Anda di halaman 1dari 29

UNIVERSITAS JEMBER

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN SECTIO CAESARIA


DI RUANG INSTALASI BEDAH SENTRAL RUMAH SAKIT
DAERAH dr. SOEBANDI JEMBER

OLEH:
Rischa Isrotul Nur Afida, S.Kep
NIM 182311101083

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
JEMBER
OKTOBER, 2018
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan dan Resume Kasus di Ruang Instalasi Bedah Sentral


RSD dr. Soebandi Jember telah disetujui dan disahkan pada:
Hari, Tanggal :
Tempat :

Jember, Oktober 2018

Mahasiswa

Rischa Isrotul Nur Afida, S.Kep


NIM 182311101083

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik


Fakultas Keperawatan Ruang IBS
Universitas Jember RSD dr. Soebandi

Ns. Baskoro Setioputro, M.Kep Ns. Muh. Syafari, S.Kep


NIP. 19830505 200812 1 004 NIP. 19780212 200501 1 010
A. Konsep Teori Penyakit

1. Review Anatomi dan Fisiologi

Organ reproduksi wanita terbagi atas organ eksterna dan interna. Organ
eksterna berfungsi dalam berfungsi dalam kopulasi, sedangkan organ interna
berfungsi dalam ovulasi, sebagai tempat fertilisasi sel telur dan perpindahan
blastosis, dan sebagai tempat implantasi, dapat dikatakan berfungsi untuk
pertumbuhan dan kelahiran janin (Wiknjosastro, 2007).
a) Organ Eksterna

Gambar 1. Organ Reproduksi Eksterna pada Wanita


1) Mons Pubis
Mons Pubis atau Mons Veneris adalah jaringan lemak subkutan berbentuk
bulat yang lunak dan padat serta merupakan jaringan ikat jarang diatas simfisis
pubis. Mons pubis mengandung banyak kelenjar sebasea dan ditumbuhi
rambut berwarna hitam, kasar dan ikal pada masa pubertas, yakni sekitar satu
sampai dua tahun sebelum memasuki masa haid. Fungsinya sebagai bantal
pada saat melakukan hubungan seksual.
2) Labia Mayora
Labia Mayora ialah dua lipatan kulit panjang melengkung yang menutupi
lemak dan jaringan ikat yang menyatu dengan mons pubis. Keduanya
memanjang dari mons pubis ke arah bawah mengelilingi labia mayora, meatus
urinarius, dan introitus vagina ( muara vagina ).
3) Labia Minora
Labia Minora, terletak diantara dua labia mayora, merupakan lipatan kulit
yang panjang, sempit dan tidak berambut yang memanjang ke arah bawah dari
bawah klitoris dan menyatu dengan fourchette. Sementara bagian lateral dan
anterior labia biasanya mengandung pigmen, permukaan medial labia minora
sama dengan mukosa vagina; merah muda dan basah. Pembuluh darah yang
sangat banyak membuat labia berwarna merah kemurahan dan memungkinkan
labia minora membengkak, bila ada stimulus emosional atau stimulus fisik.
4) Klitoris
Klitoris adalah organ pendek berbentuk silinder dan erektil yang terletak
tepat dibawah arkus pubis. Dalam keadaan tidak terangsang, bagian yang
terlihat adalah sekitar 6 x 6 mm atau kurang. Ujung badan klitoris dinamai
glans dan lebih sensitif daripada badannya. Saat wanita secara seksual
terangsang, glans dan badan klitoris membesar. Fungsi klitoris adalah
menstimulasi dan meningkatkan ketegangan seksualitas.
5) Prepusium Klitoris
Dekat sambungan anterior, labia minora kanan dan kiri memisah menjadi
bagian medial dan lateral.Bagian lateral menyatu di bagian atas klitoris dan
membentuk prepusium, penutup yang berbentuk seperti kait.Bagian medial
menyatu di bagian bawah klitoris untuk membentuk frenulum.Kadang-kadang
prepusium menutupi klitoris.
6) Vestibulum
Vestibulum ialah suatu daerah yang berbentuk lonong, terletak di antara
labia minora, klitoris dan fourchette.Vestibulum terdiri dari muara utetra,
kelenjar parauretra (vestibulum minus atau skene), vagina dan kelenjar
paravagina (vestibulum mayus, vulvovagina, atau Bartholin). Permukaan
vestibulum yang tipis dan agak berlendir mudah teriritasi oleh bahan kimia
(deodorant semprot, garam-garaman, busa sabun), panas, rabas dan friksi
(celana jins yang ketat).
7) Fourchette
Fourchette adalah lipatan jaringan transversal yang pipih dan tipis, terletak
pada pertemuan ujung bawah labia mayora dan minora di garis tengah
dibawah orifisium vagina. Suatu cekungan kecil dan fosa navikularis terletak
di antara fourchette dan himen.
8) Perineum
Perineum ialah daerah muscular yang ditutupi kulit antara introitus vagina
dan anus.Perineum membentuk dasar badan perineum.
b) Organ Interna
Gambar 2. Organ Reproduksi Interna pada Wanita
1) Ovarium
Sebuah ovarium terletak di setiap sisi uterus, di bawah dan di belakang
tuba falopi. Dua ligamen mengikat ovarium pada tempatnya, yakni bagian
mesovarium ligamen lebar uterus, yang memisahkan ovarium dari sisi dinding
pelvis lateral kira-kira setinggi krista iliaka antero superior, dan ligamentum
ovari proprium. Dua fungsi ovarium ialah menyelenggarakan ovulasi dan
memproduksi hormon.Saat lahir, ovarium wanita normal mengandung sangat
banyak ovum primordial. Ovarium juga merupakan tempat utama produksi
hormon seks steroid (estrogen, progesterone, dan androgen) dalam jumlah
yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan dan fungsi wanita
normal.
Hormon estrogen adalah hormone seks yang di produksi oleh rahim untuk
merangsangpertumbuhan organ seks seperti payudara dan rambut pubik serta
mengatur sirkulasi manstrubasi.Hormone estrogen juga menjaga kondisi
kesehatan dan elasitas dinding vagina. Hormon ini juga menjaga tekstur dan
fungsi payudara.pada wanita hamil hormon estrogen membuat puting
payudara membesar dan merangsang pertumbuhan kelenjar ASI dan
memperkuat dinding rahim saat terjadi kontraksi menjelang persalinan.
Hormon progesterone berfungsi untuk menghilangkan pengaruh hormone
oksitoksin yang dilepaskan oleh kelenjar pituteri. Hormon ini juga melindungi
janin dari serangan sel-sel kekebalan tubuh dimana sel telur yang di buahi
menjadi benda asing dalam tubuh ibu.hormon androgen berfungsi untuk
menyeimbangkan antara hormon estrogen dan progesterone.
2) Tuba Falopi (Tuba Uterin)
Panjang tuba ini kira-kira 10 cm dengan diameter 0,6 cm. Setiap tuba
mempunyai lapisan peritoneum di bagian luar, lapisan otot tipis di bagian
tengah, dan lapisan mukosa di bagian dalam. Lapisan mukosa terdiri dari sel-
sel kolumnar, beberapa di antaranya bersilia dan beberapa yang lain
mengeluarkan sekret. Lapisan mukosa paling tipis saat menstruasi. Setiap tuba
dan lapisan mukosanya menyatu dengan mukosa uterus dan vagina.
3) Uterus
Uterus adalah organ berdinding tebal, muscular, pipih, cekung yang
tampak mirip buah pir terbalik. Pada wanita dewasa yang belum pernah hamil,
ringan uterus ialah 60 gr. Uterus normal memiliki bentuk simetris, nyeri bila
ditekan, licin dan teraba padat. Tiga fungsi uterus adalah siklus menstruasi
dengan peremajaan endometrium, kehamilan dan persalinan.Fungsi-fungsi ini
esensial untuk reproduksi, tetapi tidak diperlukan untuk kelangsungan
fisiologis wanita.
4) Dinding Uterus
Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan: endometrium, miometrium, dan
sebagian lapisan luar peritoneum parietalis.

5) Serviks
Bagian paling bawah uterus adalah serviks atau leher.Tempat perlekatan
serviks uteri dengan vagina, membagi serviks menjadi bagian supravagina
yang panjang dan bagian vagina yang lebih pendek. Panjang serviks sekitar
2,5 sampai 3 cm, 1 cm menonjol ke dalam vagina pada wanita tidak hamil.
Serviks terutama disusun oleh jaringan ikat fibrosa serta sejumlah kecil
serabut otot dan jaringan elastis.
6) Vagina
Vagina, suatu struktur tubular yang terletak di depan rektum dan di
belakang kandung kemih dan uretra, memanjang dari introitus (muara eksterna
di vestibulum di antara labia minora vulva) sampai serviks. Vagina adalah
suatu tuba berdinding tipis yang dapat melipat dan mampu meregang secara
luas. Karena tonjolan serviks ke bagian atas vagina, panjang dinding anterior
vagina hanya sekitar 7,5 cm, sedangkan panjang dinding posterior sekitar 9
cm.
2. Definisi

Sectio Caesaria (SC) adalah suatu persalinan buatan di mana janin


dilahirkan melalui insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan
syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram (Prawihardjo,
2010). Sectio Caesaria merupakan suatu prosedur bedah untuk pelahiran janin
dengan insisi abdomen dan uterus. Kemajuan di bidang teknologi kedokteran
khususnya dalam metode persalinan ini jelas membawa manfaat besar bagi
keselamatan ibu dan bayi serta mempermudah proses persalinan sehingga banyak
ibu hamil yang lebih senang memilih jalan ini walaupun sebenarnya mereka bisa
melahirkan secara normal. SC merupakan metode operasi modern di abad 20 yang
berperan dalam menurunkan tingkat morbiditas dan mortalitas pada ibu bersalin.
Post partum adalah masa sesudah persalinan atau sering disebut masa
nifas untuk memulihkan kembali alat kandungan dengan lamanya 6 minggu
Bobak, 2010). Pada masa post partum ibu banyak mengalami kejadian yang
penting mulai dari perubahan fisik, psikologis meghadapi anggota keluarg baru
dan masa laktasi. Namun kelahiran bayi merupakan masa kritis bagi kesehatan ibu
kemungkinan timbul masalah atau penyulit, yang bila tidak segera ditangani
secara efektif akan membahayakan kesehatan atau mendatangkan kematian bagi
ibu (Syafrudin, 2009). Tahapan post partum dibagi menjadi tiga tahap yaitu
purperium dini, kepulihan dimana ibu diperbolehkan berdiri, berjalan – jalan dan
diperbolehkan melakukan hubungan suami istri apabila setelah 40 hari.
Purperium intermedial, yaitu kepulihan menyeluruh alat – alat genetalia yang
lamanya 6 minggu, Remote purperium, waktu yang diperlukan untuk puih dan
sehat sempurna terutama bila selama hasil dan waktu persalinan mempunyai
komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu – minggu, bulanan
bahkan tahunan.

3. Epidemiologi

World Health Organization (WHO) menetapkan standar rata-rata SC


disebuah negara adalah sekitar 5-15%per 1000 kelahiran didunia. Peningkatan
persalinan dengan SC diseluruh negara terjadi selama tahun 2007-2008 yaitu
110.000 perkelahiran diseluruh Asia (Sinhakounteya, 2010). Di Indonesia angka
kejadian SC mengalami peningkatan pada tahun 2000 jumlah ibu bersalin SC
47,22%, tahun 2001 sebesar 45, 19%, tahun 2002 sebesar 47,13%, tahun 2003
sebesar 46,87%, tahun 2004 sebesar 53,2%, tahun 2005 sebesar 51,59%, dan
tahun 2006 sebesar 53,68% dan tahun 2007 belum terdapat data yang signifikan
(Grace, 2007). Survey nasional pada tahun 2009, 921.000 persalinan dengan SC
dari 4.039.000 persalinan atau sekitar 22,8% dari seluruh persalinan. Berdasarkan
data Riskesdas tahun 2010, tingkat persalinan SC di Indonesia 15,3 % sampel dari
20.591 ibu yang melahirkan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir yang
diwawancarai di 33 provinsi (Kemenkes RI, 2010).

4. Etiologi

Ada beberapa penyebab yang sering terjadi dan harus dilakukan SC yaitu
partus lama, partus tak maju, panggul sempit, dan janin terlalu besar, jika tidak
dilakukan SC akan membahayakan nyawa ibu dan dan janin (Wiknjosastro, 2007).
Prawihardjo (2010) mengatakan indikasi persalinan SC yaitu panggul sempit,
tumor jalan lahir, stenosis serviks, plasenta previa, disproporsi sefalopelvik,
rupture uteri, kelainan letak, dan gawat janin, sedangkan menurut Mochtar (2011)
indikasi klasik yang dapat dikemukakan sebagai dasar SC yaitu plasenta previa
sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi ulteri mengancam, partus lama,
partus tak maju, distosia serviks, preeklamsi dan malpresentasi janin (letak
lintang, letak bokong, presentasi bahu dan muka, presentasi rangkap, gemeli).
Tindakan SC dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan
risiko pada ibu ataupun pada janin seperti proses persalinan normal lama atau
kegagalan proses persalinan normal, plasenta previa, panggul sempit, distosia
serviks, pre eklamsi berat, ruptur uteri iminen, perdarahan antepartum, ketuban
pecah dini, janin letak lintang, letak bokong, fetal distres dan janin besar melebihi
4.000 gram (Prawirhardjo, 2000).

5. Klasifikasi
a) Sectio cesaria transperitonealis profunda
Sectio cesaria transperitonealis propunda dengan insisi di segmen bawah
uterus. insisi pada bawah rahim, bisa dengan teknik melintang atau
memanjang. Keunggulan pembedahan ini adalah:
1) Pendarahan luka insisi tidak seberapa banyak.
2) Bahaya peritonitis tidak besar.
3) Perut uterus umumnya kuat sehingga bahaya ruptur uteri
dikemudian hari tidak besar karena pada nifas segmen bawah
uterus tidak seberapabanyak mengalami kontraksi seperti korpus
uteri sehingga luka dapat sembuh lebih sempurna.
b) Sectio caesaria klasik atau section cecaria korporal
Pada cectio cacaria klasik ini di buat kepada korpus uteri, pembedahan ini
yang agak mudah dilakukan,hanya di selenggarakan apabila ada halangan
untuk melakukan section cacaria transperitonealis profunda. Insisi
memanjang pada segmen atas uterus.

c) Sectio cacaria ekstra peritoneal


Section cacaria eksrta peritoneal dahulu di lakukan untuk mengurangi bahaya
injeksi perporal akan tetapi dengan kemajuan pengobatan terhadap injeksi
pembedahan ini sekarang tidak banyak lagi di lakukan. Rongga peritoneum
tak dibuka, dilakukan pada pasien infeksi uterin berat.
d) Section cacaria hysteroctomi
Setelah sectio cesaria, dilakukan hysteroktomy dengan indikasi:
1) Atonia uteri
2) Plasenta accrete
3) Myoma uteri
4) Infeksi intra uteri berat
6. Patofisiologi
Dalam masa post partum atau masa nifas, alat-alat genetalia interna
maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum
hamil. Perubahan-perubahan alat genetal ini dalam keseluruhannya disebut
involusi. Disamping involusi terjadi perubahan-perubahan penting lain yakni
memokonsentrasi dan timbulnya laktasi yang terakhir ini karena pengaruh
lactogenik hormon dari kelenjar hipofisis terhadap kelenjar-kelenjar mamae.
Adanya beberapa kelainan atau hambatan pada proses persalinan yang
menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal, misalnya plasenta previa
sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi cephalo pelvic, rupture uteri
mengancam, partus lama, partus tidak maju, pre-eklamsia, distosia serviks, dan
malpresentasi janin. Kondisi tersebut menyebabkan perlu adanya suatu tindakan
pembedahan yaitu Sectio Caesaria (SC). Dalam proses operasinya dilakukan
tindakan anestesi yang akan menyebabkan pasien mengalami imobilisasi sehingga
akan menimbulkan masalah intoleransi aktivitas. Adanya kelumpuhan sementara
dan kelemahan fisik akan menyebabkan pasien tidak mampu melakukan aktivitas
perawatan diri pasien secara mandiri sehingga timbul masalah defisit perawatan
diri. Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan, penyembuhan, dan
perawatan post operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada pasien. Selain
itu, dalam proses pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi pada dinding
abdomen sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan, pembuluh
darah, dan saraf - saraf di sekitar daerah insisi. Hal ini akan merangsang
pengeluaran histamin dan prostaglandin yang akan menimbulkan rasa. Setelah
proses pembedahan berakhir, daerah insisi akan ditutup dan menimbulkan luka
post op, yang bila tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan masalah risiko
infeksi.
7. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis SC menurut Doenges (2001), antara lain :
a) Nyeri akibat ada luka pembedahan
b) Adanya luka insisi pada bagian abdomen
c) Fundus uterus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus
d) Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan yang berlebihan
(lokhea tidak banyak)
e) Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-
800ml
f) Perubahan emosional dengan mengekspresikan ketidakmampuan
menghadapi situasi baru
g) Biasanya terpasang kateter urinarius
h) Auskultasi bising usus tidak terdengar atau samar
i) Pengaruh anestesi dapat menimbulkan mual dan
muntah
j) Pada kelahiran secara SC tidak direncanakan maka biasanya kurang
paham prosedur
k) Bonding dan Attachment pada anak yang baru dilahirkan.
8. Pemeriksaan Penunjang
a) Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan dari
kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada
pembedahan.
b) Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
c) Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
d) Urinalisis / kultur urine
e) Pemeriksaan elektrolit
f) Pemeriksaan EKG
9. Penatalaksanaan Farmakologi dan Non Farmakologi
a) Famakologi
Penatalaksanaan post SC menurut Manuaba (2012) sebagai berikut:
1) Pemberian cairan
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka pemberian
cairan perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar
tidak terjadi hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi pada organ tubuh
lainnya. Cairan yang biasa diberikan biasanya DS 10%, garam fisiologi
dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan tergantung kebutuhan. Bila
kadar Hb rendah diberikan transfusi darah sesuai kebutuhan.
2) Antibiotik yang dapat diberikan
a) Ampicilin 2 gr IV setiap 6 jam
b) Gentamicin 5mb/kg BB IV setiap 24 jam
c) Metonizaol 500 mg IV setiap 8 jam
3) Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
a) Supositoria ketopropen sup 2x/24 jam
b) Oral tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
c) Injeksi penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu
d) Obat-obatan lain, untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum
penderita dapat diberikan caboransia seperti neurobian I vit. C
2) Non Farmakologi
Penatalaksanaan post SC menurut Mochtar (2011) antara lain:
a) Awasi tanda-tanda vital tiap 15 menit selama 1 jam pertama, kemudian
tiap 30 menit jam berikutnya. Periksa tingkat kesadaran tiap 15 menit
sampai pasien sadar.
b) Pemberian cairan dan diet
Pemberian cairan perIV line biasanya dihentikan setelah penderita flatus
lalu dimulai pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian
minuman dengan jumlah yang sedikit pada 6 – 10 jam pasca SC berupa air
putih dan air teh. Pasien yang mengalami persalinan dengan cara SC perlu
diperhatikan tentang nutrisi diet tinggi kalori tinggi proteinnya untuk
menunjang proses penyembuhan. Nutrisi yang baik sangat penting untuk
mencapai keberhasilan penyembuhan luka. Asupan nutrisi berupa protein
dan vitamin A dan C, tembaga, zinkum, dan zat besi yang adekuat. Protein
mensuplai asam amino yang dibutuhkan untuk perbaikan jaringan dan
regenerasi.Vitamin A dan zinkum dibutuhkan untuk epitelialisasi, dan
vitamin C serta zinkum diperlukan untuk sistesis kolagen dan integrasi
kapiler. Zat besi digunakan untuk sintesis hemoglobin yang bersama
oksigen diperlukan untuk menghantarkan oksigen keseluruh tubuh. Nutrisi
sendiri juga dapat membantu tubuh dalam meningkatkan mekanisme
sistem imun, dan pada akhirnya akan membantu proses penyembuhan
luka. Zat – zat yang mengandung berbagai gizi yang sangat dibutuhkan
oleh tubuh ini biasanya terkandung pada ikan, telur, daging dan sebagainya
(Hanifah, 2009; Puspita dkk, 2011).
c) Manajemen nyeri
Teknik – teknik pengalihan untuk mengurangi nyeri biasanya dilakukan
latihan nafas dalam, mendengarkan musik, menonton televisi, membaca
buku, dan latihan relaksasi otot progresif (Price dan Wilson, 2006).
d) Mobilisasi dini dan bertahap
Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 – 10 jam pasca operasi. Lalu
hari kedua pasca SC pasien dapat didudukkan selama 5 menit dan
melakukan latihan nafas dalam. Kemudian posisi tidur supine bisa diubah
menjadi posisi semifowler. Selanjutnya selama berturut-turut hari demi
hari pasien dianjurkan belajar duduk selama sehari, belajar berjalan dan
kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke-5 pasca SC.
e) Jaga kebersihan balutan luka
Jaga agar balutan luka tetap bersih dan kering, jika mengganti balutan
gunakan teknik secara steril. Jahitan kulit (fasia) diangkat pada hari kelima
pasca SC.
B. Clinical Pathway
Tindakan SC

Pre operatif Intra operatif Post operatif

Krisis situasional Prosedur pembedahan


Luka post op Bedrest Masa laktasi
Ketidakpahaman Luka insisi
prosedur pembedahan Nyeri akut Hambatan Prolaktin menurun
Kontraksi uterus Kontak langsung dengan mobilitas
Ansietas patogen dan nonpatogen fisik
Balutan kotor Produksi ASI
Involusi tidak adekuat menurun
Resiko infeksi area
Resiko
Perdarahan pembedahan
infeksi Hisapan menurun

Resiko syok
Ketidakcukupan
produksi ASI
C. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a) Identitas Klien
Identitas klien yang perlu dikaji adalah meliputi, nama, umur (yaitu 19
tahun sampai 35 tahun), agama, jenis kelamin, alamat, suku bangsa, status
perkawinan, pekerjaan, pendidikan, nomor register, tanggal masuk rumah
sakit dan tanggal pengkajian
b) Riwayat Kesehatan
1) Diagnosa medik
2) Keluhan utama pda pasien post operasi pasien biasanya nyeri
3) Riwayat penyakit sekarang, rincian penyakit mulai dari awal sampai
saat pertama kali berhubungan dengan petugas kesehatan. Waktu
kejadian, cara (proses), tempat, suasana, manifestasi masalah,
perjalanan penyakit/masalah (riwayat pengobatan, persepsi tentang
penyebab dan penyakit)
4) Riwayat penyakit dahulu, penyakit kronis atau menular dan menurun
seperti jantung, hipertensi, DM, TBC, hepatitis, penyakit kelamin atau
abortus.
5) Riwayat penyakit keluarga, adakah penyakit keturunan dalam keluarga
seperti jantung, DM, HT, TBC, penyakit kelamin dan abortusyang
mungkin penyakit tersebut diturunkan kepada pasien.
c) Pola-pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan tata leksana hidup sehat
Kurangnya pengetahuan pasien tentang tindakan SC dan perawatan
post SC
2) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada pasien nifas biasanya terjadi peningkatan nafsu makan karena
dari keinginan untuk menyusui bayinya.
3) Pola aktifitas
Pada pasien post partum pasien dapat melakukan aktivitas seperti
biasanya, terbatas pada aktifitas ringan, tidak membutuhkan tenaga
banyak, cepat lelah, pada pasien nifas didapatkan keterbatasan
aktivitas karena mengalami kelemahan dan nyeri.
4) Pola eleminasi
Pada pasien post partum sering terjadi adanya perasaan susah kencing
selama masa nifas yang ditimbulkan karena terjadinya odema dari
trigono, yang menimbulkan infeksi dari uretra sehingga sering terjadi
konstipasi karena penderita takut untuk melakukan BAB.
5) Pola istirahat dan tidur
Pada pasien nifas terjadi perubahan pada pola istirahat dan tidur
karena adanya kehadiran sang bayi dan nyeri epis setelah persalinan
6) Pola hubungan dan peran
Peran pasien dalam keluarga meliputi hubungan pasien dengan
keluarga dan orang lain.
7) Pola penanggulangan sters
Biasanya pasien sering melamun dan merasa cemas
8) Pola sensori dan kognitif
Pola sensori pasien merasakan nyeri luka insisi pasca SC
9) Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaannya pasca SC
10) Pola reproduksi dan sosial
Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual
atau fungsi dari seksual yang tidak adekuat karena adanya proses
persalinan dan nifas
11) Pola tata nilai dan kepercayaan
Biasanya pada saat menjelang persalinan dan sesudah persalinan
pasien akan terganggu dalam hal ibadahnya karena harus bedrest total
setelah partus sehingga aktifitas pasien dibantu oleh keluarganya.
d) Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum, penampilan fisik atau kondisi pasien secara umum
akibat penyakit atau keadaan yang dialami pasien (baik, lemah, sakit
akut, sakit kronis, merintih, berkeringat, gemetar), ekspresi wajah,
postur dan posisi tubuh, kebersihan diri, gaya bicara, derajat
kesadaran, GCS, warna kulit, status nutrisi, mood/afek.
2) Tanda- tanda vital, meliputi tekanan darah, nadi, respiratory rate,
suhu, SpO2
3) Pengkajian fisik head to toe, meliputi kepala, wajah, mata, hidung,
mulut, telinga, leher, dada (jantung dan paru), abdomen, ekstemitas
(atas dan bawah), kulit, dan kuku.
d) Terapi obat yang digunakan
e) Pemeriksaan penunjang dan laboratorium
Meliputi pemeriksaan semua laboratorium, pemeriksaan radiologi dan
pemeriksaan penunjang lainnya
2. Diagnosis Keperawatan
No. Diagnosis Keperawatan
1. Ansietas (00146)
Definisi: Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai
respon otonom (sumber seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui
oleh individu) perasaan yang takut disebabkan oleh antisipasi terhadap
bahay. Hal ini merupakan isyarat kepawasdaan yang memperingatkan
individu akan adanya bahaya dan memampukan individu bertindak
menghadapi ancaman
2. Nyeri akut (00132)
Definisi: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan
berkaitan kerusakan jaringan aktual atau potensial dengan intensitas
ringan hingga berat, dengan berakhirnya dapat diprediksi kurang dari 3
bulan
3. Resiko infeksi area pembedahan (00266)
Definisi: Rentan terhadap invasi 15rganism patogenik pada area
pembedahan, yang dapat mengganggu kesehatan
Risiko syok (00205)
4. Definisi:rentang mengalami ketikcukupan aliran darah kedaerah tubuh,
yang dapat mengakibatkan disfungsi seluler yang mengancam jiwa,
yang dapat mengganggu kesehatan
5. Risiko infeksi (00004)
Definisi: Rentan mengalami invasi dan multiplikasi 15rganism
patogenik yang dapat menggangu kesehatan
6. Ketidakcukupan produksi ASI (00216)
Definisi: Ketidakadekuatan suplai ASI untuk mendukung status nutrisi
bayi atau anak
7. Hambatan mobilitas fisik (00085)
Definisi: Keterbatasan dalam gerakan fisik atau lebih ekstremitas secara
mandiri dan terarah
3) Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) Intervensi (NIC) PARAF
Keperawatan DAN
NAMA
TERANG
1. Ansietas (00146) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien NIC: Pengurangan kecemasan (5820) Rischa I. N
menunjukkan hasil: 1. Gunakan pendekatan yang tenang dan Afida
NOC: Tingkat kecemasan (1211) menyakinkan
No. Indikator Awal Tujuan 2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap
1 2 3 4 5 perilaku klien
1. (121101) Tidak dapat 3. Jelaskan semua prosedur termasuk sensasi
√ yang akan dirasakan yang mungkin akan
istirahat
dialami klien selama prosedur dilakukan
2. (121105) Perasaan √ 4. Pahami situasi krisis yang terjadi dari
gelisah perspektif klien
3. (121107) Wajah √ 5. Berikan informasi faktual terkait
tegang diagnosis, perawatan dan prognosis
4. (121116 ) Rasa takut 6. Berada di sisi klien untuk meningkatkan
yang disampaikan √ rasa aman dan mengurangi ketakutan
secara lisan 7. Dorong keluarga untuk mendampingi
klien dengan cara yang tepat
5. (121117) Rasa cemas 8. Berikan objek yang menunjukkan
yang disampaikan √ perasaan aman
secara lisan 9. Lakukan usapan pada punggung/leher
dengan cara yang tepat
10. Dorong aktivitas yang
Keterangan: tidak kompetitif secara tepat
1. Berat 11.Dengarkan klien
2. Cukup berat 12. Ciptakan atmosfer rasa
3. Sedang aman untuk meningkatkan kepercayaan
4. Ringan 13. Dorong verbalisasi
5. Tidak ada perasaan, persepsi dan ketakutan
14. Identifikasi pada saat
terjadi perubahan tingkat kecemasan
15. Berikan aktivitas
pengganti yang bertujuan untuk
mengurangi tekanan
16. Bantu klien
mengidentifikasi situasi yang memicu
kecemasan
17. Dukung penggunaan
mekanisme koping yang sesuai
18. Instruksikan klien
untuk menggunakan teknik relaksasi
19. Kaji untuk tanda verbal
dan non verbal kecemasan
2. Nyeri akut (00132) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien NIC: Manajemen nyeri (1400) Rischa I. N
menunjukkan hasil: 1. Identifikasi faktor penyebab nyeri dan Afida
NOC: Kontrol nyeri (1605) berikan informasi mengenai penyebab
No. Indikator Awal Tujuan nyeri
1 2 3 4 5 2. Beri dukungan kepada pasien untuk bisa
1. (160502) Mengenali √ menahan nyeri
kapan nyeri terjadi 3. Lakukan kompres hangat pada daerah
2. (160505) √
perut dan punggung
Menggunakan
4. Kendalikan faktor yang mempengaruhi
tindakan pengurangan pasien terhadap ketidaknyamanan
dengan analgesik (misalnya lingkungan tempat tidur,
3. (160504) pencahayaan dan suhu ruangan)
Menggunakan √ 5. Kolaborasi pemberian analgesik
pengurangan nyeri
tanpa analgesik
4. (160511) Melaporkan

nyeri yang terkontrol

Keterangan:
6. Tidak pernah menunjukkan
7. Jarang menunjukkan
8. Kadang-kadang menunjukkan
9. Sering menunjukkan
10. Secara konsisten menunjukkan
3. Resiko infeksi area Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien NIC: Kontrol infeksi: Intraoperatif (6545) Rischa I. N
pembedahan menunjukkan hasil: 1. Bersihkan debu dan Afida
(00266) permukaan mendatar dengan
NOC) Kontrol Risiko: Proses Infeksi (1924) pencahayaan di ruang operasi
N Tujuan 2. Monitor dan jaga suhu
Indikator Awal
o. 1 2 3 4 5 ruangan antara 20° dan 24° C
(192426) 3. Monitor dan jaga
1. Mengidentifikasi √ kelembaban relatif antara 20% dan
18actor risiko infeksi 60%
2. (192401) Mengenali √ 4. Monitor dan jaga aliran
18actor resiko individu udara yang berlapis
5. Batasi dan kontrol lalu
terkait infeksi lalang pengunjung
(192402) Mengetahui 6. Verifikasi bahwa
3. konsekuensi terkait √ antibiotik profilaksis telah diberikan
infeksi dengan tepat
(192405) 7. Lakukan tindakan-
4. Mengidentifikasi tanda √ tindakan pencegahan universal/
gejala infeksi Universal Precautions
(192415) Mencuci 8. Pastikan bahwa
5. √ personil yang akan melakukan tindakan
tangan
Keterangan: operasi mengenakan pakaian yang
1. Tidak menunjukan sesuai
2. Jarang menunjukan 9. Lakukan rancangan
3. Kadang-kadang menunjukan tindakan isolasi yang sesuai
4. Sering menunjuka 10. Monitor teknik isolasi
5. Secara konsisten menunjukan yang sesuai
11. Verifikasi keutuhan
kemasan steril
12. Verifikasi indikator
indikator sterilisasi
13. Buka persediaan
peralatan steril dengan menggunakan
teknik aseptik
14. Sediakan sikat, jubah,
dan sarung tangan, sesuai kebijakan
institusi
15. Bantu pemakaian jubah
dan sarung tangan anggota tim
16. Bantu mengenakan
pakaian pasien, memastikan
perlindungan mata, dan meminimalkan
tekanan terhadap bagian-bagian tubuh
tertentu
17. Pisahkan alat-alat yang
steril dan non steril
18. Monitor area yang
steril untuk menghilangkan kesterilan
dan penentuan waktu istirahat yang
benar sesuai indikasi
19. Jaga keutuhan kateter
dan jalur intravaskular
20. Periksa kulit dan
jaringan di sekitar lokasi pembedahan
21. Letakkan handuk basah
untuk mencegah penyatuan cairan
antimikroba
22. Oleskan salep
antimikroba pada lokasi pembedahan
sesuai kebijakan
23. Angkat handuk basah
24. Dapatkan kultur
jaringan jika diperlukan
25. Batasi kontaminasi
yang terjadi
26. Berikan terapi
antibiotik yang sesuai
27. Jaga ruangan tetap rapi
dan teratur untuk membatasi
kontaminasi
28. Pakai dan amankan
pakaian pakaian bedah
29. Angkat penutup beserta
barang-barang yang lain untuk
membatasi kontaminasi
30. Bersihkan dan sterilkan
instrumen dengan baik
31. Koordinasikan
pembersihan dan persiapan ruang
operasi untuk pasien berikutnya
4. Risiko syok (00205) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien NIC: Penegahan syok (4260) Rischa I. N
menunjukkan hasil: 1. Monitor Afida
NOC: Reaksi transfusi darah (0700) terhadap adanya respon kompensasi awal
No. Indikator Awal Tujuan syok (misalnya, tekanan darah normal,
1 2 3 4 5 tekanan nadi melemah, hipotensi
1. (070020) Napas √ ortostatik ringan, ( 15 sampai 25 mmHg),
pendek perlambatan pengisian kapiler,
2. (070022) Penurunan pucat/dingin pada kulit atau kubt
√ kemerahan, takipnea ringan, mual dan
tekanan darah
muntah, peningkatan rasa haus, dan
3. (070002) Demam √ kelemahan)
2. Monitor
4. (070008) Menggigil √ terhadap adanya tanda-tanda respon
5. (070017) sindroma inflamasi sistemik (misalnya.,
√ peningkatan suhu, takikardi, takipnea,
Hemoglobinuria
hipokarbia, leukositosis, leukopenia)
3. Monitor
Keterangan: terhadap adanya tanda awal reaksi alergi
1. Berat (misalnya, rhinitis, mengi, stridor,
2. Cukup berat dipsnea, gatal-gatal disertai kemerahan,
3. Sedang angiodema pada kulit, gangguan saluran
4. Ringan pencernaan, nyeri abdomen, diare, cemas
5. Tidak ada dan gelisah)
4. Monitor
terhadap adanya tanda awal dari
penurunan fungsi jantung (misalnya,
penurunan CO dan urin output,
peningkatan SVR dan PCWP, bunyi
crackles pada paru, bunyi jantung S, dan
S, dan takikardia)
5. Monitor status
sirkulasi (misalnya., tekanan darah, warna
kuht, temperatur kulit, bunyi jantung, nadi
dan irama, kekuatan dan kualitas nadi
perifer, dan pengisian kapiler)
6. Monitor
tekanan oksimetri
7. Monitor suhu
dan status respirasi
8. Monitor EKG
9. Monitor berat
badan, masukan dan keluaran setiap hari
10. Monitor hasil
laboratorium, terutama nilai Hgb dan Hct,
profil pembekuan, AGO, laktat, elektrolit,
kultur dan kimia darah
11. Monitor
parameter hemodinamik invasif
(misalnya., CVP, MAP dan saturasi
oksigen arteri/campuran vena}. Sesuai
kebutuhan
12. Monitor C02
dengan tonometry sublingal atau gastrik,
sesuai
13. Berikan dan
pertahankan kepatenan jalan napas, sesuai
kebutuhan
14. Berikan cairan
melalui IV dan atau oral, sesuai kebutuhan
5. Risiko infeksi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien NIC: Kontrol Infeksi (6540) Rischa I.N
(00004) menunjukkan hasil: 1. Bersihkan lingkungan dengan baik setelah Afida
NOC: Keparahan infeksi (0703) digunkan untuk setiap pasien
No. Indikator Awal Tujuan 2. Ganti peralatan perawatan per pasien
1 2 3 4 5 sesuai protokol institusi
1. (070301) Kemerahan √ 3. Anjurkan pengunjung untuk mencuci
2. (070303) Cairan/luka tangan pada saat memasuki dan

yang berbau busuk meninggalkan pasien
3. (070330) √ 4. Batasi jumlah pengunjung
Ketidakstabilan suhu 5. Pastikan teknik perawatan luka yang tepat
4. (070333) Nyeri √
NIC: Perawatan daerah (area) sayatan
5. (070331) Lethargy √ (3440)
1. Periksa daerah sayatan terhadap
6. (070332) Hilang nafsu √ kemerahan, bengkak, atau tanda-tanda
makan dehiscience atau eviserasi
7. (070326) Peningkatan √ 2. Monitor proses penyembuhan di daerah
jumlah sel darah putih sayatan
3. Monitor daerah sayatan untuk tanda-tanda
Keterangan: dan gejala infeksi
4. Berikan salep antiseptic
1. Berat
5. Gunakan pakaian yang sesuai untuk
2. Cukup berat melindungi sayatan
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada
6. Ketidakcukupan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien NIC: Konseling laktasi (5244) Rischa I. N
produksi ASI menunjukkan hasil: 1. Berikan Afida
(00216) NOC: Keberhasilan menyusui: Bayi (1000) informasi mengenai manfaat menyusui
No. Indikator Awal Tujuan baik fisiologis maupun psikologis
1 2 3 4 5 2. Tentukan
1. (100001) Kesejajaran keinginan dan motivasi ibu untuk
tubuh yang sesuai dan √ menyusui dan juga persepsi mengenai
bayi menempel menyusui
dengan baik 3. Beri
2. (100002) Genggaman kesempatan pada ibu untuk menyusui
tangan bayi]pada √ setelah melahirkan
areola dengan tepat 4. Jelaskan tanda
bahwa bayi membutuhkan makan
(misalnya, refleks rooting)
3. (100003) Kompresi 5. Bantu
pada areola dengan √ menjamin adanya kelekatan bayi ke dada
tepat dengan cara yang tepat (misalnya,
monitor posisi tubuh bayi dengan cara
4. (100013) Penempatan yang tepat, bayi memegang dada ibu serta

lidah yang tepat adanya kompresi dan terdengar suara
menelan)
5. (100006) Menyusui
6. lnstruksikan
minimal 5-10 menit √
posisi menyusui yang bervariasi
per payudara
(misalnya, menggendong bayi dengan
6. (100007) Minimal 8 posisi kepalanya berada di siku/
√ crosscradle, menggendong bayi di bawah
kali menyusui per hari
lengan pada sisi yang digunakan untuk
7. (100010) Penambahan menyusui /football hold, dan miring)
√ 7. Diskusikan
berat badan sesuai usia
kebutuhan untuk istirahat yang cukup,
8. (100011) Bayi puas hidrasi, dan diet yang seimbang

setelah makan 8. Dukung ibu
untuk memakai pakaian yang nyaman
dipakai dan BH yang mendukung
Keterangan:
1. Tidak adekuat
2. Sedikit adekuat
3. Cukup adekuat
4. Sebagian besar adekuat
5. Sepenuhnya adekuat
7. Hambatan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien NIC: Terapi latihan: Ambulasi (0221) Rischa I. N
mobilitas fisik menunjukkan hasil: 1. Beri pasien Afida
(00085) NOC: Ambulasi (0200) pakaian yang tidak mengekang
No. Indikator Awal Tujuan 2. Bantu pasien
1 2 3 4 5 untuk menggunakan alas kaki yang
1. (020002) Berjalan memfasilitasi pasien untuk berjalan dan
dengan langkah yang √ mencegah cedera
efektif 3. Sediakan
2. (020003) Berjalan tempat tidur berketinggian rendah, yang
√ sesuai
dengan pelan
4. Tempatkan
3. (020004) Berjalan saklar posisi tempat tidur di tempat yang
dengan kecepatan √ mudah dijangkau
sedang 5. Dukung pasien
untuk duduk di tempat tidur, di samping
4. (020005) Berjalan tempat tidur atau di kursi, sebagaimana

dengan cepat yang dapat ditoleransi pasien
5. (020006) Berjalan 6. Bantu pasien
√ untuk perpindahan, sesuai kebutuhan
menaiki tangga
7. Sediakan alat
6. (020007) Berjalan bantu (tongkat, walker, atau kursi roda)
√ untuk ambulasi, jika pasien tidak stabil
menuruni tangga

7. (020014) Berjalan

mengelilingi kamar

8. ( 020015 Berjalan

mengelilingi rumah

Keterangan:
1. Sangat terganggu
2. Banyak terganggu
3. Cukup terganggu
4. Sedikit terganggu
5. Tidak terganggu
D. Discharge Planning
1) Dianjurkan untuk tidak hamil selama kurang lebih 1 tahun
2) Anjurkan ibu untuk memberikan ASI eksklusif
3) Konsumsi air minum yang cukup dan konsumsi makanan yang bergizi
tinggi kalori dan tinggi protein
4) Jika bayi tidur usahakan ibu juga tidur
5) Jaga kebersihan luka post op sesuai anjuran tenaga kesehatan
6) Jaga kebersihan badan
7) Kehamilan selanjutnya hendaknya diawasi dengan pemeriksaan
antenatal yang baik dan bersalin di rumah sakit besar
DAFTAR PUSTAKA

Bobak. 2010. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC


Doengoes, M. 2001. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal / Bayi. Jakarta:
EGC.
Grace. 2007. Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.
Hanifah, L. 2009. Hubungan antara Status Gizi Ibu Hamil dengan Proses
Penyembuhan Luka di RB Pokasi Surakarta. Skripsi. Surakarta: Universitas
Sebelas Maret: 43-54.
Kemenkes RI, 2010. Riset Kesehatan Dasar 2010.
Manuaba. 2012. Buku AjarPatologi Obstreti untuk Mahasiswa Kebidanan.
Jakarta: EGC.
Mochtar, R. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi Edisi III.
Jakarta: EGC.
Prawihardjo, S. 2010. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Price, S. A. dan Wilson, L. M. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Edisi 6 Volume 1. Jakarta: EGC
Puspita, H. A., Basirun, A. U., dan Sumarsih, T. 2011. Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Penyembuhan Luka Post Operasi Sectio Caesarea. Jurnal
Ilmiah Kesehatan Keperawatan. 7(1):1-7.
Syafrudin. 2011. Organisasi Dan Manajemen Pelayanan Kesehatan Dalam
Kebidanan. Jakarta: Trans Info Media.
Wiknjosastro, H. 2007. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka