Anda di halaman 1dari 12

TUGAS SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN

Resume

BUILDING A PROFIT PLAN

Kelompok 7

PROGRAM S1 AKUNTANSI INTAKE DIII


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ANDALAS

BUILDING A PROFIT PLAN

Perencanaan laba merupakan alat utama yang digunakan oleh manajer untuk harga bisnis
dan operasi rencana mereka, membuat trade-off antara berbagai tindakan yang berbeda,
menetapkan kinerja dan tujuan akuntabilitas, dan mengevaluasi sejauh mana kinerja bisnis yang
kemungkinan untuk memenuhi harapan konstituen yang berbeda. Rencana hal keuntungan dan
anggaran sering digunakan secara bergantian.
Anggaran mengacu pada rencana sumber daya dari setiap unit organisasi yang baik
menghasilkan atau mengkonsumsi sumber daya. Persiapan dari perencanaan laba dan anggaran
mengikuti pola konsisten di kebanyakan organisasi. Beberapa bulan sebelum bermulanya tahun
fiskal, manajer akan membuat rencana laba atau anggarannya.
Terdapat 3 tujuan dari proses perencanaan yaitu :
i. Untuk menerjemah strategi bisnis menjadi rencana yang detail untuk menciptakan
nilai
ii. Untuk mengevaluasi apakah sumber daya tersedia untuk mengimplementasi strategi
iii. Untuk membuat fondasi untuk menghubungkan tujuan ekonomi dengan indikator
pada implementasi strategi.

Untuk membangun perencanaan laba, manajer perlu menjawab 3 pertanyaan yang berbeda :
1. Apakah strategi organisasi menciptakan nilai ekonomis ?
2. Apakah organisasi mempunyai kas yang cukup untuk mendanai strategi ?
3. Apakah organisasi telah menciptakan nilai yang cukup untuk menarik sumber
keuangan yang diperlukan untuk mendanai investasi jangks panjang ?

3 wheels of profit planning (3 roda perencanaan laba)

Untuk menjawab pertanyaan tadi dan desain profit plan, 3 analisis perlu dilakukan. Ada 3
siklus yang harus dianalisis manajer sebelum membuat rencana laba yaitu :
1. Profit wheel (perputaran laba)
2. Cash wheel (perputaran kas)
3. ROE wheel (perputaran ROE)
Memperbaiki atau merubah sebarang asumsi atau nomor dari roda ini akan menyebabkan
perubahan pada semua variabel. Pondasi rencana laba ini terbentuk dari asumsi tentang
bagaimana seorang manajer melihat masa depan.
Rencana laba memberikan informasi mengenai sumber ekonomi yang tersedia bagi
perusahaan dan membantu manajer mengevaluasi trade-off yang mereka hadapi. Strategi yang
berbeda memerlukan investasi yang berbeda.
Di akhir proses rencana laba, semua orang di organisasi telah setuju pada arah perusahaan.
Selain itu, rencana laba juga digunakan untuk menetapkan tujuan kinerja. Namun karena sering
terjadinya konflik antar pembagian informasi dan evaluasi kinerja , beberapa perusahaan
cenderung menyepelekan peran rencana laba sebagai alat mengevaluasi kinerja.

PROFIT WHEEL
Penciptaan nilai diukur dengan laba. Tanpa membuat profit plan, manajer tidak dapat :
- Mengevaluasi apakah strategi akan menghasilkan nilai bagi para pemegang saham.
- Mengestimasi dampak ekonomi pada alternatif strategi yang berbeda dan akibatnya,
kurangnya informasi untuk menentukan antara tindakan yang berbeda

Perencanaan laba merumuskan aliran pendapatan yang diingankan dan aliran pengeluaran
untuk periode akuntansi (biasanya setahun). Output dari proses perencanaan ini adalah dokumen
keuangan yang menggunakan format yang sama dengan laporan keuangan.

Pondasi rencana laba


Titik permulaan untuk setiap rencana laba adalah asumsi mengenai masa depan dalam hal
pasar, konsumen, supplier dan keuangan. Rencana laba juga menggambarkan keyakinan manajer
mengenai hubungan sebab dan akibat. Contohnya manajer akan meningkatkan iklan jika mereka
yakin hal itu akan meningkatkan tingkat penjualan. Akhir sekali, rencana laba menggambarkan
komitmen manajer terhadap strategi. Perspektif yang berbeda mengenai persaingan pasar
memerlukan pembagian informasi dan membentuk pandangan umum mengenai masa depan
perusahaan. Ada 5 langkah dalam menciptakan rencana laba menggunakan roda laba :

Langkah 1 : Memgestimasi tingkat penjualan


Kebanyakan perusahaan memulai rencana labanya dengan mengestimasi tingkat
penjualan di masa depan. Hal ini wajar karena 2 alasan : pertumbuhan pendapatan merupakan
penentu utama laba, dan tingkat pengeluaran operasi selalu merupakan fungsi dari volume
penjualan. Untuk memprediksi penjualan dengan tepat, banyal hal yang perlu dipertimbangkan
antara lain :
 Faktor makroekonomi
 Aturan pemerintah
 Langkah pesaing
 Permintaan konsumen
Hampir setiap keputusan yang diambil manajer berdampak bagi perusahaan. Namun,
manajer turut mempertimbangkan dengan berhati-hati keputusan yang memberi pengaruh
langsung pada penjualan seperti :
 Mix and pricing of product categories
 Program pemasaran
 Pengenalan produk baru dan penghapusan produk
 Perubahan pada kualitas produk dan fitur
 Kapasitas distribusi dan manufaktur
 Tingkat pelayanan konsumen

Langkah 2 : Meramal pengeluaran operasi

Setelah tingkat penjualan ditentukan, tugas manajet selanjutnya adalah untuk


mengestimasi pengeluaran operasi. Untuk itu, kategori pengeluaran operasi yang berbeda harus
dianalisis berbeda.
Kategori pengeluaran operasi yang pertama adalah biaya variabel. Biaya variabel berbeda
pada tingkat penjualan dan output produksi. Biaya variabel diestimasi sebagai persentase dari
penjualan sehingga manajer perlu mengasumsi hubungan sebab-akibat antara input dan output
pada skala penjualan yang relevan. Dimana diasumsikan bahwa peningkatan volume penjualan
akan meningkatkan penggunaan input (bahan baku). Pengeluaran bunga pinjaman bank juga
merupakan contoh biaya variabel.
Untuk meramal biaya variabel, manajer harus menentukan persentase sebenar yang
berhubungan dengan kategori setiapa biaya variabel pada penjualan. Ada beberapa langkah
dimana biaya variabel dapat dikurangkan sebagai persentase penjualan :
 Mengambil peluang dari skala ekonomi dan lingkup ekonomi
 Meningkatkan efisiensi operasi
 Bernegosiasi dengan supplier
 Medesain ulang produk untuk mengurangi biaya produksi
 Meningkatkan penjualan

Kategori keuda adalah biaya nonvariabel yang tidak secara langsung berbeda pada
tingkat penjualan. Namun bukan berarti tidak berbeda sama sekali. Ada 3 tipe boaya nonvariabel:
 Committed (engineered) costs.
Beberapa pengeluaran ditentukan dari pengambilan keputusan sebelumnya sehingga
tidak menjadi pertimbangan untuk periode perencanaan saat ini. Cthnya adalah
depresiasi karena tergantung keputusan investasi yang lalu dan kebijakan akuntansi
perusahaan. Contoh lainnya yaitu gaji manajer, engineer dan karyawan karena
merupakan biaya untuk jangka waktu yang lama.
 Discretionary costs
Periklanan, pelatihan karyawan dan program penelitian adalah contoh biaya
discretionary. Manajer bisa berinvestasi sebanyak mungkin selagi kecukupan kas
tersedia. Namun beberapa perusahaan memilih untuk memperlalukan biaya
discretionary sebagai biaya variabel.
 Activity-based indirect costs
Kategori terakir pengeluaran operasi adalah biaya tidak langsung. Untuk
mengestimasinya, manajer harus mengidentifikasi pemicu biaya tidak langsung itu
sendiri. Peningkatan pada biaya ini akan dapat menelusuri pertumbuhan pada tingkat
pengeluaran tidak langsung seperti peningkatan pada biaya pengiriman. Jika aktivitas
pemicu biaya dapat dikurangkan, maka manajer dapat menghemat uang dengan
menggunakan sedikit sumber.

Langkah 3 : menghitung laba yang diharapkan

Perbedaan antara penjualan yang diharapkan dengan pengeluaran operasi yang


diharapkan menentukan jumlah nilai ekonomi yang ingin dihasilkan perusahaan pada rencana
labanya dengan mengestimasi NOPAT yaitu laba bersih setelah pajak atau EBIAT yaitu
pendapatan sebelum bunga dan setelah pajak. Laba merupakan hal terpenting dalam
mengevaluasi kinerja keuangan bagi setiap perusahaan.

Langkah 4 : Harga Investasi dalam Aset Baru

Ketika manajer telah menyetujui penjualan yang diharapkan, beban operasi dan jumlah
laba, ini berarti manajemen telah membuat bagian terpenting dalam perencanaan laba, laporan
pendapatan yang diharapkan. Untuk menyelesaikan perencanaan laba, manajer harus
menemukan tingkat investasi yang diperlukan pada aset baru, termasuk modal kerja seperti
persediaan dan piutang usaha.
Profit wheel menunjukkan bahwa tingkatan penjualan yang diprediksi ditentukan
berdasarkan tingkatan aset yang tersedia untuk menghasilkan penjualan tersebut. Manajer harus
memutuskan tingkatan dan jenis investasi yang dibutuhkan untuk mendukung penjualan yang
diinginkan. Pada proses ini, asumsi tentang tingkat dan tipe aset yang dibutuhkan untuk
mendukung perencanaan laba harus diback-up dengan perencanaan investasi aset. Perencanaan
investasi merupakan alat lain yang penting dalam implementasi strategi.
Terdapat dua jenis aset yang haruss dipertimbangkan manajer untuk berinvestasi :
operating assets dan long term assets. Investasi aset produktif dalam jangka panjang dikenal
dengan perencanaan investasi modal. Perencanaan investasi modal harus mencerminkan dan
mendukung strategi yang diinginkan karena perusahaan seringkali menggunakan serangkaian
alternative strategi yang terbatas.

Langkah 5 : Close the Profit Wheel and Test Key Assumptions


Umpan balik diantara semua komponen profit wheel menunjukan bahwa proses
perencanaan laba tidak linear. Ketika manajer telah mencapai laba yayang diharapkan, manajer
biasanya melakukan analisis sensitivitas berdasarkan perubahan dalam penjualan atau variabel
rencana laba utama lainnya. Tujuan analisis sensitivitas untuk meperkirakan bagaimana laba
mungkin berubah saat asumsi yang mendasari lingkungan kompetitif atau prediksi lain yang ada
pada rencana laba dasar.

CASH WHEEL

Sebelum rencana laba layak untuk diterima, perusahaan harus meramalkan apakah
perusahaan akan memiliki kas yang cukup untuk operasi (cash wheel) dan apakah pengembalian
investasi (ROE wheel). Cash wheel menggambarkan siklus arus kas operasi dalam bisnis.
Penjualan produk dan jasa kepada konsumen memunculkan piutang, yang akan menjadi kas, kas
tersebut dapat digunkan untuk menghasilkan persediaan, yang dapat digunakan untuk
menghasilkan lebih banyak penjualan. Namun, tergantung pada sifat bisnisnya, waktu yang
dibutuhkan antara perusahaan menggunakan kasnya untuk membeli persediaan dan membayar
biaya operasional sampai uang dari pelanggan diterima. Selama periode tersebut, perusahaan
dapat meminjam untuk biaya operasi dan biaya modal yang akan datang. Berdasarkan cash
wheel, dapat diketahui mengapa perusahaan membutuhkan lebih banyak atau sedikit kas operasi,
tergantung industri dan strateginya.
Peramalan kebutuhan kas sangat penting karena semua perusahaan memiliki cadangan
kas dan kapasitas meminjam yang terbatas. Jika manajer memproyeksikan kas yang dibutuhkan
untuk mengoperasikan bisnis melebihi cadangan kas dan kapasitas pinjaman maksimum, maka
rencana tidak layak dan harus diperbaiki.
Teknik penghitungan cash wheel sangat simple,
Metode arus kas metode langsung sering digunakan perusahaan untuk memperkirakan
kebutuhan kas untuk jangka pendek (sehari, seminggu, sebulan). Untuk setiap periode, manajer
memperkirakan kas yang dapat diperoleh (cash inflow) dan kas yang harus dikeluarkan (cash
outflow). Untuk memperkirakan kas yang dibutuhkan untuk jangka panjang (bulanan,
perkuartalan, atau tahunan) proyeksi rencana laba, perusahaan menggunakan metode tidak
langsung. Manajer harus memproyeksikan pendapatanya dan mengikuti 4 tahapan berikut :

Langkah 1 : Memperkirakan Arus Kas Bersih untuk Operasi

Teknik yang dapat digunakan untuk memperkirakan arus kas operasi dikenal dengan
EBITDA (Laba sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, Amortisasi). Depresiasi tidak
memerlukan pengeluaran kas. Bunga dan beban pajak menggambarkan pengeluaran
non operasional.

Langkah 2 : Memperkirakan Kas yang dibutuhkan untuk Perumbuhan Pendanaan pada Aset
Operasi

EBITDA merupakan pengukuran yang mengabaikan perubahan dalam modal


kerja yang dibutuhkan dalam mengoperasikan bisnis. Contohnya kas dapat
digunakan dalam perubahan tingkat persediaan dan saldo piutang.

Langkah 3 : Akuisis Harga dan Divestasi Aset Jangka Panjang

Perbedaan startegi dan inisiatif akan memberikan tingkat investasi dan kas.

Langkah 4 : Perkiraan Kebutuhan Pembiayaan dan Pembayaran Bunga

Langkah akhir adalah mengurangi jumlah kas yang dibutuhkan untuk pembiayaan
dan penerimaan pajak.

Analisis arus kas sering menunjukan kebutukan dana eksternal dalam bentuk hutang atau
ekuitas untuk mendukung rencana laba yang diusulkan. Manajer harus memilih antara sumber
dana eksternal yang tersedia dan memilih sumber pendanaan yang sesuai dengan resiko
keuangan dan resiko bisnis.
Memastikan Arus Kas yang Memadai

Berbeda dengan rencana laba dimana jangka waktu biasanya satu tahun, proyeksi arus
kas sering fokus pada periode yang lebih singkat. Perbedaan antara arus kas masuk dan arus kas
keluar selama siklus operasi untuk sebagian bisnis setidaknya tiap bulan.
Cash wheel menyoroti fakta bahwa semua bisnis memiliki sejumlah besar sumber daya
yang terikat dalam piutang, persediaan dan modal kerja lainnya. Oleh karena itu, manajer harus
bekerja dengan giat untuk mempercepat arus kas pada cash wheel, sehingga membebaskan kas
untuk investasi, pertumbuan keuangan atau operasi.

ROE WHEEL

Bisnis yang mendapatkan laba banyak akan lebih baik karena mereka akan memiliki
lebih banyak sumber daya untuk berinvestasi dalam peluang masa depan, mereka akan dapat
membayar dividen lebih tinggi kepada investor, harga saham mereka akan lebih tinggi, dan biaya
utang mereka akan lebih rendah. Dengan demikian, laba dapat dianggap sebagai kendala dan
tujuan dalam bisnis. Harga saham dan pembayaran dividen bergantung pada kemampuan bisnis
untuk menghasilkan laba dari investasi yang dibuat oleh pemegang saham dalam bisnis.
Investor dalam perusahaan memantau pengembalian investasi mereka dengan hati-hati
dan meminta manajer atas untuk bertanggung jawab atas pengembalian ini – sehingga ukuran
yang paling penting bagi investor adalah return on investment (ROI). ROI adalah ukuran rasio
dari output laba dari bisnis sebagai persentase dari input investasi keuangan. Ukuran akuntansi
ini adalah salah satu pengukuran terbaik untuk kinerja keuangan secara keseluruhan. Apabila kita
mengadopsi perspektif manajer yang dipercayakan oleh pemegang saham untuk menghasilkan
laba - maka ukuran internal yang sesuai untuk pengembalian investasi adalah return on equity
(ROE).
Sama halnya dengan perputaran laba dan perputaran kas, kita dapat bekerja secara
sistematis di sekitar perputaran ROE untuk menentukan apakah rencana laba memadai untuk
memenuhi harapan

Langkah 1 : Calculate Overall Return on Equity (Menghitung ROE Keseluruhan)

ROE =
= x x

Jika kita mengasumsikan bahwa manajer senior ingin memaksimalkan ukuran ini, kita
harus bertanya pada diri sendiri bagaimana manajer senior menurunkan ukuran ini ke hierarki
organisasi sehingga karyawan tingkat yang lebih rendah juga akan bekerja untuk meningkatkan
ROE.
Rumus yang pertama (net income ÷ sales) sama dengan rasio profitabilitas. Rumus yang
kedua (sales ÷ assets) sama dengan rasio asset turnover, dan rumus yang ketiga (assets ÷
stockholders equity) sama dengan financial leverage.

Langkah 2 : Estimate Asset Utilization


Dalam bisnis, manager unit (divisi atau manager profit) bertanggung jawab atas varian
ROE yaitu ROCE (Return On Capital Employed)

ROCE= x

Langkah 3 : Compare Project ROE with industry Bencmarks and investor expectation
Setelah ROE keseluruhan yang diharapkan dihitung, manajer harus membandingkannya
dengan beberapa patokan atau standar untuk melihat bagaimana hal itu berpengaruh terhadap
pesaing dan harapan investor. ROE yang diharapkan oleh investor, analisis, dan lain-lain yang
memantau kinerja keuangan perusahaan. Pengembalian investasi yang tinggi menyebabkan harga
saham yang tinggi dan mendorong kemauan investor untuk melakukan penambahan investasi
untuk mendukung pertumbuhan perusahaan. Sedangkan apabila pengembalian rendah akan
menyebabkan hasil sebaliknya.
Menggunakan Profit Wheels untuk Menguji Strategi

Manajer harus menggunakan three wheels untuk mengevaluasi ekonomi dan konsistensi
internal dari masing-masing strategi ini. menerapkan salah satu strategi membutuhkan alokasi
sumber daya yang langka di antara berbagai peluang bisnis yang terbuka bagi perusahaan. Jika
perusahaan berinvestasi dalam lini produk tertentu, secara bersamaan memutuskan untuk tidak
berinvestasi dalam lini produk alternative lain.
Langkah pertama yang digunakan adalah menggunakan profit wheel untuk memsiapkan
rencana laba untuk masing-masing alternatif. Langkah selanjutnya adalah menggunakan analisis
cash wheel untuk memastikan bahwa kas akan cukup untuk membiayai inisiatif ini Langkah
terakhr adalah membandingkan ROE untuk masing-masing alternative.

Chapter Summary

Rencana laba menggambarkan strategi bisnis dalam istilah ekonomi. Karena pentingnya
rencana laba sebagai alat manajemen untuk menguji dan mengkomunikasikan strategi, manajer
biasanya menginvestasikan waktu dan upaya yang besar untuk mengembangkan, bernegosiasi,
dan merancang rencana laba untuk tahun mendatang. Manajer menggunakan rencana laba untuk
menilai kemampuan strategi yang berbeda untuk menghasilkan nilai dan untuk memperkirakan
apakah sumber daya yang memadai akan tersedia untuk menerapkan strategi yang dipilih.
Proses membangun rencana laba memungkinkan manajer untuk berbagi informasi
tentang dinamika pasar yang kompetitif dan kekuatan serta kelemahan internal. Setiap orang di
perusahaan mungkin memiliki informasi yang berbeda tentang apa yang terjadi. Dengan berbagi
informasi, para manajer belajar dari pengalaman orang lain dan menghasilkan wawasan
tambahan yang berharga yang bermanfaat untuk menentukan arah tujuan perusahaan di masa
depan.
Setiap rencana laba tunduk pada batasan yang dikenakan oleh profit wheel, cash wheel,
dan ROE wheel. Dalam batasan ini, manajer masih memiliki kebebasan untuk merancang
rencana laba sesuai keinginan mereka. Membangun rencana laba adalah latihan dalam ide
pengujian kreatif, menguji asumsi, dan menguji strategi. Setiap orang dapat memahami strategy
yang disebutkan dengan pandangan yang berbeda, meskipun semua orang di organisasi
menerima strategi yang disebutkan.

Bab ini menjelaskan, rencana laba memainkan peran penting lainnya dalam setiap bisnis:
dalam menetapkan tujuan kinerja bagi karyawan, dalam mengkomunikasikan harapan kepada
komunitas investasi, dan dalam memungkinkan evaluasi kinerja bisnis individu dan manajer.
rencana laba. Hal ini mungkin terlihat seperti dokumen sederhana, tetapi merupakan fondasi
penting untuk mendorong setiap bisnis berkinerja tinggi ke depan