0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3K tayangan40 halaman

Askep THR

Dokumen tersebut membahas tentang total hip replacement (THR) yang merupakan operasi penggantian sendi panggul total dengan implan buatan. THR digunakan untuk meningkatkan fungsi dan mengurangi nyeri pada sendi yang rusak akibat osteoarthritis, trauma, dan penyakit lain. Dokumen juga membahas anatomi dan fisiologi sendi panggul, epidemiologi, tujuan, dan manfaat dari fisioterapi pasca THR untuk memulihkan fungsi sendi

Diunggah oleh

Riza Aminiyah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3K tayangan40 halaman

Askep THR

Dokumen tersebut membahas tentang total hip replacement (THR) yang merupakan operasi penggantian sendi panggul total dengan implan buatan. THR digunakan untuk meningkatkan fungsi dan mengurangi nyeri pada sendi yang rusak akibat osteoarthritis, trauma, dan penyakit lain. Dokumen juga membahas anatomi dan fisiologi sendi panggul, epidemiologi, tujuan, dan manfaat dari fisioterapi pasca THR untuk memulihkan fungsi sendi

Diunggah oleh

Riza Aminiyah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DAFTAR ISI

Daftar Isi............................................................................................................v

Daftar Gambar..................................................................................................vii

Daftar Tabel......................................................................................................viii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang......................................................................................... 1


1.2 Epidemiologi.............................................................................................2
1.3 Tujuan...................................................................................................... 2
1.4 Manfaat.................................................................................................... 2

BAB II KONSEP DASAR PENYAKIT

2.1 Definisi Low Back Pain........................................................................... 3


2.2 Penyebab Low Back Pain ....................................................................... 4
2.3 Patofisiologi Low Back Pain................................................................... 6
2.4 Tanda dan gejala Low Back Pain............................................................ 7
2.5 Prosedur diagnosis.................................................................................. 7
2.6 Penatalaksanaan medis............................................................................ 9

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Konsep dasar asuhan keperawatan...........................................................11


3.2 Identitas....................................................................................................12
3.3 Riwayat kesehatan....................................................................................12
3.4 Pengkajian pola gordon............................................................................14
3.5 Pemeriksaan fisik......................................................................................20
3.6 Analisa data dan masalah ........................................................................ 23
3.7 Pathway.................................................................................................... 25
3.8 Diagnosa Keperawatan............................................................................. 26
3.9 Intervensi Keperawatan............................................................................ 27
3.10 Implementasi Keperawatan.................................................................... 28
3.11 Evaluasi Keperawatan............................................................................ 31

BAB IV PENUTUP

1.1 Kesimpulan............................................................................................... 36
1.2 Saran ........................................................................................................ 36

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 37

LAMPIRAN

1
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Total Hip Replacement (THR) merupakan tindakan operasi penggantian sendi hip akibat
terjadinya kerusakan kronis pada acettabulum dan caput femur dengan menggunakan implan
buatan yang telah dirancang khusus. Total hip replacement (THR) digunakan dengan indikasi
kerusakan sendi hip yang berhubungan dengan osteoarthritis (OA), rheumatoid arthritis (RA),
Avascular necrosis (AVN), hip bawaan displasia, cidera sendi traumatis, protrusio acetabuli,

2
arthritis terkait dengan penyakit paget’s disease, ankylosing spondilitis, juvenil rheumatoid
arthritis dan tumor tulang. Tujuan dari penggantian sendi panggul total untuk meningkatkan
pergerakan sendi panggul, mengurangi nyeri, mengganti sendi panggul yang mengalami
keruksakan, memperbaiki jaringan lunak, serta meningkatkan kemampuan sendi panggul secara
fungsional (Sella,D.,dkk,2017).

Dalam beberapa kasus Osteoarthritis(OA) dibutuhkan operasi rekontrusksi yang dapat


membantu mengembalikan pergerakan fungsi sendi.Fungsi utama sendi pinggul adalah
mendukung berat tubuh ketika saat berdiri atau saat berjalan. Panggul artroplasti dapat dilakukan
ketika kerusakan yang terjadi pada sendi tidak dapat dipulihkan,kerusakan ini juga dapat
menyebabkan menyebabkan rasa sakit, disfungsi dan mengurangi kualitas hidup.

Angka kejadian rata-rata total hip replacement adalah satu dari 2266 orang di Amerika
Serikat. Pada tahun 2003, terdapat 200.000 orang telah dilakukan operasi total hip replacement,
100.000 partial hip replacement, dan 36.000 revisis hip replacement .Total hip replacement
primer sering terjadi pada pasien lansia dengan rentan usia 60-65 tahun atau sangat jarang untuk
pasien yang lebih muda. Pada usia muda sekitar usia 20 tahun, THR merupakan alternatif
apabila sendi hip sudah tidak berfungsi normal. Jadi tindakan ini dapat membantu pasien post
operasi THR. Salah satu tindakan tersebut dapat berupa terapi latihan (Tsertsvadze A, 2014).

Pada kasus ini perlu adanya fisioterapi yang bertujuan untuk membantu memulihkan keadaan
pasie. Pasien THR akan mengalami penurunan kemandirian dalam mobilisasi di tempat tidur,
aktifitas dasar, aktifitas fungsional, pemindahan tubuh, ambulasi serta kualitas hidupnya akan
mengalami penurunan. Maka dari itu terapi latihan untuk pasien setelah THR dibutuhkan
dengan tujuan utama dari rehabilitasi, yaitu untuk mengoptimalkan fungsi anggota gerak pasca
operasi pada pasien dan latihan harus disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan dan kemampuan
individu pasien (Tsertsvadze A, 2014).

1.2 Epidemiologi
Seiring dengan pembangunan nasional yang berkembang pesat terutama di bidang
kesehatan, kualitas kesehatan penduduk juga meningkat dan berdampak pada tingginya Usia
Harapan Hidup (UHH) manusia. Menurut World Health Organization (WHO) 2013,
diperkirakan 10% hingga 15% jumlah orang dewasa dengan usia diatas 60 tahun memiliki
tingkat OA tertentu, dengan prevalensi wanita lebih tinggi dibandingkan pria. Berdasarkan data
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi penyakit sendi di Indonesia berdasar

3
diagnosis atau gejala 24,7 %dengan angka kejadian tertinggi di Nusa Tenggara Timur 33,1 %,
sedangkan prevalensi penyakit sendi di Jawa Tengah berdasar diagnosis atau gejala 25,5 %. Di
usia > 65 tahun menunjukkan 50% yang memiliki gambaran osteoarthritis dengan prevalensi
10% pria dan 18% wanita yang menunjukkan gejala klinis osteoarthritis, sedangkan 10%
mengalami disabilitas akibat osteoarthritis.

Prevalensi yang terjadinya antara lain panggul (5,5%), lutut (7,1%), dan tangan (4,3%).
Osteoarthritis panggul merupakan penyakit dimana proporsi kejadiannya rendah yang dapat
beresiko seumur hidup sebesar 25% (Murphy et al., 2010). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
osteoarthritis panggul dan lutut memiliki keterkaitan mengenai peningkatan angka mortalitas
.Pada ekstremitas bawah, panggul merupakan bagian sendi yang dipengaruhi oleh osteoarthritis
paling umum kedua setelah lutut (Pereira et al., 2011)

1.3 Tujuan
Untuk mengembalikan fungsi normal dalam pengurangan nyeri, meningkatkan kekuatan
otot, menambah luas gerak sendi, mempersiapkan untuk jalan dan mengurangi spasme dengan
menggunakan modalitas terapi latihan seperti straching exercise, active resisted exercise,
resisted active movement dengan quadriceps bench dan hold rilex.

1.4 Manfaat
1. Untuk pasien
Dapat mengatasi permasalahan yang timbul pada penderita Total Hip Replacement (THR)
2 Untuk masyarrakat
Dapat memberikan informasi kepada pembaca dan masyarakat tentang peran fisioterapi
pada kasus pasca operasi Total Hip Replacement (THR)
1 Untuk penulis
Dapat memperluas wawasan dan menambah pengetahuan mengenai hal-hal yang beerkaitan
dengan penatalaksanaan fisioterapi pada kasus pasca operasi Total Hip Replacement (THR)

BAB 2. KONSEP DASAR PENYAKIT


2.1 Review Anatomi dan Fisiologis
Tulang panggul ada dua yaitu kiri dan kanan dan melekat satu sama lain di garis
medianus persambungan tulang rawan yang disebut simfisis oseum pubis, sehingga
terbentuk tulang gelang panggul. Di belakang kedua tulang panggul ini terdapat persendian
yang tidak bergerak disebut amfiartosis sakroiliaka (Syaifuddin, 2011).
Adapun persendian gelang panggu yaitu:
a. Artikulasi sakroliaka. Persendian antara os sacrum dan os ileum melalui fascies articularis
ossis illii dan fascies artikularis ossis sacrum. Sendi ini merupakan hubungan antara badan
dengan tulang panggul. Artikularis ini mempunyai gerakan yang kecil karena cekungan,
cembungan dan persendian yang tidak rata dan juga banyak ligamentum pada sendi
(Syaifuddin, 2011).

4
b. Art. Simfisis pubis. Hubungan antara kedua os pubis. Di dalamnya ada suatu kavum yang
disebut pseudokrurisberupa kartilago dinamakan fibrokartilago interpubis (Syaifuddin,
2011).
c. Artikulasi koksae, merupakan enarthrosis sferoidea yang diperkuat ligamentum
illeofemorale sehingga kaput femoris dapat keluar dari lekuknya dan berada di bawah os
ileum (Syaifuddin, 2011).

2.2 Definisi
Total Hip Replacement adalah operasi pergantian pada sendi panggul. Operasi ini di
indikasikan ke beberapa penyakit misalnya radang sendi, arthritis, kanken, fraktur femur
proksimal dll. Operasi ini dilakukan apabila sebuah penyakit sudah tidak bisa ditangani
lagi oleh pengobatan non operatif. Dalam operasi ini permukaan sendi yang rusak akan
diangkat dan digantikan dengan implant buatan yang nantinya sebagai pengganti dari
sendi yang telah diangkat (Bose, V. C. dkk., 2010).
2.3 Klasifikasi
Klasifikasi THR pada penggunaan implan dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu metal,
polimer, dan keramik
a. Metal

Metal memiliki cakupan yang luas dalam aplikasiannya, diantaranya fixasi patah tulang,
penggantian tulang, external spints, braces dan traction apparatus. Modulus elastis dan
titik luluh digabungkan dengan keuletan metal membuat material jenis ini cocok untuk
menopang beban tanpa mengakibatkan deformasi. Tiga material yang biasa digunakan
adalah Titanium, Stainless Steel dan Paduan Cobalt-Chromium. Titanium dan paduan
Titanium memiliki kelebihan yaitu modulus elastisitas rendah dan resistansi korosi
tinggi, selain itu juga adanya lapisan oksida pada Titanium memiliki pengaruh yang
sangat signifikan terhadap pengintegrasian metal ini pada jaringan tulang.
b. Polimer

5
Polimer adalah rangkaian panjang dari material dengan berat molekul tinggi yang terdiri
dari pengulangan unit monomer. Polimer memiliki sifat fisik yang mendekati jaringan
halus, oleh karena itu polimer banyak digunakan untuk menggantikan kulit, tendon,
tulang rawan, pembuluh darah dll.
c. Keramik

Keramik adalah senyawa inorganik yang dalam biomaterial diklasifikasikan menjadi 5


kategori berdasarkan karakter makroskopis permukaan ataupun stabilitas kimia pada
lingkungan tubuh yaitu: karbon, alumina, zirconia, keramik gelas dan kalsium fosfat.
Keterbatasan dari keramik adalah kekuatan tarik dan ketangguhan akan patah yang
rendah sehingga aplikasinya terbatas. Hasil dari tes ex-vivo mengindikasikan bahwa
keramik gagal berikatan karena lemahnya jaringan yang terbantuk pada system

2.4 Etiologi THR


Penyebab THR pada umumnya dapat berupa penyakit ataupun dari pengaruh
usia yang menyebabkan tulang bergesekan dan menimbulkan nyeri pada pasien. Sehingga
mengakibatkan sendi tersebut tidak mampu bergerak sempurna. Penggantian panggul total
adalah penggantian pinggul yang rusak berat dan mengganti menggunakan tulang pinggul
tiruan (artificial hipprosthesis). Biasanya penyebab utama adalah karena terindikasi arthritis.
Sambungan tulang pinggul yang terindikasi arthritis, kemudian dilakukan pemotongan pada
tulang femur terutama dibagian sekitar femoral head. Setelah pemotongan, kemudian
bagian acetabulum akan dihaluskan untuk menempatkan cup pada acetabulum. Hip joint
prosthesis akan dipasang dengan cara menanam femoral stem pada tulang femur.

6
2.5 Indikasi dan Kontraindikasi
1. Indikasi
Penggantian total pinggul dilakukan paling umum pada penyakit arthritis parah yang
progresif pada sendi pinggul. Tipe yang paling umum dari arthritis yang menjurus pada
penggantian total pinggul adalah arthritis degeneratif (osteoarthritis) dari sendi pinggul.
Tipe arthritis ini umumnya terlihat dengan sendi pinggul yang menua, kelainan sejak
kelahiran, atautrauma sebelumnya pada sendi pinggul. Kondisi-kondisi lain yang
menjurus pada penggantian total pinggul termasuk fraktur yang terjadi pada area di
sekitar sendi pinggul, rheumatoidarthritis, dan kematian (aseptic necrosis) dari tulang
pinggul. Necrosis tulang pinggul dapat disebabkan oleh patah tulang dari pinggul, obat-
obat (seperti alkohol atau prednisone danprednisolone), penyakit-penyakit gangguan
pada sistem imun seperti Systemic LupusErythematosus, dan kondisi-kondisiseperti
transplantasi ginjal.
Nyeri kronis hebat yang progresif bersama dengan perburukan dari fungsi harian
yang termasuk berjalan, menaiki tangga-tangga, dan bahkan bangun dari posisi duduk,
akhirnya menjadi indikasi untuk mempertimbangkan penggantian total pinggul.
Penggantian umumnya dipertimbangkan setelah nyeri menjadi begitu parah sehingga ia
menghalangi fungsi yang normal meskipun dengan penggunaan obat-obat anti
peradangan dan/atau nyeri.Penggantian total sendi pinggul adalah prosedur memilih,
yang berarti bahwa ia adalah opsi (pilihan) yang dipilih diantara alternatif-alternatif
lain.Biasanya tindakan ini dilakukan apabila pemberian analgetik atau tindakan lain
sudah tidak mampu mengatasi nyeri yang amat sangatpada pasien
2. Kontraindikasi THR atau Total Hip Replacement antara lain:
a. Infeksi aktif dalam sendi
b. Infeksi sistemik atau sepsis.
c. Neuropati pada sendi
d. Tumor malignan yang tidak memungkinkan dilakukannya fiksasi komponen
e. Infeksi yang terlokalisir, khususnya infeksi saluran kemih, kulit, dada, atauinfeksi
lokal lainnya.
f. Absen atau insufisiensi relatif otot-otot abduktor.
g. Defisit neurologis progresif.

2.6 Patofisiologi
Pada dislokasi kongenital terdapat ketidakstabilan pinggul pada bayi dan anak dengan
kondisi pinggul yang stabil dan berefleksi sebagian. Terdapat banyak faktor yanng
menyebabkan kondisi dislokasi kongenital seperti faktor genetik, hormonal, malposisi
intrauterine dan faktor pasca-kelahiran dari pertolongan persalinan (Helmi, 2012).

7
Pada osteomilitis akut yang menginvasi metafisis, intrakapsular sendi pinggul juga
mengalami infeksi. Kemudian kaput dan kepal femur megalami kerusakan dan perubahan
posisi akibat lepasnya kepala femur dari mangkok asetabulum (Helmi, 2012).
Pasien yang pernah menderita serebral palsi, poliomielitis, dan mieolomeningokel akan
mengalami kondisi paralisis yang memberikan ketidakseimbangan pada otot sehingga terjadi
abduksi pinggul. Pada kondisi selanjutnya trokhanter mayor tidak dapat berkembang kemudian
leher femur bengkok dan akhirnya keluar dari pinggul sehingga terjadi dislokasi pinggul,
sehingga berdasarkan patofisiologi masing-masing penyebab perlu dilakukannya total hip
replacement (Helmi, 2012).

2.7 Manifestasi Klinis


OA dapat mengenai sendi-sendi besar maupun kecil. Distribusi OA dapat mengenai sendi leher,
bahu, tangan, kaki, pinggul, lutut. Berikut ini merupakan manifestasi klinis OA:
1. Nyeri
Nyeri pada OA merupakan nyeri tumpul (dull pain) dan nyeri cubitan (achingpain). Nyeri
bertambah buruk oleh gerakan, weight bearing dan jalan. Awalnya nyeri berkurang saat
istirahat tetapi bertambah hebat ketika lutut digerakan yang akhirnya mengganggu aktivitas.
Nyeri meningkat pada struktur yang mempunyai nerve ending (nociceptif) dan diakibatkan
oleh meningkatnya tekanan vena pada subcondral bone dan osteofit, synovitis, penebalan
kapsuler, dan subluksasi. Bila kerusakan hanya pada kartilago maka tidak akan terasa nyeri.
Serabut nociceptor terdiri pada kapsul sendi, periosteum tulang, dan ligamen.Pada tulang
rawan sendi tidak mempunyai persarafan (uninervasi) dan tidak mempunyai sistem
vaskularisasi (avaskularisasi). Jadi, nyeri pada OAdisebabkan terjepitnya/iritasi pada ujung
saraf nociceptor karena distruksi progresif kartilago dan bentukan osteofit pada tepi sendi.
Selain itu keluhan nyeri OA dapat berasal dari menebalnya ligamen kapsul, kartilago,
kelemahan otot maupun deformitas sendi. Semua itu akan meningkatkan tekanan pada
sensoris nerve ending sehingga ujung saraf teriritasi (Kuntono, 2011).
1. Keterbatasan Lingkup Gerak Sendi
Terjadi kesulitan atau rasa kaku saat akan memulai gerakan pada kapsul, ligamen, otot, dan
permukaan sendi lutut. Kekakuan gerak sendi (joint astiffness) terjadi oleh rasa nyeri sendi
mengakibatkan retreksi kapsul sendi. Selain itu, timbulnya osteofit dan penebalan kapsuler,
spasme otot serta nyeri membuat pasien tidak mau melakukan gerakan secara maksimal
sampai batas normal, sehingga mengakibatkan keterbatasan lingkup gerak sendi pada lutut.
Keterbatasan gerak tersebut bersifat pola kapsuler akibat kontraktur kapsul sendi.
Keterbatasan pola kapsuler yang terjadi yaitu gerak fleksi lebih terbatas dari gerak ekstensi
(Kuntono, 2011).
2. Krepitasi

8
Permukaan sendi yang kasar karena degradasi dan rawan sendi menyebabkan munculnya
krepitasi yang terdengar seperti suara gesekan permukaan tulang yang kasar pada saat sendi
digerakkan (Kuntono, 2011).
3. Kelemahan Otot Quadriceps dan Atrofi Otot Sekitar Sendi Lutut
Terjadi karena aktivasi nociceptor pada tanduk belakang medulla spinalis yang menginhibisi
sel motor neuron pada tanduk depan medulla spinalis. Otot quadriceps mendapat persarafan
somatik dari segmental lumbal 4 yang sesegmen dengan persarafan somatik sensoris sendi
lutut. Apabila nyeri dan kekakuan sendi berlangsung lama, maka otot quadriceps akan
menunjukan atrofi (Kuntono, 2011).
2. Deformitas
Osteoartritis lutut yang berat akan menyebabkan destruksi kartilago, tulang, dan jaringan.
Deformitas varus terjadi bila adanya kerusakan pada kompartemen medial dan kendornya
ligamentum collateral lateral, serta variasi subluksasi karena perpindahan titik tumpu pada
lutut atau diakibatkan oleh pembatasan adanya osteofit yang besar (Kuntono, 2011).
3. Instabilitas Sendi Lutut
Instabilitas ini disebabkan oleh berkurangnya kekuatan otot sekitar sendi lutut dan juga oleh
kendornya ligamen sekitar lutut.Selain itu juga terjadi akibat menurunnya fungsi
propioseptor di dalam merespon reaksi artrokinematik pada setiap perubahan posisi
(Kuntono, 2011).
Gejala klinis di atas dapat dikategorikan menjadi beberapa parameter menurut indeks
WOMAC. WOMAC (Western Ontario and McMaster Universities Osteoarhtritis Index)
adalah indeks yang digunakan untuk menilai keadaan pasien dengan OA pada lutut. Total 24
parameter yang terdiri dari nyeri, kekakuan (stiffness), fungsi fisik dan sosial dievaluasi
menggunakan WOMAC. WOMAC juga dapat digunakan untuk memantau perkembangan
penyakit atau untuk menentukan efektivitas obat anti-rematik (Kusumawati, 2003). Semakin
tinggi nilai yang diperoleh menunjukkan besarnya keterbatasan fungsional pasien sedangkan
nilai yang rendah menunjukkan perbaikan kemampuan fungsional. Parameter WOMAC
antara lain :
1. Nyeri
a. Berjalan kaki
b. Menaiki anak tangga
c. Aktivitas pada malam hari
d. Istirahat
e. Menumpu
2. Kekakuan
a. Kekakuan pagi hari (morning stiffness)
b. Kekakuan sepanjang hari
3. Fungsi Fisik
a. Kesulitan turun tangga
b. Kesulitan naik tangga
c. Kesulitan dari posisi duduk ke berdiri
d. Kesulitan berdiri

9
e. Kesulitan duduk di lantai
f. Kesulitan berjalan pada permukaan datar
g. Kesulitan masuk dan keluar dari kendaraan
h. Kesulitan berbelanja
i. Kesulitan memakai kaos kaki
j. Kesulitan berbaring di tempat tidur
k. Kesulitan melepaskan kaus kaki
l. Kesulitan bangun dari tempat tidur
m. Kesulitan masuk dan keluar kamar mandi
n. Kesulitan masuk dan keluar toilet
o. Kesulitan duduk
p. Kesulitan melakukan tugas-tugas berat
q. Kesulitan melakukan tugas-tugas ringan
Parameter di atas masing-masing diberi skor 0-4 dengan indikasi skor sebagai berikut:
Skor 0 = Tidak ada
Skor 1 = Ringan
Skor 2 = Sedang
Skor 3 = Berat
Skor 4 = Sangat Berat

2.8 Pemeriksaan Penunjang


Secara umum, pemeriksaan laboratorium atau diagnostik sangat penting dilakukan untuk
membantu menentukan diagnosa, memantau perjalanan penyakit serta menentukan prognosa.
Informasi yang bermanfaat tentang pasien ortopedi dapat diperoroleh dari berbagai prsedur
diagnostik. Masing-masing prosedur mungkin tidak diindikasikan untuk semua pasien. Akan
tetapi, secara umum pemeriksaan yang spesifik menunjukkan data yang paling penting
mengenai kondisi pasien. Pembagian pemeriksaan diagnostik dibagi menjadi
pemeriksaan diagnosik noninvasif dan invasive (Kuntono, 2011).
a. Pemeriksaan diagnostik noninvasif antara lain rontgen, MRI, dan CT.
b. Pemeriksaan diagnostik invasif antara lain antrogram
c. Mielogram
d. Skan tulang
e. Aspirasi sendi
f. Biopsi
g. Artroskopi
h. Elektromiografi
i. Pemeriksaan laboratorium rutin Pemeriksaan darah rutin, seperti hitung darah lengkap,
kadar elektrolit serum, dan pemeriksaan pembekuan darah, sering diperlukan untuk 6 pasien
ortopedi. Pemeriksaan diagnostik khusus akan dilakukan sesuai dengan kondisi medis pasien
dan diagnosis yang spesifik

2.9 Penatalaksanaan

10
Penatalaksanaan pre operasi pada kasus THR sangat penting dilakukan. Hal tersebut bertujuan
untuk membantu dalam menyusun perencanaan manajemen dan perawatan pasien setalah
melakukan operasi nantinya. Selain itu manfaat dilakukannya manajemen pre operasi adalah
untuk menekan lamanya tinggal di rumah sakit, menurunkan kecemasan klien, meningkatkan
kepercayaan diri klien, dan membangun hubunngan saling percaya pada perawat dan ahli fisio
terapi sejak awal sebelum dilakukan operasi. Manajemen pre operasi juga diharapkan dapat
meingkatkan kualitas hidup dan psikologis klien dalam menghadapi operasi. Penjelasan dan
pendidikan kesehatan secara verbal merupakan cara terbaik dalam memberikan penjelasan
kepada klien. Maka dari itu manajemen pre operasi merupakan bagian penting dalam
penatalaksanaan pada kasus THR sebelum melakukan operasi penggantian panggul. Dalam
melaksanakan manajemen pre operasi dilaksanakan sebagai berikut:

1. Tahap Pengkajian
a) Rentang gerak yang dapat dilakukan klien
b) Kekuatan otot
c) Pengkajian sirkulasi
d) Penilaian kemampuan mobilisasi
e) Kemampuan fungsi panggul klien
2. Tahap Penatalaksanaan
a) Pendidikan kesehatan mengenai jalannya operasi, kontraindikasi pacsa operasi,
tujuan dan harapan dilakukannya operasi, adaptasi fungsi panggul pasca operasi, dan
jika klien merokok anjurkan untuk berhenti merokok.
b) Melakukan latihan mobilisasi, melakukan latihan posisi tidur pasca operasi,
meakukan latihan mobilisasi pasca operasi menggunakan alat bantu.

Penatalaksanaan pasca operasi pada kasus THR bertujuan untuk mengembalikan fungsi
mobilisasi klien pada derajat yang setinggi-tingginya sebelum klien keluar dari rumah sakit.
Selain itu penatalaksanaan pasca operasi dapat meningkatkan kekuatan otot dan rentang gerak
yang dapat dijangkau oleh klien. Prosedur pembedahan yang dilakukan dapat menjadikan klien
mengalammi atrofi otot sehingga kehilangan kekuatan karena hilangnya fungsi mobilisasi
selama pemulihan pasca operasi dan pelonggaran protease pada panggul. Penatalaksanaan
pasca operasi juga bertujuan untuk mengurangi rasa sakit akibat prosedur pembedahan.
Penatalaksanaan pasca operasi melalui beberapa tahapan sebagai berikut:

1. Penatalaksanaan 1 hari pasca operasi:


a) Pendidikan mengenai relaksasi otot
b) Pendidikan dan pelatihan distraksi serta relaksasi terhadap nyeri yang dialami
c) Pelatihan posisi tidur dan latihan ekstremitas atas untuk meningkatkan fungsi jantung
d) Pelatihan mobilisasi di tempat tidur
e) pelatihan berdiri mengggunakan alat bantu

11
f) pelatihan duduk di kursi dengan waktu maksimal 1 jam yang disesuaikan dengan
kondisi klien dan konsentrasi berat badan yang ditentukan oleh ahli bedah.
2. Penatalaksanaan 2 hari pasca operasi
a) Melanjutkan latihan mobilisasi di tempat tidur
b) Melanjutkan latihan duduk di kursi
c) Menilai rentang gerak klien
d) Melanjutkan teknik relaksasi dan distraksi pada nyeri.
3. Penatalaksanaan 3 hari pasca operasi
a) Melanjutkan latihan mobilisasi di tempat tidur
b) Mengurangi bantuan pada saat klien melakukan mobilisasi
c) Menilai perkembangan rentang mobilisasi
d) Melakukan latihan berjalan dengan alat bantu
e) Memberikan pendidikan dan evaluasi penngetahuan serta kemampuan klien dalam
melakukan mobilisasi
f) Memberikan pendidikan kepada klien untuk melakukan mobilisasi yang sudah
dilatihkan secara mandiri di rumah sampai dengan 6 minggu
4. Penatalaksanaan 6 minggu pasca operasi
a) Klien ditindak lanjuti oleh ahli bedah
b) Pengkajian oleh ahli bedah terhadap perkembangan pasca operasi
c) Menentukan berbagai gerakan yang diizinkan di pinggul
d) Memberikan latihan mobilisasi tanpa alat bantu
5. Penatalaksanaan setelah 6 minggu pasca operasi
a) Melatih klien untuk melakukan ROM awal
b) Melatih klien terhadap keseimbangan, kesetabilan, dan daya tahan saat berjalan
c) Melatih koordinasi neurologis klien
d) Melatih kecepatan dan ketepatan klien saat berjalan
e) Memberikan latihan fungsional pada pingggul klien

BAB III. ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

Suatu proses keperawatan dengan menggunakan metode sistematis dan holistik dengan
pengetahuan keterampilan seorang perawat professional yang digunakan dalam membantu
klien dalam mengatasi masalah kesehatan melalui serangkaian proses dokumentasi keperawata,
meliputi :

1. Pengkajian
Tahap awal dari poses dokumentasi keperawatan dengan mengumpulkan data
sistematis klien bertujuan untuk menentukan status kesehatan klien dan mengidentifikasi

12
masalah klien. Dalam pengkajian ini meliputi Data Subyektif, Data Obyektif, Keluhan
Utama, Riwayat Kesehatan (sekarang, dulu, dan keluarga) (Potter & Perry, 2005)
2. Diagnosa
Tahap kedua dari proses dokumentasi keperawatan bertujuan menilai secara klinis
tentang respon actual individu atau potensional klien, keluarga dan komunitas terhadap
masalah kesehatannya. Diagnosa ini akan berubah menurut respon klien yang diberikan oleh
perawat (Potter & Perry, 2005).
3. Intervensi
Dilakukan setelah perumusan diagnosa, intervensi ini adalah proses perencanaan
dalam mengembangkan strategi untuk mencegah, mengurangi dan mengkoreksi masalah
yang muncul pada diagnose bertujuan membantu pencapaian tujuan yang diharapkan.
Didalam intervensi ini dalam penulisan criteria hasil harus berdasarkan S (Spesifik), M
(Measurreable), A (Achievable), R (Reasonable), T (Time) menurut Nursing Intervention
Classification (Potter & Perry, 2005).
4. Implementasi
Tahapan keempat setelah dilakukan intervensi atau perencanaan keperawatan, dalam
tahap ini dilakukan pengaplikasian dari rencana asuhan keperawatan untuk mencapai tujuan
yang ditentukan dan membuat kemajuan ke arah yang spesifik (Potter & Perry, 2005)
5. Evaluasi
Tahapan akhir dari proses keperawatan untuk menilai dan mengukur respon klien
terhadap tindakan keperawatan dan kemajuan klien ke arah pencapaian tujuan (Potter &
Perry, 2005)

3.2 Identitas Klien


Nama : Ny A
Umur : 46 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Sumatra 2 sumbersari
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status : Menikah
Tgl MRS : 20/02/2018 jam : 19.00
Pendidikan : 20/02/2018 jam 19.10

3.3 Riwayat Kesehatan


1. Diagnosa Medik:
-
2. Keluhan Utama:
Klien mengeluh nyeri daerah post operasi
3. Riwayat penyakit sekarang:
Pasien mengatakan 3 tahun yang lalu mengalami kecelakaan, sejak itu pasien sering
merasakan nyeri di daerah panggul kanan, sejak sebulan belakangan nyeri semakin
terasa dan pasien tidak bisa berjalan, selanjutnya pada tanggal 27 oktober 2015 oleh

13
keluarga dibawa kerumah sakit. Pada tanggal 30 oktober 2015 pasien dilakukan
operasi Total Hip Replacemen (THR) dengan indikasi fraktur negleted close fracture
neck femur dekstra akibat osteotritis grade IV.
4. Riwayat kesehatan terdahulu:
a. Penyakit yang pernah dialami:
Hipertensi, diabetes, dan nyeri di daerah persendian sejak 4 tahun yang lalu.
b. Alergi (obat, makanan, plester, dll): -
c. Imunisasi: -
d. Kebiasaan/pola hidup/life style: -
e. Obat-obat yang digunakan: -
5. Riwayat penyakit keluarga:
Pasien mengatakan tidak ada keluarga menderita penyakit yang sama dengan pasien,
dan apabila ada keluarga yang sakit pasien langsung berobat ke puskesmas.
Genogram:
Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Menikah
: Cerai
//
: Anak kandung
: Anak angkat
: Anak kembar
: Pasien
: Meninggal
: Tinggal serumah

1. Persepsi kesehatan & pemeliharaan kesehatan


Pasien tampak kurus, nampak Allopesia, turgor kulit menurun, dan kulit menghitam.
Pasien dapat melihat objek dengan jelas, mata cowong, terdapat stomatitis di pipi
sebelah kiri dan lidah klien, mukosa bibir kering dan pecah-pecah. Keadaan gigi bersih.
Pasien tidak dapat melakukan mobilisasi. Untuk makan dan higyne klien dibantu oleh
keluarga.
Tn.S mengatakan tidak malu dengan kondisi yang dialami sekarang karena ada keluarga
yang merawatnya dengan baik. Tn.S merasa tubuhnya sehat ketika mampu bekerja dan
beraktivitas seperti biasanya. Sebelum sakit dalam keluarganya Tn.S berperan sebagai
kepala keluarga yang disegani dan dihormati oleh anggota keluarganya. Setelah sakit : peran
Tn.S sebagai kepala keluarga digantikan oleh anak pertamanya, namun Tn.S masih ambil
bagian dalam pengambilan keputusan dikeluarganya.

14
Tn.S dan keluarga mengikuti segala prosedur dan mamatuhi segala saran dari petugas
kesehatan di Rumah sakit tanpa mengeluh. Tn. S mengatakan ingin segera cepat sembuh
karena Tn.S merasa lama memiliki penyakit ini. Tn.S dan keluarga meyakini bahwa sakit
yang sedang diderita sekarang adalah takdir dari Allah SWT. Tn.S yakin akan sembuh
dengan ijin Allah SWT. Tn.S dan keluarga selalu berdo’a agar segera diberikan kesembuhan.

Interpretasi :

2. Pola nutrisi/ metabolik (ABCD) (saat sebelum sakit dan saat di rumah sakit)
Antropometry
Pasien menghabiskan makan makan ¾ porsi makanan yang disediakan oleh rumah sakit, makanan
terdiri dari sayur,ikan dan nasi, jarang makan buah-buahan. Sehari pasien minum sekitar 7 gelas air
putih dan terkadang pasien minum air teh.

Interpretasi :

Biomedical sign :

Interpretasi :

Clinical Sign :

Interpretasi :

Diet Pattern (intake makanan dan cairan):

Pola makan Sebelum sakit Saat di rumah sakit

15
Kebiasaan makan :

Kebiasaan minum :

Kebutuhan Cairan :

Interpretasi :

3. Pola eliminasi: (saat sebelum sakit dan saat di rumah sakit)


BAK Sebelum sakit Saat di rumah sakit
Frekuensi
Jumlah
Warna
Bau
Karakter
BJ
Alat bantu
Kemandirian
(mandiri/dibantu)
Lainnya
Interpretasi:

BAB Sebelum sakit Saat di rumah sakit


Frekuensi
Jumlah
Warna
Bau
Karakter
Alat bantu
Kemandirian
(mandiri/dibantu)
Lainnya
Interpretasi:

Balance cairan:
Pasien terpasang kateter dengan warna urin berwarna kuning jernih, urin output
sekitar 700/800 ml/hari. Pasien mengatakan BAB sekali dalam sehari dengan feses
lunak.

Interpretasi:

4. Pola aktivitas & latihan (saat sebelum sakit dan saat di rumah sakit)

Aktivitas harian (Activity Daily Living)

Kemampuan perawatan diri 0 1 2 3 4

16
Makan / minum

Toileting

Berpakaian

Mobilitas di tempat tidur

Berpindah

Ambulasi / ROM

Ket: 0: tergantung total, 1: dibantu petugas dan alat, 2: dibantu petugas, 3: dibantu alat,
4: mandiri
Status Oksigenasi :

Fungsi kardiovaskuler :

Terapi oksigen :

Interpretasi :

5. Pola tidur & istirahat (saat sebelum sakit dan saat di rumah sakit)
Istirahat dan Tidur Sebelum sakit Saat di rumah sakit
Durasi
Gangguan tidur
Keadaan bangun
tidur
Lain-lain
Interpretasi :
Pasien mengatakan bisa tidur dengan baik, makam hari tidur sekitar 6 jam dan siang
tidur 1-2 jam

6. Pola kognitif & perceptual


Fungsi Kognitif dan Memori :

Fungsi dan keadaan indera :

Interpretasi :

7. Pola persepsi diri


Gambaran diri :

Ideal diri :

Harga diri :

Peran Diri :

17
Identitas Diri :

Interpretasi :

8. Pola seksualitas & reproduksi


Pola seksualitas

Fungsi reproduksi

Interpretasi :

9. Pola peran & hubungan

Interpretasi :

Pola manajemen koping-stress

Interpretasi :
Sistem nilai & keyakinan

Interpretasi :

IV. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum:

Keadaan umum : baik


Kesadaran : Compos mentis (GCS : 4-5-6)
Tanda vital:

- Tekanan Darah : 130/80 mmHg


- Nadi : 90 X/mnt
- RR : 25x/mnt
- Suhu : 36,7 C

Interpretasi :

1. Kepala
Tidak ada lesis dan rambut terlihat rapi
2. Mata
Mata klien secara umum normal, bentuk simetris, tidak ada pembengkakak sekitar
mata,penglihatan normal lebih dari 5 meter, tidak ada nyeri tekan sekitar mata
3. Telinga
Telinga klien simetris, tidak menggunakan alat bantu dengar, teredapat nyeri tekan
pada daerah telinga luar sinistra, telinga kanan terlihat bersih dan tidak ada gangguan,
telinga kiri terdapat serumen dan kemrahan, terdapat gangguan pada telinga kiri
namun dapat ditoleransi
4. Hidung
Hidung klien simetris dan masa, suara nafas normal, tidak da suara napas tambahan
5. Mulut

18
Tidak da pendarahan atau radang gusi, tidak ada tanda-tanda infeksi pada mulut
6. Leher
Bentuk leher pasien simetris, kurus dan panjang.
7. Dada
Bentuk dada klien normal
Inspeksi : Pengembangan dada simetris
Palpasi :
Perkusi : timpani
Auskultasi :

Paru
Inspeksi :

Payudara dan Ketiak

8. Abdomen
Abdomen simetris dan tidak ada nyeri tekan.
9. Genetalia dan Anus
Tidak ada nyerri saat BAB, tidak terdapat hemoroid maupun infeksi pada anus
10. Ekstremitas
Ekstremitas atas
-
Ekstremitas bawah
Ekstermitas kanan bawah terasa nyeri saat digerakkan dengan skala 5 (kekuatan
kontraksi yang penuh)
11. Kulit dan kuku
Kulit dan kuku tidak sianosis
12. Keadaan lokal

V. Terapi

JENIS DOSIS JALUR


Cefazolin 2x 1 gr IV
Ketorolac 2x1 amp IV
Ranitidin 2x1 amp IV
Tramadol 2x1 amp Drip
Lovenex 1x40 mg Inf
RL 15 tpm Inf

19
Deskripsi Terapi

Farmako dinamik dan Indikasi dan Kontra Implikasi


NO Jenis Terapi Dosis Rute Efek samping
farmako kinetik Indikasi keperawatan

20
21
VI. Pemeriksaan Penunjang & Laboratorium

Nilai normal Hasil (Tanggal/Jam)


No Jenis pemeriksaan
Nilai Satuan

Hematology :

1. Hemoglobin 13-16 % 12,9 20 09.00

2. Hematrokit 35-47 % 38 09.00

3. Eritrosit 3,5-5,6 Juta/mmk 4,58 09.00

4. Leukosit 27-32 Pg 11.500 09.00

5. Trombosit 75-96 FI 236.000 09.00

Indeks eritrosit

MCH 28,2
MCV
MCHC 81,9

34,4

Hitung jenis leukosit

Basofil

Eosinofil 0

Batang 2

Segmen 0

Limfosit 64

Monosit 27

Kimia klinik

AST (SGOT)

ALT (SGPT) 24

Ureum 25

Kreatinin 19

Glukosa darah sewaktu 0.61

22
Natrium (Na) 110

Kalium (K) 141

3.2

23
Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan Penunjang Lainnya

……………, ….................................

Pengambil Data,

(_________________________________________)

NIM.

24
ANALISA DATA

NO DATA PENUNJANG ETIOLOGI MASALAH

1.

DIAGNOSIS KEPERAWATAN

No Diagnosis Keperawatan Tanggal Tanggal Keterangan


Pencapaian
Peremusan

Ֆ
1. Nyeri akut berhubungan dengan agens -
cedera fisik ditandai dengan keluhan
tentang intensitas menggunakan standar
skala nyeri. 20/02/2018
Ns Muti

Ֆ
2. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan -
dengan nyeri ditandai dengan penurunan
rentang gerak 20/02/2018

Ns Muti

Ֆ
3. Resiko infeksi berhubungan dengan -
penyakit kronis ditandai dengan kurang
pengetahuan untuk menghindari
pemajanan patogen
20/02/2018
Ns Muti

25
PERENCANAAN KEPERAWATAN

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

1. Nyeri akut berhubungan dengan agens Tujuan : 1. Bina hubungan saling percaya
cedera fisik ditandai dengan keluhan 2. Kaji nyeri secara komprehensif
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
tentang intensitas menggunakan standar (penyebab, lokasi, karakteristik, durasi,
1x24 jam diharapkan nyeri dapat berkurang.
skala nyeri. frekuensi, kualitas, intensitas, skala,
nyeri)
3. Berikan posisi yang nyaman
Kriteria Hasil : 4. Anjurkan klien untuk kompres hangat
5. Kolaborasi dengan tim medis pemberian
1. Skala nyeri turun analgetik (keterolac)
2. Wajah klien tampak rileks

2. Hambatan Mobilitas Fisik berhubungan Tujuan : 1. Monitoring peningkatan kekuatan otot


dengan nyeri ditandai dengan penurunan 2. Lakukan ROM aktif
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3. Bantu dalam pemenuhan kebutuhan
kekuatan otot 4. Posisikan pasien senyaman mungkin
1x24 jam diharapkan pasien dapat bergerak
5. Lakukan miring kanan, miring kiri secara
sedikit demi sedikit..
berkala 2 jam sekali

26
Kriteria Hasil :

1. Tidak terjadi kontraktur sendi


2. Bertambahnya kekuatan otot

27
3. Resiko infeksi berhubungan dengan Tujuan : 1. Bersihkan lingkungan setelah dipakai
penyakit kronis ditandai dengan kurang pasien lain
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
pengetahuan untuk menghindari 2. Instrusikan pada pengunjng untuk
1x24 jam diharapkan pasien dapat mengurangi
pemajanan patogen mencuci tangan saat berkunjung dan
terjadinya infeksi.
setelah berkunjung meninggalkan pasien
3. Pertahankan lingkungan aseptic selama
pemasangan alat
Kriteria Hasil : 4. Berikan terapi antibiotic bila perlu
5. Monitor tanda gejala infeksi sistemik dan
1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi local
2. Mendeskripsikan proses penularan 6. Berikan perawatan pada arean epidema
penyakit, factor yang mempengaruhi 7. Instruksikan pasien untuk minum anti
penularan serta penatalaksanaannya. biotik sesuai resep
3. Menunjukkan kemampuan untuk 8. Ajarkan cara menghindari infeksi
mencegah timbulnya infeksi
4. Jumlah leukosit dalam batas normal
5. Menunjukkan perilaku hidup sehat

28
CATATAN PERKEMBANGAN

Diagnosa : Nyeri Akut

WAKTU IMPLEMENTASI PARAF

29
20/02/2018
1. Membina hubungan saling percaya
Jam 17.00 R: klien dan keluarga kooperatif
2. Mengkaji nyeri secara komprehensif (penyebab, lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas,
skala, nyeri)
R : klien dan keluarga kooperatif dengan pengkajian nyeri yang dilakukan
Jam 17.05 3. Memberikan posisi yang nyaman
R: klien merasa lebih nyaman
4. Menganjurkan klien untuk minum air hangat
R: Klien berperan kooperatif
5. Menganjurkan klien untuk memakan makanan yang bertekstur lembut

Ֆ
R: Klien dan keluarga berperan aktif
6. Melakukan kolaborasi dengan tim medis pemberian analgetik (ketorolac 3x30 mg)
Jam 17.10
R: Klien koopereatif

Ns Muti

Jam 17.15

Jam 17.20

Jam 21.00

30
Diagnosa : Hambatan Mobilitas Fisik

WAKTU IMPLEMENTASI PARAF

31
20/02/2018
1. Mengkaji keluhan klien
Jam 14.15 R : klien mengatakan kelemahan ekstremitas kanan dan pusing
2. Mengkaji ttv
TD : 180/90mmHg
RR : 20x/menit
Nadi : 68x/menit
Jam 15.00

Ֆ
Suhu : 36,5ᵒC
3. Memonitor keluhan utama klien
R : klien lemah
4. Memposisikan nyaman
R : klien lemah Ns Muti
5. Memposisikan klien untuk miring kanan
R : klien kooperatif dan mau melakukan
6. Miring kiri setiap 2 jam sekali
7. Mengkaji kekuatan otot

Jam 15.00 3 5

3 5

Jam 15.15

Jam 16.00

32
Jam 17.00

Diagnosa : Resiko infeksi

WAKTU IMPLEMENTASI PARAF

33
20/02/2018, 1. Melakukan teknik isolasi
2. Melakukan cuci tangan setiap sebelum dan setelah tindakan
3. Menggunakan alat pelindung diri (handskuk,masker) baik untuk perawat dank lien
4. Melakukan kolaborasi dengan dokter:
-melakukan pemasangan infus RL 8 jam/kalf
-memberikan obat anti jamur cazetin drop
-merujukke rs.pengayoman
-menyiapkan berkas tb dan art

Ֆ
Ns Muti

34
No. Hari/ Paraf & Nama

Tanggal/ No. Diagnosa Evaluasi Somatif (SOAP)

Jam

1. Senin / S: pasien mengatakan “masih merasakan nyeri”

20 februari 2018 / O: Wajah klien tampak meringis saat bergerak Ֆ


jam 04.00
Nyeri akut A: Masalah nyeri akut belum teratasi Ns Muti

P: Lanjutkan intervensi 2, 3, 5

2. Senin / S : pasien mengatakan “sudah mulai merasa nyaman”

20 februari 2018 / Hambatan O : keluarga klien selalu mendampingi dan mendukung Ֆ


jam 04.00 mobilitas fisik
A : masalah belum teratasi sebagian Ns Muti

35
P : memonitoring terjadinya nyeri saat beraktifitas

3. Senin / S : pasien mengatakan “sudah merasa nyaman”

20 februari 2018 / Resiko Infeksi O : keluarga klien selalu mendampingi dan mendukung Ֆ
jam 04.00
A : masalah sudah teratasi Ns Muti

P : memonitoring terjadinya infeksi kembali

36
BAB IV. PENUTUP

4.1 Kesimpulan

4.2 Saran

Sebagai seorang peraawat, kita wajib untuk memberikan tindakan


preventif, promotif, kuratif serta rehabuilitatif kepada klien kita dengan baik
dan sepenuh hati. Sebagai perawat yang merawat klien yang menjalani TKR
dan THR kita harus bisa untuk mengedukasi dan memberikan asuhan
keperawatan terbaik untuk mengurangi skala nyeri yang dialami klien.

37
DAFTAR PUSTAKA

Alpha joints & Orthopaedics http://www.alphajoints.com/services.html [di akses


pada 10 Maret 2019]

American Academy of Orthopaedic Surgeons. (2015). Total Knee Replacement.


Diakses 10 Maret 2016 dari http://www.orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?
topic=A00389

Anagnostakos, K., N. V. Schmid, J. Kelm, U. Grün, J. Jung. 2009. Classification


of hip joint infections. Germany: International Journal of Medical Sciences
2009; 6(5):227-233.

Barnes RY., K. Bodenstein., N. Human., J. Raubenheimer., J. Dawkins., C.


Seesink., J. Jacobs., R. Venter. 2018. Preoperative education in hip and
knee arthroplasty patients in Bloemfontein. South African: Journal of
Physiotherapy.

Black, J. M. dan J. H. Hawks. 2009. Medical-Surgical Nursing. Eight Edition.


Singapore: Elsevier. Terjemahan oleh R. A. Nampira, Yudhistira, dan S. C.
Eka. 2014. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta: Salemba Medika.

Bose, C. V., R. Crawford, K. Deep, dkk. 2010. Total Hip Replacement: Spectrum.
New Delhi: Elesevier.

Canata, G. dan V. Casale. 2016. Of a multimodal opiate-free protocol j oints j


oints. 4(10): 222–227.

Diva, Sara R., Alexandra B, Gil., Gustavo J.M, Almeida., Anthony M, Digioia III.,
Timothy J, Levison., G. Kelley, Fitzgerald. A Balance Exercise Program
Appears To

Helmi, Z. N. 2012. Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta: Salemba Medika.

Huber EO, de Bie RA, Roos EM, Bischoff-Ferrari HA. 2013. Effect of pre-
operative neuromuscular training on functional outcome after total knee
replacement: a randomized-controlled trial. BMC Musculoskelet Disord

Kuntono Heru, 2011. Nyeri Secara Umum dan Osteo Arthritis Lutut dari Aspek
Fisioterapi; Surakarta. Perpustakaan Nasional RI

McDonald, D. D., Molony, S. L. (2008). Postoperative pain communication skills


for older adults. Western Journal of Nursing Research, 26, 836-852.

Mestriner, L. A. 2012. Osteochondritis Dissecans of The Knee: Diagnosis and


Treatment. Rev Bras Ortop. 47(5): 553-62.

38
Minesota Community Measurement. 2010. Total Knee Replacement Impact And
Recomended Document. 1-5.

Palmer, S., H. 2018. Total Knee Arthroplasty.


https://emedicine.medscape.com/article/ 1250275-overview#a2 [di akses
pada tanggal 07 Maret 2019]

Pereira, D., Peleteiro, B., Araujo, J., Branco, J., Santos, R. A., Ramos, E. 2011.
The Effect Of Osteoarthritis Definition On Prevalence And Incidence
Estimates: A Systematic Review, Osteoarthritis And Cartilage . Vol 19:1270-
1285.

Saw MM. 2015. The effects of a six-week physiotherapist-led exercise and


education intervention in patients with osteoarthritis, awaiting an
arthroplasty in the South Africa. Cape Town: University of Cape Town.

Sella, D. A., Sahruddi., Ibrahim, K. 2017. Hubungan Intensitas Sholat, Aktivitas


Olahraga Dan Riwayat Kebiasaan Mandi Malam Dengan Penyakit
Osteoartritis Pada Lansia Di Panti Sosial Tresna Werda Minaula Kota
Kendari Tahun 2017. Jimkesmas. Vol 2(6): 1-9.

Sembiring, S. P. K. 2018. Diagnosis Diferensial Nyeri Lutut. Medan: Samuel


Karta.

Syaifuddin. 2011 . Anatomi Fisiologi: Kurkulum Berbasis Kompetens Untuk


Keperawatan dan Kebidanan Edisi 4. Jakarta: EGC

Total Knee Replacement Pre and Post op. http://tcomn.com/wp-


content/uploads/2015/10/Kelly_Total-Knee-Replacement-Pre-and-Post-op-
Manual_1015.pdf [diakses 08 Maret 2019]

Tsertsvadze A., Grove A., Freeman K., Court R., Johnson S., Connock M.,
Clarke,A.,Sutcliffe,P. 2014. Total Hip Replacement For The Treatment Of
End Stage Arthritis Of The Hip: A Systematic Review And Meta-Analysis.
Plos ONE. Vol 9(7): E99804.
Https://Doi.Org/10.1371/Journal.Pone.0099804

Wijanto, Eko. 2013. Penatalaksanaan Terapi Latihan Pada Kondisi Pasca


Operasi Total Knee Replacement Sinistra Di RSAL Ramelan Surabaya.
http://eprints.ums.ac.id/26515/21/02._NASKAH__PUBLIKASI.pdf
[diakses 08 Maret 2019

39
40

Anda mungkin juga menyukai