pantai perlu dibangun agar tidak saja
mendukung upaya pemerintah namun juga demi keberlangsungan penghidupan masyarakat di
sekitar pantai yang dikelola.
Waktu dan jumlah kegiatan sosialisasi bervariasi sesuai kebutuhan setempat. Materi sosialisasi
terhadap masyarakat sekitar yang terkait dengan pantai yang diamankan terdiri dari beberapa
pokok yang penyampaiannya disesuaikan dengan permasalahan yang terjadi pada pantai
bersangkutan. Pokok materi sosialisasi tersebut mencakup:
a. Larangan penebangan penebangan hutan atau tanaman mangrove
b. Larangan penambangan di sempadan pantai
c. Tatacara pemanfaatan sempadan pantai
Selain itu, dalam pelaksanannya, sosialisasi perlu dimuati juga dengan peraturan perundang-
undangan yang melandasi pengaturan, himbauan, dan larangan yang disosialisasikan sebagai
bentuk edukasi bagi masyarakat.

7.2. Inventarisasi
Inventarisasi merupakan kegiatan yang mendahului semua kegiatan lain dalam operasi dan
pemeliharaan bangunan pengaman pantai. Inventarisasi ini dilakukan satu kali dan dalam
inventarisasi dilakukan pemasangan titik referensi yang dipergunakan untuk mengamati
perubahan elevasi bangunan. Data yang diperoleh dari inventarisasi akan menjadi dasar
rencana kegiatan operasi dan pemeliharaan yang akan dilaksanakan.

7.2.1. Peralatan Kerja


Peralatan kerja perlu disediakan bagi pengelola untuk menunjang kegiatan operasi dan
pemeliharaan. Tergantung pada pola pelaksanaannya, jenis fasilitas yang perlu disediakan
sebagai aset akan bervariasi. Peralatan kerja yang sama akan digunakan pula dalam kegiatan
pemantauan, oleh karena itu peralatan yang disebut pada bagian ini menjadi acuan pula dalam
pembahasan kegiatan pemantauan.
Fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan disajikan selengkapnya pada Tabel 2.
Tabel 2. Peralatan Kerja Inventarisasi dan Pemantauan

Fasilitas/Peralatan Jumlah Keterangan


kebutuhan

Transportasi - - Sesuai kondisi lapangan


Alat Survei Kamera foto 1 buah
Lampu senter 2 unit
Alat ukur topografi 1 set
Meteran (50 m) 1 buah
Meteran (5m) 1 buah

GPS tangan 1 buah


Komunikasi Handy talkie 1 set
Handphone (tergantung Pengawas bangunan
1 buah
lokasi) pantai

24 dari 52
7.2.2. Kegiatan dalam Inventarisasi
Kegiatan yang dilakukan dalam inventarisasi mencakup:
1. pembuatan Benchmark (BM); yang akan digunakan sebagai acuan dalam inventarisasi
dan pemantauan,
2. pembagian dan penomoran ruas bangunan (untuk bangunan yang memanjang) atau
penomoran bangunan (untuk bangunan yang berjajar),
3. penetapan nomenklatur bangunan,
4. penentuan obyek yang dilindungi oleh bangunan (sebagai fungsi bangunan), dan
5. pegumpulan data teknis bangunan (termasuk kondisi bangunan, sketsa dan foto).
Blangko inventarisasi digunakan untuk mencatat semua data bangunan yang diinventarisasi.
Untuk bangunan memanjang (Revetmen, Tembok Laut, Pemecah Gelombang, Tanggul Laut,
dan Pengisian Pasir) satu set blangko akan berisi informasi bangunan pada satu ruas.
Karenanya, jumlah blangko akan sesuai dengan jumlah ruas bangunan memanjang yang
ditentukan pada kegiatan nomor 3 diatas. Dengan pola yang serupa, untuk bangunan yang
berjajar (Groin dan Jeti), satu blangko digunakan untuk menginventariasi tiap unit bangunan.

7.2.2.1. Pembuatan Bench Mark


Bench Mark (BM) dibuat sebagai acuan dalam inventarisasi dan untuk memantau perubahan
elevasi bangunan dalam kegiatan pemantauan dan pemeliharaan. BM dibuat setiap jarak 1 km,
dan antara BM dibuat patok-patok dengan interval 100 meter. Pada bangunan yang berlokasi
pada satu titik tertentu (jeti, groin tunggal), minimal dibuatkan satu buah BM. Penempatan BM
dipilih pada lokasi yang aman terhadap gangguan dan kerusakan garis pantai.
BM dibangun pada tanah yang stabil di belakang pantai. Bila tanah dasar lunak, BM harus
diperkuat dengan tiang pancang yang memadai agar posisinya tidak berubah. Sisi muka BM
dilengkapi dengan pelat marmer yang diberi identifikasi lokasi dan nomor sesuai rancangan
nomor BM di lokasi bersangkutan.
BM yang baru dibuat selanjutnya diukur posisi dan ketinggiannya terhadap BM eksisting yang
masih valid dan data koordinatnya tersedia. Bila tidak terdapat BM lain sebagai acuan, atau
data hilang, maka BM yang baru dapat diberi nilai koordinat tertentu secara lokal dengan
elevasi yang ditentukan secara lokal pula. Koordinat BM selanjutnya dapat dikoreksi sesuai
koordinat global dengan hasil pengukuran alat Global Positioning System (GPS). Koreksi
elevasi BM selanjutnya dapat dilakukan sesuai hasil analisis pasang surut berdasarkan data
pengukuran pasang surut di kawasan bersangkutan sesuai Tata Cara Pengamatan Pasang
Surut dengan Menggunakan Papan Duga (Pd T-26-2004-A).

7.2.2.2. Pembagian Ruas dan Penomoran Bangunan


Pembagian ruas bangunan (bangunan memanjang) atau penomoran bangunan (bangunan
berjajar) dilakukan dengan memperhatikan keberadaan dan fungsi masing-masing bagian serta
penomoran yang mungkin telah digunakan selama ini. Bangunan berjajar dapat dinomori
secara urut dari awal hingga akhir. Bangunan memanjang dapat dibagi dalam ruas menurut
panjang tertentu atau per segmen antar dua bangunan lain.

25 dari 52
Revetmen

GroinD4
GroinB 2 GroinC 3 Groin 5
E

Groin 6
Groin
A 1 F

GroinG7

Rev Rev Rev


Rev
Ruas 1 Ruas 2 Ruas 3 Rev
Ruas 4
Ruas 5
Rev: revetmen
Gambar 34. Contoh pembagian ruas dan penomoran bangunan.

7.2.2.3. Penetapan Nomenklatur


Dalam inventarisasi dilakukan pula penetapan nomenklatur bangunan yang diinventarisasi
sebagai identitas bangunan secara spesifik. Bentuk nomenklatur berupa kode yang tersusunan
dari huruf dan angka yang memuat informasi bangunan. Untuk kode wilayah, digunakan
standar Biro Pusat Statistik. Khusus untuk nama pantai, digunakan nama yang sesuai dengan
nama yang digunakan selama ini dalam identifikasi pantai, sementara kode bangunan dibuat
dengan huruf awal sesuai jenis bangunannya. Untuk hal ini Kementerian Pekerjaan Umum,
perlu menerbitkan listing (daftar) tersendiri. Penggunaan bentuk nomenklatur ini diseragamkan
untuk seluruh provinsi di Indonesia. Urutan kode dan informasi yang dimasukkan dalam
nomenklatur disebutkan dalam Tabel 3.

Tabel 3. Informasi Dalam Nomenklatur Bangunan

No. Informasi Bentuk Standar

1. Provinsi/ Kode Biro Pusat Statistik


Kabupaten/Kota
2. Nama Pantai Kode Listing PU
3. Kode Bangunan Rv (Revetmen) Listing PU
TL (Tembok Laut)
PG (Pemecah Gelombang
Gr (Groin)
Jt (Jeti)
TaL (Tanggul Laut)
PP (Pengisian Pasir)

7.2.2.4. Identifikasi Obyek yang Dilindungi


Fungsi bangunan pengaman pantai adalah mengamankan pantai dan obyek
(atau beberapa obyek) yang ada di belakangnya. Dalam inventarisasi, obyek

26 dari 52
apa saja yang dilindungi perlu diidentifikasi dan dicantumkan dalam blangko. Jenis obyek yang
dilindungi dibagi dalam beberapa kategori sebagai berikut:
a. Pulau Terluar
b. Jalan Raya Nasional / Provinsi / Kabupaten
c. Kawasan Pemukiman
d. Kawasan Wisata
e. Fasilitas Umum / Fasilitas Sosial
f. Lalu lintas navigasi (muara sungai)

7.2.2.5. Pengumpulan Data Teknis


Data teknis bangunan diperoleh dari dua sumber, yaitu melalui pengukuran lapangan dan
dokumen pembangunan (as built drawing). Pengukuran lapangan dilakukan untuk setiap
bangunan yang diinventarisasi, untuk mengetahui bentuk dan ukuran bangunan saat
inventarisasi. Hasil pengukurannya diisikan dalam blangko inventarisasi. Bila dokumen
pembangunan masih ada, maka dokumen tersebut menjadi lampiran pada blangko
inventarisasi.
Untuk mengumpulkan data teknis bangunan dalam inventarisasi (dan pemantauan), dilakukan
pengukuran fisik bangunan menggunakan alat bantu ukur yang umum digunakan dalam survei
topografi.
Alat yang digunakan dalam pengukuran ini adalah:
ƒ Theodolite T0 ƒ Tongkat duga
ƒ Waterpass ƒ GPS
ƒ Bak Ukur ƒ Pita Ukur

Panjang Bangunan
Panjang bangunan diukur sesuai alinemen bangunan. Untuk bangunan yang memanjang dan
mengikuti garis pantai (Revetmen, Tembok Laut, Pemecah Gelombang, Tanggul Laut,
Pengisian Pasir), panjang bangunan merupakan panjang ruas yang diidentifikasi/diinventarisasi
dari Titik 1 (awal) ke Titik 2 (akhir).
Untuk bangunan yang berjajar (Groin, Jeti) panjang bangunan diukur menurut alinemen
bangunan dari pangkal (Titik 1) hingga ke ujungnya (Titik 2). Bila bangunan memiliki 2 sumbu
alinemen (Groin T, Groin L) maka panjang bangunan diukur dan diisikan secara berurutan,
dimulai dari bagian utamanya.
Pengukuran dilakukan penggunakan alat Theodolit yang juga mengukur bentuk dasar
bangunan untuk digambarkan pada sketsa. Jarak diukur secara optis dan dilengkapi
pengukuran langsung menggunakan pita ukur.

Elevasi Puncak Bangunan


Elevasi puncak bangunan diukur pada bagian puncak yang mendatar dari bangunan terhadap
BM acuan terdekat sesuai dengan dokumen inventarisasi. Pengukuran dilakukan
menggunakan alat sipat datar (waterpass). Perubahan pada nilai elevasi puncak digunakan
sebagai indikasi adanya perubahan pada bangunan.

Lebar Puncak Bangunan


Lebar puncak bangunan merupakan lebar bagian mendatar/rata pada bagian tertinggi dari
bangunan pengaman. Lebar puncak bangunan diukur untuk bagian utama maupun bagian lain
yang memiliki profil yang berbeda.

27 dari 52
Pengukuran lebar dilakukan secara optis dan dibantu dengan pengukuran langsung dengan
pita ukur.

Lebar Dasar Bangunan


Lebar dasar bangunan merupakan lebar rata-rata bagian dasar bangunan pengaman yang
bersinggungan dengan tanah dasar. Lebar dasar bangunan diukur untuk bagian utama
maupun bagian lain yang memiliki profil yang berbeda. Pengukuran dilakukan menggunakan
cara optis dengan menempatkan bak ukur pada kaki bangunan yang terendam air.

Kemiringan Badan Luar dan Badan Dalam


Kemiringan badan diukur menggunakan perbandingan antara bagian vertikal terhadap bagian
horisontal. Untuk setiap 1 meter arah vertikal maka ke arah horisontal akan terbentuk jarak
tertentu dengan kemiringan badan yang ada, sehingga dengan badan yang landai, angka
bagian horisontal akan semakin besar sebagaimana diilustrasikan oleh gambar berikut.

1m 1m 1m

1m 1,5m 2m
Kemiringan (1:1) Kemiringan (1:1,5) Kemiringan (1:2)

Gambar 35. Contoh kemiringan badan dan cara penulisannya.

Yang dimaksud “luar” (badan luar) adalah bagian badan yang menghadap ke laut,
sedangkan “dalam” (badan dalam) adalah bagian badan yang menghadap ke darat
sebagaimana diilustrasikan oleh sketsa berikut.

28 dari 52
Laut / Sumber Darat / Teduh
Gelombang Gelombang

Puncak
Badan Badan
Luar Dalam
Fundasi Fundasi
Luar Dalam

Material Material
Dasar Dasar
Pemecah Gelombang / Groin /
Jeti / Tanggul Laut

Laut / Sumber Darat / Teduh


Gelombang Gelombang
Puncak
Badan
Luar Material Dasar
Fundasi Dalam
Luar

Material
Dasar Luar
Revetmen

Laut / Sumber Darat / Teduh Laut / Sumber Darat / Teduh


Gelombang Gelombang Gelombang Gelombang

Puncak Puncak
Badan
Material Dasar Badan Material Dasar
Luar
Dalam Luar Dalam
Fundasi
Luar Fundasi
Luar

Material Dasar Material Dasar


Luar Luar
Tembok Laut

Gambar 36. Profil pemecah gelombang, groin, jeti dan tanggul laut, profil revetmen serta profil
tembok laut dan pengertian arah luar dan dalam menurut posisi laut.

29 dari 52
Pantai di atas
Laut / Sumber Berm Puncak Darat / Teduh
Gelombang Gelombang
Bukit
Berm Pasir
Pantai di
bawah Berm

Pengisian Pasir

Gambar 37. Profil struktur lunak pengisian pasir serta pengertian arah luar dan dalam menurut
posisi laut.

Untuk bangunan Groin, dan Jeti yang alinemennya tegak lurus pantai, bagian luar yang
dimaksud adalah bagian yang terpapar gelombang dominan. Bagian ini ditandai sebagai sisi
yang kerap mengalami kerusakan lebih berat. Sisi ini umumnya dapat dikenali juga dengan
adanya endapan pada bagian pangkalnya sebagaimana ditunjukkan oleh sketsa berikut.

Gelombang
Dominan
Badan Badan
Luar Dalam
Gelombang
Dominan Badan Badan
Sisi Luar Dalam
Endapan

muara
Gambar 38. Pemahaman bagian luar dan dalam pada groin dan jeti.

Hasil pengukuran fisik bangunan digambarkan dalam bentuk sketsa bangunan. Sketsa dibuat
lengkap dengan ukuran dan keterangan yang diperlukan dengan selengkap mungkin. Selain
itu, sketsa juga memuat titik-titik pengambilan foto dan arah bidik foto sesuai dengan nomor
identifikasinya.
Foto bangunan yang diambil harus menunjukkan bentuk, kelengkapan, material bangunan, dan
kerusakan yang teridentifikasi. Foto disusun dan diberi nomor sesuai nomor pada sketsa dan
menjadi kelengkapan blangko inventarisasi. Perlu diperhatikan bahwa titik pengambilan foto
dan arah bidikannya perlu dipilih dengan baik karena pengambilan foto selanjutnya pada
pemantauan akan dilakukan dari titik yang sama.

7.3. Pemantauan Kondisi Bangunan


Pemantauan kondisi bangunan mencakup struktur dan fungsinya. Pemantauan ini
dilakukan dengan interval 6 bulan sekali atau 2 kali dalam setahun dengan
jadwal yang dipilih sedemikian rupa sehingga hasilnya mewakili perubahan kondisi

30 dari 52
bangunan pada masing-masing musim (kemarau dan penghujan) setiap tahunnya. Dalam
pemantauan, kegiatan pengamatan dan pengukuran dilakukan menggunakan peralatan kerja
yang sama sebagaimana dibahas pada bagian inventarisasi.
Untuk bangunan pengaman pantai yang telah lama dibangun atau telah rusak, pemantauan
pertama dapat dilakukan segera setelah inventarisasi. Hal ini dilakukan agar penanganan
bangunan dapat terlaksana sesegera mungkin. Hasil evaluasi dari pemantauan pertama akan
dapat langsung menjadi dasar untuk menentukan tindak lanjut untuk bangunan bersangkutan.
Untuk pemantauan digunakan Blangko Pemantauan. Satu set blangko digunakan untuk
melakukan pemantauan satu ruas bangunan untuk bangunan memanjang (Revetmen,
Tembok Laut, Pemecah Gelombang, Tanggul Laut, Pengisian Pasir) atau satu unit bangunan
untuk bangunan yang berjajar (Groin, Pemecah Gelombang, Jeti) mengacu pada hasil
inventarisasi.
Petugas yang akan melakukan pemantauan wajib mempelajari dokumen inventarisasi beserta
dokumen pemantauan terakhir untuk bangunan bersangkutan. Pemantauan didahului dengan
mencatat data indikator lingkungan saat pantauan dilaksanakan. Selanjutnya dilakukan
pengamatan dan penilaian kondisi bangunan dan pengumpulan informasi terkait fungsi
bangunan yang merupakan bagian terpenting dari kinerja bangunan pengaman pantai.

7.3.1. Indikator Lingkungan


Indikator lingkungan yang diperhatikan dalam pemantauan kondisi struktur adalah:
a. Tinggi gelombang.
Tinggi gelombang rata-rata ditaksir oleh petugas saat pemantauan dilakukan. Tinggi
gelombang dapat ditaksir secara langsung atau dengan bantuan perbandingan terhadap
mistar duga atau benda-benda disekitar yang diketahui ukurannya.
b. Kondisi pasang surut
Pasang surut ditentukan dengan mengamati kondisi muka air terhadap bangunan, apakah
dalam posisi tinggi, sedang, atau surut. Posisi ini dapat ditentukan dengan melakukan
pengukuran terhadap BM dengan bantuan data tunggang pasang surut di lokasi atau
dengan memperhatikan jejak air pasang yang umumnya tampak pada badan bangunan.
Tinggi gelombang dan kondisi pasang surut sebagai taraf muka air saat pemantauan akan
menjadi bahan pertimbangan bagi penilaian terhadap kondisi bangunan dan kinerjanya dalam
evaluasi.

7.3.2. Kondisi Bangunan

7.3.2.1. Aksi Gelombang


Sebelum dilakukan penilaian kondisi dan pengukuran fisik bangunan, perlu diketahui aksi
gelombang yang terjadi pda bangunan pengaman pantai. Petugas perlu memperhatikan
apakah gelombang dengan tinggi yang telah ditaksir sebelumnmya melimpas di atas puncak
bangunan atau tidak. Aksi gelombang terhadap bangunan merupakan informasi penting
bagaimana interaksi bangunan terhadap gelombang yang datang.
Kondisi gelombang limpas ini akan menjadi pertimbangan dalam penilaian tingkat pengamanan
yang dapat diberikan oleh bangunan dan korelasinya dengan gelombang rencana. Kondisi
pasang surut saat pemantauan selanjutnya menjadi taraf penilaian atas aksi gelombang yang
terjadi, karena bila dalam keadaan surut terjadi air limpas akibat gelombang dengan ketinggian
dibawah rencana, hal ini menunjukkan bahwa terlah terjadi penurunan elevasi bangunan yang
sangat besar.

31 dari 52
7.3.2.2. Kondisi Fisik Bangunan
Dalam pemantauan, fisik bangunan diukur kembali seperti pada saat inventarisasi. Data
elevasi, ukuran, dan bentuk bangunan diisikan dalam kotak-kotak data pada lembar blangko
yang telah disediakan. Perubahan yang terjadi akan dapat diketahui apabila data tersebut
diperbandingkan dengan data pengukuran sebelumnya. Untuk itu, titik-titik ukur sebaiknya
dilakukan pada tempat yang sama.
Selain pengukuran fisik bangunan, dilakukan juga penilaian terhadap kondisi bangunan.
Kondisi struktur bangunan dinilai berdasarkan beberapa indikator kerusaka. Indikator ini akan
berbeda untuk tiap jenis bangunan, untuk itu pengamatan perlu dilakukan sesuai jenis
bangunan sebagai berikut:

Bangunan Rubble (Tumpukan)


Pengamatan dilakukan terhadap indikator:
a. Puncak bangunan dan elevasinya.
b. Kehilangan lapis pelindung/ armor.
c. Kehilangan kontak (interlock) armor.
d. Penurunan kualitas armor.
e. Perubahan sudut kemiringan badan.
f. Kondisi fundasi bangunan.
g. Kondisi badan bangunan
h. Kondisi materi penyusun.
i. Kehilangan volume material

Bangunan Kaku
Pengamatan dilakukan terhadap indikator:
a. Puncak bangunan dan elevasinya.
b. Kondisi lantai.
c. Kerusakan pada bangunan penutup atas (cap/crown).
d. Kerusakan pada sambungan struktur.
e. Tulangan yang putus/berkarat.
f. Kondisi dinding / badan.
g. Kemungkinan gerusan pada fundasi struktur .
h. Fundasi struktur.
i. Kondisi materi penyusun.

Bangunan Timbunan
Pengamatan dilakukan terhadap indikator:
a. Puncak bangunan dan elevasinya.
b. Bentuk dan ukuran profil.
c. Kerusakan pada badan struktur.
d. Rekah atau patahan (memanjang/melintang)
e. Keruntuhan lereng.
f. Kemungkinan gerusan pada tumit struktur .
g. Fundasi struktur.
h. Kondisi lapis lindung (armor, vegetasi).

Indikator-indikator tersebut diamati untuk menentukan nilai kondisi komponen bangunan yaitu
bagian puncak, badan, dan fundasinya. Cara penilaian dan deskripsi kerusakan secara rinci
dimuat dalam Petunjuk Pengisian Blangko Pemantauan.
Hasil pengamatan kondisi bangunan dilengkapi dengan foto yang diberi catatan dan
komentar. Tiap kerusakan yang ditemukan juga didokumentasi dengan foto dan
keterangannya serta petunjuk lokasi kerusakan pada sketsa.

32 dari 52
7.3.2.3. Kondisi Fungsi
Bagian akhir dari kegiatan pemantauan adalah hal yang penting menyangkut fungsi bangunan.
Untuk itu petugas pemantauan perlu mengumpulkan informasi seluas mungkin yang dapat
menunjukkan bagaimana bangunan berfungsi. Informasi disajikan dalam bentuk foto dengan
uraian kondisi yang meliputi obyek-obyek yang diamankan dan fenomena yang terjadi pada
pantai dengan adanya bangunan. Informasi ini selanjutnya akan digunakan dalam tahap
evaluasi untuk menilai fungsi bangunan.

7.3.3. Pelaporan
Seluruh kegiatan pemantauan kondisi bangunan harus didokumentasi dalam laporan sebagai
informasi dan pedoman bagi penilaian dimasa yang akan datang. Dalam laporan yang dibuat
perlu dilakukan pertimbangan yang seksama sedemikian rupa sehingga data yang dilaporakan
dapat memberikan informasi yang baik dan memenuhi kebutuhan pemeliharaan.

7.4. Evaluasi Kondisi dan Kinerja Bangunan


Evaluasi kondisi bangunan dilakukan menyusul kegiatan pemantauan. Pelaksanaannya
bertempat di kantor dan dilakukan oleh tim evaluasi berdasarkan masukan hasil pemantauan.
Penilaian kondisi fisik bangunan dilakukan melalui perhitungan dalam kegiatan evaluasi ini.
Disamping itu, berdasarkan informasi yang dikumpulkan dinilai juga kinerja fungsi bangunan
yang diharapkan memberi dampak positif. Tujuan akhirnya adalah untuk menetapkan tindak
lanjut yang perlu dilakukan terkait bangunan bersangkutan.

7.4.1. Kondisi Fisik


Kondisi fisik bangunan ditunjukkan oleh suatu nilai yang disebut Indeks Kondisi Bangunan.
Nilai ini merupakan hasil olahan atas hasil pemantauan bangunan bersangkutan. Untuk
bangunan pengaman pantai digunakan skala nilai dari 1 hingga 4, dimana nilai 1 menunjukkan
kondisi terbaik sementaran nilai 4 merupakan kondisi terburuk. Perhitungan untuk memperoleh
nilai ini didasarkan pada nilai kondisi masing-masing komponen struktur bangunan yang
dipantau dan juga kondisi material utamanya.
Tahap penentuan nilai indeks kondisi bangunan adalah sebagai berikut:
a. Perhitungan indeks komponen fisik. Ditentukan dengan mengisikan nilai-nilai kondisi
komponen struktur dari indikator-indikator yang diamati, dan dicatat pada saat pemantauan
dilakukan. Bila terdapat komponen bagian luar dan dalam, dicari nilai rata-ratanya sebagai
nilai indeks komponen fisik.
b. Penentuan bobot. Bobot komponen fisik disesuaikan dengan jenis bangunan yang
dievaluasi. Kobinasi nilai bobot untuk komponen puncak, badan, fundasi, dan material
penyusun berbeda-beda untuk tiap jenis bangunan. Kombinasi ini ditunjukkan dalam
blangko evaluasi dan penjelasannya diberikan dalam petunjuk pengisian.
c. Perhitungan nilai Komponen. Nilai komponen diperoleh dengan mengalikan nilai indeks
komponen fisik terhadap bobot komponen.
d. Penentuan nilai Indeks Kondisi Bangunan. Nilai ini diperoleh dengan membagi jumlah
dari nilai komponen dengan bobot keseluruhan.
Besarnya nilai indeks kondisi bangunan akan menunjukkan kondisi bangunan bersangkutan,
semakin tinggi nilai berarti kerusakan bangunan semakin parah.

33 dari 52
7.4.2. Kinerja Fungsi Bangunan
Disamping kondisi fisik bangunan, dalam evaluasi dinilai juga kinerja fungsi bangunan.
Hasilnya akan menunjukkan apakah bangunan bermanfaat atau tidak, dan sangat menentukan
keputusan akhir untuk pengelolaan bangunan bersangkutan.
Dalam pemantauan, obyek yang diamankan turut diamati untuk mengetahui efektifitas dari
kerja bangunan pengaman yang dibuat. Hasil pengamatan tersebut dituangkan dalam bentuk
informasi berupa sketsa, catatan, dan rekaman foto. Berdasarkan informasi tersebut dilakukan
evaluasi, dan ditentukan apakah bangunan telah memberikan kinerja fungsi yang baik atau
tidak. Nilai fungsi bisa bervariasi, namun disederhanakan sebagai “Baik” atau “Tidak Baik”
dengan pedoman yang ditunjukkan oleh Tabel 4 berikut.

Tabel 4. Penentuan Kinerja Fungsi Bangunan Pengaman Pantai Berdasarkan


Pengamatan Kondisi Lingkungan di Sekitar Bangunan Pengaman Pantai

Kinerja Fungsi Bangunan


Obyek yang Dilindungi
Baik Buruk
Pulau Terluar Pantai tidak terkikis atau pantai bahkan Garis pantai secara konsisten mundur dari
bertambah lebar. Garis pantai bisa mundur waktu ke waktu. Pohon-pohon di tepi pantai
namun di lain waktu maju kembali sehingga tumbang dan sebagian akar terbongkar oleh
seimbang sepanjang tahun. gerusan air.
Jalan Raya Nasional / Jalan dalam keadaan utuh dan stabil. Ada Retak-retak muncul karena fundasi jalan
Provinsi / Kabupaten kemungkinan jalan tertutup oleh pasir yang terganggu. Jalan mengalami penurunan atau
terhempas oleh gelombang pasang yang terban. Sisi bahu jalan tampak tergerus dan
besar hinga jauh di belakang bangu-nan. semakin mendekati badan jalan.
Kawasan Pemukiman Pemukiman aman dari ancaman Pemukiman terkena ombak, posisi garis
gelombang. Gundukan pasir bisa terbentuk pantai semakin mendekati kawasan
di pinggir pantai. pemukiman sehingga jalaran ombak yang
pecah mencapai rumah-rumah yang paling
dekat dengan pantai.
Kawasan Wisata Kawasan wisata aman dari gangguan Energi gelombang dan ombak masih
ombak dan gelombang. Pada pantai yang mengganggu kawasan wisata. Masih terjadi
terjal tidak terjadi gerusan pada dinding gerusan dan keruntuhan tebing pada pantai
pantai dan keruntuhan tebing tidak terjadi yang terjal. Pada pantai berpasir jumlah
lagi. Pada pantai berpasir lebar pantai pasir semakin berkurang dan lebar pantai
terjaga atau bahkan bertambah. menyusut hingga tempat wisata semakin
sempit.
Fasilitas Umum / Fasilitas Fasilitas umum dalam keadaan aman dan Bangunan pengaman tidak dapat
Sosial beroperasi dengan baik. Tinggi gelombang memperbaiki kondisi, kegiatan di fasilitas
yang mencapai lokasi tidak melebihi bersangkutan terganggu oleh besarnya
perkiraan rencana sehingga tidak gelombang yang datang atau bahkan
mengganggu aktifitas. fasilitas mengalami kerusakan akibat
gelombang.
Lalu lintas navigasi (muara Kapal dapat melintasi alur dengan aman. Alur terlalu sempit dan dangkal untuk
sungai) Proses sedimentasi pada alur navigasi dilewati kapal secara wajar. Sedimentasi
seimbang dengan perubahan musim cenderung terus bertambah dan semakin
penghujan dan musim kemarau, atau parah pada musim kemarau.
tingkat sedimentasi terjadi sesuai perkiraan
dalam perencanaan bangunan.

7.4.3. Pengambilan Keputusan


Pengambilan keputusan tindak lanjut harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi
bangunan secara menyeluruh, tidak hanya fisik namun juga fungsinya.

34 dari 52
Kinerja fungsi bangunan memiliki peran pokok dalam menentukan tindak lanjut. Apabila kinerja
fungsi bangunan tidak baik padahal bangunan masih baik atau cukup baik, apapun keadaan
fisiknya di akhir evaluasi, bangunan tidak memberikan manfaat yang diharapkan. Untuk itu
perlu dilakukan kajian ulang terhadap perencanaan dan penempatan bangunan bersangkutan.
Namun perlu diketahui bahwa ada kemungkinan kinerja fungsi bangunan didapati sudah
menurun karena bangunan mengalami kerusakan. Dalam kasus ini, informasi yang lebih luas
mengenai kinerja fungsi bangunan ini pada masa sebelumnya perlu dicari agar karena hal ini
merupakan masukan yang penting untuk bahan pertimbangan dalam evaluasi. Keputusan perlu
didasarkan pada kinerja fungsi bangunan yang sesungguhnya.
Apabila kinerja bangunan dinilai baik, maka bila bangunan membutuhkan pemeliharaan,
pelaksanaannya dapat segera diputuskan. Dari hasil beberapa kali pemantauan dan evaluasi
yang dicatat dalam Tabel Rekaman Data Bangunan Pantai, akan tampak gambaran kondisi
bangunan dari waktu ke waktu. Apabila kecenderungannya terus menurun dan kondisi terakhir
sudah mensyaratkan pemeliharaan, maka bangunan harus segera ditangani dengan
pemeliharaan. Di sisi lain, bila bangunan didapati rusak berat akibat bencana alam (badai,
gempa bumi) diperlukan tindakan pemulihan yang lebih besar berupa rehabilitasi.
Pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas digambarkan oleh tabel berikut. Dapat dilihat
bahwa saran tindakan sangat bergantung pada kinerja fungsi bangunan, kondisi fisik bangunan
akan dipertimbagkan apabila bangunan berfungsi baik.

Tabel 5. Saran Tindakan Berdasarkan Kinerja Fungsi dan Kondisi Fisik Bangunan

Kinerja Fisik Bangunan Pengaman Pantai


Fungsi Saran Tindakan
Bangunan Nilai Indeks Kondisi

0,0 <nilai ≤ 1,5 Baik Pemantauan

1,5 < nilai ≤ 2,5 Cukup Baik Pemantauan


Baik
2,5 < nilai ≤ 3,5 Perlu Perbaikan Pemeliharaan

> 3,5 Rusak Berat Rehabilitasi

0,0 <nilai ≤ 1,5 Baik

1,5 < nilai ≤ 2,5 Cukup Baik


Buruk Kaji Ulang
2,5 < nilai ≤ 3,5 Perlu Perbaikan

> 3,5 Rusak Berat

Catatan: untuk pemecah gelombang, direkomendasikan aksi perbaikan baru dilaksanakan bila
hasil penilaian memberikan nilai indeks 4.

7.5. Pengoperasian Pompa Air dan Pintu Air


Bangunan pantai tidak terlepas dari interaksi dengan sistem lain yang membutuhkan akses ke
laut. Pada umumnya sistem yang dimaksud adalah drainase. Interaksi terjadi pada badan
bangunan pantai, dan oleh karenanya dibutuhkan pengoperasian yang tepat dan teratur agar
sistem dapat berjalan dengan baik sementara pengamanan pantai dapat tercapai. Apabila
terdapat bangunan pompa air atau pintu air pada bangunan pengaman pantai, maka diperlukan
sumber daya untuk operasi bangunan bersangkutan.

35 dari 52
7.5.1. Pengoperasian Pompa Air
Daerah rendah di belakang pantai (depressed area), sering mengalami masalah genangan
karena berada dalam pengaruh pasang surut air laut. Elevasinya yang rendah dan pengaruh
pasang surut menyebabkan air drainase tidak dapat secara tuntas dialirkan dengan cara
gravitasi. Untuk hal ini diperlukan sistem drainase secara mekanis dengan menggunakan
pompa.

LAUT
DARAT Pipa pembuang

Air drainase dari wilayah


di belakang pantai
Tanggul

Pompa
Kolam Pengumpul

Gambar 39. Operasi pompa.

Apabila daerah ini dimanfaatkan dan menjadi daerah terbangun, bangunan tanggul dibangun di
sekeliling daerah ini untuk melindungi dari genangan air laut saat muka air laut naik di atas
elevasi lahan. Tanggul pelindung harus dibangun secara kedap dan menjamin tidak ada air laut
yang merembes ke dalam lahan. Dalam kondisi seperti ini pompa air akan berperan mutlak
untuk memompa air drainase dari kolam pengumpul pengumpul dan membuangnya ke laut
melalui pipa pembuang.

Pengoperasian pompa air ini membutuhkan tenaga terlatih yang memahami kerja pompa dan
sistem pembuangannya. Pompa harus dioperasikan sesuai dengan manual operasi dan
spesifikasi teknik yang menyertai pompa dan sistem drainase yang dibangun.

7.5.2. Pengoperasian Pintu Air


Untuk daerah pantai yang masih relatif tinggi, drainase pada umumnya hanya terganggu saat
air laut pasang. Di daerah seperti ini masih ada cukup waktu bagi air hujan untuk mengalir ke
saluran drainase sehingga lahan tidak tergenang.
Pada kondisi tertentu, pasang air laut menyebabkan pengaruh buruk bagi sistem drainase.
Pasang air laut dapat membawa kotoran dan sampah masuk ke saluran drainase. Disamping
itu, pada pantai tertentu aksi arus dan gelombang laut menyebabkan pasir terbawa masuk ke
dan mengendap di saluran drainase. Endapan kotoran, sampah, dan pasir yang tidak
terkendali dapat menyumbat saluran. Pintu air dibangun pada bangunan pengaman pantai
tertentu dalam situasi tertentu sebagai bangunan pengendali aliran air dan material pada
saluran drainase.
Secara prinsip pintu air harus ditutup pada saat air pasang dan dibuka pada saat air surut.
Pengoperasian pintu air ini membutuhkan tenaga umum yang memahami ketentuan saat buka-
tutup pintu air. Besarnya bukaan dan waktu buka-tutup secara rinci diatur oleh manual operasi
yang disertakan pada perencanaan bangunan pintu air.

36 dari 52
Endapan atau sampah yang LAUT
DARAT terbawa saat air pasang
(digelontor saat pintu dibuka)

MUKA AIR PASANG


SALURAN DRAINASE

PINTU AIR
MUKA AIR SURUT

TEMBOK LAUT
(di kiri-kanan pintu air)

Gambar 40. Operasi pintu air.

8. Pemeliharaan Bangunan Pantai


Pedoman pemeliharaan bangunan pengaman pantai masih membutuhkan pengalaman dan
kajian yang lebih mendalam, oleh karena itu Pedoman Pemeliharaan secara khusus akan
diatur dalam dokumen tersendiri. Bagian ini memberikan gambaran secara praktis metoda
umum pemeliharaan bangunan pengaman pantai.

8.1. Metode Umum Pemeliharaan


Dari sejumlah jenis bangunan pantai, berdasarkan struktur bangunannya dapat dibagi dalam 3
kelompok, yaitu struktur tumpukan (rubble), struktur kaku (rigid) dan struktur timbunan
(terbentuk dari material tanah). Tindak pemeliharaan umumnya dapat dibedakan menurut jenis
strukturmya.
Untuk struktur rubble, pemeliharaan dilakukan untuk menjaga agar kuncian (interlock) armor
pada tumpukan tetap terjaga, baik dengan menjaga posisi mapun bentuk armor. Untuk itu
tindakan yang dilakukan mencakup perapihan/penataan armor yang tergeser, penggantian unit
armor yang rusak/pecah, pengisian kembali batu-batu pelindung di puncak struktur, perbaikan
susunan dan penambahan batu pelindung tumit.
Struktur kaku umumnya dibentuk dari campuran beton yang dapat tererosi dengan cepat bila
terjadi retak atau rekahan. Karenanya perlu dijaga keutuhan bangunan agar tidak membuka
peluang kerusakan lebih lanjut. Untuk itu tindak pemeliharaan bangunan dilakukan untuk
mencegah terjadinya kerusakan struktural seperti perbaikan bagian betonan yang
retak/terkelupas, pemlesteran kembali betonan yang aus, perbaikan pondasi dan penambahan
batu pelindung tumit, dan pemeliharaan bangunan pelengkap.
Struktur timbunan yang terbentuk dari tanah pada prinsipnya membutuhkan perhatian agar
tidak terjadi kehilangan kekuatan timbunan akibat kehilangan butiran tanah, untuk itu tindakan
yang dilakukan adalah perapihan lapis lindung (struktur keras dan lunak/vegetasi) dan
pengembalian bagian yang hilang dan terlepas. Disamping itu pemeliharaan dilakukan juga
dengan penambahan material timbunan, pembersihan struktur dari pohon-pohon (tanaman
keras) yang tumbuh di badan timbunan, penambalan lubang-lubang pada badan timbunan,
pembasmian hewan-hewan penghuni yang merusak.
Lebih jauh lagi sesuai material penyusunnya, metoda pemeliharaan yang dilakukan
dapat dibedakan lagi. Pada bagian berikut disajikan metoda umum pemeliharaan untuk
tiap jenis bangunan sesuai material yang digunakan. Metode ini masih bersifat umum

37 dari 52
dan terbuka untuk dikembangkan lebih jauh sesuai kondisi spesifik bangunan yang dipelihara.
Beberapa pertimbangan untuk pemeliharaan bangunan pantai dalam metode berikut adalah:
ƒ Bagian bangunan yang mengalami tekanan terberat adalah sisi yang menghadap laut dan
berada pada rentang pasang surut dan gelombang dimana kerusakan lebih sering terjadi
(tembok hancur atau bolong, batu alam atau blok beton terlepas dari tempatnya, batu alam
terkikis, blok beton patah/terbelah). Bagian ini perlu material dalam kondisi prima (bentuk,
ukuran, kekuatan), karenanya diutamakan penggantian material baru (armor) atau
perbaikan dengan kekuatan yang sama.
ƒ Tembok laut, groin, dan revetmen terletak di pantai. Pada waktu tertentu sebagian
bangunan tidak terendam. Pada bagian ini masih layak dilakukan pemeliharaan dengan
mengatur kembali susunan material eksisting untuk memperbaiki kinerja bangunan.
ƒ Pemecah gelombang umumnya terletak di tengah perairan (pemecah gelombang lepas
pantai). Pada posisi ini upaya pemeliharaan lebih sulit, karenanya tindakan lebih mengarah
pada penambahan material untuk mempertahankan ukuran bangunan sesuai rencana.
ƒ Jeti memanjang dari bagian muara hingga ke tengah perairan, hanya sebagian kecil berada
di pantai dan salah satu sisi harus diakses dari sungai. Upaya pemeliharaan lebih sulit
dibanding groin, dan karenanya metode tindakan lebih mengarah pada penambahan
material untuk mempertahankan ukuran bangunan sesuai rencana.
ƒ Tanggul laut terletak di pantai dan pada waktu tertentu sebagian bangunan tidak terendam
air. Pada bagian ini masih layak dilakukan pemeliharaan dengan melakukan pembongkaran
parsial. Bila dibutuhkan pembongkaran besar, cofferdam harus dipasang untuk mencegah
struktur hancur terendam air.
ƒ Struktur rigid (kaku) jarang mengalami penurunan puncak karena sifatnya masif, umumnya
kerusakan yang menyebabkan puncak runtuh karena struktur patah dan hancur.
ƒ Pemeliharaan bangunan pasir terutama dilakukan pada profil yang berada di atas air. Profil
pantai yang perlu dibentuk dan pola pemeliharaannya harus disesuaikan dengan
karakteristik pantai. Umumnya manual pemeliharaan untuk metoda ini dibuat tersendiri
karena cara ini membutuhkan pemeliharaan rutin dan berkala.

38 dari 52
Tabel 1. Metoda Umum Pemeliharaan Bangunan Pengaman Pantai - Revetmen

Rubble (Tumpukan) / Timbunan Rigid (Kaku)


JENIS BANGUNAN / Bahan Alam (Batu) Blok Beton Tembok Beton Pasangan Batu Kali
MATERIAL
Kondisi Tindakan Kondisi Tindakan - -
ƒ Puncak turun. ƒ Tambahkan batu pada ƒ Puncak turun, ƒ tambahkan blok beton
bagian puncak. pada bagian puncak.

ƒ Geser, lepas, cabut. ƒ Kembalikan batu yang ƒ Geser, lepas. ƒ Atur kembali susunan
pindah ke posisinya. agar blok saling ikat.

ƒ Terkikis, membulat. ƒ Atur kembali susunan ƒ Terkikis, membulat. ƒ Gantikan blok beton,
batu agar saling pindah blok yang terkikis
Revetmen mengikat. dan membulat ke bagian - -
atas atau benamkan
sebagai pelindung tumit

ƒ Tumit tergerus. ƒ Tambahkan batu ƒ Tumit tergerus. ƒ Tambahkan blok beton


pelindung tumit. pada bagian tumit.

ƒ Pecah. ƒ Ganti dengan batu ƒ Patah, pecah. ƒ Ganti blok beton dengan
ukuran semula yang baru.
(jarang/tidak pernah).

39 dari 52
Tabel 2. Metoda Umum Pemeliharaan Bangunan Pengaman Pantai – Tembok Laut

Rubble (Tumpukan) / Timbunan Rigid (Kaku)


JENIS BANGUNAN /
Tembok Beton Pasangan Batu Kali
MATERIAL Bahan Alam (Batu) Blok Beton
Kondisi Tindakan Kondisi Tindakan
ƒ Retak. ƒ Sumbat dengan aspal emulsi. ƒ Siar terlepas. ƒ Buat kembali siar baru
Untuk retak progresive, lakukan setelah alur bekas siar
pengisian, penambalan, atau dipahat untuk dudukan siar
rekonstruksi parsial. baru.
ƒ Segmen tembok ƒ Tambal tembok bagian luar ƒ Retak. ƒ Injeksi dengan adukan
tidak teratur, dengan adukan sehingga rata, mortar.
patah. rekonstruksi segmen yang rusak
berat.
ƒ Mengelupas, aus, ƒ Pemlesteran kembali, ƒ Patah, pecah, ƒ Bongkar bagian yang
agregat terlepas. penambalan, perawatan jembul. rusak. Tambal bagian
permukaan, pelapisan dengan setebal tembok asli.
synthetic resin. Padatkan dan ratakan
tanah di belakang tembok
Tembok Laut - - sebelum tambalan
dipasang.
ƒ Berlubang. ƒ Tambal dengan mortar semen, ƒ Batu tercabut. ƒ Ganti dengan batu yang
mortar plastik atau beton. Isi lebih kecil, berikan mortar
dengan campuran aspal. yang cukup agar batu
terkunci dengan baik
dalam mortar baru.
ƒ Tembok/Fundasi ƒ Bongkar dan tambal dengan ƒ Hancur, ƒ Bongkar bagian yang
Keropos. adukan beton baru. Tambahkan terberai. hancur, kosongkan tanah
batu pelindung tumit, ., atur di belakang tembok.
kembali batu pelindung. Rekonstruksi tembok
sesuai lebar yang hancur.
Isi kembali tanah setelah
kekuatan tembok tercapai.

40 dari 52
Tabel 3. Metoda Umum Pemeliharaan Bangunan Pengaman Pantai – Pemecah Gelombang

Rubble (Tumpukan) / Timbunan Rigid (Kaku)


JENIS BANGUNAN /
Bahan Alam (Batu) Blok Beton
MATERIAL Tembok Beton Pasangan Batu Kali
Kondis Tindakan Kondisi Tindakan
ƒ Puncak turun ƒ Tambahkan batu pada ƒ Puncak turun ƒ tambahkan blok beton pada
bagian puncak. bagian puncak.
ƒ Geser, lepas, ƒ Tambahkan batu baru ƒ Geser, lepas. ƒ Tambahkan blok beton pada
cabut. pada posisi yang kosong. bagian yang kosong, susun
Atur kembali agar batu- agar blok saling ikat.
batu saling mengunci.

ƒ Terkikis, ƒ Atur kembali susunan ƒ Terkikis, ƒ Gantikan blok beton, pindah


membulat. batu agar saling membulat. blok yang terkikis dan
Pemecah mengunci. Tambah batu membulat ke bagian belakang
bila tinggi atau volume yang terlindung atau Lihat tabel berikut Lihat tabel berikut
Gelombang
penampang berkurang benamkan sebagai pelindung
akibat penyusunan ulang. tumit.
ƒ Tumit ƒ Tambahkan batu pada ƒ Tumit tergerus. ƒ Tambahkan blok beton pada
tergerus. bagian tumit. bagian tumit.

ƒ Pecah. ƒ Ganti batu dengan ukuran ƒ Patah, pecah ƒ Ganti blok beton dengan yang
semula, rekonstruksi baru.
(jarang).

41 dari 52
Tabel 4. Metoda Umum Pemeliharaan Bangunan Pengaman Pantai – Pemecah Gelombang (lanjutan)

Rubble (Tumpukan) / Timbunan Rigid (Kaku)


JENIS BANGUNAN /
MATERIAL Bahan Alam Tembok Beton Pasangan Batu Kali
Blok Beton
(Batu) Kondisi Tindakan Kondisi Tindakan
ƒ Retak. ƒ Sumbat dengan aspal emulsi. ƒ Retak. ƒ Injeksi dengan adukan
Untuk retak progresive, mortar.
lakukan pengisian,
penambalan, atau
rekonstruksi parsial.
ƒ Mengelupas, aus, ƒ Pemlesteran kembali, Patah, pecah. ƒ Bongkar bagian yang rusak.
agregat terlepas. penambalan, pelapisan Isi bagian yang patah /
dengan synthetic resin. pecah dengan adukan beton
dan ratakan.
ƒ Berlubang. ƒ Tambal dengan mortar ƒ Batu tercabut. ƒ Ganti dengan batu yang
semen, mortar plastik atau lebih kecil, berikan mortar
Pemecah Lihat tabel Lihat tabel beton. yang cukup agar batu duduk
Gelombang sebelumnya sebelumnya dengan baik dalam mortar
baru.
ƒ Dinding tidak ƒ Tambal dengan struktur rubble ƒ Hancur, terberai. ƒ Ganti bagian yang hancur
teratur, patah, di kiri-kanan dinding dan hilang dengan struktur
hilang. menggunakan batu alam atau rubble dari batu alam atau
blok beton. blok beton.
ƒ Dinding, fundasi ƒ Bongkar dan hancurkan
Keropos. segmen yang rusak. Ganti
dengan struktur rubble batu - -
alam atau blok beton.
Tambahkan batu pelindung

42 dari 52
Tabel 5. Metoda Umum Pemeliharaan Bangunan Pengaman Pantai - Groin

Rubble (Tumpukan) / Timbunan Rigid (Kaku)


JENIS BANGUNAN / Bahan Alam (Batu) Blok Beton
MATERIAL Tembok Beton Pasangan Batu Kali
Kondisi Tindakan Kondisi Tindakan
ƒ Puncak turun ƒ Tambahkan batu pada ƒ Puncak turun, ƒ tambahkan blok beton
bagian puncak. pada bagian puncak.

ƒ Geser, lepas, cabut. ƒ Kembalikan batu yang ƒ Geser, lepas. ƒ Atur kembali susunan
pindah ke posisinya. agar blok saling ikat.
Atur kembali agar batu-
batu saling mengunci.
ƒ Terkikis, membulat. ƒ Atur kembali susunan ƒ Terkikis, membulat. ƒ Gantikan blok beton,
batu agar saling pindah blok yang terkikis
Groin mengikat. dan membulat ke bagian Lihat tabel berikut Lihat tabel berikut
atas atau benamkan
sebagai pelindung tumit..
ƒ Tumit tergerus. ƒ Tambahkan batu pada ƒ Tumit tergerus. ƒ Tambahkan blok beton
bagian tumit. pada bagian tumit.

ƒ Pecah. ƒ Ganti batu dengan ƒ Patah, pecah. ƒ Ganti blok beton dengan
ukuran semula, yang baru.
rekonstruksi
(jarang/tidak pernah).

43 dari 52
Tabel 6. Metoda Umum Pemeliharaan Bangunan Pengaman Pantai – Groin (lanjutan)

Rubble (Tumpukan) / Timbunan Rigid (Kaku)


JENIS BANGUNAN / Tembok Beton Pasangan Batu Kali
MATERIAL Bahan Alam (Batu) Blok Beton
Kondisi Tindakan Kondisi Tindakan
ƒ Retak. ƒ Sumbat dengan aspal emulsi. ƒ Retak. ƒ Injeksi dengan adukan mortar.
Untuk retak progresive,
lakukan pengisian,
penambalan, atau rekonstruksi
parsial.

ƒ Mengelupas, aus, ƒ Pemlesteran kembali, ƒ Patah, pecah. ƒ Bongkar bagian yang rusak.
agregat terlepas. penambalan, pelapisan Susun kembali batu dan isi
dengan synthetic resin. bagian yang patah / pecah
dengan adukan beton dan
ratakan.
ƒ Berlubang. ƒ Tambal dengan mortar semen, ƒ Batu tercabut. ƒ Ganti dengan batu yang lebih
Lihat tabel Lihat tabel mortar plastik atau beton. kecil, berikan mortar yang
Groin sebelumnya sebelumnya cukup agar batu duduk
dengan baik dalam mortar
baru.

ƒ Dinding tidak ƒ Tambal dengan struktur rubble ƒ Hancur, terberai. ƒ Ganti bagian yang hancur dan
teratur, patah, di kiri-kanan bangunan hilang dengan struktur rubble
hilang. menggunakan batu alam atau dari batu alam atau blok beton.
blok beton

ƒ Dinding, fundasi ƒ Bongkar dan hancurkan - -


Keropos. segmen yang rusak. Ganti
dengan struktur rubble batu
alam atau blok beton.
Tambahkan batu pelindung
tumit.

44 dari 52
Tabel 7. Metoda Umum Pemeliharaan Bangunan Pengaman Pantai - Jeti

Rubble (Tumpukan) / Timbunan Rigid (Kaku)


JENIS BANGUNAN /
Bahan Alam (Batu) Blok Beton
MATERIAL Tembok Beton Pasangan Batu Kali
Kondisi Tindakan Kondisi Tindakan
ƒ Puncak turun, ƒ tambahkan batu pada ƒ Puncak turun, ƒ tambahkan blok beton
bagian puncak. pada bagian puncak.

ƒ Geser, lepas, cabut. ƒ Tambahkan batu baru ƒ Geser, lepas. ƒ Tambahkan blok beton
pada posisi yang pada bagian yang
kosong. Atur kembali kosong, susun agar blok
agar batu-batu saling saling ikat.
mengunci.

ƒ Terkikis, membulat. ƒ Atur kembali susunan ƒ Terkikis, membulat. ƒ Gantikan blok beton,
batu agar saling pindah blok yang
mengikat. Tambah batu terkikis dan membulat
Jeti Lihat tabel berikut Lihat tabel berikut
bila tinggi atau volume ke bagian belakang
penampang berkurang yang terlindung atau
akibat penyusunan benamkan sebagai
ulang. pelindung tumit.

ƒ Tumit tergerus. ƒ Tambahkan batu pada ƒ Tumit tergerus. ƒ Tambahkan blok beton
bagian tumit. pada bagian tumit.

ƒ Pecah. ƒ Ganti batu dengan ƒ Patah, pecah. ƒ Ganti blok beton dengan
ukuran semula, yang baru.
rekonstruksi (jarang).

45 dari 52
Tabel 8. Metoda Umum Pemeliharaan Bangunan Pengaman Pantai - Jeti

Rubble (Tumpukan) / Timbunan Rigid (Kaku)


JENIS BANGUNAN /
Tembok Beton Pasangan Batu Kali
MATERIAL Bahan Alam (Batu) Blok Beton
Kondisi Tindakan Kondisi Tindakan
ƒ Retak. ƒ Sumbat dengan aspal ƒ Retak. ƒ Injeksi dengan adukan
emulsi. Untuk retak mortar.
progresive, lakukan
pengisian, penambalan,
atau rekonstruksi parsial.

ƒ Mengelupas, aus, ƒ Pemlesteran kembali, ƒ Patah, pecah. ƒ Bongkar bagian yang


agregat terlepas. penambalan, pelapisan rusak. Susun kembali batu
dengan synthetic resin. dan isi bagian yang patah
/ pecah dengan adukan
beton dan ratakan.
ƒ Berlubang. ƒ Tambal dengan mortar ƒ Batu tercabut. ƒ Ganti dengan batu yang
semen, mortar plastik lebih kecil, berikan mortar
Lihat tabel Lihat tabel atau beton yang cukup agar batu
Jeti sebelumnya sebelumnya duduk dengan baik dalam
mortar baru.

ƒ Dinding tidak teratur, ƒ Tambal dengan struktur ƒ Hancur, terberai. ƒ Ganti bagian yang hancur
patah, hilang. rubble di kiri-kanan dan hilang dengan
bangunan menggunakan struktur rubble dari batu
batu alam atau blok alam atau blok beton.
beton.
ƒ Dinding, fundasi ƒ Bongkar dan hancurkan - -
Keropos. segmen yang rusak. Ganti
dengan struktur rubble
batu alam atau blok
beton. Tambahkan batu
pelindung tumit.

46 dari 52
Tabel 9. Metoda Umum Pemeliharaan Bangunan Pengaman Pantai - Tanggul Laut

Rubble (Tumpukan) / Timbunan Rigid (Kaku)


JENIS
BANGUNAN / Bahan Alam (Tanah) Tembok Beton Pasangan Batu
MATERIAL -
Kondisi Tindakan Kondisi Tindakan Kali
ƒ Puncak turun, ƒ Tambahkan material pada bagian ƒ Retak. ƒ Sumbat dengan aspal emulsi.
puncak dan padatkan. Untuk retak progresive, lakukan
pengisian, penambalan, atau
rekonstruksi parsial.
ƒ Badan tanggul berlubang. ƒ Bila lubang kecil, tutup lubang ƒ Segmen tembok tidak ƒ Tambal tembok bagian luar
dengan tanah dan padatkan. Bila teratur, patah. dengan adukan sehingga rata,
lubang besar, bongkar bagian rekonstruksi segmen yang
yang berlubang dan padatkan rusak berat.
kembali timbunan lapis per lapis.
ƒ Lapis lindung rusak/hilang. ƒ Kembalikan atau tambahkan ƒ Mengelupas, aus, ƒ Pemlesteran kembali,
material lapis lindung (batu/ blok agregat terlepas. penambalan, perawatan
beton) pada posisinya. permukaan, pelapisan dengan
Tanggul Laut - synthetic resin. -
ƒ Bocoran. ƒ Selidiki sumber bocoran. Tambal ƒ Berlubang. ƒ Tambal dengan mortar semen,
dengan lapisan aspal pada mortar plastik atau beton. Isi
bagian muka secara merata. dengan campuran aspal.
ƒ Retak ƒ Buat cofferdam sekitar bagian ƒ Tembok/Fundasi ƒ Bongkar dan tambal dengan
Memanjang/Melintang, yang retak. Bongkar bagian Keropos. adukan beton baru. Tambahkan
Tebing Runtuh. retak/runtuh dan padatkan batu pelindung tumit
kembali lapis per lapis dengan
baik.
ƒ Pohon & sampah. ƒ Bersihkan sampah yang - -
tersangkut pada badan tanggul,
cabut pohon yang tumbuh dan
padatkan kembali badan tanggul.

47 dari 52
Tabel 10. Metoda Umum Pemeliharaan Bangunan Pengaman Pantai - Pengisian Pasir

JENIS BANGUNAN /
Rubble (Tumpukan) / Timbunan Rigid (Kaku)
MATERIAL Bahan Alam (Pasir)
Blok Beton Tembok Beton Pasangan Batu Kali
Kondisi Tindakan
ƒ Puncak bukit turun, ƒ Timbun kembali bukit dengan
bukit pasir runtuh. lereng yang lebih landai. Tanam
vegetasi untuk menjaga bentuk
bukit

ƒ Berm turun & melebar, ƒ Lakukan pengisian lanjutan


terdapat tumpukan mengembalikan elevasi berm.
pasir pada perairan
dangkal.
Pengisian Pasir - - -
ƒ Lereng bukit menjadi ƒ perbaiki kemiringan lereng
curam. dengan melakukan pengisian
pasir lanjutan sehingga lereng
normal.

ƒ Berm hilang. ƒ Lakukan pengisian ulang pasir


hingga profil rencana tercapai
kembali.

48 dari 52
8.2 Pemantauan Kegiatan Pemeliharaan

Pemantauan dilakukan terhadap objek melalui indikator-indikator sebagai berikut:


a. Pekerjaan swakelola, indikatornya adalah jenis pekerjaan, volume, waktu, tenaga
kerja, bahan, dan kualitas pekerjaan.
b. Pekerjaan kontraktual, indikatornya adalah jenis pekerjaan, volume, waktu, tenaga
kerja, bahan, peralatan, dan kualitas pekerjaan.

8.3 Cara Pelaksanaan

Pelaksanaan pemeliharaan dapat dilakukan dengan cara swakelola atau dengan kontraktual
(menggunakan penyedia jasa) sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

8.4 Evaluasi Pelaksanaan Pemeliharaan

Evaluasi ini dilakukan untuk setiap kegiatan pemeliharaan yang telah berlangsung. Evaluasi
dilakukan terhadap pekerjaan swakelola dan pekerjaan kontraktual dalam dua periode, yaitu:
a. Evaluasi langsung dilakukan terhadap hal-hal antara lain jenis pekerjaan, volume,
waktu, tenaga kerja, bahan, peralatan dan kualitas pekerjaan. Evaluasi langsung
dilakukan pada saat pekerjaan sedang berjalan.
b. Evaluasi tahunan dilakukan terhadap hal-hal antara lain jenis pekerjaan, volume,
waktu, tenaga kerja, bahan, peralatan dan kualitas pekerjaan. Evaluasi tahunan
dilakukan pada akhir tahun.

8.5 Koordinasi

Kegiatan pemeliharaan didahului dengan koordinasi antara satuan kerja, Kepala Desa
setempat dan pihak terkait untuk menyesuaikan jadwal pelaksanaan yang telah disusun
sebelumnya.

8.6 Pelaporan Kegiatan

Laporan kegiatan pemeliharaan dilakukan sebagai berikut:


a. Untuk pekerjaan swakelola dan kontrak, dilakukan sesuai dengan ketentuan
swakelola dan kontrak
b. Laporan tahunan

9. Perhitungan Kebutuhan Biaya

9.1 Komponen Pembiayaan

Komponen-komponen pembiayaan untuk pemeliharaan dan pemantauan bangunan pantai


terdiri dari:
ƒ Biaya Operasional Unit
ƒ Biaya Pemeliharaan

49 dari 52
9.2 Cara Perhitungan

9.2.1. Biaya Operasional

9.2.1.1. Insentif

a. Pengawas : Jumlah pengawas x 12 x Rp…….../bln


b. Staff : Jumlah staff x 12 x Rp…….../bln
c. Petugas : Jumlah petugas x 12 x Rp…….../bln

9.2.1.2. Perjalanan Dinas Pengamat dan Juru Pengairan

a. Pemantauan
ƒ Pengawas : Jumlah pengawas x frekuensi x Rp … / hari
ƒ Staff : Jumlah staff x frekuensi x Rp … / hari
ƒ Petugas : Jumlah petugas x frekuensi x Rp … / hari

b. Rapat (ke Kabupaten / Kota / Provinsi / BWS)


ƒ Pengawas : Jumlah pengawas x frekuensi x Rp … / hari
ƒ Staff : Jumlah staff x frekuensi x Rp … / hari

9.2.1.3. Operasional Kantor

a. Listrik : 12 x Rp … / bulan
b. Telepon : 12 x Rp … / bulan
c. Air : 12 x Rp … / bulan
d. ATK : 12 x Rp … / bulan
e. Bahan Survey : 12 x Rp … / bulan

9.2.1.4. Operasional Peralatan


a. Genset : Jumlah Genset x 12 x Rp … / bulan
b. Pompa air : Jumlah Pompa x 12 x Rp … / bulan
c. Pintu air : Jumlah pintu air x 12 x Rp … / bulan
d. Lain-lain : ....... x 12 x Rp … / bulan

9.2.1.5. Sosialisasi

Dilakukan sesuai kebutuhan. Program sosialisasi disusun sesuai lokasi dan permasalahan
yang terjadi, kebutuhan biaya diperkirakan menurut jumlah kegiatan.

Biaya sosialisasi : Rp … (lumpsum)

50 dari 52
9.2.1.6. Biaya Total

Biaya total biaya operasional unit adalah jumlah dari lima komponen yang dijabarkan di atas.

Biaya Total Operasi = Insentif + Biaya Perjalanan Dinas + Biaya Operasional Kantor
+ Biaya Operasional Peralatan + Biaya Sosialisasi

9.2.2. Biaya Pemeliharaan

Perhitungan biaya pemeliharaan dilakukan dengan menjumlahkan biaya masing-masing satuan


pekerjaan sesuai usulan pemeliharaan yang diajukan. Besarnya volume pekerjaan termasuk
material bangunan, kebutuhan alat, dan tenaga kerja ditaksir pada saat evaluasi dan
rekapitulasi dan diisikan dalam taksiran pemeliharaan.
Setelah biaya masing-masing jenis pekerjaan dihitung, akan diketahui biaya pemeliharaan
untuk tiap bangunan. Selanjutnya, untuk seluruh bangunan yagn dikelola, biaya yang
diperlukan untuk pemeliharaan semua bangunan pengaman pantai yang ada di suatu
SBWS/BWS dijumlahkan sehingga menjadi total biaya Pemeliharaan (Pm).

9.2.3. Biaya Operasi dan Pemeliharaan Keseluruhan

Secara keseluruhan biaya pemeliharaan bangunan pantai menjadi:

Biaya Total Operasi dan Pemeliharaan = O + Pm

dimana

O = Biaya Operasi
Pm = Biaya Pemeliharaan

51 dari 52
Daftar Pustaka

BPS RI (Badan Pusat Statistik Republik Indonesia), 2007. Daftar Nama Provinsi / Kabupaten /
Kota Menurut Dasar Hukum Pembentukan Wilayah. Online http://www.bps.go.id/
Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Biro Prasarana dan Sarana Kota, Januari
2010. Buku Acuan Harga Satuan Bahan dan Upah Pekerjaan Bidang / Jasa
Pemborongan.
Puslitbang Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, 2004. Bangunan Pengaman
Pantai dan Pengendalian Muara di Indonesia. Volume I.
Technical Advisory Committee for Flood Defence in The Netherlands, 1999. Guide on Sea and
Lake Dikes.
US Army Corps of Engineers, USA, 2002-2008. CEM (Coastal Engineering Manual). EM 1110-
2-1100.
US Army Corps of Engineers, USA, November 1998. REMR Management Systems - Coastal /
Shore Protection Structure, Condition and Performance Rating Procedures for Rubble
Breakwaters and Jetties.
UU RI 27-2007 (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007) tentang Penge-
lolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 84 Tahun 2007.

52 dari 52
LAMPIRAN II SURAT EDARAN MENTERI PEKERJAAN UMUM
NOMOR : / SE / M /2011
TANGGAL :

1 dari 8
2 dari 8
3 dari 8
4 dari 8
5 dari 8
6 dari 8
7 dari 8
8 dari 8
LAMPIRAN III SURAT EDARAN MENTERI PEKERJAAN UMUM
NOMOR : / SE / M /2011
TANGGAL :

BLANGKO INVENTARISASI BANGUNAN PENGAMAN PANTAI


Petunjuk Pengisian Blangko Inventarisasi

Kotak Penjelasan

Kotak Diisi tanggal pelaksanaan inventarisasi dan nama petugas yang melakukan
Tgl-Nama inventarisasi.
Kotak Identifikasi bangunan
Lokasi dan
Identitas a. ID Bangunan. Diisi dengan nomor identifikasi bangunan
(ID) b. Nama Pantai. Diisi dengan nama pantai tempat bangunan pantai berada. (bisa
Bangunan lebih dari satu)
c. Desa. Diisi dengan nama desa tempat bangunan pantai berada. (bisa lebih dari
satu)
d. Kabupaten. Diisi dengan nama kabupaten bersangkutan. Bila terdapat bangunan
yang lintas kabupaten, maka kedua kabupaten disebutkan. Kabupaten dengan
ruas bangunan terbesar disebutkan lebih dahulu.
e. Provinsi. Diisi dengan nama provinsi.

Nomenklatur bangunan
Cara pengisian sesuai dengan ketentuan dan standar seperti dalam tabel berikut.

No. Informasi Bentuk Standar


1. Provinsi/Kabupaten/Kota Kode Biro Pusat Statistik
2. Nama Pantai Kode Listing PU
3. Kode Bangunan Gr (Groin) Listing PU
Rv (Revetmen)
TL (Tembok Laut)
PG (Pemecah Gelombang
Jt (Jeti)
TaL (Tanggul Laut)
PP (Pengisian Pasir)

Nama pantai disesuaikan dengan nama pantai dari proyek-proyek pembangunan


yang dilakukan oleh DPU.
Kode provinsi dan kabupaten/kota disesuaikan dengan kode wilayah terkini dari Biro
Pusat Statistik (BPS). Kode wilayah dari BPS untuk tahun 2007 terlampir bersama
dokumen ini.

1 dari 15
Kotak Penjelasan

Koordinat global bangunan


a. Lintang, Bujur. Diisi dengan posisi lintang (utara/selatan) dan posisi bujur (Timur)
b. Derajat, Menit, Detik. Bagian ini diisi dengan mencantumkan bacaan pada alat
GPS (Global Positioning System) untuk angka derajat, menit, dan detik.
c. Titik 1. Merupakan titik awal dari ruas bangunan untuk bangunan pengaman
pantai yang panjang dan menerus (revetmen, tembok laut, pemecah gelombang,
Tanggul Laut, atau Pengisian Pasir). Untuk pengaman pantai dari unit yang
berjajar, ini merupakan titik pangkal bangunan.
d. Titik 2. Merupakan titik akhir dari ruas bangunan untuk bangunan pengaman
pantai yang panjang dan menerus (revetmen, tembok laut, pemecah gelombang,
Tanggul Laut, atau Pengisian Pasir). Untuk pengaman pantai dari unit yang
berjajar, ini merupakan titik ujung bangunan.

Kotak Beri tanda pada kotak kosong di samping pilihan


Obyek
yang ƒ Pulau Terluar
Dilindungi ƒ Jalan Raya Nasional / Provinsi / Kabupaten
ƒ Kawasan Pemukiman
ƒ Kawasan Wisata
ƒ Fasilitas Umum / Fasilitas Sosial
ƒ Lalu lintas navigasi (muara sungai)
ƒ Obyek lain
Pilihan bisa lebih dari satu. Bila terdapat jenis obyek lain yang dilindungi, tuliskan
jenis obyek tersebut pada baris paling bawah disamping tulisan “obyek lain”.
Kotak Bila masih terdapat dokumen perencanaan atau pembangunan (as built drawing) beri
Lampiran tanda pada kotak kosong di samping jenis dokumen,
Gambar
Terbangun ƒ Peta Orientasi
ƒ Denah Bangunan
ƒ Potongan Melintang Bangunan
ƒ Potongan Memanjang Bangunan
Sesuai dengan kelengkapan dokumen yang tersedia untuk bangunan pengaman
pantai yang sedang diinventarisasi.
Kotak Lengkapi dengan data Benchmark terdekat yang digunakan untuk pengukuran
Informasi
Benchmar a. Identifikasi Benchmark. Bagian ini diisi dengan nama benchmark sesuai nama
k (BM) yang tertera pada pelat marmer benchmark bersangkutan.
Acuan b. X, Y, Z. Diisi dengan nilai koordinat dan elevasi benchmark.
c. Sketsa Situasi Lokasi BM. Diisi dengan gambar sketsa yang menggambarkan
poisisi BM relatif terhadap bangunan, bentuk alam, dan hal lain yang
memungkinkan BM dikenali di lapangan.

2 dari 15
Kotak Penjelasan

d. Foto Benchmark. Diisi dengan foto dari BM bersangkutan yang menunjukkan


dengan jelas identifikasi pada pelat BM dan kondisi sekitar.

Kotak Data fisik bangunan


Fisik
Bangunan Bagian ini merangkum data fisik bangunan yang diinventarisasi. Sebelum pengukuran
dan pengisian data, perlu diperhatikan komponen fisik bangunan yang didata. Tidak
setiap bangunan memiliki komponen fisik seperti yang disediakan dalam blangko.
Untuk pengisian pasir, perlu diperhatikan bahwa beberapa pantai mungkin tidak
memiliki berm. Oleh karena itu bila komponen fisik tidak ada, coret kotak isian.

Berikut cara pengisian data fisik bangunan untuk Blangko Seri I:


a. Panjang Bangunan. Bagian ini diisi dengan panjang bangunan atau ruas
bangunan yang diinventarisasi. Panjang diukur untuk setiap komponen bangunan.
b. Elevasi puncak. Bagian ini diisi hasil pengukuran elevasi bagian datar pada
puncak bangunan terhadap BM acuan.
c. Lebar puncak. Diisi dengan hasil pengukuran lebar rata-rata dari puncak
bangunan.
d. Lebar dasar di Titik 1. Diisi dengan hasil ukur lebar dasar bangunan pada titik
awal atau pangkal bangunan.
e. Lebar dasar di Titik 2. Diisi dengan hasil ukur lebar dasar bangunan pada titik
akhir atau ujung bangunan.
f. Kemiringan badan. (Luar/Dalam). Bagian ini diisi besarnya angka kemiringan
badan secara perbandingan seperti dicontohkan oleh sketsa berikut.

1m 1m 1m

1m 1.5m 2m
Kemiringan (1:1) Kemiringan (1:1.5) Kemiringan (1:2)

Yang dimaksud “luar” (kemiringan badan luar) adalah bagian lereng yang
menghadap ke laut, sedangkan “dalam” (kemiringan badan dalam) adalah bagian
badan yang menghadap ke darat.

3 dari 15
Kotak Penjelasan

Laut / Sumber Darat / Teduh


Gelombang Gelombang

Badan
Puncak
Badan
Luar Dalam
Fundasi
Fundasi
Luar Dalam
Material Material
Dasar Dasar
Pemecah Gelombang / Groin
/ Jeti / Tanggul Laut

Laut / Sumber Darat / Teduh


Gelombang Gelombang
Puncak
Badan
Luar Material Dasar
Fundasi Dalam
Luar

Material
Dasar Luar
Revetmen

Laut / Sumber Darat / Teduh Laut / Sumber Darat / Teduh


Gelombang Gelombang Gelombang Gelombang

Puncak Puncak
Badan
Luar Material Dasar Badan Material Dasar
Dalam Luar Dalam
Fundasi
Luar Fundasi
Luar

Material Dasar Material Dasar


Luar Luar
Tembok Laut

Untuk bagian bangunan Groin dan Jeti yang tegak lurus pantai, bagian luar yang
dimaksud adalah bagian yang terpapar gelombang dominan ditandai dengan sisi
yang kerap mengalami kerusakan lebih berat. Sisi ini umumnya ditandai juga
dengan endapan pada bagian pangkalnya sebagaimana ditunjukkan oleh sketsa
berikut.

4 dari 15
Kotak Penjelasan

Gelombang
Dominan
Badan Badan
Luar Dalam
Gelombang
Dominan Badan Badan
Sisi Luar
Endapan

muara

Jenis Struktur - Material


a. Jenis struktur. Pilih jenis struktur yang sesuai dengan bangunan
b. Material. Pilih jenis material yang sesuai dengan pengamatan di lapangan..

Sketsa bentuk armor (khusus struktur tumpukan/rubble)


c. Sketsa. Gambarkan bentuk dasar dari armor yang digunakan
d. Ukuran. lengkapi ukuran dengan melakukan pengukuran pada panjang sisi-sisi
armor. Untuk batu alam, perlu diukur diameter beberapa armor dan diambil
ukuran rata-ratanya.

Berikut cara pengisian data fisik bangunan untuk Blangko Seri II:
a. Elevasi Puncak Bukit Pasir. Bagian ini diisi hasil pengukuran elevasi bagian
ujung belakang dari pengisian pasir terhadap BM acuan. Bagian bukit ini dapat
dikenali sebagai ujung belakang dari pasir isian yang merupakan batas pekerjaan,
umumnya dibatasi oleh bangunan lain (jalan setapak, revetmen).
b. Lebar Puncak Bukit. Diisi dengan hasil pengukuran lebar rata-rata dari puncak
bagian pasir yang datar untuk ruas bersangkutan.
c. Elevasi Berm. Bagian ini diisi hasil pengukuran elevasi berm terhadap BM acuan.
d. Lebar Berm. Diisi dengan hasil ukur lebar rata-rata berm (bagian yang datar)
untuk ruas bersangkutan.
e. Landai Pantai di Atas Berm. Bagian ini diisi besarnya angka landai untuk
potongan pantai yang di sebelah atas berm. Cara pengisiannya seperti cara
pengukuran

5 dari 15
Kotak Penjelasan

kemiringan seperti pada Blangko Seri I, poin (f). (lihat sketsa)


f. Landai Pantai di Bawah Berm. Bagian ini diisi besarnya angka landai untuk
potongan pantai yang di sebelah bawah berm. Cara pengisiannya seperti cara
pengukuran kemiringan seperti pada Blangko Seri I, poin (f). (lihat sketsa)
Catatan: apabila pada pantai yang diamati tidak terdapat berm, maka tidak ada data
elevasi berm, lebar berm dan landai pantai di bawah berm. Kotak isian untuk bagian
ini dicoret.

Laut / Sumber Pantai di atas Puncak Darat / Teduh


Berm Gelombang
Gelombang
Bukit
Berm Pasir
Pantai di
bawah Berm

Pengisian Pasir

g. Warna Pasir. Bagian ini diisi hasil pengamatan terhadap warna pasir yang ada di
pantai bersangkutan. Pasir mungkin terdiri dari jumlah partikel yang berbeda
warna, oleh karenanya warna yang ditulis adalah warna rata-rata dari
keseluruhan. Foto harus disertakan untuk menunjang pengisian warna pasir.
h. Ukuran butir rata-rata. Diisi dengan besarnya ukuran butir pasir rata-rata.
Pengukuran dapat dilakukan di kantor dengan mengambil sampel pasir dari lokasi
pengisian.
i. Cara pengambilan. Diisi sesuai dengan informasi metode pengisian pasir di
lokasi.
j. Sketsa lokasi sumber. Gambarkan sketsa yang menunjukkan posisi lokasi
sumber pasir dan posisi lokasi yang diisi pasirnya. Lengkapi dengan nama lokasi
sumber dan jarak.

Bangunan Pendukug / Pelengkap


a. Bangunan pendukung & pelengkap. Diisi dengan jenis bangunan pendukung/
pelengkap yang ditemui di bangunan pantai, misalnya: pintu air, pompa air, jalan
setapak, shelter.
b. Panjang / Jumlah. Diisi dengan panjangnya bangunan (jalan akses) atau
banyaknya bangunan pada ruas / unit bangunan yang diinventarisasi.

Kotak Sketsa
Sketsa Diisi dengan gambar sketsa yang menunjukkan bentuk bangunan dan profilnya. Pada

6 dari 15
Kotak Penjelasan
Bangunan
bangunan pengisian pasir, gambar profil dibuat pada beberapa potongan dengan
jarak interval 25 meter.
Sketsa dilengkapi dengan keterangan:
ƒ Panjang bangunan dan komponen bangunan.
ƒ Penomoran bangunan (untuk Groin, Pemecah Gelombang, dan Jeti) atau ruas
bangunan (untuk Tembok Laut, Revetmen, Tanggul Laut, dan Pengisian Pasir).
Masing-masing bangunan atau ruas bangunan dilengkapi ukuran.
ƒ Titik 1 dan Titik 2 yang dimaksud pada dokumen.
ƒ Titik BM acuan dan keterangannya. Penggambaran titik BM dilakukan sedemikian
rupa sehingga dapat diketahui posisinya relatif terhadap bangunan atau ruas
bangunan yang ada.
ƒ Titik pengambilan foto dan arah bidikan foto.
ƒ Keterangan lain terkait keistimewaan bangunan atau kerusakan yang
teridentifikasi pada saat inventarisasi.
Foto Foto bangunan merupakan pendukung hasil inventarisasi dan wajib disertakan
sebagai kelengkapan blangko pemantauan. Jumlah foto tidak dibatasi, penyajiannya
selengkap mungkin disesuaikan dengan bentuk bangunan dan jumlah permasalahan
yang ditemui.
Tiap titik pengambilan foto perlu diperhatikan dengan baik agar dapat meliput sisi
bangunan secara jelas karena dari titik yang sama akan dilakukan pengambilan foto
pada kesempatan pemantauan di masa-masa yang akan datang. Foto bangunan
yang diambil menunjukkan bentuk, kelengkapan, material bangunan, dan kerusakan
yang teridentifikasi. Foto disusun dan diberi nomor sesuai nomor pada sketsa dan
menjadi kelengkapan blangko inventarisasi.

7 dari 15
BLANGKO INVENTARISASI BANGUNAN PANTAI - SERI I
TEMBOK LAUT / REVETMEN / GROIN / PEMECAH GELOMBANG / JETI / TANGGUL LAUT*

*) Lingkari yang sesuai **) Beri tanda (9) pada pilihan yang sesuai

Tanggal : Nama Petugas:

I. Lokasi dan Identitas (ID) Bangunan


ID Bangunan
Nomenklatur
Nama Pantai Kode Daerah Nama Ringkas Pantai Kode Bangunan

Desa Koordinat (GPS) Lintang : Bujur :


Derajat Menit Detik Derajat Menit Detik
Kabupaten Titik 1 (awal)
Provinsi Titik 2 (akhir)

II. Obyek yang Dilindungi**


Pulau Terluar
Jalan Raya Nasional / Provinsi / Kabupaten
Kawasan Pemukiman
Kawasan Wisata
Fasilitas Umum / Fasilitas Sosial
Lalu lintas navigasi (muara sungai)
Obyek lain (tuliskan) :

III. Data Teknik Bangunan


III.A. Lampiran Gambar Terbangun (As Built Drawing) atau Gambar Perencanaan**
Peta Orientasi
Denah Bangunan
Potongan Melintang Bangunan
Potongan Memanjang Bangunan

III.B. Informasi Benchmark (BM) Acuan


Identifikasi Benchmark X : (m)
Y : (m)
Z : (m)
Sketsa Situasi Lokasi BM Foto Benchmark

8 dari 15
III.C. Fisik Bangunan

Panjang Bangunan: Meter Jenis Struktur: Rubble (tumpukan) / Timbunan / Kaku *


Elevasi Puncak: meter Material : Armor Batu / Armor Beton / Buis Beton / Pasa-
Lebar Puncak: meter ngan Batu /Beton Bertulang/Tanah / Pasir*

Lebar Dasar di Titik 1: meter Sketsa bentuk armor:


Lebar Dasar di Titik 2: meter
Kemiringan Badan Luar: 1: (V:H)
Kemiringan Badan Dalam: 1: (V:H)
Bangunan Pendukung & Panjang / Jumlah
Pelengkap
1.
2.
3.
4. Ukuran armor: (meter)

III.D. Sketsa Bangunan


Keterangan:
1
Î : No, arah foto
c : Titik 1
d : Titik 2
† : BM Acuan

9 dari 15
IV. Foto

Foto 1. ............................

Foto 2. ............................

Catatan dan komentar: ........................

10 dari 15
Foto 3. ............................

Foto 4. ............................

Catatan dan komentar: ........................

11 dari 15
BLANGKO INVENTARISASI BANGUNAN PANTAI - SERI II
PENGISIAN PASIR

*) Lingkari yang sesuai **) Beri tanda (9) pada pilihan yang sesuai
Tanggal : Nama Petugas:

I. Lokasi dan Identitas (ID) Bangunan


ID Bangunan
Nomenklatur
Nama Pantai Kode Daerah Nama Ringkas Pantai Kode Bangunan

Desa Koordinat (GPS) Lintang : Bujur :


Derajat Menit Detik Derajat Menit Detik
Kabupaten Titik 1 (awal)
Provinsi Titik 2 (akhir)

II. Obyek yang Dilindungi**


Pulau Terluar
Jalan Raya Nasional / Provinsi / Kabupaten
Kawasan Pemukiman
Kawasan Wisata
Fasilitas Umum / Fasilitas Sosial
Lalu lintas navigasi (muara sungai)
Obyek lain (tuliskan) :

III. Data Teknik Bangunan


III.A. Lampiran Gambar Terbangun (As Built Drawing) atau Gambar Perencanaan**
Peta Orientasi
Denah Bangunan
Potongan Melintang Bangunan
Potongan Memanjang Bangunan

III.B. Informasi Benchmark (BM) Acuan


Identifikasi Benchmark X : (m)
Y : (m)
Z : (m)
Sketsa Situasi Lokasi BM Foto Benchmark

12 dari 15
III.C. Fisik Bangunan

Panjang Bangunan: meter Warna pasir:


Elevasi Puncak Bukit Pasir: meter Ukuran Butir rata-rata: mm
Lebar Puncak Bukit: meter Cara pengambilan : pompa / keruk / angkutan darat
Elevasi Berm: meter Sketsa lokasi sumber:
Lebar Berm: meter
Landai pantai di atas berm: 1: (V:H)
Landai pantai di bawah berm: 1: (V:H)
Bangunan Pendukung & Panjang/Jumlah
Pelengkap
1.
2.
3.
4.

III.D. Sketsa Bangunan


Keterangan:
1
Î : No, arah foto
c : Titik 1
d : Titik 2
† : BM Acuan

13 dari 15
IV. Foto

Foto 1. ............................

Foto 2. ............................

Catatan dan komentar: ........................

14 dari 15
Foto 3. ............................

Foto 4. ............................

Catatan dan komentar: ........................

15 dari 15
LAMPIRAN IV SURAT EDARAN MENTERI PEKERJAAN UMUM
NOMOR : / SE / M /2011
TANGGAL :

BLANGKO PEMANTAUAN BANGUNAN PENGAMAN PANTAI


Petunjuk Pengisian Blangko Pemantauan

Kotak Penjelasan
Kotak
Tgl-Nama Diisi dengan tanggal pelaksanaan pemantauan, jam mulai pada unit bangunan
bersangkutan, dan nama petugas yang melakukan pemantauan.
Kotak
Lokasi dan Bagian identifikasi bangunan
Identitas
(ID) a. ID Bangunan. Diisi dengan nomor identifikasi bangunan
Bangunan b. Nama Pantai. Diisi dengan nama pantai tempat bangunan pantai berada. (bisa lebih
dari satu)
c. Desa. Diisi dengan nama desa tempat bangunan pantai berada. (bisa lebih dari satu)
d. Kabupaten. Diisi dengan nama kabupaten bersangkutan. Bila terdapat bangunan
yang lintas kabupaten, maka kedua kabupaten disebutkan. Kabupaten dengan ruas
bangunan terbesar disebutkan lebih dahulu.
e. Provinsi. Diisi dengan nama provinsi.

Bagian nomenklatur bangunan


Cara pengisian sesuai dengan ketentuan dan standar seperti dalam tabel berikut.

No. Informasi Bentuk Standar


1. Provinsi/Kabupaten/Kota Kode Biro Pusat Statistik
2. Nama Pantai Kode Listing PU
3. Kode Bangunan Gr (Groin) Listing PU
Rv (Revetmen)
TL (Tembok Laut)
PG (Pemecah Gelombang
Jt (Jeti)
TaL (Tanggul Laut)
PP (Pengisian Pasir)

Nama pantai disesuaikan dengan nama pantai dari proyek-proyek pembangunan yang
dilakukan oleh DPU.
Kode provinsi dan kabupaten/kota disesuaikan dengan kode wilayah terkini dari Biro
Pusat Statistik (BPS). Kode wilayah dari BPS untuk tahun 2007 terlampir bersama
dokumen ini.

Bagian koordinat global bangunan


a. Derajat, Menit, Detik. Bagian ini diisi dengan mencantumkan bacaan pada alat GPS
(Global Positioning System) untuk angka derajat, menit, dan detik.
b. Titik 1. Merupakan titik awal dari ruas bangunan untuk bangunan pengaman pantai
1 dari 17
Kotak Penjelasan
yang panjang dan menerus (revetmen, tembok laut, pemecah gelombang, Tanggul
Laut, atau Pengisian Pasir). Untuk pengaman pantai dari unit yang berjajar, ini
merupakan titik pangkal bangunan.
c. Titik 2. Merupakan titik akhir dari ruas bangunan untuk bangunan pengaman pantai
yang panjang dan menerus (revetmen, tembok laut, pemecah gelombang, Tanggul
Laut, atau Pengisian Pasir). Untuk pengaman pantai dari unit yang berjajar, ini
merupakan titik ujung bangunan.
Kotak

Data Teknik Kondisi Lingkungan


dan Kondisi Diisi berdasarkan hasil pengamatan terhadap lingkungan dan penaksiran tinggi
Bangunan gelombang.
a. Tinggi gelombang. Isi dengan hasil taksiran rata-rata tinggi gelombang yang terjadi
saat pengamatan.
b. Kondisi pasang surut. Pilihan kondisi pasang surut yang sesuai dengan pilihan
apakah pasang tinggi, sedang atau surut.

Data Teknik Fisik Bangunan


Bagian ini merangkum data fisik bangunan yang dipantau. Sebelum pengukuran dan
pengisian data, perlu diperhatikan komponen fisik bangunan yang didata. Tidak setiap
bangunan memiliki komponen fisik seperti yang disediakan dalam blangko. Untuk
pengisian pasir, perlu diperhatikan bahwa beberapa pantai mungkin tidak memiliki berm.
Oleh karena itu bila komponen fisik tidak ada, coret kotak isian.

Berikut cara pengisian data fisik bangunan untuk Blangko Seri I:


a. Panjang Bangunan. Bagian ini diisi dengan panjang bangunan atau ruas bangunan
yang dipantau. Panjang diukur untuk setiap komponen bangunan.
b. Elevasi puncak. Bagian ini diisi hasil pengukuran elevasi bagian datar pada puncak
bangunan terhadap BM acuan.
c. Lebar puncak. Diisi dengan hasil pengukuran lebar rata-rata dari puncak bangunan.
d. Lebar dasar di Titik 1. Diisi dengan hasil ukur lebar dasar bangunan pada titik awal
atau pangkal bangunan.
e. Lebar dasar di Titik 2. Diisi dengan hasil ukur lebar dasar bangunan pada titik akhir
atau ujung bangunan.
f. Kemiringan Badan (Luar/Dalam). Bagian ini diisi besarnya angka kemiringan badan
secara perbandingan seperti dicontohkan oleh sketsa berikut.

1m 1m 1m

1m 1.5m 2m
Kemiringan (1:1) Kemiringan (1:1.5) Kemiringan (1:2)
Yang dimaksud “luar” (lereng luar) adalah bagian lereng yang menghadap ke laut,
sedangkan “dalam” (lereng dalam) adalah bagian lereng yang menghadap ke darat.

2 dari 17
Kotak Penjelasan

Laut / Sumber Darat / Teduh


Gelombang Gelombang

Badan
Puncak
Badan
Luar Dalam
Fundasi
Fundasi
Luar Dalam
Material Material
Dasar Dasar
Pemecah Gelombang / Groin
/ Jeti / Tanggul Laut

Laut / Sumber Darat / Teduh


Gelombang Gelombang
Puncak
Badan
Luar Material Dasar
Fundasi Dalam
Luar

Material Revetmen
Dasar Luar

Laut / Sumber Darat / Teduh Laut / Sumber Darat / Teduh


Gelombang Gelombang Gelombang Gelombang

Puncak Puncak
Badan
Luar Material Dasar Badan Material Dasar
Dalam Luar Dalam
Fundasi
Luar Fundasi
Luar

Material Dasar Material Dasar


Luar Tembok Laut Luar

Untuk bagian bangunan Groin dan Jeti yang tegak lurus pantai, bagian luar yang
dimaksud adalah bagian yang terpapar gelombang dominan ditandai dengan sisi yang
kerap mengalami kerusakan lebih berat. Sisi ini umumnya ditandai juga dengan
endapan pada bagian pangkalnya sebagaimana ditunjukkan oleh sketsa berikut.

3 dari 17
Kotak Penjelasan

Gelombang
Dominan
Badan Badan
Luar Dalam
Gelombang
Dominan Badan Badan
Sisi Luar Dalam
Endapan

muara

Berikut cara pengisian data fisik bangunan untuk Blangko Seri II:
a. Elevasi Puncak Bukit Pasir. Bagian ini diisi hasil pengukuran elevasi bagian ujung
belakang dari pengisian pasir terhadap BM acuan. Bagian bukit ini dapat dikenali
sebagai ujung belakang dari pasir isian yang merupakan batas pekerjaan, umumnya
dibatasi oleh bangunan lain (jalan setapak, revetmen).
b. Lebar Puncak Bukit. Diisi dengan hasil pengukuran lebar rata-rata dari puncak
bagian pasir yang datar untuk ruas bersangkutan.
c. Elevasi Berm. Bagian ini diisi hasil pengukuran elevasi berm terhadap BM acuan.
d. Lebar Berm. Diisi dengan hasil ukur lebar rata-rata berm (bagian yang datar) untuk
ruas bersangkutan.
e. Landai Pantai Atas. Bagian ini diisi besarnya angka landai untuk potongan pantai
yang di sebelah atas berm. Cara pengisiannya seperti cara pengukuran kemiringan
seperti pada Blangko Seri I, poin (f). (lihat sketsa)
f. Landai Pantai Bawah. Bagian ini diisi besarnya angka landai untuk potongan pantai
yang di sebelah bawah berm. Cara pengisiannya seperti cara pengukuran kemiri-
ngan seperti pada Blangko Seri I, poin (f). (lihat sketsa)
Catatan: apabila pada pantai yang diamati tidak terdapat berm, maka tidak ada data
elevasi berm, lebar berm dan landai pantai di bawah berm. Kotak isian untuk bagian ini
dicoret.

Laut / Sumber Pantai di atas Puncak Darat / Teduh


Berm Gelombang
Gelombang
Bukit
Berm Pasir
Pantai di
bawah Berm

Pengisian Pasir

4 dari 17
Kotak Penjelasan

Kondisi Fisik Bangunan - Blangko Seri I


Untuk memperjelas keterangan dalam penilaian kondisi fisik bangunan, visualisasi
disajikan pada dokumen ”Penilaian Indeks Kondisi”.
a. Gelombang limpas?(di atas bangunan). Isikan jawaban (”ya” atau ”tidak”) dari hasil
pengamatan pada saat pemantauan.
b. Puncak. Penilaian terhadap kondisi bagian puncak bangunan pada bagian yang
ditinjau berdasarkan salah satu kondisi berikut.
Dinilai 1 : Puncak dalam keadaan baik dengan lebar dan elevasi sesuai desain,
sedikit perubahan pada bentuk puncak karena penyesuaian letak armor.
Pada tanggul puncak dalam keadaan kokoh dan rata sesuai elevasi
desain.
Dinilai 2 : Permukaan puncak sedikit bergelombang. Pada struktur rubble terjadi
karena armor bergeser untuk mencapai posisi yang stabil, sementara
pada struktur kaku perubahan puncak karena tanah di bawahnya yang
memadat namun struktur tidak terganggu. Pada tanggul tanah, operasi
atau lalu lintas di puncak dan genangan air membuat permukaan sedikit
terganggu namun secara keseluruhan masih utuh. Limpasan gelombang
hanya terjadi saat badai dengan gelombang tinggi yang melampaui
gelombang rencana.
Dinilai 3 : Bagian puncak mengalami penurunan dan/atau kehilangan material dan
elevasinya tidak dapat dipertahankan. Pada struktur rubble bagian inti
tersingkap dan berpotensi pada kerusakan lanjutan. Bangunan selalu
mengalami limpasan pada kondisi gelombang sehari-hari. Pada struktur
kaku bagian puncak hilang karena terhempas ombak dan kehilangan
tanah di belakangnya, sementara pada bangunan tanggul dari timbunan
tanah terjadi settlement tanah dasar yang berlebihan pada ruas tertentu
yang daya dukungnya lemah.
Dinilai 4 : Puncak bangunan tidak dapat dipertahankan sama sekali dan
kehilangan bentuk.

c. Badan (Luar/Dalam). Penilaian terhadap kondisi badan, bentuk, kerusakan yang


terjadi atau perubahan susunan material berdasarkan salah satu kondisi berikut.
Dinilai 1 : Badan bangunan dalam keadaan baik dan sudut lereng sesuai dengan
desain. Pada struktur rubble dapat terjadi sedikit pergeseran
menyebabkan perubahan kontak antar permukaan sebagian armor,
namun armor masih pada tempatnya masing-masing. Pada tanggul
tanah badan dalam keadaan baik dan lapis lindung masih sempurna.
Dinilai 2 : Sudut lereng badan mengalami perubahan. Pada struktur tumpukan
(rubble), kerusakan lereng terjadi karena tercabutnya sebagian armor
dari tempatnya dan berpindah ke kaki bangunan. Pada struktur kaku
terjadi kehilangan material di bagian belakang atau di dasarnya sehingga
kedudukan struktur berubah. Pada tanggul tanah, sebagian lapis lindung
mulai hilang namun kerusakan belum terjadi.
Dinilai 3 : Lereng badan berubah dan menjadi tidak teratur karena gangguan dari
luar dan kerusakan lanjutan pada bagian fundasi atau susunan material
bangunan. Pada struktur rubble stabilitas armor pada bagian yang
tersisa menjadi terganggu karena sudut lereng semakin curam dan
berpotensi runtuh. Pada struktur kaku, terjadi kehilangan daya ikat
5 dari 17
Kotak Penjelasan
dan/atau retak akibat kehilangan tanah di belakangnya membuat struktur
labil dan retak. Tanggul tanah terganggu karena adanya lubang-lubang
atau rekahan pada badan tanggul. Air tampak merembes melalui badan
tanggul berpotensi meruntuhkan tanggul.
Dinilai 4 : Badan bangunan berubah sama sekali dan kekuatan bangunan hilang
sehingga puncak bangunan tidak dapat dipertahankan dan bangunan
tidak berfungsi. Pada struktur rubble, armor penyusun tercerai berai
sedang struktur kaku mengalami patah dan hancur. Tanggul dari
timbunan tanah mengalami kelongsoran dan jebol saat air pasang.

d. Fundasi (Luar/Dalam). Penilaian terhadap kondisi fundasi, bentuk dan susunan


material yang dinilai berdasarkan salah satu kondisi berikut. Pengamatan fundasi
hanya dapat dilakukan pada saat air surut.
Dinilai 1 : Fundasi bangunan masih dalam keadaan baik sesuai desain. Pada
struktur rubble armor bagian fundasi berada pada posisinya dan memiliki
kontak yang baik dengan armor lain. Pada struktur kaku, pondasi masih
tertanam cuku pdalam di bawah permukaan tanah/pasir dan bangunan
berdiri kokoh, sementara fundasi tanggul tanah yang berada di bawah
permukaan masih kokoh dan padat.
Dinilai 2 : Fundasi bangunan masih berfungsi dengan baik namun tekanan dari
defleksi gelombang mencapai bagian dasar fundasi. Pada struktur
rubble, tekanan gelombang tersalur melalui sela-sela armor dan
mengangkat material dasar yang mengganggu kontak armor sehingga
susunannya merenggang. Pada struktur kaku, defleksi yang lebih kuat
akibat pantulan gelombang menghalau armor pelindung tumit yang
bergeser menjauh. Pada tanggul tanah armor pada tumit menyebar dan
efektifitas pemecahan energi mulai berkurang.
Dinilai 3 : Terjadi gerusan pada tanah di bawah fundasi mengakibatkan
terbentuknya lubang-lubang yang lebih dalam. Pada struktur rubble,
semakin banyak material dasar yang masuk ke dalam struktur yang
mengganggu stabilitas. Pada struktur kaku, kaki bangunan sudah
ditinggalkan oleh pelindung dan material dasar terbongkar oleh defleksi
gelombang, sebagian fundasi mulai menggantung. Pada tanggul tanah
terjadi perlemahan pada bagian fundasi bila lapis lindung terlepas, air
merembes melalui fundasi tanggul memberi peluang pada rekahan dan
kelongsoran badan tanggul.
Dinilai 4 : Sebagian besar material pada fundasi hilang atau terbenam. Pada
struktur rubble, material fundasi tampak terbenam, sementara pada
struktur kaku sisa bangunan tampak menggantung atau kolaps sama
sekali di beberapa ruas. Tanggul dari timbunan tanah kehilangan
kekuatan pada fundasinya dan berakibat badan tanggul runtuh.

Kondisi Material - Blangko Seri I


Kondisi material dinilai berdasarkan pengamatan terhadap kondisi potongan (cutting),
ukuran dan kemungkinan pecah atau terbelahnya material serta keausan yang terjadi
pada permukaan. Material tanah tidak dinilai dalam bagian ini karena relatif tidak
mengalami perubahan kualitas.

6 dari 17
Kotak Penjelasan

a. Armor. Penilaian terhadap kondisi armor pada struktur tumpukan armor (rubble)
Dinilai 1 : Armor dalam keadaan baik atau mengalami sedikit pembulatan pada
ujung-ujungnya yang runcing atau tajam.
Dinilai 2 : Armor mengalami pecah di ujung-ujung yang meninggalkan serpih kecil,
namun secara umum ukurannya masih masih mendekati ukuran desain.
Dinilai 3 : Sebagian armor mengalami retak yang terlihat langsung dan berpotensi
untuk pecah menjadi ukuran yang lebih kecil namun bangunan masih
berfungsi.
Dinilai 4 : Sebagian armor terbelah dan hancur sehingga tidak dapat berfungsi
untuk melindungi dan bangunan tidak berfungsi.

b. Beton/pasangan batu. Penilaian terhadap kondisi beton pada struktuir beton atau
tembok pasangan batu (kaku)
Dinilai 1 : Beton/pasangan batu dalam keadaan baik atau mengalami sedikit retak
rambut dan retak non struktural akibat proses pengeringan.
Dinilai 2 : Sebagian permukaan beton/pasangan batu tergerus dan sambungan
antar segmen mengalami kebocoran kecil atau bangunan melengkung
namun masih utuh. Selimut beton atau plesteran dan nat pada beberapa
tempat terlepas, tulangan pada beton mungkin tersingkap namun
kerusakan tidak berlanjut.
Dinilai 3 : Bangunan mengalami retak struktural dan patah. Bagian tulangan yang
tersingkap sudah mengalami perkaratan lanjut dan mengembang.
Dinilai 4 : Perkaratan pada tulangan beton sudah menjalar ke dalam struktur dan
beton mengalami pelapukan serta kehilangan kekuatan. Pasangan batu
tercerai berai dan agregat sudah tidak terikat lagi.

Kondisi Fisik Bangunan Pengisian Pasir - Blangko Seri II


Penilaian kondisi disesuaikan dengan kelengkapan fisik pantai. Bila tidak terdapat berm,
kotak isian kondisi berm dan pantai di bawah berm dicoret.
a. Gelombang limpas?(di atas berm). Isikan jawaban (”ya” atau ”tidak”) dari hasil
pengamatan pada saat pemantauan.
b. Bukit Pasir. Penilaian terhadap kondisi bukit pasir yang menjadi bagian dari
pengisian pasir. Bila bukit pasir tidak ada dalam rancangan, bagian ini
dikosongkan.
Dinilai 1 : Bukit pasir dalam keadaan utuh dan memiliki lereng yang normal di kiri
kanannnya. Puncak bukit pasir masih cukup lebar dan vegetasi (rumput-
rumputan) yang tumbuh diatasnya berkembang dengan baik, sebagian
tertutup oleh pasir yang terperangkap di lereng bukit.
Dinilai 2 : Bukit pasir mengalami penggerusan minimal. Puncak bukit masih cukup
lebar, namun lereng bukit mulai terjal namun masih dalam batas normal.
Vegetasi yang menutupi bukit tampak mulai kehilangan pegangan.
Dinilai 3 : Lereng bukit sebelah laut mengalami gerusan yang serius. Bagian lereng
menjadi terjal dan berpotensi runtuh yang berkelanjutan. Vegetasi yang
menutup bukit hilang bersama material lereng yang terbawa gelombang.
7 dari 17
Kotak Penjelasan

Dinilai 4 : Sebagian besar badan bukit hilang dan tidak lagi memberi perlindungan
bagi struktur di belakangnya. Gelombang besar yang melimpas akan
langsung mencapai struktur di belakang bukit.

c. Berm. Penilaian terhadap kondisi berm, bentuk, kerusakan yang terjadi atau
perubahan ukuran.
Dinilai 1 : Berm dalam keadaan baik, berada sedikit di atas muka air pasang yang
menjadi batas hempasan air dari ombak yang mencapai tepi pantai
(runup).
Dinilai 2 : Berm tampak lebar namun elevasinya berada segaris dengan air pasang
yang menunjukkan bahwa berm mengalami gerusan dan penurunan
elevasi.
Dinilai 3 : Berm menjadi sangat lebar, namun pada saat pasang tidak terlihat lagi.
Ombak yang pecah di pantai tidak mendapat halangan dan dengan
mudah hempasan airnya mencapai bagian belakang pantai.
Dinilai 4 : Bentuk berm hilang sama sekali. Pantai menjadi landai namun air
pasang masuk jauh ke belakang pantai dan garisnya berada dekat
struktur di pantai. Pada saat gelombang besar, hempasannya merusak
bukit pasir (bil ada) atau struktur yang terdekat dengan pantai.

d. Pantai di Atas Berm. Penilaian terhadap kondisi pantai di atas berm, elevasi dan
kelandaiannya. Tidak semua pantai memiliki bagian ini, apabila
ditemukan kondisi demikian, penilaian kondisinya dikosongkan.
Dinilai 1 : Pantai di atas berm memiliki kemiringan dengan landai yang normal. Bila
terdapat bukit pasir di belakangnya pantai merupakan bagian lereng
bukit.
Dinilai 2 : Pantai di atas berm bagian belakang mulai menjadi terjal. Saat puncak
air pasang, limpasan air akibat gelombang berukuran sedang akan
merendam bagian ini.
Dinilai 3 : Pantai di atas berm sulit dibedakan dengan berm karena kehilangan
sebagian besar materialnya dan kehilangan elevasinya. Pada saat
puncak air pasang selalu terendam oleh air. Sementara bagian ujung
atas semakin terjal karena bukit runtuh.
Dinilai 4 : Pantai dan berm tidak dapat dibedakan lagi. Garis pantai sudah mundur
dan yang sebelumnya merupakan pantai di atas berm selalu terendam
pada saat air pasang.

e. Pantai di Bawah Berm. Penilaian terhadap kondisi pantai di bawah berm,


kelandaian, elevasi dan bentuknya.
Dinilai 1 : Pantai di bawah berm memiliki landai yang normal yang memberikan
keseimbangan antara pasir yang dihempaskan ombak dan yang kembali
ke laut. Pantai kelandaian relatif seragam hingga ke dalam perairan.
Dinilai 2 : Pada saat surut, pangkal pantai di bawah berm tampak lebih maju ke
arah laut bila dibandingkan dengan benda tetap di sektiarnya, namun
tetap dengan kelandaian yang normal.
Dinilai 3 : Pantai di bawah berm tampak semakin landai dan saat surut tampak
8 dari 17
Kotak Penjelasan
gundukan pasir yang mengendap.
Dinilai 4 : Pantai di bawah berm sudah menyatu dengan berm dan tumpukan pasir
semakin melebar hingga di bawah elevasi air surut.

Kotak
Diisi dengan gambar sketsa yang menunjukkan bentuk bangunan dan profilnya. Pada
Sketsa bangunan pengisian pasir, gambar profil dibuat pada beberapa potongan dengan jarak
Bangunan interval 25 meter.
Sketsa dilengkapi dengan keterangan:
ƒ Panjang bangunan dan komponen bangunan.
ƒ Penomoran bangunan (untuk Groin, Pemecah Gelombang, dan Jeti) atau ruas
bangunan (untuk Tembok Laut, Revetmen, Tanggul Laut, dan Pengisian Pasir).
Masing-masing bangunan atau ruas bangunan dilengkapi ukuran.
ƒ Titik 1 dan Titik 2 yang dimaksud pada dokumen.
ƒ Titik BM acuan dan keterangannya. Penggambaran titik BM dilakukan sedemikian
rupa sehingga dapat diketahui posisinya relatif terhadap bangunan atau ruas
bangunan yang ada.
ƒ Titik pengambilan foto dan arah bidikan foto.
ƒ Keterangan lain terkait keistimewaan bangunan atau kerusakan yang teridentifikasi
pada saat inventarisasi.
ƒ Khusus bangunan pasir, sketsa profil dibuat di atas sketsa bangunan hasil
inventarisasi atau hasil pemeliharaan terakhir. Volume pasir yang diperlukan untuk
pemeliharaan dapat ditentukan dari selisih profil.

Foto Foto-foto hasil pemantauan wajib disertakan sebagai kelengkapan blangko pemantauan.
Jumlah foto tidak dibatasi, penyajiannya selengkap mungkin disesuaikan dengan bentuk
bangunan dan jumlah permasalahan yang ditemui. Hal yang perlu diperhatikan adalah
bahwa foto untuk bagian tertentu yang berulang sejak inventarisasi atau dari
pemantauan pertama, kedua, dan seterusnya harus diambil dari titik yang sama dengan
sudut pengambilan yang sama. Tujuannya agar perubahan yang terjadi pada bagian
tersebut dapat teramati dengan baik dari waktu ke waktu. Untuk itu petugas harus
mempelajari dokumen inventarisasi dan pemantauan sebelumnya.
Kondisi Bangunan
Bagian ini berisi foto-foto bangunan dan kondisinya. Secara umum informasi foto
mencakup kondisi puncak bangunan, badan, dan fundasi. Foto kerusakan pada bagian-
bagian bangunan juga dimasukkan dalam bagian ini.
Fungsi Bangunan
Bagian ini berisi foto-foto yang menunjukkan fungsi bangunan dalam mengamankan
pantai dan obyek lainnya yang diamankan. Foto yang diambil harus menampilkan
gambaran bangunan pengaman pantai dan obyek secara langsung. Foto-foto yang
menunjukkan detail dapat di tambahkan untuk memperkuat uraian yang menyertai foto
fungsi bangunan ini.
Jumlah foto tidak terbatas pada blangko dan dapat dimuat sebanyak mungkin sesuai
kebutuhan untuk menjelaskan dengan baik kondisi bangunan dan fungsinya di lapangan.
Untuk itu lembar blangko untuk foto dapat diperbanyak agar dapat menampung jumlah
foto yang diperlukan.

9 dari 17
BLANGKO PEMANTAUAN BANGUNAN PANTAI - SERI I
1| REVETMEN 2| TEMBOK LAUT 3| PEMECAH GELOMBANG 4| GROIN 5| JETI 6| TGL LAUT (KAKU) 7| TGL LAUT (TANAH)
Isi Nomor Jenis Bangunan: 1
*) Lingkari yang sesuai isi kotak sesuai keterangan

Tanggal, Jam : , Nama Petugas:

I. Lokasi dan Identitas (ID) Bangunan


ID Bangunan
Nomenklatur
Nama Pantai Kode Daerah Nama Ringkas Pantai Kode Bangunan
Lintang : Bujur :
Desa Koordinat (GPS)
Derajat Menit Detik Derajat Menit Detik
Kabupaten Titik 1
Provinsi Titik 2

II. Data Teknik dan Kondisi Bangunan


Tinggi Gelombang : meter Kondisi pasang surut*: Tinggi / Sedang / Surut
BM Acuan : Kondisi Fisik Bangunan (beri nilai 1-4)
Panjang Bangunan : meter Puncak Gelombang limpas? Ya Tdk
Elevasi Puncak : meter Badan Luar Badan Dalam
Lebar Puncak : meter Fundasi Luar Fundasi Dalam
Lebar Dasar di Titik 1 : meter Mat. dsr. Luar Mat. Dsr. Dalam
Lebar Dasar di Titik 2 : meter Kondisi Material Struktur (beri nilai 1-4)
Kemiringan Badan Luar : 1: (V:H)
Armor Beton/Pas. Batu
Kemiringan Badan Dalam : 1: (V:H)

III. Sketsa Bangunan


Keterangan:
1
Î : No, arah foto
c : Titik 1
d : Titik 2
† : BM Acuan

10 dari 17
IV. FOTO
KONDISI BANGUNAN

Foto 1 ……………………………..

Foto 2 ……………………………..

Catatan dan Komentar.

11 dari 17
KONDISI BANGUNAN

Catatan dan Komentar.

KONDISI BANGUNAN

Foto 3 ……………………………..

Foto 4 ……………………………..

Catatan dan Komentar.

12 dari 17
FUNGSI BANGUNAN

Catatan dan Komentar.

FUNGSI BANGUNAN

Foto 5 ……………………………..

Foto 6 ……………………………..

Uraian kondisi pantai & obyek yang dilindungi :

13 dari 17
BLANGKO PEMANTAUAN BANGUNAN PANTAI - SERI II
PENGISIAN PASIR

*) Lingkari yang sesuai isi kotak sesuai keterangan

Tanggal, Jam : , Nama Petugas:

I. Lokasi dan Identitas (ID) Bangunan


ID Bangunan
Nomenklatur
Nama Pantai Kode Daerah Nama Ringkas Pantai Kode Bangunan
Lintang : Bujur :
Desa Koordinat (GPS)
Derajat Menit Detik Derajat Menit Detik
Kabupaten Titik 1
Provinsi Titik 2

II. Data Teknik dan Kondisi Bangunan


Tinggi Gelombang : meter Kondisi pasang surut*: Tinggi / Sedang / Surut
BM Acuan : Gelombang limpas di atas Berm? Ya Tdk
Panjang Bangunan : meter Kondisi Fisik Bangunan (beri nilai 1-4)
Elevasi Puncak Bukit : meter Bukit Pasir
Lebar Puncak Bukit : meter Berm
Elevasi Berm : meter Pantai di Atas Berm
Lebar Berm : meter Pantai di Bawah Berm
Landai pantai bawah : 1: (V:H)
Landai pantai atas : 1: (V:H)

III. Sketsa Bangunan


Keterangan:
1
Î : No, arah foto
c : Titik 1
d : Titik 2
† : BM Acuan

14 dari 17
Blangko Monitoring 2010 05 07

Foto 1 ……………………………..

Foto 2 ……………………………..

Catatan dan Komentar:

15 dari 17
Foto 3 ……………………………..

Foto 4 ……………………………..

Catatan dan Komentar:

16 dari 17
Foto 5 ……………………………..

Catatan dan Komentar:

17 dari 17
LAMPIRAN V SURAT EDARAN MENTERI PEKERJAAN UMUM
NOMOR : / SE / M /2011
TANGGAL :

BLANGKO EVALUASI BANGUNAN PENGAMAN PANTAI


Petunjuk Pengisian Blangko Evaluasi

Kotak Penjelasan
Kotak
Identifikasi Angka-angka dalam kotak ini diisi sesuai dengan isian pada blangko pemantauan dari
bangunan yang akan dievaluasi.
Kotak

Kondisi Kotak ini diisi sesuai dengan nilai yang tertera pada blangko pemantauan. Bagian ini
Fisik merupakan proses perhitungan nilai indeks kondisi bangunan secara keseluruhan
dengan memperhitungkan kondisi fisik dan kondisi fungsi bangunan untuk keperluan
evaluasi bangunan secara keseluruhan dalam menentukan keputusan tindak
pemeliharaan.
Berikut proses yang terjadi dari baris paling atas ke bawah:
ƒ Kotak-kotak pada kolom komponen bangunan yang menunjukkan kondisi Puncak,
Badan, Fundasi dan Material Bangunan sesuai dengan hasil penilaian pada Kotak
Data Teknik dan Kondisi Bangunan sebelumnya akan terisi sesuai isian pada blangko
pemantauan.
ƒ Khusus bagian badan dan fundasi, akan dihitung nilai rata-rata dari kodisi bagian luar
dan bagian dalam sedemikian hingga hanya satu angka yang mewakili. Bila badan
atau fundasi hanya ada satu sisi, maka nilainya langsung digunakan sebagai nilai
rata-rata.
ƒ Untuk kondisi material, bila bangunan dibangun dari kombinasi armor dan
beton/tembok maka nilai rata-rata dari kondisi kedua material digunakan untuk
mewakili. Bila digunakan hanya salah satu jenis, maka nilai kondisi material yang ada
langsung mewakili nilai rata-ratanya.
ƒ Selanjutnya nilai komponen dihitung berdasarkan perkalian indeks komponen fisik
terhadap bobotnya. Bobot komponen berbeda untuk tiap jenis bangunan. Gunakan
bobot yang sesuai pada tabel Bobot Komponen Fisik yang dilampirkan di akhir
blangko. Total bobot komponen fisik = 100. Kombinasi bobot komponen ditunjukkan
oleh tabel di bagian bawah blangko, keterangan tabel di akhir dokumen ini.
ƒ Indeks Kondisi Bangunan secara keseluruhan dihitung dengan membagi jumlah nilai
komponen fisik dengan total bobot keseluruhan.
Rentang nilai Indeks Kondisi Bangunan dan Kondisi Bangunan yang akan muncul adalah
sebagai berikut

Nilai Indeks Kondisi

0,0 <nilai ≤ 1,5 Baik


1,5 < nilai ≤ 2,5 Cukup Baik
2,5 < nilai ≤ 3,5 Perlu Perbaikan
> 3,5 Rusak Berat
Kotak

Kinerja Kinerja fungsi bangunan ditentukan oleh evaluator setelah mempelajari informasi berupa
Fungsi catatan, sketsa, dan foto kondisi lingkungan pantai dan obyek-obyek yang dilindungi.
1 dari 5
Kotak Penjelasan
Bangunan Tidak ada perhitungan dalam penentuan penentuan kinerja fungsi, dan hasil kinerja
ditulis berupa ”Baik”, atau ”Tidak Baik”.
Hasil penilaian Kinerja Fungsi dituliskan pada kotak yang disediakan.
Kotak

Kesim Kesimpulan diisikan setelah dilakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kondisi fisik
pulan maupun fungsi bangunan. Apabila kinerja fungsi bangunan buruk saat bangunan masih
dalam keadaan baik atau cukup baik, keputusan mengarah pada tinjauan ulang
bangunan pengaman pantai. Bila kinerja fungsi bangunan buruk karena bangunan sudah
rusak, perlu dicari informasi mengenai kinerja fungsi bangunan ini pada masa
sebelumnya. Keputusan didasarkan pada kinerja fungsi yang sesungguhnya.
Apabila kinerja fungsi baik, maka keputusan dapat langsung didasarkan pada kondisi
bangunan. Perhatikan hasil-hasil pemantauan dan evaluasi sebelumnya dari Tabel
Rekaman Data Bangunan Pantai. Apabila kinerja fungsi baik dan kecenderungan
kondisi bangunan terus menurun dan sudah perlu pemeliharaan, maka keputusan
mengarah pada pemeliharaan.

Isi bagian ini dengan keputusan yang diambil pada evaluasi dengan mengisi hasilnya
pada kotak saran tindakan yang disediakan.

Kinerja Fisik Bangunan Pengaman Pantai


Fungsi Saran Tindakan
Bangunan Nilai Indeks Kondisi
0,0 <nilai ≤ 1,5 Baik Pemantauan
1,5 < nilai ≤ 2,5 Cukup Baik Pemantauan
Baik
2,5 < nilai ≤ 3,5 Perlu Perbaikan Pemeliharaan
> 3,5 Rusak Berat Rehabilitasi
0,0 <nilai ≤ 1,5 Baik
1,5 < nilai ≤ 2,5 Cukup Baik
Tidak Baik Kaji Ulang
2,5 < nilai ≤ 3,5 Perlu Perbaikan
> 3,5 Rusak Berat

Bobot Bobot Komponen Fisik menurut Jenis Bangunan


Komponen Komponen Fisik
Fisik Jenis Bangunan A B C D
(Puncak) (Badan) (Fundasi) (Material)
Revetmen 30 20 10 40
Tembok Laut 20 10 30 40
Pemecah Gelombang 20 20 20 40
Groin 10 10 40 40
Jeti 10 10 40 40
Tanggul Laut (struktur kaku) 20 10 30 40
Tanggul Laut (timbunan tanah) 10 60 30 0

Bobot Material Bangunan (40) untuk kebanyakan bangunan karena kondisi material
sangat menentukan stabilitas struktur dan kerusakan material berarti perubahan bentuk
bangunan yang mengakibatkan penurunan stabilitas dan kinerja bangunan, kecuali bila
tanggul dibangun dari tanah.
2 dari 5
Kotak Penjelasan

Bobot Puncak, Badan, Fundasi per Jenis Bangunan


Revetmen (30, 20, 10) - bobot utama pada puncak karena struktur tidak
diperkenankan mengalami overtopping yang berpengaruh pada stabilitas
keseluruhan bangunan(30). Fundasi bangunan tidak terlalu berpengaruh karena
struktur rubble (lentur) dan menyesuaikan dengan perubahan (10).
Tembok laut (20, 10, 30) - struktur rigid dengan cara kerja memecah energi
gelombang dengan membelokkan energi gelombang ke atas dan ke bawah.
Kecenderungan utama mengalami penggerusan pondasi akibat cara kerjanya
karena energi gelombang dipecah sejajar dengan sumbu bangunan (30),
sementara overtopping pada puncak tidak terlalu berpengaruh pada bangunan
karena struktur rigid dan masif (20). Jarang ditemui tembok laut mengalami
keruntuhan karena gerusan pada badan (10).
Pemecah Geombang (20, 20, 20) - struktur selalu terendam di dalam air dan
umumnya berupa bangunan non rigid. Posisi elevasi puncak (20) diperlukan
untuk memecah gelombang secara efektif, namun karena terletak ditengah,
maka kondisi badan sering mengalami gangguan akibat hantaman gelombang,
oleh karenanya memiliki bobot yang sama penting (20). Gangguan terhadap
fundasi potensial karena gelombang pecah sejajar dengan sumbu bangunan,
dan hal ini menentukan stabilitas keseluruhan bangunan (20).
Groin (10, 10, 40) – Groin secara umum terletak di tepi pantai berfungsi sebagai
penahan laju sedimen. Perubahan elevasi puncak tidak signifikan terhadap
kemamuan menahan sedimen (10). Perubahan pada sudut lereng badan
bangunan kecil pengaruhnya terhadap fungsi (10) bangunan, namun kegagalan
fondasi mengakibatkan bangunan mengalami penurunan yang signifikan dan
menjadi rata dengan pantai dan kehilangan fungsinya (40).
Jeti (10, 10, 40) – Jeti berada di tepi pantai hingga ke dalam perairan berfungsi
sebagai penjaga alur. Perubahan elevasi puncak tidak signifikan terhadap
kemamuan menahan sedimen (10). Perubahan pada sudut lereng badan
bangunan kecil pengaruhnya terhadap fungsi (10) bangunan, namun kegagalan
fondasi mengakibatkan bangunan mengalami penurunan yang signifikan dan
menjadi rata dengan pantai dan kehilangan fungsinya (40).
Tanggul laut – struktur kaku (20, 10, 30) - struktur rigid dengan cara memblokade
aliran air dengan membuat dinding yang kedap. Kecenderungan utama
mengalami aliran di bawah pondasi akibat tekanan yang tinggi dan pondasi
yang datar dan rata (30), sementara puncak tidak terlalu berpengaruh pada
bangunan karena struktur rigid dan masif (20). Dengan konstruksi beton yang
impermeable kecil kemungkinan air merembes melalui badan (10).

Untuk pengisian pasir indikator penilaian sedikit berbeda, yaitu kondisi bukit pasir,
berm, pantai di atas berm dan pantai di bawah berm (50, 20, 20, 10) –
kerusakan bukit pasir merupakan indikasi kuat akan rusaknya kondisi pengisian
pasir, karenanya kondisi bukit pasir sangat menentukan keberadaan (50), berm
tidak selalu hadir pada setiap pantai tergantung pada karakter pantai oleh
karenanya pengaruhnya tidak begitu besar namun sebagai bagian yang
memberi indikasi jelas adanya perubahan profil yang berlanjut (20), keberadaan
pantai di atas berm (20) memberikan banyak indikasi yang signifikan, kecuali
pantai di bawah berm (10) yang secara dinamis akan berubah-ubah sesuai
keseimbangan pantai setempat.

3 dari 5
BLANGKO EVALUASI BANGUNAN PANTAI - SERI I
1| REVETMEN 2| TEMBOK LAUT 3| PEMECAH GELOMBANG 4| GROIN 5| JETI 6| TGL LAUT (KAKU) 7| TGL LAUT (TANAH)
Isi Nomor Jenis Bangunan: 1 isi kotak sesuai hasil

ID Bangunan Kabupaten Provinsi Tanggal Pantauan Petugas Pantau

KONDISI FISIK

Kondisi Fisik Bangunan Revetmen


Badan Fundasi Material
Puncak Beton/
Luar Dalam Luar Dalam Armor
Tembok
Indeks
0 0 0 0 0 0
Komponen Fisik
(isi sesuai penilaian 0
0 0 0
Kondisi Fisik
(Nilai Rata-rata) (Nilai Rata-rata) (Nilai Rata-rata)
Bobot A B C D
Komponen Fisik
30 20 10 40
**

Nilai Komponen 0 0 0 0
Nilai Komponen = Indeks komponen fisik x bobot komponen fisik

Indeks Kondisi 0
Bangunan Baik
Nilai Komponen = Σ (nilai komponen) / Σ (bobot komponen)

KINERJA FUNGSI
Berdasarkan pengamatan terhadap catatan, sketsa, dan foto-foto terkait kondisi pantai di sekitar
bangunan dan obyek-obyek yang dilindungi, maka disimpulkan bahwa hasil evaluasi bangunan
menunjukkan kinerja fungsi bangunan (Baik/Tidak Baik):
Kinerja Fungsi
Bangunan

KESIMPULAN
Bangunan Revetmen ID 0

Saran Tindakan:

** Bobot Komponen Fisik (menurut jenis bangunan)

Komponen Fisik
Jenis Bangunan A B C D
(Puncak) (Badan) (Fundasi) (Material)
Revetmen 30 20 10 40
Tembok Laut 20 10 30 40
Pemecah Gelombang 20 20 20 40
Groin 10 10 40 40
Jeti 10 10 40 40
Tanggul Laut (struktur kaku) 20 10 30 40
Tanggul Laut (timbunan tanah) 10 60 30 0

4 dari 5
BLANGKO EVALUASI BANGUNAN PANTAI - SERI II
Evaluasi Hasil Pemantauan Isian Pasir
ID Bangunan Kabupaten Provinsi Tanggal Pantauan Petugas Pantau

KONDISI FISIK isi kotak sesuai evaluasi

Kondisi Fisik Bangunan Pengisian Pasir

Pantai di Bawah
Bukit Berm Pantai di Atas Berm
Berm

Indeks
Komponen Fisik
(isi sesuai penilaian
Kondisi Fisik 0 0 0 0
Bangunan

Bobot A B C D
Komponen Fisik 50 20 20 10
**

Nilai Komponen 0 0 0 0

Nilai Komponen = Indeks komponen fisik x bobot komponen fisik

Indeks Fisik & 0.00


Fungsi Baik
Nilai Komponen = Σ (nilai komponen) / Σ (bobot komponen)

KINERJA FUNGSI
Berdasarkan pengamatan terhadap catatan, sketsa, dan foto-foto terkait kondisi pantai di sekitar
bangunan dan obyek-obyek yang dilindungi, maka disimpulkan bahwa hasil evaluasi bangunan
menunjukkan kinerja fungsi bangunan (Baik/Tidak Baik):

Kinerja Fungsi
Bangunan

KESIMPULAN
Bangunan 0 ID 0 - 0 - 0
Pantauan tgl. ###

Saran Tindakan:

5 dari 5
LAMPIRAN VI SURAT EDARAN MENTERI PEKERJAAN UMUM
NOMOR : / SE / M /2011
TANGGAL :

Petunjuk Pengisian Tabel Rekaman Data


Operasi dan Pemeliharaan Bangunan Pengaman Pantai

Kotak Penjelasan
Kotak
Lokasi dan Isi kotak sesuai data pada Blangko Pemantauan dan Evaluasi
Identitas
(ID) Bagian identifikasi bangunan
Bangunan a. ID Bangunan. Diisi dengan nomor identifikasi bangunan
b. Nama Pantai. Diisi dengan nama pantai tempat bangunan pantai berada. (bisa lebih
dari satu)
c. Desa. Diisi dengan nama desa tempat bangunan pantai berada. (bisa lebih dari satu)
d. Kabupaten. Diisi dengan nama kabupaten bersangkutan. Bila terdapat bangunan
yang lintas kabupaten, maka kedua kabupaten disebutkan. Kabupaten dengan ruas
bangunan terbesar disebutkan lebih dahulu.
e. Provinsi. Diisi dengan nama provinsi.
f. Nomenklatur bangunan sesuaikan nomenklatur bangunan dalam tabel
pemantauan.
g. Bagian koordinat global bangunan
ƒ Derajat, Menit, Detik. Bagian ini diisi dengan mencantumkan bacaan pada alat
GPS (Global Positioning System) untuk angka derajat, menit, dan detik.
ƒ Titik 1. Merupakan titik awal dari ruas bangunan untuk bangunan pengaman
pantai yang panjang dan menerus (revetmen, tembok laut, pemecah gelombang,
Tanggul Laut, atau Pengisian Pasir). Untuk pengaman pantai dari unit yang
berjajar, ini merupakan titik pangkal bangunan.
ƒ Titik 2. Merupakan titik akhir dari ruas bangunan untuk bangunan pengaman
pantai yang panjang dan menerus (revetmen, tembok laut, pemecah gelombang,
Tanggul Laut, atau Pengisian Pasir). Untuk pengaman pantai dari unit yang
berjajar, ini merupakan titik ujung bangunan.
a. BM Acuan: sesuaikan dengan BM acuan dalam inventarisasi & pemantauan
Kotak

Rekaman Tahun
Data Isi dengan angka tahun rekaman.

Bulan Pantauan 1|2


Isi dengan nama bulan pengukuran (disingkat dalam 3 huruf), kotak sebelah kiri untuk
pengukuran semester pertama, kotak sebelah kanan untuk pengukuran semester kedua.

Data Kondisi Lingkungan


a. Tinggi gelombang. Isi dengan hasil taksiran rata-rata tinggi gelombang yang terjadi
saat pengamatan.
b. Kondisi pasang surut. Pilihan kondisi pasang surut yang sesuai dengan pilihan
apakah pasang tinggi, sedang atau surut.
c. Gelombang limpas. Isi dengan Y (Ya) atau T (Tidak) sesuai tabel pemantauan.
1 dari 5
Kotak Penjelasan

Berikut pengisian data dan kondisi fisik bangunan untuk Rekaman Seri I:
Data Teknik Fisik Bangunan
a. Panjang Bangunan. Bagian ini diisi dengan panjang bangunan atau ruas bangunan
yang dipantau. Panjang diukur untuk setiap komponen bangunan.
b. Elevasi puncak. Bagian ini diisi hasil pengukuran elevasi bagian datar pada puncak
bangunan terhadap BM acuan.
c. Lebar puncak. Diisi dengan hasil pengukuran lebar rata-rata dari puncak bangunan.
d. Lebar dasar di Titik 1. Diisi dengan hasil ukur lebar dasar bangunan pada titik awal
atau pangkal bangunan.
e. Lebar dasar di Titik 2. Diisi dengan hasil ukur lebar dasar bangunan pada titik akhir
atau ujung bangunan.
f. Kemiringan Badan (Luar/Dalam). Bagian ini diisi besarnya angka kemiringan badan
secara perbandingan seperti dicontohkan oleh sketsa berikut.

Kondisi Fisik
a. Puncak. Hasil penilaian terhadap kondisi bagian puncak bangunan.
b. Badan (Luar/Dalam). Hasil penilaian terhadap kondisi badan.
c. Fundasi (Luar/Dalam). Hasil penilaian terhadap kondisi fundasi.
d. Kondisi Material. Hasil penilaian kondisi material
e. Armor. Hasil penilaian terhadap kondisi armor pada struktur tumpukan armor
(rubble). Coret kotak bila data tidak ada.
f. Beton/pasangan batu. Hasil penilaian terhadap kondisi beton pada struktuir beton
atau tembok pasangan batu (kaku). Coret kotak bila data tidak ada.

Data-data berikut disalin dari lembar evaluasi, berlaku untuk Seri I dan Seri II.

Indeks Fisik Total : Hasil perhitungan indeks fisik secara keseluruhan


Indeks Fungsi: Hasil penilaian indeks fungsi bangunan dalam evaluasi
Indeks Kondisi Bangunan: Hasil perhitungan indeks berdasarkan kondisi fisik dan
fungsi.

Berikut pengisian data dan kondisi fisik bangunan untuk Rekaman Seri II:
a. Elevasi Puncak Bukit Pasir. Bagian ini diisi hasil pengukuran elevasi bagian ujung
belakang dari pengisian pasir terhadap BM acuan. Bagian bukit ini dapat dikenali
sebagai ujung belakang dari pasir isian yang merupakan batas pekerjaan, umumnya
dibatasi oleh bangunan lain (jalan setapak, revetmen).
b. Lebar Puncak Bukit. Diisi dengan hasil pengukuran lebar rata-rata dari puncak
bagian pasir yang datar untuk ruas bersangkutan.
c. Elevasi Berm. Bagian ini diisi hasil pengukuran elevasi berm terhadap BM acuan.
d. Lebar Berm. Diisi dengan hasil ukur lebar rata-rata berm (bagian yang datar) untuk

2 dari 5
Kotak Penjelasan
ruas bersangkutan.
e. Landai Pantai Atas. Bagian ini diisi besarnya angka landai untuk potongan pantai
yang di sebelah atas berm. Cara pengisiannya seperti cara pengukuran kemiringan
seperti pada Blangko Seri I, poin (f). (lihat sketsa)
f. Landai Pantai Bawah. Bagian ini diisi besarnya angka landai untuk potongan pantai
yang di sebelah bawah berm. Cara pengisiannya seperti cara pengukuran kemiri-
ngan seperti pada Blangko Seri I, poin (f). (lihat sketsa)

Kondisi Fisik
a. Bukit Pasir. Hasil penilaian terhadap kondisi bukit pasir
b. Berm. Hasil penilaian terhadap kondisi berm
c. Pantai di Atas Berm. Hasil penilaian terhadap kondisi pantai di atas berm
d. Pantai di Bawah Berm. Hasil penilaian terhadap kondisi pantai di bawah berm

3 dari 5
REKAMAN DATA BANGUNAN PANTAI - SERI I
1| REVETMEN 2| TEMBOK LAUT 3| PEMECAH GELOMBANG 4| GROIN 5| JETI 6| TGL LAUT (KAKU) 7| TGL LAUT (TANAH)
Isi Nomor Jenis Bangunan: 1

I. Lokasi dan Identitas (ID) Bangunan


ID Bangunan
Nomenklatur
Nama Pantai Kode Daerah Nama Ringkas Pantai Kode Bangunan
Lintang : Bujur :
Desa Koordinat (GPS)
Derajat Menit Detik Derajat Menit Detik
Kabupaten Titik 1 (awal)
Provinsi Titik 2 (akhir)
BM Acuan :

II. Rekaman Data


TAHUN 2011 2012 2013 2014 2015
Bulan Pantauan 1 | 2
Data Kondisi Lingkungan
Tinggi gelombang (m) :
Pasang Surut (Ti/Sd/Sr)* :
Gelombang limpas (Y/T) :
Data Teknik Fisik Bangunan
Panjang Bangunan (m) :
Elevasi Puncak (m) :
Lebar Puncak (m) :
Lebar Dasar di Titik 1 (m) :
Lebar Dasar di Titik 2 (m) :
Kemiringan Badan Luar : 1:
Kemiringan Badan Dalam: 1:
Kondisi Fisik
Puncak :
Badan Luar :
Fundasi Luar :
Mat. dsr. Luar :
Badan Dalam :
Fundasi Dalam :
Mat. Dsr. Dalam :
Armor :
Beton/Pas Batu :

Indeks Fisik Total :

Indeks Fungsi :

Indeks Kondisi Bangunan:

Keterangan : Ti: tinggi, Sd: Sedang, Sr: Surut


Y : ya, T: tidak

4 dari 5
REKAMAN DATA BANGUNAN PANTAI - SERI II
PENGISIAN PASIR

I. Lokasi dan Identitas (ID) Bangunan


ID Bangunan
Nomenklatur
Nama Pantai Kode Daerah Nama Ringkas Pantai Kode Bangunan
Lintang : Bujur :
Desa Koordinat (GPS)
Derajat Menit Detik Derajat Menit Detik
Kabupaten Titik 1 (awal)
Provinsi Titik 2 (akhir)
BM Acuan :

II. Rekaman Data


TAHUN 2011 2012 2013 2014 2015
Bulan Pantauan 1 | 2
Data Kondisi Lingkungan
Tinggi gelombang (m) :
Pasang Surut (Ti/Sd/Sr)* :
Gelombang limpas (Y/T) :
Data Teknik Fisik Bangunan
Panjang Bangunan (m) :
Elev. Puncak Bukit (m) :
Lebar Puncak Bukit (m) :
Elevasi Berm (m) :
Lebar Berm (m) :
Landai Pantai Bawah : 1:
Landai Pantai Atas : 1:
Kondisi Fisik
Bukit Pasir :
Berm :
Pantai Atas Berm :
Pantai Bawah Berm :

Indeks Fisik Total :

Indeks Fungsi :

Indeks Kondisi Bangunan:

Keterangan : Ti: tinggi, Sd: Sedang, Sr: Surut


Y : ya, T: tidak

5 dari 5
LAMPIRAN VII SURAT EDARAN MENTERI PEKERJAAN UMUM
NOMOR : / SE / M /2011
TANGGAL :

CONTOH PENGISIAN BLANGKO PEMANTAUAN DAN EVALUASI


BANGUNAN PENGAMAN PANTAI
A. BLANGKO PEMANTAUAN BANGUNAN PANTAI – SERI I
1| REVETMEN 2| TEMBOK LAUT 3| PEMECAH GELOMBANG 4| GROIN 5| JETI 6| TGL LAUT (KAKU) 7| TGL LAUT (TANAH)
Isi Nomor Jenis Bangunan: 4
*) Lingkari yang sesuai isi kotak sesuai keterangan

Tanggal, Jam : 29 -08-2009 , 11:35 Nama Petugas: Asep

I. Lokasi dan Identitas (ID) Bangunan


ID Bangunan Gr PDG 28 1371 PDG Gr 28
Nomenklatur
Nama Pantai Padang Kode Daerah Nama Ringkas Pantai Kode Bangunan
Lintang : Selatan Bujur : Timur
Desa Padang Koordinat (GPS)
Derajat Menit Detik Derajat Menit Detik
Kabupaten/Kota Kota Padang Ujung 1 0 56 14.13 100 21 2.04
Provinsi Sumatera Barat Ujung 2 0 56 13.99 100 21 3.34

II. Data Teknik dan Kondisi Bangunan


Tinggi Gelombang : 0.40 meter Kondisi pasang surut*: Tinggi / Sedang / Surut
Kondisi Fisik Bangunan
BM Acuan : BM.PKT-01
Puncak 1 Gelombang limpas? Ya Tdk
Panjang Bangunan : 40 meter Badan Luar 1 Badan Dalam 1
Elevasi Puncak : 3.5 meter Fundasi Luar 2 Fundasi Dalam 1
Lebar Puncak : 4 meter Mat. dsr. Luar Baik Mat. Dsr. Dalam Hilang
Lebar Dasar : 12 meter Kondisi Material Struktur
Kemiringan Badan Luar : 1: 1 (V:H)
Armor 1 Beton/Pas. Batu -
Kemiringan Badan Dalam : 1: 1 (V:H)

III. Sketsa Bangunan


Keterangan: Garis
1 pantai Kawasan
Î : No, arah foto
c : Ujung 1
Perumahan
d : Ujung 2 29
† : BM Acuan

3 DARAT
LAUT
c d 52m
2
28
40m
1 Kawasan
Arah Gelombang Jalan Perumahan
Dominan Pantai berpasir Raya

27 BM. PKT -01

1 dari 18
Foto 1 Pandangan dari sisi selatan. Elevasi puncak tampak masih terjaga
dan badan tersusun rapih membentuk talud seperti rencana.

Foto 2 Pandangan dari pangkal groin. Puncak mulai diselimuti oleh


tanaman, batu fondasi tampak mulai terpelas.

Catatan dan Komentar:

2 dari 18
Foto 3 Pandangan dari sisi utara. Sisi ini kondisinya tampak lebih terjaga
dibanding sisi lain, fondasi dan badan groin masih rapih.

Catatan dan Komentar:

3 dari 18
B. BLANGKO EVALUASI BANGUNAN PANTAI – SERI I
1| REVETMEN 2| TEMBOK LAUT 3| PEMECAH GELOMBANG 4| GROIN 5| JETI 6| TGL LAUT (KAKU) 7| TGL LAUT (TANAH)
Isi Nomor Jenis Bangunan: 4 isi kotak sesuai hasil

ID Bangunan Kabupaten Provinsi Tanggal Pantauan Petugas Pantau


Gr PDG 28 Kota Padang Sumbar 28-08-2009 Asep

KONDISI FISIK

Kondisi Fisik Bangunan Groin


Badan Fundasi Material
Puncak Beton/
Luar Dalam Luar Dalam Armor
Tembok
Indeks
1 1 2 1 1
Komponen Fisik
(isi sesuai penilaian 1
1 1.5 1
Kondisi Fisik
(Nilai Rata-rata) (Nilai Rata-rata) (Nilai Rata-rata)
Bobot A B C D
Komponen Fisik
10 10 40 40
**

Nilai Komponen 10 10 60 40
Nilai Komponen = Indeks komponen fisik x bobot komponen fisik

Indeks Kondisi 1.2


Bangunan Baik
Nilai Komponen = Σ (nilai komponen) / Σ (bobot komponen)

KINERJA FUNGSI
Berdasarkan pengamatan terhadap catatan, sketsa, dan foto-foto terkait kondisi pantai di sekitar
bangunan dan obyek-obyek yang dilindungi, maka disimpulkan bahwa hasil evaluasi bangunan
menunjukkan kinerja fungsi bangunan (Baik/Tidak Baik):
Kinerja Fungsi
Bangunan Baik

KESIMPULAN
Bangunan Groin ID Gr PDG 28

Saran Tindakan:
Pemantauan

** Bobot Komponen Fisik (menurut jenis bangunan)

Komponen Fisik
Jenis Bangunan A B C D
(Puncak) (Badan) (Fundasi) (Material)
Revetmen 30 20 10 40
Tembok Laut 20 10 30 40
Pemecah Gelombang 20 20 20 40
Groin 10 10 40 40
Jeti 10 10 40 40
Tanggul Laut (struktur kaku) 20 10 30 40
Tanggul Laut (timbunan tanah) 10 60 30 0

4 dari 18
A. BLANGKO PEMANTAUAN BANGUNAN PANTAI – SERI I
1| REVETMEN 2| TEMBOK LAUT 3| PEMECAH GELOMBANG 4| GROIN 5| JETI 6| TGL LAUT (KAKU) 7| TGL LAUT (TANAH)
Isi Nomor Jenis Bangunan: 4
*) Lingkari yang sesuai isi kotak sesuai keterangan

Tanggal, Jam : 15 Des 2009 , 9:45 Nama Petugas: Suryo

I. Lokasi dan Identitas (ID) Bangunan


ID Bangunan Gr T CDS 02 5107 CDS Gr T02
Nomenklatur
Nama Pantai Candidasa Kode Daerah Nama Ringkas Pantai Kode Bangunan
Lintang : Selatan Bujur : Timur
Desa Candidasa Koordinat (GPS)
Derajat Menit Detik Derajat Menit Detik
Kabupaten Karangasem Ujung 1 8 30 38.5 115 34 8.9
Provinsi Bali Ujung 2

II. Data Teknik dan Kondisi Bangunan


Tinggi Gelombang : 0.50 meter Kondisi pasang surut*: Tinggi / Sedang / Surut
Kondisi Fisik Bangunan
BM Acuan : BM.01
Puncak 1 Gelombang limpas? Ya Tdk
Panjang Banguna : 100;50 (T) meter Badan Luar 1 Badan Dalam 1
Elevasi Puncak : 2.25 meter Fundasi Luar 2 Fundasi Dalam 1
Lebar Puncak : 1.5 meter Mat. dsr. Luar Baik Mat. Dsr. Dalam Baik
Lebar Dasar : 8 meter Kondisi Material Struktur

Kemiringan Badan Luar : 1: 3 (V:H)


Armor 2 Beton/Pas. Batu -
Kemiringan Badan Dalam : 1: 3 (V:H)

III. Sketsa Bangunan


Keterangan:
1
Î : No, arah foto
c : Ujung 1
d : Ujung 2
† : BM Acuan

5 dari 18
Foto 1 Tampak groin dari daratan.

Foto 2 Tampak groin dari pangkal groin.

Catatan dan Komentar :

6 dari 18
Foto 3 Kerusakan jalan setapak di ujung kiri T groin. Kondisi masih sama
seperti saat inventarisasi.

Foto 4 Tampak dari tengah groin. Armor pada fundasi mulai menyebar.

Catatan dan Komentar :

7 dari 18
B. BLANGKO EVALUASI BANGUNAN PANTAI – SERI I
1| REVETMEN 2| TEMBOK LAUT 3| PEMECAH GELOMBANG 4| GROIN 5| JETI 6| TGL LAUT (KAKU) 7| TGL LAUT (TANAH)
Isi Nomor Jenis Bangunan: 4 isi kotak sesuai hasil

ID Bangunan Kabupaten Provinsi Tanggal Pantauan Petugas Pantau


Gr T CDS 02 Karangasem Bali 15 Des 2009 Suryo

KONDISI FISIK

Kondisi Fisik Bangunan Groin


Badan Fundasi Material
Puncak Beton/
Luar Dalam Luar Dalam Armor
Tembok
Indeks
1 1 2 1 2
Komponen Fisik
(isi sesuai penilaian 1
1 1.5 2
Kondisi Fisik
(Nilai Rata-rata) (Nilai Rata-rata) (Nilai Rata-rata)
Bobot A B C D
Komponen Fisik
10 10 40 40
**

Nilai Komponen 10 10 60 80
Nilai Komponen = Indeks komponen fisik x bobot komponen fisik

Indeks Kondisi 1.6


Bangunan Cukup Baik
Nilai Komponen = Σ (nilai komponen) / Σ (bobot komponen)

KINERJA FUNGSI
Berdasarkan pengamatan terhadap catatan, sketsa, dan foto-foto terkait kondisi pantai di sekitar
bangunan dan obyek-obyek yang dilindungi, maka disimpulkan bahwa hasil evaluasi bangunan
menunjukkan kinerja fungsi bangunan (Baik/Tidak Baik):
Kinerja Fungsi
Bangunan Baik

KESIMPULAN
Bangunan Groin ID Gr T CDS 02

Saran Tindakan:
Pemantauan

** Bobot Komponen Fisik (menurut jenis bangunan)

Komponen Fisik
Jenis Bangunan A B C D
(Puncak) (Badan) (Fundasi) (Material)
Revetmen 30 20 10 40
Tembok Laut 20 10 30 40
Pemecah Gelombang 20 20 20 40
Groin 10 10 40 40
Jeti 10 10 40 40
Tanggul Laut (struktur kaku) 20 10 30 40
Tanggul Laut (timbunan tanah) 10 60 30 0

8 dari 18
A. BLANGKO PEMANTAUAN BANGUNAN PANTAI – SERI I
1| REVETMEN 2| TEMBOK LAUT 3| PEMECAH GELOMBANG 4| GROIN 5| JETI 6| TGL LAUT (KAKU) 7| TGL LAUT (TANAH)
Isi Nomor Jenis Bangunan: 1
*) Lingkari yang sesuai isi kotak sesuai keterangan

Tanggal, Jam : 3 Januari 2010 , 10:10 Nama Petugas: Holis

I. Lokasi dan Identitas (ID) Bangunan


ID Bangunan Rv JWI 01 6101 JWI Rv01
Nomenklatur
Nama Pantai Jawai Kode Daerah Nama Ringkas Pantai Kode Bangunan
Lintang : Utara Bujur : Timur
Desa Jawai Koordinat (GPS)
Derajat Menit Detik Derajat Menit Detik
Kabupaten Sambas Ujung 1 1 14 7.68 108 58 33.64
Provinsi Kalimantan Barat Ujung 2 1 14 12.72 108 58 36.1

II. Data Teknik dan Kondisi Bangunan


Tinggi Gelombang : 0.20 meter Kondisi pasang surut*: Tinggi / Sedang / Surut
Kondisi Fisik Bangunan
BM Acuan : BM.JWI-01
Puncak 3 Gelombang limpas? Ya Tdk
Panjang Bangunan : 150 meter Badan Luar 4 Badan Dalam 4
Elevasi Puncak : 1.75 meter Fundasi Luar 3 Fundasi Dalam 1
Lebar Puncak : 1 meter Mat. dsr. Luar Baik Mat. Dsr. Dalam Baik
Lebar Dasar : 8 meter Kondisi Material Struktur
Kemiringan Badan Luar : 1: 3 (V:H)
Armor 2 Beton/Pas. Batu -
Kemiringan Badan Dalam : 1: 1 (V:H)

III. Sketsa Bangunan


Keterangan:
1
Î : No, arah foto
c : Ujung 1
d : Ujung 2
† : BM Acuan LAUT d
5

150m
Tambak Udang
(tidak aktif lagi)
3
1
2
c 200 m
6 4

Garis DARAT
pantai

BM. JWI-01

9 dari 18
Foto 1 Unit 1 Daerah Tambak Pantai Jawai. Ini adalah satu dari dua ruas
perlindungan Pantai Jawai (masing-masing sepanjang 150 m).

Foto 2 Foto memandang ke Selatan. Mantapnya tumbuhan sisi darat


membuktikan bahwa fungsi perlindungan berhasil diemban oleh
bangunan pantai .

Catatan dan Komentar :

10 dari 18
Foto 3 Pelapukan wajar untuk blok beton berusia lebih dari 10 tahun.

Foto 4 Ujung Selatan perlindungan Pantai Jawai Unit 1.

Catatan dan Komentar :

11 dari 18
Foto 5 Abrasi di sisi utara perlindungan Pantai Jawai.

Foto 6 Abrasi di sisi selatan perlindungan Pantai Jawai.

Catatan dan Komentar :

12 dari 18
B. BLANGKO EVALUASI BANGUNAN PANTAI – SERI I
1| REVETMEN 2| TEMBOK LAUT 3| PEMECAH GELOMBANG 4| GROIN 5| JETI 6| TGL LAUT (KAKU) 7| TGL LAUT (TANAH)
Isi Nomor Jenis Bangunan: 1 isi kotak sesuai hasil

ID Bangunan Kabupaten Provinsi Tanggal Pantauan Petugas Pantau


Rv JWI 01 Sambas Kalmantan Barat 3 Januari 2010 Holis

KONDISI FISIK

Kondisi Fisik Bangunan Revetmen


Badan Fundasi Material
Puncak Beton/
Luar Dalam Luar Dalam Armor
Tembok
Indeks
4 4 3 1 2
Komponen Fisik
(isi sesuai penilaian 3
4 2 2
Kondisi Fisik
(Nilai Rata-rata) (Nilai Rata-rata) (Nilai Rata-rata)
Bobot A B C D
Komponen Fisik
30 20 10 40
**

Nilai Komponen 90 80 20 80
Nilai Komponen = Indeks komponen fisik x bobot komponen fisik

Indeks Kondisi 2.7


Bangunan Perlu Perbaikan
Nilai Komponen = Σ (nilai komponen) / Σ (bobot komponen)

KINERJA FUNGSI
Berdasarkan pengamatan terhadap catatan, sketsa, dan foto-foto terkait kondisi pantai di sekitar
bangunan dan obyek-obyek yang dilindungi, maka disimpulkan bahwa hasil evaluasi bangunan
menunjukkan kinerja fungsi bangunan (Baik/Tidak Baik):
Kinerja Fungsi
Bangunan Baik

KESIMPULAN
Bangunan Revetmen ID Rv JWI 01

Saran Tindakan:
Pemeliharaan

** Bobot Komponen Fisik (menurut jenis bangunan)

Komponen Fisik
Jenis Bangunan A B C D
(Puncak) (Badan) (Fundasi) (Material)
Revetmen 30 20 10 40
Tembok Laut 20 10 30 40
Pemecah Gelombang 20 20 20 40
Groin 10 10 40 40
Jeti 10 10 40 40
Tanggul Laut (struktur kaku) 20 10 30 40
Tanggul Laut (timbunan tanah) 10 60 30 0

13 dari 18
A. BLANGKO PEMANTAUAN BANGUNAN PANTAI – SERI I
1| REVETMEN 2| TEMBOK LAUT 3| PEMECAH GELOMBANG 4| GROIN 5| JETI 6| TGL LAUT (KAKU) 7| TGL LAUT (TANAH)
Isi Nomor Jenis Bangunan: 2
*) Lingkari yang sesuai isi kotak sesuai keterangan

Tanggal, Jam : 26 Agustus 2009 , 10:10 Nama Petugas: Erni

I. Lokasi dan Identitas (ID) Bangunan


ID Bangunan TL PKT 01 5101 PKT TL01
Nomenklatur
Nama Pantai Pekutatan Kode Daerah Nama Ringkas Pantai Kode Bangunan
Lintang : Selatan Bujur : Timur
Desa Pekutatan Koordinat (GPS)
Derajat Menit Detik Derajat Menit Detik
Kabupaten Jembrana Ujung 1 8 25 44.18 114 49 3.5
Provinsi Bali Ujung 2 8 25 44.98 114 49 3.15

II. Data Teknik dan Kondisi Bangunan


Tinggi Gelombang : 0.40 meter Kondisi pasang surut*: Tinggi / Sedang / Surut
Kondisi Fisik Bangunan
BM Acuan : BM.PKT-01
Puncak 4 Gelombang limpas? Ya Tdk
Panjang Bangunan : 50 meter Badan Luar 4 Badan Dalam -
Elevasi Puncak : 1.5 meter Fundasi Luar 3.5 Fundasi Dalam -
Lebar Puncak : - meter Mat. dsr. Luar Baik Mat. Dsr. Dalam Hilang
Lebar Dasar : 15 meter Kondisi Material Struktur
Kemiringan Badan Luar : 1: 1 (V:H)
Armor - Beton/Pas. Batu 4
Kemiringan Badan Dalam : 1: - (V:H)

III. Sketsa Bangunan


Keterangan: Sungai
1
Î : No, arah foto Tambat Perahu
c : Ujung 1 DARAT
Nelayan
d : Ujung 2
1
† : BM Acuan

c 5
Bagian tergerus 4 RUAS-01
50m Kawasan
3 Wisata


LAUT 2
RUAS-02
BM. PKT-01
50 m

Garis
Pantai berpasir
pantai

14 dari 18
Foto 1 Tembok laut ruas 01 di Pekutatan sepanjang 50 meter. Sudah
hancur dan tidak berbentuk sama sekali.

Foto 2 Pandanga ke arah ke selatan. Tembok ruas 02 masih berdiri


dengan kondisi cukup baik.

Catatan dan Komentar:

15 dari 18
Foto 3 Pandangan ke arah utara. Bagian ruas 01 tampak struktur yang
terputus dan hilang bentuknya sama sekali.

Foto 4 Di ujung 2 ruas 01, tembok penahan sudah terputus dan hancur
serta material tembok bercampur dengah tanah.

Catatan dan Komentar:

16 dari 18
Foto 5 Sisa tembok melintang pantai dan dan potongan tembok penahan
sejajar pantai yang sudah hancur.

Catatan dan Komentar:

17 dari 18
B. BLANGKO EVALUASI BANGUNAN PANTAI – SERI I
1| REVETMEN 2| TEMBOK LAUT 3| PEMECAH GELOMBANG 4| GROIN 5| JETI 6| TGL LAUT (KAKU) 7| TGL LAUT (TANAH)
Isi Nomor Jenis Bangunan: 1 isi kotak sesuai hasil

ID Bangunan Kabupaten Provinsi Tanggal Pantauan Petugas Pantau


TL PKT 01 Jembrana Bali 26 Agustus 2009 Erni

KONDISI FISIK

Kondisi Fisik Bangunan Revetmen


Badan Fundasi Material
Puncak Beton/
Luar Dalam Luar Dalam Armor
Tembok
Indeks
4 3 4
Komponen Fisik
(isi sesuai penilaian 4
4 3 4
Kondisi Fisik
(Nilai Rata-rata) (Nilai Rata-rata) (Nilai Rata-rata)
Bobot A B C D
Komponen Fisik
30 20 10 40
**

Nilai Komponen 120 80 30 160


Nilai Komponen = Indeks komponen fisik x bobot komponen fisik

Indeks Kondisi 3.9


Bangunan Rusak Berat
Nilai Komponen = Σ (nilai komponen) / Σ (bobot komponen)

KINERJA FUNGSI
Berdasarkan pengamatan terhadap catatan, sketsa, dan foto-foto terkait kondisi pantai di sekitar
bangunan dan obyek-obyek yang dilindungi, maka disimpulkan bahwa hasil evaluasi bangunan
menunjukkan kinerja fungsi bangunan (Baik/Tidak Baik):
Kinerja Fungsi
Bangunan Baik

KESIMPULAN
Bangunan Revetmen ID TL PKT 01

Saran Tindakan:
Rehabilitasi

** Bobot Komponen Fisik (menurut jenis bangunan)

Komponen Fisik
Jenis Bangunan A B C D
(Puncak) (Badan) (Fundasi) (Material)
Revetmen 30 20 10 40
Tembok Laut 20 10 30 40
Pemecah Gelombang 20 20 20 40
Groin 10 10 40 40
Jeti 10 10 40 40
Tanggul Laut (struktur kaku) 20 10 30 40
Tanggul Laut (timbunan tanah) 10 60 30 0

18 dari 18
LAMPIRAN VIII SURAT EDARAN MENTERI PEKERJAAN UMUM
NOMOR : 01 / SE / M /2011
TANGGAL : 23 Februari 2011

KERANGKA UMUM
MANUAL OPERASI DAN PEMELIHARAAN
BANGUNAN PENGAMAN PANTAI
(NAMA KAWASAN PEMELIHARAAN)

Daftar Isi

Bagian I Pendahuluan
1.1 Maksud dan Tujuan
1.2 Ruang Lingkup
1.3 Jenis Bangunan
1.4 Pengertian

Bagian II Ketentuan
2.1 Umum
2.2 Teknik
2.2.1 Pelaksana
2.2.2 Peralatan
2.2.3 Material

Bagian III Manual Pelaksanaan


3.1 Sosialisasi Kebijakan Pemerintah
3.2 Inventarisasi
3.2.1 Pengumpulan Dokumen Teknis
3.2.2 Persiapan dan Pengukuran Lapangan
3.2.3 Penyusunan Data Inventarisasi Bangunan
3.3 Pemantauan dan Evaluasi
3.3.1 Pemantauan Lapangan
3.3.2 Penyusunan Data Pemantauan Bangunan
3.3.3 Evaluasi Kondisi Bangunan dan Rencana Pemeliharaan
3.4 Pemeliharaan Bangunan (Revetmen/ Tembok Laut/ Pemecah Gelombang/
Groin/ Jeti/ Tanggul Laut/ Pengisian Pasir)
3.5 Pengoperasian Bangunan Pendukung
3.5.1 Pompa Air
3.5.2 Pintu Air
3.6 Perhitungan Biaya
3.6.1 Pemantauan
3.6.2 Pemeliharaan

Lampiran A. Data Nomenklatur


B. Blangko Inventarisasi
C. Blangko Pemantauan
D. Blangko Evaluasi