Askep THR
Askep THR
Daftar Isi............................................................................................................v
Daftar Gambar..................................................................................................vii
Daftar Tabel......................................................................................................viii
BAB I PENDAHULUAN
BAB IV PENUTUP
1.1 Kesimpulan............................................................................................... 36
1.2 Saran ........................................................................................................ 36
LAMPIRAN
1
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Total Hip Replacement (THR) merupakan tindakan operasi penggantian sendi hip akibat
terjadinya kerusakan kronis pada acettabulum dan caput femur dengan menggunakan implan
buatan yang telah dirancang khusus. Total hip replacement (THR) digunakan dengan indikasi
kerusakan sendi hip yang berhubungan dengan osteoarthritis (OA), rheumatoid arthritis (RA),
Avascular necrosis (AVN), hip bawaan displasia, cidera sendi traumatis, protrusio acetabuli,
2
arthritis terkait dengan penyakit paget’s disease, ankylosing spondilitis, juvenil rheumatoid
arthritis dan tumor tulang. Tujuan dari penggantian sendi panggul total untuk meningkatkan
pergerakan sendi panggul, mengurangi nyeri, mengganti sendi panggul yang mengalami
keruksakan, memperbaiki jaringan lunak, serta meningkatkan kemampuan sendi panggul secara
fungsional (Sella,D.,dkk,2017).
Angka kejadian rata-rata total hip replacement adalah satu dari 2266 orang di Amerika
Serikat. Pada tahun 2003, terdapat 200.000 orang telah dilakukan operasi total hip replacement,
100.000 partial hip replacement, dan 36.000 revisis hip replacement .Total hip replacement
primer sering terjadi pada pasien lansia dengan rentan usia 60-65 tahun atau sangat jarang untuk
pasien yang lebih muda. Pada usia muda sekitar usia 20 tahun, THR merupakan alternatif
apabila sendi hip sudah tidak berfungsi normal. Jadi tindakan ini dapat membantu pasien post
operasi THR. Salah satu tindakan tersebut dapat berupa terapi latihan (Tsertsvadze A, 2014).
Pada kasus ini perlu adanya fisioterapi yang bertujuan untuk membantu memulihkan keadaan
pasie. Pasien THR akan mengalami penurunan kemandirian dalam mobilisasi di tempat tidur,
aktifitas dasar, aktifitas fungsional, pemindahan tubuh, ambulasi serta kualitas hidupnya akan
mengalami penurunan. Maka dari itu terapi latihan untuk pasien setelah THR dibutuhkan
dengan tujuan utama dari rehabilitasi, yaitu untuk mengoptimalkan fungsi anggota gerak pasca
operasi pada pasien dan latihan harus disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan
individu pasien (Tsertsvadze A, 2014).
1.2 Epidemiologi
Seiring dengan pembangunan nasional yang berkembang pesat terutama di bidang
kesehatan, kualitas kesehatan penduduk juga meningkat dan berdampak pada tingginya Usia
Harapan Hidup (UHH) manusia. Menurut World Health Organization (WHO) 2013,
diperkirakan 10% hingga 15% jumlah orang dewasa dengan usia diatas 60 tahun memiliki
tingkat OA tertentu, dengan prevalensi wanita lebih tinggi dibandingkan pria. Berdasarkan data
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi penyakit sendi di Indonesia berdasar
3
diagnosis atau gejala 24,7 %dengan angka kejadian tertinggi di Nusa Tenggara Timur 33,1 %,
sedangkan prevalensi penyakit sendi di Jawa Tengah berdasar diagnosis atau gejala 25,5 %. Di
usia > 65 tahun menunjukkan 50% yang memiliki gambaran osteoarthritis dengan prevalensi
10% pria dan 18% wanita yang menunjukkan gejala klinis osteoarthritis, sedangkan 10%
mengalami disabilitas akibat osteoarthritis.
Prevalensi yang terjadinya antara lain panggul (5,5%), lutut (7,1%), dan tangan (4,3%).
Osteoarthritis panggul merupakan penyakit dimana proporsi kejadiannya rendah yang dapat
beresiko seumur hidup sebesar 25% (Murphy et al., 2010). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
osteoarthritis panggul dan lutut memiliki keterkaitan mengenai peningkatan angka mortalitas
.Pada ekstremitas bawah, panggul merupakan bagian sendi yang dipengaruhi oleh osteoarthritis
paling umum kedua setelah lutut (Pereira et al., 2011)
1.3 Tujuan
Untuk mengembalikan fungsi normal dalam pengurangan nyeri, meningkatkan kekuatan
otot, menambah luas gerak sendi, mempersiapkan untuk jalan dan mengurangi spasme dengan
menggunakan modalitas terapi latihan seperti straching exercise, active resisted exercise,
resisted active movement dengan quadriceps bench dan hold rilex.
1.4 Manfaat
1. Untuk pasien
Dapat mengatasi permasalahan yang timbul pada penderita Total Hip Replacement (THR)
2 Untuk masyarrakat
Dapat memberikan informasi kepada pembaca dan masyarakat tentang peran fisioterapi
pada kasus pasca operasi Total Hip Replacement (THR)
1 Untuk penulis
Dapat memperluas wawasan dan menambah pengetahuan mengenai hal-hal yang beerkaitan
dengan penatalaksanaan fisioterapi pada kasus pasca operasi Total Hip Replacement (THR)
4
b. Art. Simfisis pubis. Hubungan antara kedua os pubis. Di dalamnya ada suatu kavum yang
disebut pseudokrurisberupa kartilago dinamakan fibrokartilago interpubis (Syaifuddin,
2011).
c. Artikulasi koksae, merupakan enarthrosis sferoidea yang diperkuat ligamentum
illeofemorale sehingga kaput femoris dapat keluar dari lekuknya dan berada di bawah os
ileum (Syaifuddin, 2011).
2.2 Definisi
Total Hip Replacement adalah operasi pergantian pada sendi panggul. Operasi ini di
indikasikan ke beberapa penyakit misalnya radang sendi, arthritis, kanken, fraktur femur
proksimal dll. Operasi ini dilakukan apabila sebuah penyakit sudah tidak bisa ditangani
lagi oleh pengobatan non operatif. Dalam operasi ini permukaan sendi yang rusak akan
diangkat dan digantikan dengan implant buatan yang nantinya sebagai pengganti dari
sendi yang telah diangkat (Bose, V. C. dkk., 2010).
2.3 Klasifikasi
Klasifikasi THR pada penggunaan implan dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu metal,
polimer, dan keramik
a. Metal
Metal memiliki cakupan yang luas dalam aplikasiannya, diantaranya fixasi patah tulang,
penggantian tulang, external spints, braces dan traction apparatus. Modulus elastis dan
titik luluh digabungkan dengan keuletan metal membuat material jenis ini cocok untuk
menopang beban tanpa mengakibatkan deformasi. Tiga material yang biasa digunakan
adalah Titanium, Stainless Steel dan Paduan Cobalt-Chromium. Titanium dan paduan
Titanium memiliki kelebihan yaitu modulus elastisitas rendah dan resistansi korosi
tinggi, selain itu juga adanya lapisan oksida pada Titanium memiliki pengaruh yang
sangat signifikan terhadap pengintegrasian metal ini pada jaringan tulang.
b. Polimer
5
Polimer adalah rangkaian panjang dari material dengan berat molekul tinggi yang terdiri
dari pengulangan unit monomer. Polimer memiliki sifat fisik yang mendekati jaringan
halus, oleh karena itu polimer banyak digunakan untuk menggantikan kulit, tendon,
tulang rawan, pembuluh darah dll.
c. Keramik
6
2.5 Indikasi dan Kontraindikasi
1. Indikasi
Penggantian total pinggul dilakukan paling umum pada penyakit arthritis parah yang
progresif pada sendi pinggul. Tipe yang paling umum dari arthritis yang menjurus pada
penggantian total pinggul adalah arthritis degeneratif (osteoarthritis) dari sendi pinggul.
Tipe arthritis ini umumnya terlihat dengan sendi pinggul yang menua, kelainan sejak
kelahiran, atautrauma sebelumnya pada sendi pinggul. Kondisi-kondisi lain yang
menjurus pada penggantian total pinggul termasuk fraktur yang terjadi pada area di
sekitar sendi pinggul, rheumatoidarthritis, dan kematian (aseptic necrosis) dari tulang
pinggul. Necrosis tulang pinggul dapat disebabkan oleh patah tulang dari pinggul, obat-
obat (seperti alkohol atau prednisone danprednisolone), penyakit-penyakit gangguan
pada sistem imun seperti Systemic LupusErythematosus, dan kondisi-kondisiseperti
transplantasi ginjal.
Nyeri kronis hebat yang progresif bersama dengan perburukan dari fungsi harian
yang termasuk berjalan, menaiki tangga-tangga, dan bahkan bangun dari posisi duduk,
akhirnya menjadi indikasi untuk mempertimbangkan penggantian total pinggul.
Penggantian umumnya dipertimbangkan setelah nyeri menjadi begitu parah sehingga ia
menghalangi fungsi yang normal meskipun dengan penggunaan obat-obat anti
peradangan dan/atau nyeri.Penggantian total sendi pinggul adalah prosedur memilih,
yang berarti bahwa ia adalah opsi (pilihan) yang dipilih diantara alternatif-alternatif
lain.Biasanya tindakan ini dilakukan apabila pemberian analgetik atau tindakan lain
sudah tidak mampu mengatasi nyeri yang amat sangatpada pasien
2. Kontraindikasi THR atau Total Hip Replacement antara lain:
a. Infeksi aktif dalam sendi
b. Infeksi sistemik atau sepsis.
c. Neuropati pada sendi
d. Tumor malignan yang tidak memungkinkan dilakukannya fiksasi komponen
e. Infeksi yang terlokalisir, khususnya infeksi saluran kemih, kulit, dada, atauinfeksi
lokal lainnya.
f. Absen atau insufisiensi relatif otot-otot abduktor.
g. Defisit neurologis progresif.
2.6 Patofisiologi
Pada dislokasi kongenital terdapat ketidakstabilan pinggul pada bayi dan anak dengan
kondisi pinggul yang stabil dan berefleksi sebagian. Terdapat banyak faktor yanng
menyebabkan kondisi dislokasi kongenital seperti faktor genetik, hormonal, malposisi
intrauterine dan faktor pasca-kelahiran dari pertolongan persalinan (Helmi, 2012).
7
Pada osteomilitis akut yang menginvasi metafisis, intrakapsular sendi pinggul juga
mengalami infeksi. Kemudian kaput dan kepal femur megalami kerusakan dan perubahan
posisi akibat lepasnya kepala femur dari mangkok asetabulum (Helmi, 2012).
Pasien yang pernah menderita serebral palsi, poliomielitis, dan mieolomeningokel akan
mengalami kondisi paralisis yang memberikan ketidakseimbangan pada otot sehingga terjadi
abduksi pinggul. Pada kondisi selanjutnya trokhanter mayor tidak dapat berkembang kemudian
leher femur bengkok dan akhirnya keluar dari pinggul sehingga terjadi dislokasi pinggul,
sehingga berdasarkan patofisiologi masing-masing penyebab perlu dilakukannya total hip
replacement (Helmi, 2012).
8
Permukaan sendi yang kasar karena degradasi dan rawan sendi menyebabkan munculnya
krepitasi yang terdengar seperti suara gesekan permukaan tulang yang kasar pada saat sendi
digerakkan (Kuntono, 2011).
3. Kelemahan Otot Quadriceps dan Atrofi Otot Sekitar Sendi Lutut
Terjadi karena aktivasi nociceptor pada tanduk belakang medulla spinalis yang menginhibisi
sel motor neuron pada tanduk depan medulla spinalis. Otot quadriceps mendapat persarafan
somatik dari segmental lumbal 4 yang sesegmen dengan persarafan somatik sensoris sendi
lutut. Apabila nyeri dan kekakuan sendi berlangsung lama, maka otot quadriceps akan
menunjukan atrofi (Kuntono, 2011).
2. Deformitas
Osteoartritis lutut yang berat akan menyebabkan destruksi kartilago, tulang, dan jaringan.
Deformitas varus terjadi bila adanya kerusakan pada kompartemen medial dan kendornya
ligamentum collateral lateral, serta variasi subluksasi karena perpindahan titik tumpu pada
lutut atau diakibatkan oleh pembatasan adanya osteofit yang besar (Kuntono, 2011).
3. Instabilitas Sendi Lutut
Instabilitas ini disebabkan oleh berkurangnya kekuatan otot sekitar sendi lutut dan juga oleh
kendornya ligamen sekitar lutut.Selain itu juga terjadi akibat menurunnya fungsi
propioseptor di dalam merespon reaksi artrokinematik pada setiap perubahan posisi
(Kuntono, 2011).
Gejala klinis di atas dapat dikategorikan menjadi beberapa parameter menurut indeks
WOMAC. WOMAC (Western Ontario and McMaster Universities Osteoarhtritis Index)
adalah indeks yang digunakan untuk menilai keadaan pasien dengan OA pada lutut. Total 24
parameter yang terdiri dari nyeri, kekakuan (stiffness), fungsi fisik dan sosial dievaluasi
menggunakan WOMAC. WOMAC juga dapat digunakan untuk memantau perkembangan
penyakit atau untuk menentukan efektivitas obat anti-rematik (Kusumawati, 2003). Semakin
tinggi nilai yang diperoleh menunjukkan besarnya keterbatasan fungsional pasien sedangkan
nilai yang rendah menunjukkan perbaikan kemampuan fungsional. Parameter WOMAC
antara lain :
1. Nyeri
a. Berjalan kaki
b. Menaiki anak tangga
c. Aktivitas pada malam hari
d. Istirahat
e. Menumpu
2. Kekakuan
a. Kekakuan pagi hari (morning stiffness)
b. Kekakuan sepanjang hari
3. Fungsi Fisik
a. Kesulitan turun tangga
b. Kesulitan naik tangga
c. Kesulitan dari posisi duduk ke berdiri
d. Kesulitan berdiri
9
e. Kesulitan duduk di lantai
f. Kesulitan berjalan pada permukaan datar
g. Kesulitan masuk dan keluar dari kendaraan
h. Kesulitan berbelanja
i. Kesulitan memakai kaos kaki
j. Kesulitan berbaring di tempat tidur
k. Kesulitan melepaskan kaus kaki
l. Kesulitan bangun dari tempat tidur
m. Kesulitan masuk dan keluar kamar mandi
n. Kesulitan masuk dan keluar toilet
o. Kesulitan duduk
p. Kesulitan melakukan tugas-tugas berat
q. Kesulitan melakukan tugas-tugas ringan
Parameter di atas masing-masing diberi skor 0-4 dengan indikasi skor sebagai berikut:
Skor 0 = Tidak ada
Skor 1 = Ringan
Skor 2 = Sedang
Skor 3 = Berat
Skor 4 = Sangat Berat
2.9 Penatalaksanaan
10
Penatalaksanaan pre operasi pada kasus THR sangat penting dilakukan. Hal tersebut bertujuan
untuk membantu dalam menyusun perencanaan manajemen dan perawatan pasien setalah
melakukan operasi nantinya. Selain itu manfaat dilakukannya manajemen pre operasi adalah
untuk menekan lamanya tinggal di rumah sakit, menurunkan kecemasan klien, meningkatkan
kepercayaan diri klien, dan membangun hubunngan saling percaya pada perawat dan ahli fisio
terapi sejak awal sebelum dilakukan operasi. Manajemen pre operasi juga diharapkan dapat
meingkatkan kualitas hidup dan psikologis klien dalam menghadapi operasi. Penjelasan dan
pendidikan kesehatan secara verbal merupakan cara terbaik dalam memberikan penjelasan
kepada klien. Maka dari itu manajemen pre operasi merupakan bagian penting dalam
penatalaksanaan pada kasus THR sebelum melakukan operasi penggantian panggul. Dalam
melaksanakan manajemen pre operasi dilaksanakan sebagai berikut:
1. Tahap Pengkajian
a) Rentang gerak yang dapat dilakukan klien
b) Kekuatan otot
c) Pengkajian sirkulasi
d) Penilaian kemampuan mobilisasi
e) Kemampuan fungsi panggul klien
2. Tahap Penatalaksanaan
a) Pendidikan kesehatan mengenai jalannya operasi, kontraindikasi pacsa operasi,
tujuan dan harapan dilakukannya operasi, adaptasi fungsi panggul pasca operasi, dan
jika klien merokok anjurkan untuk berhenti merokok.
b) Melakukan latihan mobilisasi, melakukan latihan posisi tidur pasca operasi,
meakukan latihan mobilisasi pasca operasi menggunakan alat bantu.
Penatalaksanaan pasca operasi pada kasus THR bertujuan untuk mengembalikan fungsi
mobilisasi klien pada derajat yang setinggi-tingginya sebelum klien keluar dari rumah sakit.
Selain itu penatalaksanaan pasca operasi dapat meningkatkan kekuatan otot dan rentang gerak
yang dapat dijangkau oleh klien. Prosedur pembedahan yang dilakukan dapat menjadikan klien
mengalammi atrofi otot sehingga kehilangan kekuatan karena hilangnya fungsi mobilisasi
selama pemulihan pasca operasi dan pelonggaran protease pada panggul. Penatalaksanaan
pasca operasi juga bertujuan untuk mengurangi rasa sakit akibat prosedur pembedahan.
Penatalaksanaan pasca operasi melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
11
f) pelatihan duduk di kursi dengan waktu maksimal 1 jam yang disesuaikan dengan
kondisi klien dan konsentrasi berat badan yang ditentukan oleh ahli bedah.
2. Penatalaksanaan 2 hari pasca operasi
a) Melanjutkan latihan mobilisasi di tempat tidur
b) Melanjutkan latihan duduk di kursi
c) Menilai rentang gerak klien
d) Melanjutkan teknik relaksasi dan distraksi pada nyeri.
3. Penatalaksanaan 3 hari pasca operasi
a) Melanjutkan latihan mobilisasi di tempat tidur
b) Mengurangi bantuan pada saat klien melakukan mobilisasi
c) Menilai perkembangan rentang mobilisasi
d) Melakukan latihan berjalan dengan alat bantu
e) Memberikan pendidikan dan evaluasi penngetahuan serta kemampuan klien dalam
melakukan mobilisasi
f) Memberikan pendidikan kepada klien untuk melakukan mobilisasi yang sudah
dilatihkan secara mandiri di rumah sampai dengan 6 minggu
4. Penatalaksanaan 6 minggu pasca operasi
a) Klien ditindak lanjuti oleh ahli bedah
b) Pengkajian oleh ahli bedah terhadap perkembangan pasca operasi
c) Menentukan berbagai gerakan yang diizinkan di pinggul
d) Memberikan latihan mobilisasi tanpa alat bantu
5. Penatalaksanaan setelah 6 minggu pasca operasi
a) Melatih klien untuk melakukan ROM awal
b) Melatih klien terhadap keseimbangan, kesetabilan, dan daya tahan saat berjalan
c) Melatih koordinasi neurologis klien
d) Melatih kecepatan dan ketepatan klien saat berjalan
e) Memberikan latihan fungsional pada pingggul klien
Suatu proses keperawatan dengan menggunakan metode sistematis dan holistik dengan
pengetahuan keterampilan seorang perawat professional yang digunakan dalam membantu
klien dalam mengatasi masalah kesehatan melalui serangkaian proses dokumentasi keperawata,
meliputi :
1. Pengkajian
Tahap awal dari poses dokumentasi keperawatan dengan mengumpulkan data
sistematis klien bertujuan untuk menentukan status kesehatan klien dan mengidentifikasi
12
masalah klien. Dalam pengkajian ini meliputi Data Subyektif, Data Obyektif, Keluhan
Utama, Riwayat Kesehatan (sekarang, dulu, dan keluarga) (Potter & Perry, 2005)
2. Diagnosa
Tahap kedua dari proses dokumentasi keperawatan bertujuan menilai secara klinis
tentang respon actual individu atau potensional klien, keluarga dan komunitas terhadap
masalah kesehatannya. Diagnosa ini akan berubah menurut respon klien yang diberikan oleh
perawat (Potter & Perry, 2005).
3. Intervensi
Dilakukan setelah perumusan diagnosa, intervensi ini adalah proses perencanaan
dalam mengembangkan strategi untuk mencegah, mengurangi dan mengkoreksi masalah
yang muncul pada diagnose bertujuan membantu pencapaian tujuan yang diharapkan.
Didalam intervensi ini dalam penulisan criteria hasil harus berdasarkan S (Spesifik), M
(Measurreable), A (Achievable), R (Reasonable), T (Time) menurut Nursing Intervention
Classification (Potter & Perry, 2005).
4. Implementasi
Tahapan keempat setelah dilakukan intervensi atau perencanaan keperawatan, dalam
tahap ini dilakukan pengaplikasian dari rencana asuhan keperawatan untuk mencapai tujuan
yang ditentukan dan membuat kemajuan ke arah yang spesifik (Potter & Perry, 2005)
5. Evaluasi
Tahapan akhir dari proses keperawatan untuk menilai dan mengukur respon klien
terhadap tindakan keperawatan dan kemajuan klien ke arah pencapaian tujuan (Potter &
Perry, 2005)
13
keluarga dibawa kerumah sakit. Pada tanggal 30 oktober 2015 pasien dilakukan
operasi Total Hip Replacemen (THR) dengan indikasi fraktur negleted close fracture
neck femur dekstra akibat osteotritis grade IV.
4. Riwayat kesehatan terdahulu:
a. Penyakit yang pernah dialami:
Hipertensi, diabetes, dan nyeri di daerah persendian sejak 4 tahun yang lalu.
b. Alergi (obat, makanan, plester, dll): -
c. Imunisasi: -
d. Kebiasaan/pola hidup/life style: -
e. Obat-obat yang digunakan: -
5. Riwayat penyakit keluarga:
Pasien mengatakan tidak ada keluarga menderita penyakit yang sama dengan pasien,
dan apabila ada keluarga yang sakit pasien langsung berobat ke puskesmas.
Genogram:
Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Menikah
: Cerai
//
: Anak kandung
: Anak angkat
: Anak kembar
: Pasien
: Meninggal
: Tinggal serumah
14
Tn.S dan keluarga mengikuti segala prosedur dan mamatuhi segala saran dari petugas
kesehatan di Rumah sakit tanpa mengeluh. Tn. S mengatakan ingin segera cepat sembuh
karena Tn.S merasa lama memiliki penyakit ini. Tn.S dan keluarga meyakini bahwa sakit
yang sedang diderita sekarang adalah takdir dari Allah SWT. Tn.S yakin akan sembuh
dengan ijin Allah SWT. Tn.S dan keluarga selalu berdo’a agar segera diberikan kesembuhan.
Interpretasi :
2. Pola nutrisi/ metabolik (ABCD) (saat sebelum sakit dan saat di rumah sakit)
Antropometry
Pasien menghabiskan makan makan ¾ porsi makanan yang disediakan oleh rumah sakit, makanan
terdiri dari sayur,ikan dan nasi, jarang makan buah-buahan. Sehari pasien minum sekitar 7 gelas air
putih dan terkadang pasien minum air teh.
Interpretasi :
Biomedical sign :
Interpretasi :
Clinical Sign :
Interpretasi :
15
Kebiasaan makan :
Kebiasaan minum :
Kebutuhan Cairan :
Interpretasi :
Balance cairan:
Pasien terpasang kateter dengan warna urin berwarna kuning jernih, urin output
sekitar 700/800 ml/hari. Pasien mengatakan BAB sekali dalam sehari dengan feses
lunak.
Interpretasi:
4. Pola aktivitas & latihan (saat sebelum sakit dan saat di rumah sakit)
16
Makan / minum
Toileting
Berpakaian
Berpindah
Ambulasi / ROM
Ket: 0: tergantung total, 1: dibantu petugas dan alat, 2: dibantu petugas, 3: dibantu alat,
4: mandiri
Status Oksigenasi :
Fungsi kardiovaskuler :
Terapi oksigen :
Interpretasi :
5. Pola tidur & istirahat (saat sebelum sakit dan saat di rumah sakit)
Istirahat dan Tidur Sebelum sakit Saat di rumah sakit
Durasi
Gangguan tidur
Keadaan bangun
tidur
Lain-lain
Interpretasi :
Pasien mengatakan bisa tidur dengan baik, makam hari tidur sekitar 6 jam dan siang
tidur 1-2 jam
Interpretasi :
Ideal diri :
Harga diri :
Peran Diri :
17
Identitas Diri :
Interpretasi :
Fungsi reproduksi
Interpretasi :
Interpretasi :
Interpretasi :
Sistem nilai & keyakinan
Interpretasi :
Keadaan umum:
Interpretasi :
1. Kepala
Tidak ada lesis dan rambut terlihat rapi
2. Mata
Mata klien secara umum normal, bentuk simetris, tidak ada pembengkakak sekitar
mata,penglihatan normal lebih dari 5 meter, tidak ada nyeri tekan sekitar mata
3. Telinga
Telinga klien simetris, tidak menggunakan alat bantu dengar, teredapat nyeri tekan
pada daerah telinga luar sinistra, telinga kanan terlihat bersih dan tidak ada gangguan,
telinga kiri terdapat serumen dan kemrahan, terdapat gangguan pada telinga kiri
namun dapat ditoleransi
4. Hidung
Hidung klien simetris dan masa, suara nafas normal, tidak da suara napas tambahan
5. Mulut
18
Tidak da pendarahan atau radang gusi, tidak ada tanda-tanda infeksi pada mulut
6. Leher
Bentuk leher pasien simetris, kurus dan panjang.
7. Dada
Bentuk dada klien normal
Inspeksi : Pengembangan dada simetris
Palpasi :
Perkusi : timpani
Auskultasi :
Paru
Inspeksi :
8. Abdomen
Abdomen simetris dan tidak ada nyeri tekan.
9. Genetalia dan Anus
Tidak ada nyerri saat BAB, tidak terdapat hemoroid maupun infeksi pada anus
10. Ekstremitas
Ekstremitas atas
-
Ekstremitas bawah
Ekstermitas kanan bawah terasa nyeri saat digerakkan dengan skala 5 (kekuatan
kontraksi yang penuh)
11. Kulit dan kuku
Kulit dan kuku tidak sianosis
12. Keadaan lokal
V. Terapi
19
Deskripsi Terapi
20
21
VI. Pemeriksaan Penunjang & Laboratorium
Hematology :
Indeks eritrosit
MCH 28,2
MCV
MCHC 81,9
34,4
Basofil
Eosinofil 0
Batang 2
Segmen 0
Limfosit 64
Monosit 27
Kimia klinik
AST (SGOT)
ALT (SGPT) 24
Ureum 25
Kreatinin 19
22
Natrium (Na) 110
3.2
23
Pemeriksaan Radiologi
……………, ….................................
Pengambil Data,
(_________________________________________)
NIM.
24
ANALISA DATA
1.
DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Ֆ
1. Nyeri akut berhubungan dengan agens -
cedera fisik ditandai dengan keluhan
tentang intensitas menggunakan standar
skala nyeri. 20/02/2018
Ns Muti
Ֆ
2. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan -
dengan nyeri ditandai dengan penurunan
rentang gerak 20/02/2018
Ns Muti
Ֆ
3. Resiko infeksi berhubungan dengan -
penyakit kronis ditandai dengan kurang
pengetahuan untuk menghindari
pemajanan patogen
20/02/2018
Ns Muti
25
PERENCANAAN KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan agens Tujuan : 1. Bina hubungan saling percaya
cedera fisik ditandai dengan keluhan 2. Kaji nyeri secara komprehensif
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
tentang intensitas menggunakan standar (penyebab, lokasi, karakteristik, durasi,
1x24 jam diharapkan nyeri dapat berkurang.
skala nyeri. frekuensi, kualitas, intensitas, skala,
nyeri)
3. Berikan posisi yang nyaman
Kriteria Hasil : 4. Anjurkan klien untuk kompres hangat
5. Kolaborasi dengan tim medis pemberian
1. Skala nyeri turun analgetik (keterolac)
2. Wajah klien tampak rileks
26
Kriteria Hasil :
27
3. Resiko infeksi berhubungan dengan Tujuan : 1. Bersihkan lingkungan setelah dipakai
penyakit kronis ditandai dengan kurang pasien lain
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
pengetahuan untuk menghindari 2. Instrusikan pada pengunjng untuk
1x24 jam diharapkan pasien dapat mengurangi
pemajanan patogen mencuci tangan saat berkunjung dan
terjadinya infeksi.
setelah berkunjung meninggalkan pasien
3. Pertahankan lingkungan aseptic selama
pemasangan alat
Kriteria Hasil : 4. Berikan terapi antibiotic bila perlu
5. Monitor tanda gejala infeksi sistemik dan
1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi local
2. Mendeskripsikan proses penularan 6. Berikan perawatan pada arean epidema
penyakit, factor yang mempengaruhi 7. Instruksikan pasien untuk minum anti
penularan serta penatalaksanaannya. biotik sesuai resep
3. Menunjukkan kemampuan untuk 8. Ajarkan cara menghindari infeksi
mencegah timbulnya infeksi
4. Jumlah leukosit dalam batas normal
5. Menunjukkan perilaku hidup sehat
28
CATATAN PERKEMBANGAN
29
20/02/2018
1. Membina hubungan saling percaya
Jam 17.00 R: klien dan keluarga kooperatif
2. Mengkaji nyeri secara komprehensif (penyebab, lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas,
skala, nyeri)
R : klien dan keluarga kooperatif dengan pengkajian nyeri yang dilakukan
Jam 17.05 3. Memberikan posisi yang nyaman
R: klien merasa lebih nyaman
4. Menganjurkan klien untuk minum air hangat
R: Klien berperan kooperatif
5. Menganjurkan klien untuk memakan makanan yang bertekstur lembut
Ֆ
R: Klien dan keluarga berperan aktif
6. Melakukan kolaborasi dengan tim medis pemberian analgetik (ketorolac 3x30 mg)
Jam 17.10
R: Klien koopereatif
Ns Muti
Jam 17.15
Jam 17.20
Jam 21.00
30
Diagnosa : Hambatan Mobilitas Fisik
31
20/02/2018
1. Mengkaji keluhan klien
Jam 14.15 R : klien mengatakan kelemahan ekstremitas kanan dan pusing
2. Mengkaji ttv
TD : 180/90mmHg
RR : 20x/menit
Nadi : 68x/menit
Jam 15.00
Ֆ
Suhu : 36,5ᵒC
3. Memonitor keluhan utama klien
R : klien lemah
4. Memposisikan nyaman
R : klien lemah Ns Muti
5. Memposisikan klien untuk miring kanan
R : klien kooperatif dan mau melakukan
6. Miring kiri setiap 2 jam sekali
7. Mengkaji kekuatan otot
Jam 15.00 3 5
3 5
Jam 15.15
Jam 16.00
32
Jam 17.00
33
20/02/2018, 1. Melakukan teknik isolasi
2. Melakukan cuci tangan setiap sebelum dan setelah tindakan
3. Menggunakan alat pelindung diri (handskuk,masker) baik untuk perawat dank lien
4. Melakukan kolaborasi dengan dokter:
-melakukan pemasangan infus RL 8 jam/kalf
-memberikan obat anti jamur cazetin drop
-merujukke rs.pengayoman
-menyiapkan berkas tb dan art
Ֆ
Ns Muti
34
No. Hari/ Paraf & Nama
Jam
P: Lanjutkan intervensi 2, 3, 5
35
P : memonitoring terjadinya nyeri saat beraktifitas
20 februari 2018 / Resiko Infeksi O : keluarga klien selalu mendampingi dan mendukung Ֆ
jam 04.00
A : masalah sudah teratasi Ns Muti
36
BAB IV. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran
37
DAFTAR PUSTAKA
Bose, C. V., R. Crawford, K. Deep, dkk. 2010. Total Hip Replacement: Spectrum.
New Delhi: Elesevier.
Diva, Sara R., Alexandra B, Gil., Gustavo J.M, Almeida., Anthony M, Digioia III.,
Timothy J, Levison., G. Kelley, Fitzgerald. A Balance Exercise Program
Appears To
Huber EO, de Bie RA, Roos EM, Bischoff-Ferrari HA. 2013. Effect of pre-
operative neuromuscular training on functional outcome after total knee
replacement: a randomized-controlled trial. BMC Musculoskelet Disord
Kuntono Heru, 2011. Nyeri Secara Umum dan Osteo Arthritis Lutut dari Aspek
Fisioterapi; Surakarta. Perpustakaan Nasional RI
38
Minesota Community Measurement. 2010. Total Knee Replacement Impact And
Recomended Document. 1-5.
Pereira, D., Peleteiro, B., Araujo, J., Branco, J., Santos, R. A., Ramos, E. 2011.
The Effect Of Osteoarthritis Definition On Prevalence And Incidence
Estimates: A Systematic Review, Osteoarthritis And Cartilage . Vol 19:1270-
1285.
Tsertsvadze A., Grove A., Freeman K., Court R., Johnson S., Connock M.,
Clarke,A.,Sutcliffe,P. 2014. Total Hip Replacement For The Treatment Of
End Stage Arthritis Of The Hip: A Systematic Review And Meta-Analysis.
Plos ONE. Vol 9(7): E99804.
Https://Doi.Org/10.1371/Journal.Pone.0099804
39
40